Anda di halaman 1dari 9

ESSAI

"Peran Etika Dalam Praktik Keperawatan Professional


PELAKSANAAN PERAN ETIKA KEPERWATAN DALAM PRAKTIK
KEPERAWATAN
Koordinator Mata Kuliah : Ns. Setyoadi, M. Kep, Sp. Kep. Kom
Mata Kuliah Etika dan Hukum Keperawatan

Oleh :
Yustina Ni Putu Yusniawati
(166070300111041)

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


PERMINATAN GADAR FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

PELAKSANAAN PERAN ETIKA KEPERWATAN DALAM PRAKTIK


KEPERAWATAN
Oleh : Yustina Ni Putu Yusniawati (166070300111041)

1.1 Paparan Masalah


Keperawatan merupakan bentuk pelayanan profesional dalam bagian yang
integral dalam bentuk pelayanan biopsikososial dan spiritual yang komperhensip,
yang digunakan dalam melayani baik individu, keluarga maupun masyarakat baik
sakit maupun sehat mencakup seluruh hidup manusia (Hidayat Aziz, 2013). Profesi
keperawatan merupakan profesi yang sangat berkembang di dunia. Perkembangan ini
dikarenakan peningkatan kebutuhan jasa tenaga perawatan profesional yang mampu
berkerja di segala bidang baik seperti di rumah sakit, istasi pemerintah, puskesmas,
klinik, maupun di pendidikan tinggi. Perawat merupakan salah satu profesi
keperawatan yang harus dibekali dengan keilmuan dan keterampilan dalam
melaksanakan asuhan di bidang keperawatan, hal ini karena perawat merupakan
profesi yang memiliki waktu kontak terlama dengan pasien saat pengobatan pasien
(Kozier B, Erb Glenora, Berman Audrey, Snyder Shirlee, 2015). Kemampuan yang
dimiliki perawat di bidang pengetahuan keterampilan dan sikap perawat (caring)
akan digunakan untuk menanamkan sikap peka terhadap tanggung jawab etika dan
konflik yang ditemui selama memberikan pelayanan keperawatan dimana pun berada,
dengan adanya kontak antara perawat dan pasien, dan kontak antara perawat dengan
tenaga medis maupun nonmedis di pelayanan keperawatan (DeLaune & Ladner,
2011).
Bentuk asuhan keperawatan, merupakan suatu proses praktik keperawatan
yang secara langsung diberikan kepada klien pada pelayanan kesehatan, dengan
menggunakan metodologi proses keperawatan, berpedoman pada standar
keperawatan, dilandasi oleh etika keperawatan dalam bentuk wewenang serta
tanggung jawab keperawatan (Budiono & Pertami, 2015) Praktik keperawatan adalah
bentuk tindakan mandiri perawat profesional melalui kerja sama dalam bentuk
kolaborasi dengan pasien dan tenaga kesehatan lain dalam memberikan asuhan
keperawatan sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawab perawat. Perawat
merupakan sebuah profesi karena perawat (1) memiliki landasan ilmu pengetahuan
yang jelas (scientific nursing) yang dimaksud disini adalah perawat memiliki cabang
ilmu keperawatan yang terdiri dari konsep dasar, keperawatan profesional,
komunikasi keperawatan, kepemimpinan dan manajemen keperawatan, kebutuhan
dasar manusia, pendidikan keperawatan, pengantar riset keperawatan, dan
dokumentasi keperawatan. Perawat juga memiliki cabang ilmu keperawatan klinik
meliputi keperawatan anak, keperawatan maternitas, keperawatan medikal bedah,

