Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Perpindahan panas merupakan perpindahan dalam bentuk kalor yang

dapat terjadi diberbagai tipe proses baik secara kimia maupun secara fisika.
Perpindahan panas sering terjadi dalam berbagai unit operasi seperti alkohol
distillation, burning of fuel, lumber or foods, dan evaporasi. Perpindahan panas
terjadi dikarenakan adanya perbedaan temperatur driving force dan adanya aliran
panas dari daerah yang bertemperatur tinggi ke temperatur yang rendah.
Peristiwa perpindahan panas dapat berpindah dengan 3 cara, yaitu
konduksi, konveksi dan radiasi. Pada peristiwa konduksi, panas akan berpindah
tanpa diikuti aliran media perpindahan panas. Panas pada peristiwa konduksi ini
akan berpindah secara estafet dari satu partikel ke partikel yang lainnya dalam
medium tersebut. Pada peristiwa konveksi, perpindahan panas terjadi dikarenakan
terbawa oleh aliran fluida baik cair atau gas. Secara termodinamika, peristiwa
konveksi dinyatakan sebagai aliran entalpi, bukan aliran panas. Sedangkan pada
peristiwa radiasi, energi berpindah melalui gelombang elektromagnetik.
Pada percobaan kali ini, akan dibahas tentang perpindahan panas secara
konduksi saja dimana perpindahan panas secara konduksi melibatkan pertukaran
energi secara langsung antara substansi-substansi molekul yang terdiri dari
temperatur yang berbeda. Perpindahan panas secara konduksi dapat terjadi baik
dalam fase gas, liquid, maupun padatan. Joseph Fourier adalah salah seorang yang
telah mempelajari proses perpindahan panas secara konduksi. Pada tahun 1827,
Joseph Fourier merumuskan hukumnya yang berkenaan dengan konduksi.
Tinjauan terhadap peristiwa konduktif dapat diambil dengan berbagai
macam cara (yang pada prinsipnya berakar pada hukum Fourier), mulai dari
subjek yang sederhana yaitu hanya sebatang logam (composite bar). Banyak
faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya peristiwa konduksi. Diantaranya
adalah pengaruh dari luas penampang yang berbeda, pengaruh geometri, pengaruh
permukaan kontak, pengaruh adanya insulasi ataupun pengaruh-pengaruh lainnya.
1

1.2.

Tujuan

1)

Mengetahui prinsip dan cara kerja heat conduction apparatus.

2)

Mengetahui cara menghitung konduktivitas termal suatu material.

3)

Mengetahui proses heat transfer.

4)

Mengetahui penerapan hukum Fourier pada kondisi linier atau radial pada
material logam.

5)
1.3.
1)

Mengetahui aplikasi dari heat conduction apparatus.


Rumusan Masalah
Bagaimanakah kesesuaian antar Q supply dengan Q hasil perhitungan dari
rumus Fourier?

2)

Bagaimanakah pengaruh perubahan cross sectional area pada profil


temperatur dalam menghitung koefisien perpindahan panas pada sistem
konduksi?

3)

Bagaimanakah mekanisme perpindahan panas secara konveksi pada


fluida?

1.4.

Manfaat

1)

Dapat mengetahui aplikasi dari hukum Fourier pada sistem konduksi.

2)

Dapat memahami prinsip kerja alat heat conduction apparatus.

3)

Dapat mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perpindahan


panas suatu bahan.

4)

Dapat membaca temperatur untuk setiap supply panas pada sistem


konduksi linear dan radial.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Perpindahan Panas
Perpindahan panas merupakan ilmu yang mempelajari tentang laju

perpindahan panas di antara material atau benda karena ada perbedaan suhu.
Panas akan mengalir dari tempat yang bertemperatur lebih tinggi ke tempat yang
bertemperatur lebih rendah. Kegunaan dari ilmu perpindahan panas ini, yaitu:
1)

Untuk merencanakan alat-alat penukaran panas (heat exchanger).

