Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH BIOKIMIA

Integrasi Metabolisme

Disusun oleh
1.
2.
3.
4.
5.

Sohifatul Hikmah
Heny Susanti
Dynar Cahyaningtyas
Fitria Permatasari
Julita Situmorang

(14308141001)
(14308141007)
(14308141014)
(14308141015)
(14308141017)

Kelas Biologi B

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Tubuh kita merupakan suatu sistem terpadu dari organ,masing-masing mempunyai
persyaratan untuk makanan dan pemanfaatan energi. Semua perubahan energi yang terjadi
didalam sel hidup atau karena kegiatannya dinamakan metabolisme. Metabolisme itu sendiri
terdiri dari metabolisme karbohidrat, metabolisme lipid dan metabolisme protein.
Jalur jalur metabolisme rangkaian reaksi-reaksi kimia yang dikatalis oleh enzim-enzim.
Jalur metabolisme dibedakan atas katabolisme dan anabolisme, dan kedua macam jalur
metabolisme ini bertemu pada jalur pusat, yaitu siklus krebs. Bahan bakar yang kita peroleh
dari makanan dapat berupa karbohidrat, lipid, dan protein. Segala bentuk bahan bakar yang
masuk kedalam tubuh akan dicerna dan diserap. Sebagian besar makanan ini digunakan
dalam jalur-jalur metabolisme yang menghasilkan ATP, untuk memenuhi kebutuhan.
Kasus yang diambil untuk pembahasan metabolisme integrasi ini adalah ketika orang
berpuasa. Secara fisiologis puasa berarti membatasi asupan makanan dan minuman dari terbit
fajar sampai terbenam matahari agar dapat bertahan hidup, kita perlu menyimpan kelebihan
makanan yang kita makan dan menggunakan simpanan ini dalam keadaan puasa. Mekanisme
pengatur memandu berbagai senyawa melintasi jalur metabolisme yang berperan dalam
penyimpanan dan pemanfaatan bahan bakar. Proporsi makanan normal biasanya mengandung
karbohidrat 55-75%, lemak 15-30%, dan protein 10-15%.
Dalam kasus berpuasa tubuh tidak melakukan metabolisme secara normal, namun
diperlukan perpaduan (integrasi) antara metabolisme karbohidrat, lemak dan protein untuk
menghasilkan energi secara optimal. Mekanisme tersebut dikontrol oleh hormon, oleh
konsentrasi bahan bakar yang ada, dan oleh kebutuhan energi tubuh. Hormon utama yang
mengatur jalur metabolisme bahan bakar adalah insulin dan glukagon. Di hati, semua efek
glukagon berlawan dengan efek insulin, dan beberapa jalur yang diaktifkan oleh insulin
dihambat oleh glukagon. Dengan demikian, jalur metabolisme karbohidrat dan lemak
umunya di atur oleh perubahan rasio insulin atau glikogen.
Ketika kita makan sahur, bahan makanan yang pertama digunakan oleh tubuh sebagai
energi adalah karbohidrat dalam bentuk glukosa. Namun tidak semua karbohidrat tersebut

akan dipecah untuk menghasilkan energi, melainkan kelebihannya akan disimpan dalam
bentuk glikogen didalam jaringan hati atau otot. Ketika memasuki 5-6 jam setelah makan
sahur, maka tubuh kita akan merasa lemas dan pusing. Hal tersebut menunjukkan bahwa
glukosa yang terdapat didalam tubuh telah habis, secara otomatis hati akan memecah
glikogen yang akan diubah kembali ke dalam glukosa guna menghasilkan energi. Dalam
keadaan puasa degradasi yang terjadi hanya sampai pada glikogen. Degradasi lipid dan
protein hanya terjadi pada saat terjadinya kelaparan yang berkepanjangan.
Pada saat glikogen dalam tubuh telah habis (kelaparan), maka tubuh akan menggunakan
lemak yang disimpan dalam jaringan adiposa, dengan cara degradasi lipid. Ketika lemak
sudah habis, maka yang digunakan adalah protein yang terdapat didalam otot.
Berikut ini merupakan skema penyatuan (integrasi) dgradasi karbohidrat, lipid dan
protein:

B. Tujuan
1. Mengetahui macam macam metabolisme tubuh
2. Mengetahui proses metabolisme tubuh secara umum
3. Mempelajari metabolisme integrasi (metabolisme terpadu)
4. Mempelajari metabolisme pada kasus orang berpuasa

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Jalur metabolisme memiliki banyak titik kontrolnya. Fungsi mekanisme yang


kompleks ini adalah untuk menghasilkan respon bertahap terhadap stimulus dan
menimbulkan sensitivitas terhadap aneka ragam stimuli sehingga tercipta keseimbangan
antara alir melewati suatu reaksi atau tahap (atau rangkaian reaksi) dengan kebutuhan atau
pemakaian produk. Piruvat dehidrogenase adalah salah satu contoh enzim yang memiliki
banyak mekanisme pengangkut. Berapapun kadar insulin, enzim ini tidak akan dapat
diaktifkan secara penuh sekalipun tersedia produk namun tidak terdapat substrat.
Walaupun glikogen merupakan bentuk simpanan bahan bakar yang penting karena
kadar glukosa darah harus dipertahankan secara cermat, triasilgliserol dijaringan adiposa
secara kauntitatif merupakan simpanan bahan bakar yang utama didalam tubuh manusia.
Setelah makan, glukosa dan lemak dari makanan di simpan dalam jaringan adiposa sebagai
triasilgliserol. Bahan bakar ini dibebaskan selama puasa sebagai sember utama energi bagi
jaringan tubuh. Jangka waktu kita dapat bertahan hidup tanpa makan sangat bergantung pada
besarnya simpanan lemak tubuh kita. (Dawn B. Mark dkk. 2000 : 545)
Otak tidak dapat bertahan pada kadar glukosa darah yang lebih rendah, walaupun
untuk waktu singkat. Jadi, prioritas metabolisme yang pertama dalam keadaan kelaparan
adalah menyediakan glukosa yang cukup untuk otak dan jaringan lain (seperti sel darah
merah) yang sangat tergantung pada glukosa. Sumber potensial untuk pembentukan glukosa
lain adalah asam amino yang didapatkan dari pemecahan protein. Dengan demikian, prioritas
metabolisme yang kedua pada keadaan kelaparan adalah menyimpan protein. Proses
metabolisme yang menonjol adalah pemecahan triasilgliserol di jaringan adiposa an
glukoneogenesis oleh hati. (Strayer. 2000: 776)

