Anda di halaman 1dari 8

Gas Alam

Gas alam adalah komponen vital untuk suplai energi dunia. Gas alam merupakan sumber
penting untuk produksi baik bahan bakar maupun amonia (amonia merupakan komponen
vital untuk produksi pupuk). Mirip dengan minyak mentah dan batubara, gas alam adalah
bahan bakar fosil yang berasal dari sisa-sisa tanaman, hewan dan mikroorganisme, tersimpan
dalam di bawah tanah selama jutaan tahun. Namun tidak seperti bahan-bahan bakar fosil
lainnya, gas alam adalah salah satu sumber energi yang paling bersih (memiliki intensitas
karbon yang rendah), teraman dan paling berguna dari semua sumber energi.
Dua produsen gas alam terbesar di dunia (Amerika Serikat dan Rusia) bersama-sama
berkontribusi hampir 40% dari total produksi gas dunia.
Negara Produsen Gas Alam Terbesar pada Tahun 2014:
1. Amerika Serikat
2. Russia
3. Qatar
4. Iran
5. Kanada
6. China
7. Norwegia
8. Saudi Arabia
9. Algeria
10. Indonesia

728.3
578.7
177.2
172.6
162.0
134.5
108.8
108.2
83.3
73.4

dalam milyar m

Negara Konsumsi Gas Alam Terbesar pada Tahun 2014:


1. Amerika Serikat
2. Russia
3. China
4. Iran
5. Jepang
6. Saudi Arabia
7. Kanada
8. Meksiko
9. German
25. Indonesia

759.4
409.2
185.5
170.2
112.5
108.2
104.2
85.8
70.9
38.4

dalam milyar m
Sumber: BP Statistical Review of World Energy 2015

Citra yang penting dari gas alam adalah bahwa bahan bakar ini memainkan peran yang
signifikan di kebanyakan sektor dalam perekonomian dunia (industri, pembangkit listrik,

komersil dan di tempat tinggal). Terlebih lagi, karena pada faktanya ada banyak cadangan gas
alam di dunia - yang dapat dikembangkan dan diproduksi tanpa membutuhkan investasi besar
- gas alam kemungkinan akan menjadi semakin penting di masa mendatang karena
kebanyakan negara ingin mengurangi ketergantungan pada sumber-sumber energi yang
mahal dan tidak ramah lingkungan seperti minyak. Saat ini, gas alam berkontribusi sekitar
23% dari sumber-sumber energi primer dunia.
Gas Alam di Indonesia
Produksi dan Konsumsi Gas di Indonesia
Indonesia memiki cadangan gas alam yang besar. Saat ini, negara ini memiliki cadangan gas
terbesar ketiga di wilayah Asia Pasifik (setelah Australia dan Republik Rakyat Tiongkok),
berkontribusi untuk 1,5% dari total cadangan gas dunia (BP Statistical Review of World
Energy 2015).
Kebanyakan pusat-pusat produksi gas Indonesia berlokasi di lepas pantai. Yang paling besar
di
antaranya
adalah:
1.
2.
3.
4. Pulau Natuna

Arun,
Bontang

Aceh
(Kalimantan
Tangguh

(Sumatra)
Timur)
(Papua)

Indonesia memproduksi sekitar dua kali lipat dari gas alam yang dikonsumsinya. Kendati
begitu, ini tidak berarti bahwa produksi gas domestik memenuhi permintaan gas domestik.
Bahkan, ada kekurangan gas untuk industri-industri domestik di Indonesia. Perusahaan Gas
Negara (PGN) belum mampu memenuhi permintaan domestik. Ini memiliki dampak-dampak
yang memiliki cakupan luas karena hal ini menyebabkan Perusahaan Listrik Negara (PLN),
konsumen gas domestik terbesar, mengalami kekurangan struktural suplai gas dan memaksa
PLN untuk beralih ke bahan-bahan bakar fosil - yang lebih mahal dan tidak ramah
lingkungan - yang lain, seperti minyak bumi, untuk menghasilkan listrik. Meskipun begitu,
pemadaman listrik sering terjadi di seluruh negeri (terutama di luar kota-kota besar Pulau
Jawa), dan karenanya membebani industri-industri negara ini. Terlebih lagi, hampir 80 juta

