Anda di halaman 1dari 67

ELEMEN MESIN I 2016

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Jenis elemen mesin
Elemen mesin adalah komponen/bagian yang digunakan pada suatu
konstruksi untuk memindahkan energi. Ada pun beberapa jenis elemen mesin
yang akan dipaparkan dalam makalah ini antara lain, mur, baut, sekrup, pena,
pasak, poros (shaft), kopling, sabuk-puli (belt pullley), rantai-sproket (chainsprocket), dan roda gigi.
1. Mur dan Baut

a. Definisi
Mur adalah pelat logam dari bermacam bentuk, biasanya segi enam atau
segi empat, mempunyai lubang berulir sekrup untuk menguatkan baut. Baut
adalah besi batangan yang berulir (untuk menyambung atau mengikat dua
benda).
b. Fungsi
Penggunaan utamanya adalah sebagai pengikat (fastener) untuk menahan dua
obyek bersama dan sebagai pesawat sederhana untuk mengubah torsi (torque)
menjadi gaya linear. Baut dan mur digunakan untuk mengencangkan part-part
di berbagai area di kendaraan ataupun suatu alat.
c. Prinsip Kerja
Cara kerja baut seperti pesawat sederhana untuk mengubah torsi menjadi
gaya linear. Sebagian besar baut dipererat dengan memutarnya searah jarum
jam, yang disebut ulir kanan. Baut dengan ulir kiri digunakan pada kasus
tertentu, misalnya pada saat baut akan menjadi pelaku torsi berlawanan arah
jarum jam. Pedal kiri dari sepeda memiliki ulir kiri.
Mur digunakan untuk mempererat baut pasangan ulir luar yang umumnya
sudah dinormalisasikan. Kadang kala mur sering dibuat langsung dari kedua
bagian pelat yang disambung. Gerak mur terhadap baut dianggap sebagai gerak
putar dan gerak lurus, tetapi untuk pemeriksaan konstruksi hanya dihitung
berdasarkan tekanan pada permukaan profil ulirnya, sehingga diperoleh tinggi
mur yang memadai atau sesuai.
d. Aplikasi
Mur dan Baut dapat kita jumpai pada kehidupan sehari hari kita. Baut dan
mur adalah suatu rangkaian yang saling berhubungan. Biasanya baut dan mur
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

ELEMEN MESIN I 2016


digunakan pada area area kendaraan, Biasanya pada jembatan Gantung
Besi,pemasangan Lemari, Biasa juga pada meja,dan aat permesinan,dll.
2. Pasak
a. Definisi
Pasak merupakan sepotong baja lunak (mild steel), berfungsi sebagai
pengunci yang disisipkan diantara poros dan hub (bos) sebuah roda pulli atau
roda gigi agar keduanya tersambung dengan pasti sehingga mampu meneruskan
momen putar/torsi. Pemasangan pasak antara poros dan hub dilakukan dengan
membenamkan pasak pada alur yang terdapat antara poros dan hub sebagai
tempat dudukan pasak dengan posisi memanjang sejajar sumbu poros.
b. Prinsip Kerja
Pengunci yang disisipkan di antara poros dan hub (bos) sebuah roda pulli
atau roda gigi agar keduanya tersambung dengan pasti sehingga mampu
meneruskan momen putar/torsi. Pemasangan pasak antara poros dan hub
dilakukan dengan membenamkan pasak pada alur yang terdapat antara poros
dan hub sebagai tempat dudukan pasak dengan posisi memanjang sejajar sumbu
poros.
c. Aplikasi
Penggunaan Pasak yaitu sebagai pengaman posisi, pengaturan kekuatan
putar atau kekuatan luncur dari naf terhadap poros, perletakan kuat dari gandar,
untuk sambungan flexible atau bantalan, penghenti pegas, pembatas gaya,
pengaman sekrup dan lain-lain.
3. Pena
a. Definisi
Pena adalah elemen Mesin penghubung yang sifatnya semi permanen. Pena
juga merupakan bagian dari kontruksi mesin yang paling tua dan yang paling
sederhana.
b. Fungsi
Pena berfungsi untuk menghubungkan sesuatu akan tetapi sifatnya tida
permanen dalam artian masih bias dibuka.
4. Poros
a. Definisi
Poros adalah suatu bagian stasioner yang beputar, biasanya berpenampang
bulat dimana terpasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear). Poros bisa
menerima beban lenturan, beban tarikan, beban tekan atau beban puntiran yang
bekerja sendiri-sendiri atau berupa gabungan satu dengan lainnya. (Josep
Edward Shigley,1983).
b. Fungsi
Poros dalam sebuah mesin berfungsi untuk meneruskan tenaga bersamasama dengan putaran. Setiap elemen mesin yang berputar, seperti cakara tali,
puli sabuk mesin, piringan kabel, tromol kabel, roda jalan dan roda gigi,
dipasang berputar terhadap poros dukung yang tetap atau dipasang tetap pada
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

ELEMEN MESIN I 2016


poros dukung yang berputar. Contohnya sebuah poros dukung yang berputar,
yaitu poros roda keran berputar gerobak.
c. Prinsip Kerja
Poros merupakan sebatang logam yang berpenampang lingkaran yang
berfungsi memindahkan putaran atau mendukung sesuatu beban dengan atau
tanpa meneruskan daya. Poros ditahan oleh dua atau lebih bantalan poros atau
pemegang poros. Bagian-bagian berputar yang didukung poros seperti roda
daya (fly whweel), roda gigi, roda ban roda gesek dan lain-lain.
d. Aplikasi
Poros dapat digunakan pada mesin penghancur plastik, pada roda kereta
api, As Garden, dan lain-lain.
5. Kopling

a. Definisi
Kopling adalah komponen motor yang menghubungkan poros engkol
dengan poros roda gigi transmisi. Kalau di luar negeri komponen ini
bernamaclutch.
b. Fungsi
Terdapat beberapa fungsi dari kopling, antara lain sebagai berikut:
1) Meneruskan putaran poros engkol ke transmisi (persneling).
2) Melepaskan hubungan antara poros engkol mesin dengan transmisi.
3) Meneruskan perputaran poros engkol mesin ke transmisi secara berangsurangsur secara merata tanpa hentakan.
4) Menghubungkan dan memutuskan putaran motor ke transmisi.
c. Prinsip Kerja
Secara
lengkap
dan
umum
cara
kerja
kopling
dapat
dijelaskan sebagaiberikut:
1) Handel kapling ditekan.
2) Tangkai pelepas kopling (clutch release lever) tertarik oleh kabel kopling.
3) Nok pelepas (release cam) pada poros tangkai pelepas kopling mendorong
batang pengangkat (lifter rod).
4) Batang pengangkat menekan pengangkat (lifter pin) dan pelat pengangkat
(lifter plate).
5) Pelat pengangkat menekan pegas-pegas kopling dan mendorong piringan
penekan (pressure plate) sehingga menjauhi susunan pelat-pelat gesek kopling.
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

ELEMEN MESIN I 2016


6) Terjadilah jarak renggang kecil diantara pelat-pelat gesek dan pelat-pelat
baja sehingga perputaran rumah kopling tidak diterusan lagi ke pusat kopling.
Dengan melepaskan handel kopling secara perlahan-lahan maka gaya tekan
pegas sedikit demi sedikit diteruskan kembali pada susunan pelat-pelat gesek
kopling, yang pada akhimya pelat-pelat baja beserta pusat kopling mulai
mengikuti perputaran rumah kopling secara merata.
6. Sabuk-Puli

a. Definisi
Puli adalah sebuah mekanisme yang terdiri dari roda pada sebuah poros
atau batang yang memiliki alur diantara dua pinggiran di sekelilingnya. Sebuah
tali, kabel, atau sabuk biasanya digunakan pada alur puli untuk memindahkan
daya. Puli digunakan untuk mengubah arah gaya yang digunakan, meneruskan
gerak rotasi, atau memindahkan beban yang berat.
b. Fungsi
Sistem puli dengan sabuk terdiri dua atau lebih puli yang dihubungkan
dengan menggunakan sabuk. Sistem ini memungkinkan untuk memindahkan
daya, torsi, dan kecepatan, serta dapat memindahkan beban yang berat dengan
variasi diameter yang berbeda.
Sabuk penggerak berfungsi memindahkan gaya atau memindahkan putaran
dari puli satu ke puli yang lain. Sabuk penggerak banyak digunakan untuk
industri, otomotif, pertanian, dan lain-lain. Sabuk penggerak untuk mesin-mesin
industri dan mesin pertanian selalu dibuat dengan standar potong silang.
c. Prinsip Kerja
Selain menggunakan sabuk puli juga dapat dihubungkan dengan
menggunakan tali atau kabel. Sistem ini terdiri dari satu buah tali atau kabel
yang memindahkan gaya linier pada suatu beban melalui sebuah puli atau lebih
yang bertujuan untuk menarik beban (melawan gravitasi). Sistem ini sering
digolongkan pada mesin sederhana. Puli digunakan untuk mengubah arah gaya
yang digunakan, meneruskan gerak rotasi.
Puli - Sabuk pada prinsipnya mempunyai prinsip yang sama dengan
sprocket rantai. Pemakaian puli-sabuk ini dengan pertimbangan bahwa bila
terjadi mekanisme kerja yang tidak diharapkan pada mesin, maka tidak akan
mengakibatkan kerusakan pada elemen yang lain mengingat sifat-sifat pilusabuk yang dapat slip.
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