BAB III
PEMBAHASAN

Dalam hal ini akan dibahas mengenai kasus puasa. Pada keadaan puasa, tubuh
melakukan metabolisme yang terpadu (integrasi metabolisme) untuk memenuhi kebutuhan
energi yang dibutuhkan oleh tubuh.
1. Pada saat sahur
Satu jam setelah makan sahur, kadar glukosa dalam darah meningkat, energi yang
terbentuk dapat digunakan secara maksimal sekitar 4-5 jam, maka insulin meningkat dan
terjadi pengubahan glukosa dalam bentuk glikogen sebagai simpanan bahan bakar dalam
jaringan hati atau otot. Glikogen merupakan bahan makanan darurat yang menghasilkan
glukosa untuk membentuk ATP dalam keadaan tidak ada oksigen atau apabila aliran darah
terbatas.
Perubahan glukosa menjadi glikogen disebut proses glikogenesis.
Proses glikogenesis adalah sebagai berikut :

1. Glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat (reaksi yang lazim terjadi
juga pada lintasan glikolisis). Di otot reaksi ini dikatalisir oleh heksokinase sedangkan
di hati oleh glukokinase.
2. Glukosa 6-fosfat diubah menjadi glukosa 1-fosfat dalam reaksi dengan bantuan
katalisator enzim fosfoglukomutase. Enzim itu sendiri akan mengalami fosforilasi
dan gugus fosfo akan mengambil bagian di dalam reaksi reversible yang
intermediatnya adalah glukosa 1,6-bifosfat
Enz- P + Glukosa 6-fosfatEnz + Glukosa 1,6-bifosfatEnz- P + Glukosa 1-fosfat
3. Selanjutnya glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin trifosfat (UTP) untuk membentuk
nukleotida aktif uridin difosfat glukosa (UDPGlc). Reaksi ini dikatalisis oleh enzim
UDPGlc pirofosforilase.
UDPGlc + PPiUTP + Glukosa 1-fosfat
4. Hidrolisis pirofosfat inorganic berikutnya oleh enzim pirofosfatase inorganik akan
menarik reaksi kearah kanan persamaan reaksi.
5. Dengan kerja enzim glikogensintaseAtom C1 pada glukosa yang diaktifkan oleh
UDPGlc membentuk ikatan glikosidik dengan atom C4 pada residu glukosa terminal
glikogen, sehingga membebaskan uridin difosfat. Molekul glikogen yang sudah ada
sebelumnya (disebut glikogen primer) harus ada untuk memulai reaksi ini. Glikogen
primer selanjutnya dapat terbentuk pada primer protein yang dikenal sebagai
glikogenin.
UDP + (C6)n+1 UDPGlc + (C6)n
Glikogen

Glikogen

2. Keadaan Berpuasa (4 -5 jam )


Setelah tubuh mengonsumsi makanan (makan sahur), energi yang terbentuk
dapat digunakan secara maksimal sekitar 4-5 jam. Kemudian menurun seiring dengan
oksidasi atau pengubahan glukosa menjadi bentuk simpanan bahan bakar oleh
jaringan. Dalam keadaan ini hati mempertahankan kadar glukosa darah selama kita
berpuasa sehingga jaringan yang bergantung pada glukosa tidak mengalami
kekurangan energi. Dua mekanisme yang berperan dalam proses ini adalah
glikogenolisis dan glikoneogenesis. Hormon yang berperan adalah insulin dan
glucagon. Bila puasa berlanjut glukoneogenesis menjdi lebih penting sebagai sumber
glukosa darah. Sekitar 30 jam berpuasa simpanan glikogen dalam hati habis, sehingga
glukoneogenesis adalah satu-satu nya sumber glukosa darah.

Glukoneogenesis terjadi jika sumber energi dari karbohidrat tidak tersedia


lagi. Maka tubuh akan menggunakan lemak sebagai sumber energi. Jika lemak juga
tidak tersedia, barulah memecah protein untuk energi. Sesungguhnya protein berperan
pokok sebagai pembangun tubuh. Jadi bisa disimpulkan bahwa glukoneogenesis
merupakan proses pembentukan glukosa dari senyawa-senyawa non karbohidrat, bisa
lipid maupun protein.
Prekursor pada glukoneogenesis adalah laktat, gliserol dan asam amino,
terutama alanin. Laktat dihasilkan oleh glikolisis anaerobik di jaringan otot yang
sedang berkerja atau sel darah merah, gliserol dibebaskan dari simpanan triasilgliserol
di jaringan adiposa dan asam amino berasal dari asam amino di otot yang mungkin
berasal dari penguraian protein otot.
a. Jalur Glukoneogenesis
Glukoneogenesis berlangsung melalui suatu jalur yang merupakan kebalikan
dari banyak, tetapi tidak semua langkah glikolisis
1. Perubahan piruvat menjadi fosfoenolpiruvat
Pada glikolisi, fosfoenolpiruvat diubah menjadi piruvat oleh piruvat
kinase. Pada glukoneogenesis, diperlukan serangkaian langkah untuk
menyelesaikan kebalikan dari reaksi ini. Piruvat mengalami karboksilasi oleh
piruvat karboksilase untuk membentuk oksaloasetat. Enzim ini yang
memerlukan biotin, adalah katalisator reaksi anaplerotik pada siklus asam
trikarboksilat. Pada glukoneogenesis, reaksiini melengkapi lagi oksaloasetat
yang digunakan untuk sintesis glukosa.
CO2 yang ditambahkan ke piruvat untukmembentuk oksaloasetat
dibebaskan oleh fosfoenolpiruvat karboksikinse(PEPCK) dan dihasilkan
fosfoenolpiruvat. Untuk reaksi ini, GTP merupakan sumber energi serta
sumber gugus fosfat fosfoenolpiruvat. Enzim-enzim ini mengkatalisis kedua
langkah ini terletak

di dua kompartemen

subselyang berbeda. Piruvat

karboksilase dijumpai di mitokondria.Padaberbagi spesies, fosfoenolpiruvat


karbokilse karboksikinse terletakdi sitosol atau mitokondria, atau tersebar di
keduakompartemenini. Pada manusia, enzim ini trsebar hampir sama banyak
dimasing-masing kompartemen.
Oksaloasetat yang dihasilkan dari piruvat oleh piruvat karboksilse atau
dari asam amino yangmembentuk zat antara pada siklus asam trikarboksilat,
tidak mudah menembus membran mitokondria. Oksaloasetat mengalami
dekarboksilasi menjadi fosfoenolpiruvat karboksikinase mitokondria, atau
diubah manjadi malat atau aspartat. Perubahanoksaloasetat menjadimalat

