Anda di halaman 1dari 15

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Angka Kasus Bedah
Dari penelitian yang dilakukan didapatkan data bahwa jumlah pasien
kasus bedah yang masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) terhitung 3 juli
2006 sampai dengan 10 september 2006, sebanyak 441 kasus.
B. Klasifikasi Kasus Bedah

Kasus Bedah yang masuk melalui IGD terdata bahwa kasus bedah minor yang
nanti akan dijelaskan dibawah sebanyak 153 kasus, 34% dari seluruh kasus yang
terdata. Ini merupakan jumlah kasus terbanyak diantara kasus yang lain. Rating ke
dua adalah bedah syaraf termasuk didalamnya cedera kepala, sebanyak 100 kasus
(23%), selanjutnya diikuti kasus bedah orthopedi sebanyak 75 kasus, bedah
digesti 53 kasus, bedah urologi 31 kasus, bedah plastic 7 kasus, bedah onkologi 4

kasus dan bedah thorak dan vascular sebanyak 3 kasus atau 1 % dari seluruh
kejadian.
C. Diagnosa
Pada pembahasan ini kasus akan dibahas melalui katagori masing-masing,
C. 1. Bedah Minor
Kasus B. Minor
Vulnus Laceratum
Vulnus Excoriasi
Contusio Jaringan
Vulnus Amputatum
Vulnus Punctum
Abcess
Kontrol Jahitan
Vulnus Scissum
Granuloma
Aterom Glutea
total

Jumlah
76
36
21
5
5
4
3
2
1
1
154

Persentase
50 %
23 %
14 %
3%
3%
2,8 %
2%
0,6 %
0,6 %
0,6 %
100 %

Pada kasus bedah minor, kunjungan pasien yang terbanyak dengan Vulnus
laceratum (VL) sebanyak 50%, karena pada umumnya kondisi lacerasi
membutuhkan jahitan dan perawatan luka lebih dibanding vulnus excoriasi
(VE), sehingga kasus ini menduduki peringkat pertama, disamping insidensi
untuk terjadinya vulnus laceratum juga cukup tinggi. Pada kasus vulnus
laceratum juga terdapat 1 pasien dengan epistaxis dan 2 pasien dengan ruptur
tendon. Posisi kedua adalah VE dengan 36 kasus (23%), umumnya pasien
yang datang dengan VE adalah pasien dengan kecelakaan lalu lintas. dan yang
menarik pada kasus diatas adalah terdapat 4 pasien dengan kondisi abcess,
yaitu abcess cervical (1), abcess glutea (1), abcess submandibular (2);
keempatnya di rawat inap. Dan terdapat juga kasus aterom glutea 1 kasus
(0,6%).

C. 2. Bedah Syaraf

total

CKR
72

CKS
15

CKB
8

Contusio Lumbal
2

Pasien bedah syaraf yang terdata paling banyak adalah kasus cedera
kepala ringan sebanyak 72 kasus (75%), 6 dengan cephal hematom, 9 dengan
VL, 9 dengan VE, 2 kasus dengan fraktur antebrachii dan 1 kasus dengan
trauma thorax; kasus terbanyak kedua adalah CKS 15 kasus (15%) dengan
fraktur antebrachii 1 pasien dan 1 pasien dengan V. Amputatum. Terdapat 1
kasus pasien dengan CKS yang meninggal sebelum 48 jam.
Terdapat 8 pasien selama 10 pekan penilitian kasus dengan Cedera
Kepala Berat (CKB), terdapat 1 kasus dengan shock electric, 1 kasus dengan
trauma thorax dan 1 kasus dengan fraktur femur. Kelima pasien CKB
meninggal sebelum 48 jam, sangat dimungkinkan perdarahan intracranial.
Terdapat 2 pasien dengan kontusio lumbal setelah dirawat beberapa
hari, di rujuk ke RS propinsi. Dan terdapat 2 pasien dengan fraktur kompresi
kranium yang tidak menunjukkan gejala gangguan stabilitas Sistem Syaraf
Pusat.