2) Untuk menghitung kebutuhan media pemanas atau pendingin pada suatu


reboiler ataupun kondensor dalam kolom destilasi.
3)

Untuk menghitung furnace dengan mengunakan prinsip radiasi.

4)

Untuk perancangan ketel uap/boiler.

5)

Untuk perancangan alat-alat penguap (evaporator).

6)

Untuk perancangan reaktor kimia


Terdapat tiga cara transfer energi, yaitu: konduksi (hantaran), konveksi,

dan radiasi (sinaran). Semua proses transfer panas memerlukan satu atau lebih
dari tiga tipe transfer energi tersebut. Adapun alat-alat penukar panas yang
digunakan yaitu: double pipe, shell and tube, plate-frame, spiral, dan lamella.
2.2.

Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas yang mengalir dari daerah

bertemperatur tinggi ke daerah bertemperatur lebih rendah di dalam suatu medium


yang berupa padat, cair atau gas atau antara medium-medium yang berlainan,
tetapi bersinggungan secara langsung (kontak langsung). Pada kondisi ini,
perpindahan panas terjadi akibat kontak langsung antara molekul-molekul dalam
medium atau zat tersebut tanpa adanya perpindahan molekul yang cukup besar.
Terjadinya peristiwa perpindahan panas dari suatu bagian yang
bertemperatur tinggi ke bagian yang bertemperatur rendah disebabkan jika pada
suatu benda tersebut terdapat gradien suhu (temperatur gradient). Sehingga dapat
dikatakan bahwa energi berpindah secara konduksi (conduction) dan bahwa laju
perpindahan kalor yang terjadi itu berbanding dengan gradien di saat suhu normal.
3

Panas dikonduksikan oleh perpindahan energi gerak antara molekulmolekul yang saling berdekatan. Dalam gas hotter, molekul yang memiliki energi
kinetik yang lebih besar memberikan energinya ke molekul yang terdekat yang
berada pada level terendah. Dalam konduksi, energi juga dapat dipindahkan oleh
elektron bebas. Contoh perpindahan panas secara konduksi yaitu perpindahan
panas melalui dinding heat exchangers atau sebuah refrigerator, perlakuan panas
pada steel forgins, pendinginan tanah sepanjang musim dingin, dan lain-lain. Pada
solid, mekanisme yang menjadi faktor utama adalah vibrasi molekular.
Perpindahan kalor secara konduksi dapat terjadi dengan dua proses, yang
pertama, pemanasan pada satu ujung zat yang menyebabkan partikel-partikel pada
ujung itu bergetar lebih cepat dan suhunya akan naik atau energi kinetiknya akan
menjadi bertambah. Partikel-partikel yang energi kinetiknya lebih besar ini
kemudian akan memberikan sebagian energi kinetiknya kepada partikel-partikel
tetangganya melalui proses tumbukan sehingga partikel-partikel ini memiliki
energi kinetik lebih besar. Demikian seterusnya sampai kalornya mencapai pada
ujung yang dingin (tidak dipanasi). Proses perpindahan kalor dengan cara ini
berlangsung secara lambat karena diperlukannya perbedaan suhu yang cukup
tinggi di antara kedua ujung tersebut untuk memindahkan lebih banyak kalor.
Dan yang kedua, melalui elektron-elektron bebas. Kalor didalam logam
dipindahkan melalui elektron-elektron bebas yang terdapat dalam struktur atom
logam. Oleh karena elektron bebas sangat mudah berpindah, pertambahan energi
dengan cepat dapat diberikan ke elektron-elektron lain yang letaknya saling
berjauhan melalui tumbukan. Dengan cara ini kalor akan berpindah lebih cepat.
Oleh karena itu, logam tergolong dalam kategori konduktor yang sangat baik.
2.2.1. Persamaan Dasar Perpindahan Panas Konduksi
Perpindahan energi yang terjadi pada medium yang diam (padat atau zat
yang mengalir) apabila ada gradien temperature dalam media tersebut. Laju
perpindahan panas konduksi melalui suatu lapisan material dengan ketebalan
tetap adalah berbanding lurus dengan beda suhu di pangkal dan ujung lapisan
tersebut, berbandung lurus dengan luas permukaan tegak lurus arah perpindahan
panas dan berbanding terbalik dengan ketebalan lapisan. Persamaan dasar yang

