Anda di halaman 1dari 8

Topik :

Skizofrenia Hebefrenik

Tanggal (kasus) :
16 Juni 2016
Presenter :
dr. Isni Irya Maja
Tanggal Presentasi : 16 Juni 2016
Pendamping : dr. Huratio Nelson, SpPA
Tempat Presentasi :
Ruang Komite Medik RSUD Sekayu
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Pasien berjenis kelamin perempuan berusia 19 tahun datang ke poliklinik jiwa
bersama dengan ibunya. Hasil heteroanamnesis dengan ibu pasien, pasien sering
berbicara sendiri dan tertawa sendiri sejak 6 bulan SMRS. Pasien terkadang
Deskripsi :

bermain-main hujan seperti anak kecil. Pasien juga mengeluhkan dapat melihat
jin yang sering menakut-nakutinya. Pasien juga dapat mendengar suara nenek
pasien yang telah meninggal 1 tahun yang lalu. Pasien merasa keturunan nabi
dan merasa dapat menyembuhkan orang dengan bacaan-bacaan yang dibuatnya

Tujuan :
Bahan
Bahasan :
Cara
Membahas :
Data Pasien :

sendiri.
Menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan skizofrenia hebefrenik
Tinjauan Pustaka
Diskusi

Riset

Kasus

Presentasi dan

Diskusi
Nama : Nn.P, 19 tahun

Alamat : Dusun 2 Karang anyar


Nama RS: RSUD Sekayu
Telp :
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis/Gambaran Klinis:

E-mail

Audit
Pos

No. Registrasi : 1787**


Terdaftar sejak :

Skizofrenia Hebefrenik
2. Riwayat Pengobatan: Riwayat pengobatan sebelumnya ke dokter spesialis jiwa tidak ada.
Pasien hanya pernah dibawa berobat oleh orang tuanya ke orang pintar
3. Riwayat kesehatan/Penyakit:
Psikiatri dan Terapi

: Pasien pernah dibawa berobat ke orang pintar

Medik dan Terapi

: Riwayat keluhan serupa sebelumnya (-)

Penyalahgunaan Zat
: Tidak menggunakan NAPZA dan alkohol (-)
4. Riwayat Keluarga : Riwayat keluhan serupa pada keluarga pasien (-)
5.
Riwayat Pekerjaan :
Pasien berhenti sekolah 2 tahun yang lalu karena merasa dijauhi oleh teman-temannya

6.

Kondisi lingkungan sosial dan fisik (RUMAH, LINGKUNGAN, PEKERJAAN)


Prenatal dan Perinatal

: Pasien lahir normal,imunisasi lengkap,ASI eksklusif (+)

Masa Kanak 0-3 Tahun

: Pasien bertumbuh dan berkembang sesuai anak seusianya.

Masa Kanak 3-11 Tahun

: Pasien mendapatkan pendidikan di sekolah dan tidak

memiliki masalah sosial.


Masa Pubertas-Remaja

: Pasien memiliki masalah sosial dengan teman sebayanya

di sekolah. Pasien merasa teman-temannya merasa iri kepadanya dan menjauhinya.


7. Lain-lain
Daftar Pustaka :
1. Maramis, W.F. 2005. Catatan ilmu kedokteran Jiwa. Airlangga University Press: Surabaya.
2. Maslim,Rusdi. Buku saku Diagnosis gangguan jiwa rujukan ringkas dari PPDGJIII.Jakarta: Bagian ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, 2001
3. Maslim, Rusdi. Panduan praktis penggunaan klinis obat psikotropik
(Psychotropicmedication) Edisi 3. Jakarta: Bagian ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma
Jaya, 2007

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


Subjektif : Pemeriksaan status mental
1. Kesan Umum

: Sakit sedang

2. Penampilan

Pasien berjenis kelamin perempuan berusia 19 tahun dengan penampilan sesuai


dengan usia. Tinggi badan sekitar 160 cm, berkulit sawo matang, rambut bewarna hitam lurus
potongan pendek dan rapi. Perawatan dan kerapihan diri cukup, pasien memakai kaos
berkerah berwarna hitam dengan celana panjang berbahan denim dan beralas kaki sepatu
sandal berwarna hitam
3. Perilaku

Pasien kooperatif dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa,


jawaban sesuai dengan pertanyaan yang diajukan pemeriksa. Pasien menjawab semua
pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa.
4. Kesadaran

: Compos mentis terganggu

5. Kontak

: Adekuat

6. Sensorium
- Perhatian

: Cukup baik

- Orientasi
- ORANG

: Baik

- TEMPAT

: Baik

- WAKTU

: Baik

- Konsentrasi

: Baik

- Memori
- JANGKA PENDEK

: Baik

- JANGKA MENENGAH

: Baik

- JANGKA PANJANG

: Baik,

- Pengetahuan

: Sesuai taraf pendidikan

- Berpikir Abstrak

: Baik, pasien dapat menyebutkan persamaan dan


perbedaan antara garam dan gula

7. Persepsi

: Halusinasi auditorik(+),Halusinasi visual (+),Ilusion(-)


Depersonalization (+), Derealization (-)

8. Pikiran
- Proses / Bentuk

: Asosiasi longgar(-), Flight of idea (-), Tangentiality (-)


Circumstantiality (-)

- Isi

: Waham Kebesaran (+)

9. Emosi
- Mood

: Eutimik

- Afek

: Sesuai

10. Insight / Wawasan

: Pasien tidak merasa memiliki masalah kejiwaan

11. Pertimbangan

: Pasien dapat mengambil keputusan yang tepat

Pemeriksaan Fisik
PF : TTV

: TD : 120/80 mmhg, Nadi : 80x/menit, RR : 20x/ menit, T: 36,6C

Kepala

: Konjungtiva tidak anemis , sklera tidak ikterik

Thorax

: Bentuk & Gerak simetris


Jantung : Bunyi Jantung I-II normal reguler
Paru

Abdomen

: Vesikuler + Rh -/- Wh-/-

: Datar, lemas, BU (+) normal

Ekstremitas : Akral hangat, crt<2 detik


Skizofrenia adalah gangguan mental atau kelompok gangguan yang ditandai oleh
kekacauan dalam bentuk dan isi pikiran (contohnya delusi atau halusinasi), dalam mood
(contohnya afek yang tidak sesuai), dalam perasaan dirinya dan hubungannya dengan dunia
luar serta dalam hal tingkah laku.
Menurut DSM-IV, adapun klasifikasi untuk skizofenia ada 5 yakni subtipe paranoid,
terdisorganisasi (hebefrenik), katatonik, tidak tergolongkan dan residual. Untuk istilah
skizofrenia simpleks dalam DSM-IV adalah gangguan deterioratif sederhana. Sedangkan
menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) di Indonesia yang
ke-III skizofrenia dibagi ke dalam 6 subtipe yaitu katatonik, paranoid, hebefrenik, tak terinci

(undifferentiated), simpleks, residual dan depresi pasca skizofrenia.


Diagnosis
Aksis I :
Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, pasien tidak pernah menderita
penyakit yang secara fisiologis mengganggu fungsi otak dan juga ditemukan adanya riwayat
penggunaan zat psikoaktif. Tidak pernah trauma kepala, demam tinggi atau kejang
sebelumnya. Hal ini dapat menjadi dasar untuk menyingkirkan diagnosis gangguan mental
organik dan penggunaan zat psikoaktif.
Dari anamnesa dan pemeriksaan didapatkan pasien bahwa pasien mengalami
gangguan isi pikir berupa waham kebesaran. Pasien juga mengalami gangguan persepsi
berupa halusinasi auditorik dan visual. Kedua gangguan tersebut sudah berlangsung lebih dari
1 bulan. Pasien mengalami regresi sehingga bertingkah seperti anak kecil. Pasien memiliki
tilikan yang buruk terhadap penyakitnya. Berdasarkan kriteria diagnostik menurut PPDGJ III
pada ikhtisar penemuan bermakna pasien dapat digolongkan dalam F20.1 Skizofrenia
Hebefrenik.
Aksis II :
Belum dapat ditentukan.
Aksis III :
Tidak ditemukan kelainan.
Aksis IV :
Factor kehilangan keluarga yaitu nenek pasien meninggal 1 tahun yang lalu (pencetus)
Aksis V :
Penilaian kemampuan penyesuaian menggunakan skala Global Assessment Of Functioning
(GAF) menurut PPDGJ III, didapatkan GAF pasien saat ini : 60-51 yaitu gejala sedang
(modarate ), disabilitas sedang dalam fungsi sosial dan pekerjaan
Tatalaksana
Medikamentosa :
- Haloperidol 2 x 10 mg

- Triheksifenidil 2 x 2 mg
Non Medikamentosa ( Sosioterapi ) :
- Memberikan penjelasan pada pasien dan keluarga yang bersifat komunikatif, edukatif dan
informatif tentang keadaan pasien sehingga pasien dapat menjaga kepatuhan minum obat,
mengerti tentang gangguan yang dideritanya sehingga dapat menjaga kepatuhan minum obat,
mengerti tentang gangguan yang dideritanya, dan juga menyadari bahwa ada kemungkinan
bahwa keluhan-keluhan yang dideritanya didasari oleh faktor psikologis dan dapat mencari
bantuan psikiatri pada saat pasien membutuhkannya.
- Mengembalikan pasien pada fungsi optimal terutama dalam kehidupan sosioekonomi,
minimal pasien dapat mengendalikan emosi dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.

F20 SKIZOFRENIA
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau
lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a. - Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya
(tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya
berbeda, atau
- Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya
(Withdrawal) dan
- Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau
umumnya mengetahuinya.
b. -

Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu
dari luar atau

- Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan


tertentu dari luar atau
- Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu
kekuatan dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke pergerakan tubuh/anggota
gerak atau kepikiran, tindakan atau penginderaan khusus).
- Delusion perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat
khas bagi dirinya , biasanya bersifat mistik dan mukjizat.
c. Halusional Auditorik ;
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku pasien .
- Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang
berbicara atau
- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
wajar dan sesuatu yang mustahil,misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu
atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan
cuaca atau berkomunikasi dengan mahluk asing atau dunia lain)
Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
1. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik oleh waham
yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang

jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau
apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus
menerus.
2.

Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation) yang
berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.

3. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu
(posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.
4. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang
menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan
sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak
disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika.
5. Adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu
bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal);
6. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu,
sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan penarikan diri secara sosial.