Anda di halaman 1dari 24

BAB I

KAJIAN TEORI

1.1 Latar Belakang


Manusia sering menganggap bahwa sesuatu yang kelihatan adalah dapat dipahami
dengan benar dan seolah-olah ia telah mengetahui keberadaan benda dan materi tersebut secara
mendalam. Anggapan manusia bahwa apa yang terlihat dan dilihatnya serta dikenalnya, belum
tentu dapat dipahami hakekatanya. Belum pasti manusia telah sampai kepada pengetahuan
yang ia kenal. Dari sinilah nantinya ada peluang bagi epistemologi untuk menjelaskan kenapa
manusia mengetahui, kenapa sesuatu itu menjadi seperti itu.
Epistemologi selalu menjadi bahan yang menarik untuk dikaji, karena disinilah dasardasar pengetahuan maupun teori pengetahuan yang diperoleh manusia menjadi bahan pijakan.
Konsep-konsep ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dewasa ini beserta aspek-aspek
praktis yang ditimbulkannya dapat dilacak akarnya pada struktur pengetahuan yang
membentuknya. Dari epistemologi, juga filsafat dalam hal ini filsafat modern terpecah
berbagai aliran yang cukup banyak, seperti rasionalisme, pragmatisme, positivisme, maupun
eksistensialisme.
Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos,
theory. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah
filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan.
Menurut Keith Lehrer secara historis ada tiga perspektif dalam epistemology yang berkembang
di Barat, yaitu: (1) Dogmatic Epistemology; (2) Critical Epistemology; dan (3) Scientific
Epistemology.
a. Dogmatic Epistemology: adalah pendekatan tradisional terhadap epistemology,
terutama Plato. Dalam perspektif epistemology dogmatif, metaphysics (ontology)
diasumsikan dulu ada, baru kemudian ditambahkan epistemology. Singkatnya,
epistemology dogmatif menetapkan ontology sebelum epistemology.
b. Critical Epistemology. Descartes membalik epistemology dogmatic dengan
menanyakan apa yang dapat kita ketahui sebelum menjelaskannya. Pertanyakan dulu
secara kritis, baru diyakini. Ragukan dulu bahwa sesuatu itu ada, kalau terbukti ada,
baru dijelaskan. Berfikir dulu, baru yakini atau tidak. Ragukan dulu, baru yakini atau
1

tidak. Descartes menganut the immediacy theses, bahwwa apa yang kita ketahui
adalah terbatas pad ide-ide yang adalah jiwa kita (our own minds). Metode Descartes
disebut juga metode skeptis. Yakni, skeptis bahwa kita dapat mengetahui secara
langsung objek di luar diri kita tanpa melalui jiwa kita. 1Thesis ini dikembangkan
oleh David Hume dengan teori primary qualities dan secondary qualities.
Pertanyaan utama epsitemologi jenis ini: Apa yang dapat kita ketahui? Dapatkah
kita mengetahuinya? Mungkinkah kita dapat mengetahui sesuatu di luar diri kita?
Singkatnya, epistemology kritis metapkan ontology setelah epistemology.
c. Scientific Epistemology. Pertanyaan utama epsitemologi jenis ini: Apa yang benarbenar sudah kita ketahui dan bagaimana cara kita mengetahuinya? Epistemology ini
tidak peduli apakah batu di depan mata kita adalah penampakan atau bukan. Yang ia
urus adalah bahwa ada batu di depan mata kita dan kita teliti secara sainstifik.
Epistemologi juga disebut logika, yaitu ilmu tentang pikiran. Akan tetapi, logika
dibedakan menjadi dua, yaitu logika minor dan logika mayor. Logika minor mempelajari
struktur berpikir dan dalil-dalilnya, seperti silogisme. Logika mayor mempelajari hal
pengetahuan, kebenaran, dan kepastian yang sama dengan lingkup epistemologi.
Oleh karena itu, epistemologi juga dikaitkan bahkan disamakan dengan suatu disiplin
yang disebut Critica, yaitu pengetahuan sistematik mengenai kriteria dan patokan untuk
menentukan pengetahuan yang benar dan yang tidak benar. Critica berasal dari kata Yunani,
krimoni, yang artinya mengadili, memutuskan, dan menetapkan. Mengadili pengetahuan yang
benar dan yang tidak benar memang agak dekat dengan episteme sebagai suatu tindakan
kognitif intelektual untuk mendudukkan sesuatu pada tempatnya.
Menurut William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian pengertian epistemologi adalah:
merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah
sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan?
Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia.
Berdasarkan kesimpulan diatas bahwa epistemologi adalah berusaha membahas
bagaimana ilmu didapatkan, bukan untuk apa atau mengenai apa. Epistemologi berusaha
menjembatani manusia agar menyadari bahwa sebenarnya pengetahuannya adalah karena
ketidaktahuannya.
1 Dr. Amsal Bakhtiar, M.A., Filsafat Ilmu, (Jakarta: PT. RajaGravindo Persada, 2004), hlm. 148

Pengetahuan itu dianggap sah dan benar ketika benar menurut pengetahuan tersebut.
Terkadang manusia melakukan trial and error untuk mengetahui sesuatu, dengan harapan akan
mendapatkan kebenaran.
Bahkan, kalau diperhatikan ternyata pertanyaan-pertanyaan filosof sering muncul dalam
kehidupan sehari-hari. Hal tersebut merupakan salah satu persoalan-persoalan pokok dalam
epistemologi. Kekaguman merupakan awal munculnya epistemologi. Tetapi yang perlu di
sadari bahwa keyakinan-keyakinan umum dibentuk bukan dari kesalahan-kesalahan. Tetapi
banyak manusia yang merasa lebih tenang dengan pandangan umum.
Pengetahuan berusaha memahami benda sebagaimana adanya, lalu akan timbul
pertanyaan, bagaimana seseorang mengetahui kalau dirinya telah mencapai pengetahuan
tentang benda sebagaimana adanya? Untuk menjawab apakah manusia telah tahu dengan
pengetahuannya, maka epistemologi adalah jawabnya. Kepastian yang dicari oleh epitemologi
dalam mencari kebenaran apakah manusia sudah benar sesuai dengan tingkat pengetahuan
dimungkinkan oleh suatu keraguan. Dengan keraguan inilah akan memberi kesempatan kepada
epistemologi untuk menjawabnya.
1.2 Tujuan
1

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan bersama dalam pembahasan masalah

filsafat epistemologi terhadap proposisi, hipotesi dan validasi


Untuk memenuhi tugas yang di berikan oleh Dosen mata kuliah Filsafat Ilmu.

