Anda di halaman 1dari 22

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Medik


1. Pengertian
a. Stroke merupakan suatu keadaan yang timbul karena terjadi
gangguan peredaraan darah di otak yang menyebabkan
terjadinya kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan
seseorang menderita kelumpuhan atau kematian (Fransisca B.
Batticaca, 2008).
b. Stroke merupakan penyakit atau gangguan fungsional otak
berupa kelumpuhan saraf (defisit neurologic) akibat terhambatnya
aliran darah ke otak. (dr.Iskandar junaidi,2011).
c. Menurut WHO stroke merupakan terjadinya gangguan fungsional
otak fokal maupun global secara mendadak dan akut yang
berlangsung lebih dari 24 jam, akibat gangguan aliran darah otak
(dr. Iskandar Junaidi, 2011).
2. AnatomiFisiologi

Anatomi Otak
(Sumber, Yien 2011)

a. Sistem saraf pusat


Otak adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume
sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron.

Otak

mengatur

dan

besar, gerakan, perilaku dan

mengkordinir
fungsi

sebagian

tubuhhomeostatis seperti

detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan


suhu

tubuh.

Otak

manusia

bertanggung

jawab

terhadap

pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu


terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran.
Secara garis besar otak dibedakan menjadi 3 bagian utamayaitu :
a) Serebrum (otak besar)
Serebrum merupakan bagian otak yang paling besar dan paling
menonjol,disini terletak pusat-pusat saraf yang mengatur semua
kegiatan sensorik dan motorik, juga mengatur proses penalaran,
ingatan dan intelegensi. Hemisfer serebri kanan mengatur
bagian tubuh sebelah kiri dan hemisfer serebri kiri mengatur
bagian

tubuh

kanan.

Konsep

fungsional

ini

di

sebut

pengendalian kontrelateral.
(1) Lobus frontalis
Merupakan lobus terbesar, terletak pada fosa anterior. Area
ini dapat menerima informasi dari seluruh otak dan
menggabungkan

informasi-informasi

tersebut

menjadi

pikiran, rencana dan perilaku. Daerah broca terletak di lobus


frontalis dan mengontrol ekspresi bicara. Lobus frontalis
bertanggung jawab terhadap fungsi kognitif tertinggi,seperti,
pemecahan

masalah,spontanitas,memori,bahasa,motivasi

penilaian kontrol impuls, dan perilaku sosial/seksual.


(2) Lobus parientalis
Lobus parientalis berperan sebagai sensasi sentuhan,bau
rasa, di sertai kesadaran ruang. Lobus ini merupakan
komponen

kunci

untuk

koordinasi

mata

dan

tangan/pergerakan kaki. Selain itu,di lobus ini terdapat


daerah bicara yang bertanggung jawab untuk pengertian

(pemahaman) bahasa. Lobus ini terdapat di depan sulkus


sertalis dan di belakangi oleh karaco occipitals.
(3) Lobus temporalis
Lobus temporal berperan sebagai tempat emosi,dan juga
bertanggung

jawab

terhadap

rasa,bau

persepsi,memori,musik,agresif dan perilaku seksual. Selain


itu lobus ini mempunyai daerah bicara.
(4) Lobus oksipitalis
Lobus ini berfungsi untuk penglihatan. Di lobus oksipitalis
kiri berfungsi untuk melihat angka dan huruf,sedangkan
kanan untuk melihat gambar dan bentuk.
b. Sistem Saraf Tepi/Perifer
1) Saraf somatik
Saraf somatik terdiri atas neuron motorik eferen yang keluar dari
otak dan medula spinalis dan bersiap secaralangsung pada sel otot
rangka. Neuron motorik merupakan saraf besar bermialin yang
melepas asetilkolin di taut neuromuskuler.
2) Sistem Saraf Otonom
a) Sistem Saraf Simpatis
Sistem ini adalah sistem siap siaga untuk membantu proses
kedaruratan,keadaan stress baik yang di sebabkan oleh fisik
maupun emosional dapat menyebabkan peningkatan yang
cepat pada impuls sispatis.
Akibat yang timbul dari sistem saraf simpatis, yaitu :
a) Bronkiolus berdilatasi untuk pertukaran gas
b) Kontraksi jantung yang kuat dan cepat
c) Dilatasi arteri menuju jantung dan otot volunter yang
membawah lebih banyak darah
d) Kontraksi pembuluh darah perifer yang membuat kulit pada
e)
f)
g)
h)
i)