C. 3. Bedah Orthopedi
Pada pembahasan kali ini, jenis fraktur yang terjadi akan dikelompokkan
menjadi beberapa region seperti table dibawah ini,
Kasus B. Ortoped
Fraktur AnteBrachii
Fraktur Cruris
Fraktur Femur
Fraktur Manus
Fraktur Pedis
Fraktur Humeri
Fraktur Genu (Patella)
Fraktur Pelvis
Dislokasi
Lain-lain 2
total

Jumlah
29
20
7
5
2
2
2
1
5
2
75

Persentase
38 %
25 %
10 %
7%
3%
3%
3%
1%
7%
3%
100%

Kasus orthopedic terbanyak adalah kasus dengan fraktur antebrachii sebanyak


29 kasus (38%), diikuti dengan fraktur kruris sebanyak 20 kasus (25%).
Terdapat 1 kasus dengan fraktur regio pelvis berupa symphisiolisis, setelah
mendapat perawatan beberapa hari pasien tersebut dirujuk ke RS propinsi.
Terdapat 5 kasus dislokasi 2 kasus dislokasi acro-humeral, 2 kasus dislokasi
patella dan 1 kasus dislokasi articulation metacarpal.
C. 4. Bedah Digesti
Kasus B. Digesti
Appendicities
Hernia Inguinalis Lateral
Hemorrhoid
Ileus Parsial
Ileus Paralitik
Meteorismus
Peritonitis
Hernia Femoralis
Susp Ca Recti
Ruptur Lien
Trauma Tumpul Abdomen
total

Jumlah
18
14
5
5
2
2
3
1
1
1
1
53

Persentase
34 %
26 %
9%
9%
4%
4%
6%
2%
2%
2%
2%
100 %

Pasien bedah digesti paling banyak adalah appendicitis (APP), hal ini sesuai
dengan literature dan data statistic yang ada. Jumlah kasus APP sebanyak 20
kasus. 14 kasus dengan APP akut dan 4 pasien dengan APP kronis eksaserbasi
akut. Kedua adalah pasien dengan hernia inguinalis lateral (HIL), sebanyak 14
kasus, 11 kasus dengan HIL Irreponibilis, 1 pasien dengan HIL incarserata dan
1 pasien dengan HIL strangulata. Terdapat 3 kasus peritonitis e.c perforasi
appendicities, dengan 1 kasus terdapat penyerta typhoid, meninggal sesudah
48 jam (post laparatami) dan 1 pasien peritonitis dengan adhesi band juga
meninggal sesudah 48 jam post laparatomy.
Yang menark terdapatnya 1 kasus hemorrhoid yang dirawat inap meninggal
sebelum 48 jam dengan sebab kematian tetani. 1 kasus trauma tumpul
abdomen dengan ruptur lien dan 1 pasien suspect carcinoma recti (post op).
C. 5. Bedah Urologi
Kasus B. Urologi
BPH
Urolithiasis
Orchitis
Ret. Urin post S.A.
Ret Urin
Hidrokel
Ca Prostat
Susp. Ca Testis
total

Jumlah
13
12
2
1
1
1
1
1
32

Persentase
40 %
38 %
6%
3,2 %
3,2 %
3,2 %
3,2 %
3,2 %
100 %

Pasien kasus bedah urologi terbanyak adalah pasien dengan Benign Prostat
Hipertrophy dengan 12 pasien dengan usia diatas 65 tahun dan 1 kasus pasien
dengan rentang usia 45-64 tahun. 12 kasus pasien dengan urolithisis yang
terdiri dari 8 kasus vesikolithiasis, 2 kasus uterolithisis dan 2 kasus
nefrolithiasis. Yang menarik dari kasus vesikolithiasis, terdapat 1 pasien
veskolithiasis laki-laki berusia 11 tahun dengan pimosis, diduga pimosis

menyebabkan stasis aliran miksi dan menjadi prekursor timbulnya


vesikolithiasis pada kasus ini.
Terdapat 2 pasien dengan orchitis dan yang satu disertai fistel. Terdapat juga 1
kasus masuk dengan HIL Irreponible yang dirawat inap dan direncanakan
operasi, tetapi durante op kasusnya ditegakkan menjadi tumor testis (susp.
Malignancy); Terdapat 1 pasien perempuan usia 6 tahun yang terjadi gangguan
miksi, sudah 3 kali kunjungan dengan keluhan yang sama dan pasien
membutuhkan kateter untuk fungsi miksinya, diagnosanya belum bisa
ditegakkan.
C. 6. Bedah Anak
Kasus B. Anak
Appendicities
Susp. Invaginasi
Invaginasi
Hernia Inguinal
Susp Ileus
Colic post op App
Peritonitis
total