BAB II
3

PEMBAHASAN
2.1 PROPOSISI
Proposisi ialah kalimat logika yang merupakan pernyataan tentang hubungan antara dua
atau beberapa hal yang dapat dinilai benar atau salah. Dengan kata lain, Proporsisi sebagai
pernyataan yang didalamnya manusia mengakui atau mengingkari sesuatu tentang sesuatu yang
lain. Proposisi adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk subjek-predikat atau term-term
yang membentukkalimat. KaliimatTanya, kalimatperintah, kalimatharapan, dan kalimat inverse
tidak dapat disebut proposisi. Hanya kalimat berita yang netral yang dapat disebut proposisi.
2.1.1 Unsur Unsur Proposisi
Setiap proposisi akan mengandung undur-unsur berikut ini, yaitu:
(a) Term subyek : hal yang tentangnya pengakuan atau pengingkaran ditujukan. Term subyek
dalam sebuah proposisi disebut subyek logis. Ada perbedaan antara subyek logis dengan subyek
dalam sebuah kalimat. Tentang subyek logis harus ada penegasan/pengingkaran sesuatu
tentangnya.
(b) Term predikat : isi pengakuan atau pengingkaran itu sendiri (apa yang diakui atau diingkari).
Term predikat dalam sebuah proposisi adalah predikat logis yaitu apa yang ditegaskan/diingkari
tentang subyek.
( c ) Kopula : penghubung antara term subyek dan term predikat dan sekaligus memberi bentuk
(pengakuan atau pengingkaran) pada hubungan yang terjadi. Jadi fungsi kopula ada tiga:
- Untuk menghubungkan subyek dan predikat
- Untuk menyatakan subyek itu sungguh-sungguh berada/exist
- Untuk menyatakan cara mana subyek berada.

2.1.2 Pembagian Proposisi:


4

A. Berdasarkan Bentuk
Berdasarkan bentuknya, proposisi dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
1. Proposisi Tunggal
Proposisi tunggal adalah proposisi yang terdiri atas satu subjek dan satu predikat.
Contohnya :

Premis 1 : Semua ibu menghasilkan asi

Premis 2 : Fika menyusui bayi pertamanya

Kesimpulan : Fika menghasilkan asi.

2. Proposisi Majemuk
Proposisi majemuk adalah proposisi yang terdiri atas satu subjek dan lebih dari satu predikat.
Contohnya :

Premis 1 : Semua orang yang ingin masuk surge maka harus rajin beribadah dan berbuat
baik kepada sesama

Premis 2 : Saya ingin masuk surga

Kesimpulan : Saya harus beribadah yang baik dan berbuat baik pula kepada sesama.

B. Berdasarkan Sifat
Berdasarkan sifatnya, proposisi juga terbagi menjadi dua jenis, di antaranya :
1. Proposisi Kategorial
Proposisi kategorial adalah proposisi yang hubungan antara subjek dan predikatnya tidak
memerlukan syarat apa pun.
Contohnya :
Semua kambing adalah herbivora.
2. Proposisi Kondisional
Proposisi kondisional adalah kebalikan dari proposisi kategorial, yaitu proposisi yang hubungan
antara subjek dan predikatnya memerlukan syarat tertentu.Proposisi kondisional dapat dibagi
lagi menjadi dua, yaitu :
a. Proposisi Kondisional Hipotesis
Proporsisi kondisional hipotesis adalah proposisi yang mengandung hubungan sebab dan
5

akibat.Contohnya :
Andai aku Presiden RI aku akan berantas para koruptor.
b. Proposisi Kondisional Disjungtif
Proposisi kondisional disjungtif adalah proposisi yang mengandung dua pilihan.
Contohnya :
Dia seorang Dokter atau Suster?.
c. Berdasarkan Kualitas
Berdasarkan kualitasnya, proposisi dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
1. Proposisi Positif/Affirmative
Proposisi positif/affirmative adalah proposisi yang memiliki kesesuaian antara subjek dan
predikatnya.Contohnya :
Semua mahasiswa yang ber ipk di atas 3.25 akan mengambil jalur skripsi.
2. Proposisi Negatif
Proposisi negatif adalah kebalikan dari proposisi positif,
yaitu proposisi yang tidak memiliki kesesuaian antara subjek dan predikatnya.
Contohnya :Semua pegawai pajak adalah markus.
D. Berdasarkan Kuantitas
Berdasarkan kuantitasnya, proposisi juga terbagi ke dalam dua jenis, antara lain :
1. Proposisi Umum
Proposisi umum adalah proposisi yang biasanya diawali dengan kata semua, tidak satu
pun,seluruh.Contohnya :Tidak satu pun orang yang ingin masuk neraka.
2. Proposisi Khusus/Spesifik
Proposisi khusus/spesifik adalah proposisi yang biasanya diawali dengan kata sebagian.
Contohnya :Sebagian asal usul jati diri Fadli adalah keturunan Jerman