digunakan pada perpindahan panas secara konduksi adalah Hukum Fouriers


(Fouriers law). Hukum Fourier menyatakan bahwa laju perpindahan kalor dengan
sistem konduksi dinyatakan dengan gradien temperatur dalam arah-x dinyatakan
dengan, dT/ dx. Dan luas perpindahan kalor arah normal pada arah aliran kalor, A.
Rumus hokum Fourier:

q x =kA
keterangan :

dT
dX

...

(2.1)

1. qx = Laju perpindahan kalor pada arah x (Watt)


2. k

= Konduktivitas termal (W/m.oC)

3. dT = Temperatur (oC)
4. dx = Arah aliran panas (m)
5. A = Luas Permukaan (m2)

Alasan pemberian tanda minus (-) pada rumus konduksi hukum Fourier,
adalah jika temperatur menurun pada arah-x positif, dT/dx adalah negatif,
kemudian Qx menjadi nilai positif dikarenakan kehadiran dari tanda negatif,
sehingga laju kalor berada pada arah-x positif (gambar 2.1). Dan jika temperatur
meningkat pada arah-x positif, dT/dx adalah positif, Qx berubah menjadi negatif,
dan aliran kalor berada pada arah-x adalah negatif. Qx merupakan nilai positif,
aliran kalor berada pada arah-x positif, dan sebaliknya (gambar 2.2). Panas
dikonduksikan dari tempat yang suhunya tinggi ke tempat yang suhunya rendah.
Sebagai akibatnya gradien suhu (dT/dx) kearah x positif menjadi negatif. Dengan
adanya tanda negatif pada persamaan diatas akan menyebabkan nilai laju
perpindahan panas dari suhu tinggi ke suhu rendah ini akan menjadi positif.

Gambar 2.1. Rumus konduksi hukum Fourier


(Sumber : Burhanuddin, 2013)

Gambar 2.2. Rumus konduksi hukum Fourier


(Sumber : Burhanuddin, 2013)

Konstanta k adalah sebuah sifat transport yang dikenal dengan nama


konduktivitas panas (W/ m.K) yang menyatakan karakteristik dari bahan dinding.
Tanda minus (-) adalah konsekuensi dari kenyataan bahwa panas dipindahan pada
arah temperatur yang menurun. Pada kondisi steady state, dimana distribusi
temperatur adalah linier, gradien temperatur dapat dinyatakan dengan :

dT T 2T 1
=
dX
L

q x =k

(2.2)

T 2T 1
L

(2.3)
atau

qx = k

T 2-T1
L

q x =k

T
L

...(2.4)

keterangan:

1. qx

= fluks panas

2. k

= konduktivitas panas

...(2.5)

3. T

= perbedaan suhu

Persamaan diatas merupakan suatu persamaan panas fluks yang


menyatakan perpindahan panas pada setiap satuan luas. Perpindahan panas
konduksi, qx" (Wa), melalui sebuah dinding dengan luas A adalah hasil dari fluks
panas dan luas.

} . { A} rsub {x}
q=q x
...(2.6)

keterangan:

1.

}
q x

= perpindahan panas konduksi

2. A = luas dinding

2.2.2. Perpindahan Panas Konduksi pada Dinding Berlapis


Rangkaian termal dapat digunakan juga pada sebuah sistem yang lebih
kompleks, seperti misalnya pada dinding berlapis, yang pada dindingnya terdiri
dari beberapa rangkaian seri dan paralel dimana setiap lapisan pada dinding
tersebut memiliki penyusun material yang berbeda-beda. Perpindahan panas
konduksi pada dinding berlapis dapat diperlihatkan pada gambar berikut ini.

