Anda di halaman 1dari 10

ARINAL HAQ

5/F3
B36211084

RESUME KULIAH ; EKONOMI POLITIK MEDIA


I. BEGINNING ECONOMIC POLITIC MEDIA
Media selalu menarik untuk dilihat dari berbagai disiplin keilmuan. Setiap disiplin
keilmuan memiliki sudut pandang beragam terhadap media. Media bisa disebutkan merupakan
sebagai perangkat besar menuju satu tujuan besar dalam suatu bangsa dan negara. Dalam
mewujudkannya harus terdapat kekuatan yang besar. Mereka yang menguasai media memiliki
kuasa begitu besar. Tujuan besar itu membangun budaya Rakyat atau menguasainya.
Media juga dapat menjadi ruang publik yang utama dan dapat menentukan dinamika
sosial, politik dan budaya, di tingkat lokal maupun global. Media massa juga dapat di jadikan
suatu ruang dalam mengiklankan suatu barang dan jasa untuk meningkatkan penjualan dari
barang dan jasa yang di iklankan. Media mampu menghasilkan pendapatan dalam perekonomian
dan menjadi faktor penghubung antara produk barang dan jasa. Dan yang paling penting didalam
media massa adalah media juga bisa menyebarkan dan memperkuat struktur ekonomi dan politik
tertentu. Menurut teori Marxis tentang posisi media dalam sistem kapitalisme modern, teori
tersebut mengatakan bahwa media massa merupakan kelas yang mengatur. Kelas yang dapat
mengatur segala aspek yang ada didalam suatu negara dan dapat mempengaruhi unsur-unsur
dalam bidang perekonomian maupun politik pemerintahan. Media massa dapat dikatakan sebagai
lembaga kunci dari masyarakat modern. Dari pernyataan yang di jelaskan sebelumnya dari peran
media, dapat di tarik pertanyaan bahwa bagaimana ekonomi politik media itu sendiri
ECONOMIC POLITIC MEDIA
Istilah ekonomi politik diartikan secara sempit oleh Mosco sebagai studi tentang
hubungan-hubungan sosial, khususnya hubungan kekuasaan yang saling menguntungkan antara
sumbersumber produksi, distribusi dan konsumsi, termasuk didalamnya sumber-sumber yang
terkait dengan komunikasi. Pengertian ekonomi politik secara sederhana adalah hubungan
kekuasaan (politik) dalam sumber-sumber ekonomi yang ada di masyarakat. Apa yang disebut
dengan ekonomi politik media.
Ekonomi politik media adalah media sebagai institusi politik dan institusi ekonomi yang
mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi khayalak. Jadi bagaimana media itu digunakan untuk

