Anda di halaman 1dari 19

Tugaskelompok

KEPERAWATAN KOMUNITAS 2
(ASKEP PAROTITIS)

OLEH
KELOMPOK 8

INTAN WATI
YENI ERNIAN
IFA AFIFA
FITRIANI

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


STIKES MANDALA WALUYA
KENDARI
2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,


karena atas limpahan Rahmat dan Karunia_Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah tanpa ada hambatan. Dalam makalah ini
membahas tentang konsep medis dan konsep keperawatan komunitas
penyakit parotitis.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dosen
Pengampuh mata kuliah, teman-teman dan semua pihak yang terlibat
yang telah memberi semangat dan dukungan dalam penyelesaian
makalah ini.
Penulis sangat berharap kritik dan saran yang membangun untuk
penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan
kontribusi yang berarti bagi pembaca, mahasiswa, masyarakat luas pada
umumnya.
Wassalamualaikum Wr. Wb

Kendari, Maret 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul ....................................................................................i
Kata Pengantar.....................................................................................ii
Daftar Isi................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................1
B. Rumusan Masalah......................................................................2
C. Tujuan.........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Medis
1. Pengertian ............................................................................. 3
2. Etiologi .................................................................................. 4
3. Patofisiologi ........................................................................... 4
4. Manifestasi Klinis .................................................................. 5
5. Penalaksanaan ...................................................................... 5
6. Pencegahan ......................................................................... 7
B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian ............................................................................. 8
2. Diagnosa ................................................................................12
3. Intarvensi ..............................................................................12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................15
B. Saran...........................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Parotitis merupakan penyakit infeksi yang pada 30-40 %
kasusnya merupakan infeksi asimptomatik. Infeksi ini disebabkan
oleh virus RNA untai tunggal negative sense berukuran 100-600
nm, dengan panjang 15000 nukleotida termasuk dalam genus
Rubulavirus
subfamily
Paramyxsovirinae
dan
family
Paramyxoviridae (Sumarmo,2008). Penyebaran virus terjadi
dengan kontak langsung, percikan ludah, bahan mentah mungkin
dengan urin. Sekarang penyakit ini sering terjadi pada orang
dewasa muda sehingga menimbulkan epidemi secara umum. Pada
umumnya parotitis epidemika dianggap kurang menular jika
dibanding dengan morbili atau varicela, karena banyak infeksi
parotitis epidemika cenderung tidak jelas secara klinis (Warta
medika,2009).
Dalam
perjalanannya
parotitis
epidemika
dapat
menimbulkan komplikasi walaupun jarang terjadi. Komplikasi yang
terjadi dapat berupa: Meningoencepalitis, artritis, pancreatitis,
miokarditis, ooporitis, orchitis, mastitis, dan ketulian.
Insidensi parototis epidemika dengan ketulian adalah 1 :
15.000. Meningitis yang terjadi berupa Meningitis aseptik. Insidensi
atau komplikasi dari parotitis Meningoencephalitis sekitar
250/100.000 kasus. Sekitar 10% dari kasus ini penderitanya
berumur kurang dari 20 tahun. Angka rata-tata kematian akibat
parotitis Meningoencephalitis adalah 2%. Kelainan pada mata
akibat komplikasi parotitis dapat berupa neutitis opticus,
dacryoadenitis, uveokeratitis, scleritis dan trombosis vena central
retina. Gangguan pendengaran akibat parotitis epidemika biasanya
unilateral, namun dapat pula bilateral. Gangguan ini seringkali
bersifat permanen.
Parotitis yang tidak ditangani dengan tepat dan segera dapat
menimbulkan berbagai komplikasi serius yang akan menambah
resiko terjadinya kematian. Maka disebabkan hal tersebut, melalui
makalah ini kami memberikan solusi dapat memberikan
pengetahuan dan tata cara pencegahan dari penyakit parotitis
sehingga skala kejadian penyakit tersebut dapat menurun dan
bermanfaat pula bagi perawat yakni mampu melaksanakan asuhan
keperawatan atas pasien dengan Parotitis dengan tepat dan benar

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah
1. Bagaimana konsep medis penyakit parotitis ?
2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan komunitas pada
penyakit parotitis ?
C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah agar pembaca
khususnya mahasiswa mampu memahami konsep medis dan
konsep keperawatan komuntas penyakit parotitis.

BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP MEDIS

1. Pengertian
Penyakit Gondongan (Mumps atau Parotitis) adalah suatu
penyakit menular dimana sesorang terinfeksi oleh virus
(Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah (kelenjar
parotis) di antara telinga dan rahang sehingga menyebabkan
pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah.
Penyakit gondongan tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul
secara endemik atau epidemik, Gangguan ini cenderung
menyerang anak-anak dibawah usia 15 tahun (sekitar 85%
kasus).(Warta Medika,2009)
Parotitis ialah penyakit virus akut yang biasanya menyerang
kelenjar ludah terutama kelenjar parotis (sekitar 60% kasus).
Gejala khas yaitu pembesaran kelenjar ludah terutama kelenjar
parotis. Pada saluran kelenjar ludah terjadi kelainan berupa
pembengkakan sel epitel, pelebaran dan penyumbatan saluran.
Pada orang dewasa, infeksi ini bisa menyerang testis (buah
zakar), sistem saraf pusat, pankreas, prostat, payudara dan
organ lainnya. Adapun mereka yang beresiko besar untuk
menderita atau tertular penyakit ini adalah mereka yang
menggunakan atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk
menekan hormon kelenjar tiroid dan mereka yang kekurangan
zat Iodium dalam tubuh (Sumarmo,2008)
Menurut Sumarmo (2008) penyakit gondong (mumps,
parotitis) dapat ditularkan melalui:
1.
Kontak langsung
2.
Percikan ludah (droplet)
3.
Muntahan
4.
Bisa pula melalui air kencing
Tidak semua orang yang terinfeksi mengalami keluhan,
bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tandatanda sakit (subclinical). Mereka dapat menjadi sumber
penularan seperti halnya penderita parotitis yang nampak sakit.
Masa tunas (masa inkubasi) parotitis sekitar 14-24 hari dengan
rata-rata 17-18 hari.
2. Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh virus Mumps yaitu virus
berjenis RNA virus yang merupakan anggota famili
Paramyxoviridae dan genus Paramyxovirus. Terdapat dua
permukaan glikoprotein yang terdiri dari hemagglutinin-

neuraminidase dan fusion protein. Virus Mumps sensitive


terhadap panas dan sinar ultraviolet.
3. Patofisiologi
Pada umumnya penyebaran paramyxovirus sebagai agent
penyebab parotitis (terinfeksinya kelenjar parotis) antara lain
akibat:
1.
Percikan ludah
2.
Kontak langsung dengan penderita parotitis lain
3.
Muntahan
4.
Urine
Virus tersebut masuk tubuh bisa melalui hidung atau mulut.
Biasanya kelenjar yang terkena adalah kelenjar parotis. Infeksi
akut oleh virus mumps pada kelenjar parotis dibuktikan dengan
adanya kenaikan titer IgM dan IgG secara bermakna dari serum
akut dan serum konvalesens. Semakin banyak penumpukan
virus di dalam tubuh sehingga terjadi proliferasi di parotis/epitel
traktus respiratorius kemudian terjadi viremia (ikutnya virus ke
dalam aliran darah) dan selanjutnya virus berdiam di jaringan
kelenjar/saraf yang kemudian akan menginfeksi glandula
parotid. Keadaan ini disebut parotitis.
Akibat terinfeksinya kelenjar parotis maka dalam 1-2 hari
akan terjadi demam, anoreksia, sakit kepala dan nyeri otot
(Mansjoer, 2000).
Kemudian dalam 3 hari terjadilah
pembengkakan kelenjar parotis yang mula-mula unilateral
kemudian bilateral, disertai nyeri rahang spontan dan sulit
menelan. Pada manusia selama fase akut, virus mumps dapat
diisoler dari saliva, darah, air seni dan liquor. Pada pankreas
kadang-kadang terdapat degenerasi dan nekrosis jaringan.