2.2

Hipotesis

Hipotesis berasal dari bahasa Yunani: hypo= di bawah; thesis = pendirian, pendapat yang
ditegakkan, kepastian. Artinya, hipotesa merupakan sebuah istilah ilmiah yang digunakan dalam
rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berfikir biasa, secara sadar, teliti, dan
terarah.2. Dalam penggunaannya sehari-hari hipotesa ini sering juga disebut dengan hipotesis,
tidak ada perbedaan makna di dalamnya. Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara
terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya3.
Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara terhadap masalah yang kan
diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua gejala yang timbul tidak bertentangan dengan
hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja
menimbulkan/ menciptakan suatu gejala. Kesengajaan ini disebut percobaan atau eksperimen.
Hipotesis yang telah teruji kebenarannya disebut teori. Hal ini dapat dilihat apabila terlihat awan
hitam dan langit menjadi pekat, maka seseorang dapat saja menyimpulkan (menduga-duga)
berdasarkan pengalamannya bahwa (karena langit mendung, maka...) sebentar lagi hujan akan
2 Logika Dasar, tradisional, simbolik, dan induktif. Soekadijo.R.G. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta. 1993
3 Vardiansyah, Dani. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Indeks, Jakarta 2008. Hal.10
7

turun. Apabila ternyata beberapa saat kemudia hujan benar turun, maka dugaan terbukti benar.
Secara ilmiah, dugaan ini disebut hipotesis. Namun apabila ternyata tidak turun hujan, maka
hipotesisnya dinyatakan keliru.
Proses pembentukan hipotesis merupakan sebuah proses penalaran, yang melalui tahaptahap tertentu. Hal demikian juga terjadi dalam pembuatan hipotesis ilmiah, yang dilakukan
dengan sadar, teliti, dan terarah.. Sehingga dapat dikatakan bahwa sebuah Hipotesis merupakan
satu tipe proposisi yang langsung dapat diuji.
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian ilmiah, khususnya penelitian
kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini di antaranya:
1. Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori
yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti. Misalnya, sebab
dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik.
2. Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau di
falsifikasi.
3. Hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena
membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji
untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat
peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Walaupun hipotesis penting sebagai arah dan pedoman kerja dalam penelitian, tidak
semua penelitian mutlak harus memiliki hipotesis. Penggunaan hipotesis dalam suatu penelitian
didasarkan pada masalah atau tujuan penelitian. Dalam masalah atau tujuan penelitian tampak
apakah penelitian menggunakan hipotesis atau tidak. Contohnya yaitu Penelitian eksplorasi
yang tujuannya untuk menggali dan mengumpulkan sebanyak mungkin data atau informasi
tidak menggunakan hipotesis. Hal ini sama dengan penelitian deskriptif, ada yang berpendapat
tidak menggunakan hipotesis sebab hanya membuat deskripsi atau mengukur secara cermat
tentang fenomena yang diteliti, tetapi ada juga yang menganggap penelitian deskriptif dapat

menggunakan hipotesis. Sedangkan, dalam penelitian penjelasan yang bertujuan menjelaskan


hubungan antar-variabel adalah keharusan untuk menggunakan hipotesis.4
Fungsi penting hipotesis di dalam penelitian, yaitu5:
1. Untuk menguji teori,
2. Mendorong munculnya teori,
3. Menerangkan fenomena sosial,
4. Sebagai pedomanuntuk mengarahkan penelitian,
5. Memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.
2.2.1 Syarat-Syarat Hipotesis
Ada beberapa syarat utama yang harus dipenuhi dalam membuat hipotesis, yaitu:
1. Hipotesis harus bertalian dengan teori tertentu.
2. Hipotesis harus dapat diuji berdasarkan data empiris
3. Hipotesis harus bersifat spesifik
4. Sedapat mungkin hipotesis harus dikaitkan dengan teknik penelitian yagn ada untuk
mengetesnya (Atmadilaga, 1990)
2.2.2 Bentuk-Bentuk Hipotesis
Hipotesis dibagi menjadi tiga (Hasan, 2002):
1. Hipotesis penelitian / kerja atau hipotesis asosiatif: Hipotesis penelitian merupakan
anggapan dasar peneliti terhadap suatu masalah yang sedang dikaji. Dalam Hipotesis ini
peneliti menganggap benar Hipotesisnya yang kemudian akan dibuktikan secara empiris
melalui pengujian Hipotesis dengan mempergunakan data yang diperolehnya selama
4 Fred N. Kerlinger. 1995. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Diterjemahkan oleh Landung R. Simatupang.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press, hal. 30

5
9

melakukan penelitian. Misalnya: Ada hubungan antara krisis ekonomi dengan jumlah
orang stress.
2. Hipotesis deskriptif atau hipotesis komparatif: Hipotesis operasional merupakan Hipotesis
yang bersifat obyektif. Artinya peneliti merumuskan Hipotesis tidak semata-mata
berdasarkan anggapan dasarnya, tetapi juga berdasarkan obyektifitasnya, bahwa Hipotesis
penelitian yang dibuat belum tentu benar setelah diuji dengan menggunakan data yang
ada. Untuk itu peneliti memerlukan Hipotesis pembanding yang bersifat obyektif dan
netral atau secara teknis disebut Hipotesis nol (H0). H0 digunakan untuk memberikan
keseimbangan pada Hipotesis penelitian karena peneliti meyakini dalam pengujian nanti
benar atau salahnya Hipotesis penelitian tergantung dari bukti-bukti yang diperolehnya
selama melakukan penelitian. Contoh: H0: Tidak ada hubungan antara krisis ekonomi
dengan jumlah orang stress.
3. Hipotesis statistik atau hipotesis operasional. Hipotesis statistik merupakan jenis Hipotesis
yang dirumuskan dalam bentuk notasi statistik. Hipotesis ini dirumuskan berdasarkan
pengamatan peneliti terhadap populasi dalam bentuk angka-angka (kuantitatif). Misalnya:
H0: r = 0; atau H0: p = 0.
2.2.3 Pertimbangan dalam Merumuskan Hipoptesis
Ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan Hipotesis menurut Nasution
(2008), yaitu:
(1) Kedua variable tersebut adalah variable bebas dan variable tergantung. Jika variabel lebih
dari dua, maka biasanya satu variable tergantung dua variabel bebas. Harus
mengekpresikan hubungan antara dua variabel atau lebih, maksudnya dalam merumuskan
hipotesis seorang peneliti harus setidak-tidaknya mempunyai dua variable yang akan
dikaji.
(2) Harus dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda, artinya rumusan hipotesis harus
bersifat spesifik dan mengacu pada satu makna tidak boleh menimbulkan penafsiran lebih
dari satu makna. Jika hipotesis dirumuskan secara umum, maka hipotesis tersebut tidak
dapat diuji secara empiris.

