Anda di halaman 1dari 12

Pelayanan Antenatal adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan

mental dan fisik ibu hamil, hingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan
pemberian ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 2008). Menurut
Fraser (2009), Asuhan antenatal adalah asuhan yang diberikan kepada ibu hamil sejak konfirmasi
konsepsi hingga awal persalinan.
Menurut Prawiroharjo (2005), pemeriksaan kehamilan merupakan pemeriksaan ibu hamil
baik fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa
nifas, sehingga keadaan mereka post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga
mental.
Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter sedini
mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal.
Pada setiap kunjungan Antenatal Care (ANC), petugas mengumpulkan dan menganalisis data
mengenai kondisi ibu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosis
kehamilan intrauterine serta ada tidaknya masalah atau komplikasi (Saifuddin, 2005).
Pemeriksaan kehamilan atau Antenatal merupakan pemeriksaan ibu hamil baik fisik dan
mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga
keadaan mereka post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental
(Wiknjosastro, 2005). Pelayanan kesehatan pada ibu hamil tidak dapat dipisahkan dengan
pelayanan persalinan, persalinan, pelayanan nifas dan pelayanan kesehatan bayi baru lahir.
Kualitas pelayanan antenatal yang diberikan akan memengaruhi kesehatan ibu hamil dan
janinnya, ibu bersalin dan bayi baru lahir serta ibu nifas. Pelayanan antenatal terpadu adalah
pelayanan antenatal komprehensif yang diberikan kepada semua ibu hamil dengan tujuan umum
memenuhi hak setiap ibu hamil memperoleh pelayanan antenatal yang berkualitas sehingga
mampu menjalani kehamilan dengan sehat, bersalin dengan selamat, dan melahirkan bayi yang
sehat, adapun tujuan khusus menyediakan pelayanan antenatal, komprehensif dan berkualitas,
termasuk konseling kesehatan dan gizi ibu hamil, konseling KB, pemberian ASI, menghilangkan
missed opportunity pada ibu hamil dalam mendapatkan pelayanan antenatal, komprehensif,
berkualitas dan mendeteksi secara dini penyakit yang diderita ibu hamil, melakukan intervensi
terhadap penyakit serta melakukan rujukan kasus ke fasilitas pelayanan kesehatan sesuai dengan

system rujukan yang ada (Kemenkes RI, 2012). Pelayanan antenatal dan berkualitas secara
keseluruhan meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Memberikan pelayanan dan konseling kesehatan termasuk gizi agar kehamilan
berlangsung sehat.
2. Melakukan deteksi dini masalah, penyakit dan penyulit/komplikasi kehamilan
3. Menyiapkan persalinan yang bersih dan aman.
4. Merencanakan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi
penyulit/ komplikasi.
5. Melakukan penatalaksanaan kasus serta rujukan cepat dan tepat waktu bila diperlukan.
6. Melibatkan ibu dan keluarganya terutama suami dalam menjaga kesehatan dan gizi ibu
hamil, menyiapkan persalinan dan kesiagaan bila terjadi penyulit/ komplikasi.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada saat antenatal meliputi:
a. Pemeriksaan golongan darah
Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya untuk mengetahui jenis
golongan darah ibu melainkan juga untuk mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktuwaktu diperlukan apabila terjadi situasi kegawatdaruratan.
b. Pemeriksaan kadar Haemoglobin darah (HB)
Kehamilan merupakan kondisi dimana ibu memiliki resiko yang berdampak pada
kesehatan ibu dan janin, seperti resiko anemia. Anemia adalah suatu keadaan di mana kadar
hemoglobin dalam darah di bawah normal. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya zat gizi untuk
pembentukan darah, seperti kekurangan zat besi, asam folat ataupun vitamin B12. Anemia yang
paling sering terjadi terutama pada ibu hamil adalah anemia karena kekurangan zat besi
(Fe).Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama
kehamilan. Anemia pada kehamilan merupakan masalah besar yang berdampak buruk terhadap
kehamilan maupun persalinan baik bagi ibu dan bayinya serta memerlukan penanganan hati-hati,
termasuk pemeriksaan untuk mencari penyebab.

