Anda di halaman 1dari 29

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

DIABETES MELLITUS

OLEH :
LUH PUTU RISMA AGUSTINI

13.321.1946

MADE ASRI PURWANTI

13.321.1950

NI LUH ARI WINDASARI

13.321.1954

NI LUH DESSY PRADNYA DEWI

13.321.1956

NI LUH GEDE SITA PRAHITA DANI 13.321.1958


NI PUTU SUKMA PRADNYAYANTHI

13.321.1970

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
WIRA MEDIKA PPNI BALI
2015

KONSEP DASAR PENYAKIT

A. Definisi
Diabetes mellitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme
kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai
dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi
fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi
produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh
kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).
Diabetes Mellitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan
kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2000).
Diabetes Melitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, dengan
tanda tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik
akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam tubuh,
gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga
gangguan metabolisme lemak dan protein. ( Askandar, 2000).
B. Epidemiologi
Kebanyakan kasus, diabetes gestasional akan menghilang segera setelah bayi dilahirkan.
Bagaimanapun juga, wanita-wanita yang menderita diabetes gestasional mempunyai resiko
tinggi untuk mengalami diabetes gestasional lagi pada kehamilan berikutnya, dan juga 17 %
- 63 % dari mereka akan mengalami perubahan dan berkembang menjadi diabetes tipe 2
dalam 5 hingga 16 tahun.
Ahli nutrisi, Nancy Clark di dalam majalah American Fitness, menyatakan bahwa secara
teori, persiapan untuk menghadapi pertumbuhan bayi dalam janin memerlukan 85.000
kalori. Tetapi ada wanita hamil yang mengkonsumsi kalori lebih dari itu. Namun ada pula
yang mengalami perubahan nafsu makan. Menurut hasil studi yang diterbitkan dalam
America Journal Of Clinical Nutrition, kebutuhan energi ( kalori ) wanita hamil sangat
bervariasi, yaitu antara 50.000 150.000 kalori.
Kecemasan bahwa berat badan Anda tidak bisa kembali lagi seperti sebelum hamil, tak
perlu dirisaukan. Seorang ibu dapat menikmati saat-saat kehamilan tanpa takut menjadi
gemuk. Kehamilan dan obesitas memiliki perbedaan. Peningkatan berat badan pada saat

hamil sekitar 12 kg, namun itu semua disebabkan oleh berat bayi ( 3,5 kg ), plasenta ( 1 kg ),
cairan ketuban ( 1,5 kg ), rahim ( 1,5 kg ), air lemak, dan jumlah darah ( 3 3,5 kg ).
C. Klasifikasi
Klasifikasi Diabetes yang utama adalah : (Brunner and Suddarth)
1. Tipe 1 :
Diabetes Melitus tergantung insulin (Insulin dependent diabetes mellitus atau IDDM).
Ciri-ciri klinis dari DM Tipe I ini yaitu awitan terjadi pada segala usia, tetapi biasanya
pada usia muda (<30 tahun), biasanya bertubuh kurus pada saat didiagnosis dengan
penurunan berat badan yang baru saja terjadi, etiologi mencakup faktor genetik,
imunologi atau lingkungan misalnya virus, sering memiliki antibodi terhadap insulin
meskipun belum pernah mendapatkan terapi insulin, cenderung mengalami ketosis jika
tidak memiliki insulin, komplikasi akut hiperglikemi : ketoasidosis diabetik.
2. Tipe 2 :
Diabetes Melitus tidak tergantung insulin (Non Insulin dependent diabetes mellitus
atau NIDDM). Ciri-ciri klinis dari DM tipe II ini yaitu awitan terjadi pada segala usia,
biasanya diatas 30 tahun, biasanya bertubuh gemuk pada saat didiagnosis, etiologi
mencakup faktor obesitas, herediter atau lingkungan, penurunan produksi insulin
endogen atau peningkatan resistensi insulin, ketosis jarang terjadi, kecuali bila dalam
keadaan stres atau menderita infeksi, komplikasi akut : sindrom hiperosmoler
nonketotik).
D. Etiologi
1. Diabetes tipe 1
a. Faktor faktor genetic
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri, tetapi mewarisi suatu
predisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I.
b. Faktor-faktor imunologi
c. Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon otoimun. Respon ini
merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh
dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah
sebagai jaringan asing.
d. Faktor faktor lingkungan

Penyelidikan juga sedang dilakukan terhadap kemungkinan factor-faktor genetic,


imunologi dan lingkungan dalam etiologi diabetes tipe I merupakan pokok
perhatia riset yang terus berlanjut
2. Diabetes tipe 2
Faktor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi
insulin. Selain itu terdapat pula factor-faktor tertentu :
A. Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia diatas 65 tahun)
B. Obesitas
C. Riwayat keluarga
D. Gaya Hidup

E. Manifestasi Klinis
Gejala yang lazim terjadi, pada diabetes mellitus sebagai berikut : Pada tahap awal sering
ditemukan.
1. Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya
serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak
menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing.
2. Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena
poliuri, sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum.
3. Polipagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar).
Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan. Tetapi walaupun klien banyak
makan, tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.
4. Berat badan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang.
Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh
berusama mendapat peleburan zat dari bahagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein,
karena tubuh terus merasakan lapar, maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan
makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga
klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus
5. Mata kabur
Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa sarbitol fruktasi) yang
disebabkan karena insufisiensi insulin. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa,
sehingga menyebabkan pembentukan katarak.