10

(3) Sebaiknya Hipotesis jangan mencerminkan unsur- unsur moral, nilai-nilai atau sikap.
Harus dapat diuji secara empiris, maksudnya ialah memungkinkan untuk diungkapkan
dalam bentuk operasional yang dapat dievaluasi berdasarkan data yang didapatkan secara
empiris.
2.2.4 Cara Merumuskan Hipotesis.
Satu hipotesis dapat diuji apabila hipotesis tersebut dirumuskan dengan benar.
Kegagalan merumuskan hipotesis akan mengaburkan hasil penelitian. Meskipun hipotesis telah
memenuhi syarat secara [proporsional], jika hipotesis tersebut masih abstrak bukan saja
membingungkan prosedur penelitian, melainkan juga sukar diuji secara nyata.
Tahap-tahap pembentukan hipotesa pada umumnya sebagai berikut:
1. Penentuan masalah. Dasar penalaran ilmiah ialah kekayaan pengetahuan ilmiah yang
biasanya timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat tidak atau tidak
dapat diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang sudah
diketahui. Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan sadar dengan perumusan
yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut, penentuan masalah mendapat
bentuk perumusan masalah.
2. Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis). Dugaan atau
anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari semua kegiatan. Ini digunakan
juga dalam penalaran ilmiah. Tanpa hipotesa preliminer, observasi tidak akan terarah.
Fakta yang terkumpul mungkin tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatu
konklusi, karena tidak relevan dengan masalah yang dihadapi. Karena tidak dirumuskan
secara eksplisit, dalam penelitian, hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis
keseluruhan penelitian, namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya digunakan untuk
melakukan uji coba sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan.
3. Pengumpulan fakta. Dalam penalaran ilmiah, diantara jumlah fakta yang besarnya tak
terbatas itu hanya dipilih fakta-fakta yang relevan dengan hipotesa preliminer yang
perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatan memilih fakta.
4. Formulasi hipotesa.Pembentukan hipotesa dapat melalui ilham atau intuisi, dimana
logika tidak dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesa diciptakan saat terdapat
11

hubungan tertentu diantara sejumlah fakta. Sebagai contoh sebuah anekdot yang jelas
menggambarkan sifat penemuan dari hipotesa, diceritakan bahwa sebuah apel jatuh dari
pohon ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat olehnya bahwa semua benda pasti
jatuh dan seketika itu pula dilihat hipotesanya, yang dikenal dengan hukum gravitasi.
5. Pengujian hipotesa, artinya mencocokkan hipotesa dengan keadaan yang dapat
diobservasi dalam istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi(pembenaran). Apabila hipotesa
terbukti cocok dengan fakta maka disebut konfirmasi. Terjadi falsifikasi(penyalahan)
jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak sesuai dengan hipotesa, dan
bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesa tidak terbantah oleh fakta yang
dinamakan koroborasi(corroboration).. Hipotesa yang sering mendapat konfirmasi atau
koroborasi dapat disebut teori.
6. Aplikasi/penerapan apabila hipotesa itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan
(dalam istilah ilmiah disebut prediksi), dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan
fakta. Kemudian harus dapat diverifikasikan/koroborasikan dengan fakta.
Tahap hipotesis merupakan tahap dimana riset memperoleh kesimpulan melalui uji
hipotesis, baik dengan menggunakan statistik untuk menguji hipotesis probailistik 6(Vrifikasi)
atau matematika untuk hipotesis deterministik (validasi). Hasil kesimpulan teruji (powerful).
Riset sampai tahap ini dikenal dengan jenis hyphotetico-deductivism research dengan alur pikir
deduksi-induksi disertai uji fakta.
2.2.5 Prosedur Pengujian atau Verifikasi Hipotesis
Pengujian kebenaran dalam ilmu berarti mengetes alternatif-alternatif hipotesis dengan
pengamatan kenyataan sebenarnya atau lewat percobaan.

Dalam hubungan ini, maka

keputusan terakhir terletak pada fakta. Jika fakta tidak mendukung, satu hipotesis, maka
hipotesis yang lain dipilih dan proses diulangi kembali. Hakim terakhir dalam hal ini adalah
data empiris: kaidah yang bersifat umum, hukum, haruslah memenuhi persyaratan pengujian
empiris. Pengujian hipotesis adalah suatu prosedur yang akan menghasilkan suatu keputusan,
yaitu keputusan dalam menerima atau menolak hipotesis ini.

