Anda di halaman 1dari 22

HIGIENE INDUSTRI

Studi Kasus Analisa Kejadian Kebakaran di Pabrik Swallow PT Sinar Jaya


Perkasa dengan Pendekatan Investigasi Kecelakaan Systematic Cause Analysis
Technique (SCAT)

Oleh:
Dewangga Lazuardi
101524253001

PROGRAM MAGISTER KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) mutlak harus dilaksanakan di dunia
kerja dan di dunia usaha, oleh semua orang yang berada di tempat kerja baik pekerja
maupun pemberi kerja, jajaran pelaksana, penyelia (supervisor) maupun manajemen,
serta pekerja yang bekerja untuk diri sendiri (self employeed). Alasannya jelas, karena
bekerja adalah bagian dari kehidupan, dan setiap orang memerlukan pekerjaan untuk
mencukupi kehidupan dan/atau untuk aktualisasi diri, namun dalam melaksanakan
pekerjaannya, berbagai potensi bahaya (hazard) dan risiko di tempat kerja
mengancam diri pekerja sehingga dapat menimbulkan cedera atau gangguan
kesehatan. Potensi bahaya dan risiko di tempat kerja antara lain akibat sistem kerja
atau proses kerja, penggunaan mesin, alat dan bahan, yang bersumber dari
keterbatasan pekerjaannya sendiri, perilaku hidup yang tidak sehat dan perilaku kerja
yang tidak selamat/aman, buruknya lingkungan kerja, kodisi pekerjaan yang tidak
ergonomi, pengorganisasi pekerjaan dan budaya kerja yang tidak kondusif bagi
keselamatan dan kesehatan kerja (Evryanti, 2012).
Pada tahun 2010 lalu terjadi kasus kecelakaan kerja pada pekerja di Pabrik
Swallow PT Sinar Jaya Perkasa yang berlokasi di Jalan Kamal Raya Nomor 34,
Kalideres, Jakarta Barat yang menewaskan empat orang pekerja. Pada kecelakaan
tersebut yang menjadi faktor penyebabnya adalah human error sehingga
menyebabkan kebaran dan kerugian material yang besar di pabrik tersebut. Melalui
pendekatan konsep Higiene Industri pada kejadian kecelakaan sudah seharusnya
dilakukan investigasi kecelakaan dengan metode Systematic Cause Analysis
Technique (SCAT) untuk mengetahui penyebab-penyebab kejadian kecelakaan yang
menimpa pekerja cleaning service di PT Sinar Jaya Perkasa.

BAB II
ISI

A. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Keselamatan (safety) adalah suatu keadaan dimana tubuh bebas dari kodisi
celaka (accident) ataupun hamper celaka (near miss). Sedangkan Kesehatan adalah
kondisi tubuh yang tidak mengalami gangguan baik fisik, biologi, kimia, ataupun
secara social. Menurut Occupational Safety and Health Standards dari Department of
Labour and Employment (1989), Keselamatan mengacu pada kondisi fisik atau
lingkungan kerja atau pekerjaan yang secara substansial memenuhi standar; dan
Kesehatan adalah suatu keadaan yang saling berhubungan baik fisik dan pikiran
pekerja yang memungkinkan dia melakukan pekerjaannya secara normal (OSH,
1989).
Merujuk pada Undang-Undang Keselamatan Kerja No.1 Tahun 1970, yang
dimaksud dengan keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan
mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahan, landasan kerjadan
lingkungan kerja serta cara-cara melakukan pekerjaan dan proses produksi (Tarwaka,
2014). Pengertian kesehatan menurut Undang-Undang No.36 Tahun 2009, Kesehatan
adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dan
menurut World Health Organization (WHO) kesehatan kerja secara bertahap
berkembang dari kegiatan mono disiplin, hingga kegiatan yang berorientasi pada
risiko bahaya dengan pendekatan multi disiplin dan komprehensif yang
mempertimbangkan dari segi fisik, mental dan kesejahteraan sosial setiap orang,
kesehatan umum dan pengembangan pribadi (WHO, 2001).
Sedangkan pengertian

keselamatan dan kesehatan kerja (K3) itu sendiri

menurut International Labour Organization (ILO) secara umum didefinisikan sebagai

ilmu yang mempelajari antisipasi, recognisi, evaluasi dan pengendalian bahaya yang
timbul di atau dari tempat kerja yang dapat mengganggu kesehatan dan kesejahteraan
pekerja, mempertimbangkan kemungkinan dampak pada masyarakat sekitar dan
lingkungan umum (ILO, 2008). Pengertian keselamatan dan kesehatan kerja menurut
Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No.463 Tahun 1993, yaitu keselamatan dan kesehatan
kerja adalah upaya perlindungan yang ditujukan agar tenaga kerja dan orang lainnya di
tempat kerja /perusahaan selalu dalam keadaan selamat dan sehat, serta agar setiap sumber
produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.