Gambar 2.3. Perpindahan Panas pada Dinding Berlapis


(Sumber : Kadasyouth, 2013)

2.2.3. Perpindahan Panas Konduksi pada Sistem Radial


Gambar 2.4. Perpindahan Panas Konduksi pada Silinder
(Sumber : Kadasyouth, 2013)

Sebuah dinding satu lapis, berbentuk silinder, terbuat dari bahan homogen
dengan konduktivitas termal tetap dan suhu permukaan dalam dan suhu
permukaan luar seragam. Pada jari-jari tertentu luas yang tegak lurus terhadap
aliran kalor konduksi radial adalah 2rL, di mana L adalah panjang silinder.
Contoh yamg umum untuk sistem ini adalah silinder, yang memiliki permukaan
luar dan permukaan dalam yang diekspos pada fluida yang memilki perbedaan
temperatur. Untuk kondisi steady dimana tidak ada panas yang dibangkitkan maka
bentuk persamaan perpindahan panas adalah:

qr = -k. (2rL) .

keterangan:

dT
dx

...(2.7)

1. qr = kalor konduksi radial


2. L = panjang silinder
3. r = jari-jari silinder

Laju perpindahan panas qr adalah bernilai konstan pada arah radial. Kita
dapat menghitung distribusi temperatur di dalam silinder dengan cara
menyelesaikan persamaan dengan memakai asumsi bahwa nilai k adalah konstan.
Kondisi batas (Boundary Condition, BC) :
r = ri

T = Ti

r = ro

T = To

Dengan kondisi batas di atas, persamaan aliran panas untuk koordinat silinder
adalah :

q=

q=

Keterangan: 1. q

2kL( T i -T o )
r
ln o
ri

()

(2.8)

2kL( T i -T o )
r
2,3log o
ri

()

(2.9)

= laju perpindahan panas

2. k

= konduktivitas termal

3. ri

= jari-jari silinder di titik i

4. ro = jari-jari silinder t di titik o


5. L = panjang silinder
6. Ti = temperatur di titik i
7. To = temperatur di titik o

2.3.

Indirect Contact
Pengertian indirect contact adalah panas yang berada pada dinding menuju

fluida, selain itu juga di dalam peristiwa itu timbul sebuah energi difusi yaitu
energi yang ditambahkan terhadap fluida yang perpindahan panasnya itu mengalir
tergantung pada media pipa yang digunakan. Di dalam ilmu teknik kimia, media
pemanas tersebut dapat terdiri dari tiga bagian yaitu panas laten (Constant Wall
Temperatur) merupakan panas yang ada di dalam pipa itu sama secara
keseluruhan (konstan), temperatur konstan, tetapi terjadi perubahan fase.
Lalu ada panas sensibel (linier wall wemperatur) yang merupakan suatu
peristiwa di mana temperatur di dalam pipa tersebut berbeda atau berubah dan
dimana tidak ada terjadi perubahan fase, dan energi listrik (constant wall heat
flux) yaitu panas yang ditimbulkan oleh listrik yang ada pada dinding pipa
tersebut yang akan menyebabkan pipa menjadi memiliki panas yang sama.

10

Gambar 2.5. Indirect Contact


(Sumber : Hariyadi, 2009)

2.4.