6
12

Dalam pengujian ini, ada beberapa langkah yang harus dilalui, dikenal dengan prosedur
pengujian hipotesis:
1. Menentukan formulasi hipotesisnya.
- Hipotesis nol (H0)
- Hipotesis alternatif (H1)
2. Menentukan taraf nyata dan nilai tabel.
Taraf nyata adalah batas toleransi dalam menerima kesalahan dari hasil hipotesis terhadap
nilai parameter populasinya. Taraf nyata dilambangkan dengan . Besaran yang sering
digunakan dalam penelitian non-eksakta untuk menentukan taraf nyata yang dinyatakan
dalam persen (%) adalah 1%, 5%, dan 10%.
3. Menentukan kriteria pengujian
Kriteria pengujian adalah bentuk pembuatan keputusan dalam hal menerima atau menolak
hipotesis nol dengan cara membandingkan nilai kritis dengan nilai uji statistiknya.
-

Hipotesis nol diterima jika nilai statistiknya berada di luar nilai kritisnya.

Hipotesis nol ditolak jika nilai uji statistiknya berada dalam nilai-nilai kritisnya

4. Melakukan uji statistik


Uji statistik ini merupakan rumus-rumus distribusi tertentu, seperti uji t, uji z, uji t2.
5. Membuat keputusan
Pembuatan kesimpulan ini merupakan penetapan keputusan dalam hal penerimaan atau
penolakan hipotesis nol sesuai dengan kriteria pengujian.
2.2.6 Kesalahan dalam Pengujian Hipotesis
Dalam pengujian hipotesis ini, kesimpulan yang diperoleh hanyalah penerimaan atau
penolakan daripada hipotesis yang diajukan itu dan tidak berarti bahwa kita telah membuktikan
atau tidak membuktikan kebenaran hipotesis itu. Hal ini disebabkan karena kesimpulan itu
hanyalah merupakan inferensi yang didasarkan pada sampel.
Suatu kesimpulan dianggap diterima atau benar apabila H 0 diterima atau benar H0
ditolak atau salah. Kesalahan dapat terjadi apabila H0 benar, tetapi ditolak atau sebaliknya H0
salah tetapi diterima. Jadi, dalam pengujian hipotesis ini dapat terjadi dua jenis kesalahan, yaitu
kesalahan jenis I dan kesalahan jenis II.

13

1. Kesalahan jenis I
Kesalahan ini, terjadi apabila H0 ditolak padahal kenyataannya benar, artinya menolak
hoipotesis tersebut yang seharusnya diterima.
2. Kesalahan jenis II
Kesalahan ini, terjadi apabila H0 diterima padahal kenyataannya salah, artinya menerima
hipotesis tersebut yang seharusnya ditolak.
Apabila kedua jenis kesalahan tersebut dinyatakan dalam bentuk probabilitas, maka terjadi halhal sebagai berikut:
1. Kesalahan jenis I disebut kesalahan yang dalam bentuk penggunaannya disebut taraf
nyata. 1- diesbut sebagai tingkat keyakinan, karena dengan ini, kita yakin bahwa
kesimpulan yang kita buat benar sebesar 1-.Kesalahan jenis II disebut kesalahan yang
dalam bentuk penggunaannya disebut fungsi ciri operasi, disingkat CO. 1- disebut kuasa
pengujian karena memperlihatkan kuasa terhadap pengujian yang dilakukan untuk menolak
hipotesis (H0) yang seharusnya ditolak. Kesalahan penarikan kesimpulan dalam pengujian
hipotesis bisa disebabkan karena kesalahan sampel, kesalahan perhitungan sehingga
mengubah hubungan antara variabel-variabel penelitian tersebut.

Contoh Kesalahan

pengujian hipotesis adalah sebagai berikut:


Jika setelah dilakukan pengujian, ternyata H0 ditolak, artinya penelitian terbukti secara
nyata (empiris) H0 diterima, artinya penelitian anda tidak nyata secara empiris. Maka
Hipotesis Operasional anda H0: tidak ada hubungan jam produksi terhadap volume
produksi H1: ada hubungan jam produksi terhadap volume produksi. Maka Hipotesis
penelitian anda seharusnya ada hubungan jam produksi terhadap volume produksi. Jika
Rumusan masalah anda adakah hubungan jam produksi terhadap volume produksi
2.3 VERIFIKASI / VALIDASI
Validasi adalah suatu tindakan yang membuktikan bahwa suatu proses/metode dapat
memberikan hasil yang konsisten sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dan
terdokumentasi dengan baik. Validasi dilakukan bila ada perubahan yang mempengarui produk
secara langsung (major modification), produk baru atau produk lama dengan metode baru,
exiting dan legacy product.Persyaratan yang harus dilakukan dalam melaksanakan validasi
adalah:
14

1. Protokol validasi harus sudah tersedia dan telah diapprove


2. Validation studies harus sesuai dengan protokol
3. Data validasi dari studies harus dikumpulkan, dicatat dan disimpulkan
4. Validation report harus direview oleh tiap departemen terkait dan diapprove oleh quality
unit
5. Data validasi harus terdokumentasi dengan baik
6. Jika terdapat perubahan pada proses yang divalidasi harus dilaporkan
Pendekatan validasi yang dilakukan menggunakan prospective validation, digunakan untuk
produk baru, sebelum memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan. Pada validasi ini produk yang
dihasilkan tidak dijual ke pasaran, validasi dilakukan sebanyak 3 batch. Retrospective
Validation, digunakan untuk established product dengan mengevaluasi proses berdasarkan
historical data-data produksi, testing dan control validasi ini dilakukan sebelum Prospective
validation.Concurrent Validation, Validasi yang dilakukan oleh technical service department
meliputi kualifikasi alat, validasi proses, cleaning validation, validasi komputer, dan packaging
validation. Sedangkan analytical method validation dilakukan oleh Quality Unit Beberapa
parameter yang harus dipertimbangkan dalam validasi adalah sebagai berikut:
1. Accuracy (Kecermatan)
2. Precision (keseksamaan)
3. Selektivitas (Spesifisitas)
4. Ketangguhan metode (ruggedness)

