Anda di halaman 1dari 12

ACARA IV

PENENTUAN TETAPAN GAS DAN VOLUME MOLAR


OKSIGEN
A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum : a. Untuk mempelajari cara penentuan tetapan
gas dan
volume molar oksigen.
b. Untuk mempelajari

hukum-hukum

gas,

seperti Hukum
Boyle, Charles, Gay-Lussac, Dalton tentang
tekanan
parsial, dan Hukum Avogadro.
2. Waktu Praktikum: Jumat, 14 November 2014
3. Tempat Praktikum :
Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas
Mataram.
B. LANDASAN TEORI
Pada tekanan dan suhu tertentu, semua zat berupa salah satu
bentuk dari tiga wujud materi: padat, cair, atau gas. Sifat-sifat fisik
suatu zat sering tergantung dari wujudnya. Sifat gas jauh lebih
sederhana dibandingkan dengan sifat cairan atau padatan. Gerakan
molekul sangat acak, dan gaya-gaya antar molekul sangat kecil,
sehingga masing-masing molekul dapat bergerak dengan bebas dan
tidak dipengaruhi oleh molekul tetangganya. Tingkah laku gas jika
terjadi perubahan suhu dan tekanan diatur oleh hukum-hukum yang
lebih sederhana dibanding dengan hukum-hukum yang berlaku pada
cairan dan padatan (Purwoko, 2006 : 133).
Hukum Charless-Gay Lussac, hukum ini dinyatakan oleh Alexander
Charless (1707) seorang ahli kimia dari Prancis yang tertarik pada
waktu panas. Dia mempelajari pengaruh suhu yang diubah-ubah
terhadap volume pada tekanan tetap. Dari data percobaan, ia
mendapatkan hubungan yang dikenal dengan Hukum Charless, Pada
105

tekanan tetap, volume suatu gas berbanding lurus dengan suhu


mutlaknya. Secara matematis, dirumuskan sebagai berikut: (Yazid,
2005 : 11).
V
=k
T
Berdasarkan hasil penyelidikan Boyle, Charles, dan Gay-Lussac,
Amedeo Avogadro mengajukan hipotesis bahwa pada suhu dan
tekanan sama semua gas mangandung jumlah molekul (atau atom)
yang sama, sehingga

Jumlah

mol

ditunjukkan

k3 n

oleh

dan

(6.6)
k3

adalah

konstanta

proporsionalitas. Persamaan (6.6) merupakan rumus matematis dari


pernyataan Avogadro, yang berbunyi, Pada tekanan dan suhu tetap,
volume gas proporsional dengan jumlah mol (Purwoko, 2006 : 139).
Semua hukum gas yang dijelaskan sejauh ini hanya berlaku untuk
gas yang jumlahnya tertentu. Jika ada gas yang dihasilkan selama
reaksi kimia atau ada beberapa bagian gas yang hilang selama
terjadinya proses reaksi, hukum-hukum gas ini tidak dapat diterapkan.
Hukum gas ideal berlaku untuk semua jenis gas. Persamaannya
adalah:
PV
T

k ( konstan)

Jika jumlah mol gas ditingkatkan pada suhu dan tekanan tetap,
volumenya harus meningkat pula. Maka dapat disimpulkan bahwa
tetapan k dapat dianggap sebagai hasil kali dua buah konstanta, yang
salah satunya melambangkan jumlah mol gas. Kemudian didapatkan
persamaan:
PV
T

= nR

atau

PV= nRT

106

di mana n adalah jumlah mol molekul gas dan R adalah tetapan baru
yang berlaku untuk semua jenis gas. R = 0.0821 L.atm/(mol.K).
persamaan ini dikenal sebagai hukum gas ideal (Goldberg, 2004 : 79).
Gas yang mengikuti hukum Boyle dan hukum Charles, yakni hukum
gas ideal, disebut gas ideal. Namun, didapatkan bahwa gas yang
dijumpai, yakni gas nyata, tidak secara ketat mengikuti hukum gas
ideal. Semakin rendah tekanan gas pada temperatur tetap, semakin
kecil deviasinya dan perilaku ideal. Semakin tinggi tekanan gas atau
dengan kata lain semakin kecil jarak intermolekulnya, semakin besar
deviasinya. Paling tidak ada dua alasan yang menjelaskan ini. Pertama,
definisi temperatur absolut didasarkan asumsi bahwa volume gas real
sangat kecil, sehingga bisa diabaikan. Molekul gas pasti memiliki
volume nyata walaupun mungkin sangat kecil. Selain itu, ketika jarak
antar molekul semakin kecil, beberapa jenis interaksi antar molekul
akan muncul (Takeuchi, 2006 : 111).
Dari persamaan gas ideal, PV = nRT, dapat diketahui bahwa untuk
1 mol (n=1) gas

PV /RT

sama dengan 1, pada tekanan berapapun.

Hasil percobaan pada gas nyata menunjukkan bahwa

PV /RT

= 1

hanya berlaku pada tekanan yang relative rendah ( 5 atm ). Pada


tekanan yang lebih tinggi dari 5 atm terjadi penyimpangan yang cukup
signifikan. Gaya tarik antar molekul terjadi pada jarak yang relative
dekat. Oleh karena itu, pada tekanan atmosfer, gaya tarik dapat
diabaikan sebab molekul-molekul gas saling berjauhan. Sebaiknya
pada tekanan tinggi, jarak antar molekul lebih kecil dan gaya tariknya
menjadi cukup signifikan, sehingga tidak bersifat ideal lagi. Adanya
gaya tarik-menarik antar molekul gas menyebabkan tekanan yang
ditimbulkan

oleh

gas

menjadi

lebih

kecil

disbanding

dengan

seandainya gas tersebut bersifat ideal. Tekanan gas ideal (P ideal)


menurut Van der Waals berhubungan dengan tekanan riil (P riil). Hasil
dari percobaannya sebagai berikut:
Pideal = Priil

an2
107

V2

hasil percobaan

faktor koreksi

Dengan dua faktor koreksi pada persamaan gas menjadi:

P+

an 2
( V-nb ) =nRT
V2

(6.12)

Persamaan 6.12 lebih dikenal sebagai persamaan Van der Waals.


Tetapan Van der Waals a dan b dipilih/dihitung untuk masing-masing
gas,

sehingga

memberikan

kesesuaian

yang

terbentuk

antara

persamaan dengan hasil percobaan (Purwoko. 2006 : 149).


C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
1. Alat-alat Praktikum
a. Dongkrak
b. Erlenmeyer 250 ml
c. Gelas arloji
d. Gelas ukur 50 ml
e. Klem
f. Labu alas datar 500 ml
g. Lap
h. Pembakar spiritus
i. Pipa
j. Selang
k. Spatula
l. Statif
m. Tabung reaksi
n. Termometer
o. Timbangan analitik
2. Bahan-bahan Praktikum
a. Aquades (H2O(l))
b. Kalium klorat (KClO3(s))
c. Korek api
d. Mangan (II) oksida (MnO2(s))
e. Tissue
D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Ditimbang satu tabung reaksi yang bersih dan kering, lalu dicatat
hasilnya.
2. Ditimbang campuran KClO3 dan MnO2 hingga massanya 1,2 gram.
3. Dimasukkan campuran KClO3 dan MnO2 ke dalam tabung reaksi.
4. Dimasukkan aquades ke dalam labu alas datar setengah penuh.
108

5. Dipasang selang untuk menghubungkan labu alas datar dengan


erlenmeyer.
6. Dimasukkan air ke dalam selang penghubung dengan cara ditiup
dari pipa yang akan dihubungkan dengan tabung reaksi. Ditiup
hingga tidak ada gelembung udara.
7. Jika sudah tidak ada gelembung, selang penghubung dijepit dengan
klem.
8. Dibuang aquades yang masuk ke erlenmeyer ketika ujung pipa
ditiup, lalu erlenmeyer dipasang kembali.
9. Dipasang tabung reaksi yang berisi campuran KClO3 dan MnO2 pada
ujung pipa.
10.
Dipanaskan tabung reaksi menggunakan pembakar spiritus
dengan

cara

digerakkan

agar

reaksi

dalam

tabung

reaksi

berlangsung sempurna.
11.
Dibuka klem sedikit agar aquades dapat masuk ke erlenmeyer
selama tabung reaksi dipanaskan.
12.
Jika aquades berhenti menetes ke erlenmeyer, klem ditutup
lalu pembakar spiritus dipadamkan.
13.
Dicatat suhu gas dalam labu alas datar pada termometer.
14.
Erlenmeyer dipindahkan, lalu aquades dituang ke dalam gelas
ukur.
15.
Dihitung volume aquades dalam gelas ukur.
16.
Tabung reaksi dan isinya ditimbang kembali, lalu dicatat
hasilnya.
E. HASIL PENGAMATAN
NO
.
1.

PROSEDUR PERCOBAAN

Tabung reaksi yang kosong Massa tabung reaksi kosong


dan

kering

menggunakan
2.

HASIL PENGAMATAN

ditimbang adalah 12,44 gram.


timbangan

analitik yang sudah dikalibrasi.


Ditimbang
campuran Massa
KClO3/MnO2

KClO3/MnO2

menggunakan

1,2 gram.
awal
timbangan analitik yang sudah Warna
adalah abu.
dikalibrasi hingga massanya
3.

adalah

KClO3/MnO2

1,2 gram.
Labu alas datar diisi aquades
109

setengah penuh.
4. a. Dipasang
selang

untuk

menghubungkan labu alas


datar dengan erlenmeyer.
b. Ditiup
pipa
yang
akan
dihubungkan dengan tabung
reaksi untuk

memasukkan

air ke dalam selang.


c. Klem
dibuka
sampai
gelembung
ditutup.
5. a. Dipasang

hilang
tabung

lalu
reaksi KClO3/MnO2

setelah

yang berisi KClO3/MnO2 pada dipanaskan berwarna hitam


pipa.
b. Dipanaskan

pekat.
tabung

menggunakan
spiritus

reaksi

pembakar

dengan

cara

digerakkan.
c. Setelah ada uap pada labu,
klem dibuka sedikit sampai
air menetes.
6. a. Dicatat suhu gas dalam labu T 31oC
alas datar pada termometer.
=78 ml
b. Diukur volume aquades di V
dalam
7.

erlenmeyer

menggunakan gelas ukur.


Ditimbang padatan sisa reaksi Massa tabung reaksi dengan
pembakaran

menggunakan KClO3/MnO2

adalah

13,34

timbangan analitik yang sudah gram.


dikalibrasi.
F. ANALISIS DATA
1. Gambar alat penentu volume molar oksigen

110

Keterangan gambar dan fungsinya:


1. Labu alas datar
Berfungsi sebagai

wadah

pemanasan tabung reaksi.


2. Erlenmeyer
Berfungsi
sebagai
wadah

penyimpanan

aquades

penyimpanan

aquades

selama

hasil

pemanasan tabung reaksi.


3. Tabung reaksi
Berfungsi sebagai wadah penyimpanan campuran KClO 3 dan
MnO2 yang dipanaskan.
4. Pembakar spiritus
Berfungsi sebagai pembakar untuk memanaskan tabung reaksi
dan isinya.
5. Selang
Berfungsi sebagai penyalur untuk menyalurkan aquades yang
terdesak oleh O2 ke erlenmeyer.
6. Termometer
Berfungsi sebagai pengukur untuk mengukur suhu yang ada di
dalam labu alas datar.
7. Klem
Berfungsi untuk menjepit selang.
8. Statif
Berfungsi untuk menyangga labu alas datar.
9. Dongkrak
Berfungsi untuk menyangga erlenmeyer.
10. Pipa
Berfungsi untuk menyalurkan O2 hasil dari pemanasan KClO3 dan
MnO2.
2. Persamaan reaksi
2KClO3(s)MnO2(s) 2KCl(s) + 3O2(g)
3. Perhitungan
a. Massa tabung reaksi kosong
= 12,44 gram
111

b. Massa (KClO3 + MnO2) = 1,2 gram


c. Massa tabung reaksi + massa (KClO3 + MnO2)

13,64

gram
d. Massa tabung reaksi + massa (KClO3 + MnO2) setelah dipanaskan
= 13,34 gram
a. Massa O2 = c-d
= 13,64 gram 13,34 gram
= 0,30 gram
Massa O2
b. Mol O2 = Mr O 2
0,30 gram
32 gram /mol

= 0,00937 mol
c. Volume O2
= Volume H2O (L)
= 78 ml
= 78 x 10-3 L
d. Suhu O2 = 31oC
= 31 + 273
= 304 K
e. Penentuan tetapan gas
a = 1,360 L2 atm/mol2
b = 0,0318 L/mol
P = 1 atm
Persamaan Van der Waals
2
an
P + 2 ( V-nb )=nRT
V

R=

P+

a n2
( V-nb )
V2

nT

1,360
1 atm+

L2 atm
( 0,00937 mol )2
2
mol
3

( 78 x 10 L )

(78 x 10

L0,00937 mol x 0.0318

0,00937 mol x 304 K

L
mol

)
=

0,07923 atm L
2,84848 mol.K

0,02781 atm L/mol K


f. Penentuan volume moler oksigen
P.
Vm = nRT
112

1 atm+

1,1

Vm =

nRT
P
0,00937 mol x 0,02781 atm L/ mol K x 304 K
1 atm

= 0,07922 L
g. Persentase O2 dalam KClO3
2KClO3(s) MnO2(s) 2KCl(s) + 3O2(g)
Koefisien KClO3
a. Mol KClO3 = Koefisien O2
x mol O2
=

2
x 0,00937 mol
3

0,01874 mol
= 3
= 6,24667 x 10-3 mol
b. Massa KClO3
= mol KClO3 x Mr KClO3
= 6,24667 x 10-3 mol x 122,5 gram/mol
= 0,76522 gram
massa O2
x 100
%O2 = massa KClO3
=

0,30 gram
0,76522 gram

x 100%

= 39,20441%
G. PEMBAHASAN
Volume molar adalah volume 1 mol gas, pada suhu dan tekanan
yang

sama,

gas-gas

yang

memiliki

volume

yang

sama

akan

mengandung jumlah molekul yang sama pula. Artinya, pada suhu dan
tekanan yang sama, gas-gas dengan jumlah molekul yang sama akan
mempunyai volume yang sama pula. Karena 1 mol setiap gas
mempunyai jumlah molekul yang sama, yaitu 6,02 x 10 23 molekul,
maka pada suhu dan tekanan yang sama, 1 mol setiap gas mempunyai
volume yang sama. Jadi, pada suhu dan tekanan yang sama, volume
gas hanya bergantung pada jumlah molnya.oksigen adalah unsur
ketiga

terbanyak

yang

ditemukan

berlimpah

di

matahari

dan

memainkan peranan penting dalam siklus karbon-nitrogen. Oksigen


memiliki nomor atom 8 dengan massa atom 15,999 gram/mol atau
113

biasa dibulatkan menjadi 16 gram.mol. titik leburnya adalah -219oC


dan titik didihnya adalah -183oC. Oksigen dalam kondisi tereksitasi
memberikan warna merah terang dan kuning-hijau pada AuroraBorealis, sedangkan warna oksigen cair adalah biru langit. Gas oksigen
biasanya terdapat dalam bentuk molekul diatomik dan ada juga dalam
bentuk triatomik.
Gas memiliki sifat fisik, seperti volume dan bentuknya yang
mengikuti wadah, wujud yang paling dapat dimampatkan, dapat
bercampur secara sempurna dalam satu wadah, dan kerapatannya
paling rendah. Pada praktikum ini memilik tujuan untuk menentukan
tetapan gas dan volume molar oksigen dan untuk mempelajari hukumhukum gas. Hukum-hukum gas meliputi Hukum Boyle, Hukum Charles,
Gay-Lussac, Dalton tentang tekanan parsial, dan Hukum Avogadro.
Hukum gas ideal merupakan hukum yang berlaku untuk semua jenis
gas. Persamaan gas ideal adalah:
PV = nRT
di mana besarnya tetapan R = 0,0825 L atm/mol K.
Untuk

mendapatkan

volume

molar

O2

digunakan

metode

pendesakan air oleh gas yang terbentuk pada saat reaksi berlangsung.
Proses yang dilakukan adalah dengan memanaskan bubuk Kalium
klorat (KClO3) dengan katalis MnO2(s) yang keduanya awalnya berwarna
abu-abu. Fungsi katalisator adalah untuk memperbesar kecepatan
reaksinya dengan jalan memperkecil energi pengaktifan suatu reaksi
dan dibentuknya tahap-tahap yang baru. Dengan menurunnya energi
pengaktifan, maka pada suhu yang sama, reaksi dapat berlangsung
lebih cepat. Persamaan reaksinya adalah:
MnO2(s)
2KCl)3(s)
2KCl(s) + 3O2(g)
Pada percobaan ini, digunakan tabung reaksi yang bersih dan
kering dengan tujuan agar tidak ada zat-zat yang lain yang dapat
mempengaruhi reaksi. Saat gelembung gas dimasukkan ke air (ditiup),
gelembung-gelembung

akan

keluar.

Dan

pada

saat

dilakukan

pemanasan, oksigen yang terbentuk dari penguraian KClO 3(s) akan


mengisi labu alas datar dan mendesak air keluar dari labu alas datar,
karena adanya tekanan yang diberikan oleh oksigen, sehingga air akan
114

terdesak keluar menuju erlenmeyer. Volume yang tertampung pada


erlenmeyer sebanding dengan volume molar gas oksigen. Volume yang
diperoleh adalah sebanyak 78 ml atau 78 x 10 -3 L. Setelah dilakukan
perhitungan, volume molar oksigen yang diperoleh adalah 0,07922 L.
Jika ada gelembung udara di dalam selang, maka air yang akan
menetes akan semakin sedikit.
Setelah terjadi pembakaran, warna pada campuran KClO 3(s) dan
MnO2(s) berubah menjadi hitam pekat. Hal ini disebabkan karena
pemanasan oleh spiritus menyebabkan KClO3(s) menguap, sehingga
warna campuran KClO3(s) dan MnO2(s) berubah menjadi hitam pekat
mengikuti warna MnO2(s) sebagai katalisatornya. Dalam menentukan
tetapan gas digunakan persamaan Van der Waals. Nilai tetapan R =
0,0825 L atm/mol K, tetapi perhitungan kami menunjukkan angka
0,02781 atm L/mol K. perhitungan yang diperoleh sangat berbeda dari
tetapan seharusnya. Hal ini disebabkan karena adanya faktor human
error,

yaitu

ketidaktelitian

praktikan

dalam

membaca

hasil

pengukuran dan sebenarnya air belum selesai menetes dan suhunya


yang seharusnya 32oC menjadi 31oC. Diperoleh juga persentase
oksigen, yaitu 39,20441%.
H. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan
bahwa:
a. Penentuan

volume

molar

oksigen

dilakukan

dengan

cara

pendesakan air oleh gas oksigen. Volume oksigen yang diperoleh


sebanding dengan volume air pada erlenmeyer dan didapatkan
volume molar oksigen, Vm = 0,07922 L. sedangkan tetapan gasnya
adalah 0,02781 atm L/mol K yang berbeda jauh dari tetapan yang
seharusnya. Selain itu, diperoleh juga % O2, yaitu 39,20441%.
b. Hukum-hukum gas, seperti Boyle, Gay-Lussac, Avogadro, dan Van
der Waals dapat diaplikasikan melalui percobaan ini. Hal-hal yang
mempengaruhinya adalah tekanan, suhu, volume, molaritas, dan
massa.

115

DAFTAR PUSTAKA
Goldberg, David E. 2004. Kimia untuk Pemula. Jakarta: Erlangga.

Purwoko, Agus Abhi. 2006. Kimia Dasar Jilid 1. Mataram: Mataram


University Press.
Takeuchi, Yashito. 2006. Pengantar Kimia. Tokyo: Iwanami Shoten.
Yazid, Estien. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: An

116

Anda mungkin juga menyukai