B. Kecelakaan Kerja
1. Definisi
Pengertian kecelakaan kerja berdasarkan Frank Bird Jr dalam Budi (2008)
adalah kejadian yang tidak diingingkan yang terjadi dan menyebabkan kerugian pada
manusia dan harta benda. Ada tiga jenis tingkat kecelakaan berdarkan efek yang
ditimbulkan, yaitu 1) Accident adalah kejadian yang tidak diinginkan yang
menimbulkan kerugian baik bagi manusia maupun terhadap harta benda, 2) Incident
adalah kejadian yang tidak diinginkan yang belum menimbulkan kerugian, 3) Near
miss adalah kejadian hampir celaka dengan kata lain kejadian ini hampir
menimbulkan kejadian incident ataupun accident. Menurut Moekijat (1999)
kecelakaan adalah suatu kejadiaan peristiwa yang tidak diharapkan yang merintangi
atau mengganggu jalannya kegiatan.
Sedangkan bedasarkan UU No.1 tahun 1970 kecelakaan kerja adalah suatu
kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki, yang mengacaukan proses
yang telah diatur dari suatu aktifitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban
manusia atau harta benda. Menurut UU No.3 tahun 1992 tentang jaminan sosial
tenaga kerja, kecelakaan kerja adalah kecelakaan terjadi dalam pekerjaan sejak
berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang kerumah melalui jalan yang
biasa atau wajar dilalui. Lalu menurut PP No.44 tahun 2015 tentang penyelenggaraan
program jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian, Kecelakaan Kerja adalah
kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja, termasuk kecelakaan yang terjadi

dalam perjalanan dari rumah menuju tempat kerja atau sebaliknya dan penyakit yang
disebabkan oleh lingkungan kerja.
Berdasarkan pengertian tersebut kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang
jelas tidak dikehendaki dan seringkali tidak terduga semula yang dapat menimbulkan
kerugian baik waktu, harta benda atau properti maupun korban jiwa yang terjadi di
dalam suatu proses kerja industri atau yang berkaitan dengannya. Dengan demikian
kecelakaan kerja mengandung unsur-unsur sebagai berikut (Tarwaka, 2014):
a. Tidak diduga semula, oleh karena dibelakang peritiwa kecelakaan tidak terdapat
unsur kesengajaan atau perencanaan.
b. Tidak diinginkan atau diharapkan, karena setiap peristiwa kecelakaan akan selalu
disertai kerugian baik fisik maupun mental.
c. Selalu menimbulkan kerugian dan kerusakan, yang sekurang-kurangnya
menyebabkan gangguan proses kerja.
2. Kategori Kecelakaan
Lebih lanjut, pada pelaksanaannya kecelakaan kerja di industri dapat dibagi
menjadi dua kategori utama yaitu (Tarwaka, 2014):
a. Kecelakaan Industri (Industrial Accident): yaitu suatu kecelakaan yang terjadi di
tempat kerja, karena adanya potensi bahaya yang tidak terkendali.
b. Kecelakaan di dalam perjalanan (Community Accident): yaitu kecelakaan yang
terjadi diluar tempat kerja dalam kaitannya dengan adanya hubungan kerja.
C. Investigasi Kecelakaan
1. Definisi
Investigasi kecelakaan merupakan bagian dari program K3 secara keseluruhan
di tempat kerja. Investigasi kecelakaan adalah suatu kegiatan inspeksi tempat kerja
secara khusus, yang dilakukan setelah terjadinya peristiwa kecelakaan atau insiden
yang menimbulkan penderitaan kepada manusia serta mengakibatkan kerugian dan
kerusakan terhadap property/harta benda dan asset perusahaan lainnya. Dengan
demikian, investigasi kecelakaan dan insiden merupakan suatu hal yang sangat

