Anda di halaman 1dari 199

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

(PSIKOLOGI PERKEMBANGAN)

BAHAN AJAR

FAKULTA

UNIVER

SU R
AS N DA YA
ITEGURUA N ILMU K

CANA
ANENDIDIKAN

Ikhtisar/Butir-butir Bahan Diskusi untuk Perkuliahan


pada Strata Satu Program-program Studi di Lingkungan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Suryakancana Cianjur

CIA NJUR

Dihimpun Oleh :
Drs. DJUNAEDI SAJIDIMAN, MM, M.Pd.

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SURYAKANCANA CIANJUR
-2012-

KATA PENGANTAR

Sesuai dengan tugas yang dipercayakan oleh lembaga kepada penulis untuk
memberikan materi kuliah Perkembangan Peserta Didik atau Psikologi Perkembangan pada Program-program Studi di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Suryakancana Cianjur, penulis mencoba membuat ikhtisar
bahan ajar berupa butir-butir bahan diskusi untuk memudahkan para mahasiswa
strata satu mempelajarinya dan sebagai bahan diskusi pada waktu perkuliahan.
Sebagai ikhtisar, maka bahannya penulis himpun dari berbagai buku sumber
dan bahan lain tentang psikologi pada umumnya serta psikologi perkembangan dan
implikasinya terhadap penyelenggaraan pendidikan pada khususnya, juga yang
berkaitan dengan masalah kenakalan remaja.
Untuk pengayaan dan pendalaman materi, para mahasiswa dianjurkan mempelajari lebih lanjut buku-buku yang penulis pergunakan, yang juga penulis cantumkan
dalam daftar kepustakaan.
Semoga kiranya bermanfaat.

Cianjur, Medio Desember 2012.


Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI ..

ii

BAB I. INDIVIDU ..
A. PENGERTIAN DAN GEJALA-GEJALA YANG TERJADI PADA ASPEK
INDIVIDU
B. KARAKTERISTIK INDIVIDU

1
1
5

BAB II. PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN, DAN PERBEDAAN INDIVIDUAL


PESERTA DIDIK ...................................................................................
A. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN INDIVIDUAL PESERTA DIDIK .
B. PERBEDAAN INDIVIDUAL PESERTA DIDIK ..

11
20

BAB III. REMAJA DAN PERKEMBANGANNYA .


A. PENGERTIAN REMAJA ..
B. KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN REMAJA ..
C. TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN MASA REMAJA .
D. HUKUM-HUKUM PERKEMBANGAN

29
29
30
34
35

BAB IV. KONSEP KEBUTUHAN REMAJA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
A. KONSEP KEBUTUHAN INDIVIDU
B. KEBUTUHAN DASAR INDIVIDU
C. KEBUTUHAN REMAJA DAN PEMENUHANNYA .
D. KEMANDIRIAN SEBAGAI KEBUTUHAN PSIKOLOGIS REMAJA .
E. KEPERCAYAAN DIRI SEBAGAI KEBUTUHAN RAMAJA ..
F. IMPLIKASI PEMENUHAN KEBUTUHAN REMAJA TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ..

11

40
40
44
46
48
53
60

BAB V. IMPLIKASI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN REMAJA TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN .. 62


A. PERTUMBUHAN FISIK REMAJA .. 62
B. PERKEMBANGAN INTELEKTUAL REMAJA . 66
C. PERKEMBANGAN BAKAT KHUSUS REMAJA 75
D. PERKEMBANGAN HUBUNGAN SOSIAL REMAJA .. 89
E. PERKEMBANGAN BAHASA REMAJA . 99
F. PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA . 103
G. PERKEMBANGAN NILAI, MORAL, DAN SIKAP REMAJA 117
BAB VI. PERKEMBANGAN KREATIVITAS REMAJA . 129
A. PENGERTIAN KREATIVITAS . 129
ii

B. KREATIVITAS DAN TEORI BELAHAN OTAK .


130
C. PENDEKATAN, TAHAP-TAHAP, DAN KARAKTERISTIK KREATIVITAS 132
D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KREATIVITAS
137
E. MASALAH YANG SERING TIMBUL PADA ANAK KREATIF .
139
F. UPAYA MEMBANTU PERKEMBANGAN KREATIVITAS REMAJA DAN
IMPLIKASINYA TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN . 140
BAB VII. TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA 143
A. PENGERTIAN TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN .. 143
B. JENIS TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA 144
C. TUGAS PERKEMBANGAN KEHIDUPAN BERKELUARGA 148
D. IMPLIKASI TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA TERHADAP
PENDIDIKAN .. 150
BAB VIII. PENYESUAIAN DIRI DAN PERMASALAHANNYA
A. PENGERTIAN PENYESUAIAN DIRI
B. PENYESUAIAN DIRI YANG BAIK
C. PROSES PENYESUAIAN DIRI
D. KARAKTERISTIK PENYESUAIAN DIRI REMAJA .
E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PENYESUAIAN
DIRI REMAJA .
F. DINAMIKA PENYESUAIAN DIRI REMAJA .
G. IMPLIKASI PROSES PENYESUAIAN DIRI REMAJA BAGI PENDIDIKAN

151
151
153
154
157

BAB IX. KENAKALAN REMAJA


A. PENGERTIAN KENAKALAN REMAJA
B. JENIS-JENIS KENAKALAN REMAJA
C. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KENAKALAN REMAJA
D. PEMAHAMAN PERILAKU AGRESIF ANAK DAN REMAJA
E. UPAYA-UPAYA MENCEGAH DAN MENANGGULANGI KENAKALAN
REMAJA ..

176
176
178
179
184

160
168
174

188

DAFTAR KEPUSTAKAAN 189

iii

BAB I
INDIVIDU

A. PENGERTIAN DAN GEJALA-GEJALA YANG TERJADI PADA ASPEK INDIVIDU


1. Pengertian Individu.
Istilah individu hanya diterapkan pada makhluk yang bernama manusia. Sejak
ratusan tahun sebelum Nabi Isa As., manusia telah menjadi salah satu obyek
filsafat, baik formal yang mempersoalkan hakikat manusia, maupun material
yang mempersoalkan manusia sebagai apa adanya. Kita mengenal manusia
sebagai makhluk yang berpikir (homo sapien), makhluk yang berbentuk (homo
faber), dan makhluk yang dapat dididik (homo educandum). Jelaslah kiranya
bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks, yang dapat dilihat dari berbagai
sudut pandang. Pandangan bahwa manusia sebagai individu merupakan satu
kesatuan dari aspek fisik atau jasmani/biologis, dan psikis atau jiwa/rohani yang
tidak dapat dipisahkan. Istilah individu sendiri berasal dari kata individera yang
berarti satu kesatuan organisme yang tidak dapat dibagi-bagi lagi atau tidak
dapat dipisahkan. Individu merupakan kata benda dari individual yang berarti
orang atau perseorangan (Echol, dalam Fatimah, 2010:11).
Bagian fisik (jasmani) merupakan aspek individu yang bersifat kasat mata,
nyata, dapat diamati, dan tidak kekal. Sedangkan bagian psikis (jiwa/rohani)
merupakan aspek individu yang bersifat abstrak, immaterial, tidak dapat diamati,
dan kekal. Pertumbuhan dan perkembangan manusia sejak dilahirkan, bahkan
sejak dalam kandungan ibunya, merupakan kesatuan psikofisis yang unik,
bersifat kodrati yang perlu mendapat tempat dan perhatian terutama dalam
kaitannya dengan proses pendidikan. Makna pertumbuhan berbeda dengan
perkembangan. Istilah pertumbuhan diterapkan untuk menyatakan perubahan
kuantitatif mengenai aspek fisik (jasmani/biologis), misalnya dari bayi, anakanak, remaja, dan dewasa. Bayi yang pada awalnya tidak dapat berjalan,
kemudian merangkak, berdiri, lalu dapat berjalan. Adapun istilah perkembangan
diterapkan pada perubahan yang bersifat kualitatif mengenai aspek psikis
(jiwa/rohani). Misalnya anak yang semula tidak dapat membaca dan menulis,
1

setelah belajar di kelas 1 sekolah dasar, dapat membaca dan menulis. Pada
waktu masih kecil, anak mudah menangis, tetapi setelah remaja tidak lagi mudah
menangis.
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, manusia memiliki
berbagai macam kebutuhan. Kebutuhan itu ada yang utama (primer) dan ada
yang kedua (sekunder). Seorang bayi, pada awalnya mengutamakan kebutuhan
jasmaninya, tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar. Ia akan merasa senang
jika kebutuhan jasmaninya seperti makan, minum, dan kehangatan dapat
terpenuhi. Akan tetapi dalam pertumbuhan dan perkembangannya kemudian,
kebutuhannya makin meningkat. Ia mulai membutuhkan teman, keamanan, dsb.
Semakin bertambah usianya kebutuhan fisik dan psikisnya semakin banyak. Ia
akan berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang beragam tersebut.
Demikianlah, maka terjadi proses perkembangan dalam hal kebutuhan baik yang
bersifat fisik maupun nonfisik. Pertumbuhan fisik akan selalu diikuti dengan
perkembangan psikis.
Berkaitan dengan perkembangan psikis, para filsuf klasik sampai pada
kesimpulan hasil perenungannya, bahwa jiwa itu dapat dibagi menjadi beberapa
bagian. Plato (Yunani, 427-347 sM) membagi jiwa manusia menjadi tiga aspek
kekuatan, yaitu :
a. Pikir atau kognisi, yang ada di kepala;
b. Kehendak, yang ada di dada atau hati;
c. Keinginan, yang ada di perut.
Pembagian Plato ini dikenal dengan istilah pendekatan trikotomi (tiga dalam
satu) yang diikuti oleh rapa filsuf lainnya seperti Jean Jacques Rousseau
(Perancis, 1712-1778), J.N. Tetens (Jerman, 1736-1805) dan Immanuel Kant
(Jerman, 1724-1804).
Pada perkembangan berikutnya, Aristoteles (384-322) seorang filsuf murid
Plato, mengemukakan pandangan yang berbeda dari gurunya. Menurut
Aristoteles, gejala jiwa hanya dibagi dalam dua aspek saja, yaitu :
a. Kognisi, disebut juga gejala mengenal, yang terpusat pada pikir;
b. Konasi, disebut juga gejala menghendaki, yang berpusat pada kemauan.
2

Pandangan ini Aristoteles ini kemudian dikenal

dengan istilah pendekatan

dikotomi (dua dalam satu). Pengikut dikotomi yang terkenal adalah Christian
Wolf (Jerman, 1670-1754).
Pendekatan trikotomi dan dikotomi ini sifatnya teoritis, dalam kenyataannya
jiwa itu tidak dapat dibagi-bagi. Oleh karena itu pada perkembangan berikutnya,
terutama sejak Abad Pertengahan, para filsuf mulai menyadari kemudian
mengembangkan pemikiran dan kajian mengenai jiwa manusia ini. Pandangan
para filsuf tentang aspek jasmani dan rohani dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu :
a. Antara jasmani dan rohani adalah satu kesatuan yang tidak dapat dibagi atau
dipisahkan sama sekali. Pandangan ini dikenal dengan pendekatan monisme;
b. Meskipun aspek jasmani dan rohani itu merupakan satu kesatuan, tetapi
masing-masing dapat berdiri sendiri. Pandangan ini kemudian dikenal dengan
pendekatan dualisme.
Pandangan monisme maupun dualisme sepakat bahwa individu merupakan satu
kesatuan jasmani dan rohani yang tidak dapat dipisahkan. Sebab, tidak mungkin
seseorang perpikir tanpa ada unsur kemauan, dan tidak mungkin seseorang
menginginkan sesuatu tanpa berpikir.

Tampak sekali bahwa tatkala pikiran

(rohani) sedang sibuk, raut wajah (jasmani) berbeda dengan keadaan pada saat
pikiran santai. Atau, tatkala jiwa tengah bergembira karena mendapatkan
keberuntungan misalnya, akan tercermin pada gerak langkah dan ekspresi wajah
(jasmani) seseorang, dan sebaliknya.
2. Gejala-gejala yang Terjadi pada Aspek Individu.
Telah dinyatakan bahwa manusia itu merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan antara aspek jasmani dan rohaninya. Maka dalam pertumbuhan dan
perkembangan dalam diri individu manusia itu akan tampak gejala-gejalanya
sebagai gambaran dari berbagai aspek sebagai berikut. (M. Ali dan M. Asrori,
2005:3-4).
a. Aspek Fisik :
1) Pertumbuhan payudara pada perempuan;
3

2) Lekum (jakun) pada remaja laki-laki;


3) Kulit yang makin halus pada perempuan;
4) Otot yang makin kasar pada laki-laki, dsb.
b. Aspek Intelektual :
1) Perubahan secara kuantitatif dan kualitatif tentang kemampuan anak
dalam mengatasi berbagai masalah. Perubahan secara kuantitatif artinya
semakin banyak hal yang dapat diatasi, dan perubahan secara kualitatif
semakin dapat mengatasi hal-hal yang lebih sulit;
2) Semakin berkurangnya berpikir konkrit dan berkembangnya berpikir
abstrak. Berpikir konkrit adalah berpikir yang terikat pada bendanya dan
sangat memerlukan alat peraga jika benda aslinya tidak ada, sedang
berpikir abstrak adalah berpikir yang tidak terikat pada bendanya;
3) Semakin berkembangnya kemampuan memecahkan masalah yang bersifat
hipotesis. Artinya, semakin mampu membuat perencanaan, penaksiran,
atau bahkan prakiraan kecenderungan sesuau di masa yang akan datang,
dsb.
c. Aspek Emosi :
1) Ketidakstabilan emosi pada anak remaja;
2) Mudah menunjukkan sikap emosional yang meluap-luap pada remaja
seperti mudah menangis, mudah marah, mudah tertawa terbahak-bahak;
3) Semakin mampu mengendalikan diri, dsb.
d. Aspek Sosial :
1) Semakin berkembangnya sifat toleran, empati, memahami, dan menerima
pendapat orang lain;
2) Semakin santun dalam menyampaikan pendapat dan kritik kepada orang
lain;
3) Adanya keinginan untuk selalu bergaul dan bekerjasama dengan orang lain;
4) Suka menolong kepada siapa yang membutuhkan pertolongan;
5) Kesediaan menerima sesuatu yang dibutuhkan orang lain;
6) Bersikap hormat, sopan, ramah, dan menghargai orang lain, dsb.

e. Aspek Bahasa :
1) Bertambahnya perbendaharaan kata;
2) Kemahiran dan kelancaran dalam menggunakan bahasa dengan memilih
kata-kata yang tepat, penggunaan tekanan kalimat dengan tepat, dsb.
3) Dapat memformulasikan bahasa secara baik dan benar untuk menjabarkan
sesuatu gagasan atau konsep;
4) Dapat memformulasikan bahasa yang baik dan benar untuk meringkas ide
ke dalam deskripsi yang benar, dsb.
f. Aspek Bakat Khusus :
Bakat merupakan kemampuan potensial manusia yang dibawa sejak lahir, dan
jika ditunjang dengan fasilitas dan usaha belajar yang minimal pun dapat
mencapai hasil yang maksimal. Itulah sebabnya jika bakat khusus sudah
diketahui sejak dini, maka usaha-usaha pendidikan akan mudah sehingga
hasilnya sangat memuaskan. Bakat khusus seseorang biasanya tampak dari
gejala jika ia mampu dengan mudah mempelajari sesuatu bidang dengan hasil
yang memuaskan.
g. Aspek Nilai, Moral, dan Sikap :
1) Terbentuknya pandangan hidup yang semakin jelas dan tegas;
2) Berkembangnya pemahaman tentang apa yang baik dan seharusnya dilakukan, serta yang tidak baik dan tidak boleh dilakukan;
3) Berkembangnya sikap menghargai nilai-nilai dan mentaati norma-norma
yang berlaku, serta mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari;
4) Berkembangnya sikap menentang kebiasaan-kebiasaan yang dianggap
tidak sesuai lagi dengan norma yang berlaku, dsb.

B. KARAKTERISTIK INDIVIDU
1. Ciri dan Sifat atau Karakteristik Individu.
Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan
karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan sekitarnya. Hereditas atau
pembawaan adalah karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang
5

menyangkut faktor biologis maupun sosial-psikologis. Para ahli psikologi


berpendapat bahwa kepribadian seseorang dibentuk oleh perpaduan faktor
pembawaan dan pengaruh lingkungan. Hal ini akan berpengaruh besar terhadap
keberhasilan atau kegagalan dalam proses belajarnya baik di sekolah maupun
pada masa-masa perkembangan selanjutnya. Memang ada pendapat berbeda
dalam hal dominasi antara faktor pembawaan dengan faktor lingkungan. Aliran
nativisme menyatakan bahwa seorang individu akan menjadi pribadi sebagaimana adanya yang telah ditentukan oleh pembawaan dan sifatnya yang dibawa
sejak dilahirkan. Sementara aliran empirisme menyatakan sebaliknya, bahwa
seorang individu diibaratkan sebagai kertas yang masih putih bersih (tabularasa).
Ia akan menjadi pribadi yang khas dan unik yang dipengaruhi oleh pengalaman,
pendidikan, atau lingkungan hidupnya.
Bayi yang baru lahir merupakan hasil dari dua garis keluarga, yaitu ayah dan
ibu. Sejak saat terjadi pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru itu, secara
berkesinambungan dipengaruhi oleh banyak faktor lingkungan yang merangsang.
Masing-masing baik terpisah atau pun terpadu akan membantu perkembangan
potensi biologis demi terbentuknya tingkah laku manusia. Hal ini akhirnya
membentuk pola karakteristik tingkah lakunya kemudian yang akan berbeda
dengan individu-individu lain. Seorang anak mungkin memulai pendidikan
formalnya di Taman Kanak-kanak (TK) pada usia 4-5 tahun, atau sebelumnya
masuk dulu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Karakteristik pribadi dan

kebiasaan-kebiasaan yang dibawanya ke sekolah akhirnya terbentuk oleh


pengaruh lingkungan, yang akan berpengaruh penting dalam perkembangannya
di kelak kemudian hari. Natur (nurture) adalah istilah yang biasa digunakan
untuk menjelaskan karak-teristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional
pada setiap perkemkembangan. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung bersifat tetap, sedang karakteristik yang
berkaitan dengan sosial-psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh faktor
lingkungan.
2. Perbedaan Karakteristik Individu.
6

Manusia diciptakan oleh Alloh Swt. secara unik, dan berbeda satu sama lain, kendati kembar sekali pun. Perbedaan individual ini merupakan kodrat manusia yang
bersifat alami. Berbagai aspek dalam diri individu berkembang melalui cara yang
bervariasi sehingga menghasilkan perubahan karakteristik individual yang
bervariasi pula. Perbedaan perkembangan berbagai karakteristik individual ini
tampak dari gejala-gejala dalam aspek-aspek sebagai berikut. (M. Ali dan Asrori,
ibid).
a. Perbedaan Karakteristik Individual Aspek Fisik :
1) Ada anak yang lekas lelah dalam pekerjaan fisik, tetapi ada yang tahan
lama;
2) Ada yang dapat bekerja secara fisik dengan cepat, tetapi ada yang lambat;
3) Ada yang tahan lapar, tetapi ada yang tidak tahan, dsb.
b. Perbedaan Karakteristik Individual Aspek Intelektual :
1) Ada anak yang cerdas, tetapi ada juga yang kurang cerdas, bahkan ada
yang sangat lemah kecerdasannya;
2) Ada yang dapat dengan segera

memecahkan masalah-masalah

yang

berkaitan dengan pekerjaan otak, tetapi ada juga yang lambat, bahkan
ada yang tidak mampu sama sekali;
3) Ada yang sanggup berpikir abstrak dan kreatif, tetapi ada juga yang baru
bisa berpikir jika diberi contoh wujud bendanya, dsb.
c. Perbedaan Karakteristik Individual Aspek Emosi :
1) Ada anak yang mudah sekali marah, tetapi ada juga yang penyabar;
2) Ada yang sensitif (perasa), tetapi ada juga yang tidak mudah peduli;
3) Ada yang pemalu atau penakut, tetapi ada juga yang pemberani, dsb.
d. Perbedaan Karakteristik Individual Aspek Sosial :
1) Ada anak yang mudah bergaul dengan teman, tetapi ada juga yang sulit;
2) Ada yang mudah toleransi, tetapi ada juga yang egois;
3) Ada yang mudah memahami perasaan temannya, tetapi ada juga yang mau
menang sendiri;
4) Ada yang mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, ada juga yang tidak
peduli dengan lingkungan sosialnya;
7

5) Ada yang selalu memikirkan kepentingan orang lain, tetapi ada juga yang
hanya memikirkan kepentingannya sendiri, dsb.
e. Perbedaan Karakteristik Individual Aspek Bahasa :
1) Ada anak yang dapat berbicara dengan lancar, tetapi ada juga yang mudah
gugup;
2) Ada anak yang dapat berbicara dengan ringkas dan jelas, tetapi ada juga
berbelit-belit dan tidak jelas;
3) Ada yang dapat berbicara dengan intonasi suara menarik, tetapi ada juga
yang monoton, dsb.
f. Perbedaan Karakteristik Individual Aspek Bakat :
1) Ada anak yang sejak kecil dengan mudah belajar memainkan alat-alat
musik, tetapi ada juga yang sampai hampir dewasa tidak dapat memainkan satu jenis alat musik pun;
2) Ada yang sejak kecil begitu mudah dan kreatif melukis segala sesuatu yang
ada di sekelilingnya, tetapi ada juga yang sangat sulit jika harus melukis;
3) Ada yang demikian cepat menghafal dan menyanyikan sebuah lagu dengan
baik, tetapi ada juga walaupun latihan berkali-kali masih saja tidak bisa dan
sumbang, dsb.
g. Perbedaan Karakteristik Individual Aspek Nilai, Moral, dan Sikap :
1) Ada anak yang taat pada norma yang berlaku, tetapi ada juga yang begitu
mudah melanggarnya;
2) Ada yang perilakunya bermoral tinggi, tetapi ada juga yang tak bermoral,
tak senonoh;
3) Ada yang penuh sopan santun, tetapi ada juga yang perilaku dan tutur
katanya seenak sendiri saja, dsb.
Perbedaan-perbedaan tersebut di atas menjadi unik untuk tiap individu.
Lingkungan kehidupan sosial-budaya yang mempengaruhi perkembangan pribadi
seseorang amatlah kompleks dan heterogen. Lingkungan alami maupun
lingkungan sosial yang diciptakan untuk maksud pembentukan pribadi anak-anak
dan remaja, masing-masing memiliki ciri yang berbeda-beda. Dua anak yang
dibesarkan di dalam satu keluarga akan menunjukkan sifat pribadi yang berbeda
8

walaupun keduanya adik kakak atau berasal dari satu keturunan. Hal ini
disebabkan mereka berinteraksi, bersosialisasi, dan mengintegrasikan diri
dengan lingkungannya yang sesuai dengan perbedaan kapasitas, kemampuan,
dan pembawaan masing-masing.
Kehidupan merupakan rangkaian yang berkesinambungan dalam proses
pertumbuhan dan perkembangan. Keadaan kehidupan sekarang dipengaruhi
oleh keadaan sebelumnya, dan keadaan yang akan datang banyak ditentukan
oleh kedaan kehidupan saat ini. Demikianlah, maka kepribadian atau tingkah
laku seseorang dipengaruhi oleh proses perkembangan kehidupan sebelumnya
dan dalam perjalannya

berinteraksi dengan lingkungan kehidupan serta

peristiwa-peristiwa saat ini.


Apabila sejak awal perkembangan kehidupan pribadi itu terbentuk secara
terpadu dan harmonis, maka kepribadian yang merupakan pengejawantahan
berbagai aspek dalam diri individu itu akan baik pula. Kehidupan pribadi yang
mantap memungkinkan seseorang individu akan berperilaku mantap pula, yakni
dapat atau mampu menghadapi dan memecahkan berbagai permasalahan
kehidupannya. Berkenaan dengan hal tersebut, maka upaya pengembangan
kehidupan individu atau pribadi anak menurut Fatimah (2010:16) dapat
dilakukan antara lain dengan :
a. Membiasakan hidup sehat dan teratur serta mamanfaatkan waktu dengan
baik. Pengenalan dan pemahaman nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku di
dalam kehidupan perlu ditanamkan secara baik dan benar;
b. Mengerjakan tugas pekerjaan sehari-hari secara mandiri dengan penuh rasa
tanggung jawab;
c. Membiasakan hidup bermasyarakat dengan membina pergaulan dengan
sesama, terutama dengan teman sebaya;
d. Melatih cara merespon berbagai masalah yang dihadapi dengan baik, dan
tidak lari atau menghindari permasalahan tersebut;
e. Mengikuti dan mematuhi aturan kehidupan keluarga dengan penuh kedisiplinan dan tanggung jawab;
f. Melaksanakan peran sesuai dengan kedudukan (status) dan tanggung jawab
9

dalam kehidupan keluarga;


g. Berusaha dengan sungguh-sungguh meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki, baik
melalui pendidikan formal maupun nonformal.
Lain daripada itu perlu diciptakan suasana yang kondusif dan keteladanan
oleh pihak-pihak yang mempunyai otoritas seperti orang tua dalam keluarga,
guru, dan tokoh masyarakat dalam kehidupan sosial. Hal-hal yang perlu ditonjolkan adalah sifat-sifat sportivitas (kejujuran), kedisiplinan, kesabaran, ketekunan,
kerja keras dan cerdas, dll. dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip
hidup yang benar sesuai dengan ajaran agama dan Pancasila. Anak-anak harus
dibiasakan menjalani proses internalisasi, sosialisasi, dan enkulturisasi nilai dan
norma secara baik.

10

BAB II
PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN, DAN PERBEDAAN
INDIVIDUAL PESERTA DIDIK

A. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN INDIVIDUAL PESERTA DIDIK


Istilah pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan ukuran
fisik yang secara kuantitatif makin lama makin besar atau panjang. Adapaun istilah
perkembangan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan dalam aspek
psikologis dan sosial.

Setiap individu akan mengalami pertumbuhan fisik dan

perkembangan nonfisik yang meliputi aspek-aspek intelektual, emosional, bahasa,


bakat khusus, serta nilai, moral, norma, dan sikap.
1. Pertumbuhan Fisik.
Pertumbuhan fisik manusia adalah perubahan dari kecil atau pendek menjadi
besar atau panjang, yang prosesnya terjadi sejak janin hingga dewasa.
a. Pertumbuhan Aebelum Lahir.
Dimulai dari suatu proses pembuahan (pertemuan sel telur dan sperma)
dalam rahim ibu yang membentuk suatu sel kehidupan, yang disebut embrio.
Embrio yang berusia satu bulan berukuran sekitar setengah sentimeter, dan
pada usia dua bulan membesar menjadi dua setengah sentimeter yang
disebut janin atau fetus. Kemudian pada usia tiga bulan janin tersebut telah
berbentuk menyerupai bayi dalam ukuran kecil. Masa sebelum dilahirkan
adalah masa pertumbuhan dan perkembangan manusia yang sangat kompleks, karena masa itu adalah awal terbentuknya organ-organ tubuh dan
tersusunnya jaringan syaraf yang membentuk sistem yang lengkap. Pada saat
kelahiran adalah pertanda kematangan biologis dan jaringan syaraf yang telah
mampu berfungsi secara mandiri.
b. Pertumbuhan Setelah Lahir.
Fase ini merupakan kelanjutan dari pertumbuhan dan perkembangan sebelum lahir. Dalam tahun pertama pertumbuhannya, ukuran panjang badan
bertambah sekitar sepertiga dari panjang semula, dan beratnya bertambah
11

sekitar tiga kali.

Setiap bagian fisik seseorang akan terus mengalami

perubahan akibat pertumbuhan, hingga masing-masing komponen tubuh


akan mencapai tingkat kematangan untuk menjalankan fungsinya masingmasing. Jaringan syaraf otak akan tumbuh cepat, dan menjadi syaraf sentral
dalam menjalankan fungsi jaringan di seluruh tubuh.
Berbeda dengan pertumbuhan fisik hewan, pada hewan, setelah dilahirkan dalam waktu relatif singkat segera dapat berjalan mengikuti induknya.
Tidak demikian halnya pada manusia. Pada awal kelahiran manusia, respon
atau reaksi terhadap rangsangan dari luar dilakukan secara refleks.

Jika

pipinya disentuh, bayi akan menggerakkan kepalanya ke arah sentuhan


dengan mulut terbuka dan kepalanya terus berputar hingga mulutnya mencapai rangsangan yang diberikan. Respon yang bersifat refleks ini akan berakhir
dan menjadi terarah pada saat bayi berusia empat sampai lima bulan.
Kapasitas syaraf sensoris bayi amat terbatas. Saat baru lahir, pendengarannya amat baik, dan mampu membedakan suara lembut dengan suara
kasar. Tentu saja bayi lebih suka pada suara lembut. Penglihatannya masih
lemah dan terbatas, selain singkat, jarak pandangnya pun hanya lk. 1,25
meter. Dalam perkembangan berikutnya bayi segera dapat membedakan
terangnya cahaya, warna, serta mampu mengikuti rangsangan yang bergerak
dengan pandangan matanya. Syaraf sensoris lain seperti perabaan, penciuman, dan pencernaan berkembang sejalan dengan syaraf penglihatannya.
Pertumbuhan dan perkembangan fungsi biologis setiap orang memiliki pola
urutan yang teratur. Pada saat lahir, bayi hanya mampu menggerakkan
tangannya secara reflektif ke arah kepalanya. Setelah usia tiga bulan, mulai
dapat berguling, lima bulan telungkup dan merangkak, tujuh bulan duduk
dengan sedikit bantuan, kemudian duduk sendiri, berdiri, melangkah satu dua
langkah, dan setelah 15 bulan sudah bisa berjalan. Pola urutan pertumbuhan
dan perkembangan ini diikuti oleh perkembangan kemampuan mental dan
sosialnya.
Pertumbuhan fisik anak dapat dibagi menjadi empat periode utama, yang
terdiri dari dua periode ditandai pertumbuhan yang cepat dan dua periode la12

innya lambat. Selama periode pralahir dan enam bulan setelah lahir,
pertumbuhan fisiknya sangat cepat, kemudian sedikit melambat. Pada usia 8
sampai 12 tahun menjadi stabil. Mulai saat itu sampai usia 15 atau 16 tahun
pertumbuhan kembali cepat, dan masa ini biasanya disebut dengan ledakan
pertumbuhan pubertas. Setelah ini pertumbuhan stabil kembali sampai usia
dewasa. Tinggi badan pada periode ini akan tetap sampai tua, akan tetapi
berat badan masih dapat berubah-ubah.
Ukuran dan bentuk tubuh yang diwariskan secara genetik (dari ayahibunya) juga mempengaruhi laju pertumbuhan. Anak-anak yang memiliki
tubuh kekar biasanya akan tumbuh dengan cepat dibandingkan dengan anakanak yang tubuhnya kecil atau sedang. Anak-anak dengan tubuh besar
biasanya akan memasuki tahap remaja lebih cepat daripada teman sebayanya
yang bertubuh kecil. Pemberian makanan terutama pada tahun pertama
kehidupan anak juga akan menentukan kecepatan atau kelambatan daur
pertumbuhan ini. Mereka yang mendapat asupan makanan bergizi dan
perawatan kesehatan yang memadai akan cepat, sedangkan yang kurang
memadai lambat pertumbuhannya. Imunisasi yang teratur untuk mencegah
serangan penyakit juga penting dan merupakan faktor dalam percepatan
pertumbuhan. Anak-anak yang tenang cenderung tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak yang mengalami gangguan tekanan emosional.
Hal yang paling menonjol dalam variasi pertumbuhan ini adalah faktor
pengaruh jenis kelamin. Pada usia tertentu pertumbuhan fisik anak laki-laki
lebih cepat dibanding anak perempuan, dan pada satu saat pertumbuhan
perempuan lebih cepat daripada laki-laki. Misalnya pada usia 9, 10, 13 dan 14
tahun, fisik anak perempuan lebih tinggi daripada laki-laki karena pengaruh
perkembangan awal remaja.
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik.
Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik individu, yaitu
faktor internal dan eksternal.
1) Faktor Internal, yaitu yang berasal dari dalam diri individu sendiri :
- Sifat jasmaniah yang diwariskan dari orang tuanya. Misalnya jika ayah dan
13

ibunya bertubuh tinggi, anaknya cenderung akan bertubuh tinggi pula


dibanding dengan yang ayah ibunya bertubuh pendek;
- Kematangan, artinya, meskipun anak diberi makanan yang bergizi tinggi,
tetapi jika saat kematangan belum sampai, pertumbuhannya tetap akan
tertunda. Misalnya, anak berusia tiga bulan diberi makanan yang cukup
bergizi agar pertumbuhan otot kakinya berkembang sehingga mampu
berjalan. Hal ini tidak mungkin karena biasanya bayi mulai berjalan pada
usia 9 -10 bulan.
2) Faktor Eksternal, yaitu yang berasal dari luar individu :
- Kesehatan. Anak yang sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan
terhambat;
- Makanan. Anak yang kurang gizi, pertumbuhannya akan terhambat,
sebaliknya yang cukup bergizi akan pesat;
- Stimulasi lingkungan. Anak yang tubuhnya sering dilatih untuk meningkatkan percepatan pertumbuhannya akan berbeda dengan yang tidak
pernah mendapat latihan.
2. Perkembangan Intelektual.
Intelektual atau daya pikir seseorang berkembang sejalan dengan pertumbuhan
syaraf otaknya. Pertumbuhan syaraf yang telah matang akan diikuti oleh fungsinya dengan baik. Seorang individu akan mengalami perkembangan kemampuan
berpikirnya ketika pertumbuhan syaraf pusat (otaknya) telah mencapai fase
matang. Perkembangan tingkat berpikir atau intelektual diawali oleh kemampuan mengenal dunia luar. Respon terhadap rangsangan dari luar pada awalnya
belum terkoordinasi dengan baik dan hanya bersifat refleks. Pada usia empat
bulan respon yang bersifat refleks sudah mulai berkurang, dan mulai terkoordinasi.
Perkembangan intelektual lebih lanjut ditunjukkan oleh perilakunya, yaitu
tindakan menolak atau memilih sesuatu. Tindakan ini mengandung arti telah
mendapat proses mempertimbangkan atau lazim dikenal dengan proses analisis,
evaluasi, sampai kemampuan menarik kesimpulan dan keputusan. Fungsi ini
14

terus berkembang mengikuti khazanah pengetahuannya tentang dunia luar dan


proses belajar yang dialaminya, sehingga pada saatnya nanti, seseorang akan
berkemampuan melakukan peramalan atau prediksi, perencanaan, serta
berbagai kemampuan analisis dan sintesis.

Perkembangan pengetahuan ini

dikenal dengan perkembangan kognitif.


Perkembangan kognitif seseorang, menurut Piaget yang dikutip oleh Sarlito,
(1991:81) dalam Fatimah (2010:24-25), mengikuti tahapan sebagai berikut :
a. Masa Sensori Motorik (0,0 - 2,5 tahun).
Masa ini adalah ketika bayi menggunakan sistem penginderaan dan aktivitas
motorik untuk mengenal lingkungannya.

Ia memberikan reaksi motorik

terhadap rangsangan yang diterimanya dalam bentuk refleks, seperti mencari


puting susu ibu, menangis, kaget, dll. Refleks ini kemudian berkembang
menjadi gerakan-gerakan yang lebih maju misalnya berjalan;
b. Masa Pra Operasional (2,0 - 7,0 tahun).
Ciri khas masa ini adalah kemampuan anak dalam menggunakan simbol yang
mewakili suatu konsep. Kemampuan simbolik ini memungkinkan seorang
anak melakukan tindakan yang berkaitan dengan hal-hal yang telah dilihatnya.
Misalnya, seorang anak yang pernah melihat dokter sedang berpraktek, ia
akan bermain dokter-dokteran, dsb.
c. Masa Konkreto Pra Rasional (7,0 - 11,0 tahun).
Pada tahap ini anak sudah dapat melakukan berbagai tugas yang konkrit. Ia
mulai mengembangkan tiga macam operasi berpikir, yaitu identitas (mengenali sesuatu), negasi (mengingkari sesuatu), dan reprokasi (mencari hubungan
timbal balik antara beberapa hal).
d. Masa Operasional (11,0 - dewasa).
Pada usia remaja dan seterusnya, seseorang akan mempu berpikir abstrak dan
hipotesis. Pada tahap ini ia akan mampu memprakirakan hal-hal yang
mungkin akan terjadi. Ia dapat mengambil kesimpulan dari suatu pernyataan.
Misalnya, mainan A lebih mahal daripada mainan B dan mainan C lebih murah
daripada mainan B. Maka ia dapat menyimpulkan mainan yang paling mahal
dan yang paling murah.
15

3. Perkembangan Emosi.
Emosi (perasaan) merupakan salah satu potensi kejiwaan yang khas dimiliki oleh
manusia, dan tidak pada hewan. Keinginan untuk segera dapat memenuhi
kebutuhan terutama yang primer adalah hal yang lumrah pada setiap orang. Jika
kebutuhan itu tidak segera terpenuhi, ia akan kecewa, sebaliknya, jika segera
dapat terpenuhi akan senang dan puas.

Karenanya emosi mengandung unsur

senang dan tidak senang.


Pada awal pertumbuhannya, yang diperlukan bayi adalah kebutuhan primer,
yaitu makan, minum, dan kehangatan tubuh. Bayi yang lapar akan menangis dan
semakin keras jika tidak segera disusui. Demikian juga kehangatan tubuh baik
secara fisik dengan selimut maupun secara naluriah kemanusiaan dengan belaian
kasih sayang ibu-bapaknya. Refleks sebagai reaksi biologis terhadap rangsangan
belum terkoordinasi dengan baik, karena itu apa pun yang diberikan atau
dimasukkan ke mulutnya akan disambutnya tanpa mempedulikan dari siapa.
Pertumbuhan fisik itu diikuti oleh perkembangan emosinya.
Emosi ini merupakan perasaan yang disertai oleh perubahan atau perilaku
fisik. Misalnya, perasaan marah ditunjukkan oleh reaksi tangisan atau teriakan
dengan suara keras. Orang yang sedang gembira atau senang bisa melonjaklonjak sambil tertawa lebar, dsb.
4. Perkembangan Sosial.
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, setiap individu tidak dapat
berdiri sendiri, melainkan memerlukan bantuan individu/orang lain. Lain halnya
dengan hewan, bayi manusia yang baru lahir tidak akan bertahan hidup tanpa
bantuan orang tuanya. Bayi yang telah menjadi anak dan seterusnya menjadi
remaja dan dewasa, akan mengenal lingkungan yang lebih luas. Perkenalan
dengan lingkungan dimulai dengan mengenal ibunya, kemudian ayah dan
saudara-saudaranya, akhirnya ia mengenal orang-orang lain di luar lingkungan
keluarganya, terus tetangga, kampung, desa, kecamatan, dst. yang lebih banyak
dan heterogen.
Setiap anak akan lebih tertarik kepada teman sebayanya yang sama jenis ke16

laminnya, kemudian akan membentuk kelompok sebaya sebagai dunianya.


Selanjutnya manusia mengenal kehidupan bersama, berkeluarga, bermasyarakat,
atau berkehidupan masyarakat, bahkan kemudian bernegara. Akhirnya disadari
bahwa setiap orang membutuhkan orang lain untuk saling membantu dan
dibantu, memberi dan diberi, dsb. sehingga keterikatan ini menjadi dalil bahwa
manusia akan selalu hidup berkelompok yang saling ketergantungan satu sama
lain, yang kemudian dikenal manusia itu sebagai makhluk sosial dengan istilah
zoon politicon.
5. Perkembangan Bahasa.
Sejak bayi manusia telah berkomunikasi dengan orang lain yang dimulai dengan
ibu, ayah, dan saudara-saudaranya. Menangis di saat kelahirannya kemudian
senyum dan ocehannya merupakan cara bayi berkomunikasi dengan dunia
sekitarnya. Tanda (simbol), gerak, suara, pada awalnya merupakan alat berkomunikasi untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya, yang kemudian tercipta
bahasa sebagai alat komunikasi dan pergaulan.
Dalam perkembangan awal bayi, dalam menyampaikan pikiran dan perasaannya dengan menangis, menjerit, tersenyum, ocehan, atau rabaan. Ini adalah
bahasa isyarat tatkala ia senang, sakit, kecewa, dll. Perkembangan lebih lanjut
cara berkomunikasinya dengan berbicara menggunakan bahasa yang dipakai di
lingkungannya. Dalam usia 6-9 bulan, ia mulai mengenal satu dua kata seperti
maem, mimi, mama, papa, dsb. Demikianlah ia mulai mampu menyusun frasa
dan kalimat dengan dua-tiga kata untuk menyatakan maksud atau keinginannya.
6. Bakat Khusus.
Bakat adalah kemampuan khusus yang dimiliki oleh setiap individu yang
memerlukan rangsangan atau latihan agar berkembang dengan baik. Seseorang
yang mempunyai bakat akan mudah dapat diamati sebab kemampuan yang
dimilikinya berkembang pesat seperti bakat di bidang seni, olah raga, atau
keterampilan lainnya.
7. Nilai, Moral, Etika, Norma dan Sikap.
17

Sebelum melanjutkan pembahasan, ada baiknya terlebih dulu dijelaskan pengertian nilai, moral, etika, norma, dan sikap.
a. Nilai :
1) Sesuatu yang berguna, berharga, indah, memperkaya batin, dan
menyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya;
2) Keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness);
3) Kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk
memuaskan manusia;
4) Sifat atau kualitas yang melekat pada suatu obyek, tetapi bukan obyeknya
itu sendiri;
5) Merupakan prinsip-prinsip yang disepakati bersama dan dijadikan tolok
ukur menentukan baik atau buruk, salah atau benar, indah atau jelek, dsb.
6) Ukuran tentang kebaikan atau keburukan yang dipraktekkan dalam
kehidupan individu maupun organisasi.
Menurut Sutrisno (1993:87), acuan nilai hanya ada pada manusia yang dengan
akalnya mampu menentukan tindakan. Selanjutnya ia menjelaskan pembagian atau klasifikasi nilai :
1) Nilai Intrinsik (Ontologis), yaitu harga yang dipandang vital, penting demi
adanya benda/obyek, misalnya dinamo untuk mobil;
2) Nilai Ekstrinsik, yaitu kualitas bagi suatu hal yang dipandang berguna,
perlu, menarik, demi kelangsungan adanya yang lain. Misalnya, obat
merupakan nilai ekstrinsik bagi orang yang sakit.
b. Moral :
1) Mos (mores), yang berarti kesusilaan, tabeat, kelakuan, budi pekerti;
2) Keseluruhan norma yang menentukan baik buruknya sikap dan perbuatan
manusia;
3) Dalam wujudnya dapat berupa aturan-aturan atau norma.
c. Etika :
1) Suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan
pandangan-pandangan moral;
2) Ilmu yang membahas bagaimana dan mengapa kita harus mengambil sikap
18

yang bertanggung jawab bila berhadapan dengan berbagai ajaran moral;


3) Membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan predikat susila
dan tidak susila atau baik dan buruk.
d. Norma :
1) Petunjuk tingkah laku yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari
berdasarkan motivasi tertentu;
2) Suatu kesadaran dan sikap luhur yang dikehendaki oleh tata nilai untuk
dipenuhi;
3) Aturan-aturan yang harus dipenuhi atau dilaksanakan;
4) Aturan-aturan (baik yang tertulis maupun tidak tertulis) agar nilai-nilai bisa
diwujudkan dengan baik dalam kehidupan individu maupun organisasi;
5) Wujudnya : Norma kesusilaan, norma kesopanan, norma sosial, norma
agama, dan norma hukum.
e. Sikap :
Sikap adalah kondisi mental tentang suka - tidak suka, senang - tidak senang,
atau setuju - tidak setuju, terhadap sesuatu. Mental adalah apa yang ada di
pikiran, sedangkan perilaku adalah operasionalisasi dari sikap. Adapun budi
adalah kesatuan cipta dan rasa yang menghasilkan karsa, yaitu kehendak atau
motivasi (konasi).
Bloom (Woofolk dan Nicolich, 1984:390) dalam Fatimah (2006:27), mengemukakan bahwa tujuan akhir proses belajar adalah penguasaan pengetahuan
(kognitif), penguasaan nilai dan sikap (afektif), dan penguasaan keterampilan
(psikomotorik). Masa bayi masih belum mempersoalkan masalah moral karena
dalam kehidupannya belum dikenal hierarki nilai dan suara hati, serta
perilakunya belum dibimbing oleh nilai-nilai moral.

