Anda di halaman 1dari 1

ANALISIS SKENARIO 4

Pasien dalam skenario adalah seorang perempuan, berusia 36 tahun, dengan keluhan
payudara kanannya bengkak, merah, dan terdapat luka lecet pada puting payudaranya
sehingga menyebabkan pasien kesakitan dan demam tinggi. Saat ini pasien sedang dalam
masa menyusui anak pertamanya. Pasien juga mengaku bahwa sebelumnya ada keluhan
benjolan pada kedua payudara dan ketiak kanannya saat hamil muda.
Kemungkinan keluhan pada pasien ini memiliki diagnosis yang berbeda antara keluhan
yang sekarang dan keluhan yang terdahulu. Keluhan yang sekarang lebih mengarah pada
mastitis laktasional karena pasien sedang dalam masa menyusui. Mastitis laktasional
biasanya muncul pada minggu kedua atau ketiga post partum karena adanya stasis ASI yang
merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Staphylococcus aureus merupakan
bakteri yang biasanya menginfeksi pada kasus mastitis dan kemungkinan menginfeksi dengan
cara masuk melalui lecet pada puting payudara pasien. Infeksi tersebut memicu terjadinya
inflamasi yang menyebabkan adanya kemerahan, bengkak, rasa sakit dan demam tinggi.
Keputusan pasien untuk tetap memberikan ASI eksklusif pada anaknya merupakan tindakan
yang tepat karena penatalaksanaan untuk mastitis adalah drainase ASI. Pemberian ASI ini
tidak akan berpengaruh pada anaknya. Jika drainase ASI tidak dilakukan, mastitis ini dapat
berkembang menjadi abses yang memerlukan tindakan bedah untuk mengeluarkan pus.
Keluhan benjolan pada kedua payudara dan ketiak kanannya dapat didiagnosis dengan
beberapa hal, antara lain carsinoma mammae (ca mammae), fibrocystic changes (FCC), dan
fibroadenoma mammae (FAM). Kemungkinan diagnosis ca mammae dilihat dari adanya
benjolan pada ketiak yang mungkin disebabkan karena ada keterlibatan kelenjar getah
bening, sedangkan kemungkinan diagnosis FCC dilihat dari letak benjolan yang bilateral
serta adanya nyeri pada benjolan. Selain itu dilihat juga dari segi usia, dimana insidensi
tertinggi FCC yaitu pada usia 30-40 tahun. FAM merupakan diagnosis terakhir kami karena
insidensinya yang berada pada usia <30 tahun dan benjolannya yang tunggal. Benjolan pada
FAM biasanya tidak nyeri, namun bisa saja terdapat nyeri saat dipalpasi.
Anamnesis yang lebih terperinci diperlukan untuk menegakkan diagnosis pada pasien
dalam skenario, seperti ada tidaknya riwayat keluarga dengan keganasan, riwayat menstruasi
pertama, riwayat pengobatan dan sebagainya. Sedangkan untuk pemeriksaan fisik, perlu
diperhatikan mulai dari inspeksi dan palpasi meliputi bentuk dan kontur payudara, ada
tidaknya discharge, jumlah benjolan, nyeri atau tidak dan sebagainya. Pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan antara lain mamografi, USG, dan biopsi.