15

BAB III
KESIMPULAN
Proposisi adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk subjek-predikat atau term-term
yang membentuk kalimat. Kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat harapan, dan kalimat inverse
tidak dapat disebut proposisi. Hanya kalimat berita yang netral yang dapat disebut proposisi.
Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat
praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan
jawaban sementara terhadap masalah yang kan diteliti. Hipotesis menjadi teruji apabila semua
gejala yang timbul tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Dalam upaya pembuktian
hipotesis, peneliti dapat saja dengan sengaja menimbulkan atau menciptakan suatu gejala.
Validasi metode analisis bertujuan untuk memastikan dan mengkonfirmasi bahwa metode
analisis tersebut sudah sesuai untuk peruntukannya. Validasi biasanya diperuntukkan untuk
metode analisa yang baru dibuat dan dikembangkan.
Pembahasan hasil penelitian dengan membandingkan terhadap penelitian lain dan
pengetahuan ilmiah yang relevan pengkajian implikasi penelitian dan kesimpulan penelitian
merupakan sintesis dari seluruh aspek tersebut di atas. Hipotesis yang dibuat dengan proposisi
yang benar dan kemudian dilakukan validasi yang baik sehingga didapatkan kesimpulan
penelitian yang benar.

16

LAMPIRAN

CONTOH CONTOH KASUS


1. Seorang dosen merasakan bahwa mahasiswanya kurang dapat menangkap isi kuliahnya.
Ia merasakan sedih dan ingin meningkatkan kualitas kuliahnya dengan cara mengadakan
survei langsung untuk mengetahui kebenaran dugaan itu. Dalam usahanya ini ia tidak
mau mengambil langkah secara gegabah, tetapi ingin mencari bukti-bukti melalui
penelitian agar diperoleh informasi yang lengkap dan rinci mengenai volume serta jenis
kesalahan hasil kuliah yang diberikan. Mulailah ia menyusun suatu profosal, dan di
dalamnya hanya menyangkut sebuah variabel, yakni pemahaman mahasiswa terhadap
materi kuliah. Hipotesis yang diajukan adalah mahasiswa kurang memiliki pemahaman
terhadap materi kuliah
Dengan titik tolak pada dugaan tersebut peneliti memutuskan perhatiannya untuk
mengumpulkan data yang mendudkung dugaan bahwa mahasiswa memang kurang
memiliki pemahaman rendah terhadap materi kuliah. Dikumpulkannya catatan kuliah
untuk diteliti : bagaimana kelengkapannya, kebenaraannya, dan urutannya. Dalam
meneliti catatan tersebut dosen yang bersangkutan terlebih dahulu menentukan kriteria
yang akan dijjadikan dasar untuk mengambil kesimpulan. Kriteria tersebut misalnya
berupa presentase :
Jika memiliki kesesuaian

81 100%

: sangat baik

Jika memiliki kesesuaian

61 80%

: baik

Jika memiliki kesesuaian

41 60%

: cukup

Jika memiliki kesesuaian

21 40%

: kurang

17

Jika memiliki kesesuaian

0 20%

: kurang sekali

Andaikata dari hasil analisis terhadap catatan dosen menemukan rata-rata kesesuaian
kelengkapan, kebenaran, dan urutannya materi kuliah kurang dari 40 % maka dugaan
yang diajukan benar. Dugaan mengenai rendahnya pemahaman mahasiswa terhadap
kuliah dapat juga dilihat dari hasil ujian. Apabila tingkat pengusaan mahasiswaterhadap
materi kuliah ternyata memang rendah, misalnya kurang dari 5,6 (batas keleluasaan
adalah 5,6), maka hipotesisnya terbukti, yakni bahwa pemahaman mahasiswa terhadap
materi kuliah memang rendah
2. (Keuangan)

Analisis fundamental digunakan untuk menilai kekayaan investasi pada

saham karena dapat menghasilkan variabel-variabel yang menentukan harga saham di


masa mendatang. Konsep penilaian saham dengan analisis fundamental akan
menghasilkan informasi tentang apakah saham tertentu layak dibeli atau tidak layak,
dalam penelitian ini difokuskan pada analisis pengaruh faktor-faktor fundamental
terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Jakarta.
Penelitian dilakukan terhadap 51 sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Jakarta dengan menggunakan data time series dari tahun 2004 sampai 2006.
Variabel yang digunakan adalah return of equity (ROE), debt to equity ratio (DER), net
book value (NBV), dividend payout ratio (DPR), devidend growth (GTH) dan tingkat
keuntungan yang diharapkan (KSS) sebagai variabel independen dan harga saham
perusahaan (CLP) sebagai variabel dependen. Rasio-rasio keuangan dianalisis untuk
dapat mengelompokkan apakah perusahaan SEHAT atau TIDAK SEHAT (proposisi).
Dari rasio-rasio keuangan tersebutm kemudian dianalisis untuk menentukan rasio yang
paling dominan mengukur tingkat kesehatan masing-masing kelompok dan membedakan
rasio tersebut abtara kategori pengelompokan perusahaan. Berdasar\kan uraian tersebut,
hipotesis penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:
H1 : Rasio keuangan yang terdiri dari CR, DAR, DER, EM, GPM, NPM, ROI, ROE,
ITO, dan TATO secara signifikan dapat membedakan status tingkat kesehatan
perusahaan.
Penelitian ini menggunakan regresi linier berganda untuk melihat besarnya
kontribusi masing-masing variabel secara individu dan secara simultan dalam
18

mempengaruhi harga saham. Pengujian terhadap hipotesis dilakukan dengan melihat


hasil perhitungan standaried canonocal discriminant function coefficient. Jika
perhitungan menghasilkan n variabel yang secara statistik dinyatakan mampu
membedakan status pengelompokan perusahaan maka hipotesis alternatif diterima. (Uji
Validasi) (Tesis, Peranan Analisis Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Kesehatan
Perusahaan Tekstil dan Alas Kaki yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta, Dulat
Sihombing, Universitas Sumatera Utara).

