Anda di halaman 1dari 100

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

BAB I
PRINSIP KERJA MOTOR LISTRIK ARUS BOLAK BALIK

Motor listrik arus bolak balik yang biasa disebut motor induksi merupakan
salah satu peralatan mesin listrik yang berfungsi untuk mengubah daya listrik menjadi
daya mekanik. Secara umum motor listrik mempunyai prinsip kerja berdasarkan
percobaan Lorentz yang menyatakan Jika sebatang kawat penghantar yang berarus
listrik berada di dalam medan magnet, maka pada kawat penghantar tersebut akan
terbentuk suatu gaya. Untuk menghargai percobaan yang dilakukan Lorentz tersebut,
maka gaya yang terbentuk dinamakan gaya Lorentz. Untuk menentukan arah gaya yang
terbentuk tersebut sering digunakan kaidah tangan kiri Flemming atau kaidah telapak
tangan kiri. Gambar: 1.1 di bawah ini menunjukkan susunan kaidah tangan kiri
Flemming.

Gambar: 1.1 Kaidah Tangan Kiri Fleming

Susunan kaidah tangan kiri Flemming tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
Jika ibu jari, jari tengah dan jari telunjuk disusun seperti gambar: 1.1 di atas, maka jari
telunjuk menunjukkan arah garis gaya magnit (ggm), jari tengah menunjukkan arah arus
yang mengalir pada kawat penghantar dan ibu jari menunjukkan arah gaya yang
terbentuk. Sedang gambar: 1.2 di bawah ini menunjukkan susunan kaidah telapak
tangan kiri.

YKT Pontianak

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 1.2 Susunan Kaidah Telapak Kiri

Susunan kaidah telapak tangan kiri tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
Jika telapak tangan kiri direntangkan sedemikian rupa sehingga ibu jari dan keempat jari
saling tegak lurus, maka arah garis gaya magnit (ggm) menembus tegak lurus dengan
telapak tangan, arah arus yang mengalir pada kawat penghantar ditunjukkan oleh arah
keempat jari tangan dan arah gaya yang terbentuk akan ditunjukkan oleh arah ibu jari
tangan.
Motor listrik arus bolak-balik biasanya disebut motor induksi dan sering juga
disebut motor tidak serempak, disebut demikian karena jumlah putaran rotor tidak sama
dengan jumlah putaran medan magnet stator. Menurut jenis fase listrik arus bolak-balik
yang ada, motor induksi terdiri dari 2 (dua) jenis juga yaitu motor induksi 1 fase dan
motor induksi 3 fase. Secara umum kedua jenis motor induksi tersebut mempunyai
prinsip kerja yang sama, namun jika ditinjau secara mendetail sebenarnya kedua jenis
motor tersebut mempunyai perbedaan. Untuk lebih jelasnya mengenai prinsip motor
induksi 1 fase dan 3 fase dapat diuraikan sebagai berikut:

YKT Pontianak

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

A. PRINSIP KERJA MOTOR INDUKSI 1 FASE


Disebut motor induksi 1 fase karena untuk mendapatkan daya mekanik
hanya diperlukan sumber listrik arus bolak-balik 1 fase. Pada dasarnya motor 1 fase
mempunyai prinsip kerja motor 2 fase, hal tersebut dkarenakan lilitan yang terdapat
dalam inti stator yang dikenal dengan nama lilitan stator mempunyai 2 macam lilitan
yaitu lilitan utama dan lilitan bantu. Kedua macam lilitan tersebut mempunyai sifat
yang berbeda dimana lilitan utama terdiri dari sejumlah kawat penghantar yang
berpenampang besar sedangkan lilitan bantu terdiri dari sejumlah kawat penghantar
yang berpenampang lebih kecil dari penampang kawat penghantar lilitan utama.
Berdasarkan keadaan yang demikian, maka arus yang mengalir pada
masing-masing lilitan mempunyai perbedaan fase, bentuk gelombang arus atau flux
magnet dari masing-masing lilitan dapat digambarkan seperti pada gambar: 1.3 di
bawah ini.

Gambar: 1.3 Bentuk Gelombang Fluks Magnet

Dari kedua flux magnet yang terdapat pada lilitan stator tersebut, maka terjadilah
suatu medan magnet putar pada celah udara yang selanjutnya akan terjadi
perputaran rotor pada motor 1 fase tersebut. Jumlah putaran rotor (nR) selalu lebih
rendah dari jumlah putaran medan magnet stator (nS), selisih putaran tersebut
dinamakan slip (s). Besarnya slip dapat dinyatakan dengan rumus :

YKT Pontianak

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

s = (nS nR) / nS

Biasanya pada motor induksi 1 fase, lilitan bantunya dhubungkan dengan


kapasitor yang dilengkapi dengan saklar centrifugal yaitu suatu saklar yang
berfungsi untuk memutuskan rangkaian lilitan bantu secara otomatis jika putaran
motor sudah mendekati serempak atau sebesar 75% dari putaran normal, sehingga
lilitan bantu tidak berfungsi lagi. Pada dasarnya lilitan bantu pada motor induksi 1
fase berfungsi unutk mendapatkan torsi awal yang lebih besar pada saat start awal.

B. PRINSIP KERJA MOTOR INDUKSI 3 FASE


Apabila lilitan stator motor induksi 3 fase dihubungkan pada sumber listrik
3 fase, maka pada lilitan stator tersebut akan terjadi medan magnet putar. Sedangkan
pada rotornya juga terdapat lilitan yang dihubungkan singkat, sehingga berdasarkan
percobaan Faraday pada lilitan rotor tersebut terbentuk gaya gerak listrik (ggl)
induksi yang cukup besar, sesuai dengan percobaan Lorentz pada lilitan rotor
terbentuk gaya gerak magnet (ggm) yang dapat memutar rotor tersebut.
Prinsip terjadinya medan mgnet putar dapat dijelaskan seperti pada gambar:
1.4 berikut ini.

Gambar: 1.4 Bentuk Gelombang Arus Listrik 3 Fasa

YKT Pontianak

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Saat t = t0
Jika flux1 (1) = 0, maka flux2 (2) = 87% x flux max (m) negatip, dan flux3
(3) = 87% x flux max (m) positip, sehingga secara vektor jumlah flux adalah
flux total (t) = flux1 (1) + flux2 (2) + flux3 (3) atau flux total (t) = 150% x
flux max (m) dan arahnya dapat digambarkan seperti pada gambar: 1.5 berikut ini.

Gambar: 1.5 Vektor Jumlah dan Arah Fluks Magnet Saat t = t0

Saat t = t1
Jika flux1 (1) = 50% x flux max (m), maka flux2 (2) = maximum negatip, dan
flux3 (3) = 50% x flux max (m), sehingga secara vektor jumlah flux adalah flux
total (t) = flux1 (1) + flux2 (2) + flux3 (3) atau flux total (t) = 150% x flux
max (m) dan arahnya dapat digambarkan seperti pada gambar: 1.6 berikut ini.

Gambar: 1.6 Vektor Jumlah dan Arah Fluks Magnet Saat t = t1

YKT Pontianak

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Saat t = t2
Jika flux3 (3) = 0, maka flux1 (1) = 87% x flux max (m) positip, dan flux2
(2) = 87% x flux max (m) negatip, sehingga secara vektor jumlah flux adalah
flux total (t) = flux1 (1) + flux2 (2) + flux3 (3) atau flux total (t) = 150% x
flux max (m) dan arahnya dapat digambarkan seperti pada gambar: 1.7 berikut ini.
Dengan cara yang sama, maka untuk saat berikutnya yaitu saat t = t3, t = t4, t = t5
dan seterusnya akan diperoleh suatu kenyataan bahwa dalam satu periode akan
terjadi satu kali perputaran medan magnet stator. Sehingga untuk n periode akan
diperoleh n kali perputaran medan magnet stator. Seacara umum jumlah putaran
medan magnet stator dapat ditentukan dengan rumus :
n = (60 . f) / p
dimana : n = jumlah putaran medan magnet stator dalam rotasi per menit (RPM)
p = jumlah pasang kutub
f = frekwensi sumber listrik dalam Hertz (Hz).

Gambar: 1.7 Vektor Jumlah dan Arah Fluks Magnet Saat t = t2

Seperti halnya pada motor induksi 1 fase putaran rotor selalu mempunyai
arah yang sama dengan arah putaran medan magnet stator dan selalu lebih rendah
dari jumlah putaran medan magnet stator. Selisih putaran rotor dengan putaran

YKT Pontianak

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

medan magnet stator juga disebut slip (s). Prinsip terjadinya slip pada motor induksi
1 fase dan motor induksi 3 fase adalah sama, secara garis besar akan dijelaskan
sebagai berikut :
Jika suatu saat jumlah putara rotor sama dengan jumlah putaran medan
magnet stator, maka tidak terjadi perpotongan antara flux magnet dengan lilitan
rotor sehingga gaya gerak listrik (ggl) induksi pada lilitan rotor sama dengan nol (E
= 0) dan arus rotor juga sama dengan nol (Ir = 0), yang mengakibatkan gaya gerak
magnet (ggm) juga sama dengan nol (F = 0) dan pada akhirnya putaran rotor
menurun (nR < nS). Penurunan putaran rotor tersebut mengakibatkan terjadinya
perpotongan antara flux magnet dengan lilitan rotor, sehingga pada lilitan rotor
terbentuk gaya gerak listrik (ggl) induksi yang mengalirkan arus pada rotor dan
timbullah gaya gerak magnet (ggm), maka motor berputar lebih cepat lagi. Peristiwa
tersebut selalu terjadi terus menerus dan hal ini mengakibatkan terjadinya slip motor
(s). Untuk lebih jelasnya prinsip terjadinya slip (s) dapat dijelaskan dengan blok
diagram seperti di bawah ini.

Sumber

Medan putar pada


stator dengan jumlah
putaran nS = (60.f) / p

Prinsip trnsformator, pada


rotor timbul Er dan Ir
Berdasar Hukum Lorentz
pada lilitan rotor timbul
gaya (F) dan Torsi

Selama motor berputar


loop ini selalu terjadi
setiap saat.
nR<nS, maka ada
slip, timbul Er dan Ir
pada lilitan rotor

YKT Pontianak

nR turun

Rotor berputar hingga


nR = nS
Saat nR = nS, Er = 0, Ir=0
F = 0 dam Torsi = 0

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

BAB II
JENIS-JENIS MOTOR LISTRIK ARUS BOLAK BALIK

A. JENIS-JENIS MOTOR INDUKSI 1 FASE


Berdasarkan start awal (starting)-nya dikenal beberapa jenis motor induksi
1 fase yaitu motor fase belah (split fase), motor kapasitor dan motor kutub bayangan
(shaded pole). Sedangkan yang bukan merupakan motor induksi, tetapi termasuk
motor komutator yaitu motor universal dan motor repulsi. Motor-motor induksi
biasanya menggunakan rotor sangkar, sedangkan yang bukan motor induksi
menggunakan rotor lilit dilengkapi dengan komutator.
1. MOTOR FASE BELAH (SPLIT FASE)
Untuk memperoleh putaran medan magnet stator, lilitan utama dan lilitan
bantu dibuat sedemikian rupa sehingga arus yang mengalir pada masing-masing
lilitan tidak sefase. Medan magnet putar ini sangat diperlukan tertutama untuk
mendapatkan torsi awal yang cukup besar. Untuk memperoleh arus lilitan utama
(Iu) dan arus lilitan bantu (Ib) agar tidak sefase dapat dilakukan dengan cara:
-

Lilitan utama terdiri dari jumlah lilitan yang lebih sedikit dengan penampang
kawat lilitan yang lebih besar dari pada lilitan bantu.

Lilitan bantu terdiri dari jumlah lilitan yang lebih banyak dengan penampang
kawat lilitan yang lebih kecil dari pada lilitan utama.
Skema rangkaian dari motor fase belah (split fase) dapat dilihat seperti

pada gambar: 2.1 di bawah ini.

Gambar: 2.1 Skema Rangkaian Motor Phasa Belah


YKT Pontianak

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Untuk mendapatkan medan magnet putar yang baik dan untuk mencegah agar
lilitan bantu tidak selalu dialiri arus, biasanya pada motor fase belah (split fase)
dipasang suatu saklar centrifugal yang dihubungkan deret (seri) dengan lilitan
bantu. Saklar centrifugal (lihat gambar: 2.2) adalah saklar yang dapat terbuka
secara otomatis jika putaran motor telah mencapai 75 % dari putaran normalnya.
Karakteristik torsi fungsi putaran atau T = f (n) dari motor fase belah
(split fase) pada saat start awal dapat dapat dilukiskan seperti pada gambar: 2.3
berikut ini.

Gambar: 2.2 Konstruksi Saklar Centrifugal

Gambar: 2.3 Karakteristik Motor Phasa Belah

YKT Pontianak

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Torsi awal motor fase belah (split fase) mencapai 1 kali torsi beban penuh dan
arus awalnya dapat mencapai 7 8 kali arus beban penuh. Arus tersebut sulit
diukur secara langsung dengan menggunakan ampere meter, tetapi untuk dapat
menafsirkan besarnya arus awal tersebut dapat dilakukan dengan tes terkunci.
Misalnya untuk tegangan V1 besarnya arus awal motor adalah I, maka untuk
tegangan V2 besarnya arus awal motor adalah :
I awal = (V2 / V1) x I Ampere

2. MOTOR KAPASITOR
Motor kapasitor mempunyai prinsip kerja seperti motor fase belah (split
fase), tetapi pada lilitan bantunya dipasang deret (seri) dengan sebuah kapasitor
yang berfungsi untuk memperoleh beda fase antara arus lilitan utama (Iu)
dengan arus lilitan bantu (Ib) yang lebih besar yaitu diusahakan mendekati .
Kapasitor yang digunakan pada motor kapasitor ada beberapa jenis antara lain
yaitu jenis tabung plastik, jenis tabung aluminium dan jenis kotak, untuk lebih
jelasnya jenis-jenis kapasitor yang ada dipasaran dapat dilihat pada gambar: 2.4
berikut ini.