penting dan krusial untuk dilakukan sesegera mungkin setelah setiap adanya kejadian
kecelakaan (Tarwaka, 2014).
Investigasi kecelakaan juga merupaka suatu cara untuk mencari fakta-fakta
yang berkaitan dengan kecelakaan. Penyebab-penyebabnya dan mengembangkan
langkah-langkah untuk mengatasi serta upaya untuk mengendalikan risikonya.
Investigasi atau menyelidiki kecelakaan dilakukan guna mencari sebab-sebab dasar
dari suatu kecelakaan sehingga kecelakaan serupa tidak terulang kembali. Investigasi
biasanya dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap korban, saksi-saksi serta
rekonstruksi atau pengulangan kejadian guna mendapatkan data-data proses
terjadinya kecelakaan, dimana data-data tersebut akan digunakan sebagai bahan untuk
menganalisa dalam mencari sebab dasar dari suatu kecelakaan (Anggun, 2009).
2. Tujuan
Menurut Bird and Germain dalam Tarwaka (2014) bahwa pelaksanaan
investigasi kecelakaan/insiden secara efektif antara lain akan dapat:
a. Menjelaskan tentang apa yang terjadi. Investigasi secara cermat dapat
menyelidiki hal-hal melalui bukti konkret dan mendapatkan pernyataan
sebenarnya tentang apa yang sedang terjadi.
b. Menentukan penyebab sebenarnya. Fakta kesedihan sering menyita waktu
investigasi, sehingga investigasi menjadi dangkal dan kurang berguna. Oleh
karena penyebab sebenarnya tidak dapat diidentifikasi, sehingga investasi waktu
yang diluangkan untuk investigasi menjadi sia-sia.
c. Menentukan risiko kecelakaan. Investigasi yang baik akan dapat memutuskan
kemungkinan terulangnya kecelakaan yang sama dan kemungkinan potensi
kerugian yang besar. Hal tersebut merupakan dua faktor penting di dalam
menentukan jumlah waktu dan biaya yang akan digunakan untuk tindakan
perbaikan.
d. Mengembangkan sarana pengendalian. Sarana pengendalian yang tepat untuk
mengurangi atau menghilangkan risiko, sebagian besar berasal dari hasil

investigasi

yang

dilakukan

dengan

sebenarnya

dan

nyata-nyata

dapat

memecahkan masalah yang terjadi.


e. Mendefinisikan arah kecenderungan. Apabila secara signifikan sejumlah
laporan dapat dianalisa, maka arah kecenderungan emergensi akan dapat
diidentifikasi dan ditangani sesegera mungkin.
f. Mendemonstrasikan perhatian. Kejadian kecelakaan akan memberikan suatu
gambaran tantangan secara gamblang terhadap orang-orang agar selalu berhatihati. Dengan demikian suatu investigasi harus dilakukan secara cermat dan
objektif.
3. Metode
Pemilihan metode investigasi memegang peranan yang krusial, karena tiap
metode memiliki teori dan konsepnya masing-masing yang bisa menghasilkan output,
fokus isu keselamatan dan rekomendasi yang berbeda. Beberapa metode investigasi
kecelakaan sebagaimana disebutkan Center for Chemical Process Safety (CCPS)
(2003) yaitu: Accident Anatomy method (AAM), Action Error Analysis (AEA),
Accident Evolution and Barrier Analysis (AEB), Change Evaluation/Analysis, CauseEffect Logic Diagram (CELD), Causal Tree Method (CTM), Fault Tree Analysis
(FTA), Hazard and Operability Study (HAZOP), Human Performance Enhancement
System (HPES), Human Reliability Analysis Event Tree (HRA-ET), Multiple-Cause,
Systems-oriented Incident Investigation (MCSOII), Multi linear Events Sequencing
(MES), Management Oversight Risk Tree (MORT), Systematic Cause Analysis
Technique (SCAT), Sequentially Timed Events Plotting (STEP), TapRoot Incident
Investigation System, Technique of Operations Review (TOR), dan Work Safety
Analysis.

4. Langkah-langkah Investigasi Kecelakaan


a. Langkah awal adalah melakukan pengamanan pada area kejadian kecelakaan
(safety line, isolasi tempat kejadian, melindungi barang bukti)

b. Melakukan pertolongan pertama pada korban


c. Mengeliminasi bahaya dengan melakukan kontrol terhadap bahan B3 jika ada,
memberikan penerangan, jika terjadi diruang tertutup dan memerlukan udara
segar, buka ventilasi.
d. Melaporkan kecelakaan pada pihak terkait (Klinik/paramedic/ambulance jika
terdapat korban, tim investigasi)
e. Melakukan inspeksi awal, dapat dilakukan dengan walk through
f. Megumpullkan
informasi,
barang
bukti,
keterangan