bertahan dari keterbatasan income dan alat untuk menambah kekuasaan serta memperluas
sumberdaya yang dimiliki oleh stakeholder. Satu prinsip yang harus diperhatikan di sini adalah
dalam sistem industri kapitalis media massa harus diberi fokus perhatian yang memadai
sebagaimana institusi-institusi produksi dan distribusi lain. Kondisi-kondisi yang ditemukan pada
level kepemilikan media, praktik-praktik pemberitaan, dinamika industri dan radio, televisi,
perfilman, dan periklanan, mempunyai hubungan yang saling menentukan dengan kondisikondisi ekonomi-politik spesifik yang berkembang di suatu negara, serta pada gilirannya juga
dipengaruhi oleh kondisi-kondisi ekonomi-politik global.
Dimensi Economic Media
Dimensi Ekonomi Media Dimensi Ekonomi Media terbagi menjadi dua, yaitu :
Ekonomi Makro, External :
Makro-ekonomi menjelaskan perubahan ekonomi yang mempengaruhi banyak
masyakarakat, perusahaan, dan pasar. Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara
terbaik untuk memengaruhi target-target kebijaksanaan seperti pertumbuhan ekonomi,stabilitas
harga, tenaga kerja dan pencapaian keseimbangan neraca yang berkesinambungan.
Contohnya :Pendapatan Per kapita, Jumlah Pengangguran Nasional, Serapan Pajak, Efek
Globalisasi.
Ekonomi Mikro, Internal :
Mikro-Ekonomi mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan hargaharga pasar dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjualbelikan. Ekonomi mikro
meneliti bagaimana berbagai keputusan dan perilaku tersebut memengaruhipenawaran dan
permintaanatas barang dan jasa, yang akan menentukan harga; dan bagaimana harga, pada
gilirannya, menentukan penawaran dan permintaan barang dan jasa selanjutnya
Contohnya :Cash flow Perusahaan, Kesejahteraan karyawan, Strategi Pemasaran, Bentk
sajian media, serta Perhitungan untung rugi media.
Pergerakan Ekonomi Makro dan Mikro dalam bisnis media juga ditentukan oleh
Shareholders terkait yaitu : Konsumen, Management Biard Media, dan Pemerintah.
COMERCIAL MEDIA = REVENUE ?
Media komersial adalah media yang dikelola dan diusahakan oleh satu organisasi bisnis,
sehingga orientasi kerjanya adalah untuk mendapatkan keuntungan.Biaya operasi media
komersial ini diperoleh dari hasil penjualan, baik penjualan produk media, seperti berita, hiburan
maupun penjualan ruang untuk para pemasang iklan untuk mempromosikan produknya. Dalam
kehidupan sehari-hari kita bisa menyaksikan bagaimana sebagian besar media yang ada di
Indonesia, baik cetak dan elektronik merupakan media komersial. Media tersebut, selain
menjual produk yang berupa berita yang dikemas dalam berbagai acara, juga menyediakan ruang
dan waktunya untuk para pemasang iklan. Media yang dikategorikan sebagai media komersial,
yaitu Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Radio Prambors, RCTI, MNC TV, MetroTV atau ANTV.

PENDEKATAN KRITIS (COMERSIAL MEDIA REVENUE)


Perspektif untuk melihat bagaimana peran kekuasaan/pemilik media televisi, terhadap
eksistensi perkembangan dunia pertelevisian dapat digunakan teori ekonomi politik. Teori ini
berangkat dari pendekatan kritis yang muncul sebagai respon terhadap akselerasi kapitalisme.
Teori ekonomi politik, secara umum sering digunakan untuk mendiskripsikan relasi antara sistem
ekonomi, sistem politik, dan sistem komunikasi dalam struktur kapitalisme global. Teori
ekonomi politik lebih terfokus pada hubungan struktur ekonomi, dinamika industry media dan
ideology media. Artinya media tidak lebih dari satu bagian cakupan dalam sistem ekonomi, yang
juga di asumsikan dekat dengan sistem politik, dan kekuasaan.
Teori ini menjelaskan bahwa pasar dan ideology memiliki pengaruh besar terhadap
penentuan content media. Perbedaan content media antara satu dengan lainnya tergantung pada
kekuasaan pemilik media (modal) pada industry media yang bersangkutan. Dalam konteks
ini menganggap bahwa media berfungsi untuk melegitimasi kekuasaan dan menanamkan
kesadaran palsu bagi masyarakat sebagai khalayak media. Media diyakini bukanlah sekedar
sebagai medium lalulintas arus informasi, antara unsur social,dan budaya dalam masyarakat.
Media telah berfungsi sebagai alat penundukan, dan pemaksaan consensus,oleh kelompok
tertentu yang bertendensi memiliki kepentingan ekonomi dan politik dominan. Pada ranah ini
pola kepemilikan dan produk-produk yang disampaikan media adalah perangkat ideologis yang
melanggengkan dominasi kelas pemodal terhadap public, hanya untuk memuluskan lahirnya
berbagai regulasi yang pro-kapitalis/pasar. Dalam konteks operasional media lebih dominan
sebagai medium para pengiklanutama,yang secara signifikan mampu mendorong dan
meningkatkan penjualan produk barang dan jasa, disamping memperkuat struktur ekonomi dan
politik tertentu. Faktor kepemilikan media ini berimplikasi pada konsekuensi berkembangnya
isu-isu ekonomi politik, tentang homogenisasi ,agenda setting dan hegemoni budaya media.
a. Homogenisasi dapat diartikan sebagai penyeragaman bentuk tayangan program
televisi,(financial pressures ands other forces lead all media product to becom
similar,standard and uniform).
b. Agenda setting, merupakan upaya-upaya media untuk membuat pemberitaan tidak
hanya menjadi saluran isu dan peristiwa, melainkan terdapat strategi tertentu yang
dimainkan media sehingga pemberitaan memiliki nilai publikasi lebih seperti yang
diharapkan media yang bersangkutan.
c. Hegemoni budaya, merupakan pandangan bahwa telah terjadi dominasi kelas di
masyarakat, atas dominasi kelas lainnya. Hegemoni budaya mengidentivikasi dan
menjelaskan dominasi dan upaya mempertahankan kekuasaan, metode yang
digunakan mereka yang berkuasa atas kelas-kelas subordinat untuk menerima dan
mengadopsi perubahan nilai dalam kelas tersebut.

