Anda di halaman 1dari 7

PRAKTIKUM FOTOGRAMETRI DASAR

Judul
Nama
NIM
Kelompok
Praktikum
Asisten
Komponen
Penilaian
A : Pretest
B : Kegiatan
Praktikum
C : Laporan
Praktikum
D : Tugas

[GKP
0203]

Acara III: Pengukuran Paralaks dan Beda Tinggi


Eycel Regita Papayosya
Nilai Total
Laporan :
15/377544/GE/07985
Rabu, jam 11.00-13.00WIB
1. Ahmad Faizan B.
2. Akbar Muammar S.
Laporan dikumpulkan pada
A:
B:

Tanggal :
Praktikan

C:

Jam :
Asisten
(
)

D:

TUJUAN
1. Menghitung beda paralaks dengan menggunakan mistar
2. Menghitung beda paralaks dengan menggunakan paralaks meter
3. Mengukur beda tinggi suatu lokasi pada foto udara
Nilai

ALAT
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

DAN BAHAN
Sepasang foto udara bertampalan
Paralaks meter
Stereoskop cermin
Mistar
Plastik transparansi, kertas dan alat tulis
OHP
Kalkulator
Nilai

CARA KERJA
1. Mengukur ketinggian objek dengan mistar
Foto udara, stereoskop , mistar, plastik
transparansi, kalkulator dan alat tulis

Menentukan titik referensi yang sudah diketahui


Mengukur koordinat x masing-masing objek yang sama di dua foto yang

Halaman 1 dari 7

PRAKTIKUM FOTOGRAMETRI DASAR

[GKP
0203]

Mengukur koordinat x titik referensi dengan mistar


Perhitungan Pr, Pt, dan delta P
Perhitungan selisih ketinggian dan dijumlahkan dengan
tinggi titik referensi

Tabel Pengukuran Paralaks


dengan Mistar

Perhitungan
delta H dan H

2. Pembacaan Paralaks Meter


Paralaks meter, foto udara, transparansi yang sudah
ditandai objeknya

Mengukur jarak obyek yang sama pada FU 1 dan 2 dengan menggunakan


paralaks meter
Mengukur jarak antar titik referensi dengan menggunakan paralaks meter

Mencari selisih jarak obyek dan jarak titik referensi dan dikuadratkan
Perhitungan Mean Square Error
Tabel Pembacaan Paralaks
Meter

Halaman 2 dari 7

PRAKTIKUM FOTOGRAMETRI DASAR

[GKP
0203]

3. Pengukuran Paralaks dengan Paralaks Meter


Data pembacaan paralaks meter, data Mean Square Error

Perhitungan konstanta
Perhitungan paralaks dan beda paraIaks
Perhitungan ketinggian objek
Tabel Pengukuran Paralaks dengan Paralaks
meter

4. Perhitungan Beda Tinggi Objek dan Tinggi Objek


Data beda tinggi objek dan tinggi objek dengan paralaks
meter dan mistar

Memasukkan perbandingan beda tinggi objek dan tinggi objek dengan


paralaks meter dan mistar
Tabel Perhitungan Beda Tinggi Objek dan
Tinggi Objek

Keterangan :
: Input
: Proses
: Output
Nilai

HASIL PRAKTIKUM
1. Tabel Pengukuran Paralaks dengan Mistar (terlampir)
Halaman 3 dari 7

[GKP
0203]

PRAKTIKUM FOTOGRAMETRI DASAR


2.
3.
4.
5.

Tabel Pembacaan Paralaks Meter (terlampir)


Tabel Pengukuran Paralaks dengan Paralaks Meter (terlampir)
Tabel Perhitungan Beda Tinggi dan Tinggi Objek (terlampir)
Perhitungan (terlampir)
Nilai

PEMBAHASAN
Fotogrametri adalah seni, ilmu, dan teknologi untuk memperoleh informasi
terpercaya tentang objek fisik dan lingkungan melalui proses perekaman,
pengukuran, dan interpretasi gambaran fotografik dan pola radiasi energi
elektromagnetik yang terekam (Wolf, 1989), dan dapat pula berarti suatu
kegiatan dimana aspek-aspek geometrik dari foto udara, seperti sudut, jarak,
koordinat, dan sebagainya merupakan faktor utama (Ligterink, 1991). Pegukuran
tinggi suatu

objek

merupakan

salah

satu

elemen yang

penting

dalam

fotogrametri, karena hal itu merupakan salah satu analisis yang dilakukan dalam
foto udara yang ada.
Pengertian dari paralaks itu sendiri merupakan perubahan posisi suatu objek
terhadap suatu kerangka rujukan yang disebabkan oleh perbedaan posisi
pengamat. Perbedaan paralaks ini menjadi suatu acuan untuk menentukan beda
ketinggian satu objek dengan tinggi dari titik referensi acuan yang sudah
diketahui.

Salah

stereoskopis.

satu

contohnya

Pengamatan

adalah

stereoskopis

saat

dapat

melakukan

dilakukan

pengamatan

karena

adanya

perbedaan paralaks yang terjadi akibat satu obyek diambil dari sudut pandang
yang berbeda. Menurut Wolf dan Dewitt (2004), perubahan posisi suatu gambar
pada satu foto ke foto berikutnya oeh gerakan pesawat terbang disebut paralaks
stereoskopis, paralaks x, atau lebih mudahnya disebut sebagai paralaks.
Pengukuran tinggi dalam foto udara dapat dilakukan dengan menggunakan
mistar maupun paralaks meter. Pengukuran ini tentunya memiliki ketelitian,
keakuratan, kelebihan dan kekurangan asing-masingdalam penggunaannya.
Obyek yang dikaji merupakan wilayah sekitar UGM pada dua foto udara yang
berbeda. Obyek yang akan diukur ketinggiannya diberi tanda terlebih dahulu
agar tidak terjadi kekeliruan dalam menentukan koordinatnya.
Pengukuran

ketinggian

pertama

dilakukan

dengan

menggunakan

mistar.

Koordinat x dari obyek yang sama pada kedua foto udara harus dicari terlebih
dahulu dari titik prinsipal masing-masing foto sebagai titik nolnya. Penentuan
titik koordinat merupakan hal yang paling vital dari pengukuran tinggi obyek
Halaman 4 dari 7

PRAKTIKUM FOTOGRAMETRI DASAR

[GKP
0203]

pada foto udara. Selain dalam kesalahan perhitungan, kesalahan penentuan


koordinat juga akan menyebabkan kesalahan dalam penentuan ketinggian
dengan menggunakan mistar. Sebelumnya, titik referensi yang sudah diketahui
ketinggiannya di lapangan harus ditentukan terlebih dahulu. Titik referensi yang
digunakan disini adalah perempatan jalan Fakultas Kedokteran Gigi UGM dengan
ketinggian 133,4808 mdpl.titik ini akan menjadi acuan dalam menentukan beda
tinggi obyek-obyek yang lainnya. Setelah itu diakukan perhitungan selisih
koordinat x byek pada foto udara satu dan foto udara dua (PT) termasuk
didalamnya koordinat dari titik referensi (Pr), dan diakukan pengurangan antara
Pr dan PT untuk mendapatkan nilai delta Pa. Nilai deta Pa , Pr, dan ketinggian
titik referensi inilah yang akan menjadi acuan dalam menentukan selisih
ketinggian obyek dengan ketinggian titik referensinya. Selisih ketinggian
kemudian

dijumlahkan

dengan

ketinggian

titik

referensi

untukeneukan

ketinggian obyek di lapangan. Hasil yang didapat berkisar di antara 200-224


mdpl dikarenakan selisih ketinggian yang didapatkan terlalu tinggi. Hal ini dapat
diakibatkan karena kesaIahan daIam penentuan titik koordinat dan keteIitian dari
mistar yang sangat kurang sehingga hasil menjadi sangat tidak akurat.
Pengukuran selanjutnya diIakukan dengan menggunakan paraIaks meter. Jarak
antar kedua obyek pada foto udara yang berbeda diukur dengan menggunakan
paralaks meter. Jarak antar kedua titik prinsipal foto udara harus berkisar antara
20-23 cm agar obyek dapat terjangkau oleh paralaks meter, karena apabila
tidak, titik obyek tidak bisa pas dengan panjang paralaks meter. Jarak antar
kedua obyek kemudian dicatat dan diIakukan perhitungan seIisih antara jarak
kedua titik referensi dengan jarak masing masing obyek dan kemudian
dikuadratkan untuk kemudian diketahui mean square error-nya. Mean square
error adaIah niIai yang menentukan keakuratan dari hasil perhitungan yang
sudah didapatkan. Semakin kecil nilai dari mean square error, maka itu
menandakan keakuratan hasil yang didapatkan semakin tinggi. Mean square
error error yang didapatkan adalah 0,7938 yang berarti hasil yang didapatkan
sudah cukup akurat.
Hasil pembacaan paraIaks meter kemudian digunakan untuk menentukan
ketinggian obyek. Penentuan konstanta harus dilakukan terlebih dahulu untuk
menentukan

ketinggian

obyek

berdasarkan

paralaks

meter.

Konstanta

didapatkan dari rata rata penjumIahan jarak titik prinsipaI satu ke objek yang
menjadi titik prinsipaI satu pada foto kedua dikurangi dengan koordinat x titik
referensi pada foto pertama dengan jarak titik prinsipaI dua ke objek yang

Halaman 5 dari 7

PRAKTIKUM FOTOGRAMETRI DASAR

[GKP
0203]

menjadi titik prinsipaI dua pada foto pertama dikurangi dengan koordinat x titik
referensi pada foto kedua. Kemudian diIakukan perhitungan paraIaks objek dan
paraIaks titik referensi. seIisih antara paraIaks objek dengan paraIaks titik
referensi kemudian dijadikan sebagai seIisih ketinggian antara titik referensi
dengan masing masing obyek. Ketinggian obyek yang didapatkan berkisar di
antara 133 mdpl, hal ini diakibatkan karena sangat kecilnya selisih beda tinggi
yang didapatkan.
Perbedaan ketinggian yang didapatkan dengan menggunakan mistar dan dengan
menggunakan

paralaks

sangat

signifikan,

dimana

pengukuran

dengan

menggunakan mistar mendapatkan hasil yang berkisar diantara 200-224 mdpl,


dan pengukuran dengan menggunakan paralaks meteryang mendapatkan hasil
yang berkisar diantara 133 mdpl, hampir sama dengan ketinggian titik
referensinya. Hal ini disebabkan karena seIisih ketinggian yang didapatkan
dengan menggunakan mistar sangat besar

apabiIa dibandingkan dengan

menggunakan paralaks. Kekurangtelitian mistar dalam perhitungan jarak dan


koordinat dapat menjadi saIah satu faktor kesaIahan daIam meIakukan
pengukuran. haI yang sama juga terjadi saat melakukan pengukuran jarak
paralaks. Tapi bukan berarti ketelitian paralaks meter juga sangat akurat,
pengukuran dengan menggunakan paralaks meter juga dapat mengalami
kesalahan apabila tidak dilakukan dengan teliti.
Nilai

KESIMPULAN
1. Perhitungan beda paralaks dapat dilakukan dengan mengunakan mistar,
dimana titik koordinat masing masing objek harus diketahui terlebih
dahulu dan memiliki satu titik referensi beserta koordinatnya agar
perhitungan beda ketinggian dapat didapatkan, namun ketelitiannya
masih kurang apabila dibandingkan dengan paralaks meter.
2. Perhitungan beda paralaks dapat dilakukan dengan mengunakan paralaks
meter, dimana paraIaks objek yang sama pada dua foto yang berbeda
serta paraIaks titik referensi dengan jarak titik prinsipal yang sudah
ditentukan harus diketahui terIebih dahuIu agar perhitungan beda
ketinggian bis didapatkan.
3. Pengukuran beda tinggi suatu lokasi dapat diakukan langsung dengan
menggunakan foto udara tanpa harus ke lapangan, dengan syarat salah
satu obyek dalam foto udara sudah diketahui ketinggiannya agar bisa
Halaman 6 dari 7

PRAKTIKUM FOTOGRAMETRI DASAR

[GKP
0203]

menjadi titik acuan dalam menentukan ketinggian obyek yang lainnya.


Nilai

DAFTAR PUSTAKA
Ligterink, G.H., 1987. Dasar-dasar Fotogrametri Interpretasi Foto Udara.
Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI Press).
Wolf, Paul R, 1974, Elements of Photogrammetry with Air Photo Interpretation
and Remote Sensing Second Edition, Madison : The University of Wisconsin
Nilai

LAMPIRAN

Halaman 7 dari 7