keperawatan jiwa, dan keperawatan gawat darurat. Perawat juga memiliki ilmu
keperawatan komunitas yaitu keperawatan komunitas, keperawatan keluarga, dan
keperawatan gerontik. Perawat juga memiliki ilmu penunjang meliputi ilmu
humaniora, ilmu alam dasar, ilmu perilaku, ilmu sosial, ilmu biomedik, ilmu
kesehatan masyarakat dan ilmu kedokteran klinik. (2) Perawat memiliki kode etik
profesi dimana kode etik profesi di masing-masing tempat berbeda akan tetapi
memiliki prinsip dasar yang sama yaitu berlandaskan etika keperawatan yang
dimiliki. Di Indonesia kode etik keperawatan telah ditetapkan dalam musyawarah
nasional dengan nama kode etik keperawatan Indonesia (Hidayat Aziz, 2013).
Kode etik perawatan Indonesia yang diputuskan oleh musyawarah nasional IV
Persatuan Perawat Indonesia, mengatur tentang keperawatan mukadimah yaitu
mengusahakan tercapainya kesejahteraan fisik, material, dan mental spiritual untuk
masyarakat indonesia. Mengatur tentang tanggung jawab perawat dengan pasien yaitu
memberikan layanan secara biopsikosoialspiritual serta menghargai harkat dan
martabat manusia serta keunikan klien dan tidak membeda-bedakan pasien dari
kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, dan agama
serta kedudukan sosial. Kode etik mengatur pula tanggung jawab perawat dan praktik
memelihara dan meningkatkan kompetensi keperawatan, memelihara mutu pelayanan
keperawatan yang tinggi, disertai kejujuran profesional dalam menerapkan
pengetahuan dan keterampilan keperawatan, pembuatan keputusan berdasarkan
informasi yang adekuat, dan mampu melakukan konsultasi dan delegasi. Tanggung
jawab perawat terhadap masyarakat yatu mendukung segala kegiatan dalam bentuk
apapun yang positif untuk memenuhi kesehatan masyarakat. Tanggung jawab perawat
terhadap teman sejawat yaitu memelihara hubungan yang baik antara perawat serta
profesi lainnya. Tanggung jawab perawat terhadap profesi yaitu menentukan standar
pendidikan dan pelayanan keperawatan, berperan aktif dalam pengembanagan profesi
keperawatan, dan berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun dan
memelihara kondisi kerja yang kondusif (Hidayat Aziz, 2013).
Kode etik merupakan suatu standar yang harus dimiliki oleh perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan yang holistik sehinga dapat meningkatkan derajad
kesehatan pasiennya. Perawat telah merasa melakukan asuhan keperawatan secara
profesional dan menjunjung etika dan kode etik keperawatan, tetapi masih banyak
pasien mengungkapkan asuhan keperawatan yang diberikan perawat melanggar kode
etik keperawatan. Misalnya berkata kasar, judes, respon yang lambat dalam
memberikan pelayanan, tidak melakukan informed consent secara benar, membedabedakan pasien berdasarkan status sosialnya dan lain-lain (Martin et, al., 2010). Pada
saat ini, permasalahan etik yang banyak itemui adalah berkaitan antara perawat
dengan pasien dan praktik keperawatan profesional. Lingkungan perawatan yang
kurang kondusif, standar rumah sakit dalam tindakan keperawatan serta peraturan

rumah sakit yang mengharuskan pengdokumentasian secara baik dan benar kadang
membuat perawat fokus dengan itu dan mengabaikan pasien, beban kerja yang
melebihi jam kerja perawat, serta perawat yang berasal dari berbagai wilayah bahkan
pulau yang berbeda menyebabkan perawat memiliki cara berkomunikasi dan
bertingkah laku yang berbeda yang memungkinkan munculnya permasalahan etik.
Peran perawat dalam dalam perawatan pasien dan praktik sangat berhubungan dengan
keterbatasan tindakan, konflik dan ambigunitas. Konflik etik seperti ini memang
sering terjadi dan merupakan suatu asumsi bahwa praktik keperawatan sangat rawan
terhadap adanya konflik antara perawat dengan pasien, perawat dengan tenaga
kesehatan lain, dan perawat dengan profesinya. Masalah konflik dan ketidakpuasan
pasien dan keluarga yang mendapatkan asuhan keperawatan disebabkan karena etika
keperawatan tidak dilaksanakan dengan baik dalam praktik profesional.
Menurut Suhonen, Stolt, Launis & Kilpi, (2010) semua masalah etika yang
terjadi pada lahan keperawatan sudah diidentifikasi pada hampir seluruh negara
dengan pendekatan yang berbeda-beda yang disesuaikan dengan latar belakang
budaya dan etika yanga ada pada negara yang bersangkutan untuk mempermudah
pembuatan solusi dalam menangani permasalahan etika yang terjadi. Menurut
Axelsson, Anderson, Hakansson and Girant, (2005) dalam Suhonen et al., (2010)
Etika keperawatan sangat berkaitan dengan kondisi di suatu tempat atau negara,
hukuman yang diberikan bagi pelanggar pun berbeda. Dalam studi lain tentang etika
di swedia menyatakan sangat dibutuhkan sikap suatu sikap dalam menumbuhkan
etika profesional di lingkup keperawatan untuk meningkatkan pola asuhan
keperawatan yang sesuai dengan standar yang berlaku. Menurut Blais, Hayes, Kozier
& Erb, (2007) etika keperawatan dijadikan suatu dasar dari profesi dalam
memberikan praktik keperawatan yang sesuai standar, sehingga pasien merasa
nyaman, aman, dan mendapat kepuasan dalam pelayanan keperawatan dimana pun
tempatnya. Paparan Masalah dari berbagai sudut pandang menjunjukkan etika profesi
keperawatan yang tercantum dalam kode etik keperawatan belum terlaksana secara
baik sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Padahal dalam menciptakan
perawat yang profesional dibidang pelayanan keperawatan diperlukan pemahaman
dan aplikasi yang baik sehingga akan dapat membuat perawat memiliki standar yang
sama. Maka dalam essai ini, penulis ingin membahas lebih lanjut bagaimana peran
etika dalam praktik keperawatan profesional di berbagai bidang pelayanan
keperawatan.

1.2 Pembahasan

Setiap perawat yang memberikan asuhan keperawatan harus memiliki etika


dalam profesi keperawatannya. Perawat yang bekerja dalam segala bidang
keperawatan dalam menjalankan tugasnya akan bertemu dengan berbagai konflik,
dari konflik antara perawat dan pasien, perawat dan tenaga kesehatan yang lain, dan
perawat terhadap profesinya. Konflik yang terjadi pada perawat sering terjadi karena
peristiwa hidup yang terjadi seperti kelahiran, kematian, penderitaan dan seterusnya
akan menimbulkan masalah etik dari hal itu (Blais, Hayes, Kozier & Erb, 2007).
Maka etika dibutuhkan sebagai pedoman atau acuan dalam bertindak memberikan
asuhan keperawatan yang sesuai dengan standar dan meminimalkan konflik yang
terjadi.
Blais Kathleen K, dkk, (2007) menyatakan etika dibutuhkan perawat sebagai
pertimbangan keputusan, benar atau tidaknya suatu perbuatan karena tidak ada
undang-undang atau aturan yang menegaskan hal yang harus dilakukan. Tidak adanya
hukuman pada pelanggaran etik, membuat perawat kadang tidak mengetahui apakah
perbuatan yang dilakukan benar atau salah dari sudut padang etika keperawatan.
Sehingga membuat perawat itu terus menerus melakukan pelanggaran yang tidak
diketahuinya dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan sehingga mengakibatkan
profesi keperawatan dikatakan tidak profesional secara kode etik keperawatan. Maka
etika keperawatan yang terstandarisasi dapat menjadi pedoman perawat dalam
melakukan praktik keperawatan seperti halnya jujur dengan pasien, menghormati hak
pasien, pemberian informed consent sesuai prosedur serta bertindak sebagai advocate
bagi pasien (Tingle & Cribb, 2002). Perawat sebagai advocate perlu mendampingi
kliennya serta keluarganya yang sedang menghadapi pilihan yang mengandung
masalah etik. Perawat yang sadar akan nilai-nilai hidupnya, keyakinannya, nilai-nilai
profesinya akan lebih mampu mengambil sikap dan menyumbangkan pikirannya
terhadap issue-issue etik yang terjadi bukan mengintervensi kliennya harus
mengambil keputusan, melainkan dengan memberikan alternatif pemecahan masalah
etik yang terjadi. (Blais Kathleen K, dkk, 2007).
Penerapan etika penting untuk dilakukan mengingat dalam memberikan
asuhan keperawatan sering kali berprilaku tidak etik yang pada akhirnyta
menimbulkan kerugian pada pasien berupa cedera atau bahaya fisik seperti nyeri,
kecacatan atau kematian, serta bahaya emosional seperti perasaan tidak berdaya atau
terisolasi. Kerugian pasien akan mengakibatkan ketidakpuasan klien yang akhirnya
berdampak pada citra perawat dan penyedia pelayanan kesehatan. Sebaliknya perawat
yang memahami prinsip etik dan menerapkannya dalam asuhan keperawatan kepada
klien akan menimbulkan kepuasan pada klien dan mempertahankan hubungan antara
perawat, klien dan petugas kesehatan lain sehingga klien merasa yakin akan
mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas (Fowler, 2010).
Perawat yang memberikan pelayanan pun akan memperoleh kepuasannya sendiri,