Realitas Dan Imparsialitas Berita


Permasalahan paling actual yang sering menjadi topic diskusi di kalangan akademika,
dan praktisi peneliti komunikasi dan media, diantaranya netralitas pemberitaan media televisi
komersial ketika pemiliknya masuk kedalam politik praktis. Bagi televisi komersial yang
berbasis ideology kapitalisme, yang dipersoalkan bukanlah bagaimana sebuah tayangan televisi
itu bertabrakan dengan aspek moralitas, etika politik, pornografi dan lainnya, melainkan
bagaimana ia dapat meningkatkan rating untuk mendukung perputaran capital.
Lepas dari persoalan itu masuknya para pemilik media ke dunia politik praktis menjadi
sangat menarik. Meski secara formal mereka tidak menggunakan media televisi sebagai sarana
kampanye politik mereka secara terbuka, tetapi secara sembunyi tidak bisa di pungkiri, jika awak
televisi yang mereka miliki tidak kuasa menolak keinginan sang pemilik untuk memaksakan
kehendak politiknya.
Pengaruh kekuasaan pemilik (modal/media) terhadap netralitas berita sangat kentara.
Implikasinya content media televisi komersial dalam group terentu cenderung bersifat homogin.
Homoginitas content mengakibatkan penonton media televisi mengalami kesulitan untuk
mencari referensi. Kesulitan mencari referensi karena informasi bersumber dari media televisi
group yang dimiliki orang yang sama. Para pemilik media televisi komersial itu adalah orang
yang dekat dengan kekuasaan. Mereka membangun group media dengan kepemilikan silang,
untuk kepentingan, ekonomi, politik dan ideology tertentu.Dalam perspektif Marxian media
berpotensi menyebarkan ideology dominan. Ideologi dominan inilah yang di asumsikan
mempunyai potensi untuk menguatkan hegemoni kekuasaan para pemilik media televisi
komersial.Dimana tekanan pemilik media tidak jauh dari kepentingan ekonomi, politik dan
ideology tersebut. Tekanan dari aspek ekonomi untuk mengembalikan investasinya. Tekanan
yang datang dari aspek politik dan ideology untuk membangun kelanggengan kekuasaan.
Semankin kuatnya tekanan dari pemilik media, semakin sulit politik keredaksian media televisi
bersikap netral, untuk mempertahankan idepedensinya di hadapan khalayak pemirsanya. Kondisi
tersebut hampir melanda televisi komersial di Indonesia.