F. Patofisiologi
Pada DMG, selain perubahan-perubahan fisiologi tersebut, akan terjadi suatu keadaan di
mana jumlah/fungsi insulin menjadi tidak optimal. Terjadi perubahan kinetika insulin dan
resistensi terhadap efek insulin. Akibatnya, komposisi sumber energi dalam plasma ibu
bertambah (kadar gula darah tinggi, kadar insulin tetap tinggi). Melalui difusi terfasilitasi
dalam membran plasenta, dimana sirkulasi janin juga ikut terjadi komposisi sumber energi
abnormal. (menyebabkan kemungkinan terjadi berbagai komplikasi). Selain itu terjadi juga
hiperinsulinemia sehingga janin juga mengalami gangguan metabolik (hipoglikemia,
hipomagnesemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia. Metabolisme karbohifrat wanita hamil
dan tidak hamil yang ditandai hipoglikemia puasa , hipoglikemia postprandial yang
memanjang dan hiperinsulinemia terutama pada trimester III efek kehamilan yang
memperberat diabetes mellitus yang didertia ibu hamil ataupun menimbulkan Diabetes
mellitus grstasional disebut diabetagonik. terdapat hipertrofi, hyperplasia dan hipesekresi sel
B pancreas, konsentrasi asam lemak bebas, trigliserida, da kolesterol pada wanita hamil
puasa yang kebih tinggi.
G. Pemeriksaan Penunjang
Adanya kadar glukosa darah yang meningkat secara abnormalmerupakan criteria yang
melandasi penegakan diagnosis diabetes.
1. Kadar gula darah palsma pada waktu puasa ( gula darah nuchter) yang besarnya diatas
140mg/dl (SI 7,8 mmol/L)
2. Kadar glukosa darah sewaktu (gula darah random) yang diatas 200mg/dl (SI: 11,1
mmol/l) pada satu kali pemeriksaan atau lebih. Jika kadar puasanya normal atau
mendekati normal, penegakan diagnosis harus berdasarkan tes toleransi glukosa.
3. Tes Toleransi Glukosa
Tes toleransi glukosa oral merupakan pemeriksaan yang lebih sensitive daripada tes
toleransi glukosa intravena yang hanya digunakan dalam situasi tertentu (misalnya untuk
pasien yang pernah mengalami operasi lambung). TTGO dilakukan dengan cara
pemberian larutan karbohidrat sederhana.beberapa factor mempengaruhi TTGO yang
mencakup metode analisis, sumberspesimen, (darah utuh, plasma atau serum, darah
kapiler atau vena).
4. Aseton plasma ( keton ) ; Positif secara mencolok.
5. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat.
6. Osmolalitas serum : Meningkat tetapi biasanya kurang dari 330Mosm/l

7. Elektrolit :
1. Natrium : Mungkin normal, meningkat atau menurun
2. Kalium : Normal
3. Fosfor : Lebih sering menurun
8. Hemoglobin Glikosilat : kadar meningkat 2 4 kali dari normal yangmencerminkan
kontrol diabetes melitus yang kurang selama 4 bulan terakhir.
9. Gas Darah Arteri : Biasanya menunjukkan pH rendahdan penurunanpada HCO2
( Asidosis Metabolik ) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
10. Trombosit darah : Hematokrit mungkin meningkat ( dehidrasi ) ;Leukositosis,
hemokonsentrasi, merupakan respon terhadap stressatau infeksi.
11. Ureum / kreatinin : Mungkin meningkat atau normal ( dehidrasi /penurunan fungsi
ginjal).
12. Amilase darah : Mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pankreatitis akut
sebagai penyebab dari DKA.
13. Insulin darah : Mungkin menurun / bahkan sampai tidak ada ( tipe I ) atau normal sampai
tinggi ( tipe II ), mengindikasikan infusiensi insulin, gangguan dalam penggunaannya.
Resistensi

insulin

dapat

berkembang

sekunder

terhadap

pembentukkan

antibodi( autoantibodi ).
14. Pemeriksaan fungsi tiroid : Peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan
glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
15. Urin : gula dan aseton positif, berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat.
16. Kultur dan sensitivitas : Kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi
pernapasan dan infeksi pada luka.
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr
karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl.
H. Therapy / Tindakan Pelaksanaan
1. Mengatur diet.
Diet yang dianjurkan pada bumil DMG adalah 30-35 kal/kg BB, 150-200 gr
karbohidrat, 125 gr protein, 60-80 gr lemak dan pembatasan konsumsi natrium.

Penambahan berat badan bumil DMG tidak lebih 1,3-1,6 kg/bln. Dan konsumsi kalsium
dan vitamin D secara adekuat. Makanan disajikan menarik dan mudah diterima. Diet
diberikan dengan cara tiga kali makan utama dan tiga kali makanan antara (snack)
dengan interval tiga jam. Buah yang dianjurkan adalah buah yang kurang manis,
misalnya pepaya, pisang, apel, tomat, semangka, dan kedondong.
Dalam melaksanakan diit sehari-hari hendaknya mengikuti pedoman 3J yaitu :
J1

: Jumlah kalori yang diberikan harus habis.

J2

: Jadwal diit harus diikuti sesuai dengan interval.

J3

: Jenis makanan yang manis harus dihindari.

Penentuan jumlah kalori Untuk menentukan jumlah kalori penderita DM yang


hamil/menyusui secara empirik dapat digunakan umus sebagai berikut ;
( TB 100 ) x 30 T1 + 100 T3 + 300 T2 + 200 L + 400
Keterangan :
TB : Tinggi badan. T3 : Trimester III
T1

: Trimester I L : Laktasi/menyusui

T2

: Trimester II

2. Terapi Insulin
Menurut Prawirohardjo, (2002) yaitu sebagai berikut :
Daya tahan terhadap insulin meningkat dengan makin tuanya kehamilan, yang
dibebaskan oleh kegiatan antiinsulin plasenta. Penderita yang sebelum kehamilan sudah
memerlukan insulin diberi insulin dosis yang sama dengan dosis diluar kehamilan sampai
ada tanda-tanda bahwa dosis perlu ditambah atau dikurangi. Perubahan-perubahan dalam
kehamilan memudahkan terjadinya hiperglikemia dan asidosis tapi juga menimbulkan
reaksi hipoglikemik. Maka dosis insulin perlu ditambah/dirubah menurut keperluan
secara hati-hati dengan pedoman pada 140 mg/dl. Pemeriksaan darah yaitu kadar post
pandrial < 140 mg/dl.
Terutama pada trimester I mudah terjadi hipoglikemia apabila dosis insulin tidak
dikurangi karena wanita kurang makan akibat emisis dan hiperemisis gravidarum.
Sebaliknya dosis insulin perlu ditambah dalam trimester II apabila sudah mulai suka
makan , lebih-lebih dalam trimester III. Selama berlangsungnya persalinan dan dalam
hari-hari berikutnya cadangan hidrat arang berkurang dan kebutuhan terhadap insulin

