Anda di halaman 1dari 7

CONTOH KASUS NORMA UMUM DALAM BISNIS

CONTOH KASUS NORMA UMUM DALAM BISNIS

Norma-norma Umum lebih bersifat umum dan sampai pada tingkat tertentu boleh dikatakan bersifat
universal.
Norma Sopan santun
Norma Sopan santun / Norma Etiket adalah norma yang mengatur pola perilaku dan sikap lahiriah
dalam pergaulan sehari-hari. Etika tidak sama dengan Etiket. Etiket hanya menyangkut perilaku
lahiriah yang menyangkut sopan santun atau tata karma.
Norma Hukum
Norma Hukum adalah norma yang dituntut keberlakuannya secara tegas oleh masyarakat karena
dianggap perlu dan niscaya demi keselamatan dan kesejahteraan manusia dalam kehidupan
bermasyarakat. Norma hukum ini mencerminkan harapan, keinginan dan keyakinan seluruh anggota
masyarakat tersebut tentang bagaimana hidup bermasyarakat yang baik dan bagaimana masyarakat
tersebut harus diatur secara baik.
Norma Moral
Norma Moral, yaitu aturan mengenai sikap dan perilaku manusia sebagai manusia. Norma moral ini
menyangkut aturan tentang baik buruknya, adil tidaknya tindakan dan perilaku manusia sejauh ia
dilihat sebagai manusia.
Norma bersifat mengikat setiap masyarakat
Keberadaan norma sangat diperlukan untuk memberi petunjuk kepada manusia tentang bagaimana
manusia
harus
bersikap
bertingkah
laku
dalam
masyarakat
agar
tercipta
kehidupan
bersama
yang
tertib,
tenteram,
aman,
dan
harmonis.
Norma berisi larangan dan perintah. Perintah adalah keharusan yang harus dilakukan seseorang untuk
berbuat sesuatu dengan kebaikan. Larangan adalah keharusan bagi seseorang untuk tidak berbuat
sesuatu karena menimbulkan kerugian.
Contoh kasus Norma Umum dalam bisnis
Kasus monopoli yang dilakukan oleh PT. PLN
a.Fungsi PT. PLN sebagai pembangkit, distribusi, dan transmisi listrik mulai dipecah. Swasta
diizinkan berpartisipasi dalam upaya pembangkitan tenaga listrik. Sementara untuk distribusi dan
transmisi tetap ditangani PT. PLN. Saat ini telah ada 27 Independent Power Producer di Indonesia.
Mereka termasuk Siemens, General Electric, Enron, Mitsubishi, Californian Energy, Edison Mission
Energy, Mitsui & Co, Black & Veath Internasional, Duke Energy, Hoppwell Holding, dan masih
banyak lagi. Tetapi dalam menentukan harga listrik yang harus dibayar masyarakat tetap ditentukan
oleh PT. PLN sendiri.
b.Krisis listrik memuncak saat PT. Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN) memberlakukan pemadaman
listrik secara bergiliran di berbagai wilayah termasuk Jakarta dan sekitarnya, selama periode 11-25
Juli 2008. Hal ini diperparah oleh pengalihan jam operasional kerja industri ke hari Sabtu dan
Minggu, sekali sebulan. Semua industri di Jawa-Bali wajib menaati, dan sanksi bakal dikenakan bagi
industri yang membandel. Dengan alasan klasik, PLN berdalih pemadaman dilakukan akibat defisit
daya listrik yang semakin parah karena adanya gangguan pasokan batubara pembangkit utama di
sistem kelistrikan Jawa-Bali, yaitu di pembangkit Tanjung Jati, Paiton Unit 1 dan 2, serta Cilacap.
Namun, di saat yang bersamaan terjadi juga permasalahan serupa untuk pembangkit berbahan bakar
minyak (BBM) PLTGU Muara Tawar dan PLTGU Muara Karang.
Norma umum terdiri dari norma santun, hukum dan moral. Contohnya adalah :
a.Nomra santun : Memberi reward kepada perusahaan potensial disuatu negara.
b.Norma hukum : Perusahaan harus membayar pajak.
c.Norma moral : Perusahaan mengadakan event untuk memperingati hari ulang tahun perusahaan.

