Anda di halaman 1dari 27

KAJIAN ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL JAWA

ROPINGEN DI KOTAGEDE
Revianto B. Santosa

Meskipun sudah beratus tahun tak menyandang peran sebagai ibu kota
kerajaan Mataram, tradisi Jawa di Kotagede terlestarikan dengan baik.
Tradisi ini tumbuh dan berkembang selaras dengan dinamika masyarakat
di sana. Dinamika ini menghasilkan sesuatu yang khas, sehingga rumahrumah tradisional di Kotagede memiliki ciri-ciri umum sebagaimana
rumah tradisional Jawa yang berkembang di sekitar Kraton, namun
memiliki sejumlah karakteristik yang khas yang hanya dijumpai si
kawasan ini.
Dalam bahasa Jawa rumah disebut sebagai omah atau griya, di kalangan
masyarakat luas, atau dalem, khususnya di kalangan ningrat dan
pemuka masyarakat. Omah berarti tempat bernaung, griya
berhubungan dengan giri atau gunung, sedangkan dalem berarti
saya. Dengan demikian, rumah dipahami secara fungsional sebagai
suatu tempat kedudukan yang melindungi penghuninya, secara simbolis
melambangkan kemapanan sebagaimana suatu gunung, sekaligus
secara sosial untuk mewujudkan keberadaan sang empunya di mata
masyarakat.
Rumah Jawa terdiri atas sejumlah unit struktur atau bangunan yang
tersusun dalam aturan tertentu sehingga membentuk suatu kesatuan.
Unit-unit tersebut biasanya terletak berdempetan satu sama lain yang
berada dalam satu halaman atau pelataran yang seringkali dilingkupi
dinding tembok yang cukup tinggi.
Secara tradisional rumah Jawa lazim dibangun menghadap ke selatan.
Orientasi ini diasosiasikan dengan bentang alam yang bergunung di
utara dan laut di selatan. Arah hadap ke Samudera Indonesia tersebut
kadang dimaknai berkaitan dengan Ratu Kidul yang merupakan
personifikasi Laut Selatan.
Rumah H. Rofii yang kemudian sering disebut dalam logat Jawa sebagai
sebagai Ropingen, terletak di Kampung Pandheyan, Kalurahan Purbayan,
Kecamatan Kotagede. Rumah ini merupakan contoh rumah tradisional

Jawa yang memiliki unsur-unsur penyusun yang lengkap


kekhasan arsitektural Kotagede dan kondisi yang terawat baik.

dengan

Dalam memahami unit-unit penyusun rumah Jawa secara umum terdapat


dua aspek yang penting yakni guna griya dan dhapur griya. Guna griya
berarti kegunaan atau manfaat bagian rumah, sedangkan dhapur griya
adalah bentuk atau sosok bagian rumah.

GUNA GRIYA
Berdasar aspek guna griya unit struktur atau bangunan rumah Jawa
terdiri atas pendhapa, omah mburi atau dalem, pringgitan, gandhok dan
pawon. Pendhapa adalah bagian rumah yang terletak depan sehingga
cukup dikenal dan mewakili gambaran umum tentang rumah Jawa.
Bagian ini biasanya berupa ruang yang luas dan tidak berdinding yang
difungsikan untuk berbagai kegiatan dalam menjalin hubungan antara
yang empunya rumah dengan berbagai kalangan masyarakat seperti
menerima tamu, bermusyawarah, pengajian, berbagai bentuk pertemuan
atau mementaskan suatu kesenian. Rumah-rumah Jawa di Kotagede
memiliki pendhapa yang relatif kecil seluas sekitar 60 meter persegi.

Potongan tipikal rumah tradisional Jawa di Kotagede


(Kotagede Homeowners Conservation Manual)
Dalem atau omah mburi yang berarti rumah belakang terletak tepat di
belakang pendhapa. Bagian rumah ini lazimnya memiliki bentuk dan
ukuran yang serupa dengan pendhapa. Meskipun bentuknya sama, omah
mburi memiliki pembatas dan pola pembagian ruang yang sangat
berbeda dibandingkan dengan pendhapa. Bagian rumah ini dilingkupi
dengan dindingbaik yang terbuat dari pasangan bata, papan kayu,

anyaman bambu ataupun gabungan dari bahan bangunan tersebutdi


keempat sisinya. Ruang dalam omah mburi disekat menjadi beberapa
ruangan atau kamar. Tiga kamar berderet di sisi belakang omah mburi.
Kamar-kamar ini dikenal sebagai senthong dengan senthong tengah
sebagai bagian terpenting.
Senthong tengah adalah jantung spiritual rumah Jawa. Tradisi Jawa
yang tumbuh di kalangan petani memandang penting nilai-nilai
kesuburan, kesejahteraan dan kelestarian. Nilai tersebut sering kali
dipersonifikasikan sebagai Dewi Sri yang berperan sebagai asal muasal
dan pelindung pertanian padi. Kehadiran Sri secara keruangan
diwujudkan dalam bentuk senthong tengah, sehingga kamar ini sering
disebut sebagai pasren (dari kata pa-sri-an yang berarti tempat Sri) atau
petanen (dari kata pa-tani-an yang berarti lambang kesuburan
pertanian). Untuk merayakan dan memohon kesuburan, di depan ruang
kecil ini mempelai laki-laki dan perempuan duduk dan di ruang ini dua
ikat padi hasil panen yang pertama yang juga disebut manten atau
pengantin disimpan. Secara fungsional sehari-hari senthong tengah pada
dasarnya adalah kamar kosong, sedangkan dua kamar yang
mengapitnya biasanya untuk tidur dan menyimpan hasil bumi atau alatalat pertanian; dua aktivitas yang paling dekat dengan berkediaman dan
pertanian.