Pada masa anak-anak,

perkembangan moral yang terjadi masih terbatas. Ia belum menguasai nilai-nilai


abstrak yang berkaitan dengan benar - salah, serta baik - buruk. Hal ini mengingat pengaruh perkembangan intelektualnya masih terbatas. Lain daripada itu ia
pun belum faham akan manfaat suatu nilai, moral, etika, dan norma dalam
kehidupannya.
Semakin tumbuh dan berkembang fisik dan psikisnya, ia mulai mengenal
19

nilai-nilai, moral, etika, dan norma-norma, dari dari keluarga dan lingkungan
sekitar mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh, yang harus dilakukan dan
yang dilarang, yang baik dan yang buruk, dst. Menurut Piaget, memang pada
awalnya pengenalan nilai-nilai, moral, etika, dan norma itu masih bersifat
paksaan, dan anak-anak belum mengetahui maknanya. Namun sejalan dengan
perkembangan intelektualnya, anak-anak berangsur-angsur mulai mengikuti
berbagai ketentuan yang berlaku di dalam keluarga, kemudian meluas di
lingkungan sosial kemasyarakatan, dan bahkan negara.

B. PERBEDAAN INDIVIDUAL PESERTA DIDIK


Perkembangan setiap anak sebagai individu memiliki sifat yang unik. Saufrock dan
Yussen (1972:17) dalam Fatimah (2005:28) menyatakan, Each us develops some
other individuals, and like individuals, like some other individuals, and like no other
individuals (Tiap-tiap individu berkembang dengan cara tertentu, seperti individu
lain, seperti beberapa individu yang lain, dan seperti tidak ada individu yang lain).
Maksudnya selain terdapat persamaan umum dalam pola-pola perkembangan yang
dialami setiap individu, juga terdapat variasi individual dalam perkembangan anak
pada setiap saat. Hal ini terjadi karena perkembangan itu sendiri merupakan suatu
proses perubahan yang kompleks, melibatkan berbagai unsur yang saling
berpengaruh satu sama lain.
Perkembangan anak sebagai individu adalah proses yang sifatnya menyeluruh
(holistik). Dalam perkembangan individu dikenal dua fakta yang menonjol, yaitu
pertama, semua manusia memiliki kesamaan pola perkembangan yang bersifat
umum. Kedua, setiap individu mempunyai kecenderungan yang berbeda secara fisik
dan mental. Perbedaan ini ternyata lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif.
Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan karakteristik perseorangan atau
yang berkaitan dengan perbedaan-perbedaan. Perbedaan-perbedaan individual ini
menurut Landgran (Fatimah, 2006:28) menyangkut variasi yang terjadi pada aspek
fisik dan psikologis. Contohnya, mungkin saja ada dua anak yang memiliki ciri-ciri
fisik yang hampir sama (misalnya yang kembar), namun setelah diamati dengan
20

cermat, ternyata keduanya berbeda. Yang paling mudah dikenali memang perbedaan fisik, seperti bentuk tubuh, warna kulit, warna rambut, bentuk muka, serta tinggi
dan berat badan. Juga dari perbedaan sikap dan tingkah lakunya. Contohnya, ada
anak yang lincah bahkan cenderung super aktif, banyak gerak dan bicaranya
nyerocos, tetapi ada juga yang pendiam, tidak aktif, dan sedikit bicara.
1. Perbedaan-perbedaan Individual.
Garry (1963) yang dikutip Oxendine, (1984:317) dalam Fatimah (2006:30),
mengelompokkan perbedaan individual ke dalam bidang-bidang :
a. Perbedaan fisik, seperti usia, berat badan, jenis kelamin, pendengaran,
penglihatan, dan kemampuan bertindak;
b. Perbedaan sosial, seperti status ekonomi, agama, hubungan keluarga, dan
suku;
c. Perbedaan kepribadian, seperti watak, motif, minat, dan sikap;
d. Perbedaan intelegensia dan kemampuan dasar;
e. Perbedaan kecakapan di sekolah.
Perbedaan fisik tidak saja terbatas pada ciri-ciri yang dapat diamati dengan
pancaindera, tetapi juga ciri lain yang hanya dapat diketahui setelah diadakan
pengukuran. Contohnya, usia, tinggi dan berat badan, golongan darah, pendengaran, penglihatan, kecepatan lari, dsb. merupakan ciri yang tidak dapat
diamati perbedaannya dengan cara penginderaan.
Setiap individu selalu berhubungan dengan sesamanya di samping dengan
Sang Pencipta (Alloh Swt). Itulah sebabnya ia hidup berkelompok, berkeluarga,
bermasyarakat, bahkan bernegara.

Maka faktor-faktor lingkungan keluarga,

masyarakat, agama, dan kondisi negara, berpengaruh terhadap perbedaan


individual.

Uraian tentang perbedaan-perbedaan dimaksud dapat dijelaskan

sebagai berikut :
a. Perbedaan Kognitif.
Menurut Taxonomy Bloom, proses belajar baik di sekolah maupun di luar
sekolah, akan menghasilkan tiga kemampuan, yaitu kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Kognitif adalah kemampuan yang berkaitan dengan dengan
21

penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Banyak atau sedikitnya

pengetahuan itu merupakan ukuran tingkat kemampuan kognitif seseorang.


Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil proses belajar, yang
merupakan perpaduan antara faktor pembawaan dengan pengaruh
lingkungan.

Tes hasil belajar menggambarkan kemampuan kognitif yang

bervariasi antar individu, sehingga dikatakan ada yang cerdas, kurang cerdas,
dan lemah. Akan tetapi tes hasil belajar yang digunakan hendaknya memenuhi persyaratan sebagai tes yang baik, dalam arti valid dan handal (reliable),
sehingga variasi nilai kemampuan kognitif yang dihasilkan akan membentuk
kurva normal.
Intelligence Quatient (IQ) atau tingkat kecerdasan pun sangat mempengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Hubungan antara IQ dengan nilai
kemampuan kognitif berkorelasi signifikan dan positif. Semakin tinggi IQ
seseorang, semakin tinggi pula tingkat kemampuan kognitifnya.
b. Perbedaan Kecakapan Berbahasa.
Berbahasa merupakan salah satu kemampuan yang sangat penting dalam
kehidupan manusia, yaitu bentuk ungkapan kata dan kalimat dalam menyampaikan pikiran dan perasaan tertentu kepada pihak lain. Kemampuan
berbahasa berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya, hal ini
dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan lingkungan, juga oleh faktor fisik
terutama organ berbicara. Anak-anak yang memasuki sekolah formal pada
dasarnya telah membawa kebiasaan-kebiasaan sebagai hasil belajar baik di
lingkungan prasekolah maupun keluarganya. Hal ini akan membawa pengaruh
dalam pola pikir dan pola mengekspresikannya. Pengaruh ini bisa jadi memperlancar atau malah menghambat kemampuan berbahasa anak. Kemampuan berbahasa ini adalah dalam bentuk lisan atau tulis, serta kemampuan
mengekspresikan diri secara tepat. Pengalaman dan kematangan merupakan
faktor pendukung perkembangan anak dalam kemampuan berbahasa.
c. Perbedaan Kecakapan Motorik.
Kecakapan motorik atau kemampuan psikomotorik adalah kemampuan untuk
melakukaqn koordinasi kerja syaraf motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat
22

(otak) dalam melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut terjadi


karena adanya kerja syaraf yang sistematis. Alat indera menerima rangsangan, kemudian diteruskan melalui syaraf sensoris ke syaraf pusat untuk diolah,
dan hasilnya dibawa oleh syaraf motorik untuk memberikan reaksi dalam
bentuk gerakan-gerakan.
Kerja jaringan syaraf yang tetap akan menghasilkan suatu bentuk kegiatan
yang tepat, yaitu kesesuaian antara rangsangan dengan responnya. Kerja ini
menggambarkan tingkat kecakapan motorik. Syaraf otak yang melaksanakan
fungsi sentral dalam proses berpikir adalah faktor penting dalam mengkoordinasikan kecakapan motorik. Ketidaktepatan dalam pembentukan persepsi
dan penyampaian perintah akan menyebabkan terjadinya kekeliruan respon
atau atau kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan tujuan.
Semakin dewasa seseorang, semakin matang pula fungsi-fungsi fisiknya.
Ini berarti ia akan mampu menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam
banyak hal, misalnya kekuatan untuk mempertahankan perhatian, koordinasi
otot, kecepatan dalam penampilan, keajegan dalam mengontrol, dan resisten
terhadap kelelahan. Jadi, semakin bertambah usia seseorang, ia akan semakin
matang dan mampu menunjukkan tingkat kecakapan motorik yang makin
tinggi.

Kesimpulannya, kemampuan motorik seseorang dipengaruhi oleh

kematangan pertumbuhan fisik dan tingkat kemampuan berpikir. Karena


pertumbuhan fisik dan kemampuan berpikir tiap orang berbeda, maka
kecakapan motoriknya pun berbeda pula. Ada yang cekatan, kurang terampil,
dan lamban dalam mereaksi sesuatu.
d. Perbedaan Latar Belakang.
Di antara latar belakang individu adalah faktor sosial-ekonomi keluarga dan
sosial-budaya lingkungan. Perbedaan latar belakang dan pengalaman dimaksud akan memberikan pengaruh yang berbeda-beda pula, ada yang mendorong dan memperlancar, serta ada pula yang menghambat kemampuan atau
prestasi seseorang. Pengalaman belajar yang dimiliki anak di rumah mempengaruhi kemauan dan keterampilan untuk berprestasi dalam situasi belajar di
sekolah. Minat dan sikapnya terhadap mata pelajaran tertentu, kecakapan
23

atau kemauannya untuk berkonsentrasi pada pelajaran, serta kebiasaankebiasaan belajar merupakan faktor-faktor perbedaan individual di antara
para siswa.
e. Perbedaan Bakat.
Bakat adalah kemampuan khusus yang dibawa atau dimiliki seseorang sejak
lahir. Kemampuan ini akan berkembang dengan baik jika mendapat rangsangan dan belajar atau latihan secara tepat. Sebaliknya, jika lingkungan tidak
mendukung dalam arti tidak memberikan kesempatan melalui rangsangan
dan proses pembelajaran, maka bakat tidak akan berkembang baik. Di sinilah
pentingnya fungsi pendidikan.
Belajar pada tingkat sekolah dasar berkaitan dengan penguasaan materi
dan alat-alat pelajaran. Di sini kecakapan khusus atau bakat belum begitu
menonjol, barulah pada tingkat sekolah menengah dan perguruan tinggi,
program pendidikan perlu memperhatikan serta mengupayakan proses
belajar-mengajar yang mampu merangsang pengembangan bakat. Perencanaan pendidikan harus lebih memperhatikan kemampuan akademik daripada
kemampuan khusus seseorang.
f. Perbedaan Kesiapan Belajar.
Kesiapan belajar berhubungan dengan kemampuan mental atau usia mental
(mental age). Terdapat anak yang antara usia fisik dengan usia mentalnya
tidak sejalan. Misalnya ada anak usia delapan tahun yang sudah duduk di
kelas tiga, tetapi kemampuan belajarnya masih sama dengan mereka yang
duduk di kelas satu. Hal ini menggambarkan pengaruh lingkungan keluarga
yang kurang baik. Kondisi fisik yang kurang baik (misalnya cacat), sikap apatis,
pemalu, kurang percaya diri, dan latar belakang miskin pengalaman, akan
mempengaruhi perkembangan pemahaman dan ekspresi diri seseorang.
2. Perbedaan Individual yang Unik.
Setiap orang atau individu mempunyai kekhasan masing-masing atau unik,
artinya berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu bermacam-macam,
antara lain perbedaan fisik, pola berpikir, atau cara merespons atau mempelajari
24

hal-hal baru. Dalam hal belajar, tiap-tiap individu memiliki kelebihan dan
kekurangannya masing-masing, yaitu dalam hal menyerap dan menjelaskan
materi pelajaran. Itulah sebabnya di dunia pendidikan dikenal berbagai metode
pembelajaran guna memenuhi tuntutan perbedaan-perbedaan dimaksud. Di
negara-negara maju sistem pendidikan dibuat sedemikian rupa sehingga peserta
didik bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya.
Sedangkan di Indonesia kita sering mendengar keluhan orang tua/wali siswa
yang merasa pusing sebab berbagai cara telah dilakukan agar anaknya menjadi
cerdas dan terampil dengan menyekolahkannya ke sekolah terbaik (favorit),
memberikan les privat, dsb. yang terkadang banyak menyita waktu, akan tetapi
hasilnya kurang memusakan, bahkan tidak jarang menimbulkan masalah. Salah
satu faktor penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar sang anak dengan
metode belajar yang diterapkan. Padahal sebaiknya cara belajar itu merupakan
gabungan (kombinasi) dari berbagai metode sehingga peserta didik dapat
menyerap, mengatur, dan mengelola informasi pelajarannya.
a. Otak sebagai Pusat Belajar.
Otak manusia merupakan kumpulan massa protoplasma yang paling kompleks
yang ada di alam semesta. Otak dapat berfungsi aktif dan reaksif selama lebih
kurang seratus tahun. Otak inilah sebagai pusat belajar, sehingga harus dijaga
agar terhindar dari kerusakan.
Menurut McClean yang dikutip De Porten & Hernacki, (2001) dalam
Fatimah (2006:36), otak manusia mempunyai tiga bagian dasar yang
seluruhnya dikenal dengan triune brain atau three in one brain. Bagian
pertama adalah batang otak, bagian kedua sistem limbik, dan bagian ketiga
neokorteks. Batang otak bertanggung jawab atas fungsi motorik-sensorikpengetahuan fisik yang berasal dari pancaindera. Perilaku yang dikembangkan
oleh batang otak adalah untuk mempertahankan hidup.

Sistem limbik

berfungsi menyimpan perasaan, pengalaman yang menye-nangkan, memori,


dan kemampuan belajar. Juga mengatur bioritme tubuh seperti pola tidur,
haus, lapar, tekanan darah, detak jantung, gairah seksual, temperatur, kimia
tubuh, metabolisme, dan sistem kekebalan. Oleh sistem limbik, panel control,
25

informasi dari pancaindera disampaikan ke pemikir dalam otak, yaitu


neokorteks.
Neokorteks adalah tempat bersemayamnya pusat kecerdasan manusia.
Bagian inilah yang mengatur pesan yang diterima melalui pancaindera. Di
sinilah dilakukan proses penalaran, berpikir intelektual, pembuatan
keputusan, perilaku normal, bahasa, kendali motorik sadar, dan gagasangagasan nonverbal. Dalam neokorteks ini pula letak kecerdasan lebih tinggi,
di antaranya linguistik, matematika, spasial/visual, kinestetik/perasa, musikal,
interpersonal, intrapersonal, dan intuisi (naluri).
b. Karakteristik Cara Belajar.
Cara belajar individu dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu cara belajar
visual, audirorial, dan kinestetik, yang ditandai ciri-ciri perilaku tertentu.
Penggolongan cara belajar ini hanya merupakan pedoman, bahwa individu
memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol, sehingga jika dia
memperoleh rangsangan yang sesuai dalam proses pembelajaran, dia akan
mudah menyerapnya.
Adapun ciri-ciri dari karakteristik cara belajar tersebut di atas, menurut De
Porter & Herncki (2001) dalam Fatimah (2006:37) adalah sebagai berikut :
1) Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual :
- Rapi dan teratur;
- Berbicara dengan cepat;
- Mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik;
- Rinci dan teliti;
- Mementingkan tampilan;
- Lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar;
- Mengiungat sesuatu berdasarkan asosiasi visual;
- Memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baiki;
- Biasanya tidak mudah terganggu oleh kaributan atau suara berisik ketika
sedang belajar;
- Sulit menerima perintah verbal, sehingga sering minta instruksi tertulis;
- Merupakan pembaca cepat dan tekun;
26

- Lebih suka membaca daripada dibacakan;


- Dalam memberikan respons terhadapo segala sesuatu, dia selalu bersikap
waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan
berbagai hal yang berkaitan;
- Jika sedang berbicara di telepon, dia suka membuat coretan-coretan
tanpa arti selama berbicara;
- Lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain;
- Sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat ya atau tidak;
- Lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah;
- Lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik;
- Seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan
dalam kata-kata, dsb.
2) Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial.
- Sering bicara sendiri ketika sedang bekerja;
- Mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik;
- Lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca;
- Jika membaca, maka lebih senang dengan suara keras;
- Dapat mengulangi atau menirukan nada, irama, dan warna suara;
- Mengalami kesulitan dalam menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai
dalam bercerita;
- Berbicara dalam irama yang terpola dengan baik;
- Berbicara dengan sangat fasih;
- Lebih menyukai seni musik dibandingkan seni lainnya;
- Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusi-kan
daripada apa yang dilihat;
- Senang berbicara, berdiskusi, dan menjelaskan sesuatu secara panjang
lebar;
- Mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi;
- Lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras
daripada menuliskannya;
27

- Lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/
komik.
3) Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik.
- Berbicara dengan perlahan;
- Menanggapi perhatian fisik;
- Menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka;
- Berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain;
- Banyak gerak fisik;
- Memiliki perkembangan otot yang baik;
- Belajar melalui praktek langsung atau manipulasi;
- Menghapalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung;
- Menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang
membaca;
- Banyak menggunakan bahasa tubuh (nonverbal);
- Tidak dapat duduk diam di suatu tempat dalam waktu yang lama;
- Sulit membaca peta, kecuali pernah ke tempat tersebut;
- Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi;
- Tulisannya pada umumnya jelek;
- Menyukai kegiatan atau permainan yang secara fisik menyibukkan;
- Ingin melakukan segala sesuatu.
Dari ketiga kecenderungan cara belajar anak tersebut di atas (visual, auditorial, kinestetik), orang tua atau guru diharapkan dapat bertindak secara
arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai. Dalam hal ini
pemanfaatan berbagai media belajar/pendidikan seperti tape recorder, video,
gambar, dll. perlu dipertimbangkan.

28

BAB III
REMAJA DAN PERKEMBANGANNYA

A. PENGERTIAN REMAJA
Istilah remaja dalam bahasa Belanda puberteit, Inggris youth, dan dalam bahasa
Latin disebut adolescence, artinya tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan. Masa remaja, menurut Mappiare (1982) dalam M. Ali dan M. Asrori,
(2005:9), berlangsung antara usia 12 sampai dengan 21 tahun bagi perempuan, dan
13 sampai dengan 22 tahun bagi laki-laki. Rentang usia remaja ini dapat dibagi
menjadi dua bagian, yaitu 12/13 tahun sampai dengan 17/18 tahun adalah remaja
awal, dan usia 17/18 sampai dengan 22/23 tahun adalah remaja akhir. Hukum di
Amerika Serikat, tiap individu dianggap telah dewasa jika telah mencapai usia 18
tahun, sedangkan di Indonesia 17 tahun jika mengacu pada ketentuan hak politik,
yaitu mengikuti proses pemilihan umum, atau pernikahan. Justru pada masa usia
ini remaja tengah duduk menempuh pendidikan di bangku-bangku sekolah, atau
sebagai peserta didik.
Istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1991). Pandangan ini didukung
oleh Piaget yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia di
mana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, atau suatu usia di
mana anak tidak merasa lagi dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua,
melainkan sama atau paling tidak, sejajar. Remaja juga sedang mengalami
perkembangan pesat dalam aspek intelektual. Transformasi intelektual dari cara
berpikir remaja ini memungkinkan mereka tidak hanya mampu mengintegrasikan
dirinya ke dalam masyarakat dewasa, tetapi juga merupakan karakteristik yang
paling menonjol dari semua periode perkembangan.

Remaja sebetulnya tidak

mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah tidak termasuk golongan anak-anak,
tetapi juga belum dapat diterima secara penuh untuk masuk ke golongan orang
dewasa. Remaja berada di antara anak dan orang dewasa. Karena itu remaja
seringkali dikenal dengan fase mencari jatidiri atau fase topan dan badai.
Dalam hal ini remaja dianggap belum mampu menguasai dan memfungsikan secara
29

maksimal fisik dan psikisnya (Monks, dkk. 1989). Akan tetapi yang perlu penekanan
adalah bahwa fase remaja merupakan fase perkembangan yang tengah berada
pada masa sangat potensial, baik dilihat dari aspek fisik, mental, maupun emosi.
Perkembangan intelektual yang terus-menerus menyebabkan remaja mencapai
tahap berpikir operasional formal. Pada tahap ini remaja mampu berpikir abstrak,
menguji hipotesis, dan mempertimbangkan apa saja peluang yang ada padanya
daripada sekedar melihat apa adanya. Kemampuan intelektual seperti inilah yang
membedakan fase remaja dengan fase-fase sebelumnya.

B. KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN REMAJA


Istilah remaja sulit didefinikan secara mutlak karena sulitnya membedakan proses
psikis pada masa pubertas dan mulainya proses psikis pada adolescene. Oleh
karena itu dicoba untuk memahami remaja menurut berbagai sudut pandang,
antara lain menurut hukum, pertumbuhan fisik, badan kesehatan dunia (World
Health Organization/WHO), sosial psikologis, dan menurut pandangan masyarakat
Indonesia.
1. Remaja Menurut Hukum.
Istilah remaja bukan berasal dari bidang hukum, melainkan dari bidang ilmu-ilmu
sosial seperti antropologi, sosiologi, psikologi, dan paedagogi. Konsep remaja
yang relatif baru, muncul kira-kira setelah era industrialisasi di Eropa, AS, dan
negara-negara maju lainnya. Masalah remaja baru menjadi pusat perhatian ilmuilmu sosial dalam 100 tahun terakhir ini.
Dalam kaitannya dengan hukum di Indonesia, masalah remaja mulai tersirat
dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang menyebutkan usia perkawinan untuk perempuan 16 tahun, dan untuk laki-laki 19 tahun.
Memang tidak secara tegas disebut usia 16 dan 19 tahun itu remaja, namun
tentu bukan anak-anak lagi, tetapi juga belum dapat dianggap sebagai dewasa,
sehingga masih diperlukan izin orang tua untuk menikahkan mereka. Akan
tetapi, usia antara 16 dan 19 sampai 22 tahun ini dalam ilmu-ilmu sosial diseja30

jarkan dalam pengertian remaja.


Kemudian, pengertian remaja ini masuk juga dalam ranah hukum tatkala
muncul Undang-Undang tentang Pemilihan Umun yang sudah beberapa kali
berganti, yaitu orang yang berhak mengikuti Pemilu adalah mereka yang sudah
berusia 17 tahun atau sudah menikah.

Disebut remaja dengan mengikuti

bahasan ilmu-ilmu sosial.


2. Batasan Remaja Menurut WHO.
Pengertian remaja menurut badan kesehatan dunia PBB ini (Muangman, dalam
Sarlito, 1991:9) adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan, yaitu :
a. Individu berkembang dari saat pertama kali dia menunjukkan tanda seksual
sekundernya sampai saat mencapai kematangannya;
b. Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari anakanak menjadi dewasa;
c. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh pada
keadaan yang relatif lebih mandiri.
WHO menetapkan usia 19-20 tahun sebagai batasan usia remaja. Hal ini
didasarkan pada usia kesuburan (fertilitas) perempuan, tetapi berlaku juga bagi
laki-laki. Kurun usia remaja dibagi dua, yaitu 10-14 tahun sebagai remaja awal,
dan 15-20 tahun remaja akhir.
3. Remaja Ditinjau dari Pertumbuhan Fisik.
Dalam ilmu-ilmu sosial dan lebih khusus kedokteran, remaja dikenal sebagai
suatu tahap pertumbuhan fisik di mana alat-alat kelamin manusia mencapai
kematangannya. Secara anatomis, alat-alat kelamin khususnya dan keadaan
tubuh pada umumnya memperoleh bentuknya yang sempurna, dan secara faali
alat-alat kelamin tersebut sudah dapat berfungsi secara sempurna pula. Pada
akhir pertumbuhan fisik laki-laki, dia akan berotot dan berkumis serta menghasilkan beberapa ratus juta spermatozoa setiap kali berejakulasi, sementara pada
perempuan mekar payudaranya dan berpinggul besar, yang setiap bulannya
mengeluarkan sel telur dari ovum yang disebut menstruasi atau haid.
31

Masa pematangan fisik ini berjalan lk. dua tahun, dan biasanya dihitung dari
saat haid pertama pada perempuan, atau sejak mimpi basah pertama pada lakilaki. Masa dua tahun ini disebut masa pubertas, akan tetapi persisnya mulai
pubertas ini sulit ditetapkan, karena cepat atau lambatnya menstruasi atau
mimpi basah sangat bergantung pada kondisi tubuh masing-masing individu,
sehingga karenanya bervariasi.

Misalnya, ada anak perempuan yang sudah

menstruasi pada usia 9, 10, dan ada juga yang baru menstruasi pada usia 17
tahun.
4. Remaja Ditinjau dari Faktor Sosial Psikologis.
Menurut Sarlito (1991:11), salah satu ciri remaja di samping tanda-tanda seksual,
adalah perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari anak-anak menjadi
dewasa. Puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan perubahan kondisi
entropy ke kondisi negentropy.
Entropy adalah keadaan di mana kesadaran manusia masih belum tersusun
rapi. Kendati isinya sudah banyak (pengetahuan, perasaan, dsb.), namun belum
saling terkait secara baik, sehingga belum bisa berfungsi secara maksimal. Isi
kesadaran masih saling bertentangan, tidak saling berhubungan, sehingga
mengurangi hasil kerjanya, dan menimbulkan pengalaman yang kurang
menyenangkan bagi dirinya. Sedangkan negentropy adalah keadaan di mana isi
kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan
perasaan atau sikap. Orang dalam keadaan negentropy merasa dirinya sebagai
kesatuan yang utuh dan dapat bertindak dengan tujuan yang jelas, sehingga
tidak perlu dibimbing lagi untuk mempunyai tanggung jawab dan semangat
yang tinggi.
5. Sikap yang Sering Ditunjukkan oleh Remaja.
Masa remaja sering dikenal dengan masa mencari jatidiri, yang oleh Erickson
dalam Bischof (1983) disebut identitas ego (ego identity). Hal ini terjadi karena
masa remaja merupakan peralihan antara masa kehidupan anak-anak dengan
masa kehidupan dewasa. Dilihat dari aspek fisiknya mereka sudah bukan anak32

anak lagi, tetapi jika diperlakukan sebagai orang dewasa, ternyata belum dapat
menunjukkan sebagai orang dewasa. Sejumlah sikap yang sering ditunjukkan
oleh remaja adalah sebagai berikut :
a. Kegelisahan.
Remaja mempunyai banyak idealisme, angan-angan, atau keinginan yang
hendak diwujudkan di masa depan. Namun sesungguhnya belum banyak
kemampuan yang memadai untuk mewujudkan semuanya itu. Pada umumnya
angan-angan dan keinginannya jauh lebih besar daripada kemampuannya,
sehingga terjadi tarik-menarik yang menyebabkan mereka diliputi kegelisahan.
b. Pertentangan.
Sebagai individu yang sedang mencari jatidiri, remaja berada pada situasi
psikologis antara ingin melepaskan diri dari orang tua, dan perasaan masih
belum mampu untuk mandiri. Karenanya remaja mengalami kebingungan
sehingga terjadi pertentangan dalam dirinya. Remaja belum begitu berani
mengambil resiko dari tindakan meninggalkan lingkungan keluarganya yang
jelas lebih aman bagi dirinya, sementara melepaskan diri itu harus disertai
kesanggupan berdikari tanpa bantuan orang tua terutama dalam hal
keuangan.
c. Menghayal.
Keinginan untuk menjelajah dan berpetualang tidak semuanya dapat tersalurkan, terutama adanya hambatan dalam hal keuangan atau pembiayaan, yang
masih mengandalkan pemberian orang tua. Akibatnya, remaja kemudian
mengkhayal, mencari kepuasan, bahkan menyalurkan khayalannya melalui
dunia fantasi. Khayalan remaja putra biasanya berkisar pada soal prestasi dan
jenjang karier, sedangkan remaja putri lebih pada romantika hidup. Khayalankhayalan ini memang tidak selamanya negatif, sebab kadang menghasilkan
sesuatu yang konstruktif, misalnya timbulnya ide-ide atau gagasan yang dapat
diwujudkan kemudian.
d. Aktivitas Berkelompok.
Berbagai macam angan-angan dan keinginan remaja seringkali tidak dapat
33

terpenuhi karena banyak kendala, di antaranya masalah biaya. Larangan


orang tua juga sering menghambat dan melemahkan, atau bahkan mematahkan semangat. Kesempatan berkumpul dengan rekan-rekan sebaya merupakan jalan keluar untuk melakukan kegiatan bersama. Mereka bekerjasama
sehingga berbagai kendala dapat diatasi bersama.
e. Keinginan Mencoba Segala Sesuatu.
Pada umumnya remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (high curiosity).
Didorong oleh rasa ingin tahu ini, maka remaja cenderung ingin berpetualang
menjelajah dan mencoba segala sesuatu. Hal ini juga didorong oleh keinginan
seperti halnya orang dewasa. Maka dengan sembunyi-sembunyi tidak jarang
remaya putra mencoba merokok, demikian juga remaja putri mencoba
memakai kosmetik atau perhiasan baru, meskipun sekolah melarangnya.
Dalam hati kecil mereka seolah-olah ingin membuktikan jika sebenarnya
mereka pun mampu berbuat seperti yang dilakukan orang dewasa. Di sinilah
pentingnya ada bimbingan orang dewasa sehingga apa yang mereka ingin
coba, terarah kepada hal-hal yang positif, kreatif, dan produktif.
Jika keinginan mencoba segala sesuatu mendapat bimbingan dan
penyaluran yang baik, akan menghasilkan kreativitas remaja yang sangat
bermanfaat, seperti kemampuan membuat alat-alat elektronika untuk
komunikasi, temuan-temuan ilmiah remaja yang bermutu, kolaborasi musik,
dsb. Jika tidak, dikhawatirkan akan terjerumus kepada kegiatan-kegiatan atau
perilaku negatif, misalnya minuma beralkohol, narkoba, seks pranikah, dsb.

C. TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN MASA REMAJA


Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan
perilaku kekanak-kanakan serta berusaha mencapai kemampuan bersikap dan
berperilaku secara dewasa.

Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja

menurut Hurlock (1991) dalam M. Ali dan M. Asrori (2005:10), adalah berusaha :
a. Mampu menerima keadaan fisiknya;
b. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa;
34

c. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan


jenis;
d. Mencapai kemandirian emosional;
e. Mencapai kemandirian ekonomi;
f. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan
untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat;
g. Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua;
h. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa;
i. Mempersiapkan diri untuk memasuki pernikahan;
j. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.
Tugas-tugas perkembangan fase remaja tersebut di atas amat berkaitan dengan
perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Kematangan pencapaian
fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam melakukan tugas-tugas
perkembangannya dengan baik.

D. HUKUM-HUKUM PERKEMBANGAN
Yang dimaksud hukum perkembangan adalah prinsip-prinsip yang mendasari
pertumbuhan fisik maupun perkembangan psikis individu. Memang sebagian ahli
psikologi lebih senang menggunakan istilah prinsip-prinsip perkembangan, tetapi
sebagian lagi lebih senang menggunakan hukum-hukum perkembangan. Perbedaan
istilah ini tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap makna dasar yang
dikandungnya. Di antara hukum-hukum atau prinsip-prinsip perkembangan yang
sudah banyak dikenal dalam khazanah psikologi perkembangan adalah sebagai
berikut.
1. Hukum Tempo Perkembangan.
Tempo adalah waktu atau masa, sehingga yang dimaksud hukum tempo
perkembangan adalah bahwa berlangsungnya perkembangan individu satu sama
lain tidak sama.

Ada yang cepat, misalnya dalam hal belajar berjalan dan

berbicara, tetapi ada juga yang memerlukan waktu lebih lama, dsb.
35

2. Hukum Irama Perkembangan.


Irama yang dimaksud adalah variasi atau fluktuasi kecepatan perkembangan
individu. Artinya, berlangsungnya perkembangan individu tidak dengan irama
yang tetap, kadang cepat, lambat, atau bahkan seperti berhenti, atau mungkin
cepat sekalai seperti dipacu. Contohnya, suatu saat kecepatan belajar bahasa
seorang anak ditunjukkan dengan pengua-saan kata-kata baru yang banyak,
namun tatkala belajarnya kendur, ketinggalan dengan anak-anak yang lain, tetapi
kemudian tampak giat lagi seperti dipacu untuk belajar dengan cepat dan
melampaui lagi anak-anak yang lain.
3. Hukum Rekapitulasi.
Yang dimaksud adalah bahwa perkembangan psikis individu merupakan pengulangan urut-urutan tingkah laku dari perkembangan nenek-moyang suatu
bangsa. Jadi, ada semacam perilaku kolektif sejak nenek-moyangnya yang
berlangsung sampai keturunan masa kini. Hukum rekapitulasi pada mulanya
dikemukakan oleh Hackel (Jrmn) yang dalam laporan biologisnya disebut hukum
biogenetis (M. Ali & M. Asrori, 2005:13). Dia mengatakan bahwa ontogenese
merupakan rakapitulasi dari philogenese, yang berarti perkembangan suatu
mahluk adalah rekapitulasi dari perkembangan seluruh jenis.
Di antara para ahli ada yang setuju dengan hukum rekapitulasi ini, tetapi
banyak juga yang menolak. Claparede (Swiss) misalnya, menolak urutan seperti
yang digambarkan di atas, akan tetapi menerima anggapan bahwa dalam
perkembangan individu mengalami situasi yang mirip dengan suatu masa dalam
perkembangan kebudayaan umat manusia.
Berdasarkan hukum rekapitulasi ini, perkembangan individu dapat digolongkan ke dalam beberapa fase atau masa yang dalam bentuk nyatanya dapat
dilihat dari aktivitas permainan mereka, yaitu :
a. Masa Berburu dan Menyamun (sampai 8 tahun). Ciri yang menonjol pada masa ini, anak-anak dalam permainannya menunjukkan kesenangan menangkap
binatang, bermain panah-panahan, membuat rumah-rumahan, saling mengintai/memata-matai, saling menyelinap untuk menangkap musuh, dsb.
36

b. Masa Beternak (8 10 tahun). Masa ini disebut juga masa menggembala. Ciri
yang menonjol pada masa ini, anak-anak senang sekali memelihara binatang,
misalnya, ayam, merpati, perkutut, kucing, dsb.
c. Masa Bertani atau Bercocok Tanam ( 10 12 tahun). Ciri yang menonjol pada
masa ini, anak-anak gemar memelihara tanaman, misalnya bunga, tanaman
pot, tanaman di halaman rumah, dsb.
d. Masa Berdagang (12 14 tahun). Ciri yang menonjol pada masa ini, perhatian
anak-anak tertuju pada hal-hal yang mirip dengan perdagangan, misalnya
bermain dagang-dagangan (jual-beli) yang uangnya dari kertas atau daun,
tukar-menukar perangko bekas, pengumpulan bung-kus rokok, karcis bekas,
dsb.
e. Masa Industri (15 tahun ke atas). Ciri yang menonjol pada masa ini, anakanak gemar membuat permainannya sendiri dari bahan yang ada di sekelilingnya, misalnya mobil-mobilan dari tanah atau kayu, layangan, seruling bambu,
ketapel, gasing, dsb.
4. Hukum Masa Peka.
Yang pertama kali mengemukakan hukum ini adalah Maria Montessori dari Italia
(M. Ali & M. Asrori, 2005:14). Menurutnya, dalam perkembangan anak, terdapat
suatu saat yang sangat tepat bagi suatu fungsi untuk dapat berkembang dengan
baik sekali atau sangat sensitif dan dengan mudah merespons stimulus yang
datang kepada dirinya. Pada masa ini anak memiliki kesiapan terbaik untuk
melaksanakan tugas perkembangannya dalam fungsi tertentu. Jika masa peka ini
telah diketahui, layanan pendi-dikan atau bantuan orang lain dari orang dewasa
akan mudah mencapai hasil yang maksimal. Misalnya, masa peka untuk belajar
berjalan adalah pada tahun kedua, masa peka untuk menghafal sesuatu adalah
tahun ketiga dan keempat, masa peka untuk belajar menggambar sesuatu adalah pada tahun kelima, masa peka untuk perkembangan ingatan logis adalah
pada tahun keduabelas dan ketigabelas, dsb.

37

5. Hukum Trotzalter (Masa Menentang).


Hukum ini berpandangan bahwa perkembangan individu itu tidak selalu
berlangsung dengan tenang dan teratur, tetapi pada masa-masa tertentu terjadi
suatu guncangan yang membawa perubahan secara radikal. Guncangan ini
biasanya terjadi dua periode, pertama, terjadi ketika indi-vidu berusia 3 4
tahun, dan kedua, pada usia 14 17 tahun. Pada usia-usia itu anak-anak biasanya mengalami perubahan menyolok dalam dirinya baik aspek fisik maupun
psikis, sehingga menimbulkan reaksi emosional dan perilaku radikal. Misalnya
adanya sikap mampu berdiri sendiri, mampu mengerjakan sesuatu sendiri tanpa
bantuan orang lain, sehingga seringkali timbul sikap menentang (trotzalter)
ketika ada stimulus dari orang lain yang dirasanya kurang sesuai.
6. Hukum Masa Eksploratif.
Eksploratif berarti penjelajahan, jadi masa ini merupakan suatu proses yang
berlangsung sebagai suatu penjelajahan dan penemuan pada individu yang
bersangkutan. Individu yang lahir merupakan warga baru yang belum mengenal
dunia sekelilingnya. Karenanya dia perlu mengenal dan mempelajari segala
sesuatu yang ada di dunia sekelilingnya pada saat kehadiran-nya. Untuk itu dia
perlu melakukan pejelajahan agar kemudian menemu-kan bermacam-macam
kehidupan duniawi dan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui proses penjelajahan dan
penemuan-penemuan dunia inilah individu mengalami perkembangannya.
Tokoh hukum ini adalah seorang ahli Belanda, yaitu Langeveld.
7. Hukum Pertahanan Diri.
Pertahanan diri adalah suatu respons dalam bentuk sikap atau perilaku yang
dimunculkan ketika dirinya merasa mendapatkan stimulus yang tidak sesuai atau
tidak menyenangkan. Pertahanan diri ada pada setiap individu yang bentuknya
berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Contoh bentuk pertahanan diri yang
sederhana adalah pada saat anak merasa lapar, haus, takut, sakit, dsb. anak lalu
menangis. Dengan menangis, sebenarnya terkandung maksud agar orang lain
segera datang untuk membantu me-menuhi kebutuhannya. Jadi, tangis anak
38

merupakan wujud nyata dari perbuatan yang didorong oleh keinginan untuk
mempertahankan diri dari rasa lapar, haus, takut, sakit, dsb. Dengan bertambahnya usia, pertahanan diri individu menjadi semakin bervariasi dan tidak bersifat
impulsif naluriah. Ketiga individu sudah remaja dan dewasa, pertahanan diri dari
rasa lapar, haus, takut dan sakit tidak lagi berupa tangisan, akan tetapi dia
melakukan kegiatan lain, misalnya berusaha mencari makanan-minuman di
kulkas, beli, dll. Demikian juga ketika takut mencari perlindungan, dan ketika
sakit beli obat atau pergi ke dokter. Pertahanan diri pada individu dapat menjadikan sistem keseimbangan untuk perkembangan kehidupannya.
8. Hukum Pengembangan Diri.
Bahwa sesungguhnya setiap individu memiliki dorongan alamiah untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Keberhasilan individu dalam mempertahankan diri memerlukan usaha aktif dan kreatif. Sifat kreatif ini menimbulkan
berfungsinya dorongan untuk mengembangkan diri berupa kegiatan-kegiatan
untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. Dorongan-dorongan ini
berlainan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, ada remaja
yang selalu ingin bersaing dengan orang lain, ada perasaan kurang puas atas hasil
yang telah dicapainya, ada rasa ingin tahu segala sesuatu, dsb. yang kesemuanya
merupakan dorongan untuk pengembangan diri.

39

BAB IV
KONSEP KEBUTUHAN REMAJA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

A. KONSEP KEBUTUHAN INDIVIDU


Kebutuhan manusia dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan
primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer pada hakekatnya merupakan
kebutuhan fisik/biologis atau organis yang pada umumnya merupakan kebutuhan
yang didorong oleh motif asli. Contoh kebutuhan primer adalah makan, minum,
bernafas, dan kehangatan tubuh. Pada tingkat remaja dan dewasa kebutuhan
primer ini bertambah dengan kebutuhan seksual. Sedangkan kebutuhan sekunder
umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif yang dipelajari, seperti
kebutuhan mengejar ilmu pengetahuan, mengikuti pola hidup bermasyarakat,
hiburan, alat transportasi, pengembangan diri, dsb.
Dalam pada itu individu adalah pribadi yang utuh dan kompleks, karena
dikaitkan dengan kedudukannya sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial.
Demikianlah, maka individu selain harus memahami dirinya sendiri, dia juga harus
memahami orang lain, memahami kehidupan bersama di dalam masyarakat dan
lingkungan, serta memahami sebagai makhluk Tuhan YME.
Sebagai makhluk psiko-fisik, manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan fisik dan
psikologis. Demikian juga sebagai makhluk individu dan sosial, manusia memiliki
kebutuhan pribadi, dan kebutuhan kemasyarakatan.

Dengan demikian, setiap

individu memiliki kebutuhan karena dia tumbuh dan berkembang untuk mencapai
kondisi fisik dan sosial psikologis yang lebih sempurna dalam kehidupannya.
Sejalan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya, kebutuhan hidup
seseorang mengalami perubahan-perubahan. Kebutuhan sosial-psikologis semakin
banyak dibandingkan dengan kebutuhan fisik karena pengalaman kehidupan kemasyarakatan semakin luas pula. Kebutuhan itu itu timbul karena adanya dorongandorongan atau motif tertentu. Dorongan adalah keadaan pribadi seseorang untuk
melakukan sesuatu perbuatan guna mencapai tujuan tertentu (Sumadi, 1971:70
dan Lefton, 1982:137). Menurut Sumadi dan Lefton dorongan dapat berkembang
40

disebabkan kebutuhan psikologis

atau tujuan-tujuan kehidupan yang semakin

kompleks. Kebutuhan pun dapat muncul karena keadaan psikologis yang mengalami goncangan atau ketidakseimbangan. Jadi, munculnya kebutuhan itu untuk
mencapai keseim-bangan atau keharmonisan hidup.
Cole dan Bruce (1959) dalam Oxendine (1984:227) membedakan kebutuhan
menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan fisiologis dan kebutuhan psikologis.
Sedangkan Murray (1938) menyebutnya dengan kebutuhan visceragenic dan
kebutuhan psychogenic. Sementara itu Abraham H. Maslow menyebut kebutuhan
dasar manusia itu adalah : Kebutuhan fisiologis (physiological needs), kebutuhan
rasa aman (safety needs), kebutuhan cinta dan rasa memiliki/kasih sayang (belongingness and love needs), kebutuhan penghar-gaan (esteem needs), dan kebutuhan pengembangan diri (self actualization).
Dalam bidang ekonomi, kebutuhan primer dikenal sebagai kebutuhan pokok,
yang mencakup pangan, sandang, dan perumahan (papan). Kebutuhan ini
mendesak dan harus segera dipenuhi. Adapun kebutuhan sekunder penemuhannya
dapat ditunda, dengan melihat skala prioritasnya. Sementara itu yang tergolong
kebutuhan sosial-psikologis seorang individu akan terus mengalami perkembangan
sesuai dengan perkembangan kondisi kehidupan-nya yang semakin luas dan
kompleks.
Freud mengemukakan bahwa sikap dan perilaku manusia didorong juga oleh
faktor seksual dengan teorinya yang terkenal libido seksual.