karena telah membuat pasiennya nyaman, senang dan dapat meningkatkan kesehatan
pasiennya.
Standar praktik keperawatan meliputi standar asuhan dan standar kinerja
profesional yang dipakai sebagai evaluasi dalam menilai asuhan keperawatan yang
dilakukan. Dari standar praktik yang ditetapkan, sebenarnya perawat sudah memiliki
batasan atau standar dalam melakukan asuhan keperawatan, namun pada
kenyataannya pelaksanaan asuhan keperawatan masih banyak melanggar etik.
Perawat perlu untuk memahami etika dalam berpraktik secara profesional (Fowler,
2010). Kebanyakan, perawat tidak mampu memahami etik dalam praktek
keperawatannya dikarenakan dahulu di pendidikan sangat minimal sekali mata kuliah
etika dan aplikasi kasusnya, sehingga setelah bekerja, perawat tidak paham dengan
kasus-kasus etik (Park, 2009). Maka dari itu perlunya kurikulum di pendidikan
sekolah keperawatan lebih menekankan pada aspek etika profesi yang dianggap
kurang. Sekolah perawat yang berkembang saat ini lebih mengutamakan skill
dibidang keperawatan daripada menanamkan nilai esensi dari etika keperawatan
profesional itu sendiri.
Perawat harus mampu menerapkan prinsip etik dalam pengambilan keputusan
dan mencakup nilai dan keyakinan dari klien, profesi, perawat, dan semua pihak yang
terlibat. Perawat harus tahu berbagai konsep hukum yang berkaitan dengan praktik
keperawatan karena mereka mempunyai akuntabilitas terhadap keputusan dan
tindakan profesional yang mereka lakukan (Numminen, Arend, Arie & Kilp, 2009).
Kita ketahui bersama bahwa sangat sulit untuk melaksanakan etika profesi
dalam kode etik keperawatan. Pelaksanaan standar praktik perawat yang sesuai
dengan kode etik memerlukan sebuat komitmen dalam diri seorang perawat. Menurut
Bartzak (2010) dalam studinya menyatakan hanya perawat yang mempunyai motivasi
intrinsik dan caring yang tinggi akan mampu menerapkan peran etika dalam
keperawatan profesional. Motivasi tergantung pada masing-masing perawat dalam
melakukan praktik profesional, bagaimana mereka melakukan asuhan yang
berkualitas dengan menjunjung tinggi etika profesi. Menurut Lin et al., (2013)
menyatakan bahwa salah satu cara melaksanakan etika profesi keperawatan adalah
dengan menjaga privasi klien, pemberian informed consent dengan benar dan
meningkatkan kepuasan klien terhadap layanan asuhan keperawatan, maka diperlukan
pendekatan lingkungan selama menjalani asuhan keperawatan. Pendekatan
lingkungan yang dilakukan dengan memberikan privasi dan kenyamanan klien pada
saat di rumah sakit. Menurut Suhonen et al., (2010) review studi yang dilakukan
mendapatkan kesimpulan penerapan kode etik keperawatan lebih bermakna jika
diaplikasikan kepada lansia yang sakit. Lansia sebagai salah satu klien yang perlu
diperhatikan perawat dalam melaksanakan etika profesi. Hal ini dikarenakan lansia
tergolong klien dengan keterbatasan kognitif dan motorik dan tergolong kelompok

rentan, lansia merasa kesulitan untuk langsung pergi ke pelayanan kesehatan secara
mandiri dan kurang memahami penjelasan dari petugas medis tentang sakitnya.
Dibutuhkan asuhan keperawatan yang holistik karena permasalahan yang
multidimensional pada klien lansia yang rentan sekali terhadap konflik etik (Naudea
& Bornmana, 2014 ).
Pemahaman dan aplikasi terhadap nilai etika keperawatan sangat dibutuhkan
oleh seluruh perawat agar tercipta perawatan yang berkualitas dan profesional. Pada
akhir-akhir ini sering sekali terjadi konflik etik yang menyebabkan kerugian pada
pihak perawat dan klien. Kemampuan untuk memahami peran etika keperawatan
dirasa kurang dalam diri perawat. Etika keperawatan profesional seolah-olah hanya
diterapkan dan ditemui di layanan kesehatan, padahal pembelajaran di lingkungan
pendidikan tentang etika sangat diperlukan. Penerapan dari etika keperawatan dari
beberapa sumber di atas dapat membantu perawat dalam memenuhi etika profesi
keperawatan untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan sehingga dengan
demikian perawat mampu memahami dan menerapkan etika keperawatan untuk
meminimalkan adanya konflik etik diantara perawat dan klien, perawat dan tenaga
kesehatan lain, dan perawat dengan profesinya.
1.3 Kesimpulan
Etika keperawatan sangat penting dalam memberikan pelayanan dan bekerja
sama dengan tenaga kesehatan yang lain. Maka, masing-masing perawat sebaiknya
menjunjung kode etik keperawatan yang telah diterampkan di masing-masing tempat
pelayanan kesehatan. Kita sebagai perawat wajib menjadikan kode etik sebagai
sebuah dasar tindakan kita di dalam memberikan asuhan keperawatan yang
professional kepada pasien, keluarga dan masyarakat, kode etik sebagai sebuah dasar
tindakan kita bekerja sama dengan tenaga kesehatan yang lainnya baik itu paramedic
maupun non paramedic, dan kode etik juga sebagai dasar kita dalam melakukan
profesi yang bermutu dan professional
1.4 Saran
Sebaiknya para perawat menggembangkan kode etik keperawatan sedini
mungkin mulai dari sekolah tinggi keperawatan. Karena apabila etika keperawatan
tidak dibentuk sejak dini itu akan mengakibatkan ketika bekerja nanti perawat akan
mudah melupakan kode-kode etik keperawatan yang telah dimilikinya akibat
terlambat untuk dilatih. Disarakan juga bagi perawat yang telah bekerja untuk
meningkatkan kesadarannya akan pelayanan professional yang berlandaskan kode
etik perawatan dan ilmu yang dimiliki. Sehingga dengan begitu penerapan kode etik
tidak akan hanya tertulis dalam peraturan rumah sakit ataupun buku-buku
keperawatan tetapi juga dapat kita lihat aplikasinya dalam pelayanan perawat
terhadap pasien, kerja sama perawat dengan tenaga kesehatan yang lain, dan

komitmen perawat dalam menjunjung tinggi praktik profesinya.sehingga akan


terbentuk penerapan kode etik yang baik sesuai dengan standar dalam berbagai
bidang pelayanan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Bartzak, Patricia J. (2010). Professional work ethic: Strategies to motivate bedside


nurses to deliver high quality patient care. Medical Surgical Nursing, 19(2),
85-89.
Blais, Kathleen Koenig., Hayes, Janice S., Kozier, Barbara.,& Erb, Glenora. (2007).
Praktik keperawatan profesional:Konsep dan perspektif (Y. Yuningsih & N.
B. Subekti, Trans. F. Ariani & P. E. Karyuni Eds.). Jakarta: EGC Medical
Publisher
Budiono & Pertami Sumirah B. (2015). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Bumi
Medika
Fowler, Marsha Diane Mary. (2010). Guide to the code of ethics for nursing :
Interpretation
and
application. American
Nursing Association:
Nursesbook.org.
Hidayat, Aziz A. (2013). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Kozier Barbara, Erb Glenora, Berman Audrey, Snyder Shirlee. (2015). Fundamental
Keperawatan. Alih bahasa : Dwi Widiarti, Eka Anisa Mardella, Nike Budhi
Subekti, Lenny Helena. Jakrta : EGC
Lin, Yen Ko., Lee, Wei Che., Kuo, Liang Chi., Cheng, Yuan Chia., Ju Lin, Chia., Lin
Lin, Hsing.,Ying Lin, Tsung. (2013). Building an ethical environment
improves patient privacy and satisfaction in the crowded emergency
department: a quasi-experimental study. BMC Medical Ethics, 14(1), 1-8.
Martin, A., O'Connor-Fenelon, M., & Lyons, R. (2010). Non-verbal communication
between nurse and people with intellectual disability: A review of the
literature. Journal of Intellectual Disabilities, (14)4, 303-314.
Naudea, Alida Maryna., & Bornmana, Juan. (2014). A systematic review of ethics
knowledge in audiology (19802010). American Journal of Audiology, 23(1),
151-157
Numminen, Olivia., Arend, Arie Van der., & Kilp, Helena Leino. (2009). Nurses
codes of ethics in practice and education: a review of the literature.
Scandinavian Journal of Nursing Sciences, 23, 380-394. doi: 10.1111/j.14716712.2008.00608.x.
Park, Mihyun. (2009). The legal basis of nursing ethics education. Journal of Nursing
Law, 13(4), 106-113. doi: DOI: 10.1891/1073-7472.13.4.106
Suhonen, Riitta., Stolt, Minna., Launis, Veikko., & Kilpi, Helena Leino. (2010).
Research on ethics in nursing care for older people: A literature review.
Nursing Ethics, 17(3), 337-357. doi: 10.1177/0969733010361445.
Tingle, John.,& Cribb, Alan. (2002). Nursing law and ethics (2nd ed.). England:
Blackwell Publishing Company.