(a)

(b)

(c)

Gambar: 2.4 (a) Kapasitor Jenis Tabung Plastik


(b) Kapasitor jenis Tabung Aluminium
(c) Kapasitor Jenis Kotak

YKT Pontianak

10

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Jika ditinjau menurut prinsip pengoperasiannya, motor kapasitor dibagi


menjadi 3 (tiga) jenis yaitu :
a. MOTOR KAPASITOR START
Skema rangkaian dan karakteristik torsi fungsi putaran motor atau T =
f (n) dari motor kapasitor start pada saat start awal dapat dilukiskan seperti
pada gambar: 2.5 berikut ini.

Gambar: 2.5(a) Skema Motor Kapasitor Start


(b) Diagram Phasor Motor Kapasitor Start
(c) Karakteristik Motor Kapasitor Start

Dengan adanya kapasitor akan diperoleh torsi awal yang lebih besar jika
dibandingkan dengan motor fase belah (split fase).
Sedangkan rangkaian dari beberapa macam motor kapasitor start ditunjukkan
seperti gambar: 2.6 berikut ini.

YKT Pontianak

11

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 2.6(a) Rangkaian Motor Kapasitor Start

Keterangan gambar : RW = Run Winding (Kumparan Utama)


SW = Start Winding (Kumparan Bantu)
1

= Relay Arus

= Kapasitor Start

= Terminal Ke Sumber Listrik

= Alat Pengaman Beban Lebih

Gambar: 2.6(b) Rangkaian Motor Kapasitor Start 1 arah putaran

YKT Pontianak

12

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Keterangan gambar : CS = Saklar Centrifugal


RW = Run Winding (Kumparan Utama)
SW = Start Winding (Kumparan Bantu)
1

= Terminal Ke Sumber Listrik

= Kapasitor Start

= Sambungan Dalam

Gambar: 2.6(c) Rangkaian Motor Kapasitor Start 2 Kecepatan 2 Kapasitor

Keterangan : CS = Saklar Centrifugal


LOW = Posisi Kecepatan Rendah
HIGH = Posisi Kecepatan Tinggi
HIGH RW = Kumparan Utama untuk Kecepatan Tinggi
LOW RW = Kumparan Utama untuk Kecepatan Rendah
HIGH SW = Kumparan Bantu untuk Kecepatan Tinggi
LOW SW = Kumparan Bantu untuk Kecepatan Rendah

YKT Pontianak

= Kapasitor untuk Kecepatan Rendah

= Kapasitor untuk Kecepatan Tinggi

= Saklar Pengatur Kecepatan

13

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

b. MOTOR KAPASITOR START DAN RUN


Pada motor jenis ini terdapat dua buah kapasitor yang dapat dirangkai
seperti pada gambar: 2.7a dan karakteristik torsi fungsi putaran motor atau T
= f (n) dari motor kapasitor start dan run pada saat start awal dapat
dilukiskan seperti pada gambar: 2.7b berikut ini.
Pada saat kapasitor 1 (C1) dan kapasitor 2 (C2) terhubung semua,
sehingga diperoleh beda fase yang cukup besar antara flux lilitan utama dan
flux lilitan bantu, maka akan diperoleh torsi awal yang lebih besar yaitu
mencapai 400% - 500% dari torsi beban penuh. Setelah putaran motor
mencapai 70% - 80% dari putaran nominal, maka kapasitor 1 (C1) akan
terlepas dan kapasitor 2 (C2) tetap terpasang, sehingga beda fase antara flux
lilitan utama dan flux lilitan bantu menurun dan torsi motorpun menurun.

Gambar: 2.7(a) Skema Motor Kapasitor Start dan Run


(b) Karakteristik Motor Kapasitor Start dan Run

Jika dibandingkan dengan motor kapasitor start, motor jenis ini mempunyai
torsi dan efisiensi yang lebih besar.

YKT Pontianak

14

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

c. MOTOR KAPASITOR PERMANEN


Pada motor jenis ini terdapat sebuah kapasitor yang dipasang
permanen (tetap) yang skemanya dapat dilihat seperti pada gambar: 2.8a,
Sedangkan rangkaian dari beberapa macam motor kapasitor permanen
ditunjukkan pada gambar: 2.8b, c dan d berikut ini.

Gambar: 2.8(a) Skema Motor Kapasitor Permanen

Gambar: 2.8(b) Rangkaian Motor Kapasitor Permanen 2 arah putaran

Keterangan gambar : FORWARD = Posisi Arah Maju


REVERSE = Posisi Arah Mundur
A dan B = Kumparan Motor yang dapat ditukar-tukar
sebagai Kumparan Bantu atau Kumparan Utama.

YKT Pontianak

15

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 2.8(c) Rangkaian Motor Kapasitor Permanen 2 Kecepatan

Keterangan gambar : AUX = Kumparan Auxiliary


RW = Run Winding (Kumparan Utama)
SW = Start Winding (Kumparan Bantu)
HIGH = Posisi Kecepatan Tinggi
LOW = Posisi Kecepatan Rendah

Gambar: 2.8(d) Rangkaian Motor Kapasitor permanen 3 Kecepatan

YKT Pontianak

16

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Keterangan gambar : AUX 1 = Kumparan Auxiliary Pertama


AUX 2 = Kumparan Auxiliary Kedua
RW = Run Winding (Kumparan Utama)
SW = Start Winding (Kumparan Bantu)
L1, L2 = Terminal Ke Sumber Listrik
HIGH = Posisi Kecepatan Tinggi
MEDIUM = Posisi Kecepatan Menengah
LOW = Posisi Kecepatan Rendah
C

= Kapasitor

Torsi awal motor kapasitor permanen sangat sulit diukur dengan


menggunakan alat ukur torsimeter, namun demikian untuk menafsirkan
besarnya torsi awal tersebut dapat digunakan suatu pendekatan sebagai
berikut : Misalnya untuk memperoleh jumlah putaran motor yang sangat
lambat dibutuhkan tegangan sumber sebesar V1 dan menghasilkan torsi
keluaran sebesar T1, maka untuk tegangan sumber sebesar V2 akan
diperoleh torsi awal motor sebesar: T2 = (V2 / V1) x T1 Newton meter.

3. MOTOR KUTUB BAYANGAN (SHADED POLE)


Motor kutub bayangan (shaded pole) mempunyai konstruksi kutub
seperti pada gambar: 2.9a berikut ini.

Gambar: 2.9a Konstruksi Motor Kutub Bayangan

YKT Pontianak

17

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Pada kutub-kutubnya terdapat dua bagian yaitu bagian yang bercelah dan bagian
yang dipasang cincin hubung singkat. Jika motor dihubungkan pada sumber
listrik arus bolak-balik 1 fase, maka berdasarkan hukum Faraday pada lilitan
yang dihubung singkat yang terdapat pada kutub magnetnya akan terbentuk gaya
gerak listrik (ggl) induksi dan arus induksi. Arus yang timbul akan menghasilkan
flux magnet yang arahnya selalu melawan flux utama, bagian tersebut sering
dinamakan kutub bayangan (shaded pole). Dalam kenyataannya bahwa flux
yang dihasilkan oleh kutub utama dan kutub bayangan mempunyai perbedaan
fase, dengan demikian didalam celah udara kutub terdapat flux medan magnet
yang berputar dan berlaku prinsip seperti halnya motor-motor induksi jenis yang
lain. Karakteristik torsi fungsi putaran rotor atau T = f (nR) dapat dilukiskan
seperti pada gambar: 2.9b berikut ini.

Gambar: 2.9b Karakteristik Motor Kutub Bayangan

4. MOTOR UNIVERSAL
Motor universal adalah suatu motor listrik yang dapat dioperasikan
pada sumber listrik arus bolak-balik (AC) maupun sumber listrik arus searah
(DC). Terbentuknya torsi dalam motor universal dapat dilukiskan seperti pada
gambar: 2.10 berikut ini.

YKT Pontianak

18

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 2.10 Terbentuknya Torsi Pada Motor Universal

Misalnya motor universal berada pada kondisi seperti gambar:2.10a, motor


mempunyai putaran searah dengan arah jarum jam maka torsi motor yang
terbentuk mempunyai harga positip. Dalam kondisi berikutnya seperti gambar:
2.10b, diperoleh arah putaran motor yang tetap berarti torsi motor tetap
mempunyai harga positip. Diagram fase motor universal dapat dilukiskan seperti
pada gambar: 2.10c dan diperoleh persamaan : V = Er + (I . X)
dimana: V = Tegangan sumber dalam Volt (V)
Er = Tegangan rotor dalam Volt (V)
I = Arus yang mengalir dalam Ampere (A)
X = Reaktansi dalam Ohm ()

Dengan mengabaikan kerugian yang terjadi maka akan diperoleh


persamaan : T ac = (Er . I) / = (V . I . Cos ) /
YKT Pontianak

19

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

dimana: T ac = Torsi yang terbentuk saat motor diberi sumber


listrik arus bolak-balik dalam Newton meter (Nm)
= Sudut putaran rotor dalam Radian (Rad)
V . I . Cos = Daya masukan motor dalam Watt (W)

Jika motor dihubungkan pada sumber listrik arus searah (DC), maka dengan
mengabaikan kerugian yang ada akan diperoleh persamaan :
T dc = ( V . I ) / Nm
Untuk harga tegangan sumber (V), arus yang mengalir (I) dan sudut putaran
rotor () yang sama akan diperoleh suatu perbandingan :
T ac / Tdc = (V . I . Cos ) / (V . I) = Cos
dimana: Cos = Sudut fase (faktor daya).
Karakteristik torsi fungsi putaran motor atau T = f (n) motor universal dapat
dilukiskan seperti pada gambar: 2.11 berikut ini.

Gambar: 2.11 Karakteristik Motor Universal

a. MENGATUR JUMLAH PUTARAN MOTOR UNIVERSAL


Untuk mengatur jumlah putaran motor universal dapat dilakukan
dengan mengatur flux magnetnya. Dalam mengatur flux magnet dapat
dilakukan dengan cara :
-

Mengatur jumlah lilitan penguat magnet dengan arus penguat yang tetap.

Mengatur arus penguat magnet dengan jumlah lilitan yang tetap.

YKT Pontianak

20

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 2.12 berikut ini menunjukkan cara pengaturan jumlah putaran


motor universal dengan cara mengatur jumlah lilitan penguat magnet dengan
arus penguat yang tetap.

Gambar: 2.12 Cara Mengatur Jumlah Putaran Motor Universal

b. MEMBALIK ARAH PUTARAN MOTOR UNIVERSAL


Untuk membalik arah putaran motor universal dapat dilakukan dengan cara :
-

Membalik arah arus penguat magnet dengan arah arus jangkar/angker


yang tetap.

Membalik arah arus jangkar/angker dengan arah arus penguat magnet


yang tetap.

Gambar: 2.13 berikut ini menunjukkan cara membalik arah putaran motor
universal dengan cara membalik arah arus penguat magnet dengan arah arus
jangkar yang tetap.

Gambar: 2.13 Cara Membalik Arah Putaran Motor Universal

YKT Pontianak

21

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

5. MOTOR REPULSI
Motor repulsi merupakan motor listrik arus bolak-balik 1 fase yang
menggunakan komutator seperti halnya motor universal. Pada motor repulsi ini
komutator tidak dihubungkan dengan sumber listrik seperti pada motor
universal, melainkan sikat-sikat pada motor tersebut dihubungkan singkat satu
sama lain sehingga pada lilitan jangkar motor mengalir arus induksi. Dalam
motor repulsi terdapat beberapa posisi sikat seperti yang ditunjukkan pada
gambar: 2.14 berikut ini.

Gambar: 2.14 Posisi Sikat Pada Motor Repulsi

Pada gambar:2.14a ditunjukkan bahwa sikat tegak lurus dengan flux


magnet dan arus pada masing-masing sisi kumparan cukup besar, tetapi

YKT Pontianak

22

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

separohnya memberi torsi ke kiri dan separohnya memberi torsi ke kanan,


sehingga motor tidak dapat berputar atau dalam keadaan diam.
Pada gambar: 2.14b ditunjukkan bahwa sikat sejajar dengan flux
magnet dan masing-masing lilitan mempunyai polaritas tegangan yang sama,
sehingga tidak ada arus yang mengalir pada sisi kumparan, maka motorpun tidak
dapat berputar atau dalam keadaan diam.
Pada gambar: 2.14c ditunjukkan bahwa sikat miring sebesar 45 derajat
terhadap flux magnet ke kiri, sebagian tegangan saling meniadakan dan terdapat
sebagian yang lain mengalirkan arus yang cukup besar yang dapat memutar
rotor, sehingga motor akan berputar berlawanan dengan arah putar jarum jam
(ke kiri).
Pada gambar: 2.14d ditunjukkan bahwa sikat miring sebesar 45 derajat
terhadap flux magnet ke kanan, pada posisi ini motor mempunyai prinsip seperti
pada posisi gambar: 2.14c tetapi arah putarnya berlawanan, sehingga motor akan
berputar searah dengan arah putar jarum jam (ke kanan).
Dari penggeseran sikat-sikat tersebut akan diperoleh karakteritik torsi
fungs putaran motor atau T = f (n) yang berbeda seperti yang ditunjukkan pada
gambar: 2.15 berikut ini.

