Anda di halaman 1dari 21

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Teknologi Pembelajaran
yang di bimbing oleh:
Dr. Mashudi, M.Pd.

Oleh:
Moh. Isomuddin
NIM 0849316013

PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) JEMBER
TAHUN 2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses pembelajaran terdapat beberapa komponen, salah
satu nya terdapat pendidik dan peserta didik serta tujuan yang ingin di
capai pada proses pembelajaran tertentu. Untuk menjalankan proses
pembelajaran yang optimal pendidik harus menganalisis peserta
didiknya terlebih dahulu yang meliputi karakteristik umum, karakteristik
akademik, maupun karakteristik uniknya yang dapat mempengaruhi
kemampuan, intelektual, dan proses belajarnya.
Dengan memahami Karakteristik Peserta Didik, pendidik akan
dapat merancang pembelajaran yang kondusif yang akan dilaksanakan.
Rancangan pembelajaran yang kondusif akan mampu meningkatkan
motivasi belajar siswa sehingga mampu meningkatkan proses dan hasil
pembelajaran yang diinginkan.
Dalam pembahasan ini kita membahas tentang Karakteristik
Peserta Didik yang mencakup usia, gender dan latar belakang peserta
didik.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah cara memahami karakteristik peserta didik dari segi
usia
2. Bagaimanakah cara memahami karakteristik peserta didik dari segi
gender
3. Bagaimanakah cara memahami karakteristik peserta didik dari segi
latar belakang
4. Bagaimanakah cara memahami karakteristik peserta didik dari segi
tipe belajar
5. Bagaimanakah implikasi karakteristik peserta didik dalam proses
pembelajaran
C. Tujuan
2

1. Memahami karakteristik peserta didik dari segi usia


2. Memahami karakteristik peserta didik dari segi gender
3. Memahami karakteristik peserta didik dari segi latar belakang
4. Memahami karakteristik peserta didik dari segi tipe belajar
5. Mengetahui

implikasi

karakteristik

pembelajaran

peserta

didik

dalam

proses

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Karakteristik Peserta Didik
Menurut Piuas Partanto, Dahlan (1994) Karakteristik berasal dari
kata karakter dengan arti tabiat/watak, pembawaan atau kebiasaan
yang dimiliki oleh individu yang relatif tetap.
Menurut Moh. Uzer Usman (1989) Karakteristik adalah mengacu
kepada karakter dan gaya hidup seseorang serta nilai-nilai yang
berkembang secara teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih
konsisten dan mudah di perhatikan.
Menurut Sudirman (1990) Karakteristik siswa adalah keseluruhan
pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari
pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola
aktivitas dalam meraih cita-citanya.
Menurut Hamzah. B. Uno (2007) Karakteristik siswa adalah aspekaspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap,
motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berfikir, dan kemampuan
awal yang dimiliki.
Siswa atau anak didik adalah setiap orang yang menerima
pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan
pendidikan. Anak didik adalah unsur penting dalam kegiatan interaksi
edukatif karena sebagai pokok persoalan dalam semua aktifitas
pembelajaran (Saiful Bahri Djamarah, 2000)
Menurut

kelompok

kami

Karakteristik

Peserta

Didik

ialah

karakter/gaya hidup individu secara umum (yang dipengaruhi oleh


usia, gender, latar belakang) yang telah dibawa sejak lahir dan dari
lingkungan sosialnya untuk menantukan kualitas hidupnya.
B. Karakteristik Peserta Didik dari Segi Usia
Fase- Fase Perkembangan Manusia
1. Permulaan kehidupan (konsepsi)
2. Fase prenatal (dalam kandungan)
4

3. Proses kelahiran ( 0-9 bulan)


4. Masa bayi/anak balita ( 0-1 tahun)
5. Masa kanak-kanak ( 1-5 tahun)
6. Masa anak-anak ( 5-12 tahun)
7. Masa remaja ( 12-18 tahun)
8. Masa dewasa awal ( 18-25 tahun)
9. Masa dewasa ( 25-45)
10.

Masa dewasa akhir ( 45- 55)

11.

