Anda di halaman 1dari 26

SEJARAH PERKEMBANGAN PERENCANAAN WILAYAH DAN

KOTA DI DUNIA
Sejarah perkembangan perencanaan wilayah dan kota di dunia dimulai pada
zaman pra Yunani (zaman perunggu), Yunani, Romawi, abad pertengahan,
Renaissance dan Boroque, Revolusi Industri hingga pasca industri. Sebelumnya
sudah dijelaskan mengenai Jenis-Jenis Perencaaan, kali ini kita mencoba
mengetahui sejarah perkembangan perencanaan wilayah dan kota. Mengenai
sejarah perkembangan perencanaan wilayah dan kota di dunia lebih jelasnya
sebagai berikut :
1. Zaman Pra Yunani (Zaman Perunggu)
Merupakan kota-kota kerajaan (didiami kurang lebih antara 3000 - 5000
orang);
Berfungsi sebagai benteng pertahanan, pusat perdagangan bagi hasil-hasil
pertanian daerah sekitarnya, dan tempat pengolahan barang-barang
(manufaktur), serta kesenian;
Selalu berada di tepi sungai-sungai besar (sekaligus bermanfaat bagi
pertanian, pertahanan, dan transportasi). Hal ini menjadi faktor utama
pemilihan lokasi kota;
Contoh kotanya : Babilon di Irak, Ur di Turki dan Kahun di Mesir.
2. Yunani
Munculnya wacana demokrasi (kekuasaan tidak di tangan raja);
Tempat-tempat persidangan demokrasi (pnyx/lapangan terbuka) mengganti
istana raja sebagai pusat kota;
Terjadi suburbanisasi karena ditinggal warganya untuk tinggal di daerah
pinggiran;
Muncul seorang bernama Hippodamus, sebagai peletak dasar teoritis
perencanaan fisik kota;
Contoh kotanya : Athena di Yunani, Miletus dan Priene di Mesir dan Thurij
di Italia. Jumlah penduduknya diperkirakan antara 40.000 - 100.000.
3. Romawi
Terkenal dengan pandangan Pax Romano;
Keberhasilan menaklukkan wilayah lain membuat Romawi membangun
jalan-jalan di seluruh imperiumnya dari Inggris sampai Babilon dan dari
Spanyol sampai Mesir. Pembangunan jalan-jalan tersebut bertujuan untuk
memperlancar arus komunikasi dan perdagangan dari Roma dan
memudahkan pasukan bergerak untuk mengamankan dan menumpas
pemberontakan;
Menjadi perencana wilayah yang pertama;
Dibangunnya kota militer diseluruh imperium dengan maksud untuk
menegakkan citra hukum dan keterlibatan;
Kaesar berlomba-lomba membuat bangunan sebagai tanda kebesaran
dirinya, setiap Kaesar membuat tempat pertemuan umum (forum) yang
sering digunakan untuk pertemuan politik dan bisnis;
Pengaruh gereja terhadap bangunan-bangunan kota;
Munculnya tuan tanah - tuan tanah (feodalisme)
Penemuan bahan peledak, yang pada akhirnya mempengaruhi bentuk
kota. Benteng-benteng dibangun jauh di luar kota dan daerah-daerah

penyangga.
4. Renaiisance dan Boroque
Mulai muncul seni sehingga kota lebih artistik;
Tokoh perancang yang terkenal antara lain Leonardo da Vinci dan
Michelangelo.
5. Revolusi Industri
Ditemukannya mesin uap oleh James Watt pada tahun 1769;
Produksi meningkat yang pada akhirnya muncul tempat-tempat pengolahan
baru (pabrik) meningkat yang pada gilirannya membuat jumlah pekerja
bertambah;
Jumlah pekerja yang bertambah memunculkan persoalan permintaan
permukiman bagi pekerja di sekitar pabrik yang pada akhirnya juga
memerlukan sarana penunjang lainnya;
Pabrik-pabrik tersebut memerlukan bahan baku yang lancar dan
memasarkan hasilnya ke konsumen, yang tentunya memerlukan sarana
transportasi yang cepat;
Munculnya kapal uap dan kereta api uap (1800 an). Kota menjadi lebih
terbuka dengan dibangunnya infrastruktur rel kereta api yang dapat
menghubungkan ke daerah luar kota;
Mulailah periode industrialisasi yang intensif yang ditandai kemacetan lalu
lintas, polusi udara dan air;
Munculnya gerakan reformasi (akhir abad ke 19), seperti munculnya
undang-undang kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan standar
perencanaan perumahan dan permukiman, pengontrolan penggunaan
lahan dan tinggi bangunan. Termasuk didalamnya adalah gerakan anti
revolusi industri, seperti Robert Owen dengan perumahan koperasinya dan
JS. Buckingham dengan membentuk masyarakat kehidupan sederhana;
Tak kalah juga, beberapa pendukung revolusi industri melahirkan konsepkonsep tentang kota baru. Seperti Sir Titur Salt membangun Saltair di
Inggris, Keluarga Krupp mendirikan Kota Essen di Jerman, serta George
Cadbury memindahkan ke Kota baru Bournville. Kesemua kota baru
tersebut selain untuk pabriknya juga untuk menampung pekerjanya;
Komunikasi makin lancar dengan diketemukannya telegram (1876) dan
radio serta televisi (1925);
Muncul tokoh yang terkenal dengan konsep Kota Taman (kristalisasi
konsep kota baru dalam mengurangi masalah kota industri), yaitu Ebenezer
Howard (1896). Selain itu jgua muncul Patrick Gaddes, yang menyarankan
"perencanaan fisik tidak dapat meningkatkan kondisi kehidupan kota,
kecuali jika diterapkan secara terpadu dengan perencanaan ekonomi dan
perencanaan sosial yang berkaitan dengan lingkungan". Gaddes
menyebutnya "urban conurbation".
6. Pasca Industri
Eksploitasi sumberdaya alam besar-besaran, sehingga memunculkan
pembangunan yang berwawasan lingkungan atau biasa dikenal dengan
konsep pembangunan berkelanjutan;
Transportasi dan komunikasi lebih cepat dan praktis, sehingga
perencanaan transportasi serta komunikasi sangat diperlukan;
Urbanisasi semakin tinggi.
2|

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

SEJARAH PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA DI INDONESIA


Setelah sebelumnya Dokter Kota membahas mengenai Sejarah Perkembangan
Perencanaan Wilayah dan Kota di Dunia, kali ini Dokter Kota akan memberikan
catatan kuliah tentang Sejarah Perencanaan Wilayah dan Kota di Indonesia.
Terdapat 5 masa, yaitu masa VOC dan Penjajahan Belanda, Masa Perang Dunia
II - Tahun 1950an, Masa 1950 - 1960, Masa 1970 - 2000 dan masa tahun 2000an.
Untuk lebih jelasnya mengenai sejarah perkembangan Perencanaan Wilayah
dan Kota di Indonesia sebagai berikut :
1. Masa VOC dan Penjajahan Belanda
Secara teknis, perencanaan fisik di Indonesia sudah dimulai sejak masa
VOC di abad 17 yaitu dengan telah adanya De Statuten Van 1642, yaitu
ketentuan perencanaan jalan, jembatan, batas kapling, pertamanan, garis
sempadan, tanggul-tanggul, air bersih dan sanitasi kota;
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda terjadi 2 hal yang dapat
dikatakan sebagai dasar perencanaan kota, yaitu : munculnya
Regeringsregelement 1854 (RR 1854), berisi sistem pemerintahan dengan
penguasa tunggal di daerah residen; dan diundangkannya Staatblad 1882
Nomor 40 yang memberikan wewenang kepada residen untuk mengadakan
pengaturan lingkungan dan mendirikan bangunan di wilayah (gewent)
kewenangannya.
Sejak tahun 1905 yaitu sejak diundangkannya Decentralisatie Besluit
Indische Staatblad 1905/137, maka perencanaan kota lebih eksplisit
sehubungan dengan pemberian kewenangan otonomi bagi stadsgemeente
(kota praja) untuk menyusun perencanaan kotanya;
Usaha tersebut diikuti dengan munculnya kewenangan bagi kabupaten
(province regentschap) untuk mengatur penataan ruang;
Beberapa Peristiwa yang cukup berpengaruh pada masa tersebut yaitu
Revolusi industri, politik kulturstelsel pada masa Van den Bosch, Politik Etis
dan terbitnya perangkat institusi dan konstitusi.
2. Masa Perang Dunia (PD) II - Tahun 1950an
Pada tahun 1948 diterbitkan peraturan perencanaan pembangunan kota
sebagai peraturan pokok perencanaan fisik kota khususnya untuk kota
Batavia, wilayah Kebayoran dan Pasar Minggu, Tanggerang, Bekasi, Tegal,
Pekalongan, Cilacap, Semarang, Salatiga, Surabaya, Malang, Padang,
Palembang dan Banjarmasin;
Muncul gagasan-gagasan tentang pembangunan kota baru, baik kota
satelit seperti wilayah Candi di Semarang maupun Kebayoran Baru di
Jakarta, serta kota baru mandiri seperti Palangkaraya di Kalimantan
Tengah dan Banjar Baru di Kalimantan Selatan;
Pembangunan nasional pada saat itu mendapat bantuan dari negaranegara maju.
3. Masa 1950 - 1960
3|

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

Perkembangan penduduk kota-kota, khususnya di Jawa dan Sumatera


berdampak terhadap berbagai segi, baik fisik, budaya, sosial dan politik;
Konflik regional;
Pembangunan nasional semakin kompleks;
Peningkatan tenaga ahli perencanaan wilayah dan kota.
4. Masa 1970 - 2000
Kompleksitas pembangunan nasional, regional dan lokal semakin
meningkat;
Pengaruh metode-metode dan teknologi negara maju;
Peningkatan program transmigrasi untuk membuka lahan-lahan pertanian
baru di luar Jawa;
Pembangunan yang sentralistik;
Industrialisasi mulai digalakkan ditandai dengan munculnya kawasankawasan industri;
Munculnya UU Tata Ruang Nomor 24 Tahun 1992;
Standarisasi hirarki perencanaan dari yang umum, detail dan terperinci
untuk tiap daerah tingkat I dan II.
5. Masa Tahun 2000an
Berlakunya Otonomi Daerah;
Kabupaten dan Kota berlomba-lomba meningkatkan Pendapatan Asli
Daerah (PAD);
Tingginya wacana pertisipasi masyarakat dan pemberdayaan masyarakat.
Tingginya wacana pembangunan berkelanjutan (sustainable development)

PERMASALAHAN TATA RUANG TERKAIT DENGAN PENYEDIAAN


PRASARANA KOTA
Kegiatan penyediaan prasarana kota apabila ditinjau dari tahapan perencanaan
termasuk ke dalam tahapan aplikasi rencana. Masalah pokok aplikasi
perencanaan tata ruang kota dalam penyediaan prasarana adalah sebagai
berikut :
1. Rencana tata ruang belum berfungsi secara efektif sebagai dasar
pengembangan prasarana kota. Artinya, banyak kegiatan pembangunan
prasarana kota yang tidak mengacu rencana tata ruang yang ada.
2. Pertambahan prasarana kota yang dibangun terlalu sedikit sehingga tidak
memadai dengan pertumbuhan kota. Biasanya akibat keterbatasan dana
pembangunan, antara permintaan (supply) dan penawaran (demand)
prasarana yang tidak seimbang.
3. Perkembangan jaringan prasarana terpaksa mengikuti pertumbuhan kota
yang terlanjur ada yang mungkin tidak sesuai dengan rencana tata ruang.
Permasalahan yang terjadi tersebut di sebabkan oleh beberapa hal yaitu sebagai
berikut :
1. Koordinasi antar program dari setiap sektor yang belum berjalan dengan
baik;
2. Pemahaman terhadap rencana tata ruang di kalangan aparat pemerintah
dan masyarakat masih sangat kurang;
3. Dana yang tersedia masih terbatas atau tidak tepat waktu;
4|

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

4. Kewenangan penyediaan prasarana di batasi oleh batas administrasi


daerah. Apabila di daerah perbatasan kabupaten/kota tidak terjadi
koordinasi atau kerjasama maka daerah perbatasan tersebut bermasalah di
dalam penyediaan prasarana.
Masalah lanjutan yang disebabkan oleh buruknya penyediaan prasarana,
khususnya prasarana jalan, adalah terjadinya kondisi transportasi kota yang jelek.
Masalah transportasi tersebut meliputi :
Kemacetan lalu lintas;
Kesemrawutan lalu lintas, campur aduk antara :
o Transportasi lokal dan transportasi antar regional;
o Kendaraan yang memiliki tingkat kecepatan rendah dengan
kendaraan yang dapat melaju cepat;
o Kendaraan tradisional / tidak bermesin dengan kendaraan bermesin;
o Pejalan kaki (pedestrian) dengan PKL (pedagang kaki lima) di trotoar
(perampasan hak pejalan kaki oleh pedagang kaki lima).
Polusi udara dari knalpot kendaraan - kendaraan berusia uzur;
Kendaraan umum (angkutan kota, bus serta kereta api) yang tidak nyaman
dan tidak tepat waktu;
Perencanaan transportasi yang tidak dapat mencapai sasaran.
Akibat itu semua menimbulkan biaya sosial yang tinggi bagi masyarakat sehingga
merupakan pemborosan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Untuk memecahkan
masalah ini diperlukan teknik komprehensif antara sistem transportasi dan
penggunaan lahan. Salah satu tekniknya disebut dengan sebutan Transportation
Demand Management (TDM).
Itulah beberapa permasalahan tata ruang terkait dengan penyediaan
prasarana kota terutama yang berkaitan dengan prasarana transportasi.

MASALAH KELEMBAGAAN PENATAAN RUANG


Masalah kelembagaan dalam Penataan Ruang, lanjutan dari pembahasan
mengenai masalah tata ruang lainnya yang sudah di bahas di catatan - catatan
sebelumnya yaitu masalah kerugian pribadi akibat tata ruang, masalah tata ruang
dari sisi ideologi politik, kekuatan politik, kelestarian lingkungan, pengelolaan
pertanahan, penyediaan prasarana, serta yang terakhir sebelumnya menyangkut
pendanaan serta penegakan hukum. Masalah tata ruang terkait dengan
kelembagaan yaitu sebagai berikut :
1. Belum efektifnya TKPRD (Tim Koordinasi Penataan Ruang Daerah)
Propinsi dan Kabupaten/Kota
o TKPRD yang terdapat di tingkat Propinsi dan tingkat Kabupaten/Kota
selr5ama ini baru berfungsi pada aspek penyusunan rencana tata
ruang, itupun belum di semua daerah aktif berperan. Sedangkan
pada 2 aspek yang lain dari penataan ruang, yaitu aspek
pemanfaatan ruang dan aspek pengendalian pemanfaatan ruang
belum nampak peranan TKPRD. Peranan secara aktif dari TKPRD
tersebut mutlak diperlukan sejak dari tahap awal yaitu penyusunan
5|

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

perencanaan, pemanfaatan ruang sampai dengan pengendalian


pemanfaatan ruang. Kelemahan TKPRD saat ini adalah belum
bakunya prosedur kerja dan kewenangan dari tim tersebut di dalam
tugasnya sehari - hari.
2. Partisipasi masyarakat masih kurang
o Belum difektifkannya peran serta masyarakat dalam setiap tahapan
penyusunan rencana tata ruang sampai kepada
pelaksanaan/pengetrapan di lapangan. Konsep Participatory
Planning mutlak di terapkan di dalam sistem perencanaan saat ini.
3. Kurangnya koordinasi penataan ruang
o Koordinasi perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian
pemanfaatan ruang baik secara instansional maupun dengan
lembaga masyarakat belum berjalan secara baik. Misalnya,
pengaspalan jalan tidak terpadu dengan penanaman kabel telepon,
kabel listrik atau pipa air minum. Disamping itu, antar
lembaga/instansi pemerintah yang melakukan pengendalian kadang
- kadang juga terjadi konflik dan tidak sejalan di dalam pengendalian
pemanfaatan ruang. Misalnya, pada daerah - daerah yang telah
ditetapkan sebagai jalur hijau atau pendudukan tanah secara liar
(squatters) tetap saja pelayanan fasilitas kota tetap diadakan.
4. Lemah atau kurangnya wadah/lembaga untuk menampung aspirasi
masyarakat
o Untuk menunjang keberhasilan rencana tata ruang terutama dari
tahap penyusunan sampai dengan tahap pengendalian pemanfaatan
ruang perlu partisipasi masyarakat. Wadah/lembaga tersebut antara
lain dapat berupa organisasi sosial kemasyarakatan maupun LSM
(Lembaga Swadaya Masyarakat) yang khusus aktif di bidang
penataan ruang. Sedangkan lembaga - lembaga masyarakat yang
ada masih belum berfungsi di dalam partisipasi penataan ruang.
5. Belum tersedianya sistem informasi tata ruang yang lengkap
o Di setiap tahapan penataan ruang perlu dukungan sistem informasi
yang berkaitan dengan dinamikan penggunaan ruang di lapangan.
Sistem tersebut mencakup data, peta, prosedur kerja,
perkembangan pemafaatan ruang, penyediaan ruang dan
sebagainya.

MASALAH YANG DIHADAPI PERENCANA WILAYAH


Masalah yang dihadapi perencana wilayah - kegiatan yang tercakup dalam
perencanaan wilayah bisa dalam ruang lingkup yang luas maupun ruang lingkup
yang sempit. Perencanaan wilayah dapat berupa perencanaan makroregional,
yaitu menyangkut keseluruhan aktivitas pada wilayah tersebut. Akan tetapi,
terkadang bisa juga hanya menyangkut suatu aktivitas tertentu pada suatu lokasi
tertentu, misalnya merencanakan di mana lokasi puskesmas di wilayah yang
dimaksud. Perencanaan yang bersifat makroregional, antara lain berupa
pembuatan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) untuk ruang lingkup kabupaten
atau kota, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dalam ruang
lingkup provinsi maupun kabupaten/kota.
6|

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

Mengingat bidang kegiatan yang tercakup dalam kegiatan perencanaan wilayah


begitu luas maka timbul pertanyaan tentang keahlian apa yang harus dimiliki oleh
seorang perencana wilayah. Sebetulnya tugas perencana wilayah adalah
menjawab pertanyaan yang sangat sederhana, yaitu kegiatan apa yang ingin
dikembangkan dan di mana lokasinya (pendekatan sektoral). Hal ini berarti
apabila ada suatu kegiatan yang ingin dikembangkan, harus dicari lokasi yang
paling cocok untuk dikembangkan. Permasalahan dapat juga dilihat dari sisi lain
(pendekatan regional), yaitu kita mengetahui penggunaan lahan saat ini dan kita
melihat kemungkinan masih adanya lahan yang diubah penggunaannnya agar
kemakmuran masyarakat menjadi meningkat. Permasalahannya adalah kegiatan
apa yang paling cocok dikembangkan pada lahan tersebut. Kegiatan tidak harus
berarti kegiatan yang sama sekali baru tetapi dapat berupa peningkatan kegiatan
yang selama ini telah ada di lahan tersebut. Ternyata jawaban dari pertanyaan
tersebut adalah sangat tidak sederhana, terlebih-lebih apabila kegiatan yang ingin
dikembangkan itu berskala besar atau lahan yang ingin dimanfaatkan ternyata
cukup luas. Ada kemungkinan karena luasnya permasalahan dan rumitnya hal-hal
yang terkandung di dalamnya, si perencana wilayah tidak akan mampu menjawab
pertanyaan seorang diri. Dalam banyak hal, dia terpaksa mengajak teman-teman
dari berbagai bidang ilmu yang lain agar dapat menjawab pertanyaan tersebut
dengan baik.
Apa saja yang bisa menjadi permasalahan dalam menjawab pertanyaan di atas?
Yang sekaligus berarti keahlian apa saja yang perlu terlibat dalam menangani
perencanaan wilayah itu agar dapat diselesaikan dengan baik. Proses
penyelesaiannya pun akan berbeda apabila proyek itu murni swasta atau proyek
yang seluruhnya atau sebagian melibatkan keuangan pemerintah. Permasalahan
yang terkandung dalam perencanaan wilayah utamanya penentuan kegiatan apa
dan di mana lokasinya, dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Permasalahan Mikro
Permasalahan mikro yang dihadapi perencana wilayah adalah permasalahan
yang berkaitan dengan pembangunan dalam proyek tersebut, yang dapat dilihat
menurut sudut pandang pengelola maupun pemberi izin proyek. Permasalahan
mikro proyek dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Permasalahan teknis; antara lain di dalamnya termasuk peraturan
pemerintah tentang penggunaan lahan, yaitu bahwa kegiatan seperti itu
memang dibenarkan pada lokasi tersebut, kondisi lahan sesuai,
bahan/peralatan yang dibutuhkan untuk membangun proyek cukup
tersedia, dan adanya tenaga terampil sehingga proyek benar-benar dapat
dibangun sesuai dengan rencana.
Permasalahan Manajerial (pengelolaan); setelah proyek selesai apakah
akan dapat dioperasikan sebagaimana yang diharapkan. Artinya tenaga
kerja, bahan penolong, bahan baku serta fasilitas pendukung cukup
tersedia sehingga tidak menjadi permasalahan dalam
pemanfaatan/pengoperasian proyek.
Permasalahan finansial (keuangan); apakah terdapat dana yang cukup
untuk menyelesaikan proyek dan ada dana operasional untuk kelak
mengoperasikan proyek. Apakah lokasi itu cukup efisien ditinjau dari
pengeluaran biaya, baik semasa pembangunannya maupun setelah
pengoperasiannya. Apabila proyek itu ditujukan untuk menghasilkan laba,
7|

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

apakah akan diperoleh laba/pendapatan dari pengoperasian proyek


sehingga proyek itu menguntungkan dari sudut pandang bisnis.
Permasalahan ekonomi; apakah sumber daya yang dikorbankan untuk
proyek tersebut akan memberikan manfaat yang lebih besar dibanding
dengan biaya yang dikorbankan ditinjau dari sudut ekonomi nasional
secara keseluruhan. Apakah nilai tunai manfaat lebih besar dari nilai tunai
biaya (cost) yang dihitung dengan menggunakan harga bayangan (shadow
prices), dan telah memperhatikan faktor eksternal.
Permasalahan dampak lingkungan; apakah proyek tersebut tidak akan
menciptakan dampak lingkungan yang berlebihan, baik sewaktu
pembangunannya ataupun sewaktu pengoperasiannya.
Sikap sosial masyarakat; apakah masyarakat dapat menerima kehadiran
proyek tersebut. Seandainya proyek itu terpaksa menggusur masyarakat
yang sebelumnya telah bermukim/berusaha pada lokasi itu, apakah
masalah penggusuran ini akan dapat diselesaikan dengan baik, yaitu
dengan cara yang tidak menimbulkan gejolak sosial bagi masyarakat di
kemudian hari, apakah partisipasi masyarakat akan diperoleh pada saat
dibutuhkan.
Permasalahan keamanan; apakah kondisi wilayah cukup aman termasuk
pada lokasi proyek. Keamanan harus terjamin, baik dalam masa
pembangunannya maupun dalam masa pengoperasiannya. Keamanan di
sini berarti terhindar dari kondisi perang, kerusuhan antar kelompok
masyarakat, pernjarahan, pencurian dan pemerasan (pungutan liar). Faktor
keamanan ini sampai batas tertentu mungkin masih bisa ditoleransi, namun
biasanya akan menambah biaya, baik untuk pembangunannya demikian
juga dalam masa pengoperasiannya.

2. Permasalahan Makro
Permasalahan makro yang dihadapi oleh perencana wilayah adalah murni
permasalahan pemerintah untuk melihat kaitan proyek dengan program
pemerintah secara keseluruhan (makro). Seandainya proyek itu adalah murni
swasta dan ditujukan untuk kegiatan bisnis, barangkali pemerintah (perencana
wilayah) tidak perlu terlalu pusing dengan permasalahan mikro yang ada, karena
biasanya hal itu sudah dipersiapkan oleh pihak swasta sebagai penggagas
proyek. Tugas pemerintah adalah memeriksa/mengawasi kebenaran dari gagasan
terutama yang berkaitan dengan analisis ekonomi, dampak lingkungan, dan sikap
sosial masyarakat. Berbeda dengan permasalahan mikro, permasalahan makro
sebagian besar menjadi tanggung jawab pemerintah (perencana wilayah).
Permasalahan makro dari penggunaan lahan untuk suatu kegiatan dapat
dikelompokkan sebagai berikut :

Kesesuaian Lokasi
o Lokasi proyek itu harus disesuaikan dengan daya dukung dan
kesesuaian lahan secara makroregional. Kalau sudah ada Rencana
Penggunaan Lahan maka penentuan lokasi dapat mengacu pada
rencana tersebut. Akan tetapi, seandainya belum ada rencana
penggunaan lahan yang dimaksudkan atau kalaupun ada tidak
cukup detail/rinci maka perencana kota harus mengaitkan lokasi
proyek dengan kebijakan penggunaan lahan yang baik atau
mengikuti prinsip-prinsip penggunaan lahan yang baik. Berbagai
8|

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

kebijakan yang terkait dengan hal ini, misalnya lokasi Perumahan


Developer atau industri selayaknya menghindari penggunaan lahan
yang sangat subur untuk pertanian, lahan dengan kemiringan
tertentu atau lahan resapan air tanah. Untuk sektor pertanian,
komoditi yang dikembangkan adalah sesuai dengan jenis tanah atau
kesuburan tanah dan seterusnya.

Strategi Pengembangan Ekonomi Wilayah


o Apabila pemerintah ingin membangun suatu proyek terutama proyek
berskala besar, hal itu harus terkait dengan strategi pengembangan
wilayah untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi di wilayah
tersebut. Jadi, perlu dilihat apakah proyek yang diusulkan cukup
strategis dan sinkron dengan rencana umum pengembangan
wilayah dan menuju tercapainya visi wilayah. Misalnya, apakah
proyek yang dibangun itu bersifat basis dan memiliki forward
lingkage dan backward lingkage yang tinggi. Apabila ya, maka
proyek itu harus diprioritaskan. Akan tetapi, apabila proyek itu hanya
bersifat pelayanan (non basis) maka perlu dikaji bahwa proyek itu
memang sudah dibutuhkan. Jangan sampai proyek itu justru
mematikan pelayanan proyek sejenis yang telah ada sebelumnya.
Apabila hal ini terjadi maka kita telah memboroskan uang di mana
manfaat ekonominya tidak sebanding dengan biaya yang
dikorbankan. Proyek itu memang menciptakan manfaat baru tetapi
mengurangi manfaat dari proyek yang sudah ada sebelumnya. Ada
baiknya disarankan untuk menggunakan dana tersebut kepada
kegiatan lain (terutama kegiatan basis) agar manfaat ekonominya
lebih tinggi. Mengarahkannya kepada kegiatan basis akan
mempercepat laju pertumbuhan ekonomi wilayah karena pada
saatnya akan mendorong pertumbuhan sektor pelayanan.Dalam
pengembangan wilayah kita sering menghadapi kenyataan bahwa
dana yang tersedia terbatas akan tetapi usulan dari masing-masing
sektor cukup banyak. Untuk itu, perlu ditetapkan skala prioritas baik
pada masing-masing sektor maupun antarsektoral, padahal kriteria
seleksi bisa berbeda antara satu sektor dengan sektor yang lainnya.
Seorang perencana wilayah harus memiliki keahlian di dalam
menetapkan skala prioritas.

Sistem Transportasi/Penyediaan Prasarana


o Harus dilihat apakah penetapan lokasi dapat mengakibatkan sistem
transportasi yang tidak efisien. Misalnya, lokasi perumahan yang
jauh dari tempat kerja akan mempercepat terciptanya kepadatan lalu
lintas yang tinggi dan mendorong terciptanya high cost economy.
Lokasi perumahan yang dibuat berseberangan dengan lokasi tempat
kerja atau pasar, padahal jalan yang memisahkannya adalah jalan
arteri. Hal itu akan memacetkan lalu lintas dan meningkatkan
terjadinya kecelakaan karena seringnya terjadi penyeberangan.
Jangan terlalu banyak menumpukkan kegiatan pada satu lokasi di
mana angkutan seluruh kegiatan itu akan tumpah pada satu jalan
penghubung (arteri), kecuali kapasitas jalan penghubung tersebut
masih idle. Hal ini akan memacetkan lalu lintas pada jalan
penghubung tersebut. Sebarkanlah kegiatan pada berbagai jalan
penghubung atau tambah jalan penghubung baru atau jalan
9|

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

penghubung yang ada perlu diperlebar. Perhitungkan langkah mana


yang paling efisien.

Sistem Pembiayaan Pembangunan di Daerah


o Setelah memperhatikan sasaran pengembangan wilayah, pada
akhirnya perencana wilayah sampai kepada program atau proyek
yang diperkirakan akan menunjang tercapainya sasaran
pengembangan wilayah. Program atau proyek jelas memerlukan
biaya yang seringkali melampaui kemampuan dana pemerintah yang
tersedia. Oleh sebab itu, program atau proyek perlu diberi skala
prioritas. Namun jika belum sampai pada keputusan akhir,
perencana wilayah harus mengetahui tentang sistem pembiayaan
pembangunan di daerah. Hal ini disebabkan jenis proyek yang
diusulkan harus disesuaikan dengan sumber dana yang akan
membiayai proyek tersebut.Misalnya sumber dana yang berasalah
dari APBN dan APBD.

Itulah masalah-masalah yang sering dihadapi oleh perencana wilayah dalam


setiap proses perencanaan yang dilakukan.

9 (SEMBILAN) FAKTOR PENYEBAB MASALAH DI DESA


Faktor penyebab masalah di desa - Bagi sebagian besar orang yang tinggal di
kota, desa dianggap sebagai tempat yang sangat berkesan karena sebagian
besar dari orang - orang yang tinggal di kota, berasal dari desa. Sebelumnya perlu
diketahui mengenai pengertian Desa, desa juga menjadi idaman bagi orang kota
yang terhimpit kesibukan dan kegerahan udara kota yang ingin menikmati
kesegaran udara desa dan ketenangan situasi sehingga cocok untuk beristirahat
dalam beberapa waktu. Akan tetapi apabila orang kota berada di desa dalam
waktu yang lama, kesan positif dari desa akan perlahan menghilang karena akan
banyak ditemukan berbagai macam permasalahan, baik masalah - masalah yang
berhubungan dengan dirinya sendiri maupun masalah - masalah yang berkaitan
dengan masyarakat desa setempat.
Faktor penyebab masalah di desa pada umumnya terdiri dari 9 poin, dimana
pada intinya terjadi karena kemiskinan serta keterbelakangan. Adapun 9 faktor
utama yang menjadi latar belakang atau sumber masalah tersebut adalah sebagai
berikut ini :
1. Tingkat keuntungan usaha tani dan industri di pedesaan rendah, karena :
o Skala usaha tani kecil
o Tingkat produktivitas rendah
o Petani (masyarakat desa) tidak menguasai pasar karena :
Produk pertanian pada umumnya bersifat musiman dan
mudah rusak/busuk sehingga harus segera dijual;
Petani tidak terorganisir dalam tata niaga pertanian sehingga
bargaining powernya rendah.
2. Kekurangan sumber daya lahan, dimana ada kecenderungan semakin
menyempitnya luas tanah yang diusahakan petani karena meningkatnya
jumlah penduduk.
10 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

3. Kualitas sumber daya manusia yang rendah. Akibatnya banyak terjadi


pengangguran usia produktif. Tingkat pengangguran terdiri atas :
o Pengangguran nyata, yaitu orang yang benar - benar tidak bekerja
sepanjang tahun;
o Pengangguran tersembunyi, yaitu orang yang kelihatannya bekerja
tetapi secara agregat kegiatan tidak menambah hasil produksi.
Misalnya penambahan jumlah tenaga kerja yang tidak meningkatkan
hasil produksi. Dapat dikatakan penambahan jumlah tenaga kerja
tersebut sama sekali tidak terlihat menguntungkan, oleh sebab itu
dikatakan pengangguran tersembunyi (tidak kentara);
o Bekerja paruh waktu, yaitu orang yang bekerja pada waktu atau
musim - musim tertentu, selain pada waktu atau musim tersebut
mereka menjadi pengangguran. Hal itu disebabkan oleh tingkat
pendidikan serta keterampilan yang terbatas, terbatasnya lapangan
pekerjaan lain, sifat pekerjaan tergantung musim serta hambatan
sosial budaya setempat.
4. Fasilitas pendidikan kurang sehingga tingkat pendidikan masyarakat
pedesaan kurang;
5. Fasilitas kesehatan kurang, sehingga tingkat kesehatan masyarakat juga
rendah;
6. Perumahan serta sanitasi lingkungan yang buruk, misalnya rumah yang
memiliki fasilitas MCK yang sederhana, rumah tidak memiliki ventilasi atau
tanpa jendela dan sebagainya. Perencanaan perumahan maupun
permukiman sangat penting untuk dilaksanakan.
7. Prasarana serta sarana listrik, transportasi, komunikasi maupun air bersih
kurang;
8. Kurangnya sarana hiburan misalnya tidak tersedianya lapangan olahraga,
taman bermain dan sebagainya;
9. Barang kebutuhan yang tidak dapat tersedia sewaktu - waktu, kalaupun
ada, tapi masih sangat kurang.
Hal itulah yang menjadi faktor penyebab masalah di desa, sehingga perlunya
program - program pemerintah misalnya pemberdayaan masyarakat dan lain
sebagainya sehingga dapat mengurangi permasalahan - permasalahan di
pedesaan.

UPAYA MENGATASI MASALAH PERENCANAAN TATA RUANG


DENGAN PENDEKATAN HOLISTIK
Pada bagian ini akan disajikan mengenai perlunya pengembangan pendekatan
yang bersifat holistik (menyeluruh, utuh) sebagai jawaban terhadap krisis
atau masalah penataan ruang di Indonesia seperti yang telah di jelaskan pada
postingan - postingan sebelumnya, yaitu mengenai masalah tata ruang dalam
prakteknya di Indonesia seperti :
Masalah tata ruang dalam hal pengelolaan pertanahan
Masalah tata ruang dalam hal kelestarian lingkungan
Masalah tata ruang dalam hal penyediaan prasarana kota
Masalah tata ruang dalam hal pendanaan serta penegakan hukum
Masalah tata ruang dalam hal kelembagaan penataan ruang
11 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

Selain masalah tata ruang dalam hal praktek, terdapat juga masalah tata ruang
dalam teorinya yaitu sebagai berikut :
Pengaruh pemikiran filsafat dunia terhadap teori perencanaan
Masalah dalam Pemilihan Pendekatan Perencanaan
Masalah pandangan ideologi politik terhadap perencanaan tata ruang
Masalah kekuatan politik dalam perencanaan tata ruang
Masalah kerugian pribadi akibat perencanaan tata ruang
Masalah alat dalam tata ruang
Berikut ini akan diuraikan kesimpulan yang dapat dihimpun dari permasalahan
perencanaan tata ruang dan konsep dasar untuk memecahkan masalah secara
holistik.
1. Kesimpulan terhadap masalah perencanaan tata ruang di Indonesia
Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian pada postingan - postingan sebelumnya
yang ditampilkan diatas adalah bahwa terdapat banyak kekurangan di dalam
perencanaan dan pengelolaan penataan ruang di Indonesia. Kekurangan tersebut
adalah sebagai berikut :
Kebijaksanaan yang tidak jelas serta tidak konsisten terhadap penggunaan
lahan yang berwawasan lingkungan. Kebijaksanaan tersebut meliputi
penanganan limbah (industri maupun rumah tangga), ruang terbuka hijau
maupun pembuangan air dan sebagainya;
Kegagalan mengakomodasi kehendak atau tujuan masyarakat sebagai
pengguna ruang dan kurang keterlibatannya di dalam proses perencanaan;
Kegagalan menangkap isu - isu yang relevan terhadap masalah penataan
ruang. Isu - isu yang muncul sehari - hari dibiarkan oleh pemerintah dan
masyarakat. Misalnya, pedagang kaki lima (PKL) yang merambah jalan
raya, pasar tradisional yang terabaikan, dan sebagainya;
Kegagalan mengintegrasi kegiatan antar sektor. Kegiatan antar sektor, baik
oleh pemerintah maupun swasta, sering berjalan sendiri - sendiri sehingga
tidak diperoleh sinergi antar kegiatan dan terjadi pemborosan sumber daya;
Tidak ada penekanan terhadap solusi teknis. Solusi sering ditekankan pada
aspek non teknis seperti pertimbangan politis, tradisi serta kebiasaan, dsb;
Ada masalah kelembagaan penataan ruang menyangkut kelemahan
lembaga dan kejelasan kewenangannya;
Peraturan perundangan penataan ruang yang masih kurang dan yang ada
belum dapat berjalan secara efektif. Bahkan ada peraturan perundangan
yang bertentangan secara mendasar;
Kekurangan pembiayaan;
Kekurangan akses informasi di dalam proses pengambilan keputusan.
2. Konsep Dasar Perencanaan dan Pengelolaan Holistik
Diperlukannya pendekatan perencanaan dan pengelolaan yang bersifat holistik
dan integratif mengingat bahwa fenomena keruangan pada era globalisasi bersifat
sangat kompleks. Krisis perkotaan di Indonesia sebagai kelanjutan dari krisis
ekonomi pada akhir - akhir ini memerlukan suatu pengembangan pendekatan
holistik yang terdiri atas 3 pilar/asas yang saling terkait, yaitu :
12 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

1. Secara ekonomi menguntungkan


o Pembangunan ekonomi berkelanjutan;
o Peningkatan pendapatan masyarakat;
o Peningkatan lapangan kerja;
o Pemerataan pendapatan;
o Perencanaan berbasis ekonomi lokal tetapi berorientasi
regional/global. Pengembangan ekonomi yang terintegrasi antara
aktor lokal dengan penggerak dari luar.

2. Ramah terhadap lingkungan


o Konservasi dan pengawetan lingkungan;
o Efisiensi penggunaan sumber daya;
o Mengurangi limbah;
o Teknologi yang tepat;
3. Secara sosial dan politik diterima oleh masyarakat dan sensitif terhadap
budaya
o Pemberdayaan masyarakat;
o Demokratisasi perencanaan dan pengelolaan tata ruang;
o Desentralisasi perencanaan dan pengelolaan tata ruang;
o Pemanfaatan pengetahuan asli daerah;
o Pemerataan sosial, integrasi antara issue fisik dengan issue sosial;
o Integritas budaya.
Aspek - aspek tersebut akan menentukan tingkat partisipasi masyarakat dalam
perencanaan dan pengelolaan tata ruang. Jenis dan tingkat partisipasi dapat
dibedakan sebagai berikut :
1. Partisipasi pasif, partisipan tidak melibatkan diri dalam proses perencanaan
tetapi juga tidak menolak rencana dan mau menerima informasi tentang
apa yang telah diputuskan;
2. Partisipasi sebagai sumber informasi;
3. Partisipasi dengan memberikan pendapat atau pandangan;
4. Partisipasi dengan memberikan bantuan materil;
5. Partisipasi sebagai pelaksana rencana atau proyek, disebut juga partisipasi
fungsional;
6. Partisipasi interaktif, dengan bantuan dari tenaga ahli luar, masyarakat
mampu mengidentifikasi dan menganlisa masalahnya sendiri, menemukan
pemecahan masalah, merencanakan dan bertanggung jawab dalam
melaksanakan kegiatan.
7. Berdaya dan mampu mobilisasi secara mandiri. Tanpa bantuan pihak luar,
masyarakat mampu berinisiatif merubah dan membangun sistem baru.
Mereka berhubungan dengan lembaga luar sebagai nara sumber dan
penasehat teknis tetapi mandiri dalam memutuskan rencana.
Pengetahuan asli daerah yang biasanya berupa kebiasaan, kepercayaan, dan
pantangan masyarakat sering dianggap remeh karena dianggap tidak ilmiah. Di
dalam masyarakat kita yang beragam terdapat tradisi - tradisi positif yang telah
teruji oleh jaman akan manfaatnya. Pemanfaatan pengetahuan asli daerah dapat
13 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

mendorong tingkat partisipasi masyarakat karena masyarakat telah terbiasa


dengan hal tersebut.
Partisipasi masyarakat adalah kunci keberhasilan memecahkan masalah
perencanaan. Apabila partisipasi terbentuk secara penuh maka akan mengarah
pada keadaan :
Rasa memiliki;
Meningkatnya komitmen pada pencapaian tujuan dan hasil;
Kelestarian sosial jangka panjang;
Keberdayaan masyarakat terwujud
Itulah beberapa poin penting dalam pembahasan mengenai upaya mengatasi
masalah penataan ruang dengan menggunakan pendekatan holistik (menyeluruh)

MASALAH TATA RUANG | PENDANAAN DAN PENEGAKAN


HUKUM
Permasalahan tata ruang dapat terjadi dalam berbagai aspek, di mana masalah
dalam pendanaan serta penegakan hukum dalam penataan ruang termasuk
beberapa masalah yang sering terjadi. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut
mengenai permasalahan - permasalahan tata ruang menyangkut dengan
pendanaan serta penegakan hukum dalam penataan ruang :
1. Masalah Pendanaan dalam Tata Ruang
Pendanaan dalam aplikasi rencana tata ruang merupakan masalah yang klasik di
Indonesia, antara lain permasalahan - permasalahan seperti : dana yang tidak
tersedia, meskipun tersedia tapi tidak tepat pada waktunya, ataupun dana tersedia
tapi tidak dialokasikan sesuai rencana tata ruang. Masalah - masalah tersebut
timbul karena :
Dalam proses penyusunan rencana belum dimasukkan komponen biaya
pelaksanaan rencana. Hal ini disebabkan perencanaan yang masih terlalu
detail atau disusun tidak berdasarkan standar kebutuhan pada umumnya;
Perkiraan peningkatan pendapatan daerah yang akan diperoleh bila
rencana tersebut terlaksana karena adanya peningkatan pajak tidak
dilakukan sehingga penerapan rencana tata ruang menjadi kurang menarik
bagi pihak eksekutif dan legislatif;
Rencana Tata Ruang belum digunakan sebagai acuan penyusunan
Anggaran Tahunan (APBD/APBN);
Masyarakat yang memiliki dana kurang informasi terhadap Rencana Tata
Ruang sehingga mereka ragu - ragu dalam melakukan investasi atau
melakukan pada areal yang tidak sesuai rencana tata ruang;
Perencanaan alokasi dana yang tidak tepat sasaran atau setengah setengah. Yang tidak mencapai sasaran biasanya hal ini terjadi pada
proyek yang direncanakan dengan sistem top - down sehingga kadang kadang apa yang direncanakan bukan merupakan yang dibutuhkan
masyarakat setempat. Yang penting bagi pelaksana kegiatan adalah
pencapaian target tanpa peduli manfaatnya. Sedangkan pendanaan yang
setengah - setengah mengakibatkan proyek yang dibangun cuma setengah
jadi. Hasilnya adalah pembangunan prasarana yang tidak dapat digunakan
atau terbengkalai.
14 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

2. Masalah Penegakan Hukum dalam Tata Ruang


Penegakan hukum penataan ruang memerlukan keberadaan empat hal sebagai
berikut ini:
a. Kesadaran Hukum Masyarakat
Hukum diciptakan untuk mengatur kehidupan masyarakat agar masyarakat
sejahtera. Akan tetapi tingkat kesadaran hukum masyarakat kita masih
memprihatinkan. Kesadaran hukum masyarakat perlu ditingkatkan dalam menjaga
kelestarian sumber daya alam maupun sumber daya lainnya sesuai dengan
rencana tata ruang yang ada. Tanpa adanya kesadaran hukum dari masyarakat
mustahil rencana tata ruang yang sudah disusun dapat berhasil dalam
pelaksanaannya di lapangan. Hal ini mutlak diperlukan sosialisasi rencana tata
ruang sejak proses penyusunan hingga menjadi
b. Sanksi Hukum Bagi Pelanggar Rencana Tata Ruang
Sebagaimana rencana tata ruang merupakan produk hukum yang sudah menjadi
kesepakatan bersama antara pemerintah, masyarakat dan lembaga/badan hukum
yang ada, maka seyogyanya harus ditaati oleh semua pihak. Untuk menjaga agar
hukum ditaati maka harus ada sanksi yang jelas. Menurut UU No. 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang sanksi terhadap pelanggaran rencana tata ruang dapat
diberikan berupa :
Sanksi administrative, misalnya dengan pencabutan izin;
Sanksi perdata, misalnya dengan pengenaan denda;
Sanksi pidana, misalnya dengan kurungan penjara terhadap pelanggaran
berat yang mengancam jiwa orang lain.
c. Kejelasan Instansi yang Bertugas Menangani Pengendalian Pemanfaatan
Ruang
Hal tersebut penting mengingat harus ada instansi yang bertanggung jawab dalam
pengelolaan rencana tata ruang dan penyebutan instansi tersebut harus tertuang
dalam produk peraturan (Peraturan Daerah). Instansi teknis yang mengeluarkan
perijinan sekaligus bertanggung jawab memonitor pelaksaaan di lapangan sejauh
mana pemegang ijin memenuhi kewajibannya yang tertuang di dalam perijinan.
Untuk pengawasan yang bersifat koordinatif antar sektor dapat dilaksanakan oleh
lembaga yang sudah ada. Sedangkan untuk pelaksanaan penyidikan pelanggaran
dapat diserahkan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil atau pihak kepolisian
d. Dukungan Masyarakat
Agar produk rencana tata ruang dapat berhasil dalam pelaksanaannya di
lapangan, maka dukungan masyarakat sangat diperlukan. Untuk memperoleh
dukungan masyarakat maka partisipasi masyarakat harus dilakukan dari awal,
disamping kegiatan sosialisasi rencana tata ruang yang dilakukan secara terus
menerus.
Masalah - masalah klasik tersebut diatas akan selalu terjadi jika dalam proses
perencanaan tidak pernah dilakukan dengan serius. Itulah masalah - masalah
15 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

tata ruang yang berkaitan dengan pendanaan serta penegakan hukum yang
sering terjadi di Indonesia.

MASALAH TATA RUANG MENYANGKUT KELESTARIAN


LINGKUNGAN
Masalah tata ruang menyangkut kelestarian lingkungan - Pergeseran basis
ekonomi Indonesia dari agraris ke arah industri mempunyai dampak sebagai
berikut :
Perkembangan jumlah penduduk kota yang tinggi yaitu dengan rata-rata
5%/tahun pada periode 1971 - 1981;
Perubahan penggunaan lahan pertanian ke non pertanian;
Polusi yang disebabkan oleh industri.
Masalah pokok yang timbul dari perencanaan tata ruang adalah adanya antagonis
kepentingan antara kelestarian lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi
nasional. Sering terjadi demi memperoleh hasil ekonomi yang besar, kepentingan
lingkungan alam ditinggalkan. Biaya eksternal seharusnya ditanggung oleh pelaku
ekonomi sehingga eksternalitas tidak dilepas secara gratis ke alam dan
masyarakat sekitarnya. Apabila tidak dilaksanakan maka dapat mengakibatkan
biaya sosial yang lebih besar yang diderita oleh masyarakat sekitarnya dan juga
diderita oleh alam lingkungan. Misalnya, pabrik sebelum membuang limbah
seharusnya terlebih dahulu menetralisir limbah tersebut. Biaya untuk menetralisir
limbah tersebut di sebut sebagai biaya eksternal. Apabila tidak dinetralisir maka
alam lingkungan dan masyarakat akan dirugikan karena mungkin terjadi
kerusakan lingkungan dan sumberdaya sebagai sumber kehidupan masyarakat.
Kerugian ini disebut biaya sosial, yang dapat lebih besar nilainya dibandingkan
biaya eksternal. Oleh karena itu, pelaku ekonomi yang menghasilkan eksternalitas
negatif harus menginternalisasi biaya eksternal ke dalam biaya proses produksi.
Perencanaan tata ruang sebagai bentuk ekspresi kehendak membangun harus
berpedoman pada pilar - pilar kelestarian lingkungan. Pilar - pilar tersebut adalah :
1. Stabilitas ekologis;
2. Konservasi biodiversitas;
3. Pemenuhan kebutuhan dasar manusia;
4. Akses yang adil terhadap sumber daya alam.
Perlu kiranya setiap rencana tata ruang pada kawasan tertentu dilengkapi dengan
Perencanaan Lingkungan seperti studi AMDAL (Analisa Mengenai Dampak
Lingkungan). Dengan studi AMDAL yang terdiri atas ANDAL (Analisa Dampak
Lingkungan), RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan) dan RPL (Rencana
Pemantauan Lingkungan) maka dapat diprediksi kemungkinan - kemungkinan
dampak (terutama dampak negatif) yang ditimbulkan oleh adanya rencana tata
ruang dan bagaimana mengatasi dampak tersebut. Apabila hal tersebut dapat
terpenuhi, maka masalah tata ruang menyangkut kelestarian lingkungan akan
tetap terjaga.

MASALAH TATA RUANG : PENGELOLAAN PERTANAHAN


16 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

Pengelolaan tanah merupakan bagian yang strategis di dalam pengelolaan kota


atau pengelolaan wilayah pedesaan. Sebelum mengetahu masalah pengelolaan
tanah dalam perencanaan tata ruang, perlu diketahui beberapa hal terkait
pengelolaan tanah yaitu sebagai berikut :
1. Sistem Administrasi Hukum Pertanahan
Hubungan hukum antara manusia dengan tanah. Misalnya pengaturan
mengenai jenis - jenis hak atas tanah (Hak Guna Bangunan, Hak Guna
Usaha, Hak Milik, Hak Pakai dan Hak Pengelolaan);
Hubungan hukum antar manusia yang berkaitan dengan perbuatan hukum
mereka terhadap tanah. Misalnya perbuatan hukum jual beli tanah,
pembebanan hak, gadai, sewa, penggunaan tanah dan sebagainya.
2. Perencanaan Peruntukan Tanah
Dengan adanya rencana tata ruang maka peruntukan bidang - bidang tanah harus
disesuaikan degnan rencana tata ruang tersebut. Untuk itu diperlukan
perencanaan yang menyerasikan rencana tata ruang dengan kondisi bidang bidang tanah dari aspek fisik, ekonomi, status kepemilikan tanah, kelestarian
lingkungan, pembangunan berkelanjutan dan sebagainya.
3. Pembangunan dan Pengembangan Tanah
Pemanfaatan tanah dimulai dengan kegiatan pengembangan potensi atau sifat sifat tanah (land improvement), misalnya dengan penyediaan prasarana jalan,
pembebasan dari banjir dan genangan air hujan, pengeringan, pengurugan dan
sebagainya. Setelah tanah matang kemudian dilakukan pembangunan sesuai
dengan peruntukannya.
4. Alokasi Kebutuhan Tanah atau Penyediaan Tanah
Untuk memenuhi kebutuhan - kebutuhan tanah yang berbeda kepentingannya
maka perlu pengaturan alokasi tanah. Tanah dikatakan tersedia untuk
digunakan/dibangun mencakup 2 pengertian yaitu tersedia dari segi fisik dan dari
segi hukum. Penjelasannya adalah sebagai berikut :
Tersedia dari segi fisik artinya sifat - sifat fisik tanah sesuai dengan
kriteria/persyaratan yang dibutuhkan oleh jenis penggunaan yang
direncanakan pada tanah tersebut. Misalnya, untuk perumahan dibutuhkan
tanah yang bebas banjir, tidak lembek, ada jalan dan infrastruktur
pendukung lainnya dan sebagainya.
Tersedia dari segi hukum artinya tanah yang diinginkan oleh calon
pengguna secara hukum dapat dikuasainya. Misalnya apakah tanah
tersebut boleh dibeli dari pemiliknya atau dengan cara - cara lain untuk
menguasai tanah tersebut.
5. Perpajakan Tanah
Sistem perpajakan tanah biasanya dikaitkan dengan bangunan yang berdiri di
atasnya serta jenis penggunaannya (Pajak Bumi dan Bangunan - PBB). Di
samping itu perpajakan juga dikenakan dalam hal perolehan tanah dan bangunan
yang diatur dalam Undang - Undang No. 21 Tahun 1997. Ada satu lagi jenis pajak
yang dipungut terhadap hasil penjualan tanah, yaitu sebagai Pajak Penjualan
(Ppn) yang dikenakan terhadap perusahaan pembangunan perumahan dan pajak
penjualan tanah dan bangunan oleh perorangan.
17 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

6. Sistem Informasi Pertanahan


Sistem ini diharapkan menjadi bank data untuk hal - hal mengenai tanah yang
mencakup data dan peta penatagunaan tanah (potensi dan penggunaan lahan),
pemilikan dan penguasaan tanah serta pendaftaran tanah.
7. Pengendalian Pemanfaatan Lahan sesuai Rencana Tata Ruang
Pengendalian pemanfaatan tanah mencakup kegiatan pengawasan dan
penertiban. Di dalam kegiatan penertiban digunakan pula alat perijinan yang
berkaitan dengan pemanfaatan tanah / ruang.

Masalah pengelolaan tanah yang menonjol dalam perencanaan tata ruang


antara lain adalah sebagai berikut :
1. Penyusunan rencana tidak atau kurang mempertimbangkan status
kepemilikan tanah masyarakat sehingga perencanaan tidak mudah
diaplikasikan;
2. Rencana tata ruang tidak diikuti oleh rencana pembangunan dan
pengembangan tanah yang sesuai sehingga kegiatan pengembangan
tanah sering berjalan sendiri atau berjalan lebih dahulu. Akibatnya terjadi
penyimpangan rencana atau rencana tata ruang dipaksa menyesuaikan
dengan keadaan yang terlanjur berkembang;
3. Hambatan penyediaan tanah yang sesuai dengan kebutuhan rencana
kegiatan dapat menyebabkan pemindahan lokasi yang dapat menyimpang
dari rencana tata ruang. Hambatan tersebut antara lain karena tidak
tersedia tanah yang secara fisik sesuai, harga yang terlalu tinggi, tanah
dikuasai spekulan dan sebagainya;
4. Belum terbentuknya Bank Tanah yang diharapkan dapat membantu
penyediaan tanah, mengendalikan harga tanah, dan menghindari spekulan
tanah;
5. Sistem pengendalian pemanfaatan tanah yang belum terkoordinasi antar
sektor atau instansi;
6. Informasi mengenai sumber daya tanah yang terbatas dan tersedia secara
terpencar di berbagai instansi.
Itulah masalah - masalah dalam pengelolaan tanah yang menyangkut dengan
perencanaan tata ruang.

PENGERTIAN MASYARAKAT
Pengertian masyarakat menurut para ahli seperti Selo Sumardjan, Karl Marx,
Indan Encang, Paul B Horton dan C. Hunt, JL. Gillin dan J.P Gillin, M.J.
Herskovitz, Hasan Sadily dan sebagainya pada intinya memiliki beberapa poin
penting sebagai berikut yaitu orang, kebudayaan, hidup bersama, organisasi,
keanggotaan, kumpulan manusia, melakukan kegiatan dalam kelompok, setia
dalam sistem. Masyarakat juga bisa dibilang sebagai banyaknya individu atau
perseorangan yang terikat dalam suatu ikatan yang di sebut adat atau hukum dan
hidup bersama menjalaninya. Terus apa hubungannya antara masyarakat dengan
18 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

Perencanaan Wilayah dan Kota atau Penataan Ruang yang merupakan inti dari
blog ini? Tentunya dalam perencanaan wilayah dan kota di kenal istilah partisipasi
masyarakat, peran serta masyarakat atau pemberdayaan masyarakat serta istilahistilah lainnya dalam Community Development. Nah, untuk itulah dasar - dasar
mengenai apa itu masyarakat perlu di ketahui terlebih dahulu.
Pengertian Masyarakat adalah orang orang yang saling berinteraksi dalam
suatu ikatan atau sistem di mana mereka berada. Bisa dibilang juga bahwa
pengertian masyarakat adalah suatu jaringan yang menghubungkan antar entitas
yang saling tergantung antara satu individu dengan individu lainnya yang bersifat
teratur.
Definisi masyarakat menurut para ahli yang sebelumnya di sebutkan pada
paragraf pertama tadi adalah sebagai berikut :
Selo Sumardjan
Pada intinya, masyarakat itu merupakan kumpulan orang yang hidup bersama sama yang akhirnya menciptakan kebudayaan.
Koentjaraningrat
Kehidupan manusia yang satu yang secara kontinyu berinteraksi satu sama lain
berdasarkan sistem adat. Mereka memiliki suatu identitas yang sama.
J.L Gillin dan J.P Gillin
Pengertian masyarakat adalah kelompok terbesar manusia yang mempunyai
sikap, kebiasaan, perasaan persatuan serta tradisi yang sama satu sama lainnya.
Karl Marx
Dengan adanya pertentangan antar kelompok yang berbeda secara ekonominya
menyebabkan masyarakat menjadi struktur yang menderita suatu ketegangan
organisasi atau perkembangan.
Paul B. Horton dan C. Hunt
Definisi Masyarakat adalah kumpulan manusia yang secara relatif dapat hidup
secara berkelompok dalam jangka waktu yang lama, mereka relatif mandiri, punya
wilayah tersendiri untuk ditinggali, kebudayaan mereka sama dan selalu
beraktivitas dalam kelompok.
Indan Encang
Kelompok manusia yang sudah lama hidup serta bekerja sama, yang
menyebabkan mereka dapat mengorganisir serta berpikir mengenai dirinya sendiri
sebagai 1 kesatuan sosial, tentunya ada batasan tertentu.
M.J Herskovitz
Beberapa orang/individu dalam suatu kelompok yang telah terorganisir serta
mengikuti cara hidup tertentu yang berbeda dengan masyarakat lainnya.
Hasan Sadily
Arti masyarakat menurut Hasan Sadiliy merupakan badan atau perkumpulan
orang yang menjalani hidup bersama.

