Anda di halaman 1dari 12

RESUME BUKU

ARGUMENTASI HUKUM
(Legal Argumentation/Legal Reasoning)
Langkah-langkah Legal Problem Solving dan Penyusunan Legal
Opinion
Prof. Dr. Philipus M. Hadjon, S.H.
Dr. Tatiek Sri Djatmiati, S.H., M.S
GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS

Argumentasi hukum adalah sebuah keterampilan ilmiah dalam


menemukan solusi hukum. Bentuk analisis untuk mencapai sebuah solusi
hukum adalah dengan adanya legal opini. Selama ini dalam penidikan
hukum di Indonesia, argumentasi hukum belum mendapat porsi yang
seharusnya didalam kurikulum pendidikan hukum. Dalam buku ini, penulis
bertujuan untuk menjelaskan bagaimana seharusnya argumentasi hukum
itu terbentuk. Selain itu juga penulis bertujuan untuk memberikan
dorongan dalam hal peningkatan kemahiran dalam argumentasi hukum
untuk penstudi hukum maupun praktisi hukum.
BAB I. ILMU HUKUM SEBAGAI SUI GENERIS
1. KARAKTER NORMATIF ILMU HUKUM
Ilmu hukum adalah ilmu jenis sendiri dikarenakan dalam kualitas
ilmiah sulit dikelompokkan dalam satu cabang keilmuan. Ilmu hukum
memiliki karakter yang khas. Ciri khas ilmu hukum adalah sifatnya yang
normatif. Dalam dunia hukum di Indonesia, pembelajaran tentang ilmu
hukum lebih banyak bersifat empiris dengan menerapkan metode-metode
penelitian sosial untuk dikaitkan dalam kajian hukum normatif. Hal ini
kemudian membentuk pemikiran yang memandang hukum sebagai
fenomena sosial. Selain itu, penelitian hukum yang sifatnya normatif
diklasifikasikan

sebagai

penelitian

kualitatif

karena

penelitian

itu

menyangkut data dan konsekuensi pada analisisnya mengkaji dari metode


penelitian

sosial

sehingga

dikatakan

sebagai

penelitian

empiris.

Sebenarnya

meskipun

dalam

penelitian

hukum

normatif

tidak

menyertakan data statistik seperti dalam analisis kuantitatif, tidak serta


merta menjadikan penelitian hukum normatif diidentifikasikan sebagai
penelitian kualitatif.
Dalam pengkajian atau penelitian ilmu hukum, seharusnya beranjak
dari hakikat keilmuan hukum. Untuk menjelaskan tentang hakikat
keilmuan hukum itu sendiri terdapat dua pendekatan, yaitu pendekatan
dari falsafah ilmu dan pendekatan dari sudut pandang teori hukum.
Falsafah ilmu membedakan ilmu membedakan ilmu dari dua sudut
pandangan, yaitu pandangan positivistik yang melahirkan ilmu empiris
dan pandangan normatif yang melahirkan ilmu normatif. Ilmu hukum
normatif kajiannya khas, sedangkan ilmu hukum empiris dapat dikaji
melalui penelitian kualitatif atau kuantitatif tergantung sifat datanya.
Kemudian dari pandangan teori hukum, ilmu hukum dibagi atas tiga
lapisan utama, yaitu dogmatik hukum, teori hukum, dan filsafat hukum.
Ketiga lapisan ilmu hukum ini memberi dukungan pada praktik hukum.
Dengan

kata

lain,

mengedepankan penelitian

hukum empiris

dan

meremehkan penelitian hukum normatif adalah sikap yang tidak benar,


selain itu jangan mengempiriskan segi-segi normatif ilmu hukum dan
begitu juga sebaliknya untuk tidak menormatifkan segi-segi empiris dalam
penelitian hukum. Kajian normatif sebaiknya berpegang pada tradisi
keilmuan hukum itu sendiri dan kajian ilmu hukum empiris sebaiknya
digunakan metode penelitian empiris yang sesuai.
2. TERMNIOLOGI ILMU HUKUM
Kepustakaan bahasa Indonesia yang masih sangat terbatas dan
tidak tajam dalam segi bahasa hukum membuat berbagai macam istilah
bahasa hukum asing dari berbagai negara mendapat pengertian yang
kurang tepat. Banyak istilah hukum asing yang mempunyai pengertian
secara luas dan sempit jika diadopsi menggunakan istilah hukum di
Indonesia, sehingga muncul berbagai macam penafsiran dari istilah-istilah
hukum tersebut yang membuat dalam sebuah penelitian hukum perlu
untuk benar-benar mengkaji arti dari istilah-istilah bahasa hukum agar
sesuai dengan maksud yang dituju.