4. Manifestasi Klinis
Tidak semua orang yang terinfeksi oleh virus Paramyxovirus
mengalami keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak
menunjukkan tanda-tanda sakit (subclinical). Namun demikian
mereka sama dengan penderita lainnya yang mengalami
keluhan, yaitu dapat menjadi sumber penularan penyakit
tersebut. Masa tunas (masa inkubasi) penyakit Gondong sekitar

12-24 hari dengan rata-rata 17-18 hari. Adapun tanda dan


gejala yang timbul setelah terinfeksi dan berkembangnya masa
tunas dapat digambarkan sebagai berikut :
a. Pada tahap awal (1-2 hari) penderita Gondong
mengalami gejala: demam (suhu badan 38,5 40 derajat
celcius), sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu
makan, nyeri rahang bagian belakang saat mengunyah
dan adakalanya disertai kaku rahang (sulit membuka
mulut).
b. Selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar di bawah
telinga (parotis) yang diawali dengan pembengkakan
salah satu sisi kelenjar kemudian kedua kelenjar
mengalami pembengkakan.
c. Pembengkakan biasanya berlangsung sekitar 3 hari
kemudian berangsur mengempis.
d. Kadang terjadi pembengkakan pada kelenjar di bawah
rahang (submandibula) dan kelenjar di bawah lidah
(sublingual). Pada pria dewasa adalanya terjadi
pembengkakan buah zakar (testis) karena penyebaran
melalui aliran darah.
5. Penatalaksanaan
Parotitis merupakan penyakit yang bersifat self-limited
(sembuh/hilang sendiri) yang berlangsung kurang lebih dalam
satu minggu. Tidak ada terapi spesifik bagi infeksi virus
Mumps oleh karena itu pengobatan parotitis seluruhnya
simptomatis dan suportif.
Pasien dengan parotitis harus ditangani dengan kompres
hangat, sialagog seperti tetesan lemon, dan pijatan parotis
eksterna. Cairan intravena mungkin diperlukan untuk mencegah
dehidrasi karena terbatasnya asupan oral. Jika respon
suboptimal atau pasien sakit dan mengalami dehidrasi, maka
antibiotik intravena mungkin lebih sesuai.
Berikut tata laksana yang sesuai dengan kasus yang diderita:
a. Penderita rawat jalan
Penderita baru dapat dirawat jalan bila tidak ada
komplikasi (keadaan umum cukup baik).
1) Istirahat yang cukup, di berikan kompres.
2) Pemberian diet lunak dan cairan yang cukup
3) Kompres panas dingin bergantian.
4) Medikamentosa. Analgetik-antipiretik bila perlu :

a. metampiron : anak > 6 bulan 250 500


mg/hari maksimum 2 g/hari
b. parasetamol : 7,5 10 mg/kgBB/hari dibagi
dalam 3 dosis
c. hindari pemberian aspirin pada anak karena
pemberian aspirin berisiko menimbulkan
Sindrom Reye yaitu sebuah penyakit langka
namun mematikan. Obat-obatan anak yang
terdapat di apotik belum tentu bebas dari
aspirin. Aspirin seringkali disebut juga sebagai
salicylate atau acetylsalicylic acid.
b. Penderita rawat inap
Penderita dengan demam tinggi, keadaan umum
lemah, nyeri kepala hebat, gejala saraf perlu rawat inap
diruang isolasi.
a) Diet lunak, cair dan TKTP
b) Analgetik-antipiretik
c) Berikan kortikosteroid untuk mencegah komplikasi
d) Tatalaksana untuk komplikasi yang terjadi
1. Encephalitis
simptomatik
untuk
encephalitisnya.
Lumbal pungsi berguna untuk mengurangi
sakit kepala.
2. Orkhitis
1) istrahat yang cukup
2) pemberian analgetik
3) sistemik kortikosteroid (hidrokortison,
10mg /kg/24 jam, peroral, selama 2-4
hari
6. Pencegahan
Pencegahan terhadap parotitis epidemika dapat dilakukan
secara imunisasi pasif dan imunisasi aktif.
a. Pasif
Gamma globulin parotitis tidak efektif dalam mencegah
parotitis atau mengurangi komplikasi.
b. Aktif
Dilakukan dengan memberikan vaksinasi dengan virus
parotitis epidemika yang hidup tapi telah dirubah sifatnya
(Mumpsvax-merck, sharp and dohme) atau diberikan
subkutan pada anak berumur 15 bulan (Ngastiyah, 2007).
Vaksin ini tidak menyebabkan panas atau reaksi lain dan

tidak menyebabkan ekskresi virus dan tidak menular.