ELEMEN MESIN I 2016


d. Aplikasi
Digunakan pada konstruksi tertentu pada mesin penghancur dan digunakan
untuk mentransmisikan daya dari motor listrik ke poros pisau. Sabuk biasanya
digunakan untuk mesin-mesin penggilingan padi, mesin press, mesin tempa dan
lain-lain. Sabuk digunakan secara luas dalam industri mesin jahit, komputer,
mesin fotokopi dan sebagainya.
7. Rantai-Sproket
a. Definisi
Rantai-sproket adalah roda bergerigi yang yang berpasangan dengan rantai,
tarack atau benda panjang yang bergerigi lainnya. Sprocket berbeda dengan
roda gigi, sproket tidak pernah bersinggungan dengan sprocket lainnya dan
tidak pernah cocok. Sproket juga berbeda dengan puli dimana sprocket
memiliki gigi sedangkan puli pada umumnya tidak memiliki gigi.
b. Prinsip Kerja
Prinsip kerja rantai dan sprocket yaitu sprocket dihubungkan dengan rantai
untuk memutar poros yang menyangga pada roda belakang. Yang bekerja
berdasarkan gerakan hidroluik transmisi dari pinion dan manual dari gear
belakang.
c. Aplikasi
Sproket banyak digunakan pada sepeda, sepeda motor, mobil, kendaraan
roda rantai dan mesin lainnya digunakan untuk mentransmisikan gaya putar
antara 2 poros.
Sproket juga digunakan pada kendaraan roda rantai. ada kendaraan jenis ini,
jumlah sproket yang terlibat banyak, namun sproket yang menggerakkan hanya
satu, dua atau tiga. Sproket yang menggerakkan jika hanya satu biasanya berada
di depan atau dibelakang kendaraan. Sementara dengan dua sproket penggerak,
posisi sproket ada didepan dan belakang. Sproket penggerak ketiga biasanya
bisa dimana saja dan biasanya posisinya lebih tinggi dari sproket penggerak
yang lain.
8. Roda Gigi
a. Definisi
Roda gigi adalah bagian dari mesin yang berputar yang berguna untuk
mentransmisikan daya. Roda gigi memiliki gigi-gigi yang saling bersinggungan
dengan gigi dari roda gigi yang lain. Dua atau lebih roda gigi yang
bersinggungan dan bekerja bersama-sama disebut sebagai transmisi roda gigi,
dan bisa menghasilkan keuntungan mekanis melalui rasio jumlah gigi. Roda
gigi mampu mengubah kecepatan putar, torsi, dan arah daya terhadap sumber
daya. Tidak semua roda gigi berhubungan dengan roda gigi yang lain; salah satu
kasusnya adalah pasangan roda gigi dan pinion yang bersumber dari atau
menghasilkan gaya translasi, bukan gaya rotasi
b. Fungsi

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

ELEMEN MESIN I 2016


Roda gigi berfungsi mentransmisikan daya dan putaran yang tepat dari
sumber penggerak ke poros penggerak berikutnya.
c. Aplikasi
Roda gigi digunakan pada jam mekanis. Perputaran jarum jam, menit dan
detik terjadi karena kombinasi dari pasangan roda giginya, pada mainan anakanak, kerek dan lain-lain.
Elemen mesin merupakan ilmu yang mempelajari bagian-bagian mesin
dilihat antara lain dari sisi bentuk komponen, cara kerja, cara perancangan dan
perhitungan kekuatan dari
komponen tersebut.
Dasar-dasar yang diperlukan untuk dapat mempelajari dan mengerti tentang
elemen mesin
dan permasalahannya antara lain berkaitan dengan :
Sistem gaya
Tegangan dan regangan
Pengetahuan bahan
Gambar teknik
Proses produksi
1.2 Definisi mesin
Mesin
Gabungan dari berbagai elemen mesin yang membentuk satu sistem kerja.
Mesin-mesin penggerak mula
Turbin : air, uap, gas : (pesawat terbang, kapal laut, kereta api, dll).
Motor listrik (AC, pompa air, kompresor, dll)
Motor Bakar Bensin dan Diesel (mobil, sepeda motor, kereta diesel,
generator
listrik.
Kincir angin (pompa, generator listrik)
Mesin-mesin lain : crane, lift, katrol, derek, alat-alat berat, mesin pendingin,
mesin
pemanas, mesin produksi, dll.
Mesin-mesin tersebut terdiri dari berbagai jenis dan jumlah komponen
pendukung yang berbeda-beda
1.3 Satuan SI (Satuan Absolute/mutlak)
Untuk memberikan informasi yang kuantitatif dari suatu gejala alam diperlukan
pengukuran terhadap sifat-sifat fisisnya. Sifat-sifat fisis disebut sebagai besaran
umum, seperti : panjang, volume, momentum dan lain-lain. Pengukuran besaran
sifat-sifat fisis dilakukan dengan membandingkan besaran yang akan diukur
dengan dengan suatu besaran standar yang dinyatakan dengan bilangan dan
satuan.
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

ELEMEN MESIN I 2016


Pengukuran besaran fisik menjadi salah satu pekerjaan yang paling penting
dibidang keteknikan. Kepentingannya karena berkaitan erat dengan
keberhasilan dalam menetapkan batasan-batasan yang diperlukan bagi
perancangan elemen-elemen yang saling berhubungan dalam suatu bangunan
mesin. Agar dapat berfungsi sesuai dengan yang dikehendaki.
Dari seluruh besaran fisik yang ada, Sesuai dengan ketetapan SI (Satuan
Internasional) dalam hal ini diwakili oleh tiga besaran ukuran pokok / dasar :
Panjang, dilambangkan dengan

: L

Massa, dilambangkan dengan

: M

Waktu, dilambangkan dengan

: T

Besaran pengukuran lainnya yang dibentuk oleh gabungan dari ketiga satuan
dasar ini, menjadi satuan turunan. Seperti contohnya satuan luas penampang,
kecepatan, percepatan, tekanan dan lain-lain.
Sedangkan untuk sistim satuan, dikenal ada empat sistim satuan yang umum
digunakan dan diakui secara internasional (SI), yakni :
a) Satuan CGS (centimeter, gram dan second).
=> dikenal sebagai satuan mutlak (absolut) atau satuan fisik.
b) Satuan MKS (meter, kilogram dan second).
c) Satuan FPS (foot, pound dan second).
=> dikenal sebagai satuan grafitasi atau satuan perancangan.
a) Satuan SI (satuan Sistim Internasional).
Sistim satuan yang digunakan pada seluruh kurikulum ini, menggunakan sistim
Satuan Internasional ( SI ) Unit.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

ELEMEN MESIN I 2016

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

ELEMEN MESIN I 2016

Simbol Satuan

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

ELEMEN MESIN I 2016

BAB 2 MACAM MACAM TEGANGAN


2.1 Tegangan Normal
Pengetahuan dan pengertian tentang bahan dan perilakunya jika mendapat gaya
atau beban sangat dibutuhkan di bidang teknik bangunan. Jika suatu batang
prismatik, dengan luas tampang seragam di sepanjang batang, menerima beban
atau gaya searah dengan panjang batang, maka gaya tersebut akan menimbukan
tegangan atau tekanan pada tampang batang. Tegangan atau tekanan merupakan
besaran gaya per satuan luas tampang. Sehingga besar tegangan yang dialami
batang prismatik tersebut masing-masing sebesar T/A dan P/A. Pada gambar
dibawah ini, A merupakan luas tampang melintang batang yang dikena T atau P
pada .

Tegangan normal tarik pada batang prismatik

Tegangan normal tekan pada batang prismatik


2.2 Tegangan Tarik

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

10

ELEMEN MESIN I 2016


Tegangan dan Regangan tarik ( Tensile and Strain ) : Tegangan tarik terjadi
karena akibat bekerjanya gaya tarik pada luas suatu penampang sehingga
bendanya mengalami perpanjangan .

2.3 Tegangan Tekan


Tegangan dan Regangan tekan ( Compresssive stress and Strain ) : Tegangan
yang terjadi karena suatu gaya tekan pada suatu satuan luas penampang luas
material elemen mesin sehingga mengalami pemendekan
Rumus :

2.4 Tegangan Geser


Tegangan dan Regangan geser (Shear stress and Strain ) : tegangan yang terjadi
karena 2 gaya geser yang saling berlawanan arah terhadap suatu bidang geser
pada bidang penampang elemen mesin sehingga bidang penampang tersebut
mengalami tegangan geser.
Rumus :

= tegangan geser (kg/


, kg/
, ton/
P = gaya geser atau gaya lintang (kg, ton)
F = Luas penampang (
,
,
)

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

11

ELEMEN MESIN I 2016

2.5 Tegangan Lentur


Balok merupakan struktur yang menerima beban tegak lurus terhadap arah
panjang. Karenanya balok umumnya mengalami lenturan dan geseran pada
bagian di dekat dudukan. Gaya geser, sering disebut gaya lintang akan
menyebabkan tegangan geser. Gambar 3.52 menunjukkan diagram geser balok
yang terjadi di sepanjang batang. Ditunjukkan pula diagram gaya momen yang
menyebabkan lenturan pada balok. Momen penyebab lenturan tersebut disebut
sebagai momen lentur.

Gaya geser dan momen lentur tersebut akan menyebabkan tegangan geser dan
tegangan lentur. Tegangan lentur maksimum seperti terjadi pada batang tepat di
bawah P, berjarak a dari dudukan A. Diagram momen lentur maksimum terjadi
pada titik dimana geseran memiliki nilai = 0. Sedangkan geseran maksimum
terjadi umumnya di daerah dudukan. Pada gambar gaya lintang masimum/
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

12

ELEMEN MESIN I 2016


Dmaks terjadi di atas dudukan B. Terdapat dua macam momen lentur, momen
lentur positif dan momen lentur negatif. Tampang balok yang mengalami
lenturan positif akan mengalami tegangan dengan arah sejajar panjang batang
(tegangan normal). Di bagian atas sumbu tengah tampang akan mengalami
tegangan tekan (Compression Stress). Bagian bawah sumbu tampang
mengalami tegangan tarik (tension stress). Sedangkan tampang dengan lenturan
negatif berlaku kebalikannya, tegangan tarik di bagian atas dan tegangan tekan
di bagian bawah sumbu tampang. Besaran tegangan akibat lenturan pada balok
dapat ditulis dengan formula sebagai berikut.
Tegangan lentur / lengkung ( ), yaitu tegangan yang terjadi akibat momen
lentur atau lengkung yang timbul. Momen yang diperhitungkan adalah momen
maksimum.

Rumus :
= tegangan lentur atau lengkung (kg/
)
= momen lengkung maksimum (kg/cm)
= momen tahanan linier (
)
= 1/12 b untuk tampang persegi panjang dengan lebar b dan tingg h
= /64 untuk tampang lingkaran
2.6 Tegangan Puntir
Terkadang suatu komponen struktur menerima puntiran, kopel puntir atau
momen puntiran. Puntiran tersebut menimbulkan tegangan geseran yang disebut
sebagai tegangan geser puntir. Ilustrasi batang yang mengalami torsi
ditunjukkan pada Gambar 3.50.

Tegangan puntir ( ), yaitu tegangan yang timbul akibat momen puntir.


Besarnya tegangan yang diakibatkan oleh momen puntir/torsi pada tampang
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

13

ELEMEN MESIN I 2016


batang lingkaran dan lingkaran berlubang dituliskan dengan formula sebagai
berikut.
Rumus :
= T . r / Ip
Dimana : = Tegangan geser torsi
T = Besaran momen torsi
r = Jari-jari batang terputir
Ip = Momen inersia polar tampang tergeser:
Ip = /32 untuk lingkaran pejal
Ip = /32(
) untuk lingkaran berlubang

Atau bisa juga dengan rumus :

= tegangan puntir (kg/


),
= momen puntir (kg.cm)
= momen tahanan polar (
)

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

14

ELEMEN MESIN I 2016

2.7 Contoh Soal


1. Contoh soal :
Diketahui : P = 9600 kg, b = 8 cm, h = 12 cm
Ditanyakan : Tegangan tarik yang timbul ( ) ?

2. Contoh soal hitungan :


Diketahui :P = 2100 kg; b = 5 cm; h = 7 cm
L = 400 cm; E = 105 kg/

Ditanyakan :
a. Tegangan tarik yang timbul ( ) ?
b. Perpanjangan yang timbul (L) ?
c. Regangan yang timbul () ?
JAWAB :

3. Contoh soal :

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

15

ELEMEN MESIN I 2016


Diketahui : P = 785 kg; d = 10 mm
Ditanyakan : Tegangan tekan yang timbul (
Jawab :

)?

