Anda di halaman 1dari 7

Analisis Metode Kolorimetri Dan Gravimetri Pengukuran Kadar

Glukomanan Pada Konjak (Amorphophallus Konjac)

Jurnal : Jurnal Pangan dan Agroindustri


Volume dan nomor : Vol. 3 No 4
Tahun : 2015
Penerbit : Simon Bambang Widjanarko dan Johana Megawati
Reviewer : Nur Apriliana Lenohingide / F1C114017
Tanggal : 24 November 2015

ABSTRAK

Kemurnian glukomanan adalah indikator utama dalam mengevaluasi kualitas tepung


glukomanan komersial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan metode
yang lebih akurat dan presisi antara gravimetri dan kolorimetri dalam menentukan
kadar glukomanan yang hingga saat ini belum disepakati secara internasional. Sampel
yang diujikan adalah Konjac

glukomanan komersial yang merupakan ekstrak

glukomanan dari umbi Amorphophallus Konjac. Glukomanan komersial diuji dengan


kedua metode sebanyak 10 kali ulangan lalu dibandingkan akurasi dan presisinya.
Metode kolorimetri dengan reagen 3,5-DNS menunjukkan akurasi yang lebih tinggi

(93.21%) dibandingkan dengan metode gravimetri (63.49%) terhadap literatur (90%).


RSD kolorimetri (1.36%) lebih kecil dibandingkan gravimetri (4.92%), menunjukkan
bahwa kolorimetri lebih presisi dibandingkan gravimetri.

PENDAHULUAN
Glukomanan adalah senyawa polisakarida yang banyak digunakan sebagai agen
pembuat gel, pengental makanan, dan dietary fiber. Glukomanan juga memiliki
kemampuan untuk menurunkan kadar kolesterol dan gula darah, mengurangi berat
badan, meningkatkan kesehatan pencernaan dan daya tahan tubuh. Dewasa ini
glukomanan yang telah banyak dikonsumsi di Jepang dan China didapatkan dari umbi
Amorphophallus konjac.
Penyetaraan standar sangat diperlukan untuk menilai dan menentukan kualitas produk
glukomanan komersial, namun aturan standar tentang pengujian tepung glukomanan
belum ada yang disepakati secara internasional. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk menentukan metode manakah diantara gravimetri dan kolorimetri yang paling
akurat dan memiliki tingkat ketelitian lebih tinggi untuk mengetahui kadar
glukomanan. Gravimetri walaupun merupakan teknik tertua dalam analisis
kuantitatif, namun dinilai masih relevan dalam menentukan kadar terutama senyawasenyawa organic.

BAHAN DAN METODE


Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah tepung glukomanan
komersial merk Konjac Glucomannan Powder produksi Konjac Foods China,
Sedangkan bahan yang digunakan untuk analisis meliputi: fenol, NaOH, deionized
water (DI water), asam format, potassium natrium tartrat, 3,5-Dinitrosalisilat (3,5DNS), H2SO4,Na2SO3,H2SO3, garam aluminium sulfat, etanol 100%, aquades,
isopropyl alcohol, dan glukosa. Bahan-bahan analisis tersebut memiliki kemurnian
pro analitik (p.a), dan dibeli di toko Makmur Sejati.
Alat
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan tepung porang dan suweg serta
pemurnian tepung metode bertingkat meliputi : glassware, timbangan analitik
(Denver Instrument M-310), pisau stainless steel, slicer, loyang, blender kering
(Philips), ayakan 80 mesh, dan homogenizer (Stirrer).

Sedangkan alat yang

digunakan untuk analisis pada penelitian meliputi : glassware, kertas saring, kompor
listrik

(Maspion),

oven

kering

(Memmert),

desikator,

shaker

(Heidolph),

spektrofotometer (Medilab), kuvet, vortex (LW Scintific Inc), sentrifuse (Universal


Model : PLC-012E), dan Magnetic Stirrer (LH Velp Scientifica).
Metode Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan yaitu deskriptif. Metode deskriptif digunakan
untuk membandingkan kedua metode (Gravimetri, dan Kolorimetri) menggunakan
sampel berupa Konjak Glucomannan (KGM) komersial dengan merk Konjak

Glucomannan Powder produksi Konjac Foods China yang dilakukan 10 kali ulangan
untuk masing-masing metode.
Tahapan Penelitian
Pengujian metode gravimetri.
1. Sampel dan garam aluminium sulfat (0.10 kali massa sampel) dilarutkan dalam air
hangat suhu 75oC dengan perbandingan 1:10 (b/v) sambil diaduk selama 35 menit.
2. Endapan sampel dipisahkan menggunakan sentrifuse 2000 rpm selama 30 menit
dan diambil supernatan.
3. Supernatan ditambahkan isopropil alkohol dengan perbandingan 1:1 (v/v) sambil
diaduk hingga terbentuk gumpalan.
4. Gumpalan disaring dengan kertas saring dan dikeringkan pada suhu 60oC selama
24 jam lalu ditimbang.
=
berat kertas residu
x 100
berat sampel mulamula
Pengujian Metode Kolorimetri
1. Pembuatan reagen 3,5-DNS dengan mencampurkan larutan A dan B. Larutan A
dibuat dengan mencampurkan fenol (0.70g), 10% (w/w) natrium hidroksida (1.50ml),
Deionized Water (5 ml) dan Natrium Bisulfit (0.70 g). Larutan B dibuat dengan
mencampurkan Natrium Kalium Tartrat (22.50 g), 10% Natrium Hidroksida (30 ml)
dan 1% (w/w) 3,5-DNS (88 ml).

2. Sampel ditimbang sebanyak 0.20 gram lalu ditambahkan buffer asam format
natrium hidroksida sebanyak 50 ml dan diaduk pada suhu ruang selama 4 jam.
Campuran kemudian diencerkan hingga 100 ml dengan menambahkan buffer.
3. Campuran disentrifugasi 4500 rpm selama 40 menit untuk diambil supernatannya.
Supernatan tersebut merupakan ekstrak glukomanan.
4. Ekstrak glukomanan diambil 5 ml dan dihidrolisis menggunakan asam sulfat 3M
250 ml dengan pemanasan dan pengadukan selama 90 menit. Hasil hidrolisis
didinginkan pada suhu ruang dan dinetralkan dengan penambahan Natrium
Hidroksida 6M 2.50 ml, kemudian diencerkan dengan Deionized water hingga 25 ml.
Hasil yang didapat merupakan hidrolisat glukomanan.
5. Ekstrak glukomanan, hidrolisat glukomanan, dan Deionized Water (sebagai
blanko), masing-masing 2.00 ml, ditempatkan ke dalam gelas ukur 25 ml diikuti
dengan penambahan reagen 3,5-DNS (1.50 ml) dan kemudian diaduk dan diinkubasi
dalam wadah tertutup berisi air mendidih selama 5 menit. Larutan didinginkan hingga
suhu ruang, lalu diencerkan hingga 25 ml menggunakan Deionized Water.
6. Masing-masing sampel diukur nilai absorbansinya menggunakan spektrofotometer
pada panjang gelombang 540 nm. Kandungan glukosa pada larutan sampel dan
hidrolisat ditentukan dengan memasukkan nilai absorbansi pada persamaan garis
lurus regresi kurva standar glukosa.

(%)= 5000(5 - )

f = faktor koreksi (0.90), T = kadar glukosa hidrolisat KGM (mg), To = kadar glukosa
larutan sampel KGM (mg), m = massa tepung konjak (200 mg).

Prosedur Analisis
Data pertama berupa perbandingan metode akan dideskripsikan berdasarkan rata-rata
dan variasi data yang terbentuk. Dari data tersebut akan ditentukan metode manakah
yang memiliki akurasi dan presisi yang lebih tinggi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Validasi Metode Gravimetri dan Kolorimetri
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tepung konjak glukomanan
komersial. Konjak glukomanan komersial diuji kadar glukomanannya dengan metode
gravimetri dan kolorimetri sebanyak 10 kali ulangan yang hasilnya ditampilkan pada
Tabel 1. Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa nilai RSD metode gravimetri
(4.218%) lebih besar dibandingkan dengan metode kolorimetri (1.356%). Artinya,
variasi data gravimetric lebih besar dibandingkan metode kolorimetri. Metode
kolorimetri lebih repeatable dan presisi dibandingkan gravimetri. Nilai RSD
kolorimetri juga memenuhi standar presisi suatu analisis kimiawi oleh CIPAC [7],
sesuai dengan persamaan < 2 (1 - 0.5 log ) 0.67 , yaitu lebih kecil dari 1.361
sehingga metode kolorimetri merupakan suatu analisis yang presisi. Gambar 1
memperkuat bukti bahwa kolorimetri lebih presisi dibandingkan dengan gravimetri.

Sebaran titik pada gravimetri lebih jauh dan trendline membentuk garis yang lebih
curam dibandingkan dengan metode kolorimetri.
SIMPULAN
Metode kolorimetri dengan reagen 3,5-DNS menunjukkan akurasi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan metode gravimetri. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata kadar
glukomanan KGM komersial yang diukur dengan kolorimetri sebesar 93.21%, lebih
mendekati literatur (90%) dibandingkan dengan pengukuran menggunakan gravimetri
yang menunjukkan kadar KGM sebesar 63.49%. RSD kolorimetri sebesar 1.36%,
lebih kecil dibandingkan RSD gravimetri sebesar 4.92%, menunjukkan bahwa
kolorimetri lebih presisi dibandingkan gravimetri.

Anda mungkin juga menyukai