3. JENIS ILMU HUKUM


Dari segi objeknya, ilmu hukum dibedakan menjadi ilmu hukum
normatif dan ilmu hukum empiris. Perbedaan mendasar antara ilmu
hukum normatif dan ilmu hukum empiris adalah hubungan dasar sikap
ilmuan dan juga teori kebenaran. Dalam ilmu hukum empiris sikap ilmuan
adalah sebagai penonton yang mengamati gejala-gejala obyeknya yang
dapat ditangkap oleh pancaindra. Dalam ilmu hukum normatif, yuris
secara aktif menganalisis norma, sehingga peranan subyek sangat
menonjol. Dari segi kebenaran ilmiah, kebenaran hukum empiris adalah
kebenaran korespondensi, artinya bahwa sesuatu itu benar karena
didukung oleh fakta. Dalam ilmu hukum normatif dengan dasar kebenaran
pragmatik yang pada dasarnya adalah konsensus sejawat sekeahlian.
4. LAPISAN ILMU HUKUM
Secara kronologis, perkembangan ilmu hukum diawali oleh filsafat
dan disusul oleh dogmatik hukum (hukum positif). Dari kedua disiplin ilmu
tersebut

terdapat

kesenjangan

yang

sangat

besar,

sehingga

membutuhkan satu disiplin ilmu untuk menjadi jembatan tengah yang


menghubungkan antara filsafat dan dogmatik hukum tersebut. Disiplin
tengah tersebut berawal dari ajaran hukum umum yang terdiri dari asasasas hukum dari berbagai sistem hukum yang kemudian berkembang
menjadi sebuah teori hukum.
Dari ketiga lapisan disiplin ilmu hukum tersebut mempunyai
karakteristik khusus masing-masing mengenai konsep, eksplanasi, dan
sifat atau hakikat keilmuannya. Dan ketiga lapisan disiplin ilmu hukum
tersebut akan diarahkan ke praktik hukum, dimana praktik hukum ini
mempunyai dua aspek utama yaitu pembentukan hukum dan penerapan
hukum. Selain pandangan terhadap ketiga lapisan disiplin ilmu hukum
tersebut, terdapat juga pendapat yang memposisikan bahwa dogmatik
hukum itu sejajar dengan ilmu hukum praktis, yang fungsinya sebagai
solusi hukum, dan dalam pembentukannya membutuhkan keterampilan
ilmiah berupa argumentasi hukum yang hakikatnya adalah memberi
alasan atau penjelasan.

BAB II. LOGIKA DAN ARGUMENTASI HUKUM


1. KESALAHPAHAMAN TERHADAP PERAN LOGIKA
Teori argumentasi mengkaji bagaimana menganalisis, merumuskan
suatu argumentasi secara cepat untuk membentuk argumentasi secara
jelas dan rasional. Dalam argumentasi hukum, banyak terjadi perbedaan
pendapat dalam menempatkan peran logika formal. Untuk memahami
logika, orang harus sangat mengerti tentang penalaran. Penalaran adalah
satu bentuk pemikiran. Bentuk pemikiran secara sederhana ada tiga, yaitu
pengertian atau konsep, proposisi, dan penalaran. Untuk benar-benar
memahami penalaran maka ketiga bentuk pemikiran tersebut harus
dipahami bersama-sama. Hal ini dikarenakan tidak ada proposisi tanpa
pengertian dan tidak ada penalaran tanpa proposisi.
2. KESESATAN (FALLACY)
Kesesatan dalam penalaran bisa terjadi karena yang sesat itu,
karena suatu hal, kelihatan tidak masuk akal. Menurut R.G Soekadijo,
terdapat lima model kesesatan hukum, tetapi apabila digunakan secara
tepat dalam bidang hukum menurut Irving. M. Copy justru hal tersebut
bukan kesesatan dalam penalaran hukum, model tersebut yaitu :

Argumentum ad ignorantiam
Kesesatan terjadi apabila orang yang mengargumentasikan
suatu proposisi sebagai benar karena tidak terbukti salah atau

suatu proposisi salah karena tidak terbukti benar.