Masa akhir kehidupan ( 55 tagu ke atas)

Pada pembahasan ini, kami hanya membahas materi sejak masa


kanak-kanak hingga masa dewasa awal saja sesuai usia pendidikan.
Ada beberapa aspek yang dipengaruhi oleh usia :
1. Aspek Fisik

Secara Anatomis
Perubahan kuantitatif struktur tulang
Indeks tinggi dan berat badan
Proporsi antar bagian

Secara Fisiologi
Pada masa bayi ( 0-1 tahun) tulangnya masih lentur dan
berpori, persambungannya masih longgar) dengan BB : 2-4
kg, TB : 50-60 cm
Masa kanak-kanak, BB : 12-15 kg TB : 90-120 cm
Masa remaja awal, BB : 30-40 kg TB : 140-160 cm
Selanjutnya keceptan berangsur menurun bahkan menjadi
mapan. Proporsi tinggi kepala, badan bayi dan anak sekita
1:4 menjelang dewasa menjadi 1:8 atau 0.

2. Aspek Intelektual
Menurut John dan Conrad :
Laju

perkembangan

intelegensi

berlangsung

sangat

pesat

sampai masa remaja awal, setelah itu kepesatannya langsung


menurun.

Puncak perkembangan pada umumnya dicapai dipenghujung


masa remaja akhir (sekitar usia 20-an), selanjutnya perubahanperubahan masa tipis berlangsung sampai dengan usia 50
tahun. Setelah itu terjadi plateau (mapan)sampai usia 60 tahun
untuk selanjutnya berangsur-angsur turun (deklinasi).
Terdapat variasi dalam waktu dan laju kecepatan deklinasi
menurut jenis-jenis kecakapan tertentu.
3. Aspek Sosial
Masa kanak-kanak awal (0-3 tahun) : subjektif
Masa krisis (3-4 tahun) : trotz alter
Masa kanak-kanak akhir (4-6 tahun) : subjektif menuju objktif
Masa anak sekolah (6-12 tahun) : objektif
Masa kritis II (12-13 tahun) : pre-puber (anak tanggung)
4. Aspek Psikososial
Menurut Eric Erikson :
Anak adalah makhluk yang aktif dan penjelajah yang adaptif
Ego berfungsi untuk memahami realitas dunia sosial
Secara mendasar manusia adalah makhluk yang rasional,
pikiran, perasaan, dan tindakannya sebagian besar dikontrol
ole ego
Prinsip epigenetik
Delapan tahap perkembangan psikososial :
Basic trust Vs Mistrust ( sejak lahir 1 tahun)
Autonomy Vs Shame Doubt ( 2-3 tahun)
Initiative Vs Guilt ( 4-5 tahun)
Industry Vs Inferiority ( 6 tahun pubertas)
Identity & Repudiation Vs Identity Diffusion (masa remaja)
Intimacy % Solidarity Vs Isolation (masa muda)
Generativity Vs Stagnation & Self Absorption (masa dewasa)
Integrity Vs Despair (masa tua)
5. Aspek Perspektif Kognitif
6

Menurut Jean Piaget :


Suatu fungsi kehidupan yang mendasar yang membantu
organisme untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Tujuan

aktivitas

intelektual

adalah

untuk

mencapai

keseimbangan.
Lingkungan adalah suatu tempat yang menarik 7 penuh
dengan berbagai rangsangan baru yang tidak segera dapat
dipahami anak yang aktif dengan penuh rasa ingin tahu.
Sutu atribut yang sangat majemuk, yang terdiri dari 3
komponen yang saling berhubungan yaitu isi intelegensi,
struktur kognitif, dan fungsi intelektual.
Tingkat perkembangan Kognitif :
Periode sensori motor ( sejak lahir 2 tahun)
Periode praoperasional ( 2-7 tahun)
Periode operasional konkret ( 7-11 tahun)
Periode operasional formal ( 11-15 tahun)
Menurut Kurnia (2007) :
Karakteristik atau kepribadian seseorang dapat berkembang secara
bertahap. Berikut ini adalah krakteristik perkembangan pada masa anak
samapai masa puber.
Krakteristik perkembangan masa anak awal (2-6 tahun)
Masa anak awal berlangsung dari usia 2-6 tahun, yaitu setelah
anak meninggalkan masa bayi dan mulai mengikuti pendidikan
formal di SD. Tekanan dan harapan sosial untuk