Omah Ropingen dengan pendhapa dan omah mburi


(foto: Fachri Muzakki dan Furqon Badriantoro, 2014)

Omah mburi di rumah Ropingen dengan pasren atau senthong tengah


yang tidak berdaun pintu dan kedua senthong yang mengapitnya yang
berdaun pintu ganda (kupu tarung).
(foto: Fachri Muzakki dan Furqon Badriantoro, 2014)
Pendhapa dan omah mburi adalah sepasang bangunan yang membentuk
bagian utama rumah Jawa. Keduanya sering memiliki bentuk dan ukuran
yang sama namun sangat berbeda dalam pembagian ruang, pembatas
ruang dan alokasi aktivitas di dalamnya. Pendhapa yang tak berdinding
keliling, tak bersekat di ruang dalam, serta berorientasi pada kegiatan
yang berkaitan dengan khalayak, sedangkan omah mburi berdinding
sekeliling dengan ruang dalam yang terbagi-bagi dimanfaatkan untuk
kegiatan keluarga. Secara simbolis dan fungsional, pendhapa
diasosiasikan dengan laki-laki sedangkan omah mburi dengan
perempuan.

Pada rumah yang cukup besar, di antara pendhapa dan omah terdapat
bangunan melebar yang setengah terbuka yang disebut pringgitan.
Berasal dari kata ringgit yang berarti wayang, pringgitan ditujukan untuk
mementaskan wayang kulit. Layar dan gedebog pisang yang menjadi
panggung pementasan diletakkan di tengah ruangan ini. Dalang
memainkan wayang dengan menghadap ke arah omah mburi dengan
gamelan pengiring di belakangnya. Di masa silam, tuan rumah dan
tetamu kehormatan menyaksikan pentas dari omah mburi sehingga
hanya melihat bayang-bayang wayang yang digerakkan sang dalang
yang tergambar di permukaan kelir atau layar. Khalayak ramai menonton
dari pendhapa menyaksikan boneka wayang yang berwarna-warni dari
tempat ini.
Di Kotagede, ruang transisi ini lebih bersahaja dan lebih akrab. Bagian ini
biasa disebut sebagai emper. Berbeda dengan pringgitan yang biasanya
memiliki atap sendiri, atap emper hampir selalu meneruskan atap omah
mburi atau dalem.
Di antara emper dan pendhapa terdapat ruang terbuka yang disebut
longkang. Salah satu kekhasan keruangan yang penting di Kotagede
adalah longkang ini berfungsi sebagai jalur semi publik yang
menghubungkan dua gerbang di sisi rumah. Jalur ini disebut dalan
rukunan.
Dalam keseharian, ruang yang paling kerap dan beragam pemakainnya
adalah gandhok yang berarti bagian yang menempel. Bangunan
memanjang ini membujur sepanjang salah satu atau kedua sisi omah
mburi. Bangunan ini bersifat multi-fungsi. Beragam aktivitas domestik
yang tidak banyak terkait dengan formalitas dan bermasyarakat
diselenggarakan di sini. Gandhok dapat berupa ruangan yang utuh atau
disekat-sekat menjadi beberapa bagian untuk berbagai keperluan, misal
ruang tidur, ruang keluarga, ruang makan, ruang penyimpanan dan
sebagainya.
Pawon atau dapur biasanya terletak di sisi paling belakang. Biasanya
berupa bangunan memanjang dengan dua atau lebih sisi yang terbuka.
Atap bangunan sering diangkat sebagian untuk mengeluarkan asap dari
tungku atau kompor dapur. Pada rumah yang besar kadang terdapat dua
dapur, yakni dapur kecil untuk memasak sehari-hari dan dapur besar
yang dipergunakan jika pemilik rumah tersebut menyelenggarakan hajat.

DHAPUR GRIYA
Tentang dhapur griya yang berarti bentuk rumah, Serat Centhini yang
sering disebut sebagai Ensiklopedi Budaya Jawa menyebutkan empat
ragam dhapur griya:
Adapun tentang bentuk rumah (dhapur griya)
Yang pokok ada empat
Yang pertama adalah Joglo
Yang kedua dhapur Limasan
Dhapur Kampung yang ketiga
Adapun yang keempat
Dhapur Masjid sebutannya
(pupuh 227, Asmarandana, bait 1)
Klasifikasi bentuk rumah tersebut bergantung pada bentuk atap. Di
antara keempatnya bentuk yang paling sederhana adalah omah
kampung atau rumah yang beratap pelana dengan atap miring di dua
sisi bangunan dan bubungan yang melintang sepanjang atap. Pada
kedua ujung atap kampung terdapat bidang penutup segitiga yang
disebut tutup keyong. Rumah beratap kampung biasanya dimasuki dari
sisi panjangnya sehingga kedua sisi miring atap menghadap ke depan
dan ke belakang.
Yang lebih kompleks dari kampung adalah omah limasan yang memiliki
atap miring di keempat sisinya dengan bubungan yang cukup panjang.
Pada bagian tengah terdapat empat atau lebih tiang utama yang disebut
sebagai saka guru. Limasan adalah tipe bangunan yang paling banyak
dijumpai di Jawa.
Bentuk bangunan yang biasanya dianggap memiliki derajat tertinggi
untuk sebuah rumah adalah joglo. Serupa dengan limasan, joglo memiliki
atap miring di keempat sisinya namun bubungannya relatif pendek
sehingga denahnya mendekati bujur sangkar. Konstruksi bangunan joglo
lebih kompleks karena memiliki susun balok yang banyak di tengahnya
sebagai penopang atap utama. Balok-balok yang disangga keempat saka
guru ini disebut tumpangsari. Joglo juga mempunyai atap minimal
bersusun dua sementara tipe lainnya dimungkinkan untuk hanya
memiliki satu susun atap.

