Anda di halaman 1dari 20

GENAP

PERKERASAN JALAN RAYA


EVALUASI 4
PERENCANAAN PERKERASAN JALAN RIGID PAVEMENT

Untuk memenuhi tugas pada semester V Mata Kuliah Perkerasan Jalan Raya dosen
pembimbing oleh :
Ir.Puri Nurani.,MT

Disusun oleh :
Resty Rika Primeswari
1231310050
3 KBS2

JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2014

EVALUSI -4 PERENCANAAN PERKERASAN JALAN RIGID PAVEMENT METODE NAASRA


KELAS : 3KBS2 - SMTR GANJIL 2014/2015
Rencanakan Tebal Perkerasan kaku secara lengkap dengan metode NAASRA data-data Nilai CBR titik :
1). Data Tanah:
No Titik

Nilai CBR (%)

7,29

3,85

3,81

0,62

6,98

3,87

3,95

7,27

9,17

10

3,54

11

9,74

12

2,22

13

0,83

14

0,17

15

1,15

2) MutuBeton : digunakan beton pada umur 28 hari dg kekuatan tekan 400 kg/Cm2
3) Jenis kendaraan yang lewat :
Bus (8 ton)

= 450 kendaraan/hari

Truck 2 As kecil (10 ton)

= 200 kendaraan/hari

Truck 2 As besar (12 ton)

= 80 kendaraan/hari

Truck 3 As (20 ton)

= 50 kendaraan/hari

Truck gandeng (30 ton)

= 40 kendaraan/hari

4) Peran jalan = jalan tol


5) Type jalan : (6 lajur 2 arah)
6) Usia Rencana = 40 tahun
7) Pertumbuhan lalu-lintas : (i) = 7%
Ketentuan yang belum ditentukan boleh di tentukan sendiri

PERSYARATAN MENGERJAKAN TUGAS


1. Tugas ditulis tangan
2. Form tabel dan grafik boleh difoto copy, tetapi penggunaannya tetep asli dengan pensil/tinta
berwarna
3. Gambar grafik -2 dan tabel disertakan ( sesuai perhitungan) dan diberi penjelasan
langkah2 mengerjakannya, tabel diberi langkah2 membacanya
4. Diberi nomor tabel dan nomor grafik
5. Tugas dijilid dengan sampul warna putih bermika
6. Diberi cover (boleh diketik)
7. Pojok kanan atas diberi tulisan GANJIL atau GENAP (Sesuai nomer absen)
8. Lengkapi laporan anda dengan daftar tabel dan daftar gambar (grafik termasuk gambar),
9. Semua perhitungan sebaiknya diasistensikan terlebih dahulu agar hasilnya maximal
Tugas dikumpulkan MINGGU KE 18 - tgl 23 Januari 2014

Penyelesaian
Langkah langkah Perhitungan
1)

Kekuatan Tanah Dasar


Data CBR yang telah diurutkan dari kecil hingga ke besar
Tabel 1 Data CBR
CBR

Tabel 2 Analisa CBR segmen Metoda Grafis

No
%
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

0,17
0,62
0,83
1,15
2,22
3,54
3,81
3,85
3,87
3,95
6,98
7,27
7,29
9,17
9,74

CBR
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Jumlah
yang
sama atau
lebih
15
12
11
10
5
5
5
4
2
2

Persen yang sama atau


lebih besar (%)
12/12*100%
14/12*100%
13/12*100%
10/12*100%
8/12*100%
8/12*100%
5/12*100%
2/12*100%
2/12*100%