19 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

Itulah pendapat beberapa ahli mengenai pengertian masyarakat, walaupun kata


- kata dari para ahli tersebut tidak benar - benar persis seperti itu diakibatkan
berbagai versi terjemahan, tetapi paling tidak maksudnya sudah seperti yang
tertulis di atas. Dari situ dapat dilihat beberapa poin penting mengenai masyarakat
yang sudah di bahas di paragraf pertama tadi.
UNSUR MASYARAKAT
Berikutnya perlu di ketahui bahwa terdapat apa yang merupakan faktor atau
unsur dari masyarakat, yang menurut Soerjono Soekanto, masyarakat
mengandung unsur-unsur seperti berikut ini :
Paling tidak ada 2 orang individu;
Mereka menyadari satu kesatuan mereka;
Jangka waktu dalam berhubungan termasuk lama. Hubungan itu
melahirkan manusia yang baru yang tetap selalu berkomunikasi dan
membuat berbagai aturan yang berhubungan dengan keterkaitan/hubungan
antar masyarakat tersebut.
Mereka menjadi sebuah sistem, yang hidup secara bersama-sama yang
pada akhirnya melahirkan apa yang di sebut kultur / kebudayaan serta
saling berhubungan antara sesama masyarakat;
Sekedar tambahan, kata masyarakat pada dasarnya berasal dari bahasa Arab,
yaitu dari kata musyarak, sedangkan untuk bahasa Inggrisnya, masyarakat =
society. Semoga dengan sedikit catatan ringkas ini dapat membuat pembaca
mengerti akan pengertian masyarakat yang merupakan hal dasar dalam
mempelajari tentang Partisipasi Masyarakat serta Pemberdayaan Masyarakat
dalam perencanaan wilayah dan kota.

PEREMAJAAN KOTA
Kali ini Dokter Kota akan memberikan sedikit penjelasan mengenai peremajaan
kota. Perkembangan dan pertumbuhan penduduk disertai berkembangnya
kegiatan usaha yang akan mempunyai akibat pada perubahan sosial, ekonomi
dan fisik yang kemudian menuntut kebutuhan ruang. Usaha untuk menanggapi
perkembangan dan pertumbuhan ini biasanyan ditempuh dengan 3 cara :
1. Intensifikasi, seperti peremajaan kota (urban redevelopment) dan
pembaharuan kota (urban renewal)
2. Ekstensifikasi, seperti perluasan wilayah kota dan reklamasi
3. Kota Baru
Pengertian dan Esensi Peremajaan Kota
Usaha meremajakan suatu bagian wilayah kota atau kawasan fungsional
kota sebagai salah satu rangkaian pembangunan kota. Wilayah atau
kawasan yang diremajakan dilihat sebagai sub sistem kota secara
keseluruhan;
20 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

Peremajaan kota terbatas lingkupnya pada usaha peningkatan kualitas dan


vitalitas lingkungan fisik sedangkan pembaharuan kota menyangkut upaya
menata kembali berbagi segi kehidupan kota;
Karena wilayah yang diremajakan dilihat sebagai sub sistem kota, maka
peremajaan kota merupakan bagian integral dari suatu rencana
pembangunan kota;
Muatan yang terkandung dari program peremajaan kota harus sesuai
dengan kebijaksanaan pembangunan kota secara keseluruhan;
Sebagai suatu cara, peremajaan kota dapat ditinjau dari 3 pengertian :
1. Sebagai suatu proses, diartikan sebagai pembangunan kembali
bagian wilayah kota dengan maksud untuk meningkatkan kualitas,
kegunaan, kemanfaatan, kapasitas dan vitalitasnya;
2. Sebagai suatu fungsi, diartikan sebagai kegiatan untuk menguasai,
menata, merehabilitas atau membangun kembali suatu bagian
wilayah kota yang mengalami degradasi untuk menampung
kegiatan-kegiatan yang konsisten dengan rencana kota yang telah
ada;
3. Sebagai suatu program, diartikan sebagai bagian dari suatu kegiatan
pelaksanaan pembangunan kota yang terkoordinir dan terorganisir;
Esensi peremajaan kota :
o Meningkatkan vitalitas;
o Peningkatan dan pembangunan sarana dan prasarana;
o Menjaga agar kekumuhan tidak meluas;
o Memberikan kepastian hukum;
o Menyatukan kedalam sistem perekonomian kota tanpa diwarnai
ketimpangan yang mencolok;

Tipologi Peremajaan Kota

Rehabilitasi; Pada umumnya merupakan perbaikan kembali fungsi


kawasan dengan pembangunan sarana dan prasarana. Contoh : perbaikan
kampung, perbaikan lingkungan, perbaikan pusat perbelanjaan.
Renovasi; Umumnya hanya terbatas pada peningkatan struktur dan
kualitas fisik dengan tampilan bangunan yang tetap. Contoh : perbaikan
bangunan-bangunan bersejarah.
Preservasi; Upaya pelestarian struktur yang telah ada dengan cara
memelihara dan mengamankan. Contoh : pelestarian bangunan atau
kawasan yang bernilai sejarah.
Konservasi; Upaya perlindungan dari kemungkinan kerusakan oleh alam
maupun manusia. Pada konservasi dimunkinkan untuk menghilangkan atau
menambah struktur demi menjaga keamanan dan kelestarian. Contoh :
pengamanan tebing dalam kota, normalisasi DAS, penghutanan kota.
Gentrifikasi; Peningkatan fungsi sebagai kompensasi atau pengganti bagi
suatu bagian wilayah kota yang telah mengalami degradasi. Contoh :
pembangunan rumah susun;

Prinisp - Prinsip Peremajaan Kota


Sebagai bagian pembanguna kota yang menyeluruh;
Peningkatan kualitas kehidupan yang lebih baik;
Terprogram secara sistematis;
21 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

Peningkatan produktivitas dalam menunjang ekonomi kota;


Peningkatan nilai visual tatanan kota;
Memacu pemerataan dalam kehidupan kota bagi semua lapisan.

Produk Perencanaan untuk Peremajaan Kota


1. Rencana Fisik; rencana tata letak peruntukan dan tata letak bangunan dan
non bangunan, serta lansekap
2. Rencana pembiayaan; Dirinci pembiayaan setiap tahap pelaksanaan
pembangunan, sumber pembiayaan, estimasi investasi, pendapatan dan
tingkat inflasi, masalah pembebasan dan penggantian lahan
3. Rencana Relokasi; Relokasi penduduk maupun kegiatan, tempat relokasi
dan pelaksanaan relokasi (permanen atau temporer)
4. Rencana Pelaksanaan; Tahapan - tahapan pelaksanaan kegiatan

Masalah-Masalah Peremajaan Kota di Indonesia


Ada 2 jenis peremajaan kota yang umum dilakukan :
1. Program perbaikan kampung
2. Peremajaan pusat kota, khususnya pusat perdagangan
Beberapa masalah yang terdeteksi :
1. Kurang menimbang dampak dan konsekuensinya terhadap lingkungan
sekitar
2. Dilaksanakan sebagai suatu usaha pemecahan masalah negara
3. Banyak masalah sosial yang timbul setelah proyek peremajaan
4. Kurang ditunjang dengan perencanaan prasarana yang menyeluruh
Dengan demikian, peremajaan kota sangat penting untuk dilakukan.

PENGERTIAN, KARAKTERISTIK DAN SEJARAH PEMBENTUKAN


KOTA
A. Pengertian Kota
Kita yang hidup pada zaman muthakhir ini dapat dengan mudah mengamati dan
menggambarkan apakah kota itu, sesuai dengan tolak ukur atau focus perhatian
kita masing-masing. Oleh karena itu tidak dirisaukan jika terdapat banyak definisi
tentang kota, yang mungkin satu dengan yang lainnya berbeda.
Adapun Definisi tersebut antara lain :
i. Kota adalah suatu ciptaan peradaban umat manusia. Kota sebagai hasil dari
peradaban lahir dari pedesaan, tetapi kota berbeda dengan pedesaan Pedesaan
sebagai daerah yang melindungi kota (P.J.M. Nas 1979 : 28). Kota seolah-olah
mempunyai karakter tersendiri, mempunyai jiwa, organisasi, budaya atau
peradaban tersendiri.
22 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

ii. Mumford : Kota sebagai tempat pertemuan yang berorientasi ke luar. Sebelum
kota menjadi tempat pemukiman yang tetap, pada mulanya kota sebagai suatu
tempat orang pulang balik untuk berjumpa secara teratur, jadi ada semacam daya
tarik pada penghuni luar kota untuk kegiatan rohaniah dan perdagangan
serta,kegiatan lain.
iii. Max Weber: Penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi
kebutuhannyalewat pasar setempat dan ciri kota ada pasarnya.
iv. Sjoberg : : Melihat kota dari timbulnya suatu golongan spesialis non agraris dan
yang berpendidikan merupakan bagian terpenting
Mayer : Kota sebagai tempat bermukim penduduknya.
v. Prof. Bintarto (1984 : 36) Kota adalah sistem jaringan kehidupan manusia yang
ditandai oleh strata sosial ekonomi yang heterogen serta corak matrialistis.
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No 4/1980 Kota
adalah wadah yang memiliki batasan administratif wilayah seperti kotamadya dan
kota administrasi.
Mayer : Kota sebagai tempat bermukim penduduknya.
B. Karakteristik Kota
i. Dari aspek morfologi, antara kota dan pedesaan terdapat perbedaan bentuk
fisik, seperti cara membangun bangunan-bangunan tempat tinggal yang berjejal
dan mencakar langit (tinggi) dan serba kokoh. Tetapi pada prakteknya kriteria itu
sukar dipakai pengukuran, karena banyak kita temukan dibagian-bagian kota
tampak seperti desa misalnya, didaerah pinggiran kota, sebaliknya juga desadesa yang mirip kota, seperti desa-desa di pegunungan dinegara-negara laut
tengah.
ii. Dari aspek penduduk. Secara praktis jumlah penduduk ini dapat dipakai
ukuran yang tepat untuk menyebut kota atau desa, meskipun juga tidak terlepas
dari kelemahan kelemahan. Kriteria jumlah penduduk ini dapat secara mutlak
atau dalam arti relatif yakni kepadatan penduduk dalam suatu wilayah. Sebagai
contoh misalnya dia AS dan Meksiko suatu tempet dikatakan kota apabila dihuni
lebih dari 2500 jiwa dan Swedia 200jiwa.
iii. Dari aspek sosial, gejala kota dapat dilihat dari hubungan-hubungan sosial
(social interrelation dan social interaction) di antara penduduk warga kota, yakni
yang bersifat kosmopolitan. Hubungan sosial yang bersifat impersonal, sepintas
lalu (super-ficial), berkotak-kotak, bersifat sering terjadi hubungan karena
kepentingan dan lain-lain, orang ini bebas untuk memilih hubungan sendiri.
iv. Dari aspek ekonomi, gejala kota dapat dilihat dari cara hidup warga kota
yakni bukan dari bidang pertanian atau agraria sebagai mata pencaharian
pokoknya, tetapi dari bidang-bidang lain dari segi produksi atau jasa. Kota
berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi, perdagangan industri, dan kegiatan
pemerintahan serta jasa-jasa pelayanan lain. Ciri yang khas suatu kota ialah
adanya pasar, pedagang dan pusat perdagangan.

23 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

v. Dari aspek hukum, pengertian kota yang dikaitkan dengan adanya hak-hak
dan kewajiban hukum bagi penghuni, atau warga kota serta sistem hukum
tersendiri yang dianut untuk menunjukkan suatu wilayahtertentu yang secara
hukum disebut kota.
Dari karakteristik diatas dapat disimpulkan bahwa kota :
1. Kota mempunyai fungsi-fungsi khusus (sehingga berbeda antara kota
dengan fungsi yang berbeda)
2. Mata pencaharian penduduknya diluar agraris.
3. Adanya spesialisasi pekerjaan warganya
4. Kepadatan penduduk
5. Ukuran jumlah penduduk (tertentu yang dijadikan batasan)
6. Warganya (relatif) mobility
7. Tempat pemukiman yang tampak permanen
8. Sifat-sifat warganya yang heterogen, kompleks, social relation, yang
impersonal dan eksternal, serta personal segmentasion karena begitu
banyaknya peranan dan jenis pekerjaan seseorang dalam kelompoknya
sehingga seringkali tidak kenal satu sama lain, seolah-olah seseorang
menjadi asing dalam lingkungannya.
C. Perbedaan Antara Kota dan Desa
Dari definisi yang telah diajukan baik definisi kota maupun desa kita dapat
membuat perbedaan diantara keduanya. Dikutip dari apa yang dikemukakan oleh
P.J.M. Nas, (1979 : 35) yang mengutip pendapat Costandse, sbb :
1)
2)
3)
4)
5)

Kota bersifat besar dan memberikan gambaran yang jelas sedangkan


pedesaan itu kecil dan bercampur-baur, tanpa gambaran yang tegas.
Kota mengenal pembagian kerja yang luas, desa (pedalaman) tidak.
Struktur sosial dikota mengenal differensiasi yang luas sedangkan
dipedesaan relatif sederhana.
Individualitas memainkan peranan penting dalam kebudayaan kota,
sedangkan di pedesaan hal ini kurang penting, di pedesaan orang menghayati
hidupnya terutama dalam kompak primer.
Kota mengarahkan gaya hidup pada kemajuan, sedangkan pedesaan lebih
berorientasi pada tradisi, dan cenderung pada konservatisme.

D. Fungsi Kota
Menurut Noel P. Gist dalam Urban Society (hasil kuliah Drs.M Thalla, 1972)
sebagai berikut :
a. Production center, yakni kota sebagai
b. pusat produksi, baik barang setengah jadi maupun barang jadi.
c. Center of trade and commerce, yakni kota sebagai pusat perdagangan dan
niaga, yang melayani daerah sekitarnya. Kota seperti ini sangat banyak, seperti
Rotterdam, Singapura, Hamburg.
d. Political capital, yakni kota sebagai pusat pemerintahan atau sebagai ibukota
negara, misalnya kota london dan Brazil.
e. Cultural center, kota sebagai pusat kebudayaan, contohnya : kota Vatikan,
Makkah, Yerusalem.
24 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

f. Health and recreation, yakni kota sebagai pusat pengobatan dan rekreasi
wisata, misalnya : Monaco, Palm Beach, Florida, Puncak Bogor, Kaliurung.
g. Divercified cities, Yakni kota-kota yang berfungsi ganda atau beraneka. Kotakota pada masa kini (setelah perang dunia ke II) banyak yang termasuk
kategori ini. Sebagai contoh : Jakarta, Tokyo, Surabaya yang mencanangkan
diri sebagai kota indarmardi (kota industri, perdagangan, maritim, dan
pendidikan),disamping sebagai pusat pemerintahan.

E. Pengaruh kota terhadap desa:


1)
kota menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan desa
2)
menyediakan tenaga kerja bidang jasa
3)
memproduksi hasil pertanian desa
4)
penyedia fasilitas-fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan, rekreasi
5)
andil dalam terkikisnya budaya desa
F. Permasalahan di kota antara lain:
1.
konflik (pertengkaran),
2.
kontroversi (pertentangan),
3.
kompetisi (persaingan),
4.
kegiatan pada masyarakat pedesaan, dan
5.
sistem nilai budaya
G. Sejarah Pembetukan Kota
Jadi dalam perkembangannya sebuah kota berdasarkan pada tahap
perkembangannya kota dimulai dari tahap :
1. Eopolis yaitu tahap perkembangan daerah kota yang sudah diatur ketahap
kehidupan kota (kota kecamatan )
2. Polis yaitu tahap perkembangan kota yang masih ada pengaruh kehidupan
agraris (kota kabupaten)
3. Metropolis, yaitu tahap perkembangan kota sudah mengarah ke sektor
industry
4. Megapolis, yaitu tahap perkembangan kota yang telah mencapai tingkat
tertinggi diantaranya dengan dengan pemekaran atau perluasan kota
5. Trianopolis, yaitu tahap perkembangan kota yang kehidupannya sudah sulit
dikendalikan baik masalah lalulintas, pelayanan maupun kriminalitas
6. Nekropolis, yaitu tahap perkembangan kota yang kehidupannya mulai sepi
bahkan mengarah pada kota mati.
H. Pola pola Kota
a) Pola sentralisasi adalah pola persebaran kegiatan kota yang cenderung
berkumpul atau berkelompok pada satu daerah atau wilayah utama.Area
utama tersebut merupakan daerah yang ramai dikunjungi serta dilewati oleh
banyak orang pada pagi, siang, dan sore hari namum sunyi di malam hari.
b) Pola desentralisasi adalah pola persebaran kegiatan kota yang cenderung
menjauhi titik pusat kota atau inti kota sehingga dapat membentuk suatu inti /
nukleus kota yang baru.
25 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a

c) Pola nukleasi adalah pola persebaran kegiatan kota yang mirip dengan pola
penyebaran sentralisasi namun dengan skala ukuran yang lebih kecil di mana
inti kegiatan perkotaan berada di daerah utama.
d) Pola segresi adalah pola persebaran yang saling terpisah-pisah satu sama
lain menurut pembagian sosial, budaya, ekonomi, dan lain sebagainya. Dan
jika kita umpamakan dengan papan permainan dart atau papan target anak
panah, maka pusat kota berada pada pusat papan dart atau papan target
anak panah dan begitu seterusnya garis-garis lingkaran yang mengelilinginya
berurutan adalah wilayah sub urban atau sub urban, kemudian diikuti dengan
daerah urban dan yang terakhir adalah daerah rural yang masih-masing
memiliki sifat dan ciri-ciri tersendiri.

I. Urutan-urutannya adalah sebagai berikut :


1. City adalah pusat kota yang menjadi pusat sub urban, urban, dan rural area.
2. Sub urban adalah daerah tempat atau area di mana para penglaju / commuter
tinggal yang letaknya tidak jauh dari pusat kota. penglaju atau kommuter
adalah orang-orang yang tinggal di pinggiran kota yang pulang pergi ke kota
untuk bekerja setiap hari.
3. Sub urban fring adalah area wilayah yang mengelilingi daerah sub urban yang
menjadi daerah peralihan kota ke desa.
4. Urban fring adalah daerah perbatasan antara kota dan desa yang memiliki
sifat yang mirip dengan daerah wilayah perkotaan. Urban adalah daerah yang
penduduknya bergaya hidup modern.
5. Rural urban fringe adalah merupakan daerah jalur yang berada di antara desa
dan kota.
6. Rural adalah daerah pedesaan atau desa yang penduduknya hidup.

26 |

P e m a h a m a n Te n t a n g K o t a