Standar pelayanan kebidanan keenam membahas tentang pengelolaan anemia pada


kehamilan yang bertujuan untuk menemukan anemia pada kehamilan secara dini dan melakukan
tindak lanjut yang memadai untuk mengatasi anemia sebelum persalinan berlangsung. Selama
proses bidan harus memeriksa kadar Hb pada kunjungan pertama dan minggu ke-28,
memberikan sedikitnya satu tablet zat besi selama 90 hari, penyuluhan tentang gizi zat besi,
memberikan ibu hamil terduga anemia satu tablet zat besi 2-3 kali perhari rujuk ibu dengan
anemia berat, menyarankan ibu untuk konsumsi tablet zat besi 4-6 bulan postpartum.
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr
% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002). Anemia
adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau menurunnya hemoglobin, sehingga
kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu dan janin menjadi
berkurang. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika konsentrasi hemoglobin kurang dari
10,50 sampai dengan 11,00 gr/dl (Varney H, 2006). Anemia pada wanita hamil jika kadar
hemoglobin atau darah merahnya kurang dari 10,00 gr%. Penyakit ini disebut anemia berat. Jika
hemoglobin < 6,00 gr% disebut anemia gravis. Jumlah hemoglobin wanita hamil adalah 12,0015,00 gr% dan hematokrit adalah 35,00-45,00% (Mellyna, 2005). Anemia dalam kandungan
ialah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11,00 gr%. Pada trimester I dan III atau kadar Hb < 10,50 gr
% pada trimester II. Karena ada perbedaan dengan kondisi wanita tidak hamil karena hemodilusi
terutama terjadi pada trimester II (Sarwono P, 2002)
Tanda dan Gejala Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering
pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi
hilang, nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil
muda.
Hemoglobin (Hb) adalah komponen sel darah merah yang berfungsi menyalurkan
oksigen ke seluruh tubuh. Jika Hb berkurang, jaringan tubuh kekurangan oksigen. Oksigen
diperlukan tubuh untuk bahan bakar proses metabolisme. Menurut Manuaba (2001),
haemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media
transport oksigen dari paru-paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat
darah berwarna merah.
Zat besi merupakan bahan baku pembuat sel darah merah. Ibu hamil mempunyai
tingkat metabolisme yang tinggi misalnya untuk membuat jaringan tubuh janin, membentuknya

menjadi organ dan juga untuk memproduksi energi agar ibu hamil bisa tetap beraktifitas normal
sehari-hari (Sin sin, 2010). Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas untuk
menetapkan prevalensi anemia. Hb merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah
merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/ dl darah dapat digunakan sebagai
indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah. Kandungan hemoglobin yang rendah dengan
demikian mengindikasikan anemia.
Berdasarkan klasifikasi dari WHO kadar hemoglobin pada ibu hamil dapat di bagi
menjadi 4 kategori yaitu :
1) Hb > 11 gr%Tidak anemia (normal).
2) Hb 9-10 gr% Anemia ringan.
3) Hb 7-8 gr% Anemia sedang.
4) Hb <7 gr% Anemia berat (Manuaba, 2001).
Indikasi dilakukan pemeriksaan Hb adalah keadaan kekurangan zat besi dengan kadar
Hb kurang dari 11 gr %. Nilai normal menurut WHO, kriteria persangkaan anemia, bila Hb
dibawah :
Wanita tak hamil 12 g%
Wanita hamil 11 g %
Trimester I 11 g %
Trimester II 10,5 g %
Trimester III 11 g %
Menurut Wasnidar (2007), manfaat

Hb 9-10 gr % disebut anemia ringan


Hb 7-8 gr % disebut anemia sedang
Hb < 7 gr % disebut anemia berat

dilakukan pemeriksaan haemoglobin pada ibu

hamil, yaitu :
1) Mencegah terjadinya anemia dalam kehamilan.
2) Mencegah terjadinya berat badan lahir rendah.
3) Memenuhi cadangan zat besi kurang.
Menurut prawirohardjo dan Winkjosastro (1999), kurangnya kadar haemoglobin
dalam kehamilan dapat menyebabkan :
1) Abortus.
2) Partus imatur/ prematur.
3) Kelainan kongenital.
4) Perdarahan antepartum.
5) Gangguan pertumbuhan janin dalam rahim.

