Anda di halaman 1dari 3

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA Tn.

B DENGAN ULKUS
DEKUBITUS DI DESA BAJO INDAH KECAMATAN SOROPIA
KABUPATEN KONAWE PROVINSI SULAWESI TENGGARA
TAHUN 2016
Lm. Ali Abdullah, Dian Yuniar Syanti Rahayu, CiciNuriasih
RINGKASAN
Tujuan Laporan Kasus Ini Adalah Mampu Memahami Dan Melaksanakan Asuhan
Keperawatan Gerontik Pada Tn. B Dengan Ulkus Dekubitus Di Desa Bajo Indah, Kec.
Soropia, Kab. Konawe
MetodeYang Digunakan Adalah Metode Nursing Proses Yang Terdiri Dari Pengkajian,
Perumusan Diagnosa Keperawatan, Rencana Keperawatan, Implementasi Keperawatan, Dan
Evaluasi Keperawatan. Klien Kelolaan Pada Studi Kasus Ini Adalah Tn.B Yang Menderita
Ulkus Dekubitus Di Desa Bajo Indah, Kec. Soropia, Kab. Konawe.
Dari Data Yang Diperoleh Dari Hasil Pengkajian Yang Dilakukan Pada Tanggal 7 November
2015 Dirumuskan Diagnosa Keperawatan Yaitu Gangguan Mobilitas Fisik, Resiko Infeksi
Dan Devisit Perawatan Diri. Setelah Dilakukan Tindakan Keperawatan Pada Masalah
Gangguan Mobilitas Fisik, ResikoInfeksi Dan Devisit Perawatan Diri, Klien Mengalami
Perubahan Pada Masalah Resiko Infeksinya Dimana Menunjukan Proses Penyembuhan Dan
Tidak Ada Tanda-Tanda Infeksi. Dan Untuk Diagnosa Gangguan Mobilitas Fisik Dan Devisit
Perawatan Diri Tidak Mengalami Perubahan Yang Signifikan.
Kata Kunci: Gangguan Mobilitas Fisik, Resiko Infeksi, Devisit Perawatan Diri
LATAR BELAKANG
Nasional Pressure Ulcer Advisory Panel (NPUAP,1989), Sebuah Organisasi Independent Non
Profit Dibidang Pendidikan Dan Penelitian Untuk Mencegah Dan Mengatasi Ulkus
Dekubitus Mendefenisikan Ulkus Dekubitus Sebagai Area Nekrosis Jaringan Setempat Yang
Terjadi Jika Jaringan Lunak Mengalami Penekanan Diantara Penonjolan Tulang Dan
Permukaan Luar Dalam Periode Yang Cukup Panjang.
Dari Penelitian Yang Dilakukan Purwsaningsih(2001), Angka Kejadian Dekubitus Di Rumah
Sakit Sardjito Yogyakarta Pada Bulan Oktober Tahun 2001, Dari 40 Pasien Yang Mengalami
Tirah Baring, Didapatkan 40% Pasien Menderita Dekubitus.
Dekubitus Pada Lansia Merupakan Suatu Hal Yang Serius, Dengan Angka Morbilitas Dan
Mortalitas Yang Tinggi. Di Negara-Negara Maju, Persentase Terjadinya Dekubitus Mencapai
Sekitar 11% Dan Terjadi Dalam 2 Minggu Pertama Perawatan. Angka Kejadian Ulkus
Dekubitus Pada Perawatan Umumnya Berkisar Antara 0,4-38%, Pada Perawatan Jangka
Panjang Mencapai 2,2 23,9% Dan Perawatan Di Rumah 0-17%. Perawatan Ulkus
Dekubitus Di ICU Berkisar Antara 8-40% Karena Penurunan Imunitas Tubuh Pasien
(Maridean L. Mass Dkk, 2011).
Insiden Ulkus Dekubitus Tidak Terbatas Pada Lansia, Tetapi Perubahan Biofisiologis Akibat
Proses Penuaan Mengakibatkan Resiko Cidera Jaringan Lunak Pada Lansia. Akibat Penuaan
Muatan Jaringan Elastin Jaringan Lunak (Maridean L. Mass Dkk, 2011).
Dari Hasil Pengkajian Yang Dilakukan Di Desa Bajo Indah, Kec. Soropia, Kab. Konawe
Didapatkan Kasus Dekubitus Pada Lansia. Dimana Untuk Penanganan Lukanya Klien Harus
Menempuh Jarak Yang Cukup Jauh Sedangkan Kemampuan Klien Dari Segi Fisik Dan
Ekonomi Sangatlah Terbatas Ditambah Lagi Pengetahuan Keluarga Yang Kurang Tentang
Penanganan Dekubitus. Dari Uraian Tersebut Diatas, Maka Penulis Tertarik Untuk