Gambar: 2.15 Karakteristik Motor Repulsi

Keterangan gambar : 1. T = f (n) untuk n1


2. T = f (n) untuk n2 < n1
3. T = f (n) untuk n3 < n2 < n1

YKT Pontianak

23

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

B. JENIS-JENIS MOTOR INDUKSI 3 FASE


Jika ditinjau menurut jenis rotornya, motor induksi 3 fase terdiri dari dua
jenis yaitu :
1. MOTOR ROTOR LILIT (SLIP RING)
Motor rotor lilit yang biasa disebut motor slip ring dan sering juga
disebut motor cincin seret, ujung-ujung awal lilitan rotornya selalu disambung
bintang (star) dan ujung-ujung akhir lilitan rotor selalu dihubungkan deret
dengan tahanan penguat melalui cincin seret (slip ring) seperti terlihat pada
gambar: 2.16 berikut ini.

Gambar: 2.16 Motor Rotor Lilit

YKT Pontianak

24

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Tahanan penguat tersebut berfungsi untuk memperbesar tahanan pada lilitan


rotor, dengan demikian harga impedansinya akan naik dan arusnya akan turun,
sehingga dapat mengamankan sekering pada saat start awal motor dan barang
tentu sudut fasenya juga turun.

2. MOTOR ROTOR SANGKAR


Motor rotor sangkar sering juga disebut motor rotor hubung singkat,
disebut demikian karena kawat-kawat penghantar pada rotornya selalu
dihubungkan singkat seperti yang ditunjukkan pada gambar: 2.17 berikut ini.

Gambar: 2.17 Rotor Sangkar

Apabila sumber listrik 3 fase dialirkan pada lilitan stator maka akan timbul
medan magnet putar dalam stator dan penghantar rotor yang ada di sekeliling
stator akan dipotong garis gaya medan magnet putar stator, sehingga dalam
penghantar rotor tersebut akan dibangkitkan gaya gerak listrik (ggl) induksi.
Oleh karena pada setiap penghantar rotor akan timbul gaya-gaya sehingga akan
terbentuk kopel yang menyebabkan rotor berputar, yang arah putar rotor tersebut
akan searah dengan arah putar medan magnet putar.

YKT Pontianak

25

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

3. MOTOR DUA KECEPATAN (DAHLANDER)


Motor dengan dua kecepatan sering disebut dengan motor dahlander,
motor 3 fase jenis ini mempunyai dua kecepatan atau lebih. Untuk merubah
kecepatannya didasarkan pada rumus : n = (60 . f) / p = (120 . f ) / P
Dimana : n = Kecepatan putaran motor (RPM)
f = Frekuensi sumber listrik (Hertz)
p = Jumlah pasang kutub
P = Jumlah kutub

Jadi berdasarkan rumus tsb di atas, untuk merubah kecepatan putaran motor
dapat dilakukan dengan cara :
-

Merubah frekwensi sumber listriknya, hal ini tidak mungkin dilaksanakan


karena frekwensi sumber listrik sudah ditetapkan oleh perusahaan
pembangkit listrik (PLN).

Merubah jumlah kutubnya, hal ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1) Memasang dua jenis lilitan pada statornya (lihat gambar: 2.18)

Gambar: 2.18 Dua Jenis Kumparan

2) Memasang sebuah lilitan tetap, tapi dengan merubah-rubah sambungannya (lihat gambar: 2.19)

YKT Pontianak

26

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 2.19 Sebuah Kumparan Tetap

Untuk merubah kecepatan putaran motor dahlander yang mempunyai


dua jenis lilitan stator, biasanya untuk masing-masing kecepatan lilitan stator
tersebut disambung bintang (star), seperti yang ditunjukkan pada gambar: 2.20
berikut ini.

Gambar: 2.20 Motor Dahlander Dengan 2 Kumparan

Keterangan gambar : Kecepatan I, hubungan terminal U1-R, V1-S, W1-T


Kecepatan II, hubungan terminal U2-R, V2-S, W2-T

Sesuai dengan rumus tersebut di atas motor induksi dengan kecepatan


1400 1500 RPM, jika menggunakan sumber listrik dengan frekuensi 50 Hz
jumlah kutubnya adalah 4 buah, hal ini dapat dihitung sebagai berikut :
YKT Pontianak

27

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

n = (60 x f) / p
1500 = (60 x 50) / p
p = 3000 / 1500 = 2 pasang kutub, jadi jumlah kutub (P) = 2 x 2 = 4 kutub.

Bentuk bentangan kumparan motor induksi yang mempunyai 4 kutub dengan


kecepatan putaran 1400 1500 RPM dapat ditunjukan seperti gambar berikut
ini.

Gambar 2.21 Bentangan kumparan stator motor 3 fasa 36 alur, 4 kutub

Selanjutnya untuk merubah kecepatan putar motor induksi tersebut di atas dari
1400 1500 RPM menjadi 2800 300 RPM, maka harus merubah jumlah kutub
kumparan stator motor induksi tersebut dari 4 kutub menjadi 2 kutub. Hal ini
sesuai dengan rumus :
n = (60 . f) / p
3000 = (60 x 50) / p
p = 3000 /3000 = 1 pasang kutub, jadi jumlah kutub (P) = 1 x 2 = 2 kutub.

Sehingga bentuk bentangan kumparan stator motor induksi yang mempunyai 2


kutub dengan kecepatan putaran 2800 3000 RPM adalah seperti gambar
berikut.

YKT Pontianak

28

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar 2.22 Bentangan kumparan stator motor 3 fasa 24 alur, 2 kutub

Sedangkan untuk merubah kecepatan putaran motor dahlander yang


mempunyai sebuah lilitan stator ditunjukkan seperti pada gambar: 2.23 dan
gambar: 2.24 berikut ini.

Gambar: 2.23 Motor Dahlander Dengan 1 Kumparan Dihubung Y


Keterangan gambar : Kecepatan I, U1-V1-W1 dihubung ke sumber jala-jala.
Kecepatan II, U2-V2-W2 dihubung ke sumber jala-jala
dan U1-V1-W1 dihubung singkat.

YKT Pontianak

29

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 2.24 Motor Dahlander Dengan 1 Kumparan Dihubung

Keterangan gambar : Kecepatan I, U1-V1-W1 dihubung ke sumber jala-jala.


Kecepatan II, U2-V2-W2 dihubung ke sumber jala-jala
dan U1-V1-W1 dihubung singkat.

Pada gambar: 2.23 maupun gambar: 2.24 untuk kecapatan I lilitan stator
tersambung deret, hal ini akan menghasilkan jumlah kutub lebih banyak
sehingga kecepatan putaran motor akan lebih rendah. Sedangkan untuk
kecepatan II lilitan stator tersambung paralel, hal ini akan menghasilkan jumlah
kutub yang lebih sedikit sehingga kecepatan putaran motor akan lebih cepat.
Pada putaran cepat maupun rendah banyaknya lilitan stator yang terhubung pada
tegangan sumber listrik selalu sama, jadi meskipun kedua sambungan
menghasilkan kecepatan putaran yang berbeda namun tetap akan menghasilkan
daya yang sama besarnya.

YKT Pontianak

30

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

BAB III
KONSTRUKSI DAN PENGGUNAAN MOTOR LISTRIK ARUS BOLAK BALIK

A. KONSTRUKSI MOTOR INDUKSI


Konstruksi motor induksi 1 fase tidak berbeda jauh dengan konstruksi
motor induksi 3 fase, yang pada dasarnya terdiri dari dua bagian utama yaitu :
1. STATOR
Secara prinsip, stator motor induksi sama dengan motor sinkron atau
generator, yang di dalamnya tersusun sejumlah kawat yang dimasukkan ke dalam
alur/celah yang disebut belitan. Pada stator motor induksi terdapat belitan
menurut jenis motornya, misalnya motor satu fasa maka statornya terdapat belitan
satu fasa yang disuplai oleh sumber listrik satu fasa, sedangkan untuk jenis motor
tiga fasa maka statornya terdapat belitan tiga fasa yang disuplai oleh sumber
listrik tiga fasa.
Jumlah kutub akan menentukan besarnya kecepatan motor. Lebih banyak
jumlah kutubnya, maka kecepatannya akan menurun dan sebaliknya bila jumlah
kutubnya sedikit, maka kecepatannya akan meningkat. Hal ini sesuai dengan
persamaan: n = (60.f) / p,

dimana : n = jumlah putaran motor (rpm), f =

frekuensi sumber listrik (Hertz), dan p = jumlah pasang kutub.


Untuk lebih jelasnya bentuk fisik dari stator motor induksi dapat dilihat
pada gambar: 3.1 di bawah ini :

Gambar: 3.1 Stator Motor Induksi


YKT Pontianak

31

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

2. ROTOR
Jenis rotor pada motor induksi arus bolak-balik dibedakan menjadi dua
macam yaitu :
a. ROTOR SANGKAR
Hampir 90% rotor dari motor induksi berjenis sangkar, karena rotor
jenis ini paling sederhana dan kuat. Rotor terdiri dari inti yang berbentuk
silinder yang sejajar dengan slot dan diisi dengan tembaga atau aluminium
yang berbentuk batangan. Satu batang diletakkan di setiap slot, apabila
digunakan slot setengah tertutup maka batangan tersebut dimasukkan dari
ujung. Batangan rotor dilapisi dengan kuningan atau dilapisi secara listrik
atau dilas dan kedua ujung cincin dibaut dengan kuat. Kostruksi yang
demikian disebut dengan konstruksi sangkar tupai, untuk lebih jelasnya
bentuk fisik dari rotor sangkar dapat dilihat pada gambar: 3.2 dibawah ini :

Gambar: 3.2 Rotor Sangkar Motor Induksi

b. ROTOR LILIT (SLIP RING)


Rotor lilit mempunyai belitan yang dapat didistribusikan untuk
digunakan sebagai alternator (generator). Rotor ini berupa belitan dengan
jumlah kutubnya sebanyak jumlah kutub distator. Belitan internal

YKT Pontianak

32

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

dihubungkan secara bintang (tiga fasa). Kemudian terminal belitan tersebut


dikeluarkan dan disambungkan ke 3 buah slip ring terisolasi yang diletakkan
pada tangkai dengan sikat di atasnya. Ketiga sikat ini secara

eksternal

disambungkan ke rheostat yang membentuk bintang. Rheostat ini berfungsi


meningkatkan torsi asut motor saat periode pengasutan. Apabila bekerja di
kondisi normal, slip ring secara otomatis dihubungi-pendek, sehingga ring di
atas tangkai terhubung bersama oleh suatu logam yang tertekan. Selanjutnya
secara otomatis sikat tersebut terangkat dari slip ring untuk mengurangi rugirugi gesekan. Dengan demikian, rotor lilit akan bekerja seperti rotor sangkar
bila bekerja di bawah kondisi normal. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat
pada gambar:3.3 di bawah ini :

Gambar 3.3a Konstruksi Motor Slipring

YKT Pontianak

33

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 3.3b Motor Slipring yang telah dibuka

Gambar 3.3c Rotor Lilit Motor Slipring


YKT Pontianak

34

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Selain dua bagian utama itu motor induksi juga mempunyai konstruksi
tambahan yang lain antara lian rumah stator, tutup stator, kipas, dan terminal
hubung, seperti yang ditunjukkan pada gambar: 3.4 berikut ini.

Gambar 3.4a Konstruksi Motor Induksi

Gambar: 3.4b Bagian-Bagian Motor Induksi yang telah dibuka


YKT Pontianak

35

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Keterangan gambar :
1. Tutup luar (pelindung kipas)
2. Kipas angin (air-fan)
3. Tutup kepala kumparan dengan Stationary-Switch.
4. Kotak terminal
5. Kapasitor (kondensator)
6. Rumah stator dan alur stator didalamnya
7. Baut iser
8. Rotor dengan Centrifugal-Switch.

Sedangkan konstruksi motor induksi secara utuh baik motor induksi 1 fasa
dan motor induksi 3 fasa ditunjukkan seperti gambar: 3.5a dan gambar: 3.5b
berikut ini.

Gambar: 3.5a Motor Induksi 1 Fasa Jenis Kapasitor

YKT Pontianak

36

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 3.5b Motor Induksi 3 Fasa Jenis Rotor Sangkar

B. PENGGUNAAN MOTOR INDUKSI


1. MOTOR PHASA BELAH (SPILT PHASA)
Motor phasa belah biasanya sangat baik digunakan untuk melayani beban
yang membutuhkan momen inersia yang relatif rendah seperti mesin cuci,
pompa centrifugal, fan, blower, mesin bor kecil, mesin polish lantai ubin, mixer
kue, blender (juicer) dsb.

2. MOTOR KAPASITOR
Motor kapasitor sangat banyak digunakan untuk melayani peralatan
seperti kipas angin, pompa air, air conditioning (AC), refrigernt (kulkas), mesin
cuci dsb.

3. MOTOR KUTUB BAYANGAN (SHADED POLE)


Motor kutub bayangan biasanya banyak digunakan untuk melayani
peralatan yang tidak membutuhkan torsi yang besar dan tidak membutuhkan
banyak perawatan seperti jam listrik, timer, hair dryer, kipas angin kecil dsb.

YKT Pontianak

37

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar 3.6 Konstruksi Motor Shaded Pole

4. MOTOR UNIVERSAL
Motor universal biasanya banyak digunakan untuk melayani peralatan
seperti pengisap debu (vacum cleaner), mesin jahit (sewing machine), peralatan
tangan listrik (power hand tool), perlatan rumah tangga seperti mixer kue dan
blender buah, dan peralatan yang membutuhkan putaran dengan kecepatan tinggi
sekitar 3.000 s/d 20.000 RPM.

Gambar 3.7 Konstruksi Motor Universal

YKT Pontianak

38

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

5. MOTOR REPULSI
Motor repulsi biasanya digunakan untuk melayani peralatan yang
mempunyai sistem penggerak sederhana dengan putaran yang dapat diatur dan
tidak melebihi dari 5 PK seperti small agitator, shoking machine dsb.