Jumlah
4
2
1
1
3
1
1
13

Persentase
30 %
15 %
8%
8%
23 %
8%
8%
100 %

Sebelumnya interval usia kasus bedah anak adalah anak-anak dengan usia
dibawah 14 tahun. Pada kasus bedah anak ini kasus terbanyak adalah
appendicities sebanyak 4 kasus, 2 kasus APP grade 3 dan 2 kasus lainnya APP
grade 5; terdapat 2 pasien dengan suspect invaginasi dan 1 pasien diantaranya
meninggal sesudah 48 jam. 1 pasien invaginasi usia 7 bulan dilakukan reposisi
laparatomy milking dengan reseksi anstomose end to end ileo-ilea colica. Dan
terdapat 1 kasus dengan peritonitis e.c. APP perforata
C. 7. Bedah Onkologi
Kasus B. Onkologi
Ca. Mammae
Struma dg HT
Tumor Submandibula
total

Jumlah
2
1
1
4

Persentase
50 %
25 %
25 %
100 %

Kasus bedah onkologi yang masuk melalui IGD paling banyak adalah Ca.
Mammae 2 kasus (50%), kedua kasus ca mammae datang sudah terjadi
mastitis. Dan terdapat 1 pasien dengan struma dan satu pasien dengan tumor
submandibula. Keempatnya pasien di rawat inap dan kemudian di rujuk ke RS
propinsi.
C. 8. Bedah Thorak dan Vaskular
Kasus B. Thorak
Fraktur Costa
Fraktur Costa dg Hematothorax
Control Post WSD
total

Jumlah
1
1
1
3

Persentase
33,3 %
33,3 %
33,3 %
100 %

Kasus bedah thorax dan vascular terdapat 3 kasus, ikasus pasien laki-laki
post KLL dengan fraktur costa 3,4,5,6,7 dextra dan hematothorax dextra.
Ditangani dengan pemasangan WSD di ICU dan 1 pasien dengan fraktur costa
7,8 dextra. 1 pasien control post WSD.
C. 9. Bedah Plastik
Kasus B. Plastik
Combustio
VL bibir
Contusio Mulut
Fraktur Maxilla
Fraktur Mandibula
total

Jumlah
2
2
1
1
1
7

Persentase
28 %
28 %
14,6 %
14,6 %
14,6 %
100 %

Kasus bedah plastik terdapat 2 kasus combustio pada anak-anak grade III-IV
yang dirawat inap. Dan terdapat 1 kasus fraktur maxilla dan 1 kasus fraktur
mandibula yang dirujuk ke RS propinsi melalui IGD.

D. Jenis Kelamin

B. Minor
B. Syaraf
B. Thorax & Vask
B. Digesti
B. Urologi
B. Anak
B. Orthopedi
B. Onkologi
B. Plastik
total

Perempuan
48
32
1
21
5
2
28
3
1
141 (32%)

Laki-laki
105
68
2
32
27
11
47
1
6
300 (68%)

Total
153
100
1
53
32
13
75
4
7
441

Pasien kunjungan IGD paling banyak adalah laki-laki sebanyak 300 kunjungan
(68%). Pada kasus bedah minor dengan kasus terbanyak VL dan VE banyak
terjadi pada laki-laki, begitu pula kasus cedera kepala ringan pada kasus bedah
syaraf dan kasus orthopedi berupa fraktur yang kesemuanya hampir disebabkan
oleh kecelakaan lalu lintas atau kerja, dan laki-laki lebih banyak melakukan
aktivitas yang memungkinkan terjadinya kecelakaan tersebut, hingga kasusnya

bisa melonjak sampai 68 %. Pada kasus bedah urologi jumlah kunjungan pasien
laki-laki lebih banyak, dikarenakan kasus BPH terjadi pada laki-laki, sedangkan
kunjungan BPH pada penelitian ini terdapat 13 kunjungan.

E. Rentang Usia

B. Minor
B. Syaraf
B. Thorax
B. Digesti
B. Urologi
B. Anak
B. Orthopedi
B. Onkologi
B. Plastik
total

<1 th
0
1
0
0
3
0
0
0
4

1-4 th
5
2
0
0
1
1
0
0
2
11

5-14 th
21
10
0
0
3
9
7
0
2
52

15-24 th
48
30
2
9
1
0
23
0
2
115

25-44 th
39
30
1
14
5
0
26
1
1
117

45-64 th
31
19
0
21
7
0
13
2
0
94

65 th
9
8
0
9
15
0
6
1
0
48

Pasien kasus bedah minor terbanyak adalah pasien dengan rentang usia 15-24
tahun, hal ini bisa diterangkan bahwa pasien dengan rentang usia tersebut