Pandang-annya

tentang konsep diri juga dikaitkan dengan teori libido seksual ini, yaitu bahwa
prinsip kenikmatan senantiasa mendasari perkembangan sikap dan perilaku
manusia. Dengan kata lain, menurut Freud, faktor pendorong utama perilaku
manusia adalah dorongan seksual. Semua bentuk perilaku manusia
dikaitkan dengan upaya untuk mencapai kepuasan seksual. Lain daripada itu,
Freud semakin terkenal dengan pandangannya yang menyatakan bahwa dalam
perkembangan manusia, terjadi pertentangan antara kebutuhan insting pribadi
dengan tuntutan masyarakat.

Dalam pendekatannya terhadap pembentukan

kepribadian manusia, dia mengemukakan perlunya penyelesaian pertentangan


tersebut dengan pendekatan analisis psikologik, sehingga teori Freud disebut teori
41

psikoanalisis.
Menurut teori Freud, struktur kepribadian seseorang berunsurkan tiga komponen utama (Suryabrata, 1984:102), yaitu :
1. Das Es (the Id), yaitu aspek biologis.
2. Das Ich (the Ego), yaitu aspek psikologis.
3. Das Ueber Ich (the Super Ego), yaitu aspek sosiologis.
Ke tiga aspek tersebut di atas masing-masing mempunyai fungsi, prinsip kerja,
sifat, dan dinamika sendiri-sendiri, namun berhubungan rapat sehingga sukar atau
bahkan tidak mungkin untuk memisah-misahkan pengaruhnya terhadap tingkah
laku manusia.
Penjelasannya begini : Das Es (Id) atau aspek biologis daripada kepribadian
adalah aspek orisinal. Dari aspek inilah kedua aspek lainnya berasal. Das Es (Id)
berpegang pada prinsip kenikmatan (lustprinzip pleasure prin-ciple), yaitu mencari
keenakan dan menghindarkan ketidakenakan. Untuk menghindarkan atau menghilangkan ketidakenakan, id mempunyai dua macam cara, yaitu refleks dan reaksireaksi otomatis seperti bersin, berkedip, dsb. serta proses primer seperti jika orang
lapar lalu membayangkan makan-an, dsb. Akan tetapi hal tersebut tidak mungkin
dipertahankan, karena dengan hanya membayangkan orang lapar tidak mungkin
kenyang. Itulah sebabnya diperlukan aspek lain, yaitu das ich (ego). Das Ich (ego)
atau aspek psikologis dari kepribadian ini timbul dari kebutuhan organisme untuk
dapat berhubungan dengan dunia luar secara realistis. Das ich (ego) berpegang
pada prinsip realitas (realitatsprinzip reality principle), yang tujuannya masih
dalam garis kepentingan organisme, yaitu mendapatkan keenakan dan menghindarkan dari ketidakenakan, tetapi dalam bentuk dan cara yang sesuai dengan kondisikondisi dunia riil, baik kenyataan benda-benda maupun kenyataan nilai-nilai sosial.
Adapun das ueber ich (super ego) atau aspek sosiologis dari kepribadian merupakan
wakil nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang
tua kepada anak-anaknya, yang diajarkan/dimasukkan melalui berbagai perintah
dan larangan. Das ueber ich (super ego) berpegang pada hal yang ideal daripada
yang riil, atau lebih merupakan kesempurnaan daripada kesenangan. Karena itu das
ueber ich (super ego) dapat juga dianggap sebagai aspek moral daripada kepribadi42

an. Fungsi utamanya ialah menentukan apakah sesuatu itu baik atau buruk, susila
atau tidak susila, pantas atau tidak pantas, benar atau salah. Dengan berpedoman
pada prinsip baik atau buruk dsb. itu maka pribadi dapat bertindak dalam cara-cara
yang sesuai dengan moral masyarakat. Demikian-lah, maka das ueber ich (super
ego) berfungsinya dapat dilihat dalam hubung-an dengan ketiga aspek kepribadian,
yaitu :
1. Merintangi impluls-impuls das es (id), terutama impuls seksual dan agresif yang
sangat ditentang oleh masyarakat.
2. Mendorong das ich (ego) untuk lebih mengejar hal-hal yang moralistis daripada
yang realistis.
3. Mengejar kesempurnaan.
Jadi, das ich (Id) adalah insting pribadi dan merupakan dorongan asli yang
dibawa sejak lahir. Id ini merupakan sumber kekuatan insting pribadi yang bekerja
atas dasar prinsip kenikmatan yang pada proses berikutnya akan memunculkan
kebutuhan dan keinginan. Teori psikoanalisis Freud diawali dengan mengemukakan
asumsi bahwa dorongan utama hakikatnya berada pada id yang senantiasa muncul
pada setiap perilaku. Ego adalah komponen kepribadian yang praktis dan rasional
yang mencari kepuasan atau kenikmatan berdasarkan kenyataan. Jadi, ego adalah
komponen pribadi yang mewakili kenyataan (realita) dan berfungsi meng-hambat
munculnya id (dorongan asli) secara bebas dalam berbagai bentuk.

Dengan

demikian, tugas ego adalah menyelaraskan/menyeimbangkan perten-tangan yang


terjadi antara id dengan tuntutan sosial. Berdasarkan penjelasan ini maka teori
Freud tentang pembentukan pribadi dikenal sebagai conflict theory (teori
pertentangan). Nah, penyelesaian pertentangan antara dorongan pribadi dengan
tuntutan sosial harus dengan pendekatan analisis psikologis.

Sementara itu

superego adalah bagian dari sistem moral dan idealisme manusia.


Erickson, dalam Buss, 1973:383) mengoreksi teori Freud dengan mengemukakan bahwa untuk menyelesaikan pertentangan, lebih dilihat dari kepentingan
sosial (bersifat sosial) walaupun berorientasi pada ego. Sementara itu Carl Rogers
(1902) dalam Buss (ibid), juga mengemukakan pendekatan tentang perkembangan
pribadi individu. Katanya, bahwa seseorang individu pada hakikatnya mencoba
43

mengekspresikan kemampuan, potensi, dan bakat-nya untuk mencapai tingkat


perkembangan pribadi yang sempurna (mapan). Untuk itu dia memiliki kebutuhan
untuk mengaktualisasikan dirinya. Jika pengaktualisasian diri itu dapat diwujudkan,
maka merupakan pertanda bahwa individu itu telah mencapai tingkat perkembangan pribadi yang semakin luas lingkupnya, sehingga dia lebih bersikap sosial.
Berkaitan dengan perilaku manusia, terdapat dua pendekatan yang digunakan,
yaitu pendekatan organismik (internal), dan pendekatan lingkungan (eksternal).
Organismik adalah dorongan biologis dalam arti luas, seperti lapar, haus, dan
seksual, yaitu kebutuhan untuk mempertahankan diri (maintenance), Sedangkan
lingkungan adalah dorongan luar, yaitu kebutuhan psikologis berupa mengembangkan diri (enchancement). Ini berarti menem-patkan fungsi organisme menjadi amat
penting, bukan sekedar tertuju agar manusia tetap hidup, tetapi juga mampu
mengantisipasi kejadian-kejadian masa depan, yaitu mengubah diri dan lingkungannya agar pengembangan dirinya menjadi lebih baik. Artinya, bukan semata-mata
kebutuhan psikologis, tetapi juga kebutuhan normatif.
Kebutuhan psikologis muncul dalam kehidupan manusia seperti yang dialami
secara emosional, yaitu rasa senang, puas, lega, susah, kecewa, dsb. Dan mengingat hidup bersama di dalam masyarakat itu manusia ingin mengatur dan mengikuti peraturan yang berlaku, sekali pun amat sukar, mendorong manusia belajar
memahami norma-norma atau sifat-sifat norma, artinya, perilaku manusia
diarahkan dan disesuaikan dengan kehidupan bermasyarakat yang di dalamnya
terdapat aturan-aturan.

B. KEBUTUHAN DASAR INDIVIDU


Bayi, perilakunya didominasi oleh kebutuhan-kebutuhan biologis, yaitu kebutuhan
untuk mempertahankan diri. Kebutuhan ini disebut deficiency need, artinya
kebutuhan pertumbuhan untuk hidup (survival). Pada masa kehidupan berikutnya,
yaitu anak, muncul kebutuhan untuk mengembangkan diri. Hal ini terjadi karena
pengaruh lingkungan dan faktor belajar, seperti kebutuhan akan cinta kasih,
kebutuhan untuk memiliki, mulai berkembangnya ke-aku-an, kebutuhaan harga
44

diri, kebutuhan akan kebebasan, kebutuhan untuk berhasil, dan muncul pula
kebutuhan untuk bersaing dengan orang lain.
Menurut Henry A. Murray dalam Lindgren (1980:40), kebutuhan-kebutuhan
tersebut dinyatakan sebagai need for Affilation (nAff) dan need for Achievement
(nAch). Carl Rogers dan A.H. Maslow (1954) menyebut nAff ini sebagai aktualisasi
diri (self actualizing need), yang ditandai oleh berkem-bangnya kemampuan untuk
mengekspresikan diri, yaitu menyatakan potensi yang dimilikinya menjadi lebih
efektif dan kompeten.

Kebutuhan mengaktua-lisasikan diri ini pada dasarnya

merupakan perkembangan dari kebutuhan-kebutuhan tingkat sebelumnya dan


merupakan kebutuhan tingkat tinggi, karena di dalamnya termasuk kebutuhan
untuk berprestasi.
Kebutuhan-kebutuhan sebelumnya adalah kebutuhan untuk memiliki, baik yang
berkaitan dengan lingkungan manusia maupun yang berkaitan dengan keadaan.
Dalam perkembangan tertentu, seorang individu berupaya memiliki teman sejawat,
mendapatkan kasih sayang, dan memiliki benda-benda yang disukainya.

Dengan

munculnya kebutuhan dimaksud, berarti di dalam diri orang tersebut telah terjadi
kontak dengan dunia luar dari dirinya atau dengan yang lain atau nAff.
Remaja sebagai individu atau manusia pada umumnya, juga mempunyai
kebutuhan dasar tersebut. Secara lengkap kebutuhan dasar dimaksud adalah :
1. Kebutuhan individu untuk mendapatkan teman sejawat.
2. Kebutuhan individu untuk berhasil, dan munculnya kebutuhan untuk ber-saing.
3. Kebutuhan individu untuk mengembangkan diri dan memiliki benda yang
disukainya.
4. Kebutuhan individu untuk mendapatkan kasih sayang dan cinta kasih.
Keempat macam kebutuhan tersebut di atas bersifat hierarkis, yaitu kebutuhan dari yang bertingkat rendah (kebutuhan jasmaniah) sampai dengan
kebutuhan yang bertingkat tinggi, yaitu kebutuhan aktualisasi diri.
kebutuhan ini sesuai dengan pendapat A.H. Maslow, yang urutannya :
1. Kebutuhan jasmaniah.
2. Kebutuhan psikologis.
3. Kebutuhan ekonomi.
45

Hierarki

4. Kebutuhan sosial.
5. Kebutuhan politik.
6. Kebutuhan penghargaan.
7. Kebutuhan aktualisasi diri.

C. KEBUTUHAN REMAJA DAN PEMENUHANNYA


Remaja pada umumnya adalah peserta didik usia sekolah menengah. Masa remaja
adalah peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Hall dalam Libert, dkk.
(1974:478) memandang masa remaja ini sebagai masa storm and stress. Selama
masa remaja, banyak masalah yang dihadapinya karena dia berupaya menemukan
jatidirinya (identitas), berupa kebutuhan aktualisasi diri. Usaha menemukan jatidiri
ini dilakukan dengan berbagai pendekatan agar dia dapat mengaktualisasikan
dirinya secara baik. Beberapa jenis kebutuhan remaja dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa kelompok kebutuhan, yaitu :
1. Kebutuhan organik, yaitu makan, minum, rumah, seks.
2. Kebutuhan emosional, yaitu untuk mendapatkan simpati dan pengakuan dari
pihak lain yang dikenal dengan nAff.
3. Kebutuhan berprestasi, dikenal dengan nAch, yang berkembang karena didorong untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya dan sekaligus menunjukkan kemampuan psikofisis.
4. Kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.
Pertumbuhan fisik dan perkembangan sosial-psikologis masa remaja adalah
kelanjutan sekaligus penyempurnaan dari pertumbuhan dan perkembangan masa
sebelumnya.

Pertumbuhan fisik ditandai dengan munculnya tanda kelamin

sekunder, dan perkembangan sosial psikis (nonfisik) ditandai dengan emosi dan
adanya aturan atau norma.
Remaja membutuhkan pengakuan (penghargaan) akan kemampuannya bahwa
dia telah mampu berdiri sendiri, mampu melaksanakan tugas-tugas seperti yang
dilakukan orang dewasa, dan bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya.
Faktor nonfisik yang secara integratif tergabung dalam faktor sosial psikologis,
46

dijiwai oleh tiga potensi dasar yang dimiliki manusia, yaitu cipta (pikir), rasa, dan
karsa (kehendak).

Ketiganya secara potensial mendorong munculnya berbagai

kebutuhan.
Dalam kehidupan modern, kebutuhan pokok itu berkembang, artinya tidak saja
berkutat untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pendidikan, hiburan, keberhasilan dan
prestasi, juga menjadi kebutuhan pokok. Perubahan ini disebabkan adanya faktorfaktor yang mendorong dan mempengaruhi, di antaranya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan per-adaban manusia.
Menurut Fatimah (2010:139-141) beberapa masalah yang dihadapi remaja
berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhannya dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Upaya untuk mengubah sikap dan perilaku kekanak-kanakan menjadi sikap dan
perilaku dewasa tidak semuanya dapat dicapai dengan mudah. Pada masa
remaja, tugas-tugas yang dihadapi dalam perubahan sikap dan perilaku cukup
besar, sementara harapan ditumpukan untuk meletakkan dasar-dasar bagi
pembentukan sikap dan pola perilaku.

Tatkala terjadi kegagalan, dapat

menjadikan remaja bersikap keras dan agresif, atau sebaliknya tidak percaya diri,
pendiam, atau merasa kurang harga dirinya.
2. Para remaja sering merasa kesulitan untuk menerima perubahan-perubahan
fisiknya. Hanya sedikit yang menerima dan merasa puas dengan tubuhnya. Hal ini
disebabkan pertumbuhan tubuhnya dipandang kurang serasi. Ketidakserasian
proporsi tubuh ini sering menimbulkan kejengkelan pada mereka di antaranya
karena sulit mendapatkan pakaian yang pantas, dsb.
3. Perkembangan seks pada masa remaja menimbulkan kebingungan untuk
memahaminya, sehingga sering terjadi salah tingkah dan perilaku yang
menentang norma. Pandangannya terhadap teman sebaya lain jenis kelamin bisa
menimbulkan kesulitan dalam pergaulan. Dalam hal ini ramaja laki-laki akan
berperilaku menentang norma sedangkan remaja perempuan akan berperilaku
mengurung diri atau menjauhi pergaulan dengan lain jenis. Jika kematangan
seksual itu tidak mendapatkan peng-arahan atau penyaluran yang tepat, dapat
berakibat negatif. Konsekuensinya sering berbentuk pelarian yang bertentangan
dengan norma, susila, sosial, dan agama, misalnya homoseksual atau lesbian, lari
47

ke kehidupan hitam dsb.


4. Dalam memasuki kehidupan bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan
kemandirian (menganggap dirinya mampu mengatasi problema kehidupan),
kebanyakan akan menghadapi masalah, terutama penyesuaian emosional,
seperti perilaku yang over acting, lancang, dsb.

Kehidupan bermasyarakat

menuntut remaja banyak menyesuaikan diri, namun yang terjadi tidak


seluruhnya selaras dan serasi.

Dalam hal terjadi ketidakselarasan/ketidak-

serasian antara pola hidup masyarakat dengan perilakunya, dapat berakibat


kejengkelan.

Remaja merasa selalu disalahkan sehingga frustrasi dengan

tingkah lakunya sendiri.


5. Harapan-harapan untuk dapat mandiri secara sosial-ekonomis akan berkaitan
dengan berbagai masalah, misalnya dalam menetapkan pilihan jenis pekerjaan
dan pendidikan.

Keragaman norma dalam kehidupan bersama akan sulit

dihadapi oleh remaja.


6. Berbagai nilai dan norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat,
merupakan masalah tersendiri bagi remaja, karena dia merasa memiliki nilai dan
norma sendiri yang dirasanya lebih sesuai. Tentu saja dia akan menghadapi
perbedaan nilai dan norma ini.

Perbedaan persepsi terhadap nilai dan norma

yang berlaku dalam masyarakat dengan yang dianutnya, akan menimbulkan


perilaku yang menyebabkan dirinya dikatakan nakal.

D. KEMANDIRIAN SEBAGAI KEBUTUHAN PSIKOLOGIS REMAJA


1. Pengertian Kemandirian.
Manusia dilahirkan dalam kondisi yang tiada daya, dia sangat bergantung pada
bantuan orang lain (orang tua dan orang-orang di lingkungannya) sampai waktu
tertentu.

Seiring dengan berjalannya waktu, maka bayi, anak, dan remaja

perlahan-lahan akan melepaskan diri dari ketergantung- an pada orang tua atau
orang-orang di sekitarnya, dan belajar untuk mandiri, berdiri di atas kaki sendiri.
Mandiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak bergantung pada
orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kemandirian ini
48

termasuk dalam aspek fisik dan nonfisik.

Selama masa remaja, tuntutan

terhadap kemandirian sangat besar dan perlu direspon secara tepat. Jika tidak,
maka dapat menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi perkembangan psikologisnya di masa mendatang. Dalam hal ini orang tua harus terbuka
dalam memberikan kesempatan dan dorongan kepada anak-anaknya yang
remaja untuk mulai belajar mandiri, terlebih di tengah gejolak perubahan yang
terjadi di era globalisasi ini. Contoh kesempatan yang diberikan orang tua adalah
dalam hal pemilihan jurusan pendidikan atau pekerjaan sesuai dengan potensi
dan minat anak, tidak ngotot mengatur harus ke jurusan ini, itu, atau harus
bekerja di bidang tertentu.

Dampak pemaksaan orang tua untuk memilih

jurusan atau sesuatu pekerjaan, berakibat si anak frustrasi, sehingga tidak ada
motivasi belajar dan kehilangan gairah untuk bekerja.
Kemandirian, menurut Sutari Imam Barnadib (1982) dalam Fatimah
(2010:142) adalah perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/
masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri
tanpa bantuan orang lain. Kartini dan Dali (1987) juga mendukung pendapat ini,
bahwa kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala sesuatu bagi diri
sendiri. Sementara itu menurut Reber (1985), kemandirian merupakan suatu
sikap otonomi bahwa seseorang secara relatif bebas dari pengaruh penilaian,
pendapat, dan keyakinan orang lain. Ringkasnya, menurut Fatimah (ibid: 143),
kemandirian mengan-dung pengertian :
a. Keadaan seseorang yang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi kebaikan
dirinya;
b. Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi masalah yang
dihadapi;
c. Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya;
d. Bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
Sementara itu Robert Havighurst (1972) menambahkan bahwa kemandirian
terdiri atas bebarapa aspek, yaitu :
a. Emosi, yang ditunjukkan dengan kemampuan mengontrol perasaan yang tidak
bergantung pada orang tua;
49

b. Ekonomi, ditunjukkan dengan kemampuan mengatur hal ikhwal mengenai


pemenuhan kebutuhan dasarnya yang tidak bergantung pada orang tua;
c. Intelektual, ditunjukkan dengan kemampuan mengatasi berbagai masalah
yang dihadapi;
d. Sosial, ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengadakan interaksi dengan
orang/pihak lain yang tidak bergantung atau menunggu aksi orang/pihak lain.
Demikianlah, kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh
secara kumulatif selama pertumbuhan dan perkembangan. Individu akan terus
belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di
lingkungannya, sehingga pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak
sendiri. Dengan kemandiriannya ini seseorang dapat memilih jalan hidupnya
untuk berkembang dengan mantap.
2. Proses Perkembangan Kemandirian.
Kemandirian dapat berkembang dengan baik jika diberikan kesempatan, antara
lain melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus sejak dini. Segala
sesuatu yang diusahakan sejak dini akan dapat dihayati dan akan semakin
berkembang menuju kesempurnaan. Latihan bisa berupa tugas-tugas tanpa
bantuan orang lain dan tentu harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan
anak. Contohnya, untuk anak usia 3 4 tahun, latihan kemandirian dapat berupa
membiarkan anak memasang kaus kaki dan sepatunya sendiri, membereskan
mainan setiap kali selesai bermain, dsb. Sementara untuk remaja, berikan
kebebasan dalam memilih bidang studi atau jurusan sekolah yang diminatinya,
atau mengatur sendiri jadwal kegiatan hariannya, dsb.
Latihan-latihan dimaksud tentu dengan pengawasan orang tua agar benarbenar efektif. Dengan memberikan latihan-latihan, diharapkan makin bertambahnya usia akan bertambah pula kemampuan anak/remaja berpikir secara
obyektif, tidak mudah kena pengaruh negatif, berani mengambil keputusan
sendiri, tumbuh rasa percaya diri, tidak bergantung kepada orang lain, sehingga
tumbuh berkembang kemandiriannya.

50

3. Kemandirian sebagai Kebutuhan Psikologis pada Remaja.


Memperoleh kemandirian (kebebasan) merupakan suatu tugas remaja. Untuk itu
remaja harus belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif,
membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputus-annya sendiri, serta
bertangggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya. Dengan demikian
remaja akan berangsur-angsur melepaskan diri dari ketergantungan pada orang
tua atau orang dewasa lainnya dalam banyak hal.
Berbeda dengan kemandirian pada masa anak-anak yang lebih banyak
bersifat motorik seperti makan sendiri, mandi dan berpakaian sendiri, maka
pada masa remaja lebih bersifat psikologis seperti membuat keputusan sendiri,
kebebasan berperilaku sesuai dengan keinginannya, dsb.

Kecenderungan

melepaskan diri dari ikatan psikis orang tua adalah proses pencarian identitas
atau jatidiri. Remaja selalu mendambakan untuk diperlakukan dan dihargai
sebagai orang dewasa.

Proses ini menurut Erickson dalam Hurlock (1992)

disebut sebagai proses mencari identitas ego. Dalam hal ini remaja ingin
mengetahui kedudukan dan peranannya dalam lingkungan, di samping ingin tahu
dirinya sendiriri.
Menurut Hurlock, kemandirian seorang remaja diperkuat melalui proses
sosialisasi yang terjadi antara dirinya dengan teman sebaya. Melalui hubungan
dengan teman sebaya, dia belajar berpikir secara mandiri, mengambil keputusan
sendiri, menerima atau menolak pandang-an dan nilai yang berasal dari keluarga
atau lingkungan, serta mempelajari pola perilaku yang diterima dalam
kelompoknya. Kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama
tempat remaja belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan
anggota keluarganya.

Hal ini dilakukan agar mendapatkan pengakuan dan

penerimaan kelompok sehingga tercipta rasa aman.


Dalam berusaha mencapai keinginannya untuk mandiri, remaja sering
mendapatkan hambatan yang disebabkan masih adanya rasa ketergantungan
kepada orang lain, sehingga dilematis. Pada satu sisi ingin mengikuti
keinginannya sendiri, namun pada sisi lain sulit melepaskan diri dari orang tua
misalnya dari aspek ekonomi. Dengan mengikuti kehendak orang tua, maka biaya
51

sekolah akan terjamin karena akan membantu sepenuhnya, sedangkan jika tidak,
orang tua tidak mau membiayai sekolahnya.

Situasi ini disebut keadaan

ambivalensi yang akan menimbulkan konflik pada diri remaja. Konflik yang sulit
penyelesaiannya akan menimbulkan frustrasi dan memendam kemarahan
kepada orang tua dan orang lain di sekitarnya. Frustrasi dan kemarahan sering
diwujudkan dalam perilaku remaja yang tidak simpatik terhadap orang tua dan
lingkungan sekitarnya,
yang tentu saja akan merugikan dirinya.
4. Peran Orang Tua terhadap Pembentukan Kemandirian Remaja.
Kemandirian pada anak berawal dari keluarga, dan dipengaruhi oleh pola asuh
orang tuanya. Orang tuanyalah yang berperan dalam mengasuh, membimbing,
dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri.

Hal ini sangat

penting diperhatikan mengingat masa anak-anak dan remaja merupakan masa


yang krusial, sehingga orang tua perlu memberikan kesempatan dengan seksama
agar proses perkembangan kemandirian dan pemahaman anak terarah. Kendati
pendidikan di sekolah turut berperan dalam memberikan kesempatan kepada
anak untuk mandiri, namun keluarga tetap merupakan pilar utama dan pertama
dalam membentuk anak untuk mandiri.
Dalam menyikapi tuntutan kemandirian remaja, Fatimah (2010:147) memberikan saran bagaimana tindakan yang mestinya dilakukan orang tua, yaitu :
a. Komunikasi.
Komunikasi antara orang tua dengan anak merupakan suatu cara yang efektif
untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Komunikasi yang dimaksud
adalah komunikasi timbal balik (bukan dua arah-Pen), artinya, adanya saling
mendengarkan pandangan dan memahami satu dengan yang lainnya.
Komunikasi juga tidak berarti harus formal, tetapi juga bisa sambil santai
misalnya dalam acara makan bersama, rekreasi, dsb.
b. Kesempatan.
Anak remaja sebaiknya diberikan kesempatan oleh orang tua untuk membuktikan atau melaksanakan keputusan yang telah dipilihnya. Biarkan remaja
52

tersebut berusaha sendiri apa yang diperlukannya, dan biarkan juga dia
mengatasi berbagai masalah yang muncul. Orang tua dalam hal ini bertindak
sebagai pengamat, dan hanya boleh melakukan intervensi manakala tindakan
remaja tadi dianggap dapat membahayakan dirinya dan orang lain.
c. Tanggung jawab.
Rasa tanggung jawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan
kunci menuju kemandirian. Dengan bertanggung jawab, betapa pun sakitnya,
remaja akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang memberikan dampak
negatif bagi dirinya.
Adanya orang tua yang berupaya membebaskan anaknya dari tahanan
aparat yang berwajib karena tersandung kasus pelanggaran atau kejahatan
(pidana) misalnya, adalah tindakan keliru karena tidak memberikan
kesempatan kepada anak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya, lebihlebih sebelum melewati proses pemeriksaan intensif. Pada kondisi demikian,
remaja tidak akan peduli lagi atau kapok atas perilaku dan perbuatan
negatifnya, karena selalu dibela atau ditebus oleh orang tuanya. Jika begini
terus, maka anak tidak akan mempunyai rasa tanggung jawab sekaligus tidak
akan mampu mandiri.
d. Konsistensi.
Konsistensi orang tua dalam menerapkan kedisiplinan dan menanamkan nilainilai kebaikan dalam keluarga sejak masa anak-anak, akan menumbuhkembangkan kemandirian dan berpikir dewasa. Orang tua yang konsisten
akan memudahkan remaja membuat rencana hidupnya sendiri dengan memilih berbagai alternatif karena segala sesuatunya sudah dapat diramalkan.

E. KEPERCAYAAN DIRI SEBAGAI KEBUTUHAN REMAJA


1. Pengertian Kepercayaan Diri.
Menurut Fatimah (1010:149), kepercayaan diri adalah sikap positif seorang
individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif,
baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapi.
53

Rasa percaya diri yang tinggi merujuk pada adanya beberapa aspek dari
kehidupan individu, bahwa dia merasa memiliki kompetensi, yakin mampu dan
percaya bisa, karena didukung oleh potensi dirinya, pengalaman, prestasi, serta
harapan yang nyata pada diri sendiri. Tetapi ada kalanya seseorang mengalami
krisis kepercayaan diri atau dalam bahasa sehari-hari disebut tidak pede dalam
menghadapi suatu situasi atau masalah.
Hilangnya rasa percaya diri menjadi sesuatu yang sangat mengganggu,
terlebih ketika dihadapkan pada tantangan atau situasi baru. Malu, takut, dan
merasa kurang, adalah contoh yang menyebabkan munculnya perasa-an tidak
percaya diri. Lalu, apakah kurang atau tidak adanya rasa percaya diri ini dapat
diperbaiki? Langkah-langkah apa yang harus dilakukan?
2. Karakteristik Individu yang Percaya Diri.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, di bawah ini dikemukakan karakteris-tik
atau ciri-ciri individu yang mempunyai rasa percaya diri yang proporsional, di
antaranya :
a. Percaya akan kemampuan atau kompetensi diri, hingga tidak membu-tuhkan
pujian, pengakuan, penerimaan, atau pun hormat orang lain;
b. Tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima oleh
orang lain atau kelompok;
c. Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain, artinya berani
menjadi diri sendiri;
d. Mempunyai pengendalian diri yang baik, tidak moody dan emosinya stabil;
e. Memiliki internal locus of control, yaitu memandang keberhasilan atau
kegagalan bergantung pada usaha diri sendiri, dan tidak mudah menyerah
pada nasib atau keadaan, serta tidak mengharapkan bantuan orang/pihak lain;
f. Mempunyai cara pandang positif terhadap diri sendiri, orang lain, dan situasi
di luar dirinya;
g. Memiliki harapan yang realistis terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan
itu tidak terwujud, dia tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi
54

yang terjadi.
Adapun karakteristik individu yang kurang atau tidak percaya diri, di
antaranya adalah :
a. Berusaha menunjukkan sikap konformis, semata-mata demi mendapatkan
pengakuan dan penerimaan orang lain/kelompok;
b. Menyimpan rasa takut atau khawatir terhadap penolakan;
c. Sulit menerima kenyataan diri, terutama kekurangan, dan memandang
rendah kemampuan diri sendiri, namun di pihak lain memasang harapan yang
tidak realistik terhadap diri sendiri;
d. Pesimis, mudah menilai segala sesuatu dari sisi negatif;
e. Takut gagal, sehingga menghindari segala resiko dan tidak berani memasang
target untuk berhasil;
f. Cenderung menolak pujian yang ditujukan secara tulus, karena undervalue diri
sendiri;
g. Selalu menempatkan/memosisikan diri sebagai yang terakhir, karena menilai
dirinya tidak mampu;
h. Mempunyai external locus of control, yaitu mudah menyerah pada nasib,
sangat bergantung pada keadaan dan pengakuan/penerimaan serta bantuan
orang/pihak lain. (Fatimah, 2010:149-150).
3. Perkembangan Rasa Percaya Diri.
a. Pola Asuh.
Kepercayaan diri tidak diperoleh secara instan, melainkan melalui proses
panjang yang berlangsung sejak usia dini dalam kehidupan bersama orang tua.
Banyak faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri seorang individu, tetapi
yang sangat mendasar adalah pola asuh dan interaksi di usia dini itu. Sikap
dan perilaku orang tua akan diterima oleh anak sesuai dengan persepsinya
pada saat itu. Orang tua yang menunjukkan perhatian, penerimaan, cinta dan
kasih sayang, serta kelekatan emosional yang tulus dengan anak, akan
membangkitkan rasa percaya diri pada anak dimaksud. Dalam situasi itu anak
akan merasa dirinya berharga di mata orang tuanya.
55

Kecintaan dan

penghargaan orang tua ini tidak bergantung pada prestasi atau perbuatan
baiknya saja, namun karena eksistensinya.
Sebaliknya jika orang tua kurang memberikan perhatian pada anak, sering
mengkritik dan memarahi, anak yang berbuat atau berprestasi baik tidak
pernah dipuji atau diberi penghargaan, demikian pula sikap yang
overprotective (terlalu melindungi), akan meningkatkan ketergan-tungan,
serta menghambat perkembangan kepercayaan dirinya. Hal ini karena anak
tidak belajar mengatasi masalah dan tantangannya sendiri, segala sesuatunya
disediakan dan dibantu orang tua. Anak akan merasa dirinya lemah, buruk,
tidak dicintai, tidak dibutuhkan, selalu gagal, tidak pernah menyenangkan dan
membahagiakan orang tua. Akibatnya anak akan merasa rendah diri di mata
saudara-saudaranya yang lain atau teman-temannya. Demikian juga sikap
orang tua atau masyarakat yang suka membanding-bandingkan anak,
mempergunjingkan kelemahan anak, atau membicarakan kelebihan anak
lain di depan anak sendiri, tanpa sadar akan menjatuhkan harga diri anak
tersebut.
b. Pola Pikir Negatif.
Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap orang mengalami berbagai masalah,
peristiwa, bertemu dengan orang-orang baru, dsb. Reaksi individu terhadap
hal-hal tersebut di atas sangat dipengaruhi oleh cara berpikirnya. Individu
dengan rasa percaya dirinya yang lemah cende-rung mempersepsi segala
sesuatunya dari sisi negatif. Dia tidak menyadari bahwa sebenarnya dari
dalam dirinyalah semua yang negatif itu berasal. Pola pikir individu yang
kurang percaya diri ini bercirikan antara lain :
1) Menekankan keharusan-keharusan pada diri sendiri (saya harus bisa begini, saya harus bisa begitu, dll.). Ketika gagal, dia merasa seluruh kehidupan
dan masa depannya hancur;
2) Cara berpikir totalitas dan dualisme, artinya, kalau sampai gagal, berarti
saya memang jelek.
3) Pesimistik yang futuristik, artinya, satu saja kegagalan kecil, menye-babkan
dirinya merasa tidak akan berhasil meraih cita-citanya di masa depan.
56

Misalnya mendapat nilai C pada salah satu mata pelajaran, langsung


berpikir dirinya tidak akan lulus ujian, dsb.
4) Tidak kritis dan selektif terhadap self critism, artinya, suka mengkritik diri
sendiri dan percaya bahwa dirinya memang pantas dikritik;
5) Labeling, artinya, mudah menyalahkan diri sendiri dan memberikan
sebutan-sebutan negatif, seperti saya memang bodoh, saya ditakdirkan
untuk jadi orang susah, dsb.
6) Sulit menerima pujian atau hal-hal positif dari orang lain. Ketika ada pujian
yang tulus, dia langsung merasa tidak enak dan menolak mentah-mentah
pujian itu. Ketika diberi kesempatan dan kepercaya-an untuk menerima
tugas atau peran yang penting, dia langsung menolak dengan alasan tidak
pantas atau tidak layak untuk menerimanya;
7) Suka mengecilkan arti keberhasilan diri sendiri, dan senang meng-ingat dan
bahkan membesar-besarkan kesalahan yang diperbuatnya, dan mengecilkan
keberhasilan yang pernah diraihnya. Satu kesalahan kecil membuatnya
merasa menjadi orang tidak berguna. (Fatimah (2010:152-153).
4. Memupuk Rasa Percaya Diri.
Guna menumbuhkan rasa percaya diri yang proporsional, individu harus
memulainya dari dalam diri sendiri. Mengapa? Karena hanya individu bersangkutanlah yang dapat mengatasi rasa kurang percaya diri yang sedang dialaminya.
Beberapa saran yang layak dipertimbangkan untuk mengatasi krisis kepercayaan diri :
a. Evaluasi diri secara obyektif.
Setiap individu pasti memiliki asset atau kekayaan pribadi yang positif.
Susunlah dalam suatu daftar, seperti prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat
diri yang baik, potensi diri yang sudah teraktualisasikan maupun belum,
keahlian yang dimiliki, serta kesempatan atau sarana yang mendukung
kemajuan diri. Kemudian pelajari juga kendala yang selama ini menghalangi
perkembangan diri, seperti pola pikir yang keliru, niat dan motivasi yang
lemah, kurangnya disiplin diri, kurangnya ketekunan dan kesabaran, selalu
57

bergantung kepada orang tua atau orang lain, dan sebab-sebab eksternal
lainnya. Kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) tersebut di atas,
jadikan kesempatan (opportunities) untuk terapi perbaikan (threats) dengan
menerapkan strategi pengembangan diri yang lebih realistik. Inilah yang
disebut analisis SWOT.
b. Berikan penghargaan yang jujur terhadap diri.
Sadari dan hargai sekecil apa pun keberhasilan dan potensi yang dimiliki.
Semua itu didapat melalui proses belajar, berevolusi, dan transformasi diri
sejak lama. Mengabaikan atau meremehkan satu saja prestasi yang pernah
diraih berarti mengabaikan atau menghilangkan kesempatan menemukan
jalan yang tepat menuju masa depan. Ketidakmampuan menghargai diri
sendiri akan mendorong munculnya keinginan yang tidak realistik dan
berlebihan. Contohnya, ingin cepat kaya, cantik, populer, jabatan penting, dll.
dengan cara pintas atau melalui berbagai cara yang tidak semestinya.
c. Berpikir postif (Positive thinking).
Setiap asumsi, prasangka atau persepsi negatif harus diperangi.

Jangan

biarkan pikiran negatif berlarut-larut menguasai diri. Katakanlah kepada diri


sendiri, no bodys perfect dan Its okey if I made a mistake.
d. Gunakan kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri.
Untuk memerangi negative thinking, gunakan self affirmation berupa katakata yang membangkitkan rasa percaya diri. Misalnya :
- Saya pasti bisa!
- Saya adalah penentu dari hidup saya sendiri. Tidak ada orang yang boleh
menentukan hidup saya!
- Saya bisa belajar dari kesalahan saya ini. Kesalahan ini sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga karena membantu saya memahami tantangan!
- Sayalah yang memegang kendali hidup saya!
- Saya bangga pada diri sendiri! Dsb.
e. Berani mengambil resiko.
Setiap tindakan pasti ada resikonya, baik atau buruk. Berdasarkan pemaham58

an diri yang obyektif sebenarnya tiap individu bisa memprediksi resiko yang
bakal terjadi atas segala tindakannya. Tidak setiap resiko perlu dihindari,
melainkan lebih menggunakan strategi-strategi untuk menghindari, mencegah, ataupun mengatasinya. Misalnya, tidak perlu menyenangkan orang lain
untuk menghindari resiko ditolak. Jika ingin mengembangkan diri sendiri, pasti
ada resiko dan tantangan. Namun lebih buruk jika berdiam diri dan tidak
berbuat apa-apa. Ingat, no risk, no gain!
Jika dapat melakukan beberapa hal yang disarankan tersebut di atas,
niscaya individu akan terbebas dari krisis kepercayaan diri. Namun demikian,
jangan sampai mengalami rasa percaya diri yang berlebihan (over confidence).
Rasa percaya diri yang overdosis tidak menggambarkan kondisi kejiwaan yang
sehat, karena sebenarnya semu belaka. Rasa percaya yang berlebihan itu
pada umumnya tidak bersumber dari potensi diri yang ada, tetapi lebih
didasari oleh adanya tekanan-tekanan yang mungkin datang dari orang tua
dan masyarakat, sehingga tanpa sadar melandasi individu untuk harus atau
mesti menjadi orang sukses. Persepsi yang keliru pun dapat menimbulkan
asumsi yang keliru pula tentang diri sendiri. Akibatnya rasa percaya diri yang
besar tidak dilandasi oleh kemampuan yang nyata. Contohnya, seorang anak
yang sejak kecil (batita) oleh orang tuanya ditanamkan bahwa dirinya spesial,
istimewa, pandai, pasti akan menjadi orang sukses, dsb. namun jika dalam
perjalanan waktu anak itu sendiri tidak pernah memiliki track record of
success yang real dan original, maka tidak mungkin berhasil. Akibatnya malah
anak akan tumbuh menjadi seorang manipulator dan otoriter, yang memperalat, menguasai, dan mengendalikan orang lain untuk mendapatkan apa
yang diinginkannya. Rasa percaya diri seperti ini tidak didasarkan oleh real
competence, tetapi lebih pada faktor-faktor pendukung eksternal seperti
kekayaan, jabatan, koneksi/relasi, back-up of power keluarga, nama besar
orang tua, dsb. Jadi, jika semua atribut tersebut ditanggalkan, maka sang
individu itu bukan siapa-siapa.

59

F. IMPLIKASI PEMENUHAN KEBUTUHAN REMAJA TERHADAP PENYELENGGARAAN


PENDIDIKAN
Kebutuhan fisik atau organik adalah tugas pokok setiap individu untuk memenuhinya, karena merupakan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan agar
tetap eksis (survival).

Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi

keluarga. Jika kebutuhan fisik ini tidak terpenuhi, maka akan sangat berpengaruh
terhadap pembentukan pribadi dan perkembangan psikososial individu dimaksud.
Untuk itu, maka latihan kebersihan, hidup teratur dan sehat, sangat perlu
ditanamkan oleh orang tua, sekolah, dan lingkungan masyarakat kepada anak-anak
dan remaja. Di sekolah memang sudah ada pendidikan jasmani dan kesehatan, dan
pentingnya Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Kebutuhan fisik atau biologis lain bagi remaja adalah seksual. Usaha
penenuhannya harus mendapat perhatian dari orang tua, terutama ibu. Orang tua
harus cukup tanggap dan waspada serta secara dini menjelaskan arti dan fungsi
kehidupan seksual bagi remaja dan dalam kehidupan secara luas, terutama bagi
remaja perempuan.

Perlu diingatkan pula adanya norma sosial, norma agama,

dan norma hukum, sehingga dapat mencegah terjadinya pergaulan bebas yang
menyebabkan penyalahgunaan seksual. Sekarang malah sudah dikembangkan
pendidikan seksual baik di sekolah dan terutama di lingkungan keluarga, yang harus
mendapatkan perhatian.
Program bimbingan keluarga dan bimbingan pernikahan dapat dilakukan secara
periodik oleh setiap organisasi wanita (PKK, Dharma Wanita, dll.), demikian pula
yang selama ini diselenggarakan oleh Kantor Urusan Agama. Sesekali, baik di
sekolah, organisasi wanita, maupun masyarakat, perlu mendatangkan ahli atau
dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan (Sp.OG) untuk memberikan
ceramah mengenai masalah remaja khususnya seksual dan dampaknya terutama
yang negatif.
Guna mengembangkan kemampuan hidup bermasyarakat dan mengenal-kan
berbagai norma sosial, agama, dan hukum, sangat penting dikembangkan
kelompok-kelompok remaja untuk berbagai urusan, misalnya olah raga, kesenian,
belajar, cinta alam, koperasi, dll.

Dalam berbagai kegiatan baik di lingkungan


60

tempat tinggal maupun sekolah, remaja perlu dilibatkan dalam acara atau kegiatankegiatan seperti kepanitiaan kenal-pamit, dies natalis sekolah, perayaan proklamasi
kemerdekaan RI, pentas seni-budaya, pengajian umum/tabligh akbar, dsb.

61

BAB V
IMPLIKASI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN REMAJA
TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

A. PERTUMBUHAN FISIK REMAJA


1. Faktor-faktor Penyebab Perubahan Fisik.
Perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan ini meliputi ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, munculnya ciri-ciri
kelamin primer dan sekunder. Menurut Sarlito (1989), urutan perubahan fisik
anak laki-laki adalah sebagai berikut :
a. Terjadi pertumbuhan tulang-tulang;
b. Buah pelir (testis) membesar;
c. Tumbuh bulu berwarna gelap pada kemaluan;
d. Terjadi awal perubahan nada suara;
e. Mengalami ejakulasi (keluarnya sperma);
f. Bulu kemaluan menjadi keriting;
g. Pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat yang maksimal setiap tahunnya;
h. Tumbuh rambut-rambut halus di wajah (kumis, jambang, jenggot);
i. Tumbuh bulu ketiak;
j. Terjadi akhir perubahan suara;
k. Rambut-rambut di wajah bertambah tebal dan gelap;
l. Tumbuh bulu di dada dan kaki.
Adapun urutan perubahan fisik pada anak perempuan adalah sebagai
berikut :
a. Terjadi pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota badan
menjadi panjang);
b. Terjadi pertumbuhan buah dada (payudara);
c. Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di tangan dan kaki;
d. Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimal setiap tahun;
e. Bulu kemaluan menjadi keriting;
f. Terjadi peristiwa menstruasi (haid);
62

g. Tumbuh bulu-bulu pada ketiak.