memerlukan NADH. Fosfoenolpiruvat, malat, aspartat dapat dipindahkan ke


dalam sitosol.Setelah menmbus membranmitokondria dan masuk kedalam
sitosol,malat dan asprtat diubah kembalimejadioksalosetat oleh kebalikan dari
reaksi yang dijelaskan.Perubahan malat menjadi oksaloasetat menghasilkan
NADH. Apakah oksaloasetat dipindahkan menembus membranmitokondria
sebagaimalat atau aspartat tergantung pada kebutuhan akan ekuivalen reduksi
di sitosol. NADH diperlukan untuk mereduksi1,3-bisfosfogliserat menjadi
gliseraldehida3-fosfat selama glukoneogenesis.
2. Perubahan Fosfoenolpiruvat menjadiFruktosa 1,6-bisfosfat
Langkah glukoneogenesis selanjtnya berlangsung di dalamsitosol.
Fosfoenolpiruvat membalikkan langkah pada glikolisis untukmembentuk
gliserildehida3-fosfat yang terbentuk, 1 diuabah menjdi dihidroksiseton
fosfat(DHAP). Kedua triosa fosfatni, DHAP dan gliserildehida3-fosfat,
berkondenssi membentuk fruktosa1,6-bisfosfatmelaluikebailkan dari reaksi
aldolase.Karena

membentuk

DHAP,gliserol

masuk

ke

dalam

jalur

glukoneogeneis pada tahap ini.


3. Perubahan Fruktosa1,6-bisfosfat menjdi fruktosa6-fosfat
Enzim fruktosa1,6-bisfosfatase membebaskan fosfat inorganik dari
fruktosa 1,6 bisfosfatuntukmembentuk fruktosa6-fosfat. Enzim glikolitik,
fosfofruktokinase-1 tidak mengkatalisi reaksiini melainkan suatu reaksi
yangmelibatkan ATP. Dalam reaksi glukoneogenik berikutnya, fruktosa 6fosfat di ubah menjadi gluksa 6-fosfat olehisomerase yang sama dengan
isomerase yang digunakn pada glikolisis.
4. Perubahan Glukosa 6-Fosfat menjadi Glukosa
Glukosa 6-Fosfatase memutuskan Pi dari glukosa 6-fosfat dan
membebaskan glukosa bebasuntukmasukke dalam darah. Enzim glikolitik
glukokinase, yang mengkatalisi reaksisebaliknya memerlukanATP. Glukosa 6fosfatase terletak dimembran retikulum endoplasma. Glukosa 6-fosfat
digunakan tidak saja pada glukoneogenesis, tetapi juga untuk menghasilkan
glukosadarah dai pemecahan glikogen hati.
Secara ringkas, jalur glukoneogenesis dari bahan lipid maupun protein
dijelaskan sebagai berikut:
a. Lipid terpecah menjadi komponen penyusunnya yaitu asam
lemak dan gliserol. Asam lemak dapat dioksidasi menjadi asetil
KoA. Selanjutnya asetil KoA masuk dalam siklus Krebs.
Sementara itu gliserol masuk dalam jalur glikolisis.

b. Untuk protein, asam-asam amino penyusunnya akan masuk ke


dalam siklus Krebs

Ringkasan jalur glukoneogenesis (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)

Degradasi Karbohidrat
Apabila glukosa dari bahan bakar (makan sahur tidak dapat mencukupi kebutuhan

maka glikogen harus dipecah menjadi glukosa untuk mendapatkan sumber energi. Proses ini
dinamakan dengan glikogenolisis.
b. Glikogenolisis
Glikogenolisis seakan-akan kebalikan dari glikogenesis akan tetapi sebenarnya tidak
demikian.Dalam glikogenolisis, duahormon yang mengendalikan glikogenolisis adalah
peptida, glukagon dari pankreas danepinefrin dari kelenjar adrenal.Glukagon dilepaskan dari
pankreas dalam menanggapi glukosa darah rendah danepinefrin dilepaskan sebagai respons
terhadap ancaman atau stres. Kedua hormon bertindak atas enzim glikogen fosforilase untuk
merangsang untuk memulaiglikogenolisis dan menghambat sintetase glikogen (glikogenesis
berhenti).
Untuk memutuskan ikatan glukosasatu demi satu dari glikogen dibutuhkan enzim
fosforilase. Enzim ini spesifik untuk proses fosforolisis rangkaian 14 glikogen untuk
menghasilkan glukosa 1-fosfat. Residu glukosil terminal pada rantai paling luar molekul
glikogen dibuang secara berurutan sampai kurang lebih ada 4 buah residu glukosa yang
tersisa pada tiap sisi cabang 16.
(C6)n + Pi (C6)n-1 + Glukosa 1-fosfat
Glikogen

Glikogen

Glukan transferase dibutuhkan sebagai katalisator pemindahan unit trisakarida


dari satu cabang ke cabang lainnya sehingga membuat titik cabang 16 terpajan. Hidrolisis
ikatan 16 memerlukan kerja enzim enzim pemutus cabang (debranching enzyme) yang
spesifik. Dengan pemutusan cabang tersebut, maka kerja enzim fosforilase selanjutnya dapat
berlangsung.

Enzim pemutus cabang yang mengkatalis pengeluaran empat residu yang terletak paling
dekat dengan titik cabang memiliki dua aktivitas katalitik : enzim ini bekerja sebagai 4:4
transferase dan 1:6-glukosidase. Sebagai 4:4 transferase, enzim pemutus cabang mula-mula
mengeluarkan sebuah unit yang mengandung 3 residu glukosa dan menambahkannya ke
ujung rantai yang lebih panjang melalui suatu ikatan -1,4. Suatu residu glukosil yang tersisa
di cabang1,6 dihidrolisisoleh amilo-1,6 glukosidase dari enzim pemutus cabang yang akan
menghasilkan glukosa bebas.
Glukosa yang terbentuk, akan digunakan sebagai bahan bakar metabolisme. Untuk
menggunakan glukosa dalam bentuk energi, glukosa harus mengalami tahap glikolisis.
Glikolisis adalah rangkaian reaksi yang mengubah glukosa menjadi piruvat.

c. Glikolisis
Glikolisis merupakan suatu lingkup dari metabolisme karbohidrat dimana
terjadinya tahap-tahap penguraian glukosa menjadi piruvat.Proses glokolisis ini terjadi
dalam sitosol. Glikolisis merupakan suatu reaksi oksidasi glukosa menjadi energi (ATP)
(adenosine triphosphate) yang merupakan molekul dasar penghasil energi di dalam
tubuh.Untuk dapat menghasilkan energi, proses metabolisme glukosa akan berlangsung
melalui 2 mekanisme utama yaitu melalui proses anaerobik dan proses aerobik.Jika di
dalam darah terdapat oksigen yang cukup, maka akan terjadi respirasi aerob dari proses
glikolisis sehingga satu molekul Asetil yang masuk kedalam siklus kreb akan
menghasilkan 2 Piruvat, 2 NADH, dan 2 ATP, hasil akhirnya 8 ATP. Tetapi, apabila
didalam darah tidak tersedia oksigen yang cukup, maka akan terjadi reaksi respirasi
anaerob, dimana 2 NADH akan digunakan untuk fermentasi sehingga ATP bersih yang
diperoleh adalah 2 ATP.
Reaksi umum pada glikolisis dapat ditulis sebagai berikut :
Glukosa + 2Pi+ 2ADP + 2NAD+ 2piruvat + 2ATP + 2NADH + 2H+ + 2H2O
(Stryer, 2000 : 490).
Jadi, hasil dari proses glikolisis adalah: 2 piruvat, 2 ATP, 2 NADH.
1. Dekarboksilasi oksidatif asam piruvat
Dekarboksilasi oksidatif asam piruvat merupakn persambungan antara glikolisis dan
siklus asam sitrat (siklus krab). Piruvat yang dihasilkan dari proses glikolisis yang terletak
di dalam sitoplasma akan diubah menjadi asetil Ko-A yang selanjutnya masuk kedalam
siklus kreb

Hasil D.O : asam piruvat adalah2 Asetil Ko-A, 2CO2, 2NADH.

2. Siklus Krebs
Untuk mengubah Asetil Ko-A menjadi energi, Asetil Ko-A harus melalui tahap
siklus kreb. Siklus kreb merupakan jalur metabolisme bersama untuk oksidasi
makromolekul seperti protein, lipid, dan karbohidrat. Sebagian besar molekul yang masuk
daur asam sitrat sebagai Asetil Ko-A.
Siklus Krebs disebut juga siklus asam trikarboksilat karena siklus ini
menghasilkan senyawa yang mempunyai 3 gugus karboksil.Siklus Krebs terjadi di dalam
matriks mitokondria.Siklus Krebs diawali dengan masuknya Asetil CoA (beratom C2)
yang bereaksi dengan asam oksaloasetat (beratom C4) menghasilkan Asam Sitrat
(beratom C6) yang dikatalis oleh enzim sitrat sintase.

Tahapan pada siklus Krebs antara lain :


1) Reaksi pertama pada siklus kreb adalah kondensasi Asetil Ko-A dengan
Oksaloasetat membentuk sitrat dengan dikatalis enzim sitratsintase.
2) Sitrat diubah menjadi isositrat melalui sis-akonitat. Isomerasi sitrat
berlangsung melalui tahap dehidrasi diikuti dengan hidrasi dengan dikatalis
enzim akonitase.

3) Tahap selanjutnya adalah isositrat terdehidrogenasi menjadi -ketoglutarat dan


CO2 oleh enzim isositrat dehidrogenasi.
4) -ketoglutarat mengalmi dekarboksilasi oksidatif membentuk suksinil-KoA
dan CO2 dengan dikatalis enzim kompleks -ketoglutarat dehidrogenase.
5) Suksinil KoA yang terbentuk akan dihidrolisis menjadi suksinat bebas dengan
dikatalis enzim suksinil KoA sintetase. Suksinat kemudian diubah menjadi
Oksaloasetat melalui tiga langkah. Yaitu dehidrogenase, hidrasi, dan
dehidrogenase ke-2.
6) Dehidrogenase suksinat menjadi fumarat. Suksinil KoA dioksidasi menjadi
fumarat oleh enzim suksinat dehidrogenase.
7) Hidrasi fumarat menjadi malat dikatalis oleh enzim fumarat hidratase atau
lebih umum dikenal sebagai fumarase.
8) Malat mengalami dehidrogenase membentuk Oksaloasetat dengan dikatalis
enzim malat dehidrogenase.
Dari 1 Asetil KoA yang masuk ke seluruh rangkaian siklus Krebs, diperoleh
hasil yaitu: 4 molekul CO2, 6 molekul NADH2, 2 molekul FADH2, dan 2 molekul
ATP.
3. Rantai Transfer elektron dan fosforilasi oksidatif
Sel dituntut untuk menghasilkan energi untuk mereka gunakan sendiri. Energi
tersebut didapat dari hasil ekstraksi energi yang terkandung di dalam ikatan-ikatan kimia
pada molekul makanan dengan cara mengombinasikan molekul makanan dengan oksigen
di dalam mitokondria sel. Molekul-molekul makanan yang digunakan adalah glukosa dari
metabolisme karbohidrat, asam amino dari metabolisme protein, dan asam lemak dan
gliserol dari metabolisme lemak.
Proses ketika molekul makanan dikombinasikan dengan oksigen, yang kemudian
menghasilkan energi, disebut fosforilasi oksidatif. Proses ini memerlukan beberapa
enzim, yang bekerja secara berurutan di dalam mitokondria. Hasil akhirnya adalah
pembentukan molekul adenosin trifosfat (ATP) yang kaya energi. ATP tersusun atas basa
nitrogen adenosin, gula ribosa, dan tiga molekul suatu ikatan berenergi tinggi, yang
apabila diputus akan membebaskan sekitar 7 kkal per mol energi yang dapat digunakan
oleh sel. Reaksi fosforilasi oksidatif adalah sebagai berikut :

Adapun ATP yang didapatkan setiap proses degradasi 1 molekul glukosa adalah sebagai
berikut :

Degradasi lipid
Lipid yang terdapat pada makanan sebagian besar berupa lemak. Pencernaan
lemak terutama terjadi dalam usus, karena dalam mulut dan lambung tidak terdapat
enzim lipase yang dapat menghidrolisis lemak. Dalam usus, lemak diubah dalam
bentuk emulsi, sehingga mudah berhubungan dengan enzim steapsin dalan cairan
pankreas. Hasil akhir proses pencernaan lemak ialah asam lemak, gliserol,
monogliserida, digliserida serta sisa trigliserida.
Lipid terpecah menjadi komponen penyusunnya yaitu asam lemak dan
gliserol. Asam lemak dapat dioksidasi menjadi asetil KoA. Selanjutnya asetil KoA
masuk dalam siklus Krebs. Sementara itu gliserol masuk dalam jalur glikolisis.
Untuk protein, asam-asam amino penyusunnya akan masuk ke dalam siklus Krebs.
Aktivasi Asam Lemak
Asam lemak mula-mula harus diubah menjadi suatu zat antara aktif sebelum dapat
dikatabolisme. Aktivasi asam lemak di sitoplasma. Dengan adanya ATP dan koenzim

A, enzim asil-KoA sintetase (tiokinase) mengatalisis perubahan asam lemak (atau


asam lemak bebas) menjadi asam lemak aktif atau asil-KoA yang menggunakan satu
fosfat berenergi tinggi disertai pembentukan AMP ( adenosine mono pospat ) dan
PP(piropospat). PP dihidrolisis oleh pirofosfatase anorganik.