4. Contoh soal :

Diketahui : sambungan kelingan dengan P = 3140 kg dan d = 20 mm


Ditanyakan : Tegangan geser yang timbul pada keling ?
Jawab :

5. Contoh soal :

Diketahui : q = 200 kg/m; L = 8 m;


b = 20 cm; h = 30 cm
Ditanyakan : tegangan geser maksimum yang timbul ?
Jawab :
Q = q x L = 200 x 8 = 1600 kg
Karena simetris
=
= Q = (1600) = 800 kg
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

16

ELEMEN MESIN I 2016


Gaya lintang

x = 0 Dx =
x = 8 Dx =

= 800 Kg
qx = 800 1600 = - 800 kg

6. Contoh Soal :
Diketahui : balok jepit
P = 200 kg, L = 200 cm, b = 15 cm, h = 15 cm

Ditanyakan : tegangan lentur yang timbul pada balok ?


Jawab :
Momen = P .L = 200 . 200 = 40000 kg.cm

7. Contoh soal :
Diketahui : d = 10 cm; P = 300 kg; L = 30 cm

Ditanyakan : tegangan puntir yang timbul (


Jawab :
= P . L = 300 x 30 = 9000 kgcm

)?

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

17

ELEMEN MESIN I 2016


= 0.2

= 0.2

= 0.2 (1000) = 200

BAB 3 SAMBUNGAN LAS


3.1 Pengertian Sambungan Las
Proses pengelasan adalah proses penyambungan logam dengan menggunakan
energi panas. Sambungan las mempunyai tingkat kerapatan yang baik serta
mempunyai kekuatan sambungan yang memadai. Sambungan las ini juga
mempunyai tingkat efisiensi kekuatan sambungan yang relatif lebih baik jika
dibandingkan dengan sambungan yang lainnya. Di samping itu segi operasional
pengerjaan sambungan konstruksi las lebih sederhana dan relatif murah.
Ada beberapa macam jenis pengelasan yang dilakukan untuk menyambung
logam, yaitu:
Las Resistansi Listrik (Tahanan)
Las resistensi listrik adalah suatu cara pengelasan dimana permukaan pelat
yang disambung ditekankan satu sama lain dan pada saat yang sama arus
listrik dialirkan sehingga permukaan tersebut menjadi panas dan mencair
karena adanya resistensi listrik. Sambungan las resistensi listrik dibagi atas
dua kelompok sambungan yaitu sambungan tumpang dan sambungan
tumpul. Las resistansi listrik ini sangat baik digunakan untuk menyambung
pelat-pelat tipis sangat.
Las Titik (Spot Welding)
Pengelasan dengan las titik ini hasil pengelasannya membentuk seperti titik.
Elektroda penekan terbuat dari batang tembaga yang dialiri arus listrik
yakni, elektroda atas dan bawah. Elektroda sebelah bawah sebagai penumpu
plat dalam keadaan diam dan elektroda atas bergerak menekan pelat yang
akan disambung. Agar pelat yang akan disambung tidak sampai bolong
sewaktu proses terjadinya pencairan maka kedua ujung elektroda diberi air
pendingin.
Las Resistansi Rol (Rolled Resistance Welding)
Proses pengelasan resistansi tumpang ini dasarnya sama dengan las
resistansi titik, tetapi dalam pengelasan tumpang ini kedua batang elektroda
diganti dengan roda yang dapat berputar sesuai dengan alur/garis
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

18

ELEMEN MESIN I 2016


pengelasanyang dikehendaki
Las Busur Listrik
Energi masukan panas las busur listrik bersumber dari beberapa alternatif
diantaranya energi dari panas pembakaran gas, atau energi listrik.Panas
yang ditimbulkan dari hasil proses pengelasan ini melebihi dari titik lebur
bahan dasar dan elektroda yang di las. Kisaran temperatur yang dapat
dicapai pada proses pengelasan ini mencapai 2000-3000 C. Pada
temperatur ini daerah yang mengalami pengelasan melebur secara
bersamaan menjadi suatu ikatan metalurgi logam lasan.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengelasan las busur listrk
adalah pemilihan elektroda yang tepat. Secara umum semua elektroda
diklasifikasikan menjadi lima kelompok utama yaitu mild steel, hight
carbon steel, special alloy steel, cast iron dan non ferrous. Rentangan
terbesar dari pengelasan busur nyala dilakukan dengan elektroda dalam
kelompok mild steel (baja lunak).
Penyambungan dengan Las Oxy-Asetilen
Pengelasan dengan gas oksi-asetilen dilakukan dengan membakar bahan
bakar gas C2 H2 dengan O2, sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu
yang dapat mencair logam induk dan logam pengisi. Sebagai bahan bakar
dapat digunakan gas-gas asetilen, propan atau hidrogen.
Diantara ketiga bahan bakar ini yang paling banyak digunakan adalah
asetilen, sehingga las pada umumnya diartikan sebagai las oksi-asetilen.
Las TIG (Tungsten Inert Gas)/GTAW (Gas Tungsten Arc Welding)
Pengelasan dengan gas pelindung Argon (Tungsten Iner Gas) merupakan
salah satu pengembangan dari pengelasan yang telah ada yaitu
pengembangan dari pengelasan secara manual yang khususnya untuk
pengelasan non ferro (alumunium, magnesium kuningan dan lain-lain, baja
spesial (Stainless steel) dan logam-logam anti korosi lainnya. Pengelasan
Tungsten Inert Gas (TIG) ini tidak menggunakan proses elektroda sekali
habis (non consumable electrode). Temperatur yang dihasilkan dari proses
pengelasan ini adalah 3000 0F atau 1664,8 0C dan fungsi gas pelindung
adalah untuk menghidari terjadinya oksidasi udara luar terhadap cairan
logam yang dilas.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

19

ELEMEN MESIN I 2016


Las MIG (Metal Inert Gas Arc Welding)/Gas Metal Arc Welding (GMAW)
Gas Metal Arc Welding (GMAW) adalah proses pengelasan yang energinya
diperoleh dari busur listrik. Busur las terjadi di antara permukaan benda
kerja dengan ujung kawat elektroda yang keluar dari nozzle bersamasama
dengan gas pelindung.
3.2 Jenis-jenis Sambungan Las
Jenis sambungan tergantung pada faktor-faktor seperti ukuran dan profil batang
yang bertemu di sambungan, jenis pembebanan, besarnya luas sambungan yang
tersedia untuk pengelasan, dan biaya relatif dari berbagai jenis las. Sambungan
las terdiri dari lima jenis dasar dengan berbagai macam variasi dan kombinasi
yang banyak jumlahnya. Kelima jenis dasar ini adalah sambungan sebidang
(butt), lewatan (lap), tegak (T), sudut, dan sisi.
1) Sambungan Sebidang
Sambungan sebidang dipakai terutama untuk menyambung ujung-ujung plat
datar dengan ketebalan yang sama atau hampir sarna. Keuntungan utama jenis
sambungan ini ialah menghilangkan eksentrisitas yang timbul pada sambungan
lewatan tunggal seperti dalam Gambar 6.16(b). Bila digunakan bersama dengan
las tumpul penetrasi sempurna (full penetration groove weld), sambungan
sebidang menghasilkan ukuran sambungan minimum dan biasanya lebih estetis
dari pada sambungan bersusun. Kerugian utamanya ialah ujung yang akan
disambung biasanya harus disiapkan secara khusus (diratakan atau dimiringkan)
dan dipertemukan secara hati-hati sebelum dilas. Hanya sedikit penyesuaian
dapat dilakukan, dan potongan yang akan disambung harus diperinci dan dibuat
secara teliti. Akibatnya, kebanyakan sambungan sebidang dibuat di bengkel
yang dapat mengontrol proses pengelasan dengan akurat.
2) Sambungan Lewatan
Sambungan lewatan pada Gambar 6.17 merupakan jenis yang paling umum.
Sambungan ini mempunyai dua keuntungan utama:
Mudah disesuaikan. Potongan yang akan disambung tidak memerlukan
ketepatan dalam pembuatannya bila dibanding dengan jenis sambungan lain.
Potongan tersebut dapat digeser untuk mengakomodasi kesalahan kecil
dalam pembuatan atau untuk penyesuaian panjang.
Mudah disambung. Tepi potongan yang akan disambung tidak memerlukan
persiapan khusus dan biasanya dipotong dengan nyala (api) atau geseran.
Sambungan lewatan menggunakan las sudut sehingga sesuai baik untuk
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

20

ELEMEN MESIN I 2016


pengelasan di bengkel maupun di lapangan. Potongan yang akan disambung
dalam banyak hal hanya dijepit (diklem) tanpa menggunakan alat pemegang
khusus. Kadang-kadang potongan-potongan diletakkan ke posisinya dengan
beberapa baut pemasangan yang dapat ditinggalkan atau dibuka kembali
setelah dilas.

Keuntungan lain sambungan lewatan adalah mudah digunakan untuk


menyambung plat yang tebalnya berlainan.
3) Sambungan Tegak
Jenis sambungan ini dipakai untuk membuat penampang bentukan (built-up)
seperti profil T, profil 1, gelagar plat (plat girder), pengaku tumpuan atau
penguat samping (bearing stiffener), penggantung, konsol (bracket). Umumnya
potongan yang disambung membentuk sudut tegak lurus seperti pada Gambar
6.16(c). Jenis sambungan ini terutama bermanfaat dalam pembuatan penampang
yang dibentuk dari plat datar yang disambung dengan las sudut maupun las
tumpul.
4) Sambungan Sudut
Sambungan sudut dipakai terutama untuk membuat penampang berbentuk boks
segi empat seperti yang digunakan untuk kolom dan balok yang memikul
momen puntir yang besar.
5) Sambungan Sisi
Sambungan sisi umumnya tidak struktural tetapi paling sering dipakai untuk
menjaga agar dua atau lebih plat tetap pada bidang tertentu atau untuk
mempertahankan kesejajaran (alignment) awal.
Seperti yang dapat disimpulkan dari pembahasan di muka, variasi dan
kombinasi kelima jenis sambungan las dasar sebenarriya sangat banyak. Karena
biasanya terdapat lebih dari satu cara untuk menyambung sebuah batang
struktural dengan lainnya, perencana harus dapat memilih sambungan (atau
kombinasi sambungan) terbaik dalam setiap persoal.
3.3 Keuntungan Sambungan Las
Keuntungan Sambungan Las Listrik dibanding dengan Paku keling / Baut :
a. Pertemuan baja pada sambungan dapat melumer bersama elektrode las dan
menyatu dengan lebih kokoh (lebih sempurna).
b. Konstruksi sambungan memiliki bentuk lebih rapi.
c. Konstruksi baja dengan sambungan las memiliki berat lebih ringan.
d. Dengan las berat sambungan hanya berkisar 1 1,5% dari berat
konstruksi, sedangkan dengan paku keling / baut berkisar 2,5 4% dari
berat konstruksi.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

21

ELEMEN MESIN I 2016


e. Pengerjaan konstruksi relatif lebih cepat (tak perlu membuat lubang lubang
pk/baut, tak perlu memasang potongan baja siku / pelat penyambung, dan
sebagainya ).
f. Luas penampang batang baja tetap utuh karena tidak dilubangi, sehingga
kekuatannya utuh.