Penyebab perubahan fisik pada masa remaja ini karena adanya dua kelenjar
yang menjadi aktif bekerja dalam sistem endokrin. Kelenjar pituitari yang terletak di dasar otak mengeluarkan dua macam hormon yang erat hubungannya
dengan perubahan masa remaja. Hormon dimaksud adalah hormon pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan ukuran tubuh, dan hormon
gonadotropik (hormon yang merangsang gonad/kelenjar kelamin) agar mulau
aktif bekerja. Sebelum masa remaja hormon ini sudah mulai diproduksi, dan
pada saat remaja semakin banyak dihasilkan. Seluruh proses ini dikendalikan
oleh perubahan yang terjadi dalam kelenjar endokrin. Kelenjar ini diaktifkan oleh
rangsangan yang dilakukan kelenjar hypothalamus, yaitu kelenjar untuk merangsang pertumbuhan pada saat remaja yang terletak di otak.
Kendati kelenjar gonad sudah ada sejak dilahirkan, akan tetapi seolah-olah
tidur, dan baru aktif setelah diaktifkan oleh hormon gonadotropik dari kelenjar
pituitari pada saat si anak memasuki tahap remaja. Segera setelah tercapai
kematangan alat kelamin, hormon gonad akan menghentikan aktivitas hormon
pertumbuhan, yang menyebabkan pertumbuhan fisik akan terhenti. Keseimbangan yang tepat antara kelenjar pituitari dan gonad akan menimbulkan
pertumbuhan fisik yang tepat pula. Sebaliknya jika terjadi gangguan dalam
keseimbangan ini, akan menimbulkan penyimpangan pertumbuhan.
Selama masa remaja seluruh tubuh mengalami perubahan, baik di bagian
luar maupun dalam, termasuk perubahan struktur tubuh dan fungsinya. Hampir
semua perubahan bagian tubuh tersebut mengikuti irama yang tetap, sehingga
waktu kejadiannya dapat diperkirakan sebelumnya.

Adapun perubahan-

perubahan fisik yang penting dan terjadi pada masa remaja adalah sebagai
berikut :
a. Perubahan Ukuran Tubuh.
Irama pertumbuhan fisik berubah menjadi cepat sekitar dua tahun sebelum
anak mencapai taraf kematangan alat kelaminnya. Setahun sebelum
pematangan ini, anak akan bertambah tinggi 10 15 cm dan bertambah berat
5 10 kg. Selama empat tahun, pertumbuhan tinggi badan badan anak akan
63

bertambah 25% dan berat tubuhnya hampir mencapai dua kali lipat. Anak
laki-laki tumbuh lebih cepat daripada anak perempuan. Pertumbuhan anak
laki-laki akan mencapai bentuk tubuh orang dewasa pada usia 19 20 tahun,
sedangkan anak perempuan pada usia 18 tahun;
b. Perubahan Proporsi Tubuh.
Proporsi tubuh pada masa remaja tidak sama untuk seluruh tubuh, ada yang
seimbang dan ada yang tidak seimbang. Proporsi yang tidak seimbang akan
berlangsung terus sampai seluruh masa puber dilalui sepenuhnya, sehingga
mulai tampak seimbang menjadi proporsi orang dewasa. Perubahan ini terjadi
baik di dalam maupun di luar bagian tubuh;
c. Ciri Kelamin yang Utama.
Pada masa anak-anak alat kelamin yang utama belum berkembang secara
sempurna. Memasuki masa remaja sekitar usia 14 tahun, alat kelamin laki-laki
mulai berfungsi yaitu ketika mimpi basah. Sedang pada perempuan indung
telurnya mulai berfungsi pada usia 13 tahun, yaitu saat pertama kali
mengalami menstruasi (haid), akan tetapi alat perkembangbiakkan lainnya
belum berkembang dengan sempurna, sehingga belum mampu untuk
mengandung. Masa interval ini disebut saat steril masa remaja;
d. Ciri Kelamin Kedua.
Ciri kelamin kedua pada anak laki-laki adalah tumbuh kumis, jambang, dan
jenggot, nada suara membesar, bahu melebar lebih lebar daripada ping
pinggul, timbul bulu di dada dan di sekitar alat kelamin, serta perubahan
jaringan kulit menjadi lebih kasar dan pori-pori membesar. Sedangkan ciri
kelamin kedua perempuan adalah membesarnya payudara dengan mencuatnya puting susu, pinggul lebih lebar daripada lebar bahu, tumbuh rambut di
sekitar alat kelamin, tumbuh rambut di ketiak, dan suara bertambah nyaring.
Ciri-ciri kelamin kedua inilah yang membedakan bentuk fisik antara laki-laki
dengan perempuan. Ciri ini pula yang sering menjadi daya tarik antarjenis.
Pertumbuhan ini akan mencapai taraf kematangan pada tahun pertama atau
kedua masa remaja.

64

2. Keragaman Perubahan Proporsi Tubuh.


Pada masa anak-anak, bentuk tubuh tidak terlalu terlihat perbedaannya. Namun
pada akhir masa anak-anak, yaitu saat mulai memasuki masa remaja, perbedaan
bentuk tubuh antara anak laki-laki dan perempuan menjadi semakin jelas.
Remaja laki-laki cenderung menuju ke bentuk tubuh mesomorf (cenderung
kekar, berat, dan segitiga), sedangkan remaja perempuan, kalau tidak endomorf
(cenderung gemuk dan berat), akan memperlihatkan ciri ektomorf (cenderung
kurus dan bertulang panjang). Akan tetapi hal ini tidak pasti, sebab dalam
kenyataannya, ada remaja laki-laki yang endomorf atau ektomorf, dan remaja
perempuan ada yang mesomorf.
Jika sistem endokrin berfungsi normal, ukuran tubuh akan normal pula.
Sebaliknya, kekurangan hormon pertumbuhan akan menyebabkan kerdil, dan
kelebihan hormon akan menyebabkan tubuh subur (gemuk, besar) sehingga
tidak sesuai dengan anak sebayanya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan fisik sehingga perubahan proporsi tubuh beragam, adalah sebagai
berikut.
a. Pengaruh Keluarga, meliputi faktor biologis (keturunan) maupun lingkungan.
Karena faktor keturunan, misalnya anak akan lebih tinggi dan panjang jika
ayah, ibu, atau kakeknya tinggi dan panjang. Sedangkan faktor lingkungan
akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan yang dibawa anak;
b. Pengaruh Gizi. Anak-anak yang memperoleh asupan gizi yang cukup biasanya
akan lebih tinggi tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai masa remaja
dibanding dengan mereka yang memperoleh gizi kurang memadai;
c. Gangguan Emosional. Anak yang sering mengalami gangguan emosional akan
mengalami terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan, dan hal ini akan
membawa akibat berkurangnya pembentukan hormon partum-buhan di
kelenjar pituitari. Jika ini yang terjadi, maka pertumbuhan awal remajanya
akan terhambat, sehingga tidak mencapai tinggi dan berat tubuh yang
seharusnya;
d. Jenis Kelamin. Anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan berat daripada anak
65

perempuan, kecuali pada usia antara 12 15 tahun. Di antara usia tersebut


biasanya anak perempuan yang lebih tinggi dan berat. Terjadinya perbedaan
tinggi dan berat tubuh ini karena bentuk tulang dan otot anak laki-laki dan
perempuan berbeda;
e. Status Sosial-Ekonomi. Anak-anak yang berasal dari keluarga dengan status
sosial-ekonomi rendah cenderung lebih kecil dibanding dengan yang berasal
dari keluarga yang status sosial-ekonominya tinggi (kaya). Hal ini mungkin
karena di keluarga kaya akan dapat memenuhi kebutuhan primer anakanaknya (gizi, vitamin, mineral, dll. yang tercakup dalam makanan empat
sehat lima sempurna) dengan porsi yang seimbang dan teratur;
f. Kesehatan. Anak-anak sehat dan jarang sakit biasanya akan memiliki

tubuh

yang lebih tinggi dan berat daripada anak yang sakit-sakitan. Kurangnya
perawatan kesehatan akan menyebabkan anak mudah terserang penyakit;
g. Pengaruh Bentuk Tubuh. Bentuk tubuh mesomorf, ektomorf, atau endomorf
akan mempengaruhi besar-kecilnya tubuh anak. Misalnya, anak yang bentuk
tubunnya mesomorf akan lebih besar daripada yang ektomorf dan endomorf.
Perubahan psikologis juga dapat terjadi antara lain sebagai akibat dari
perubahan-perubahan fisik.
Perubahan-perubahan fisik itu menyebabkan kecanggungan bagi remaja
karena dia harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada dirinya.
Dengan demikian perubahan fisik akan selalu disertai perubahan sikap dan
perilaku.

B. PERKEMBANGAN INTELEKTUAL REMAJA


1. Pengertian Intelek dan Inteligensia.
Intelek adalah kekuatan mental yang menyebabkan manusia dapat berpikir, atau
aktivitas yang berkenaan dengan proses berpikir, atau juga kecakapan yang tinggi
untuk berpikir. Pengertian intellect menurut Webster New World Dictionary of
the American Language, adalah :
a. Kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti; kecakapan untuk meng66

amati hubungan-hubungan, perbedaan-perbedaan, dsb.


b. Kecakapan mental yang besar, sangat intelligence;
c. Pikiran atau inteligensi.
Sementara itu istilah inteligensia, telah banyak digunakan terutama dalam
bidang psikologi dan pendidikan, akan tetapi tidak mudah untuk dirumuskan
dalam suatu definisi. Beberapa ahli merumuskannya bermacam-macam. Singgih
Gunarsa (1991) mengajukan beberapa rumusan tentang inteligensia sebagai
berikut :
a. Inteligensia merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang yang
memungkinkannya memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu
tersebut dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang
timbul;
b. Inteligensia adalah suatu bentuk tingkah laku tertentu yang tampil dalam
kelancaran tindakan;
c. Inteligensia meliputi pengalaman dan kemampuan bertambahnya pengertian dan tingkah laku dengan pola-pola baru dan mempergunakannya secara
definitif.
William Stem mengemukakan bahwa inteligensia merupakan suatu
kemampuan untuk menyesuaikan diri pada tuntutan baru dibantu dengan
penggunaan fungsi berpikir. Binet berpendapat bahwa inteligensi merupakan
kemampuan yang diperoleh melalui keturunan, kemampuan yang diwarisi dan
dimiliki sejak lahir dan tidak terlalu banyak dipengaruhi oleh lingkungan.
Dalam batas-batas tertentu, lingkungan memang turut berperan dalam
pembentukan kemampuan inteligensi. Wechler (1958) merumuskan inteligensia sebagai keseluruhan kemampuan individu dalam berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan
secara efektif. (Fatimah, 2010:60-61).
Dari beberapa rumusan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa makna
inteligensia mengandung unsur-unsur yang sama dengan yang dimaksudkan
dengan istilah intelek, yaitu menggambarkan kemampuan seseorang dalam
berpikir atau bertindak. Untuk mengukur tingkat kemampuan berpikir
67

seseorang, para ahli psikologi mengembangkan berbagai alat ukur (tes


inteligensia).

Salah satu tes inteligensia yang terkenal adalah yang

dikembangkan oleh Alfred Binet (Pr. 1857-1911) kemudian disempurnakan


oleh Theodore Simon, sehingga dinamakan Tes Binet Simon. Hasil tesnya
dinyatakan dalam angka yang meng-gambarkan perbandingan antara usia
kemampuan/kecerdasan mental (mental age, disingkat MA), dengan usia
kalender (chronological age, disingkat CA). Pengukuran tingkat inteligensi
dalam bentuk perbanding-an ini diajukan oleh William Stem (Jrmn, 18711938) yang dikenal dengan Intelligence Quatient (IQ), yang artinya perbandingan kecerdas-an. Rumus perhitungan yang diajukannya adalah :
MA
IQ = ----- x 100
CA
Jika tes tersebut diberikan kepada anak berusia tertentu dan dia dapat
menjawab dengan betul seluruhnya, berarti usia kecerdasannya (MA) sama
dengan usia kalender (CA), maka nilai IQ yang didapat anak itu sama dengan
100. Nilai ini menggambarkan kemampuan seorang anak yang normal. Jika
anak berusia enam tahun hanya dapat menjawab soal tes untuk anak berusia
empat tahun, maka nilai IQ-nya di bawah 100, dan dinyatakan berkemampuan
di bawah normal. Sebaliknya jika anak berusia empat tahun dapat menjawab
dengan benar soal tes yang diperuntukkan bagi anak berusia enam tahun,
maka nilai IQ-nya di atas 100, atau disebut anak yang cerdas.
Untuk anak, cara menghitung IQ adalah dengan menyuruhnya untuk
melakukan pekerjaan dan menjawab pertanyaan tertentu (misalnya menghitung sampai 10 atau 100, menyebut nama-nama hari atau bulan, membuka
pintu dan menutupnya kembali, dll.). Jumlah pekerjaan yang biasa dilakukan
anak kemudian dicocokkan dengan suatu daftar untuk mengetahui usia
mental (MA-nya), sehingga dapat ditentukan nilai IQ-nya. Untuk remaja, IQ
dihitung dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan yang terdiri dari
berbagai hal (hitungan, kata-kata, gambar-gambar, dsb.) dan menghitung
banyaknya pertanyaan yang dapat dijawab dengan benar, kemudian
68

membandingkannya dengan sebuah daftar (yang dibuat berdasarkan hasil


penelitian yang terpercaya), sehingga dapat ditentukan nilai IQ-nya.
2. Hubungan antara Intelektual dengan Tingkah Laku.
Kemampuan berpikir abstrak menunjukkan perhatian individu terhadap peristiwa yang tidak konkrit, misalnya tentang pilihan pekerjaan, pilihan pasangan
hidup, dll. yang sebenarnya masih jauh di masa depan. Bagi remaja corak tingkah
lakunya sekarang dan corak perilaku pribadinya di masa depan akan berbeda,
namun kemampuan abstraksi atau memba-yangkan masa depan akan berperan
dalam perkembangan kepribadiannya. Mereka dapat memikirkan perihal diri
sendiri yang terwujud dalam refleksi diri, yang mengarah pada penilaian diri dan
kritik diri. Dengan refleksi diri ini hubungan dengan situasi akan dianggap nyata
dalam pikirannya, yaitu keadaan diri yang tercermin sebagai usaha yang mungkin
akan terbentuk di kemudian hari.
Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh gagasan dan teori-teori yang
menyebabkan sikapnya kritis terhadap situasi dan otorita orang tua. Pendapat
orang lain termasuk orang tua sering dibandingkan dengan dengan teori yang
diketahuinya. Demikian juga terhadap adat dan tata cara yang berlaku
dilingkungan keluarga dan sekitarnya. Sikap antagonis sebagai akibat kemampuan abstraksinya ini, dapat menimbulkan perasaan tidak puas dan putus asa.
Pengaruh egosentris juga berpengaruh pada pikirannya. Cita-cita dan
idealismenya terlalu menitikberatkan pada pikirannya sendiri tanpa memikirkan
akibat lebih jauh atau memperhitungkan kesulitan yang mungkin timbul dalam
menyelesaikan suatu masalah. Egosentris inilah yang menyebabkan kekakuan
remaja dalam berpikir maupun bertingkah laku. Pertumbuhan fisik remaja bisa
menimbulkan masalah dan mencekam dirinya karena anggapan bahwa orang
lain tidak puas dengan penampilan dirinya. Remaja selalu merasa diamati orang
lain, sehingga merasa malu, dan akibatnya tingkah lakunya tampak kaku dan
canggung.

Tetapi pada sisi lain dapat pula melebih-lebihkan dalam menilai

dirinya sendiri, yaitu perasaan hebat sehingga berani menantang dan larut dalam
aktivitas yang kadang tidak diperhitungkan akibatnya. Contohnya, ada remaja
69

yang berani menghajar pencoleng di tempat ramai, tanpa memperhitungkan


akan datang perlawanan bahkan pengeroyokan dari teman-teman pencoleng
tadi.
3. Karakteristik Perkembangan Intelektual Remaja.
Pengukuran inteligensia pada remaja tidak mudah karena perubahan kecepatan
perkembangan kemampuan tersebut tidak mudah terlihat. Pada masa remaja,
kemampuan untuk mengatasi masalah yang semakin kompleks terus bertambah.
Pada awal masa remaja sekitar usia 12 tahun, anak berada pada masa yang
disebut operasional formal (berpikir abstrak). Dia telah berpikir dengan mempertimbangkan hal-hal yang mungkin di samping yang nyata, artinya berpikir
hipotetis. Berpikir operasional formal mempunyai dua sifat penting, yaitu :
a. Sifat Deduktif Hipotesis.
Dalam menyelesaikan suatu masalah, remaja biasanya akan meng-awalinya
dengan pemikiran yang bersifat teoritis.

Dia menganalisis masalah dan

mengajukan cara-cara penyelesaiannya dengan berpikir induktif dan deduktif.


Dari sifat analisis yang dilakukan, dia dapat membuat suatu strategi
penyelesaian masalah dengan mengajukan pendapat atau prediksi tertentu
yang disebut proporsi, kemudian mencari hubungan di antara proporsi yang
berbeda-beda. Itulah sebabnya berpikir operasional disebut juga berpikir
proporsional.
b. Berpikir Operasional dan Kombinasoris.
Sifat ini merupakan kelengkapan sifat deduktif hipotesis dan berhubung-an
dengan cara melakukan analisis. Contohnya, anak diberi lima gelas berisi
cairan tertentu. Kombinasi cairan akan membuatnya berubah warna. Anak
diminta mencari kombinasinya. Anak yang berpikir operasional formal secara
teoretik akan akan membuat matriks tentang segala macam kombinasi yang
mungkin terjadi, kemudian secara sistematik mencoba mengisi setiap sel
matriks tersebut secara empiris. Jika mencapai penyelesaian yang benar, dia
juga segera dapat memprediksi.
Jadi, dengan berpikir operasional formal, anak memperoleh pemecahan
70

masalah (problem solving) yang benar-benar ilmiah, serta memungkinkannya


untuk pengujian hipotesis dengan variabel-variabel tertentu. Berpikir abstrak
atau formal operation ini merupakan cara berpikir yang bertalian dengan halhal yang abstrak dan kejadian-kejadian yang tidak langsung dihayatinya. Cara
berpikir ini terlepas dari tempat dan waktu. Namun cara hipotesis deduktif
yang sistematis ini tidak selalu dicapai oleh semua remaja. Tercapai tidaknya
cara berpikir ini bergantung pada tingkat inteligensia dan kebudayaan
sekitarnya. Bagi seorang remaja dengan kemampuan inteligensi di bawah
rata-rata, atau IQ-nya kurang dari 90% tidak akan mencapai tarap berpikir
yang abstrak. Demikian pula bagi seorang remaja dengan kemampuan berpikir
normal (IQ-nya 100%) tetapi hidup dalam lingkungan kebudayaan yang tidak
merangsang cara berpikir, misalnya tidak ada kesempatan untuk menambah
pengetahuan, atau bersekolah tetapi tidak ada fasilitas yang dibutuhkan,
maka sampai dewasanya pun dia tidak akan sampai pada tarap berpikir
abstrak.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelektual.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa inteligensia dipengaruhi oleh faktor
pembawaan atau bakat. Hal ini dikemukakan oleh aliran nativisme. Sementara
itu aliran empirisme mengatakan bahwa inteligensi dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan. Piaget mengemukakan teori mengenai perkembangan
inteligensia sebagai berikut :
a. Fungsi inteligensia termasuk proses adaptasi yang bersifat biologis;
b. Bertambahnya usia akan menyebabkan berkembangnya struktur inteligensia
baru, sehingga berpengaruh terhadap perubahan berpikir kualitatif.
Berdasarkan teori Piaget ini, Andi Mappiare (1982:80) mengatakan bahwa
yang mempengaruhi perkembangan inteligensia adalah :
a. Bertambahnya informasi yang disimpan dalam otak seseorang, sehingga dia
mampu berpikir reflektif;
b. Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan dalam memecahkan permasalahan sehingga seseorang dapat berpikir rasional;
71

c. Adanya kebebasan berpikir, sehingga mendorong keberanian seseorang


dalam menyusun hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki
masalah secara keseluruhan, serta keberanian memecahkan masalah dan
menarik kesimpulan yang baru dan benar.
Berkaitan dengan tingkat kecerdasan, Wechsler (Fatimah, 2008:66),
mengatakan bahwa IQ adalah suatu nilai yang hanya dapat ditentukan secara
kira-kira dan sementara, karena selalu terjadi perubahan-perubahan akibat
faktor individual dan situasional. Konstan tidaknya inteligensia, sampai sekarang
masih menjadi bahan diskusi. Penelitian longitudinal selama lk. 40 tahun di Fels
Institute oleh McCall, dkk. pada tahun 1973 menunjukkan adanya pertambahan
rata-rata nilai IQ sebanyak 28 poin antara usia 5 - 17 tahun (kira-kira sama
dengan usia pendidikan di sekolah).
Terdapat peran pengalaman dari sekolah dan pengaruh lingkungan terhadap
peningkatan atau perkembangan inteligensia.
a. Peran Pengalaman dari Sekolah.
Penelitian ini dilakukan oleh Wellman dari 50 kasus. Rata-rata nilai IQ yang
diteliti adalah di atas 110. Anak yang mengalami pra sekolah sebe-lum SD
(misalnya PAUD dan TK sekarang ini di Indonesia), menunjukkan perbedaan
kemajuan, yaitu nilai rata-rata IQ-nya lebih besar daripada anak-anak yang
tidak pernah masuk pra sekolah. Perbedaan kemajuan nilai rata-rata IQ anak
yang baru satu tahun belajar di TK adalah sebesar 5,4 skala IQ per siswa.
Perbedaan ini akan lebih tinggi lagi jika anak-anak belajar di TK lebih lama.
Siswa

yang selama

dua

atau

tiga tahun

menun-jukkan

kenaikan

perkembangan inteligensinya masing-masing sebesar 10,5 skala IQ. Jadi,


pengalaman belajar di pra sekolah berpengaruh positif terhadap peningkatan
IQ anak.
b. Pengaruh Lingkungan.
Faktor lingkungan ternyata berpengaruh terhadap perkembangan inteligensia anak. Jika dua anak kembar (yang berasal dari satu telur) diasuh
bersama dalam lingkungan yang sama, maka nilai IQ mereka akan hampir
sama jika dibandingkan dengan yang diasuh secara terpisah. Demikian halnya
72

jika anak yang berbeda diasuh bersama dalam ling-kungan yang sama, akan
terdapat korelasi yang cukup bermakna, yaitu +0,24 di antara IQ mereka.
Kesimpulannya, tidak terdapat hubungan genetik, tetapi kesamaan IQ adalah
karena kesamaan belajar dan ling-kungan yang sama.
Penelitian sejenis dilakukan oleh Garber dan Ware (Rochman Nata-wijaya
dan Musa, 1992:45), yang menghubungkan antara kualitas lingkungan
keluarga anak dengan perkembangan inteligensinya. Hubungan keduanya
ditemukan dalam bentuk korelasi sebesar +0,43 skala IQ. Dengan menggunakan instrument Human Environmet Review (HER), dilakukan observasi
terhadap 133 lingkungan rumah anak-anak. Kesimpulannya adalah semakin
tinggi kualitas lingkungan keluarga, semakin tinggi nilai IQ anak.

Dari

penelitian ini ditemukan tiga unsur penting dalam keluarga yang berpengaruh
terhadap perkembangan nilai IQ anak, yaitu :
a. Jumlah buku, majalah, dan materi belajar lain yang terdapat dalam
lingkungan keluarga;
b. Jumlah hadiah atau ganjaran yang diterima anak dari orang tua atas
prestasi akademiknya;
c. Dorongan (motivasi) dari orang tua akan prestasi akademik anaknya.
Stimulus atau rangsangan merupakan bagian penting dari lingkungan
belajar untuk perkembangan inteligensi anak. Pengalaman awal masa anakanak mesti diisi oleh variasi dalam melihat, mendengar, dan meraba, dan
pengalaman berikutnya ditunjang oleh kemampuan dan pengalaman lainnya.
Menurut Bloom, pengalaman yang padat pada awal perkembangan anak,
merupakan kunci untuk mencapai perkem-bangan inteligensianya.

Jadi,

pengalaman masa lampau dalam keluarga di rumah sangat menentukan bagi


perkembangan intelektual seseorang.
5. Implikasi Perkembangan Intelektual Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan.
Menurut Piaget, sebagian besar remaja mampu mengkaji dan konsep-konsep
abstrak dalam batas-batas tertentu. Sementara menurut Bruner, siswa pada usia
73

remaja dapat belajar menggunakan bentuk simbol-simbol dengan cara yang


canggih.

Guru dapat membantu mereka dengan menggunakan pendekatan

keterampilan proses (discover approach) dengan memberi penekanan pada


penguasaan konsep-konsep abstrak. Akan tetapi guru jangan menganggap cara
berpikir mereka sama dengan cara berpikir dirinya, mengingat pada usia remaja
ini mereka masih dalam proses penyempurnaan penalaran. Dalam hal ini guru
hendaknya memberi kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi secara baik,
serta memberikan tugas-tugas penulisan makalah.
Pada usia remaja, orang tua hendaknya tidak membatasi pengetahuan dan
kecakapan mereka untuk memanfaatkan apa yang ingin mereka ketahui. Sebab
banyak hal yang hanya dapat dipelajari melalui pengalam-an. Para siswa mungkin
akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami konsep-konsep
yang abstrak, dan mungin pula mereka tidak akan mampu memahami
sepenuhnya emosi-emosi yang dilukiskan dalam novel-novel, drama, atau puisipuisi. Jika dihadapkan pada perbedaan-perbedaan interpretasi tentang konsepkonsep yang abstrak, guru hendak-nya menjelaskan konsep-konsep dimaksud
dengan sabar, penuh simpatik, dan dengan hati terbuka, bukan dengan marahmarah atau tidak mau menerima kesalahan mereka.
Kecenderungan untuk berfantasi dan memimpikan hal-hal yang indah bisa
terjadi, karena siswa remaja kurang mempunyai pengalaman dalam hal-hal yang
nyata, dan mungkin karena keterbatasan kesempatan untuk mengadakan
penjelajahan.

Dalam hal ini guru hendaknya memberikan tugas-tugas yang

menantang imajinasi dengan bermacam-macam cara, seperti teka-teki yang


memancing rasa ingin tahu, dll.
Motivasi belajar harus diusahakan misalnya melalui angka-angka, kenaikan
kelas, dan ujian-ujian. Hal ini untuk menimbulkan dan memupuk minat jangka
panjang dengan menyajikan rangsangan-rangsangan yang lebih menarik, seperti
tontonan, permainan, dan bentuk rekreasi lainnya.

Untuk itu, maka harus

diusahakan pelajaran mempunyai nilai intrinsik, yang mengandung makna bagi


kehidupan remaja. Dalam hal ini guru harus terlibat secara aktif, dan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menentukan sendiri kegiatannya.
74

Pendekatan semacam ini dikenal sebagai pendakatan keterampilan proses atau


metode penemuan dan inkuiri.

C. PERKEMBANGAN BAKAT KHUSUS REMAJA


1. Pengertian Bakat.
Perbedaan antar individu dalam tingkat kemampuan dan prestasi salah satunya
dilihat dari bakatnya. Perbedaan bakat itu dibawa sejak lahir dan diasah melalui
latihan dan pengalaman. Program pendidikan dan pelatihan hendaknya dirancang dengan memperhatikan faktor perbedaan bakat atau kecakapan khusus
yang dimiliki oleh para siswa.
William B. Michael, dalam Sumadi (2004:160), memberi definisi mengenai
bakat sebagai, as a persons capacity, or hypothetical potential, for acquisitions of a certain more or less weeldefined pattern of behavior involved in the
performance of a task perpect to which the individual has bad little or no
previous training. Jadi, Michael meninjau bakat terutama dari segi kemampuan
individual untuk melakukan sesuatu tugas, yang sedikit sekali bergantung kepada
latihan mengenai hal tersebut. Sementara Bingham (ibid:161) menitik beratkan
pada segi apa yang dapat dilakukan oleh individu, jadi segi penampilan
(performance), setelah individu mendapatkan latihan.

Woodworth dan Mar-

quis memasukkan bakat (aptitude) dalam kemampuan (ability), yang menurutnya mempunyai tiga arti, yaitu :
a. Achievement yang merupakan actual ability, yang dapat diukur lang-sung
dengan alat atau tes tertentu;
b. Capacity yang merupakan potential ability, yang dapat diukur secara tindak
langsung dengan melalui pengukuran terhadap kecakapan individu, di mana
kecakapan ini berkembang dengan perpaduan antara dasar dengan training
yang intensif dan pengalaman;
c. Aptitude, yaitu kualitas yang hanya diungkap atau diukur dengan tes khusus
yang sengaja dibuat untuk itu.
Lain lagi Guilford (1959:8) yang membagi bakat menjadi tiga dimensi, yaitu
75

dimensi perseptual, psikomotor, dan intelektual. Uraiannya :


a. Dimensi Perseptual : Adalah kemampuan dalam mengadakan persepsi, dan ini
meliputi fator-faktor :
1) Kepekaan indera;
2) Perhatian;
3) Orientasi ruang;
4) Orientasi waktu;
5) Luasnya daerah persepasi;
6) Kecepatan persepsi, dsb.
b. Dimensi Psikomotor : Mencakup enam faktor, yaitu :
1) Faktor kekuatan;
2) Faktor impuls;
3) Faktor kecepatan gerak;
4) Faktor ketelitian/ketepatan, yang terdiri atas dua macam :
a) Kecepatan statis, yang menitikberatkan pada posisi;
b) Kecepatan dinamis, yang menitikberatkan pada gerakan.
5) Faktor koordinasi;
6) Faktor keluwesan (flexibility).
c. Dimensi Intelektual : Dimensi inilah yang umumnya mendapat perhati-an
serius karena mempunyai implikasi sangat luas. Dimensi ini memiliki
lima faktor, yaitu :
1) Faktor ingatan, yang meliputi :
a) Ingatan mengenai substansi;
b) Ingatan mengenai relasi;
c) Ingatan mengenai sistem.
2) Faktor pengenalan, yang meliputi :
a) Pengenalan terhadap keseluruhan informasi;
b) Pengenalan terhadap golongan (kelas);
c) Pengenalan terhadap bubungan-hubungan;
d) Pengenalan terhadap bentuk atau struktur;
e) Pengenalan terhadap kesimpulan.
76

3) Faktor evaluatif, yang meliputi :


a) Evaluasi mengenai identitas;
b) Evaluasi mengenai relasi-relasi;
c) Evaluasi terhadap sistem;
d) Evaluasi terhadap penting tidaknya problem (kepekaan terhadap
masalah yang dihadapi).
4) Faktor berpikir konvergen, yang meliputi :
a) Faktor untuk menghasilkan nama-nama;
b) Faktor untuk menghasilkan hubungan-hubungan;
c) Faktor untuk menghasilkan sistem-sistem;
d) Faktor untuk menghasilkan transformasi;
e) Faktor untuk menghasilkan implikasi-implikasi yang unik.
5) Faktor berpikir divergen, yang meliputi :
a) Faktor untuk menghasilkan unit-unit, seperti : word fluency, ideational
fluency, dsb.
b) Faktor untuk mengalihkan kelas-kelas secara spontan;
c) Faktor kelancaran dalam menghasilkan hubungan-hubungan;
d) Faktor untuk menghasilkan sistem, seperti expressional fluency.
e) Faktor untuk transformasi divergen;
f) Faktor untuk menyusun bagian-bagian menjadi garis besar atau
kerangka.
Kesimpulannya, bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh
pengetahuan atau keterampilan yang relatif bersifat umum (misalnya bakat
intelektual umum) atau khusus (bakat akademik khusus). Bakat khusus ini
disebut juga talent atau talenta. Sedangkan kemampuan adalah daya jiwa untuk
melakukan sesuatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan.
2. Jenis-jenis Bakat Khusus.
Setiap orang mempunyai bakat khusus yang berbeda-beda. Pengenalan bakat
khusus ini mula-mula terjadi pada bidang pekerjaan, kemudian pada bidang
pendidikan. Hampir semua ahli ilmu jiwa yang menyusun tes untuk mengungkap
77

bakat khusus, berangkat dari dasar pemikiran analisis faktor. Menurut Guilford,
pada setiap aktivitas diperlukan berfungsinya faktor-faktor khusus. Pemberian
nama jenis-jenis bakat khusus biasanya dilakukan berdasarkan bidang di mana
bakat dimaksud berfungsi, misalnya bakat matematika, olah raga, seni, bahasa,
musik, teknik, dsb. Demikianlah maka bakat khusus ini sangat bergantung pada
konteks kebudayaan tempat seseorang hidup dan dibesarkan.

Jadi, faktor

pengalaman atau lingkungan sangat mempengaruhi pengembangan bakat


khusus.
3. Hubungan antara Bakat dengan Prestasi.
Dengan bakat, seseorang dapat mencapai prestasi di bidang tertentu, akan tetapi
tentu saja diperlukan juga latihan, pengalaman, pengetahuan, dan motivasi,
serta kesempatan untuk mengembangkannya. Orang tua dan guru harus
menaruh perhatian terhadap bakat anak-anaknya/siswanya dan mengusahakan
untuk menyalurkan pengembangan bakatnya itu melalui kesempatan pendidikan
dan pelatihan. Keunggulan meraka dalam salah satu bidang, misalnya olah raga,
seni, matematika, dll. merupakan hasil interaksi bakat yang dibawa sejak lahir
dengan faktor lingkungan yang
menunjang.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bakat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat terletak pada individu
anak itu sendiri dan lingkungannya.
a. Anak itu Sendiri. Jika anak kurang berminat untuk mengembangkan bakatbakatnya yang dia miliki, atau kurang termotivasi untuk mencapai prestasi
yang tinggi, atau mungkin juga karena mempunyai kesulitan atau masalah
pribadi, maka akan terhambat dalam pengembangan bakatnya;
b. Lingkungan.

Misalnya orang tuanya kurang mampu menyediakan ke-

sempatan dan sarana pendidikan yang dibutuhkan anak, atau mungkin secara
ekonomis mampu tetapi kurang memberi perhatian, maka akan terhambat
juga dalam pengembangan bakatnya.
78

5. Pendidikan Anak Berbakat di Indonesia.


a. Pengertian Anak Berbakat.
Pendidikan sekolah untuk anak/remaja di Indonesia ditempatkan secara
berjenjang sesuai dengan usianya, mulai TK, SD, SLTP, dan SLTA. Kuri-kulum
yang digunakan bersifat terpusat (centralized), artinya dipakai secara umum
untuk seluruh wilayah Indonesia. Terlihat di sini bahwa ada beberapa hal
yang belum tertangani dengan baik, di antaranya penanganan terhadap anak
berbakat. Padahal anak berbakat perlu penanganan khusus agar potensi yang
ada pada dirinya tersalurkan melalui suatu lembaga pendidikan khusus,
seperti halnya SLB.

Bedanya, SLB menangani anak-anak yang memiliki

kelemahan karena tidak berfungsinya salah satu bagian pada tubuhnya


(tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa, dsb).
Pendidikan anak berbakat di Indonesia diperlakukan sama dengan
pendidikan pada umumnya, dan hanya dilihat secara sistematik dari program,
fasilitas, guru, masukan, dan tujuan (Raka Joni, 1982).

Pada-hal secara

alamiah dan universal manusia itu berbeda satu sama lain dalam berbagai hal,
seperti bakat, inteligensia, kepribadian, kondisi jasmani, dsb. sehingga
mestinya dipikirkan cara menangani penyaluran berbagai perbedaan ini.
Pendidikan anak berbakat merupakan bagian terpadu dari pendidikan pada
umumnya, dengan kekhususan memberi kesempatan maksimal bagi anak
berbakat agar berfungsi sesuai dengan potensinya, sehingga diharapkan suatu
saat dia akan memberi sumbangan yang maksimal bagi peningkatan
kehidupannya sesuai dengan aktualisasi potensinya. Hal ini sesuai dengan
citra masyarakat yang dianut dengan memperhatikan kaitan fungsional antara
individu dengan masyarakat.
Pengertian anak berbakat menurut Swassing, (1985) dalam Fatimah (2008:
74) adalah anak yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan gabungan
ketiga sifat (kemampuan umum, komitmen yang tinggi terhadap tugas, dan
kreativitas yang tinggi) dan mengaplikasikannya dalam setiap tindakan yang
bernilai. Pengertian lain (ibid :74-75) me-nyebutkan bahwa anak berbakat
adalah anak yang mempunyai potensi di atas potensi yang dimiliki anak-anak
79

normal.

Dalam hal ini para ahli sepakat bahwa anak berbakat memiliki

keunggulan lebih bersifat bawaan daripada memani-pulasi lingkungan


sesudah anak dilahirkan. Di antara keunggulannya adalah superioritas dalam
bidang akademik. Ini tidak sulit difahami karena salah satu syarat penting
untuk meraih prestasi akademik tertentu adalah inteligensia. Hal lain yang
memberi kontribusi pada prestasi ini adalah kepribadian, karena dengan dasar
kepribadian yang baik, maka akan lahir karya-karya yang baik pula.
b. Karakteristik Anak Berbakat.
Anak berbakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan sangat
dipengaruhi oleh sifat-sifat, pemikiran, sikap, dan aktivitas anggota masyarakat yang lain, atau dipengaruhi oleh tingkat kebudayaan tempat di mana
mereka memperoleh pengalaman budaya. Dalam pergaulan inilah mereka
merasakan kesedihan dan kebahagiaan.

Faktor agama pun memberikan

dasar dan norma pribdi anak berbakat. Untuk menge-nali karakteristik anakanak berbakat, dapat dilihat beberapa aspek, di antaranya potensi, cara
menghadapi masalah, dan prestasi.
1) Potensi.
Anak-anak berbakat memiliki potensi unggul. Potensi ini disebabkan oleh
faktor

keturunan

seperti

hasil

penelitian

yang

dilakukan

oleh

Branfenbrenner (1972) dan Scarr Salaptek (1975) yang menyatakan secara


tegas, bahwa tidak ada keraguan faktor genetika memiliki andil besar
terhadap kemampuan mental seseorang. Karena itu menurut Jane Healy
(1978), dalam Fatimah (2008:76), semua perem-puan harus menyadari
pentingnya nutrisi yang baik demi anak yang dikandungnya. Selain itu janin
harus terhindar dari keracunan atau pengaruh sinar X yang datang dari
luar. Dari aspek proses belajar, faktor inteligensia, motivasi, emosi, dan
sosialisasi sangat menentukan pencapaian hasil atau prestasi belajar dalam
bentuk kesadaran.
Menurut Terman (1925), pada saat anak dilahirkan, anak ber-bakat
memiliki berat badan di atas berat badan normal. Dari segi fisik pada
umumnya mereka memiliki keunggulan seperti terlihat dari koordinasi,
80

daya tahan tubuh, dan kondisi kesehatan pada umumnya (French, 1959).
Anak-anak berbakat berkembang lebih cepat atau bahkan sangat cepat jika
dibandingkan dengan ukuran perkembang-an yang normal. Anak berbakat
memiliki superioritas intelektual, dan dalam berpikir sering meloncat dari
urutan berpikir yang normal (Gearheart, 1980), mampu dengan cepat
melakukan analisis (Sunan, 1983), dan memiliki irama perkembangan
kemajuan yang mantap (Swassing, 1985). Mereka juga sangat energik
(Meyen, 1978) sehing-ga kadang orang salah mendiagnosis mereka sebagai
anak yang hiperaktif.
Anak-anak berbakat pun memiliki keunggulan pada aspek psikologis
yang lain, yaitu emosi. Menurut French dan Gearheart, anak-anak berbakat
memiliki stabilitas emosional yang mantap sehingga mereka mampu
mengendalikan masalah-masalah personal (Heward, 1980). Rasa tanggung
jawab serta cita rasa humor pun tinggi. Demikian pula karakteristik sosial
yang dimiliki anak-anak berbakat adalah cakap mengevaluasi keterbatasan
dan kelebihan yang dimiliki dirinya dan orang lain. Sifat ini akan membuat
anak-anak berbakat tampil bijaksana.
2) Cara Menghadapi Masalah.
Yang dimaksud menghadapi masalah adalah keterlibatan seluruh aspek
biologis dan psikologis setiap anak berbakat pada saat mereka berhadapan
dengan masalah tersebut. Mereka akan memilih pende-katan, metode,
dan alat yang strategis sehingga diperoleh pemecah-an masalah yang
efisien dan efektif. Langkah awalnya dia mempunyai keinginan yang kuat
untuk mengetahui banyak hal (Gearheart, 1980), kemudian akan
melakukan ekspedisi dan eksplorasi terhadap peng-ukuran saja. Setelah
dipikirkan dengan baik akan memunculkan pemikiran dalam bentuk sikap
dan tingkah laku.

Tingkah laku yang muncul adalah mengajukan

pertanyaan-pertanyaan secara kritis, yang diajukan kepada dirinya sendiri


dan orang lain yang sebaya. Karakteristik yang dimiliki anak berbakat
dalam menghadapi masalah antara lain (Fatimah, 2008:77) :
a) Mampu melihat hubungan permasalahan itu secara komprehensif dan
81

mengaplikasikan konsep-konsep yang kompleks dalam situasi yang


konkrit;
b) Terpusat pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan;
c) Suka bekerja secara independen dan membutuhkan kebebasan dalam
bergerak dan bertindak;
d) Menyukai cara-cara baru dalam mengerjakan sesuatu dan mempunyai
intens untuk berkreasi.
3) Prestasi.
Prestasi anak berbakat dapat dilihat dari segi fisik, psikologis, akademik,
dan sosial. Secara fisik, anak berbakat memiliki daya tahan tubuh yang
prima serta koordinasi gerak fisik yang harmonis. Sejak bayi dia mampu
berjalan dan berbicara lebih awal dibandingkan anak-anak normal
(Swanson, 1979). Secara psikologis, anak berbakat memiliki kemampuan
emosi yang unggul, dan secara sosial pada umumnya adalah anak populer
serta mudah diterima oleh masyara-kat (Geaheart, Heward, 1980). Secara
akademik, anak berbakat memiliki sistem syaraf pusat (otak dan spinal
cord) yang prima, karenanya dia dapat mencapai tingkat kognitif yang
tinggi. Menurut Bloom, kognitif tingkat tinggi meliputi berpikir aplikasi,
analisis, sinte-sis, evaluasi, sedangkan kognitif tingkat rendah terdiri dari
berpikir, mengetahui, dan komprehensif.
Dalam usia yang lebih muda dari anak-anak yang normal, anak-anak
berbakat sudah mampu membaca, yang terus berkembang secara
konsisten. Mereka mampu menggunakan perbendaharaan kata yang sudah
maju (Ingram, 1983). Selain memiliki keunggulan-keunggulan, ternyata
menurut Swassing (1985), anak-anak berbakat pun mempunyai karakteristif negatif (Fatimah, 2008:78), yaitu :
a) Mampu mengkatualisasikan pernyataan secara fisik berdasarkan
pemahaman pengetahuan yang sedikit;
b) Dapat mendominasi diskusi;
c) Tidak sabar untuk segera maju ke tingkat berikutnya;
d) Suka rebut;
82

e) Memilih kegiatan membaca daripada berpartisipasi aktif dalam kegiatan


masyarakat atau kegiatan fisik;
f) Suka melawan aturan, petunjuk atau prosedur tertentu;
g) Jika memimpin diskusi akan membawa situasi diskusi ke situasi
yang harus selalu tuntas;
h) Bisa frustrasi disebabkan tidak jalannya aktivitas sehari-hari;
i) Menjadi bosan karena banyak hal yang diulang-ulang;
j) Menggunakan humor untuk memanipulasi sesuatu;
k) Melawan jadwal yang hanya didasarkan atas pertimbangan waktu saja,
bukan atas pertimbangan tugas;
l) Mungkin akan kehilangan intens dengan cepat.
c. Menangani Anak Berbakat.
Bakat luar biasa yang dimiliki seorang anak memerlukan serangkaian
rangsangan (stimulus) yang sistematis, terancana, dan terjadwal, agar menjadi
aktual dan berfungsi dengan baik.

