Anda di halaman 1dari 14

MENERIMA DAN MELANJUTKAN PENUGASAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kegiatan yang dilakukan dalam suatu audit sangat tergantung kepada perusahaan yang
diaudit. Apabila klien merupakan perusahaan kecil, maka audit cukup dilakukan oleh satu atau
dua orang auditor dengan waktu pengerjaan audit yang relatif tidak begitu lama, dan dengan
honorarium audit yang tidak begitu besar. Namun apabila perusahaan yang diaudit adalah
perusahaan besar,apalagi kalau perusahaan raksasa dengan ratusan anak perusahaan, maka
dibutuhkan auditor dalam jumlah yang banyak, waktu pengerjaan audit berbulan-bulan, dan
honorarium audit yang sangat tinggi.
Dalam setiap audit baik audit pada perusahaan besar maupun pada perusahaan kecil,
selalu terdapat empat tahapan kegiatan, yaitu :
1. Penerimaan perikatan audit.
2. Perencanaan audit.
3. Pelaksanaan pengujian audit.
4. Pelaporan temuan.
Dalam lingkungan audit terdapat beberapa faktor, antara lain: dampak dari berbagai
peraturan, harapan atau ekspektasi masyarakat, kemungkinan dituntut di pengadilan, dan
keharusan untuk melakukan audit sesuai dengan standar profesional.
1.2 Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Apa saja kewajiban auditor dalam rangka menerima dan melanjutkan penugasan?
Apa saja langkah-langkah dalam penerimaan suatu tugas?
Apakah syarat-syarat yang harus dipenuhi entitas sebelum penugasan diterima?
Apakah ada pembatasan dalam lingkup penugasan?
Apakah pihak KAP dan entitas menyepakati syarat-syarat penugasan ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. TINJAUAN UMUM
Bab ini membahas kewajiban auditor dalam rangka menerima penugasan dari klien baru
(engagement acceptance) atau melanjutkan penugasan dari klien lama (engagement
continuance). Istilah engagement sering diterjemahkan sebagai perikatan, dan audit engagement
sebagai perikatan audit. Sehubungan dengan keputusan ini, kewajiban auditor adalah :
Mengidentifikasi dan menilai faktor risiko yang relevan dalam menentukan apakah
auditor menerima (accept) atau menolak (decline) penugasan audit tersebut. Jika ia
menjadi auditor pada tahun atau periode sebelumnya, berdasarkan penilaian risikonya, ia
harus menentukan untuk melanjutkan (continue) atau menolak (decline) penugasan audit
tersebut.
Menyepakati dan mendokumentasikan syarat-syarat perikatan (terms of the engagement).
Salah satu keputusan terpenting yang dapat dibuat KAP ialah memutuskan untuk
menerima/melanjutkan penugasan atau klien dan memutuskan penugasan atau klien yang harus
ditolah. Keputusan yang buruk mengenai hal ini, akan menyebabkan masalah seperti waktu yang
tidak bias dibebankan kepada klien, imbalan yang tidak dibayar oleh klien, beban psikologis
tambahan bagi partner dan staf, rusak atau hilangnya reputasi, dan, yang terburuk, kemungkinan
KAP/partner/staf mengalami tuntutan hukum.
ISQC dan ISA 220 mewajibkan KAP mengembangkan, mengimplementasikan, dan
mendokumentasikan prosedur pengendalian mutunya dalam kebijakan menerima dan
mempertahankan klien. Idealnya, kebijakan dan prosedur membahas hal-hal seperti: tingkat
risiko, toleransi terhadap risiko, dan ciri-ciri klien (seperti rendahnya integritas manajemen,
industry berisiko tinggi, atau perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa) yang tidak
dapat diterima oleh KAP.
Sebelum KAP memutuskan untuk menerima atau mempertahankan suatu penugasan,
auditor harus:

1. Memutuskan dapat diterimanya kerangka pelaporan keuangan (financial reporting


framework, disingkat FRF) yang diusulkan atau digunakan entitas.
2. Menilai apakah KAP dapat menaati ketentuan etika yang relevan.
3. Dapatkan persetujuan manajemen bahwa ia memahami sepenuhnya akan tanggung
jawabnya berkenaan dengan:
a. Penyusunan laporan keuangan entitas sesuai dengan FRF yang ditetapkan.
b. Pengendalian internal sebagaimana dianggap perlu oleh manajemen untuk menyusun
laporan keuangan yang bebas dari salah saji yang material, apakah yang disebabkan
oleh kecurangan atau kesalahan.
c. Memberikan kepada auditor akses kepada semua informasi yang relevan dan
informasi tambahan yang dapat diminta auditor, serta akses tanpa batas kepada orangorang di dalam entitas yang menurut pendapat auditor diperlukan untuk mendapatkan
bukti audit.
d. Prosedur menerima dan melanjutkan penugasan. Ini adalah serangkaian prosedur
yang serupa dengan prosedur penilaian risiko. Jika penugasan ini diterima, hasil atau
temuan prosedur ini (prosedur menerima dan melanjutkan penugasan) dapat
digunakan sebagai bagian dari prosedur penilaian risiko.
Penilaian atas risiko penugasan di tahun pertama dan tahun-tahun selanjutnya, membantu
memastikan bahwa KAP:

Independen dan tidak mempunyai benturan kepentingan


Kompeten untuk melaksanakan tugasnya dengan sumber daya yang diperlukan dan dalam

batas waktu yang tersedia


Bersedia menerima dan menanggung risiko audit. Ini meliputi penilaian atas integritas
manajemen dan sikap manajemen terhadap pengendalian intern, tren industry, cukup
tersedianya bukti audit yang tepat, dan factor lain seperti kemampuan (dan kemauan)

klien membayar fees


Tidak tahu atau tidak mempunyai informasi baru mengenai klien (existing client) yang
dapat menyebabkan KAP menolak penugasan.
Sesudah diputuskan untuk menerima atau melanjutkan penugasan, makalangkah

selanjutnya ialah:

Memastikan apakah persyaratan awal atau prakondisi bagi suatu audit, memang ada.
Menegaskan pemahaman bersama antara suditor dan manajemen (dimana perlu TCWG)
mengenai syarat-syarat perikatan audit ( terms of the audit engangement)

B. MENERIMA PENUGASAN
Langkah pertama dalam proses menerima/melanjutkan klien adalah menilai kemampuan
KAP melaksanakan penugasan dan risiko terkait. Contoh pertanyaan yang dipertimbangkan:
Penugasan audit

- Apa sifat dan lingkup audit?


- Kerangka akuntansi dan pelaporan apa yang akan
digunakan?
- Bagaimana/untuk apa laporan auditor dan laporan
keuangan digunakan?

Apakah

KAP

kompetensi,

sumber

- Apa tenggat waktu untuk penyelesaian audit?


mempunyai - Apakah KAP mempunyai cukup orang dengan
daya,

waktu yang diperlukan ?

dan kompetensi dan kemampuan memadai?


- Apakah orang yang dipilih mempunyai :
a. Pengetahuan yang relevan mengenai industri
atau masalah audit
b. Pengalaman yang relevan mengenai persyaratan
pelaporan dan ketentuan perundang-undangan?
c. Kemampuan menyerap keterampilan dan
pengetahuan secara efektif?

Apakah KAP independen ?

-Apakah tenaga ahli, jika dibutuhkan, tersedia?


- Apakah ada orang yang mampu melaksanakan reviu
kendali mutu?
- Apakah KAP, mengingat waktu yang tersedia untuk
klien lain, dapat menyelesaikan penugasan dalam
tenggat waktu ?
-Apakah KAP dan anggota tim dapat memenuhi

Apakah

risiko

penugasan

diterima (acceptable) ?

kewajiban etika dan independensi?


dapat - Untuk penugasan baru, apakah KAP berkomunikasi
dengan auditor terdahulu untuk mengetahui apakah ada
alas an untuk tidak menerima penugasan?
- Seberapa kompeten senior management dan staf di
entitas?

- Apa tone at the top dan sasaran entitas


- Apakah ada pemeriksaan/investigasi yang menarik
perhatian masa dan media?
- Apakah entitas dalam tingkat kesehatan keuangan
yang baik? Apakah entitas bias membayar professional
Apakah klien dapat dipercaya ?

fees kepada KAP?


- Apakah ada pembatasan lingkup, seerti tenggat waktu
yang tidak realistis atau tidak bias memperoleh bukti
audit yang diperlukan?
- Apakah ada indikasi entitas terlibat pencucian uang
atau kegiatan pidana lainnya ?
- Bagaimana reputasi identitas dan bisnis berkenaan
dengan related parties?