mengikuti

pendidikan sekolah menyebabkan perubahan perilaku, minat, dan


nilai pada diri anak. Pada masa ini, anak sedang dalam proses
pengembangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan.
Perilaku anak sulit diatur, bandel, keras kepala, dan sering
membantah dan melawan orang tua. Hal ini memang sangat
menyulitkan para pendidik. Tak heran, apabila para guru Playgroup
sampai

SD

harus

lebih

bersabar
7

dalam

melangsungkan

pembelajaran atau mendidik siswa. Disiplin mulai bisa diterapkan


pada anak sehingga anak dapat mulai belajar hidup secara tertib.
Dan

sikap

para

pedidik

sangat

berpengaruh

terhadap

perkembangan anak.
Krakteristik perkembangan masa anak akhir (6-12 tahun)
Karakteristik atau ciri-ciri periode masa anak akhir, sama
halnya

dengan

ciri-ciri

periode

masa

anak

awal

dengan

memperhatikan sebutan atau label yang digunakan pendidik. Orang


tua atau pendidik menyebut masa anak akhir sebagai masa yang
menyulitkan karena pada masa ini anak lebih banyak dipengaruhi
oleh teman-teman sebaya daripada oleh orang tuanya. Kebanyakan
anak pada masa ini juga kurang memperhatikan dan tidak
bertanggung jawab terhadap pakaian dan benda-benda miliknya.
Para pendidik memberi sebutan anak usia sekolah dasar, karena
pada rentang usia ini (6-12 tahun) anak bersekolah di sekolah dasar.
Di

sekolah

dasar,

anak

diharapkan

memperoleh

dasar-dasar

pengetahuan dan keterampilan yang dianggap penting untuk


keberhasilan

melanjutkan

studi

dan

penyesuaian

diri

dalam

kehidupannya kelak.
Krakteristik perkembangan masa puber (11/12 14/15 tahun)
Masa puber adalah suatu periode tumpang tindih antara masa
anak akhir dan masa remaja awal. Periode ini terbagi atas tiga
tahap, yaitu tahap: prapuber, puber, dan pascapuber. Tahap
prapuber bertumpang tindih dengan dua tahun terakhir masa anak
akhir. Tahap puber terjadi pada batas antara periode anak dan
remaja, di mana ciri kematangan seksual semakin jelas (haid dan
mimpi basah). Tahap pascapuber bertumpang tindih dengan dua
tahun pertama masa remaja. Waktu masa puber relatif singkat (2-4
tahun) ini terjadi pertumbuhan dan perubahan yang sangat pesat
dan

mencolok

dalam

proporsi

tubuh,

sehingga

menimbulkan

keraguan dan perasaan tidak aman pada anak puber. Peubahan fisik
dan sikap puber ini berakibat pula pada menurunnya prestasi
belajar, permasalahan yang terkait dengan penerimaan konsep diri,
8

serta persoalan dalam berhubungan dengan orang di sekitarnya.


Orang dewasa maupun pendidik perlu memahami sikap perilaku
anak puber yang kadang menaik diri, emosional, perilaku negative
dan lain-lain, serta membantunya agar anak dapat menerima peran
seks dalam kehidupan bersosialisasi dengan orang atau masyarakat
di sekitarnya.
C. Karakteristik Peserta Didik dari Segi Gender
Bebrapa para ahli mengatakan bahwa perbedaan gender dalam
kaitannya dengan kognisi dan prestasi mungkin bersifat situasional.
Perbedaan itu bervariasi menurut waktu dan tempat (Biklen &Pollard,
2001) dan mungkin berinteraksi dengan ras dan kelas sosial (Pollard,
1998). Penulis Boys and Girls Learn Differently mengatakan bahwa
perbedaan antara anak laki-laki dan anak perempuan memang ada akibat
perbedaan dalam otak mereka.

Perbedaan Anak Perempuan dengan Anak Laki-Laki


Menurut Diane (1995, 1996), ada beberapa perbedaan anak
perempuan dan anak laki-laki, anak perempuan menunjukkan
kinerja yang lebih baik di bidang seni bahasa, pemahaman bacaan,
dan komunikasi tertulis dan lisan. Sedangkan anak laki-laki terlihat
sedikit unggul di bidang matematika dan penalaran matematis.
Menurut Ormrod (2000) :
Fitur
Kemampua
n Kognitif
Fisik

Motivasi

Anak
Anak LakiPerempuan
Laki
Lebih
baik Lebih
baik
dalam tugas- dalam
tugas verbal keterampilan
visual-spasial
Sebelum
Setelah
pubertas
pubertas,
kapabilitasny lebih unggul
a sama
dalam
hal
tinggi badan
dan
kekuatan
otot
Peduli pada Usaha yang
prestasi
besar
di
9

Implikasi untuk
Pendidikan
Berharap anak laki-laki
dan perempuan memiliki
kemampuan
kognitif
yang sama
Mengasusmsikan kedua
gender memiliki potendi
untuk mengembangkan
berbagai
keterampilan
fisik dan motorik

Mendorong kedua gender


unggul disemua subjek.

Fitur

Self-Esteem

Aspirasi
Karier

Hubungan
Interperson
al

Anak
Perempuan
sekolah,
tetapi kurang
berani
mengambil
resiko
Cenderung
melihat
diriny sendiri
lebih
kompeten di
bidang
hubungan
interpersonal

Anak LakiImplikasi untuk


Laki
Pendidikan
subjekMenghindari stereotip
subjek
stereotipikal
laki-laki

Lebih
memiliki rasa
percaya diri
untuk
mrngrndalika
n
dan
mengatasi
masalah.
Lebih menilai
kinerjanya
sendiri
secara positif
Cenderung
Memiliki
melihat
ekspektasi
dirinya lebih jangka
collagepanjang
bound.
yang
lebih
Cenderung
tinggi untuk
melihat
dirinya
karier yang sendiri
tidak
akan
mengganggu
peran
mereka
di
masa depan.
Cenderung
Cenderung
lebih afiliatif menunjukka
dan
lebih n agresi fisik
banyak
yang
lebih
membentuk
tinggi
hubungan
dekat.
Nyaman
berada
di
situasi yang
kompetitif
dan
menyukai
lingkungan
yang
kooperatif

10

Menunjukkan
kepada
semua
siswa
bahwa
mereka bisa berhasil di
bidang-bidang
yang
kontrastereotip

Menunjukkan
otangorang yang sukses dalam
karier di semua bidang
sekaligus dalam keluarga

Mengajari kedua gender


cara-cara
berinteraksi
dengan
baik
dan
memeberikan lingkungan
yang kooperatif untuk
mengakomodasi
kecenderungan
afiliatif
anak perempuan.

D. Karakteristik Peserta Didik dari Segi Latar Belakang

Budaya, Etnis, Ras


Budaya mengacu pada bagaimana anggota-anggota suatu
kelompok memikirkan tentang tidakan sosial dan resolusi masalah.
Sedangkan etnis mengacu pada kelompok-kelompok yang memiliki
warisan budaya yang sama. Ras mengacu pada kelompok-kelompok
yang memiliki cciri-ciri sifat biologis yang sama.
Budaya menggambarkan istilah way of life kelompok secara
keseluruhan termasuk sejarah, tradisi, sikap dan nilai-nilai. Budaya
adalah bagiamana anggota-anggota suatu kelompok berpikir dan
cara yang mereka lakukan untuk mengatasi masalah dalam
kehidupan kolektif. Budaya adalah sesuatu yang dipelajari dan
selalu berubah, tidak pernah statis.
Etnis mengacu pada kelompok yang memiliki bahasa dan
identitas yang sama. Misalnya orang-orang yang memiliki suku yang
sama, keturunan jawa, padang, melayu, batak, dll meskipun dalam
satu kebangsaan Indonesia. Ras adalah istilah yang diberikan
kepada kelompok-kelompok yang memilki ciri-ciri biologis yang
sama.
Dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang beragam
budaya, etnis dan ras, dengan demikian terjadilah proses akulturasi
antar siswa. Untuk menangani siswa yang beragam guru harus
mengembangkan kondisi kelas dengan strategi pembelajaran yang
dapat merespon beragam kebutuhan siswa, terlepas dari latar
belakang rasial atau etniknya dan memastikan bahwa kurikulumnya
adil dan relean secara kultural. Guru harus peka terhadap dasar
perbedaan budaya yang dapat mempengaruhi siswa dikelas.

Perbedaan Kelas Sosial


Beberapa karakteristik yang menentukan identifikasi kelas
sosial seseorang adalah : pekerjaan, penghasilan, kekuasaan politis,
dll. Hal ini mempengaruhi proses belajar siswa. Ada beberapa
contoh efek dari perbedaan kelas sosial yaitu, pengelompokkan
berdasarkan kelas sosial, ini cenderung akan mempengaruhi psikis
11

siswa

yang

kelas

sosialnya

rendah.

Sehingga

dapat

terjadi

perbedaan prestasi antara kelas sosial tingga dengan kelas sosial


rendah. Namun The Culture of Education (1996)menunjukkan
bagaimana belajar bersifat sosial dan bagaimana intelegensi
tumbuh selama orang saling berinteraksi di masyarakat.
E. Karakteristik Peserta Didik dari segi Gaya Belajar
Gaya belajar dapat didefinisikan sebagai cara seseorang dalam
menerima hasil belajar dengan tingkat penerimaan yang optimal
dibandingkan dengan cara yang lain. Setiap orang memiliki gaya belajar
masing-masing. Pengenalan gaya belajar sangat penting. Bagi guru
dengan

mengetahui

gaya

belajar

tiap

siswa

maka

guru

dapat

menerapkan tekhnik dan strategi yang tepat baik dalam pembelajaran


maupun dalam pengembangan diri. Hanya dengan penerapan yang
sesuai maka tingkat keberhasilannya lebih tinggi. Seorang siswa juga
harus memahami jenis gaya belajarnya. Dengan demikian, ia telah
memiliki kemampuan mengenal diri yang lebih baik dan mengetahui
kebutuhannya. Pengenalan gaya belajar akan memberikan pelayanan
yang tepat terhadap apa dan bagaimana sebaiknya disediakan dan
dilakukan agar pembelajaran dapat berlangsung optimal.
Secara realita jenis gaya belajar seseorang merupakan kombinasi dari
beberapa gaya belajar. Di sini kita mengenal ada tiga gaya belajar,
yaitu: gaya belajar visual, auditori, dan kinetetik. Masing-masing gaya
belajar terbagi dua, yaitu: yang bersifat eksternal (tergantung media
luar sebagai sumber informasi) dan yang bersifat internal (tergantung
pada kemampuan kita bagaimana mengelola pikiran dan imajinasi)
(Didang, 2006).
Gaya belajar merupakan kecenderungan siswa untuk mengadaptasi
strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya
untuk mendapatkan satu pendekatan belajar yang sesuai dengan
tuntutan belajar di kelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran
(Slamento,2003).

12

Fleming dan Mills (1992) dalam Slamento (2003) mengajukan


kategori gaya belajar (Learning Style) VARK ( Visual, Auditory, Readwrite, Kinestetic) tersebut sebagai berikut :
1.

Visual (V)
Kecenderungan ini mencakup menggambarkan informasi dalam
bentuk peta, diagram, garfik, flow chart dan symbol visual seperti
panah, lingkaran, hirarki dan materi lain yang digunakan instruktur
untuk mempresentasikan hal-hal yang dapat disampaikan dalam
kata-kata. Hal ini mencakup juga desain, pola, bentuk dan format
lain yang digunkan untuk menandai dan menyampaikan informasi.

a.

Beberapa karakteristik Visual Learner adalah :


1)

Senantiasa melihat bibir guru yang sedang mengajar

2)

Menyukai instruksi tertulis, foto dan ilustras untuk dilihat

3)

Saat petunjuk untuk melakukan sesuatu diberikan biasanya


kan melihat teman-teman lainnya baru dia sendiri bertindak

4)

Cenderung

menggunakan

mengekspresikan

atau

gerakan

mengganti

tubuh

sebuah

kata

untuk
saat

mengungkapkan sesuatu
5)

Kurang menyukai berbicara di depan kelompok dan kurang


menyukai untuk mendengarkan orang lain

6)

Biasanya tidak dapat mengingat informasi yang diberikan


secara lisan

7)

Menyukai diagram, kalender maupun grafik time-line untuk


mengingat bagian peristiwa

8)

Selalu mengamati seluruh elemen fisik dari lingkungan


belajar

9)

Lebih menyukai peragaan daripada penjelasan lisan

10) Biasanya tipe ini dapat duduk tenang di tengah situasi yang
ribut atau ramai tanpa merasa terganggu
11) Mengorganisir materi belajarnya dengan hati-hati

13

12) Berusaha mengingat dan memahami menggunakan diagram,


table dan peta
13) Mempelajari materi dengan membaca catatan dan membuat
ringkasan

b.

Media atau bahan yang cocok


1)

Guru yang menggunakan bahasa tubuh atau gambar dalam


keadaan menerangkan

2)

Media gambar, video, poster dan sebagainya

3)

Buku yang banyak mencantumkan diagram atau gambar

4)

Flow chart

5)

Grafik

6)

Menandai bagian-bagian yang penting dari bahan ajar


dengan menggunakan warna yang berbeda

7)
c.

Symbol-simbol visual

Strategi belajar
Mengganti kata-kata dengan symbol atau gambar

2.

Aural atau Auditory Learning (A)


Modalitas ini menggambarkan preferensi terhadap informasi yang
didengar atau diucapkan. Siswa dengan modalitas ini belajar secara
maksimal dari ceramah, tutorial, tape diskusi kelompok, bicara dan
membicarakan materi. Hal ini mencangkup berbicara dengan suara
keras atau bicara kepada diri sendiri.

a.

Beberapa karakteristik Auditory Learner antara lain :


1)

Mampu mengingat dengan baik apa yang mereka katakana


maupun yang orang lain sampaikan

14

2)

Mengingat dengan baik dengan jalan selalu mengucapkan


dengan nada keras dan mengulang-ulang kalimat

3)

Sangat menyukai diskusi kelompok

4)

Menyukai diskusi yang lebih lama terutama untuk hal-hal


yang kurang mereka pahami

5)

Mampu menginngat dengan baik materi yang didiskusikan


dalam kelompok atau kelas

6)

Mengenal banyak sekali lagu atau iklan TV dan bahkan dapat


menirukannya secara tepat dan komplit

7)

Suka berbicara

8)

Kurang suka tugas membaca (dan pada umumnya bukanlah


pembaca yang baik)

9)

Kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja


dibacanya

10) Kurang dalam mengerjakan tugas mengarang atau menulis


11) Kurang

memperhatikan

hal-hal

baru

dalam

lingkungan

sekitarnya seperti : hadirnya anak baru, adanya papan


pengumuman yang baru dsb.
12) Sukar bekerja dengan tenang tanpa menimbulkan suara
13) Mudah terganggu konsentrasi karena suara dan juga susah
berkonsentrasi bila tidak ada suara sama sekali
b.

Media atau bahan yang cocok


1)

Menghadiri kelas

2)

Diskusi

3)

Membahas suatu topic bersama dengan teman

4)

Membahas suatu topic bersama dengan guru

5)

Menjelaskan ide-ide baru kepada orang lain

6)

Menggunakan perekam

7)

Mengingat cerita, contoh atau lelucon yang menarik

8)

Menjelaskan bahan yang didapat secara visual (gambar,


power point dsb)

15

c.

Strategi belajar
1)

Catatan

yang

dibuat

mungkin

sangat

tidak

memadai.

Tambahkan informasi yang didapat dengan cara berbicara


dengan orang lain dan mengumpulkan catatan dari buku.
2)

Rekam ringkasan dari catatn yang dibuat dan dengarkan


rekaman tersebut

3)

Minta

orang

lain

untuk

mendengar

pemahaman

yang

diterima mengenai suatu topic


4)

Baca buku atu catatn dengan keras

3.

Read Write

a.

Media/bahan yang cocok:


Kamus
Handout
Buku teks
Catatan
Daftar
Essay
Membaca buku manual

b.

Strategi belajar:
Tuliskan kata-kata secara berulang-ulang
Baca catatan Anda (dengan sunyi) secara berkali-kali
Tulis kembali ide atau informasi dengan kalimat yang berbeda
Terjemahkan semua diagram, gambar, dan sebagainya ke dalam
kata-kata

4.

Kinestetic atau Tactile Learner (K)

Berdasarkan definisi, modalitas ini mengarah pada pengalaman dan


latihan

(simulasi

atau

nyata,

meskipun

pengalaman

tersebut

melibatkan modalitas lain. Hal ini mencakup demonstrasi, simulasi,


video dan film dari pelajaran yang sesuai aslinya, sama halnya dengan
studi kasus, latihan dan aplikasi.
16

a.

Beberapa karakteristiknya adalah :


1)

Suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya

2)

Sulit untuk berdiam diri

3)

Suka mengerjakan segala sesuatu dengan menggunakan


tangan

4)

Biasanya memiliki koordinasi tubuh yang baik

5)

Suka menggunakan objek yang nyata sebagai alat bantu


belajar

6)

Mempelajari hal-hal yang abstrak (symbol matematika, peta


dsb)

7)

Mengingat secara baik bila secara fisik terlibat aktif dalam


proses pembelajaran

8)

Menikmati kesempatan untuk menyusun atau menangani


secara fisik materi pembelajaran

9)

Sering

berusaha

membuat

catatan

hanya

untuk

menyibukkan diri tanpa memanfaatkan hasil catatan tersebut


10) Menyukai penggunaan computer
11) Mengungkapkan minat dan ketertarikan terhadap sesuatu
secara fisik dengan bekerja secara antusias
12) Sulit apabila diminta untik berdiam diri atau berada disuatu
tempat untuk beberapa lama tanpa aktifitas fisik
13) Sering

bermain-main

dengan

benda

disekitarnya

sambil

mendengarkan atau mengerjakan sesuatu


b.

Media/ bahan yang cocok


1)

Menggunakan seluruh panca indera : penglihatan, sentuhan,


pengecap, penciuman, pendengaran

2)

Laboratorium

3)

Kunjungan lapangan

4)

Pembicara yang memberikan contoh kehidupan nyata

5)

Pengaplikasian

6)

Pameran, sampel, fotografi


17

7)

Koleksi berbagai

macam

tumbuhan,

serangga

dan

sebagainya
c.

Strategi belajar
1)

Mengingat kejadian nyata yang terjadi

2)

Masukan berbagai macam contoh untuk memudahkan dalam


mengingat konsep

3)

Gunakan benda-benda untuk mengilustrasikan ide

4)

Kembali ke laoratorium atau tempat belajar dapat melakukan


eksperimen

5)

Mengingat

kembali

mengenai

eksperimen,

kunjungan

lapangan dan sebagainya


F. Implikasi Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan

Faktor Fisik
Dalam penyelenggaraan pendidikan, perlu diperhatikn sarana
dan prasarana yang ada jangan sampai menimbulkan gangguan
pada peserta didik. Misalnya: tempat didik yang kurang seuai,
ruangan yang gelap dan terlalu sempit yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan. Disamping itu juga perlu diperhatikan waktu
istirahat yang cukup. Penting juga untuk menjaga supaya fisik tetap
sehat adanya jam-jam olah raga bagi peserta didik di luar jam
pelajaran. Misalnya: melalui kegiatan ekstra kurikuler kelompok olah
raga, bela diri, dan sejenisnya.