Jika dibiarkan mengandalkan asas

kematangan saja, tidak akan sempurna sehingga bakat-bakat yang ada tidak
akan berkembang dengan baik.

Nah, peran lingkungan sebagai pemicu

stimulus sangat besar pengaruhnya dalam menentukan sampai di mana


tahapan terlaksana, dan hasil akhir suatu perkem-bangan dicapai.
Dalam upaya mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki anak agar
bakatnya itu berfungsi optimal, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
1) Faktor yang terdapat pada individu si anak itu sendiri, yaitu semua ciri
khusus atau bakat secara obyektif. Dalam hal ini terdapat perbedaan bakat
:
a) Berbakat luar biasa pada fungsi-fungsi yang berhubungan dengan proses
informasi (kognitif) sehingga mempengaruhi aspek-aspek lain;
b) Berbakat luar biasa hanya pada salah satu atau beberapa aspek,
(kognitif, afektif, psikomotorik) atau yang berhubungan dengan
keterampilan-keterampilan khusus.
2) Faktor kurikulum, yang meliputi :
a) Substansi dan cara pelaksanaan yang disesuaikan dengan keadaan anak
83

(child centered), yang sebelumnya telah dilakukan identifikasi tentang


keadaan khusus yang ada pada anak secara obyektif;
b) Perlu ditekankan bahwa kurikulum pada pendidikan khusus anak
berbakat tidak terlepas dari kurikulum dasar yang diberikan untuk anak
lain. Jadi perbedaannya hanya terletak pada penekanan dan
penambahan suatu bidang sesuai dengan kebutuhannya;
c) Kurikulum khusus diarahkan agar rangsangan yang diberikan berpengaruh dalam menambah atau memperkaya program (enrichment
program) tidak semata-mata mempercepat (accelerate) berfungsinya
bakat dimaksud;
d) Isi kurikulum harus mengarah pada perkembangan kemampuan anak
yang berorientasi inovatif untuk mencapai sesuatu, dan tidak reproduktif hanya memunculkan apa yang dimiliki tanpa dilatih menjadi
kreatif. Kreatifitas ini diarahkan agar tertanam sikap hidup yang mau
mengabdi, melayani, dan mengamalkan pengetahuannya demi kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara.
d. Pelaksanaan Pendidikan Anak Berbakat.
1) Skipping atau Akselerasi.
Usia mental (mental age) pada anak yang lebih tinggi daripada usia
sebenarnya (chronogical age) akan menimbulkan perasaan tidak puas pada
diri mereka belajar bersama anak-anak seumurnya. Karena itu ada upaya
untuk meloncatkan ke kelas yang lebih tinggi (skipping atau akselerasi).
Akan tetapi hal ini akan memunculkan masalah, di antaranya :
a) Mempermudah timbulnya masalah penyesuaian baik di sekolah, rumah,
maupun lingkungan sosialnya;
b) Norma yang berlaku di kelas lebih tinggi belum tentu sesuai dengan norma dari anak berbakat itu;
c) Kesulitan administrasi sekolah yang meliputi pengaturan tenaga pengajaran karena harus memberikan pelajaran secara individual kepada
anak;
d) Akan timbul kesulitan dalam penyesuaian diri, baik sosial mapun emosi84

onal karena terbatasnya hubungan sosial dengan teman-teman


sebayanya.
2) Special Grouping Segregation (Pendidikan dalam Kelompok Khusus).
Untuk melaksanakan pendidikan dalam kelompok, terdapat beberapa
kemungkinan, yaitu :
a) Model A.
Cara ini bisa dilakukan di setiap sekolah di mana anak berbakat
mengikuti secara penuh pelajaran di sekolah, tetapi setelah itu memperoleh pelajaran tambahan dalam kelas khusus. Akan tetapi model ini
ada kelemahannya :
- Berkurangnya waktu untuk melakukan kegiatan lain yang diperlukan
untuk mengembangkan aspek kepribadiannya, misalnya pergaulan,
olah raga, kesenian, dll.
- Pada waktu mengikuti kelas biasa, dia merasa bosan, dan bagi anakanak kecil kemungkinan akan menggan ggu teman-teman lainnya;
- Di kelas biasa, anak tidak terlatih bersaing dan bekerja keras untuk
mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
b) Model B.
Anak mengikuti kelas biasa tetapi tidak seluruhnya (mungkin hanya 75%,
60%, atau 50%) ditambah dengan mengikuti kelas khusus. Jumlah jam
pelajarannya tetap sehingga menguntungkan karena anak masih
mempunyai waktu untuk mengembangkan aspek-aspek kepribadiannya.
Dengan jumlah jam pelajaran cukup lama di kelas khusus, keuntungan
lainnya bagi anak adalah mem-peroleh kesempatan bersaing dengan
teman-teman lain yang mempunyai potensi berbeda. Namun kelemahannya seperti pada model A, yaitu anak merasa bosan ketika berada di kelas biasa, dan mungkin menganggap semua mata pelajaran
mudah, sehingga tumbuh kesombongan dan terlalu percaya diri.
c) Model C.
Anak-anak berbakat dimasukkan dalam kelas khusus secara pe-nuh.
Kurikulumnya dibuat khusus demikian pula guru-gurunya. Keuntungan
85

model ini adalah mudah mengatur pelaksanaannya, dan pada siswa pun
terjadi persaingan dengan teman-temannya yang seimbang kemampuannya. Jumlah mata pelajaran dan kece-patan dalam menyelesaikannya
disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan anak. Namun kerugiannya
akan terjadi pada anak-anak normal yang sebaya, sehingga proses
sosialisasi di sekolah menjadi berkurang.

Kerugian lainnya adalah

perlakuan istimewa oleh pihak sekolah dan gutru-guru mudah menimbulkan perasaan harga diri berlebihan (superiority complex) karena
merasa berada pada kelas yang eksklusif.
d) Model D.
Ini adalah sekolah khusus yang hanya mendidik anak-anak berbakat.
Dari sudut administrasi sekolah mudah diatur, tetapi dari sudut anak
banyak kerugiannya, karena mereka akan terlempar jauh dari
lingkungan sosialnya, dan menjadi anggota kelompok sosial khusus
(istimewa). Dilihat dari aspek kepribadian, perkem-bangannya sangat
mengkhawatirkan karena pergaulannya yang terbatas dan sulit menyesuaikan diri, padahal dengan pergaulan yang luas dan bervariasi, nilai
sebagai anggota masyarakat akan tumbuh.
3) Implementasi Kurikulum Bidang Studi Tertentu.
Beberapa kegiatan khusus sebagai contoh program dalam menjalankan
kurikulum anak berbakat di SD :
a) Membaca;
b) Menulis;
c) Berhitung/matematika;
d) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS);
e) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA);
f) Kesehatan;
g) Bahasa dan Kesenian.
4) Metode Belajar dan Guru.
Metode belajar yang paling cocok bagi anak berbakat adalah belajar
melalui kelompok kecil atau individual. Jika anak berbakat harus belajar
86

dalam kelompok besar, pendekatannya adalah full out enrichment, dan


akselerasi harus menjadi dasar untuk pengembangan pada perbedaan
potensinya. Dalam hal ini guru sebagai pembimbing harus memenuhi
beberapa syarat, di antaranya memiliki inteligensia yang tinggi dan minat
luas dalam berbagai bidang, mau belajar bersama siswa terus-menerus, dll.
Minat ini harus disampaikan dengan baik.
6. Upaya Pengembangan Bakat Khusus Remaja dan Implikasinya terhadap Penyelenggaraan Pendidikan.
Sebelum upaya pengembangan bakat-bakat khusus dilakukan bagi para siswa di
sekolah, diperlukan informasi yang menyangkut :
a. Cara mengidentifikasi para siswa yang mempunyai bakat-bakat khusus;
b. Karakteristik atau ciri-ciri siswa yang mempunyai bakat khusus;
c. Alat-alat yang dapat digunakan untuk mengetahui bakat-bakat khusus.
Sampai sekarang belum ditemukan tes bakat khusus yang cukup luas daerah
pemakaiannya (seperti tes inteligensia). Berbagai tes bakat seperti misalnya :
a. FACT (Flanegen Aptitude Classification Test) yang disusun oleh Flanegen;
b. DAT (Differential Aptitude Test) yang disusun oleh Binnet;
c. M-T Test (Mathematical and Technical Test) yang disusun oleh Luningprak,
masih sangat terbatas jangkauan dan daerah berlakunya. Hal ini mengingat
tes bakat sangat terikat oleh konteks kebudayaan tempat tes itu disusun
dan dilaksanakan, di samping keterikatan pola kebudayaan di mana anak
berbakat dibesarkan.
Tes atau alat ukur apa yang digunakan tentu saja bergantung pada macam
bakat yang ingin dikenali. Biasanya orang tua mengenali bakat khusus anak
dengan pengamatan (observasi) terhadap apa yang selalu dikerjakan dan
digemari anak. Dengan mengenali bakat khusus anak-anak, orang tua dan guru
harus memahami dan memenuhi kebutuhan mereka, antara lain dengan
menyediakan lingkungan pendidikan yang sesuai dengan bakat anak tersebut.
Juga dapat membantu anak-anak dalam me-mahami potensi dirinya, dan tidak
melihatnya sebagai suatu beban, melainkan sebagai suatu anugrah yang harus
87

dihargai dan dikembangkan. Manfaat dari pengenalan bakat khusus anak-anak


ini antara lain dapat membantu sekolah dalam penyusunan program dan
prosedur pemanduan anak-anak berbakat, dengan memberikan informasi yang
dibutuhkan tentang ciri-ciri dan keadaan anak mereka. Sebagai contoh, orang tua
memberikan keterangan tentang :
a. Hobi dan minat yang khusus;
b. Jenis buku yang disenangi;
c. Masalah dan kebutuhan pokok;
d. Prestasi yang pernah dicapai;
e. Pengalaman-pangalaman khusus;
f. Kegiatan kelompok yang disenangi;
g. Kegiatan mandiri yang disenangi;
h. Sikap anak terhadap sekolah dan guru;
i. Cita-cita di masa depan, dll.
Anak akan merasa aman secara psikologis jika :
a. Guru sebagai pendidik dapat menerima sebagaimana adanya tanpa syarat,
dengan segala kekuatan dan kelemahannya, serta memberi kepercayaan
bahwa pada dasarnya semua siswa baik dan mampu;
b. Guru sebagai pendidik mengusahakan suasana yang mengondisikan anak
tidak merasa dinilai. Mengapa? Karena memberi penilaian terhadap seseorang dapat dirasakan sebagai suatu ancaman, sehingga menimbulkan
kebutuhan pertahanan diri;
c. Pendidikan memberikan pengertian, dalam arti dapat memahami pemikiran
dan perilaku anak, dapat menempatkan diri dalam situasi anak dan melihat
dari sudut pandang atau pola pikir anak. Dalam suasana seperti ini, anak-anak
akan merasa aman untuk mengungkapkan atau mengekspresikan bakat mereka.
Demikianlah maka anak akan merasakan kebebasan psikologis jia mendapat
kesempatan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Selain itu
pendidikan hendaknya berfungsi sebagai media pengembangan dan pembinaan
bakat anak, sehingga tidak semata-mata menyajikan kumpulan pengetahuan
88

yang bersifat abstrak dan skolastik. Pengenalan dan upaya pengembangan bakat
akan membantu anak/remaja menentukan pilihan yang tepat dan mempersiapkan dirinya untuk mencapai tujuan dan karier kehidupannya.

D. PERKEMBANGAN HUBUNGAN SOSIAL REMAJA


1. Pengertian Hubungan Sosial.
Kehidupan anak pada dasarnya merupakan kemampuyan berhubungan dan
berinteraksi dengan lingkungan sosial budayanya. Pada proses inter-aksi ini
faktor intelektuan dan emosional mengambil peran sangat penting. Proses sosial
dimaksud merupakan proses sosialisasi yang menempatkan anak-anak sebagai
insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi, internalisasi, dan
enkulturisasi. Sebab manusia tumbuh dan berkembang di dalam konteks
lingkungan sosial budaya. Lingkungan sosial budaya mem-beri banyak pengaruh
terhadap pembentukan kepribadian anak, terutama kehidupan sosiopsikologisnya.
Sosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap
kehidupan sosial, yaitu bagaimana seharusnya seseorang hidup di dalam
kelompok, baik kelompok primer (keluarga) maupun kelompok sekunder
(masyarakat). Proses sosialisasi dan interaksi sosial dimulai sejak manusia lahir,
yang berlangsung terus hingga dewasa atau tua.
Menurut Piaget, interaksi sosial anak pada tahun pertama sangat terbatas,
terutama pada ibu-bapaknya. Perilaku sosial terpusat pada rasa egonya, belum
memperhatikan keadaan lingkungannya. Waktu hidupnya hanya digunakan
untuk makan dan tidur. Tahun kedua, anak sudah mulai mereaksi lingkungan,
sudah belajar membedakan dirinya dengan orang lain. Perilaku emosionalnya
telah berkembang dan berperan. Dia telah mengenal orang-orang lain anggota
keluarga dan teman-teman sebayanya selain ibu bapaknya. Pergaulannya dengan
orang-orang lain semakin luas. Pada waktu anak mulai belajar di sekolah, ia mulai
belajar mengembangkan interaksi sosial dengan menerima pandangan, nilai, dan
norma sosial. Menginjak usia remaja dia mampu berinteraksi dengan teman
89

sebaya terutama lawan jenisnya. Pada akhirnya pergaulan sesama manusia


menjadi suatu kebutuhan dalam kehidupannya. Demikianlah, maka hubungan
sosial merupakan hubungan antarmanusia yang saling membutuhkan. Hubungan
sosial dimulai dari tingkat yang sderhana dan terbatas, sampai pada tingkat yang
luas dan kompleks. Pada perkembangan berikutnya, seorang remaja bukan saja
perlu orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi juga untuk
berperanserta dan berkontribusi memajukan kehidupan masyarakatnya.
2. Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja.
Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan, remaja mulai memperhatikan
berbagai nilai dan norma pergaulan, yang berbeda dengan nilai dan norma yang
berlaku dalam keluarganya. Ia mulai memahami nilai dan norma pergaulan
dalam kelompok anak-anak, kelompok remaja, kelompok orang dewasa dan
orang tua. Kehidupan sosial di usia remaja ditandai oleh menonjolnya fungsi
intelektual dan emosional. Hubungan sosial yang terjadi bisa bersifat tertutup
dan terbuka seiring dengan masalah pribadi yang dialaminya. Keadaan ini
menurut Erickson dinyatakan sebagai krisis identitas diri. Proses pembentukan
identitas diri dan konsep diri merupa-kan sesuatu yang kompleks. Konsep diri ini
tidak hanya terbentuk dari bagaimana remaja percaya tentang keberadaan
dirinya, tetapi juga dari bagaimana orang lain menilai keberadaan dirinya.
(Fatimah, 2010:90).
Perkembangan anak sampai jenjang dewasa adalah masa di mana anak ingin
menentukan jati dirinya dan memilih kawan akrabnya. Seringkali anak-anak
menemukan jati dirinya sesuai dengan atau berdasarkan pada situasi kehidupan
yang mereka alami. Banyak remaja yang percaya pada kelompok mereka dalam
menentukan jati dirinya. Menurut Erickson, bahwa penemuan jati diri seseorang
didorong oleh pengaruh sosiokultural. Hal ini bertentangan dengan pendapat
Freud yang menyatakan kehidupan sosial remaja (pergaulan dengan sesama
terutama dengan lawan jenis), didorong oleh dan berorientasi pada kepentingan
seksual. Semua perilaku katanya didorong oleh kepentingan seksual.
Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok, baik kecil
90

maupun besar. Dalam menetapkan kelompok yang diikuti, didasari oleh berbagai
pertimbangan, seperti moral, sosial-ekonomi, minat dan kesamaan bakat, serta
kemampuan. Masalah yang umumnya dihadapi oleh remaja yang paling rumit
adalah faktor penyesuaian diri.

Di dalam kelom-pok besar akan terjadi

persaingan yang berat, masing-masing individu bersaing untuk tampil menonjol,


memperlihatkan aku nya. Oleh karena itu sering terjadi perpecahan dalam
kelompok tersebut yang disebabkan menonjolkan kepentingan pribadi setiap
orang. Tetapi sebaliknya terben-tuk pula suatu persatuan yang kokoh, yang diikat
oleh norma kelompok yang telah disepakati.
Nilai positif dalam kehidupan kelompok adalah setiap kelompok belajar
berorganisasi, memilih pemimpin, dan mematuhi aturan kelompok.

Bahkan

dalam mempertahankan dan melawan serangan kelompok lain, lebih dijiwai


oleh keutuhan kelompoknya tanpa mempedulikan obyektivitas kebenaran.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial.
Beberapa fastor yang mempengaruhi perkembangan sosial manusia adalah
keluarga, kematangan anak, status sosial-ekonomi keluarga, tingkat pendidikan,
dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensia.
a. Keluarga.
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang memberikan
pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Keadaan dan tata cara kehidupan keluarga merupakan
lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku
norma-norma kehidupan keluarga, sehingga pada dasarnya keluarga
merekayasa perilaku kehidupan budaya anak.

b. Kematangan.
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu
mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat
orang lain, memerlukan juga kematangan intelektual dan emosional, di
samping kemampuan berbahasa.
91

c. Status Sosial-Ekonomi.
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh keadaan atau status sosial keluarga
dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat umumnya memandang anak bukan
sebagai yang independen, melainkan terkait secara utuh dalam keluarganya,
sehingga muncul pernyataan anak siapa. Dalam pergaulan sosial pun secara
tidak langsung masyarakat menge-lompokkan dan memperhitungkan norma
yang berlaku di dalam keluar-ga si anak. Dari pihak si anak sendiri, perilakunya
akan banyak memper-hatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh
kaluarganya. Dengan demikian dalam kehidupan sosial anak akan menjaga
status sosial dan ekonomi keluarganya. Hal ini memang kurang baik karena
anak akan menjadi terisolasi dari kelompoknya, akibatnya bisa jadi akan
membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.
d. Pendidikan.
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat
pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu nyang normatif akan memberi
warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di
masa datang. Pendidikan harus dimaknai bahwa perkembangan anak
dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Penanaman
norma perilaku yang benar secara sengaja harus diberikan kepada anak yang
belajar di sekolah. Kepada anak (peserta didik) bukan saja dikenalkan kepada
norma-norma yang dekat, tetapi juga kepada norma-norma kehidupan
kebangsaan (nasional) dan antar bangsa (internasional). Etika pergaulan dan
pendidikan moral diajarkan secara terprogram dengan tujuan untuk
membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
e. Kapasitas Mental : Inteligensia dan Emosi.
Kemampuan berpikir mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar,
memecahkan masalah, dan berbahasa untuk komunikasi. Perkembangan
emosi pun sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak. Anak
yang berkemampuan intelektual tinggi akan ber-kemampuan berbahasa
secara baik. Oleh karenanya, kemampuan intelektual tinggi yang didukung
kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional yang seimbang,
92

akan sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.


Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain, merupakan modal utama dalam kehidupan sosial, dan hal ini akan mudah dicapai oleh
anak dan remaja yang berkembampuan intelektual tinggi. Pada kasus
tertentu, seorang jenius atau superior sukar untuk bergaul dengan kelompok
sebayanya, karena pemahaman mereka telah setingkat dengan kelompok usia
yang lebih tinggi. Sebaliknya kelompok usia yang lebih tinggi atau dewasa
dapat menganggap dan memper-lakukan mereka sebagai anak-anak.
4. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku Remaja.
Dalam perkembangan sosial, para remaja dapat memikirkan dirinya dan orang
lain. Pikiran itu terwujud dalam refleksi diri yang sering mengarah ke penilaian
diri dan kritik dari hasil pergaulannya dengan orang lain. Pikiran remaja sering
dipengaruhi oleh ide-ide dari teori-teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap
situasi dan orang lain, termasuk orang tuanya. Setiap pendapat orang
dibandingkannya dengan teori yang diikuti atau diharapkan. Sikap kritis ini juga
ditunjukkan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya,
sehingga tata cara, adat-istiadat yang berlaku di lingkungan keluarga sering
terasa bertentangan dengan sikap kritis yang tampak pada perilakunya.
Kemampuan abstraksi (pemisahan, pemindahan) menimbulkan kemampuan
mempermasalahkan kenyataan dan peristiwa-peristiwa dengan keadaan
bagaimana yang semestinya menurut alam pikirannya. Situasi yang diakibatkannya akan menimbulkan perasaan tidak puas dan putus asa. Di samping itu
pengaruh egoisme masih sering terlihat pada pikiran remaja, misalnya :
a. Cita-cita dan idealisme yang baik, terlalu menitikberatkan pikiran sen-diri,
tanpa mempertimbangkan kesulitan yang akan menyebabkan tidak
berhasilnya menyelesaikan persoalan;
b. Pendapat sendiri belum disertai pendapat orang lain dalam penilaiannya.
Masih sulit membedakan pokok perhatian orang lain daripada tujuan
perhatian diri sendiri. Dalam hal ini pandangan sendiri dianggap sama dengan
pendapat orang lain mengenai dirinya.
93

Sifat egois ini sering dapat menyebabkan kekakuan para remaja dalam cara
berpikir maupun bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada masa remaja
banyak bertalian dengan perkembangan fisik yang dirasa-kan mengganggu
dirinya dalam bergaul, sebab disangkanya orang lain berpikiran sama dengan
dirinya dan ikut tidak puas tentang penampilan dirinya. Hal ini akan
menimbulkan perasaan seolah-olah dirinya diamati orang lain, sehingga
timbul rasa malu yang membatasi gerak-geriknya. Akibatnya, akan terlihat
pada tingkah laku remaja yang canggung.
Proses penyesuaian diri yang dilandasi sifat egonya dapat menimbulkan
reaksi lain di mana remaja itu justru melebih-lebihkan dari dalam penilaian
diri. Mereka merasa dirinya ampuh atau hebat sehingga berani menantang malapetaka dan menceburkan diri dalam aktivitas yang acapkali
dipikirkan atau direncanakan. Aktivitas yang dilakukan ini pada umumnya
tergolongkan aktivitas yang membahayakan. Tetapi melalui banyak pengalaman dan penghayatan kenyataan dalam meng-hadapi pendapat orang lain,
maka sifat ego akan semakin berkurang, sehingga remaja sudah dapat
berhubungan dengan orang lain tanpa meremehkan pendapat atau
pandangan orang lain tersebut.
5. Perbedaan Individual dalam Perkembangan Sosial Remaja.
Bersosialisasi (bergaul) antar sesama manusia dilakukan oleh setiap orang, baik
secara individual maupun berkelompok. Sesuai dengan teori kom-prehensif
mengenai perkembangan sosial yang dikembangkan oleh Erickson, maka dalam
upaya memenuhi kebutuhan hidupnya setiap orang menempuh langkah yang
berlainan satu dengan yang lainnya. Menurut teori Erickson, anak manusia hidup
dalam kesatuan kesatuan budaya yang utuh. Alam dan kehidupan masyarakat
menyediakan segala hal yang dibutuhkan manusia. Namun sesuai dengan minat,
kemampuan, dan latar belakang kehidupan budayanya, maka berkembang
kelompok-kelompok sosial yang beranekaragam. Remaja yang telah mulai
mengembangkan kehidupan bermasyarakat, maka telah mempelajari pola-pola
sosial yang sesuai dengan kepribadiannya.
94

6. Upaya Pengembangan Hubungan Sosial Remaja dan Implikasinya dalam


Penyelenggaraan Pendidikan.
Sebagai makhluk sosial, remaja dituntut untuk mampu mengatasi segala
permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksinya dengan lingkungan
sosial, dan mampu menampilkan diri sesuai dengan norma yang berlaku dalam
masyarakat.

Karenanya dia dituntut pula untuk menguasai keterampilan-

keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan


sekitarnya. Keterampilan-keterampilan ini biasa disebut sebagai aspek psikososial. Hal ini harus mulai dikembangkan sejak anak-anak, misalnya dengan
memberi cukup waktu untuk bermain atau bercanda dengan teman-teman
sebayanya, memberikan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan perkembangannya, dsb.
Keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi sangat
penting manakala anak kemudian menginjak masa remaja, karena sudah mulai
memasuki dunia pergaulan yang makin luas, sehingga pengaruh teman-teman
dan lingkungan sosial akan sangat menentukan. Kegagalan remaja dalam
menguasai keterampilan-keterampilan sosial dapat menyebabkan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, sehingga dapat menyebabkan rasa
rendah diri, dikucilkan dalam pergaulan, cenderung berprilaku yang kurang
normative (misalnya anti social), bahkan dalam perkembangan yang lebih
ekstrim bisa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan
kekerasan, kriminal, dsb.
Menurut Davis dan Forsythe (1984) dalam Fatimah (2010:96), dalam kehidupan remaja terdapat delapan aspek yang menuntut ketrampilan sosial (social
skill), yaitu : Keluarga, lingkungan, kepribadian, rekreasi, pergaulan dengan lawan
jenis, pendidikan, persahabatan dan solidaritas kelompok, dan lapangan kerja.
a. Keluarga.
Keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi anak mendapatkan pendidikan. Kepuasan psikis yang didapat anak dalam keluarga akan akan sangat
menentukan bagaimana dia akan bereaksi terhadap ling-kungan. Anak-anak
yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis (broken home) tidak
95

akan mendapatkan kepuasan psikis yang cukup, dan akan sulit mengembangkan keterampilan sosialnya. Hal ini dapat dilihat dari :
1) Kurang adanya saling pengertian (low mutual understanding);
2) Kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan orang tua dan saudara;
3) Kurang mampu berkomunikasi secara sehat;
4) Kurang mampu mandiri;
5) Kurang mampu memberi dan menerima sesama saudara;
6) Kurang mampu bekerjasama;
7) KUrang mampu mengadakan hubungan yang baik.
Itulah sebabnya keharmonisan rumah tangga atau keluarga sangat penting
tercipta. Keharmonisan tidak berarti adanya keutuhan kedua orang tua, sebab
bisa saja karena sesuatu hal, orang tua single. Hal yang paling penting adalah
suasana hangat dan menyenangkan serta demokratis, sehingga anak dapat
menjalin komunikasi timbal balik yang baik dengan orang tua maupun
saudara-saudaranya.
b. Lingkungan.
Sejak awal, anak-anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan.
Lingkungan dimaksud meliputi lingkungan fisik (rumah, pekarangan,
perabotan), lingkungan keluarga (keluarga primer, sekunder), lingkungan
sosial (tetangga), lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat luas (bisa
ditinjau dari aspek wilayah, misalnya desa, kecamatan, kabu-paten, dst. atau
aspek strata sosial).

c. Kepribadian.
Penampilan (performance) sering diidentikkan dengan manifestasi dari
kepribadian seseorang.

Ini tidak tepat, karena apa yang tampak dalam

permukaan tidak selalu menggambarkan pribadi yang sebenarnya. Bisa saja


sedang bersandiwara atau kamuflase. Bagi anak hal ini penting sehingga tidak
menilai orang lain hanya dari penampilannya, di sini pula orang tua
memberikan penanaman nilai-nilai yang menghargai harkat dan martabat
orang lain tanpa mendasarkan pada hal-hal fisik, materi, ataupun penampilan.
96

d. Rekreasi.
Rekreasi atau hiburan merupakan kebutuhan sekunder yang sebaiknya
terpenuhi. Dengan rekreasi seseorang akan merasa mendapat kesegaran fisik
maupun psikis, sehingga terlepas dari rasa capek, bosan, monoton, serta
mendapatkan suasana dan semangat baru.
e. Pergaulan dengan Lawan Jenis.
Anak-anak dan remaja dalam pergaulannya seyogianya tidak dibatasi hanya
dengan teman-teman yang memiliki jenis kelamin yang sama. Pergaulan
dengan lawan jenis akan memudahkan anak dan remaja dalam mengidentifikasi sex role behavior yang menjadi sangat penting dalam persiapan
berkeluarga nantinya. Tentu saja harus diperingatkan akan norma-norma
kesopanan, kesusilaan, dan terutama norma hukum dan agama.
f. Pendidikan.
Dalam proses pendidikan di sekolah, diajarkan berbagai keterampilan pada
anak-anak, yang salah satu di antaranya adalah keterampilan sosial yang
dikaitkan dengan cara-cara belajar yang efisien. Orang tua hendak-nya tetap
menjaga agar keterampilan-keterampilan tersebut dimiliki oleh anak dan
dikembangkan terus-menerus sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangannya.
g. Persahabatan Kelompok dan Solidaritas.
Pada masa remaja, teman-teman dan kelompok berperan amat besar, bahkan
dalam hal-hal tertentu sering dijumpai remaja lebih mementingkan urusan
teman dan kelompok tinimbang urusan keluarganya. Hal ini normal saja
sejauh kegiatan yang dilakukan mereka bertujuan positif dan tidak merugikan
orang lain. Orang tua dalam hal ini perlu memberikan dukungan sekaligus
pengawasan agar remaja memiliki pergaulan yang luas, luwes, dan bermanfaat bagi perkembangan psikososialnya.
h. Lapangan Kerja.
Pada akhirnya cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menghadapi dunia
kerja sebagai bekal dalam kehidupan dan penghidupannya. Keterampilan
sosial untuk memilih lapangan kerja sebenarnya sudah dipersiapkan melalui
97

pelajaran di sekolah. Setelah keluar SLTP dan akan masuk SLTA, mereka akan
memahami lapangan kerja yang akan mereka tempuh yang akan
mengarahkan masa depannya. Tatkala tidak dapat melanjutkan sekolah ke
perguruan tinggi, mereka akan siap untuk bekerja. Dalam hal ini baik orang
tua maupun sekolah berperan dalam membimbing anak dan remaja untuk
senantiasa mempersiapkan dunia kerja, sesuai dengan bakat dan minat
mereka.
Untuk hal-hal yang dikemukakan di atas, sejak awal kepada anak-anak harus
ditumbuhkan kemampuan penyesuaian diri sehingga memahami kelebihan dan
kekurangan dirinya.

Dengan demikian diharapkan mereka akan mampu

mengendalikan dirinya sehingga dalam menghadapi berbagai hal dapat bereaksi


secara wajar dan normatif. Orang tua dan guru ber-tugas membekali anak-anak
dengan membiasakan diri untuk menerima dirinya, menerima orang lain, tahu
dan mau mengakui kekeliruan dan kesalahannya, dsb. Kepada mereka harus
diajarkan memilih prioritas tugas-tugas yang segera harus dilaksanakan/diatasi,
bukan menunda atau mengalihkan perhatian pada tugas yang lain.
Anak dan remaja pada masa-masa pencarian jatidirinya memiliki sikap yang
bisa jadi terlalu tinggi menilai dirinya atau sebaliknya. Pada umumnya mereka
belum memahami benar tentang norma-norma sosial yang berlaku di dalam
kehidupan bermasyarakat. Keadaan tersebut di atas dapat menimbulkan
hubungan sosial yang kurang serasi, karena mereka sukar untuk menerima
norma sesuai dengan kondisi dalam kelompok atau masyarakat yang ada. Sikap
menentang dan canggung dalam pergaulan akan merugikan antar orang/kelompok.
Penciptaan kelompok sosial remaja perlu dikembangkan untuk memberikan
rangsangan kepada mereka ke arah perilaku yang bermanfaat dan dapat
diterima umum. Kelompok-kelompok seperti perkumpulan olah raga, kesenian,
koperasi, dsb. di bawah asuhan pendidik di sekolah atau tokoh masyarakat di
lingkungan masyarakat, kiranya perlu ada/dibentuk, misalnya dengan kegiatan
bakti sosial, bakti karya, donor darah, dll.

98

E. PERKEMBANGAN BAHASA REMAJA


1. Pengertian Perkembangan Bahasa.
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam
berinteraksi atau bergaul dengan orang lain. Sejalan dengan perkembangan
hubungan sosial, maka perkembangan bahasa seseorang (bayi-anak) dimulai
dengan meraba (suara atau bunyi tanpa arti) yang kemudian diikuti dengan
bahasa dari satu bunyi, satu suku kata, dua-tiga suku kata, kata-kata, kemudian
menyusun kalimat sederhana, yang kemudian melakukan sosialisasi dengan
menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial di
mana dia berada.
Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti
faktor intelektual sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan
berbahasa. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan, karena pada
dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Bayi dan anak pada awalnya
belajar bahasa dari orang lain dengan meniru dan mengulang perkataan.
Belajar bahasa yang inten sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia 6 7
tahun, pada saat anak mulai bersekolah. Jadi, perkembangan bahasa adalah
meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi baik secara lisan
maupun tertulis. Mampu menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai
upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain.
2. Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja.
Bahasa remaja terbentuk oleh lingkungan di mana dia tinggal yang mencakup
lingkungan keluarga, masyarakat, dan khususnya lingkungan pergaulan baik
dengan teman sebaya, sekolah, dll. Pola bahasa yang dimiliki dari lingkungan ini
disebut bahasa ibu.

Proses pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari

pergaulan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat akan memberi ciri khusus
dalam perilaku berbahasa.
Di lembaga pendidikan diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan
kaidah atau norma-norma yang benar. Proses pendidikan bukan sekedar
memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, tetapi juga
99

secara berencana merekayasa perkembangan system budaya, termasuk perilaku


berbahasa.

Pengaruh pergaulan dengan teman sebaya terkadang cukup

menonjol, sehingga bahasa anak dan remaja lebih diwarnai pola bahasa
pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya. Misalnya bahasa sandi,
yaitu bahasa kelompok yang bentuknya sangat khusus, seperti istilah baceman
(maksudnya bocoran soal tes/ujian, bahasa prokem dll. Bahkan akhir-akhir ini
ada lagi istilah bahasa alay (anak lebay) yang dalam penulisan kata-katanya
tidak karuan, misalnya a ditulis 4, aku ditulis q, gua ditulis gw, Amerika ditulis
Amrik, dll.
Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga, sekolah, dan masyarakat
dalam perkembangan bahasa, menyebabkan perbedaan antara anak dan remaja
yang satu dengan yang lain. Ini ditunjukkan misalnya dalam pemilihan dan
penggunaan kosakata sesuai dengan tingkat sosial keluarganya. Keluarga dari
masyarakat lapisan berpendidikan rendah atau buta huruf akan banyak
menggunakan bahasa pasar, sembarangan, dengan istilah-istilah yang kasar.
Masyarakat terdidik yang pada umumnya memi-liki status sosial lebih baik, akan
mengguakan istilah-istilah lebih baik dan efektif, atau ilmiah.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa.
Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan.

Oleh sebab itu perkem-

bangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :


a. Usia Anak.
Seiring dengan pertambahan usianya, manusia akan semakin matang
pertumbuhan fisiknya, bertambah pengalamannya, dan meningkat kebutuhannya. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan pertumbuhan fisik, dan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya itu. Faktor
fisik akan ikut mempengaruhi karena semakin sempurnanya pertumbuhan
organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan gerakan-gerakan dan isyarat.
Pada masa remaja pertumbuhan biologis yang menunjang kemampuan
berbahasa telah mencapai tingkat sempurna, yang dibarengi oleh perkembangan tingkat intelektualitas. Hal ini akan mampu menunjukkan cara berko100

komunikasi dengan baik.


b. Kondisi Lingkungan.
Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi sumbangan yang
cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa di perkotaan akan
berbeda dengan di pedesaan. Demikian juga di daerah pantai, pegunungan,
dan daerah-daerah terpencil atau di kelompok-kelompok sosial tertentu.
c. Kecerdasan Anak.
Untuk meniru bunyi suara, gerakan, dan mengenal simbol-simbol bahasa,
diperlukan kemampuan motorik dan intelektual yang baik. Kemampuan
motorik seseorang berkorelasi positif dengan kemampuan intelektual atau
berpikirnya. Ketepatan meniru, mengumpulkan per-bendaharaan kata-kata,
menyusun kalimat dengan baik, dan memahami maksud pernyataan orang
lain sangat dipengaruhi oleh kemampuan kerja motorik dan kecerdasannya.
d. Status Sosial-Ekonomi dan Pendidikan Keluarga.
Keluarga yang status sosial-ekonominya relatif cukup baik, biasanya akan
mampu menciptakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak dan
anggota keluarganya. Rangsangan yang dapat ditiru oleh anak-anak dari
keluarga dari yang berstatus sosial-ekonomi tinggi akan berbeda dengan
keluarga yang berstatus sosial-ekonomi rendah. Demikian juga pada keluarga
yang terdidik dan kurang/tidak terdidik, berpengaruh terhadap perkembangan hahasa.
e. Kondisi Fisik.
Kondisi fisik yang dimaksud adalah kesehatan dan kesempurnaan fisiknya.
Orang difabel (tuna) seperti bisu tuli, gagap, gagu atau organ suara tidak
sempurna, akan terhambat perkembangan berbahasanya, atau bahkan
samasekali tidak mampu mengembangkannya.
4. Pengaruh Kemampuan Berbahasa terhadap Kemampuan Berpikir.
Kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir (kecerdasan otak atau IQ)
saling berpengaruh satu sama lain.

Seseorang yang rendah kemampuan

berpikirnya akan mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang baik, logis,
101

dan sistematis. Hal ini akan berakibat sulitnya berkomunikasi dan bersosialisasi.
Bersosialisasi berarti mengadakan hubungan atau ber-interaksi dengan orang
lain. Seseorang menyampaikan ide atau gagasan-nya dengan bahasa, demikian
pula orang lain yang menangkap gagasan tersebut. Menyampaikan dan
menangkap gagasan itu merupakan proses berpikir yang abstrak. Ketidaktepatan
dalam menangkap makna bahasa akan berakibat ketidaktepatan dan kekaburan
persepsi yang diperolehnya. Akibat lebih lanjutnya hasil proses berpikir menjadi
tidak tepat bahkan salah sama sekali.
5. Perbedaan Individual dalam Kemampuan dan Perkembangan Bahasa.
Chomsky (Woolflok, 1984:70) mengatakan bahwa anak dilahirkan ke dunia telah
memiliki kapasitas berbahasa. Namun faktor lingkungan akan mengambil
peranan yang cukup menonjol dalam mempengaruhi perkembangan berbahasa
anak dimaksud. Anak-anak belajar arti kata dan bahasa sesuai dengan apa yang
mereka dengar, lihat, dan hayati dalam kehidupannya sehari-hari. Perkembangan
bahasa anak akan terbentuk oleh lingkung-an yang berbeda-beda. Kekayaan
lingkungan merupakan pendukung bagi perkembangan peristilahan yang
sebagian besar dicapai dengan proses peniruan. Demikianlah, maka remaja yang
berasal dari lingkungan yang berbeda, akan berbeda-beda pula dalam hal
kemampuan dan perkembang-an bahasanya.
6. Upaya Pengembangan Kemampuan Berbahasa Remaja dan Implikasinya
terhadap Penyelenggaraan Pendidikan.
Kelas atau kelompok belajar terdiri dari para siswa yang bervariasi bahasanya,
baik kemampuan maupun polanya. Menghadapi kenyataan ini guru hendaknya
dapat mengembangkan strategi belajar-mengajar bidang bahasa dengan
memfokuskan pada potensi dan kemampuan anak.
a. Anak perlu melakukan pengulangan (menceritakan kembali) pelajaran yang
telah diberikan dengan kata dan bahasa (redaksi) yang disusun oleh siswasiswa sendiri. Dengan cara ini guru dapat melakukan identifikasi tentang pola
dan tingkat kemampuan bahasa para siswanya;
102

b. Berdasarkan hasil identifikasi itu, guru melakukan pengembangan bahasa


siswa dengan menambahkan perbendaharaan bahasa lingkungan yang telah
dipilih secara tepat dan benar. Cerita siswa tentang isi pelajaran yang telah
diperkaya, diperluas untuk langkah-langkah selan-jutnya, sehingga para siswa
mampu menyusun cerita lebih komprehen-sif dari bacaan atau materi yang
dipelajari dengan menggunakan pola bahasanya masing-masing.
Perkembangan bahasa dengan menggunakan model pengekspresian secara
mandiri, baik lisan maupun tertulis berdasarkan pada bahan bacaan, akan lebih
mengembangkan kemampuan berbahasa anak dan membentuk pola bahasanya
masing-masing. Dalam hal ini guru harus banyak memberikan rangsangan dan
koreksi dalam bentuk tanya jawab, diskusi, atau komuni-kasi bebas. Sarana
berupa buku-buku, surat kabar, majalah, dll. hendaknya tersedia di rumah atau
di sekolah.

F. PERKEMBANGAN EMOSI REMAJA


1. Pengertian Emosi.
Kehidupan seseorang penuh dengan motivasi (dorongan) dan keinginan (minat)
untuk mencapai atau memiliki sesuatu. Banyak sedikitnya dorong-an dan minat
itu mendasari pengalaman emosionalnya. Jika dorongan dan minatnya dapat
terpenuhi, anak cenderung memiliki perkembangan afeksi atau emosi yang sehat
dan stabil.

Dengan demikian, anak dapat menikmati dan mengembangkan

kehidupan sosialnya secara sehat pula. Sebaliknya, jika dorongan dan minatnya
tidak terpenuhi disebabkan berbagai hal, sangat dimungkinkan perkembangan
emosionalnya akan mengalami gang-guan. Oleh karena itu, untuk memahami
remaja, perlu diketahui apa yang dia lakukan, inginkan, pikirkan, dan rasakan.
Gejala-gejala emosional seperti rasa bangga, cinta, bahagia, kecewa, marah,
takut, malu, benci, putus asa, dll. perlu dicermati oleh orang tua gan guru.
Emosi dan perasaan sebenarnya dua konsep yang berbeda, tetapi perbedaan
keduanya tidak dapat dinyatakan secara tegas. Emosi dan perasaan merupakan
gejala yang secara kualitatif berkelanjutan, namun tidak jelas batasnya. Pada
103

satu saat warna afektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi dapat pula
disebut emosi. Misalnya marah yang ditunjukkan dalam bentuk diam. Itulah
sebabnya emosi dan perasaan tidak mudah dibedakan.
Menurut Crow & Crow (1958), emosi adalah An emotion, is an affective
experience that accompanies generalized inner adjustment and mental and
physiological stirredup states in the individual, and that shows it self in his evert
behavior.

Jadi, emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai

oleh

perubahan-perubahan fisik. Pada saat emosi, perubahan perubahan fisik yang


terjadi, adalah :
a. Reaksi elektris pada kulit meningkat jika terpesona;
b. Peredaran darah bertambah cepat jika marah;
c. Denyut jantung bertambah cepat jika terkejut;
d. Bernafas panjang jika kecewa;
e. Pupil mata membesar jika marah;
f. Air liur mongering jika takut atau tegang;
g. Bulu roma berdiri jika takut;
h. Pencernaan jadi sakit atau mencret-mencret jika tegang;
i. Otot menjadi tegang atau bergetar (tremor);
j. Komposisi darah berubah dan kelenjar-kelenjar lebih aktif.
2. Karakteristik Perkembangan Emosi.
Masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan, yaitu suatu masa saat
ketegangan emosi meninggi sebagai akibat perubahan fisik dan kelenjar.
Meningginya emosi disebabkan remaja berada di bawah tekanan sosial, dan
selama masa anak-anak kurang mempersiapkan diri untuk menghadap keadaan
itu. Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan jika sejak anak-anak
telah siap mengantisipasi apa yang akan dihadapi. Sebagian besar dari remaja
memang mengalami ketidakstabilan emosi sebagai dampak dari penyesuaian diri
terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru. Pola emosi masa remaja
sama saja dengan pola emosi masa anak-anak. Jenis emosi yang secara normal
sering dialami adalah kasih sayang, gembira, senang, amarah, takut, cemas,
104

cinta, cem-buru, kecewa, sedih, dll. Perbedaannya terletak pada macam dan
derajat rangsangan yang membangkitkan emosi dan pola pengendalian yang
dilakukan individu terhadap emosinya.
Di bawah ini diuraikan beberapa kondisi emosional pada remaja :
a. Cinta atau Kasih Sayang.
Ciri yang menonjol dalam kehidupan remaja adalah adanya perasaan untuk
mencintai dan dicintai orang lain. Remaja tidak dapat hidup bahagia tanpa
mendapatkan cinta kasih dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan
menerima cinta menjadi sangat penting kendati perasaan itu disembunyikan
dengan rapi. Para remaja yang memberon-tak secara terang-terangan, nakal,
radikal, dan menunjukkan sikap bermusuhan, umumnya disebabkan kurangnya rasa cinta dan kasih sayang dari orang dewasa terutama orang tua. Oleh
karena itu orang tua dan guru perlu memberikan perhatian dan kasih sayang
kepada mereka dengan sebaik-baiknya.
b. Perasaan Gembira.
Umumnya orang dapat mengingat kembali pengalaman-pengalaman menyenangkan yang pernah dialaminya selama masa remaja. Rasa gembira muncul
jika segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan menyenangkan. Remaja
akan mengalami kegembiraan jika dia diterima sebagai seorang sahabat, atau
jika cintanya diterima oleh yang dicintainya.

Rasa gembira inilah yang

mendorongnya menjadi bergairah, giat, dan bersemangat dalam kehidupannya.


c. Kemarahan dan Permusuhan.
Mencintai dan dicintai adalah gejala emosi yang sangat penting bagi
perkembangan kepribadian yang sehat. Namun rasa marah dan permusuhan
pun penting dalam kehidupan karena dapat meningkatkan keberanian dan
kepercayaan diri. Rasa marah ini akan terus berlanjut jika keinginan, minat,
harapan, dan suatu rencana tidak terpenuhi. Sehubungan dengan rasa marah
ini, ada empat hal untuk memahami remaja, yaitu :
1) Adanya kenyataan bahwa rasa marah berhubungan dengan uasaha
manusia untuk menjadi dirinya sendiri;
105

2) Ketika individu mencapai masa remaja, dia tidak hanya merupakan subyek
kemarahan yang berkembang dan kemudian menjadi surut, tetapi juga
mempunyai sikap-sikap yang menunjukkan ada sisa kemarahan masa lalu
dalam bentuk permusuhan. Sikap permusuhan ini bentuknya bisa dendam,
kekecewaan, kesedihan, prasangka atau perasaan tertekan. Dapat juga
dalam bentuk kecenderungan curiga dan keengganan, menganggap orang
lain tidak bersahabat, atau membencinya. Sikap-sikap permusuhan tampak
dari cara yang bersifat pura-pura atau acuh tak acuh;
3) Perasaan marah sering juga disembunyikan dan dalam bentuk yang samarsamar;
4) Pengaruh kemarahan mungkin berbalik pada dirinya sendiri. Fenomena ini
merupakan aspek yang paling sulit dipahami.
(Fatimah, 2010:107).
d. Ketakutan dan Kecemburuan.
Remaja umumnya merasa takut pada kejadian-kejadian yang membahayakan
atau traumatik. Banyak orang yang mengalami rasa takut secara berulangulang dalam kehidupan sehari-harinya, atau muncul karena mimpi-mimpi,
juga karena pikiran-pikiran mereka sendiri yang tidak logis. Banyak juga di
antara mereka yang berusaha mengatasi ketakutan-ketakutan yang timbul
dari persoalan kehidupan. Salah satu cara untuk menghindarkan diri rasa
takut adalah dengan menyerah pada rasa takut.
Biehler (1972) dalam Fatimah (2010:108), membagi ciri-ciri emosional
remaja dalam dua rentang usia, yaitu 12 15 tahun, dan 15 18 tahun.
1) Ciri Emosional Remaja Usia 12 15 tahun :
- Cenderung bersikap pemurung. Sebagian kemurungan disebabkan
perubahan biologis dalam hubungannya dengan kematangan seksual dan
sebagian lagi karena kebingungannya dalam menghadapi orang dewasa;
- Ada kalanya berperilaku kasar untuk menutupi kekurangan rasa percaya
diri;
- Ledakan-ledakan kemarahan sering terjadi sebagai akibat dari kombinasi
ketegangan psikologis, ketidakstabilan biologis, dan kelelahan karena
106

bekerja terlalu keras atau pola makan yang tidak tepat atau tidur yang
tidak cukup;
- Cenderung berperilaku tidak toleran terhadap orang lain dengan
membenarkan pendapatnya sendiri;
- Mengamati orang tua dan guru-guru secara lebih obyektif, dan mungkin
marah jika merasa tertipu dengan gaya guru yang bersikap serba tahu.
2) Ciri Emosional Remaja Usia 15 18 tahun :
- Sering memberontak sebagai ekspresi perubahan dari masa anak-anak ke
dewasa;
- Dengan bertambahnya kebebasan, banyak remaja yang mengalami
konflik dengan orang tua dan gurunya. Mereka mengharapkan perhatian,
simpati, dan nasihat;
- Sering melamun untuk memikirkan masa depannya. Banyak di antara
mereka merasa berpeluang besar untuk memegang jabatan tertentu.
Padahal untuk mencapainya tidaklah mudah karena memerlukan
perjuangan dan pengorbanan.
3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Perkembangan Emosi.
Menurut Hurlock (1960:266), perkembangan emosi remaja sangat dipenga-ruhi
oleh faktor kematangan dan faktor belajar. Keduanya terjalin erat sekali dalam
memengaruhi perkembangan emosi tersebut. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan berpikir kritis untuk memahami makna yang sebelumnya
tidak dimengerti, dan menimbulkan emosi terarah pada satu obyek. Demikian
juga kemampuan mengingat dan menghapal, memengaruhi reaksi emosional.
Perkembangan kelenjar endokrin semakin mematangkan perilaku emosional.
Bayi relatif kekurangan produksi endokrin yang diperlukan untuk menopang
reaksi fisiologis terhadap stres. Sementara kelenjar adre-nalin yang memainkan
peran utama pada emosi, mengecil secara tajam segera setelah bayi lahir. Tidak
lama kemudian kelenjar adrenalin membe-sar lagi, dan membesar dengan pesat
sampai anak berusia 5 tahun. Pada usia 11 - 15 tahun melambat, usia 15- 16
tahun membesar lebih cepat lagi, dan pada batas usia 16 tahun kelenjar adrena107

lin itu kembali pada ukuran semula seperti saat anak lahir.
Kegiatan belajar turut menunjang perkembangan emosi remaja. Metode
belajar yang menunjang perkembangan emosi dimaksud antara lain :
a. Belajar dengan Coba-coba.
Anak belajar dengan coba-coba untuk mengekspresikan emosinya dalam
bentuk perilaku yang memberikan kepuasan terbesar kepadanya, dan
menolak perilaku yang memberikan kepuasan sedikit atau samasekali tidak
memberikan kepuasan. Cara belajar ini digunakan pada masa remaja awal
dibanding masa sesudahnya;
b. Belajar dengan Cara Meniru.
Belajar dengan cara meniru dan mengamati hal-hal yang membangkitkan
emosi orang lain, remaja bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang
sama dengan orang-orang yang diamati. Contohnya, remaja yang suka rebut
atau merasa populer di kalangan teman-temannya biasanya akan marah jika
mendapat teguran gurunya;
c. Belajar dengan Cara Mempersamakan Diri.
Remaja yang belajar dengan cara ini (learning by identification) adalah dengan
menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang
sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang lain itu.
Dalam hal ini ramaja hanya menirukan orang yang dikaguminya dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya;
d. Belajar melalui Pengkondisian.
Dengan cara ini obyek situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi
emosional, kemudian berhasil dengan cara asosiasi. Pengkondisian terjadi
dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil
kurang mampu menalar, kurang pengalaman untuk menilai suituasi secara
kritis, dan kurang mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka. Setelah
melewati masa anak-anak, peng-gunaan cara atau metode pengkondisian
semakin terbatas pada per-kembangan suka dan tidak suka;
e. Belajar atau Pelatihan di Bawah Bimbingan dan Pengawasan.
Kepada anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika sesuatu emosi
108

terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap


rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan, dan
dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang
membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan.
Anak memperhalus ekspresi-ekspresi kemarahan atau emosi lainnya
ketika dia beranjak dari masa anak-anak ke masa remaja. Peralihan
pernyataan emosi yang bersifat umum ke emosi dirinya sendiri yang bersifat
individual dan memperhalus perasaanya adalah petunjuk/bukti adanya
pengaruh yang bertahap dan latihan serta pengendalian terhadap perilaku
emosional. Mendekati berakhirnya usia remaja, seorang anak telah melewati
banyak badai emosional, dia mulai mengalami keadaan emosional yang lebih
tenang yang mewarnai pasang surut kehidupannya. Dia juga telah belajar
menyembunyikan perasaan-perasaannya. Ini berarti, jika ingin memahami
remaja, tidak cukup dengan hanya mengamati emosi yang secara terbuka
yang dia tampak-kan, tetapi perlu juga mengerti emosi yang disembunyikannya.
Demikianlah, maka emosi yang ditunjukkan mungkin selubung atau tutup
bagi yang disembunyikan. Contohnya, anak yang merasa ketakutan tetapi dia
menunjukkan kemarahan, atau orang yang sebenarnya hatinya terluka, tetapi
malah tertawa seperti merasa senang, dsb.
Sejak anak-anak, remaja diberitahu untuk tidak menunjukkan perasaanperasaannya, misalnya tidak boleh menangis, sehingga setelah remaja
terutama laki-laki, jarang menangis walaupun kondisinya sedemikian rupa
yang sebenarnya dia ingin juga menangis jika saja ada keberanian menunjukkannya. Dia juga sudah tahu apa yang ditakutkannya, tetapi diberitahu atau
diajarkan agar tidak menjadi penakut, dan tidak menunjukkan ketakutanketakutannya.
Semua remaja sejak masa anak-anak telah mengetahui rasa marah,
karena tidak ada seorang pun yang hidup tanpa pernah marah. Mereka juga
tahu bahwa ada bahasa untuk menunjukkan kemarahan secara terbuka,
begitu juga tidak sekedar tahu menyembunyikan kemarahan, tetapi perlu
109

takut terhadap rasa marah dan merasa bersalah jika marah. Demikian juga,
kebanyakan remaja telah mengalami bagaimana rasanya dicintai dan
mencintai, tetapi di antaranya ada yang telah mengetahui bagaimana
menyembunyikan perasaan-perasaan tersebut. Dengan bertambahnya usia
dan bertambahnya pengetahuan serta pengalaman menyebabkan terjadinya
perubahan dalam ekspresi emosional.
4. Pengaruh Emosi terhadap Tingkat Laku.
Perasaan takut dan marah bisa menyebabkan seseorang gemetaran. Dalam
ketakutan, mulut menjadi kering, jantung berdetak cepat, tekanan darah deras,
sehingga sistem pencernaan terganggu. Cairan pencernaan atau getah lambung
terpengaruh oleh gangguan emosi. Keadaan emosi yang menyenangkan dan
relaks berfungsi sebagai alat pembantu mencerna, sedangkan keadaan emosi
yang tidak menyenangkan, tidak enak, atau tertekan, menghambat atau mengganggu pencernaan.
Di antara rangsangan yang meningkatkan kegiatan kelenjar eskresi dari getah
lambung, adalah ketakutan-ketakutan yang kronis (akut). Kegembiraan yang
berlebih, kecemasan dan kekhawatiran, menyebabkan menurun-nya kegiatan
sistem pencernaan yang kadang menyebabkan sembelit. Cara menyembuhkannya yang efektif adalah dengan menghilangkan penyebab ketegangan emosi.
Jadi, radang lambung, diare atau sembelit, tidak dapat disembuhkan jika faktorfaktor yang menyebabkan munculnya emosi tidak dihilangkan. Gangguan emosi
juga dapat menjadi penyebab kesulitan berbicara. Ketagangan emosi yang cukup
lama mungkin dapat menyebab-kan seseorang gagap. Seorang gagap pun sering
menjadi normal berbicara jika dalam keadaan relaks atau senang. Namun jika
dihadapkan pada situasi-situasi yang menyebabkan kebingungan, maka dia akan
menunjuk-kan kegagapannya.
Perilaku ketakutan, malu, atau agresif, dapat disebabkan oleh ketegangan
emosi atau frustrasi. Reaksi seseorang tehadap hal-hal tertentu berbeda-beda
sehingga timbulnya emosi pun berbeda-beda. Contohnya, seorng siswa bisa saja
tidak senang kepada gurunya bukan karena pribadi si guru tersebut tidak baik,
110

tetapi karena sesuatu yang terjadi pada situasi belajar di kelas. Jika dia merasa
malu karena gagal dalam menjawab soal ujian lisan, pada kesempatan lain dia
mungkin takut ketika menghadapi ujian tertulis. Akibatnya, dia memutuskan
membolos, atau mungkin mela-kukan kegiatan yang lebih buruk lagi, misalnya
melarikan diri dari orang tua, guru, dsb. Demikianlah, maka gangguan emosional
dan frustrasi memengaruhi efektifitas belajar seseorang. Anak akan lebih giat
dan efektif belajar di sekolah jika termotivasi.

Dia akan mengembangkan

usahanya untuk menguasai mata-mata pelajaran. Rasa senang karena berhasil


mencapai prestasi, akan mengurangi rasa takut dan kelelahan.
Mengingat reaksi setiap siswa tidak sama, maka rangsangan yang diberikan
untuk belajar yang diberikan oleh orang tua dan guru mesti disesuaikan dengan
kondisi emosional anak. Rangsangan-rangsangan yang menghasilkan perasaan
tidak menyenangkan, pengaruhnya akan menyulit-kan dan menurunkan motivasi
belajar, sebaliknya rangsangan-rangsangan yang menghasilkan perasaan yang
menyenangkan, akan mempermudah dan meningkatkan motivasi belajar.
5. Mengenal Kecerdasan Emosi Remaja.
Sebagaimana telah diutarakan terdahulu, bahwa masa remaja dikenal dengan
dengan masa storm and stress, yaitu terjadi pergolakan emosi yang diiringi
pertumbuhan fisik yang pesat dan perkembangan psikis yang bervariasi.
Menurut Monks (1985), terdapat tiga fase masa remaja, yaitu fase remaja awal
(usia 12 15 tahun), remaja pertengahan (usia 15 18 tahun), dan remaja akhir
(usia 18 21 tahun). Di antara ke tiga fase ter-sebut terdapat fase pubertas yang
sangat singkat dan terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam
menghadapinya. Fase pubertas ini menurut Hurlock (1992) berkisar usia 11/12
sampai dengan 16 tahun, tetapi setiap individu memiliki variasi tersendiri. Pada
masa ini remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon dalam
tubuhnya, dan hal ini memberi dampak pada bentuk fisik terutama organ-organ
seksual, dan psikis terutama emosi. Masa pubertas ini tumpang tindih antara
masa anak dengan masa remaja, sehingga menyulitkan dalam menghadapi fasefase beikutnya.
111

Pergolakan emosi yang terjadi pada masa remaja tidak terlepas dari berbagai
pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah, teman-teman
sebaya, serta kegiatan-kegiatan yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Masa remaja yang identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi,
membuat mereka dituntut untuk menyesuaikan diri secara efektif. Jika aktivitasaktivitas yang dijalani di sekolah tidak memadai guna memenuhi tuntutan gejolak energinya, remaja sering meluapkan kelebihan energinya ke arah negatif,
misalnya tawuran.
Karena masa remaja merupakan masa yang paling banyak dipengaruhi oleh
lingkungan dan teman-teman sebaya, maka dalam rangka menghin-dari hal-hal
negatif yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, remaja hendaknya
memahami dan memiliki kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional ini
tampak dalam upaya untuk memberi kesan yang baik tentang dirinya, mampu
mengungkapkan dengan baik emosinya sendiri, berusaha menyetarakan diri
dengan lingkungan, mengendalikan perasaan, dan mampu mengungkapkan
reaksi emosi sesuai dengan waktu dan kondisi yang ada sehingga interaksi
dengan orang lain terjalin dengan lancar dan efektif.

Goleman (1977)

mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang
baik. Jika seseorang dapat menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang
lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas
yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta
lingkungannya. Kecerdasan emosional (EQ = Emotional Quatient) menurut
Goleman adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memoti-vasi
diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan
menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa.

Dengan kecerdasan

emosional dimaksud, seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang


tepat, memilah kepuasan, dan mengatur suasana hati.
Sementara itu menurut Cooper dan Sawaf (1998), kecerdasan emosio-nal
adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan
daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi dan pengaruh yang manusiawi.
Kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, untuk belajar mengakui,
112

menghargai perasaan pada diri orang lain, serta menang-gapinya dengan tepat,
dan menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun Howes dan Herald (1999) mengatakan bahwa pada prinsipnya kecerdasan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar
menggunakan emosinya. Emosi manu-sia berada di wilayah perasaan lubuk hati,
naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang jika diakui dan dihormati,
menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri
sendiri dan orang lain.
Dari tiga pendapat ahli tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa
kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai
perasaan diri sendiri dan orang lain, dan menanggapinya dengan tepat,
menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaannya
sehari-hari. Unsur penting kecerdasan emosional terdiri atas kecakapan pribadi
(mengelola diri sendiri), kecakapan sosial (menangani suatu hubungan), dan
keterampilan sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada
orang lain).
Kecerdasan emosional bukan merupakan lawan kecerdasan intelektual (IQ),
namun keduanya berinteraksi secara dinamis. Menurut Ary Ginanjar Agustian
(2005:lii), kecerdasan tingkat tinggi memadukan EQ dan IQ, dan tidak hanya
mempertahankan kemampuan berfungsi, tetapi juga menjadikannya lebih hebat.
Pada kenyataanya memang perlu diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki
peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah, tempat kerja,
dan dalam berkomunikasi di lingkung-an masyarakat.
Goleman (1995) mengungkapkan lima wilayah kecerdasan emosional yang
dapat dijadikan pedoman bagi individu untuk mencapai kesuksesan dalam
kehidupannya sehari-hari, yaitu :
a. Mengenali Emosi Diri.
Kesadaran diri dalam mengenali perasaan tatkala perasaan itu terjadi,
merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini diperlukan pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan
pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan mencermati perasaan yang
113

sesungguhnya, membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan, sehingga


tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya, yang berakibat buruk bagi
pengambilan keputusan/pemecahan masalah.
b. Mengelola Emosi.
Mengelola emosi artinya menangani perasaan agar terungkap dengan tepat.
Ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri.
Mengelola emosi dikatakan berhasil jika mampu menghibur diri ketika ditimpa
kemalangan atau kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan, atau
ketersinggungan, dan bangkit kembali dengan cepat. Sebaliknya, orang yang
tidak mampu mengelola emosi, akan terus-menerus bertarung melawan
perasaan murung atau melarikan diri dari tantangan yang dihadapi dan hal-hal
negatif yang merugikan dirinya.
c. Memotivasi Diri.
Kemampuan seseorang dalam memotivasi diri dapat ditelusuri melalui :
1) Cara mengendalikan dorongan hati;
2) Derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap kinerja (unjuk kerja/
penampilan) seseorang;
3) Kekuatan berpikir positif;
4) Optimisme;
5) Keadaan flow (mengikuti aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang
sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya
terfokus hanya pada satu obyek.
Dengan kemampuan memotivasi diri, seseorang cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dengan dirinya.
d. Mengenali Emosi Orang Lain.
Empati atau atau mengenal dan merasakan emosi orang lain dibangun
berdasarkan kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, dia
akan terampil membaca perasaan orang lain. Sebaliknya, jika seseorang tidak
mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri, juga tidak akan mampu
menghormati perasaan orang lain.
e. Membina Hubungan dengan Orang Lain.
114

Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keteram-pilan


sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain.
Tanpa memiliki keterampilan, seseorang akan mengalami kesulitan dalam
pergaulan sosial. Tidak dimiklikinya keterampilan-keterampilan dimaksud,
menyebabkan seseorang sering dianggap angkuh, sombong, mengganggu,
dan tidak berperasaan.
6. Upaya Pengembangan Emosi Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan
Pendidikan.
Dalam kaitannya dengan emosi remaja awal yang cenderung banyak melamun
dan sulit diterka, maka yang dapat dilakukan guru adalah konsisten dalam
pengelolaan kelas dan memperlakukan siswa seperti kepada orang dewasa yang
penuh tanggung jawab. Guru-guru dapat membantu mereka yang bertingkah
laku kasar dengan jalan mencapai keberhasilan dalam tugas-tugas/pekerjaan
sekolah sehingga mereka menjadi anak yang lebih tenang dan mudah ditangani.
Salah satu caranya adalah dengan mendo-rong mereka untuk bersaing dengan
diri mereka masing-masing.
Jika ada ledakan-ledakan kemarahan, hendaknya diperkecil, misalnya guru
bertindak bijaksana dengan lemah lembut, mengubah pokok pembicaraan, dan
memulai dengan aktivitas baru. Jika kemarahan siswa tidak juga reda, guru dapat
meminta bantuan kepada petugas Bimbingan dan Penyuluhan (BP). Dalam
diskusi kelas, tekankan pentingnya memperhati-kan pandangan orang lain dalam
meningkatkan/mengembangkan penda-pat sendiri. Waspada terhadap siswa
yang sangat ambisius, berpendirian keras dan kaku, yang suka mengintimidasi
kelasnya sehingga tidak ada seorang pun yang berani tidak sependapat
dengannya atau menentangnya.
Reaksi yang sering terjadi pada diri remaja terhadap temuan-temuan mereka
bahwa kesalahan orang dewasa merupakan tantangan terhadap otoritas orang
dewasa. Guru-guru di SLTA banyak terperangkap oleh kemampuan para siswa
yang baru dalam menemukan/menentukan dan mengangkatnya ke permukaan
mengenai kelemahan-kelemahan orang dewasa. Bertambahnya kebebasan
115

mereka seperti menambah bahan bakar terhadap api jika banyak dari
keinginan mereka langsung dihambat atau dirintangi oleh guru-guru dan orang
tua. Cara yang sebaiknya dilakukan adalah meminta para siswa mendiskusikan
atau menulis tentang perasaan-perasaan yang negatif. Harus diingat bahwa
meskipun bagi guru penting untuk memahami alasan-alasan pemberontakan
siswa, tapi juga sama pentingnya bagi remaja untuk belajar mengendalikan
dirinya, karena hidup di masyarakat adalah juga menghormati/menghargai
keterbatasan-keterbatasan, serta kebebasan individual.
Dalam menunjukkan kematangan mereka, para remaja terutama laki-laki
seringkali merasa terdorong untuk menentang otoritas orang dewasa. Guru yang
kebetulan ada di kelas yang mereprentasikan orang dewasa, mungkin menjadi
target pemberontakan dan permusuhan mereka. Nah, untuk menghadapi
pemberontakan mereka itu, pertama, mencoba untuk mengerti mereka, dan
kedua, melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan untuk membantu para
siswa berhasil berprestasi dalam bidang-bidang atau mata pelajaran yang diikuti.
Sebagai peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa, memang remaja
berada dalam keadaan yang membingungkan. Dalam banyak hal dia bergantung
pada orang tua untuk memenuhi keperluan-keperluan fisik dan orang tua merasa
mempunyai kewajiban kepada pengasuhan yang saat remaja tidak mampu
memelihara dirinya sendiri. Namun dia harus belajar lepas dari orang tua agar
dia menjadi orang dewasa yang mandiri, sehingga adanya konflik dengan orang
tua tidak dapat dihindari. Jika terjadi friksi semacam ini, para remaja mungkin
merasa bersalah, yang selanjutnya dapat memperbesar jurang antara dia dengan
orang tuanya.

Seorang siswa yang merasa kebingungan terhadap peristiwa

semacam ini mungkin merasa perlu menceritakan penderitaannya termasuk


rahasia pribadinya kepada orang lain. Oleh karenanya seorang guru hendaklah
berfungsi dan bersikap seperti pendengar yang baik.
Siswa SLTA banyak mengisi pikirannya dengan hal-hal lain daripada tugastuganya di sekolah, misalnya seks, konflik dengan orang tua, dan apa yang akan
dilakukan dalam hidupnya setelah tamat sekolah, dsb. Salah satu persoalan yang
paling membingungkan yang dihadapi guru adalah bagaimana menghadapi siswa
116

yang hanya mempunyai kecakapan terbatas, tetapi selalu memimpikan


kejayaan. Di satu sisi guru tidak ingin membuat siswa putus asa, akan tetapi
pada sisi lain jika harus mendorong keingin-annya yang tidak mungkin dilakukan
karena menurut perhitungan pasti akan gagal, malah akan menambah
kesengsaraan siswa dimaksud.

Barang-kali penyelesaian yang baik adalah

mendorong siswa itu untuk berusaha, namun tetap harus diingatkan terhadap
realitas yang ada.
Kebanyakan siswa di SLTA bahkan mahasiswa menginginkan menjadi
pegawai kantoran/pegawai negeri setelah lulus, meskipun kenyataannya hanya
sebagian kecil saja yang mencapai keinginan tersebut. Jika mereka menganggap
remeh pekerjaan sebagai buruh, pedagang, petani, peternak, bengkel, dll. berarti
mereka tidak atau sedikit memiliki kebanggaan terha-dap pekerjaan mereka.
Orang tua dan guru hendaknya dapat memberikan keyakinan bahwa semua
pekerjaan asalkan halal, bermanfaat jika dikerja-kan dengan sungguh-sungguh,
hati-hati, ikhlas, dan penuh tanggung jawab. Jadi, sebenarnya terdapat berbagai
cara mengendalikan lingkungan untuk menjamin pembinaan pola emosi yang
diinginkan, dan menghilangkan reaksi-reaksi emosional yang tidak diinginkan
sebelum berkembang menja-di kebiasaan yang tertanam kuat.

G. PERKEMBANGAN NILAI, MORAL, DAN SIKAP REMAJA


1. Pengertian Nilai, Moral dan Sikap.
a. Nilai.
1) Sesuatu yang berharga, berguna, indah, memperkaya batin, serta

me-

nyadarkan manusia akan harkat dan martabatnya;


2) Keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness);
3) Kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan
manusia;
4) Sifat atau kualitas yang melekat pada suatu obyek, tetapi bukan obyeknya
itu sendiri;

117

5) Merupakan prinsip-prinsip yang disepakati bersama dan dijadikan tolok


ukur menentukan baik atau buruk, benar atau salah, indah atau jelek.
Menurut Soelaeman (2007:31), ada empat unsur pokok nilai yang saling
berkait, dilihat dari :
1) Manfaat (utility);
2) Keperluan atau pentingnya;
3) Penilaian atau kebutuhan (estimation);
4) Kebutuhan (need).
Sementara Sutrisno (1993:87) menjelaskan pembagian nilai menjadi dua
klasifikasi, yaitu :
1) Nilai Intrinsik (Ontologis), adalah harga yang dipandang vital, penting demi
adanya si benda/hal tersebut, misalnya dynamo untuk mobil;
2) Nilai Ekstrinsik, adalah kualitas bagi suatu hal yang dipandang ber-guna,
perlu, menarik demi kelangsungan adanya yang lain, misalnya obat
merupakan nilai ekstrinsik bagi orang sakit.
Sebagai bahan perbandingan dan untuk menambah wawasan pe-ngertian
tentang nilai, ada beberapa pendapat sebagai berikut (Soelae-man, op.cit. 35).
1) Pepper (1958) : Nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau yang
buruk;
2) Perry (1954) : Nilai adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subyek;
3) Kluckhohn (1951:399) : NIlai yang diterima sebagai konsep yang diinginkan
dalam literatur ilmu sosial adalah hasil pengaruh seleksi perilaku. Batasan
nilai yang sempit adalah adanya suatu perbedaan penyusunan antara apa
yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan dengan apa yang seharusnya
dibutuhkan; nilai-nilai tersusun secara hierarkis dan mengatur rangsangan
kepuasan hati dalam mencapai tujuan kepribadiannya.
Menurut Sutikna (1988:5), nilai-nilai adalah patokan-patokan yang
berlaku dalam kehidupan masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan
santun. Sopan santun, adat kebiasaan, dan nilai-nilai yang ter-kandung dalam
Pancasila misalnya, adalah nilai-nilai hidup yang menjadi pegangan seluruh
118

warga Negara Indonesia. Jadi, nilai adalah ukuran baik-buruk, benar-salah,


boleh-tidak boleh, indah-tidak indah suatu perilaku atau pernyataan yang
berlaku dalam kehidupan suatu kelom-pok masyarakat.
b. Moral.
1) Mos (mores) = Kesusilaan, tabiat, kelakuan, budi pekerti;
2) Keseluruhan norma yang menentukan baik buruknya sikap dan perbuatan
manusia;
3) Dalam wujudnya dapat berupa aturan-atruran (norma).
Menurut Purwadarminta (1950:957), moral adalah ajaran tentang baik
buruk suatu perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dsb. Dalam moral
diatur diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, serta
sesuatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan
dengan kemampuan untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan
salah. Dengan demikian, moral merupakan kendali dalam bertingkah laku.
Dalam kaitannya dengan pengamalan nilai-nilai hidup, maka moral
merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilainilai hidup yang dimaksud.
Mengingat nilai-nilai kehidupan sebagai norma dalam masyarakat
senantiasa menyangkut persoalan antara baik dan buruk, benar dan salah,
maka berkaitan dengan moral. Sehingga oleh karenanya menurut Sarlito
1991:91), dalam aliran psikoanalisis tidak membedakan antara nilai, moral,
dan norma.
c. Sikap.
Menurut Gerungan dalam Mappiare (1982:58),

sikap adalah

kesediaan

bereaksi individu terhadap sesuatu hal. Sikap berkaitan dengan motif dan
mendasari tingkah laku seseorang. Jika telah diketahui sikapnya, dapat
diramalkan tingkah laku apa yang akan terjadi atau apa yang akan diperbuat
seseorang. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas (masih ada
di benak atau hati seseorang), akan tetapi berupa kecenderungan (predisposisi) tingkah laku. Jadi, sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap
obyek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek ter
119

sebut.
Demikianlah, maka keterkaitan antara nilai, moral, sikap, dan tingkah laku
akan tampak dalam pengamalan nilai-nilai. Dengan perkataan lain, nilai-nilai
perlu dikenal terlebih dulu, kemudian dihayati dan didorong oleh moral, baru
akan terbentuk sikap tertentu terhadap nilai-nilai tersebut dan pada akhirnya
terwujud tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang dimaksud.
2. Karakteristik Nilai, Moral, dan Sikap Remaja.
Nilai-nilai kehidupan yang perlu diinformasikan dan dihayati oleh para remaja
ntidak terbatas pada adat kebiasaan dan sopan santun belaka, namun juga
seperangkat nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, misalnya nilai-nilai
keagamaan, nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan ber-adab, nilai-nilai persatuan,
nilai-nilai musyawarah untuk mufakat/demo-krasi, serta nilai-nilai keadilan sosial.
Termasuk di dalamnya nilai-nilai etika, estetika, dan nilai-nilai intelektual dalam
bentuk-bentuk sesuai de-ngan perkembangan remaja.
Untuk mengetahui sejauh mana remaja dapat mengamalkan nilai-nilai yang
telah diketahui atau dikenalnya, perlu ditinjau perkembangan moral remaja. Dan
salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai dan dilakukan remaja adalah
mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok dari masyarakatnya, kemudian
bersedia membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan masyarakat
tersebut tanpa harus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam hukuman
seperti yang dialaminya sewaktu masih anak-anak.

Remaja diharapkan

mengganti konsep-konsep moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke


dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya.
Michel dalam Hurlock (1980:225) meringkaskan lima perubahan dasar dalam
moral yang harus dilakukan oleh remaja, yaitu :
a. Pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrak;
b. Keyakinan lebih terpusat pada apa yang benar, dan kurang pada apa yang
salah;
c. Penilaian moral menjadi semakin kognitif, mendorong remaja lebih berani
mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya;
120

d. Penilaian moral menjadi kurang egosentris;


e. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal, dalam arti, bahwa
penilaian moral menimbulkan ketegangan emosi.
Kehidupan moral menurut Furter (1965) merupakan problematik yang pokok
dalam masa remaja. Maka perkembangan moral perlu ditinjau sejak waktu anak
dilahirkan, untuk dapat memahami mengapa pada masa remaja perkembangan
moral dimaksud menduduki tempat yang sangat penting. Tahap-tahap perkembangan moral dapat dibagi sebagai berikut :
a. Tingkat Prakonvensional.
Pada tingkat ini, anak tanggap terhadap aturan-aturan budaya dan terhadap
ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik atau buruk, benar dan salah.
Akan tetapi ini ditafsirkan semata-mata dari segi sebab-akibat fisik atau
kenikmatan perbuatan (hukuman, keuntungan, pertukaran dan kebaikan).
Tingkatan ini dibagi menjadi dua tahap :
1) Tahap Orientasi Hukuman dan Kepatuhan.
Tahap ini disebut stadium 1, anak berorientasi pada kepatuhan dan
hukuman. Anak menganggap baik atau buruk atas dasar akibat yang
ditimbulkannya. Anak hanya mengetahui bahwa aturan-aturan ditentukan
oleh adanya kekuasaan yang tidak dapat diganggu gugat. Dia harus
menurut atau tidak. Jika tidak, akan mendapat hukuman.
2) Tahap Orientasi Relativistik-Hedonism.
Tahap ini disebut stadium 2, anak tidak lagi secara mutlak bergantung pada
aturan yang ada di luar dirinya atau ditentukan oleh orang lain, tetapi
mereka menyadari bahwa setiap kejadian mempunyai bebera-pa segi, ada
relativisme.

Relativisme ini artinya bergantung pada kebutuhan dan

kesanggupan seseorang (hedonistik). Contohnya, mencuri ayam karena


kelaparan. Karena perbuatan mencuri untuk memenuhi kebutuhannya
(lapar), maka mencuri dianggap sebagai perbuatan yang bermoral,
meskipun sebenarnya salah karena ada akibatnya, yaitu hukuman.
b. Tingkat Konvensional.
Pada tingkat ini, anak hanya menuruti harapan keluarga, kelompok, atau ma121

syarakat. Dia memandang bahwa hal tersebut bernilai bagi dirinya sendiri,
tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata. Sikapnya bukan hanya
konformitas terhadap harapan pribadi dan tata tertib sosial, melainkan juga
loyal terhadapnya dan secara aktif mempertahan-kan, mendukung, dan
membenarkan seluruh tata tertib atau norma-norma tersebut serta
mengidentifikasikan diri dengan orang tua atau kelompok yang terlibat di
dalamnya. Tingkatan ini dibagi menjadi dua tahap :
1) Tahap Orientasi Kesepakatan Antarpribadi.
Tahap ini disebut stadium 3, menyangkut orientasi mengenai anak yang
baik. Anak mulai memasuki usia belasan tahun, memperlihatkan orientasi
perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang
lain. Masyarakat adalah sumber yang menentukan, apakah perbuatan
seseorang baik atau tidak. Menjadi anak manis masih sangat penting
dalam stadium ini.
2) Tahap Orientasi Hukuman dan Ketertiban.
Tahap ini disebut stadium 4, yaitu tahap mempertahankan norma-norma
sosial dan otoritas. Perbuatan baik yang diperlihatkan seseorang bukan
hanya agar dapat diterima oleh lingkungan masyarakatnya, melainkan
bertujuan agar dapat ikut mempertahankan aturan-aturan atau normanorma sosial. Jadi, perbuatan baik merupakan kewajiban untuk ikut
melaksanakan aturan-aturan yang ada sehingga tertib, tidak timbul
kekacauan.
c. Tingkat Pasca-Konvensional.
Pada tingkat ini ada usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip
moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan, terlepas dari otoritas
kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu, dan terlepas
pula dari identifikasi individu sendiri dengan kelompok tersebut. Tingkatan ini
dibagi menjadi dua tahap :
1) Tahap Orientasi Kontrak Sosial Legalitas.
Tahap ini disebut stadium 5, merupakan tahap orientasi terhadap
perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial. Ada hubungan timbal
122

balik antara dirinya dengan lingkungan masyarakat. Seseorang harus


memperlihatkan kewajibannya, harus sesuai dengan tuntutan norma
sosial, dan sebaliknya lingkungan sosial akan memberikan perlindungan
kepadanya. Hasilnya adalah penekanan pada sudut pandang legal, dengan
kemungkinan mengubah hukum berdasarkan pertimbangan rasional
mengenai manfaat sosial (bukan membekukan hukum itu). Di luar bidang
hukum yang disepakati, berlaku persetuju-an bebas ataupun kontrak. Inilah
moralitas resmi dari pemerintah dan perundang-undangan yang berlaku
di setiap negara.
2) Tahap Orientasi Prinsip Etika Universal.
Tahap ini disebut stadium 6, ada norma etika di samping norma pribadi dan
subyektif. Dalam hubungan dan perjanjian antara seseorang dengan
masyarakatnya ada unsur-unsur subyektif yang menilai apakah suatu
perbuatan itu baik atau tidak baik. Subyektivitas ini berarti ada perbedaan
penilaian antara seorang dengan orang lain. Dalam hal ini unsur etika akan
menentukan apa yang boleh dan baik dilakukan atau sebaliknya. Hak
ditentukan oleh keputusan suara batin, sesuai dengan prinsip etis yang
dipilih sendiri dan mengacu pada komprehensivitas logis, universalitas,
konsistensi logis. Remaja mengadakan penginternalisasian moral, yaitu
melakukan tingkah laku moral yang dikemudikan oleh tanggung jawab
batin sendiri. Tingkat perkembangan moral pasca konvensional harus
dicapai selama masa remaja. Menurut Furter (1965), menjadi remaja
berarti mengerti nilai-nilai, tetapi tidak berarti hanya pengertian saja,
melainkan harus menjalankan/mengalaminya.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap.
Perkembangan nilai, moral, dan sikap, sama seperti perkembangan lainnya juga
dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dari sejumlah hasil penelitian, perkembangan
internalisasi nilai-nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang
dianggapnya sebagai model. Bagi anak-anak usia 12 16 tahun, gambarangambaran ideal yang diidentifikasi adalah orang-orang dewasa yang simpatik,
123

teman-teman, orang-orang terkenal, dan hal-hal ideal yang diciptakannya


sendiri.
Bagi para ahli psikoanalisis, perkembangan moral dipandang sebagai proses
internalisasi norma-norma masyarakat yang matang dilihat dari segi organik
biologis. Moral dan nilai-nilai menyatu dalam konsep superego, yang dibentuk
melalui jalan internalisasi larangan-larangan atau perintah-perintah yang datang
dari luar (khususnya dari orang tua) sedemikian rupa, sehingga akhirnya
terpencar dari dalam diri sendiri. Karenanya orang-orang yang tidak mempunyai
hubungan yang harmonis dengan orang tuanya di masa kecil, kemungkinan besar
tidak mampu mengembangkan superego yang cukup kuat, sehingga mereka bisa
menjadi orang yang sering melanggar norma masyarakat.
Teori lain yang nonpsikoanalisis beranggapan bahwa hubungan anak dengan
orang tua bukan satu-satunya sarana pembentuk moral. Para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat sendiri mempunyai peran penting dalam pembentukan
moral.

Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari

masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi-sanksi tersendiri bagi pelanggarpelanggarnya. (Sarlito, 1992:92).
Faktor lingkungan terhadap pembentukan perilaku sebagai pencerminan
nilai-nilai hidup tertentu ternyata memegang peranan penting. Di antara unsur
lingkungan sosial yang berpengaruh yang tampaknya sangat penting adalah
unsur lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh
seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu. Lingkungan sosial
terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan
pembina. Makin jelas sikap dan sifat lingkungan terhadap nilai hidup tertentu
dan moral, makin kuat pula pengaruhnya untuk membentuk, atau juga
meniadakan tingkah laku yang sesuai.
Kohlberg dalam Sunarto (2006:176) mengemukakan teori perkembangan
moral bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh
dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai kebudayaan. Dia
pun menyatakan adanya tahap-tahap yang berlangsung sama pada setiap
124

kebudayaan. Menurut Singgih Gunarsa (1990:202), tahap-tahap perkembangan


moral terjadi dari aktivitas spontan pada anak-anak melalui interaksi sosial, akan
tetapi interaksi ini mempunyai corak yang khusus yang mana faktor pribadi si
anak dalam membentuk aktivitas-aktivitas turut berperan. Pentahapan yang
dikemukakan ini bukan menge-nai sikap moral yang khusus, melainkan berlaku
pada proses penalaran yang mendasarinya sebagaimana dikemukakan juga oleh
Piaget.

Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menurut tahap-tahap

perkembagan Piaget, makin tinggi pula tingkat moralnya.


4. Perbedaan Individual dalam Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap.
Pengertian nilai dan moral pada anak-anak berusia 10 11 tahun berbeda
dengan anak-anak yang lebih tua. Pada anak-anak terdapat anggapan bahwa
aturan-aturan adalah pasti dan mutlak karena diberikan oleh orang dewasa atau
Tuhan yang tidak dapat diubah lagi. Mengenal aspek moral pada anak-anak lebih
besar, lebih lentur, dan nisbi. Ia bisa menawar atau meminta mengubah sesuatu
aturan jika disetujui oleh semua orang. Sedangkan untuk sebagian remaja dan
orang dewasa yang penalarannya terhambat atau kurang berkembang, tahap
perkembangan moralnya ada pada tahap prakonvensional. Pada tahap ini
seseorang belum benar-benar mengenal apalagi menerima aturan dan harapan
masyarakat. Pedoman mereka justru menghindari hukuman, sementara bagi
mereka yang dapat menerima tingkat kedua sudah ada pengertian bahwa untuk
memenuhi kebutuhan sendiri seseorang juga harus memikirkan kepentingan
orang lain.
Menurut Kohlberg, faktor kebudayaan mempengaruhi perkembangan moral,
terdapat berbagai rangsangan yang diterima oleh anak-anak, dan ini
mempengaruhi tempo perkembangan moral. Bukan saja tentang cepat atau
lambatnya tehap-tahap perkembangan yang dicapai, tetapi juga tentang batas
tahap-tahap yang dapat dicapai. Perbedaan perseorangan juga dapat dilihat
pada latar belakang kebudayaan tertentu.

Dalam kenyataannya, selalu ada

gradasi dalam intensitas penghayatan dan penga-malan individu tentang nilainilai tertentu, apa pun nilai tersebut. Misalnya pemahaman terhadap konsep
125

dan nilai tenggang rasa jika dibandingkan dengan sikap dan tingkah lakunya
dalam kaitannya dengan tenggang rasa dimaksud.
a. Di ujung paling kiri, kita kelompokkan individu yang hampir-hampir atau
samasekali tidak tahu tentang konsep dan nilai tenggang rasa, dan karenanya
tidak bertindak secara benar ditinjau dari konsep tenggang rasa itu;
b. Di ujung paling kanan, terdapat individu yang baik pengetahuan maupun
tingkah lakunya mencerminkan penghayatan nilai tenggang rasa yang sangat
meyakinkan.
Di antara dua ujung yang ekstrim ini kita kelompokkan individu-individu yang
memiliki berbagai pemahaman dan memperlihatkan berbagai bentuk tingkah
laku, sehingga garis kontinum itu terisi seluruhnya. Dari kegiatan ini dapat
dipahami bahwa terdapat perbedaan-perbedaan indivi-dual dalam pemahaman
nilai-nilai dan moral sebagai pendukung sikap dan perilakunya. Jadi, mungkin
terjadi pada individu atau remaja yang tidak mencapai perkembangan nilai,
moral, dan sikap, serta tingkah laku yang diharapkan atasnya.
5. Upaya Mengembangkan Nilai, Moral, dan Sikap Remaja serta Implikasinya
terhadap Penyelenggaraan Pendidikan.
Perwujudan nilai, moral, dan sikap tidak terjadi dengan sendirinya. Menu-rut
Surakhmad (1980:17), proses yang dilalui seseorang dalam pengem-bangan nilainilai hidup adalah suatu proses yang belum seluruhnya dipahami oleh para ahli.
Apa yang terjadi dalam diri pribadi seseorang hanya dapat didekati melalui caracara tidak langsung, yakni dengan mempelajari gejala tingkah laku orang
dimaksud, atau membandingkannya dengan gejala serta tingkah laku orang lain.
Di antara proses kejiwaan yang sulit dipahami adalah proses terjelmanya nilainilai hidup yang mungkin didahului oleh pengenalan nilai secara intelektual,
disusul oleh penghayat-an nilai tersebut, yang kemudian tumbuh di dalam diri
seseorang sedemikian rupa kuatnya sehingga seluruh jalan pikiran, tingkah laku,
serta sikapnya terhadap segala sesuatu di luar dirinya, bukan saja diwarnai,
tetapi juga dijiwai oleh nilai-nilai tersebut.
Jadi, ada individu yang tahu tentang sesuatu nilai, tetapi hanya menjadi pe126

ngetahuan belaka. Tidak semua individu mencapai tingkat perkembangan moral


seperti yang diharapkan, sehingga dihadapkan pada masalah pentingnya
pembinaan. Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nilai,
moral, dan sikap remaja, adalah sebagai berikut :
a. Menciptakan Komunikasi.
Komunikasi didahului oleh pemberian informasi tentang nilai dan moral. Anak
tidak pasif mendengarkan dari orang dewasa bagaimana seseorang harus
bertingkah laku sesuai dengan nilai dan moral, tetapi harus dirangsang agar
lebih aktif. Hendaknya ada upaya untuk mengikutsertakan remaja dalam
pembicaraan dan pengambilan keputusan keluarga, sedangkan dalam
kelompok sebaya, remaja turut secara aktif dalam penentuan maupun
keputusan kelompok.

Nilai-nilai hidup yang dipela-jari memerlukan satu

kesempatan untuk diterima dan diresapkan sebelum menjadi bagian dari


tingkah laku seseorang. Nilai-nilai hidup tersebut baru akan berkembang jika
telah dikaitkan dalam konteks kehidupan bersama.
b. Menciptakan Iklim Lingkungan yang Serasi.
Seseorang yang mempelajari nilai-nilai hidup tertentu dan moral, kemudian
berhasil memiliki sikap dan tingkah laku sebagai pencerminan nilai hidup itu,
umumnya adalah seseorang yang hidup dalam lingkung-an yang secara positif,
jujur, dan konsekuen senantiasa mendukung bentuk tingkah laku yang
merupakan pencerminan nilai hidup tersebut. Itu artinya, bahwa usaha
pengembangan tingkah laku nilai hidup hendaknya tidak hanya mengutamakan pendekatan-pendekatan intelek-tual semata, melainkan juga
adanya lingkungan yang kondusif di mana faktor-faktor lingkungan itu sendiri
merupakan penjelmaan yang konkrit dari nilai-nilai hidup tersebut.
Mengingat lingkungan merupakan faktor yang cukup luas dan sangat
bervariasi, maka tampaknya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan sosial
terdekat sebagai pendidik dan pembina, yaitu orang tua dan guru.
Para remaja sering bersikap kritis, menentang nilai-nilai hidup orang tua
dan orang dewasa lainnya. Ini tidak berarti mengurangi kebutuhan mereka
akan suatu sistem nilai yang tetap dan memberi rasa aman. Mereka tetap
127

menginginkan suatu sistem nilai yang akan dijadikan pegangan dan petunjuk
bagi perilaku mereka. Karena itu, orang tua dan guru serta orang dewasa
lainnya, perlu memberi model-model atau contoh perilaku yang merupakan
perwujudan nilai-nilai yang diperjuang-kan. Bagi remaja, model atau contoh
ini merupakan suatu kebutuhan mengingat mereka sedang dalam keadaan
membutuhkan pedoman atau petunjuk dalam rangka mencari jalannya
sendiri. Pedoman ini juga untuk menumbuhkan identitas dirinya menuju
kepribadian yang matang dan menghindarkan diri dari konflik-konflik peran
yang selalu terjadi dalam masa transisi.
Nilai-nilai keagamaan perlu mendapat perhatian, karena agama
mengajarkan tingkah laku yang baik. Akhirnya perlu juga diperhatikan bahwa
suatu lingkungan yang lebih banyak mengajak, mengundang, memberi
kesempatan, akan lebih efektif daripada lingkungan yang ditandai dengan
banyak perintah-perintah dan larangan-larangan, atau peraturan-peraturan
yang serba membatasi.

128

BAB VI
PERKEMBANGAN KREATIVITAS REMAJA

A. PENGERTIAN KREATIVITAS
Para pakar memberikan definisi yang beragam tentang kreativitas berdasarkan
sudut pandang masing-masing. Menurut Barron (1982:253), kreativitas adalah
kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru di sini bukan
berarti harus sama sekali baru, tetapi dapat juga sebagai kombinasi dari unsurunsur yang telah ada sebelumnya.

Guilford (1970:236) menyatakan bahwa

kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai ciri-ciri seorang kreatif,


dengan cara berpikir konvergen dan divergen. Cara berpikir konvergen adalah
kemampuan individu dalam memikirkan sesuatu dengan berpandangan bahwa
hanya ada satu jawaban yang benar. Sedangkan cara berpikir divergen adalah
kemampuan individu untuk mencari berbagai alternatif jawaban terhadap suatu
persoalan.
Rogers dalam Utami Munandar (1992:48) mendefinisikan kreativitas sebagai
proses munculnya hasil-hasil baru ke dalam suatu tindakan. Hasil-hasil baru itu
muncul dari sifat-sifat individu yang unik yang berinteraksi dengan individu lain,
pengalaman, maupun keadaan hidupnya.

Torrance mendefinisi-kan kreativitas

adalah kemampuan individu untuk memahami kesenjangan atau hambatan dalam


hidupnya, merumuskan hipotesis baru, dan meng-komunikasikan hasil-hasilnya,
serta sedapat mungkin memodifikasi dan meng-uji hipotesis yang telah dirumuskan.
Sementara itu Utami Munandar (1992: 47) sendiri mendefinisikan Kreativitas
adalah kemampuan yang mencermin-kan kelancaran, keluwesan, dan orisinali-tas
dalam berpikir serta kemampuan untuk mengolaborasi suatu gagasan. Beliau
menekankan bahwa kreativitas sebagai keseluruhan kepribadian merupakan hasil
interaksi dengan lingkung-annya. Lingkungan tempat individu berinteraksi itu dapat
mendukung berkembangnya kreativitas, tetapi ada juga yang menghambat.
Kreativitas yang ada pada individu itu digunakan untuk menghadapi berbagai
alternatif pemecahannya sehingga dapat tercapai penyesuaian diri secara kuat.
129

B. KREATIVITAS DAN TEORI BELAHAN OTAK


Perkembangan kreativitas sangat erat kaitannya dengan perkembangan kognitif
individu, karena kreativitas sesungguhnya merupakan perwujudan dari pekerjaan
otak. Pakar kreativitas misalnya Clark (1988) dan Gowan (1989) melalui Teori
Belahan Otak (Hemisphere Theory), mengatakan bahwa sesungguhnya otak
manusia itu menurut fungsinya terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kiri
(left hemisphere), dan belahan otak kanan (right hemisphere). Fungsi otak kiri
adalah berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat ilmiah, kritis, logis,
linier, teratur, sistematis, terorganisasi, beraturan, dan sejenisnya. Adapun fungsi
otak kanan adalah berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat nonlinier,
nonverbal, holistik, humanistik, kreatif, mencipta, mendesain, bahkan mistik, dan
sejenis-nya. (Dedi Supriadi, 1994). Singkatnya, otak kiri mengarah pada cara berpikir
konvergen, sedangkan otak kanan mengarah pada cara berpikir divergen.
Berkenaan dengan teori belahan otak dan fungsinya, berikut ini tabel yang
disberikan oleh Clark (1983:24).

No.

LEFT HEMISPHERE

1.

Math, history, language

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Verbal, limit sensory, input


Sequential, measurable
Analytic
Comparative
Relational
Referential
Linier
Logical
Digital

11.

Scientific, technological

RIGHT HEMISPHERE
Self, elaborates and increases variables,
inventive
Noverbalperception and expressiveness
spatial
Intuitive
Holistic
Integrative
Nonreferential
Gestalt
Imagery
Better at deepth perception, facial recognition
Mystical, humanistic

Sumber : M. Ali & M. Asrori (2005:41).

Menurut Dedi Supriadi (1994), lahirnya kreativitas dalam bentuk gagasan


maupun karya nyata merupakan perpaduan kedua fungsi belahan otak tersebut.
Masukan dari lingkungan berupa informasi diterima melalui fungsi otak kiri untuk
kemudian dierami pada otak kanan, dan di sinilah proses sublimasi berlangsung.
130

Pada saat demikian, seseorang memerlukan kesempatan untuk mengadakan


refleksi secara tenang. Inkubasi merupakan tahap yang sangat penting dalam proses
kreatif. Teori belahan otak ini cukup berkem-bang, tetapi salah satu kelemahannya
adalah masih sulit dibuktikan dan diuji secara empiris. Teori ini masih bersifat
hipotetik dan berupa rekomendasi. Mencermati perkembangan teori belahan otak
dalam kaitannya dengan perkembangan kreativitas individu, tampak jelas bahwa
kreativitas berkaitan dengan fungsi belahan otak kanan, yang berarti berkaitan pula
dengan perkembangan intelektual.
Rhodes dalam Torrance (1981) mengelompokkan kreativitas ke dalam empat
kategori, yaitu product, person, process, dan press. Product menekankan kreativitas
dari hasil karya kreatif, baik yang sama sekali baru maupun karya-karya lama yang
menghasilkan sesuatu yang baru. Person memandang kretivitas dari segi ciri-ciri
individu yang menandai kepribadian orang kreatif atau yang berhubungan dengan
kreativitas, yang diketahui melalui perilaku kreatif yang tampak. Process menekankan bagaimana proses kreatif itu berlangsung sejak dari mulai tumbuh sampai
dengan berwujudnya perilaku kreatif. Adapun press menekankan pada pentingnya
faktor-faktor yang mendukung timbulnya kreativitas pada individu.
Keterkaitan antara empat sudut pandang atau kategori tersebut di atas,
dijelaskan oleh Utami Munandar sebagai berikut : Jika kita dapat menerima bahwa
setiap pribadi memiliki potensi kreatif yang unik dan dapat mengenal potensi
tersebut, selanjutnya memberi kesempatan kepada setiap individu untuk melibatkan diri ke dalam kegiatan-kegiatan kreatif sesuai dengan bidang keahlian dan
minatnya, maka produk kreativitas yang bermakna dapat muncul.

Jadi, yang

dimaksud dengan kreativitas adalah ciri-ciri khas yang dimiliki oleh individu yang
menandai adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru
atau kombinasi dari karya-karya yang telah ada sebelumnya menjadi suatu karya
baru, yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya untuk menghadapi
permasalahan, dan mencari alternatif pemecahannya melalui cara-cara berpikir
divergen.

131

C. PENDEKATAN, TAHAP-TAHAP, DAN KARAKTERISTIK KREATIVITAS


1. Pendekatan.
Pendekatan dalam studi kreativitas dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu
pendekatan psikologis dan pendekatan sosiologis (Torrance, 1981; Dedi Supriadi,
1989). Pendekatan psikologis lebih melihat kreativitas dari aspek kekuatan yang
ada dalam diri individu sebagai faktor yang menen-tukan kreativitas, seperti
inteligensia, bakat, motivasi, sikap, minat, dan disposisi kepribadian lainnya.
Salah satu pendekatannya holistic (menyelu-ruh). Clark (1988) menggunakan
pendekatan holistik untuk menjelaskan konsep kreativitas dengan berdasarkan
pada fungsi-fungsi berpikir (thinking), merasa (feeling), mengindra (sensing), dan
intuisi (intuiting).
Thinking adalah berpikir rasional dan dapat diukur serta dikembangkan
melalui latihan-latihan yang dilakukan secara sadar dan sengaja.

Feeling

menunjuk pada suatu tingkat kesadaran yang melibatkan segi emosional, yang
merupakan proses aktualisasi diri, yaitu dilepaskannya energi emosio-nal dari
individu untuk kemudian dipindahkan kepada individu lain sehingga muncul
respon emosional. Sensing menunjuk pada suatu keadaan ketika dengan bakat
yang ada, diciptakan suatu produk baru yang dapat dilihat atau didengar oleh
orang lain, yang hal ini dimungkinkan jika memiliki perkembangan fisik, mental,
dan keterampilan yang tinggi di bidang yang menjadi bakatnya. Sedangkan
intuiting menuntut adanya sua-tu tingkat kesadaran yang tinggi yang dihasilkan
dengan cara membayang-kan, berfantasi, dan melakukan terobosan ke daerah
prasadar dan tak sadar.
Pendekatan sosiologis berasumsi bahwa kreativitas individu merupakan hasil
dari proses interaksi sosial, yang mana individu dengan segala potensi dan
disposisi kepribadiannya dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat di mana
individu itu berada, yang meliputi ekonomi, politik, kebudayaan, dan peranan
keluarga. Upaya memperlajari kreativitas dengan menggunakan pendekatan
sosiologis, mula-mula dilakukan oleh Kroeber pada tahun 1914 yang kemudian
dilaporkan dalam tulisannya yang berjudul Configuration of Culture. (Dedi
132

Supriadi, 1989:84). Melalui pendekatan sosiologis ini Kroeber berusaha melacak


faktor-faktor sosiologis yang saling berkaitan dan mengelompokkannya kepada
orang-orang yang memiliki kreativitas tinggi pada periode waktu dan tempat
tertentu dalam kurun sejarah, khususnya sejarah peradaban Barat. Dalam
analisisnya dia menggunakan tiga konfigurasi, yaitu waktu, ruang, dan derajat
prestasi suatu peradaban.

Kesimpulan yang dikemukakannya adalah bahwa

munculnya orang-orang kreatif tinggi dalam sejarah merupakan refleksi dari pola
perkembangan nilai-nilai sosial, yang meliputi ekonomi, politik, kebudayaan, dan
peranan keluarga.

Orang-orang berprestasi kreatif luar biasa ini lahir

dimungkinkan oleh karena kondisi ekonomi, politik, kebudayaan, dan peranan


keluarga yang kondusif, serta semangat yang hebat.
Pendapat Kroeber ini didukung oleh Gray yang melakukan penelitian pada
tahun 1958, 1961, dan 1966 yang menekankan dominannya peranan sosial
dalam perkembangan kreativitas. Arieti (1976) dalam M. Ali & M. Asrori (2005:
46) mengemukakan beberapa faktor sosiologis yang kondusif bagi perkembangan kreativitas, yaitu :
a. Tersedianya sarana-sarana kebudayaan;
b. Terbukanya terhadap keragaman cara berpikir;
c. Adanya keleluasaan bagi berbagai media kebudayaan;
d. Adanya toleransi terhadap pandangan-pandangan yang divergen;
e. Adanya penghargaan yang memadai terhadap orang-orang yang berprestasi.
2. Tahap-tahap Kreativitas.
Proses kreatif berlangsung mengikuti tahap-tahap tertentu. Tetapi tidak mudah
mengidentifikasi secara persis pada tahap manakah suatu proses kreatif itu
sedang berlangsung. Yang dapat diamati adalah gejalanya berupa perilaku yang
ditampilkan oleh individu.

Wallas Solso (1991) dalam M. Ali & M. Asrori

(2005:51), mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu persiapan,


inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.
a. Persiapan (Preparation).
Pada tahap ini, individu berusaha mengumpulkan data atau informasi untuk
133

memecahkan masalah yang dihadapi, dengan mencoba memikirkan berbagai


alternatif. Berbekal ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, individu
berusaha menjajagi berbagai kemungkinan jalan yang dapat ditempuh untuk
memecahkan masalah itu. Namun dalam tahap ini belum ada arah yang tetap
meskipun sudah mampu meng-eksplorasi berbagai alternatif pemecahan
masalah. Pada tahap ini masih sangat diperlukan kemampuan berpikir
divergen.
b. Inkubasi (Incubation).
Pada tahap ini, proses pemecahan masalah dierami dalam alam prasadar,
individu sekan-akan melupakannya. Jadi, pada tahap ini individu seolah-olah
melepaskan diri untuk sementara dari masalah yang dihadapinya, dalam
pengertian, tidak memikirkannya secara sadar melainkan mengendapkannya dalam alam prasadar. Proses inkubasi ini bisa berlangsung lama
(berhari-hari atau bahkan bertahun-tahun) tetapi bisa juga sebentar
(beberapa jam saja) sampai kemudian timbul inspirasi (ilham) atau gagasan
untuk pemecahan masalah.
c. Iluminasi (Illumination).
Tahap ini sering disebut sebagai tahap timbulnya insight (keinsafan). Pada
tahap ini sudah dapat timbul inspirasi atau gagasan-gagasan baru serta
proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti muncul-nya inspirasi
atau gagasan baru.

Hal ini timbul setelah diendapkan dalam waktu yang

lama atau bisa juga sebentar pada tahap inkubasi.


d. Verifikasi (Verification).
Pada tahap ini, gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis dan
konvergen serta menghadapkannya pada realitas. Pemikiran divergen harus
diikuti dengan pemikiran konvergen. Pemikiran dan sikap spontan harus
diikuti oleh pemikiran selektif dan sengaja. Penerimaan secara total harus
diikuti oleh kritik. Firasat harus diikuti oleh pemikiran logis. Keberanian harus
diikuti oleh sikap hati-hati. Imajinasi harus diikuti oleh pengujian terhadap
realitas.

Jadi, jika pada tahap persiapan, inkubasi, dan iluminasi yang

menonjol adalah proses berpikir divergen, maka dalam tahap verifikasi yang
134

lebih menonjol adalah proses berpikir konvergen.


3. Karakteristik Kreativitas.
Berbagai karakteristik atau ciri kreativitas yang dikemukakan di bawah ini
merupakan serangkaian hasil studi terhadap kreativitas. Salah satu caranya
dengan mengidentifikasikan sikap, kepercayaan, dan nilai pada orang-orang yang
kreatif.
a. Piers (Adam, 1976) dalam M. Ali & M. Asrori (2005:52) mengemukakan bahwa
karakteristik kreativitas adalah sebagai berikut.
1) Memiliki dorongan (drive) yang tinggi;
2) Memiliki keterlibatan nyang tinggi;
3) Memiliki rasa ingin tahu yang besar;
4) Memiliki ketekunan yang tinggi;
5) Cenderung tidak puas terhadap kemapanan;
6) Penuh percaya diri;
7) Memiliki kemandirian yang tinggi;
8) Bebas dalam mengambil keputusan;
9) Menerima diri sendiri;
10) Senang humor;
11) Memiliki intuisi yang tinggi;
12) Cenderung tertarik kepada hal-hal yang kompleks;
13) Toleran terhadap ambiguitas;
14) Bersifat sensitif.
b. Utami Munandar (1992) mengemukakan ciri-ciri kreativitas, antara lain :
1) Senang mencari pengalaman baru;
2) Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit;
3) Memiliki inisiatif;
4) Memiliki ketekunan yang tinggi;
5) Cenderung kritis terhadap orang lain;
6) Berani menyatakan pendapat dan keyakinannya;
7) Selalu ingin tahu;
135

8) Peka atau perasa;


9) Energik dan ulet;
10) Menyukai tugas-tugas yang majemuk;
11) Percaya kepada diri sendiri;
12) Mempunyai rasa humor;
13) Memiliki rasa keindahan;
14) Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi.
c. Clark (1988) mengemukakan karakteristik kreativitas sebagai berikut :
1) Memiliki disiplin diri yang tinggi;
2) Memiliki kemandirian yang tinggi;
3) Cenderung sering menentang otoritas;
4) Memiliki rasa humor;
5) Mampu menentang takanan kelompok;
6) Lebih mampu menyesuaikan diri;
7) Senang berpetualang;
8) Toleran terhadap ambiguitas;
9) Kurang toleran terhadap hal-hal yang membosankan;
10) Menyukai hal-hal yang kompleks;
11) Memiliki kemampuan berpikir divergen yang tinggi;
12) Memiliki memori dan atensi yang baik;
13) Memiliki wawasan yang luas;
14) Mampu berpikir periodik;
15) Memerlukan situasi yang mendukung;
16) Sensitif terhadap lingkungan;
17) Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi;
18) Memiliki nilai estetik yang tinggi;
19) Lebih bebas dalam mengembangkan integrasi peran seks.
d. Torrance (1981) mengemukakan karakteristik kreativitas sebagai berikut :
1) Memiliki rasa ingin tahu yang besar;
2) Tekun dan tidak mudah bosan;
3) Percaya diri dan mandiri;
136

4) Merasa tertantang oleh kemajemukan atau kompleksitas;


5) Berani mengambil resiko;
6) Berpikir divergen.

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KREATIVITAS


Pada awalnya kreativitas dipandang sebagai faktor bawaan yang hanya dimi-liki
oleh individu tertentu. Namun dalam perkembangan selanjutnya, ditemu-kan
bahwa kreativitas tidak dapat berkembang secara otomatis tetapi membutuhkan
rangsangan dari lingkungan.

Beberapa ahli mengemukakan faktor-faktor yang

mempengaruhi perkembangan kreativitas.


Menurut Utami Munandar (1988), faktor-faktor yang mempengaruhi kretivitas
adalah :
1. Usia.
2. Tingkat pendidikan orang tua.
3. Tersedianya fasilitas.
4. Penggunaan waktu luang.
Adapun Clark (1983) dalam M. Ali dan M. Asrori (2005:54), menggolongkan
faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas ke dalam dua kelompok, yaitu faktor
yang mendukung dan faktor yang menghambat. Faktor-faktor yang mendukung
adalah :
1. Situasi yang menghadirkan ketidaklengkapan serta keterbukaan.
2. Situasi yang memungkinkan dan mendorong timbulnya banyak pertanyaan.
3. Situasi yang dapat mendorong untuk menghasilkan sesuatu.
4. Situasi yang mendorong tanggung jawab dan kemandirian.
5. Situasi yang menekankan inisiatif diri untuk menggali, mengamati, bertanya,
merasa,

mengklasifikasikan,

mencatat,

menerjemahkan,

memprakirakan,

menguji hasil prakiraan, dan mengkomunikasikan.


6. Kedwibahasaan yang memungkinkan untuk pengembangan potensi kreativitas
secara lebih luas karena akan memberikan pandangan dunia secara lebih
bervariasi, lebih fleksibel dalam menghadapi masalah, dan mampu mengeks137

presikan dirinya dengan cara yang berbeda dari umumnya yang dapat muncul
dari pengalaman yang dimilikinya.
7. Posisi kelahiran (berdasarkan tes kreativitas, anak sulung laki-laki lebih kreatif
daripada anak laki-laki adik-adiknya).
8. Perhatian dari orang tua terhadap minat anaknya, stimulasi dari ling-kungan
sekolah, dan motivasi diri.
Sedangkan faktor-faktor yang menghambat berkembangnya kreativitas adalah :
1. Adanya kebutuhan akan keberhasilan, ketidakberanian dalam menanggung
resiko, atau upaya mengejar sesuatu yang belum diketahui.
2. Konformitas terhadap teman-teman kelompoknya dan tekanan sosial.
3. Kurang berani dalam melakukan eksplorasi, menggunakan imajinasi, dan penyelidikan.
4. Stereotif peran seks atau jenis kelamin.
5. Diferensiasi antara bekerja dan bermain.
6. Otoritarianisme.
7. Tidak menghargai terhadap fantasi dan khayalan.
Sementara itu Miller dan Gerard (Adams dan Gullota, 1979), mengemukakan
adanya pengaruh keluarga pada perkembangan kreativitas anak dan remaja,
sebagai berikut :
1. Orang tua yang memberikan rasa aman.
2. Orang tua mempunyai berbagai macam minat pada kegiatan di dalam dan di luar
rumah.
3. Orang tua memberikan kepercayaan dan menghargai kemampuan anaknya.
4. Orang tua memberikan otonomi dan kebebasan pada anak.
5. Orang tua mendorong anak melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya.
Torrance (1981) juga menekankan pentingnya dukungan dan dorongan
lingkungan agar individu dapat berkembang kreativitasnya. Lingkungan pertama
dan utama adalah keluarga, terutama dalam interaksinya, mengingat sebagian
besar waktu kehidupan anak berlangsung di dalam keluarga. Lima bentuk interaksi
dalam keluarga yang mendorong kreativitas dimaksud, adalah :
1. Menghormati pertanyan-pertanyaan yang tidak lazim.
138

2. Menghormati gagasan-gagasan imajinasi.


3. Menunjukkan kepada anak bahwa gagasan yang dikemukakan itu bernilai.
4. Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar atas inisiatif sendiri dan
memberikan penghargaan (reward) kepadanya.
5. Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dan melakukan kegiatankegiatan tanpa suasana penilaian.
Torrance pun mengemukakan beberapa interaksi yang menghambat
kreativitas, yaitu :
1. Terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi anak.
2. Membatasi rasa ingin ntahu anak.
3. Terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan jenis kelamin (sexual roles).
4. Terlalu banyak melarang anak.
5. Terlalu menekankan kepada anak agar memiliki rasa malu.
6. Terlalu menekankan pada keterampilan verbal tertentu.
7. Sering memberikan kritik yang bersifat destruktif.
Jadi, menurut Torrance, interaksi antara orang tua dengan anak/remaja yang
dapat mendorong kreativitas bukanlah interaksi yang didasarkan atas situasi
stimulus-respons, melainkan atas dasar hubungan kehidupan sejati (a living
relationship) dan saling tukar pengalaman (co-experiencing). Dalam situasi seperti
ini, orang tua dan anak adalah subyek yang saling berinteraksi secara seimbang.

E. MASALAH YANG SERING TIMBUL PADA ANAK KREATIF


Anak-anak kreatif meskipun memiliki kemampuan atau kelebihan jika dibandingkan
dengan

anak-anak

pada

umumnya,

perkembangannya psikologisnya.

tidak

berarti

selalu

mulus

dalam

Jika potensi kreatifnya tidak menda-patkan

penanganan yang baik, justru akan menimbulkan masalah pada dirinya.

Dedi

Supriadi (1994) mengemukakan sejumlah masalah yang sering timbul atau dialami
oleh anak-anak kreatif, yaitu :
1. Pilihan Karier yang Tidak Realistis.
Anak kreatif cenderung memiliki pilihan karier tidak realistik, kurang populer,
139

dan tidak lazim (unconventional) sejauh dipersepsi oleh lingkung-annya. Banyak


alternatif yang dipilihnya dan cendeung berubah-ubah. Jika kondisi psikologis
seperti ini tidak mendapat bimbingan secara baik dan mengarahkan pada pilihan
yang tepat, bisa mengakibatnya anak frustrasi.
2. Hubungan dengan Guru dan Teman Sebaya.
Dalam berhubungan dengan guru dan teman sebaya, anak kreatif kadang
mengalami hambatan.

Mereka cenderung kritis, memiliki pendapat sendiri,

berani mengemukakan dan mempertahankan pendapat sendiri, berani menyatakan ketidaksetujuan kepada pemikiran orang lain, tidak mudah percaya, dll.
sehingga sering dijauhi oleh teman-teman sebaya atau kurang disenangi oleh
gurunya.
3. Perkembangan yang Tidak Selaras.
Jika lingkungan tidak dapat mengakomodasi keunggulan potensi kreatifnya itu,
dapat muncul masalah dalam diri anak-anak kreatif. Masalah yang timbul disebut
dengan istilah uneven development (perkembangan yang tidak selaras) antara
kematangan intelektual dengan perkembangan aspek-aspek emosional dan
sosialnya.
4. Tidak Adanya Tokokh-tokoh Idola.
Anak kreatif cenderung memiliki tokoh-tokoh yang diidolakan. Tokoh dimaksud
kadang dekat dengan lingkungannya, tetapi juga mungkin jauh dan sulit
dijangkau. Kelangkaan tokoh ideal karena kelangkaan informasi dapat mengakibatkan anak-anak kreatif tersesat pada pilihan yang salah.

F. UPAYA MEMBANTU PERKEMBANGAN KREATIVITAS REMAJA DAN IMPLIKASINYA


TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Sebenarnya anak-anak kreatif kedudukannya sama saja dengan anak-anak biasa
lainnya baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Namun karena potensi
kreatifnya itu, mereka sangat memerlukan perhatian khusus dari pendidik untuk
mengembangkan diri mereka.

Perhatian dimaksud bukan berarti memberi

perlakuan istimewa, melainkan harus mendapat bimbingan sesuai dengan potensi


140

kreatifnya agar tidak sia-sia.

Kelemahan pendidikan selama ini dalam konteks

pengembangan potensi kreatif anak, menurut Gowan (1981), adalah kurangnya


perhatian terhadap pengembangan fungsi belahan otak kanan. Akibatnya, tidak
sedikit anak yang sebenarnya memiliki potensi kreatif mengalami penurunan
kreativitas (creativity drop). Secara tegas dia mengatakan nahwa, We suggest that
this drop is caused by the extinction of right-hemisphere imagery as a result of the
overteaching the left-hemisphere function of reading, writing, and arithmetic which
occur at the time, and lack of stimulation of right-hemisphere function caused by the
lessening or absence of music and art from curriculum and the lack of other righthemisphere stimulation procedures.
Oleh karenanya, sistem pendidikan hendaknya memperhatikan kurikulum yang
akan diolah menjadi materi dalam proses pendidikan itu yang dapat dikembalikan
kepada fungsi-fungsi pengembangan yang berbeda dari kedua belahan otak
manusia.

Jika terlalu menekankan pada fungsi satu belahan otak saja akan

menyebabkan fungsi belahan otak lainnya tidak berkembang secara maksimal. Agar
proses pendidikan dapat memberikan bantuan kepada anak-anak kreatif, para guru
dan pembimbing di sekolah mestinya dapat mengenali anak-anak kreatif peserta
didiknya. Idealnya, sekolah memiliki perangkat dan prosedur identifikasi anak-anak
kreatif, baik berupa tes maupun nontes. Sekiranya belum siap, prosedur observasi
partisipan yang dilakukan secara serius, sistematis, dan cermat, juga tidak kalah
ampuhnya dengan pengguna-an perangkat baku dimaksud.
Menurut Dedi Supriadi (1994), relasi bantuan untuk membimbing anak-anak
kreatif, sebenarnya sama saja dengan relasi untuk anak-anak pada umumnya.
Hanya saja, idealnya para guru dan pembimbing mengetahui mekanisme proses
kreatif dan manifestasi perilaku kreatif. Dalam konteks relasi ini, Torrance (1981)
menamakan relasi bantuan itu sebagai creative relationship yang memilki
karakteristik :
1. Pembimbing berusaha memahami pikiran dan perasaan anak.
2. Pembimbing mendorong anak untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya tanpa
mengalami hambatan.
3. Pembimbing lebih menekankan pada proses daripada hasil, sehingga pembim141

bing dituntut mampu memandang permasalahan anak sebagai bagian dari


keseluruhan dinamika perkembangan dirinya.
4. Pembimbing berusaha menciptakan lingkungan yang bersahabat, bebas dari
ancaman, dan suasana penuh saling menghargai.
5. Pembimbing tidak memaksanakan pendapat, pandangan, atau nilai-nilai
tertentu kepada anak.
6. Pembimbing berusaha mengeksplorasi segi-segi positif yang dimiliki anak, dan
bukan sebaliknya mencari-cari kelemahan anak.
7. Pembimbing berusaha menempatkan aspek berpikir dan perasaan secara
seimbang dalam proses pembimbingan.
Dalam kontaks proses pendidikan dan pembimbingan untuk membantu
perkembangan anak-anak kreatif, menurut Dedi Supriadi (1994) sejumlah bantuan
dapat dilakukan, antara lain dengan :
1. Menciptakan rasa aman kepada anak untuk mengekspresikan kreativitasnya.
2. Mengakui dan menghargai gagasan-gagasan anak.
3. Menjadi pendorong bagi anak untuk mengkomunikasikan dan mewujudkan
gagasan-gagasannya.
4. Membantu anak memahami divergensinya dalam berpikir dan bersikap, dan
bukan malah menghukumnya.
5. Memberikan peluang untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasannya.
6. Memberikan informasi tentang peluang-peluang yang tersedia.

142

BAB VII
TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA

A. PENGERTIAN TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN


Selama perjalanan kehidupannya, setiap individu tumbuh dan berkembang melalui
beberapa periode atau fase-fase perkembangan.

Setiap fase perkembangan

memiliki serangkaian tugas perkembangan yang harus diselesaikan dengan baik


oleh setiap individu. Kegagalan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembngan
tertentu akan berakibat tidak baik dalam kehidupan fase berikutnya. Sebaliknya,
keberhasilan dalam menyelesaikan tugas-tugas per-kembangan pada fase tertentu
akan memperlancar pelaksanaan tugas-tugas perkembangan fase selanjutnya.
Tugas-tugas perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku
kehidupan sosio-psikologis individu pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan
masyarakat yang lebih luas dan kompleks. (Fatimah, 2010:159).
Robert J. Havighurst (Hurlock, 1990) dalam M. Ali dan M. Asrori (2005: 164),
mengatakan bahwa tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau
sekitar satu periode tertentu dari kehidupan individu, dan jika berhasil akan
menimblukan fase bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugastugas berikutnya. Akan tetapi jika gagal akan menimbul-kan rasa tidak bahagia dan
kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikut-nya. Tugas-tugas perkembangan
tersebut beberapa di antaranya muncul sebagai kematangan fisik, sedangkan yang
lain berkembang karena adanya aspirasi budaya, dan yang lain lagi tumbuh dan
berkembang karena nilai-nilai dan aspirasi individu.
Tugas-tugas perkembangan mempunyai tiga macam tujuan yang sangat bermanfaat bagi individu, yaitu :
1. Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia-usia tertentu.
2. Memberikan motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang
diharapkan oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupannya.
3. Menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi
143

dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka jika nantinya akan memasuki
tingkat perkembangan berikutnya.
Ada tugas-tugas perkembangan yang dapat diselesaikan dengan baik, tetapi
ada juga yang mengalami hambatan. Tiga macam bahaya potensial yang menjadi
penghambat penyelesaian tugas perkembangan, adalah :
1. Harapan-harapan yang kurang tepat, yaitu baik individu maupun lingkungan
sosial mengharapkan perilaku di luar kemampuan fisik maupun psikologis.
2. Melangkahi tahapan-tahapan tertentu dalam perkembangan sebagai akibat
kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu.
3. Adanya krisis yang dialami individu karena melewati satu tingkatan ke tingkatan
yang lain.

B. JENIS TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA


Havighurst (1981) dalam M. Ali dan M. Asrori (2005:165-169) mengemukakan 10
jenis perkembangan yang harus diselesaikan dengan baik oleh ramaja, yaitu :
1. Mencapai Hubungan Baru yang Lebih Matang dengan Teman Sebaya baik Lakilaki maupun Perempuan.
a. Hakikat tugas : Mempelajari peran anak perempuan sebagai wanita dan anak
laki-laki sebagai pria, menjadi dewasa di antara orang dewasa, dan belajar
memimpin tanpa menekan orang lain.
b. Dasar biologis : Kematangan seksual dicapai selama masa remaja. Daya tarik
seksual menjadi suatu kebutuhan yang dominan dalam kehidupan remaja.
Hubungan sosial dipengaruhi oleh kematangan fisik yang telah dicapai.
c. Dasar psikologis : Remaja belajar bertingkah laku sebagaimana orang
dewasa. Dalam kelompok lain jenis, remaja belajar menguasai keterampilan
sosial. Remaja putri umumnya lebih cepat matang daripada remaja putra dan
cenderung lebih tertarik kepada remaja putra yang usianya beberapa tahun
lebih tua.

144

2. Mencapai Peran Sosial Laki-laki dan Perempuan.


a. Hakikat tugas : Mempelajari peran sosial sesuai dengan jenis kelaminnya sebagai laki-laki dan perempuan.
b. Dasar biologis : Ditinjau dari aspek fisik, remaja putri menjadi orang yang
lebih lemah dibandingkan dengan remaja putra.
c. Dasar psikologis : Peranan sosial laki-laki dan perempuan berbeda. Masingmasing perlu menerima kodratnya sebagai laki-laki dan perempuan. Namun
demikian sering terjadi kesulitan pada remaja putri, yang kadang cenderung
lebih mengutamakan ketertarikannya karier, cenderung mengagumi ayah dan
kakak-kakaknya, serta ingin bebas dari peranan sosialnya sebagai istri atau ibu
yang memerlukan dukungan suami.
3. Menerima Keadaan Fisiknya dan Menggunakannya Secara Efektif.
a. Hakikat tugas : Bangga atau sekurang-kurangnya toleran dengan kondisi
fisiknya sendiri, menjaga dan melindungi, serta menggunakannya secara
efektif.
b. Dasar biologis :

Perkembangan remaja disertai pertumbuhan fisik dan

seksual. Laju pertumbuhan remaja putri lebih cepat dibandingkan dengan


remaja putra. Umumnya remaja putri usia 15-16 tahun tubuhnya mencapai
bentuk akhir, sedangkan remaja putra dicapai sekitar 18 tahun.
c. Dasar psikologis : Terjadinya perubahan bentuk tubuh yang disertai perubahan sikap dan minat remaja. Mereka suka memperhatikan perubahan
tubuh yang sedang dialaminya sendiri. Remaja putri lebih suka berdandan
atau berhias untuk menarik lawan jenisnya manakala dia sudah mulai menstruasi.
4. Mencari Kemandirian Emosional dari Orang Tua dan Orang-orang Dewasa
Lainnya.
a. Hakikat tugas :

Membebaskan sifat kekanak-kanakan yang selalu meng-

gantungkan diri pada orang tua, mengembangkan sikap perasaan tertentu


kepada orang tua tanpa menggantungkan diri padanya, dan mengembangkan
sikap hormat kepada orang dewasa tanpa menggan-tungkan diri padanya.
145

b. Dasar biologis : Kematangan seksual individu. Individu yang tidak memperoleh


kepuasan di dalam keluarganya akan keluar untuk membangun ikatan
emosional dengan teman sebaya. Ini bisa berlangsung tanpa mengubah ikatan
emosional dengan orang tuanya.
c. Dasar psikologis : Pada masa ini remaja mengalami sikap ambivalen terhadap
orang tua. Remaja ingin bebas, namun dirasa bahwa dunia dewasa itu cukup
rumit dan asing baginya. Dalam keadaan begini remaja masih mengharapkan
perlindungan orang tua, sebaliknya orang tua menginginkan anaknya
berkembang menjadi lebih dewasa. Keadaan inilah yang menyebabkan remaja
sering memberontak kepada otoritas orang tua. Guru adalah sebagai salah
satu tempat bertumpu, maka peranan guru cukup besar dalam proses
penyapihan psikologis remaja. Kegagalan dalam melaksanakan tugas
cenderung dapat diasosiasikan dengan kegagalan dalam membina hubungan
yang bersifat dewasa dengan teman sebaya.
5. Mencapai Jaminan Kebebasan Ekonomis.
a. Hakikat tugas : Merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri.
b. Sadar biologis : Tidak ada dasar biologis yang berarti untuk pelaksanaan tugas
ini, meskipun kekuatan dan keterampilan fisik sangat bermanfaat untuk
mencapai tugas ini.
c. Dasar psikologis : Berkaitan erat dengan hasrat untuk mandiri.
6. Memilih dan Menyiapkan Lapangan Pekerjaan.
a. Hakikat tugas :

Memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan serta

mempersiapkan pekerjaan.
b. Dasar bilologis : Ukuran dan kekuatan badan pada usia sekitar 18, sudah
cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri memperoleh
lapangan pekerjaan.
c. Dasar psikologis : Pada remaja usia 16-19 tahun minat utamanya tertuju pada
pemilihan dan mempersiapkan lapangan pekerjaan. Pres-tasi siswa di sekolah,
apa yang dicita-citakannya, ke mana akan melan-jutkan pendidikan, secara
samar menjadi gambaran tentang lapangan pekerjaan yang diminatinya.
146

7. Persiapan untuk Memasuki Kehidupan Berkeluarga.


a. Hakikat tugas :

Mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan

berkeluarga. Khusus untuk remaja putri, termasuk di dalamnya kesiapan


untuk mempunyai anak (reproduksi).
b. Dasar bilologis : Kematangan seksual yang normal yang menumbuhkan ketertarikan antar jenis kelamin.
c. Dasar psikologis : Sikap remaja terhadap perkawinan sangat bervariasi. Ada
yang menunjukkan rasa takut, ada juga yang menunjukkan sikap bahwa
perkawinan justru merupakan suatu kebahagiaan hidup.
8. Mengembangkan Keterampilan Intelektual dan Konsep yang Penting untuk
Kompetensi Kewarganegaraan.
a. Hakikat tugas : Mengembangkan konsep tentang hukum, politik, ekonomi,
dan kemasyarakatan.
b. Dasar biologis : Pada usia 14 tahun, sistem syaraf otak telah mencapai tahap
ukuran kedewasaan.
c. Dasar psikologis : Berkembangknya kemampuan kejiwaan yang cukup besar
dan perbedaan individu dalam perkembangan kejiwaan yang sangat erat
hubungannya dengan perbedaan dalam penguasaan bahasa, pemaknaan,
perolehan konsep-konsep, minat, dan motivasi.
9. Mencapai dan Mengharapkan Tingkah Laku Sosial yang Bertanggung Jawab.
a. Hakikat tugas : Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab
dalam kehidupan masyarakat dan mampu menjunjung nilai-nilai masyarakat
dalam bertingkah laku.
b. Dasar biologis : Tidak terlalu menuntut dasar biologis. Tugas ini berkait-an
erat dengan pengaruh masyarakat terhadap individu, kecuali jika menerima
adanya naluri sosial pada manusia, atau memandang bagus tingkah laku
remaja merupakan sublimasi dari dorongan seksual.
c. Dasar psikologis : Proses untuk mengikatkan diri individu kepada kelompok
sosialnya telah berlangsung sejak individu dilahirkan. Sejak kecil anak diminta
147

untuk belajar menjaga hubungan baik dengan kelom-pok, berpartisipasi


sebagai anggota kelompok sebaya, dan belajar bagai-mana caranya berbuat
sesuatu untuk kelompoknya. Hal ini berlangsung sampai individu mencapai
fase remaja.
10. Memperoleh Suatu Himpunan Nilai-nilai dan Sistem Etika sebagai Pedoman
Tingkah Laku.
a. Hakikat tugas : Membentuk suatu himpunan nilai-nilai sehingga memungkinkan remaja mengembangkan dan merealisasikan nilai-nilai, mendefinsikan
posisi individu dalam hubungannya dengan individu lain, dan memegang
suatu gambaran dunia dan suatu nilai untuk kepentingan hubungan dengan
individu lain.
b. Dasar biologis : Tidak ada.
c. Dasar psikologis : Banyak remaja yang menaruh perhatian pada problem
filosofis dan agama. Hal ini diperoleh remaja melalui identifikasi dan imitasi
pribadi ataupun penalaran dan analisis tentang nilai.