penduduk Indonesia belum memiliki akses listrik seperti yang ditunjukkan oleh persentase
kelistrikan Indonesia yang relatif rendah pada 84,1% di 2014.
Pemerintah Indonesia bertujuan untuk membatasi ekspor gas negara ini dalam rangka
mengamankan suplai domestik sambil mendorong penggunaan gas alam sebagai sumber
bahan bakar untuk konsumsi industri dan personal.
Sebagian besar hasil produksi gas diekspor karena produksi gas negara ini didominasi oleh
perusahaan-perusahaan asing yang hanya bersedia untuk berinvestasi bila diizinkan
mengekspor komoditi ini. Saat ini, perusahaan-perusahaan asing, seperti CNOOC Limited,
Total E&P Indonesia, Conoco Philips, BP Tangguh, dan Exxon Mobil Oil Indonesia,
berkontribusi untuk sekitar 87% dari produksi gas alam Indonesia. Sisa 13% diproduksi oleh
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertamina. Sekitar setengah dari total hasil produksi gas
dijual secara domestik.
Tabel di bawah mengindikasikan baik produksi maupun konsumsi gas di Indonesia selama
satu dekade terakhir.
Produksi dan Konsumsi Gas di Indonesia 2005-2014:
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014
Produksi
dalam milyar m
Konsumsi
dalam milyar m

75.1

74.3

71.5

73.7

76.9

85.7

81.5

77.1

72.1

73.4

35.9

36.6

34.1

39.1

41.5

43.4

42.1

42.2

36.5

38.4

Sumber: BP Statistical Review of World Energy 2015

Seperti yang ditunjukkan di tabel di atas - dan kontras dengan produksi minyak nasional produksi gas di Indonesia tetap stabil, mencatat rekor tinggi di 2010 karena awal produksi
Ladang Tangguh (berlokasi di Papua) di tahun yang sama (dimanajemen oleh BP Indonesia)
yang merupakan sebuah ladang penting dalam industri gas negara ini. Setelah 2010, produksi
gas telah menurun karena masalah-masalah suplai.
Meskipun sejumlah perusahaan-perusahaan kecil aktif di sektor gas Indonesia, sebagian besar
dari produksi dan eksplorasi domestik berada di tangan enam perusahaan yang telah
disebutkan, yang hanya satu yang dimiliki Indonesia (Pertamina). Bila dikombinasikan,
CNOOC Ltd. dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Pertamina berkontribusi untuk lebih
dari setengah produksi gas Indonesia.
Ekspor Gas Indonesia
Sepanjang sejarahnya, produksi gas Indonesia selalu ditujukan untuk pasar ekspor. Kendati
begitu, penurunan produksi minyak domestik dikombinasikan dengan peningkatan harga
minyak internasional, membuat Pemerintah memutuskan untuk melakukan usaha-usaha
untuk memperbesar penggunaan gas domestik dari pertengahan 2000an sampai saat ini. Di
beberapa tahun terakhir penggunaan gas telah meningkat dengan subur dan menurunkan
ekspor namun fasilitas-fasilitas infrastruktur yang terbatas dalam jaringan transmisi dan
distribusi Indonesia memperumit perkembangan lebih lanjut dari konsumsi domestik.
Infrastruktur layak yang terbatas ikut disebabkan karena kurangnya investasi namun juga

karena kondisi geografis negara ini. Distribusi dengan tanker lebih mudah dibandingkan
jaringan pipa karena cadangan-cadangan gas alam yang penting berlokasi di lepas pantai,
jauh dari pusat-pusat permintaan gas yang besar.
Setelah Qatar, Malaysia dan Australia, Indonesia saat ini adalah eksportir gas alam cair
(liquefied natural gas/LNG) terbesar keempat di dunia. Hal ini tidak berarti - seperti yang
disebutkan di atas - bahwa permintaan domestik dapat dipenuhi oleh produksi domestik.
Akibatnya, Indonesia perlu mengimpor LNG dari luar negeri supaya tidak menganggu
komitmen ekspor. Diperkirakan bahwa pada tahun 2017 suplai-suplai tambahan dari ladangladang gas baru Indonesia akan dapat menggantikan impor.
Indonesia, sebelumnya eksportir LNG terbesar, mengalami penurunan pangsa pasar LNG
global, sebagian karena reorientasi kebijakan Pemerintah Indoensia di pertengahan2000an
yang menargetkan lebih banyak suplai gas untuk pasar domestik dalam konteks
meningkatkan penggunaan gas sebagai sebuah sumber energi (dengan mengurangi
ketergantungan terhadap minyak). Namun, penurunan ini juga terjadi karena kurangnya
investasi jangka panjang baik dalam eksplorasi maupun pengembangan ladang-ladang gas
negara ini.
Pada akhir tahun 2014, Indonesian Petroleum Association (IPA) menyatakan bahwa lembaga
ini memprediksi investasi (untuk eksplorasi) dalam sektor gas Indonesia akan turun 20% di
2015 (terutama karena rendahnya harga-harga energi). Selain itu, di akhir tahun 2014,
Chevron Pacific Indonesia (anak perusahaan dari raksasa minyak dan gas yang bermarkas di
Amerika Serikat Chevron Corp) menunda proyek Indonesia Deepwater Development (IDD)
senilai 12 miliar dollar Amerika Serikat di Selat Makasar di Kalimantan Selatan karena isuisu perizinan dan karena perusahaan ini membutuhkan lebih banyak waktu untuk merevisi
perhitungan setelah penemuan cadangan-cadangan gas baru.

Sejumlah kontrak ekspor jangka panjang yang ditandatangani di awal dan pertengahan 2000an dihargai di bawah harga pasar, berarti Indonesia kehilangan pendapatan berjumlah
signifikan. Daripada menghubungkan tingkat kontrak dengan harga pasar gas yang
berfluktuasi, sebuah harga tetap disetujui yang kemudian segera menjadi tidak sesuai lagi

karena harga pasar (yang naik). Pemerintah Indonesia telah berusaha merenegosiasi kontrakkontrak jangka panjang tersebut dalam rangka mendapatkan lebih banyak keuntungan
finansial. Kendati begitu, dari perspektif para pelaku bisnis jelas niat merenegosiasi kontrak
bukanlah pilihan yang terbaik (karena menyebabkan ketidakpastian mengenai komitmen
Pemerintah Indonesia untuk menghormati kontrak yang telah ditandatangani). Tujuan-tujuan
ekspor LNG utama Indoneisa adalah Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Proyeksi Masa Mendatang untuk Sektor Gas Indonesia


Perekonomian Indonesia yang berekspansi dikombinasikan dengan niat Pemerintah untuk
menurunkan ketergantungan pada minyak sebagai sumber suplai energi dalam industriindustri, pembangkit listrik dan transportasi akan menyebabkan permintaan domestik untuk
gas untuk meningkat di masa mendatang. Negara ini memiliki cadangan gas berlimpah yang
dapat mensuplai Indonesia dan juga pasar ekspor luar negeri untuk banyak dekade di masa
mendatang. Namun, dalam rangka mencapai sektor gas yang efisien dan produktif, investasi
skala besar baik dalam eksplorasi maupun infrastruktur (distribusional) akan dibutuhkan.
Dalam rangka menarik lebih banyak investasi asing, sistem peraturan dan kerangka hukum
yang jelas dan mendukung dibutuhkan.
Pada akhir 2015 I Gusti Nyoman Wiratmaja, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi dari
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan
investasi bernilai lebih dari 32 miliar dollar Amerika Serikat (kebanyakan dari sektor swasta)
untuk penyulingan-penyulingan gas alam, dan infrastruktur yang berhubungan dengan gas
dalam rangka memenuhi permintaan gas domestik pada 2025 (terutama untuk pembangkitpembangkit listrik dan pabrik-pabrik pupuk). Permintaan gas Indonesia diperkirakan untuk
naik dari 6,102 juta standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/mmscfd)
di 2015 menjadi 8,854 mmscfd di 2025 dengan permintaan yang sebagian besar berasal dari
Pulau Jawa dan Bali. Tanpa memberikan detail-detail yang jelas, Wiratmaja menambahkan
bahwa ada insentif-insentif untuk sektor swasta yang berinvestasi dalam industri gas
domestik
Sumber : http://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/gasalam/item184

Cadangan Produksi Gas Bumi Indonesia Mencapai 59 Tahun


JAKARTA. Gas bumi sebagai sumber energi dan suber bahan baku memiliki peran
penting di Indonesia saat ini dan masa mendatang. Potensi gas bumi yang
dimiliki Indonesia berdasarkan status tahun 2008 mencapai 170 TSCF dan
produksi per tahun mencapai 2,87 TSCF, dengan komposisi tersebut Indonesia
memiliki reserve to production (R/P) mencapai 59 tahun.
Gas bumi masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan, untuk itu maka
pemerintah dalam rangka mendukung perencanaan pasokan gas untuk
pemenuhan kebutuhan dalam negeri melakukan kajian dan menetapkan Neraca
Gas Bumi Indonesia 2010-2025 dan menetapkan Rencana Induk Jaringan
Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional serta memprioritaskan pemanfaatan
melalui Kebijakan Penetapan Alokasi dan Pemanfaatan Gas Bumi dalam Negeri.

Terkait dengan pemanfaatan gas bumi untuk domestik, pemerintah telah


mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No.03 Tahun 2010 tentang Alokasi dan
Pemanfaatan Gas Bumi Untuk Kebutuhan Dalam Negeri. Menteri ESDM
menetapkan alokasi gas bumi untuk ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan
gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri secara optimal dengan
mempertimbangkan ketersediaan infrstruktur dan keekonomian pengembangan
lapangan gas bumi.
Selain itu dalam Permen ESDM No. 03 Tahun 2010 Pasal 4 dijelaskan bahwa
dalam rangka mendukung pemenuhan Gas Bumi untuk kebutuhan dalam negeri,
Kontraktor wajib ikut memenuhi kebutuhan Gas Bumi dalam negeri dengan
menyerahkan sebesar 25% (dua puluh lima perseratus) dari hasil produksi Gas
Bumi bagian Kontraktor. Sekiranya pemenuhan kebutuhan domestik belum
terpenuhi dengan kuota 25% maka Menteri ESDM menetapkan kebijakan alokasi
dan Pemanfaatan Gas Bumi dari cadangan Gas Bumi yang dapat diproduksikan
dari setiap lapangan Gas Bumi pada suatu Wilayah Kerja. (SF)
Sumber : http://www.esdm.go.id/berita/40-migas/3190-cadangan-produksi-gasbumi-indonesia-mencapai-59-tahun.html

PGN Siap Bangun Pipa Gas Bumi Sepanjang 1.685 Km


SENIN, 22 FEBRUARI 2016 17:48 WIB

JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) mulai 2016-2019 akan
membangun sejumlah infrastruktur gas bumi, salah satunya pipa gas bumi sekitar 1.685
kilometer (km). Proyek ini akan menambah panjang pipa gas bumi PGN yang saat ini sudah
lebih dari 6.971 km. Nantinya pada 2019 total panjang pipa PGN menjadi 8.656 km.
"PGN merencanakan pembangunan infrastruktur gas untuk peningkatan pemanfaatan gas
domestik. Total penambahan panjang pipa gas yang akan dibangun oleh PGN mulai tahun ini
sampai 2019 sekitar 1.685 km," kata Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso, di Jakarta,
Senin (22/2/2016).

Hendi mengatakan, selain penambahan infrastruktur gas bumi berupa pipa, PGN juga akan
menambah sebanyak 60 SPBG di berbagai daerah mulai DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa
Timur, Banten, Batam, Lampung, Riau, dan Sumatera Utara. Selain itu PGN juga berencana
membangun Mini LNG system untuk Indonesia bagian tengah dan timur.
"Dengan penambahan panjang pipa tersebut (pipa sepanjang 8.656 km), dapat meningkatkan
kemampuan pemanfaatan gas bumi sebanyak 1.902 juta kaki kubik per hari (MMscfd)," kata
Hendi.
Hendi menambahkan, dengan pemanfaatan gas bumi sebanyak 1.902 MMscfd tersebut, dapat
menciptakan penghematan sebesar Rp 110,9 triliun. Sepanjang 2015 penyaluran gas bumi
PGN sebanyak 1.586 MMscfd, ini memberikan penghematan sekitar Rp 88 triliun ke
pelanggan PGN.
Hendi mengungkapkan, infrastruktur pipa gas bumi yang dibangun sepanjang 1.685 km
tersebut di antaranya adalah proyek pipa transmisi open access Duri-Dumai-Medan, pipa
transmisi open access Muara Bekasi-Semarang, pipa Distribusi Batam (Nagoya) WNTSPemping dan pipa distribusi gas bumi di wilayah eksisting dan daerah baru lainnya.
Penurunan harga minyak yang sedang terjadi saat ini kata Hendi merupakan momentum yang
baik untuk menggenjot pembangunan infrastruktur. Pada saat harga minyak turun juga
mempengaruhi harga- harga material seperti pipa gas yang harganya juga turun. "Situasi yang
terjadi di hulu migas yang melambat memberi waktu untuk persiapan di hilir untuk
meningkatkan infrastruktur," kata Hendi.
Kepala Divisi Komunikasi Korporat PGN, Irwan Andri Atmanto menambahkan,
pembangunan infrastruktur pipa gas bumi ini akan menambah jumlah pipa yang dikelola dan
dioperasikan PGN yang hingga akhir Januari 2016 sudah lebih dari 6.971 km. Pipa gas bumi
ini tersebar mulai dari pipa transmisi Grissik-Duri sepanjang 529 km, Grissik-BatamSingapura 446,78 km, Kepodang-Tambak Lorok atau Kalija I sepanjang 207 km, SSWJ
sepanjang 1.002 km, transmisi Medan 30 km dan lainnya.
Pipa lainnya adalah pipa distribusi PGN yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari DKI
Jakarta sepanjang 759 km, Bogor 616 km, Tangerang 403 km, Bekasi 330 km, Cirebon 389
km, Sidoarjo 313 km, Surabaya 493 km, Medan 627 km dan banyak lagi di daerah lainnya.
"PGN merupakan satu-satunya badan usaha yang menyalurkan gas bumi ke berbagai segmen
pengguna gas bumi mulai rumah tangga, industri, pembangkit listrik, kemersial seperti
restoran, rumah makan hingga Usaha Kecil Menengah, SPBG, bahkan rumah sakit dan panti
asuhan," ungkap Irwan.
Sampai akhir 2015, PGN telah menyalurkan gas bumi ke 1.529 industri dan pembangkit
listrik, 1.857 restoran, rumah makan dan UKM, dan lebih dari 107.690 pelanggan rumah

tangga.
"Pengembangan infrastruktur dan pemanfaatan gas bumi ini, dilakukan PGN tanpa
membebani atau mengandalkan uang negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN)," tegas Irwan
Sumber : http://www.esdm.go.id/berita/migas/40-migas/8174-pgn-siap-bangunpipa-gas-bumi-sepanjang-1685-km.html