saksi,

rekam/dokumentasikan kejadian.
g. Menganalisis temuan dan menemukan penyebab (determine the key factors)
dengan mengajukan pertanyaan 5 W 1 H.
h. Melakukan langkah-langkah perbaikan
i. Membuat laporan investigasi dalam bentuk tertulis dengan menyertakan
dokumentasi kejadian dan mengkomunikasikan penemuan (follow up).
D. Metode SCAT
Systematic Cause Analysis Technique (SCAT) adalah suatu tool yang
digunakan untuk mengevaluasi dan menginvestigasi incident dengan menggunakan
SCAT chart. The International Loss Control Institute (ILCI) mengembangkan SCAT
di akhir 1980-an, berdasarkan pada teori Heinrich domino (1941) dan versi yang
diperbarui oleh Bird (1974).
Systematic Cause Analysis Technique (SCAT) disajikan sebagai grafik yang
berisi lima blok yang sesuai sampai lima tahapan dalam proses penyebab kecelakaan.
Blok pertama berisi ruang untuk menulis deskripsi kecelakaan. Blok kedua berisi
daftar kategori yang paling umum dari kontak yang bisa menyebabkan kecelakaan.
Blok ketiga berisi daftar penyebab langsung paling umum dari kontak ini. Sementara
blok keempat mengidentifikasi yang mendasari penyebab. Blok lima daftar praktek
manajemen keselamatan yang harus ditangani untuk mencegah kecelakaan yang
terjadi tidak terulang lagi (Panagiota et al., 2009).
Metode ini menggunakan checklist, yang mengandung pertanyaan tentang
faktor pribadi dan pekerjaan (blok kedua) dan pertanyaan yang sesuai dengan unsur-

unsur dari sistem manajemen keselamatan yang dirancang oleh ILCI. Filosofi
preventif bergantung pada penghapusan salah satu blok, atau mendirikan hambatan
untuk mencegah perpindahan energi dalam urutan (Panagiota et al., 2009). Lima blok
dalam SCAT chart, dan model setiap blok hampir sama dengan ILCI Loss Caution
Model. Berikut Framework SCAT Method.

Keterangan Metode SCAT, meliputi:


1. Pada blok pertama diisi tentang diskripsi dari incident.
2. Blok yang kedua diisi tentang berbagai hal yang dapat memicu timbulnya
kecelakaan.
3. Blok ketuga berisikan tentang immediate cause.
4. Blok yang kempat berisikan basic cause.
5. Blok yang kelima berisikan tentang tindakan yang dapat dilakukan untuk
mensukseskan loss control program.
E. Studi Kasus
Artikel I
Kebakaran Pabrik "Swallow" Diduga Akibat Bahan Kimia
Senin, 22 Maret 2010 13:42 WIB

Jakarta (ANTARA News) - Kepolisian Sektor (Polsek) Metro Kalideres


menduga sumber api yang menyebabkan kebakaran pabrik pembuat sandal
"Swallow" berasal dari tumpukan bahan kimia.
Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) Polsek Metro Kalideres,
Inspektur Dua Herru YS saat dikonfirmasi melalui telepon selular di Jakarta, Senin,
mengatakan dugaan penyebab kebakaran itu berdasarkan keterangan saksi dari
pemilik pabrik dan karyawan PT Sinar Jaya Perkasa.
Herru menuturkan saksi juga mengungkapkan bahan kimia itu secara
mendadak menimbulkan sumber api di sebuah gudang penyimpanan hingga cepat
merambat ke bagian lain.
Keterangan kedua saksi mata itu berbeda dengan pernyataan Kepala Dinas
Pemadam Kebakaran dan Bencana Alam DKI Jakarta, Paiman Napitupulu yang
menyebutkan dugaan penyebab kebakaran akibat kesalahan manusia (human error).
Paimin menuturkan dugaan adanya kesalahan manusia itu saat ada karyawan
yang menghidupkan mesin forklift atau kendaraan pengangkut barang, kemudian
terjadi arus pendek yang menimbulkan percikan api dan menyambar bahan kimia.
Selain itu, sumber api juga membakar karet merupakan bahan pembuat sandal
sehingga mempercepat proses pembakaran yang melalap bangunan pabrik.

Paimin mengungkapkan dugaan itu berdasarkan hasil penyelidikan dari


petugas damkar yang meminta keterangan dari saksi sekaligus korban pada insiden
kebakaran pabrik Swallow itu.
Kanit Reskrim Polsek Metro Kalideres mengungkapkan polisi mendapatkan
kesaksian jarak antara forklift dengan tumpukan material kimia cukup berjauhan.
Herru menjelaskan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri
sudah melakukan olah tempat kejadian, namun belum ada hasilnya karena masih
menunggu contoh dari beberapa jenis bahan kimia yang terbakar.
"Pihak perusahaan sudah meminta bahan kimianya terbakar kepada importir,
karena semua persediaan barangnya terbakar sehingga tidak ada sisa," ujar Herru
seraya menambahkan pihaknya belum bisa memastikan apakah pemicu sumber api
itu berasal dari suhu udara atau ada faktor lainnya.
Polisi