II. CORPORATE STARTEGIES


SUPPLY CHAIN
Supply Chain dapat dikatakan sebagai sumber penghasilan yang menjadi penggerak
media. Supply Chain Management (Manajemen Rantai Suplai) merupakan proses pengelolaan
seluruh aktivitas atau rangkaian aktivitas perencanaan dan pengelolaan barang dan jasa dari hulu
ke hilir secara terpadu, sejak dari pembelian material, perencanaan produksi, proses transformasi
(produksi) material menjadi bahan setengah jadi dan produk jadi, dan penyimpanan baik bahan
baku dan produk jadi hingga akhirnya penyampaian produk jadi (akhir) kepada end customer
atau end user melalui suatu sistem distribusi. Jadi, Supply Chain Management mengatur aktivitas
sejak di supply cycle, response cycle sampai ke delivery cycle.Bahkan saat ini Supply Chain
Management sudah menjadi competitive advantage yang sangat penting bagi perusahaan untuk
memberikan pelayanan yang cepat dengan produk yang bervariasi dan berkualitas tinggi dengan
cost yang rendah, sehingga Perusahaan dapat tetap exist di tengah persaingan yang semakin ketat
dan tingkat biaya yang semakin tinggi.
Ada 3 macam hal yang harus dikelola dalam supply chain , yaitu :
1. Aliran barang dari hulu ke hilir, contohnya bahan baku dan bahan pembantu yang di
kirim dari pemasok ke pabrik, produk akhir yang di kirim ke perusahaan labeling dan
packaging, produk akhir yang setelah produksi selesai dikirim ke distributor,
pengecer, kemudian hingga ke pemakai akhir.
2. Aliran uang, dan sejenis yang mengali dari hilir ke hulu dalam hal ini adalah alat
tukar barang atau jasa yang dapat berupa uang atau jaminan bank guarantee seperti
cek dan giro.
3. Aliran informasi, yang bisa terjadi dari hulu ke hilir atau sebaliknya contohnya
informasi kebuthan pesanan, desain produk, jadwal pemesanan, jumlah pesanan,
metode distribusi , chekpoint barang dan semua hal yang sifatnya informatif dan
membantu proses distribusi barang untuk secepatmungkin sampai ke tangan
konsumen.
Untuk dapat menganalisa Supplay Chain, maka harus dilihat tahapan stategi bisnis media
secara parsial.Secara garis besaa, ada tiga variabel strategis bisnis media.

Production merupakan suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menambah nilai guna suatu
benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan.
Produksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Contoh dalam lingkup media, yang

termasuk dalam produktion adlah filmmakers, musisi, content provide, dan production house.
Berawal dari merekalah, sebuah ide di garap menjadi suatu benda yang bernilai dan
bermanfaat bagi kebutuhan manusia.
Packaging (pengemasan) merupakan wadah atau pembungkus yang dapat membantu
mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi produk yang ada di dalamnya, melindungi
dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik. Di samping itu pacaging (pengemasan)
berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan atau produk industri agar mempunyai
bentuk-bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan distribusi.
Pengemasan yang dimaksud juga termasuk pengemasan yang bukan benda yg secara jelas
terlihat bentuknya, namun bisa juga konsep atau sesuatu benda yang tidak berbentuk yang
bisa di raba atau di pegang.Contoh dalam lingkup media : penerbit, jaringan radio, dan
jaringan TV
Distribusi adalah salah satu aspek dari pemasaran. Distribusi juga dapat diartikan sebagai
kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang
dan jasa dari produsen kepada konsumen, sehingga penggunaannya sesuai dengan yang
diperlukan (jenis, jumlah, harga, tempat, dan saat dibutuhkan).
Seorang atau sebuah perusahaan distributor adalah perantara yang menyalurkan produk
daripabrikan (manufacturer) kepengecer (retailer). Setelah suatu produk dihasilkan oleh
pabrik, produk tersebut dikirimkan (dan biasanya juga sekaligus dijual) ke suatu
distributor.Distributor tersebut kemudian menjual produk tersebut ke pengecer atau
pelanggan.Contoh dalam lingkup media : agen media, station TV

CHANGING MARKET STUCTURE AND BOUNDARIES (GLOBALISATION)


Vertical Expansion
- Kelebihan : Low Cost, lebih kepada efisiensi, kualitas output, konsisten, fokus
- Kekurangan : kurang dinamis, ketergantungan terhadap variabel pendukung.
Horizontal Expansion
- Kelebihan : market share yg lebih luas, energi tidak banyak, varian output
media lebih beragam.
- Kekurangan: rentang bersebrangan dengan loyalitas audience, kurang humanis
Diagonal Expansion
- Kelebihan : lebih leluasa dalam gerak, dinamis, antisipatif terhadap segala
kemungkinan
- Kekurangan : tidak fokus, berhadap dengan loyal audience, interdependent
dengan kepentingan.

