Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

DENGUE HAEMORRAGIC FEVER (DHF) DI RUANG ASTER


RSD dr. SOEBANDI KABUPATEN JEMBER

disusun guna memenuhi tugas praktik Profesi Ners Stase Keperawatan Anak

oleh
Kikianita Oktavia Eriyanti, S.Kep.
NIM 112311101063

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DENGUE HAEMORRAGIC
FEVER (DHF)
Oleh: Kikianita Oktavia Eriyanti, S.Kep
1. Kasus : Dengue Haemorragic Fever (DHF)
2. Proses Terjadinya Masalah
a. Pengertian
Dengue haemoragic fever adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus
(arthropodborn virus) dan di tularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes albopictus
dan Aedes aegypti).(ngastiyah,2005). Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit
yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti.(Suriadi ,2006). Demam dengue / DHF dan demam
berdarah dengue / DBD ( Dengue haemoragic fever / DHF) adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam,nyeri otot dan / atau
nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis
haemoragic.(Suhendro,dkk,2007)
b. Penyebab
1. Virus dengue
Berdiameter 40 monometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam
kultur jaringan baik yang berasal dari sel sel mamalia, maupun sel sel Arthropoda
misalnya sel aedes Albopictus.
2. Vektor : nyamuk aedes aegypti
yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polyne siensis, infeksi
dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe
bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Arief
Mansjoer &Suprohaita; 2000).
3. Host : pembawa.
Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan
mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih
mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe
lainnya.

c. Klasifikasi

Menurut derajat ringannya penyakit, Dengue Haemoragic Fever (DHF) dibagi menjadi 4
tingkat yaitu :
1 Derajat I :
Panas 2 7 hari , gejala umum tidak khas, uji taniquet hasilnya positif
2

Derajat II :
Sama dengan derajat I di tambah dengan gejala gejala pendarahan spontan seperti
petekia, ekimosa, epimosa, epistaksis, haematemesis, melena, perdarahan gusi
telinga dan sebagainya.

Derajat III :
Penderita syok ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah
dan cepat (> 120 / menit) tekanan nadi sempit (< 20 mmHg) tekanan darah menurun
(120 / 80 mmHg) sampai tekanan sistolik dibawah 80 mmHg.

Derajat IV
Nadi tidak teraba,tekanan darah tidak terukur (denyut jantung > - 140 mmHg)
anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

Klasifikasi DHF berdasarkan patokan dari WHO DBD dibagi menjadi 4 derajat yaitu
1

Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan uji torniquet (+),
trombositopenia dan hemokonsentrasi.

Derajat II
Derajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau di tempat lain.

Derajat III

Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah rendah
(hipotensi), gelisah, sianosis sekitar mulut, hidung dan ujung jari.

Derajat IV
Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
Dengue Shock Syndrome ( DSS ). Dengue shock syndrome ( DSS ) adalah
sindroma syok yang terjadi pada penderita Dengue Hemorrhagic Fever ( DHF )
atau demam berdarah dengue.

d. Patofisiologi
Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan virtemia. Hal
tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi komplek imun Antibodi

virus pengaktifan tersebut akan membetuk dan melepaskan zat (3a, C5a, bradikinin,
serotinin, trombin, Histamin), yang akan merangsang PGE2 di Hipotalamus sehingga
terjadi termo regulasi instabil yaitu hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi Na+
dan air sehingga terjadi hipovolemi. Hipovolemi juga dapat disebabkan peningkatkan
permeabilitas dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran palsma. Adanya
komplek imun antibodi virus juga menimbulkan Agregasi trombosit sehingga terjadi
gangguan fungsi trombosit, trombositopeni, coagulopati. Ketiga hal tersebut
menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi shock dan jika shock
tidak teratasi terjadi Hipoxia jaringan dan akhirnya terjadi Asidosis metabolik. Asidosis
metabolik juga disebabkan karena kebocoran plasma yang akhirnya tejadi perlemahan
sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan menurun jika tidak teratasi terjadi hipoxia
jaringan.
Masa virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Virus hanya dapat hidup
dalam sel yang hidup, sehingga harus bersaing dengan sel manusia terutama dalam
kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan tubuh
manusia.sebagai reaksi terhadap infeksi terjadi (1) aktivasi sistem komplemen sehingga
dikeluarkan zat anafilaktosin yang menyebabkan peningkatan permiabilitas kapiler
sehingga terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskular ke ekstravaskular, (2)
agregasi trombosit menurun, apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan
fungsi trombosit sebagai akibatnya akan terjadi mobilisasi sel trombosit muda dari
sumsum tulang dan (3) kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang atau
mengaktivasi faktor pembekuan.
Ketiga faktor tersebut akan menyebabkan (1) peningkatan permiabilitas kapiler; (2)
kelainan hemostasis, yang disebabkan oleh vaskulopati; trombositopenia; dan
kuagulopati (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000)
Siklus Demam DHF