Norma hukum
pelanggaran : tidak mematuhi peraturan , mencuri , dsb.
norma kesusilaan
pelanggaran : berbohong
norma agama
pelanggaran : tidak menghormati agama lain
norma kesopanan
pelanggaran : berbicara kotor

NILAI DAN NORMA


6:55:00 PTG

yusup doank

No comments

E-melkan Ini BlogThis! Kongsi ke Twitter Kongsi ke Facebook

Nilai dan norma adalah dua hal yang secara riil ada dan berlaku dalam kehidupan manusia.
Nilai, walaupun sifatnya abstrak tetapi ia dapat dikenali, dimengerti, dan dimiliki oleh oleh setiap
manusia. Bahkan nilai tersebut dipelihara, dipertahankan dan dijungjung tinggi oleh masyarakat,
baik secara individu maupun kelompok. Sedangkan norma adalah aturan-aturan yang
membatasi kebebasan manusia dan mengarahkannya agar selalu berjalan pada nilai-nilai
tersebut.
Nilai dan norma adalah dua hal yang saling berkaitan. Nilai yang tidak kelihatan tampil dalam
dan melalui norma. Sebaliknya sebuah norma menjadi sesuatu yang bermakna karena
mengekpresikan, membela, dan memelihara nilai tertentu. Oleh kerena itu dalam pembahasan
ini akan dijelaskan tentang nilai dan norma dalam kerangka budi pekerti.
A.
1.

Pengertian
Nilai

Nilai
Secara

Umum

Nilai (value) merupakan sebuah istilah yang menunjukkan sesuatu yang baik, diinginkan, dan
dicita-citakan oleh setiap manusia. Ketika kata ini akan didefinisikan para ahli mengalami
kesulitan. Bahkan Moore dan A.C. Ewing, menjelaskan bahwa mendefinisikan nilai berdasarkan
atas hal-hal lain seperti rasa nikmat dan kepentingan adalah sesat. Nilai tidak dapat
didefinisikan dengan pengertian-pengertian biasa, namun harus dijelaskan dengan cara yang
lain,
seperti
dengan
menunjukkan
contoh-contohnya.
K. Berten berusaha menjelaskan bahwa nilai merupakan sesuatu yang menarik, sesuatu yang
dicari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai, dan sesuatu yang diinginkan,
singkatnya nilai adalah sesuatu yang baik. Menurut Hans Jonas, filosof Amerika-Jerman, nilai
adalah the addressee of a yes, sesuatu yang ditunjukkan dengan ya. Jadi, nilai merupakan
sesuatu yang diiyakan. Sebaliknya sesuatu yang tidak diiyakan, tidak menyenangkan, tidak
disukai, tidak diinginkan, dijauhi, dan dihindari adalah lawan dari nilai, yang bisa disebut nonnilai
atau
disvalue.
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa nilai merupakan konsepsi yang dihayati oleh
masyarakat, baik individu maupun kelompok mengenai apa yang baik atau buruk, apa yang
benar atau salah, apa yang penting atau kurang penting, apa yang bermanfaat atau tidak