Reaksi

Oksidasi, berlangsung dalam 4 tahap yaitu :

1. Dehidrogenasi I

Yaitu dehidrogenasi asam lemak-CoA yang sudah berada di dalam


mitokondrionoleh enzim acyl-CoA dehidrogenase menghasilkan senyawa
enoyl-CoA. Pada reaksi ini, FAD (flavin,adenin dinukleotida) yang bertindak
sebagai koenzim direduksi menjaadi

FADH 2

. Dengan mekanisme

fosforilasi bersifat oksidasi melalui rantai pernapasan, suatu molekul


F ADH 2

, dapat menghasilkan 2 molekul ATP.

2. Hidratasi
Yaitu ikatan rangkap pada enoyl-CoA di hidratasi menjadi 3-hidroxyacyl-CoA
oleh enzim enoyl-CoA hitratase.

3. Dehidrogenasi II

Yaitu

dehidrogenase

3-hidroxyacyl-CoA

hidroxyacylC oA dehidrogenase
menjadi

oleh

enzim

dengan NAD sebagai koenzimnya

ketoacylCoA . NADH yang terbentuk dari NAD dapat

dioksidasi kembali melalui mekanisme fosforilasi oksidatif yang dirangkaikan


dengan rantai pernapasan menghasilkan 3 molekul ATP.

4. Pemecahan molekul dengan enzim

ketoacylCoA

thiolase. Pada reaksi

ini satu molekul ketoacyl-CoA menghasilkan satu molekul asetyl CoA dan sisa
rantai asam lemak dalam bentuk CoA-nya, yang mempunyai rantai dua atom
karbon lebih pendek dari semula.
Proses degradasi asam lemak selanjutnya adalah pengulangan mekanisme

oksidasi secara berurutan samapai panjang rantai asam lemak tersebut habis dipecah menjadi
molekul acetyl-CoA.
Apabila asam lemak tersebut berupa asam palmitat (C16) menghasilkan 8 molekul
acetyl-CoA (C2) dengan melalui 7 kali
dihasilkan oleh

oksidasi. Kemudian asetyl yang telah

oksidasi akan masuk ke siklus kreb

Dalam satu kali proses oksidasi- asam lemak (asam palmitat) terjadi reduksi FAD
menjadi FADH, dengan mekanisme fosforilasi bersifat oksidasi yang setara dengan 2 molekul
ATP, dan juga terjadi reduksi NAD+ menjadi NADH dengan mekanisme fosforilasi bersifat
oksidasi yang setara dengan 3 molekul ATP, dalam asam lemak (asam palmitat) terjadi 7 kali
oksidasi- sehingga menhasilkan 7 FADH dan 7NADH yang setara dengan 35 molekul ATP.

Setelah mengalami satu kali oksidasi- yang menghasilkan asetil koenzim-A yang akan
masuk kedalam daur krebs yang akan menghasilkan 12 molekul ATP. Jadi untuk asam
palmitat yang dioksidasi yang menghasilkan 8 asetil koenzim-A dapat menghasilkan 96 ATP,
dengan demikian, oksidasi sempurna satu satu molekul asam palmitat menjadi CO2 + H2O
menhasilkan 131ATP yang dikurangi 2 ATP untuk aktivasi asam lemak sebelum mangalami
oksidasi jadi keseluruhan oksidasi menghasilkan 129 ATP dan persamaan reaksinya adalah :

Degradasi Protein
Degradasi protein merupakan proses pemecahan protein dari molekul kompleks

menjadi molekul yang sederhana atau disebut juga proses penguraian senyawa protein
menjadi asam amino.
Tahap awal reaksi metabolisme asam amino melibatkan pelepasan gugus amino,
kemudian perubahan kerangka karbon pada molekul asam amino. Dua proses utama
pelepasan gugus amino, yaitu transaminase dan deaminasi.
1. Transaminasi
Transaminasi adalah proses

katabolisme

asam amino yang

melibatkan pemindahan gugus amino dari satu asam amino ke alpha


ketoglutarat sehingga dihasilkat senyawa glutamats. Dalam reaksi ini
gugus amino dari suatu asam amino dipindahkan kepada salah satu dari
tiga senyawa keto yaitu asam piruvat, alpha ketoglutarat atau
oksaloasetat, sehingga senyawa keto ini diubah menjadi asam amino.
Sedangkan asam amino semula diubah menjadi asam keto. Dalam reaksi
transaminasi, dibantu oleh dua enzim yang penting dan bertindak sebagai
katalis dalam reaksi tersebut. Yaitu, alanine transaminase dan glutamate
transaminase.

Reaksi ini bersifat reversible, yang berarti bereaksi secara bolak balik
Antara reaktan dan produk reaktan. Pada reaksi ini, tidak terdapat gugus
amino yang hilang karena gugus amino yangdilepaskan oleh asam amino
diterima oleh asan keto.
Pirodoksalfosfat merupakan bagian penting active site transaminase
dan banyak enzim lainnya dengan subsstrat asam amino. Pada semua

reaksi asam amino yang memerlukan piridoksalfosfat. Langkah pertama


adalah pembentukan zat antara yang terikat pada enzim. Selama
transaminase koenzim yang terikat bertindak sebagai pengemban gugus
asam amino, seperti pada gambar diatas.
Tiap-tiap transaminase adalah spesifik untuk pasangan asam amino
dan asam keto tertentu sebagai satu pasang substrat tetapi tidak spesifik
untuk pasangan lainnya, yang mungkin apa saja dari bermacam-macam
asam amino dan asam keto yang sesuai. Karna alanine juga merupakan
substrat untuk glutamate transaminase, semua nitrogen amino dari asam
amino yang dapat mengalami transaminase dapat dikonsentrasikan dalam
glutamate. Hal ini penting karena asam glutamate adalah satu satunya
asam amino pada jaringan mamalia yang mengalami deaminasi oksidatif
dengan kecepatan yang berarti. Pembentukan ammonia dari gugus alfa
amino dengan demikian terjadi melalui perubahan menjadi nitrogen alfa
amino dan L-glutamat.
Sebagian besar asam amino mengalami transaminase, kecuali lisin,
treonin dan asam amino siklik, prolin dan gugus hidroksiprolin.

2. Deaminasi
Asam amino dengan reaksi transaminase dapat diubah menjadi
asam glutamat. Dalam beberapa sel misalnya dalam bakteri, asam
glutamate dapat mengalami proses deaminasi oksidatif yang mengunakan
glutamate dehydrogenase sebagai katalisnya.
Asam glutamate + NAD+
Asam Alpha ketoglutarat + NH4+ +
NADH + H+
Dalam proses ini asam glutamate melepaskan gugus amino dalam
bentuk NH4+. Selain NAD+ glutamate dehydrogenase dapat pula
menggunakan NADP+ sebagai akseptor elektronnya. Oleh karena asam
glutamate merupakan hasil akhir dari proses transaminase, maka
glutamate dehydrogenase merupakan enzim yang penting dalam
metabolisme asam amino.
Dua jenis dehydrogenase lain yang penting adalah L-Asam amino
oksidase dan D-asam amino oksidase. Kedua enzim tersebut mempunyai
FAD sebagai gugus prostetik dan terdapat dalam sel hati. Oleh karena D-

asam amino jarang terdapat pada tubuh manusia, maka fungsi D-asam
amino oksidase belum dapat diketahui dengan jelas.
L-Asam amino oksidase adalah enzim flavoprotein yang
mempunyai gugus prostetik flavinmononukleotida (FMN). Enzim ini
terdapat dalam sel hati pada endoplasmik retikulum. Sedangkan D-Asam
amino oksidase adalah enzim flavoprotein dan merupakan katalis pada
reaksi :
D-R-CH-COOH+E-FAD R-C-COOH+NH3+E-FADH2
|
||
NH2
O

Disamping melalui metabolisme gugus amino, asam amino dapat mengalami


reaksi-reaksi yang menyebabkan berubahnya rantai karbon. Siklus krebs dibawah ini
menggambarkan metabolisme rantai karbon asam amino yang saling berkaitan dengan
senyawa antara pada siklus krebs tersebut.
Berkaitannya asam amino dengan senyawa antara pada siklus asam sitrat
(siklus krebs) adalah karena asam-asam amino terbagi menjadi asam amino ketogenik
dan glukogenik yang pada proses katabolismenya diubah atau masuk menjadi
senyawa antara dalam siklus asam sitrat tersebut.
Asam asam amino dibedakan menjadi asam amino ketogenik dan asam
amino glukogenik. Asam amino glukogenik adalah asam amino yang dapat masuk ke
jalur produksi piruvat menjadi senyawa antara seperti alpha ketoglutarat dan
ketoglutarat. Sedangkan asam amino ketogenik adalah asam amino yang hanya dapat
masuk menjadi senyawa antara asetil KoA atau asetoasetik KoA. Asam amino
glukogenik adalah sebagian besar asam amino kecuali lisin dan leusin.

Setelah memasuki siklus kreb maka jumlah ATP yang diperoleh dapat dihitung
melalui beberapa jalur , sebagai berikut :
a. Jalur Piruvat
Asam amino yang masuk melalui jalur ini antara lain alanin, sistein ,Glisin ,
treonin, triptofan. Misalnya alanin yang diubah melalui reaksi transaminase menjadi
piruvat. Sehingga jalur ini menghasilkan energi sebagai berikut :
Dari Piruvat
asetil Ko-A tidak menghasilkan energi, Sitrat
tidak menghasilkan energi, isositrat

keteneoglutarat menghasilkan NADH,

suksinil KoA suksinat menghasilkan ATP, Suksinat


FADH2, Fumarat

isositrat

Fumarat menghasilkan

malat mengahasilkan NADH, Oksaloasetat

asetil Ko-A tidak

menghasilkan ATP.
Total semua energi yang dihasilkan :
3 NADH : 9 ATP
1 ATP = 1 ATP
1 FADH2 = 2 ATP
Jumlah = 12 ATP
b. Lintas Asetoasetil KoA
Kelompok dari kerangka karbon asam amino fenilalanin, tirosin, lisin,
triptofan, dan leusin menghasilkan asetoasetil KoA, yang kemudian diubah menjadi
asetil KoA.Dua lintas di dalam rangkaian ini perlu diperhatikan secara khusus. Lintas
dari triptofan menuju asetil koA merupakan lintas yang paling kompleks diantara
lintas katabolisme asam amino di dalam jaringan hewan. Beberapa senyawa antara
pada katabolisme triptofan merupakan pemula bagi biosintesis biomolekul lain yang
penting, termasuk serotonin, suatu neurohormon, dan asam nikotinat. Lintas katabolik

triptofan

karenanya

memiliki

sejumlah

percabangan

yang

memungkinkan

pembentukan beberapa produk lain dari pemula tunggal triptofan. Lintas kedua yang
patut

diperhatikan

dalam

kelompok

ini

adalah

yang

berasal

dari

fenilalanin.Fenilalanin dan produk oksidasinya tirosin diuraikan menjadi dua bagian,


keduanya dapat memasuki siklus asam sitrat, tetapi pada titik yang berbeda.Empat
dari sembilan atom karbon fenilalanin dan tirosin menghasilkan asetoasetat bebas,
yang lalu diubah menjasi asetil KoA. Bagian empat karbon kedua dari tirosin dan
fenilalanin diperoleh kembali sebagai fumarat, yaitu suatu senyawa antara dari siklus
asam sitrat. Delapan dari sembilan atom karbon dari kedua asam amino ini, memasuki
siklus asm sitrat Sedangkan satu karbon sisanya terlepas sebagai CO2.
Fenilanin setelah mengalami hidroksilasi menjadi tirosin, juga merupakan
pemula dari hormon tiroid : tiroksin, hormon adrenalin, dan noradrenalin yang
dikeluarkan melalui medula adrenal. Enzim pertama pada lintasan fenilalanin
merupakan fenilalanin 4-monooksigenase (juga dinamakan fenilalanin hidroksilase)
yang

mengkatalis

hidroksilasi

fenilalanin

menjadi

tirosin.

monooksigenase memasukkan satu diantara kedua atom oksigen O 2

Fenilalanin
ke dalam

molekul fenilalanin, membentuk gugus hidroksil tirosin. Atom oksigen lainnya


direduksi menjadi H2O oleh NaDH yang juga diperlukan pada reaksi ini.
Fenilalanin + NADH + H+ + O2 -- tirosin + NAD + H2O
Setelah terbentuk tirosin, dengan bantuan tirosin transaminase akan
membentuk 4-hidroksifenilpiruvat. Gugus amino pada tirosin akan ditangkap oleh ketoglutarat dan selanjutnya membentuk glutamat. 4-hidroksifenilpiruvat tersebut
akan diubah menjadi homogentisat dengan bantuan enzim 4-hidroksifenilpiruvatdioksigenase. Enzim ini akan mengikat O2 dan melepaskan CO2. Kemudian
homogentisat akan diubah menajdi 4-meleilasetoasetat dengan bantuan enzim 1,2
dioksigenase monooksigenase. Enzim tersebut mengikat O2 dan melepaskan CO2.4maleilasetoasetat

dibah

menjadi

4-fumarilasetoasetat

dengan

bantuan

maleilasetoasetat isomerase. Selanjutnya 4-fumarilasetoasetat akan diubah susunan


karbonnya menjadi asetoasetat dan fumarat melalui enzim fumarilasetoasetatase.
Asetoasetat akan diubah menjadi asetoasetil KoA dengan bantuan enzim asam 3-keto
transferase. Apabila tedapat kelainan genetik pada metabolisme asam amino sebagai
akibat telah terjadi mutasi, enzim tersebut tidak akan aktif. Kerusakan ini menyebakan
penyakit genetik fenilketonuria. Maka dari itu, digunakanlah lintas bantuan

metabolisme fenilalanin.Pada lintas bantuan ini, fenilalanin mengalami transaminasi


dengan -ketoglutarat yang menghasilkan fenilpiruvat.
Namun, fenilpiruvat tidak dapat diuraikan lebih lanjut, merupakan senyawa
buntu. Molekul ini (termasuk fenilalanin) akan terakumulasi di dalam darah dan
jaringan, dan dikeluarkan ke dalam urin. Kelebihan fenilpiruvat di dalam darah pada
bayi/anak-anak akan menghambat pertumbuhan normal otak. Fenilketonuria (PKU)
merupakan salah satu kelainan genetik metabolisme yang ditemukan pertama pada
manusia.
Fenilalanin dan tirosin masing-masing menghasilkan dua produk dengan
empat karbon yaitu asetoasetat dan fumarat. Asetoasetat memasuki siklus asam sitrat
dalam bentuk asetil KoA, sedangkan fumarat tentunya merupakan senyawa antara
siklus ini.
Asetoasetil KoA yang dibentuk nantinya akan diubah menjadi asetil KoA.
Asetil KoA akan masuk ke dalam siklus asam sitrat melalui pintu sitrat. Sitrat akan
diubah menjadi isositrat. Isositrat diubah menjadi -ketoglutarat. Proses tersebut
menghasilkan 1 NADH = 3 ATP. -ketoglutarat diubah menjadi suksinil KoA. Proses
tersebut mnghasilkan 1 NADH = 3 ATP. Suksinil KoA diubah menjadi suksinat dan
menghasilkan 1 ATP. Suksinat diubah menjadi fumarat dan menghasilkan 1 FADH2 =
2 ATP. Fumarat diubah menjdai malat. Malat diubah menjadi oksaloasetat
menghasilkan 1 NADH = 3 ATP. Jadi, total ATP yang dihasilkan yaitu 12 ATP.

c. Jalur Suksinil-KoA
Metionin, isoleusin dan Valin ( akan terdegradasi menghasilkan suksinil Ko-A
senyawa antara siklus asam sitrat. Valin dan Isoleusin sama sama mengalami reaksi
transaminase. Empat dari lima karbon valin diubah menjadi asm suksinat ,demikian
juga tiga dari 6 atom karbon isoleusin. Untuk sampai pada asetil-KoA, maka jalur ini
membutuhkan energi sebesar:
Suksini Ko-A
Suksinat terdapat 1 GTP, dari Suksinat
terdapat 1 FADH, dari Fumarat
energi, dari Malat

Fumarat

Malat tidak terdapat enzim yang menghasilkan

Oxaloasetat terdapat 1 NADH, dan dari Oxaloasetat

Asetil Ko-A tidak ditemukan adanya energi yang dibutuhkan.


Total energi yang dihasilkan dari Suksinil Ko-A menuju Asetil Ko-A adalah :
1 NADH
= 3 ATP
1 FADH
= 2 ATP
1 GTP = 1 ATP = 6 ATP

d. Jalur Fumarat
Fenilalanin dan tirosin (produk oksidasi fenilalanin) dapat memasuki siklus
asam sitrat melalui jalur fumarat. Empat dari sembilan karbon fenilalanin dan tirosin
menghasilkan asetoasetat bebas (akan masuk melalui jalur asetoasetil Ko-A)
sedangakan 4 karbon lainnya menghasilkan fumarat (masuk melalui jalur fumarat).
Sedangkan satu karbon sisanya akan terlepas menjadi CO2. Untuk sampai pada asetilKoA, maka jalur ini membutuhkan energi sebesar:
dari Fumarat
Malat tidak terdapat enzim yang menghasilkan energi, dari Malat
Oxaloasetat

terdapat 1 NADH, dan dari Oxaloasetat Asetil

Ko-A tidak

ditemukan adanya energi yang dibutuhkan. Total energi yang dihasilkan dari Fumarat
menuju Asetil Ko-A, adalah :
1 NADH
= 3 ATP
e. Jalur Oksaloasetat
Kerangka karbon asparagin dan asam aspartat pada akhirnya memasuki siklus
asam sitrat melalui oksaloasetat. Enzim asparaginase mengkatalisis hidrolisis
asparagin menjadi aspartat. Enzim ini mengikat molekul H 2O dan melepaskan NH4.
Aspartat akan dikatalis oleh enzim transaminase membentuk oksaloacetat. Gugus
amino pada aspartat dapat dipindahkan menuju piruvat ataupun alanin. Reaksi antara
aspartat dan oksaloacetat ini merupakan reaksi yang dapat balik atau reversible.

Asparagin + H2O aspartat + NH4


Aspartat + -ketoglutarat oksaloasetat + glutamat
Aspartat lalu memberikan gugus aminonya kepada -ketoglutarat di dalam
reaksi transaminasi menghasilkan glutamat. Sisa kerangka karbon aspartat,
yaitu oksaloasetat memasuki siklus asam sitrat.Lintas ini masuk melalui pintu
oksaloasetat.Oksaloasetat diubah menjadi sitrat.
Sitrat akan diubah menjadi isositrat. Isositrat
diubah menjadi -ketoglutarat. Proses tersebut
menghasilkan 1 NADH = 3 ATP. -ketoglutarat
diubah menjadi suksinil KoA. Proses tersebut
mnghasilkan 1 NADH = 3 ATP. Suksinil KoA
diubah menjadi suksinat dan menghasilkan 1
ATP. Suksinat diubah menjadi fumarat dan
menghasilkan 1 FADH2 = 2 ATP. Fumarat diubah
menjdai

malat.

Malat

diubah

menjadi

oksaloasetat menghasilkan 1 NADH = 3 ATP.


Jadi, total ATP yang dihasilkan yaitu 12 ATP.
.

f. Jalur -ketoglutarat
Kerangka karbon dari lima asam amino (arginin, histidin, asamglutamat, glutamin, dan
prolin) memasuki siklus asam sitrat -ketoglutarat.
Asparagin dan prolin akan masuk ke dalam glutamat semialdehid dibantu dengan enzim
glutamat semialdehid sintase. Kemudian glutamat semialdehid akan membentuk glutamat.
Histidin dan glutamin masuk ke dalam glutamat. Selanjtnya glutamat akan diubah menjadi ketoglutarat detelah mengalami deaminasi.
Lintas ini masuk melalui pintu -ketoglutarat. -ketoglutarat diubah menjadi suksinil KoA.
Proses tersebut mnghasilkan 1 NADH = 3 ATP. Suksinil KoA diubah menjadi suksinat dan
menghasilkan 1 ATP. Suksinat diubah menjadi fumarat dan menghasilkan 1 FADH2 = 2 ATP.
Fumarat diubah menjdai malat. Malat diubah menjadi oksaloasetat menghasilkan 2 NADH =
3 ATP. Jadi, total ATP yang dihasilkan yaitu 9 ATP.
Contoh kasus :

Jika tubuh sudah kekurangan energy maka akan menggunakan glikogen dalam
hati. Apabila glikogen sudah habis, maka akan menggunakan triasilgliserol yang
terdapat dalam jaringan adiposa sebagai energi. Dan apabila keduanya sudah habis,
maka akan digunakannya protein dalam bentuk asam amino yang terdapat dalam otot
(glisin).
Glisin tersebut di ubah menjadi serin oleh enzim serin hidroksimetil
transferase yang di pengaruhi oleh hormone tetrahidrofolat(FH4) Kemudian serin di
ubah menjadi piruvat oleh enzim serin dehidratase di bantu oleh gugus prosthesis
pirodoksal-p. asam piruvat di ubah menjasi asetil-KoA, yang kemudian di proses
dalam siklus kreb.

3. Buka Puasa
Saat kita berbuka puasa, tubuh kita akan kembali tersuplai nutrisi. Kebutuhan
tubuh akan kembali tercukupi. Namun kebiasaan kita makan dalam porsi yang banyak
ketika berbuka puasa, sehingga mengakibatkan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh
bersisa.
Ketika kita makan karbohidrat, tubuh akan mensintesis karbohidrat menjadi
glukosa. Kemudian ketika terdapat glukosa yang berlebih di dalam tubuh, glukosa
akan disimpan dalam bentuk glikogen. dalam jaringan hati atau otot, glukosa diubah
menjadi glukosa-6-fosfat, kemudian diubah menjadi glikogen melalui beberapa tahap.
Jika kita memakan makanan yang mengandung lemak, lemak tersebut akan
diubah menjadi asam lemak. Asam lemak tersebut akan di simpan dalam jaringan
adiposa dalam bentuk triasilgliserol.
Jika kita memakan makanan yang mengandung protein, protein terlebih dahulu akan
diubah menjadi asam amino dan akan disimpan didalam otot. Dalam pembentukan
asam amino, protein disintesis dengan tahap transkripsi dan translasi. Setelah itu, jika
protein berlebih maka tidak akan tersimpan melainkan protein tersebut akan dibuang
bersama urin (NH3) melalui siklus urea.
Siklus Urea

Asam amino jika termakan dalam jumlah yang melebihi kebutuhan tubuh
terhadap sintesis protein, maka akan disimpan dalam jaringan atau jika tubuh tidak
dapat menyimpan lagi, maka protein akan didegradasi.

Dalam keadaan kenyang dan tubuh masih dapat menyimpan, protein hasil
pencernaan masuk ke dalam hati melelui vena porta hepatica. Dalam hati, protein
mengalami pengubahan, misalnya mnjadi protein darah (serum albumin). Kelebihan
asam amino diubah menjadi glukosa atau triasilgliserol yang dikemas dan disekresikan
dalam bentuk VLDL (Very Low Dencity Lipoprotein). Glukosa yang dibentuk dari
asam amino pada keadaan kenyang disimpan dalam bentuk glikogen atau dibebaskan
dalam darah apabila kadar glukosa darah rendah. Asam amino yang melewati hati
diubah menjadi protein di jaringan lain.
Dalam keadaan sangat kenyang, dimana protein tidak dapat disimpan dalam
tubuh lagi, maka protein yang masuk dalam tubuh akan didegradasi, atau dikeluarkan
dalam bentuk nitrogen asam amino sebagai amonia. Amonia dikeluarkan dari tubuh
dalam bentuk NH3, karena dalam bentuk inilah amonia dapat menenbus membran.
Amonia ini masuk ke dalam urin dari sel tubulus ginjal dan menurunkan keasaman urin
dengan mengikat proton dan membentuk NH4.

BAB IV
KESIMPULAN

Intregasi metabolisme merupakan metabolisme terpadu yang terdiri dari metabolisme


karbohidrat, protein dan lipid. Ketiga metabolisme ini dipertemukan di siklus krebs.
Puasa merupakan salah satu contoh dari metabolisme terpadu, terutama terjadi
pemecahan karbohidrat yang berupa glukosa, ketika glukosa habis maka cadangan glukosa
berupa glikogen akan dipecah, bila glikogen sudah habis maka akan terjadi pemecahan
triasilgliserol pada jaringan adiposa, jika keduanya telah habis maka akan terjadi pemecahan
protein berupa asam amino yang ada di otot(glisin), tetapi pemecahan lipid dan protein ini
tidak sampai terjadi pada kasus puasa melainkan pada kasus kelaparan. Ketika berbuka puasa
tubuh akan mendapat asupan makanan dan sintesispun dimulai, dan pasti terjadi kelebihan
makanan untuk karbohidrat disimpan dalam bentuk glikogen, lipid disimpan di jaringan
adiposa dan protein tidak bisa disimpan melainkan keluar lam bentuk urea bersama urine.

DAFTAR PUSTAKA

Dawn B, Marks, dkk.2000.Biokimia KedokteranDasar.Jakarta: Kedokteran EGC.

Lehninger,A.L. 1982. Dasar- DasarBiokimiaJilid 2. Jakarta: Erlangga

Muray, Robert K. 2003.Biokimia Harper. Jakarta : EGC

Stryer, Lubert. 1996. Biokimia volume 2. Jakarta: Kedokteran EGC