berkurang yang mengakibatkan mudah mengalami hipoglikemia bila diet tidak


disesuaikan atau dosis insulin tidak dikurangi. Pemberian insulin yang kurang hati-hati
dapat menjadi bahaya besar karena reaksi hipoglikemik dapat disalah tafsirkan sebagai
koma diabetikum. Dosis insulin perlu dikurangi selama wanita dalam persalinan dan nifas
dini. Dianjurkan pula supaya dalam masa persalinan diberi infus glukosa dan insulin pada
hiperglikemia berat dan keto asidosis diberi insulin secara infus intravena dengan
kecepatan 2-4 satuan/jam untuk mengatasi komplikasi yang berbahaya.
Penanggulangan Obstetri pada penderita yang penyakitnya tidak berat dan cukup
dikuasi dengan diit saja dan tidak mempunyai riwayat obstetri yang buruk, dapat
diharapkan partus spontan sampai kehamilan 40 minggu. lebih dari itu sebaiknya
dilakukan induksi persalinan karena prognosis menjadi lebih buruk. Apabila diabetesnya
lebih berat dan memerlukan pengobatan insulin, sebaiknya kehamilan diakhiri lebih dini
sebaiknya kehamilan 36-37 minggu. Lebih-lebih bila kehamilan disertai komplikasi,
maka dipertimbangkan untuk menghindari kehamilan lebih dini lagi baik dengan induksi
atau seksio sesarea dengan terlebih dahulu melakukan amniosentesis. Dalam pelaksanaan
partus pervaginam, baik yang tanpa dengan induksi, keadaan janin harus lebih diawasi
jika mungkin dengan pencatatan denyut jantung janin terus menerus.
Strategi terapi diabetes mellitus pada ibu hamil meliputi manajemen diet, menjaga
berat badan ibu tetap ideal, terapi insulin untuk menormalkan kontrol glikemik dan olah
raga. Insulin yang dapat digunakan untuk terapi diantaranya:
a. Humulin
Komposisi : Humulin R Reguler soluble human insulin (rekombinant DNA
origin). Humulin N isophane human insulin (rekombinant DNA origin).
Humulin 30/70 reguler soluble human insulin 30% & human insulin

suspensi 70% (rekombinant DNA origin).


Indikasi : IDDM
Dosis : Dosis disesuaikan dengan kebutuhan individu. Diberikan secara
injeksi SK, IM, Humulin R dapat diberikan secara IV. Humulin R mulai
kerja jam, lamanya 6-8 jam, puncaknya 2-4 jam. Humulin N mulai kerja
1-2 jam, lamanya 18-24 jam, puncaknya 6-12 jam. Humulin 30/70 mulai

kerja jam, lamanya 14-15 jam, puncaknya 1-8 jam.


Kontraindikasi : Hipoglikemik.

Peringatan : Pemindahan dari insulin lain, sakit atau gangguan emosi,

diberikan bersama obat hiperglokemik aktif.


Efek sampinng : Jarang, lipodistropi, resisten terhadap insulin, reaksi alergi

local atau sistemik.


Faktor resiko : pada kehamilan kategori B

b. Insulatard Hm/ Insulatard Hm Penfill


Komposisi : Suspensi netral isophane dari monokomponen insulin manusia.

Rekombinan DNA asli.


Indikasi : DM yang memerlukan insulin
Dosis : Jika digunakan sebagai terapi tunggal biasanya diberikan 1-2x/hari
(SK). Onset: jam. Puncak: 4-12 jam. Terminasi: setelah 24 jam. Penfill

harus digunakan dengan Novo pen 3 dengan jarum Novofine 30 G x 8mm.


Kontraindikasi : Hipoglikemia.
Faktor resiko : pada kehamilan kategori B

c. Actrapid Hm/Actrapid Hm Penfill


Komposisi : Larutan netral dari monokomponen insulin manusia.

Rekombinan DNA asli


Indikasi : DM
Dosis : Jika digunakan sebagai terapi tunggal, biasanya diberikan 3 x atau
lebih sehari. Penfill SK, IV, IM. Harus digunakan dengan Novo Pen 3 &
jarum Novofine 30 G x 8 mm. Tidak dianjurkan untuk pompa insulin.
Durasi daya kerja setelah injeksi SK: jam, puncak: 1-3 jam. Terminasi

setelah 8 jam.
Kontraindikasi : hipoglikemia, insulinoma. Pengunaan pada pompa insulin.
Peringatan : Stres psikis, infeksi atau penyakit lain yang meningkatkan

kebutuhan insulin. Hamil.


Efek samping : Jarang, alergi & lipoatrofi.\
Interaksi obat : MAOI, alcohol, bloker meningkatkan efek hipoglikemik.
Kortikosteroid, hormon tiroid, kontrasepsi oral, diuretic meningkatkan

kebutuhan insulin.
Faktor resiko : pada kehamilan kategori B

d. Humalog/Humalog Mix 25

Komposisi : Per Humalog insulin lispro. Per Humalog Mix 25 insulin lispro

25%, insulin lispro protamine suspensi 75%.


Indikasi : Untuk pasien DM yang memerlukan insulin untuk memelihara
homeostasis normal glukosa. Humalog stabil awal untuk DM, dapat
digunakan bersama insulin manusia kerja lama untuk pemberian pra-

prandial
Dosis : Dosis bersifat individual. Injeksi SK aktivitas kerja cepat dari obat
ini, membuat obat ini dapat diberikan mendekati waktu makan (15 menit

sebelum makan)
Kontraindikasi : hipoglikemia. Humalog mix 25 tidak untuk pemberian IV.
Peringatan : Pemindahan dari terapi insulin lain. Penyakit atau gangguan
emosional. Gagal ginjal atau gagal hati. Perubahan aktivitas fisik atau diet.