3. (MSDM) Pada sebuah perusahaan perseorangan, seorang pemimpin ingin melakukan


analisis sederhana dimana beliau ingin mengetahui apakah terdapat pengaruh yang
signifikan pada hasil kinerja karyawanya apabila dilakukan pengawasan secara berkala.
Pemimpin perusahaan tersebut mengamati cara kerja karyawannya. Ia duduk di tempat
para karyawan bekerja, sesekali menghampiri, memeriksa, atau melihat hasil pekerjaan
mereka. Setelah dilakukan beberapa kali secara teratur, kemudian pemimpin memeriksa
hasil-hasil pekerjaan para karyawannya itu. Pemimpin perusahaan mulai berpikir dan
menghubungkan, apakah pengawasan yang dilakukannya secara langsung dapat
berpengaruh meningkatkan prestasi para karyawannya. Dari contoh kasus diatas dapat
diartikan bahwa pengawasan pemimpin akan berpengaruh atau tidak berpengaruh, yang
menjadikan pernyataan tersebut sebagai proposisi. Dengan begitu dapat disimpulkan
sebuah hipotesis mengenai hubungan antara pengawasan pemimpin dengan prestasi kerja,
yaitu :
H1 : pengawasan pemimpin pada kinerja karyawan berpengaruh terhadap prestasi kerja
karyawan
H0 : pengawasan pemimpin pada kinerja karyawan tidak berpengaruh terhadap prestasi
kerja karyawan
Metode analisis yang akan diujikan pada data hasil analisis diatas, akan menggunakan
metode perhitungan regresi linier berganda dimana akan diketahuinya hubugan antara
variabel kualitas kinerja karyawan dengan pengawasan. Akankah adanya hubungan yang
berpengaruh signifikan atau tidak antara kedua variabel dengan uji validasi dan
reliabilitas pada statistik ataupun spss.

19

4. Calon peneliti mengamati adanya perbedaan prestasi belajar yang terjadi pada siswasiswa SMU. Memang banyak hal yang dapat mempengaruhi prestasi keberhasilan belajar.
Dalam penelitian ini peneliti membatasi diri untuk menguji empat faktor, yaitu

Latar belakang pendidikan orang tua


Kondisi Keluarga
Kecerdasan
Kelengkapan sarana

Dengan pengamatannya itu calon peneliti mempunyai keinginan untuk mengetahui faktor
apakah prestasi belajar sebagai pengarah dari kegiatannya. Calon peneliti tersebut
mengajukan hipotesis mayor sebagai berikut:
Hipotesis Mayor: prestasi belajar dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan orang tua,
kondisi keluarga, kecerdasan, kelengkapan sarana.
Dari sebuah hipotesis mayor tersebut dapat dijabarkan empat buah hipotesis minor:
Hipotesis Minor 1:
Prestasi belajar dipengaruhi latar belakang pendidikan orang tua
Hipotesis Minor 2:
Prestasi belajar dipengaruhi oleh kondisi keluarga
Hipotesis Minor 3:
Prestasi belajar dipengaruhi oleh kecerdasan
Hipotesis Minor 4:
Prestasi belajar dipengaruhi oleh kelengkapan sarana
Dengan hipotesis minor di atas, calon peneliti dapat membuat hipotesis yang kedua:
Faktor faktor latar belakang pendidikan Orang tua, kondisi keluarga, kecerdasan dan
kelengkapan sarana mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap prestasi belajar.
Dari contoh ini dapat kita lihat bahwa dari sebuah hipotesis mayor dapat dijabarkan
menjadi empat buah hipotesis Minor. Jika dalam hipotesis mayor diketahui memang ada
pengaruh-pengaruh terhadap prestasi belajar, maka dengan hipotesis minor peneliti ingin
menelusuri lebih rinci lagi pengaruh manakah yang berpengaruh. Dengan melalui contoh
tersebut kiranya pembaca dapat lebih jelas menangkap bahwa tujuan peneliti
merumuskan hipotesis minor ini adalah agar ia dapat secara cermat menelusuri hubungan
antar variable yang disebutkan didalam hipotesis mayor.
Seperti contoh kasus diatas, dapat kita lihat bahwa hipotesis penelitian yang merupakan
pengaruh bagi peneliti dalam kegiatan penelitiannya, bukan hanya untuk hubungan dua
variable saja tetapi juga dapat dibuat untuk lebih dari dua variable.

20

5. Di tengah semaraknya upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, muncul berbagai
kasus dan isu yang mengindikasikan gejala masih rendahnya kualitas sumber daya manusia.
Indikasi ini terlihat adanya penyalah-gunaan jabatan, penurunan disiplin dan berbagai
penyimpangan lain seperti rekruitmen pegawai yang kurang obyektif dan pengangkatan
CPNS yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dikarenakan telah menjadi tenaga
honorer lebih dari 10 tahun, jenjang karie yang tidak transparan, menjamurnya KKN,
sehingga secara normatif dianggap perilaku yang tidak terpuji. Dinas Pertanian Pangan
Provinsi Jawa Barat sebagai unsur pelaksana pemerintah Daerah mempunyai tugas pokok
merumuskan kebijakan operasional di bidang Pertanian Tanaman Pangan yang merupakan
sebagian kewenangan desentralisai dan tugas perbantuan, tentunya harus berupaya
meningkatkan kualitas dan produktivitas sunber daya manusia pertanian melalui suatu
program pelatihan dan pengembangan pegawai kontinyu dan berkesinambungan. Program
ini diperuntukkan bagi seluruh karyawan dengan pertimbangan bahwa pendidikan formal
baik pendidikan kejuruan apalagi umum pada dasarnya belum menyediakan tenaga kerja
yang berorientasi pada kebutuhan pasar dengan kata lain belum siap untuk bekerja dan
mengisi lowongan pekerjaan maupun jabatan yang disediakan oleh lembaga pemakai.
Sesuai dengan pengertian pelatihan mempunyai bidang garapan yang sangat luas dan
menyangkut tentang perubahan perilaku, pengetahuan dan motivasi pegawai sesuai yang
telah ditentukan oleh organisasi .
Identifikasi masalah :
Apakah terdapat hubungan antara pelatihan dan motivasi dengan produktivitas kerja
pegawai pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan, baik secara parsial maupun simultan?
Hipotesis
H1 : Terdapat hubungan yang signifikan antara pelatihan dan motivasi dengan
produktivitas kerja pegawai pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan.