100,00
91,67
83,33
41,67
41,67
41,67
33,33
16,67
16,67

Gambar 1 Grafik Nilai CBR potongan 90%

Langkah-langkah Membuat Grafik CBR


Nilai CBR didapatkan dari Perhitungan Nilai CBR
Kemudian nilai CBR dibagi per segmen
Tabelkan nilai CBR per segmen mulai dari nilai CBR = 0 hingga nilai CBR = 9 dengan Metoda
Grafis
Hitung masing-masing segmen CBR jumlah yang sama atau lebih besar
Buat grafik nilai CBR dengan axis sebelah kiri % jumlah yang sama atau lebih besar () dan
judul axis bawah dengan Nilai CBR (%)
Plot kan hingga membentuk sebuah grafik
Cara membaca Grafik :
Lihat % sama atau lebih dari di sebelah kiri, kemudian cari untuk nilai 90%
Tarik garis lurus dari 90 % hingga menyentuh grafik
Kemudian tarik garis lurus ke bawah hingga menemukan nilai CBR (%)
Maka bisa dibaca nilai CBR (%) = 2,20 %
Nilai CBR = 2,20 % maka nilai DDT = 3,10
Cara membaca Grafik DDT :
Lihat nilai CBR di sebelah kanan,
kemudian cari untuk nilai CBR = 2,20
Tarik garis lurus dari CBR 2,20 hingga
menyentuh grafik DDT
Maka bisa dibaca nilai DDT = 3,10

Gambar 2 Grafik Nilai Daya Dukung Tanah Dasar

2)

Mutu Beton Rencana


Akan digunakan beton dengan kuat tekan 400 kg/Cm2
fc

400
10,2

= 39 Mpa > 30 Mpa (minimum yang disarankan)


dari rumus (7.9)
fr

= 0,62
= 0,62 39
= 3,6 Mpa > 3,5 Mpa (minimum yang disarankan)

3)

Beban Lalu Lintas Rencana


a. Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga
Tabel 3 Perhitungan jumlah sumbu berdasarkan jenis dan bebannya

Jenis Kendaraan

RD

Truck 2 As Kecil (10 t)


Truk 2 As Besar (12 t)
Truk 3 As (20 t)

Jml.
Kend.
RGD RGB (bh)

RB

(1)
Bus (8 t)

(3)

Jml.
Sumbu
Per
Kend.
(bh)
(4)

Konfigurasi beban
sumbu (ton)

(2)

Jml.
Sumbu
(bh)

Konfigurasi sumbu

(5)

(6)

depan

belakang

3
2

5
4

450
200

2
2

900
400

STRT
STRT

STRG
STRG

5
6
6

8
14
14

80
50
40

2
2
4

160
100
160

STRT
STRT
SGRG

STRG
SGRG
SGRG

Total

820

Truk Gandeng (30 t)


1720

Kolom 1 : Jenis kendaraan (berdasarkan data)


Kolom 2 : Konfigurasi beban sumbu
RD : (Roda Depan)

RB : (Roda Belakang)

RGD : (Roda Gandeng Depan)

RGB : (Roda Gandeng Belakang)

Kolom 3 : Jumlah kendaraan (unit)


Kolom 4 : Jumlah sumbu per kendaraan (buah)
Kolom 5 : Jumlah sumbu (bh)
Kolom 6 : Konfigurasi sumbu
STRT : Sumbu Tunggal Roda Tunggal
SGRG : Sumbu Ganda Roda Ganda
STRG : Sumbu Tunggal Roda Ganda

Langkah langkah perhitungan JSKN


1.

Diketahui umur rencana = 40 tahun


Dari rumus (7.22), dicari harga R :
((1+) 1

R =

(1+)

((1+0,08)40 1

(1+0,08)

= 228,105
Untuk laju pertumbuhan kendaraan (i) 7% = 228,105
2.

Lihat pada tipe jalan = 6 lajur 2 arah


Tabel 4 Jumlah lajur berdasarkan lebar perkerasan dan koefisien distribusi (C)
kendaraan niaga pada lajur rencana

Untuk laju pertumbuhan kendaraan (i) 7% = 228,105 dan koefisien distribusi = 0,40
Sehingga diketahui :
JSKNH

= 1720

= 228,105

Cd

= 0,45

Jumlah sumbu kendaraan niaga (JSKN) selama umur rencana (30 tahun)
JSKN

= 365 x JSKN x R x Cd
= 365 x 1720 x 228,105 x 0,40
= 5,73 x 107 buah

b. Jumlah Repetisi Beban :


Tabel 5 Perhitungan repetisi beban

Konfigurasi
sumbu

Beban
Sumbu
(ton)

Presentase Konfigurasi
Sumbu (%)

Jumlah Repetisi
Selama usia rencana

(1)

(2)

(3)

(4)