Menyebabkan imunitas yang lama dan dapat diberikan
bersama vaksin campak dan rubella (MMR yakni vaksin
Mumps, Morbili, Rubella). Pemberian vaksinasi dengan virus
mumps, sangat efektif dalam menimbulkan peningkatan
bermakna dalam antibodi mumps pada individu yang
seronegatif sebelum vaksinasi dan telah memberikan
proteksi 15 sampai 95 %. Proteksi yang baik sekurangkurangnya selama 12 tahun dan tidak mengganggu vaksin
terhadap morbili, rubella, dan poliomielitis atau vaksinasi
variola yang diberikan serentak.
Kontraindikasi: Bayi dibawah usia 1 tahun karena efek
antibodi maternal; Individu dengan riwayat hipersensitivitas
terhadap komponen vaksin;
demam akut; selama
kehamilan; leukimia dan keganasan; limfoma; sedang diberi
obat-obat imunosupresif, alkilasi dan anti metabolit; sedang
mendapat radiasi.
Belum diketahui apakah vaksin akan mencegah infeksi
bila diberikan setelah pemaparan, tetapi tidak ada
kontraindikasi bagi penggunaan vaksin Mumps dalam
situasi ini

B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1) Data Inti
a) Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas
Uraikan mengenai lokasi, luas wilayah, iklim, tipe
komunitas, keadaan demografi, struktur politik, distribusi
kekuatan komunitas dan pola perubahan komunitas.
b) Data Demografi
Kaji jumlah komunitas berdasarkan : usia, jenis kelamin,
status perkawinan, ras/suku, bahasa, tingkat pendapatan,
pendidikan, pekerjaan, agama, dan komposisi keluarga.
c) Vital statistik

Jabaran atau urtaian data tentang : angka kematian kasar


atau CDR, penyebab kematian, angka pertambahan
anggota, angka kelahiran.
d) Status kesehatan komunitas
Dapat dilihat dari : angka mortalitas, morbiditas, IMR,
MMR, Cakupan imunisasi, status kesehatan kelompok
berdasarkan kelompok umur: Bayi, Balita, Usia Sekolah,
Remaja, dan Lansia, kelompok khusus di masyarakat: Ibu
Hamil, Pekerja Industri, Kelompok Penyakit Kronis, Penyakit
Menular. Adapun pengkajian selanjutnya dijabarkan
sebagaimana di bawah ini :
1) Keluhan yang dirasakan saat ini oleh komunitas.
2) Tanda-tanda vital : tekanan Darah, Nadi, Respirasi Rate,
Suhu Tubuh.
3) Kejadian penyakit (dalam satu tahun terakhir) :
a) ISPA, Asma, TBC Paru
b) Penyakit kulit
c) Penyakit mata
d) Penyakit rheumatik
e) Penyakit Jantung
f) Penyakit gangguan jiwa
g) Kelumpuhan
h) Penyakit menahun lainnya.
4) Riwayat penyakit keluarga.
5) Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari :
a) Pola pemenuhan nutrisi
b) Pola pemenuhan cairan elektrolit
c) Pola istirahat tidur
d) Pola eliminasi
e) Pola aktivitas gerak
f) Pola pemenuhan kebersihan diri.
6) Status Psikososial :
a) Komunikasi dengan sumber-sumber kesehatan.
b) Hubungan dengan orang lain.
c) Peran di masyarakat.
d) Kesedihan yang dirasakan.
e) Stabilitas emosi.
f) Penelantaran anak atau lansia.
g) Perlakuan yang salah dalam kelompok (perilaku
tindakan kekerasan).
7) Status pertumbuhan dan perkembangan
8) Pola permanfaatan fasilitas kesehatan
9) Pola pencegahan terhadap penyakit dan perawatan
kesehatan.