6. MOTOR INDUKSI 3 FASE


Motor induksi 3 fase baik yang jenis rotor lilit maupun rotor sangkar
biasanya digunakan untuk menggerakan peralatan atau mesin-mesin yang
membutuhkan daya yang relatif besar yang banyak terdapat pada pabrik-pabrik
produksi barang skala besar.

YKT Pontianak

39

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

BAB IV
MENGGULUNG KUMPARAN MOTOR LISTRIK ARUS BOLAK BALIK

A. MENGGULUNG ULANG KUMPARAN MOTOR INDUKSI 1 FASE


1. BENTUK GULUNGAN( KUMPARAN ) STATOR
Bentuk gulungan ( Kumparan) stator ada dua macam, tergantung
bagaimana cara melilitkannya kedalam alur-alur stator. Bentuk kumparankumparan tersebut adalah :
a. Kumparan Jerat atau juga disebut lilitan bertumpuk (Lap Winding), juga
dinamakan lilitan-spiral seperti yang terlihat pada Gambar: 4.1a.
b. Kumparan Sepusat (Concentric-Winding) seperti terlihat pada gambar: 4.1b.

(a)

(b)

Gambar: 4.1 (a) Bentuk Kumparan Jerat/Spiral


(b) Bentuk Kumparan Gelung/Memusat

Adapun fungsi dari kedua jenis bentuk kumparan masing-masing adalah :


a. Kumparan Jerat (Spiral), banyak digunakan untuk motor atau generator
dengan kapasitas daya yang relatif besar,umumnya menengah keatas,
walaupun ada secara khusus motor listrik berkapasitas relatif besar
kumparan statornya menggunakan type gelung/terpusat (Konsentris).
b. Kumparan Gelung/Memusat (Konsentris), pada umumnya digunakan untuk
motor atau generator dengan kapasitas daya relatif kecil, Walaupun ada juga

YKT Pontianak

40

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

secara khusus motor-motor berkapasitas kecil; menggunakan kumparan


jenis spiral.

2. CARA MENGGULUNG ULANG KUMPARAN STATOR MOTOR INDUKSI


1 FASE
Seperti telah dijelaskan diatas bahwa motor-motor induksi 1 fasa
sebenarnya adalah motor induksi 2 fasa, hal tersebut terbukti dengan adanya dua
jenis kumparan, yaitu kumparan utama (Running Winding = RW) dan kumparan
bantu (Starting Winding = SW). Kedua buah kumparan tersebut mempunyai
penampang kawat dan jumlah belitan yang berbeda satu dengan lainnya.
Kumparan utama mempunyai penampang kawat yang lebih besar dengan
jumlah belitan relatif lebih sedikit, sedangkan kumparan bantu mempunyai
penampang kawat lebih kecil dengan jumlah belitan lebih banyak. Dengan
sumber tegangan tertentu, maka besarnya arus pada kedua buah kumparan
tersebut yaitu Iu dan Ip atau dapat kita namakan Ir dan Is, mempunyai nilai yang
berbeda dengan menempatkan kedua buah kelompok kumparan tersebut pada
stator yang sedemikian rupa satu sama lain, maka hal tersebut berpengaruh
terhadap nilai arus Iu dan Ip yaitu mempunyai pergeseran fasa sebesar 90
listrik ( 90 el).
Dengan demikian apabila kita akan menggulung kembali motor-motor
induksi 1 fasa, maka motor-motor tersebut kita anggap sebagai motor 2 fasa.
Berikut ini dijelaskan cara menggulung dan cara menghubungkan kumparankumparan utama dan kumparan pembantu.

a. LANGKAH KUMPARAN
Langkah kumparan adalah sudut kisar yang dibentuk antara kedua sisi
kumparan, diberi tanda huruf Yg. Untuk mendapatkan kopel putar yang
maksimal maka langkah kumparan harus sama dengan satu jarak kutub. Satu
jarak kutub adalah sudut kisar antara kutub utara ( U) dan selatan (S) yang
paling berdekatan dan jarak kutub diberi tanda dengan huruf Tho (). Satu
jarak kutub adalah sebesar 180 listrik.

YKT Pontianak

41

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Perbandingan antara derajat lingkaran (derajat busur= bs) dan derajat


listrik ( el ). Apabila jumlah pasang kutub suatu motor listrik kita sebut
sebagai p, maka jumlah kutubnya menjadi 2.p.
untuk :

p = 1 maka 360 bs

= 1 x 360 el

p = 2 maka 360 bs

= 2 x 360 el

p = 3 maka 360 bs

= 3 x 360 el

dan seterusnya.
Dengan demikian perbandingan antara bs dan el dapat dituliskan
dengan rumus : abs = p.a el
Apabila jumlah stator motor ada G alur,maka sudut kisar satu keliling
stator atau G alur adalah = 360bs dan apabila sebuah motor mempunyai
sebanyak G alur adalah = p. 360 el. Satu keliling stator = 2.p jarak kutub
atau G alur = 2 p jarak kutub.
Jadi satu jarak kutub = 1 = 180 el = G/2.p Alur.
Karena langkah kumparan Yg = 1 , maka langkah kumparan menjadi : Yg =
G

/ 2.p Alur.
Untuk memperoleh kopel putar yang maksimal, maka diperlukan

jumlah belitan yang besar pula. Jumlah belitan yang besar itu tidak mungkin
ditampung oleh satu alur stator, untuk itu harus dibagi menjadi beberapa buah
alur artinya satu buah alur kumparan akan dibagi menjadi beberapa belitan
(kumparan).
Untuk motor induksi satu fasa yang mempunyai satu pasang kutub
dengan satu buah kumparan yang terdiri dari beberapa kumparan bagian dan
setiap kumparan bagian membutuhkan dua buah alur stator. Maka suatu
motor induksi satu fasa yang mempunyai satu pasang kutub akan mempunyai
G

/ 2.P kumparan bagian. Untuk motor induksi 2 fasa seluruh alur stator motor

tersebut dibagi dua sama banyak, sehingga masing-masing fasa memiliki


G

/ 2. P.2

b. JUMLAH ALUR PER KUTUB PER FASE


Apabila jumlah fasa = m, maka masing-masing fasa akan memiliki
kumparan bagian sebanyak

YKT Pontianak

2. P. m

, sehingga pada setiap kutub untuk

42

Menggulung Motor Listrik AC

masing-masing fasa akan akan menempati alur sebanyak

Margiono Abd.

2. P. m

alur.

Apabila banyaknya alur pada setiap kutub untuk masing-masing fasa diberi
tanda dengan huruf g, maka jumlah alur untuk setiap kutub tiap fasa menjadi :
g = G / 2.P.m alur.

c. MENEMPATKAN KUMPARAN( PERGESERAN TEMPAT )


Untuk menempatkan kumparan dari setiap fasa harus selalu
ditempatkan saling begeseran tempat, hal tersebut dilakukan agar kopel putar
yang dihasilkan saling bergeseran fasa. Untuk motor induksi 2 fasa
pergeseran fasa untuk dua kopel putar (kekuatan putar) adalah 90 el.
Apabila pergeseran tempat tersebut diberikan tanda dengan huruf Yf, maka
karena Yg = 180 el, ,jadi untuk motor 2 fasa nilai Yf = 1 / 2 Yg.
Dari uraian diatas, maka diperoleh beberapa rumusan yang digunakan
untuk menggulung motor-motor induksi, yaitu sebagai berikut :
a) P = 60 .f / n pasang kutub
b) Yg = G / 2.P alur
c) g = G / 2.P.m alur
Dimana :

p = Jumlah pasang kutub


G = Jumlah alur Stator
m = Jumlah fasa
g = Jumlah alur per kutub perfasa
Yg = Langkah alur untuk kumparan
Yf = Pergeseran tempat antar fasa

CONTOH :
1. Sebuah stator mempunyai 24 buah alur, akan digulung kembali untuk
motor 2 fasa dengan frekwensi sebesar 50 hertz akan menghasilkan
putaran dengan kecepatan 3000 rpm. Buatlah rencana penggulungan
/pemasangan kembali kumparan kumparan stator motor tersebut !
Penyelesaian :
G = 24 alur;
m = 2 fasa;

YKT Pontianak

43

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

f = 50 Hertz;
n = 3000 rpm
P= 60. f / n

60 x 50

g = G / 2.P.m =
Yg =

/ 2.P =

Yf = 1/ 2 Yg =

24

/ 3000

/ 2x1x2

24 / 2 x 1
1

/ 2 x 12

= 1 pasang kutub
= 6 alur
= 12 alur
= 6 alur

Dari hasil perhitungan tersebut diatas dapat kita buat gambar penempatan
kumparan-kumparan tersebut pada stator, seperti terlihat Gambar: 4.2a
dan Gambar: 4.2b.

(a)

(b)

Gambar: 4.2 (a) Penempatan Kumparan Jerat pada Stator


(b) Penempatan Kumparan Gelung pada Stator

2. Contoh berikut adalah sebuah motor kapasitor yang mempunyai 24 buah


alur stator,menghasilkan putaran rotor sebesar 2950 rpm pada frekwensi
50 Hz. Seluruh alur stator mempunyai ukuran yang sama.
gambar skema belitan dan diagram bentangan dari kumparan

Buatlah
stator

dengan type kumparan sepusat.


Penyelesaian :

YKT Pontianak

44

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

G = 24 alur ;
n = 2950 rpm ;
f = 50 hertz
m = 2 fasa
a. Jumlah pasang kutub P= 60. f / n =

60 x 50

/ 2950

= 1 pasang kutub

b. Jumlah alur perkutub perfasa (g)


g = G / 2.P.m =

24

/ 2x1x2

= 6/6 diubah menjadi 8/4

c. Langkah belitan (Yg) Yg = G / 2.P =

24 / 2 x 1

d. Pergeseran tempat ( Yf) Yf = 1/2 Yg =

= 12

/ 2 x 12 = 6

Dapat juga dibelit dengan g = 64/2 atau 24/2.

Dari hasil hitungan tersebut diatas dapat kita buat gambar skema belitan
(gambar penempatan kumparan pada stator),seperti

terlihat pada

Gambar: 4.3a dan Gambar: 4.3b.

(a)

(b)
Gambar: 4.3 (a) Skema Belitan dengan = 8/4
(b). Skema Belitan dengan g = 6 4/2 / 2 4/2

Sedangkan gambar bentangan kumparan motor dari Gambar: 4.3a dan


Gambar: 4.3b, dapat kita lihat pada Gambar: 4.4a dan Gambar: 4.4b di
bawah ini.

YKT Pontianak

45

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.4(a) Bentangan Kumparan Stator Dibelit dengan g = 8/4

Gambar:4.4(b) Bentangan Kumparan Stator Dibelit dengan g = 64/2 atau 24/2

Sebagai bahan perbandingan antara kumparan hasil perencanaan dengan


kumparan yang sebenarnya, yang penulis lakukuan pebongkaran pada
kumparan motor kapasitor penggerak pompa air dapat dilihat dalam
gambar: 4.4c, sedangkan gambar blok diagramnya dapat dilihat pada
gambar: 4.4d.

YKT Pontianak

46

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.4(c) Bentangan Kumparan Stator Motor Kapasitor 24 Alur

Capasitor

Sumber Listrik AC

Gambar: 4.4(d) Blok Diagram Kumparan Motor Kapasitor 24 Alur

YKT Pontianak

47

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

B. MENGGULUNG ULANG KUMPARAN MOTOR INDUKSI 3 FASE


1. KUMPARAN MOTOR INDUKSI 3 FASE SISTEM SATU JALAN (SINGLE
LAYER).
Untuk motor 3 fasa, seluruh alur-alur stator dibagi tiga sama banyak
sehingga masing-masing fasa memiliki kumparan bagian sebanyak

/2.P.3

kumparan. Apabila jumlah fasa= m fasa, maka masing-masing fasa akan


mempunyai kumparan bagian sebanyak G/2.P.m

Cara memasang sisi kumparan yaitu apabila salah satu beada didepan
kutub U, maka sisi yang lain harus berada didepan kutub S. Hal tersebut
dikarenakan masing-masing fasa mempunyai kumparan bagian sebanyak G/2.P.m ,
maka pada tiap kutub masing-masing fasa akan menempati alur sebanyak G/2.P.m
alur. Apabila banyaknya alur pada tiap kutub untuk masing-masing fasa
diberikan tanda g, maka jumlah alur perkutub perfasa yaitu : g = G/2.P.m alur.
Sedangkan cara menggulung kumparan stator motor 3 fasa pada
prinsipnya sama dengan motor 1 fasa, dua fasa, perbedaannya ialah pada jumlah
belitannya (kumparannya). Untuk motor 3 fasa masing-masing belitan
ditempatkan saling bergeseran tempat sejauh 120el, jadi = 2/3 jarak kutub atau
= 2/3 langkah belitan (Yg).
Untuk motor dengan ukuran 500 watt keatas akan lebih ekonomis apabila
dilaksanakan (dibuat) 3 fasa. Sebab apabila dilaksanakan dengan 2 atau 1 fasa,
maka motor tersebut harus menggunakan kondensator (capasitor) dengan
kapasitas relatif besar. Jadi hal tersebut akan sangat merugikan, akibat dari sifatsifat kondensator. Untuk memperjelas keterangan tersebut diatas, berikut ini ada
beberapa contoh motor-motor 3 fasa yang akan dilakukan penggulungan
kembali.

CONTOH :
1. Sebuah motor 3 fasa mempunyai 24 alur stator, akan digulung kembali
dengan bentuk kumparan consentric (sepusat) dan kumparan spiral, agar
dapat menghasilkan putaran rotor sebesar 3000 rpm pada frekwensi 50 Hz.
Buatlah skema belitan dan dagram bentangan dari kedua bentuk kumparan
tersebut?

YKT Pontianak

48

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Penyelesaian :
P = 60 . f / n = 60 x 50 / 3000 = 1.
g = G / 2.m.p = 24 / 2 x 3 x 1 = 24 / 6 = 4.
Yg = G / 2.P = 24 / 2 x 1 = 12.
2

Yf = / 3 x Yg = / 3 x12 = 8 (1-9-17)

Jumlah pasang kutub = 1


Jumlah alur/kutub/fasa= 4
Langkah belitan = 12
Pergeseran tempat = 8(1-9- 17)

Gambar: 4.5 adalah skema belitan yang diperoleh dari hasil perhitungan
diatas. Gambar: 4.5a adalah skema belitan untuk kumparan bentuk gelung
(concentric), sedangkan Gambar: 4.5b adalah skema belitan untuk kumparan
bentuk jerat (spiral).

(a)

(b)

Gambar: 4.5 (a) Skema Belitan dari Kumparan Concentric 1 Jalan


(b) Skema Belitan dari Kumparan Jerat (Spiral) 1Jalan

Keterangan : Ujung-ujung U - X = Fasa pertama


Ujung-ujung V - Y = Fasa kedua
Ujung-ujung W - Z = Fasa ketiga

Untuk memperjelas skema belitan dari gambar: 4.5a dan 4.5b, berikut
ini digambarkan bentangannya seperti ditunjukan pada gambar: 4.6a dan
4.6b di bawah ini.

YKT Pontianak

49

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.6(a) Bentangan Kumparan Sepusat (concentric) 1 Jalan

Gambar: 4.6(b) Bentangan Kumparan Jerat (spiral) 1 Jalan

2. Sebuah motor 3 fasa mempunyai 36 alur stator, akan digulung kembali


dengan bentuk kumparan sepusat (Concentric) dan kumparan spiral, agar
dapat menghasilkan putaran rotor sebesar 1500 rpm pada frekuensi 50 Hz.

YKT Pontianak

50

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Buatlah skema belitan dan diagram bentangan dari kedua bentuk kumparan
tersebut, untuk kumparan 1 (satu) jalan!
Penyelesaian :
p = 60. f / n = 60 x 50 / 1500 = 2 pasang kutub. Jumlah pasang kutub = 2
g = G / 2.m.p = 36 / 2 x 3 x 2 = 3.

Jumlah alur/kutub/fasa = 3

Yg = G / 2.p = 36 / 2 x 2 = 9 (1-10).

Langkah belitan = 9

Yf = 2 / 3 x Yg = 2 / 3 x 9 = 6 (1-7-13).

Pergeseran tempat = 6

Gambar: 4.7 berikut ini adalah skema belitan yang diperoleh dari
perhitungan diatas. Gambar: 4.7a adalah skema belitan untuk kumparan
bentuk concentric, sedangkan gambar: 4.7b adalah skema belitan untuk
kumparan bentuk jerat (spiral).

(a)

(b)

Gambar: 4.7(a) Skema Belitan Bentuk Concentric 1 Jalan (Single Layer)


(b) Skema Belitan Bentuk Spiral 1 Jalan (Single Layer)

Untuk mempermudah proses perbaikan dari motor 3 fasa tersebut,


maka skema belitan pada gambar: 4.7a kita buat diagram bentangannya
seperti ditunjukan pada gambar: 4.8a. Sedangkan skema belitan dari
gambar: 4.7b, diagram bentangannya seperti ditunjukan pada gambar: 4.8b.

YKT Pontianak

51

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.8(a) Bentangan Kumparan Stator Bentuk Memusat (Concentric) untuk


p = 2; g = 3; Yg = 9 dan Yf = 6

Gambar: 4.8(b) Bentangan Kumparan Stator Bentuk Jerat (Spiral) untuk p = 2;


g = 3; Yg = 9 dan Yf = 6

YKT Pontianak

52

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Dalam kenyataannya bahwa kumparan bentuk memusat (concentric)


pada kepala kumparannya agak sulit dirapihkan, terutama untuk motormotor dengan kapasitas daya relatif besar, dimana akan menggunakan
penampang kawat yang relatif besar pula. Untuk sebaiknya kumparan
statornya dibuat dalam bentuk jerat (spiral).

2. KUMPARAN MOTOR INDUKSI 3 FASE SISTEM DUA JALAN


(DOUBLE LAYER)
Bentuk kumparan dengan sistim dua jalan (double layer) mempunyai
kelebihan bila dibanding dengan kumparan sistim satu jalan (single Layer).
Salah satu kelebihannya adalah bahwa kepala kumparan stator menjadi tidak
terlalu tebal dan mempunyai bentuk yang rapi, terutama untuk motor yang
berdaya relatif besar. Hal tersebut dikarenakan selain jumlah belitannya banyak
jiuga ukuran diameter kawatnya relatif besar. Berikut ini diberikan contoh yang
menggambarkan suatu motor dengan kumparan dua jalan.
CONTOH :
1. Suatu motor 3 fasa statornya mempunyai 24 alur, menghasilkan putaran
1500 RPM, pada frekuensi 50 Hertz, bentuk kumparan spiral. Buatlah
skema belitan dan diagram bentangan dari stator tersebut dengan sistim dua
jalan?

Penyelesaian :
G = 24;
m = 3;
n = 1500 RPM
f = 50 Hertz, maka :
p = 60. f / n = 60 x 50 / 1500 = 2,

jadi jumlah pasang kutub = 2

g = G / 2.m.p = 24 / 2 x 3 x 2 = 2,

jumlah alur/kutub/fasa = 2

Yg =

/ 2.p =

24

/ 2 x 2 = 6,
2

Yf = / 3 x Yg = / 3 x 6 = 4,

YKT Pontianak

langkah belitan = 6 (1 - 7)
pergeseran fasa = 4 (1 - 5)

53

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.9 di bawah ini merupakan skema belitan dari hasil perhitungan di
atas.

Gambar: 4.9 Skema Belitan Kumparan Spiral Sistim 2 Jalan

Sedangkan Gambar: 4.10 berikut ini adalah diagram bentangan dari


skema belitan gambar: 4.9. Kumparan sistem dua jalan (double layer)
dimaksudkan bahwa dalam setiap alur ditempati dua buah sisi kumparan,
satu sisi kumparan berada di atas, yang lain di bawahnya. Untuk
memperjelas pemasangan kawat kumparan dan arah kutubnya pada system
double layer dapat dilihat pada gambar: 4.10 di bawah ini.

YKT Pontianak

54

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar:4.10 Bentangan Kumparan Sistem 2 Jalan (p=2; g=2; Yg=6; Yf=4)

C. CARA MENGHITUNG JUMLAH KAWAT KUMPARAN MOTOR INDUKSI


Untuk menghitung jumlah kawat dalam alur dan diameter kawat pada motor
induksi 1 fasa dan 3 fasa (single layer) perlu diketahui :
1. Berapa arus yang mengalir ( dilihat dari plat name motor)
2. Berapa dayanya
3. Luas dari slot (alur)
4. Ketebalan prespan (lapis alur)

CARA I :
Ukurlah celah bagian atas dan bagian bawah dari slot ( alur), kemudian ukur pula
tinggi celah dari alur.
a = lebar celah atas
b = lebar celah bawah
h = tinggi celah

YKT Pontianak

55

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Contoh :
Sebuah motor induksi tiga fasa memfunyai data arus 4,62 Ampere dengan
ketebalan prespan 0,12 mm.
besar celah atas 6mm, celah bawah 8 mm, dan tinggi 10mm.
Tentukanlah berapa banyak lilitan yang dapat dimasukan dengan diameter kawat
yang tersedia 0,7mm ( menurut daftar daya hantar kabel).

Penyelesaian :
Diketahui :

a = 6mm
b = 8mm
h = 10mm

1. Cari luas alur seluruhnya :


a+ b

6 + 8
xh =

x 10 = 70mm

2. Cari luas prespan :


TEBAL PRESPAN x KELILING ALUR = 0,12 x ( a + b + 2x h )
= 0,12 x ( 6 + 8 + (2 x 10)
= 4,08 mm
3. Cari luas efektif dari alur ( luas alur yang dapat dimasuki kawat) = Luas alur
luas prespan
Luas efektif alur = 70mm 4,08mm = 65,2 mm
4. Cari luas penampang kawat ()
I
()

=
Angka Pembagi ( lihat tabel 4.1)

4,62 A
()

= 1,32 mm
3,5

YKT Pontianak

56

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

TABEL 4.1
Kerapatan Arus

Angka Pembagi

1 3A

2,9

3 5A

3,5

5 8A

3,7

8 10 A

3,9

Luas efektif

65,2

5. Cari jumlah lilitan per Alurnya =

=
Penampang kawat

1,32
= 49,39 lilit

Di bulatkan menjadi = 50 lilitan.

4 x
Maka deameter kawat yang digunakan (dI) =

4 x 1,32
=

3,14
= 1,296 mm

Jika kawat yang tersedia (d2) misalnya deameter 0,7 mm


d1
Maka jumlah kawat pengganti =

x jumlah lilitan per alur


d2
1,292

x 49 = 90,72 lilit
0,7

Dibulatkan menjadi = 91 lilitan.

CARA II :
Ukurlah deamter (D) alur dan panjang (L) alur stator motor induksi (lihat
gambar: 4.11)
D = diameter alur stator
L = Panjang alur stator

YKT Pontianak

57

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.11 Alur Stator

Contoh :
Misalkan diketahui D = 8,9 cm, L = 8,8 cm, B = 5400 (kecepatan flux pada
udara bebas per cm ), G = 24 alur, f = 50 Hz, N = 1410 rpm (bulatkan 1500 rpm)
dan Daya output = 1,5 HP
Penyelesaian :
Jumlah kutub (P) = ( f x 120) / N = (50 x 120) / 1500 = 6000 / 1500 = 4 buah

. D. L .
Total flux per kutub () =
P

3,14 x 8,9 x 8,8 x 5400


() =

1327993,92
=

= 331998,48 weber

Faktor Distribusi (Kd) = 0,966 (lihat tabel 4.2 cara mendapatkan kd).
Z
Jumlah alur per kutub

24

= 6

4
Z

Jumlah alur per kutub per fasa

=
Px3

YKT Pontianak

24
= 2 sisi
4x3

58

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

TABEL 4.2
Alur perkutub

M (sisi)

Derajat listrik

Kd

60

1,000

30

0,966

21

0,960

12

15

0,958

15

12

0,957

18

10

0,956

21

7,5

0,955

Faktor Kepadatan ( Ke) = 1 ......................kumparan tidak diperpendek


10 8 Ef
Belitan per fasa (Tf) =
4,44 x x ke x kd x f
10 8 x 220
=
4,44 x 331998,48 x 1 x 0,966 x 50
10 8 x 220
=

= 308,99 lilitan
71197735

Jumlah lilitan 3 fasa = 308,99 x 3 = 926,97 lilit

926,97
Jumlah lilitan per alur

= 38,624 lilit = 39 lilit


24

Toleransi (penambahan) 10% = 39 + (39 x 10%) = 42,9 lilitan


Dibulatkan menjadi 43 lilitan.

YKT Pontianak

59

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

D. CARA MENGHITUNG NILAI/KAPASITAS KAPASITOR MOTOR 1 FASA


Kapasitor adalah komponen yang hanya dapat menyimpan dan memberikan
energi yang terbatas yaitu sesuai dengan kapasitasnya, pada dasarnya kapasitor
terdiri atas dua keping sejajar yang dipisahkan oleh medium dielektrik. Kapasitor
pada sistem daya listrik menimbulkan daya reaktif untuk memperbaiki tegangan
dan faktor daya, karenanya memasang atau menghubungkan kapasitor secara seri
terhadap kumparan bantu (starting) motor induksi 1 fasa jenis motor kapasitor
adalah untuk memperoleh beda phase antara arus lilitan/kumparan utama (running)
dan arus lilitan/kumparan bantu (starting) yang lebih besar, sehingga dihasilkan
cukup torsi untuk menggerakan rotor sangkar pada saat starting. Diusahakan beda
phasenya sebesar atau mendekati /2 atau 90 derajat.
Untuk menghitung besarnya nilai kapasitas kapasitor dapat digunakan rumus:
C = Qc / V.
Dimana :
C = Kapasitas kapasitor (Farad)
Qc = Daya reaktif kapasitor (Var)
V = Tegangan (Volt)
= 2f

Contoh :
Sebuah motor induksi 1 fasa jenis motor kapsitor dengan daya (P) 125 Watt,
tegangan (V) 220 Volt, faktor daya/kerja (Cos ) 0,8. Maka ukuran atau nilai
kapasitas kapasitor yang harus dipasang serie dengan kumparan bantu (starting)
adalah sebesar :
P = V x I x Cos
I = P / V x Cos = 125 / 220 x 0,8 = 125 / 176 = 0,71 Ampere
Cos = 0,8 = Cos-1 0,8 = 36,87
Sin 36,87 = 0,6
Qc = V x I x Sin = 220 x 0,71 x 0,6 = 93,74 VAR
C = Qc / V. = 93,75 / 220 x 314 = 93,74 / 15.197.600 = 6,16 F dibulatkan 6 F

YKT Pontianak

60

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

E. PERALATAN UNTUK MENGGULUNG ULANG KUMPARAN MOTOR


INDUKSI

1. ALAT UKUR KELISTRIKAN


Alat ukur yang digunakan untuk kegiatan menggulung ulang kumparan
motor induksi antara lain yaitu :
a. MULTIMETER
Multitester digunakan untuk mengukur nilai tahanan atau mengecek
kondisi kumparan motor induksi, apakah masih baik atau telah rusak.
Setelah dipastikan kumparan motor induksi tersebut telah rusak barulah
kita bongkar dan kita gulung ulang kumparan tersebut.
Bentuk dan tipe multimeter sangat beragam dari yang sederhana
sampai dengan yang multi fungsi dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Terdapat 2 macam tampilan dari multimeter yaitu multimeter analog dan
multimeter digital yang dapat dilihat pada gambar: 4.12(a), sedangkan
nama bagian-bagian dari multimeter baik yang analog maupun yang digital
dapat dilihat pada gambar: 4.12(b) dan gambar: 4.12(c) di bawah ini.