kaki dingin
Dilatasi pada pupil
Hati mengeluarkan glukosa untuk energi cepat
Peristaltik makin lambat
Rambut berdiri
Peningkatan keringat

b) Sistem Saraf Parasimpatis


Fungsi sistem saraf parasimpatis sebagai pengontrol dominan
untuk kebanyakan efektor visceral dalam waktu lama. Selama
keadaan diam, kondisi tanpa stress, impuls dan serabut-serabut
parasimpatis yang menonjol.
Akibat yang dapat timbul dari saraf parasimpatis
a) Penyempitan pupil mata
b) Stimulasi kelenjar saliva
c) Perangsangan gerak peristaltik dan sekresi asam lambung
d) Pengurangan denyut jantung
e) Kontraksi jantung urin
f) Perangsangan pankreas
g) Konsriksi (penyempitan bronki)
h) Stimulasi cairan empedu dan kantung empedu
i) Pembuluh darah sistemik untuk abdomen dan otot

Sirkulasi Darah Otak

Sirkulasi darah pada sistem saraf terbagi atas sirkulasi pada


otak dan medula spinalis. Dalam keadaan fisiologik jumlah darah
yang dikirim ke otak sebagai blood flow cerebral adalah 20%
cardiac out put atau 1100-1200 cc/menit untuk seluruh jaringan
otak yang berat normalnya 2% dari berat badan orang dewasa.
Untuk mendukung tercukupinya suplai oksigen, otak mendapat
sirkulasi yang didukung oleh pembuluh darah besar.
Suplai Darah Otak
1) Arteri Carotis Interna kanan dan kiri

a) Arteri communicans posterior


Arteri ini menghubungkan arteri carotis interna dengan arteri
cerebri posterior
b) Arteri choroidea anterior, yang nantinya membentuk plexus
choroideus di dalam ventriculus lateralis
c) Arteri cerebri anterrior
Bagian ke frontal disebelah atas nervus opticus diantara
belahan otak kiri dan kanan. Ia kemudian akan menuju facies
medialis

lobus

frontalis

cortex

cerebri.

Daerah

yang

diperdarahi arteri ini adalah: a) facies medialis lobus frontalis


cortex cerebro, b) facies medialis lobus parietalis, c) facies
convexa lobus frontalis cortex cerebri, d) facies convexa lobus
parietalis cortex cerebri, e) Arteri cerebri media
a) Arteri cerebri media
2) Arteri Vertebralis kanan dan kiri
a) Arteri Cerebri Media
Berjalan lateral melalui fossa sylvii dan kemudian bercabangcabang untuk selanjutnya menuju daerah insula reili. Daerah
yang disuplai darah oleh arteri ini adalah Facies convexa lobus
frontalis coretx cerebri mulai dari fissura lateralis sampai kirakira sulcus frontalis superior, facies convexa lobus parielatis
cortex cerebri mulai dari fissura lateralis sampai kira-kira
sulcus temporalis media dan facies lobus temporalis cortex
cerebri pada ujung frontal.
b) Arteri Vertebralis kanan dan kiri
Arteri vertebralis dipercabangkan oleh arteri sub clavia. Arteri
ini berjalan ke kranial melalui foramen transversus vertebrae
ke enam sampai pertama kemudian membelok ke lateral
masuk ke dalam foramen transversus magnum menuju cavum
cranii. Arteri ini kemudian berjalan ventral dari medula
oblongata dorsal dari olivus, caudal dari tepi caudal pons
varolii. Arteri vertabralis kanan dan kiri akan bersatu menjadi

arteri basilaris yang kemudian berjalan frontal untuk akhirnya


bercabang menjadi dua yaitu arteri cerebri posterior kanan dan
kiri. Daerah yang diperdarahi oleh arteri cerbri posterior ini
adalah facies convexa lobus temporalis cortex cerebri mulai
dari tepi bawah sampai setinggi sulcus temporalis media,
facies

convexa

parietooccipitalis,

facies

medialis

lobus

occipitalis cotex cerebri dan lobus temporalis cortex cerebri.