Faktor Psikososial
Perkembangan emosi peserta didik sengat erat kaitannya
dengan

faktor-faktor:

perubahan

jasmani,

perubahan

dalam

hubungannya dengan orang tua, perubahan dalam hubungannya


dalam teman-teman, perubahan pandangan luar (dunia luar) dan
perubahan dalam hubungannya dengan sekolah. Oleh karena itu
perbedaan

individual

dalam

perkembangan

emosi

dimungkinkan terjadi, bahkan diramalkan pasti dapat terjadi.

18

sangat

Dalam rangka menghadapi luapan emosi remaja, sebaiknya


ditangani dengan sikap yang tenang dan santai. Orang tua dan
pendidik harus bersikap tenang, bersuasana hati baik dan penuh
pengertian.

Orang

tua

dan pendidik

sedapat

mungkin

tidak

memperlihatkan kegelisahannya maupun ikut terbawa emosinya


dalam menghadapi emosi remaja.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa untuk mengurangi
luapan emosi peserta didik perlu dihindari larangan yang tidak
terlalu penting. Mengurangi pembatasan dan tututan terhadap
remaja harus disesuaikan dengan kemampuan mereka. Sebaiknya
memberi tugas yang dapat diselesaikan dan jangan memberi tugas
dan peraturan yang tidak mungkin di lakukan.

Faktor Sosial-Kulture
Usia

remaja

adalah

usia

yang

sedang

tumbuh

dan

berkembang baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif, baik


fisik maupun psikisnya. Menganggap dirinya bukan anak-anak lagi,
tetapi sekelilingnya menganggap mereka belum dewasa. Dengan
beberapa problem yang dialaminya pada masa ini, akibatnya
mereka

melepaskan

diri

dari

orang

tau

dan

mengarahkan

perhatiannya pada lingkuan di luar keluarganya untuk bergabung


dengan teman sekebudayaannya, guru dan sebagainya. Lingkungan
teman memgang peranan dalam kehidupan remaja.
Selanjutnya sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang
diserahi tugas untuk mendidik, tidak kecil peranannya dalam rangka
mengembangkan hubungan sosial peserta didik. Jika dalam hal ini
guru tetap berpegang sebagai tokoh intelektual dan tokoh otoritas
yang memegang kekuasaan penuh sepeerti ketika anak-anak belum
menginjak remaja, maka sikap sosial atau hubungan sosial anak
akan sulit untuk dikembangkan.

19

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam pengelolaan proses pembelajaran guru harus memiliki
kemampuan mendesain program, menguasai materi pelajaran, mampu
menciptakan kondisi kelas yang kondusif, terampil memanfaatkan media
dan memilih sumber, memahami cara atau metode yang digunakan
sesuai kebutuhan dari karakteristik anak.
Berdasarkan pembahasan diatas dapat kami simpulkan bahwa
memahami Karakteristik Peserta Didik khususnya dari segi usia, gender
dan latar belakang sangatlah penting bagi pendidik yang mengajar
dengan beragam karakateristik siswa. Guru akan dapat mengetahui
bagaimana mengatasi karakteristik siswa pada usianya, menangani
adanya perbedaan gender pada siswa serta perbedaan latar belakang
siswa

(budaya,

etnik,

ras,

kelas

sosial)

menyelenggarakan pendidikan secara optimal.

20

sehingga

guru

dapat

DAFTAR PUSTAKA

Barnawi dan Arifin. 2012. Strategi & Kebijakan Pembelajaran Pendidikan


Karakter. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Grup
Esti W, Sri. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo
Gulo. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo
Hamruni. 2012. Strategi Pembelajaran. Yogkarta: Insan Madani
Iwan, dkk. Wawasan Sosial. Semarang: PT. Sindua Press
Megawangi, R. 2004. Pendidikan Karakter Solusi Tepat Untuk Membangun
Bangsa. Jakarta: BPMIGAS
Nasution, S. 2000. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan
Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara
Puerwadarminta. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka
Purwanto, Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda
Karya
Richard I. Arends, Learning To Teach, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008
Samani, M dan Hariyanto. 2012. Pendidikan Karakter: Konsep dan Model.
Bandung: Remaja Rosdakarya

21