Hamil.
Efek samping : Hipoglikemia, lipodisatrofi, reaksi alergi local & sistemik.
Interaksi obat : Kontrasepsi oral,kortikosteroid, atau terapi sulih tiroid dapat
menyebabkan kebutuhan tubuh akan insulin meningkat. Obat hipoglikemik
oral, salisilat, antibiotik sulfa, dapat menyebabkan kebutuhan tubuh akan

insulin menurun.
Faktor resiko : pada kehamilan kategori B

e. Mixtard 30 Hm/Mixtard Hm Penfill


Komposisi : Produk campuran netral berisi 30% soluble HM insulin & 70%

isophane HM insulin (monokomponen manusia). Rekombinan DNA asli.


Indikasi : DM yang memerlukan terapi insulin.
Dosis : Jika digunakan sebagai terapi tunggal biasanya diberikan 1-2 x/hari.
Onset: jam. Puncak 2-8 jam. Terminasi setelah 24 jam. Penfill harus

digunakan dalam Novo Pen 2 dengan jarum Novofine 30 G x 8 mm.


Kontraindikasi : Hipoglikemia, insulinoma.
Peringatan : Stres psikis, infeksi atau penyakit yang dapat meningkatkan

kebutuhan insulin. Hamil.


Efek samping : Jarang, alergi & lipoatrofi.
Interaksi obat : MAOI, alkohol, ? bloker meningkatkan efek hipoglikemik.
Kortikosteroid, hormon tiroid, kontrasepsi oral, diuretic meningkatkan

kebutuhan insulin.
Faktor resiko : pada kehamilan kategori B.

3. Olah Raga
Kecuali kontraindikasi, aktivitas fisik yang sesuai direkomendasikan untuk memperbaiki
sensitivitas insulin dan kemungkinan memperbaiki toleransi glukosa. Olah raga juga dapat
membantu menaikkan berat badan yang hilang dan memelihara berat badan yang ideal
ketika dikombinasi dengan pembatasan intake kalori.
H. KOMPLIKASI
Komplikasi diabetes mellitus terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi akut dan komplikasi
kronik:
1. Komplikasi Akut
a. Hipoglikemia
Hipoglikemia secara harafiah berarti kadar glukosa darah di bawah harga normal.
Walaupun kadar glukosa plasma puasa pada orang normal jarang melampaui 99
mg% (5,5 mmol/L), tetapi kadar <180 mg% (6 mmol/L) masih dianggap normal.
Kadar glukosa plasma kira-kira 10 % lebih tinggi dibandingkan dengan kadar
glukosa darah keseluruhan (whole blood) karena eritrosit mengandung kadar
glukosa yang relatif lebih rendah. Kadar glukosa arteri lebih tinggi dibandingkan
vena, sedangkan kadar glukosa darah kapiler diantara kadar arteri dan vena .
b. Hiperglikemia
Hiperglikemia dapat terjadi karena meningkatnya

asupan glukosa dan

meningkatnya produksi glukosa hati. Glukosa yang berlebihan ini tidak akan
termetabolisme habis secara normal melalui glikolisis. Tetapi, sebagian melalui
perantara enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol, yang selanjutnya
akan tertumpuk dalam sel/jaringan tersebut dan menyebabkan kerusakan dan
perubahan fungsi (Arifin). Hiperglikemia terdiri dari:

Diabetes Keto Asidosis (DKA)


Diabetes Ketoasidosis (DKA) adalah keadaan dekompensasi-kekacauan
metabolik yang ditandai dengan trias hiperglikemia, asidosis dan ketosis,
terutama disebabkan oleh defisiensi insulin absolut atau relative.

Koma Hiperosmolar Hiperglikemik Non Ketotik (KHHNK)

Sindrom KHHNK ditandai dengan hiperglikemia, hiperosmolar tanpa disertai


adanya ketosis. Gejala klinis utama adalah dehidrasi berat, hiperglikemia berat
dan sering kali disertai ganguan neurolis dengan atau tanpa adanya ketosis.
2. Komplikasi kronik
Diabetes Melitus pada dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah diseluruh
bagian tubuh (Angiopati Diabetik). Angiopati Diabetik dibagi menjadi 2 yaitu
(Long 1996) :
a. Mikrovaskuler
Penyakit Ginjal
Salah satu akibat utama dari perubahanperubahan mikrovaskuler adalah
perubahan pada struktural dan fungsi ginjal. Hal ini dikarenakan terjadi
kerusakan pada pembuluh darah halus di ginjal. Kerusakan pembuluh darah
menimbulkan kerusakan glomerulus yang berfungsi sebagai penyaring darah.
Tingginya kadar gula dalam darah akan membuat struktur ginjal berubah
sehingga fungsinyapun terganggu. Bila kadar glukosa darah meningkat, maka
mekanisme filtrasi ginjal akan mengalami stress yang menyebabkan kebocoran
protein darah dalam urin (Smeltzer, 2002)
Penyakit Mata (Katarak)
Penderita Diabetes melitus akan mengalami gejala penglihatan sampai
kebutaan. Keluhan penglihatan kabur tidak selalui disebabkan retinopati
(Sjaifoellah, 1996 : 588). Katarak disebabkan karena hiperglikemia yang
berkepanjangan yang menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa
(Long, 1996)
Neuropati
Diabetes dapat mempengaruhi saraf - saraf perifer, sistem saraf otonom,
Medsulla spinalis, atau sistem saraf pusat. Akumulasi sorbital dan perubahan
perubahan metabolik lain dalam sintesa atau fungsi myelin yang dikaitkan
dengan hiperglikemia dapat menimbulkan perubahan kondisi saraf (Long,
1996)
b. Makrovaskuler

