Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM BUDIDAYA HEWAN DAN TANAMAN

BUDIDAYA AYAM BROILER (Gallus gallus domesticus)

Disusun oleh:
R.Bg. Irawanto Wisnu B.
Vella Liani
Nur Khotimah
Wulan Novitasari
Tonny Haryo Wibisono
Hana Widiyanti
Endah Ratna Sari
Ulfa Nur Wahyudi
Aris Setiyanto Wibowo
Irfan Hanis Prasetya

12308141042
13308141051
13308141060
13308141062
13308144002
13308144006
13308144010
13308144011
13308144012
13308144015

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peternakan merupakan salah satu dari lima subsektor pertanian. Peternakan adalah
kegiatan memelihara hewan ternak untuk dibudidayakan dan mendapatkan keuntungan
dari kegiatan tersebut (Rasyaf, 2002). Subsektor peternakan terbagi menjadi ternak besar,
yaitu sapi (perah/potong), kerbau, dan kuda, dan ternak kecil yang terdiri dari kambing,
domba, dan babi serta ternak unggas (ayam, itik, dan burung puyuh).
Kegiatan usaha yang menarik dikaji di subsektor peternakan adalah usaha agribisnis
ayam ras pedaging. Ayam pedaging disebut juga ayam broiler merupakan salah satu
komoditi peternakan yang cukup menjanjikan karena produksinya yang cukup cepat
untuk kebutuhan pasar dibandingkan dengan produk ternak lainnya selain itu keunggulan
ayam ras pedaging antara lain pertumbuhannya yang sangat cepat dengan bobot badan
yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, konversi pakan kecil, siap dipotong pada
usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak. Perkembangan yang pesat
dari ayam ras pedaging ini juga merupakan upaya penanganan untuk mengimbangi
kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam.
Di Indonesia konsumsi daging ayam broiler adalah 545.1 ribu ton per tahun (BPS,
2012). Konsumsi daging ayam broiler sebesar 4,5 kilogram per kapita per tahun.
Konsumsi per kapita tersebut terus didorong oleh Pemerintah untuk meningkatkan asupan
gizi masyarakat mengingat kandungan gizi ayam broiler yang baik dan juga mudah
diakses masyarakat karena harga yang relatif murah dibanding harga daging jenis lain.
Dengan jumlah konsumsi per kapita tersebut, Usaha peternakan ayam broiler dapat
menjadi usaha yang sangat potensial mengingat permintaan pasar yang sangat tinggi akan
kebutuhan daging ayam broiler.
Ditambah lagi Ayam broiler memiliki banyak kelebihan seperti, lebih cepat
mendatangkan hasil dari pada beternak ayam buras.. Keunggulan ayam broiler antara lain
pertumbuhannya yang sangat cepat yaitu selama 5-8 minggu saja dengan bobot badan
ayam sudah mempunyai bobot badan antara 1,5-2.8 kg/ekor, konversi pakan kecil, siap
dipotong pada usia muda serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak.
Perkembangan yang pesat dari ayam broiler ini juga merupakan upaya penanganan untuk
mengimbangi kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam. Dengan demikian perputaran
modal berjalan dengan waktu yang tidak lama.

Melihat prospek dari usaha ayam broiler kami mencoba untuk melakukan
pemeliharaan ayam broiler yang dilakukan pada mata kuliah dan praktikum budidaya
hewan agar dapat mengetahui seberapa besar potensi dari usaha peternakan ini dan juga
agar mampu menerapkan kajian teori tentang budidaya dalam kegiatan yang
sesungguhnya.

B. Tujuan
a. Mengetahui langkah langkah dalam budidaya ayam broiler.
b. Mengetahui hasil dari budidaya ayam broiler.

C. Manfaat
Dengan melakukan praktikum budidaya ayam broiler diharapkan mahasiswa mampu
untuk :
a. Memperoleh ketrampilan dan menambah wawasan dalam budidaya ayam broiler.
b. Mengetahui analisis usaha budidaya ayam broiler.
c. Mengetahui permasalahan yang dihadapi pada budidaya ayam broiler.
d. Mengetahui solusi untuk mengatasi permasalahan pada budidaya ayam broiler.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Broiler
Broiler merupakan ternak yang paling ekonomis bila dibandingkan dengan ternak
lain, kelebihan yang dimiliki adalah kecepatan pertambahan/produksi daging dalam waktu
yang relatif cepat atau singkat sekitar 4-5 minggu produksi daging sudah dapat dipasarkan
atau dikonsumsi (Murtidjo, 2003).
Menurut Rasyaf (2004) yang dimaksud dengan broiler (ayam potong) adalah ayam
yang muda jantan atau betina yang berumur dibawah 8 minggu dengan bobot tertentu,
pertumbuhan yang cepat timbunan daging baik dan banyak. Sedangkan menurut Siregar
(2005) menyebutkan broiler adalah ayam muda yang berumur kurang dari 8 minggu,
daging lembut, empuk, dan gurih dengan bobot hidup berkisar antara 1,5-2,0 kg/ ekor.
Broiler di Indonesia adalah ayam ras pedaging jantan atau betina yang dipotong pada
umur 5-6 minggu, dimana ayam tersebut masih muda dan mempunyai daging yang masih
lunak (Hardjosworo dan Rukmiasih, 2000).
Keunggulan ayam broiler akan terbentuk bila didukung oleh lingkungan karena sifat
genetis saja tidak menjamin keunggulan itu akan terlihat. Menurut Rasyaf (2004) hal-hal
yang mendukung keunggulan ayam broiler adalah sebagai berikut.
1. Makanan

Makanan sebaiknya memperhatikan kualitas dan kuantitas dalam pemberiannya.


Pertumbuhan yang sangat cepat tidak akan tampak bila tidak didukung dengan ransum
yang mengandung protein dan asam amino yang seimbang sesuai kebutuhan ayam.
2. Temperatur lingkungan

Ayam broiler akan tumbuh optimal pada temperatur lingkungan 19-21c. Temperatur
lingkungan di Indonesia lebih panas, apalagi di daerah pantai sehingga ayam akan
mengurangi beban panas dengan banyak minum dan tidak makan. Akibatnya,
sejumlah unsur nutrisi dan keperluan nutrisi utama yang berasal dari makanan menjadi
tidak masuk ke dalam tubuh ayam. Jadi, temperatur ini secara tidak langsung
berpengaruh terhadap kemampuan ayam broiler untuk bertahan hidup.
3. Pemeliharaan

Bibit yang baik membutuhkan pemeliharaan yang baik pula. Ayam memerlukan
perawatan dan makanan yang baik. Perawatan ini termasuk vaksinasi yang baik dan

benar. Jika vaksinasinya tidak benar maka akan timbul penyakit yang akan
mengakibatkan kematian.
4. Pemilihan DOC (Day Old Chicken)

DOC adalah anak ayam umur sehari yang akan dibesarkan dan dipelihara menjadi
ayam ras pedaging. Dalam memilih bibit DOC yang baik ada beberapa pedoman yang
harus diperhatikan yakni:
a. Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.
b. Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya.
c. Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.
d. Anak ayam mempunyai nafsu makan yang baik.
e. Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.
f. Tidak ada letakan tinja di duburnya.

Pertumbuhan dan Pertambahan Bobot Badan Broiler


Menurut Anggorodi (1990) pertumbuhan pada hewan merupakan suatu fenomena
universal yang bermula dari suatu sel telur yang dibuahi dan berlanjut sampai hewan
mencapai dewasanya. Pertambahan bobot badan dan bobot dari jaringan seperti berat
daging, tulang, otak dan jaringan lainnya, diartikan sebagai pertumbuhan.
Pertambahan berat badan kerap kali digunakan sebagai pegangan berproduksi bagi
para peternak dan para ahli. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa ada bibit ayam yang
memang pertambahan berat badannya hebat, tetapi hebat pula makanannya. Padahal biaya
untuk ransum adalah yang terbesar bagi suatu peternakan ayam. Oleh karena itu,
pertambahan berat badan haruslah pula dikaitkan dengan konsumsi ransumnya (Rasyaf,
1993).
Pertumbuhan biasanya mulai perlahan-lahan kemudian berlangsung lebih cepat dan
akhirnya perlahan-lahan lagi atau sama sekali terhenti. Pola seperti ini menghasilkan kurva
pertumbuhan yang berbentuk sigmoid (S). tahap cepat pertumbuhan terjadi pada saat
kedewasaan tubuh hampir tercapai (Anggorodi, 1990).

Kebutuhan Nutrisi Broiler


Untuk keperluan hidupnya dan untuk produksi ayam membutuhkan sejumlah unsur
yaitu protein yang mengandung asam amino seimbang dan berkualitas, energi yang
berintikan karbohidrat dan lemak, vitamin dan mineral (Rasyaf, 1997).

Kartadisastra (1994) menyatakan jumlah ransum yang diberikan sangat bergantung


dari jenis ayam yang dipelihara, sistem pemeliharaan dan tujuan produksi. Disamping itu
juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berkaitan dengan genetik dan lingkungan
tempat ternak itu dipelihara.
Penggolongan zat-zat nutrisi adalah karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin dan
air. Fungsi karbohidrat pada unggas adalah sebagai energi dan panas serta disimpan
sebagai lemak jika berlebihan, sementara karena lemak mudah tengik, maka sebagian
lemak mudah tengik, maka sebagian besar ransum mengandung tidak lebih dari sekitar 45% lemak. Protein adalah unsur pokok alat tubuh dan jaringan lunak tubuh ternak unggas.
Zat tersebut diperlukan untuk pertumbuhan, pengelolaan dan produksi telur serta
merupakan bagian semua enzim dalam tubuh. Zat-zat mineral dan vitamin merupakan
nutrisi mikro penting untuk mencegah penyakit defisiensi. Sementara air mempunyai
peranan penting sebagai stabilisator suhu (Anggorodi, 1990).

Awal Pemberian Ransum


Di peternakan komersil seringkali day old chick (DOC) tidak langsung diberi makan,
tetapi dipuasakan tiga hari, dengan tujuan mengoptimalkan sisa kuning telur dan
peradangan sisa kuning telur (omphalistis) menjadi berkurang. Faktanya adalah ayam yang
dipuasakan akan mengalami penyerapan sisa kuning telur menjadi lebih lama, sehingga
peluang untuk terinfeksi oleh kuman lingkungan menjadi jauh lebih besar (Noy dan Sklan,
1996 dalam Unandar 1997).
Pemberian ransum pada ayam seawal mungkin memang berpengaruh terhadap
perkembangan usus. Ville akan berkembang sempurna, peristaltik akan dipacu seawal
mungkin sehingga sistem transport dalam usus berlangsung baik.
Enzim pankreas dan garam empedu digertak seawal mungkin, seiring dengan
makanan yang masuk. Berat badan berbeda nyata sejalan dengan penyerapan ransum yang
maksimal, sehingga ayam yang diberi ransum lebih dini mempunyai penampilan akhir
lebih baik (Sulistyonigsih, 2004). Konsumsi ayam yang diberi ransum hari ke-1, ternyata
konsumsi ransumnya lebih tinggi sebesar 4.8% daripada ayam yang diberi ransum hari ke2 (Sulistyonigsih, 2004).
Hal ini diperjelas oleh pendapat Widjaja (1999) yang menyatakan bahwa pada hari
pertama saja hanya 50% dari kebutuhan energi dan 43% dari kebutuhan protein yang dapat
dipenuhi dari sisa kuning telur yang ada. Hari ketiga biasanya peternak baru mulai

memberi ransum pada anak ayam, ternyata sisa kuning telur yang ada hanya mensuplai
6% dari kebutuhan energi dan 10% untuk kebutuhan protein.
Selanjutnya Unandar (1997) menyatakan ada beberapa efek negatif akan muncul jika
terjadi keterlambatan pemberian ransum/minum pada tahap awal kehidupan dari ayam
(lebih dari 2 hari). Efek negatif akan tersebut antara lain bobot badan tidak akan mencapai
bobot standar. Kuning telur dapat memenuhi kebutuhan nutrisi pada masa embrional
dalam telur hingga menetas. Sisa kuning telur yang mengandung air (50%), protein (28%)
diantaranya meternal antibodi (7%) dan lipid (20%), dianggap memenuhi kebutuhan DOC.
Kebutuhan yang dapat dipenuhi dari kuning telur, seperti yang tertera dalam Tabel 3
dibawah ini. Kenyataannya sisa kuning telur ini sangat terbatas dan hanya cukup untuk
mempertahankan kehidupannya bukan untuk pertumbuhannya. Pada hari pertama saja
hannya 50% dari kebutuhan energi dan 43% dari kebutuhan protein yang dapat dipenuhi
dari sisa kuning telur yang ada. Hari ketiga biasanya peternak baru mulai memberi ransum
pada anak ayam, ternyata sisa kuning telur yang ada hanya mensuplai 6% dari kebutuhan
energi dan 10% untuk kebutuhan protein (Widjaja, 1999).
Proses utama yang terjadi dalam pertumbuhan anak ayam, yaitu : Hiperplasia
(pertambahan jumlah sel - sel tubuh) dan hipertrofi (perbesaran ukuran sel tubuh). Proses
hiperplasia lebih besar daripada hipertropia pada minggu pertama dan kedua, minggu
ketiga seimbang dan berikutnya hipertropia lebih dominan. Tentu saja apabila persedian
sel - sel tidak ada jumlah yang cukup pada minggu pertama, akan sangat sulit untuk
mencapai pertumbuhan maksimal pada minggu - minggu selanjutnya.

BAB III
METODE

A. WAKTU DAN TEMPAT


1. Waktu Penelitian

: 30 Maret 16 Mei 2016

2. Tempat Penelitian

: Laboratorium Hewan, FMIPA, UNY

B. Alat dan Bahan


Alat
Tempat pakan

Bahan
Bibit ayam broiler

Tempat minum

Pakan ayam

Ember

Konsentrat

Gelas atau tabung erlen meyer

Air

Timbangan

Lampu

C. Prosedur Kerja
1. Persiapan Kandang

Tipe kandang ayam broiler ada dua, yaitu bentuk panggung dan tanpa panggung
(litter). pada praktikum ini kandang yang dibuat yaitu tanpa panggung (litter).

Kandang berada di Laboratirum Hewan FMIPA UNY yang dialasi dengan jerami
padi yang memiliki daya serap cukup tinggi serta dengan adanya penambahan
koran untuk meningkatkan daya serap dan memberikan kenyamanan bagi ayam,
alas koran diganti setiap pagi dan sore atau satu hari sekali.

Memasang lampu pada kandang untuk mengatur kondisi temperatur saat malam
hari sehingga suhu kandang tidak terlalu rendah.

2. Pemasukkan Day Old Chick (DOC)

Memasukan DOC ke dalam kandang. DOC yang dibudidaya sebanyak 200 ekor

Memperhatikan dan mengecek keadaan DOC secara keseluruhan, baik kualitas


maupun kuantitasnya

3. Pemberian Pakan dan Air Minum

Pemberian pakan dan minm dilakukan pada pagi dan sore hari

4. Penanganan Kesehatan

Apabila terdapat ayam yang mati, segera diambil dan dipisahkan dari kandang

5. Penimbangan Bobot Badan per 5 hari

Menimbang bobot ayam secara intensif setiap 5 hari sekali, penimbangan bobot
ayam secara sampling, yaitu dipilih 10 ayam untuk ditimbang setiap kali
penimbangan.

6. Pencatatan dan Dokumentasi

Mencatat data bobot badan ayam dan memasukkannya ke dalam tabel hasil
pengamatan

Mendokumentasikan setiap kegiatan budidaya ayam, terutama saat menimbang


bobot badan ayam

7. Pemanenan

Pemanenan dilakukan setelah ayam berumur 47 hari

BAB IV
HASIL PEMBAHASAN
BOBOT Ayam/minggu (Gr)

Ulangan ayam
I

II

III

IV

VI

VII

VIII

260

225

520

625

650

800

900

1125

225

325

500

525

700

650

675

1150

270

300

500

375

725

625

675

825

280

350

500

625

600

650

800

1150

250

300

500

600

730

725

625

1100

225

275

400

625

650

675

700

850

250

250

475

700

650

650

625

675

250

325

625

675

775

775

775

725

255

300

325

625

850

850

800

975

10

250

300

400

575

625

625

875

1025

251,5

295

474,5

595

695,5

702,5

745

960

RATA2

Pembahasan
Ayam broiler merupakan galur ayam hasil rekayasa genetika yang memiliki
karakteristik ekonomis dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, masa
panen pendek dan menghasilkan daging berserat lunak, timbunan daging baik, dada lebih
besar dan kulit licin.
Budidaya ayam pedaging atau broiler dilakukan dari mulai DOC dengan jumlah 200
ekor luas kandang 1,5 X 1 meter dengan penghangat dari bohlam lampu sebanyak tiga buah
karena pada umur-umur wal memerlukan suhu yang hangat antara 32-340C. Anak ayam yang
kedinginan ataupun kepanasan pertumbuhan awalnya akan lamban dan tidak akan
berkembang dengan baik. Perawatan DOC dilakukan dengan pemberian makan 2x sehari
pakan yang diberikan merupakan BR. Pengisian air minum dengan penambahan vitamin.
Penambahan vitamin dilakukan dengan tujuan DOC lebih tahan hidup. Pada budidaya ayam
ini terjadi beberapa kematian ayam > 10 ekor.
Pengukuran bobot ayam dilakukan seminggu sekali guna melihat pertumbuhan DOC
dengan menggunakan timbangan biasa. Penimbangan pertama dilakukan saat DOC datang
dengen bobot rata-rata sebesar 251, 5 gram. Bobot DOC dari minggu-minggu mengalai

kenaikan. DOC semakin besar dengan pertambahan bobot lalu dipindah ke kandang besar
untuk pemeliharaan lanjutan hingga panen. Pada kandang besar ini ayam tidak harus
dipasangi bohlam sebagai pemanas karena sudah dapt menyesuaikan suhu lingkungan.
Pertumbuhan ayam dari minggu keminggu mengalami kenaikan pada akhirnya pada minggu
ke 8 rata-rata bobot ayam mencapaik 960 gram. Ukuran bobot ayam pun tidak merata akibat
persaingan pada waktu makan. Ayam yang lebih kuat akan makan lebih banyak sehingga ada
penguasaan teritori. Pertumbuhan ayam dipengaruhi oleh faktor bangsa, jenis kelamin, umur,
kualitas ransum dan lingkungan. Zat pakan yang penting bagi pertumbuhan ternak adalah
kalsium yang berfungsi untuk pertumbuhan tulang, produksi, reproduksi normal, pembekuan
sel darah merah dan berperan dalam sistem syaraf .
Menurut Anggrodi (1984) pada awal fase pertumbuhan lambat, kemudian
berkembang lebih cepat dan akhirnya perlahan lagi menjelang dewasa tubuh. Namun pada
praktikum budidaya ini bobot ayam masih rendah dibandingkan ayam hasil pemeliharaan di
kandang-kandang panggung. Jika dijadikan sebagai usaha budidaya ayam pada praktikum kali
ini mengalami kerugian karena biaya perawatan yang dikeluarkan lebih banyak dibanding
hasil jual ayam yang dihargai 15.000 dalam keadaan hidup sedangkan ayam yang terjuak atau
tersortir berbobot 145 kg sebanyak 150 ekor.
Penyakit yang sering menyerang ayam broiler antara lain:

Tetelo (Newcastle

Disease/ND), Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD), Penyakit Ngorok (Chronic


Respiratory Disease), Berak Kapur (Pullorum). Selain itu ayam juga bisa diserang oleh hama
tungau (kutuan). Dalam mencegah dan mengobati penyakit, ayam broiler diberikan vaksinasi.
Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk
menimbulkan kekebalan alami.
Vaksinasi penting yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilaksanakan pada umur 4 hari dengan
metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari dengan vaksin ND
Lasotta melalui suntikan atau air minum.
Perawatan sanitasi kandang harus dilakukan setelah panen. Dilakukan dengan
beberapa tahap yaitu : Pencucian kandang dengan air hingga bersih dari kotoran limbah
budidaya sebelumnya. Pengapuran di dinding dan lantai kandang. Penyemprotan dengan
formalin, untuk membunuh bibit penyakit. Minimal selama 10 hari sebelum budidaya lagi
untuk memutus siklus hidup virus dan bakteri, yang tidak mati oleh perlakuan sebelumnya.
Ayam telah dikembangkan sangat pesat disetiap negara. Di Indonesia usaha ternak ayam

broiler (pedaging) juga sudah dijumpai hampir di setiap propinsi. Beternak ayam telah
memberi kontribusi yang besar pada pendapatan asli daerah, menyerap tenaga kerja,
menambah produktivitas masyarakat dan tentu saja hasil utamanya berupa daging ayam yang
bisa memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap protein hewani. Sebagai hasil tambahan
ternak ayam broiler (pedaging) adalah berupa tinja atau kotoran kandang untuk pupuk dan
bulu ayam untuk industri kerajinan tangan.

BAB V
A. KESIMPULAN
Budidaya broiler tidak membutuhkan waktu yang panjang dari masa DOC hingga
panen karena umumnya broiler dapat dipanen pada usia 40 hari dengan bobot rata-rata
2kg. Yang dibutuhkan untuk budidaya broiler adalah tempat yang mendukung
pertumbuhan broiler dan ketelatenan dalam merawatnya. Budidaya broiler dapat
dilakukan dimana saja asal tempat hidup broiler sesuai, sehingga dapat disimpulkan
bahwa budidaya broiler merupakan salah satu usaha yang menguntungkan secara
ekonomi dan mudah dalam perawatannya.
B. SARAN
Dalam praktikum budidaya broiler ini peran mahasiswa tidak terlalu banyak selain
memberi pakan, menimbang, mengontrol cahaya, alas dan air minum, sehingga
mahasiswa kurang maksimal dalam memahami bagaimana cara budidaya broiler dari
usia DOC hingga panen. Ini disebabkan karena sulitnya mengumpulkan seluruh
mahasiswa dalam waktu yang sama terutama diluar jam praktikum yang dilaksanakan
pada hari jumat. Untuk selanjutnya sangat baik jika mahasiswa dilibatkan dalam
proses instalasi listrik (lampu), pemindahan kandang hingga pemanenan sehingga
mahasiswa dapat memahami betul bagaimana budidaya broiler dari awal hingga
akhir.

Daftar Pustaka

Anggorodi, 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia, Jakarta.


Hardjosworo, P. S. dan Rukmiasih, M. S. 2000. Meningkatkan Produksi Daging. Penebar
Swadaya. Yogyakarta.
Kartadisastra, H. R. 1994. Pengelolaan Pakan Ayam. Kanisius, Yogyakarta
Murtidjo, B. A. 2003. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kanisius, Yogyakarta.
Noy, Y., A. Geyra and D. Sklan. 1996. The Effect of Early Feeding on Growth and Small
Intestinal Development in The Posthatch Poult. Poultry Sci. 80:912 919.
Rasyaf, M., 1993. Beternak Itik Komersial. Kanisius, Yogyakarta.
Rasyaf, M. 2004. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta.
Siregar, S.B. 2005. Ransum Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sulistyoningsih, M. 2004. Respon Fisiologi dan Tingkah Laku Ayam Broiler Periode Starterc
Akibat Cekaman Temperatur dan Awal Pemberian Pakan yang Berbeda. Tesis Program
Pasca Sarjana Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro.
Unandar, T. 1997. Menguak Misteri Ayam Kerdil. Poultry Indonesia.
Widjaja, H. 1999. Bolehkah Ayam Dipuasakan. Poultry Indonesia. 233 : 33 34.

Lampiran

Ayam pada 31 maret

Ayam yang mati 14 mei 2016

Ayam pada 1 april 2016

Ayam pada 2 april 2016

Ayam pada 14 april 2016 saat sudah dipindah pada media pemeliharaan yang lebih luas