Melakukan Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Tn. B Dengan Ulkus Dekubitus Di Desa
Bajo Indah, Kec. Soropia, Kab. Konawe Tahun 2016
TUJUAN
Mampu Memahami Dan Melaksanakan Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Tn. B Dengan
Ulkus Dekubitus Yang Terdiri Dari Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Rencana Tindakan,
Implementasi Dan Evaluasi Keperawatan.
PEMBAHASAN
1.
Pengkajian
Pada Kasus Ini Data Yang Didapatkan Meliputi Data Subjektif Klien Mengatakan Klien
Mengatakan Tidak Dapat Menggerakkan Kedua Kakinya, Klien Mengatakan Sebelumnya
Pernah Di Rawat D RS Akibat Tertimpa Banguan, Klien Mengatakan Luka Pada
Belakangnya, Klien Mengatakan Jarang Mandi, Klien Mengatakan Jarang Menyikat Gigi,
Klien Mengatakan Jarang Menggunting Kuku. Sedangkan Data Objektif Didapatkan Keadaan
Umum Sedang, Klien Terpasang Kateter, Nampak Ektremitas Bagian Bawah Tidak Dapat
Digerakkan, Aktifitas Klien Dibantu Keluarga, S : 37,8C, Terdapat Luka Pada Pinggang
Bagian Belakang, Luka Nampak Basah, Terdapat Jaringan Nekrotik Pada Luka, Mulut Bau,
Gigi Nampak Kotor, Telinga Nampak Kotor Dan Kuku Nampak Panjang Dan Kotor.
2.
Diagnose Keperawatan
Adapun Diagnosa Keperawatan Yang Didapatkan Terdiri Dari Hambatan Mobilitas Fisik,
Resiko Infeksi Dan Defisi tPerawatan Diri
3.
Perencanaan
Perencanaan Tindakan Dilakukan Berdasarkan Diagnosa Keperawatan Yang Diangakat Pada
Kasus Dan Disusun Berdasarkan Prioritas Dignosa Keperawatan
4.
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Dalam Melaksanakan Asuhan Keperawatan Penulis Menyesuaikan Tindakan Yang Dilakukan
Sesuai Dengan Kemampuan Yang Dapat Dilakukan Dalam Hhal Ini Tidak Semua
Perencanaann Dapat Dilakukan Namun Disesuaikan Dengan Faktor Pendukung Yang Dapat
Menopang Terlaksananya Asuhan Keperawatan
5.
Evaluasi
Evaluasi Keperawatan Merupakan Tahapan Penilaian Dan Tolak Ukur Keberhasilan Asuhan
Keperawatan Yang Mengacu Pada Tujuan Dan Kriteria Hasil. Pada Evaluasi Keperawatan
Yang Dilakukan Pada Tanggal 7,8,9 November Dan Dilanjutkan Pada Tanggal 11 Dan 14
November, Terjadi Perubahan Yang Diharapkan Terutama Pada Diagnosa Keperawatan
Resiko Infeksi Dan Devisit Perawatan Diri.
SIMPULAN
Berdasarkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan mulai dari pengkajian, perumusan
diagnosa keperawatan, rencana tindakan, impementasi dan evaluasi dari 3 diagnosa
keperawatan yang diangkat maka didapatkan perubahan yang signifikan dari klien pada
diagnosa keperawatan resiko infeksi dan defisit perawatan diri sedangkan untuk diagnosa
hambatan mobilitas fisik tidak diidapatkan perubahan yang signifikan.
SARAN
Keluarga merupakan faktor utama bagi kesembuhan klien. Peran serta dorongan keluarga
merupakan hal yang terpenting bagi klien, maka sangatlah dibutuhkan partisipasi dan suport
keluarga dalam merawat dan memotifasi klien.

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AVICENNA KENDARI
TAHUN 2016