Anda di halaman 1dari 11

Kebudayaan Bugis-Makassar

1. Latar Belakang Historis


Kebudayaan Bugis-Makassar adalah kebudayaan dari suku-suku Bugis-Makassar yang mendiami
bagian terbesar dari jazirah selatan dari pulau Sulawesi. Jazirah itu adalah provinsi Sulawesi
selatan sendiri yang sekarang terdiri dari 24 kabupaten. Mengenai asal mula suku Bugis, suku
Bugis merupakan suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu yang masuk ke
Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.
Kata Bugis berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada
raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana (Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La
Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja
mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La
Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu,
ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan
beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah
kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah
kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah
Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa
tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.
Lain halnya dengan suku Bugis, nama Makassar berasal dari nama Melayu untuk sebuah etnis
yang mendiami pesisir selatan pulau Sulawesi. Lidah Makassar menyebutnya Mangkassara
berarti Mereka yang Bersifat Terbuka. Etnis Makassar ini adalah etnis yang berjiwa penakluk
namun demokratis dalam memerintah, gemar berperang dan jaya di laut. Tak heran pada abad
ke-14-17, dengan simbol Kerajaan Gowa, mereka berhasil membentuk satu wilayah kerajaan
yang luas dengan kekuatan armada laut yang besar berhasil membentuk suatu Imperium
bernafaskan Islam, mulai dari keseluruhan pulau Sulawesi, kalimantan bagian Timur, NTT, NTB,
Maluku, Brunei, Papua dan Australia bagian utara. Mereka menjalin kerjasama dengan Bali,
Malaka dan Banten dan seluruh kerajaan lainnya dalam lingkup Nusantara maupun Internasional
(khususnya Portugis). Kerajaan ini juga menghadapi perang yang dahsyat dengan Belanda
hingga kejatuhannya akibat adudomba Belanda terhadap Kerajaan taklukannya.
1.2. Perkembangan
Suku Bugis-Makassar adalah suku yang sama-sama menempati Sulawesi selatan, berbicara
tentang Makassar maka identik pula dengan suku Bugis yang serumpun. Dalam
perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan lain.
Masyarakat Bugis ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, pemerintahan
mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik dan besar antara lain Luwu, Bone, Wajo,
Soppeng, Suppa dan Sawitto (Kabupaten Pinrang), Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan
membentuk etnik Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan
Makassar dan Mandar. Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu,

Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan
Makassar adalah Bulukumba, sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis
dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang.
BAB II
KEBUDAYAAN BUGIS-MAKASSAR
2.1. Keadaan Geografis dan Demografis
Populasi terbesar suku Bugis-Makassar terpusat di Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi Sulawesi
Selatan terletak di jazirah selatan Pulau Sulawesi, yang beribukotakan di Makassar terletak
antara 012 8 Lintang Selatan dan 11648 12236 Bujur Timur. Secara administratif
berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara
di sebelah timur, batas sebelah barat dan timur masing-masing adalah Selat Makassar dan Laut
Flores.
Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan tercatat 45.519,24 km2 yang secara administrasi
pemerintahan terbagi menjadi 24 kabupaten dan 3 kota, dengan 296 kecamatan dan 2.946
desa/kelurahan.
Saat ini, orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng,
Sidrap, Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah
Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar
adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua
bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng)
dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan).
Kabupaten Luwu Utara merupakan kabupaten terluas dengan luas 7.502,68 km2 atau luas
kabupaten tersebut merupakan 16,48% dari seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Sedangkan
Sulawesi Selatan, 42% dari luas seluruh pulau Sulawesi atau 4,1% dari luas seluruh Indonesia.
Penduduk Sulawesi Selatan berdasarkan Biro Dekonsentrasi Bagian Kependudukan Pemprov.
Sulawesi Selatan pada tahun 2008 berjumlah 7.874.439 jiwa, dengan persentase yang bersuku
Bugis-Makassar sekitar 85 persen, yang tersebar di 24 kabupaten/kota, dengan jumlah penduduk
terbesar yakni 1.265.521 jiwa (16,07%) mendiami Kota Makassar. Tingginya tingkat
pertumbuhan penduduk di Kota Makassar dimungkinkan karena terjadinya arus urbanisasi dari
daerah lainnya di Sulawesi Selatan terutama untuk melanjutkan pendidikan, disamping daerah ini
merupakan pusat pemerintahan dan konsentrasi kegiatan ekonomi.
Kepadatan penduduk per km2 di Sulawesi Selatan rata-rata 173 jiwa/km. Kota Makassar
merupakan kabupaten/kota terpadat (7.200 jiwa/km2), menyusul Kota Parepare (1.201 jiwa/km2)
kemudian Kota Palopo (842 jiwa/km2). Sedangkan kab/kota dengan tingkat kepadatan penduduk
terendah yaitu kab. Luwu Timur (34 jiwa/km2), Luwu Utara (39 jiwa/km2) dan Enrekang (94
jiwa/km2). Tujuh belas (17) kabupaten lainnya rata-rata mempunyak tingkat kepadatan
penduduk antara 100-500 jiwa/km2 yaitu Selayar Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, Takalar,
Gowa, Sinjai, Maros, Pangkep, Barru, Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang, Tator dan Luwu.