Penyakit Jantung Koroner


Akibat kelainan fungsi pada jantung akibat diabetes melitus maka terjadi
penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya keseluruh tubuh
sehingga tekanan darah akan naik atau hipertensi. Lemak yang menumpuk
dalam pembuluh darah menyebabkan mengerasnya arteri (arteriosclerosis),
dengan resiko penderita penyakit jantung koroner atau stroke
Pembuluh darah kaki
Timbul karena adanya anesthesia fungsi saraf saraf sensorik, keadaan ini
berperan dalam terjadinya trauma minor dan tidak terdeteksinya infeksi yang
menyebabkan gangren. Infeksi dimulai dari celahcelah kulit yang mengalami
hipertropi, pada selsel kuku yang tertanam pada bagian kaki, bagia kulit kaki
yang menebal, dan kalus, demikian juga pada daerahdaerah yang tekena
trauma (Long, 1996)
Pembuluh darah otak
Pada pembuluh darah otak dapat terjadi penyumbatan sehingga suplai darah ke
otak menurun (Long, 1996)
I. Prognosis
Prognosis bagi wanita hamil dengan diabetes pada umumnya cukup baik, apalagi
penyakitnya lekas diketahui dan dengan segera diberikan pengobatan oleh dokter ahli, serta
kehamilan dan persalinannya ditangani oleh dokter spesialis kebidanan. Kematian sangat
jarang terjadi, apabila penderita sampai meninggal biasanya karena penderita sudah
mengidap diabetes sudah lama dan berat, terutama yang disertai komplikasi pembuluh darah
atau ginjal. Sebaliknya, prognosis bagi anak jauh lebih buruk dan di pengaruhi oleh :
1. Berat dan lamanya penyakit, terutama disertai asetonuria
2. Insufisiensi plasenta
3. Prematuritas
4. Gawat napas (respiratory distress)
5. Cacat bawaan
6. Komplikasi persalinan (distosia bahu)

Pada umumnya angka kematian perinatal diperkirakan anatara 10-15%, dengan pengertian
bahwa makin berat diabetes, makin buruk pula prognosis perinatal.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan
a. Identitas : Nama
Usia (DM tipe I < 30 tahun, DM tipe II > 30 tahun, cenderung meningkat pada usia >
65 tahun)
Jenis Kelamin
b. Keluhan utama :
Kondisi hipoglikemia (biasa terjadi pada DM tipe II)
Tremor, perspirasi, takikardi, palpitasi, rasa lapar, sakit kepala, vertigo, penurunan
perfusi dimana perfusinya dingin, mengantuk, lemah, konfusi, penurunan
kesadaran.
Kondisi hiperglikemia (biasa terjadi pada DM tipe I)
Penglihatan kabur, lemas, rasa haus, banyak kencing, dehidrasi, suhu tubuh
meningkat, sakit kepala.
c. Riwayat penyakit sekarang
Dominan muncul adalah sering berkemih, sering lapar dan haus, berat badan
menurun, biasanya penderita belum tahu, sampai memeriksakan diri ke pelayanan
kesehatan.
d. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit pankreas, gangguan penerimaan insulin, gangguan hormon, konsumsi obatobatan

(Glukokortikoid,

Furosemid,

Thiazid,

Beta-Bloker,

kontrasepsi

mengandung estrogen).
e. Riwayat penyakit keluarga
Menurun menurut silsilah, kelainan gen yang mengakibatkan tubuh tidak dapat
menghasilkan insulin dengan baik.
2. Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Pada pasien gangren kaki diabetik terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup
sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gangren kaki diabetik
sehingga menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan
untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama, oleh karena
itu perlu adanya penjelasan yang benar dan mudah dimengerti pasien.
b. Pola nutrisi dan metabolic
Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka kadar
gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan keluhan sering
kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan menurun dan mudah lelah.

Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya

gangguan nutrisi dan

metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan penderita.


c. Pola eliminasi
Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik

yang

menyebabkan pasien sering kencing (poliuri) dan pengeluaran glukosa pada urine
( glukosuria ). Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan.
d. Pola aktivitas dan latihan
Adanya luka gangren dan kelemahan otot otot pada tungkai bawah menyebabkan
penderita tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal,
penderita mudah mengalami kelelahan.
e. Pola tidur dan istirahat
Adanya poliuri, nyeri pada kaki yang luka dan situasi rumah sakit yang ramai akan
mempengaruhi waktu tidur dan istirahat penderita, sehingga pola tidur dan waktu
tidur penderita mengalami perubahan.
f. Pola kognitif-perseptual
Pasien dengan gangren cenderung mengalami neuropati / mati rasa pada luka
sehingga tidak peka terhadap adanya trauma.
g. Pola persepsi diri/konsep diri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita
mengalami gangguan pada gambaran diri. Luka yang sukar sembuh, lamanya
perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien
mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga ( self esteem ).
h. Pola seksual dan reproduksi
Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi sehingga
menyebabkan gangguan potensi sek, gangguan kualitas maupun ereksi, serta
memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme.
i. Pola hubungan dan peran
Luka gangren yang sukar sembuh dan berbau menyebabkan penderita malu dan
menarik diri dari pergaulan.
j. Pola manajemen koping stress
Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan tidak
berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif berupa
marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain lain, dapat menyebabkan
penderita tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan

Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta luka pada
kaki tidak menghambat penderita dalam melaksanakan ibadah tetapi mempengaruhi
pola ibadah penderita.
3. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan dengan tehnik inspeksi, palpasi, auskultasi untuk
mendapatkan data objektif. Pemeriksaan fisik pada sistem endokrin bersifat menyeluruh,
namun manifestasi klinik akan sangat membantu dalam memfokuskan pemeriksaan fisik.
Inspeksi

Disfungsi sistem endokrin akan menyebabkan perubahan fisik sebagai akibat dari
gangguan pertumbuhan dan perkembangan, keseimbangan cairan dan elektrolit,

seks dan reproduksi, metabolisme dan energi.


Amatilah penampilan umum dan proporsi tubuh, apakah adanya tremor atau tidak.
Wajah : abnormalitas struktur bentuk dan ekspresi wajah seperti bentuk dahi, rahang

dan bibir
Mata : amati adanya edema periorbita dan exoptalmus serta apakah ekspresi wajah

datar atau tumpul


Lidah :kelainan bentuk dan penebalan
Kulit, perubahan warna kulit seperti kemerahan, ekimosis, sianosis, striae.
Observasi rambut, distribusinya dan teksturnya. Inpeksi warna, pigmentasi, striae,
ekimosis. Adakah kemerahan, sianosis, kekuningan, hematoma.
o Hiperpigmentasi pada persendian, genetalia ditemukan pada penyakit
addison.