Gambar: 4.12(a) Multimeter Analog dan Digital

YKT Pontianak

61

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.12(b) Nama Bagian Multimeter Analog

Nama Bagian-Bagian Multimeter Analog :


1. Terminal negatif untuk DC
2. Terminal untuk pengukuran tahanan
3. Terminal positif untuk DC
4. Terminal untuk pengukuran DC volt, AC volt dan arus
5. Cermin untuk pembacaan skala yang benar
6. Skala untuk pengukuran arus dan tegangan
7. Skala untuk tahanan
8. Data tahanan dalam meter
9. Batas ukur AC
10. Simbol arus yang diijinkan maksimum 5 A
11. Batas ukur arus DC
12. Pengatur skala nol pengukuran tahanan
13. Sakelar pemilih
14. Batas ukur tegangan DC

YKT Pontianak

62

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

15. Batas ukur tegangan AC


16. Tanda tes tegangan 3000 volt
17. Simbol! Bacalah buku petunjuk!
18. Simbol prinsip kerja meter
19. Simbol alat ukur
20. Skala untuk tegangan AC dan arus
21. Skala untuk tegangan DC dan arus

Gambar: 4.12(c) Nama Bagian Multimeter Digital

Nama Bagian-Bagian Multimeter Digital :


1. Terminal negatif untuk DCvolt
2. Terminal positif untuk DCvolt
3. Display
4. Data meter
5. Batas ukur arus meter AC
6. Batas ukur arus meter DC

YKT Pontianak

63

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

7. Batas ukur tahanan


8. Batas ukur tegangan DC
9. Batas ukur tegangan AC
10. Test baterai
11. Sakelar pemilih
12. Sambungan ke sumber utama
13. Terminal untuk arus DC 10A

b. TANG AMPERE
Tang ampere digunakan untuk mengetahui besarnya nilai arus yang
mengalir ke kumparan motor induksi apakah masih normal sesuai dengan
nameplate yang tertera pada motor induksi tersebut. Jika sesuai berarti
kumparan motor masih dalam kondisi baik dan jika tidak sesuai berarti
kumparan motor telah rusak sehingga harus kita gulung ulang. Untuk lebih
jelasnya bentuk fisik tang ampere dapat dilihat pada gambar: 4.13 di
bawah ini.

Gambar: 4.13 Tang Ampere

c. MEGGER
Megger digunakan untuk mengetahui kondisi isolasi kawat
kumparan yang biasa disebut kawat email apakah masih baik ataukah telah
rusak. Jika masih baik jarum megger akan menunjuk tak terhingga dan jika
telah rusak jarum megger akan menunjuk angka nol, yang berarti terjadi
hubung singkat. Sehingga harus kita gulung ulang kumparan motor
terrsebut. Untuk lebih jelasnya bentuk fisik dari megger dapat dilihat pada
gambar: 4.14 berikut ini.

YKT Pontianak

64

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.14 Megger


2. ALAT UKUR MEKANIK
a. MIKROMETER
Mikrometer digunakan untuk mengatahui ukuran kawat email yang
akan digunakan untuk menggulung ulang kumparan motor induksi yang
akan kita lakukan. Untuk mendapatkan kumparan yang baik ukuran kawat
email yang digunakan untuk menggulung ulang harus sesuai dengan
ukuran kawat email kumparan aslinya atau sesuai dengan perhitungan atau
perencanaan yang telah dilakukan sebelumnya. Bentuk fisik mikrometer
dapat dilihat pada gambar: 4.15 berikut ini.

Gambar: 4.15 Mikrometer

YKT Pontianak

65

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

b. TACHOMETER
Tachometer digunakan untuk mengetahui putaran motor induksi
yang akan diperbaiki, apakah putarannya masih normal sesuai dengan
putaran yang tertera pada nameplate motor ataukah sudah jauh menurun.
Jika masih sesuai berarti motor masih dalam kondisi baik, tapi jika sudah
jauh menurun berarti motor dalam kondisi kurang baik. Bentuk fisik
tachometer dapat dilihat pada gambar: 4.16 berikut ini.

Gambar: 4.16 Tachometer

c. TIMBANGAN
Timbangan digunakan untuk menimbang berat seluruh kawat email
yang akan kita gunakan untuk menggulung ulang. Untuk menghasilkan
kumparan yang baik berat kawat email tersebut harus sama dengan berat
kawat email pada kumparan aslinya sewaktu kita membongkar kumparan
motor induksi yang telah rusak. Timbangan ini banyak macamnya ada
yang analog maupun digital, sebagai contoh timbangan yang penulis
gunakan adalah seperti ditunjukkan pada gambar: 4.17 berikut ini.

YKT Pontianak

66

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar:4.17 Timbangan

3. PERALATAN PENDUKUNG
a. KUNCI-KUNCI DAN TOOLSET
Kunci-kunci dan toolset digunakan untuk membuka tutup motor
induksi dan membongkar kumparan yang telah rusak. Kunci-kunci
tersebut seperti kunci pas, kunci ring, kunci inggris (spana), kunci L dan
kunci shock berbagai macam ukuran. Sedangkan toolset meliputi obeng,
tespen, tang,cutter dsb. Untuk lebih jelasnya pealatan tersebut dapat dilihat
pada gambar: 4.18 berikut ini.

Gambar: 4.18 (a) Macam-Macam Kunci

YKT Pontianak

67

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.18 (b) Toolset

b. TRECKER
Trecker digunakan untuk membuka atau menarik bearing yang
terpasang pada as rotor agar rotor motor induksi dapat dikeluarkan,
sehingga kumparan statornya dapat kita bongkar dan kita gulung ulang.
Trecker ada yang mempunyai 2 kaki dan ada yang mempunyai 3 kaki,
bentuk fisik dapat dapat dilihat pada gambar: 4.19 berikut ini.

Gambar: 4.19 Trecker 2 kaki dan 3 kaki

YKT Pontianak

68

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

c. ALAT PENGGULUNG DAN MAL GULUNGAN


Alat penggulung digunakan untuk menggulung kawat email agar
menjadi lilitan (kumparan) sekaligus dapat diketahui jumlah lilitannya.
Sedangkan mal gulungan digunakan untuk mencetak besar kecilnya
ukuran kepala lilitan (kumparan) agar bisa dimasukkan ke dalam alur-alur
stator sesuai dengan yang telah direncanakan. Untuk mendapatkan
kumparan yang baik jumlah lilitan dan ukuran kepala lilitan (kumparan)
harus sesuai dengan kumparan aslinya atau sesuai dengan yang telah
direncanakan. Bentuk fisik alat penggulung ditunjukkan pada gambar:
4.20a dan sebagai contoh bentuk mal gulungan ditunjukkan pada gambar:
4.20b sedangkan bentuk fisik alat penggulung dan mal gulungan jenis
yang lain ditunjukkan pada gambar: 4.20c.

Gambar: 4.20 (a) Alat Penggulung

YKT Pontianak

69

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.20 (b) Mal Gulungan

Gambar: 4.20 (c) Alat Penggulung dan Mal Gulungan Jenis Lain

YKT Pontianak

70

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

F. BAHAN-BAHAN UNTUK MENGGULUNG ULANG KUMPARAN MOTOR


INDUKSI

1. PRESPAN
Prespan digunakan untuk melapisi alur-alur stator sebelum diisi kawat
kumparan, hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya hubung singkat
antara kawat kumparan dengan bodi stator motor jika terdapat lapisan kawat
email yang lecet. Prespan yang ada dipasaran terdapat dua jenis yaitu ada yang
terbuat dari kertas dan ada yang terbuat dari plastik mika dengan berbagai
ukuran ketebalannya, tapi yang lebih baik adalah prespan yang terbuat dari
plastik mika karena tahan terhadap panas yang tinggi. Pada gambar: 4.21
ditunjukkan prespan baik yang terbuat dari kertas maupun yang terbuat dari
plastik mika.

Gambar: 4.21 Prespan

2. KAWAT EMAIL
Kawat email adalah kawat yang terbuat dari tembaga yang dilapisi
dengan isolasi vernis (sirlak), kawat ini digunakan untuk membuat gulungan
(kumparan) yang akan dimasukkan ke dalam alur-alur stator motor induksi. Di
pasaran kawat email tersedia dengan berbagai merk dan ukuran deameternya.
Sebagai contoh di sini ditunjukkan gambar kawat email merk Supreme
dengan berbagai ukuran dan juga bentuk kumparan yang telah dibuat (lihat
gambar: 4.22).

YKT Pontianak

71

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.22 (a) Kawat Email

Gambar: 4.22 (b) Bentuk Kumparan

3. BAHAN-BAHAN PENDUKUNG
Bahan-bahan pendukung yang dimaksud di sini adalah bahan-bahan
yang digunakan untuk memperkuat kumparan yang telah dimasukkan ke dalam
alur-alur stator motor induksi agar lebih padat, kokoh, tahan goresan dan tahan
panas. Bahan-bahan tersebut antara lain yaitu :
a. TALI RAMI, digunakan untuk mengikat kumparan yang telah dimasukkan
ke dalam alur-alur motor induksi. Tali rami ini terbuat dari benang nilon,
untuk lebih jelasnya fisik dari tali rami dapat dilihat pada gambar: 4.23 di
bawah ini.
YKT Pontianak

72

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.23 Tali rami

b. PASAK, digunakan untuk memasak alur-alur stator motor induksi yang


telah dimasuki kumparan, agar kawat kumparan tidak keluar dari alurnya.
Pasak ini bisa dibuat dari kayu, bambu dan plastik mika, bentuk fisik pasak
dapat dilihat pada gambar: 4.24 berikut ini.

Gambar: 4.24 (a) Pasak Kayu

Gambar: 4.24 (b) Pasak Bambu

YKT Pontianak

73

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.24 (c) Pasak Plastik Mika

c. VERNISH ATAU MINYAK LAK, digunakan untuk melapisi kumparan


yang telah dimasukkan ke dalam alur-alur stator motor induksi, agar lebih
padat dan tebal lapisan isolasinya. Vernish atau minyak lak ini sudah
tersedia di pasaran dalam kemasan kaleng atau botol, jadi kita tinggal
membelinya. Tapi jika kita ingin membuat sendiri bisa dibuat bahan sirlak
yang direndam dalam spiritus dan didiamkan sampai sirlak tersebut larut
dan mengental. Untuk lebih jelasnya bentuk fisik vernish atau minyak lak
dalam kemasan botol dapat dilihat pada gambar:4.25 berikut ini.

Gambar 4.25 (a) Minyak Lak Dalam Kemasan Kaleng

YKT Pontianak

74

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.25 (b) Minyak Lak Dalam Kemasan Botol

Penggunaan bahan-bahan pendukung tersebut yaitu tali rami, pasak bambu dan
minyak lak pada kumparan yang telah terpasang pada alur-alur stator motor
induksi dapat ditunjukkan pada gambar: 4.26 di bawah ini.

Gambar: 4.26 Kumparan Stator Yang Telah Terpasang

YKT Pontianak

75

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

G. LANGKAH MENGGULUNG ULANG KUMPARAN MOTOR INDUKSI


1. MEMBONGKAR/MELEPAS KUMPARAN STATOR
Sebelum motor induksi dibongkar hal penting yang harus dilakukan
adalah mencatat data motor. Semua data yang telah dicaatat tersebut untuk
mempermudah pelaksanaan menggulung ulang kumparan stator tanpa banyak
kehilangan waktu. Data yang paling penting tersebut antara lain adalah :
-

Data pada nameplate motor

Jumlah alur

Jumlah kumparan

Tipe hubungan

Jumlah lilitan per kumparan

Ukuran dan jenis kawat kumparan

Lebar kumparan

Jenis dan klas isolasi

Sedangkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam melepaskan


kumparan stator antara lain adalah:
-

Jangan menggunakan api saat membongkar kumparan dari inti


stator atau membakarnya, hal ini akan mengakibatkan hubung
singkat pada laminasi inti stator. Jika terpaksa harus dengan
cara membakar, pemanasan tidak boleh lebih dari 360 C.

Jangan menggerinda atau mengikir inti besi stator, hal ini akan
mengakibatkan hubung singkat pada laminasi inti stator.

Jangan memperbesar airgap (celah udara) dari inti besi stator,


hal ini akan menyebabkan arus magnetisasi bertambah besar
dan berakibat memperbesar kerugian daya.

Jangan mem-sandblast inti besi stator.

Hal-hal tersebut diatas akan menyebabkan efisiensi dari motor induksi


menurun setelah digulung ulang. Sebaiknya untuk melepas kumparan dari aluralur statornya, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Membongkar/Melepaskan rotor dari rumah stator (lihat gambar: 4.27a)

YKT Pontianak

76

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.27a Membongkar Motor


b. Melepaskan tali ikatan pada masing-masing kepala kumparan (lihat
gambar: 4.27b).

Gambar: 4.27b Melepas Tali Ikatan

c. Memotong kepala kumparan pada salah satu sisi atau keduanya dengan
menggunakan tang potong, pahat, gergaji atau air chisel (gambar: 4.27c)

YKT Pontianak

77

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.27c Memotong Kepala Kumparan

d. Menyisakan masing-masing kelompok kumparan utama dan kumparan


bantu sebagai contoh atau untuk diukur deameternya dengan menggunakan
micrometer (lihat gambar 4.27d).

Gambar 4.27d Mengukur Deameter Kawat Email

e. Melepas semua pasak dari dalam alur stator dengan menggunakan


pendorong dari bamboo/kayu dan palu atau dengan menggunakan gergaji
tangan (lihat gambar 4.27e).