Masyarakat Bugis-Makassar tersebar di dataran rendah yang subur dan sekitar pesisir pantai.
Iklim yang adapun terbilang seimbang karena tiap tahunnya terjadi pergantian musim, yakni
musim kemarau dan musim hujan. Perubahan musim yang terjadi tiap tahunnya membuat
wilayah ini sebagai wilayah yang subur yang dapat ditumbuhi berbagai jenis tanaman.
2.2. Bentuk Perkampungan
Bentuk desa di Sulawesi Selatan sekarang merupakan kesatuan-kesatuan administratif, gabungan
sejumlah kampong lama (desa gaya baru). Suatu kampong lama, biasanya terdiri dari sejumlah
keluarga yang mendiami 10-200 rumah, letak rumahnya berderet menghadap ke selatan atau
barat. Jika terdapat sungai di desa maka diusahakan agar rumah-rumah dibangun dengan gaya
membelakangi sungai. Pusat dari kampong lama merupakan suatu tempat keramat (pocci tana)
dengan suatu pohon waringin yang besar dan kadang-kadang terdapt juga rumah pemujaan
(saukang).
Sebuah kampong lama dipimpin seorang motowa (kepala desa) beserta kedua pembantunya
disebut sariang atau parennung. Gabungan kampong dalam struktur asli disebut wanua dalam
bahasa Bugis parasangan atau bori dalam bahasa Makassar. Pemimpin wanua disebut (arung
palili) untuk suku Bugis, Makassar sendiri yakni(karaeng) .
Bentuk rumah dan masjid, dibangun diatas tiang dan terdiri dari tiga bagian yang masing-masing
mempunyai fungsi khusus yaitu : a. rakaeng dalam bahas Bugis atau pammakkang dalam bahasa
Makassar, yakni bagian rumah dibawah atap yang dipakai untuk menyimpan padi, persediaan
pangan, dan juga benda-benda pusaka b. awaso dalam bahasa Bugis atau passiringang dalam
bahasa Makassar, bagian dibawah lantai panggung dipakai untuk, menyimpan alat-alat
pertanian , kandang ayam, kambing, dan sebagainya. Pada zaman sekarang tempat ini berubah
fungsi menjadi tempat tinggal manusia.
Hampir semua rumah Bugis dan Makassar yang berbentuk adat, mempunyai suatu pangggung di
depan pintu masih dibagian atas dari tangga, panggung ini biasa disebut tamping, tempat bagi
para tamu untuk menunggu sbeleum dipersilahkan oleh tuan rumah untuk masuk keruang tamu.
Proses pembangunan untuk rumah suku Bugis dan Makassar, biasanya menggunakan beberapa
ramuan pada tiang utama yang akan didirikan, bahakan, kadang-kadang menggunakan kepala
kerbau setelak kerangka rumah berdiri. Proses semacam ini dimaksudkan untuk menghindari
terjadinya malapetaka.
2.3. Sistem Kekerabatan
a) Pernikahan
Pernikahan adalah salah satu cara untuk melanjutkan keturunan berdasarkan cinta kasih,
selanjutnya pernikahan juga memperat hubungan antar keluarga, antar suku, bahkan antar
bangsa. Dengan hubungan pernikahan dapat membuat suatu ikatan yang disebut massedi siri
berarti bersatu dalam mendukung dan mempertahankan kehormatan keluarga. Pernikahan ideal
yakni terjadi bila mereka mendapat jodoh dalam lingkup keluarganya sendiri seperti a) siala