3.4 Kerugian Sambungan Las


a. Kekuatan sambungan las sangat dipengaruhi oleh kualitas pengelasan.
Jika pengelasannya baik maka kekuatan sambungan akan baik, tetapi
jika pengelasannya jelek/tidak sempurna maka kekuatan konstruksi juga
tidak baik bahkan membahayakan dan dapat berakibat fatal. Salah satu
sambungan las cacat lambat laun akan merembet rusaknya sambungan
yang lain dan akhirnya bangunan dapat runtuh yang menyebabkan
kerugian materi yang tidak sedikit bahkan juga korban jiwa. Oleh karena
itu untuk konstruksi bangunan berat seperti jembatan jalan raya / kereta
api di Indonesia tidak diijinkan menggunakan sambungan las.
b. Konstruksi sambungan tak dapat dibongkar-pasang.
3.5 Perhitungan Sambungan Las
Kekuatan sambungan las dapat diperiksa atau dihitung kekuatannya berdasarkan
atas :

Kekuatan tarik
Kekuatan geser

Untuk menentukan kekuatan sambungan las terhadap kekuatan tarik yaitu


dengan cara menghitung sambungan las terhadap tegangan tarik yang terjadi,
Tegangan tarik pada sambungan las yaitu gaya tarik tiap satuan luas penampang
las . Jika gaya tarik pada sambungan las F [N] dan luas penampangnya adalah A
[mm2] maka tegangan tarik pada sambungan las tersebut adalah :

1) Tegangan Tarik pada Alas Tumpul

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

22

ELEMEN MESIN I 2016

Las Tumpul
Jika ukuran panjang las-tumpul L [mm] dan tebal pelat s [mm] , maka luas
penampangnya adalah :
A = L X s [mm2]
2) Tegangan Tarik pada Las Tumpang
Jika pelat yang dilas mempunyai ukuran tebal s [mm] dan panjang las L [mm]
disambung dengan las tumpang , kemudian sambungan tersebut mendapatkan
beban tarik , maka besarnya tegangan tarik yang terjadi pada las tumpang
adalah sebagai berikut : Keterangan :

3) Tegangan Geser pada Las Sisi


Jika suatu pelat disambung dengan las tumpang dua sisi dan kedua pelat
tersebut mendapatkan gaya tarik yang menyebabkan tegangan geser pada kedua
sambungan lasnya . Besarnya tegangan geser pada sambungan las sisi tersebut
adalah :
T g = Tegangan geser dalam satuan N/mm2 .
F = Beban pada sambungan [N] S = Tebal plat atau bilah dalam satuan mm
L = Panjang lasan [mm]
4) Pengelasan pada Poros yang mendapat Beban Puntir

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

23

ELEMEN MESIN I 2016

Tegangan geser pada las poros


Tegangan geser pada lasan
Gaya F merupakan gaya keliling yang dapat dihitung dengan menggunakan

persamaan:
Keterangan :
T g = Tegangan geser dalam satuan N/mm2 .
d = Diameter poros dalam satuan mm
h = Tinggi lasan [mm] F = Gaya keliling dalam satuan [N]

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

24

ELEMEN MESIN I 2016


BAB 4 SAMBUNGAN ULIR (SCREW JOINED)
4.1 Definisi Sambungan Ulir
Sambungan ulir adalah sambungan yang menggunakan kontruksi ulir untuk
mengikat dua atau lebih komponen permesinan. Sambungan Ulir merupakan
jenis dari sambungan semi permanent (dapat dibongkar pasang). Sambungan
ulir terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu baut (Inggris=Bolt) dimana memiliki ulir di
bagian luar dan Mur (Inggris = Nut) dimana memiliki ulir di bagian dalam.
Sambungan Ulir digunakan pada sambungan yang tidak permanen.
4.2 Fungsi Sambungan Ulir
Dilihat dari kontruksi yang memiliki ulir (yang dapat di bongkar pasang)
sambungan ulir memiliki fungsi teknis utama, yaitu:
Digunakan pada bagian mesin yang memerlukan sambungan dan
pelepasan tanpa merusak bagian mesin.
Untuk memegang dan penyesuaian dalam perakitan atau perawatan.

4.3 Keuntungan dan Kerugian Sambungan Ulir


Ditinjau dari sisi teknik sambungan ulir memiliki keuntungan dan kerugian
sebagai berikut;
Keuntungan Sambungan Ulir
1. Mempunyai reliabilitas (kehandalan) tinggi dalam operasi.
2. Sesuai untuk perakitan dan pelepasan komponen.
3. Suatu lingkup yang luas dari sambungan baut diperlukan untuk beberapa

kondisi operasi.
4. Lebih murah untuk diproduksi dan lebih efisien.

Kerugian Sambungan Ulir

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

25

ELEMEN MESIN I 2016


Konsentrasi tegangan pada bagian ulir yg tidak mampu menahan berbagai
kondisi beban

4.4 kelas Ulir


Ukuran ulir uar dinyatakan dengan diameter luar, diameter efektif ( diameter
dimana tebal profil dan tebal alur dalam arah sumbu adalah sama ), dan
diameter inti. Untuk ulir dalam, ukuran tersebut dinyatakan dengan diameter
efektif , ukuran pembatas yang diizinkan, dan toleransi.
Atas dasar besarnya toleransi, ditetapkan kelas ketelitian Sebagai berikut :
Untuk ulir metris : kelas 1,2 dan 3. Untuk ulir UNC, UNF UNEF : kelas 3A,
2A, dan 1A, untuk ulir luar. Kelas 3B, 2B, dan 1B untuk ulir dalam.
Perlu diterangkan bahwa ketelitian tertinggi dalam standar JTS adalah kelas 1,
dan dalam standar amerika adalah 3A atau 3B .
Patokan yang dipakai untuk pemilihan kelas adalah Sebagai berikut :
Kelas teliti ( kelas 1 dalam JTS ) untuk ulir teliti
Kelas sedang ( kelas 2 dalam JTS ) untuk pemakaian umum .
Kelas kasar ( kelas 3 dalam JTS ) untuk ulir yang sukar dikerjakan,
Misalnya ulir dalam dari Lubang yang panjang

4.5 Istilah dalam Sambungan Ulir


Istilah-istilah dalam ulir terlihat pada gambar di bawah ini :
Major diameter
Diameter terbesar pada bagian ulir luar
atau bagian ulir dalam dari sebuah
sekrup. Sekrup ditentukan oleh
diameter ini, juga disebut diameter luar
atau diameter nominal.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

26

ELEMEN MESIN I 2016

Minor diameter
Bagian terkecil dari bagian ulir dalam atau bagian ulir luar, disebut juga sebagai
core atau diameter root.

Pitch diameter
Disebut juga diameter efektif, merupakan
bagian yang berhubungan antara baut dan
mur.

Gambar 6.1 Model ulir

Pitch
Jarak dari satu ujung ulir ke ujung ulir berikutnya. Juga dapat diartikan jarak
yang ditempuh ulir dalam satu kali putaran.
Crest adalah permukaan atas ulir
Depth of thread adalah jarak tegak lurus antara permukaan luar dan
dalam dari ulir.
Flank adalah permukaan ulir
Angle of thread adalah sudut yang terbentuk dari ulir
Slope Ini adalah setengah pitch
4.6 Jenisjenis dan Bentuk Ulir
a). British standard whitworth (BSW)
threat
Mata Ulir berbentuk segitiga.
Aplikasi : untuk menahan vibrasi,
automobile

Gambar 6.2 Ulir whitworth

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

27

ELEMEN MESIN I 2016

b). British Association (BA) threat


Mata Ulir berbentuk segitiga dengan puncak
tumpul
Aplikasi : Untuk mengulir pekerjaan yang
presisi.

Gambar 6.3 Ulir British Association

c). American national standard thread.


Standar nasional Amerika dimana memiliki
puncak datar.
Ulir ini digunakan untuk tujuan umum misalnya
pada baut, mur, dan sekrup.

Gambar 6.4 Ulir American standard

d). Unified standard thread.


Tiga negara yakni, Inggris, Kanada dan
Amerika Serikat melakukan perjanjian untuk
sistem ulir sekrup yang sama yaitu dengan
sudut termasuk 60, dalam rangka
memfasilitasi pertukaran mesin. Ulir ini
memiliki puncak dan akar yang bulat, seperti
Gambar 6.5 Ulir Unifed standard

ditunjukkan pada Gambar.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

28

ELEMEN MESIN I 2016


e). Square threat
Mata Ulir berbentuk Segiempat. Aplikasi : power
transmisi, machine tools, valves.

Gambar 6.6 Ulir Square(segi empat)

f). Acme threat


Mata Ulir berbentuk Trapesium
Aplikasi : cutting lathe, brass valves.

Gambar 6.7 Ulir acme(trapesium)

g). Knuckle threat


Mata ulir berbentu bulat, merupakan modifikasi
dari ulir persegi. Ulir ini digunakan untuk
pekerjaan

kasar,

biasanya

ditemukan

di

sambungan gerbong kereta api, dan botol kaca.

Gambar 6.8 ulir knuckle(ulir bulat)

h). Ulir Metrics


Merupakan ulir standar India dan
mirip

dengan

ulir

BSW.