YKT Pontianak

78

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 4.27e Melepas Pasak

f. Mengeluarkan seluruh kawat kumparan dari alu-alur stator dengan cara


menariknya menggunakan tang kombinasi atau tang lancip atau yang
sejenisnya (lihat gambar 4.27f).

Gambar 4.27f Mengelurkan Kawat Kumparan


g. Sesudah semua kawat selesai dikeluarkan, selanjutnya bersihkan semua
alur dari bekas potongan kawat atau kotoran lainnya.
h. Amati semua alur dan inti motor secara seksama, kalau ada yang rusak
atau renggang lakukan perbaikan. Karena apabila alur atau inti motor
rusak, maka motor tidak akan beroperasi secara baik, misalnya kerugian

YKT Pontianak

79

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

pada inti menjadi naik atau saat motor beroperasi terdengar suara
berdengung.

2. MELAPISI ALUR DENGAN PRESPAN


Sebelum melilitkan kumparan pada alur stator motor, alur terlebih
dahulu harus diberi kertas atau plastik penyekat (prespan) yang berfungsi
sebagai isolasi antara kawat dengan permukaan alur. Adapun langkahlangkahnya sebagai berikut :
a.

Mempersiapkan bahan-bahan untuk isolasi alur-alur stator seperti yang


telah ditetapkan.

b. Ukur panjang alur dan dalamnya alur, sebelum kertas dipotong untuk
panjangnya tambahkan 1cm dengan tujuan untuk dilipat pada kedua
ujung stator, sehingga saat kawat ditekuk tidak mengenai inti stator.
c.

Mengerjakan isolasi-isolasi yang akan digunakan sesuai dengan ukuran


dan jumlah alur-alu stator.

d.

Membersihkan seluruh alur stator dari kotoran dengan menggunakan sikat


kawat halus atau kertas pasir.

e.

Membersihkan kembali dan yakinkan kebersihan alur stator dengan


mencucinya menggunakan bensin atau thinner.

f.

Memasukkan/melapisi alur-alur stator dengan isolasi prespan yang telah


dipersiapkan secara rapih dengan posisi yang benar.

Gambar 4.28a Cara melapis alur dengan prespan

YKT Pontianak

80

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar 4.28b Alur-alur motor yang telah dilapisi dengan prespan

3. MEMBUAT MAL DAN MENGGULUNG KUMPARAN


Untuk membuat kumparan sebuah motor induksi dapat dilakukan dengan
cara langsung, menggunakan mal dan lilitan pintal.
a. Melilit Kumparan Secara langsung
Keuntungan proses melilit secara langsung adalah tidak ada
sambungan diantara kumparan, melilit dimulai dari ukuran kumparan yang
paling kecil ke kumparan yang paling besar (lihat gambar 4.29a).
b. Melilit Kumparan Menggunakan Mal
Untuk melilit kumparan dengan menggunakan mal dapat dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Ukur panjang dan lebar kumparan yang akan dililit.
2) Mempersiapkan mal sesuai dengan ukuran kumparan-kumparan.
3) Melakukan penggulungan kumparn-kumparan dengan jumlah lilitan
dan deameter kawat sesuai aslinya atau sesuai dengan hasil
perhitungan (lihat gambar 4.29b).

YKT Pontianak

81

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

4) Setelah selesai, ikat kumparan dengan menggunakan tali, kemudian


lepaskan dari malnya untuk selanjutnya dimasukan ke dalam alur
motor.

Gambar 4.29a Melilit kumparan secara langsung

Gambar: 4.29b Menggulung kumparan menggunakan mal

c. Melilit Kumparan Secara Pintal


Melilit kumparan secara pintal pada dasarnya hampir sama dengan
menggunakan mal, namun dalam hal ini tidak menggunakan mal tetapi

YKT Pontianak

82

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

hanya menggunakan 4 buah paku yang ditancapkan pada sebuah papan


kayu atau triplek (lihat gambar 4.29c)

Gambar 4.29c Melilit kumparan secara pintal

4. MEMASANG KUMPARAN PADA ALUR STATOR


Setelah kumparan jadi, tahap selanjutnya adalah memasukan kumparankumparan tersebut kedalam alur stator. Proses ini harus dilakukan secara hatihati jangan sampai isolasi kawat terkelupas/tergores yang bisa mengakibatkan
terjadinya hubung singkat antar kumparan atau kumparan ke inti stator.
Untuk mempermudah masuknya belitan kedalam alur stator digunakan
stik terbuat dari mika atau kayu/bambu yang diruncingkan pada salah satu
ujungnya. Gambar 4.30a menunjukkan contoh stik berbentuk persegi panjang
yang runcing pada salah satu ujungnya yang digunakan menekan belitan agar
lebih mudah dan cepat masuk ke dalam alur stator.

Gambar 4.30a Stik untuk memasukan belitan pada alur motor

YKT Pontianak

83

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Adapun langkah-langkah memasukan belitan ke dalam alur-alur motor


dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Menyiapkan

semua

piranti/perlengkapan

yang

diperlukan

untuk

memasang/memasukkan kumparan ke dalam alur-alur stator.


b. Memasukan kumparan-kumparan ke dalam alur-alur stator mulailah dari
kumparan yang paling kecil (gambar 4.30b)

Gambar 4.30b Memasukkan kumparan kedalam alur stator

c. Melipat dan memasukan ujung-ujung isolasi alur stator kedalam alur stator
dengan menggunakan stick pendorong dari isoglas atau bambu, untuk
setiap sisi-sisi kumparan yang telah masuk kedalam alur ststor (lihat
gambar 4.30c).
d. Mengencangkan posisi kumparan dengan pasak di atas dan melipat ujungujung isolasi alur, agar kumparan tersebut keluar dari dalam.
e. Merapikan kepala kumparan dengan sedikit menekan/memukulnya dengan
palu plastik/karet, dalam rangka untuk memudahkan proses masuknya
belitan lain, maka setiap belitan yang telah berhasil masuk ke dalam alur
stator ditata/dirapikan terlebih dahulu.
YKT Pontianak

84

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar 4.30c Menutup kumparan dengan prespan atau pasak

f. Melakukan penyambungan terhadap kelompok-kelompok kumparan untuk


kumparan utama dan kumparan bantu sesuai dengan diagram bentangan
yang berfungsi untuk menghubungkan antar kelompok belitan sehingga
menjadi satu hubungan secara lengkap dan sesuai dengan tujuan atau
spesifikasi motor induksi.
g. Menguatkan setiap sambungan kelompok kumparan dengan cara
menyolder.
h. Menutup/melindungi setiap sambungan kumparan dengan selongsong
kabel, yang telah dipasang sebelum melakukan penyolderan.
i.

Melapisi untuk setiap penyilangan kepala kumparan dengan kertas prespan


untuk mencegah terjadinya hubung singkat antar phasa dan antar
kelompok kumparan.

j.

Merapikan kembali kepala-kepala kumparan dengan cara mengikatnya


dengan tali rami, agar tidak terjadi pergerakan dan kontak mekanis antara
stator dengan kumparan juga berfungsi untuk mempemudah pengaturan

YKT Pontianak

85

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

kepala belitan agar tidak mengganggu proses masuknya rotor ke dalam


stator (gambar 4.30d).

Gambar 4.30d Bentuk belitan yang telah diikat dengan tali rami

k. Memasang/menyambung ujung-ujung kumparan utama, kumparan bantu


dan kapasitor dengan kabel montase untuk pemasangan ke kotak terminal
(untuk motor induksi 1 fasa).
l.

Memasang/menyambung ujung-ujung ketiga kumparan pada kotak


terminal (untuk motor induksi 3 fasa).

YKT Pontianak

86

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

BAB V
MENGETES/MENGUJI COBA KUMPARAN MOTOR LISTRIK ARUS BOLAK
BALIK HASIL GULUNGAN ULANG
A. MENGUKUR NILAI TAHANAN KUMPARAN MOTOR INDUKSI
Tujuan pengukuran nilai resitansi kumparan adalah untuk mengetahui nilai
resitansi kumparan pada setiap kelompok, apakah nilainya seimbang atau
mendekati sama dari kedua kelompok (motor 1 fasa) atau ketiga kelompok (motor 3
fasa), serta untuk mengetahui apakah ada bagian yang terputus pada sambungan
atau sambungan kurang sempurna. Untuk memeriksa apakah ada sambungan
terputus atau kurang sempurna dapat dilakukan pengukuran dengan menggunakan
alat Multimeter dengan posisi selektor pada Ohmmeter.
Pada motor induksi 1 fasa, nilai tahanan kumparan utama (running winding)
ditentukan dengan rumus : R = ( . L) / A
dimana :

R = tahanan kawat email


= tahanan jenis (tembaga = 0,0175)
L = panjang kawat
A = luas penampang kawat

Dari rumus tersebut dapat diketahui nilai tahanan kumparan utama lebih kecil
daripada kumparan bantu, karena penampangnya lebih besar. Hal ini untuk pedoman
pengetesan maupun untuk menentukan sambungan. Perlu diingat bahwa nilai
tahanan kumparan motor kecil sehingga dipergunakan ohmmeter skala kecil.
Pada motor induksi 3 fasa, nilai tahanan ketiga kumparan harus sama, karena
kumparannya digulung dengan perhitungan yang sama dan simetris. Hal ini
digunakan sebagai pedoman pengetesan setelah kumparan selesai digulung ulang.
Hal-hal pokok yang perlu dimonitor atau dicatat pada saat start selama
pengetesan/pengujian motor induksi hasil gulungan ulang brlangsung setiap
setengan jam atau periode waktu tertentu antara lain adalah :

YKT Pontianak

Suhu ruangan

Suhu bearing

Suhu kumparan

Vibrasi (getaran)

Arus start

87

Menggulung Motor Listrik AC

Arus setiap fasa

Tegangan fasa

Arus tanpa beban

Arus dengan beban penuh

Margiono Abd.

Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengukur nilai kumparan


motor induksi dengan menggunakan multitester adalah sebagai berikut :
1. MENGUKUR NILAI TAHANAN KUMPARAN MOTOR KAPASITOR
DENGAN 3 TERMINAL
a.

Persiapkanlah alat ukur yang diperlukan!

b.

Tentukanlah saklar pemilih pada posisi ohmmeter dengan batas ukur x1


(BU terkecil).

c.

Ukurlah ujung kabel motor 1-2, 2-3, dan 1-3, catatlah hasilnya!

d.

Tentukanlah ujung-ujung kumparan sebagai C, S dan R. apabila hasilnya


dapat dipergunakan untuk menentukan ketiga ujung maka kondisi
kumparan terbalik. Nilai tahanan C-R (tahanan utama) kecil, nilai tahanan
C-S (tahanan bantu) lebih besar dan nilai tahanan R-S = C-R + C-S.

Gambar: 5.1 Mengukur Nilai Tahanan Kumparan Motor Kapasitor 3 Terminal

2. MENGUKUR NILAI TAHANAN KUMPARAN MOTOR INDUKSI 3 FASE


a.

Persiapkanlah alat ukur yang diperlukan!

b.

Tentukanlah sakelar pemilih pada posisi ohmmeter dengan batas ukur x1


(BU terkecil).

YKT Pontianak

88

Menggulung Motor Listrik AC

c.

Margiono Abd.

Ukurlah ujung kabel U-X, V-Y dan W-Z kemudian catatlah hasilnya.
Apabila ketiga kumparan motor nilai tahanannya seimbang maka hasil
menggulung terbalik. Nilai tahanan U-X = V-Y = W-Z.

Gambar : 5.2 (a) Mengukur Nilai Tahanan Pada Terminal Motor 3 Fasa

Gambar: 5.2 (b) Mengukur Nilai Tahanan Kumparan Motor 3 Fasa

3. MENGUKUR TAHANAN ISOLASI KUMPARANMOTOR INDUKSI


Tujuan pengukuran tahanan isolasi kumparan adalah untuk mengetahui
nilai tahanan isolasi kumparan. Selain itu juga untuk memeriksa apakah terjadi
hubung singkat antara kelompok kumparan (phasa) dengan grounding (body),
dan hubung singkat antar kelompok kumparan (phasa) dengan kelompok
kumparan (phasa) yang lain.

YKT Pontianak

89

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Semakin tinggi nilai tahanan isolasi, maka semakin baik kualitas dari
kumparan ditinjau dari nilai tahanan isolasi dan jika tahanan isolasi terlalu kecil
maka perlu dilakukan pengecekan ulang atau diperbaiki. Demikian pula jika
terjadi hubung singkat baik antar kelompok (phasa) maupun antara kelompok
(phasa) dengan body. Pengukuran tahanan isolasi kumparan meliputi :
a.

Pengukuran tahanan isolasi antara kelompok kumparan pada motor 1 fasa


(U-V atau U-Y dan V-X).

b.

Pengukuran tahan isolasi kumparan antar phasa pada motor 3 fasa (U-V,VW, dan WU).

c.

Pengukuran tahanan isolasi kumparan antara phasa dengan ground (U-G,VG,dan W-G).

Adapun pengukuran tahanan isolasi kumparan motor induksi dapat


menggunakan alat ukur Megger dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.

Persiapkanlah alat dan bahan yang diperlukan!

b.

Hubungkanlah ujung-ujung kabel megger dengan ujung kumparan dan bodi


motor.

c.

Putarlah engkol/alat pemutar megger dengan cepat dan catatlah hasilnya!

d.

Ulangilah langkah 3 dengan memindahkan ujung kumparan yang lain.


Apabila hasil pengukuran dalam batas mega ohm, kumparan dalam keadaan
baik.

Gambar: 5.3 (a) Mengukur Nilai Tahanan Isolasi Pada Terminal Motor

YKT Pontianak

90

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 5.3 (b) Mengukur Nilai Tahanan Isolasi Pada kumparan Motor

4. MELAKUKAN TES SURGE


Tes Surge adalah tes perbandingan antar kelompok kumparan (phasa)
motor. Perbandingan tersebut berupa gelombang sinusoida antara 2 phasa yang
berlainan. Tes surge dapat dikatakan hasilnya baik jika 2 gelombang sinusoida
antara 2 phasa saling berhimpit dan sebaliknya tes surge dinyatakan jelek jika 2
gelombang sinusoida antara 2 phasa tidak saling berhimpitan.
Tes surge dapat dilakukan menggunakan osiloscop (CRO) dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
a.

Ujung-ujung kumparan pada terminal motor induksi 3 fasa dihubung


bintang (Z, X dan Y dihungkan jadi satu).

b.

Terminal motor (U, V dan W) di hubungkan pada 3 buah kabel keluar dari
osiloskop (merah) dan kabel hitam dari osiloskop (hitam) dihubungkan
dengan body stator.

5. MELAKUKAN TES KUTUB


Tujuan tes kutub adalah untuk mengetahui benar tidaknya sambungan
kumparan, sehingga jumlah kutub yang timbul sesuai dengan yang diinginkan
atau tidak saling melawan. Tes kutub dapat dilakukan dengan menggunakan
kompas. Hasil tes kutub dikatakan baik, jika jarum pada kompas menunjuk arah
kutub utara dan selatan secara bergantian sesuai dengan jumlah kutub belitan
motor yang telah ditentukan. Cara pemeriksaan kutub adalah sebagai berikut :
YKT Pontianak

91

Menggulung Motor Listrik AC

a.

Margiono Abd.

Ujung-ujung kumparan pada terminal pada motor induksi 3 fasa dihubung


bintang (Z, X dan Y dihubungkan jadi satu).

b.

Terminal motor (U, V dan W) diambil 2 phasa diantara 3 phasa dan


diinjeksi dengan tegangan DC.

c.

Kompas digerakkan searah jarum jam dan didekatkan di atas kepala


kumparan, maka kompas bergerak sesuai dengan kutub yang timbul pada
belitan stator.

B. MENGELAK (MEMVERNIS) KUMPARAN MOTOR INDUKSI


Pengelakan atau pemvernisan merupakan proses pelapisan kumparan dengan
cairan lekat yang bertujuan untuk menambah nilai tahanan isolasi kumparan dan
penahan pergerakan kumparan. Cara yang digunakan dalam pengelakan/
pemvernisan meliputi pencelupan untuk motor induksi kecil dan penyiraman untuk
motor induksi besar yang dilakukan minimal 2 kali.
Pada pekerjaan pengelakan/pemvernisan yang perlu diperhatikan adalah sifatsifat

dari

lak

atau

vernis

yang

dipergunakan.

Kegunaan

dari

proses

mengelak/memvernis adalah agar kumparan menjadi menyatu dan mengeras.


Disamping itu, dengan lapisan lak kumparan menjadi terlindung dari goresan
maupun gesekan. Dengan pekerjaan pengelakan ini sifat tahanan isolasi harus
dipertahankan dan bagian yang lemah menjadi tertutup dan tetap aman. Kertas
isolasi yang dipergunakan untuk pelapisan/pengelakan pada motor-motor induksi
terdiri dari beberapa macam yaitu kertas kraft, kain mengkilat berpernis, fiber
(serat), dan lapisan tipis (film) polyester.
Berikut ini tabel-tabel yang berhubungan dengan pekerjaan pengelakan kawat
email dengan lak.
Tabel:5.1 Tipe-tipe Tabung Bervernis
Tipe

Kode

Kegunaan

pernis
1

VS-1

Isolasi umum

VS-2

Membran pernis tipis dan masih tetap


luwes/fleksibilitas tinggi walaupun dalam suhu panas

YKT Pontianak

VS-3

Warna terang dan tidak sesuai untuk penggunaan dalam

92

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

suhu tinggi
VS-4

Sesuai untuk penggunaan dalam suhu tinggi

Tabel:5.2 Tipe Pelapisan Vernis


Tipe

Kode

Warna

Lama pengeringan

Kegunaan

Pengeringan

W10

Hitam

Kurang dari 5 jam

Tahan oli, mencegah

pada suhu normal

karat pada peralatan

alami
lapisan

listrik

akhir
Pengeringan

W23

Kuning

Kurang dari 24

Pelapisan kumparan

sawo

jam pada suhu

untuk lubang peralatan

normal

listrik besar dan diisi

alami
lapisan
kumparan

oli

Pengeringan

W25

Hitam

kumpatan

Kurang dari 3 jam

Pelapisan kumparan

pada suhu 105C

untuk lubang peralatan

dengan

listrik kecil dan tidak

pemanasan

diisi oli
W28

Kuning

Pelapisan kumparan

sawo

untuk lubang peralatan


listrik besar dan diisi
oli

W125

Hitam

Pelapisan kumparan
untuk peralatan listrik
tipe E tanpa diisi oli

W128

Kuning

Kurang dari 3 jam

Pelapisan kumparan

sawo

pada suhu 120C

untuk peralatan listrik


tipe E diisi oli

Tabel:5.3 Tipe Isolasi dan Suhu Maksimum


Isolasi

Suhu maksimum

Komposisi

yang diijinkan

YKT Pontianak

93

Menggulung Motor Listrik AC

90C

Margiono Abd.

Serat pabrik (buatan), sutera dan bahan-bahan kertas,


tanta pernis atau bahan-bahan yang tidak menyerap
oli.

105C

Serat pabrik, sutera dan kertas dengan pernis atau


bahan-bahan lain yang menyerap oli.

120C

Bahan-bahan polyethylene yang biasanya digunakan


untuk membuat film.

130C

Mica, asbestors, fiberglas dan campuran (cement).

155C

Mica, asbestors, fiberglas dan campuran silikon


alkidresin.

180C

Mica,

asbestors,

fiberglas

yang

dipergunakan

bersama silikonresin termasuk didalamnya kotak


dimana bahan yang dipergunakan hanya plastik atau
silikonresin padat dan bahan-bahan setara
C

Diatas 180C

Mica mentah, asbestors fiberglas dan campuran


(cement).

Langkah-langkah yang dilakukan untuk pengelakan kumparan yang telah


terpasang pada alur-alur stator motor induksi adalah sebagai berikut :
1. Siapkanlah alat dan bahan yang diperlukan!
2. Isolasilah kumparan stator dengan lak penyekat dengan menggunakan canting!
3. Ratakanlah lak dengan menggunakan kuas!
4. Panaskanlah stator pada suhu 90C 95C dalam oven pengering selama 10-20
jam!
5. Celupkanlah seluruh lapisan stator kedalam tabung vernis selama dalam keadaan
panas, sampai gelembung udara berhenti keluar dari gulungan!
6. Angkatlah stator dari tangki dan biarkanlah kering sendiri!
7. Keringkanlah stator tersebut selama 15-20 jam pada suhu 100C-120C!
8. Buanglah vernis yang berlebihan dengan menggunakan kertas amplas halus!
9. Merakit kembali motor dengan memasang kembali seluruh komponen pada
posisi semula
10. Meyakinkan bahwa motor telah benar-benar siap dicoba.

YKT Pontianak

94

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

C. MENGOVEN KUMPARAN MOTOR INDUKSI


Setelah melakukan pengelakan atau pemvernisan kumparan motor induksi
yang telah digulung ulang proses selanjutnya adalah melakukan pengovenan.
Proses pengovenan tersebut minimal dilakukan sebanyak 2 kali, pada pengovenan
yang pertama merupakan proses untuk pemanasan stator motor induksi dengan
tujuan supaya vernis yang digunakan mudah meresap ke dalam sela-sela belitan
stator. Pengovenan yang pertama ini dilakukan kurang lebih selama 30 menit
dengan suhu antara 150 s/d 180 C.
Sedangkan proses pengovenan yang kedua dilakukan dengan tujuan untuk
mengeraskan kumparan stator setelah divernis yang berlangsung kurang lebih
selama 4 s/d 6 jam dengan suhu antara 150 s/d 180 C. Selanjutnya adalah proses
cleaning yang merupakan proses untuk membersihkan stator dari sisa-sisa vernis
setelah melalui pengovenan tahap kedua dan sebelum dirakit kembali.

D. MENGUJI COBA MOTOR INDUKSI HASIL GULUNGAN ULANG


1. PENGUKURAN ARUS
Arus listrik akan mengalir jika terjadi rangkaian tertutup dan terjadi
perbedaan tegangan antara 2 ujung hantaran. Perbedaan tegangan ini dinyatakan
dengan E. Besarnya arus yang mengalir tergantung dari nilai tahanan (beban)
dan perbedaan tegangan. Besarnya arus dapat diukur dengan alat pengukur arus
yaitu amperemeter dan tang ampere. Amperemeter harus dihubungkan seri
seperti pada Gambar: 5.4, sehingga arus yang mengalir pada beban sama dengan
arus yang mengalir pada alat ukur. Agar tegangan jatuh tidak berpengaruh
terhadap arus yang mengalir maka tahanan dalam amperemeter sangat kecil.

Gambar: 5.4 Cara Mengukur Arus Listrik Dengan Amperemeter

YKT Pontianak

95

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Tahanan dalam (Rd) kecil dan dalam alat ukur amperemeter mengalir arus I,
maka tegangan jatuh pada alat ukur tersebut adalah :
Ed = I . Rd

jadi untuk

Eb = E Ed

Apabila Rd besar maka tegangan jatuh Ed akan semakin besar sehingga


tegangan beban Eb menjadi berkurang. Disamping itu dengan Rd yang besar
maka panas yang ditimbulkan akan meningkat bila arus meningkat.

2. PENGUKURAN TEGANGAN
Sebagai alat pengukur tegangan dipergunakan voltmeter. Pada dasarnya
voltmeter dan amperemeter itu sama, sebab untuk simpangan penunjuknya
berdasarkan arus yang mengalir pada pesawatnya. Perbedaanya terletak pada
cara penyambungannya dimana voltmeter dihubungkan pararel (lihat gambar:
5.5), sedangkan amperemeter dihubungkan seri (lihat gambar: 5.4) dengan beban
yang akan diukur.

Gambar: 5.5 Cara Mengukur Tegangan Listrik Dengan Voltmeter

Voltmeter harus mempunyai tahanan dalam yang besar supaya tidak


menarik arus yang besar. Hal ini karena dapat menyebabkan turunnya tegangan
sumber dan menyebabkan kerugian tegangan tambahan pada penghantar. Pada
kenyataannya, voltmeter tidak mempunyai tahanan dalam yang cukup besar
sehingga untuk memenuhi fungsinya sebagai voltmeter yang baik ditambahkan
suatu tahanan yang disebut tahanan seri.

YKT Pontianak

96

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Pemasangan tahanan seri pada voltmeter dimaksudkan untuk :


a. Memperluas daerah pengukuran
b. Membatasi arus yang lebih tinggi dari tegangan yang telah dipersiapkan bagi
voltmeter, sehingga arus hanya dipergunakan untuk menyimpangkan
penunjuknya saja.
c. Mencegah kenaikan suhu
Apabila voltmeter itu mengalirkan arus maka akan meningkatkan kenaikan
suhu

sehingga

menyebabkan

harga

tahanan

bertambah.

Hal

ini

mengakibatkan arus yang diperoleh pada suatu tegangan tertentu menjadi


berkurang yang mengakibatkan terjadi kesalahan penunjukan.

Mengingat tahanan seri tidak hanya untuk keperluan perluasan batas ukur
saja, maka perlu dipilih bahan yang tepat dan yang mudah untuk dilaksanakan.
Dengan demikian tahanan tidak mudah berubah nilainya. Besarnya nilai tahanan
suatu voltmeter biasanya dituliskan pada plat skalanya, harga ini diberikan
sebagai jumlah tahanan per Volt (/V), sehingga jumlah tahanan keseluruhan
dapat dihitung dengan memperhatikan angka tersebut dengan batas ukur
voltmeternya.

3. LANGKAH-LANGKAH MENJALANKAN MOTOR INDUKSI


Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menjalankan motor induksi
baik yang 1 fase maupun yang 3 fase adalah sebagai berikut :
a. Siapkanlah alat dan bahan yang diperlukan!
b. Perhatikanlah alat ukur yang akan dipergunakan, ceklah sebelum
dipergunakan!
c. Rangkailah alat ukur sesuai dengan Gambar: 5.6 dan Gambar: 5.7!
d. Hubungkanlah rangkaian dengan sumber listrik!
e. Perhatikanlah hasil pengukuran dari alat ukur dan catatlah hasilnya!

YKT Pontianak

97

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 5.6 Mengoperasikan Motor Induksi 1 Fasa

YKT Pontianak

98

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

Gambar: 5.7 Mengoperasikan Motor Induksi 3 Fasa

YKT Pontianak

99

Menggulung Motor Listrik AC

Margiono Abd.

DAFTAR PUSTAKA
Hefri Yuliadi, 2010, Modul Diklat Kompetensi Perbaikan Motor Listrik dan Air
Condition , Medan, Departemen Listrik P4TK Medan.

Kismet Fadillah dan Wurdono, 1999, Instalasi Motor-Motor Listrik 1, Bandung,


Angkasa.

Margiono Abdillah, 2010, Laporan Diklat Kompetensi Perbaikan Motor Listrik dan
Air Condition, Medan, Departemen Listrik P4TK Medan.

Sunyoto, 1984, Diktat Dasar Listrik 2 , Yogyakarta, PT Elektro FPTK IKIP


Yogyakarta.

Sunyoto, 1984, Diktat Mesin Listrik I , Yogyakarta, PT Elektro FPTK IKIP


Yogyakarta.

YKT Pontianak

100