juga

menjadwalkan

pemeriksaan

terhadap

sejumlah

manager

perusahaan terkait dengan peristiwa kebakaran yang menewaskan empat karyawan


itu.
Penyidik akan memfokuskan pertanyaan seputar sistem pengamanan gedung
dan data-data karyawan yang berada di lokasi kebakaran ketika insiden itu terjadi di
dalam pabrik.
Sebelumnya, kebakaran pabrik PT Sinar Jaya Perkasa yang berlokasi di Jalan
Kamal Raya Nomor 34, Kalideres, Jakarta Barat itu terjadi Kamis (11/3),
menewaskan empat orang, yakni Rusli Karmoko, Liana binti Edi, Andrew
Anggrayani, serta Parngat.(T014/A024)
Sumber: http://www.antaranews.com/berita/178908/kebakaran-pabrik-swallowdiduga-akibat-bahan-kimia

Artikel II
Kebakaran Pabrik Sandal Swallow Diduga Akibat Kelalaian

Selasa, 16 Maret 2010 | 10:31 WIB


TEMPO Interaktif, JAKARTA -- Kebakaran yang melanda pabrik sandal
Swallow milik PT Sinar Jaya Prakarsa di Jalan Kamal Raya, Jakarta Barat pada
Kamis lalu (11/3) diduga karena kelalaian. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran DKI
Jakarta, Paimin Napitupulu mengatakan ada dua kelalaian yang dilakukan manajemen
pabrik.
"Bahan kimia ditaruh sembarangan," kata dia. Seharusnya bahan kimia yang
mudah terbakar harus ditempatkan di ruangan khusus yang harus diperhatikan faktor
keamanannya. Dalam kebakaran di pabrik sandal itu, api dengan mudah membesar
karena terkena dengan bahan kimia. Selain itu, alat pemadam kebakaran yang ada
didalam pabrik diragukan apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak.
Saat terjadi kebakaran, pintu darurat yang seharusnya terbuka ternyata dalam
keadaan terkunci sehingga menyulitkan evakuasi karyawan. Kebakaran ini diduga
menewaskan empat orang ini yang terjebak didalam.
Menurut Paimin, untuk mengetahui penyebab kebakaran masih menunggu
hasil olah TKP dari Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri. Jika terbukti benar ada
kelalaian, tentu pihak pabrik bisa dijerat dengan pidana. "Itu wewenang kepolisian,"
katanya.
Namun dari keterangan sejumlah saksi, api berasal dari mesin forklift yang
terbakar lalu menyambar bahan kimia dan bahan baku karet.
Sumber:

https://m.tempo.co/read/news/2010/03/16/064232823/kebakaran-

pabrik-sandal-swallow-diduga-akibat-kelalaian

F. Hasil dan Pembahasan


1. Kronologi Kasus
Kebakaran hebat terjadi di Pabrik Swallow yang berlokasi di Jalan Kamal
Raya Nomor 34, Kalideres, Jakarta Barat pada Kamis, 11 Maret 2010. Pabrik
Swallow merupakan salah satu Rubber Industrial Products yang berada dibawah
perusahaan PT Sinar Jaya Perkasa. PT Sinar Jaya Perkasa merupakan salah satu
perusahaan yang bergerak dalam Pengadaan Barang dan Jasa Industri, salah satu
produk yang ditawarkan adalah Sandal Swallow merupakan salah satu produk yang
dihasilkan oleh industri ini.
Kebakaran ini menelan empat korban jiwa yaitu Andrew Anggrayani (29)
yang diketahui tengah hamil lima bulan, Liana yang merupakan staf administrasi,
Rusli (70) kepala gudang, dan Parngat (60) petugas keamanan. Selain korban jiwa
kebakaran ini juga mengakibatkan kerugian material seperti gedung pabrik yang
habis terbakar, persediaan bahan kimia yang sudah ludes terbakar, kerusakan
peralatan, barang, dan material.
Kronologi kebakaran ini diawali oleh seorang pekerja yang menyalakan
mesin forklift (mesin

pengangkut

barang)

di

daerah

rawan

yang

tidak

dianjurkan yakni di gudang penyimpanan bahan kimia. Kemudian terjadi hubungan


pendek arus listrik ketika seorang karyawan menghidupkan mesin forklift atau
kendaraan pengangkut barang. Percikan api yang timbul karena arus pendek ini
langsung menyambar bahan-bahan kimia yang ada disekitarnya dan menjadi besar
hingga sulit dijinakkan. Pabrik ini menyimpan 95% bahan mudah terbakar, selain itu
bahan pembuat sandal yaitu karet juga mempercepat proses pembakaran yang
melalap bangunan pabrik Hal itu juga yang menyulitkan pihak berwenang untuk
mengevakuasi korban dan memperkecil kerugian.