Hal

ini

dikarenakan

kekurangan

adrenokartikal

kronik

menyebabkan kelebihan pigmen pada kulit.


o Pigmentasi abu-abu kecoklatan di leher dan ketiak ditemukan pada pasien
dengan cushing syndrome.
o Pigmentasi kuning pada palmar dapat mengindikasikan penyakit
hiperlipidemia.
o Penurunan pigmentasi kulit dapat terjadi pada panhipopituitari.
o Keadaan kulit yang kering, keras dan bersisik menjadi indikasi pada
o
o
o
o

hipotiroid.
Kulit hangat, lembab, tipis dapat ditemukan pada hipertiroid.
Striae keunguan dan ekimosis dapat ditemukan pada cushing syndrome.
Edema, dapat terjadi pada hipotiroid (myxedema).
Penyembuhan luka yang lama, indikasi penyakit diabetes melitus.

o Pertumbuhan yang terlambat atau cepat, terjadi pada kekurangan atau


kelebihan growth hormone.
o Perubahan distribusi rambut, jumlah, tekstur, dapat terjadi pada pasien

dengan gangguan tiroid.


Kepala, kesimetrisan, proporsi dengan anggota tubuh yang lain, bentuk dan ukuran,
ekspresi wajah pada kecemasan. Pada gangguan hormon pituitari dapat ditemukan
pembesaran ukuran kepala, pembesaran rahang dan pertumbuhan gigi tidak rata.
Perubahan bentuk yang terjadi adalah penurunan ukuran bibir dan hidung,

penonjolan supraorbital.
Mata, kaji ketajaman penglihatan, kesimetrisan, posisi, edema pada mata,
pergerakan bola mata.
Kebutaan, misalnya pada penyakit DM.
Mata yang melotot keluar (exopthalmos), karakteristik dari hipertiroid.
Leher :
o Amati bentuk leher, apakan leher tampak membesar, simetris atau tidak
o Amati warna kulit (hiperpigmentasi atau hipopigmentasi) apakah merata dan
catat lokasinya.
o Infeksi jamur, penyembuhan yang lama, bersisik, dan ptechiae (hiperfungsi
adrenokortikal)
o Hiperpigmentasi pada jari, siku dan lutut, Vitiligo atau hipopigmentasi pada
kulit (hipofungsi kelenjar adrenal)
o Penumpukan masa otot yang berlebihan pada leher bagian belakang

(Buffalo neck) (hiperfungsi adrenokortikal)


Thoraks, pada laki-laki adakah pembesaran mamae, pada perempuan payudara
kecil. Auskultasi bunyi paru dan jantung.
o Atropi payudara pada wanita terjadi pada hipopituitari
o Ginekomastia dapat ditemukan
o Perubahan tanda vital, misalnya hipertensi dapat terjadi pada tumor adrenal,
menurunkannya sekresi ADH.
o Meningkatnya nadi dan denyut jantung, misalnya pada pasien dengan

hipertiroid.
Abdomen, dapat ditemukan:
o Pembesaran hati, limpa.
o Peristaltik usus menurun pada hipotiroid.
o Perubahan pola eliminasi bowel seperti diare, misalnya pada pasien
hipertiroid, konstipasi sering terjadi pada hipotiroid.
o Rasa haus dan makan yang berlebihan, karakteristik penyakit DM.

Genitalia, adanya atropi pada laki-laki merupakan indikasi hipopituitari.


Frekuensi urin yang berlebihan (poliuria), indikasi pada pasien DM.
Adanya batu ginjal, indikasi pada hiperparatiroid.
Perubahan siklus menstruasi, penurunan libido, impoten merupakan indikasi
gangguan pada hormon gonadotropin.
Ekstremitas, kaji bentuk, ukuran, kesimetrisan, kekuatan otot, ROM. Dapat
ditemukan adanya kelemahan tonus otot, nyeri sendi saat digerakkan, pembesaran

tangan dan kaki, trunkei obesitas (badan besar ekstremitas kecil).


Amati keadaan rambut aksila dan dada, Pertumbuhan rambut yang berlebihan pada
dada dan wajah wanita disebut hirsutisme
Pada buah dada :
o Amati bentuk dan ukuran, simetris tidaknya, pigmentasi dan adanya
pengeluaran cairan. Striae pada buah dada atau abdomen (hiperfungsi
adrenokortikal)
o Bentuk abdomen : Cembung akibat penumpukan lemak centripetal (hiperfungsi
adrenokortikal)

Palpasi
Kelenjar tiroid dan testes, dua kelenjar yang dapat diperiksa melalui rabaan. Pada kondisi
normal, kelenjar tiroid tidak teraba namun isthmus dapat diraba dengan mengadakan
kepala klien.

Lakukan palpasi kelenjar tiroid perlobus dan kaji ukuran, nodul tunggal atau
multipel, apakah ada rasa nyeri pada saat dipalpasi. Pada saat dilakukan
pemeriksaan, klien duduk atau berdiri sama saja namun untuk menghindari
kelelahan klien sebaiknya posisi duduk. Untuk hasil yang lebih baik, dalam
melakukan palpasi pemeriksaan berada dibelakang klien dengan posisi kedua ibu
jari perawat dibagian belakang leher dan keempat jari-jari lain ada diatas kelenjar

tiroid.
Palpasi testes dilakukan dengan posisi tidur dan tangan perawat harus dalam
keadaan hangat. Perawat memegang lembut dengan ibu jari dan dua jari lain,
bandingkan yang satu dengan yang lainnya terhadap ukuran atau besarnya simetris
tidaknya, konsistensi dan ada tidaknya nodul. Normalnya testes teraba lembut, peka
terhadap sinar dan kenyal seperti karet.