Anastomosis antara arteri-arteri cerebri berfungsi

utnuk

menjaga agar aliran darah ke jaringan otak tetap terjaga


secara continue. Sistem carotis yang berasal dari arteri carotis
interna dengan sistem vertebrobasilaris yang berasal dari
arteri vertebralis, dihubungkan oleh circulus arteriosus willisi
membentuk Circle of willis yang terdapat pada bagian dasar
otak. Selain itu terdapat anastomosis lain yaitu antara arteri
cerebri media dengan arteri cerebri anterior, arteri cerebri
media dengan arteri cerebri posterior.
Terdapat 12 pasang saraf kranial yang dinyatakan dengan nama atau
dengan angka romawi yaitu :
N
o
1

Syaraf
Kranial
Olfaktorius

Optikus

Sensori

Okulomotorius

Motorik

Troklearis

Motorik

Komponen
Sensori

Fungsi
Sensasi
bau
penciuman

dan

Ketajaman penglihatan
Mengangkat
kelopak
mata ke atas, kontraksi
pupil, gerakan bola
mata keluar

6
7

Trigeminus

Abdusen
Facial

Motorik

Gerakan
mata
ke
bawah dan ke dalam

Motorik

Gerakan
rahang,
menutup rahang dan
mengunya

Motorik

Gerakan lateral pada


mata
pada
mata,

dan

Vestibulo

Sensori

Gerakan otot
wajah,
dahi,
serta mulut

Glosofaringeu
s

Motorik

Keseimbangan
pendengaran

Sensori

Faring
:menelan,
refleks muntah

Motorik

Mengecap
atau
meraskan sesuatu

Motorik

Gerakan kepala, leher


dan bahu

10
Vagus
11
Assesorius
12
Hipoglosus

Gerakan pada lidah


3. Klasifikasi
a. Stroke Haemoragik
Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarkhnoid.
Yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada area
tertentu,dan biasanya terjadi pada saat pasien melakukan aktivitas
atau saat aktif,namun juga pada kondisi istirahat.
Perdarahan otak dapat dibagi menjadi dua yakni :
1) Perdarahan intraserebral

Perdarahan intraserebral diakibatkan oleh pecahnya pembuluh


darah intraserebral sehingga darah keluar dari pembuluh darah
dan kemudian masuk ke dalam jaringan otak.
2) Perdarahan subarachnoid
Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma berry atau AVM.
Perdarahan subarakhnoid adalah masuknya darah ke ruang
subarakhnoid baik dari tempat lain (perdarahan subarakhnoid
sekunder)

atau

sumber

perdarahan

berasal

dari

rongga

subarakhnoid itu sendiri (perdarahan subarakhnoid primer).

b. Stroke Non Hemoragik


Stroke iskemik merupakan suatu penyakit yang di awali dengan
terjadinya serangkaian perubahan dalam otak yang terserang,yang
apabila tidak di tangani dengan segera berakhir dengan kematian
bagian otak tersebut. Stroke iskemik terjadi bila karena suatu sebab
suplai darah ke otak terhambat atau terhenti.
4. Etiologi
a. Penyebab-penyebabnya antara lain :
1) Trombosis (bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau
leher)
Trombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami
oklusi sehingga menyebabkan iskemia jaringan otak yang dapat
menimbulkan edema dan kongesti di sekitarnya. Beberapa
keadaan di bawah ini dapat menyebabkan trombosis stroke.
a) Aterosklerosis
Aterosklerosis adalah mengerasnya pembuluh darah serta
berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh
darah.
b) Hiperkoagulasi

Darah bertambah kental, peningkatan viskositas/hematokrit


meningkat dapat melambatkan aliran darah serebri.
2) Embolisme serebral (bekuan darah)
Emboli serebri merupakan penyumbatan pembuluh darah otak
oleh bekuan darah, lemak, dan udara yang berasal dari trombus
di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebri..
3) Iskemia serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan
perdarahan kedalam jaringan otak atau ruang sekitar otak).
4) Hemoragik serebral merupakan pendarahan intracranial atau
intracerebri meliputi pendarahan di dalam jaringan otak sendiri,
yang terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi.
5) Hipertensi yang parah
6) Henti jantung paru
7) Curah jantung turun akibat aritmia
8) Hipoksia local
9) Spasme arteri serebri yang disertai pendarahan subarachnoid
10)Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migren
b. Ada pun faktor faktor lainnya yang dapat menyebabkan stroke
1) Yang tidak dapat diubah (predisposisi) (Fransisca B, 2008).
a) Usia
b) Jenis Kelamin
c) Ras/bangsa
d) Riwayat Keluarga
2) Yang dapat diubah (presipitasi) (Muttaqin, 2008).
a) Hipertensi merupakan faktor resiko utama, pengendalian
hipertensi adalah kunci untuk mencegah stroke.
b) Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung
c)
d)
e)
f)

kongestif, fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif).


Kolesterol tinggi.
Obesitas.
Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral).
Diabetes
Melitus
(berkaitan
dengan
aterogenesis

terakselerasi).
g) Kontrasepasi oral (khususnya dengan disertai hipertensi,
merokok, dan kadar estrogen tinggi).
h) Konsumsi alcohol yang berlebihan.
i) Merokok.
j) Stress psikologis.

5. Patofisiologi
Infark serebri adalah berkurangnya suplay darah ke area tertentu
di otak. Luasnya infark bergantung pada faktor-faktor seperti lokasi dan
besarnya pembuluh darah dan adekuatnya sirkulasi kolateral terhadap
area yang disuplai oleh pembuluh darah yang tersumbat.
Proses arterosklerosis ditandai oleh plague berlemak, yang
mengenai intima arteri-arteri besar. Bagian intima arteri serebri menjadi
tipis dan berserabut, sedangkan sel-sel ototnya menghilang. Lamina
elastika interna terpecah dan berjumbai, sehingga lumen pembuluh
sebagian terisi oleh materi sklerotik tersebut. Plague menunjukkan
kecenderungan terbentuk pada percabangan atau tempat-tempat yang
melengkung.
Embolisme serebri termasuk urutan kedua dari beberapa penyebab
penyakit stroke. Pasien menderita embolisme biasanya lebih mudah
dibandingkan dengan penderita thrombosis. Kebanyakan emboli serebri
berasal dari suatu thrombus jantung, sehingga masalah yang dihadapi
sesungguhnya merupakan perwujudan penyakit jantung. Meskipun
jarang terjadi, emboli juga berasal dari plague arteromatosa sinus karotis
atau arteri karotis interna. Setiap bagian otak dapat mengalami
embolisme, tetapi biasanya embolus akan menyumbat bagian-bagian
yang sempit. Umumnya, emboli akan mengakibatkan lebih banyak
kematian jaringan karena pembuluh anastomis tidak mempunyai
kesempatan melebar dan mengkompensasi.
Jika aliran darah ke tiap bagian otak terhambat karena trombus
atau emboli, maka mulai terjadi kekurangan suplai oksigen ke jaringan
otak. Kekurangan oksigen dalam satu menit dapat menunjukkan gejala
yang dapat pulih seperti kehilangan kesadaran. Sedangkan kekurangan
oksigen

dalam

waktu

yang

lebih

lama

menyebabkan

nekrosis

mikroskopik neuron-neuron. Area yang mengalami nekrosis disebut


infark.
Setiap kondisi yang menyebabkan perubahan perfusi darah pada
otak akan menyebabkan keadaan hipoksia. Hipoksia yang berlangsung
lama dapat menyebabkan iskemik otak. Iskemik yang terjadi dalam waktu
yang singkat kurang dari 10-15 menit dapat menyebabkan defisit
sementara dan bukan defisit permanen. Sedangkan iskemik yang terjadi
dalam waktu lama dapat menyebabkan sel mati permanen dan
menyebabkan infark pada otak.
Setiap defisit fokal permanen akan bergantung pada bagian otak
mana yang terkena, daerah otak yang terkena akan menggambarkan
pembuluh darah otak yang terkena. Pembuluh darah yang sering terkena
iskemik arteri serebral tengah dan arteri karotis interna. Defisit fokal
permanen tidak diketahui jika klien pertama kali mengalami iskemik otak
total yang dapat diatasi.
Gangguan peredaran darah otak akan menimbulkan gangguan
metabolisme sel-sel neuron, dimana sel-sel neuron tidak mampu
menyimpan glikogen sehingga kebutuhan metabolisme tergantung dari
glukosa dan oksigen yang terdapat pada arteri-arteri yang menuju otak.
Apabila hal ini tidak ditangani secara cepat dan tepat maka akan
menyebabkan kerusakan Neurologis.
6. Manifestasi Klinik
a. Gangguan yang terjadi pada arteri media/pembuluh cabang yang
menuju ke otak bagian tengah:
1) Gangguan gerak (motorik) yaitu kelumpuhan dari tingkat ringan
sampai total pada lengan atau tungkai/kaki sebelah.
2) Gangguan rasa di daerah muka (hanya sebelah), biasa disertai
gangguan rasa pada bagian lengan dan tungkai yang hanya
sebelah.
3) Lidah terasa keluh/kaku, hal ini menyebabkan pasien sulit
berbicara dan kadang sulit mengerti pembicaraan orang lain.

4) Gangguan pada penglihatan, biasanya berupa pandangan kabur,


kebutaan.
5) Bola mata selalu melirik ke arah satu sisi saja.
6) Tingkat kesadaran menurun.
7) Sulit mengenal orang-orang yang sebelumnya sudah di kenal
separuh badan mati.
8) Tidak dapat membedakan antara kiri dan kanan.
9) Mulut miring.
10)Kehilangan kemampuan, keterampilan yang dulu sudah ada.
b. Gangguan yang terjadi pada arteri cerebri anterior atau pembuluh
cabang yang menuju kearah otak, bagian depan:
1) Kelumpuhan salah satu tungkai.
2) Gangguan saraf perosa.
3) Inkontinensia urine.
4) Pingsan secara tiba-tiba.
5) Sulit mengungkapkan keinginannya.
6) Secara tidak sadar meniru pembicaraan orang lain.
c. Gangguan pada pembuluh cabang yang menuju otak bagian belakang
1) Pandangan kabur dan kebutaan.
2) Terjadi rasa nyeri spontan.
3) Sulit memahami yang dilihat.
7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang

yang

diperlukan

dalam

membantu

menegakkan diagnosis pasien stroke meliputi: (Tarwoto,Wartonah,Eros


siti suryati).
a. CT-Scan
Mengetahui

area

infark,edema,hematoma,struktur

dan

sistem

ventrikel otak.
b. Angiografi Serebri
Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti
pendarahan,obstruksi arteri,adanya titik oklusi atau ruptur.
c. Lumbal Pungsi
Menunjukkan adanya tekanan normal,jika tekanan meningkat dan
cairan mengandung darah menunjukkan hemoragik subarachnoid
atau perdarahan intrakranial. Kontraindikasi pada peningkatan
tekanan intrakranial.
d. MRI (Magnetic Imaging Resonance)

Menunjukkan daerah yang mengalami infark,hemoragik,malformasi


arteriovena.
e. Elektro encephalografi (EEG) :mengidentifikasi masalah didasarkan
pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang
spesifik.
f. Sinar X tengkorak :
Mengetahui adanya klasifikasi karotis interna pada trombosis
cerebral.
g. Pemeriksaan laboratorium.
Kimia darah (SGOT, SGPT, BUN,Kreatinin, Asam urat)
h. Pemeriksaan darah rutin
Faktor pembekuan, trombosis, hematokrit, kolestrol, dan glukosa
darah.
1) Pemeriksaan kimia darah
Pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat
mencapai 250 mg dalam serum dan kemungkinan berangsurangsur turun kembali.
2) Pemeriksaan darah lengkap
Untuk mencari kelainan pada darah itu sendiri.
8. Penatalaksanaanmedik
Secara
umum,
penatalaksanaan

pada

pasien

(Tarwoto,Wartonah,Eros Siti Suryati).


1. Penatalaksanaan Umum
a. Pada fase akut
1) Pertahankan jalan nafas,pemberian
2)
3)
4)
5)
6)

strokeadalah:

oksigen,penggunaan

ventilator.
Monitor peningkatan tekanan intrakranial.
Monitor fungsi pernafasan : Analisa Gas Darah.
Monitor jantung dan tanda-tanda vital,pemeriksaan EKF.
Evaluasi status cairan dan elektrolit.
Kontrol kejang jika ada dengan pemberian antikonvulsan,dan

cegah resiko injuri.


7) Lakukan pemasangan NGT untuk mengurangi kompresi
lambung dan pemberian makanan.
8) Cegah emboli paru dan tromboplebitis dengan antikoagulan.

9) Monitor

tanda-tanda

neurologi

seperti

tingkat

kesadaran,keadaan pupil,fungsi sensorik dan motorik,nervus


kranial dan reflex.
b. Fase rehabilitasi
1) Pertahankan nutrisi yang adekuat.
2) Program managemen bladder dan bowel.
3) Mempertahankan keseimbangan tubuh dan rentang gerak
sendi (ROM).
4) Pertahankan integritas kulit
5) Pertahankan komunikasi yang efektif
6) Pemenuhan kebutuhan sehari-hari
7) Persiapan pasien pulang
2. Pembedahan
Dilakukan jika perdarahan serebrum diameter lebih dari 3 cm atau
volume lebih dari 50 ml untuk dekompresi atau pemasangan pintasan
ventrikulo-peritoneal bila ada hidrosefalus obstruktif akut.
3. Terapi obat-obatan
Terapi pengobatan tergantung dari jenis stroke.
a. Stroke iskemik
1) Pemberian trombosis dengan rt-PA (recombinant tissue
plasminogen).
2) Pemberian obat-obat jantung seperti digoksin pada aritmia
jantung atau alfa beta,kaptropil,antagonis kalsium pada pasien
dengan hipertensi.
b. Stroke hemoragik
1) Antihipertensi: katropil,antagonis kalsium
2) Diuretik
: manitol 20%, furosemide
3) Antikonvulsan : fenitoin
9. Komplikasi
Dibawah ini beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada stroke:
a. Herniasi otak
Herniasi terjadi akibat peningkatan tekanan intracranial yang
berlebihan, bila tekanan atau pergeseran bertambah di dalam ruang
cranial maka akan mengganggu suplai darah ke otak atau
penghentian aliran darah ke otak dan menyebabkan herniasi pada
otak (Muttaqin, 2008).

b. TIK meningkat
Tekanan intrakranial (TIK) adalah hasil dari sejumlah jaringan otak,
volume darah intracranial, dan cairan serebrospinal (CSS) didalam
tengkorak. Ruang cranialyang kaku berisi jaringan otak (1400 g),
darah (75 ml). Volume tekanan pada ketiga komponen ini selalu
berhubungan dengan keadaan keseimbangan, apabila salah satu
dari komponen ini meningkat maka akan menyebabkan perubahan
pada volume yang lain dengan mengubah posisi atau menggeser
CSS, meningkatkan obsorsi CSS, atau menurunkan volume darah
serebral dan jika tidak ada perubahan intracranial akan meningkat
(Suzanne Smeltzer, 2002).
c. Gagal napas
Dalam keadaan tidak sadar, harus tetap dipertahankan jalan napas,
salah satu gejala dari stroke adalah penurunan kesadaran yang
dapat mengakibatkan obstruksi jalan napas karena lidah mungkin
rileks, yang menyumbat orofaring sehingga terjadi gagal napas
(Suzanne Smeltzer, 2002).
d. Distrimia jantung
Dengan adanya embolisme serebralakan menurunkan aliran darah
keotak dan selanjutnya menurunkan aliran darah serebral. Otak akan
memacu jantung untuk memompa darah ke otak sesuai kebutuhan
yang mengakibatkan terjadinya distrimia jantung (Muttaqin, 2008).
e. Malnutrisi
Salah satu manifestasi klinik dari stroke adalah disfagia (sulit
menelan). Dengan adanya gejala ini mengakibatkan terjadinya
anoreksia yang menyebabkan intake tidak adekuat, sehingga
menimbulkan malnutrisi (Muttaqin, 2008).
B. Kosep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian (Muttaqin, 2008).
a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
DS : Adanya riwayat penyakit hipertensi, penyakit jantung pada
keluarga, stroke, kecanduan alkohol, merokok.

DO : Hipertensi atrterial (dapat ditemukan/terjadi pada cedera


serebrovaskuler) sehubungan dengan adanya embolisme.
b. Pola nutrisi metabolic
DO : Nafsu makan hilang, mual muntah selama fase
akut(peningkatan TIK), kehilangan sensasi (rasa kecap)
pada

lidah,

pipi

dan

tenggorokan,

disfagia,

riwayatdiabetes, peningkatan lemak dalam darah.


DS : Kesulitan menelan (gangguan pada refleks
danfaringeal).

Obesitas

(faktor

resiko)

tidak

adanya
palatum
mampu

memenuhikebutuhan sendiri.
c. Pola eliminasi
DS : Perubahan pola berkemih, seperti inkontinensia urine,
anuria,

distensi

abdomen

(distensi

kandung

(berlebihan), bising usus negative (ileus paralitik).


d. Pola aktivitas dan latihan
DS : Merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas

kemih

karena

kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia),


merasa mudah lelah, susuh untuk beristirahat (nyeri/kejang
otot).
DO : Gangguan tonus otot (flaksid, spastis), paralitik (hemiplegia)
dan terjadi kelemahan umum dan gangguan tingkat
kesadaran.
e. Pola tidur dan istirahat
DS : Susah untuk beristirahat (nyeri/kejang otot)
DO: Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah ketegangan pada
otot/afasia.
f. Pola persepsi sensorik dan kognitif
DS : Sinkope/pusing, sakit kepala,

kelemahan/kesemutan,

mati/lumpuh. Penglihatan menurun seperti buta total,


kehilangan daya lihat sebagian, penglihatan ganda atau
gangguan lain.
DO : Status mental/tingkat tingkat kesadaran, pada wajah terjadi
paralisis atau parese (ipsilateral), afasia (gangguan atau

kehilangan bahasa), kehilangan kemampuan menggunakan


motorik saat pasien ingin menggerakkan.
g. Pola persepsi dan konsep diri
DS : Perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa.
DO : Emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih dan
gembira, kesulitan untuk mengekspresikan diri.
h. Pola peran dan hubungan dengan sesama
DS : Masalah bicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasi.
i. Pola mekanisme stress dan koping
DS : Perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa.
DO: Emosi yang stabil dan ketidaksiapan untuk marah.
2.Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada pasien stroke menurut (NANDA 20152017), yaitu:
a. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak.
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan

gangguan

neuromuskular.
c. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan
fisiologis (penurunan sirkulasi ke otak).
d. Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan

dengan

ketidak

mampuan makan/ ketidakmampuan mencerna makanan.


e. Gangguan menelan berhubungan dengan gangguan saraf
kranial.
f. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber
pengetahuan.
3. Intervensi Keperawatan
Adapun intervensi yang dapat diberikan pada pasien dengan penyakit
stroke adalah sebagai berikut:
a. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak.
NOC:
1) Perfusi jaringan serebral
2) Status neurologi
3) Kontrol resiko
4) Manajemen diri hipertensi
NIC:
1) Pencegahan emboli
2) Monitor neurologi

3) Manajemen terapi trombolitik


4) Identifikasi resiko
5) Pencegahan perdarahan
b. Hambatan mobilitas fisik b/d gangguan neuromuskular
NOC:
1) Ambulasi
2) Pergerakan
3) Keseimbangan
4) Toleransi terhadap aktivitas
5) Status neurologi: pusat kontrol motorik
NIC:
1) Manajemen energi
2) Peningkatan latihan: latihan kekuatan
3) Terapi latihan: ambulasi
4) Terapi latihan: pergerakan sendi
5) Terapi latihan: keseimbangan
c. Hambatan komunikasi verbal b/d gangguan

fisisologis

(penurunan sirkulasi ke otak)


NOC:
1) Komunikasi
2) Orientasi kognitif
3) Status neurologi
NIC:
1) Peningkatan komunikasi: kurang bicara
2) Manajemen energi
d. Ketidakseimbangan nutrisi berhubungan

dengan

ketidak

mampuan makan/ ketidakmampuan mencerna makanan.


NOC:
1) Status nutrisi
2) Nafsu makan
3) Status menelan
4) Status menelan: fase oral
5) Fungsi sensori: pengecap dan pembau
NIC:
1) Manajemen gangguan makan
2) Manajemen nutrisi
3) Terapi menelan
e. Gangguan menelan berhubungan dengan gangguan saraf kranial
NOC:

1) Status menelan
2) Pencegahan aspirasi
3) Status neurologi: sensori kranial/ fungsi motorik
NIC:
a. Pencegahan aspirasi
b. Terapi menelan
c. Bantuan perawatan diri: pemberian makan
f. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber
pengetahuan.
NOC:
1) Pengetahuan: manajemen stroke
2) Pengetahuan: pencegahan stroke
3) Perilaku patuh: pengobatan yang disarankan
NIC:
1) Pendidikan kesehatan
2) Peningkatan kesadaran kesehatan
3) Konseling
4. Implementasi
Dalam implementasi tindakan keperawatan memerlukan beberapa
pertimbangan (potter & perry,2009).
a. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak
1) Monitor neurologi
Aktivitas :
Pantau keluhan sakit kepala
Monitor tanda tanda vital
2) Monitor TIK
Aktivitas :
Sesuaikan kepala tempat tidur untuk mengoptimalkan
perfusi serebral
Berikan agens farmakologis untuk mempertahankan TIK
b. Hambatan mobilitas Fisik b/d neuromuskular
1) manajemen energi
Monitor intake/asupan nutrisi untuk mengetahui sumber energy

yang adekuat
Melakukan ROM aktif dan pasif untuk menghilangkan
ketengangan otot.

Anjurkan aktivitas pasien (ADL) sesuai dengan kemampuan

yang dimiliki oleh pasien.


2) terapi aktivitas
Kolaborasi dengan terapi fisik dalam perencanaan dan
pemantauan program aktivitas.
c. hambatan komunikasi verbal b/d gangguan fisiologis (penurunan
sirkulasi ke otak)
Peningkatan komunikasi kurang bicara
Aktivitas :

Monitor kecepatan bicara, tekanan, kecepatan volume dalam

berbicara
Anjurkan klien untuk berbicara pelan
Ulangi apa yang di sampaikan klien untuk menjamin keakuratan

informasi.
Kolaborasi bersama keluarga dan ahli terapi bahasa untuk
mengembangkan rencana agar bisa berkomunikasi secara efektif.

5. Evaluasi
Proses evaluasi yang menentukan efektifitas asuhan keperawatan
meliputi lima unsur (potter & perry,2009).
a. Mengidentifikasikan kriteria dan standar evaluasi
b. Mengumpulkan data untuk menentukan apakah kriteria dan
standar telah di penuhi
c. Menginterprestasikan dan meningkatkan data
d. Mendokumentasikan temuan dan setiap pertimbangan klinis
e. Menghentikan,merumuskan,atau merevisi rencana keperawatan

Discharge planning
Discharge planning/penyuluhan diberikan pada keluarga pasien
pada tgl 27-08-2016.
Nama pasien : Tn S

Umur

: 80 tahun

Ruang

: ST. MARIA 3

Kamar

: 307

a. Penyuluhan perawatan kesehatan


Menganjurkan kepada keluarga/pasien agar setelah pasien
pindah keperawatan atau di ijinkan untuk pulang kerumah untuk
mengurangi makanan yang banyak mengandung kolesetrol,dan
mengurangi asupan makan yang berkadar garam tinggi karena
garam

dianggap

darah,menghentikan
menghindari

berpotensi
merokok,dan

minuman

meningkatkan
olahraga

beralkohol,dan

tekanan

secara

teratur

menghindar

stress

berlebihan.
b. Memberikan penjelasan secara singkat mengenai penyakit stroke
terutama untuk mengenal secara dini mengenai tanda dan gejala
penyakit stroke.
c. Kontrol kesehatan
Menganjurkan pasien untuk tetap mengontrol kesehatannya dan
berkonsultasi dengan dokter khususnya mengenai stroke dan
pemeriksaan

tekanan

darah

serta

kolesetrol

yang

telah

ditentukan.
d. Obat-obatan
Menganjurkan kepada pasien untuk mengkomsumsi obat-obatan
sesuai dengan dosis yang telah ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA
Muttaqn,Arif.2008.Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Persarafan.Jakarta: Salemba Medika.
Brashers,Valentina L.2007.Aplikasi Klinis Patofisiologi.Edisi ke2.Jakarta: EGC
Brunner dan Suddarth.2001.Keperawatan Medikal Bedah.Edisi ke8.Jakarta: EGC
H.Syarifuddin,Drs.2006.A
natomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan.Edisi ke-3.Jakarta:
EGC
Price dan Wilson.2005.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit.Edisi ke-6 (vol.2).Jakarta: EGC
Misbach
Jusuf.2011.Stroke
Aspek
Diagnostik,Patofisiologi,
Manajemen.Jakarta:Perhimpunan

Dokter

Spesialis

Indonesia
Herdman,T.Heather.2012.Diagnosa Keperawatan.Jakarta:ECG

Saraf