Konduksi Steady State pada One Dimensional


Kondisi steady state adalah suatu keadaan atau kondisi dimana variabel-

variabel yang ada pada suatu sistem tersebut tidak berubah. Pada keadaan steady
state satu dimensi, tambahan kerja diabaikan dan sistem tidak dapat berubah.
Dengan kata lain penambahan panas pada sistem haruslah seimbang dengan panas
yang hilang pada titik-titik tersebut dan tidak berubahnya variabel-variabel yang
ada pada sistem tersebut. Apabila pada permukaan dalam dan luar temperaturnya
dinyatakan adalah sama, maka pendekatan satu dimensi pada tiga bentuk penting,
antara lain plane slab tipis, hollow cylinder panjang, dan hollow sphere.
2.5.

Konduktivitas Termal
Konduktivitas termal adalah proses untuk memindahkan energi dari bagian

yang panas ke bagian yang dingin dari substansi oleh interaksi molecular. Dalam
fluida, pertukaran energi utamanya dengan tabrakan langsung. Pada solid,
mekanisme utama adalah vibration molecular. Konduktor listrik yang baik juga
merupakan konduktor panas yang baik pula. Thermal conductivity tergantung
pada suhu dan ketergantungan agak kuat untuk berbagai konstruksi dan bahan
teknik lainnya. Ketergantungan ini biasanya dinyatakan dengan hubungan linier.
Konduksi termal adalah suatu fenomena perpindahan dimana perbedaan
temperatur menyebabkan perpindahan energi termal dari satu daerah benda panas
ke daerah yang sama pada temperatur yang lebih rendah dari satu daerah mulanya.
Panas yang dipindah dari satu titik ke titik lain melalui salah satu dari tiga metode
yaitu konduksi, konveksi dan radiasi. Dapat dirumuskan sebagai berikut:

11

Q L
k= x
t A X T
...(2.10)
keterangan:

1. Q = Panas yg dihantarkan
2. t

= waktu

3. L = Ketebalan
4. A = Luas Permukaan
5. T = Perbedaan Suhu

Hal ini pada umumnya untuk dinding yang berlapis banyak, di mana hanya
perbedaan suhu menyeluruh yang ditentukan. Jika data tersebut memungkinkan,
masalah akan dapat ditangani dengan cara mengandaikan nilai-nilai yang
dianggap wajar untuk suhu-suhu pada bagian permukaan, sehingga k untuk
masing-masing bahan bisa didapatkan dan fluks kalor per satuan luas dapat
ditentukan. Dengan menggunakan nilai yang didapatkan, nilai-nilai yang
diandaikan untuk suhu antar muka dapat diperbaiki dengan menerapkan hukum
Fourier pada setiap lapisannya, dimulai dengan suhu permukaan yang diketahui.
Prosedur ini dapat diulangi secara terus-menerus hingga didapatkannya
kesamaan yang memuaskan antara suhu antar muka yang sebelumnya dengan
nilai-nilai yang baru yang didapatkan dari perhitungan. Pada distribusi untuk
dinding datar yang memiliki konduktivitas termal yang berbanding lurus dengan
suhu, yang didapatkan secara analitis, sedangkan untuk perhitungan pada dinding
silinder, nilai k memiliki hubungan ketergatungan secara linier pada suhu.
Mekanisme fisik energi termal dalam zat cair secara kualitatif tidak
berbeda dari gas. Namun, situasinya menjadi jauh lebih rumit karena molekulmolekulnya lebih berdekatan satu sama lain, sehingga medan gaya molekul lebih
besar pengaruhnya pada pertukaran energi dalam proses tubrukan molekul. Dalam
satuan inggris, aliran kalor dinyatakan dalam satuan termal inggris per jam,
(Btu/h), luas permukaan dalam foot persegi, dan suhu dalam derajat fahrenheit.
Dengan demikian satuan konduktivitas termal adalah Btu/h. ft. oF.