6. SMK Darul Maarif adalah sebuah sekolah swasta yang memiliki tenaga pengajar berjumlah
67 orang, 15 orang pegawai tata usaha dan 1 pengurus sekolah. Jumlah guru honorer yang
ada di sekolah ini sebanyak 14 orang, guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 5 orang
dan 48 orang lainnya adalah guru titipan yayasan. Gaji yang diterima oleh guru tidak tetap
setiap bulannya relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan guru Pegawai Negeri Sipil
(PNS). Guru tidak tetap menerima gaji berdasarkan berapa banyak jam mengajarnya setiap
bulan, sedangkan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) menerima gaji yang berasal dari
21

pemerintah berdasarkan golongan atau pangkat mereka ditambah gaji berdasarkan lamanya
mereka mengajar, bukan hanya berdasarkan lamanya jam mengajar.
SMK Darul Maarif mempunyai masalah dengan motivasi staff pengajarnya. Guru
merupakan komponen inti penggerak dalam menunjang keberhasilan sekolah tersebut.
Masalah tersebut terlihat dari tingkat absensi yang cukup tinggi dan sering tejadi turnover
karyawan. Motivasi guru juga berpengaruh pada prestasi akademik para murid. Jika para
guru tidak dapat memberikan hak murid-murid secara penuh, maka prestasi murid akan
menurun, sehingga para murid akan mengalami kesulitan dalam belajar dan prestasi mereka
akan ikut menurun. Maka guru dituntut untuk memenuhi hak para murid untuk mendapat
pendidikan yang menunjang masa depan mereka. Jika hal tersebut tidak dpat dipenuhi maka
akan menjadi duatu masalah bagi sekolah.Salah satu faktor yang menunjang motivasi para
guru tersebut adalah kompensasi. Untuk mendorong motivasi kerja karyawan diperlukan
adanya hubungan kerja yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Pihak guru
memberikan kontribusi terbaiknya bagi sekolah, sedangkan pihak sekolah memberikan
kontribusi yang layak dan adil bagi para guru.

Pemberian kompensasi ini dapat berupa

finansial maupun nonfinansial. Sistem kompensasi yang baik merangsang timbulnya


motivasi bagi para guru, hal ini dikarenakan sistem kompensasi berpengaruh positif
terhadap motivasi kerja para guru. Oleh karena itu, sudah sewajarnya bagi pihak pengelola
sekolah memberikan sistem kompensasi yang layak dan adil bagi para guru. Selain itu,
sistem kompensasi dapat pula membantu sekolah untuk memelihara, mendapatkan dan
memperhatikan guru-guru yang berkualitas dan produktif.
1. Berdasarkan proposisi-proposisi yang ada maka dapat dibuat hipotesis yang berbunyi
sistem kompensasi berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja para guru di SMK
Darul Maarif.
2. Untuk menyelesaikan permasalahan penelitian diatas, penulis menggunakan analisis
regresi dan korelasi sederhana. Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui
hubungan variabel terikat terhadap variabel bebas. Sedangkan analisis regresi pada
dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel dependen dengan satu atau
lebih variabel independen, dengan tujuan untuk mengestimasi dan/atau memprediksi
rata-rata populasi atau nilai rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel
independen yang diketahui, karena analisis regresi dapat Langkah-langkah

22

perhitungannya adalah analisis regresi linear sederhana, sedangkan analisis korelasi


digunakan untuk mengetahui hubungan variabel terikat terhadap variabel bebas.
Analisis Korelasi
Korelasi dan regresi keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Setiap
refresi pasti ada korelasinya, tetapi korelasi belum tentu dilanjutkan dengan
regresi. Korelasi merupakan angka yang menunjukkan angka angka dan kuatnya
hubungan antara dua variabel atau lebih. Dalam penelitian ini, untuk mencari
koefisien korelasi digunakan rumus korelasi produck moment dari pearson.
Analisis Regresi
Analisis regresi sederhana digunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh
variabel independen terhadap variabel dependen. Dari persamaan tersebut
didapat besarnya kontribusi variabel independen (X) terhadap variabel dependen
(Y).
Sebelum data hasil kuesioner penelitian digunakan untuk analisis selanjutnya, terlebih
dahulu pengujian terhadap data hasil penelitian untuk membuktikan apakah alat ukur yang
digunakan memiliki kesahihan (validity) dan keandalan (reliability) untuk mengukur apa yang
seharusnya menjadi fungsi ukurnya, yaitu untuk menguji apakah kuesioner telah mengukur
secara cermat dan tepat apa yang ingin diukur pada penelitian ini. Pengujian validitas
dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur yang dirancang dalam bentuk kuesioner benarbenar dapat menjalankan fungsi ukurnya. Untuk menguji valid tidaknya suatu alat ukur
digunakan pendekatan secara statistika, yaitu melalui nilai koefisien korelasi skor butir
pernyataan dengan skor totalnya. Apabila koefisien korelasi butir pernyataan dengan skor total
item lainnya > 0,30 maka pernyataan tersebut dinyatakan valid.

23

24