Demam Pelana Kuda

Ciri-ciri Demam DBD atau Demam Pelana Kuda


1

Hari 1 3 Fase Demam Tinggi


Demam mendadak tinggi, dan disertai sakit kepala hebat, sakit di belakang mata,
badan ngilu dan nyeri, serta mual/muntah, kadang disertai bercak merah di kulit.

Hari 4 5 Fase KRITIS


Fase demam turun drastic dan sering mengecoh seolah terjadi kesembuhan.
Namun inilah fase kritis kemungkinan terjadinya Dengue Shock Syndrome

Hari 6 7 Fase Masa Penyembuhan


Fase demam kembali tinggi sebagai bagian dari reaksi tahap penyembuhan

e. Tanda Gejala
1

Demam :Awalnya akut, cukup tinggi, dan kontinu, berlangsung lama 2 7 hari

Setiap manifestasi perdarahan berikut : petekia, purpura, ekimosis, epistaksis,


gusi berdarah, dan hematemesis dan / atau melena.

Uji torniquet positif : Uji torniquet dilakukan dengan memompa manset tekanan
darah sampai suatu titik tengah antara tekanan sistolik dan diastolik selama 5
menit. Hasil uji di nyatakan positif jika tampak 10 atau lebih petekia per 2,5 cm2.
Pada kasus DHF, uji tersebut biasanya memberikan hasil yang pasti positif bila
tampak 20 petekia atau lebih. Hasil uji mungkin negatif atau agak positif selama
fase syok yang dalam. Hasil tersebut kemudian akan menjadi positif, bahkan
terkadang sangat positif, jika dilakukan setelah pulih dari syok.

Pembesaran hati (hepatomegali) : Tampak pada beberapa tahap penyakit yaitu


sekitar 90 98 % pada anak anak di thailand, tetapi di negara lain frekuensinya
mungkin bervariasi.

Syok : Di tandai dengan denyut yang cepat dan lemah di sertai tekanan denyut
yang menurun ( 20 mmHg atau kurang ), atau hipotensi, juga dengan kulit yang
lembab, dingin, dan gelisah.

Temuan laboratorium
a

Trombositipenia ( 100.000 / mm3 atau kurang )

b Hemokonsentrasi, peningkatan jumlah hematokrit sebanyak 20% atau lebih

Dua kriteria klinis pertama, di tambah dengan trombositopenia dan


hemokonsentrasi atau peningkatan jumlah hematokrit, sudah cukup untuk
menetapkan diagnosis klinis DHF. Efusi pleura ( tampak melalui rontgen dada ) dan /
atau hipoalbuminemia menjadi bukti penunjang adanya kebocoran plasma. Bukti ini
sangat berguna terutama pada pasien yang anemia dan / atau mengalami perdarahan
berat. Pada kasus syok, jumlah hematokrit yang tinggi dan trombositipenia
memperkuat diagnosis terjadinya DHF / DSS. ( WHO, 2005)
f. pemeriksaan Penunjang
1

Pemeriksaan Darah Lengkap


a

Trombosit menurun.

b HB meningkat lebih 20 %
c

HT meningkat lebih 20 %

d Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3


e

Protein darah rendah

Ureum PH bisa meningkat

NA dan CL rendah

h Serology : HI (hemaglutination inhibition test).


2

Rontgen thorax : Efusi pleura.

Uji test tourniket (+)

g. Penatalaksanaan
1

Medis
a

Demam tinggi, anoreksia dan sering muntah menyebabkan pasien dehidrasi dan
haus. Pasien diberi banyak minum yaitu 1 - 2 liter dalam 24 jam. Keadaan
hiperpireksia diatasi dengan obat antipiretik dan kompres dingin. Jika terjadi
kejang diberikan antikonvulsan. Luminal diberikan dengan dosis : anak umur < 12
bulan 50 mg im; anak > 1 tahun 75 mg. jika 15 menit kejang belum berhenti
luminal diberikan lagi dengan dosis 3 mg/ kg BB. Infus diberikan pada pasien DHF
tanpa renjatan apabila : pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minum
sehingga mengancam terjadinya dehidrasi dan hematokrit yang cenderung
meningkat.

b Pasien mengalami syok segera dipasang infus sebagai pengganti cairan hilang
akibat kebocoran plasma. Cairan yang diberikan biasanya RL. Jika pemberian
cairan tersebut tidak ada respon diberikan plasma atau plasma ekspander

banyaknya 20 30 mL/kg BB. Pada pasien dengan renjatan berat pemberian infus
harus diguyur. Apabila syok telah teratasi, nadi sudah jelas teraba, amplitude nadi
sudah cukup besar, tekanan sistolik 80 mmHg dan kecapatan tetesan dikurangi
menjadi 10 mL/ kg BB/ jam. Pada pasien dengan syok berat atau syok berulang
perlu dipasang CVV untuk mengukur tekanan vena sebtral melalui vena jugularis,
dan biasanya pasien dirawat di ICU. (Ngastiyah, 1997, hal : 344-345).
c

Cairan (rekomendasi WHO)


Kristaloid
a

Larutan Ringer Laktat (RL) atau Dextrose 5% dalam larutan Ringer laktat
(D5/RL).

b Larutan Ringer Asetat (RA) atau Dextrose 5% dalam larutan Ringer Asetat
(D5/RA).
c

Larutan Nacl 0,9% (Garal Faali + GF) atau Dextrose 5% dalam larutan
faali (D5/GF).

Koloid
a

Dextran 40

b Plasma
(Arif Mansjoer, 2001, hal : 422)
2

Keperawatan
a

Derajat I
Pasien istirahat, obsevasi tanda-tanda vital setiap 3 jam, periksa Ht, Hb dan
trombosit tiap 4 jam sekali. Berikan minum 1,5 2 liter dalam 24 jam dan kompres
dingin.

b Derajat II
Segera dipasang infus. Bila keadaan pasien sangat lemah sering dipasang pada 2
tempat karena dalam keadaan renjatan walaupun klem dibuka tetesan infus atau
tetesan cairan tetap tidak lancer maka jika 2 tempat akan membantu memperlancar.
Kadang-kadang 1 infus untuk memberikan plasma darah dan yang lain cairan
biasa.
c

Derajat III dan IV (DSS)


a

Penggantian plasma yang keluar dan memberikan cairan elektrolit (RL) dengan
cara diguyur kecepatan 20 mL/ kg BB/ jam.

Dibaringkan dengan posisi semi fowler dan diberikan O2.

Pengawasan tanda-tanda vital dilakukan setiap 15 menit.

Pemeriksaan Ht, Hb dan Trombosit dilakukan secara periodik.

Bila pasien muntah bercampur darah perlu diukur untuk tindakan secepatnya
baik obat-obatan maupun darah yang diperlukan.

Makanan dan minuman dihentikan, bila mengalami perdarahan gastrointestinal


biasanya dipasang nasogastrik tube (NGT) untuk membantu pengeluaran darah
dari lambung. NGT perlu dibilas dengan Nacl karena sering terdapat bekuan
darah dari tube. Tube dicabut bila perdarahan telah berhenti. Jika kesadaran
telah membaik sudah boleh diberikan makanan cair walaupun feses
mengndung darah hitam kemudian lunak biasa.

A. Pengkajian Keperawatan
1

Identitas
DBD dapat mengenai pada semua umur yang tinggal di daerah tropis.

Keadaan Umum
Terjadinya peningkatan suhu tubuh / demam dan disertai ruam macula popular.

Riwayat Penyakit Sekarang


Umumnya klien dengan DHF datang ke Rumah Sakit dengan keluhan demam akut 2
7 hari, nyeri otot dan pegal pada seluruh badan, malaise, mual, muntah, sakit kepala,
sakit pada saat menelan, lemah, nyeri ulu hati, pendarahan spontan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Diantara penyakit yang pernah diderita yang dahulu dengan penyakit DHF yang
dialami sekarang, tetapi kalau dahulu pernah menderita DHF penyakit itu berulang.

Riwayat Penyakit keluarga


Riwayat adanya penyakit DHF didalam keluarga yang lain, yang tinggal didalam satu
rumah / beda rumah dengan jarak yang berdekatan sangat menentukan karena
ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Riwayat Penyakit Lingkungan


DHF ditularkan oleh 2 nyamuk yaitu: Aedes aeyipry dan Aedes albopiehis, hidup dan
berkembang biak didalam rumah yaitu pada tempat penampungan air bersih seperti
kaleng bekas, bak mandi yang jarang dibersihkan.

Pemeriksaan Fisik
a

Sistem pernafasan : pada tahap DHF tipe III dan IV bisa menyebabkan sesak
hingga asidosis metabolik.

b Sistem persyarafan : Gangguan dalam sistem persyarafan adalah terdapat respon


nyeri.
c

Sistem cardiofaskuler : Terjadi pendarahan dan kegagalan sirkulasi. Panas, Lemah


Suhu tinggi selama 2 - 7 hari, Nadi cepat, Hipotensi, Selaput mukosa mulut kering

d Sistem pencernaan : Terjadi anorexia, mual dan muntah, Nyeri ulu hati, Mual dan
tidak nafsu makan, Sakit menelan, Nyeri tekan pada epigastrik
e

Sistem otot dan integument : Ditemukan peteckie, pegal-pegal pada seluruh tubuh,
Pegal seluruh tubuh, Nyeri otot, persendian, dan punggung dan kepala Ruam
dikulit lengan dan kaki, Epistaksis, Kulit terasa panas

Sistem eliminasi : Terjadi gangguan pada sistem eliminasi alvi yaitu terjadi
konstipasi. Hematomesis Melena dan eleminasi urine yang dihasilkan sedikit

Pemeriksaan penunjang
a

Hematokrit meningkat

b Trombositopenia
c

Masa perdarahan memanjang

B. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan pelepasan asam arakidonat pada hipotalamus sekunder
terhadap pelepasan zat pirogen.
2. Nyeri berhubungan dengan peningkatan stimulasi nosiseptor sekunder terhadap
peradangan ( proses inflamasi )
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual, anoreksia sekunder terhadap penekanan pada daerah gaster.
4. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan plasma darah sekunder terhadap
reaksi immunologi
5. Resiko shock hipovolemi berhubungan dengan cairan dari intravena keluar
6. resiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
.

PERENCANAAN KEPERAWATAN

NO
1.

2.

DIAGNOSA

TUJUAN DAN KRITERIA


INTERVENSI
HASIL
Hipertermia b/d pelepasan Tujuan:
NIC: Fever Treatment
dilakukan
asuhan
asam
arakidonat
pada Setelah
hipotalaussekunder terhadap keperawatan selama 3x24 jam, 1. Observasi tanda-tanda vital:
suhu menjadi normal
suhu, nadi, tensi dan
pelepasan zat pirogen
pernapasan setiap 3 jam
atau sering lagi.
NOC: Thermoregulasi
2. Catatlah
asupan
dan
Kriteria Hasil :
keluaran cairan.
a. Suhu tubuh dalam rentang
normal
3. Anjurkan pasien untuk
b. Nadi dan RR dalam rentang
banyak minum paling tidak
normal
2,5 liter tiap 24 jam dan
c. Tidak ada perubahan warna kulit
jelaskan
manfaat
bagi
pasien.
4. Berikan kompres hangat
pada daerah leher. axila dan
lipatan paha.
5. Anjurkan agar pasien tidak
memakai
selimut
dari
pakaian yang tebal.
6. kolaborasi
dalam
pemberian cairan intravena
dan antipiretik

Nyeri berhubungan dengan Tujuan:

a. kaji tingkat nyeri klien

RASIONAL

1. Suhu 38,9-41,1oC menunjukkan


proses penyakit infeksius akut. Pola
demam dapat membantu dalam
diagnosis.
2. Mengetahui keseimbangan cairan
baik intake maupun output.
3. Mempercepat proses penguapan
melalui urine dan keringat, selain
itu dimaksudkan untuk mengganti
cairan tubuh yang hilang.
4. Memberikan efek vasodilatasi
pembululuh darah.
5. Untuk memudahkan dalam proses
penguapan.
6. Pemberian terapi cairan intravena
untuk mengganti cairan yang hilang
dan untuk penurunan panas.

a. Mengetahui tingkat nyeri klien.

peningkatan
stimulasi
nosiseptor
sekunder
terhadap peradangan (proses
inflamasi)

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan selama 3x24 jam
klien terbebas dari rasa nyeri.
Kriteria Hasil:
Nyeri berkurang
Wajah klien tampak rileks
TD: 120/80 mmHg
RR: 16-24x.menit
Nadi: 80-100 x/menit
Klien bisa tidur dengan
nyenyak

b. kaji tanda-tanda vital


klien (TD, RR, nadi)
c. berikan posisi senyaman
mungkin
d. berikan kompres hangat
e. berikan teknik relaksasi
progresif
f. Kolaborasi
terkait
pemberian analgesik.

b. Nyeri
yang
meningkat
menyebabkan perubahan TTV.
c. Mengurangi nyeri berdasarkan
posisi tubuh
d. Dilatasi pembuluh darah untuk
memperlancar aliran darah
e. Mengurangi tingkat nyeri klien
f. Mengurang nyeri dari segi obat.

Ketidak seimbangan nutrisi


kurang dari kebutuhan tubuh
b/d intake inadekuat

Tujuan:
Setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan selama 3x24 jam
pasien terbebas dari gangguan
nutrisi: kurang dari kebutuhan
tubuh
Kriteri hasil:

1. Kaji
tingkat
mual
muntah pasien
2. Kaji intake nutrisi
pasien
3. Kaji tingkat kebersihan
mulut pasien
4. Makan sedikit tapi
sering
5. Kolaborasi dengan tim
ahli gizi sesuai dengan
ajuran medik
6. Kolaborasi dengan tim
dokter pemberian obat
anti mual.

1. Mengetahui tingkat mual pasien


2. Mengetahui intake adekuat atau
tidak
3. Menambah nafsu makan

Makanan habis porsi rumah


sakit.
Pasien tidak lemas
Tidak ada rasa mual saat
makan

Deficit volume cairan b/d Tujuan


kehilangan plasma darah Setelah

4. Mencegah mual
5. Memberikan nutirisi yang sesuai
6. Untuk menambah nafsu makan.

a. Kaji kebutuhan cairan a. Mengetahui


dan
menentukan
dilakukan
tindakan
klien
kebutuhan cairan klien
keperawatan selama 3x24 jam input b. Observasi tanda-tanda syok b. Mencegah
terjadinya
syok

hipovolemik
sekunder terhadap reaksi volume cairan seimbang dengan
outcome nya
c. Berikan
cairan
immunologi

Risiko syok hipovolemi


berhubungan dengan cairan
dari intravena keluar

hipovolemik
sesuai c. Mencukupi kebutuhan cairan
Kriteri hasil:
dengan kebutuhan klien d. Memberikan kebutuhan cairan
baik melalui infus maupun
dengan tepat
TTV dalam batas normal
minum
e.
Memotivasi dan memandirikan
Granulasi jaringan dan kontur
d.
Pantau
balance
cairan
klien
keluarga untuk bisa merawat klien
kulit baik
e.
Ajarkan
dan
libatkan
f.
Membatu memenuhi kebutuhan
Tidak ada tanda-tanda syok
keluarga untuk memantau
cairan klien
hipovolemik
tanda-tanda
syok
Kebutuhan cairan balance
hipovolemik
f. Kolaborasi terkait terapi
cairan yang diberikan
dengan dokter
Setelah dilakukan tindakan
Shock prevention
keperawatan 1x6 jam syok dapat
1. Monitor status sirkulasi
1. Mengidentifikasi
keadekuatan
dihindari
(tekanan darah, warna
status sirkulasi
NOC :
kulit, suhu kulit, denyut
1. Shock prevention
jantung, ritme, nadi
2. Shock management
perifer, dan CRT)
2. Mengetahui adakah gangguan
3. Nadi dalam batas yang
2. Monitor tanda inadekuat
perfusi jaringan
diharapkan
oksigenasi jaringan
3. Mengetahui keseimbangan cairan
4. Irama jantung dalam batas yang
4. Skrining adanya syok
diharapkan
3. Monitor input dan output
5. Frekuensi nafas daam batas
4. Monitor tanda awal syok
5. Rehidrasi
yang diharapkan
5. Kolaborasi pemberian
6. Irama pernafasan dalam batas
cairan IV dengan tepat
yang diharapkan
7. Natrium serum dalam batas
normal
8. Kalium serum dalam batas
normal
9. Klorida serum dalam batas

normal
10. Kalsium serum dalam batas
normal
11. Magnesium serum dalam batas
normal
12. Ph darah serum dalam batas
normal

Daftar Pustaka
a

Doenges, Marilynn E dkk. 2000. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa


Keperawatan. EGC ; Jakarta.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid II. Edisi Ketiga. Jakarta : Media
Aesculapius.

Pudjiadi Antonius, H., Hegar Badriul, dkk. (2010). Pedoman Pelayanan Medis Ikatan
Dokter Anak Indonesia.Jakarta: IDAI

NANDA International. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.


Jakarta:EGC

Wong, L. Donna. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Vol. 1. Edisi 6. . Jakarta :
EGCs

Syaifullah,N.2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam, FKUI : Jakarta