Anda di halaman 1dari 38

ANALISIS DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN

PABRIK GULA MADUKISMO


Disusun guna melengkapi tugas Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan
Dosen pengampu : S. Eko Windarso, SKM., M.Ph.

Disusun oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Christi Rosmaria P
Ketut Ema Ari W
Silviana Dwi K
Veronica Dwi R
Wulan Febriani A

(P07133213042)
(P07133213055)
(P07133213074)
(P07133213076)
(P07133213077)

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA


TAHUN 2015/2016
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Industri mempunyai peranan penting dalam suatu pembangunan dan
banyak memberikan kontribusi, terutama dalam rangka pembangunan di bidang
ekonomi. Di Indonesia kemajuan pembangunan industri sangatlah berperan
penting guna mewujudkan demokrasi ekonomi, kepercayaan pada kemampuan
dan kekuatan diri sendiri, manfaat, dan kelestarian lingkungan hidup. Kegiatan
pembangunan industri ini dimana pun dan kapan pun dapat menimbulkan
dampak karena dipakainya bahan kimia tertentu atau zat-zat yang dapat
merusak atau merugikan lingkungan. Dampak disini dapat berupa dampak positif
yaitu memberikan manfaat bagi kehidupan manusia serta mendatangkan
kemakmuran bagi masyarakat umum, dan dampak negatif yaitu timbulnya resiko
atau dampak terhadap lingkungan yang dapat mengakibatkan pencemaran
dan/atau perusakan lingkungan.
Semakin meningkat dan meluasnya kegiatan industri, maka semakin
dituntut pula untuk lebih waspada dan hati-hati dalam menghadapi dampak
negatifnya terhadap lingkungan. Hal ini disebabkan karena dalam kegiatan
industri selain menghasilkan produk sesuai dengan yang direncanakan juga
menghasilkan produk lain yang tidak di kehendaki yaitu berupa limbah industri,
limbah inilah yang selalu menjadi masalah karena dampaknya menyangkut
berbagai aspek kehidupan, baik manusia maupun hewan dan tumbuh-tumbuhan
yang ada disekitarnya.
Sebagai contoh industri yang diduga dapat menimbulkan pencemaran
atau perusakan lingkungan misalnya industri gula. Dalam proses produksi gula
dari tanaman tebu yang diproses sampai menjadi gula kasar atau gula murni
hingga mempunyai nilai jual yang tinggi, memiliki hasil samping produk berupa
limbah. Limbah yang dihasilkan berupa limbah padat yaitu ampas tebu dari
proses penggilingan dan penyaringan kotoran setelah dari proses pemerasan
tebu, juga limbah cair yang berasal dari air pendingin kondensor baromatik, air
pendingin, air proses dari pencucian pada penghilangan warna, pencucian

endapan saringan tekan, dan air cuci peralatan pabrik. Limbah cair pabrik gula
pada umumnya tidak mengandung limbah berbahaya atau beracun.
Menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang merupakan dasar dari peraturan
dampak lingkungan setidaknya dapat memberikan sumbangsi dalam mengatur
proses pembangunan baik di lingkungan kota maupun kabupaten dalam hal
pencemaran lingkungan yang memiliki dampak negatif pada lingkungan,
khusunya lingkungan Madukismo Kabupaten Bantul.
Keberadaan PG-PS Madukismo tidak saja memberikan pengaruh
terhadap kondisi ekonomi masyarakat, tetapi juga terhadap lingkungan fisik.
Aktifitas pabrik sangat berpengaruh pada kualitas lingkungan. Perkampungan
memiliki daya sensitif akan perubahan lingkungan yang semakin memburuk,
serta dapat menigkatkan pencemaran terhadap air atas limbah dari aktifitas
pabrik tersebut. Pengaruh terhadap lingkungan fisik dilihat dari kualitas air tanah
dan air irigasi sawah akibat limbah cair yang dihasilkan oleh PG-PS Madukismo.
Karakteristik limbah cair dipengaruhi oleh karakteristik proses produksi yang
dilakukan.
Sampah atau limbah mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi
makhluk hidup. Jika manusia membuang sampah atau limbah secara
sembarangan, misalnya membuang sampah ke sungai, maka sungai menjadi
tercemar dan airnya tidak dapat digunakan. Akibatnya makhluk hidup yang
bergantung pada air sungai akan kesulitan mencari air bersih, padahal air bersih
sangat diperlukan.
Ada dugaan persoalan pencemaran lingkungan juga terjadi di Kabupaten
Bantul, sebagai contoh pernah terjadi kasus kematian tujuh ton ikan di dusun
Miri, Timbulharjo, Sewon, Bantul pada tahun 2009. Dari hasil uji sampel fisik
ikan, ada sejumlah dugaan penyebab ikan-ikan tersebut keracunan. Menurut
Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan Kabupaten Bantul, penyebab
kematian tersebut karena gangguan pernafasan. Insang ikan kemasukan
suspensi padat dan cairan minyak, yang diduga bukan limbah dari rumah
tangga, melainkan limbah dari Madukismo.

Masalah limbah cair tersebut ternyata ada juga limbah asap dan juga bau
menyengat dari limbah cair Madukismo yang mencemari pemukiman penduduk
sekitar. Warga sekitar Pabrik Gula Madukismo mengeluhkan limbah asap yang
keluar dari cerobong asap pabrik tersebut. Asap yang disertai dengan debu
hitam mengental tersebut menganggu pernafasan dan mengotori pemukiman
penduduk di sekitarnya. Di duga debu dan asap tersebut berasal dari ketel
pembakaran yang usianya memang sudah tua, jadi cara kerjanya sudah tidak
maksimal. Selain itu juga pengaruh dari pengalihan bahan bakar dari residu FO
(Fuel Oil) ke kayu bakar dan ampas. Akibatnya debu yang dihasilkan lebih
banyak. Sementara itu dari pihak Madukismo sudah mencoba mengelola debu
dengan memasang alat penangkap debu, namun karena masih belum memadai
tidak semua debu yang terlepas bisa ditangkap.
Beberapa uraian di atas maka kami tertarik untuk mengetahui kandungan
limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan gula pasir, serta mengetahui
keluhan yang dialami masyarakat yang terpapar limbah dari Pabrik Gula
Madukismo.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Mengetahui keluhan masyarakat sekitar Pabrik Gula Madukismo
b. Tujuan Khusus
1) Mengetahui analisis dampak lingkungan di Pabrik Gula Madukismo
2) Mengetahui kandungan hasil limbah cair belerang sebagai bahan
kristalisasi gula tebu di Pabrik Gula Madukismo.
3) Mengetahui kandungan limbah cair di Pabrik Gula Madukismo yang
terkena limbah cair pabrik tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Latar Belakang
1. Deskripsi Latar Belakang Riwayat
Pabrik Gula Madukismo berada di daerah Desa Padokan, Tirtonirmolo,
Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Pabrik Gula Madukismo adalah salah satu
pabrik gula tertua di tanah air dan merupakan satu-satunya pabrik gula yang
ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pabrik gula ini sudah berdiri sejak tahun
1955 dan mulai beroperasi pada tahun 1958. Pabrik gula Madukismo ini
dibangun setelah pabrik gula Padokan dibumihanguskan.
Kawasan Pabrik Gula Madukismo berada di daerah kawasan
penduduk. Bagian utara pabrik merupakan perumahan Madukismo dan
banyak terdapat pertokoan kecil yang ramai pengunjung. Pada bagian timur
pabrik, terdapat lapangan bola yang cukup luas dan perumahan penduduk
yang tidak terlalu padat. Bagain barat dan selatan merupakan kawasan padat
penduduk dan ramai dilintasi kedaraan bermotor.
Kawasan Pabrik Gula Madukismo tidak hanya berdiri Pabrik Gula
Madukismo saja, tetapi terdapat juga Pabrik Spiritus Madukismo yang
merupakan unit produksi dari PT. Madu Baru bersama Pabrik Gula
Madukismo. Pabrik Spiritus berada dibagian barat kawasan Pabrik Gula
Madukismo. Pabrik Spiritus Madukismo menghasilkan spiritus dan alkohol
dari bahan dasar tetes tebu yang merupakan hasil samping dari Pabrik Gula
Madukismo.
Pabrik Gula Madukismo memiliki banyak peran bagi masyarakat
sekitar kawasan

Madukismo maupun masyarakat di luar kawasan

Madukismo dari dulu hingga sekarang. Pada masa penjajahan Belanda,


perekonomian masyarakat yang terpuruk akibat dibumihanguskannya pabrikpabrik gula yang sudah berdiri pada masa itu dan berpengaruh besar
terhadap kehidupan masyarakat. Masyarakat kehilangan mata pencaharian
sebagai

karyawan

pabrik

gula

yang

telah

dibumihanguskan,

yang

menyebabkan pengangguran tidak terkontrol jumlahnya. Tujuan utama


didirikannya pabrik gula Madukismo adalah untuk semula untuk menolong

rakyat yang banyak kehilangan pekerjaan karena dibumihanguskannya


pabrik-pabrik gula waktu itu.
Sekitaran kawasan Pabrik Gula Madukismo sekarang banyak terdapat
pedagang kaki lima maupun toko-toko yang berjualan di sana. Jumlah
pekerja yang banyak serta adanya wisata argo industri yang diselanggarakan
oleh PT Madu Baru, tentu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar
maupun masyarakat luar untuk berjualan disekitaran kawasan Madukismo.
Banyaknya pedagang disekitaran kawasan Madukismo dapat mengurangi
tingkat pengangguran dan meningkatkan pendapatan.
Masyarakat di luar kawasan Madukismo, seperti para petani tebu,
dapat merasakan peran Pabrik Gula Madukismo juga. Para petani tebu akan
banyak terlibat dalam proses penanaman tebu, pemeliharaan, hingga panen.
Hal ini tentu membutuhkan petani tebu yang cukup banyak, apalagi lahan
bahan baku Pabrik Gula Madukismo sangat luas. Selain itu, Pabrik Gula
Madukismo juga membantu para petani tebu yang kesulitan mengolah hasil
panen tebu mereka. Dimana pada saat musim panen tiba, hasil panen tebu
akan disalurkan ke pabrik sehingga mereka tidak akan kesulitan mengolah
tebu tersebut. Bahkan Pabrik Gula Madukismo akan memberikan kontrak
untuk jangka waktu tertentu kepada para petani, sehingga petani hanya
tinggal menyerahkan hasil panen tebu kepada pabrik gula.
Pada waktu musim giling tiba, masyarakat yang bekerja sebagai
pekerja musiman dapat ditarik masuk ke Pabrik Gula Madukismo atau
bahkan bisa menjadi buruh tetap. Berkembangnya pabrik, penyerapan
tenaga kerja di Pabrik Gula Madukismo tidak hanya terjadi pada awal
berdirinya pabrik tersebut, namun terus berlangsung selama hingga
sekarang dengan variasi pekerjaan. Dengan banyak tenaga kerja yang
terserap maka berkurangnya tingkat pengangguran di daerah, maka secara
langsung

sangat

membantu

keadaan

ekonomi

meningkatkan perekonomian di daerah tersebut.


2. Kunjungan Lapangan
a. Kunjungan hari I

daerah

dan

dapat

1) Hari/tanggal

: Senin, 4 April 2016

2) Waktu

: 14.00 - selesai

3) Pengunjung

: seluruh anggota kelompok

4) Materi

: survei awal lokasi

b. Kunjungan hari II
1) Hari/tanggal

: Kamis, 14 April 2016

2) Waktu

: 14.00 - selesai

3) Pengunjung

: seluruh anggota kelompok

4) Materi

: pengambilan sampel

c. Kunjungan hari III


1) Hari/tanggal

: Kamis, 21 April 2016

2) Waktu

: 14 - selesai

3) Pengunjung

: seluruh anggota kelompok

4) Materi

: wawancara dengan masyarakat sekitar

d. Demografi penggunaan lahan & SDA


Pabrik Gula Madukismo terletak di Desa Pandokan, Tirtonimolo,
Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Pabrik ini terbagi menjadi beberapa bagian
yaitu Pabrik Gula, Pabrik Spirtus, gedung sekretariat, rumah dinas,
tempat pengolahan limbah, gudang bahan baku, gudang hasil produksi,
dll.
Kebutuhan areal untuk komplek pembangunan Pabrik Gula
Madukismo adalah 269.410 m2, yang sebagian berasal dari tanah bekas
pabrik gula Padokan yang mempunyai luas sebesar 90.650 m2 sedang
sisanya 178.760 m2 yang diperoleh dengan membeli tanah sawah milik
penduduk sekitarnya.
Limbah cair PG Madukismo dialirkan ke sungai Bedog yang
mengalir ke sungai Progo. Air sungai yang tercemar limbah PG
Madukismo digunakan untuk irigasi pada sawah-sawah disekitar sungai.
Sawah tersebut biasa digunakan untuk tanaman padi, jagung, kacangkacangan, dsb. Selain hasil pertanian, disekitar PG Madukismo juga
terdapat usaha perikanan dan peternakan.

e. Data outcome kesehatan


Seluruh pekerja di PG Madukismo mendapat fasilitas JAMSOSTEK,
baik pekerja musiman atau pekerja tetap. Fasilitas ini didapatkan karena
ditemukan banyak faktor resiko kesehatan, seperti ISPA akibat menghirup
udara tercemar debu blotong, iritasi mata dan iritasi membran mukosa
akibat mengirup bau belerang yang berlebihan, dermatitis akibat terpapar
limbah cair.
f.

Kepedulian masyarakat
Dampak negatif yang diterima warga sekitar pabrik adalah bau
menyengat dan memuakkan. Air limbah sisa produksi yang dibuang di
sungai bedog berwarna hitam kemerah-merahan, sehingga masyarakat
yang melewati sungai bedog merasa terganggu.
Namun meskipun limbahnya berwana hitam, para petani tetap
memanfaatkannya untuk irigasi sawah, meningkatkan perekonomian
daerah, meningkatkan kualitas hasil pertanian, mengembangkan industri
pariwisata daerah.

3. Kepedulian Masyarakat Sekitar terhadap Dampak Negatif Limbah Cair Pabrik


Gula Madukismo
Pabrik Gula Madukismo menghasilkan limbah padat, limbah cair, dan
limbah gas. Limbah cair Pabrik Gula Madukismo biasa dialirkan ke Sungai
Winongo dan Sungai Bedog, dimana air dari Sungai Winongo dimanfaatkan
untuk pencucian tebu dan Sungai Bedog digunakan sebagai tempat
pembuangan limbah cair setelah proses pengolahan dari pabrik gula.
Pembuangan limbah yang dilakukan oleh Pabrik Gula Maduksimo di aliran
Sungai Bedog juga diduga akan menyebabkan penurunan kualitas air. Warga
masyarakat sudah banyak yang mengeluhkan tentang pencemaran yang
dialami di lingkungan tempat tinggal mereka, setiap kali warga melewati
daerah sekitar Pabrik Gula Madukismo, terlihat air selokan yang berwarna
hitam kemerah-merahan disertai bau manis yang menyengat. Selain
membuat warna air sungai menjadi hitam kemerahan, limbah cair Pabrik

Gula Madukismo juga mengeluarkan bau yang tidak sedap. Orang yang
tinggal di kawasan pabrik seringkali mencium bau yang tidak mengenakkan
dari limbah proses pembuatan gula di Pabrik Madukismo. Limbah yang
dihasilkan tidak hanya berupa limbah cair, namun pabrik juga menghasilkan
limbah asap hasil pembakaran. Hal tersebut membuat warga sekitar menjadi
resah dan merasa tidak nyaman dengan lingkungannya.
Sebagian warga di Desa Jogonalan Kidul, Kecamatan Kasihan,
Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengadu ke pimpinan
DPRD setempat mengeluhkan limbah yang dikeluarkan Pabrik Gula
Madukismo. Ada juga warga yang melaporkan anaknya yang mengalami
infeksi saluran pernafasan, setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter,
ternyata

anak tersebut sakit

karena terpapar partikel debu pencemaran

udara pabrik. Warga lain sekitar pabrik juga merasakan hal yang sama,
dulunya setiap kali menyapu halaman rumah ada tumpukan debu dari limbah
pabrik gula yang tebal, bahkan debu itu juga membuat mata penduduk
sekitar terkena radang, sehingga tidak sedikit warga yang harus berobat.
Penduduk sekitar tidak hanya tinggal diam setelah merasakan dampak
akibat pabrik pengolahan tebu tersebut. Mereka sempat melakukan protes
besar-besaran pada pihak pengelola pabrik, kemudian dari pihak pengelola
mengadakan musyawarah yang juga dihadiri oleh perwakilan dari warga
sekitar pabrik gula untuk mencari solusi dari permasalahan pencemaran
udara.

Sehingga

didapatkan

kesepakatan

dari

pihak

pabrik

untuk

membangun gedung supaya bau yang ditimbulkan dapat berkurang.


Semenjak

pembangunan gedung pengelohan limbah,

warga

sekitar

merasakan perubahan yang semakin membaik dari segi pencemaran


baunya.
Dampak lainnya yang juga membuat masyarakat menjadi resah yaitu
perubahan kualitas air, terutama air sungai Winongo dan air sungai Bedog.
Air sungai tersebut diperkirakan tercemari oleh limbah Pabrik Gula
Madukismo hasil pembersihan bejana penguapan. Akibatnya, ratusan ikan
yang hidup di sungai tersebut mati dan ekosistem sungai menjadi rusak.

Salah satu limbah berbahaya hasil Pabrik Gula Madukismo adalah limbah
dengan kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) yang tinggi. Apabila
limbah ini dicampur dengan air akan dapat menyebabkan air tidak dapat
dikonsumsi. Namun warga sekitar masih memanfaatkan sungai tersebut
untuk keperluan mencuci dan mandi. Hal tersebut dikarenakan pengetahuan
masyarakat terhadap kualitas sumber air bersih masih kurang.
4. Kontaminasi dan Bahaya Lain
1. Kontaminasi di dalam kompleks
a. Dampak lingkungan
Pada pemrosesan gula dari tebu menghasilkan limbah atau
hasil samping, antara lain limbah gas, ampas tebu, blotong dan tetes.
Ampas berasal dari tebu yang digiling dan digunakan sebagai bahan
bakar ketel uap. Blotong atau filter cake adalah endapan dari nira
kotor yang di tapis di rotary vacuum filter, sedangkan tetes
merupakan sisa sirup terakhir dari masakan yang telah dipisahkan
gulanya melalui kristalisasi berulangkali sehingga tak mungkin lagi
menghasilkan kristal.
Kandungan awal limbah cair di PT. Madubaru tidak sesuai
dengan standar baku mutu limbah untuk industri gula oleh karena itu
sebelum dibuang di lingkungan, limbah cair tersebut diolah dalam
UPLT (Unit Pengolahan Limbah Cair) dengan menggunakan sistem
atau cara biologis dilanjutkan dengan absorbsi menggunakan arang
aktif. Tahapan dalam UPLT meliputi Bak Pengendap Awal, Bak
Aerasi, Bak Pengendap Akhir dan Bak Absorbsi.
Sedangkan limbah cair yang dihasilkan dari proses ini antara
lain:

a. Limbah Tetes

10

Tetes atau molasses merupakan produk sisa (by product)


pada proses pembuatan gula. Tetes diperoleh dari hasil
pemisahan sirop low grade dimana gula dalam sirop tersebut
tidak dapat dikristalkan lagi. Pada pemrosesan gula tetes yang
dihasilkan sekitar 56 % tebu, sehingga untuk pabrik dengan
kapasitas 6000 ton tebu per hari menghasilkan tetes sekitar 300
ton

sampai

360

ton

tetes

per

hari.

Walaupun

masih

mengandung gula, tetes sangat tidak layak untuk dikonsumsi


karena

mengandung

kotoran-kotoran

bukan

gula

yang

membahayakan kesehatan. Penggunaan tetes sebagian besar


untuk industri fermentasi seperti alkohol, pabrik MSG, pabrik
pakan ternak dll.
b. Bocoran minyak pelumas
Berasal dari pelumas mesin-mesin di Stasiun Gilingan dan
pelumas yang terbawa pada air cucian kendaraan garasi pabrik.
Bocoran minyak pelumas ini dipisahkan dari air limbah di dalam
bak penangkap minyak, kemudian ditampung dalam drum-drum
untuk dimanfaatkan lagi.
c. Vinnase (slop)
Berasal dari sistem penyulingan alkohol di Stasiun
Sulingan, PS. Madukismo, jumlahnya cukup besar sekitar 20
m3/jam, suhu 90o C, pH 4-5, warnanya coklat hitam. Sebelum
dibuang ke sungai diolah terlebih dahulu di Unit Pengolahan
Limbah Cair (UPLC) yang ada, dengan menggunakan atau
dengan

cara

biologis.

Operasionalnya

masih

perlu

disempurnakan lagi secara bertahap, agar hasilnya memenuhi


bahan baku mutu limbah cair yang ditentukan. Campuran
limbah cair dari pabrik gula (eks cucian alat-alat produksi dan
pendingin

mesin)

dan

limbah

pabrik

spiritus

banyak

dimanfaaatkan untuk air irigasi oleh petani di sekitar pabrik,

11

karena mengandung unsur N, P, dn K yang diperlukan tanaman


untuk pupuk.
d. Limbah soda
Berasal dari cucian pan-pan dan penguapan di pabrik gula
yang kandungan COD dan BOD nya cukup tinggi. Jumlahnya
relatif sedikit, pengolahannya diikutkan di UPLC yang ada.
Pembuangan limbah cair ke Sungai Bedog menyebabkan
akumulasi bahan kimia di sungai Bedog yang ditimbulkan oleh
buangan limbah cair, dan menyebabkan akumulasi bahan kimia
dalam daging ikan dan molusca. Hasil analisis menunjukkan
rata-rata kandungan suhu sebelum terkena limbah adalah 28oC,
kejernihan 100%, kecepatan 0,64 m/s, warna 3,57 TCU, TSS
27,67 mg/L, pH 7, DO 7,37 mg/L, COD 18,19 mg/L, BOD 7,6
mg/L, Sulfida 0,001 mg/L, dan ID Plankton 0,87, sedangkan
rata-rata kandungan suhu setelah terkena limbah adalah
27,33oC, kejernihan 100%, kecepatan 0,62 m/s, warna 129,25
TCU, TSS 28,5 mg/L, pH 7,08 , DO 5,63 mg/L, COD 109,99
mg/L, BOD 52,49 mg/L, Sulfida 0,01 mg/L, dan ID Plankton
0,86.
Terdapat perubahan yang signifikan terhadap parameter
warna, COD, BOD, dan sulfida, sedangkan untuk parameter lain
tidak

menunjukkan

disebabkan

perbedaan

karena

adanya

yang

signifikan.

penggunaan

Hal

belerang

ini

yang

menghasilkan vinasse. Vinasse ini mengandung COD, BOD,


serta sulfida tinggi serta berwarna coklat kehitaman. Limbah
cair yang berasal dari proses pembersihan atau pencucian dan
pemasakan menghasilkan efek asam atau alkali dengan
mengandung kadar garam yang cukup tinggi. Hal ini dapat
menyebakan bahaya dan keracunan pada kehidupan akuatik
yang salah satunya adalah kematian ikan. Selain itu suhu yang

12

tinggi dari air limbah dapat mengakibatkan terbunuhnya


ekosistem yang ada didalam sungai.
2. Kontaminasi di luar kompleks dari sumber lain
a. Perusahaan Pengumpul Oli Bekas di Kasihan, Bantul.
Oli merupakan bahan pelumas yang digunakan

pada

kendaraan bermotor. Pada oli juga terkandung beberapa unsur kimia


yang membahayakan yang akan mengakibatkan pencemaran dan
dapat berakibat berkurangnya oksigen di dalam air dan mengandung
racun yang dapat meracuni biota di dalamnya.

Sisa oli akan

mengendap dan terakumulasi dalam tubuh ikan. Unsur kimia tersebut


mengandung hidrokarbon, sulfur, aluminium, besi, tembaga, larutan
klorin, dan zat-zat pencemar lain. Zat tersebut termasuk dalam logam
berat, apabila logam berat masuk ke dalam tubuh tidak dapat di
keluarkan lagi dan terakumulasi di dalam tubuh. Apabila telah
melebihi ambang batas kewajaran, akan mengakibatkan sakit bahkan
kematian. Selain itu oli yang masuk ke badan air dapat mencemari air
di dalam tanah.
b. Dampak pada masyarakat disekitar sumber
Kerugian yang dirasakan oleh masyarakat sekitar adalah bau
yang menyengat, bau disebabkan karena adanya campuran dari
nitrogen, fospor, protein, sulfur, amoniak, hidrogen sulfida, carbon
disulfida dan zat organik lain, terjadi pencemaran di sumber mata air
sumur milik warga yang tidak jauh berada dari sungai. Selain
berwarna agak keruh, sebelum giling bening, bau air juga sedikit
manis namun bercampur amis.