merupakan rentang usia penuh aktivitas yang memungkinkan terjadinya kasus


VL dan VE yang merupakan kasus terbanyak pada kasus bedah minor dalam
penelitian kali ini. Pada kategori bedah syarafpun interval usia yang terbanyak
adalah 15-24 tahun dan 25-44 tahun, karena interval usia tersebut merupakan
interval usia produktif yang memungkinkan pasien untuk mengalami cedera
kepala ringan yang banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Pada kasus
urologi rentang usia terbanyak adalah pasien diatas 65 tahun, karena pada
penelitian ini kasus BPH pasien diatas 65 tahun terdapat 12 kasus dari

32

kunjungan. Dan pada kasus onkologi pasien termuda berusia 42 tahun, karena
usia-usia tersebut merupakan fraktor predisposisi terjadinya kanker (cancer age).

E. Metode Tata Laksana

Metode tata laksana yang dibahas pada penelitian kali ini adalah, tindakan
perawatan di IGD berupa rawat jalan, rawat inap (non ICU), rawat ICU dan rujuk.
Rujuk yang dimaksud pada penlitian kali ini adalah rujuk yang difasilitasi
langsung melalui IGD, bukan di bangsal setelah pasien di rawat inap.

10

keterangan
B. Minor
B. Syaraf
B. Thorax & Vask
B. Digesti
B. Urologi
B. Anak
B. Orthopedi
B. Onkologi
B. Plastik
total

R. Jalan

%
133 87%
14
14%
1
20%
3
6%
7
22%
0
0%
32
42%
0
0%
2
40%
192

R. Inap

%
20
13%
73
73%
2
40%
50
94%
25
78%
13 100%
42
52%
4
100%
3
60%
232

ICU

0
10
2
0
0
0
0
0
0

%
0%
10%
40%
0%
0%
0%
0%
0%
0%
14

Rujuk

%
0
0%
3
3%
0
0%
0
0%
0
0%
0
0%
1
1%
0
0%
2
40%
6

Ternyata jumlah pasien rawat jalan terbanyak adalah pada pasien dengan kasus
bedah minor, sebanyak 133 pasien. Dan yang rawat inap diantaranya adalah
pasien dengan abcess dan trauma (contusio) jaringan yang berat.
Jumlah pasien yang paling banyak dirawat inap di ICU adalah pasien
kasus bedah syaraf berupa CKB dan CKS yang tidak stabil, terdapat 10 kasus.
Dan terdapat rujukan ke RS propinsi untuk 3 kasus, diantaranya 2 pasien CKS dan
1 pasien dengan CKB.
Presentasi pasien terbanyak yang dirawat di ICU adalah pasien kasus
bedah thorax, yaitu 2 pasien dari 3 kasus (66,6%), ke-2 pasien yang dirawat
dengan kasus fraktur costa, dan yang 1 pasien disertai dengan hemtothorax dextra.
Pasien kasus bedah digesti yang dirawat di ICU terdapat 2 kasus, yaitu
pasien dengan trauma tumpul abdomen dan pasien dengan ruptur lien.
Pada penelitian ini kasus yang menarik untuk diperhatikan adalah, kasus
fraktur yang ada indikasi untuk rawat inap, tetapi data statistik menunjukkan
banyak yang rawat jalan (42.6%), penulis menduga hal ini karena banyaknya isu
dimasyarakat tentang adanya alternative penanganan kasus fraktur berupa pijat
tanpa operasi. Pada kasus bedah orthopedi terdapat 1 kasus yang dirujuk berupa
fraktur femur 1/3 distal dan fraktur clavicula..
Pasien bedah plastik yang dirujuk terdapat 2 kasus, yaitu pasien dengan
fraktur mandibula dan 1 kasus lagi pasien dengan fraktur maxilla.

11

F. Mortalitas
< 48 Jam

48 Jam

0
6
0
1
0
0
0
0
0
7

0
0
0
2
0
1
0
0
0
3

Kasus/Mortality
B. Minor
B. Syaraf
B. Thorax & Vask
B. Digesti
B. Urologi
B. Anak
B. Orthopedi
B. Onkologi
B. Plastik
total

Tingkat mortalitias yang terjadi sebanyak 9 kasus dari 441 kasus yang ada
(2% dari kunjungan). 5 kasus dengan CKB (55,5%), 2 kasus dengan peritonitis
(22%), 1 kasus dengan CKS (11%) dan 1 kasus hemorrhoid dengan tetanus (11%).
Dan tingkat mortalitas yang cepat (kurang dari 48 jam), adalah kasus
dengan cedera kepala. Sebanyak 6 kasus (66%).

BAB IV

12

KESIMPULAN

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa insidensi kasuss bedah yanng masuk melalui
IGD RSUD Saras Husada, Purworejo terhitung sejak 3 juli 10 september 2006
sebanyak 441 kasus. Dengan kasus bedah minor berupa vulnus laceratum yang
terbanyak diikuti kasus cedera kepala ringan menempati posisi kedua jumlah
kasus terbanyak. Dan kasus paling sedikit adalah kasus bedah onkologi, karena
pada umumnya pasien dengan keluhan bidang onkologi memeriksakan dirinya
melalui klinik.
Jenis kelamin kunjungan pasien bedah melalui IGD adalah laki-laki
sebanyak 300 kasus (68%). Rentang usia terbanyak adalah pasien dengan rentang
usia 25-44 tahun sebanyak 117 kasus (26,5%), diikuti pasien dengan rentang usia
15-24 tahun sebanyak 115 kasus (26%).
Pasien yang masuk lewat IGD yang rawat jalan sebanyak 192 kasus
(43,5%), pasien rawat inap sebanyak 232 kasus (52,6%), yang mendapat
perawatan ICU sebanyak 14 kasus (3%) dan yang dirujuk sebanyak 6 kasus
(1,5%).
Tingkat mortalitias yang terjadi sebanyak 9 kasus dari 441 kasus yang ada
(2% dari kunjungan), yang meninggal sebelum 48 jam adalah 5 pasien dengan
CKB (55,5%), 1 pasien dengan CKS (11%) dan 1 kasus hemorrhoid dengan
tetanus (11%), sedangkan yang meninggal setelah 48 jam ada 2 pasien dengan
peritonitis.
SARAN.
Dilakukan kajian lebih lanjut berfokus pada salah satu klasifikasi bedah
seperti yang dikelompokkan diatas agar pembahasan dan data yang diperoleh
lebih detail.
DAFTAR PUSTAKA

13

1. York,2000. Setyaningsih.I,dalam Patofisiologi Cedera Kraniospinal,Seminar


Penatalaksanaan Cedera Kepala Terkini dan Tulang Belakang,SMF Bagian Ilmu
Penyakit Syarat FK-UGM/RS Dr Sardjito Yogyakarta.2004.
2. Hoffman et.al,1996 Setyaningsih.I,dalam Patofisiologi Cedera
Kraniospinal,Seminar Penatalaksanaan Cedera Kepala Terkini dan Tulang
Belakang,SMF Bagian Ilmu Penyakit Syarat FK-UGM/RS Dr Sardjito
Yogyakarta.2004.
3.Saanin.S,Pengelolaan Cedera Kepala dan Cedera Tulang Belakang Di daerah
yang jauh dari Sarana Bedah Saraf,SMF Bedah Saraf RS .DR.M.DJamil.,Padang,
www.angelfire.com/nc/neurosurgery/cederural.htm

4.Dr.Glen Johnson,Understanding How The Brain Works,Clinical


Neuropsychologist Clinical Director Of The Neuro-Recovery Head Injury
Program,Traverse City,Website http://www.tbiguide.com,1998
5.Adams,R.D.,Victor,M.,1993.Principles Of Neurology,5 th ed.,McGraw Hill,New
York

6.Cedera Intrakranial,Advanced Trauma Life Support,hal 203-205.

7. Michael Slater, Mild Traumatic Brain Injury : an Introduction, From an article


published The Verdict 1994.

8. Saanin.S,Hand Out Cedera Intrakranial ,SMF Bedah Saraf RS


.DR.M.DJamil.,Padang, www.angelfire.com/nc/neurosurgery/cederural.htm

14

9.Soertidewi.L,Penatalaksanaan Kedaruratan Cedera Kranio Serebral, Pokja


Neurotraumatologi,Bagian Ilmu Penyakit Saraf FKUI/RSCM,2004.
10.Anon, Treatment Protocols Mild Traumatic Brain Injury.http://www
neuroskill.com
11.Robert H. Fletcher,Suzanne W. Fletcher,Edward H. Wagner,1991.Prevalensi
dan Insidensi Penyakit,Dalam : Sari Epidemiologi Klinik.Edisi Kedua, Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta

15