Argumentum ad verecundiam
Menolak atau menerima suatu argumentasi bukan karena nilai
penalarannnya, tetapi karena orang yang mengemukakannya
adalah

orang

yang

berwibawa,

berkuasa,

ahli,

dapat

dipercaya.
Argumentum ad hominem
Menolak atau menerima suatu argumentasi atau usul bukan
karena penalaran, tapi karena keadaan orangnya.
Argumentum ad misericordiam
Suatu argumentasi untuk menimbulkan belas kasihan.
Argumentum ad baculum
Menerima atau menolak suatu argumentasi hanya karena
suatu ancaman.

3. KEKHUSUSAN LOGIKA HUKUM


Argumentasi hukum merupakan satu model argumentasi khusus,
ada 2 hal yang menjadi dasar :

Tidak

ada

hakim

ataupun

pengacara

yang

mulai

berargumentasi dari suatu keadaan hampa. Argumentasi


hukum selalu dimulai dari hukum positif. Seseorang dapat

bernalar dari asas-asas yang terdapat dalam hukum positif.


Argumentasi hukum atau penalaran hukum berkaitan dengan
kerangka

prosedural

yang

didalamnya

berlangsung

argumentasi rasional dan diskusi rasional.


Menurut E.T Feteris et.al. terdapat tiga lapisan argumentasi hukum
yang rasional, yaitu :
a. Lapisan logika
b. Lapisan dialektik
c. Lapisan prosedural
Pengertian argumentasi hukum terdapat artian luas dan sempit.
Dalam arti luas menyangkut dengan aspek psikologi dan aspek biographi.
Dalam arti sempit berkaitan dengan kajian logika suatu keputusan.
Tipe argumentasi dibedakan dengan 2 cara :
1) Dari bentuk atau struktur
2) Dari jenis-jenis alasan yang digunakan untukk mendukung
konklusi.
Bentuk-bentuk

logika

dalam

argumentasi

dibedakan

atas

argumentasi deduksi dan non deduksi dan beberapa karakteristik logika


yang berkaitan dengan bentuk-bentuk tersebut.
BAB III. DASAR-DASAR DALAM ARGUMENTASI HUKUM
1. DARI LOGIKA TRADISIONAL
Tanpa

argumentasi

tidak

ada

rasionalitas.

Sehingga

dengan

pendekatan fungsional dapat dirumuskan syarat-syarat argumentasi yang


rasional. Dengan pendekatan ini maka suatu argumentasi terdiri atas
dialog dan diskusi.
Kriteria argumentasi rasional dengan pendekatan ini berkaitan dengan :
a) Bentuk argumentasi
b) Substansi atau isi argumentasi

c) Prosedur atau hukum acara


Dengan titik logika tradisional, model argumentasi yang lazim
adalah argumentasi deduksi. Argumentasi deduksi yaitu penerapan suatu
aturan hukum pada suatu kasus. Dalam argumentasi deduksi harus
memperhatikan prinsip-prinsip logika yang digunakan dalam dunia hukum
dan peradilan.
Dalam logika hukum, harus selalu mengingat 3 perbedaan pokok
yang berkaitan dengan hakekat hukum, sumber-sumber hukum, dan jenisjenis hukum.

Hakekat
Didalam suatu negara atau masyarakat terdapat hukum
positif dan norma moral. Penerapan logika hanya dibatasi

pada penegakan hukum positif sebagai hukum formal.