bermanfaat.
Untuk lebih memahami pengertian nilai, K. Berten dan Antonius Atosokhi Gae dkk, menjelaskan
ciri-ciri
nilai,
yaitu:
a. Nilai berkaitan dengan fakta: Nilai berkaitan erat dengan fakta, obyek berupa hal atau
keadaan (peristiwa atau kejadian). Andaikan saja pada waktu tertentu di masa lalu terjadi
gunung meletus. Fakta tersebut dapat diunngkap seobyektif mungkin dengan data akurat dan
faktual. Selain sebagai sebuah fakta, letusan tersebut juga sebagai obyek penilaian. Bagi
fotografer yang hadir di tempat, letusan itu merupakan kesempatan emas (nilai) untuk
mengabadikan letusan tersebut. Bagi petani di sekitarnya, untuk jangka pendek, letusan tersebut
akan mengancam hasil pertanian (non-nilai), sedangkan untuk jangka panjang, akan lebih
menyuburkan
tanah
pertaniannya
(nilai).
b. Nilai berkaitan dengan subyek yang menilai: Nilai selalu berkaitan dengan penilaian
seseorang terhadap obyeknya. Kalau tidak subyek maka tidak ada nilai. Letusan gunung bagi
fotografer (subyek) sebagai sesuatu yang langka dan memiliki seni yang tinggi. Seadangka bagi
petani (subyek) untuk jangka pendek mengancam hasil pertanian (non-nilai), dan untuk jangka
panjang
menyuburkan
tanah
(nilai).
c. Nilai bersifat praktis-pragmatis: Suatu penilaian berkaitan dengan aktivitas subyek yang ingin
membuat sesuatu dalam kaitan dengan fakta yang ada dan penilaian berkaitan dengan
kegunaan
bagi
subyek.
d. Nilai secara potensial ada pada obyek: Nilai baik atau buruk yang diberikan subyek hanya
mungkin karena hal itu sudah secara potensial dimiliki oleh obyek. Orang bebas memberi
penilaian tertentu pada obyek karena hal itu dimiliki secara potensial. Karena itu obyek memilki
nilai
lebih
dari
satu.
2.
Nilai
Secara
Khusus
Setiap nilai mempunyai daya yang dapat menggerakkan seseorang untuk mewujudkannya. Nilai
estetis umpamanya, selalu mengerakkan dan mendesak seseorang untuk mewujudkannya lewat
karya nyata seperti lukisan, syair, atau nyanyian. Nilai yang tadinya tidak terlihat menjadi lebih
jelas terlihat ketika diwujudkan dalam karya yang nyata. Selain itu karena keindahnya, orang lain
pun terdorong untuk membelinya dan kemudian memanfaatkannya, bahkan lebih dari itu, dia
memajangnya dan memamerkannya agar orang lain dapat melihat dan mengaguminya.
Untuk nilai budi pekerti sifat ini lebih serius lagi. Kalau nilai estetika, ketika tidak ditampilkan, itu
tidak jadi masalah. Seseorang tidak merasa bersalah karenanya, karena tidak ada pihak lain
yang dirugikan. Lain halnya dengan nilai budi pekerti, seperti keadilan atau kejujuran, desakan
untuk mewujudkannya jauh lebih serius dari desakan nilai-nilai lain. Dia tidak terhenti mendesak
manusia sampai mau mewujudkannya. Manusiapun bertanggungjawab untuk mewujudkannya.
Ketika ia tidak diwujudkan, maka manusia akan merasa bersalah, karena ada pihak lain yang
dirugikan.
B.
Pengertian
Norma
Secara etimologi kata norma berasal dari bahasa Latin, yang berarti suatu alat berbentuk segi
tiga (carpenters squere), sejenis siku-siku yang biasanya dipakai oleh tukang kayu/bangunan

untuk mencek apakah benda yang dikerjakannya, seperti meja, kursi, bangku, dan yang lainnya,
sudah
lurus
atau
belum
atau
sesuai
dengan
keinginan
tukang
tersebut.
Pada perkembangan berikutnya norma dapat didefinisikan sebagai ukuran, garis pengarah,
aturan, atau kaidah bagi pertimbangan dan penilaian. Segala sesuatu yang dinilai baik, bagus
atau berguna akan diusahakan supaya diwujudkan dalam kehidupan masyarakat secara nyata.
Ketika nilai ini tertanam dalam jiwa dan menjadi milik bersama akan menghasilkan norma yang
disepakati bersama. Norma tersebut kalau sudah disepakati bersama selalu mengandung
konsekuensi pahala dan sangsi. Jika dilakukan sesuai dengan norma akan memperoleh pahala;
pujian, balas jasa, dan yang lainnya, dan jika tidak sesuai dengan norma akan memperoleh
sangsi;
hukuman,
celaan,
dan
yang
lainnya.
C.
Norma
Umum
dan
Khusus
Dari penjelasan di atas, norma dimengerti sebagai aturan atau ketentuan yang mengikat warga
negara dalam masyarakat dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang
ddianggap sesuai dan diterima. Selain itu norma juga dimengerti sebagai kaidah yang dipakai
sebagai tilak ukur untuk menilai atau mempertimbangkan sesuatu. Secara umum norma-norma
yang berlaku dibagi menjadi dua jenis, yaitu norma khusus dan norma umum.
1.
Norma
Khusus
Norma khusus, yaitu aturan-aturan yang hanya berlaku dalam bidang kegiatan dan situasi yang
khusus. Norma khusus yang dimaksud adalah berupa norma teknis dan permainan. Aturanaturan dalam dunia permainan, seperti aturan dalam olah raga termasuk norma khusus. Begitu
juga aturan-aturan yang diterapkan dalam dunia kerja, seperti jam masuk, cara kerja, pakaian
seragam,
dan
yang
lainnya
termasuk
norma
khusus.
Aturan ini bersifat khusus karena hanya berlaku dalam ruang lingkup tertentu, sejauh orang
masuk dalam lingkup atau bidang tersebut, dan tidak berlaku lagi ketika orang tersebut sudah
keluar dari lingkup tata bidang tersebut. Aturan bermain sepak bola hanya berlaku bagi para
pemain ketika permainan sepak bola sedang berlangsung di lapangan, dan aturan tersebut tidak
berlaku
lagi
begitu
permainan
sudah
selesai.
2.
Norma
Umum
Norma umum, yaitu aturan-aturan yang berlaku secara umum dalam kehidupan masyarakat,
sebagai pedoman dan pengendali tingkah laku dalam pergaulan. Norma umum terbagi tiga, yaitu
:
a.
Norma
Sopan
Santun/Etiket
Norma sopan santun/etiket menyangkut sikap lahiriah manusia. Norma sopan santun
merupakan tatakrama yang muncul dari kebiasaan yang kemudian menjadi kecenderungan
kebanyakan orang dalam suatu masyarakat sehingga menghasilkan pola yang khas yang
menandai suatu daerah, suku, atau wilayah tertentu. Seperti masuk rumah orang dengan
mengucapkan assalaamu alaikum, permisi, atau punten, menyambut tamu dengan menunduk,
berjabat tangan, mengucapkan selamat dengan kata-kata tertentu, cara makan, cara duduk,
menjawab
telpon,
dan
yang
lainnya.
Meskipun lahiriah dapat mengungkapkan sikap hati dan karena itu mempunyai kualitas moral,
namun sikap lahiriah sendiri tidak mempunyai kualitas moral. Orang yang melanggar norma
kesopanan karena tidak mengetahui tatakrama di daerah itu, atau ditntut oleh situasi, tidak

dikatakan

melanggar

norma

moral.

b.
Norma
Hukum
Norma hukum merupakan norma yang dituntut oleh masyarakat secara tegas karena dianggap
perlu demi keselamatan dan kesejahteraan umum. Norma ini bersifat positif, tertulis, dan
diundangkan. Norma ini tidak dipakai untuk mengukur baik buruknya seseorang sebagai
manusia, melainkan untuk menjamin ketertiban umum. Jadi, yang melanggar norma ini pasti
akan
dikenai
sangsi.
Hukum sesungguhnya merupakan positivasi norma moral, sehigga mempertegas dan
memastikan keberlakuan normal moral. Norma moral menjiwai norma hukum, maka hukum itu
sendiri harus baik, benar, dan adil sesuai dengan jiwa moral itu sendiri. Oleh karena itu norma
hukum yang menindas, norma hukum yang dimaksudkan hanya untuk kepentingan segelintir
orang dalam suatu masyarakat, dan norma hukum yang terang-terangan bertentangan dengan
norma moral dan rasa keadilan masyarakat, harus ditolak bahkan dianggap tidak mengikat.
Perlu diingat bhwa ketaatan pada hukum tidak dengan dengan sendirinya menentukan kualitas
moral pelakunya. Bisa saja seeorang taat bukan karena sadar akan pentingnya hukum bagi
kehidupannya atau kehidupan bersama, melainkan karena takut. Sebaliknya, bisa terjadi bahwa
seseorang melanggar hukum, namun menurut pertimbangan moralnya hal tersebut perlu untuk
dilakukan, meskipun dia tahu dan bahkan siap menghadapi konsekuensi legal atas tindakannya.
Penilaian moral atas perilaku seseorang memang tidak semata-mata berdasarkan pada ketaatan
atau
ketidaktaatannya
pada
norma
hukum.
Norma hukum dibutuhkan sejauh merupakan positivasi dan menjiwai norma moral. Norma
hukum itu penting karena menjadi tuntutan minimal yang mutlak, keberlakuannya tegas dan
pasti karena didukung oelah sangsi. Ketika norma moral tidak dipedulikan oleh masyarakat
masih dapat mengharapkan adanya ketertiban dan keselamatan hidup bersama melalui norma
hukum
yang
berlaku
secara
pasti
dan
tegas
tadi.
c.
Norma
Moral/Etika
Norma moral/etika menjadi tolak ukur yang dipakai oleh masyarakat untuk mengukur kebaikan
seseorang. Norma ini merupakan norma tertinggi yang tidak bisa dikalahkan oleh norma-norma
lain. Sebaliknya norma ini dapat menilai norma-norma lain. Norma moral menyangkut aturan
tentang baik buruknya, adil tidaknya tindakan dan perilau manusia sebagai manusia.
Bila dikaitkan dengan profesi, seseorang dinilai bukan berdasarkan pada sikap lahiriah dalam
menjalankan profesi (ketepatan waktu, kerapihan berpakaian, murah senyum, dan lain
sebagainya, melainkan perilaku moralnya yang dinilai, seperti tanggungjawab dalam
menjalankan profesi, sikap dalam melayani klien, sikap dalam menanggapi keluhan atau aduan
konsumen,
cara
memperlakukan
orang
lain,
dan
lain
sebagainya.
Ada beberapa ciri yang membedakan antara norma moral dengan norma umum lainnya.
Pertama, kaidah moral mengatur perilaku manusia yang dianggap dapat merugikan atau
berguna bagi orang lain. Pada umumnya kaidah moral mengatur agar tindakan manusia tidak
merugikan orang lain, dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Norma moral
diharapkan ditaati karena nilai yang terkandung dalam norma tersebut. Berbeda dengan norma
hukum, norma moral tidak mengenal sangsi atau hukuman atas pelanggarannya.

Kedua, norma moral tidak ditetapkan atau diubah oleh keputusan penguasa tertentu. Berbeda
dengan norma hokum, norma moral tidak dikodifikasi,tidak ditetapkan atau diubah oleh
pemerintah Ia lebih merupaka hukum tidak tertulis yang tertanam dalam hati setiap anggota
masyarakat, sehingga mengikat semua anggota dari dalam dirinya sendiri. Tanpa prlu ketetapan
atau aturan tertulis, anggota masyarakat yang sama akan merespon secara kurang lebih sama
dengan norma tidak tertulis tersebut dalam menanggapi kasus-kasus yang terjadi dalam
masyarakat, contoh : konsumen akan marah atau tidak puas ketika menemukan bahwa barang
atau jasa yang dibelinya tidak sesuia dengan yang diiklankan, meskipun tidak ada hokum tertulis
yang
dikeluarkan
oleh
pemerintah
mengenai
hal
tersebut.
Ketiga, norma moral selalu menyangkut perasaan moral (moral sense). Perasaan moral akan
muncul ketika seseorang melakukan tindakan yang salah atau ketika seseorang melihat pihak
lain yang tidak sesuai dengan norma moral tertentu. Perasan moral ini dapat muncul dalam
bentuk perasaan bersalah, menyesal, marah dan sebagainya etika melihat tindakan yang tidak
semestinya dilakukan. Perasaan moral ini akan dialami oleh siapa saja, terlepas dari hubungan
atau ikatan pribadi apapun. Meskipun merupakan perasaan, perasaan moral tidak bersifat
subjektif karena orang lain pun dapat merasakn hal yang sama. Jadi ada perasaan moral objektif
dalam masyarakat dalam menghadapi kasus moral tertentu.