2. Analisa Penyebab Kecelakan (Metode SCAT)

Berdasarkan data yang didapat maka dapat dilakukan analisis penyebab


kecelakaan dengan menggunakan Metode SCAT. Berikut skema kejadian dengan
metode SCAT.

Categories
Descriptionof
ofContact
Incidentthat Could Have Led
Immediate
to The Incident
Cause
Activities
Basic Cause
for a Successful Loss Control
with
nce of
(electricitry,
fires due toheat,
electric
cold,short
radiation,
circuitcaustics,Unsafe
toxic, Act
substances,
Personal
noise)Factors
Job Safety Analysis (JSA)
Operating Equipment
Inadequate
WithoutPelatihan
Mental/Psychological
Authoritydan pelaksanaan
Capability
prosedur daru
Improper Placement
Mental
Sosialisasi
or Psychological
HSE Plan, Job
Stress
Safety Analysis dan
Failure to Follow
Perbaikan
Procedure
dalam
Lacksistem
of Knowledge
ketanggapan darurat dan sist
Komunikasi
Unsafe
antar
Condition
pekerja danLack
kelompok/unit
of Skill
kerja secara efektif da
Congestion or Restricted Action
Improper Motivation
Inadequate Warning System Job Factor
Fire & Expolsion
Inadequate
Hazards
Leadership and/or Supervision
Hazardous Environmental
Inadequate Tools and Equipment
Excessive Wear and Tear

Description of Incident

The incidence of fires due to electric short circuit: Kecelakaan kerja yang
terjadi di Pabrik Swallow PT Sinar Jaya Perkasa yang berlokasi di Jalan
Kamal Raya Nomor 34, Kalideres, Jakarta Barat berupa kebakaran akibat
hubungan arus pendek dari mesin forklift yang mengenai bahan kimia di
pabrik. Akibat kecelakaan kebakaran ini empat korban jiwa meninggal dan
mengakibatkan kerugian material seperti gedung pabrik yang habis terbakar,
persediaan bahan kimia yang sudah ludes terbakar, kerusakan peralatan,
2

barang, dan material.


Categories of Contact that Could Have Led to The Incident
Contact with (electricitry, heat, cold, radiation, caustics, toxic, substances,
noise): Dalam kasus kebakaran Pabrik Swallow ini kontak yang terjadi adalah
terjadinya hubungan arus pendek yang disebabkan mesin forklift yang
dinyalakan pekerja ke gudang penyimpanan bahan kimia, sehingga percikan
api tadi langsung menyambar bahan kimia yang mudah menguap dan karet

bahan pembuat sandal.


Immediate Causes
Unsafe Acts
Operating Equipment Without Authority: Mengoperasikan mesin
forklift di daerah rawan (gudang penyimpanan bahan kimia) tanpa

sepengetahuan pengawas.
Improper Placement: Meletakkan

penyimpanan bahan kimia.


Failure to Follow Procedure: pekerja tersebut tidak mematuhi prosedur

mesin

forklift

di

gudang

kerja, sehingga dia menyalakan mesin di tempat yang seharusnya tidak


diperbolehkan.

Unsafe Conditions
Congestion or Restricted Action: tempat awal mula kejadian
merupakan area terlarang untuk dimasuki yaitu gudang penyimpanan

bahan kimia, dimana area tersebut dipenuhi oleh bahan kimia yang

mudah menguap.
Inadequate Warning System: sistem peringatan yang kurang, sehingga
pekerja mengoperasikan mesin forklift di area terlarang tersebut dan

sistem peringatan dini akan terjadinya kebakaran juga tidak memadai.


Fire & Expolsion Hazards: gudang penyimpanan bahan kimia

merupakan tempat yang rawan terjadi ledakan dan kebakaran.


Hazardous Environmental: lingkungan Pabrik Swallow merupakan
lingkungan yang memiliki risiko tinggi untuk terjadinya kecelakaan
kerja, hal ini disebabkan oleh banyaknya bahan kimia yang berada di
pabrik dan karet sebagai bahan pembuat sandal yang mudah sekali

terbakar.
Basic Causes
Personal Factors
a Inadequate Mental/Psychological Capability (Kemampuan Mental/Fisik
yang Tidak Layak)
Poor Judgement: pekerja tidak mempertimbangkan risiko yang akan
dihadapinya ketika menyalakan mesin forklift di area tersebut.
Poor Coordination: kurangnya koordinasi antara pekerja dengan
pengawas.
Low Learning Aptitude: pekerja tidak memahami prosedur kerja dan
standar pelaksaanaan kerja sehingga pekerja tidak tahu bahwa
tindakannya menyalakan mesin forklift di gudang penyimpanan bahan
kimia itu merupakan tindakan berbahaya.
Memory Failure: pekerja lupa mengenai prosedur dan standar kerja
b

yang seharusnya dilakukan.