12

Konduktivitas tergantung pada sifat bahan, pada zat padat, konduktivitas


termal logam fase padat yang diketahui komposisinya bergantung pada parameter
suhu. Konduktivitas termal pada bahan homogen biasanya sangat bergantung pada
aparent bulk density, yaitu massa bahan yang dibagi volume total. Pada zat-zat
cair, k bergantung pada parameter suhu, tetapi tidak terhadap parameter tekanan.
Umumnya, konduktivitas termal zat cair berkurang apabila suhu semakin
tinggi, kecuali pada air di mana k akan bertambah sampai 300 oF dan berkurang
pada suhu yang lebih tinggi. Air mempunyai konduktivitas termal yang paling
tinggi. Dan pada gas, suhu atau temperatur akan semakin tinggi pada tekanan di
sekitar tekanan atmosfir, maka akan menyebabkan konduktivitas termal semakin
bertambah. Gas yang terpenting pada konduktivitas termal ialah udara dan uap air.
Konduktivitas termal gas mendekati suatu limit dari T pada tekanan rendah.
2.6.

Koefisien Perpindahan Panas


Perpindahan panas antara dua fluida yang dipisahkan oleh pelat terjadi

secara konduksi dan konveksi. Jika konduksi dan konveksi secara berurutan, maka
tahanan panas yang terlibat (konduksi dan konveksi) dapat dijumlahkan untuk
memperoleh koefisien perpindahan panas keseluruhan (U). Besaran 1/Uh dan
1/Uc disebut tahanan keseluruhan terhadap perpindahan panas dan merupakan
jumlah seri dari tahanan di fasa fluida panas, pelat, dan fluida dingin.

BAB 3
METODELOGI PERCOBAAN
3.1.

Alat dan Bahan

3.1.1. Alat
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Power Supply
Stavolt
Heat Conduction Aparatus
Linier Module dan Radial Module
Pompa
Ember

3.1.2. Bahan
1) Air pendingin
2) Contoh material, yaitu: kuningan besar [A], kuningan kecil [B] dan
stainless steel [C].
3.2.

Prosedur Percobaan
1) Rangkailah alat.
2) Hidupkan power supply.
3) Aturlah panas (watt meter) sesuai yang dikehendaki untuk sistem linier
atau sistem radial.
4) Catatlah temperatur masuk air pendingin ketika power supply
dihidupkan.
5) Catatlah harga-harga temperatur yang terbaca untuk T1, T2, sampai dengan
T9 untuk sistem linier dan T1, T2, T3, T7, T8 dan T9 untuk sistem radial,
untuk harga panas (watt meter) stabil seperti yang dikehendaki.
Catatan:
Pembacaan temperatur T1 sampai T9 dilakukan dengan memutar
temperature selector switch.
6)

Lakukan langkah 1 sampai 5 terhadap masing-masing jenis


logam A, B dan C untuk setiap variasi sistem.
DAFTAR PUSTAKA

12

Ade,

Sucitro.

2014.

Heat

Conduction.

(Online).

http://rumahdukasi.blogspot.co.id/2014/03/heat-conduction.html.
(Diakses pada 17 September 2016).
Burhanuddin, Achmad. 2013. Perpindahan

Panas

Koduksi.

(Online).

http://inueds.blogspot.co.id/2013/04/perpindahan-panas-konduksi.html.
(Diakses pada 17 September 2016)
Hariyadi, R. 2009. Peristiwa Perpindahan Panas. (Online). http://89rahmat
hariyadi.blogspot.com/2009/06/peristiwa-perpindahan-panas.html.
(Diakses pada17 September 2016).
Kadasyouth.

2013.

Konduksi

Unsteady

State

Perpan

1.

(Online).

https://kadasyouth.wordpress.com/2013/05/19/konduksi-unsteady-stateperpan-i/. (Diakses pada 17 September 2016).


Rizkha,

Sintia.

2016.

Bab

Laporan

Heat

Conduction.

(Online).

https://id.scribd.com/doc/305458300/BAB-I-Laporan-HeatConduction.
(Diakses pada 17 September 2016).
Treyyball, R. E. 1987. Mass Transfer Operation, 3rd edition. New York: Mc Graw
Hill Book Company.

13