Sumber-sumber hukum
Terdapat berbagai sumber hukum baik produk legislatif
maupun yurisprudensi, dan juga harus diperhatikan hierarki

sumber-sumber hukum.
Jenis-jenis hukum
Hukum positif membedakan hukum publik dan hukum privat.
Prinsip-prinsip hukum publik berbeda dengan hukum privat.

2. BATAS JUSTIFIKASI DEDUKSI


Tidak semua aturan hukum produk legislatif dirumuskan dalam
bentuk verbal secara tepat. Banyak aturan hukum yang menimbulkan
kebingungan karena rumusannya yang terbuka maupun rumusan yang
kabur. Sehingga menyebabkan aturan hukum tidak dapat diterapkan
apabila kebingungan itu belum teratasi.
Dalam menghadapi norma hukum yang demikian, maka dibutuhkan
langkah rechtsvinding (menemukan norma konkrit untuk diterapkan pada
fakta hukum terkait.) Menurut Montesquieu terdapat 3 model tipe
rechtsvinding :
a. Hakim adalah corong Undang-Undang.
b. Didalam negara monarki terdapat Undang-Undang yang
menjadi pedoman bagi para hakim. Jika pedoman itu tidak

ada,

Undang-Undang

menjadi

jiwa

atau

spirit

untuk

mencarinya.
c. Interpretasi menurut jiwa Undang-Undang.
Tetapi model yang dikembangkan Montesquieu ini ternyata tidak
cukup untuk menemukan norma terkait dengan fakta hukum. Sehingga
dewasa ini, model rechtsvinding yang dikemukakan oleh J.J.H Bruggink
meliputi metode interpretasi dan metode penalaran konstruksi hukum.
Penalaran hukum atau konstruksi hukum terdiri atas nalar analogi dan
gandengannya dan ditambah bentuk ketiga yaitu penghalusan hukum
atau penyempitan hukum.
Menurut Bruggink mengelompokkan interpretasi dalam 4 model
yaitu :
1)
2)
3)
4)

Interpretasi bahasa
Historis undang-undang
Sistematis
Kemasyarakatan

Terdapat prinsip contextualism dalam interpretasi. Menurut Ian


McLeod terdapat 3 asas dalam contextualism yaitu :
a. Asas Noscitur a Sociis
Suatu hal diketahui dari associatednya. Artinya suatu kata
harus diartikan dalam rangkaiannya.
b. Asas Ejusdem Generis
Sesuai genusnya, artinya satu kata dibatasi makna secara
khusus dalam kelompoknya.
c. Asas Expressio Unius Exclusio Alterius
Artinya, kalau satu konsep digunakan untuk satu hal, berarti
tidak berlaku untuk hal lain.
Dalam melakukan interpretasi terdapat 5 model analisis :

Mengajukan pertanyaan
Interpretasi
Ringkasan
Investigasi dengan model dialektik dan antitesis
Klasifikasi, pembedaan, debat dan akhirnya menarik hal

khusus yang berkaitan dengan logika.


3. PENALARAN (KONSTRUKSI HUKUM)
Disamping interpretasi juga terdapat 3 bentuk konstruksi hukum
yaitu analogi, penghalusan atau penyempitan hukum, dan argumentum a

contrario. Dari 3 bentuk penalaran hukum tersebut dapat membantu


sesorang dalam melakukan analisa logika untuk menentukan suatu
argumentasi hukum.

4. KONFLIK NORMA
Dalam menghadapi satu kasus hukum, tidak jarang bisa terjadi
penerapan 2 aturan atau lebih pada kasus tersebut. Pertentangan
antara norma dalam undang-undang akan menjadi sebuah persoalan.
Maka diperlukan penyelesaian konflik norma untuk mengetahui norma
mana yang harus diterapkan.
Ada tipe penyelesaian yang berkaitan dengan asas preferensi
hukum (asas lex superior, lex spesialis, lex posterior) yaitu :

Pengingkaran
Langkah yang memperthankan bahwa tidak ada konflik
norma antara dua aturan yang berlaku.
Reinterpretasi
Dibedakan menjadi dua cara, yang pertama dengan
mengikuti asas-asas preferensi, menginterpretasikan
kembali norma yang yang utama dengan lebih fleksibel,
dan cara yang kedua dengan menginterpretasi norma
preferensi dan kemudian menerapkan norma tersebut

dengan menyampingkan norma yang lain.