6) Kematian perinatal.
Pada kehamilan

relatif

terjadi

anemia

karena

darah

ibu

hamil mengalami

hemodilusi (pengenceran) dengan peningkatan volume 30 % sampai 40 % yang puncaknya pada


kehamilan trimester kedua. Jumlah peningkatan sel darah 18 % sampai 30 % dan hemoglobin
sekitar 19 %. Bila hemoglobin ibu sebelum hamil sekitar 11 gr % maka dengan
terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemiakehamilan fisiologis, dan Hb ibu akan
menjadi 10,5g %.
Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan minimal sekali pada
trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui
ibu hamil tersebut menderita anemia atau tidak selama kehamilannya karena kondisi anemia
dapat memengaruhi proses tumbuh kembang janin dalam kandungan.
c. Pemeriksaan Protein dalam Urine
Protein dalam urin (proteinuria atau mikroalbuminuria) adalah jumlah abnormal tinggi
protein yang ditemukan dalam sampel urin. Melalui test laboratorium, kelebihan protein urine
bisa diketahui dengan pasti. Normal ekskresi protein biasanya tidak melebihi 150 mg/24 jam atau
10 mg/dl urin. Lebih dari 10 mg/dl didefinisikan sebagai proteinuria.
Ginjal merupakan penyaring produk - produk makanan yang dibutuhkan oleh kita,
termasuk protein. Namun, beberapa penyakit dan kondisi dapat memungkinkan protein untuk
melewati filter dari ginjal, menyebabkan meningkatnya protein dalam urin. Selain itu
meningkatnya jumlah protein dalam urine biasanya dideteksi setelah melakukan aktivitas berat
seperti olahraga, juga bisa ditemukan ketika kita sedang dalam keadaan sakit/tidak sehat. Pada
Test urine (mikroalbumin) menjadi sebuah pertanda awal kerusakan ginjal diabetes.
Protein adalah rantai molekul panjang yang terdiri dari asam amino yang bergabung
dengan ikatan peptida. Protein membentuk bahan struktural jaringan tubuh kita. Protein memiliki
beberapa fungsi yang berbeda, misalnya menyediakan struktur (ligamen, kuku, rambut),
membantu pencernaan (enzim perut), membantu gerakan (otot), dan berperan dalam kemampuan
kita untuk melihat (lensa mata kita adalah kristal protein murni). Serum protein (bahasa Inggris:
globular protein, spheroprotein) merupakan salah satu dari tiga jenis protein di dalam tubuh yang
terbentuk dari asam amino berupa larutan koloidal di dalam plasma darah. Serum protein tidak
mengandung fibrin (bukan merupakan fibrous protein) sehingga dapat terlarut. Total serum

protein dalam darah sekitar 7,2 - 8 g/dl[2] atau sekitar 7% dari volume darah keseluruhan dengan
berbagai kegunaan: Sirkulasi molekul lipida, hormon, vitamin dan zat besi, Enzim, komponen
komplemen, protease inhibitor dan kinin precursor, Regulasi aktivitas, fungsional non seluler
dalam sistem kekebalan.
Tingginya kadar protein dalam urin ibu hamil dapat mengindikasikan terjadinya
preeklampsi. Preeklampsi ialah penyakit dengan tanda - tanda hipertensi, edema dan proteinuria
yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam trimester kedua - kehamilan.
Pemeriksaan protein urin dibutuhkan oleh ibu hamil bila dicurigai mengalamai preeklampsi
ringan atau berat, dari hasil pemeriksaan ini kita dapat memberikan asuhan kepada ibu hamil
yang ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah potensial yaitu terjadinya eklamsi.
Penetapan kadar protein dalamurin biasnaya dinyatakan berdasarkan timbulnya kekeruhan pada
urin. Karena padat atau kasarnya kekeruhan itu menjadi satu ukuran untuk jumlah protein yang
ada, maka menggunakan urin yang jernih menjadi syarat yang penting.