13

5. Bahaya Fisik dan Bahaya Lainnya


a. Bahaya Fisik
Bahaya fisik yang timbul di area produksi gula Madukismo antara lain:
1) Iklim kerja
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor
PER.13/MEN/X/2011 tahun 2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor
Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja, iklim kerja adalah hasil
perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan
panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja
sebagai akibat pekerjaannya, yang dimaksudkan dalam peraturan ini
adalah iklim kerja panas. Berdasarkan hasil pengukuran Balai Hiperkes
dan Keselamatan Kerja Yogyakarta Tahun 2004 di P.T Madu Baru Pabrik
Gula Madukismo untuk pengukuran iklim kerja menunjukkan bahwa
pada lokasi pemurnian 32,1 C, penguapan 31,6 C, kristalisasi 34,3 C
dan puteran 31,4 C dengan beban kerja ringan dan bila dibandingkan
dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 51 Tahun 1999 tentang
Nilai Ambang Batas (NAB) untuk tekanan panas dengan parameter
Indeks Suhu Basah Bola (ISBB) ditempat kerja adalah sebesar 30 C, ini
menunjukkan bahwa hasil yang didapat di setiap lokasi yang diukur
sudah melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yang diperkenankan (dalam
Tesis Nasrullah, 2006).
2) Debu
Berdasarkan hasil penelitian, kadar debu pada bagian gilingan berada di
bagian bawah Nilai Ambang Batas (8,68 mg/m3). Sedangkan pada
bagian ketelan kadar debu berada diatas NAB yaitu 14,6 mg/m3
sehingga memungkinkan tenaga kerja terpapar debu dari ampas tebu
yang dapat menyebabkan penyakit bagassosis dengan gejala awal
radang pernapasan akut. (dalam Skripsi Agus Wahyu Lestari, 1999).

14

b. Bahaya Mekanik
Kecelakaan dengan sumber bahaya mekanik sering disebut dengan
kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja sendiri dapat ditimbulkan dari kelalaian
pekerja (human error). Terjadinya kesalahan atau human error memberikan
pengaruh terhadap perusahaan karena dapat menyebabkan terganggunya
proses produksi, kerugian material dan waktu. Permasalahan human error
dengan frekuensi kejadian yang cukup tinggi masih sering terjadi di stasiun
gilingan Pabrik Gula Madukismo seperti tertusuk pipa, terseret mesin,
tersiram air condensrat, dll.
c. Bahaya Kimia
Penggunaan bahan kimia pada proses produksi seperti susu kapur
(Ca(OH)2) di stasiun pemurnian yang digunakan untuk digunakan untuk
menaikkan pH nira menjadi 9,0 9,5. Di stasiun pemurnian juga
menggunakan belerang di tangki sulfitasi. Bahan kimia selain itu yang
digunakan adalah NaOH untuk melunakkan kerak pada dinding boiler dan
juga pada pipa pemanas evaporator. Kerak terbentuk karena proses
pemanasan nira yang dilakukan secara terus menerus. Bahan kimia
tersebut dapat mengakibatkan iritasi mata, saluran pernapasan jika lintas
pemajanan melalui inhalasi dan jika kontak langsung maka akan
mengakibatkan gangguan kulit berupa gatal-gatal atau dermatitis.
d. Bahaya Ergonomi
Peningkatan

jumlah

penyakit

akibat

kerja

seiring

dengan

tidak

diperhatikannya aspek ergonomi atau ketidaksesuaian antara pekerja


dengan alat kerja di tempat mereka kerja. Karena ketidak sesuaian tersebut
menimbulkan berbagai keluhan dari pekerja PG. Madukismo seperti
kesemutan kaki karena tidak ada pijakan kaki pada kursi di stasiun kerja
pemurnian, kelelahan otot punggung dan leher karena kursi yang diduduki
tidak sesuai pada penimbang dan penjahit karung gula SHS 50 kg dan 1 kg
di

stasiun

kerja

pengemasan

dan

penggudangan.

Sehingga

perlu

pembuatan meja dan kursi yang sesuai bagi pekerja penimbang gula SHS
kemasan 1 kg serta penambahan ketinggian belt conveyor setinggi 30 cm

15

dan pembuatan meja penampung kemasan gula bagi pekerja pengemas


gula kemasan 1 kg di stasiun kerja pengemasan dan penggudangan.
e. Efek Klinis Bahaya Limbah Cair
Limbah cair yang dikeluarkan dari Pabrik Gula merupakan limbah organik
dan bukan limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya). Namun, jika tidak
dikelola dengan baik akan menimbulkan bahaya bagi manusia maupun
ekosistem air. Untuk itu perlu diadakan nya pemanfaatan daripada limbah
cair itu sendiri untuk mengurangi dampak yang dirasakan oleh mayarakat.
Dalam proses produksi gula setiap musim giling dari tanaman tebu yang
diproses sampai menjadi gula kasar atau gula murni hingga mempunyai nilai
jual yang tinggi, memiliki hasil samping produk berupa limbah cair pabrik dan
limbah kondensor atau air pendingin. Limbah cair pabrik merupakan hasil
dari proses kristalisasi gula tebu yang diantaranya menggunakan belerang
(S), melalui penguapan bertingkat pada proses sulfitasi yang akan
menyebabkan limbah cair mengandung sulfida dan air dari proses
pencucian peralatan pabrik serta proses pembuatan susu kapur (Ca(OH) 2)
yang akan digunakan untuk proses pemurnian. Sedangkan air pendingin
atau limbah kondensor ini dihasilkan oleh kondensasi uap dalam kondensor
barometrik. Sehingga air limbah pabrik memiliki kandungan senyawa organik
lebih tinggi dan menghasilkan efek asam atau alkali dengan kandungan
garam cukup tinggi jika dibandingkan dengan air limbah kondensor (Vawda,
2008). Limbah cair ini pun dibuang dan disalurkan ke sungai sekitar pabrik
dan areal lahan pertanian.
1) Kalsium Hodroksida/Susu Kapur (Ca(OH)2)
Kalsium hidroksida adalah senyawa kimia dengan rumus kimia Ca(OH) 2.
Kalsium hidroksida dapat berupa kristal tak berwarna atau bubuk putih.
Kalsium hidroksida dihasilkan melalui reaksi kalsium oksida (CaO)
dengan air.
CaO + H2O Ca(OH)2
16

Dalam reaksi diatas dapat terlihat kalsium oksida bereaksi dengan air
membentuk larutan basa kalsium hidroksida. Kalsium hidroksida mudah
larut dalam air. Jika terjadi pembuatan kalsium hidroksida terus menerus
yang membuat konsentrasi dari larutan tersebut naik dan akan terbentuk
suspensi kalsium hidroksida. Dapat terlihat dari kondisi yang mirip cairan
susu (air kapur). Sedangkan CaO merupakan hasil kalsinasi batu kapur
pada suhu tinggi antara 900-1300 oC.
Senyawa ini juga dapat dihasilkan dalam bentuk endapan melalui
pencampuran larutan kalsium klorida (CaCl2) dengan larutan natrium
hidroksida (NaOH).
Larutan Ca(OH)2 disebut air kapur dan merupakan basa dengan
kekuatan sedang. Larutan tersebut bereaksi hebat dengan berbagai
asam, dan bereaksi dengan banyak logam dengan adanya air.
Lalu larutan kalsium hidroksida mampu bereaksi dengan udara tepatnya
dengan karbondioksida yang kembali menghasilkan kalsium karbonat
dengan

hasil

sampingan

air

yang

mudah

dipisahkan.

Namun

keadaannya keruh karena mengendapnya kalsium karbonat.


Reaksi :
Ca(OH)2 + CO2 CaCO3 + H2O
Hal ini dapat ditandai larutan kapur yang mongering kembali.
Pada proses produksi gula Madukismo, susu kapur digunakan dalam
proses pemurnian untuk menaikkan pH nira menjadi 9,0 9,5. Susu
kapur ini dapat mengikat kotoran yang terdapat pada nira. Viskositas
susu kapur yang digunakan adalah 75 gram CaO/L larutan atau 70 oBe.
Susu kapur digunakan dan dipilih karena harganya yang murah dan
mudah dalam proses pembuatan, yaitu engan cara pembakaran batu
kapur dan disiram dengan menggunakan air (Sihombing, 2011 dalam
Laporan Kerja Praktik Cicilia Tembang K, 2014).

17

Sifat fisika dan kimia dari Calsium Hidroksida adalah antara lain :
a) Berbentuk bubuk putih halus.
b) Kelarutannya menurun dengan meningkatnya suhu.
c) Sedikit larut dalam air (kelarutan 1,2 g/L, pada suhu 25C)
d) Bila dipanaskan pada suhu 512 C kalsium hidroksida terurai menjadi
kalsium oksida dan air.
e) Menyerap CO2 dan membentuk calsium karbonat.
f)

pH tinggi (12,6)

Potensi Efek Kesehatan Akut:


a) Sangat berbahaya dalam kasus kontak mata. Jumlah kerusakan
jaringan tergantung pada panjang kontak. Kontak mata dapat
menyebabkan kerusakan kornea atau kebutaan. Ditandai awal
dengan mata yang memerah.
b) Kontak kulit dapat menghasilkan peradangan, gatal-gatal atau
dermatitis.
c) Menghirup debu kapur dapat iritasi pada gastro-intestinal atau
saluran pernapasan atau kerusakan paru-paru, ditandai dengan
bersin dan batuk.
2) Hidrogen Sulfida (H2S)
Secara umum sebagian besar belerang yang terdapat dalam air adalah
S (IV) dalam ion sulfat. Dalam kondisi anaerobik ion sulfat dapat
direduksi oleh aktivitas bakteri menjadi H2S.
Hidrogen sulfida merupakan asam lemah yang mudah terurai dari
ikatannya dan dihasilkan dari proses pembusukan bahan-bahan organik
yang mengandung belerang oleh bakteri anaerob juga sebagai hasil
reduksi dengan kondisi anaerob terhadap sulfat secara biologis oleh
mikroorganisme dan sebagai salah satu bahan pencemar. Jumlah yang
dihasilkan proses biologis ini dapat mencapai kurang lebih 1 juta metric
ton H2S per tahun dan dapat menimbulkan bahaya bagi para pekerja
yang berada dalam ruang pengolahan yang menggunakan bahan
tersebut.

18

Selain itu, H2S merupakan bahan beracun dan berbau busuk yang
dihasilkan dari reduksi sulafat, sehingga kehadirannya dalam air akan
mempengaruhi penerimaan masyarakat terhadap air tersebut dan dapat
memperbesar keasaman air sehingga dapat menyebabkan korosifitas
pada pipa.
Hidrogen sulfida selain di air juga terdapat di atmosfer yang
konsentrasinya sangat kecil yaitu < 0,3 mg/m3. Jika kandungan hidrogen
sulfida tinggi di atmosfer dapat mematikan tanaman. Sebagian dari H 2S
yang mencapai atmosfer secara cepat diubah menjadi SO2 melalui
reaksi
H2S + 3/2 O2 SO2+ H2O
Setelah menjadi SO2 kemudian digunakan dalam proses pemurnian di
tangki sulfitasi sebesar 10 12% dari jumlah nira yang masuk.
Sifat Fisik dan Kimia Hidrogen Sulfida antara lain:
a) Hidrogen sulfida (H2S) merupakan suatu gas yang tidak berwarna,
sangat beracun, mudah terbakar (reaktif) dan memiliki karakteristik
bau telur busuk (ATSDR, 2000 dalam tesis Reinhard H. Sianipar)
b) Berbau seperti telur busuk mulai konsentrasi 0,5 ppb, berat molekul
34,1 dan titik didih -77o F pada tekanan 760 mmHg, titik lebur -85,5
C, rapat gas 1,2 serta sedikit larut dalam air.
c) Tergolong asphyxiant yang efek utamanya melumpuhkan pusat
pernafasan (US EPA, 2003)
d) Bersifat korosif terhadap metal dan menghitamkan berbagai material
e) Bila terbakar menghasilkan gas SO2
f)

Mudah menguap

g) Lebih berat dari udara, berat jenis gas H2S sekitar 20% lebih berat
dari udara dengan perbandingan berat jenis H 2S : 1.2 atm dan berat
jenis udara : 1 atm. Maka H2S sering terkumpul di udara pada
lapisan bagian bawah dan sering didapat di sumur-sumur terbuka,
saluran air buangan dan biasanya ditemukan bersama-sama gas

19

beracun lainnya seperti metana, dan karbondioksida (Soemirat,


2004).
h) Kelimpahannya 18% lebih besar dari udara
i)

Dapat terbakar dan meledak pada konsentrasi LEL (Lower Explosive


Limit) 4.3% (43000 PPM) sampai UEL (Upper Explosive Limite) 46%
(460000 PPM) dengan nyala api berwarna biru pada temperature
500F (260C)

j)

H2S dapat larut (bercampur) dengan air (daya larut dalam air 437
ml/100 ml air pada 0C; 186 ml/100 ml air pada 40C).

Bahaya H2S bagi kesehatan manusia:


a) Pada konsentrasi rendah dapat menyebabkan iritasi mata, hidung
atau kerongkongan. Bahkan dapat terjadi kesulitan pernafasan pada
penderita asma. Konsentrasi lebih tinggi dari 500 ppm dapat
mengakibatkan hilangnya kesadaran, menyerang sistem syaraf
pusat, mengakibatkan kelumpuhan dan mungkin kematian yang
disebabkan terhentinya pernafasan. Hal ini disebabkan hidrogen
sulfida menghambat enzim cytochrome oxidase sebagai penghasil
oksigen sel. Sistem jaringan saraf berhubungan dengan jantung
terutama sekali peka kepada gangguan metabolisme oksidasi,
sehingga terjadi kematian dan terhentinya pernafasan (US EPA,
2003). Paparan H2S dengan konsentrasi rendah dalam jangka waktu
yang lama dapat menyebabkan efek permanen seperti gangguan
saluran pernafasan, sakit kepala, dan batuk kronis. Ada beberapa
bukti untuk menyatakan bahwa ada hubungan paparan asam sulfida
dengan risiko keguguran spontan (Xu et.al, 1998).

20

b) Kenaikan secresi mucus


Berikut adalah efek H2S pada kesehatan menurut ANSI :

Konsentrasi (ppm)

Efek

0,13

Bau minimal

4,60

Mudah terdeteksi, bau sedang

10
27

100

200-300

500-700

Mulai iritasi mata


Bau

tidak

enak,

sangat

kuat,

dapat

ditoleransi
Batuk, iritasi mata, kehilangan sensasi bau
setelah paparan 2 - 5 menit (IDLH)
Radang mata conjunctivitis, iritasi saluran
napas, setelah 1 jam paparan
Hilang kesadaran, henti napas, kematian
dalam 30 - 60 menit
Hilang kesadaran dengan segera, henti
napas dan kematian dalam beberapa menit.

1000-2000

Kematian dapat terjadi walaupun korban


sudah dibawa ketempat dengan udara
segar.

B. Analisa Jalur
1. Jalur Pemajanan Lengkap
a. Jalur 1: Sumber Pencemar
Hasil dari pengamatan kelompok, sumber pencemar dari Pabrik Gula
Madukismo, yaitu:

21

1) Limbah cair yang berasal dari air pendingin, proses penghilang


warna, pencucian endapan saringan, pencucian peralatan pabrik dan
lain sebagainya.
2) Proses pemisahan sirop low grade yang menghasilkan tetes.
3) Ketel pembakaran yang sudah tua menghasilkan debu dan asap.
4) Proses sulfitasi yang menghasilkan H2S.
b. Jalur 2 : Media Lingkungan
Penyebaran bahan pencemar di lingkungan melalui udara dan air. Hasil
pembakaran (debu dan asap) serta gas H2S menyebar ke lingkungan
sekitar pabrik Madukismo melalui udara. Limbah cair Pabrik Gula
Madukismo menyebar melalui air Sungai Winongo dan Sungai Bedog.
c. Jalur 3 : Titik Pemajanan
Titik pemajanan dari gas H2S adalah melalui udara dan sumur yang
terbuka. Titik pemajanan air limbah adalah sumur yang dekat (<10 meter)
dengan Sungai Winongo dan Sungai Bedog dan sawah yang dialiri
limbah cair Pabrik Gula Madukismo.
d. Jalur 4 : Cara Pemajanan
Cara pemajanan limbah gas maupun cair Pabrik Madukismo melalui
inhalasi, kontak lansung dengan air tercemar dan mengonsumsi air yang
tercemar.
e. Jalur 5 : Penduduk Berisiko
Penduduk yang berisko adalah penduduk yang tinggal di daerah sekitar
Pabrik Gula Madukismo dan penduduk yang tinggal di sepanjang sungai
Winongo dan sungai Bedog.
2. Jalur pemajanan potensial
a. Sumber pencemar
Limbah pabrik gula Madukismo
b. Media lingkungan dan mekanisme penyebaran
1) Udara
Pada umumnya manusia dapat mengenali bau H 2S ini dengan
konsentrasi 0,0005 ppm sampai dengan 0,3 ppm. Bila konsentrasi

22

tinggi menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan penciuman.


Hidrogen sulfida dilepaskan dari sumbernya terutama sebagai gas
dan menyebar di udara pada lapisan bawah, dekat dengan manusia.
Gas ini dapat bertahan di udara rata-rata 18 jam 3 hari. Selama
waktu itu hidrogen sulfida dapat berubah menjadi sulfur dioksida
(SO2).
2) Air
Hidrogen sulfida lebih berat dari pada udara, maka H2S sering
terkumpul di udara pada lapisan bawah dan sering terdapat pada air
permukaan dan dapat sedikit larut dalam air. Tetapi H 2S dapat
menguap dari air permukaan kembali ke udara sehingga konsentrasi
hidrogen sulfida kecil.
3) Makanan
Paparan H2S melalui makanan relatif kecil. Jadi masuknya gas
H2S ke dalam tubuh diabaikan.
c. Titik pemajanan
Karena H2S lebih berat dari udara, maka H2S sering terkumpul di
udara pada lapisan bagian bawah dan sering didapat di sumur-sumur
terbuka, saluran air buangan dan biasanya ditemukan bersama-sama
gas

beracun

lainnya

seperti

metana,

dan

karbon

dioksida

(Soemirat,2004).
d. Cara pemajanan
Jalur pemajanan yang potensial yaitu melalui inhalasi dan kontak
langsung dengan tubuh.
1) Melalui inhalasi yaitu adanya gas H2S yang menimbulkan bau busuk
di sekitar pabrik gula. Jika H2S bercampur dengan keringat akan
menghasilkan larutan Sulfuric acid yang dapat menyebabkan kulit
seperti terbakar. Jika jumlah gas H2S yang terserap ke dalam sistem
peredaran darah melampaui kemampuan oksidasi dalam darah maka
akan menimbulkan keracunan terhadap sistem syaraf. Setelah itu
secara singkat segera diikuti terjadinya sesak nafas dan kelumpuhan

23

(paralysis) pernafasan pada konsentrasi tinggi, hal ini disebabkan


hidrogen sulfida membentuk ikatan kompleks dengan zat besi dalam
mitokondria cytochrome oxidase enzim, sehingga menghalangi
oksigen

dari

mengikat

dan

menghentikan

respirasi

selular,

metabolisme anaerobik menyebabkan akumulasi asam laktat yang


mendorong ke arah ketidakseimbangan asam-basa. Sistem jaringan
saraf berhubungan dengan jantung terutama sekali peka kepada
gangguan metabolisme oksidasi, sehingga terjadi kematian dan
terhentinya pernafasan (US EPA, 2003), kematian akibat menghirup
gas H2S dapat terjadi walaupun korban sudah dibawa ketempat
dengan udara segar. Pengaruh gas H2S pada konsentrasi rendah
akan mengakibatkan terjadinya gejala pusing, mual, rasa melayang,
batuk-batuk, gelisah, mengantuk, rasa kering dan nyeri di hidung,
tenggorokan, dan dada.
2) H2S pada limbah cair pabrik gula yang di buang ke sungai dapat
menyebabkan

kematian

pada

biota

air

karena

H 2S

dapat

menyebabkan penurunan pH dan terjadinya eutrofikasi, selain itu H2S


dapat mencemari sumber air dimana air tersebut akan dikonsumsi
oleh masyarakat, kandungan H2S yang tinggi dalam air jika
dikonsumsi memiliki bahaya seperti sianida dan bila terkena kulit
dapat menyebabkan gatal-gatal. Suatu larutan hidrogen sulfida dalam
air adalah awalnya jernih, tetapi dari waktu ke waktu berubah
mendung. Hal ini karena reaksi lambat sulfida hidrogen dengan
oksigen terlarut dalam air, menghasilkan unsur belerang, yang keluar
presipitat.
Efek yang timbul jika terpapar Hidrogen Sulfida :
1) Jangka pendek
Berikut adalah efek H2S pada kesehatan menurut ANSI :

0,13 ppm

: bau minimal

4,60 ppm

: mudah terdeteksi, bau sedang

24

10 ppm

: mulai iritasi mata

27 ppm

: bau tidak enak, sangat kuat, dapat ditoleransi

100 ppm

: batuk, iritasi mata, kehilangan sensasi bau

setelah paparan 2 5 menit ( IDLH )

200 -300 ppm

: radang mata conjunctivitis, iritasi saluran

napas, setelah 1 jam paparan

500 - 700 ppm

: hilang kesadaran, henti napas, kematian

dalam 30 - 60 menit

1000 - 2000 ppm : hilang kesadaran dengan segera, henti napas


dan kematian dalam beberapa menit.

Laporan dari studi yang banyak dan konsisten dengan observasi dari
bau yang dideteksi dan menunjukkan gejala pusing dari H 2S yang
dihasilkan dari geyser (Cal EPA,1999) Gas H 2S dengan konsentrasi
500 ppm, dapat menimbulkan kematian, edema pulmonary, dan
asphyxiant.
2) Jangka panjang
Paparan H2S dengan konsentrasi rendah dalam jangka waktu
yang lama dapat menyebabkan efek permanen seperti gangguan
saluran pernafasan, sakit kepala, batuk kronis, dan cairan di paruparu. Efek ini diyakini karena fakta bahwa hidrogen sulfida
menggabungkan dengan alkali hadir dalam jaringan permukaan
lembab untuk membentuk natrium sulfida. Di daerah yang kandungan
H2S tergolong tinggi kejadian batuk, infeksi pada saluran pernafasan
dan

sakit

kepala

lebih

tinggi

dibandingkan

dengan

daerah

tetangganya. Ada beberapa bukti untuk menyatakan bahwa ada


hubungan paparan asam sulfida dengan risiko keguguran spontan
(Xu et.al,1998).

25

C. Dampak Kesehatan Masyarakat


1. Evaluasi Toksikologi
a. Titik Pemajanan Dekat
Survey dilakukan 10 m dari media yang tercemar limbah cair PG.
Madukismo yang mengandung Hidrogen Sulfida (sungai).
N
o

Nama

Surot
o

Woro

Yanti

Toni

Umu
r
(th)

43

37

56

28

Berat
bada
n (kg)

Lam
a
tingg
al
(th)

57

20

55

Domi
sili
tetap

65

67

38

Lama
pemapara
n
(jam/hari)

Keluha
n

24

Bau
dan
gatalgatal

24

Bau
dan
gatalgatal

24

Bau
dan
gatalgatal

24

Bau
dan
gatalgatal

26

Lintas
pemajana
n

Dampak
kesehata
n

Inhalasi
dan
kontak
kulit
langsung

Iritasi
mata,
hidung,
tenggorok
an dan
sistem
pernapas
an

Inhalasi
dan
kontak
kulit
langsung
Inhalasi
dan
kontak
kulit
langsung
Inhalasi
dan
kontak
kulit
langsung

Iritasi
sistem
pernafasa
n
Iritasi
mata dan
sistem
pernafasa
n
Iritasi
mata,
hidung
dan
sistem
pernafasa
n

Pariya
h

34

53

Bau
dan
gatalgatal

24

Inhalasi
dan
kontak
kulit
langsung

Iritasi
mata,
hidung
dan
sistem
pernafasa
n

b. Titik Pemajanan Jauh


Survey dilakukan 30 m dari media yang tercemar limbah cair PG.
Madukismo yang mengandung Hidrogen Sulfida (sungai).
N
o

Nama

Rio

Umu
r
(th)

21

Bera
t
bada
n
(kg)

Lama
tingga
l
(th)

51

Domis
ili
tetap

24

Bau

Inhalasi

24

Bau

Inhalasi

Lama
pemapara
n
(jam/hari)

Keluha
n

Lintas
pemajana
n

Putri

24

62

Domis
ili
tetap

Warn
o

56

55

26

24

Bau

Inhalasi

Suge
ng

47

68

19

24

Bau

Inhalasi

27

Dampak
kesehata
n
Iritasi
saluran
pernafasa
n
Iritasi
saluran
pernafasa
n
Iritasi
saluran
pernafasa
n
Iritasi
saluran
pernafasa
n

Suran
ti

30

45

12

24

Bau

Inhalasi

Iritasi
saluran
pernafasa
n

2. Evaluasi Outcome Kesehatan


Salah satu limbah cair pabrik Gula Madukismo dihasilkan dari proses
kristalisasi gula tebu yang diantaranya menggunakan belerang (S), melalui
penguapan bertingkat pada proses sulfitasi yang akan menyebabkan limbah
cair mengandung sulfida dan air dari proses pencucian peralatan pabrik.
Pemberian gas Hidrogen Sulfida (H2S) dilakukan pada proses pemurnian nira
dan penguapan nira, dimana pada proses pemurnian nira gas Hidrogen
Sulfida (H2S) dimasukkan dalam peti sulfitasi sampai Ph 7,00. Kemudian
pada proses penguapan nira, gas Hidrogen Sulfida (H2S) digunakan sebagai
bleaching atau pemucatan pada nira kental yang siap untuk dikristalkan.
Berdasarkan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Hidrogen
Sulfida (H2S) dalam konsentrasi tinggi hingga rendah sekalipun tetap
menyebabkan dampak kesehatan. Dampak kesehatan yang ditimbulkan
mulai dari asma hingga gangguan kesehatan yang bersifat sistemik. Dampak
kesehatan ini akan berpotensi lebih besar untuk terjadi pada populasi
berisiko. Populasi berisiko ini meliputi populasi yang berada di area yang
merupakan sumber paparan Hidrogen Sulfida (H2S). Dalam hal ini
masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar Pabrik Gula Madukismo
memiliki resiko yang cukup tinggi yang masuk melalui jalur inhalasi.
Berdasarkan beberapa hal di atas, perlu dianalisis nilai asupan
paparan per individu dan besaran tingkat risiko (risk quotient) yang diterima
masyarakat akibat paparan gas Hidrogen Sulfida (H2S) di Pabrik Gula
Madukismo.
Untuk mengetahui asupan paparan gas Hidrogen Sulfida (H2S) yang
diterima masyarakat di area Pabrik Gula Madukismo, dapat dihitung
menggunakan rumus:

28

I=

C x R x t E x f E x Dt
w t avg

Keterangan:
I

= Asupan paparan individu per satuan mg/kg-hari

= konsentrasi paparan di udara (mg/m3)

= Rata-rata laju asupan (m3/jam)

tE

= Waktu paparan (jam/hari)

fE

= frekuensi paparan (hari/tahun)

Dt

= Durasi paparan (tahun)

= Berat badan (kg)

tavg

= periode waktu rata-rata hari

Menghitung besaran tingkat risiko RQ (risk quotient) menggunakan rumus:

isk Quotient ( RQ ) =

I
Rfc

Dimana,
I

= asupan paparan (mg/kg-hari)

Rfc

= Konsentrasi Referensi ( mg/m3-hari)

Perhitungan dari RQ menghasilkan dua kategori tingkat risiko, yakni:


a. RQ>1 Konsentrasi Agen hydrogen sulfide berisiko, dapat menimbulkan
efek merugikan bagi kesehatan
b. RQ 1 Konsentrasi Agen belum berisiko dapat menimbulkan efek
merugikan kesehatan, pekerja aman dari risiko paparan sulfur dioksida
Berdasarkan hasil survey diatas yang dilakukan pada masyarakat sekitar
Pabrik Gula Madukismo, didapatkan data sebagai berikut:

29

0,9

mg
m3

a. Konsentrasi paparan di udara (C)

b. Rata-rata laju asupan (R)

m3
1,25
=
jam

c. Waktu paparan (tE)

= 24 jam/hari

d. Frekuensi paparan (fE)

= 280 hari/tahun

e. Durasi paparan (Dt)

= 21 tahun

f.

= 58 kg

Berat badan rata-rata

a. Asupan paparan rata-rata pekerja yaitu sebagai berikut:

I=

0,9
I=

C x R x t E x f E x Dt
w t avg

mg
m3
jam
hari
x
1,25
x 24
x 280
x 21 tahun
3
jam
hari
tahun
m
58 kg x 30 x 180 hari

I=

158760
mg
=0,506
hari
313200
kg

b. Besaran tingkat risiko paparan (RQ) :

Rfc=

NAOEL
Uf 1 x MF

10 mg/m
Rfc=
10 x 10

30

Rfc=0,1 mg/m3
RQ=

I
Rfc

mg
hari
kg
RQ=
=5,06
mg
0,1
hari
kg
0,506

Hasil perhitungan RQ adalah 5,06. Berdasarkan hasil ini, dapat diketahui


konsentrasi H2S pada masyarakat sekitar Pabrik Gula Madukismo berisiko dan
dapat menimbulkan efek merugikan kesehatan, pekerja aman dari risiko paparan
hydrogen sulfide.
3. Evaluasi Kepedulian Masyarakat
Berdasarkan hasil wawancara dengan warga sekitar pabrik, pihak
indusri telah melakukan intervensi dengan memebuat pagar tinggi untuk
membatasi kawasan pabrik dengan kawasan pemukiman yang sebelumnya
tidak berpagar. Saat pabrik belum berpagar bau belerang dari pabrik sangat
parah dan tersebar ke pemukiman sehingga mengganggu dan membuat
warga sekitar mengamuk. Namun dengan adanya pagar, bau belerang yang
tercium dari pemukiman sudah tidak separah sebelumnya. Selain adanya
pagar, masyarakat sekitar juga dijanjikan akan mendapat gula setiap kali
produksi sebagai pengganti kerugian yang ditimbulkan pabrik gula
Madukismo. Selain itu pihak pabrik juga telah berupaya meminimalisir limbah
cair dengan memanfaatkan tetes tebunya untuk pembuatan sepritus. Pihak
pabrik juga telah melakukan pengolahan terhadap limbah cairnya, sehingga
limbah ini dianggap sudah layak untuk dibuang ke badan air.
Pihak pemerintah sendiri melalui Badan Lingkungan Hidup Provinsi
DIY selalu melakukan pemantauan kualitas lingkungan di kawasan pabrik
dan kawasan pemukiman sekitar pabrik terutama udara ambien dan air

31

sungai. Hal ini bertujuan untuk melakukan evaluasi apakah kondsi


lingkungan masih memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan.
Selama ini tidak ada data base yang menerangkan gangguan
kesehatan, diagnosis dari keluhan kesehatan yang dialami oleh masyarakat
di sekitar pabrik gula Madukismo. Namun masyarakat banyak yang
mengeluhkan perihal bau menyengat dari pabrik, sehingga tokoh masyarakat
mendatangi pabrik untuk melakukan negosiasi atau musyawarah terkait jalan
keluar apa yang akan ditempuh agar masyarakat tidak mencium bau
menyengat lagi.
Sejauh ini masyarakat menangani masalah dengan protes kepada
pihak pengelola pabrik gula Madukismo. Tindak protes yang dilakukan
masyarakat tidak ditempuh melalui jalur hukum maupun administrasi
melainkan dengan melempari batu pada kawasan pabrik. Hal ini justru
merugikan kedua belah pihak, bangunan pabrik jadi rusak dan bau
menyengat masih tercium. Selain itu masyarakat disekitar pabrik juga tidak
menggunakan air sumur untuk keperluan makan dan minum, mereka
menggunakan air dari PAM dari Watubaru. Namun untuk keperluan mandi
dan mencuci mereka masih menggunakan air sumur.

