Anda di halaman 1dari 5

Asam Kafeat

ASAM KAFEAT ialah suatu senyawa organik yang diklasifikasikan


sebagai asam hidroksisinamat. Zat padat berwarna kuning ini terdiri dari gugus
fungsional fenolat dan akrilat. Asam ini dijumpai pada semua tanaman karena ia
merupakan zat-antara kunci dalam biosintesis lignin, salah satu sumber dasar
biomassa.
IUPAC menamai asam kafeat dengan beberapa nama, yaitu: Asam 3-(3,4Dihidroksifenil)-2-propenoat, Asam 3,4-Dihidroksi-sinamat, trans-Kafeat, 3,4Dihidroksi-trans-sinamat), Asam (E)-3-(3,4-dihidroksifenil)-2-propenoat, Asam
3,4-Dihidroksibenzena-akrilat, Asam 3-(3,4-Dihidroksi-fenil)-2-propenoat.
Struktur

Khasiat
Asam kafeat mempunyak beragam potensi efek farmakologi dalam kajian
secara in vitro dan pada hewan model, serta efek inhibitor asam kafeat terhadap
proliferasi sel kanker melalui mekanisme oksidatif pada sel fibrosarkoma HT1080 galur yang ditetapkan terbaru.
Asam kafeat ialah suatu antioksidan in vitro dan juga in vivo. Asam kafeat
juga menunjukkan aktivitas immuno-modulator dan aktivitas anti-radang. Asam
kafeat mengungguli antioksidan lainnya, mengurangi produksi aflatoksin dengan
lebih dari 95 persen. Penelitian yang pertama menunjukkan bahwa stres oksidatif

yang

dinyatakan

akan

memicu

atau

meningkatkan

produksi

aflatoksinAspergillus flavus dapat terhalangi oleh asam kafeat. Ini membuka pintu
untuk menggunakan metode fungisida alami dengan mensuplementasikan pohon
dengan antioksidan.
Studi karsinonenisitas asam kafeat memiliki hasil campuran. Beberapa
studi menunjukkan bahwa asam kafeat menghambat karsinogenesis, dan
eksperimen-eksperimen lain menunjukkan efek karsinogenik. Pemberian asam
kafeat dosis tinggi secara oral pada tikus telah menyebabkan papiloma lambung.
Pada kajian yang sama, dosis tinggi yang dikombinasikan dengan antioksidan,
termasuk asam kafeat, menunjukkan pengurangan yang signifikan pada
pertumbuhan tumor kolon pada tikus yang sama. Tidak ada pengaruh yang
signifikan yang tercatat sebaliknya. Asam kafeat tercantum dalam lembaran data
berbahaya sebagai potensi karsinogen, seperti yang telah dicantumkan oleh Badan
Internasional untuk Riset Kanker sebagai karsinogen golongan 2B (kemungkinan
karsinogenik pada manusia). Data yang lebih baru menunjukkan bahwa bakteri
dalam usus tikus memudahkan pembentukan metabolit asam kafeat. Tidak dikenal
adanya efek-penyakit dari asam kafeat pada manusia.
Contoh Tumbuhan Obat
Daun Dewa (Gynura pseudochina L)
Nama lain daun dewa adalah Gynura divaricata DC, Gynura ovalis DC, Senecio
divaringata L. Di Cina dikenal sebagai Samsit atau tansit (Coan tin sit) (Winarto,
1994).
Sistematika Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Sub Kelas : Sympetalae

Bangsa : Asterales/Campanulatae
Suku : Asteraceae/Compositae
Marga : Gynura Jenis : Gynura pseudochina (L) DC (Tjitrosoepomo, 1988 ;
Backer and Van den Brink, 1968)
Tanaman daun dewa digolongkan sebagai herba, daun berhadapan kadang
ada yang tersebar, daun tunggal tanpa daun penumpu. Bunga dalam bongkol kecil,
bunga berwarna orange kecoklatan. Mahkota bunga berdaun lepas berbentuk
lidah. Bakal buah tenggelam dengan satu bakal biji. Tangkai putik berjumlah satu,
kebanyakan dengan dua kepala putik. Biji tumbuh menyatu dengan kulit buah
(Van Steenis, 2003)
Daun dewa [Gynura pseudochina (Lour.) DC atau Gynura segetum (Lour.)
Merr.] adalah salah satu tumbuhan obat Indonesia yang telah lama digunakan
secara turuntemurun untuk pengobatan berbagai penyakit seperti obat kanker
(Mangan, 2003), demam (antipiretik), kencing manis, tekanan darah tinggi dan
penyakit kulit (obat luar) (Sudibyo, 1998).
Salah satu tanaman obat yang dikenal dan dipakai masyarakat untuk
mengobati penyakit kanker adalah Daun Dewa (Gynura pseudochina). Daun dan
umbi tanaman Daun Dewa mengandung saponin, minyak asiri, alkaloid dan
flavonoida. Beberapa penelitian mengenai khasiat Daun Dewa sebagai anti kanker
telah dilakukan, antara lain : Ekstrak etanol Daun Dewa mampu menghambat
pertumbuhan tumor paru mencit karena benzena(a)piren sebesar 23%, terbukti
dengan adanya jumlah nodul dalam kelompok perlakuan yang lebih sedikit
dibandingkan dengan kelompok kontrol. Penelitian serupa dilakukan juga
terhadap ekstrak heksan Daun Dewa yang diberikan secara intraneoplasma pada
mencit yang diinduksi dengan benzena(a)piren. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa ekstrak Daun Dewa dapat menghambat pertumbuhan kanker yang
didukung oleh data histopatologi adanya nekrosis dari sel-sel kanker tersebut.
Juga telah dilakukan uji aktivitas biologis ekstrak etanol Daun Dewa dengan