massappisiseng yakni pernikahan antarsepupu sekali, b) siala massappokadua yakni pernikahan


antrsepupu kedua kali, c) siala massappokatellu yakni pernikahan antara spepupu ketiga kali
b) Pembatasan jodoh
Dalam masyarakat Bugis dikenal adanya pelapisan sosial golongan, maka terjadi pula
pembatasan jodoh dalam hubungan pernikahan. Pada zaman lampau anak keturunan bangsawan
dilarang berhubungan dengan orang biasa, jika dilanggar maka pasangan ini dikenakan hukuman
riladung yang artinya pelanggar dikenakan hukuman berat yaitu keduanya akan ditenggelamkan
kedalam air.
c) Syarat-Syarat Untuk Menikah
Seorang pria yang akan menikah harus memenuhi syarat yakni : nallebi mattulilingi dapurengnge
wekka pittu, artinya ia harus mampu mengelilingi dapur sebanyak tujuk kali, bila ia mampu
mengadakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari maka ia boleh
kawin.
d) Tata Cara Peminangan
Mappesek-pesek suatu cara untuk mengetahui sudah terikatnya si wanita yang dipilih atau tidak
samasekali.
Madduta yakni pengiriman utusan dari pihak pria untuk mengajukan lamaran. Utusan ini harus
orang yang dituakan dan tahu seluk beluk madduta.
e) Waktu Pelaksana Pernikahan
Tahap yang ditempuh untuk menikah yakni acara mappetu ada atau memutuskan kata sepakat, di
acara ini juga dibahas masalah tanra esso (penentuan hari), balanca (uang belanja), dan sompa
(mahar)
f) Mappacci
Mappacci yakni perawatan bagi calon pengantin wanita sebelum pelaksaan pernikahan.
Selain upacara pernikahan terdapat juga upacara keselamatan kehamilan dan upacara kematian,
dalam upacara keselamatan kehamilan tahapan yang dilakukan yakni: makkampai sandro
(menghubungi dukun), mappare to mangideng (memberi makan orang mengidam. Dalam
upacara kematian biasanya diutus dua atau tiga orang untuk memberi tahu kerabat dekat
kemudian, penguburan akan dilaksanakan, setelah dilaksanakan akan diadakan bilampeni atau
upacara keselamatan yang diadakan sejak hari penguburan jenazah, dan mattampung pada hari
ketujuh dan kesembilan diadakan upacara ini.
2.4. Sistem Kemasyarakatan

H. J. Friedericy menggambarkan pelapisan masyarakat Bugis dan Makassar yang dibuatnya


berdasarkan buku kesusteraan asli Bugis dan Makassar, la galigo. Menurut nya terdiri dari tiga
lapisan yakni:
a) anakarung atau anakaraeng dalam bahasa Makassar. Lapisan ini adalah lapisan kaum kerabat
raja-raja.
b) to maradeka dalama bahasa Makassar, lapisan ini adalah lapisan orang merdeka.
c) ata, yakni lapisan budak.
Dalam usahanya untuk mencari latar belakang terjadinya pelapisan masyarakat, Friedericy
berpedoman kepada peranan tokoh-tokoh yang disebut dalam la galigo dan ia berkesimpulan,
bahwa masyarakat Bugis dan Makassar pada mulanya hanya terdiri dari dua lapisan masyarakat.
Lapisan Ata merupakan suatu perkembangan kemudian yang terjadi dalam zaman perkembangan
dari organisasi-organisasi pribumi di Sulawesi Selatan.
Pada abad ke-20 lapisan ata dihilangkan karena larangan dari pemerintah colonial dan desakan
dari tokoh agama setempat. Sesudah perang dunia ke-2, arti dari perbedaan antara lapisan
karaeng, to maradeka, dan ata. Dalam kehidupan masyarakat juga sudah mulai berkurang dengan
cepat, walaupun masih dipakai, toh tidak lagi mempunyai arti seperti dulu dan sekarang justru
sering diperkecil dengan sengaja . Sebab Stratifikasi social lama, sering dianggap sebagai
hambatan untuk kemajuan.
2.5. Religi dan Adat yang Keramat
Orang Bugis dan Makassar yang tinggal di daerah pedesaan masih terkait norma-norma yang
keramat dan sifatnya sakral, biasa disebut panngaderreng. Sistem adat ini terbagi menjadi 5
unsur:
a)Ade, terbagi menjadi dua
Ade akkalabinengeng, unsur ini mengenai hal ikhwal perkawinan serta hubungan kekerabatan
dan sopan santun dalam pergaulan antarkerabat.
Ade tana, unsur ini mengenai hal ikhwal bernegara dan memerintah suatu negara berwujud
hokum negara, hokum antarnegara, serta etika dan pembinaan insan politik.
b)Bicara, adalah konsep yang bersangkut paut dengan paradilan atau kurang lebih sama dengan,
hukum acara serta hak-hak dan kewajiban seseoranmng yang mengajukan kasusnya ke
pengadilan.
c)Rappang, berarti contoh, perumpamaan, kias, atau anologi. Unsur ini menjaga kepastian dari
suatu hukum tak tertulis, dalam masa lampau sampai sekarang. Selain itu rappang juga berisi
pandangan-pandangan keramat untuk mencegah tindakan-tindakan yang bersifat gangguan
terhadap hak milik, serta ancaman terhadap warga negara.
d)Wari, adalah unsur yang mengklasifikasikan segala benda, peristiwa, dan aktifitas dalam
kehidupan bermasyarakat. Misalnya, untuk memelihara tata susunan dan tata penempatan benda
di kehidupan bermasyarakat, untuk memelihara jalur keturunan yang mewujudkan pelapisan
sosial, untuk memelihara hubungan kekerabatan antara raja suatu negara dengan raja negara lain.
e)Sara, unsur yang mengandung pranata-pranata dan hukum islam, serta unsur yang melengkapi
keempat unsur lainnya.

Religi suku Bugis dan Makassar pada zaman pra islam adalah sure galigo, sebenarnya keyakinan
ini telah mengandung suatu kepercayaan pada satu dewa tunggal, biasa disebut patoto e (dia
yang menentukan nasib), dewata seuwae (tuhan tunggal), turie a rana (kehendak yang tertinggi).
Sisa kepercayaan ini masih tampak jelas pada orang To latang dikabupaten Sidenreng Rappang
dan orang Amma Towa di Kajang kabupaten Bulukumba.
Saat agama islam masuk ke Sulawesi Selatan pada awal ke-17, ajaran agama islam mudah
diterima masyarakat. Karena sejak dulu mereka telah percaya pada dewa tunggal. Proses
penyebaran islam dipercepat dengan adanya kontak terus menerus antara masyarakat setempat
dengan para pedagang melayu islam yang telah menetap di Makassar.
Pada abad ke-20 karena banyak gerakan-gerakan pemurnian ajaran islam seperti
Muhammadiyah, maka ada kecondongan untuk menganggap banyak bagian-bagian dari
panngaderreng itu sebagai syirik, tindakan yang taik sesuai dengan ajaran Islam, dan karena itu
sebaiknya ditinggalkan. Demikian Islam di Sulawesi Selatan telah juga mengalami proses
pemurnian.
Sekitar 90% dari penduduk Sulawesi Selatan adalah pemeluk agama Islam, sedangkan hanya
10% memeluk agama Kristen Protestan atau Katolik. Umat Kristen atau Katolik umumnya
terdiri dari pendatang-pendatang orang Maluku, Minahasa, dan lain-lain atau dari orang Toraja.
Mereka ini tinggal di kota-kota terutama di Makassar.
Kegiatan-kegiatan da'wah Islam dilakukan organisasi Islam yang amat aktif seperti
Muhammadiyah, Darudda'wah wal Irsjad, partai-partai politik islam dan Ikatan Mesjid dan
Mushalla dengan Pusat Islamnya di Makassar.
2.6. Mata Pencaharian Hidup
Masyarakat Bugis dan Makassar pada umumnya adalah petani seperti penduduk dari daerahdaerah lain di Indonesia. Mereka menanam padi bergiliran dengan palawija di sawah. Teknik
bercocok tanamnya juga seperti di tempat-tempat lain di Indonesia masih berisfat tradiosonal
berdasarkan cara-cara intensif dengan tenaga manusia. Di berbagai tempat di pegunungan, di
pedalaman dan tempat-tempat terpencil lainnya di Sulawesi Selatan, banyak penduduk masih
melakukan bercocok tanam dengan teknik peladangan.
Adapun mereka yang tinggal di desa-desa di daerah pantai, mencari ikan merupakan suatu mata
pencarian hidup yang amat penting. Dalam hal ini orang Bugis dan Makassar menangkap ikan
dengan perahu-perahu layar sampai jauh di laut. Memang orang Bugis dan Makassar terkenal
sebagai suku-bangsa pelaut di Indonesia yang telah mengembangkan suatu kebudayaan maritim
sejak beberapa abad lamanya. Perahu-perahu layar mereka yang dari tipe penisi dan lambo telah
mengarungi perairan Nusantara dan lebih jauh dari itu telah berlayar sampai ke Srilangka dan
Filipina untuk berdagang. Kebudayaan maritim dari orang Bugis-Makassar itu tidak hanya
mengembangkan perahu-perahu layar dan kepandaian berlayar yang cukup tinggi, tetapi juga
meninggalkan suatu hukum niaga dalam pelayaran, yang disebut Ade' Allopi-loping Bicaranna
Pabbalu'e dan yang tertulis pada lontar oleh Amanna gappa dalam abad ke-17. Bakat berlayar
yang rupa-rupanya telah ada pada orang Bugis dan Makassar, akibat kebudayaan maritim dari

abad-abad yang telah lampau itu. Sebelum Perang Dunia ke-II, daerah Sulawesi Selatan
merupakan daerah surplus bahan makanan, yang mengekspor beras dan jagung ke tempat-tempat
lain di Indonesia. Adapun kerajinan rumah-tangga yang khas dari Sulawesi Selatan adalah
tenunan sarung sutera dari Mandar dan Wajo dan tenunan sarung Samarinda dari Bulukumba.
2.7. Bahasa, Kesusasteraan, dan Tulisan
Bahasa yang diucapkan oleh suku Bugis disebut bahas ugi sementara suku Makassar disebut
mangkasara. Adapun huruf yang dipakai dalam naskah Bugis maupun Makassar yakni, aksara
lontara yaitu sebuah system huruf yang asalnya dari huruf sansekerta ( brahmi kuno dari India).
Mengenai kesusteraan Bugis-Makassar sudah ada sejak berabad-abad lamanya. Utamanya,
dalam naskah-naskah kesusteraan lontara. Adapun naskah-naskah kuno yang ditulis di daun
lontara, kini sangat sulit didapatkan. Naskah kuno yang ada kini, hanya yang tertulis diatas kertas
maupun lidi ijuk(kallang), diantara buku terpenting dalam kesusteraan suku Bugis-Makassar
terdapat buku sure galigo, suatu himpunan besar dari mitologi yang bagi kebanyakan orang
mempunyai nilai yang keramat.
Tetapi, ada juga himpunan kesusteraan yang isinya sebagi pedoman dan tata kelakuan untuk
setiap individu, seperti himpunan amanat dari nenek moyang(paseng), himpunan undangundang, keputusan dan peraturan pemimpin adat(rappang), kemudian terdapat juga himpunan
kesusasteraan yang mengandung sejarah, seperti silsilah raja-raja(attoriolog) dan cerita mengenai
para pahlawan yang dibubuhi cerita legendaries(pau-pau). Serta, banyak lagi yang berisi syair,
nyanyian, dan teka-teki.
BAB III
PENUTUP
3.1. Ringkasan
Suku Bugis-Makassar mendiami bagian terbesar dari jazirah Pulau Sulawesi. Suku Bugis dan
Makassar merupakan dua suku yang masih serumpun, yang tergolong ke dalam suku-suku
Deutero Melayu yang masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia.
Persentase jumlah penduduk suku Bugis di Sulawesi Selatan adalah sekitar 62,5% dan suku
Makassar sekitar 26,7%. Bentuk desa di Sulawesi Selatan sekarang merupakan kesatuankesatuan administratif, gabungan sejumlah kampong lama (desa gaya baru). Sistem kekerabatan
dalam kebudayaan Bugis-Makassar masih cukup kental seperti dapat dilihat dalam proses
perkawinan yang memiliki beberapa ketetapan ideal. Lapisan masyarakat Bugis dan Makassar
terdiri dari 3 yaitu anak arung atau lapisan kaum kerabat raja-raja, to maradeka atau lapisan
orang merdeka dan ata atau lapisan orang budak.
Sekitar 90% dari penduduk Sulawesi Selatan adalah pemeluk agama Islam, sedangkan hanya
10% memeluk agama Kristen Protestan atau Katolik. Karena masyarakat Bugis dan Makassar
tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup
sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang.
Kemudian ada sisi seni juga yang biasanya menjadi mata pencarian bagi suku Bugis dan

Makassar, yakni pembuatan sarung tenun sutra. Bahasa yang diucapkan oleh suku Bugis disebut
bahas ugi sementara suku Makassar disebut mangkasara. Adapun huruf yang dipakai dalam
naskah Bugis maupun Makassar yakni, aksara lontara. Diantara buku terpenting dalam
kesusasteraan suku Bugis-Makassar adalah buku sure galigo, suatu himpunan besar dari mitologi
yang bagi kebanyakan orang mempunyai nilai yang keramat.
3.2. Potensi Pengembangan di Era Modernisasi
Potensi paling besar bagi masyarakat Bugis-Makassar adalah dalam sektor pelayaran rakyat dan
perikanan, karena usaha-usaha ini sudah merupakan usaha-usaha yang telah dijalankan sejak
beberapa abad lamanya oleh orang Bugis-Makassar, sehingga dapat dikatakan telah mendarah
daging dalam alam jiaw mereka.

KESENIAN
Alat musik
Kacapi (Kecapi)

Kacapi
Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis, Bugis Makassar
dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut,
sehingga bentuknya menyerupai perahu yang memiliki dua dawai, diambil karena penemuannya
dari tali layar perahu. Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan,
hajatan, bahkan hiburan pada hari ulang tahun.
Sinrili

sinrili
alat musik yang mernyerupai biaola cuman kalau biola di mainkan dengan membaringkan di
pundak sedang singrili di mainkan dalam keedaan pemain duduk dan alat diletakkan tegak di
depan pemainnya.
Gendang

gendang
Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundar seperti rebana.
Suling

seruling
Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:
Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah.
Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi dan dimainkan
bersama penyanyi
Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah Kecamatan
Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (baris-berbaris) atau acara penjemputan
tamu.
Seni Tari
Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika kedatangan tamu
senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran dan kehormatan.

Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang sedang


menenun benang menjadi
kain. Melambangkan kesabaran dan ketekunan perempuanperempuan Bugis.
Tari Pajoge dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabai (waria), namun jenis tarian
ini sulit sekali
ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.
Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa, tari Pagalung, dan tari Pabbatte
(biasanya di gelar padasaat
Pesta Panen).
Makanan Khas Sulawesi Selatan
1. COTO MAKASSAR
2. KONRO
3. SOP SAUDARA
4. PISANG EPE
5. PISANG IJO
6. PALU BASSAH
7. PALA BUTUNG
8. NASU PALEKKO (Bebek)
Permainan
Beberapa permainan khas yang sering dijumpai di masyarakat Bugis ( Pinrang): Mallogo,
Mappadendang, Magasing, Mattoajang (ayunan), getong-getong, Marraga, Mappasajang
(layang-layang), Malonggak
Senjata Suku Bugis

KAWALI senjata khas suku bugis