Sesuai dengan namanya, dhapur masjid hampir selalu dipergunakan


untuk bangunan peribadatan atau bangunan yang dipandang memiliki
nilai kesakralan yakni masjid dan cungkup atau bangunan di atas
makam. Tipe yang juga disebut tajug ini memiliki empat sisi miring
dengan ujung atap lancip sehingga berupa bangun piramida dengan
denah bujur sangkar.
Masing-masing dhapur tersebut memiliki varian sub tipe yang didasarkan
terutama pada kemiringan atap dan jumlah susun atap. Bangunan yang
beratap cenderung landai biasa disebut sepuh (tua) atau wadon
(perempuan), sedangkan yang beratap lebih curam disebut sebagai nom
(muda) atau lanang (lelaki). Selain joglo bangunan bisa memiliki satu
susun atap dan dapat dikembangkan menjadi dua atau tiga susun
dengan atap bagian bawah yang lebih landai dibandingkan dengan atap
di atasnya. Joglo minimal memiliki dua susun atap.

Pendhapa di rumah Ropingen dengan dhapur joglo lawakan


(foto: Fachri Muzakki dan Furqon Badriantoro, 2014)

Omah mburi di rumah Ropingen dengan dhapur joglo lawakan yang


diapit oleh gandhok dengan dhapur kampung pacul gowang.
Dalam kaitannya dengan guna griya terdapat beberapa pola penggunaan
dhapur griya. Pada rumah yang biasa disebut sebagai rumah Jawa
pendhapa dan omah mburi berupa bangunan joglo sedangkan pringgitan
dan gandhok berupa bangunan limasan. Dhapur kampung biasa
dipergunakan untuk pawon.

KOMPONEN BANGUNAN
Komponen bangunan Jawa secara vertikal dapat dibagi menjadi tiga,
yakni:
a. Kepala atau bagian naungan yang berupa atap (payon) yang
tersusun atas bidang atap (empyak) dan rangka penopangnya
b. Badan atau bagian yang menegakkan bangunan dan membatasi
ruang. Bagian badan ini pada dasarnya terdiri atas rangka
bangunan dan selubung tegak bangunan.
c. Kaki atau bagian yang melandasi bangunan yang berupa batur
dan undak-undakan.
Secara lebih rinci bagian-bagian tersebut dapat dijabarkan sebagai
berikut.

Atap

Atap terbentuk dari susunan bidang atap (empyak) dengan berbagai


bentuk dan ukuran. Pada atap kampung empyak berbentuk persegi
panjang yang disusun dengan beberapa kemiringan yang berbeda. Pada
bangunan joglo dan limasan, atap paling atas disebut brunjung;

sedangkan pada bangunan tajug disebut sebagai gajah. Atap di


bawahnya disebut penanggap, sedangkan atap susun ketiga disebut
sebagai emper.
Pada brunjung, terdapat dua jenis empyak berdasar bentuknya. Pada sisi
pendek terdapat empyek kejen yang berupa segitiga sama kaki,
sedangkan pada sisi panjang terdapat empyak kocor yang berupa bidang
trapesium. Atap di bawah brunjung disebut sebagai atap penanggap,
sedangkan atap di bawah penanggap disebut sebagai emper. Kesemua
empyak penanggap dan emper berbentuk trapesium. Pada bangunan
tajug atap paling atas memiliki empyak kejen di semua sisinya.
Empyak tersusun atas usuk dan reng. Pada empyak yang terbuat dari
bambu, batang-batang bambu disusun rapat diikat dengan ijuk sehingga
berbentuk seperti rakit. Susunan ini disebut sebagai raguman. Secara
tradisional, empyak dirakit di bawah untuk kemudian diangkat beramairamai ke atas rangka atap.
Rangka atap terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut:
Molo
: atau kadang disebut sebagai memolo atau suwunan
adalah balok membujur seturut panjang bangunan yang terletak paling
atas. Pada omah kampung, panjang molo sama dengan lebar atap. Molo
tidak dijumpai pada bangunan tajug. Mengingat letaknya yang paling
tinggi, molo sering diberi penghormatan khusus. Pada pembangunan
rumah, menaikkan molo disertai dengan upacara khusus untuk
mensyukuri terwujudnya bangunan serta memohon kebaikan bagi
pemanfaatan bangunan kemudian.
Ander
: batang tegak yang menopang dan menstabilkan posisi
molo. Ander ditumpu oleh gelagar yang sejajar dengan lebar bangunan.
Geganja
: balok penghubung antara ander dan pengeret. Ujung
ander berupa purus yang menerus menembus geganja hingga masuk ke
dalam gelagar. Secara struktural, geganja berperan untuk memperluas
permukaan geser yang mengencangkan hubungan antara ander dan
gelagar. Secara arsitektural, geganja sering dipahat dengan bentuk
trapesium berujung motif spiral yang memberi ungkapan estetis pada
sambungan struktural tersebut.
Takir
: balok yang menjadi tumpuan ujung usuk kayu pada sisi
bawah empyak.