menggunakan sel vero sebagai sel normal dan sel mieloma sebagai sel kanker, dan
hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak etanol Daun Dewa mampu menghambat
pertumbuhan sel kanker tersebut.
Hasil penapisan fitokimia menunjukkan adanya senyawa golongan
alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan triterpenoid dalam daun dewa (Sayuthi et al.
2000). Senyawa alkaloid yang terdapat dalam daun dewa adalah senecionine,
seneciphylline, seneciphyllinine dan (E)- seneciphylline. Senyawa flavonoid yang
telah dapat diisolasi dari daun dewa adalah kuersetin 3,7-O-diglikosida,
sedangkan kuersetin 3-rutinosida telah dapat diisolasi dari daun dewa merah
(Gynura pseudochina var. hispida. Selain itu, senyawa turunan asam kafeat seperti
asam

3,5-dikafeoilkuinat,

monokafeoilkuinat

telah

asam

4,5-

dikafeoilkuinat

dapat

diisolasi

dari

daun

dan

asam

dewa

5-

merah

(Siriwatanametanon & Heinrich, 2011).


Analisis Fitokimia
KLT
Sampel ditotolkan pada plat KLT GF254 dan plat dimasukkan ke dalam
Chamber yang berisi eluen n-heksana:aseton dengan perbandingan yang
bervariasi. Selanjutnya eluen dibiarkan merambat sampai tanda batas.
Dikeluarkan plat KLT dan dibiarkan kering pada suhu kamar. Bercak noda dan
yang terbentuk diamati di bawah lampu uv dan dihitung harga faktor retensinya
(Rf) (Harborne, 1996).
KK
Analisis Kromatografi Kolom Sebagai fase diam dalam kromatografi ini
digunakan silika gel 60 (70-100 Mesh) yang sudah diovenkan pada 110 C untuk
menghilangkan kandungan air. Adapun eluen (fasa gerak yang digunakan adalah
nhexana:aseton 7:5) (v/v). Kolom ini didiamkan selama 1 hari sehingga diperoleh
pemampatan yang sempurna. Selanjutnya ekstrak EtOH:HCl daun ubi jalar

dilarutkan dalam pelarut (fase gerak), dan sampel dimasukkan dengan hati-hati
melalui dinding kolom dan aliran fasa gerak diatur. Eluen ditambahkan secara
kontinyu sampai terjadi pemisahan. Eluat ditampung pada botol penampung fraksi
setiap 3 mL. Setiap fraksi sampel yang dikoleksi kemudian diuji dengan KLT
kembali untuk mengidentifikasi noda yang sesuai (Harborne, 1996).
Daftar Pustaka
Harborn. 1996. Metode Fitokimia Edisi Ketiga. ITB, Bandung.
Siriwatanametanol, N. and Heinrich, M., 2011, The Thai medicinal plant Gynura
pseudochina var. hispida: chemical composition and in vitro NF-kappaB
inhibitory activity, Nat. Prod. Commun. 6(5): 627-630.
Sudibyo, M., 1998. Alam Sumber Kesehatan: Manfaat dan Kegunaan. Jakarta:
Balai Pustaka.
Backer, C. A. & Van den Brink, R.C. B. 1968. Flora of Java Volume III, 71-72,
Rs-Noordhoff N.V., Groningen.
Tjitrosoepomo, G., 1988. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Cetakan
kesepuluh. 444-445. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Winarno, F.G., 1994. Bahan Tambahan Makanan. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama.

Anda mungkin juga menyukai