Kandungan urin

bergantung keadaan kesehatan dan makanan sehari - hari yang dikonsumsi oleh masing - masing
individu. Individu normal mempunyai pH antara 5 - 7. Banyak faktor yang mempengaruhi pH
urine seseorang adalah makanan sehari - hari dan ketidakseimbangan hormonal. Warna urin
adalah kuning keemasan. Selama kehamilan normal terdapat kenaikan hemodinamika ginjal dan
diikuti dengan tekanan venarenalis. Pembentukan urin dimulai dalam glomerulus, apabila filtrasi
glomerulus mengalami kebocoran hebat, molekul protein besar akan terbuang dalam urine
sehingga menyebabkan proteinuria. Pada pasien yang telah menderita penyakit parenkhim ginjal,
faktor kehamilan yang memasuki usia 20 minggu ini mungkin akan memperberat kebocoran
protein urine.
Pre-eklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg
setelah kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau bisa lebih awal
terjadi. Sedangkan pengertian eklampsia adalah apabila ditemukan kejang-kejang pada penderita
pre-eklampsia, yang juga dapat disertai koma. Pre-eklampsia adalah salah satu kasus gangguan
kehamilan yang bisa menjadi penyebab kematian ibu. Kelainan ini terjadi selama masa
kelamilan, persalinan, dan masa nifas yang akan berdampak pada ibu dan bayi. Kasus preeklampsia dan eklampsia terjadi pada 6-8% wanita hamil di Indonesia. Hipertensi (tekanan darah
tinggi) di dalam kehamilan terbagi atas pre-eklampsia ringan, pre-eklampsia berat, eklampsia,
serta superimposed hipertensi(ibu hamil yang sebelum kehamilannya sudah memiliki hipertensi

dan hipertensi berlanjut selama kehamilan). Tanda dan gejala yang terjadi serta tatalaksana yang
dilakukan masing-masing penyakit di atas tidak sama. Eklampsia adalah kelainan pada masa
kehamilan, dalam persalinan, atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan
timbul akibat kelainan saraf) dan / atau koma dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejalagejala pre-eklampsia.
Nilai Rujukan Urin acak : negatif (15 mg/dl) Urin 24 jam : 25 150 mg/24 jam.
Masalah Klinis Pengukuran proteinuria dapat dipakai untuk membedakan antara penderita yang
memiliki risiko tinggi menderita penyakit ginjal kronik yang asimptomatik dengan yang sehat.
Proteinuria yang persistent (tetap +1, dievaluasi 2-3x / 3 bulan) biasanya menunjukkan adanya
kerusakan ginjal. Proteinuria persistent juga akan memberi hasil +1 yang terdeteksi baik pada
spesimen urine pagi maupun urine sewaktu setelah melakukan aktivitas. Protein terdiri atas
fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin merupakan petanda yang sensitif
untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan karena penyakit glomeruler, diabetes mellitus, dan
hipertensi. Sedangkan peningkatan ekskresi globulin dengan berat molekul rendah merupakan
petanda yang sensitif untuk beberapa tipe penyakit tubulointerstitiel. Proteinuria positif perlu
dipertimbangkan untuk analisis kuantitatif protein dengan menggunakan sampel urine tampung
24 jam. Jumlah proteinuria dalam 24 jam digunakan sebagai indikator untuk menilai tingkat
keparahan ginjal. Proteinuria rendah (kurang dari 500mg/24jam). Pengaruh obat : penisilin,
gentamisin, sulfonamide, sefalosporin, media kontras, tolbutamid (Orinase), asetazolamid
(Diamox), natrium bikarbonat. Proteinuria sedang (500-4000 mg/24 jam) dapat berkaitan dengan
glomerulonefritis akut atau kronis, nefropati toksik (toksisitas obat aminoglikosida, toksisitas
bahan kimia), myeloma multiple, penyakit jantung, penyakit infeksius akut, preeklampsia.
Proteinuria tinggi (lebih dari 4000 mg/24 jam) dapat berkaitan dengan sindrom nefrotik,
glomerulonefritis akut atau kronis, nefritis lupus, penyakit amiloid. Faktor yang Dapat
Mempengaruhi Temuan Laboratorium Hasil positif palsu dapat disebabkan oleh hematuria,
tingginya substansi molekular, infus polivinilpirolidon (pengganti darah), obat (lihat pengaruh
obat), pencemaran urine oleh senyawa ammonium kuaterner (pembersih kulit, klorheksidin),
urine yang sangat basa (pH > 8) Hasil negatif palsu dapat disebabkan oleh urine yang sangat
encer, urine sangat asam (pH di bawah 3).