Mental or Psychological Stress (Stress Mental)
Routine, Monotony, Demand for Uneventful Vigilance: tingkat

kewaspadaan pekerja berkurang.


Lack of Knowledge
Inadequate Orientation: pekerja diduga belum cukup memahami
bekerja di gudang penyimpanan bahan kimia.

Inadeguate Update Training: kurangnya pelatihan pelatihan yang


diadakan oleh pihak manajemen dalam meningkatkan upaya

keselamatan dan kesehatan pekerja.


Lack of Skill
Lack of Coaching: kurangnya pengawasan secara khusus dari
mandor/pengawas karena pekerja dapat membawa lolos mesin forklift

ke gudang penyimpanan bahan kimia.


Inadequate Review Instruction: pekerja kurang memahami instruksi
yang disampaikan oleh pihak manajemen/mandor dan instruksi yang

berada di lingkungan kerja.


Improper Motivation
Inadequate Discipline: sikap kerja yang kurang disiplin dilihat dari
pekerja yang tidak mematuhi peraturan, yaitu membawa mesin forklift

ke gudang penyimpanan bahan kimia.


Job Factors
a. Inadequate Leadership and/or Supervision
Giving Inadequate Policy, Procedure, Practices or Guidelines: pihak
manajemen

atau

mandor

kurang

memberikan

pelatihan

dan

menjalankan pekerjaan sesuai SOP.


Inadequate Identification and Evaluation of Loss Exposure: kurangnya
identifikasi dan evaluasi dari kerugian-kerugian yang pernah dialami

sebelumnya oleh pihak manajemen.


Lack of Supervisory/ Management Job Knowledge: mandor kurang
tegas

dalam

menegakkan

kesadaran

HSE

pada

pekerjanya,

mandor/pengawas kurang memahami tugas dan tanggung jawabnya


sebagai mandor dalam hal HSE.
b. Inadequate Tools and Equipment
Inadequate Standards or Specifications: kurangnya standar sistem
pengamanan gedung dan standar sistem ketanggapan darurat, dalam

hal ini dapat dilihat dari sistem pemadaman yang kurang baik.
Inadequate Salvage and Reclamation: kurangnya sistem pemadaman
yang baik.

c. Excessive Wear and Tear


Inadequate Inspection and/ or Monitoring: pihak manajemen/mandor
atau dalam hal ini pihak HSE tidak melakukan kegiatan inspeksi dan

monitoring berkala untuk mengawasi pekerja maupun proses produksi.


Use by Unqualified or Untrained People: pekerja mungkin kurang
mendapatkan

pelatihan

atau

tidak

memiliki

kualifikasi

di

pekerjaannya.
Activities for a Successful Loss Control Programme
Untuk menghindari terjadinya kasus kecelakaan kekembali terulang, dalam
hal ini bagi pihak manajemen Pabrik Swallow sebaiknya melakukan tindakan
sebagai berikut:
a. Membuat dan menerapkan analisis keselamatan kerja (Job Safety
Analysis).
b. Melaksanakan pelatihan dan pelaksanaan prosedur darurat secara rutin.
c. HSE Plan, Job Safety Analysis dan Instruksi Kerja/SOP agar selalu
disosialisasikan perusahaan kepada mandor, pengawas, dan para pekerja
yang dilakukan secara konsisten dan menyentuh kepada potensi bahaya
yang tampak maupun tersembunyi.
d. Membangun komunikasi antar pekerja dan kelompok/unit kerja secara
efektif dan selalu memastikan serta mengingatkan bahwa masing-masing
rekan kerja tidak berada dalam kondisi tidak aman.
e. Melakukan pengawasan secara fokus dan ketat khsusunya untuk pekerjaan
yang berisiko dan berpotensi terjadinya kecelakaan fatal.
f. Memperbaiki sistem ketanggapan darurat, khususnya sistem pemadaman
kebakaran.
g. Melakukan tindakan evaluasi di setiap unit kerja, termasuk pekerja secara
berkala dan rutin.
h. Dalam melakukan investigasi kecelakaan, selidiki pula faktor-faktor
personal dari korban untuk mengetahui penyebab pendukung dari
kecelakaan tersebut (kondisi fisik dan mental pekerja).

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kecelakaan kerja merupakan suatu kondisi yang tidak diharapkan dan tidak
diinginkan yang terjadinya sangat tidak terduga sama sekali sehingga mengacaukan
segala proses kerja yang seharusnya dan juga menimbulkan kerugian baik waktu
kerja, harta benda, bahkan sampai korban jiwa. Kecelakaan kerja yang terjadi pada
Kamis, 11 Maret 2010 di Pabrik Swallow PT Sinar Jaya Perkasa yang berlokasi di
Jalan Kamal Raya Nomor 34, Kalideres, Jakarta Barat yang menewaskan empat
orang pekerja pabrik. Berdasarkan konsep Higiene Industri dengan mencari penyebab
kecelakaan melalui investigasi kecelakaan dengan metode SCAT di peroleh
kecelakaan kerja berupa kebakaran yang disebabkan hubungan arus pendek dimana
terdapat 4 korban meninggal dan kerugian material. Immedite cause atau penyebab
langsungnya adalah unsafe act dan unsafe condition yang saling mempengaruhi.
Basic cause atau penyebab dasarnya adalah personal factor dan job factor. Hal yang
dapat dilakukan untuk mengontrol agar tidak terjadi kecelakaan yang serupa yaitu
dengan mengadakan pelatihan K3, penerapan SOP, pembuatan JSA, pelatihan
prosedur tanggap darurat, dan membangun komunikasi untuk menjamin perilaku K3
selalu terjaga di perusahaan.
B. Saran
Dalam kecelakaan ini kesalahan tersebar merata dan sistemik. Tidak hanya
kondisi lingkungan tetapi pengawasan dan implementasi K3 pun terlihat kurang
memadai di perusahaan. Seharusnya pihak perusahaan harus memperhatikan hal ini
dan membenahi pelaksanaan K3 dalam perusahaan tersebut. Mulai dari memenuhi
syarat administrative, artinya menempatkan orang yang tetap dan qualified dalam
bidangnya. Kemudian perusahaan harus memenuhi standar perlindungan terhadap

kondisi

kerja

yang

memang

sudah

diketahui

sebelumnya

dengan

cara

mengidentifikasi secara akurat potensi bahaya dan melakukan upaya yang tepat.
Selain itu juga bagi setiap pekerja harus menanamkan di dalam diri masing-masing
untuk selalu patuh dan taat dalam berperilaku K3 agar saling mendukung dalam
program K3 yang dilaksanakan oleh perusahaan

DAFTAR PUSTAKA
Benjamin O. ALLI. 2008. Fundamental Priciples of Occupational Health and Safety.
Geneva: International Labour Office.
Center for Chemical Process Safety. 2003. Guidelines for Investigating Chemical
Process Incidents. New York: American Institute of Chemical Engineers.
Evryanti. 2012. Kajian Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Petugas
Kesehatan dan Petugas Kebersihan Klinik X Tahu 2012. Skripsi. Depok:
Universitas Indonesia.
Katsakiori, Panagiota et al. 2009. Towards an Evaluation of Accident Investigation
Methods in Terms of Their Alignment with Accident Causation Models. Safety
Science,47:1007-1015.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. 463 Tahun 1993 Tentang Pola Gerakan
Nasional.
Kurniawan, Budi. 2008. Risk Assesment dan Usulan Perbaikan pada Kegiatan
Pemasangan Pipa Pemboran di PT. Saripati Pertiwi Abadi Lokasi Tambang PT.
Newmont Nusa Tenggara Tahun 2008. Skripsi. Depok: Universitas Indonesia.
Moekijat. 1999. Manajemen Sumber Daya Manusia (Manajemen Kepegawaian),
Mandar Maju, Bandung.
Occupational Safety and Health Center. 1989. Occupational Safety and Health
Standards (As Amended 1989). Manila: Department of Labor and Employment.
Peraturan Pemerintah No.44 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Program Jaminan
Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian.
Permatasari, Anggun. 2009. Investigasi Kecelakaan Penyebrangan Perlintasan KRL
UI-Margonda Depok. Depok: Universitas Indonesia.
Tarwaka. 2014. Manajemen dan Implementasi K3 di Tempat Kerja. Surakarta:
Harapan Press.
Undang-Undang No.3 Tahun 1992 Tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
Undang-Undang RI No.1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja.

Undang-Undang RI No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.


World Health Organization. 2001. Occupational Health: A Manual for Primary Health
Care Workers. Cairo: Regional Office for The Eastern Mediterranean.