PENGECEKAN LATAR BELAKANG


Untuk memastikan bahwa informasi yang diperoleh dari entitas memang akurat, lihat
ketersediaan informasi dari pihak ketiga untuk memvalidasi aspek penting dalam penilaian
risiko. Langkah sederhana ini dapat menghindari masalah di kemudian hari. Sebelum
menghubungi pihak ketiga untuk mengumopulkan informasi mengenai calon klien, pastikan
bahwa semua partner menyadari dan memahami :

Kebijakan KAP untuk menjaga kerahasiaan informasi klien dan calon klien

Ketentuan perundangan mengenai hak dan kerahasiaan pribadi

Kode etik yang berlaku

PRAKONDISI UNTUK SUATU AUDIT


Terjemahan ISA 210 alinea 6:
Untuk memastikan apakah prakondisi bagi suatu audit memang ada, auditor wajib:

a)

Menentukan apakah kerangka pelaporan keuangan (financial reporting framework,

disingkat FRF) yang digunakan untuk membuat laporan keuangan dapat diterima (acceptable);
b)

Dapatkan persetujuan manajemen bahwa ia sadar dan memahami sepenuhnya akan

tanggung jawabnya berkenaan dengan:


-

Penyusunan laporan keuangan entitas sesuai dengan FRF yang diterapkan, termasuk

ketentuan mengenai penyajian yang wajar;


-

Pengendalian internal sebagaimana dianggap perlu oleh manajemen untuk menyusun

laporan keuangan yang bebas dari salah saji yag material, apakah yang disebabkan oleh
kesalahan atau kecurangan; dan
-

Memeberikan kepada auditor:

a.

Akses kepada semua informasi yang diketahui manajemen adalah relevan untuk membuat

laporan keuangan, seperti catatan pembukuan, dokumentasi, dan lain-lain


b.
c.

Informasi tambahan yang dapat diminta auditor dari manajemen untuk keperluan audit
Akses tanpa batas (unrestridted access) kepada orang-orang di dalam entitas yang menurut

auditor diperlukan untuk mendapatkan bukti audit.


MENYEPAKATI SYARAT-SYARAT PERIKATAN
Berikut ini terjemahan dari beberapa alinea dalam ISA 210 yang relevan dengan syarat perikatan
audit (terms of audit engagement).
ISA
Penjelasan
210.7
Jika manajemen atau TCWG memebatasi lingkup kerja auditor dalam usulan surat perikatan
yang menurut auditor akan mengakibatkan penolakan opini (disclamier of opinions) atas laporan
keuangan, auditor tidak diperkenankan menerima penugasan dengan pembatasan, kecuali
diharuskan oleh ketentuan perundang-undangan.
210.9

Auditor wajib menyepakati syarat-syarat dalam penugasan audit dengan manajemen atau jika
perlu dengan TCWG.
210.10
Dengan memperhatika alinea 11, syarat perikatan audit yang disetujui harus dicantumkan dalam
surat perikatan audit atau bentuk perjanjian tertulis yang tepat dan harus memuat:
a)

Tujuan dan lingkup audit atas laporan keuangan

b) Tanggung jawab auditor


c)

Tanggung jawab manajemen

d)

Penegasan mengenai kerangka pelaporan keuangan yang diterapkan untuk mmebuat laporan

keuangan
e)

Referenssi atau acuan kepada bentuk dan isi laporan yang akan diterbitkan auditor dan

pernyataan baha ada keadaan atau situasi yang menyebabkan laporan sebenarnya berbeda dari
bentuk dan isi laporan yang diharapkan
210.11
Jika undang-undang atau ketentuan perundang-undangan menetapkan dengan cukuo rinci syarat
perikatan audit pada alinea 10, auditor tidak perlu (mengulangi) mencantumkannya dalam
perjanjian tertulis kecuali (menyebutkan) bahwa undang-undang atau ketentuan perundangundangan itu berlaku dan manajemen mengakui dan memahami tanggung jawabnya seperti
diatur dalam alinea 6(b).
210.12
Jika undang-undang atau ketentuan perundang-undangan tanggung jawab manajemen serupa
dengan yang dijelaskan dalam alinea 6(b),auditor dapat berkesimpulan bahwa ketentuan
perundang-undangan tersebut setara dengan yang dinyatakan dalam alinea 6(b) tersebut.
210.13

Dalam audit yang berulang, auditor wajib menilai apakah situasi mengharuskan syarat perikatan
audit di revisi dan apakah perlu mengingatkan kembali entitas itu akan syarat perikatan audit
yang ada.
210.14
Auditor tidak boleh menerima perubahan dalam syarat perikatan audit yang tidak beralasan.
210.15
Jika sebelum menyelesaikan perikatan audit, auditor diminta mengubah perikatan audit ke
perikatan yang mengisyaratkan asurans pada tingkat yang lebih rendah, auditor berkewajiban
memastikan apakah permintaan itu mempunyai alasan yang layak untuk dipenuhi.
210.16
Jika syarat perikata audit diubah, auditor dan manajemen wajib menyepakati dan mencatat syarat
perikatan audit yang baru dalam surat perikatan audit atau bentuk perjanjian tertulia yang teoat
(untuk maksud itu).
210.17
Jika auditor tidak dapat menyepakati perubahan syarat perikatan audit dan tidak diperkenankan
oleh manajemen untuk melanjutkan syarat perikatan audit semula, auditor wajib:
a)

Mengundurkan diri dari perikatan audit jika pengunduran diri dimungkinkan oleh ketentuan

perundang-undangan yang berlaku; dan


b)

Menentukan apakah ada kewajiban, menurut perjanjian atau ketentuan lain, untuk

melaporkan hal tersebut kepada pihak lain, seperti TCWG, pemilik atau regulator.
MEMUTAKHIRKAN SURAT PENUGASAN
KAP mungkin menerima penugasan untuk beberapa periode audit, tentunya dengan
memperhatikan ketentuan tentang rotasi KAP. Jika tidak ada perubahan, auditor wajib menilai
apakah ada kebutuhan untuk mengingatkan kembali syarat-syarat perikatan audit yang
disepakati. Syarat-syarat- ini dapat ditegaskan kembali, tanpa perlu meminta surat perikatan
audit baru untuk setiap periode audit.Namun surat perikatan audit perlu direvisi jika terjadi
perubahan keadaan seperti:

Setiap perubahan syarat penugasan atau diberlakukan syarat penugasan yang khusus untuk

periode tersebut

Perubahan dalam manajemen senior baru-baru ini

Perubahan signifikan dalam kepemilikan entitas

Perubahan signifikan dalam sifat atau ukuran bisnis dari entitas yang bersangkutan, dll

PERUBAHAN SYARAT PENUGASAN


Jika permintaan untuk mengubah syarat penugasan memang layak, surat penugasan baru (revised
engagement letter) dapat dibuat atau perjanjian tertulis lainnya diperoleh KAP. Sebaliknya, jika
auditor tidak dapat menyetujui perubahan surat penugasan dan tidak diizinkan oleh manajemen
untuk melanjutkan audit dengan syarat semula, auditor wajib:

Mengundurkan diri (withdraw from the audit engagement) dari perikatan audit jika

pengunduran diri dimungkinkan oleh ketentuan perundang-undangan yang berlaku

Menentukan apakah ada kewajiban berdasarkan kontrak atau kewajiban, untuk

pengunduran diri dari KAP kepada pihak lain seperti TCWG, pemilik atau regulator.

STANDAR AUDIT (SA) 230


DOKUMENTASI AUDIT

Ruang Lingkup
SA 230 berkaitan dengan kewajiban auditor dalam menyusun dokumentasi audit untuk
keperluan audit atas laporan keuangan.
Sifat dan Tujuan Dokumentasi Audit
Dokumentasi audit yang memenuhi ketentuan SA ini dan ketentuan spesifik lain
sebagaimana tercantum dalam SA lain yang relevan memberikan :
- Bukti sebagai dasar bagi auditor untuk menarik suatu kesimpulan tentang pencapaian
-

tujuan keseluruhan auditor, dan


Bukti bahwa audit telah direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan SA dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sifat dan Tujuan Dokumentasi Audit (lanjutan)

Dokumentasi audit juga berfungsi untuk memenuhi tujuan tambahan berikut ini :
- Membantu tim perikatan untuk merencanakan dan melaksanakan audit.
- Membantu anggota tim perikatan yang bertanggung jawab dalam supervise untuk
mengarahkan dan mensupervisi proses audit, serta menunaikan tanggung jawab
-

penelaahan sebagaimana diatur dalam SA 220.


Memungkinkan tim perikatan untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan mereka.
Menyimpan catatan atas hal-hal signifikan yang berkelanjutan untuk audit di masa

akan dating.
Memungkinkan dilaksanakannya penelaahan dn inspeksi atas pengendalian mutu

sesuai dengan SPM 1 atau ketentuan setara lainnya.


Memungkinkan dilaksanakannya inspeksi eksternal sesuai dengan peraturan
perundang-undangan atau ketentuan lain yang berlaku.

Tujuan dan Ketentuan


Tujuan
Tujuan auditor adalah untuk menyusun dokumentasi yang memberikan :
a. Catatan yang cukup dan tepat sebagai dasar untuk laporan auditor, dan
b. Bukti bahwa audit telah direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan SA dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan

Penyiapan dokumentasi audit tepat waktu


Ketentuan
Pendokumentasian Prosedur-Prosedur Audit yang Dilaksanakan dan Bukti Audit yang
Diperoleh
Bentuk, Isi dan Luas Dokumentasi Audit
Auditor harus menyusun dokumentasi audit yang memadai sehingga memungkinkan
seorang auditor yang berpengalaman, yang tidak memiliki keterkaitan sebelumnya
dengan audit tersebut, memahami :
- Sifat, waktu, dan luas prosedur audit yang telah dilaksanakan dan kepatuhan terhadap
-

SA serta peraturan perundang-undangan yang berlaku


Hasil prosedur audit yang dilaksanakan, dan bukti audit yang diperoleh, dan
Hal-hal signifikan yang timbul selama proses audit, kesimpulan-kesimpulan yang
ditarik, dan pertimbangan professional signifikan yang dibuat untukmencapai
kesimpulan-kesimpulan tersebut.
Auditor harus mendokumentasikan pembahasan atas hal-hal signifikan dengan

manajemen, pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola dan pihak lain, termasuk sifat
hal-hal signifikan tersebut, serta kapan dan dengan siapa pembahasan tersebut dilakukan.
Hal-hal yang Terjadi setelah Tanggal Laporan Auditor
Jika dalam kondisi eksepsional, auditor melakukan prosedur audit baru atau tambahan,
atau menarik kesimpulan baru setelah tanggal laporan auditor, maka auditor harus
mendokumentasikan hal-hal berikut ini:
-

Kondisi yang dihadapi tersebut


Prosedur audit baru atau tambahan yang dilakukan, bukti audit yang diperoleh, dan

kesimpulan yang ditarik, serta pengaruhnya terhadap laporan auditor, dan


- Kapan dan oleh siapa perubahan atas dokumentasi audit dilakukan dan ditelaah
Penyusunan Folder Audit Final
Auditor harus menyusun dokumentasi audit dalam sebuah folder audit dan
melengkapi proses administratif yang diperlukan secara tepat waktu setelah tanggal
laporan audit.
Setelah penyusunan folder audit final selesai dilakukan, auditor tidak boleh
menghapus dan membuang dokumentasi audit apapun sebelum masa penyimpanan yang
diisyaratkan berakhir.

Ikhtisar perbedaan signifikan atas laporan auditor bentuk baku antara SA baru dengan SA yang
ada.
No
1

Deskripsi
Dokumentasi Audit

SA Baru
Diatur sebagai topik tersendiri

SA yang ada
Tidak diatur sebagai
topik tersendiri, tetapi
tersebar

pada

berbagai SA sesuai
dengan

prosedur

audit masing-masing
2

Folder Audit Final

SA
Disebutkan secara khusus dan Tidak

disebutkan

detail. Harus diselesaikan tidak secara khusus


lebih dari 60 hari setelah tanggal
3

Batas waktu penyimpanan

laporan auditor.
Pada umumnya

tidak

boleh Tidak

disebutkan

kurang dari 5 tahun sejak tanggal secara khusus batas


yang lebih akhir.

waktu
SA

penumpang.
339.

harus

Auditor

menerapkan

prosedur

memadai

untuk

mengejar

keamanan

kertas

kerja

harus

dan

menyimpannya
dalam periode yang
dapat

memenuhi

kebutuhan
praktiknya,

dan

ketentuan-ketentuan
hukum yang berlaku
mengenai
penyimpanan

dokumen.