10)Pola perilaku tidak sehat seperti : kebiasaan merokok,


minum kopi yang berlebihan, mengkonsumsi alkohol,
penggunaan obat tanpa resep, penyalahgunaan obat
terlarang, pola konsumsi tinggi garam, lemak dan purin.
2) Data Lingkungan Fisik
a. Pemukiman :
a) Luas bangunan.
b) Bentuk bangunan: rumah, petak, asrama, pavilyun.
c) Jenis bangunan: permanen, semi permanen, non
permanen.
d) Atap rumah: genting, seng, welit, ijuk, kayu, asbes.
e) Dinding: tembok, kayu, bamboo, atau lainnya (sebutkan).
f) Lantai: semen, tegel, keramik, tanah, kayu tau lainnya
(sebutkan).
g) Ventilasi: kurang atau lebih dari 15-20% dari luas lantai.
h) Pencahayaan: kurang/baik.
i) Penerangan: kurang/baik.
j) Kebersihan: kurang/baik.
k) Pengaturan ruangan dan perabotan: kurang/baik.
l) Kelengkapan alat rumah tangga: kurang/baik.
b. Sanitasi
a) Penyedian air bersih (MCK).
b) Penyedian air minum.
c) Pengelolaan jamban: bagaimana jenisnya, berapa
jumlahnya dan bagaimana jaraknya dengan sumber air
bersih.
d) Sarana pembuangan air limbah (SPAL).
e) Pengelolaan sampah: apakah ada sarana untuk tempat
pembuangan sampah, bagaimana pengelolaannya:
dibakar, ditimbun, atau cara lainnya sebutkan.
f) Polusi udara, air, tanah, atau suara/kebisingan.
g) Sumber polusi: pabrik, rumah tangga, industri lainnya
sebutkan.
c. Fasillitas
d. Batas-batas wilayah
e. Kondisi geografis
3) Pelayan Kesehatan dan Sosial
a. Pelayanan kesehatan.
a) Lokasi sarana kesehatan

b) Sumber daya yang dimiliki (tenaga kesehatan dan


kader).
c) Jumlah kunjungan.
d) Sistem rujukan.
b. Fasilitas Sosial (pasar, toko, swalayan).
a) Lokasi.
b) Kepemilikan.
c) Kecukupan.
d) Ekonomi :
Jenis pekerjaan.
Jumlah penghasilan rata-rata tiap bulan.
Jumlah pengeluaran rata-rata tiap bulan.
Jumlah pekerja dibawah umur, ibu rumah tangga dan
lanjut usia

4) Keamanan dan Tranportasi


a. Keamanan
a) Sistem keamanan lingkungan
b) Penanggulangan kebakaran
c) Penanggulangan bencana
d) Penanggulangan polusi, udara, air dan tanah.
b. Transportasi
a) Kondisi jalan
b) Jenis transportasi yang dimiliki.
c) Sarana transportasi yang ada.
5) Politik dan Keamanan
a. Sistem pengorganisasian
b. Struktur organisasi
c. Kelompok organisasi dalam komunitas
d. Peran serta kelompok organisasi dalam kesehatan
6) Sistem Komunikasi
a. Sarana untuk komunikasi
b. Jenis alat komunikasi yang digunakan dalam komunitas
c. Cara penyebaran informasi
7) Pendidikan
a. Tingkat pendidikan komunitas
b. Fasilitas pendidikan yang tersedia (formal atau non
formal)
Jenis pendidikan yang diadakan di komunitas.

Sumber daya manusia, tenaga yang tersedia.


c. Jenis bahasa yang digunakan.
8) Rekreasi
a. Kebiasaan rekreasi
b. Fasilitas tempat rekreasi.