Auskultasi
Mendengar bunyi tertentu dengan bantuan stetoskop dapat menggambarkan
berbagai perubahan dalam tubuh. Auskultasi pada daerah leher, diatas kelenjar tiroid
dapat mengidentifikasi bruit. Bruit adalah bunyi yang dihasilkan oleh karena turbulensi
pada pembuluh darah tiroidea. Dalam keadaan normal, bunyi ini tidak terdengar. Dapat
diidentifikasi bila terjadi peningkatan sirkulasi darah ke kelenjar tiroid sebagai dampak
peningkatan aktivitas kelenjar tiroid.
Auskultasi dapat pula dilakukan untuk menidentifikasi perubahan pada pembuluh
darah dan jantung seperti tekanan darah, ritme dan rate jantung yang dapat
menggambarkan gangguan keseimbangan cairan, perangsangan katekolamin dan
perubahan metabolisme tubuh.
Selain dengan tehnik di atas, pemeriksaan fisik juga dilakukan dengan memeriksa
keadaan fisik klien dengan cara head-to-toe:

Tanda vital seperti pernapasan, suhu, tekanan darah dan nadi. Adanya perubahan
tanda vital sering terjadi misalnya pada pasien dengan hipertiroid, hipotiroid yang
berakibat pada perubahan kardiovaskuler sehingga dapat terjadi bradikardi,
takhikardi. Peningkatan suhu tubuh dan penurunan suhu tubuh dapat terjadi pada
peningkatan atau penurunan metabolisme tubuh pada pasien dengan gangguan
tiroid. Tekanan darah dapat menurun atau meningkat.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan metabolisme protein, lemak.
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati
perifer) ditandai dengan gangren pada ektremitas.
3. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.
4. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan glukosa darah yang tinggi.
5. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.

C. Rencana Keperawatan
N

DIAGNOSA

O
1 Ketidakseimba
ngan

TUJUAN DAN

KRITERIA HASIL
Setelah
diberikan 1. Timbang

nutrisi asuhan keperawatan

kurang

dari selama

..x..jam

kebutuhan

diharapkan

tubuh

kebutuhan

berhubungan

pasien

dengan

terpenuhi

peningkatan

Kriteria Hasil :

metabolisme

INTERVENSI

protein, lemak.

berat 1. Mengkaji

badan

sesuai

indikasi

pemasukan
makanan

yang

adekuat.
nutrisi
dapat 2. Tentukan program 2. Mengidentifikasika
dengan

Pasien dapat
mencerna
jumlah
atau

kalori

diet, pola makan,

n kekurangan dan

dan bandingkan

penyimpangan dari

dengan makanan

kebutuhan

yang

terapeutik.

dapat

dihabiskan klien.

nutrien 3. Auskultrasi bising

yang tepat
-

RASIONAL

usus, catat nyeri 3. Hiperglikemi,

Berat badan
stabil

atau

abdomen

atau

gangguan

perut kembung,

keseimbangan

penambahan

mual,

cairan dan elektrolit

ke arah rentang

dan pertahankan

menurunkan

biasanya

keadaan

motilitas

muntah
puasa

sesuai indikasi.

fungsi

atau
lambung

(distensi atau ileus


4. Berikan makanan
cair

yang 4. Pemberian makanan

mengandung
nutrisi

paralitik)
melalui oral lebih

dan

baik diberikan pada

elektrolit.

klien

Selanjutnya

fungsi

sadar

dan

memberikan

gastrointestinal

makanan

yang

baik.

lebih padat.
5. Identifikasi

5. Kerja sama dalam

makanan

yang

disukai.

perencanaan
makanan.

6. Libatkan keluarga 6. Meningkatkan rasa


dalam

keterlibatannya,

perencanaan

memberi informasi

makan.

pada keluarga untuk


memahami
kebutuhan

nutrisi

klien.
6. Observasi

tanda 7. Pada

metabolism

hipoglikemia

kaborhidrat

(gula

(perubahan

darah

akan

tingkat kesadaran,

berkurang

dan

kulit lembap atau

sementara

tetap

dingin,

denyut

diberikan

tetap

nadi cepat, lapar,

diberikan

insulin,

peka

maka

rangsang,

cemas,

sakit

kepala, pusing).

terjadi

hipoglikemia terjadi
tanpa
memperlihatkan
perubahan

tingkat

kesadaran.
7. Lakukan

8. Analisa di tempat

pemeriksaan gula

tidur terhadap gula

darah

darah lebih akurat

dengan

finger stick.

daripada memantau

gula dalam urine.


8. Delegasi

dalam

pemberian

regular

memiliki

pengobatan
insulin

9. Insulin

awitan

cepat dan dengan


secara

teratur melalui IV

cepat

pula

membantu
memindahkan
glukosa ke dalam
sel.

Pemberian

melalui IV karena
absorpsi

dari

jaringan

subkutan

sangat lambat.

2 Gangguan

Setelah

diberikan 1. Observasi

kulit 1. Menandakan

aliran

integritas kulit asuhan keperawatan

terhadap perubahan

sirkulasi buruk yang

berhubungan

selama

warna,turgor,vaskul

dapat menimbulkan

dengan

diharapkan

er,

infeksi

perubahan

terjadi

status

dengan

metabolik

(..x..jam)
tidak

komplikasi
Kriteria

(neuropati

Menunjukan

perifer)

peningkatan

ditandai

integritas kulit

dengan
gangren

pada

kemerahan.
2. Berikan
dengan

Hasil :

Menghindari
cidera kulit

perhatikan
posisi

mengubah

posisi setiap 2 jam

2. Menurunkan tekanan
pada

edema

dan

menurunkan iskemia

dan beri bantalan


pada tonjolan tulang
3. Beri perawatan kulit 3. Menghilangkan
seperti penggunaan

kekeringan

lotion

kulit

ektremitas.
4. Lakukan perawatan
luka dengan teknik
aseptik
5. Anjurkan

dan

pada
robekan

pada kulit
4. Mencegah terjadinya
infeksi

pasien 5. Menurunkan

resiko

untuk menjaga agar

cedera

pada

kuku tetap pendek

oleh karena garukan

6. Kolaborasi dengan 6. Makanan


ahli

gisi

dalam

pemberian diet

kulit

TKTP

dapat

membantu

penyembuhan
jaringan kulit yang

Kelelahan Setelah

rusak
penyebab 1. Dengan mengetahui

diberikan 1. Kaji

berhubungan

asuhan keperawatan

keletihan

seperti

penyebab keletihan,

dengan

selama

nyeri

sendi,

dapat

penurunan

diharapkan

produksi

kelelahan

energi

teratasi

metabolik.

kriteria hasil klien

(..x..jam)

penurunan
dapat
dengan

dapat:
- Mengidentifika
sikan

pola

keletihan
setiap hari.

jadwal aktivitas.

efisiensi

tidur,

peningkatan upaya
yang

diperlukan

untuk ADL.
2. Observasi

vital

sign sebelum dan


seudah melakukan

aktivitas

si tanda dan

alternatif

dengan

gejala

periode

istirahat

peningkatan

yang cukup/ tanpa

penyakit yang
mempengaruhi
toleransi
aktivitas.
- Mengungkapka

diganggu.
4. Libatkan

tingkat

aktivitas

yang

dapat

ditoleransi

secara

klien

yang berlebih

4. Memungkinkan
kepercayaan

diri/

harga

yang

diri

dalam melakukan

positif sesuai tingkat

aktivitas

sehari-

aktivitas yang dapat

hari

sesuai

kebutuhan.

ditoleransi.
5. Membantu

dalam

mengantisipasi

n peningkatan 5. Ajarkan
tingkat energi.