Pemeriksaan protein dalam urin pada ibu hamil dilakukan pada trimester kedua dan
ketiga atas indikasi. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui adanya proteinuria pada ibu
hamil. Proteinuria merupakan salah satu indikator terjadinya pre-eklampsia pada ibu hamil.

d. Pemeriksaan kadar gula darah


Glukosa urine adalah gugus gula sederhana yang masih ada di urine setelah melewati
berbagai proses di ginjal. Kalau ada glukosa di urine, berbahaya berarti ada yang tidak beres
waktu proses urinisasi. Disebabkan karena kurang hormon insulin, yaitu hormon yang mengubah
glukosa menjadi glikogen (kalau kurang berarti gula di darah tinggi). Kalau gula darah tinggi,
otomatis gula di darah juga tinggi. Kadar glukosa serum puasa normal adalah 70110 mg/dl dan
16-300 mg/24 jam pada urin (Schteingart, 2005).
Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai ambang ginjal terlampaui
atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus.
Namun, glukosuria dapat terjadi tidak sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah,
oleh karena itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes
mellitus.
Diabetes mellitus gestasional adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa
terganggu) maupun berat (diabetes mellitus) terjadi atau pertama kali saat kehamilan berlagsung.
Defenisi ini mencangkup pasien yang sudah mengidap diabetes mellitus (tetapi belum terdeteksi)
yang baru diketahui saat kehamilan ini dan benar benar menderita DM akibat hamil .sesudah
kehamilan selesai kondisi pasti ditentukan berdasarkan tes toleransi glukosa oral (TTGO).
Patofisiologi diabetes mellitus selain perubahan hormonal didapatkan jumlah fungsi insulin ibu
yang tidak optimal sehingga terjadi berbagai kelainan yang menyebabkan bebagai kelainan yang
menyebabkan berbagai komplikasi pada ibu dan janin.
Deteksi dini sangat diperlukan untuk menjaring DMG agar dapat dikelolah sebaik
baiknya terutama dilakukan pada ibu dengan faktor resiko berupa beberapa kali
keguguran,riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab yang jelas,riwayat melahirkan bayi
dengan cacat bawaan,riwayat preeklamsi dan polihidramnion.juga terdapat riwayat ibu: umur ibu
hamil >30 tahun,riwayat DM dalam keluarga,riwayat DMG pada kehamilan sebelumnya dan

infeksi saluran kemih berulang selama hamil.PERKENI menganjurkan pemeriksaan sejak awal
asuhan antenatal dan diulang negatif.pemeriksaan berdasarkan modifikasi WHO-PERKENI yang
dianjurkan adalah pemeriksaan kadarglukosa 2 jam pasca beban glukosa 75 g dan hasilnya
digolongkan dalam kriteria sebagai berikut:
Nilai rujukan
1.
2.
3.

>200 mg/dl = diabetes mellitus


140 200 mg/dl = toleransi glukosa terganggu
<140 mg/dl = normal

Ibu hamil yang dicurigai menderita diabetes melitus harus dilakukan pemeriksaan gula
darah selama kehamilannya minimal sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester kedua,
dan sekali pada trimester ketiga (terutama pada akhir trimester ketiga).
e. Pemeriksaan darah malaria
Semua ibu hamil di daerah endemis malaria dilakukan pemeriksaan darah malaria
dalam rangka skrining pada kontak pertama. Ibu hamil di daerah non endemis malaria dilakukan
pemeriksaan darah Malaria apabila ada indikasi.
f. Pemeriksaan Tes Sifilis
Pemeriksaan tes Sifilis dilakukan di daerah dengan risiko tinggi dan ibu hamil yang
diduga Sifilis. Pemeriksaan Sifilis sebaiknya dilakukan sedini mungkin pada kehamilan.
g. Pemeriksaan Human Imunologi Virus (HIV)
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat penyebab AIDS
dengan cara menyerang sel darah putih yang bersama sel CD4 sehingga dapat nerusak system
kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit
walaupun yang sangat ringan sekalipun.
Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak virus
HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sel darah putih sangat
diperlukan untuk system kekebalan tubuh. Tampa kekebalan tunuh maka ketika diserang
penyakit maka tubuh kita tidak memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal
dunia terkena pilek biasa.

HIV adalah agen penyebab acquired immunedefisiency syndrome (AIDS) virus ini
berkembang lewat lapisan luar lipid yang dibawah dari membrane sel inang. Beberapa virus
gliko protein menepati lapisan luar tersebut, setiap virus memiliki 2 salinan anti positif genomic
RNA. HIV 1 terisolasi dari pasien denan AIDS dan AIDS hubungan kompleks dan dari orang
sehat potensi resiko yang tinggi untuk mengembangkan AIDS. HIV 2 terisolasi dari pasienpasien AIDS di afrika barat dan dari individu-individu yang tidak memiliki gejala sero positif.
Keduanya HIV 1 dan HIV 2 mndatangkan suatu respon kekebalan. Pemeriksaan antibody HIV
dalam serum atau plasma merupakan cara yang umum yang lebih efisien untuk menentukan
apakah seseorang tak terlindungi dari HIV fan melindungi darah dan elemen-elemen yang
dihasilkan darah untuk HIV. Perbedaan dalam sifat-sifat biologis,aktifitas serologis, dan deretan
genom, HIV 1 dan 2 positif sera dapat diidentifikasi dengan menggunakan tes serologis dasar
HIV.
Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi kasus HIV dan ibu hamil
yang dicurigai menderita HIV. Ibu hamil setelah menjalani konseling kemudian diberi
kesempatan untuk menetapkan sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV.
h. Pemeriksaan BTA
Pemeriksaan Batang Tahan Asam (BTA) dilakukan pada ibu hamil yang dicurigai
menderita Tuberkulosis sebagai pencegahan agar infeksi Tuberkulosis tidak memengaruhi
kesehatan janin. Selain pemeriksaan tersebut di atas, apabila diperlukan dapat dilakukan
pemeriksaan penunjang lainnya di fasilitas rujukan.

Sutomo,dkk.-.Modul

Pemeriksaan

Albumin.[online].Tersedia:http://prodid4gizi.poltekkes-

malang.ac.id/downlot.php?file=MODUL%20PEMERIKSAAN%20ALBUMIN
%20FIX.pdf.[diakses 26 Agustus 2016, 10.02]
Indra,dkk.-.Chapter

II.

[online].Tersedia:http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20037/4/Chapter
%20II.pdf.[diakses 26 Agustus 2016, 10.16]
Dhrma

Putra,dkk.2011.Chapter

II.

[online].Tersedia:http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/45612/4/Chapter
%20II.pdf.[diakses 26 Agustus 2016, 10.23]
Indah,dkk.-.Bab

II

Tinjauan

Pustaka.

[online].Tersedia:http://stikespku.ac.id/ejournal/index.php/mpp/article/download/28/26.
[diakses 26 Agustus 20016, 11.04]
Firmansyah.-.Asuhan

Kebidanan.[online].Tersedia:http://e-

learning.poltekkestasikmalaya.ac.id/pluginfile.php/66/course/overviewfiles/Job%20Sheet
%20Asuhan%20Kebidanan%20Kehamilan.pdf?forcedownload=1.[diakses

26

Agustus

2016, 11.02]
Kahidayat.-.

Bab

II

Tinjauan

Pustaka.

[online].Tersedia:http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/102/jtptunimus-gdl-ikahidayat5073-2-babii.pdf.[diakses 26 Agustus 2016, 12.09]


Subarjo.-.Asuhan Ibu Hamil.[online].Tersedia:http://dokumen.tips/download/link/asuhan-ibuhamilpdf.[diakses 26 Agustus 2016, 11.45]