2. Diagnosa
a. Hipertermia berhubungan dengan penyakit parotitis
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan ganggun menelan makanan
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penyakit.
e. Defisiensi pengetahuan komunitas berhubungan dengan
ketidakmampuan komunitas mengenali tanda dan gejala
penyakit .
3. Intervensi
Diagnosa

NOC

NIC

Hipertermia
berhubungan
dengan
penyakit
parotitis

Thermoregulation
Kriteria hasil :
1. Suhu
tubuh
dalam
rentang normal
2. Nadi dan RR dalam
rentang normal
3. Tidak ada perubahan
warna kulit dan tidak
ada pusing

Nyeri
akutberhubun
gan dengan

Fever treatment
1. Monitor suhu sesering mungkin
2. Monitor IWL
3. Monitor warna kulit dan suhu
kulit
4. Monitor tekanan darah, nadi dan
RR
5. Berikan
pengobatan
untuk
mengatasi penyebab deman
6. Selimuti pasien
7. Monitor tanda-tanda hipertermi
dan hipotermi
Pain management
1. Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi,

1. Pain level
2. Pain control
3. Comfort level

agen cedera kriteria hasil:


biologis.
1. Mampu
mengontrol
.
nyeri
2. Melaporkan
bahwa
nyeri berkurang dengan
menggunakan
manajemen nyeri
3. Mampu mengenali nyeri
4. Menyatakan
rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang

Ketidakseimb
1. Nutritional Status:
2. Intake
angan nutrisi
3. Weigh Control.
kurang dari
Kriteria Hasil :
kebutuhan
1. Adanya
peningkatan
tubuh
berat
badab sesuai
berhubungan
tujuan.
dengan
2. Berat
badan
ideal
ketidakmamp
sesuai dengan tinggi

karakteristik, durasi, frekuennsi


kualitas dan factor presipitasi
2. Observasi reaksi nonverbal dari
ketidak nyamanan
3. Evaluasi bersama pasien dan tim
kesehatan
lain
tentang
ketidakefektifan kontrol nyeri
masa lampau
4. Kurangi factor presipitasi nyeri
5. Kaji tipe dan sumber nyeri
6. Pilih dan lakukan penanganan
nyeri
(farmakologi,
non
farmakologi dan interpersonal)
7. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
8. Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
9. Berikan
analgetik
untuk
mengurangi nyeri
10. Evaluasi keefektifan control
nyeri
11. Tingkatkan istirahat
Analgesic administration
1. Cek instruksi dokter tentang
jenis obat, dosis, dan frekuensi
2. Cek riwayat alergi
3. Tentukan
pilihan
analgesic
tergantung tipe dan beratnya
nyeri
4. Berikan analgesic tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
5. Evaluasi efektivitas analgesic,
tanda dan gejala
1. Kaji adanya alergi makanan
2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien.
3. Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan
protein
dan
vitamin C.
4. Berikan subtansi gula.
5. Yakinkan diet yang dimakan

uan menelan
badan.
mengandung tinggi serat untuk
3.
Mampu
makanan.
mencegah konstipasi.
mengidentifikasi
6. Berikan makanan yang terpilih
kebutuhan nutrisi.
sudah dikonsultasikan dengan
4. Tidak ada tanda-tanda
ahli gizi.
malnutrisi.
7. Ajarkan
pasien
bahgaimana
5. Tidak ada penurunan
membuat
catatan
makanan
berat
badan
yang
harian.
berarti.
8. Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori.
9. Berikan
informasi
tentang
kebutuhan nutrisi.
Nutrition Monitoring
1. BB pasien dalam batas normal.
2. Monitor adanya penurunan berat
badan
3. Monitor interaksi anak dan
orangtua selama makan.
4. Jadwalkan
pengobatan
dan
tindakan tidak selama jam makan
5. Monitor
kulit
kering
dan
perubahan pigmentasi.
6. Monitor turgor kulit
7. Monitor
kekeringan,
rambut
kusam, dan mudah patah
8. Monitor mual dan muntah
9. Monitor
pertumbuhan
dan
perkembangan.
10. Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan
jaringan
kongjungtiva.
11. Monitor kalori dan intake nutrisi.