BAB III

32

PENUTUP
A. Kesimpulan
Pabrik Gula Madukismo menghasilkan limbah yang mengandung kapur dan
H2S. Dimana H2S dihasilkan dari proses pemurnian nira dan penguapan nira
sedangkan kapur dihasilkan di stasiun pemurnian. Berdasarkan data yang
diperoleh diketahui bahwa kadar H2S lebih tinggi dari kapur.
Menurut hasil perhitungan diperoleh nilai RQ sebesar 5,06. De gan demikian
dapat ditarik kesimpulan bahwa konsentrasi H2S yang diterima karyawan dan
masyarakat sekitar Pabrik Gula Madukismo berisiko dan dapat menimbulkan
efek merugikan kesehatan.
B. Rekomendasi
1. Rekomendasi bagi Pengelola
a. Sebaiknya pengolahan limbah menggunakan karbon aktif/zeolit sebagai
absorben H2S. Dengan menggunakan zeolit 4% dan penggunaan zeolit
konsentrasi yang lebih tinggi memberi kemungkinan yang besar dalam
menurunkan penurunan gas H2S.
b. Pengolahan limbah dapat juga dilakukan dengan pengapuran kapur
hidrat

Ca(OH)2

dan

pemanfaatan

bakteri

gram

negative,

yaitu

Thiobacillus.
c. Pengurangan penggunaan bahan nutrient organik pada proses produksi
d. Melakukan perbaikan atau pembaharuan terhadap alat produksi untuk
meminimalkan terjadi kebocoran terhadap gas H2S atau limbah lainnya.
e. Melakukan

pemeriksaan

kesehatan

karyawan.

2. Rekomendasi bagi Karyawan

33

secara

berkali

bagi

seluruh

a. Penggunaan alat pelindung diri lengkap, seperti masker (PPE respirator),


sarung tangan, pakaian tertutup, helm, sepatu boots, dan lain
sebagainya.
b. Menaati peraturan yang telah ditetapkan untuk meminimalisir penyakit
akibat kerja.
3. Rekomendasi bagi Masyarakat
a. Menggunakan masker untuk masyarakat yang tidak kontak langsung
dengan limbah
b. Jika melakukan kontak langsung dengan limbah, masyarakat harus
menggunakan APD lengkap.
c. Membuat pagar yang dilengkapi dengan adsorben penyerap H2S

34

DAFTAR PUSTAKA
Astuti, Farida Afriani . 2011. Pengaruh Pabrik Gula dan Pabrik Spiritus Madukismo
Terhadap Kondisi Lingkungan di Desa Tirtonirmolo dan Pendowoharjo,
Kabupaten

Bantul.

Diakses

melalui

http://etd.repository.ugm.ac.id

/index.php?
mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=
53648 pada tanggal 5 April 2016
Librun Siregar. 2013. Upaya Mediasi Terhadap Pencemaran Lingkungan Hidup Oleh
Pabrik

Gula

Madukismo.

Diakses

melalui

thesis.umy.ac.id/datapublik/t25437.pdf pada tanggal 5 April 2016


Suryanto. 2011. Warga keluhkan limbah PG Madukismo. Diakses melalui
http://www.antaranews.com/berita/278180/warga-keluhkan-limbah-pgmadukismo pada tanggal 4 April 2016
Novayanti, Dian. 2014. Dampak Limbah Pabrik Gula Madukismo Terhadap Kualitas
Sungai

Bedog

di

Bantul

Yogyakarta.

Diakses

melalui

http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?
mod=download&sub=DownloadFile&act=view&typ=html&id=75852&ftyp=po
tongan&potongan=S1-2014-302160-Chapter1.pdf pada tanggal 11 April
2016
Sulistyaningsih, Warti. 2013. Peran Pabrik Gula Madukismo dalam Meningkatkan
Ekonomi Daerah. Diakses melalui http://wurisulistyaningsih.blogspot.co.id/
2013/01/peran-pabrik-gula-madukismo-dalam.html pada tanggal 6 April
2016
PT. Madubaru. Diakses melalui http://madubaru.comyr.com/ pada tanggal 6 April
2016
Wikipedia.

Hidrogen

sulfida.

Diakses

melalui

/Hidrogen_sulfida pada tanggal 11 April 2016

35

https://id.wikipedia.org/wiki

Sha, Sheifuka. 2010. Hidrogen Sulfide. Diakses melalui http://herumayrota.


blogspot.co.id/2010/11/hidrogen-sulfide.html pada tanggal 6 April 2016
Juanda, Agus. H2S Dan Bahayanya. Diakses melalui http://www.kesehatankerja
.com/H2S.htm pada tanggal 12 April 2016
American National Standards Institute. 2001. American National Standards Call for
Comment on Proposals Listed. Diakses melalui https://share.ansi.org
/Shared%20Documents/Standards
%20Action/2001%20PDFs/SAV327.pdf#search=health%20effects%20of
%20hydrogen%20sulfide pada tanggal 16 April 2016
Sianipar,

Reinhard H., 2009. Analisis Risiko Paparan Hidrogen Sulfida Pada

Masyarakat Sekitar Tpa Sampah Terjun Kecamatan Medan Marelan.


Diakses melalui

http://Repository.Usu.Ac.Id/Bitstream/123456789/7012/1 /

09e01772.Pdf pada tanggal 11 April 2016


Fajriyah, Sheila. 2014. Analisis Risiko Kesehatan Paparan Sulfur Dioksida (SO2)
pada pekerja di area produksi Asam Sulfat PT Dunia Kimia Utama
Indralaya. Diakses melalui www.akademik.unsri.ac.id/paper12 pada tanggal
16 April 2016
Hartini, Eko. 2014. Faktor-Faktor Risiko Paparan Gas Amonia Dan Hidrogen Sulfida
Terhadap Keluhan Gangguan Kesehatan Pada Pemulung Di TPA
Jatibarang

Kota

Semarang.

Diakses

melalui

https://eprints.dinus.ac.id/7940/1/jurnal_13694.pdf pada tanggal 16 April


2016
Rohmad, IB. 2013. Pengelolaan Limbah Cair PG-PS Madukismo. Diakses melalui ejournal.uajy.ac.id/2093/2/1HK09503.pdf pada tanggal 5 April 2016
Achmad, Rukaesih. 2014. Kimia Lingkungan. Yogyakarta: Andi
Bintoro, Deddy Wahyu. Analisis Pemanfaatan Limbah Padat Blotong Pabrik Gula
(P2G) Madukismo Yogyakarta Terhadap Peningkatan Pendapatan Petani

36

Fajriyah, Sheila. 2014. Analisis Risiko Kesehatan Paparan Sulfur (SO2) Dioksidasi
pada Pekerja di Area Produksi Asam Sulfat PT. Dunia Kimia Utama
Indralaya.

Diakses

melalui

www.akademik.unsri.ac.id/paper12/

pada

tanggal 11 April 2016


Imam, Fauzul. 2013. Tingkat Teksisitas Limbah Cair Industri Gula Tebu Tanpa
Melalui Proses IPAL terhadap Daphnia magna. Universitas Pendidikan
Indonesia
Lestari, Agus Wahyu. 1999. Skripsi: Studi Tentang Kadar Debu Di Udara Dan
Proporsi Ispa Ringan Berdasarkan Karakteristik Tenaga Kerja Pada Tenaga
Kerja Tetap Stasiun Gilingan Dan Ketelan Di Pabrik Gula MadukismoYogyakarta.
Margowo, H. W, Trimawan dkk, 1991. Buku Pedoman Pengajar Mata Ajaran Kimia
Lingkungan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Nasrullah. 2006. Tesis: Iklim kerja dan kelelahan kerja pada pekerja di PT. Madubaru
Pabrik Gula Madukismo Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011
tahun 2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di
Tempat Kerja
Rahmawati, Suciana. 2012. Skripsi: Analisis Pengendalian Kualitas Gula di PG
Tasikmalaya Kabupaten Karanganyar. Surakarta: Universitas Sebelas
Maret.
Samudro Dipo Aji Prabowo, Wahyu Supartono, Guntarti Tatik Mulyati. Identifikasi
Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Menggunakan HAZOPS dan
AS/NZS IS0 31000 : 2009 Pada PG Madukismo, Yogyakarta
Tembang K, Cicilia. 2014. Laporan Kerja Praktik: Proses Produksi Gula Super High
Sugar

di

PG.

Madukismo

Bantul.

Soegijapranata

37

Semarang:

Universitas

Katolik

WHO. 2005. Bahan Bahaya Kimia pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan.
Jakarta: EGC

38