Ini

memiliki sudut 60 . Profil dasar


ulir ditunjukkan pada Gambar.
Samping atas dan profil desain mur
dan

baut

ditunjukkan

pada

Gambar.bawah.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

29

ELEMEN MESIN I 2016

Gambar 6.9 Ulir metrics

4.7 Tipe Umum Penyambungan Ulir


1. Through bolt
Merupakan jenis penyambungan yang digunakan
untuk menyambung dua bagian atau lebih dengan
cara dijepit menggunakan mur dan baut. Lubang
aterial yang akan disambung harus sesuai dengan
ukutan baut sehingga beban yang dapat ditahan oleh
baut dapat maksimal.
Gambar 6.10 Through bolt

2. Tap Bolt
Merupakan jenis penyambungan dua buah material
atau lebih dimana salah satu ujung mur mengikat
pada material dan ujung lainnya diikat dengan baut,
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6.11

Gambar 6.11 Tap bolt

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

30

ELEMEN MESIN I 2016

3. Studs
Merupakan jenis penyambungan dua buah material atau
lebih dimana mur diikat langsung pada material, seperti
ditunjukkan pada Gambar. 6.12.

Gambar 6.12 Studs bold

4. Macam-macam bentuk kepala mur dan baut ditunjukkan pada gambar

Gambar 6.13 Macam-macam bentuk


kepala mur dan baut

4.8 Penguncian Mur / Baut


Umumnya mur dan baut akan tetap kencang di bawah beban statis, tapi banyak
ikatan mur dan baut menjadi longgar di bawah beban variabel atau ketika mesin
mengalami getaran. Mengendurnya baut/mur ini sangat berbahaya dan harus
dicegah. Untuk mencegah hal ini, sejumlah besar metode penguncian perangkat
telah diterapkan, beberapa di antaranya adalah :
1) Jam nut or lock nut.
Perangkat penguncian yang
paling umum adalah mengunci
mur. Metode ini menggunakan
dua buah mur dimana mur
bagian atas adalah sebagai
penguncinya. Seperti
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

Gambar 6.14 Lock nut

31

ELEMEN MESIN I 2016


ditunjukkan pada gambar 6.14.
2) Castle nut.
Mur berbentuk heksagonal dengan bagian atas
berbentuk silinder yang memiliki slot, seperti
ditunjukkan pada Gambar. 6.15. Pin melewati
dua slot pada mur dan sebuah lubang pada baut,
biasanya digunakan pada kondisi yang tiba-tiba
mengalami guncangan dan getaran yang cukup
besar seperti di industri otomotif.
Gambar 6.15 Castle nut

3) Sawn nut.
Memiliki

slot

setengah

mur,

seperti

ditunjukkan pada Gambar. 6.16 dimana mur


diperkuat

dengan

sekrup

kecil

yang

menghasilkan lebih banyak gesekan antara


mur

dan

baut.

Hal

ini

mencegah

mengendurnya mur.
Gambar 6.16 Sawn nut

4) Locking with pin.


Mur dapat dikunci dengan menggunakan pin atau pasak lancip melewati tengah
mur seperti ditunjukkan pada Gambar. 6.17(a). Tapi pin juga sering digunakan
diatas dari mur, yaitu dimasukkan pada lubang baut, seperti ditunjukkan pada
Gambar. 6.17(b)

Gambar 6.17 a Locking with pin

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

Gambar 6.17 b Locking with pin

32

ELEMEN MESIN I 2016

5) Locking with plate.


Mur bisa disesuaikan dan kemudian dikunci melalui
interval sudut 30 dengan menggunakan plat. Plat
penguncian ditunjukkan pada Gambar. 6.18.

Gambar 6.18 Locking with plate

6) Spring lock washer


Mur dapat dikunci dengan menggunakan pegas
cincin yang pipih, pegas dapat meningkatkan
ketahanan sehingga mur tidak mudah untuk
mengendur seperti ditunjukkan pada Gambar. 6.19.

Gambar 6.19 Spring lock washer

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

33

ELEMEN MESIN I 2016

Standard Dimensions of Screw Threads

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

34

ELEMEN MESIN I 2016

Tabel 6.1 Standard ukuran ulir


4.9 Bahan ulir
Penggolongan ulir menurut kekuatannya distandarkan dalam JTS seperti
diperlihatkan dalam Tabel 1.3. arti dari bilangan kekuatan untuk baut dalam
tabel tersebut adalah sbb : angka sebelah kiri tanda titik adalah 1/10 harga
minimum kekuatan tarik b ( kg /mm) dan sebelah kanan titik adalah 1/10
( / ) Untuk mur , bilangan yang bersangkutan menyatakan 1/10 tegangan
beban jaminan.

4.10 Langkah-langkah Perencanaan Ulir Baut dan Mur


1. Diameter Ulir, d
(mm)
t =

W
A

W
( / 4)d1

Untuk diameter baut yang mempunyai diameter 3 mm, umumnya besar


diameter d1 0,8 d, sehingga (d1/d) = (0,8 d/d) = 0,64 0,64
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

35

ELEMEN MESIN I 2016


t =

W
a, sehingga
( / 4)(0,8d )2
4W
ax 0,64

2W
a

atau

(mm)

Dimana : Wo = Beban tarik aksial pada baut (kg)


W = Beban rencana = Wo . fc
(kg)
Wo = Beban murni
(kg)
Fc = Faktor koreksi beban
Tabel. Faktor koreksi gaya/beban yang akan
ditransmisikan/dipindahkan/diteruskan,fc
Daya/Beban yang akan ditransmisikan

fc

Daya/beban rata-rata yang diperlukan


Daya/beban maksimum yang
diperlukan
Daya/beban normal yang diperlukan

1,2 - 2,0
0,8 - 1,2
1,0 - 1,5

a = Tegangan tarik aksial yang diizinkan (kg/mm)

2. Tekanan Kontak pada permukaan ulir yang terjadi, q


q=

W
qa
( .d 2.h.z )

(kg/mm)

(kg/mm)

Dimana : d2 = Diameter lingkaran jarak bagi ulir


(mm)
h = Tinggi ulir (mm)
z = Jumlah lilitan ulir (buah)
z W / (d2.h.qa)
(buah)
qa = Tekanan kontak permukaan yang diizinkan (kg/mm)
qa dapat dilihat pada Tabel 7.4 Tekanan permukaan yang
diizinkan pada ulir.

3. Tinggi mur, H

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

36

ELEMEN MESIN I 2016


H = z . p (mm)
Dimana : p = kisar (jarak puncak ulir yang satu ke puncak ulir yang
berikutnya)
(mm)
Menurut standar : H = (0,8 1,0) d (mm)
4. Tegangan geser yang terjadi pada ulir baut, b
b =

W
.d1.k . p.z

(kg/mm)

(kg/mm)

Dimana : d1 = Diameter dalam ulir baut


(mm)
k.p = Tebal akar ulir baut (mm)
k 0,84 (untuk ulir metris)
5. Tegangan geser yang terjadi pada mur, n
n =

(kg/mm)

W
(kg/mm)
.D. j. p.z

Dimana : D = Diameter luar mur


j. p = Tebal akar ulir mur
j
0,75

(mm)
(mm)

6. Pemeriksaan Tegangan
Tegangan geser yang terjadi baik pada ulir baut maupun pada ulir mur harus
lebih kecil dari tegangan geser yang diizinkzn, a
(kg/mm)
b, n < a
(aman / dapat dipakai)
Dimana :
Untuk bahan baja liat kadar karbon 0,2 0,3 (%) yang difinis tinggi adalah
a = 6 (kg/mm)
Untuk bahan baja liat kadar karbon 0,2 0,3 (%) yang difinis biasa adalah a
= 4,8
(kg/mm)
LATIHAN PERHITUNGAN
Rencanakan ulir baut dan mur untuk sebuah kait dengan beban tarik 5 ton
dengan faktor koreksi daya beban 1,2. Bahan ulir dan mur terbuat dari baja liat
difinis tinggi yang memiliki tegangan tarik 40 kg/mm 2 .

Penyelesaian :
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

37

ELEMEN MESIN I 2016


Diketahui

: Wo = 5 ton = 5000 kg
Fc = 1,2
B = 40 kg/mm 2

Ditanya

: 1. Diameter ulir dan mur, d (mm)


2. Jumlah lilitan ulir mur yang diperlukan, z

(buah)

3. Tinggi mur (mm)


4. Tegangan geser ulir baut dan mur, b/ n
5. Pemeriksaan tegangan b dan n < a
Jawab

: 1. Diameter ulir dan mur, d


d=

(kg/mm

( harus a aman)

(mm)

(mm)

Dimana : W = beban tarik aksial = Wo . fc = 5000 . 1,2 = 6000 kg


a = Tengangan tarik izin (kg/mm 2 )
Berdasarkan penjelasan hal. 297 untuk bahan baja liat difinis tinggi = 6 kg/mm 2
d=

2000 = 44,741 mm. Ditentukan d = 45 mm.

Berdasarkan Tabel 7.1 (b) Ukuran standar ulir kasar metris (JIS B 0205) hal.
290 untuk Diameter luar ulir, d = 45 mm, adalah :
- Diameter dalam ulir, d1 = 40, 129 mm
- Jarak bagi ulir atau kisar, p = 4,5 mm.

2.

Jumlah ulir mur yang diperlukan, z (buah)


Z=

W
(buah)
.d 2.h.qa

Dimana : phi, = 3,14


d2 = diameter lingkaran jarak bagi ulir =
h = Tinggi kepala ulir =

d d1
=
2

d d1
=
2

45 40,129
= 42,565 mm
2

45 40,129
= 2, 436 mm.
2

qa = Tekanan kontak permukaan ulir yang diizinkan


Berdasarkan Tabel 7.4 Tekanan permukaan yang diizinkan pada ulir
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

38

ELEMEN MESIN I 2016


Tekanan kontak izin bahan baja liat untuk pengikat, qa = 3 kg/mm 2
Z=

W
6000
6000
=
=
= 6,144 (buah) = 6 buah
.d 2.h.qa
3,14.42,565 .2,436 .3
976,532

3. Tinggi/lebar mur, H
H = z . p = 6 . 4,5 = 27 mm
Menurut Standar : H = (0,8 1,0) d, halaman 297 poin (7.7), tinggi/lebar mur
adalah
- Minimun, H = 0,8 . d = 0,8 . 45 = 36 mm
- Maksimun, H = 1,0 . d = 1,0 . 45 = 45 mm
- Jumlah ulir minimun, z min. = z/p = 36/4,5 =8 buah
- Jumlah ulir maksimun, z mak = z/p = 45/4,5 = 10 buah
4. Tegangan geser yang terjadi pada ulir luar atau baut, b (kg/mm 2 )
b =

W
.d 1.k . p.z

(kg/mm )

Dimana : k = Tebal akar kulit luar ulir


Berdasarkan penjelasan hal. 297 poin (7.9), k 0,84 dan j = 0,75
b =

6000
6000
=
3,14 .40,129 .0,84 .4,5.10 4762 ,99

= 1,26 (kg/mm )

5. Tegangan geser yang terjadi pada ulir dalam atau mur, n (kg/mm 2 )
n =

W
.D. j. p.z

n =

6000
6000
=
3,14.45 .0,75 .4,5.10
4768 ,875

(kg/mm )

= 1,258 (kg/mm )

6. Pemeriksaan Tegangan b dan n < qa ( harus aman)

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

39

ELEMEN MESIN I 2016


Dari hasil perhitungan tegangan geser yang terjadi baik ulir baut, b = 1,26
(kg/mm ) dan tegangan geser yang terjadi pada ulir mur, n = 1,258 kg/mm
2

ternyata tidak melebihi dari tegangan geser yang diizinkan, a = 6 kg/mm

(Aman dapat digunakan)


b = 1,26 kg/mm dan n = 1,258 kg/mm < a = 6 kg/mm
2

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

40

ELEMEN MESIN I 2016


BAB 5 SAMBUNGAN KELING
5.1 Pengertian
Paku keling / rivet adalah salah satu metode penyambungan yang
sederhana. sambungan keling umumnya diterapkan pada jembatan, bangunan,
ketel, tangki, kapal Dan pesawat terbang. Penggunaan metode penyambungan
dengan paku keling ini juga sangat baik digunakan untuk penyambungan pelatpelat alumnium. Pengembangan Penggunaan rivet dewasa ini umumnya
digunakan untuk pelat-pelat yang sukar dilas dan dipatri dengan ukuran yang
relatif kecil. Setiap bentuk kepala rivet ini mempunyai kegunaan tersendiri,
masing masing jenis mempunyai kekhususan dalam penggunaannya.
Sambungan dengan paku keling ini umumnya bersifat permanent dan sulit
untuk melepaskannya karena pada bagian ujung pangkalnya lebih besar
daripada batang paku kelingnya.
Bagian utama paku keling adalah :
1. Kepala
2. Badan
3. Ekor
4. Kepala lepas
Bahan paku keling
Yang biasa digunakan antara lain adalah baja, brass, aluminium, dan
tembaga tergantung jenis sambungan/ beban yang diterima oleh sambungan.
Penggunaan umum bidang mesin : ductile (low carbor), steel, wrought iron.
Penggunaan khusus : weight, corrosion, or material constraints apply :
copper (+alloys) aluminium (+alloys), monel, dll
5.2 Penggunaan Paku Keling
Pemakaian paku keling ini digunakan untuk :
Sambungan kuat dan rapat, pada konstruksi boiler ( boiler, tangki dan
pipa-pipa tekanan tinggi ).
Sambungan kuat, pada konstruksi baja (bangunan, jembatan dan crane ).
Sambungan rapat, pada tabung dan tangki ( tabung pendek, cerobong,
pipa-pipa tekanan).
Sambungan pengikat, untuk penutup chasis ( misalnya ; pesawat terbang,
kapal).
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

41

ELEMEN MESIN I 2016

5.3 Keuntungan dan Kelemahan


a. Keuntungan
Sambungan paku keling ini dibandingkan dengan sambungan las
mempunyai keuntungan yaitu :
Bahwa tidak ada perubahan struktur dari logam disambung. Oleh
karena itu banyak dipakai pada pembebanan-pembebanan dinamis.
Sambungan keling lebih sederhana dan murah untuk dibuat.
Pemeriksaannya lebih mudah
Sambungan keling dapat dibuka dengan memotong kepala dari paku
keling tersebut
b. Kelemahan
Hanya satu kelemahan bahwa ada pekerjaan mula berupa pengeboran
lubang paku kelingnya di samping kemungkinan terjadi karat di
sekeliling lubang tadi selama paku keling dipasang. Adapun
pemasangan paku keling bisa dilakukan dengan tenaga manusia,
tenaga mesin dan bisa dengan peledak (dinamit) khususnya untuk
jenis-jenis yang besar.
Paku keling dalam ukuran yang kecil dapat digunakan untuk
menyambung dua komponen yang tidak membutuhkan kekuatan yang
besar, misalnya peralatan rumah tangga, furnitur, alat-alat elektronika,
dll
5.4 Jenis Pembebanan dalam Paku Keling
Bila dilihat dari bentuk pembebanannya, sambungan paku keling ini
dibedakan yaitu :
Pembebanan tangensial dan Pembebanan eksentrik.
PEMBEBANAN TANGENSIAL
Pada jenis pembebanan tangensial ini, gaya yang bekerja
terletak pada garis kerja resultannya, sehingga pembebanannya
terdistribusi secara merata kesetiap paku keling yang digunakan.
PEMBEBANAN EKSENTRIK

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

42

ELEMEN MESIN I 2016

5.5 Jenis Kerusakan


Tearing of the plate at ende : robek pada bagian pinggir dari plat yang
dapat terjadi jika margin (m) kurang dari 1.5 d, dengan d ialah
diameter paku keling.

Tearing of the plate a cross a row of rivets : robek pada garis sumbu
lubang paku keling dan bersilangan dengan garis gaya.

Shearing of the rivets : kerusakan sambungan paku keling karena


beban geser.

5.6 Tipe Sambungan Paku Keling


A. Berdasarkan Penyambungan Plat
Lap joint (Sambungan Berimpit) : sambungan yang menempatkan
pelat yang akan disambung saling berimpitan dan kedua pelat tersebut
disambung dengan paku keling .
Pemasangan tipe lap joint biasanya digunakan pada plat yang overlaps
satu dengan yang lainnya..

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

43

ELEMEN MESIN I 2016


Butt joint (Sambungan Bilah): sambungan yang menempatkan
kedua ujung pelat yang akan disambung saling berdekatan, lalu kedua
pelat tersebut ditutup dengan bilah (strap), kemudian masing-masing
pelat disambungkan dengan bilah menggunakan paku keling
Digunakan untuk menyambung dua plat utama, dengan menjepit
menggunakan 2 plat lain, sebagai penahan (cover), dimana plat
penahan ikut dikeling dengan plat utama. Tipe ini meliputi single strap
butt joint dan double strap butt joint

B. Berdasarkan Jumlah Baris


Sambungan baris tunggal (single riveted joint)
Pada sambungan berimpit, sambungan baris tunggal adalah
sambungan yang menggunakan satu baris paku keeling pada sistem
sambungan. Sedangkan pada sambungan bilah, sambungan baris
tunggal adalah sambungan yang menggunakan satu baris paku pada
masing-masing sisi sambungan.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

44

ELEMEN MESIN I 2016

Sambungan baris ganda (double riveted lap joint)


Pada sambungan berimpit, sambungan baris ganda adalah sambungan
yang menggunakan dua baris paku keling pada sistem sambungan.
Sedangkan pada sambungan bilah, sambungan baris ganda adalah
sambungan yang menggunakan dua baris paku pada masing-masing
sisi sambungan

C. Berdasarkan Susunan Paku


Sambungan Rantai
Sambungan Zig - Zag

5.7 Desain Teknis Keling


Pitch: Jarak dari pusat satu keling ke pusat keling lainnya yang sejajar,
dinotasikan dengan p.
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

45

ELEMEN MESIN I 2016


Diagonal Pitch: Jarak antara pusat keling pada baris berikutnya dari
sambungan keling zig-zag
Back Pitch: Jarak tegak lurus diantara garis pusat dari baris berikutnya,
donotasikan dengan ps.
Margin: Merupakan jarak antara pusat dari lubang keling dengan tepi dari
pelat, notasi m.
5.8 Perhitungan Dalam Paku Keling
Perhitungan Kekuatan
- Area Sobekan per Panjang Pitch
- Ketahanan sobek per panjang pitch
Dimana :
p = pitch dari keling
d = diameter keling
t = ketebalan plat
ft = tegangan tarik yg diijinkan dari bahan plat
Pergeseran Pada Keling
- Area geser per keling / Luas Penampang

- Tegangan Geser

Sehingga

- Diameter paku Keling

- Ketahanan geser keling per panjang pitch

Patah (Crush) Pada Keling


UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

46

ELEMEN MESIN I 2016


- Area patah per rivet
- Total area patah
- Ketahanan patah keling per panjang pitch
Dimana :
n : jumlah keling per panjang pitch
fc : tegangan patah yg diijinkan bahan keeling
Efisiensi Sambungan Keling
- Strength of The Riveted Joint ( Pt, Ps, Pc )
- Strength of Plate, P = p x t x ft
- Efisiensi Sambungan

EFISIENSI SAMBUNGAN
Lap Joint

Effisiensi

But joint (D
strap)

Effisiensi

Single

45 60

Single

55 60

Double

63 70

Double

70 83

Triple

72 80

Triple

80 90

Quadruple

85 94

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

47

ELEMEN MESIN I 2016


BAB 6 POROS (SHAF)
6.1 Definisi Poros
Poros adalah suatu bagian stasioner yang berputar, biasanya berpenampang
bulat diameter pasang elemen-elemen seperti roda gigi (gear), pully, flywheel,
engkol, sprocket dan elemen pemindah lainnya. Poros bias menerima beban
lentur, beban tarikan, beban teka atau beban puntur yang bekerja sendiri-sendiri
atau berupa gabungan satu dengan lainnya.
6.2 Macam-macam Poros
1. Jenis-Jenis Poros
Poros sebagai penerus daya diklasifikasikan menurut pembebanannya
sebagai berikut:
a. Poros Transmisi
Poros Transmisi (transmission shaft) atau sering hanya disebut
dengan

poros

(shaft)

digunakan

pada

mesin

rotasi

untuk

metransmisikan putaran dan rotasi dari satu lokasi kelokasi yang


lainnya. Poros mentransmisikan torsi dan driver (motor atau engine) ke
driven. Komponen mesin yang sering digunakan bersamaan dengan
poros adalah roda gigi, puli dan sprocket. Transmisi torsi antar poros
dilakukan dengan pasangan roda gigi, sabuk atau rantai. Poros bisa
menjadi satu dengan driver, seperti pada poros motor dan engine crank
shaft, bisa juga poros bebas yang dihubungakan ke poros lainnya
dengan kopling. Sebagai dudukan poros, digunakan bantalan.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

48

ELEMEN MESIN I 2016

b. Poros Spindle
Poros Spindle adalah poros tranmisi yang relative pendek, seperti
poros utama mesin perkakas, dimana beban utama berupa puntiran,
disebut spindle. Syarat yang harus dipenuhi poros ini adalah
1
deformasinya yang harus kecil,
dan bentuk serta ukuran haruslah teliti.

Gambar 2. Poros Spindle

c. Gandar
Gandar adalah poros yang tidak mendapatkan beban punter, bahkan
kadang kadang tidak boleh berputar. Contohnya seperti yang terpasang
diantara roda-roda kereta barang dll.

Gandar

Gambar 3. Gandar

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

49

ELEMEN MESIN I 2016

Berdasarkan bentuknya :
a. Poros lurus
b. Poros engkol sebagai penggerak utama pada silinder mesin

Ditinjau dari segi besarnya transmisi daya yang mampu


ditransmisikan, poros merupakan elemen mesin yang cocok untuk
mentransmisikan daya yang kecil hal ini dimaksudkan agar terdapat
kebebasan bagi perubahan arah (arah momen putar).

6.3 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan pada Poros


a. Kekuatan Poros
Poros transmisi akan menerima beban puntir (twisting moment), beban
lentur (bending moment) ataupun gabungan antara beban puntir dan lentur.
Dalam perancangan poros perlu memperhatikan beberapa faktor, misalnya
:kelelahan, tumbukan dan pengaruh konsentrasi tegangan bila menggunakan
poros bertingkat ataupun penggunaan alur pasak pada poros tersebut. Poros
yang dirancang tersebut harus cukup aman untuk menahan beban-beban
tersebut.
b. Kekakuan Poros
Meskipun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup aman dalam
menahan pembebanan tetapi adanya lenturan atau defleksi yang terlalu besar
akan mengakibatkan ketidak telitian (padamesinperkakas), getaran mesin
(vibration) dansuara (noise). Oleh karena itu disamping memperhatikan
kekuatan poros, kekakuan poros juga harus diperhatikan dan disesuaikan
dengan jenis mesin yang akan ditransmisikan dayanya dengan poros tersebut.
c. Putaran Kritis
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

50

ELEMEN MESIN I 2016


Bila putaran mesin dinaikkan maka akan menimbulkan getaran (vibration)
pada mesin tersebut. Batas antara putaran mesin yang mempunyai jumlah
putaran normal dengan putaran mesin yang menimbulkan getaran yang
tinggi disebut putaran kritis. Hal ini dapat terjadi pada turbin, motor
bakar ,motor listrik , dll. Selain itu, timbulnya getaran yang tinggi dapat
mengakibatkan kerusakan pada poros dan bagian-bagian lainnya. Jadi dalam
perancangan poros perlu mempertimbangkan putaran kerja dari poros tersebut
agar lebih rendah dari putaran kritisnya.
d. Korosi
Apabila terjadi kontak langsung antara poros dengan fluida korosif maka
dapat mengakibatkan korosi pada poros tersebut, misalnya propeller shaft pada
pompa air. Oleh karena itu pemilihan bahan-bahan poros (plastik) dari bahan
yang tahan korosi perlu mendapat prioritas utama.
e. Material Poros
Poros yang biasa digunakan untuk putaran tinggi dan beban yang berat pada
umumnya dibuat dari baja paduan (alloy steel) dengan proses pengerasan kulit
(case hardening) sehingga tahan terhadap keausan. Beberapa diantaranya
adalah baja khrom, baja khrom nikel, baja khrom molibden, baja khrom nikel
molebdenum, dll. Sekalipun demikian, baja paduan khusus tidak selalu
dianjurkan jika alasannya hanya karena putaran tinggi dan pembebanan yang
berat saja. Dengan demikian perlu dipertimbangkan dalam pemilihan jenis
proses heat treatment yang tepat sehingga akan diperoleh kekuatan yang sesuai.

6.4 Perancangan Poros


Tegangan dan defleksi adalah parameter yang harus diperhatikan pada
perancangan poros. Defleksi sering menjadi parameter kritis, karena defleksi
yang besar akan mempercepat keausan bantalan dan mengakibatkan terjadinya
misalignment pada roda gigi, sabuk dan rantai. Tegangan pada poros bisa
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

51

ELEMEN MESIN I 2016


dihitung hanya pada posisi tertentu yang ditinjau dengan mengetahui beban dan
penampang poros. Tetapi, untuk menghitung defleksi yang terjadi, harus
diketahui terlebih dahulu geometri seluruh bagian poros. Sehingga dalam
merancang poros, pertama kali yang dilakukan adalah berdasar tegangan yang
terjadi, baru kemudian menghitung defleksi berdasar geometri yang telah
ditentukan. Perancangan poros juga dipengaruhi hubungan frekuensi pribadi
poros (pada pembebanan bending dan torsi) terhadap frekuensi pembebanan
terhadap waktu. Jika frekuensi pembebanan mendekati frekuensi pribadi poros,
akan terjadi resonansi, sehingga timbul getaran, tegangan dan defleksi yang
besar.

1. Aturan umum perancangan poros :


a. Untuk meminimalisasi defleksi dan tegangan, poros diusahakan sependek
mungkin dan meminimalisasi keadaan overhang,
b. Sebisa

mungkin

menghindari

susunan

batang

kantilever,

dan

mengusahakan tumpuan sederhana, kecuali karena tuntutan perancangan.


Hal ini karena batang kantilever akan terdefleksi lebih besar,
c. Poros berlubang mempunyai perbandingan kekakuan dengan massa
(kekakuan spesifik) lebih baik dan frekuensi pribadi lebih besar dari pada
poros pejal, tetapi harganya akan lebih mahal dan diameter akan lebih
besar,
d. Usahakan menghindarkan kenaikan tegangan pada lokasi momen bending
yang besar jika memungkinkan dan meminimalisasi efeknya dengan cara
menambahkan fillet dan relief.
e. Jika tujuan utamanya adalah meminimalisasi defleksi, baja karbon rendah
baik untuk digunakan karena kekakuannya setinggi baja dengan harga

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

52

ELEMEN MESIN I 2016


yang lebih murah dan pada poros yang dirancang untuk defleksi, tegangan
yang terjadi cenderung kecil,
f. Defleksi pada roda gigi yang terpasang pada pada poros tidak boleh
melebihi 0.005 inch dan slope relatif antar sumbu roda gigi harus kurang
dari 0.03.
g. Jika digunakan plain bearing, defleksi poros pada arah sepanjang bantalan
harus kurang dari tebal lapisan oli pada bantalan,
h. Jika digunakan non-self-alligning rolling element bearing, defleksi sudut
poros pada bantalan harus dijaga kurang dari 0.04,
i. Jika terjadi gaya aksial, harus digunakan paling tidak sebuah thrust bearing
untuk setiap arah gayanya. Jangan membagi gaya aksial pada beberapa
thrust bearing karena ekspansi termal pada poros akan mengakibatkan
overload pada bantalan.
j. Frekuensi pribadi pertama poros minimal tiga kali frekuensi tertinggi
ketika gaya terbesar yang diharapkan terjadi pada saat operasi. Semakin
besar akan semakin baik, tetapi akan semakin sulit untuk dicapai.
6.5 Perhitungan Diameter Poros
Dalam perhitungan diameter poros ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
yakni faktor koreksi yang dianjurkan ASME dan juga dipakai disini. Faktor
koreksi akibat terjadinya tumbukan yang dinyatakan dengan Kt, jika beban
dikenakan beban secara halus, maka dipilih sebesar 1,0. Jika terjadi sedikit
kejutan atau tumbukan, maka dipilih sebesar 1,0-1,5. Jika beban dikenakan
dengan kejutan atau tumbukan besar, maka dipilih sebesar 1,5-3,0. Dalam hal
ini harga Kt diambil sebesar 3 karena cangkang terhisap langsung kedalam
mesin fan sehingga mendapatkan beban kejut atau tumbukan yang besar secara
tiba-tiba. Meskipun dalam perkiraan sementara ditetapkan bahwa beban hanya
terdiri atas momen puntir saja, perlu ditinjau pula apakah ada kemungkinan
pemakaian dengan beban lentur. Dimana untuk perkiraan sementara ditetapkan
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

53

ELEMEN MESIN I 2016


bahwa beban hanya terjadi karena momen puntir saja dengan harga diantara 1,22,3 (jika diperkirakan tidak akan terjadi pembebanan lentur maka Cb diambil
1,0), dalam perencanaan diambil faktor koreksinya sebesar 1,2. Maka rumus
untuk merencanakan diameter poros ds diproleh:

dimana :

ds = diameter poros yang direncanakan (mm)


a

= kekuatan tarik bahan (kg/mm2) a

Kt = faktor koreksi untuk kemungkinan terjadinya


tumbukan
Cb = faktor koreksi untuk kemungkinan terjadinya
beban
lentur.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

54

ELEMEN MESIN I 2016


a. Pembebanan Tetap (constant loads)
1) Poros yang hanya terdapat momen puntir saja.
Untuk menghitung diameter poros yang hanya
terdapat momen puntir saja (twisting moment only) dapat
diperoleh dari persamaan berikut :

Dimana :

T = Momen puntir pada poros


r = Jari jari poros
J = Momen Inersia Polar

Selain dengan persamaan diatas, besarnya momen


puntir pada poros (twisting moment) juga dapat diperoleh
dari hubungan persamaan dengan variable-variable lainnya,
misalnya :
a) Daya yang ditransmisikan

buk penggerak (belt drive) : T = (T1 T2) x R


dimana T1 = tarikan yang terjadi pada sisi kencang
T2 = tarikan yang terjadi pada sisi kendor
R = jari-jari pulley
2) Poros yang hanya terdapat momen lentur saja.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

55

ELEMEN MESIN I 2016


Untuk menghitung diameter poros yang hanya
terdapat momen lentur saja (bending moment only), dapat
diperoleh dari persamaan berikut :

dimana :

M = Momen lentur pada poros


I = Momen Inersia
y = jari-jari poros
= Bending stress

Untuk poros yang berbentuk bulat padat besarnya

momen Inersia dirumuskan :

3) Poros dengan kombinasi momen lentur dan momen puntir.


Jika pada poros tersebut terdapat kombinasi antara
momen lentur dan momen puntir maka perancangan poros
harus didasarkan pada kedua momen tersebut. Banyak teori
telah diterapkan untuk menghitung elastic failure dari
material ketika dikenai momen lentur dan momen puntir.
a) Maximum shear stress theory atau Guests theory
Teori ini digunakan untuk material yang dapat
diregangkan (ductile), misalnya baja lunak (mild steel).
b) Maximum normal stress theory atau Rankines theory
Teori ini digunakan untuk material yang keras dan
getas (brittle), misalnya besi cor (cast iron). Pada
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

56

ELEMEN MESIN I 2016


pembahasan selanjutnya, cakupan pembahasan akan
lebih terfokus pada pembahasan baja lunak (mild steel)
karena menggunakan material S45C sebagai material
poros. Terkait dengan Maximum shear stress theory atau
Guests theory bahwa besarnya maximum shear stress
pada poros dirumuskan :

Dengan mensubsitusikan ke persamaan akan diperolah :

Tegangan geser yang diizinkan untuk pemakaian umum pada poros dapat
diperoleh dari berbagai cara, salah satu cara diantaranya dengan menggunakan
perhitungan berdasarkan kelelahan puntir yang besarnya diambil 40% dari batas
kelelahan tarik yang besarnya kira-kira 45% dari kekuatan tarik. Jadi batas
kelelahan puntir adalah 18% dari kekuatan tarik, sesuai dengan standar ASME.
Untuk harga 18% ini faktor keamanan diambil sebesar . Harga 5,6 ini diambil
untuk bahan SF dengan kekuatan yang dijamin dan 6,0 untuk bahan S-C dengan
pengaruh masa dan baja paduan. Faktor ini dinyatakan dengan . Selanjutnya
perlu ditinjau apakah poros tersebut akan diberi alur pasak atau dibuat
bertangga karena pengaruh konsentrasi tegangan cukup besar. Pengaruh
kekasaran permukaan juga harus diperhatikan. Untuk memasukan pengaruh ini
kedalam perhitungan perlu diambil faktor yang dinyatakan dalam yang besarnya
1,3 sampai 3,0

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

57

ELEMEN MESIN I 2016


b. Pembebanan Berubah-ubah (fluctuating loads)
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai pembebanan
tetap (constant loads) yang terjadi pada poros. Dan pada kenyataannya bahwa
poros justru akan mengalami pembebanan puntir dan pembebanan lentur yang
berubah-ubah. Dengan mempertimbangkan jenis beban, sifat beban, dll. yang
terjadi pada poros maka ASME (American Society of Mechanical Engineers)
menganjurkan dalam perhitungan untuk menentukan diameter poros yang dapat
diterima (aman) perlu memperhitungkan pengaruh

kelelahan karena beban

berulang
Jenis Pembebanan

Km

Kt

1,0

1,0

1. Poros tetap
a. Beban perlahan
b. Beban tiba-tiba

1,5 - 2,0 1,5 2,0

2. Poros yang berputar


a. Beban perlahan ataupun tetap

1,5

1,0

b. Beban tiba-tiba kejutan ringan

1,5 2,0 1,5 2,0

c. Beban tiba-tiba kejutan berat

2,0 3,0 1,5 3,0

6.6 Daya Poros


Di stasiun Kernel pada Pabrik Kelapa Sawit, poros Depericarper Fan
akan mendapatkan daya dari boiler. Daya tersebut akan ditransmisikan dari
turbin ke poros melalui V-Belt. Daya merupakan daya nominal output dari
motor penggerak dalam hal ini turbin uap. Daya yang besar mungkin diperlukan
pada saat mulai (start), atau mungkin beban yang besar terus bekerja setelah
start. Dengan demikian sering diperlukan koreksi pada daya rata-rata yang
diperlukan dengan menggunakan faktor koreksi pada perencanaan.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

58

ELEMEN MESIN I 2016


Ada beberapa jenis faktor koreksi sesuai dengan daya yang akan
ditransmisikan sesuai dengan tabel 2.1.
Tabel 2.1 Jenis-jenis faktor koreksi berdasarkan daya yang ditransmisikan
Daya yang ditransmisikan
Daya rata-rata yang
diperlukan
Daya maksimum yang
diperlukan
Daya normal

fc
1,2 2,0
0,8 1,2
1,0 1,5

Dalam perhitungan poros ini diambil daya rata-rata sebagai daya rencana
dengan faktor koreksi sebesar fc = 2,0. Harga ini diambil dengan pertimbangan
bahwa daya yang direncanakan akan lebih besar dari daya maksimum sehingga
poros yang akan direncanakan semakin aman terhadap kegagalan akibat momen
puntir yang terlalu besar. Sehingga besar daya rencana Pd yaitu :

Dimana :

Pd = daya rencana (kW)

fc = faktor koreksi
N = daya normal keluaran motor penggerak (kW)
Dengan adanya daya dan putaran, maka poros akan mendapat beban
berupa momen puntir. Oleh karena itu dalam penentuan ukuran-ukuran utama
poros akan dihitung berdasarkan beban puntir serta kemungkinan-kemungkinan
kejutan/tumbukan dalam pembebanan, seperti pada saat motor mulai berjalan.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

59

ELEMEN MESIN I 2016


Besarnya momen puntir yang dikerjakan pada poros dapat dihitung :

Dimana :

T = momen puntir rencana (kg.mm)

Pd = daya rencana (kW)


n = putaran (rpm)
Bahan poros yang direncanakan adalah baja cor yaitu jenis baja karbon
tinggi dengan kadar C > 0,5 %. Baja karbon konstruksi mesin (disebut bahan SC) dihasilkan dari ingot yang dikil (baja yang dioksidasikan dengan ferrosilikon
dan dicor), kadar karbon terjamin. Jenis-jenis baja S-C beserta dengan kekuatan

tariknya dapat dilihat dari tabel 2.2.


Dalam perencanaan poros ini dipilih bahan jenis S30C yang
dalam perencanaannya diambil kekuatan tarik sebesar . Maka
tegangan puntir izin dari bahan dapat diperoleh dari rumus :

Dimana :
a = tegangan geser izin (kg/mm2)
b = kekuatan tarik bahan (kg/mm2)
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

60

ELEMEN MESIN I 2016


Sf1 = faktor keamanan yang bergantung kepada jenis bahan.
Sf2 = faktor keamanan yang bergantung pada bentuk poros (harga
1,3-3,0)
Sesuai dengan standar ASME, batas kelelahan puntir adalah 18% dari
kekuatan tarik, dimana untuk harga ini faktor keamanan diambil sebesar =5,6.
Harga 5,6 diambil untuk bahan SF dan 6,0 untuk bahan S-C dengan pengaruh
massa dan baja paduan. Harga Sf1 diambil 6 karena dalam perencanaan
pemilihan bahan diambil jenis S30C. Sedangakan nilai Sf2, karena poros yang
dirancang merupakan poros bertingkat, sehingga dalam perencanaannya faktor
keamanan diambil 1,4. b10,18
6.7 Pemeriksaan Kekuatan Poros
Ukuran poros yang telah direncanakan harus diuji kekuatannya.
Pengujian dilakukan dilakukan dengan memeriksa tegangan geser yang terjadi
(akibat momen puntir) yang bekerja pada poros. Apabila tegangan geser ini
melampaui tegangan geser izin yang dapat ditahan oleh bahan maka poros
mengalami kegagalan. Besar tegangan geser akibat momen puntir yang bekerja

pada poros diperoleh dari:

dimana:
p = tegangan geser akibat momen puntir ( kg/mm2 )
T = momen puntir yang terjadi (direncanakan) ( kg.mm )
ds = diameter poros ( mm )

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

61

ELEMEN MESIN I 2016


BAB 7 SAMBUNGAN PASAK

7.1 Definisi
Pasak adalah suatu komponen yang berfungsi menyambung /
menghubungkan Poros dengan komponen lain yaitu : Nat roda, roda gigi, roda
pully, kopling agar dapat berputar bersamaan dengan poros. Pada poros
sehingga terjamin tidak berputar pada poros. Pemilihan jenis pasak tergantung
pada besarnya daya yang bekerja dan kestabilan bagian-bagian yang disambung.
Untukdaya yang kecil, antara nafroda dan poros cukup dijamin dengan baut
tanam (set screw).
Dilihat cara pemasangannya, pasak dapat di bedakan yaitu :
Pasak Memanjang
Jenis pasak memanjang yang banyakdigunakan adabermacam-macam
yaitu :
Sunk Keys (pasak benam)
7.2 Macam Pasak Benam
Pasak Benam ada beberapa jenis yaitu :
a. Pasak benam segiempat (Rectangular Sunk Key)

b. Pasak Bujur Sangkar (Square Key)


Bentuknya sama seperti rectangular sunk key, tetapi lebar dan
tebalnya sama yaitu:

c. Paraller Sunk Key (pasakbenamsejajar)


UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

62

ELEMEN MESIN I 2016


Bentuknya sama seperti di atas, tapi penggunaan bila pemakaian
diatas belum mampu memindahkan daya, maka pasak tersebut di
pasang sejajar.
d. Pasak Berkepala (gib head key)
Pasak ini digunakan biasanya untuk poros berputar bolak - balik

e. Pasak Tembereng (woodruff key)


Pasak jenis ini digunakan untuk poros dengan punter/daya tidak terlalu
besar.

f. Pasak Pelana (Saddle key)


Jenis pasak ini pemakain umum untuk menjamin hubungan antara
nafroda dengan poros.

g. Tangent Key
Pemakaiannya sama dengan seperti pasak pelana, tetapi pasaknya
dipasang dua buah berimpit.

h. PasakBulat (Round Keys)


Jenis pasak ini, biasanyadigunakan untuk memindahkan daya relative
kecil.
UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

63

ELEMEN MESIN I 2016

i. Pasak Gigi (Splines)


Jenis pasak ini bahannya di buat satu bahan dengan poros dan
biasanya digunakan untuk memindahkan daya serta putaran yang
cukup besar dan arah kerja putarannya bolak-balik.

7.3 Perhitungan Panjang Pasak

Gaya tangensial (Ft) = gayageser (Fs)


Torsi yang ditransmisikanolehporos:
Gaya tangensialakibat crushing (terjadikerusakan )

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

64

ELEMEN MESIN I 2016

Torsi akibatgayageser = torsi akibat crushing

Torsi vstegangangeserpadapasak
Torsi vs torsional shear strength padapasak

Maka:

a. Panjangpasak

b. Jikalebarpasakhasilperhitunganterlalukecildantidakadaditabe
lpasak, makalebarpasakdihitungmenggunakanhubungan :

Dalampasakharusdicaripanjangpasakberdasarkantegangange
ser yang terjadi (shearing stress) dantegangan crushing
(crushing stress) kemudiandiambilpanjangterbesarnya.

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

65

ELEMEN MESIN I 2016

7.4 ContohSoal
1. Pasakpersegipanjangdipasangpadaporosdengan diameter 50 mm,
tegangangeser yang diijinkantidakmelebihi 4200 N/cm2dan crushing
stress tidakmelebihi 7000 N/cm2. Carilahpanjangpasak yang paling aman.
Jawab :

Untuk d=50 mm berdasarkan table pasakdiperoleh : b = 16 mm


= 1,6 cm dan t = 10 mm = 1 cm
Torsi akibattegangangeser (pasak):
Torsi akibattegangangeser torsional (poros) :
Jikadiasumsikanbahanpasaksamadenganbahanporosmakapanjan
gpasakakibatgeseran :

Panjangpasakakibat crushing stress

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

66

ELEMEN MESIN I 2016

Dimensipasak yang diperoleh :


b = 16mm
t = 10 mm
L = 12 mm

UNIVERSITAS GADJAH MADA TEKNIK MESIN SV

67