III.

ECONOMICS OF ADVERTISING

Advertising as Trigger for Private Media

Iklan-Masyarakat-Media akan menjadi lingkaran besar yang tak


terpisahkan. Iklan dibuat untuk tujuan menyadarkan komunikan dan memberikan
informasi tentang sebuah barang, jasa, atau gagasan, menumbuhkan dalam diri komunikan suatu
perasaan suka akan barang, jasa ataupun ide yang disajikan derngan memberikan persepsi
kepadanya, meyakinkan komunikan akan kebenaran tentang apa yang dianjurkan dalam iklan
dan karenanya menggerakkannya untuk berusaha memiliki atau menggunakan barang atau jasa
yang dianjurkan.Maka perlu adanya perantara yaitu media. Saat ini iklan sudah
menjadi penting dalam memajukan atau mengembangkan media. Iklan
melalui media disisipkan diberbagai acara futures, Trafic Report, Berita dan
Hiburan, serta Sinetron dalam sebuah media.
Periklanan adalah fenomena bisnis modern. Tidak ada perusahaan yang ingin maju dan
memenangkan kompetisi bisnis tanpa mengandalkan iklan. Demikian penting peran iklan dalam
bisnis modern sehingga salah satu bentuk bonafiditas perusahaan terletak pada seberapa besar
dana yang dialokasikan untuk iklan tersebut. Di samping itu, iklan merupakan jendela kamar dari
sebuah perusahaan. Keberadaannya menghubungkan perusahaan dengan masyarakat, khususnya
para konsumen. Iklan merupakan bagian dari pemasaran suatu produk. Iklan juga akan menjadi
nilai keuntungan ekonomi bagi para industri periklanan pada berbagai media.
Untuk membuat periklanan yang dapat menggugah keinginan yang besar maka manajer
pemasaran harus memulai dengan mengidentifikasikan pasar sasaran dan motif pembelian.
Adalima keputusan utama dalam membuat program periklanan, yang disebutnya dengan lima M,
yaitu : Mission (misi) : apakah tujuan periklanan ?
Money (uang): barapa banyak yang dapat dibelanjakan ?
Message (pesan) : pesan apa yang harus disampaikan ?
Media (media) : media apa yang akan digunakan ?
Measurement (pengukuran) ; bagaimana mengevaluasi hasilnya ?

TECHNOLOGY DALAM INDUSTRI IKLAN MEDIA (ANCAMAN DAN HARAPAN)

M yang ke 4 adalah media, media apa yang digunakan adalah pertanyaan yang utama
dalam periklanan. Perkembangan teknologi telah melahirkan banyak media yang hadir di
masyarakat mulai periklanan di media cetak, radio, telivisi, dan new media internet. New media
ini akan sangat berdampak pada industri periklanan jenis lainnya. Terutama dampak yang sudah
terlihat adalah pada media cetak.
Berikut ini dibeberkan sebanyak empat ancaman yang menimpa media cetak di
tengahsengitnya bisnis media massa saat ini. Pertama, kehadiran teknologi Internet menjadi
ancaman besar bagi eksistensi media cetak berbasiskan kertas.Pemerataan infrastruktur Internet
pada sebuah negara, tentulah menjadi "kiamat" bagi peradaban media cetak berbasis kertas.
Pemanfaatan teknologi Internet untuk mendukung kehadiran media online maupun media
elektronik, secara langsung maupun tidak langsung menarik pembaca media cetak untuk beralih
dalam mengonsumsi jenis media massa yang terintegrasikan ke jaringan Internet. Akibatnya
jumlah pembaca atau pelanggan media cetak menjadi berkurang.
Ancaman kedua bersumber dari perubahan perilaku anak-anak muda zaman sekarang
yanGlebih "care" pada teknologi Internet daripada teknologi kertas. Dalam buku Agung
Adiprasetyo, pada tahun 2006 sebanyak 16 persen anak muda sedunia memanfaatkan Internet
sebagai sumber informasi, 42 persen anak muda masih membaca koran, 28 persen menonton
televisi dan 10 persen mengakses informasi dari radio. Dari angka-angka di atasmenunjukkan
penetrasi Internet di kalangan anak muda sangat tinggi, dan surat kabar berbasiskertas semakin
tidak populer di kalangan anak muda.
Ancaman ketiga, yakni bermigrasinya para pengiklan media cetak ke media jenis lainnya,
terutama ke media online. Menurut Danny Oey Wirianto (Ketua Pengembangan Digital
AdvertisingP3I), sejak tahun 2009-2011 belanja iklan digital naik 100 persen per tahun. Belanja
iklan digital(media online) pada tahun 2012 kemarin berhasil meraup Rp 1 triliun, belanja iklan
di televisisebesar Rp 55,98 triliun; belanja iklan di surat kabar Rp 28,9 triliun, dan belanja iklan
di majalahdan tabloid mencapai Rp 2,6 triliun. Total belanja iklan media Indonesia mencapai Rp
87,471triliun sepanjang tahun 2012. Memang belanja iklan untuk media digital masih kecil,
namun lajuperkembangannya setiap tahun menunjukkan tren positif.
Keempat, ancaman lainnya yakni semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk
mencintailingkungan hidup. Bahan baku kertas yang bersumber dari pohon-pohon hutan; jelaslah
menimbulkan permasalahan kompleks terhadap lingkungan hidup. Sebab pabrik-pabrik kertas
itumembutuhkan suplai pohon-pohon hutan dalam jumlah besar.Hal tersebut memicu terjadinya
penebangan pohon-pohon hutan secara liar (illegal logging).Kesadaran penduduk dunia untuk
peduli pada kelestarian lingkungan hidup; berpeluang besar untuk memunculkan gerakan
pemboikotan untuk tidak memakai, membeli, maupun membaca segala produk yang berasal dari
kertas; termasuk di dalamnya media cetak.
Di samping ancaman besar di atas, ada lima peluang emas yang dimiliki media cetak di
tengah sengitnya kompetisi bisnis media massayang berdampak pada bisnis periklanannya juga,
terutama agresivitas media online, yaitu: Pertama,media cetak tetap memiliki peluang dalam
merebut perhatian pembaca tradisional (loyal) di mana usia mereka saat ini berada pada kisaran
lebih dari 40 tahun ke atas. Model pembaca tradisional menjadikan surat kabar sejak usia kecil

hingga sekarang atau dalam sepanjang hidupnya menjadi rujukan informasi utama. Sangat sulit
bagi mereka untuk mengubah/menggeser gaya hidup dalam menjadikan media cetak sebagai
sumber rujukan utamanya. Ada 2 pengelompokkan pembaca surat kabar dalam tiga jenis. Satu,
pembaca tradisional yangserius, yang ingin membaca koran dengan lebih santai. Dua, pembaca
selintas (scanner), yang hanya melihat judul, foto dan membaca potongan-potongan baris, serta
berita sekilas.Tiga,pembaca yang sangat cepat (supersonic readers), yang hanya memiliki waktu
lima menit di pagi hari untuk melihat sekilas berita-berita yang ada.
Kedua, dari sisi konten media cetak tidak bisa tergantikan oleh jenis media massa
lainnya.Dari sisi kedalaman, kelengkapan dan keragaman dimensi berbagai persoalan yang
disajikan sebagai total news atau lebih tepatnya news in its totality. Setiap total news siap untuk
dibedah dalam arti dibuat terbuka untuk diperikan (description), dijelaskan (explanation) dan
bersama itu penyelesaian soal ditawarkan (solution). Ketiga, teknologi surat kabar sangat
"welcome" untuk dipersilangkan dengan teknologi Internet sehingga menghasilkan tablet
newspaper atau paperless newspaper; di mana surat kabar tidak lagi berwujud kertas, melainkan
berujud media digital. Secara substansial, konten yang ada disurat kabar berbasis kertas sama
persis yang terkandung dalam tablet newspaper maupun paperlessnewspaper atau electronic
paper (e-paper). Masyarakat di dalam negeri maupun luar negeri memiliki dua pilihan dalam
mengakses surat kabar bersangkutan, yakni dalam bentuk kertas atau dalam versi lain yang
berbentuk digital. Dalam perspektif lain, peluang yang ketiga ini bisa bersifat "dekonstruktif"
terhadap eksistensi media cetak berbasis kertas; sebab akan banyak pembaca surat kabar kertas
yang mengalihkan pilihannya pada e-paper; mengingat lebih mudah diakses dan dapat diunduh
secara gratis. Namun juga bersifat konstruktif terhadap media cetak berbasis kertas, sebab konten
yang disajikan oleh media bersangkutan tersampaikan kepada pembaca dalam jumlah yanglebih
besar lagi.
Dengan kata lain, hadirnya paperless newspaper (tablet newspaper atau e-paper)akan
mengurangi oplah/tiras surat kabar berbasis kertas, yang otomatis menurunkan tingkat
keterbacaan (readership) koran tersebut; namun pada saat bersamaan berpeluang besar
menambah jumlah pembaca surat kabarnya dalam versi digitalnya, yang otomatis meningkatkan
derajatketerbacaan (readership) koran elektronik tersebut.Keempat, adanya peluang pasar di
Indonesia yang belum tersentuh oleh media cetak masih sangat besar.Hal tersebut menjadi
peluang emas bagi industri media cetak. Dengan membandingkan tingkat penetrasi Internet di
Indonesia pada Agustus 2013 yang masih berkisar antara 40 juta - 85 juta pengguna (penetrasi
Internet di Indonesia sebesar 16,7 - 35,4 persen); sedangkan jumlah oplah/tiras seluruh media
cetak di Indonesia mencapai 21 juta eksemplar (artinya tingkat penetrasi media cetak di
Indonesia baru mencapai 8,75 persen); sedangkan komposisi penduduk Indonesia yang
berjumlah sekitar 240 juta jiwa; masih terbuka peluang bisnis untukmengembangkan industri
media cetak di Indonesia. Kelima, sektor industri media cetak dapat menggerakkan sektor
perekonomian yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan industri media online. Pada media
cetak melibatkan para wartawan, penulis, desainer, editor, tukang pengecer/loper koran, agen,
pengiklan, karyawan pabrik kertas, karyawan percetakan, sopir, dsb. Sedangkan pada media
online hanya melibatkan kalangan tertentu saja.Dari sisi pemberdayaan masyarakat secara

massal, media cetak lebih unggul.Namun dari sisi efesiensi biaya produksi, media online jauh
lebih unggul.
penutup
BAB III
PENUTUP

3.3. Kesimpulan
Kepentingan media dan pemilik media itu sendiri sangat berpengaruh terhadap isi atau
program yang disampaikan kepada masyarakat dimana isi atau program tersebut
merepresentasikan kepentingan ekonomi dan bisnis maupun politik pemilik media itu sendiri.
Akibatnya kepentingan masyarakat untuk mendapatkan kebenaran menjadi hilang. Semua itu
karena adanya proses agenda setting dan framing yang dilakukan oleh media yang disesuaikan
dengan kepentingan pemilknya. Kebenaran yang tidak didapatkan masyarakat tersebut dapat
menyebabkan masyarakat terhegemoni dengan menerima kebenaran versi media massa.
Selain itu, pemngaruh lainnya adalah kesempatan masyarakat untuk mendapat tayangan
atau program alternatif yang lebih berimbang sulit untuk didapatkan karena telah terjadi
pemilikan banyak media oleh segelintir kelompok tertentu yang mana tentunya juga berakibat
pada terjadinya homogenisasi informasi.