Takir tadhah las: takir yang terletak di posisi paling bawah atau di pinggir
keseluruhan atap. Di Kotagede elemen ini jarang sekali dijumpai karena
rumah-rumah di Kotagede cenderung menghias ujung usuk dengan
ornamen.

Atap bangunan di rumah Ropingen dengan ander yang menumpang


pada pengeret yang lugas tanpa geganja.
(foto: Fachri Muzakki dan Furqon Badriantoro, 2014)

Rangka Bangunan
Rangka bangunan terbentuk atas saka atau tiang yang berposisi tegak
dan gelagar atau blandar yang berposisi datar. Keduanya dirangkai
sehingga membentuk rangka kaku yang menanggulangi beben vertikal
dan lateral. Komponen rangka utama ini terdiri atas
Saka guru
: tiang utama banguna yang terletak di tengah
menumpu atap yang paling tinggi (brunjung atau gajah). Pada bangunan
joglo dan tajug saka guru berjumlah empat, pada tipe yang lain
berjumlah empat atau lebih.

Saka rawa
: tiang atau saka yang terletak di deretan kedua di
luar saka guru yang menopang atap kedua atau penanggap.
Saka emper
: tiang atau saka yang terletak di deretan ketiga di
luar saka rawa yang menopang atap ketiga atau emper.
Blandar
: balok horisontal atau gelagar yang bertumpu pada
saka guru atau pada blandar lain di bawahnya. Sambungan antar blandar
dibuat dengan teknik cathokan atau takikan di dekat ujung balok.
Sambungan antara blandar dan saka dibuat dengan purus pada saka dan
lubang pada blandar.
Blandar pengeret : gelagar yang ditumpu oleh saka guru atau tiang
utama yang berperan menjadi pengikat rangka utama bangunan yang
menanggulangi beban lateral dan menstabilkan posisi tiang.
Blandar penanggap
: gelagar yang ditumpu dan mengikat tiang di
deretan kedua dan berperan menopang berat atap penanggap atau atap
susun kedua.

Rumah Ropingen: Saka guru yang menopang tumpang sari diikat di


ujungnya oleh balok blandar dan blandar pengeret yang diperkuat
dengan balok sunduk di bawahnya. Blandar dan sunduk dihubungkan
oleh sesanten yang ornamental.
(foto: Fachri Muzakki dan Furqon Badriantoro, 2014)

Blandar emper
deretan ketiga
susun ketiga.

: gelagar yang ditumpu dan mengikat tiang di


dan berperan menopang berat atap emper atau atap

Sunduk
: balok penguat dengan posisi sekitar 20 cm di
bawah blandar pengeret. Sunduk berujung purus yang dihubungkan

dengan lobang pada saka. Pada sambungan di sudut struktur tempat


pertemuan dua sunduk dan satu saka, salah satu purus sunduk dilubangi
untuk memasukkan purus dari sunduk lainnya.
Sesanten
: balok penghubung antara blandar pengeret dan
sunduk. Sebagaimana geganja, balok ini sering dibentuk dengan ragam
hias yang rumit sehingga menjadi elemen aksen di antara blandar dan
sunduk yang polos.
Tumpang sari
: susunan balok (blandar) dalam jumlah banyak
yang terletak di bawah atap brunjung yang hampir selalu dijumpai pada
bangunan joglo. Tumpang sari terdiri atas balok-balok dengan susunan ke
luar yang disebut blandar lar-laran dan balok-balok dengan susunan ke
dalam yang disebut sebagai blandar singup.
Dhadha paesi
: gelagar yang terletak di tengah bangunan
dalam posisi tegak lurus terhadap molo. Balok ini selevel dan
dihubungkan dengan blandar, serta berperan menyangga ander. Di
antara rangka horisontal balok ini biasanya diukir dengan ragam hias
yang paling rumit dan sering menjadi tempat untuk menggantungkan
lampu utama.

Rumah Ropingen: Tumpang sari yang terdiri atas blandar singup dan
balndar lar-laran yang dikunci di pojoknya dengan emprit gantil yang
berbentuk nanasan. Balok dhadha paesi yang ornamental terletak di
tengah.
Bahu dhanyang
: elemen penyangga tritisan. Ujung bahu dhanyang
menopang gelagar pada tritisan dan pangkalnya bertumpu pada kolom
atau kadang dinding bata. Bahu dhanyang yang sangat banyak dijumpai
di Kotagede memiliki bentuk yang sangat khas dengan ragam hias yang
rumit sehingga sering menjadi elemen estetis utama yang terletak pada
bagian yang paling depan pada sebuah rumah.
Ganja mayangkara : elemen konstruksi penghubung yang biasanya
dijumpai pada pertemuan antara saka dan blandar dengan peran
struktural seperi geganja untuk memperluas permukaan geser. Elemen
ini sering diukir dengan ragam bentuk bintang bersegi delapan yang
menghadap ke bawah dan pahatan bergerigi yang disebut untu walang
atau gigi belalang tepak pada pertemuan dengan saka. Untuk
mendudukkan ganja mayangkara pada ujung atas saka dibuat purus
yang lebih lebar (purus sanggan) di bawah purus yang masuk ke blandar
(purus pathok).

Selubung bangunan

Selubung bangunan berupa pembatas ruangan baik yang memikul beban


atap maupun yang hanya membatasi ruangan saja serta lubang pintu
dan jendela.
Dinding bata
: pasangan bata yang digunakan untuk melingkupi
suatu ruang dalam bangunan atau halaman. Secara struktural dinding ini
dapat berfungsi hanya sebagai pembatas atau juga sekaligus sebagai
struktur pemikul beban atap. Dinding pemikul biasanya lebih tebal dari
pada dinding pembatas. Dari segi teknik pemasangan bata, yang paling
banyak dijumpai adalah dinding dengan bata yang dipasang dengan
perekat spesi yang biasanya diplester permukaannya. Selain itu,
terdapat beberapa dinding kuna yang dipasang dengan teknik kosod.
Dalam teknik ini dua buah batu bata berkualitas tinggi digosok
permukaannya satu sama lain dengan dibasahi air. Setelah penggosokan
mengikis permukaan bata akan terbentuk cairan serupa spesi sehingga
kedua bata tersebut bisa langsung direkatkan.

Dinding gedheg
: pembatas yang terbuat dari anyaman bambu. Terdiri
atas anyaman bambu bagian luar atau kulit sehingga disebut gedheg
kulitan yang berkualitas tinggi dan anyaman bambu bagian dalam yang
disebut gedheg aten-aten yang berkualitas lebih rendah. Anyaman
bambu tersebut dapat dibentuk dalam beberapa ragam pola.
Dinding kotangan : pembatas yang terdiri atas pasangan bata di bagian
bawah dan anyaman bambu di bagian atas.
Gebyog
: pembatas yang terbuat dari papan kayu.
Papan tersebut dapat dibiarkan polos atau dilapisi dengan politur dan
cat.
Lawang atau pintu : bukaan pada dinding yang dipergunakan untuk
melintas yang dapat ditutup. Paling banyak dijumpai berupa panil kayu
dengan tipe kupu tarung atau dengan daun pintu ganda khususnya pada
pintu utama yang terletak di sumbu bangunan. Pintu samping sering
menggunakan satu daun pintu. Banyak pintu papan ini diukir dengan
motif pelisir untuk menegaskan tepian papan pembingkai daun pintu dan
motif pengisi memusat yang terletak di tengah panil daun pintu. Pada
beberapa bangunan dijumpai juga variasi penggunaan kaca baik bening
maupun bewarna pada daun pintu bagian atas.
Jendela
:
bukaan yang tidak dipergunakan untuk
melintas. Paling sering dijumpai berupa jendela tunggal dengan dua
daun jendela. Jendela lama biasa berjeruji batang kayu atau besi. Pada
beberapa bangunan yang relatif baru dijumpai juga jendela dengan panil
penutup yang berderet. Sebagaimana pada daun pintu,banyak daun
jendela ini diukir dengan motif pelisir untuk menegaskan tepian papan
pembingkai dan motif pengisi memusat yang terletak di tengah panil
daun jendela dengan variasi penggunaan kaca baik bening maupun
bewarna.

Rumah Ropingen: Dinding bata di sisi belakang senthong dan gebyog


kayu di sisi depan senthong. Pintu panil kaca dan kayu berhias pelisir
dan wajikan. Tebeng di atas pintu berhias panahan yang
menggambarkan ketajaman hati dan lung-lungan yang menggambarkan
kesuburan.
(foto: Fachri Muzakki dan Furqon Badriantoro, 2014)
Tebeng
: bidang dekoratif yang terletak di atas pintu
atau jendela. Tebeng dapat berbentuk segi empat atau bevariasi bentuk
pada tepi atasnya. Bidang ini sering dibuat sarat dengan ornamen
dengan berbagai motif, seperti panah tersusun memusat, sulur yang
menjuntai ke tepi, mahkota a la Eropa dan kaligrafi. Tebeng dapat dibuat

berlubang atau berukir tembus sehingga dapat berperan sebagai lubang


ventilasi yang membantu penghawaan alami.
Regol
: bukaan pada dinding pembatas halaman, biasanya
dilengkapi dengan daun pintu. Kadang regol juga beratap untuk
menaungi bukaan dan mereka yang melintasinya.

Umpak

Umpak atau pedestal menghubungkan saka dengan tanah atau lantai di


bawahnya. Umpak dapat terbuat dari kayu atau batu. Secara umum
umpak berbentuk piramida terpancung dengan permukaan yang sempit
menghadap ke atas menyangga kolom dan bidang jang luas di bawah.
Secara struktural umpak berperan untuk menyalurkan beban vertikal
secara lebih merata ke permukaan tanah. Secara arsitektural, umpak
memberi penegasan pada bagian landasan kolom. Umpak dapat memiliki
tepian yang polos atau berprofil. Kadang permukaan umpak diukir
biasanya dengan motif padma.

Batur

Batur adalah tanah yang ditinggikan untuk landasan bangunan atau


untuk tempat duduk. Permukaan batur berfungsi sebagai lantai yang
dapat dilapisi dengan berbagai bahan. Pada rumah sederhana biasanya
hanya berupa plester, tapi pada bangunan yang lebih mewah sering
dijumpai tegel dengan berbagai motif sebagai penutupnya.

KEKHASAN SOSIAL BUDAYA DALAM RUMAH JAWA DI


KOTAGEDE
Kotagede yang tumbuh dan berkembang dengan tradisi dan pola
hubungan sosial yang khas memiliki sejumlah karakteristik arsitektural
yang terkait dengan kehasan sosial budaya tersebut. Secara umum
langgam rumah Jawa yang berkembang di Kotagede sama dengan yang
dijumpai di tempat-tempat lain khususnya di Yogyakarta dan Surakarta.
Namun demikian ada kekhasan dalam beberapa karakteristik bangunan
Jawa yang ada di kawasan ini.

Kekhasan tersebut antara lain disebabkan oleh peran Kotagede adalah


tanah leluhur bagi Kraton Surakarta dan Yogyakarta sehingga
masyarakat di kawasan ini menjalin afiliasi dengan kedua kerajaan
tersebut. Sejumlah rinci bangunan yang biasanya hanya dijumpai di
Surakarta atau di Yogyakarta bisa ditemukan bersama sama dalam satu
bangunan.
Sebagai kawasan yang dimuliakan untuk peziarahan, hingga perempat
pertama abad ke-20, di Kotagede semua orang dilarang naik kendaraan
beroda sehingga harus berjalan kaki. Pelarangan ini menjadikan
Kotagede sebagai kawasan pedestrian dihubungkan dengan lorong gang
dan jalan yang sempit dan berliku karena tidak memerlukan akses bagi
kendaraan beroda dan tunggangan lainnya.
Setelah tak menjadi ibu kota kerajaan, Kotagede tak lagi didominasi oleh
kalangan ningrat dan abdi dalem melainkan oleh masyarakat pedagang
dan produsen kerajinan. Dalam masyarakat yang lebih menonjolkan
kesetaraan ketimbang hirarki ini asosiasi simbol-simbol, termasuk tipe
bangunan,
dengan
kalangan
tinggi
tertentu
tidak
terlalu
dipertimbangkan. Pemilihan tipe bangunan bersifat luwes. Di Kotagede,
orang kebanyakan, misalnya, yang memiliki kemampuan ekonomi bisa
membangun rumah joglo dengan leluasa tanpa dianggap terlalu
menonjolkan diri di masyarakat.
Masyarakat Kotagede memiliki ikatan sosial yang kuat, di antaranya
lantaran hubungan kekerabatan yang meluas; orang Kotagede
bertetangga dan bersaudara satu sama lain. Hal ini menjadikan batas
antara ruang publik dan ruang privat melebur atau setidaknya sangat
fleksibel. Rumah-rumah yang dikelilingi tembok tinggi bukan berarti
mengisolasi diri dari hubungan sosial dan spasial karena dapat ditembusi
dengan jejalur pejalan kaki. Bagian-bagian rumahpun, khususnya
pendhapa, tak jarang menjadi tempat penyelenggaraan aktivitas
masyarakat, khususnya yang bersifat sosial keagamaan.
Kotagede adalah kawasan yang memiliki karakteristik perkotaan yang
berkembang dalam masa yang sangat lama sehingga kepadatan
bangunan di kawasan ini sangat tinggi. Dibandingkan dengan rumah
sejenis di sekitar Kraton, rumah-rumah Jawa di Kotagede memiliki
dimensi yang relatif kecil dan dibangun berdempetan satu sama lain.

Pola dan Orientasi Permukiman

Rumah-rumah tradisional di Kotagede secara konsisten menghadap ke


selatan, bahkan rumah yang terletak di selatan jalan pun memilih untuk
membelakangi akses utama tersebut. Hal ini menimbulkan pola ruang,
bangunan dan rinci yang menarik. Jalan yang membujur ke timur-barat,
seperti Jl. Mondorakan, memiliki sederet bangunan di sisi utara dengan
akses dan bukaan yang menghadap ke jalan tersebut. Sementara itu,
rumah-rumah di sisi selatan jalan relatif bersahaja dan tertutup. Hal ini
terjadi mengingat bagian yang menghadap jalan tersebut semula adalah
sisi belakang rumah yang dilubangi sehingga orang dapat mengakses
dari jalan menuju pendhapa rumah tersebut yang ada di sisi selatan.
Jalan yang membujur ke utara selatan, seperti Jl. Watu Gilang seringkali
memiliki sisi kiri dan kanan yang berupa dinding tembok polos karena
kedua sisi itu adalah bagian samping bangunan yang diberi pintu kecil
untuk berhubungan dengan jalan.
Selain menghadap ke selatan, rumah-rumah tradisional yang memiliki
pendhapa hampir selalu dilingkupi oleh dinding tinggi di sekeliling
halamannya yang menjadikan sekilas rumah-rumah tersebut kurang
bersahabat dengan mereka yang melintas di sekitarnya. Namun
demikian, dengan pengamatan yang lebih seksama kita akan melihat
rumah yang berdempetan dan dilingkupi pelataran tertutup tersebut
memiliki pola penetrasi ruang yang khas sehingga tetangga dapat
dengan mudah melintas halaman rumah yang oleh orang luar terasa
merupakan area privat.

Omah Ropingen yang terletak di permukiman padat Kotagede. Rumah ini


menhadap ke selatan dengan dinding keliling yang rapat namun memiliki
dua pintu gerbang yang terhubung dengan jaringan pedestrian di sekitar
rumah. Tetangga biasa melintasi halaman rumah ini melalui kedua pintu
tersebut.
(foto: Fachri Muzakki dan Furqon Badriantoro, 2014)
Sangat sering dijumpai pintu butulan yang menembus tembok keliling
halaman terhubung dengan longkang atau ruang terbuka yang
merupakan celah antara pendhapa dan omah mburi. Dengan
keterhubungan ini, maka tetangga dapat masuk dan melintas longkang
tersebut untuk bertandang atau sekedar numpang lewat menuju area di
sisi lain rumah yang dilintasi tersebut. Lintasan publik yang menembusi
area privat ini dapat berupa jalur lurus atau menyiku membentuk huruf L
bergantung pada relasi antara rumah dengan lingkungan sekitarnya.
Dengan lintasan ini rumah yang seolah dikungkung tembok tinggi
menjadi jejaring ruang semi publik yang aksesnya terbentuk karena
kesepakatan sosial di antara pemilik rumah dan tetangga di sekitarnya.
Setiap rumah bergantung pada kerelaan tetangga atau kerabat di
sekitarnya untuk mendapatkan kemudahan akses. Kebergantungan

timbal balik ini menjadikan hubungan-hubungan keruangan terkait


langsung dengan hubungan sosial.
Di kediaman para ningrat di sekitar Kraton, longkang biasanya hanya
dijumpai pada dalem yang berskala besar. Di dalem-dalem megah ini
longkang berperan seperti porte cochere yang ditujukan untuk
kemudahan akses tetamu kehormatan yang datang berkereta menuju ke
pringgitan tempat tuan rumah menyambutnya tanpa harus berjalan
melintas pendhapa yang luas.
Longkang di Kotagede dapat dijumpai di rumah-rumah yang relatif kecil
karena melayani lintasan pejalan kaki menerabas halaman rumah
tetangga, selain juga untuk kemudahan tamu mencapai omah mburi.

Emper, Longkang dan Dalan Rukunan

Teras yang cukup lebar atau emper hampir selalu dijumpai di di depan
omah mburi. Emper ini adalah ruangan yang nyaman secara klimatologis
maupun sosial. Karena bearatap ruangan ini terlindungi dari curah hujan.
Karena tak berdinding, emper dapat dilintasi angin semilir dengan
leluasa. Di siang maupun malam hari emper yang teduh tapi berangin ini
menjadi tempat yang nyaman untuk melewatkan waktu sembari
berbincang.
Di rumah ningrat, ruang melebar di antara pendhapa dan dalem atau
omeh mburi ini disebut dan diperankan sebagai pringgitan yang berarti
tempat untuk mementaskan ringgit. Akan tetapi, di Kotagede, ruang
setengah terbuka pada bagian ini hampir selalu disebut sebagai emper
ketimbang pringgitan mengingat peran sosialnya yang sangat
mendalam.
Secara sosial, ruang setengah terbuka yang terletak di depan ini
merupakan tempat yang memungkinkan penghuni rumah dan orang
yang melintas halaman untuk saling menyapa secara akrab. Tak jarang
mereka yang melintas kemudian singgah sejenak di emper ini, sehingga
seperangkat kursi atau sekedar bangku panjang untuk berbincang lazim
ditemui di sini.
Bukan hanya emper yang merupakan tepian omah mburi, tepian
pendhapa pun adalah bagian ruang yang nyaman untuk menjalin
interaksi sosial. Menyambut tetamu kehormatan atau acara formal
diselenggarakan di tengah pendhapa dengan orientasi ke ruang di antara

empat saka guru. Namun demikan, berbincang santai lebih nyaman


dilakukan di pinggiran pendhapa. Dalam masyarakat Kotagede yang
menekankan pada kesetaraan duduk di lantai di teritis pendhapa
tampaknya tidak dipandang merendahkan derajat sehingga siapapun tak
jengah untuk berjumpa di situ.
Di longkang, emper omah mburi berjumpa dengan teritis pendhapa.
Masyarakat Kotagede yang tinggal di permukiman dengan kepadatan
tinggi namun memiliki jalinan sosial yang erat tampaknya sangat
menghayati makna longkang bagi kepentingan sirkulasi sekaligus
sebagai ungkapan hubungan sosial. Ruang semi publik ini yang
dikembangkan secara khas di kawasan ini menjadi urat nadi kehidupan
bertetangga dan bermasyarakat.

Pendhapa, longkan atau dalan rukunan dan emper di Omah Ropingen


(foto: Fachri Muzakki dan Furqon Badriantoro, 2014)
Sehari hari, penghuni, tetangga dan tetamu melintas dan menyapa. Akan
tetapi, saat salah satu pemilik rumah menyelenggarakan hajatan ruang
terbuka memanjang ini menjadi ekstensi yang fleksibel.

Teritis dan Bahu Dhanyang

Dengan pentingnya peran emper dan tritis tersebut, kedua bagian


setengah terbuka di Kotagede ini memiliki artikulasi arsitektural yang
khas dan dikerjakan dengan seksama. Berbeda dengan kebanyakan
bangunan Jawa yang memiliki teritis dengan usuk yang menerus dari
atap di atasnya, usuk teritis di rumah Kotagede terpisah dari usuk atap
utama meskipun terhubung dalam satu level. Pemisahan ini diperlukan
karena usuk tersebut memiliki sudut kemiringan yang lebih landai
ketimbang atapnya. Kelandaian ini bertujuan untuk membuat air hujan
jatuh lebih jauh dari tepi rumah ketimbang kalau mengikuti kemiringan
atap. Mereka yang sedang bertandang dapat sedikit lebih terlindungi dari
cucuran hujan. Tepian atap di Kotagede juga cenderung lebih rendah
ketimbang pada bangunan sejenis di tempat lain yang memberikan
pelindungan yang lebih pada emper tersebut.
Ujung-ujung usuk yang terletak rendah ini adalah bagian yang paling
langsung menyapa mereka yang melintas di depan emper atau
singgah ke dalamnya. Artikulasi ujung usuk dengan membuat profil yang
rumit menjadi ungkapan penting sapaan arsitektural ini. Bentuk pahatan
siku berseling dengan lengkung yang elegan dapat kita jumpai dengan
mudah bahkan di ujung usuk rumah yang tampak sangat bersahaja di
kawasan ini.
Ragam detail yang menyapa lainnya adalah lisplank berornamen dan
sunscreen yang dalam tradisi Jawa disebut sebagai rete-rete dan
srawing. Tepian berornamen ini membentuk bidang tipis yang
menegaskan transisi ruang dari luar ke dalam tanpa membuat batas
yang mencolok. Bersama sama dengan jajaran kolom dan undakundakan yang lebar, elemen-elemen dekoratif tersebut menyambut
kehadiran mereka yang melintasinya.
Karena merupakan batang yang terpisah dari atap utama, ujung teritis
tersebut memerlukan balok penumpu. Balok penumpu ini disangga oleh
konsol yang disebut bahu dhanyang. Komponen ini menyandang peran
berganda. Di satu sisi, bahu dhanyang berperan struktural untuk
menjaga kedudukan ujung usuk. Di sisi lain, bahu dhanyang memperkuat
ungkapan menyapa yang disampaikan oleh ujung-ujung usuk yang
berprofil rumit tersebut.
Secara teknis, membuat bahu dhanyang sangat kompleks. Paling tidak
diperlukan tiga batang kayu untuk mengkonstruksikannya, yakni yang
berupa batang horisontal yang menempel ke dinding atau kolom kayu,

batang vertikal yang terletak di ujung, dan balok penghubung yang


menempel pada belandar yang menjadi tumpuan usuk.

Bahu dhanyang kayu di rumah Ropingen yang menyangga teritis.


Ornamentasi yang kaya terdapat pada konstruksi bahu dhanyang dan
ujung-ujung usuk teritis.
(foto: Fachri Muzakki dan Furqon Badriantoro, 2014)

Bahu dhanyang besi di rumah Ropingen yang menyangga teritis.


Ornamentasi yang kaya terdapat pada konstruksi bahu dhanyang dan
ujung-ujung usuk teritis.
(foto: Fachri Muzakki dan Furqon Badriantoro, 2014)

Secara estetis bahu dhanyang sering dijumpai sebagai bagian yang


paling sarat dengan ornamen. Ragam hias floral dengan bentuk daun
bergerigi dan bunga paling sering dipahatkan pada komponen ini. Bagian
batang horisontal dan vertikal memiliki ukiran yang menghadap ke
samping. Sementara, balok penghubung dengan tepian berprofil rumit
berbengun trapesium menghadap ke depan. Dari semua arah tetamu
mendapat sajian visual yang ditampilkan secara bersungguh-sungguh
dengan kecermatan pengerjaan ini.
Dengan pentingnya peran emper dalam menyapa mereka yang melintas
di longkang, maka bidang depan omah mburi yang menghadap ke emper
berperan sebagai fasad atau muka rumah ketimbang pendhapa yang
terletak lebih ke depan. Pintu dan jendela pada bagian ini memiliki
ungkapan yang kaya untuk menegaskan peran fasad tersebut. Jeruji

jendela dan daun pintu yang diukir cermat dengan hiasan di atas
ambang pintu dan jendela yang disebut tebeng.

Fasad emper dengan hiasan sulur bunga dan panah pada tebeng di pintu
dan jendelanya di rumah Ropingen
(foto: Fachri Muzakki dan Furqon Badriantoro, 2014)
Di antara ragam hias yang paling sering dijumpai pada tebeng adalah
sulur-suluran bunga panah dan wajikan. Sulur yang tumbuh dan bunga
yang mekar dikaitkan dengan keindahan dan kesuburan sedangkan
panah yang berujung tajam dikaitkan dengan kewaspadaan dan
ketajaman hati yang terasah. Wajikan yang pada dasarnya berbentuk
permata melambangkan pencerahan dan kesucian. Semuanya
mengungkapkan harapan baik dari yang empunya rumah untuk mereka
yang bertandang.

KESIMPULAN
Dari kajian di atas dapat disimpukan bahwa Rumah Ropingen memiliki
nilai arsitektur yang tinggi. Nila tersebut didasarkan pada: Kekhasan

Arsitektiur Tradisional Jawa dan Kekhasan Arsitektur Tradisional Jawa di


Kotagede.
Nilai Kekhasan Arsitektur Tradisional Jawa ditunjukkan dalam:

Kelengkapan guna griya yang terdiri atas: pendhapa, dalem,


emper, gandhok, longkang dan gadir.
Keragaman dhapur griya yang terdiri atas: omah dhapur joglo,
omah dhapur limasan dan omah dhapur kampung
Kekayaan ragam hias yang terdiri atas: lung-lungan, panahan,
sekar, plisir dan padma.

Nilai Kekhasan Arsitektur Tradisional Jawa di Kotagede ditunjukkan


dalam:

Tata ruang yang terkait dengan pola sirkulasi sekitar


Ruang longkang yang dikembangkan menjadi dalam rukunan
Rinci ujung usuk dan bahu dhanyang baik yang terbuat dari kayu
maupon besi.