C. TUGAS PERKEMBANGAN KEHIDUPAN BERKELUARGA


Masa remaja dibagi dua fase, fase pertama adalah pubertas, dan fase kedua
adolescens. Fase pertama menitikberatkan pada perkembangan fisik dan seksual,
serta pengaruhnya pada gejala-gajala psikososial. Sedangkan fase kedua menitikberatkan pada aspek nilai-nilai, moral, pandangan hidup, dan hubungan
kemasyarakatan. (Siti Rahayu Haditono, 1991).

Berdasarkan pembagian fase

tersebut, pembahasan tugas perkembangan remaja berkenaan dengan kehidupan


berkeluarga menitikberatkan pada pada masa remaja fase kedua, yaitu adolesens.
Pada fase ini tugas perkembangan yang berkaitan dengan kehidupan keluarga
merupakan tugas yang sangat penting dan harus dapat diselesaikan dengan baik
meskipun dirasakan sangat berat. Hal ini cukup beralasan karena selama tahun
pertama dan kedua perkawinan, pasangan muda harus melakukan penyesuaian diri
satu sama lain terhadap anggota keluarga masing-masing. Sementara ketegangan
148

emosional masih sering timbul pada mereka.


Dari sekian banyak masalah penyesuaian diri dalam kehidupan perkawinan atau
berkeluarga, terdapat empat unsur utama yang penting bagi kebahagiaan
perkawinan, yaitu :
1. Penyesuaian dengan pasangan.
2. Penyesuaian seksual.
3. Penyesuaian keuangan.
4. Penyesuaian dengan pihak keluarga masing-masing.
Berkaitan dengan hal tersebut ditas, terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhinya, yaitu :
1. Faktor yang mempengaruhi penyesuaian terhadap pasangan dalah konsep
tentang pasangan yang ideal, pemenuhan kebutuhan, kesamaan latar belakang,
minat, kepentingan bersama, kepuasan nilai, konsep peran, dan perubahan
dalam pola hidup.
2. Faktor penting yang mempengaruhi penyesuaian seksual adalah perilaku seksual,
pengalaman seksual masa lalu, dorongan seksual, pengalaman seksual marital
awal, serta sikap terhadap penggunaan alat kontrasepsi.
3. Faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri dengan pihak keluarga pasangan
adalah stereotif tradisional, keinginan untuk mandiri, fanatisme keluarga,
mobilitas sosial, anggota keluarga berusia lanjut, dan bantuan keuangan untuk
keluarga pasangan.
Dalam kaitan penyesuaian diri dalam kehidupan keluarga dan perkawinan,
terdapat sejumlah kriteria keberhasilannya, yaitu :
1. Kebahagiaan pasangan suami-istri.
2. Hubungan yang baik antara anak dengan orang tua.
3. Penyesuaian yang baik dari anak-anak.
4. Kemampuan untuk memperoleh kepuasan dari perbedaan pendapat.
5. Kebersamaan.
6. Penyesuaian yang baik dalam masalah keuangan.
7. Penyesuaian yang baik dari pihak keluarga pasangan.

149

D. IMPLIKASI TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA TERHADAP PENDIDIKAN


Tugas-tugas perkembangan remaja harus dapat diselesaikan dengan baik, karena
akan membawa implikasi penting bagi penyelenggaraan pendidikan, yaitu :
1. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memberikan kesempatan melaksanakan
kegiatan-kegiatan nonakademik melalui berbagai perkumpulan, misalnya olah
raga sejenis, kesenian, dll.
2. Jika ada remaja putra atau putri bertingkah laku tidak sesuai dengan jenis
kelaminnya, mereka perlu dibantu melalui bimbingan dan penyuluhan (guidance
and counceling). Demikian juga jika seorang perempuan lebih mementingkan
studi dan kariernya tinimbang menaruh perhatiannya menjadi seorang ibu,
hendaklah sekolah turut membantunya agar mereka mampu menerima kodrat
dan peranannya sebagai seorang perempuan.
3. Siswa yang lambat perkembangan jasmaninya diberi kesempatan berlomba
dalam kegiatan kelompoknya sendiri. Perlu diberikan penjelasan melalui bidang
studi biologi dan ilmu kesehatan bahwa pada diri remaja sedang terjadi
perubahan jasmani yang bervariasi. Juka mereka diberi kesempatan untuk
bertanya tentang perkembangan jasmani itu.
4. Pemberian bantuan kepada siswa untuk memilih lapangan pekerjaan yang sesuai
dengan minat dan keinginannya, sesuai dengan sistem kemasya-rakatan yang
dianutnya, dan membantu siswa mendapatkan pendidikan yang bermanfaat
untuk mempersiapkan diri memasuki pekerjaan. Semua ini hendaknya dilakukan
oleh semua personil sekolah, terutama petugas BP, yaitu guru pembimbing atau
konselor. (M. Ali dan M. Asrori, 2005:170).

150

BAB VIII
PENYESUAIAN DIRI DAN PERMASALAHANNYA

A. PENGERTIAN PENYESUAIAN DIRI


Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya (Inggris) dikenal dengan istilah adjustment
atau personal adjustment. Menurut Schneiders (1984), penyesuaian diri dapat
ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu : Penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery).
1. Penyesuaian Diri sebagai Adaptasi (Adaptation).
Dilihat dari latar belakang perkembangannya, pada mulanya penyesuaian diri
diartikan sama dengan adaptasi, padahal adaptasi pada umumnya lebih
mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Contoh,
seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin, harus
beradaptasi dengan iklim dingin di daerah baru tersebut. Kecenderungan ini
berarti sebagai usaha mempertahankan diri secara fisik (self maintenance atau
survival). Jika penyesuaian diri hanya diartikan sama dengan usaha mempertahankan diri secara fisik saja, tidak meliputi psikologis, maka kompleksitas
kepribadian individu dan hubungan kepribadian individu dengan lingkungan
menjadi terabaikan. Padahal, sesungguhnya dalam penyesuaian diri tidak
sekedar penyesuaian fisik, melainkan lebih kompleks dan lebih penting adanya
keunikan dan keberbedaan kepribadian individu dalam hubungannya dengan
lingkungan.
2. Penyesuaian Diri sebagai Bentuk Konformitas (Conformity).
Diartikan sama dengan penyesuaian diri yang mencakup konformitas terhadap
suatu norma. Pengartian seperti ini pun terlalu banyak membawa kaibat lain,
yang menyiratkan individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk harus
selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik secara
moral, sosial, maupun emosional.

Dalam sudut pandang ini individu selalu


151

diarahkan pada tuntutan konformitas dan terancam akan tertolak manakala


perilakunya tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Keragaman pada individu menyebabkan penyesuaian diri tidak dapat
dimaknai sebagai usaha konformitas. Contohnya, pola perilaku pada anak-anak
berbakat atau jenius ada yang tidak berlaku atau tidak dapat diterima di
lingkungan anak-anak berkemampuan biasa. Akan tetapi tidak juga dapat
dikatakan mereka tidak mampu menyesuaikan diri. Norma-norma social dan
budaya kadang terlalu kaku dan tidak masuk akal untuk dikenakan pada anakanak yang memiliki keunggulan tingkat inteligensi atau anak-anak berbakat.
Selain itu norma yang berlaku pada suatu budaya tertentu tidak sama dengan
norma pada budaya lainnya, sehingga tidak mungkin merumuskan serangkai-an
prinsip-prinsip penyesuaian diri berdasarkan budaya yang dapat diterima secara
universal. Dengan demikian, konsep penyesuaian diri sesungguhnya bersifat
dinamis dan tidak dapat disusun berdasarkan konformitas sosial.
3. Penyesuaian Diri sebagai Usaha Penguasaan (Mastery).
Penguasaan diri sebagai usaha penguasaan (mastery), adalah kemampuan untuk
merencanakan dan mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu
segingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustrasi tidak terjadi. Dengan kata lain,
penyesuaian diri di sini diartikan sebagai kemampuan penguasaan dalam
mengembangkan diri sehingga dorongan, emosi, dan kebiasaan menjadi
terkendali dan terarah. Berarti juga penguasaan dalam memiliki kekuatankekuatan terhadap lingkungan, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan
realitas berdasarkan cara-cara yang baik, akurat, sehat, dan mampu bekerjasama
dengan orang lain secara efektif dan efisien, serta mampu memanipulasi faktorfaktor lingkungan sehingga penyesuaian diri dapat berlangsung dengan baik.
Pemaknaan penguasaan diri sebagai penguasaan mengandung kelemahan,
yaitu menyamaratakan semua individu. Padahal kapasitas individu antara yang
satu dengan yang lain tidaklah sama. Ada keterbatasan-keterbatasan tertentu
yang dihadapi tiap individu. Oleh sebab itu perlu dirumuskan prinsip-prinsip
penting tentang hakikat penyesuaian diri sebagai berikut :
152

a. Setiap individu memiliki kualitas penyesuaian diri yang berbeda;


b. Penyesuaian diri sebagian besar ditentukan oleh kapasitas internal atau
kecenderungan yang telah dicapainya;
c. Penyesuaian diri juga ditentukan oleh faktor internal dalam hubungannya
dengan tuntutan lingkungan individu yang bersangkutan.
Demikianlah, semakin tampak bahwa penyesuaian diri dilihat dari pandangan psikologis pun memiliki makna yang beragam. Sedikit saja kualitas
penyesuaian diri yang dapat diidentifikasi. Selain itu kesulitan yang muncul
bahwa penyesuaian diri tidak dapat dinilai baik atau buruk, melainkan sematamata hanya menunjuk kepada cara bereaksi terhadap tuntutan internal atau
situasi eksternal. Reaksi yang dipandang memuaskan, efektif, dan efisien
seringkali diartikan sebagai penyesuaian diri yang baik. Sebaliknya, reaksi yang
tidak memuaskan, tidak efektif dan tidak efisien diartikan sebagai penyesuaian
diri yang kurang baik, buruk, atau dikenal dengan istilah malasuai (maladjustment).
Dari ketiga sudut pandang tentang makna penyesuai diri tersebut di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri dapat diartikan sebagai suatu
proses yang mencakup respons-respons mental dan behavioral yang
diperjuangkan individu agar berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal,
ketegangan, frustrasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan
antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar atau
lingkungan tempat di mana individu berada. (M. Ali dan M. Asrori, 2005:175).

B. PENYESUAIAN DIRI YANG BAIK


Seseorang dikatakan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik (well
adjustment person) jika mampu melakukan respons-respons yang matang, efisien,
memuaskan, dan sehat. Dikatakan efisien, karena mampu melakukan respons
dengan mengeluarkan tenaga dan waktu sehemat-hematnya. Dikatakan sehat,
karena respons-respons yang dilakukannya sesuai dengan hakikat individu,
lembaga, atau kelompok antarindividu, dan hubungan antarindividu dengan
153

penciptanya. Bahkan dapat dikatakan bahwa sifat ini adalah gambaran karakteristik
yang paling menonjol untuk melihat atau menentukan bahwa suatu penyesuaian
diri itu dikatakan baik.
Dengan demikian, orang yang dipandang memiliki penyesuaian diri yang baik,
adalah individu yang telah belajar bereaksi terhadap diri dan lingkungannya dengan
cara-cara yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat, serta dapat mengatasi
konflik mental, frustrasi, kesulitan pribadi dan sosial, tanpa mengembangkan
perilaku simptomatik dan gangguan psikomatik yang mengganggu tujuan-tujuan
moral, sosial, agama, dan pekerjaan. Orang seperti ini mampu menciptakan dan
mengisi hubungan antarpribadi dan kebahagiaan timbal balik yang mengandung
realisasi dan perkembangan kepribadian secara terus-menerus.

C. PROSES PENYESUAIAN DIRI


Menurut Schneiders (1984), penyesuaian diri setidaknya melibatkan tiga unsur,
yaitu motivasi, sikap terhadap realitas, dan pola dasar penyesuaian diri. Ketiga
unsur ini akan mewarnai kualitas proses penyesuaian diri individu.
1. Motivasi.
Motivasi merupakan kunci untuk memahami proses penyesuaian diri. Sama
halnya dengan kebutuhan, perasaan, dan emosi, maka motivasi merupakan
kekuatan internal yang menyebabkan ketegangan dan ketidakseimbangan dalam
organisme.

Ketegangan dan ketidakseimbangan adalah kondisi yang tidak

menyenangkan

karena

sesungguhnya

kebebasan

dari

ketegangan

dan

keseimbangan dari kekuatan-kekuatan internal lebih wajar dalam organism jika


dibandingkan dengan kedua kondisi tersebut. Hal ini sama dengan konflik dan
frustrasi yang juga tidak menyenangkan, berlawanan dengan kecenderungan
organisme untuk meraih keharmonisan internal, ketenteraman jiwa, dan
kepuasan dari pemenuhan kebutuhan dan motivasi.
Ketegangan dan ketidakseimbangan memberikan pengaruh kepada kekacauan perasaan patologis dan emosi yang berlebihan atau kegagalan mengenal
154

pemuasan kebutuhan secara sehat karena mengalami frustrasi dan konflik.


Respons penyesuaian diri, baik atau buruk, secara sederhana dapat dipandang
sebagai suatu upaya organisme untuk mereduksi atau menjauhi ketegangan dan
untuk memelihara keseimbangan yang lebih wajar. Kualitas respons, apakah itu
sehat, efisien, merusak, atau patologis ditentukan teruta-ma oleh kualitas
motivasi, selain juga hubungan individu dengan lingkungan.
2. Sikap terhadap Realita.
Berbagai aspek penyesuaian diri ditentukan oleh sikap dan cara individu bereaksi
terhadap menusia di sekitarnya, benda-benda, dan hubungan-hubungan yang
membentuk realitas. Secara umum dapat dikatakan bahwa sikap yang sehat
terhadap realitas dan kontak yang baik terhadap realitas itu sangat diperlukan
bagi proses penyesuaian diri yang sehat. Beberapa perilaku seperti sikap
antisosial, kurang berminat terhadap hiburan, sikap bermusuh-an, kenakalan,
dan semaunya sendiri, semuanya itu sangat mengganggu hubungan antara
penyesuaian diri dengan realitas.

Berbagai tuntutan realitas, adanya

pembatasan, aturan, dan norma-norma, menuntut individu untuk terus belajar


menghadapi dan mengatur suatu proses kea rah hubungan yang harmonis antara
tuntutan internal yang dimanifestasikan dalam bentuk sikap dengan tuntutan
eksternal dari realitas. Jika individu tidak tahan terhadap tuntutan-tuntuan itu,
akan muncul situasi konflik, tekanan, dan frustrasi. Dalam situasi seperti itu,
organisme didorong untuk mencari perbedaan perilaku yang memungkinkan
untuk membebaskan diri dari ketegangan.
3. Pola Dasar Penyesuaian Diri.
Dalam penyesuaian diri sehari-hari, terdapat suatu pola dasar proses penyesuaian diri. Contohnya, seorang anak membutuhkan kasih sayang dari orang
tuanya yang selalu sibuk.

Anak akan frustrasi dan berusaha menemukan

pemecahan yang berguna untuk mengurangi ketegangan antara kebutuhan akan


kasih sayang dengan frustrasi yang dialami. Bisa jadi suatu saat upaya yang
dilakukan anak itu mengalami hambatan. Akhirnya anak akan beralih pada
155

kegiatan lain untuk mendapat kasih sayang yang dibutuhkannya, misalnya


dengan mengisap ibu jarinya sendiri. Demikian halnya pada orang dewasa, akan
mengalami

ketegangan

dan

frustrasi

karena

terhambatnya

keinginan

memperoleh rasa kasih sayang, memperoleh anak, meraih prestasi, dsb. Untuk
itu, dia akan berusaha mencari kegiatan yang dapat mengurangi ketegangan
yang ditimbulkan sebagai akibat tidak terpenuhi kebutuhannya itu.
Sesuai dengan konsep dan prinsip-prinsip penyesuaian diri yang ditujukan
kepada diri sendiri, orang lain, maupun lingkungannya, maka proses penyesuaian diri menurut Sunarto (1998) dalam M. Ali dan M. Asrori (ibid, hal. 178),
dapat ditujukan sebagai berikut :
a. Mula-mula individu, di satu sisi, merupakan dorongan keinginan untuk
memperoleh makna dan eksistensi dalam kehidupannya, dan dari sisi lain
mendapat peluang atau tuntutan dari luar dirinya sendiri;
b. Kemampuan menerima dan meniali kenyataan lingkungan di luar dirinya
secara obyektif sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan rasional dan
perasaan;
c. Kemampuan bertindak sesuai dengan potensi kemampuan yang ada pada
dirinya dan kenyataan obyektif di luar dirinya;
d. Kemampuan bertindak secara dinamis, luwes dan tidak kaku, sehingga
menimbulkan rasa aman, tidak dihantui oleh kecemasan atau ketakutan;
e. Dapat bertindak sesuai dengan potensi-potensi positif yang layak dikembangkan sehingga dapat menerima dan diterima lingkungan, tidak disingkirkan oleh lingkungan maupun menentang dinamika lingkungan;
f. Rasa hormat terhadap sesama manusia dan mampu bertindak toleran, selalu
menunjukkan perilaku hormat sesuai dengan harkat dan martabat manusia,
serta dapat mengerti dan menerima keadaan orang lain meski-pun
sebenarnya kurang serius dengan keadaan dirinya;
g. Kesanggupan merspons frustrasi, konflik, dan stres secara wajar, sehat, dan
profesional, dapat mengontrol dan mengendalikannya sehingga dapat
memperoleh manfaat tanpa harus menerima kesedihan yang mendalam;
h. Kesanggupan bertindak secara terbuka dan sanggup menerima kritik dan tin156

dakannya dapat bersifat murni sehingga sanggup memperbaiki tindakantindakan yang sudah tidak sesuai lagi;
i. Dapat bertindak sesuai dengan norma yang dianut oleh lingkungannya serta
selaras dengan hak dan kewajibannya;
j. Secara positif ditandai oleh kepercayaan terhadap diri sendiri, orang lain, dan
segala sesuatu di luar dirinya, sehingga tidak pernah merasa tersisih dan
kesepian.

D. KARAKTERISTIK PENYESUAIAN DIRI REMAJA


1. Penyesuaian Diri Remaja terhadap Peran dan Identitasnya.
Pesatnya pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis, seringkali menyebab-kan
remaja mengalami krisis peran dan identitas. Sesungguhnya remaja senantiasa
berjuang agar dapat memainkan perannya sesuai dengan perkem-bangan masa
peralihannya dari anak-anak menjadi dewasa. Tujuannya untuk memperoleh
identitas diri yang semakinn jelas dan dapat dimengerti serta diterima oleh
lingkungannya, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam kaitan ini
penyesuaian diri remaja secara khas berupaya untuk dapat berperan sebagai
subyek yang kepribadiannya memang berbeda dengan anak ataupun orang
dewasa.
2. Penyesuaian Diri Remaja terhadap Pendidikan.
Krisis identitas atau masa topan dan badai pada diri remaja seringkali
menimbulkan kendala dalam penyesuaian diri terhadap kegiatan belajarnya.
Pada umumnya remaja mengetahui bahwa untuk menjadi orang sukses harus
rajin belajar. Namun karena dipengaruhi oleh upaya pencarian identitas diri yang
kuat, menyebabkan mereka lebih senang mencari kegiatan-kegiatan selain
belajar tetapi menyenangkan bersama kelompoknya. Akibatnya, yang mucul ke
permukaan adalah kemalasan dan tidak disiplin dalam belajar. Banyak remaja
yang ingin sukses dalam menempuh pendidikan mereka, tetapi dengan cara yang
mudah dan tidak perlu bersusah payah belajar. Jadi, dalam kaitan ini, penye157

suaian diri remaja secara khas berjuang ingin meraih kesuksesan dalam studi,
tetapi dengan cara-cara yang menimbulkan perasaan bebas dan senang,
terhindar dari tekanan dan konflik, atau bahkan frustrasi.
3. Penyesuaian Diri Remaja terhadap Kehidupan Seks.
Secara fisik, remaja telah mengalami kematangan pertumbuhan fungsi
seksualnya, sehingga perkembangan dorongan seksual juga semakin kuat.
Artinya, remaja perlu menyesuaikan penyaluran kebutuhan seksualnya dalam
batas-batas penerimaan lingkungan sosialnya sehingga terbebas dari kecemasan
psikoseksual, tetapi juga tidak melanggar nilai-nilai moral masyarakat dan
agama. Jadi, secara khas, penyesuaian diri remaja dalam kaitan ini adalah mereka
ingin memahmi kondisi seksual dirinya dan lawan jenisnya, serta mampu
bertindak untuk menyalurkan dorongan seksualnya yang dapat dimengerti dan
dibenarkan oleh norma sosial dan agama.
4. Penyesuaian Diri Remaja terhadap Norma Sosial.
Dalam kehidupan keluarga, sekolah, amupun masyarakat, tentu terdapat ukuranukuran dasar yang dijunjung tinggi tentang apa yang dikatakan baik-buruk,
benar-salah, boleh-tidak boleh, dll. dalam bentuk norma-norma, nilai-nilai moral,
hukum, sopan santun, maupun adat-istiadat. Berbagai bentuk ukuran ini pada
sekelompok masyarakat tertentu belum tentu dapat diterima oleh kelompok
masyarakat lainnya. Remaja yang cenderung membentuk kelompok masyarakat
tersendiri, juga seringkali memiliki kesepakatan aturan tersendiri yang kadang
kurang dapat difahami oleh lingkungan masyarakat di luar kelompok mereka.
Dalam kaitan ini, penyesuaian diri remaja terhadap norma sosial mengarah pada
dua dimensi, yaitu, pertama, remaja ingin diakui keberadaannya dalam
masyarakat luas, yang berarti, harus mampu meng-internalisasi nilai-nilai yang
berlaku di masyarakat. Kedua, remaja ingin bebas menciptakan aturan-aturan
sendiri yang lebih sesuai untuk kelompoknya, tetapi menuntut agar difahami dan
diterima oleh masyarakat dewasa.

158

5. Penyesuaian Diri Remaja terhadap Penggunaan Waktu Luang.


Waktu luang merupakan kesempatan bagi remaja untuk memenuhi dorongan
bertindak bebas. Namun, di sisi lain remaja dituntut mampu menggunakan
waktu luangnya untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya maupun
orang lain. Jadi, dalam kaitan ini, upaya penyesuaian diri remaja dalah melakukan
penyesuaian antara dorongan kebebasannya serta inisiatif dan kreativitasnya
dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Dengan demikian, penggunaan
waktu luang akan menunjang pengembangan diri dan manfaat sosial.
6. Penyesuaian Diri Remaja terhadap Penggunaan Uang.
Dalam kehidupannya, remaja berupaya memenuhi dorongan sosial lain yang
memerlukan dukungan finansial. Mengingat remaja belum sepenuhnya mandiri
dalam masalah keuangan, mereka mendapat jatah dari orang tua sesuai dengan
kemampuan keluarga mereka masing-masing. Rangsangan, tantangan, tawaran,
prakarsa, kreativitas, petualangan, dan kesempatan-kesempatan yang ada pada
remaja, seringkali mengakibatkan melonjaknya penggunaan uang, sehingga
menyebabkan jatah yang diterima dari orang tua menjadi tidak cukup.
Karenanya, perjuangan penyesuaian diri remaja adalah berusaha untuk mampu
bertindak secara proporsional, melakukan penyesuaian antara kelayakan
pemenuhan kebutuhannya dengan kondisi ekonomi orang tua. Dengan upaya
penyesuaian ini, diharapkan penggunaan uang akan efektif dan efisien, serta
tidak menimbulkan kegoncangan pada diri remaja sendiri.
7. Penyesuaian Diri Remaja terhadap Kecemasan, Konflik, dan Frustrasi.
Dengan perkembangan yang sangat dinamis, remaja seringkali dihadapkan pada
kecemasan, konflik, dan frustrasi. Strategi penyesuaian diri terhadap kecemasan,
konflik, dan frustrasi ini biasanya melalui mekanisme yang oleh Sigmund Freud
(Corey, 1989) disebut pertahanan diri (defence mechanism) seperti kompensasi,
rasionalisasi, proyeksi, sublimasi, identifikasi, regresi, dan fiksasi. Cara-cara yang
ditempuh ini ada yang cenderung negatif atau kurang sehat, tetapi ada juga yang
relatif positif, misalnya sublimasi. Dalam batas-batas kewajaran dan situasi
159

tertentu, untuk sementara cara-cara tersebut memang masih memberikan


manfaat dalam upaya penyesuaian diri remaja. Namun, jika terlalu sering dan
menjadi kebiasaan, akan menjadi tidak sehat.

E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PENYESUAIAN DIRI REMAJA


Menurut Schneiders (1984), setidaknya ada lima faktor yang dapat mempeng-aruhi
proses penyesuaian diri remaja, yaitu : Kondisi fisik, kepribadian, pendidik-an,
lingkungan, agama dan budaya.
1. Kondisi Fisik.
Kondisi fisik berpengaruh kuat terhadap proses penyesuaian diri remaja. Aspekaspek kondisi fisik dimaksud adalah : Hereditas dan konstitusi fisik, sistem utama
tubuh, dan kesehatan fisik.
a. Hereditas dan Konstitusi Fisik.
Pengaruh hereditas (genetis, keturunan) terhadap penyesuaian diri lebih
digunakan pendekatan fisik, karena dipandang lebih dekat dan tak terpisahkan dari mekanisme fisik. Dari sini berkembang asumsi bahwa se-makin
dekat kapasitas pribadi, sifat, atau kecenderungan berkaitan dengan
konstitusi fisik, maka akan semakin besar pengaruhnya terhadap penye-suaian
diri. Dalam hal tertentu malah kecenderungan ke arah malasuai diturunkan
secara genetis, khususnya melalui media temperamen.

Temperamen

merupakan komponen utama karena dari temperamen itu muncul


karakteristik yang paling dasar dari kepribadian, khususnya dalam memandang hubungan emosional dengan penyesuaian diri.
b. Sistem Utama Tubuh.
Sistem utama tubuh yang memiliki pengaruh terhadap penyesuaian diri
adalah sistem syaraf, kelenjar, dan otot. Sistem syaraf yang berkembang
dengan normal dan sehat merupakan syarat mutlak bagi fungsi-fungsi
psikologis sehingga berfungsi maksimal yang akhirnya berpengaruh secara
baik pada penyesuaian diri individu. Jadi, fungsi yang memadai dari sistem
160

syaraf merupakan kondisi umum yang diperlukan bagi penyesuaian diri yang
baik. Sebaliknya, penyimpangan dalam sistem syaraf akan berpengaruh
terhadap kondisi mental yang penyesuaian dirinya kurang baik. Gejala
psikosomatik merupakan salah satu contoh nyata dari keberfungsian sistem
syaraf yang kurang baik sehingga mempengaruhi penyesuaian diri yang
kurang baik pula.
c. Kesehatan Fisik.
Kondisi fisik yang sehat akan memudahkan penyesuaian diri dan pemeliharaannya. Kondisi fisik yang sehat dapat menimbulkan penerimaan diri,
percaya diri, harga diri, dsb. yang akan menjadi keadaan yang sangat
menguntungkan bagi proses penyesuaian diri. Sebaliknya, kondisi fisik yang
tidak sehat dapat menyebabkan perasaan rendah diri, kurang/tidak percaya
diri, atau bahkan menyalahkan diri, sehingga akan berpengaruh kurang baik
bagi proses penyesuaian diri.
2. Kepribadian.
Unsur-unsur kepribadian yang penting pengaruhnya terhadap penyesuaian diri
adalah : Kemauan dan kemampuan yang berubah, pengaturan diri, realisasi
diri, dan inteligensia.
a. Kemauan dan Kemampuan untuk Berubah (Modifiability).
Kemauan dan kemampuan untuk berubah merupakan karakteristik yang
pengaruhnya amat menonjol terhadap proses penyesuaian diri. Sebagai suatu
proses yang dinamis dan berkelanjutan, penyesuaian diri membutuh-kan
kecenderungan untuk berubah dalam bentuk kemauan, sikap, perilaku, dan
karakteristik sejenis lainnya. Oleh karena itu, semakin kaku dan tidak ada
kemauan serta kemampuan untuk merespons lingkungan, semakin besar
kemungkinannya mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri. Kemauan dan
kemampuan untuk berubah ini akan berkembang melalui proses belajar. Jadi,
individu yang dengan sungguh-sungguh belajar untuk dapat berubah,
kemampuan penyesuaian dirinya akan berkembang, sebaliknya, kualitas
kemampuan untuk berubah akan berkurang atau menurun disebabkan oleh
161

sikap dan kebiasaan yang kaku, kecemasan yang sering dialami, frustrasi yang
sering muncul, dan sifat-sifat neurotik lainnya.
b. Pengaturan Diri (Self Regulation).
Pengaturan diri sama pentingnya dengan proses penyesuaian diri dan
pemeliharaan stabilitas mental, kemampuan untuk mengatur diri, dan
mengarahkan diri. Kemampuan mengatur diri dapat mencegah individu dari
keadaan malasuai dan penyimapngan kepribadian. Kemampuan pengaturan
diri dapat mengarahkan keperibadian normal mencapai pengedalian diri dan
realisasi diri.
c. Realisasi Diri (Self Realization).
Proses penyesuaian diri dan pencapaian hasilnya secara bertahap sangat erat
kaitannya dengan perkembangan kepribadian. Jika perkembangan kepribadian berjalan normal sepanjang masa anak-anak dan remaja, di dalamnya
tersirat potensi laten dalam bentuk sikap, tanggung jawab, penghayatan nilainilai, penghargaan diri dan lingkungan, serta karakteristik lainnya menuju
pembentukan kepribadian dewasa. Semua itu adalah unsur-unsur penting
yang mendasari realisasi diri.
d. Inteligensia.
Kemampuan pengaturan diri sesungguhnya muncul bergantung pada kualitas
dasar lainnya yang berperan dalam penyesuaian diri, yaitu kualitas inteligensia
atau intelektualitas. Baik buruknya penyesuaian diri seseorang banyak
ditentukan oleh kapasitas inteligensinya. Inteligensia sangat penting bagi
perolehan perkembangan gagasan, prinsip, dan tujuan yang memainkan
peranan penting dalam proses penyesuaian diri.
3. Pendidikan.
Unsur-unsur dalam pendidikan yang penting dalam mempengaruhi penyesuaian
diri individu adalah : Belajar, pengalaman, latihan, dan determinasi diri.
a. Belajar.
Kemauan belajar merupakan unsur penting dalam penyesuaian diri individu,
karena pada umumnya respons-respons dan sifat-sifat kepribadian yang
162

diperlukan bagi penyesuaian diri diperoleh dan menyerap ke dalam diri


individu melalui proses belajar. Kemauan belajar menjadi sangat penting
karena proses belajar akan terjadi, berlangsung dengan baik dan
berkelanjutan. Bersama kematangan belajar akan muncul dalam bentuk
kapasitas dari dalam atau disposisi terhadap respons. Karena itu perbedaan
pola-pola penyesuaian diri sejak dari yang normal sampai dengan yang
malasuai, sebagian besar merupakan hasil perubahan yang dipengaruhi oleh
belajar dan kematangan. Pengaruh proses belajar itu akan muncul dalam
bentuk mencoba-coba dan gagal (trial and error), pengkondisian (conditioning),dan hubungan-hubungan (association) berbagai faktor yang ada di
mana individu melakukan proses penyesuaian diri.
b. Pengalaman.
Terdapat dua jenis pengalaman yang memiliki nilai signifikan terhadap proses
penyesuaian diri, yaitu : Pengalaman yang menyehatkan (salutary experience)
dan pengalaman traumatik (traumatic experience).

Pengalam-an yang

menyehatkan adalah peristiwa atau kejadian yang dialami oleh individu dan
dirasakan sebagai sesuatu yang mengenakkan, mengasyikkan, sehingga ingin
mengulangnya kembali. Pengalaman seperti ini akan dijadikan dasar untuk
ditransfer oleh individu ketika harus menyesuaikan diri dengan lingkungan
yang baru. Adapun pengalaman traumatik adalah peristiwa atau kejadian
yang dialami oleh individu yang tidak mengenak-kan, menyedihkan, atau
sangat menyakitkan, sehingga individu sangat tidak ingin peristiwa itu
terulang kembali. Individu yang mengalami penga-laman traumatik cenderung
akan ragu-ragu, kurang percaya diri, gamang (galau), rendah diri, atau bahkan
merasa takut ketika harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.
c. Latihan.
Latihan merupakan proses belajar yang diorientasikan pada perolehan
keterampilan atau kebiasaan. Penyesuaian diri sebagai suatu proses yang
kompleks yang tercakup di dalamnya proses psikologis dan sosiologis,
memerlukan latihan yang sungguh-sungguh agar mencapai hasil penyesuaian
diri yang baik. Banyak orang yang sebelumnya memiliki kemampuan
163

penyesuaian diri yang kurang baik dan kaku, namun setelah melakukan
latihan secara sungguh-sungguh, lambat laun menjadi bagus dalam setiap
penyesuaian diri dengan lingkungan baru.
d. Determinasi Diri.
Sesungguhnya individu itu sendiri harus mampu menentukan dirinya sendiri
untuk melakukan proses penyesuaian diri. Hal ini penting karena determinasi
diri merupakan faktor yang sangat kuat yang dapat digunakan untuk kebaikan
atau keburukan, untuk mencapai penyesuaian diri secara tuntas, atau bahkan
untuk merusak diri sendiri. Contoh, perlakuan orang btua di masa kecil yang
menolak kehadiran anaknya akan menyebabkan anak tersebut menganggap
dirinya akan ditolak di lingkungan mana pun tempat dirinya melakukan
penyesuaian diri. Dengan determinasi diri, seseorang sebenarnya dapat secara
bertahap mengatasi penolakan diri tersebut maupun pengaruh buruk lainnya.
4. Lingkungan.
Lingkungan sebagai variabel yang berpengaruh terhadap penyesuaian diri,
meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
a. Lingkungan Keluarga.
Keluarga merupakan lingkungan yang amat sangat penting dalam kaitannya
dengan penyesuaian diri individu. Unsur-unsur di dalam keluarga seperti
konstelasi keluarga, interaksi orang tua dengan anak, interaksi antar ang-gota
keluarga, peran sosial dalam keluarga, karateristik anggota keluarga,
kekohesifan keluarga, dan gangguan dalam keluarga, akan berpengaruh
terhadap penyesuaian diri individu anggotanya. Dalam konstelasi keluarga
yang memiliki organisasi keluarga yang kompleks dan menuntut para
anggotanya menyesuaikan perlakunya terhadap hak dan harapan anggota
keluarga yang lain, akan sangat mendukung bagi perkembangan penyesuai-an
diri individu yang ada di dalamnya. Namun pada sisi lain, ada juga pengaruh
negatifnya, yaitu dapat meningkatkan proses persaingan, kecem-buruan
sosial, agresifitas, atau bahkan ada yang mengarah pada permusuh-an jika
tidak dikelola atau dikendalikan dengan baik. Pengaruh konstelasi keluarga
164

juga bergantung pada faktor-faktor lain, seperti sikap dan harapan orang tua
terhadap anaknya. Contohnya, anak sulung diharapkan memiliki peran
otoritas dan tanggung jawab sehingga akan membantu proses kematangan
dan kedewasaan dalam penyesuaian diri. Sebaliknya, anak yang terlalu
dimanjakan akan menyebabkan kelambatan dalam proses kedewasaannya
sehingga kelak akan mengganggu proses penyesuaian diri anak dimaksud.
Sejumlah karateristik menonjol dalam interaksi orang tua dengan anak
yang memiliki pengaruh terhadap penyesuaian diri, adalah :
1) Penerimaan (acceptance) orang tua terhadap anaknya yang diwujudkan
dalam bentuk perhatian, kehangatan, dan kasih sayang, yang akan
memberi-kan sumbangan yang berarti bagi perkembangan penyesuaian
diri anak. Sebaliknya, penolakan akan berpengaruh negatif.
2) Identifikasi (identification). Anak memiliki kecenderungan mengidentifikasikan dirinya terhadap pola dan perilaku orang tuanya. Proses identifikasi ini akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyesuaian
diri anak. Jika orang tua dapat dijadikan model identifikasi yang baik, maka
akan berpengaruh positif terhadap perkembangan penyesuaian diri anak.
3) Idealisasi (idealization). Ini merupakan suatu bentuk proses identifikasi
yang sifatnya lebih mendalam. Prosesnya diwujudkan dalam bentuk
mengidealkan atau mengidolakan salah satu dari kedua orang tuanya yang
dipilih, baik dalam cara berpikir, bersikap, dan berperilaku atau bertindak.
4) Identifikasi negatif (negative identification). Proses ini muncul jika anak
justru mengidentifikasikan sifat-sifat negatif orang tuanya. Jika ada tandatanda hal ini muncul, harus segera dilakukan pencegahan dan penanggulangan karena akan mengganggu perkembangan penyesuaian diri ke
arah yang baik.
5) Identifikasi menyilang (cross identification). Ini identifikasi yang dilaku-kan
oleh anak kepada orang tuanya yang berlawanan jenis, misalnya anak lakilaki mengidentifikasikan diri kepada figur ibunya, dan anak perempuan
mengidentifikasikan diri pada figur ayahnya. Hal ini akan berpengaruh
kurang menguntungkan, karena anak laki-laki jadi bersifat feminitas,
165

seperti kurang tegas, kurang berani mnegambil resiko, kurang tegar, dll.
Sedang anak perempuan jadi bersifat maskulinitas, sepertim kasar, kurang
lembut, kurang ramah, dll. sehingga kurang menarik dan tidak disenangi
oleh laki-laki. Akibat lebih jauh dari sifat ini menurut Schneiders akan
berperilaku homoseksual dan lesbianisme.
6) Tindakan hukuman dan disiplin yang terlalu keras (punishment and
overdiscipline), akan berakibat kurang baik terhadap perkembangan
penyesuaian diri anak, karena dapat menimbulkan perasaan terancam,
tidak aman, atau bahkan merasa turun harkat dan martabat kemanusiaannya. Karena itu orang tua harus juga memberikan penghargaan dan
hukuman yang setimpal (reward and punishmanet).
7) Kecemburuan dan kebencian (jealousy and hatred) yang muncul karena
pemberian hukuman dan peraturan disiplin yang terlalu keras, sehingga
mengakibatkan anak membanci orang tua, dan orang tua membenci anak.
Padahal, sesungguhnya anak sangat membutuhkan perhatian, rasa aman,
kasih sayang dan kehangatan, ingin memiliki dan dimiliki.
8) Pemanjaan dan perlindungan yang berlebihan (over-indulgence and overprotection). Sepintas hal ini seolah-olah memberikan perasaan aman, dll.
terhadap anak, tetapi sesungguhnya secara psikologis justru menimbulkan
perasaan tidak aman, kecemburuan, gugup, kurang per-caya diri, dll. dalam
penyesuaian diri anak.
9) Penolakan (rejection). Hal ini paling tidak mengenakkan bagi anak, tidak
menguntungkan, dan bahkan bisa merusak anak. Anak akan merasa dirinya
tidak berharga, tidak berguna, dan tidak bermartabat, akibatnya proses
penyesuaian dirinya jadi tidak baik.
b. Lingkungan Sekolah.
Lingkungan sekolah pun dapat menjadi kondisi yang memungkinkan berkembangnya atau terhambatnya proses perkembangan penyesuaian ndiri
anak. Pada umum,nya sekolah dipandang sebagai media yang sangat berguna
untuk mempengaruhi kehidupan dan perkembnagan intelektual, social, nilainilai, sikap, dan moral siswa. Lebih-lebih di tingkat TK/SD, karena figur guru
166

adalah sentral dalam pembentukan jatidiri dan sangat disegani, dikagumi, dan
dituruti. Kadang anak malah sering menurut kepada perintah gurunya di
sekolah daripada kepada orang tuanya di rumah. Karena itu proses sosialisasi
melalui iklim kehidupan sekolah yang diciptakan oleh guru, perlu mendapat
perhatian yang serius untuk perkem-bangan penyesuaian diri anak sehingga
positif.
c. Lingkungan Masyarakat.
Karena keluarga dan sekolah berada dalam lingkungan masyarakat, maka
lingkungan masyarakat juga menjadi faktor yang berpengaruh terhadap
perkembangan penyesuaian diri anak. Konsistensi nilai-nilai, sikap, aturanaturan, norma, moral, etika, dan perilaku masyarakat akan diidentifikasi juga
oleh individu yang berada dalam lingkungan masyarakat tersebut, sehingga
akan berperngaruh terhadap proses perkembangan penyesuaian diri anak.
Kenyataan menunjukkan bahwa tidak sedikit kecenderungan ke arah penyimpangan perilaku anak dan kenakalan remaja, sebagai salah satu bentuk
penyesuaian diri yang tidak baik yang berasal dari pengaruh lingkungan
masyarakat.
5. Agama dan Budaya.
Agama memberikan sumbangan berupa nilai-nilai, keyakinan, praktik-praktik
yang memberi makna sangat mendalam, tujuan, serta kestabilan dan keseimbangan hidup individu.

Agama secara konsisten dan terus-menerus meng-

ingatkan tentang nilai-nilai intrinsik dan kemuliaan manusia yang diciptakan oleh
Tuhan, bukan sekedar nilai-nilai instrumental sebagaimana yang dihasil-kan oleh
manusia itu sendiri.
Selain agama, budaya juga merupakan faktor yang sangat berpengaruh
terhadap kehidupan individu. Ini terlihat dari adanya karakteristik budaya yang
diwariskan kepada individu melalui berbagai media dalam lingkungan keluarga,
sekolah, maupun masyarakat. Tidak sedikit konflik pribadi, kecamas-an, frustrasi,
serta bebagai perilaku neurotik atau penyimpangan perilaku yang disebabkan,
langsung ataupun tidak langsung, oleh budaya sekitarnya.
167

F. DINAMIKA PENYESUAIAN DIRI REMAJA


Penyesuaian diri merupakan suatu proses yang bersifat dinamis. Dinamika
penyesuaian diri melibatkan sejumlah factor psikologis dasar yang mengantarkan
individu kepada perilaku yang ajastif/penyesuaian diri yang baik (adjustive
behavior).

Perilaku ajastif adalah respons-respons yang diarahkan pada usaha

memenuhi tuntutan internal dan eksternal. Tujuan dari respons-respons yang ajastif
adalah untuk menyiapkan hubungan yang tepat dan akurat antara individu dengan
realitas. Dilihat dari sudut pandang yang lebih dalam, tujuannya adalah mengenal
ekspresi dan kepuasan faktor-faktor dinamis di dalam kepribadian, misalnya
pengurangan ketegangan, konflik, dan frustrasi. Namun demikian, dalam hubungannya dengan kebutuhan dasar, perilaku ajastif tidak selalu mengarahkan respons
pada orientasi pengurangan dan pemuasan kebutuhan dasar, baik berupa dorongan
fisiologis, psikologis, maupun sosial.
Terdapat sejumlah faktor psikologis yang memiliki pengaruh kuat terhadap
dinamika penyesuaian diri, yaitu : Kebutuhan (need), motivasi (motivation), persepsi (perception), kemampuan (capacity), dan kepribadian (personality).
1. Kebutuhan (Need).
Kebutuhan yang dimaksud di sini adalah kebutuhan yang bersifat internal. Dari
faktor ini penyesuaian diri ditafsirkan sebagai suatu jenis respons yang diarahkan
untuk memenuhi tuntutan yang harus diatasi oleh individu. Untuk memenuhi
tuntutan-tuntutan tersebut dalam sebuah proses didorong secara dinamis oleh
kabutuhan-kebutuhan internal yang disebut need.
2. