Anda di halaman 1dari 19

I.

PENDAHULUAN
A. Tujuan
1. Mengetahui pengaruh penyinaran

terhadap

pertumbuhan biji kacang

hijau (Vigna radiata).


2. Mengetahui pengaruh perendaman, pembakaran, pengamplasan, dan
pemberian asam terhadap pemecahan biji karena kulit keras pada biji
kedawung (Parkia timoriana).
3. Mengetahui pengaruh zat pencemar terhadap pertumbuhan kacang hijau
(Vigna radiata).

II. METODE

A. Perkecambahan pada tempat gelap dan terang


Biji kacang hijau direndam didalam wadah kurang lebih selama 1 jam.
Sebanyak dua polybag disiapkan dan diisi dengan tanah menggunakan sekop.
Masing-masing polybag diisi dengan 5 biji kacang hijau. Polybag pertama diberi
perlakuan dengan diletakkan di tempat terang dan polybag

kedua diberi

perlakuan dengan diletakkan di tempat gelap. Kedua pot tersebut diamati tinggi
tanaman, panjang daun, jumlah daun dan warna daunnya pada hari ke-0, 2,4,5,
dan 7.
B. Pemecahan dormansi biji
Setiap kelompok mengambil masing-masing 3 biji kedawung dengan
meggunakan pinset. Cawan petri disiapkan terlebih dahulu dan diberi kapas di
atas permukaannya. Masing-masing kedawung dari tiap kelompok diletakkan
diatas petri yang telah diberi kapas kemudian diberikan perlakuan yang berbedabeda. Ada 7 perlakuan yaitu biji direndam pada air es, air panas, dan aquades
selama 1 jam, biji dibakar, biji diamplas, biji ditambahkan dengan asam sitrat dan
cuka selama 15 menit. Pengamatan jumlah biji kedawung yang berkecambah
diakukan pada hari ke-0,2,4,5, dan 7.
C. Zat pencemar
Setiap kelompok

mengambil

masing-masing 5 kacang hijau. Ada 7

perlakuan yang diberikan pada kacang hijau, yaitu direndam dengan aquades,
air sabun, CuSO4, air jeruk, air kolam, oli bekas, dan minyak jelantah selama
kurang lebih 1 jam. Cawan petri terlebih dahulu disiapkan dan diberi kapas di
permukaan atasnya. Setelah direndam selama 1 jam, masing-masing kacang
hijau dari tiap perlakuan diletakkan didalam petri yang kapasnya telah
dibasahi dengan

zat pencemaran

masing-masing. Jumlah

berkecambah diamati dan dicatat pada hari ke-0,2,4,5, dan 7.

biji yang

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Perkecambahan pada tempat gelap dan terang

Pertumbuhan

dan

perkembangan

pada

tumbuhan

dimulai

dengan

perkecambahan biji. Kemudian kecambah berkembang menjadi tumbuhan


kecil yang sempurna, yang kemudian tumbuh membesar (Latunra, 2014).
Perkecambahan itu sendiri merupakan suatu proses dimana radikula (akar
embrionik) memanjang keluar menembus kulit biji. Dibalik gejala morfologi
dengan permunculan radikula tersebut, terjadi proses fisiologi-biokemis yang
kompleks, dikenal sebagai proses perkecambahan fisiologis (Salisbury dan Ross,
1995).
Perkecambahan ditandai dengan munculnya kecambah, yaitu tumbuhan kecil
dan masih hidup dari persediaan makanan yang berada dalam biji. Ada 4 bagian
penting yang berkecambah, yaitu batang lembaga (kaulikulus), akar embrionik
(akar lembaga), kotiledon (daun lembaga), dan pucuk lembaga (plumula).
Kotiledon

merupakan

cadangan makanan pada kecambah karena pada saat

perkecambahan, tumbuhan belum bisa melakukan fotosintesis. Air merupakan


kebutuhan mutlak bagi perkecambahan, tahap pertama perkecambahan adalah
penyerapan air dengan cepat secara imbibisi. Air yang berimbibisi menyebabkan
biji mengembang dan memecah kulit pembungkusnya

dan

juga

memicu

perubahan metabolik pada embrio sehingga biji melanjutkan pertumbuhan.


Enzim-enzim akan mulai mencerna bahan-bahan yang disimpan pada kotiledon,
dan nutrient-nutriennya dipindahkan ke bagian embrio yang sedang tumbuh.
Enzim yang berperan dalam pencernaan cadangan makanan adalah enzim
amylase, beta-amilase dan protease. Hormon giberelin berperan penting untuk
aktivasi dan mensintesis enzim-enzim tersebut (Syamsuri, 2004).
Secara fisiologis, proses perkecambahan berlangsung dalam

beberapa

tahapan penting meliputi (Sasmithahamihardja, 1996):


1. Absorbs air dan metabolisme pemecahan materi cadangan makanan
2. Transport materi hasil pemecahan dari endosperm ke embrio yang aktif
bertumbuh
3. Proses-proses pembentukan kembali materi-materi baru

4. Respirasi
5. Pertumbuhan
Pada perkembangan embrio saat berkecambah, bagian plumula tumbuh dan
berkembang

menjadi

batang,

sedangkan

radikula

menjadi

akar.

Tipe

perkecambahan ada dua macam, yaitu (Sasmithahamihardja, 1996):


1. Tipe perkecambahan diatas tanah (Epigeal)
Tipe ini terjadi jika plumula muncul diatas permukaan tanah, sedangkan
kotiledon tetap berada didalam tanah.
2. Tipe perkecambahan dibawah tanah (hypogeal)
Tipe ini terjadi jika plumula dan kotiledon muncul diatas permukaan tanah.
Makanan untuk pertumbuhan embrio diperoleh dari cadangan makanan
karena belum terbentuknya klorofil yang diperlukan dari kotiledon, sedangkan
pada tumbuhan monokotil diperoleh dari endosperm.
Banyak faktor yang mengontrol proses perkecambahan biji, baik yang internal
maupun eksternal. Secara internal, proses perkecambahan biji ditentukan dari
tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi benih, zat penghambat
perkecambahan seperti NaCl, herbisida, dan lain-lain. Faktor luar yang
menghambat perkecambahan benih terdiri dari air, temperatur, cahaya, nutrisi,
oksigen, dan media tumbuh (Sutopo, 2002).
Tingkat kemasakan benih dipengaruhi oleh benih yang dipanen sebelum
mencapai tingkat kemasakan fisiologisnya tidak mempunyai viabilitas tinggi.
Pada beberapa tanaman, benih yang demikian tidak akan berkecambah. Hal ini
terjadi karena benih belum memiliki cadangan makanan yang cukup dan
pembentukan embrio belum sempurna (Sutopo, 2002).
Faktor internal kedua adalah ukuran benih. Karbohidrat, protein, lemak, dan
mineral ada dalam jaringan penyimpanan benih. Bahan-bahan tersebut diperlukan
sebagai bahan baku dan energi bagi embrio saat perkecambahan. Makin
berat/besar ukuran benih, maka kandungan proteinnya juga semakin meningkat.
Berat benih berpengaruh pada kecepatan pertumbuhan dan produksi, karena berat
benih menentukan besarnya kecambah pada saat permulaan dan berat tanaman
pada saat dipanen (Sutopo, 2002).

Faktor internal ketiga adalah dormansi benih. Dormansi adalah masa istirahat,
artinya kemampuan biji untuk menangguhkan perkecambahannya sampai pada
saat dan tempat yang menguntungkan baginya untuk tumbuh. Hal yang
menyebabkan terjadinya dormansi adalah adanya rudimentary embryo. Didalam
keadaan ini, embrio belum mecapai tahap kematangan (immature embryo)
sehingga memerlukan waktu untuk siap berkecambah (Sutopo, 2002).
Banyak zat-zat yang diketahui dapat menghambat perkecambahan benih.
Contoh zat-zat tersebut adalah: herbisida, auksin, bahan-bahan yang terkandung
dalam buah, larutan mannitol dan NaCl yang mempunyai tingkat osmotik tinggi,
serta bahan yang menghambat respirasi (sianida dan fluoride). Semua
persenyawaan tersebut menghambat perkecambahan tetapi tak dapat dipandang
sebagai penyebab dormansi (Pratiwi, 2006).
Faktor eksternal yang berpengaruh dalam proses perkecambahan adalah
udara. Udara terdiri dari 20% oksigen, 0,03% karbon dioksida, dan 80% nitrogen.
Adanya oksigen didalam proses respirasi pada perkecambahan, sangat
berpengaruh. Apabila konsentrasi oksigen diudara sangat rendah, menyebabkan
terhambatnya perkecambahan (Ashari, 1995).
Cahaya adalah faktor eksternal lain yang menentukan kemampuan biji
berkecambah. Kebutuhan benih terhadap cahaya untuk berkecambah berbedabeda tergantung pada jenis tanaman. Benih yang dikecambahkan pada keadaan
kurang cahaya atau gelap dapat menghasilkan kecambah yang mengalami etiolasi,
yaitu terjadinya pemanjangan yang tidak normal pada hipokotil atau epikotil,
kecambah juga akan pucat dan lemah (Ashari, 1995).
Temperatur optimum adalah temperature yang paling menguntungkan bagi
berlangsungnya perkecambahan benih. Temperature minimum/maksimum adalah
temperature terendah/tertinggi saat perkecambahan akan terjadi. Dibawah
temperatur minimum atau diatas temperature maksimum akan menyebabkan
terjadinya kerusakan benih dan terbentuknya kecambah yang abnormal (Ashari,
1995).

Air juga termasuk dalam faktor eksternal dalam perkecambahan benih. Faktir
yang mempengaruhi penyerapan air oleh benih ada 2 yaitu, sifat kulit pelindung
benih dan jumlah air yang tersedia pada medium disekitarnya. Jumlah air yang
diperlukan untuk berkecambah bervariasi tergantung kepada jenis benih,
umumnya tidak melampaui dua atau tiga kali dari berat keringnya (Ashari, 1995).
Berdasarkan percoban perkecambahan pada tempat gelap dan terang,
diperoleh tinggi tanaman, panjang daun, jumlah daun, dan warna daun pada
tempat gelap dan terang pada hari ke-0,2,4,5,6,7 yang dapat dilihat pada tabel 1
dan 2.
Tabel 1. Perkecambahan Tempat Terang
Tan

Tinggi tanaman hari ke-

Panjang daun hari ke-

Jumlah daun

ama

(cm)

(cm)

hari ke- (cm)

2,3

Rat
arata

4
12,

5
13,

7
1,5 6,5
15,
8,1
5
15,
7,2
0
11,
5,6
8

8
6,8
15,

4,9 12,
4

a
daun

14

1,1

1,1

1,4

1,5 0 0 2 2 2

Hijau

1,1

1,3

1,5

1,6 0 0 2 2 2

Hijau

16

2,3

2,5

2,5

2,7 0 0 2 2 2

Hijau

1,5

1,8

1,9

1,8

1,5

1,7

1,8

2,0

9
15,

15,

5
12,

8
13,

12,

13,

98

24

Warn

0 2 4 5 7

0 0 2 2 2

Hijau

2,3 0 0 2 2 2

Hijau

Kurva 1. Grafik Panjang Tanaman terhadap Waktu

0 0 2 2 2

Hijau

Kurva Grafik Panjang Tanaman terhadap waktu


25

20

15
Terang
Panjang (cm)

Gelap

10

0
0

Waktu (hari)

Tabel 2. Perkecambahan Tempat Gelap


Tan

Tinggi tanaman hari ke-

Panjang daun hari ke-

Jumlah daun

ama

(cm)

(cm)

hari ke- (cm)

5,2

15

2,1 6,5

16,

17,

14,

22,

Warn
a
daun

0 2 4 5 7
Hijau

1,8

2,1

1,6

2,3 0 0 2 2 2 kekun
2,1 0 0 2 2 2

ingan
Hijau

3,5

7,3

6,4

Rat
arata

4,9

17,

22,

28,

16,

18,

22,

15,

17,

19,

14,

17,

21,

18

74

98

kekun
ingan
Hijau
0

1,5

1,9

1,9

0 0 2 2 2 kekun
ingan

2,1

2,2

2,4 0 0 2 2 2

Hijau
Hijau

1,8

1,9

2,2 0 0 2 2 2 kekun
ingan

1,7

1,9

2,0

Kurva 2. Grafik Panjang Daun terhadap Waktu

2,2 0 0 2 2 2

Kurva Grafik Panjang Daun terhadap Waktu


2.5
2
1.5
Panjang(cm)

Terang
Gelap

1
0.5
0
0

Waktu (hari)

Pada percobaan perkecambahan pada tempat gelap dan terang, tanaman yang
digunakan adalah tanaman kacang hijau (Vigna radiata). Tanaman ini digunakan
karena tanaman ini mudah untuk tumbuh dan pertumbuhannya cenderung lebih
cepat. Beberapa perlakuan dilakukan pada percobaan ini yaitu, kacang hijau
direndam terlebih dahulu selama 48 jam sebelum digunakan untuk memecah
dormansi pada biji kacang hijau. Kacang hijau dimasukkan kedalam polybag yang
berisi tanah, polybag digunakan sebagai tempat media tanah dan tanah sebagai
media tumbuh kacang hijau. Polybag ada yang diletakkan ditempat gelap dan
tempat terang untuk mengetahui pengaruh adanya cahaya dan tidak adanya
cahaya pada pertumbuhan kacang hijau.
Biji-bijian dari banyak spesies tidak akan berkecambah pada keadaan gelap,
biji-biji itu memerlukan rangsangan cahaya. Karena itunratu kelihatannya
perkecambahan yang dikendalikan cahaya merupakan satu adaptasi tanaman yang
tidak toleran terhadap penaungan. Cahaya sendiri memiliki suatu intensitas,

kerapatan pengaliran atau intensitas menunjukkan pengaruh primernya terhadap


fotosintesis dan pengaruh sekundernya pada morfogenetika pada intensitas
rendah, tetapi sebagian memerlukan energi yang lebih besar.
Adanya penyinaran sinar matahari akan menimbulkan cahaya. Sedang cahaya
sangat dibutuhkan untuk pembentukan zat warna hijau (klorofil). Tanaman yang
kurang cahaya matahari pertumbuhannya lemah, pucat dan memanjang. Setiap
jenis sayuran menghendaki syarat-syarat yang sangat berlawanan, ada suatu jenis
yang menghendaki penyinaran panjang, ada pula yang pendek. Yang dimaksud
penyinaran panjang ialah lebih dari 12 jam, sedang penyinaran pendek kurang
dari 12 jam.
Berdasarkan percobaan, tanaman kacang hijau yang ditempatkan pada tempat
gelap pertumbuhannya lebih cepat dan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
dengan tanaman kacang hijau yang ditempatkan di tempat terang. Hal ini sesuai
dengan teori latunra (2014), yang menyatakan bahwa tumbuhan yang tumbuh
pada tempat yang gelap berbeda dengan tumbuhan yang tumbuh di tempat yang
terang. Umumnya, tumbuhan yang berada pada tempat yang gelap kurus, layu,
berwarna pucat kekuningan, batangnya sangat lemah tetapi batangnya mengalami
pertumbuhan yang sangat cepat. Sebaliknya, pada tumbuhan yang berada di
tempat yang terang daunnya berwarna hijau segar, batangnya kuat, tetapi pendek.
Hal

ini

disebabkan

pengaruh

hormon

auksin

yang

berfungsi

untuk

memperpanjang sel pada tanaman tersebut. Sifat kerja hormon auksin dihambat
oleh cahaya. Oleh sebab itu tinggi tanaman yang berada di tempat yang terang
lebih pendek dibandingkan dengan tanaman yang berada di tempat yang gelap.
B. Pemecahan dormansi
Dormansi adalah keadaan biji yang tidak berkecambah atau dengan kata lain
tunas yang tidak dapat tumbuh (terhambatnya pertumbuhan) selama periode
tertentu yang disebabkan oleh faktor-faktor intern dalam biji atau tunas tersebut.
Suatu biji dikatakan dorman apabila biji tersebut tidak dapat berkecambah, setelah

periode tertentu, meski faktor-faktor lingkungan yang dibutuhkan tersedia


(Esmaeili, 2009).
Benih yang mengalami dormansi biasanya disebabkan oleh beberapa faktor
yaitu sebagai berikut (Abidin, 1987):
1. Rendahnya atau tidak adanya proses imbibisi air yang disebabkan oleh
struktur benih (kulit benih) yang keras, sehingga mempersulit keluar
masuknya air kedalam benih.
2. Respirasi yang tertukar, karena adanya membrane atau pericarp dalam kulit
benih yang terlalu keras, sehingga pertukaran udara dalam benih menjadi
terhambat dan menyebabkan rendahnya proses metabolisme dan mobilitas
cadangan makanan dalam benih.
3. Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio, karena kulit biji
yang cukup kuat sehingga menghalangi pertumbuhan embrio. Pada tanaman
pangan, dormansi sering dijumpai pada benih padi, sedangkan pada sayuran,
dormansi sering dijumpai pada benih timun putih, pare dan semangka non
biji.
Tujuan pematahan dormansi adalah mendorong proses pematangan embrio,
mengaktifkan enzim di dalam embrio, dan peningkatan permeabilitas kulit benih
yang memungkinkan masuknya air dan gas-gas yang diperlukan dalam
perkecambahan (Muchtar, 1987).
Bewley dan Black (1985) mengemukakan 2 proses mekanisme pematahan
dormansi, yaitu:
1. Proses dormansi hormonal, konsep dari teori tersebut dihubungkan dengan
hormon pengatur tumbuh, baik yang menghambat (inhibitor) maupun yang
merangsang pertumbuhan (promotor). Dormansi dapat dipatahkan dengan
menghilangkan inhibitor atau dengan penggunaan promotor yang mampu
mempercepat terjadinya keseimbangan antara inhibitor dan promotor.
2. Proses pengaruh metabolik sebagai akibat perlakuan pematahan dormansi,
konsepnya melibatkan lintasan pentosa fosfat untuk sintesis RNA, DNA, dan
protein.

Berdasarkan percoban pemecahan dormansi pada kulit keras, diperoleh


jumlah biji yang berkecambah pada hari ke-0,2,4,5,6,7 yang dapat dilihat pada
tabel 1.
Tabel 1. Pemecahan Dormansi pada Kulit Keras
Perlakuan
Air es
Air panas
Aquades
Pengamplasa
n
Biji dibakar
Asam sitrat
Cuka

0
0
0
0

Jumlah biji berkecambah hari ke2


4
5
0
0
0
0
0
0
0
0
0

7
0
0
0

0
0
0

0
0
0

0
0
0

0
0
0

0
0
0

Pada percobaan pemecahan dormansi biji, biji yang digunakan adalah


kedawung (Parkia timoriana). Kedawung digunakan karena kedawung memiliki
kulit yang keras, kulit kedawung yang tebal dan keras ini dapat digunakan untuk
melakukan percobaan pemecahan dormansi biji dengan beberapa parameter yaitu
dengan perendaman, pembakaran, pengamplasan, dan pemberian asam. Beberapa
perlakuan dilakukan pada percobaan ini yaitu, perlakuan pertama dengan
melakukan perendaman. 3 biji kedawung masing-masing direndam pada air es, air
panas, dan aquades dengan tujuan untuk membandingkan dengan air apakah
penyerapan air oleh benih dan perpindahan secara osmotik dapat lebih mudah
terjadi. Perlakuan kedua dengan dibakar dan diamplas yang bertujuan untuk
melemahkan kulit biji yang keras sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas,
tetapi lembaga tidak boleh diamplas. Perlakuan ketiga yaitu masing-masing
kedawung diberikan penambahan asam dengan asam sitrat dan cuka, biji diberi
penambahan asam karena asam membuat kulit biji menjadi lunak sehingga dapat
dilalui air dengan mudah.

Berdasarkan prercobaan yang telah dilakukan, tidak ada perlakuan yang


berhasil mematahkan dormansi biji kedawung.

Seharusnya perlakuan biji

diamplas dapat mematahkan dormansi kulit, karena perlakuan ini lebih efektif.
Namun kesalahan dapat terjadi jika salah mengamplas bagian lembaga. Jika
bagian lembaga diamplas dapat menyebabkan biji tidak tumbuh. Selain itu juga
disebabkan karena faktor-faktor internal, eksternal, dan waktu seperti teori Abidin
(1987).
C. Zat pencemar
Tumbuh-tumbuhan memiliki reaksi yang besar dalam menerima pengaruh
perubahan atau gangguan akibat zat pencemar. Zat pencemar dapat menyebabkan
terhambatnya proses tumbuh pada tumbuhan yang bisa mengakibatkan kematian
pada tumbuhan. Beberapa contoh kerusakan yang terjadi pada ganguan
nutrisional dan gangguan atraksional biologis adalah terjadinya penurunan
tingkatan kandungan enzim, gangguan pada respon fisiologis yaitu pada sistem
fotosintesa (Lina, 2004).
Menurut Sadjad (1999), suatu biji tumbuhan dapat berkecambah jika syaratsyarat berikut ini terpenuhi:
1. Embrio biji tersebut masih hidup, karena jika embrio mati maka tidak dapat
tumbuh kembali.
2. Biji tidak dalam keadaan dormansi, jika biji dalam keadaan dormansi maka
akan membutuhkan waktu yang lama untuk biji melakukan perkecambahan
lagi.
3. Faktor lingkungan yang menguntungkan untuk perkecambahan, seperti
sumber air, cahaya dan unsur hara yang cukup.
Berdasarkan percoban zat pencemar, diperoleh jumlah biji yang berkecambah
pada hari ke-0,2,4,5,6,7 yang dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Peran Zat Pencemar terhadap Perkecambahan
Perlakuan
Aquades

0
0

Jumlah biji berkecambah hari ke2


4
5
2
2
3

7
3

Air sabun
CuSO4
Air jeruk
Air kolam
Oli bekas
Minyak jelantah

0
0
0
0
0
0

0
2
0
5
0
0

0
2
0
5
0
0

0
5
0
5
0
0

0
5
0
5
0
0

Pada percobaan zat pencemar, tanaman yang digunakan adalah tanaman


kacang hijau (Vigna radiata). Tanaman ini digunakan karena tanaman ini mudah
untuk tumbuh dan pertumbuhannya cenderung lebih cepat. Beberapa perlakuan
dilakukan pada percobaan ini yaitu, perlakuan pertama

biji kacang hijau

direndam didalam aquades sebagai larutan pengontrol dimana aquades tidak


mengandung zat-zat inhibitor. Untuk perlakuan kedua, biji direndam dengan air
jeruk untuk mengetahui apakah asam sitrat dalam jeruk dapat mempercepat
perkecambahan biji atau tidak. Pada perlakuan ketiga, biji kacang hijau direndam
dengan air sabun untuk melihat pengaruh senyawa basa dalam perkecambahan
biji.
Pada perlakuan keempat, biji kacang hijau direndam dengan larutan CuSO4
untuk melihat pengaruh senyawa logam berat terhadap pertumbuhan kacang
hijau. Perlakuan kelima yaitu kacang hijau direndam dengan air kolam untuk
mengetahui apakah senyawa organik dapat mempengaruhi pertumbuhan kacang
hijau. Perlakuan keenam adalah kacang hijau direndam dengan oli yang bertujuan
untuk mengetahui pengaruh senyawa hidrokarbon terhadap pertumbuhan kacang
hijau, begitu pula dengan perlakuan ketujuh yaitu minyak jelantah, dimana
perendaman dengan minyak jelantah bertujuan untuk mengetahui pengaruh
senyawa hidrokarbon terhadap pertumbuhan kacang hijau .
Berdasarkan dari percobaan yang dilakukan, tidak terdapat pertumbuhan pada
kacang hijau yang direndam dengan air sabun, air jeruk, oli bekas, dan minyak
jelantah. Pada perlakuan direndam aquades, pada hari ke-0 biji kacang hijau
belum ada yang berkecambah, pada hari ke-2 ada 2 biji kacang hijau yang sudah

berkecambah, pada hari ke-4 jumlah biji yang berkecambah masih sama yaitu 2 ,
pada hari ke-5 jumlah biji yang berkecambah bertambah menjadi 3, dan pada hari
ke-7, jumlah biji kacang hijau yang berkecambah tetap 3. Pada perlakuan
direndam CuSO4, pada hari ke-0 biji kacang hijau belum ada yang berkecambah,
pada hari ke-2 ada 2 biji kacang hijau yang sudah berkecambah, pada hari ke-4
jumlah biji yang berkecambah masih sama yaitu 2 , pada hari ke-5 jumlah biji
yang berkecambah bertambah menjadi 5, dan pada hari ke-7, jumlah biji kacang
hijau yang berkecambah tetap 5. Pada perlakuan direndam air kolam, pada hari
ke-0 biji kacang hijau belum ada yang berkecambah, pada hari ke-2 sampai
dengan hari ke -7 biji kacang hijau yang berkecambah adalah 5.
Pada perlakuan kacang hijau yang direndam dengan air sabun, tidak ada biji
yang berkecambah. Hal ini sesuai dengan teori Loveless (1987), yang menyatakan
bahwa kandungan zat penghambat dari air sabun bersifat basa dan mengandung
senyawa garam (NaCl, NaOH, dan KOH) yang dapat menghambat biji untuk
berkecambah. Pada perlakuan kacang hijau yang direndam dengan aquades, biji
berkecambah. Hal ini sesuai dengan teori dari Wahyuni (2013), yang menyatakan
bahwa air merupakan syarat bagi berlangsungnya perkecambahan.
Pada perlakuan kacang hijau yang direndam dengan air jeruk, tidak ada biji
yang berkecambah. Hal ini sesuai dengan teori dari Allen (1987), yang
menyatakan bahwa asam bersifat korosif dan dapat menyebabkan adanya
penyakit pada tumbuhan. Pengaruh tersebut bisa secara tidak langsung, yaitu
dengan membuat kondisi tumbuhan dalam keadaan stress atau lemah, sehingga
tumbuhan mudah terkena patogen seperti jamur. Pada perlakuan kacang hijau
yang direndam dengan CuSO4, ada biji yang berkecambah. Hal ini sesuai dengan
teori Sofian (2005) yang menyatakan bahwa dalam konsentrasi yang kecil, CuSO 4
merupakan nutrient yang penting bagi kehidupan tanaman. CuSO4 digunakan
untuk mengontrol pertumbuhan jamur pada tanaman dan digunakan untuk
mencegah pelembaban pada biji.

Pada perlakuan kacang hijau yang direndam pada air kolam, ada biji yang
berkecambah. Hal ini sesuai dengan teori dari Wahyuni (2013) , yang menyatakan
bahwa air merupakan syarat bagi berlangsungnya perkecambahan. Pada perlakuan
kacang hijau yang direndam pada oli dan minyak jelantah, tidak ada biji yang
berkecambah. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa didalam oli
bekas dan minyak terdapat bahan-bahan kimia seperti hidrokarbon dan sulfur
yang dapat menghambat perkecambahan kacang hijau.

IV.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pengaruh penyinaran terhadap pertumbuhan biji kacang hijau
2. Perlakuan perendaman dengan air es, air panas, dan aquades,
pembakaran, pengamplasan, dan pemberian asam sitrat dan cuka pada

biji kedawung tidak memecahkan dormansi dari kulit keras bji


kedawung.
3. Air sabun, air jeruk, oli bekas, dan minyak jelantah merupakan zat
pencemar yang dapat menghambat pertumbuhan biji kacang hijau,
sedangkan aquades, air kolam dan CuSO4 tidak menghambat
pertumbuhan kacang hijau.
B. Saran
Berdasarkan percobaan dan data pengamatan yang dihasilkan, saran yang
akan diberikan adalah sebaiknya

praktikan dan asdos lebih banyak

berkomunikasi agar tidak terjadi kesalahan dalam praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Latunra, A.I. 2014. Penuntun Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan II.
Universitas Hasanuddin, Makassar.
Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 3. ITB, Bandung.
Abidin, Z. 1987. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh. Angkasa,
Bandung.

Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI Press, Jakarta.


Esmaeili, M. 2009. Ecology of seed dormancy and germination of carex divisa huds:
effects of stratification, temperature and salinity. International Journal of
Plant Production 1(1):98-108.
Pratiwi. 2006. Biologi. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Rajawali Press, Jakarta.
Syamsuri, I. 2004. Biologi. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Lina, W. 2004. Pencemaran Air : Sumber, Dampak, dan Penanggulangannya. IPB,
Bogor.
Loveless, A.R. 1990. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik.
Gramedia Pustaka, Jakarta.
Sofian, A. 2005. Kajian Pengaruh Pengapuran dan Pemberian CuSO4 Terhadap
Kemasaman dan Dekomposisi Bahan Tanah Gambut. Universitas Sumatera
Utara, Medan.
Allen, J. L. 1987. Environment. The Dushkin Publishing Group Inc, New York.
Wahyuni, P. 2013. Komponen Pendukung Perkecambahan Tumbuhan. Universitas
Gadjah Mada Press, Yogyakarta.
Sasmithahamihardja, D.1996. Fisiologi Tumbuhan. Fakultas FMIPA ITB, Bandung.
Bewley, J.D dan M. Black. 1985. Seed Physiology of Development and germination.
Plenum Press, New York.
Sadjad, S. 1999. Parameter Pengujian Vigor Benih. Grasindo, Jakarta.