Pembatalan
Ada 2 macam yaitu abstrak formal dan praktikal.
Pemulihan
Mempertimbangkan pemulihan dapat membatalkan satu
ketentuan.

5. PENALARAN INDUKSI
Langkah-langkah

yang

dilakukan

dalam

penalaran

induksi

di

pengadilan adalah merumuskan fakta, mencari hubungan sebab akibat,


dan mereka-reka probabilitas. Langkah induksi ini dibatasi oleh asas
hukum pembuktian. Selain itu hubungan kausal juga memainkan peranan
penting dalam penanganan perkara. Dalam hukum, hubungan kausal

sangat

tergantung

dari

jenis

hukum

atau

macam-macam

hukum.

Kemudian probabilitas, probabilitas dalam hukum tergantung dari standar


pembuktian. Probabilitas merupakan konsep sentral dalam penalaran
induktif.

6. DIALEKTIK DAN RETORIKA


Terdapat beberapa tahapan argumentasi dialektik dan retorik.
Langkah dialektik diawali dengan paparan argumentasi yang saling
berbeda untuk menyusun dalil-dalil hukum. Langkah selanjutnya adalah
menyusun argumentasi untuk memtahkan dalil lawan. Berdasarkan
argumentasi tersebut disusunlah legal opini. Langkah retorik diawali
dengan usaha menarik simpati kemudian langkah selanjutnya adalah
langkah argumentasi yang sampai kepada legal opini.
7. LEGAL REASONING DALAM COMMON LAW SYSTEM
Dalam sistem Anglosaxon terdapat 2 tipe argumentasi hukum,
yaitu :
a. Berdasarkan preseden, ada 3 langkah :
Identifikasi landasan yang tepat atau preseden
Identifikasi kesamaan dan perbedaan yang didasarkan
kepada preseden dengan kasus yang dihadapi atau
dengan

menganalisis

fakta

dibandingkan

atau

dipertentangkan dengan preseden.


Tentukan apakah dari kesamaan-kesamaan

atau

perbedaan faktual lalu memutuskan apakah mengikuti


preseden atau tidak.
b. Berdasarkan aturan hukum
Pengundangan suatu

aturan

lazimnya

mendahului

kasus. Titik tolaknya adalah aturan bukan kasus.


Asas supremasi legislatif, sehingga hakim memainkan
peran yang sub-ordinasi, hakim tidak boleh merubah
bahasa aturan.

BAB IV. LANGKAH PEMECAHAN MASALAH HUKUM DAN LEGAL


OPINION
1. STRUKTUR ARGUMENTASI HUKUM
Tiga lapisan argumentasi hukum yang rasional adalah :
1) Lapisan logika
Lapisan ini masuk wilayah logika tradisional. Isu utama dalam
lapisan ini adalah apakah alur premis sampai kepada konklusi
dari suatu argumentasi itu logis. Langkah penalaran deduksi,
analogi, abduksi, dan induksi menjadi fokus.
2) Lapisan dialektik
Dengan dialektik, suatu argumentasi tidak monoton. Suatu
argumentasi diuji terutama dengan argumentasi pro-kontra.
Proses dialektik dalam argumentasi menguji kekuatan nalar
suatu argumentasi. Kekuatan nalar terletak pada kekuatan
logika. Dengan demikian dialektik berkaitan dengan logika.
3) Lapisan prosedur
Hukum acara merupakan aturan main dalam proses
argumentasi

dalam

penanganan

perkara

di

pengadilan.

Dengan demikian prosedur dialektik di pengadilan diatur oleh


hukum acara.
2. LANGKAH-LANGKAH

ANALISIS

HUKUM

(PEMECAHAN

MASALAH

HUKUM)
Fakta hukum bisa berupa perbuatan, peristiwa, atau keadaan.
Pengumpulan fakta hukum didasarkan pada ketentuan tentang alat bukti.
Pencarian kebenaran fakta hukum harus didasarkan pada ketentuanketentuan dan asas-asas hukum yang relevan.
Kemudian dengan pengklasifikasian hakekat permasalahan hukum.
Pertama-tama berkaitan dengan pembagian hukum positif. Hukum positif
diklasifikasikan

dalam

hukum

publik

dan

hukum

privat,

hakekat

permasalahan hukum dalam sistem peradilan kita berkaitan dengan


lingkungan pengadilan yang dalam penanganan perkara berkaitan dengan
kompetensi absolut pengadilan.

Identifikasi dan pemilihan isu hukum yang relevan membantu dalam


menyimpulkan fakta hukum. Isu hukum yang berisi pertanyaan fakta dan
pertanyaan tentang hukum. Pertanyaan tentang fakta pada akhirya
menyimpulkan fakta hukum yang sebenarnya yang didukung oleh alat
bukti. Dengan demikian identifikasi isu hukum berkaitan dengan konsep
hukum. Dari konsep hukum menjadi dasar, dipilah-pilah elemen pokok.
Dalam penemuan hukum yang berkaitan dengan isu hukum tidak
cukup hanya dengan berdasarkan norma hukum yang tertulis langsung
diterapkan pada fakta hukum. Maka dibutuh langkah rechtsvinding yang
menggunakan 2 teknik, yang pertama adalah teknik interpretasi dan yang
kedua adalah teknik penalaran atau konstruksi hukum yang meliputi
analogi, penghalusan atau penyempitan hukum, dan argumentum a
contrario. Fungsi dari rechtsvinding adalah menemukan norma konkrit
untuk diterapkan pada fakta hukum terkait.
Setelah menemukan norma konkrit maka langkah berikutnya adalah
menerapkan norma konkrit tersebut kepada fakta hukum.
3. MENULIS LEGAL OPINION
Dalam menulis legal opini, terdapat kerangka susunan yang dapat
dijadikan dasar penulisan legal opini, kerangka susunan tersebut yaitu :

Summary
Didalam summary harus memuat rumusan singkat fakta

hukum, daftar isu hukum, dan ringkasan legal opini.


Fakta hukum
Fakta harus dirumuskan secara lengkap tetapi tidak perlu

terlalu panjang yang berisi intisari dari fakta hukum tersebut.


Isu hukum
Isu hukum harus dirumuskan secara lengkap dan berurutan.

Setiap isu hukum diikuti dengan pertanyaan hukum.


Analisis isu hukum
Analisis dimulai dengan urutan isu hukum, pada tiap isu
ditelusuri ketentuan hukum, yurisprudensi, dan pendapat
akademis. Lalu menuliskan ketentuan hukum yang ditemukan
terkait isu hukum tersebut. Kemudian melakukan identifikasi
problematika

hukum

dan

memberikan

pendapat

atas

bagaimana ketentuan hukum tersebut diterapkan dalam isu

hukum tersebut.
Kesimpulan
Kesimpulan berisi tentang rumusan pendapat hukum yang
berkenaan dengan fakta hukum tersebut.

Dengan buku ini, para penstudi maupun praktisi hukum menjadi lebih
mengerti

dan

memahami

tentang

apa

dan

bagaimana

sebuah

argumentasi hukum itu dibentuk.


Pemahaman tentang penalaran logika dalam melihat suatu isu hukum
dibuat

menjadi

sistematis

dan

terkonsep.

Pembelajaran

tentang

argumentasi hukum yang kurang dalam kurikulum pendidikan hukum di


Indonesia membuat buku ini sangat bermanfaat bagi kalangan mahasiswa
dan praktisi hukum.
Menurut pandangan saya, buku argumentasi hukum ini sudah sangat
bagus dalam menjelaskan tiap-tiap aspek yang dibutuhkan dalam
membangun suatu argumentasi hukum. Saran yang dapat diberikan
kepada penulis buku, sebaiknya dalam setiap penulisan istilah hukum dari
bahasa asing disertai dengan arti dalam istilah hukum di Indonesia untuk
membantu pembaca dalam lebih memahami arti dari istilah hukum yang
dimaksud.