STRT

200 : 1720

11,63

66,6 x 107

STRT

450 : 1720

26,16

149,9 x 107

STRG

200 : 1720

11,63

66,6 x 107

STRT

80 : 1720

4,65

26,6 x 107

SGRG

40 : 1720

2,33

13,3 x 107

SGRG

40 : 1720

2,33

13,3 x 10

STRG

450 : 1720

26,16

149,9 x 10

STRT

50 : 1720

2,91

16,7 x 10

SGRG

40 : 1720

2,33

13,3 x 10

STRG

80 : 1720

4,65

26,6 x 10

SGRG

14

50 : 1720

2,91

16,7 x 10

SGRG

14

40 : 1720

2,33

13,3 x 10

7
7

7
7
7
7
7

Kolom 1 : Jenis sumbu (STRT, STRG, SGRG)


Kolom 2 : beban sumbu (ton) (berdasarkan tabel 1)
Kolom 3 : Presentase Konfigurasi Sumbu (%)
% = Jumlah kendaraan (unit) : total jumlah sumbu (bh)
Kolom 4 : Jumlah repetisi selama usia rencana
= (kolom (3) x kolom (4) x JSKN)

4)

Kekuatan Pelat Beton


Percobaan 1
Sebagai langkah awal diperkirakan tebal pelat beton (rencana dengan dowel) 200 mm > 150
mm (minimum yang disarankan)
Dengan bantuan grafik diperiksa apakah estimasi tebal pelat cukup atau tidak, dari jumlah
presentase fatigue yang terjadi (disyaratkan 100%)
Tabel 6 Perhitungan Persentase Fatigue
Koef.
Sumbu

Beban
Sumbu

Beban
Rencana
FK = 1,2

Repetisi
Beban

(1)
STRT
STRT
STRG
STRT
SGRG
SGRG
STRG
STRT
SGRG
STRG
SGRG
SGRG

(2)
2
3
4
5
5
5
5
6
6
8
14
14

(3)
2,4
3,6
4,8
6
6
6
6
7,2
7,2
9,6
16,8
16,8

(4)
16,40
65,50
16,40
9,83
4,92
4,92
65,50
6,55
4,92
9,83
6,55
4,92

(10 )

Jumlah
Tegangan
Perbandingan Repetisi Persentas
yang
Tegangan Beban yang e Fatigue
terjadi
diijinkan
(5)
(6)
(7)
(8)
1,420
1,750
0,486
1,750
0,486
1,750
0,486
1,410
0,392
2,110
0,586
42.000
155952
1,915
0,532
240.000
40958
2,100
0,583
42.000
155952
2,100
0,583
42.000
117143
Total
470006

Dengan tebal pelat = 200 mm, ternyata Jumlah Fatigue 470.006 > 100%, maka perhitungan harus
diulang
Kolom 1 : Koefisien Sumbu (STRT, STRG, dan SGRG)
Kolom 2 : Beban sumbu (ton)
Kolom 3 : Beban Rencana (Fk)
= kolom (2) x dengan FK, diambil dari :
Tabel 7 Faktor keamanan beban (Fk)

Lihat pada tipe jalan arteri, maka Faktor Keamanan = 1,2


Kolom 4 : Repetisi Beban (berdasarkan tabel 2)
Kolom 5 : Tegangan yang Terjadi (Mpa) (berdasarkan grafik NAASRA)
Kolom 6 : Perbandingan Tegangan
= kolom 5 / harga fr
Kolom 7 : Jumlah Repetisi Beban yang diijinkan (berdasarkan tabel 5)
Kolom 8 : Persentase Fatigue (%)
= kolom (4) / kolom (7)

Langkah langkah perhitungan Tegangan yang terjadi (kolom 5)


a. Sumbu STRT 4 ton; dengan CBR = 2,20; dan tebal pelat 200 mm
Tegangan yang terjadi = 1,42

Gambar 3 Grafik perencanaan untuk STRT

b. Sumbu STRT 5 ton; dengan CBR = 2,20; dan tebal pelat 200 mm
Tegangan yang terjadi = 1,75

Gambar 4 Grafik perencanaan untuk STRT

10

c. Sumbu STRT 6 ton; dengan CBR = 2,20; dan tebal pelat 200 mm
Tegangan yang terjadi = 2,11

Gambar 5 Grafik perencanaan untuk STRT

d. Sumbu STRG 8 ton; dengan CBR = 2,20; dan tebal pelat 200 mm
Tegangan yang terjadi = 1,915

Gambar 7 Grafik perencanaan untuk SGRG

11

e. Sumbu SGRG 14 ton; dengan CBR = 2,20; dan tebal pelat 2000 mm
Tegangan yang terjadi = 2,10

Gambar 8 Grafik perencanaan untuk SGRG

12

Percobaan 2
Sebagai langkah awal diperkirakan tebal pelat beton (rencana dengan dowel) 240 mm > 150
mm (minimum yang disarankan)
Dengan bantuan grafik diperiksa apakah estimasi tebal pelat cukup atau tidak, dari jumlah
presentase fatigue yang terjadi (disyaratkan 100%)
Tabel 6 Perhitungan Persentase Fatigue
Koef.
Sumbu

Beban
Sumbu

Beban
Rencana
FK = 1,2

Repetisi
Beban

(1)
STRT
STRT
STRG
STRT
SGRG
SGRG
STRG
STRT
SGRG
STRG
SGRG
SGRG

(2)
2
3
4
5
5
5
5
6
6
8
14
14

(3)
2,4
3,6
4,8
6
6
6
6
7,2
7,2
9,6
16,8
16,8

(4)
16,40
65,50
16,40
9,83
4,92
4,92
65,50
6,55
4,92
9,83
6,55
4,92

(10 )

Jumlah
Tegangan
Perbandingan Repetisi Persentas
yang
Tegangan Beban yang e Fatigue
terjadi
diijinkan
(5)
(6)
(7)
(8)
1,520
0,422
1,700
0,472
1,715
0,476
1,715
0,476
Total
0

Dengan tebal pelat = 240 mm, ternyata Jumlah Fatigue 0 < 100%, maka tebal pelat minimal yang
harus digunakan = 240 mm = 24 cm
Kolom 1 : Koefisien Sumbu (STRT, STRG, dan SGRG)
Kolom 2 : Beban sumbu (ton)
Kolom 3 : Beban Rencana (Fk)
= kolom (2) x dengan FK, diambil dari :
Tabel 7 Faktor keamanan beban (Fk)

Lihat pada tipe jalan arteri, maka Faktor Keamanan = 1,2


Kolom 4 : Repetisi Beban (berdasarkan tabel 2)
Kolom 5 : Tegangan yang Terjadi (Mpa) (berdasarkan grafik NAASRA)
Kolom 6 : Perbandingan Tegangan
= kolom 5 / harga fr
Kolom 7 : Jumlah Repetisi Beban yang diijinkan (berdasarkan tabel 5)
Kolom 8 : Persentase Fatigue (%)
= kolom (4) / kolom (7)

13

Langkah langkah perhitungan Tegangan yang terjadi (kolom 5)


a. Sumbu STRT 6 ton; dengan CBR = 2,20; dan tebal pelat 240 mm
Tegangan yang terjadi = 1,520

Gambar 3 Grafik perencanaan untuk STRT

b. Sumbu STRG 8 ton; dengan CBR = 2,20; dan tebal pelat 240 mm
Tegangan yang terjadi = 1,70

Gambar 4 Grafik perencanaan untuk STRG

14

c. Sumbu SGRG 14 ton; dengan CBR = 2,20; dan tebal pelat 240 mm
Tegangan yang terjadi = 1,73

Cara Membaca Grafik :

Lihat pada sebelah kiri bawah untuk Nilai CBR = 2,20 tarik garis lurus ke
kanan hingga menyentuh perpanjangan garis dari Beban Sumbu = 7,2
ton.

Dari perpotongan tersebut, tarik garis ke atas hingga menyentuh garis


tebal pelat beton = 240 mm

Lalu tarik garis ke kanan hingga menunjukkan angka Tegangan, maka


angka Tegangan untuk nilai CBR = 2,20, beban sumbu = 7,2 ton dan
Tebal pelat beton 240 mm adalah 1,520 MPa

Gambar 5 Grafik perencanaan untuk SGRG

15

Langkah langkah perencanaan


a. Pilih suatu tebal pelat tertentu
b. Untuk setiap kombinasi konfigurasi dan beban sumbu serta harga k tertentu maka :
1. tegangan lentur yang terjadi pada pelat beton ditentukan dari grafik Grafik Perencanaan
untuk STRT, STRG dan SGRG
2. perbandingan tegangan dihitung dengan membagi tegangan lentur yang terjadi pada
pelat dengan modulus keruntuhan lentur beton (fr)
3. jumlah pengulangan beban yang diijinkan ditentukan berdasarkan harga perbandingan
tegangan pada tabel 7
Tabel 8 Perbandingan Tegangan dan Jumlah Pengulangan Beban yang diijinkan

c. Presentase fatigue untuk tiap kombinasi ditentukan dengan membagi jumlah pengulangan
beban rencana dengan jumlah pengulangan beban ijin
d. Cari total fatigue dengan menjumlahkan presentase fatigue dari seluruh kombinasi
konfigure/beban sumbu
e. Langkah-langkah di atas (a --> d) diulangi hingga didapatkan tebal pelat terkecil dengan
total fatigue lebih kecil atau sama dengan 100%

16

5)

Penulangan
Data :
o Tebal Pelat Beton = 240 mm
o Lebar Pelat = 25 m (untuk 6 lajur)
o Panjang Pelat = 20 m (jarak antar sambungan)
Tabel 9 Koefisien Gesekan antara pelat beton semen dengan Lapisan Pondasi di bawahnya

Tabel 10 Hubungan antara Kuat Tekan Beton dan angka Ekivalen Baja & Beton (n) serta (fr)

o n=7
o fc = 39 Mpa
o F = 1,2
o fr = 3,6 Mpa
o S = 0,0005
o fy = 340 MPa
a. Perkerasan Bersambung dengan Tulangan
1. Tulangan Memanjang
Dari Persamaan As =

11,76 ( . . )

Dari Tabel 7, untuk sirtu, F = 1,2


fs

= 230 Mpa

17

As

=
=

11,76 ( . . )

11,76 ( 1,2 .20 .240 )


230

= 295 mm2 / m lebar


Luas tulangan minimum As = 0,14 % (SNI 91)
As min

= 0,0014 (240) (2500)


= 840 mm2 / m lebar

Digunakan tulangan 12 100 mm dengan As = 1131,0 mm2 / m lebar


2. Tulangan Melintang
As

=
=

11,76 ( . . )

11,76 ( 1,2 .10 .240 )


230

= 147 mm2 / m lebar


Digunakan tulangan 8 300 mm dengan As = 167,6 mm2 / m lebar
b. Perkerasan Menerus dengan Tulangan
1. Presentase Tulangan Memanjang
Dari persamaan Ps =
ft

100
( )

(1,3 0,2 F)

= 0,5 fr
= 0,5 (3,6)
= 1,8 Mpa

Ps

=
=

100
( )

(1,3 0,2 F)

100 (1,8)
(340 7 (1,8) )

(1,3 0,2 (1,2))

= 0,583 % < 0,6 %


Luas tulangan minimum As = 0,6 %
As min = 0,006 (240) (2500)
= 3600 mm2 / m lebar
2. Pemeriksaan Jarak Teoritis Antara Retakan
Dicoba dengan tulangan . . mm dengan As . mm2 / m lebar
Pemeriksaan jarak teoritis antara retakan, dengan persamaan :
2

Lcr

ft

= 0,5 fr

( . 2 . . ( )

(diantara 1 2 m)

= 0,5 (3,6)
= 1,8 Mpa
fb

=
=

0,79

0,79

5,5 MPa
39

= . Mpa

18

Ec

= 4700
= 4700 39
= 29,351 Mpa

(240) (2500)

=
u

=
=

=
Lcr

(1,8)2
(7 . 0,02 . . [( (0,0005 29,351) 1,8 )]

= m < 2m
Tulangan Memanjang yang digunakan . . mm
3. Tulangan Melintang
Tulangan Melintang yang digunakan dari persamaan sebelumnya dengan L = lebar pelat =
25 m, . . mm.

19

KESIMPULAN
No
1
2
3
4
5

Jenis Pengujian
Nilai CBR
Nilai DDT
Jumlah Sumbu
JSKN
Tulangan
Perkerasan Bersambung dengan Tulangan
Tulangan Memanjang
Tulangan Melintang
Perkerasan Menerus dengan Tulangan
Tulangan Memanjang
Tulangan Melintang

Hasil
2,20 %
3,10
1320
2,16 x 107

10 150 mm
16 600 mm
19 100 mm
16 600 mm

20