Gangguan
1. Body image
2. Self esteem
citra
tubuh
berhubungan Kriteria Hasil
1. Body image positif
dengan
2. Mampu
penyakit.
mengidentifikasi
kekuatan personal.
3. Mendiskripsikan secara
faktual
perubahan
fungsi tubuh.
4. Mempertahankan
interaksi sosial

Defisiensi
pengetahuan
komunitas
berhubungan
dengan
ketidakmamp
uan
komunitas
mengenali
tanda
dan
gejala
penyakit .

Knowledge
proses

Body image enhacement


1. Kaji secara verbal dan non verbal
respon klien terhadap tubuhnya
2. Monitor frekuensi mengkritik
dirinya
3. Jelaskan tentang pengobatan,
perwatan,
kemajuan
dan
prognsis penyakit.
4. Dorong klien mengungkapkan
perasaanya
5. Identifikasi arti pengurangan
melalui pemakaian alat bantu.
6. Fasilitasi kontak dengan individu
dalam kelompok kecil.
disease 1. Jelaskan patofiologi dari penyakit

Kriteia hasil :
Defisiensi
pengetahuan
mengenai penyakit malaria
teratasi.

dan

bagaimana

berhubungan

hal

dengan

ini

anatomi

dan fisiologi dengan cara yang


cepat
2. Gambarkan tanda dan gejala
yang

biasa

penyakit,

muncul

dengan

cara

pada
yang

tepat.
3. Sediakan informasi pada pasien
tentang kondisi, dengan cara
yang tepat
4. Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
5. Diskusikan

perubahan

gaya

hidup yang mungkin diperlukan


untuk
penyakit.

proses

pengontrolan

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpilan
Parotitis epidemika merupakan penyakit infeksi akut yang
disebabkan paramyxovirus dengan tanda khas pembengkakan
kelenjar parotis yang disertai nyeri yang kadang mengenai kelenjar
gonad, pankreas dan organ lain, Penyakitini dapat dicegah secara
pasif dengan pemberian gamaglobulin atau secara aktif
dengan vaksinasi.
Gejala klinis dimulai dengan masa tunas 14 sampai 24 hari, dengan
stadium prodromal 1 sampai 2 hari dengan gejala, demam,
anoreksia, sakit kepala, muntah dan nyeri otot. Kemudian timbul
pembengkakan kelenjar parotis yangmula-mula unilateral tetapi

kemudian dapat bilateral. Pembengkakan terasa nyeribaik spontan


maupun pada perabaan. Terlebih-lebih jika penderita makan atau
minum sesuatu yang asam, ini merupakan gejala yang khas untuk
parotitis epidemika.
Penatalaksanaan penyakit ini bersifat simptomatik dan suportif,
karena tidak ada terapi spesifik untuk infeksi virus mumps.
Prognosis baik, kematianyang terjadi akibat parotitis epidemika
sangat jarang terjadi, sterilitas dan ketulianyang permanen juga
sangat jarang terjadi
B. Saran
Jagalah kesehatan yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai
anugrah terbesar sehingga kita terhindar dari Mumps virus yang
dapat menyebabkan penyakit gondong dan dapat mengganggu
aktifitas kita sehari-hari dengan melakukan pencegahan di secara
dini dan jangan lupa menjaga kebersihan baik dari badan, tempat,
maupun pakaian karena dengan kebersihan semoga kita terhindar
dari virus tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
NANDA. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC NOC. Diterjemahkan oleh
Nurarif, Amin Huda & Kusuma Hardhi. Yogyakarta : Media
Action Publishing
http://tiararti.blogspot.co.id/2013/11/makalah-gondong-mumpsvirus.html diakses tanggal 19 maret 2016 : 06: 34 WITA
http://glowingsintya.blogspot.co.id/2015/08/asuhan-keperawatanmumps-parotitis.html diakses tanggal 19 maret 2016 : 06 : 34
WITA
http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35600-Kep
%20Pencernaan-Askep%20Parotitis.html#popup
diakses
tanggal 26 maret 2016 : 08 : 45 WITA
http://dokumen.tips/documents/47453475-parotitis.htmldiakses
tanggal 26 maret 2016 : 08 : 45 WITA