2. Mengindikasikan

fisiologis.
3. Mencegah kelelahan

aktivitas.

- Mengidentifika 3. Beri

aktivitas

menyusun

untuk

mengidentifikasi

terjadinya keletihan
yang berlebihan.

- Menunjukkan

4 Risiko

tanda dan gejala

perbaikan

yang menunjukkan

kemampuan

peningkatan

untuk

aktivitas penyakit

berpartisipasi

dan

dalam aktivitas

aktivitas,

yang

demam, penurunan

diinginkan.

berat

badan,

keletihan

makin

mengurangi
seperti

memburuk.
diberikan 1. Observasi tanda- 1. Pasien

tinggi Setelah

mungkin

infeksi

asuhan keperawatan

tanda infeksi dan

masuk

dengan

berhubungan

selama x jam

peradangan sperti

infeksi

yang

dengan

diharapkan

demam,

biasanya

telah

kemerahan, adanya

mencetuskan

pus

keadaan ketoasidosis

glukosa darah terjadi


yang tinggi.

tidak

tanda-tanda

infeksi

dengan

kriteria hasil :
-

sputum

Tidak

ada

rubor,

kalor,

dolor,

tumor,

hidup

purulen,

urine warna keruh

atau
mengalami

dapat
infeksi

atau berkabut.
nosokomial.
2. Tingkatkan upaya 2. Mencegah timbulnya
infeksi nosokomial.

dengan melakukan

Terjadi
perubahan

luka,

pencegahan

fungsiolesia.
-

pada

gaya
untuk

mencegah
terjadinya infeksi.

cuci tangan yang


baik pada semua
orang

yang

berhubungan
dengan

pasien

termasuk
pasiennya sendiri.
3. Gunakan
teknik
aseptik

pada

prosedur invasif.

3. Kadar glukosa yang


tinggi dalam darah
akan menjadi media

terbaik
4. Berikan perawatan
kulit

dengan

teratur

dan

sungguh-sungguh,
masase

daerah

tulang

yang

dalam

pertumbuhan kuman.
4. Sirkulasi perifer bisa
terganggu

dan

menempatkan pasien
pada

peningkatan

risiko

terjadinya

kerusakan pada kulit.

tertekan, jaga kulit


tetap kering, linen
kering dan tetap
kencang.
5. Kolaborasi dalam 5. Penanganan

5 Kekurangan

pemberian

obat

dapat

antibiotik

yang

mencegah timbulnya

sesuai
Setelah dilakukan 1. Observasi
asuhan

tanda vital pasien.

berhubungan

keperawatan

dengan diuresis

selama x.. jam 2. Observasi

osmotik.

di harapkan cairan

kehilangan cairan

tubuh

yang

seimbang dengan
criteria hasil:
- Tanda- tanda
vital

dalam

normal S: 3637,50C, Nadi :


60-100

kali

permrnit, RR:
16-24 x/menit,

bagaimana tandatanda vital pasien.


2. Untuk mengetahui

tinggi

elektrolit (drainase
luka).
3. Pantau

hasil

berapa banyak cairan


yang hilang.
3. Untuk mengetahui
jumlah cairan dalam

laboratorium yang
relevan

rentang

membantu

sepsis.
tanda- 1. Untuk mengetahui

volume cairan

pasien

awal

dengan

keseimbangan
cairan.
4. Pantau intake dan
output, catat berat
jenis urine

tubuh.
4. Memberikan
perkiraan kebutuhan
akan cairan
pengganti dan

TD:

110-

keefektifan dari

130/60-

terapi yang

90mmHg,
-

Turgor
elastis,

5. Pertahankan untuk 5. Mempertahankan

Membran
mukosa
lembab

dan

kadar

normal.

memberikan cairan

hidrasi/volume

paling sedikit 2500

sirkulasi.

ml/hari

dalam

batas yang dapat

elektrolit
dalam

diberikan.

kulit

batas

ditoleransi jantung.
6. Kolaborasi dalam
pemberian

tetapi

cairan

sesuai

indikasi.

6. Tipe dan jumlah dari


cairan

tergantung

pada

derajat

kekurangan

cairan

dan respon pasien


secara individual

D. Implementasi Keperawatan
Implementasi disesuaikan dengan intervensi keperawatan.

E. Evaluasi
1. Dx 1 : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan metabolisme protein, lemak.
- Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat
- Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya
2. Dx 2 : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik
(neuropati perifer) ditandai dengan gangren pada ektremitas.
- Menunjukan peningkatan integritas kulit
- Menghindari cidera kulit

3. Dx 3 : Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik.


- Mengidentifikasikan pola keletihan setiap hari.
- Mengidentifikasi tanda dan gejala peningkatan aktivitas penyakit yang
mempengaruhi toleransi aktivitas.
- Mengungkapkan peningkatan tingkat energi.
- Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang
diinginkan.
4. Dx 4 :Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan glukosa darah yang tinggi.
- Tidak ada rubor, kalor, dolor, tumor, fungsiolesia.
- Terjadi perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi.
5. Dx 5 : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.
- Tanda- tanda vital dalam rentang normal S: 36-37,50C, Nadi : 60-100 kali permrnit,
RR: 16-24 x/menit, TD: 110-130/60-90mmHg,
- Turgor kulit elastis,
- Membran mukosa lembab dan kadar elektrolit dalam batas normal.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 1992. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis, Edisi 6.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Guyton, Arthur C. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Suddarth, & Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC