Anda di halaman 1dari 5

PENGOLAHAN DATA MENGGUNAKAN SOFTWARE

IP2WIN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS


KONFIGURASI SCHLUMBERGER
Nanik Alviandari
115.140.003
Program Studi Teknik Geofisika, Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Yogyakarta
Jalan SWK 104 Condongcatur, Yogyakarta

INTISARI
Metode geofisika memanfaatkan prinsip prinsip fisika untuk menggambarkan
pola dibawah permukaan bumi. Salah satu metodenya ialah metode geolistrik yang
memanfaatkan kelistrikan bumi untuk mengidentifikasi kondisi bawah permukaannya.
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode resitivitas, di mana tahanan
jenis material yang diperhitungkan. Konfigurasi yang digunakan dalam penelitian ini
adalah konfigurasi Schlumberger di mana dikenal baik untuk survey sounding. Alat bantu
pengolahan data adalah software IP2WIN yang dapat mencocokkan kurva-kurva untuk
mendapatkan model yang paling pas untuk kemudan dibuat penampang vertikalnya. Hasil
akhir dari penelitian ini yaitu terdapatnya lapisan pertama yang memiliki reistivitas 225
Ohm-meter dengan ketebalan 1,43 m material didominasi oleh kerikil. Lapisan kedua
memiliki resistivitas yang lebih tinggi yaitu 656 Ohm-meter dengan ketebalan 3,97 m
sebagai lapisan aluvium kering, serta lapisan ketiga dengan tebal 17,8 m dan nilai
resistivitas 711 Ohm-meter diinterpretasikan sebagai lapisan pasir denga kandungan air
yang rendah. Secara keseluruhan daerah penelitian tergolong daerah yang kering,
materialnya tida mengandung banyak air dan pula tidak mengandung banyak material
logam sehingga nilai resistivitasnya cenderung tinggi.

Kata Kunci : Geolistrik, IP2WIN, Konfigurasi Schlumberger, Resistivitas, Sounding


1. PENDAHULUAN
Geofisika adalah ilmu yang
mempelajari bumi dengan menggunakan
metode fisika dan logika geologi untuk
mempelajari struktur bawah permukaan
bumi. Dalam aplikasinya, metode
geofisika dapat menggunakan sumbersumber
pengukuran,
salah
satu
sumbernya dapat berupa sumber
kelistrikan atau yang dikenal dengan
metode geolistrik.
Teknik
pengukuran
metode
geolistrik terbagi menjadi dua, yaitu
teknik aktif dan teknik pasif. Teknik
pengukuran
aktif
membutuhkan
penginjeksian
arus
listrik
untuk
mengukur respon material dibawah

permukaan bumi. Teknik pengukuran


pasif tidak membutuhkan penginjeksian
arus karena memanfaatkan energi listrik
yang ada di bawah permukaan bumi.
Salah satu metode geolistrik aktif yaitu
metode resistivitas, yang digunakan
untuk mengetahui nilai resistivitas dari
lapisan atau batuan, sangat berguna
untuk mengetahui kemungkinan adanya
lapisan akifer atau lapisan batuan yang
merupakan lapisan pembawa air,
pendeteksian caprock baik pada
petroleum system maupun geothermal
system, untuk eksplorasi mineral logam,
mengetahui kedalaman bedrock dan
sebagainya.

Maksud dari penelitian ini yaitu


untuk
memahami
bagaimana
pengolahan data geolistrik resistivitas
konfigurasi Sclumberger, pembuatan
model penampang serta interpretasinya.
Konfigurasi elektroda pada metode
resistivitas beragam, salah satunya
adalah
konfigurasi
Schlumberger.
Konfigurasi ini merupakan konfigurasi
yang sesuai dengan tujuan penelitian,
yaitu untuk mempelajari variasi
resistivitas lapisan bawah permukaan
bumi secara vertikal.
2. DASAR TEORI
Geolistrik merupakan salah satu
metode Geofisika untuk mengetahui
perubahan tahanan jenis lapisan batuan
di bawah permukaan tanah dengan cara
mengalirkan
arus listrik DC yang
mempunyai tegangan tinggi ke dalam
tanah.
Injeksi
arus
listrik
ini
menggunakan 2 buah elektroda arus A
dan B yang ditancapkan ke dalam tanah
dengan jarak tertentu. Semakin panjang
jarak elektroda AB akan meyebabkan
aliran arus listrik bisa menembus lapisan
batuan lebih dalam. Dengan adanya
aliran arus listrik tersebut maka akan
menimbulkan tegangan listrik dalam
tanah. Tegangan listrik yang terjadi di
permukaan tanah diukur dengan
menggunakan
multimeter
yang
terhubung melalui 2 buah elektroda
tegangan M dan N yang jaraknya lebih
pendek dari jarak elektroda AB. Bila
posisi jarak elektroda AB diubah
menjadi lebih besar maka tegangan
listrik yang terjadi pada elektroda MN
ikut berubah sesuai dengan informasi
jenis batuan yang ikut terinjeksi arus
listrik pada kedalaman yang lebih besar.

Metode
geolistrik
resistivitas
dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu :
a. Metode tahanan jenis mapping
Metode tahanan jenis mapping
merupakan metode tahanan jenis yang
bertujuan untuk mempelajari variasi
resistivitas bawah permukaan secara
lateral.
b. Metode tahanan jenis sounding
Metode tahanan jenis sounding
bertujuan untuk mempelajari variasi
resistivitas batuan di bawah permukaan
bumi terhadap kedalaman. Dalam
penelitian
ini
bertujuan
untuk
mengetahui bagaimana litologi di bawah
permukaan secara vertikal. Oleh karena
itu penelitian menggunakan metode
geolistrik
resistivitas
konfigurasi
Schlumberger.

Gambar 2. Konfigurasi Schlumberger

Konfigurasi
Schlumberger
menggunakan 2 elektroda arus AB dan 2
elektroda potensial MN dengan susunan
A, M, N, B. Pada konfigurasi
Schlumberger idealnya jarak MN dibuat
sekecil-kecilnya, sehingga jarak MN
secara teoritis tidak berubah. Tetapi
karena keterbatasan kepekaan alat ukur,
maka ketika jarak AB sudah relatif besar
maka jarak MN hendaknya dirubah.
Perubahan jarak MN hendaknya tidak
lebih besar dari 1/5 jarak AB.
Keunggulan konfigurasi ini adalah
kemampuan untuk mendeteksi adanya
non-homogenitas lapisan batuan pada
permukaan,
yaitu
dengan
membandingkan nilai resistivitas semu
ketika terjadi perubahan jarak elektroda
MN/2. Sedangkan kelemahannya adalah
adalah pembacaan tegangan pada
elektroda MN lebih kecil terutama
ketika jarak AB yang relatif jauh,
sehingga
diperlukan
alat
ukur
multimeter
yang
mempunyai
karakteristik high impedance dengan
akurasi
tinggi
sehingga
bisa

Gambar 1. Cara Kerja Metode Geolistrik

menampilkan tegangan minimal 4 digit


atau 2 digit di belakang koma.
Faktor geometri (K) dapat dicari
dengan rumus:
=

lapisan. Dari nilai resistivitas tersebut,


kita dapat menentukan jenis material di
titik tersebut berdasarkan tabel di bawah
ini.

2
1
1
1

1 1
2 1
1 2+
2 2
2
1
1
1
1

+
2
+ 2
+ 2
2

= .
Faktor geometri untuk konfigurasi
Schlumberger yaitu:

Tabel 1. Tabel resistivitas material-material


Bumi (Telfrod, 1990)

3. METODOLOGI
=

Kemudian dilakukan perhitungan


nilai R dengan membagi nilai tegangan
terukur dengan nilai arus terukur dan
menghitung resistivitas (). Cara
intepretasi Schlumberger adalah dengan
metode penyamaan kuva (curve
matching). Ada 3 (tiga) macam kurva
yang
perlu
diperhatikan
dalam
intepretasi Schlumberger dengan metode
penyamaan kurva, yaitu :
Kurva Baku
Kurva Bantu, terdiri dari tipe H, A,
K dan Q
Kurva Lapangan
Untuk mengetahui jenis kurva bantu
yang akan dipakai, perlu diketahui
bentuk umum masing-masing kurva
lapangannya.
Kurva bantu H, menunjukan harga
minimum dan adanya variasi 3
lapisan dengan 1 > 2 < 3.
Kurva bantu A, menunjukkan
pertambahan harga dan variasi
lapisan dengan 1 < 2 < 3.
Kurva bantu, K menunjukan harga
maksimum dan variasi lapisan
dengan 1 < 2 > 3.
Kurva
bantu Q, menunjukan
penurunan harga yang seragam :
1 > 2 > 3
Setelah
mendapatkan
kurva
matching dengan error terkecil, didapat
nilai resistivitas per masing-masing

Mulai

Data Sintetik
Pengolahan Data Ms. Excel
Pencocokan Kurva
Penampang
Interpretasi

Selesai
Gambar 3. Diagram alir pegolahan data

Langkah-langkah pengolahan data


adalah sebagai berikut:
1. Mengolah data sintetik untuk
mendapatkan nilai Rho dengan
menggunakan software Ms. Excel.
2. Data olahan Ms. Excel digunakan
sebagai data input pada IP2WIN.
Pertama jalankan aplikasi IP2WIN
kemudian klik file > New VES
Point, kemudian inputkan data-data
yang diperlukan yaitu AB/2, MN
dan Rho, kemudian save datanya.
3

3. Garis warna biru merupakan nilai


rho dari komputasi, kurva warna
merah merupakan kurva sintesis dan
warna hitam merupakan data
lapangan. Lalu mengatur kurva
merah agar mendekati kurva hitam
dengan menggerakkan garis biru
hingga diperoleh nilai error yang
kecil dengan cara menambahkan
split ataupun join, dimana fungsi
tersebut adalah untuk menambahkan
permodelan kurva (split) dan
menggabungkan hasil split tersebut
(join). Pada proses pemodelan
dilakukan dengan memperhatikan
presentase error, semakin kecil
presentase error maka data akan
semakin bagus. Informasi nilai
resistivitas, nilai ketebalan dan nilai
kedalaman akan ditampilkan pada
tabel.
4. Membuat model penampang vertikal
dari data pada tabel menggunakan
CorelDraw.
5. Langkah terakhir adalah interpretasi
data baik secara kualitatif dan
kuantitatif.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pencocokan kurva matrching
pada IP2WIN dilakukan dengan
melakukan pendekatan ke salah satu
kurva
karakter
konfigurasi
Schlumberger, di mana pada titik awal
mengalami sedikit penurunan kemudian
berangsur naik dengan gradien rendah
sampai pada titik terakhir sebagai titik
tertingginya. Pun begitu, presentase
error yang diperoleh masih tergolong
besar yaitu 29,6%. Data input yang
digunakan terlalu kasar sehingga tidak
mudah untuk mendapatkan kurva
sintetis (merah) yang berhimpitan
dengan kurva data (hitam).

Gambar 4. Kurva matching pada IP2WIN

Penarikan garis biru dengan


menghasilkan 3 lapisan yang berbeda
yang ditampilkan pada tabel data.
Lapisan pertama memiliki resistivitas
225 Ohm-meter dengan ketebalan 1,43
m, lapisan kedua memiliki resistivitas
656 Ohm-meter dan ketebalan 3,97 m.
Sedangkan untuk lapisan ketiga
memiliki nilai resistivitas yang paling
tinggi yaitu 711 m dengan ketebalan
17,8 m. Total kedalaman yang terdeteksi
pada penelitian kali ini yaitu 23,24
meter.

Gambar 5. Tabel data resistivitas

Dengan menggunakan referensi


nilai resistivitas material-material bumi
oleh Telfrod (1990) diperoleh bahwa
lapisan pertama merupakan endapan
yang didominasi oleh kerikil sehingga
dapat menyimpan air hujan maupun air
permukaan lainnya (rembesan, air
limbah, dll). Lapisan kedua berupa
endapan aluvium yang terkompaksi di

dalam sehingga kandungan airnya


sedikit dan nilai resistivitasnya cukup
tinggi. Serta pada lapisan ketiga
diinterpretasikan sebagai lapisan pasir
dengan kandungan air yang sangat
rendah. Secara keseluruhan daerah
penelitian tergolong daerah yang kering,
materialnya tidak mengandung banyak
air sehingga tidak memiliki potensial
sebagai sumber air.

Gambar 6. Profil kedalaman

Kondisi daerah penelitian juga


tidak menggambarkan adanya potensi
mineral logam karena nilai resistivitas
yang didapat secara keseluruhan
tergolong tinggi. Namun jika dilihat dari
jenis materialnya yang secara geologi
memiliki kemampuan untuk menyimpan
cadangan air karena porositasnya yang
tinggi, sehingga pada suatu waktu ketika
curah hujan tinggi lokasi tersebut dapat
menyimpan cadangan air dalam jumlah
yang banyak.

5. KESIMPULAN
Lapisan
pertama
memiliki
reistivitas 225 Ohm-meter dengan
ketebalan 1,43 m material didominasi
oleh kerikil. Lapisan kedua memiliki
resistivitas yang lebih tinggi yaitu 656
Ohm-meter dengan ketebalan 3,97 m
sebagai lapisan aluvium kering, serta
lapisan ketiga dengan tebal 17,8 m dan
nilai resistivitas 711 Ohm-meter
diinterpretasikan sebagai lapisan pasir
denga kandungan air yang rendah.
Secara keseluruhan daerah penelitian
tergolong
daerah
yang
kering,
materialnya tida mengandung banyak air
sehingga tidak memiliki potensial
sebagai sumber air. Namun jika dilihat
dari jenis materialnya yang secara
geologi memiliki kemampuan untuk
menyimpan cadangan air karena
porositasnya yang tinggi, sehingga pada
suatu waktu ketika curah hujan tinggi
lokasi tersebut dapat menyimpan
cadangan air dalam jumlah yang banyak.
DAFTAR PUSTAKA
Telford, WM. 1990. Applied Geophysics
Second
Edition.
Cambridge
University.
Tim Laboratorium Geofisika Eksplorasi.
2016.
Buku Panduan Praktikum
Geolistrik, Laboratorium Geofisika
Eksplorasi,
Jurusan
Teknik
Geofisika,
Fakultas
Teknologi
Mineral, Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Yogyakarta.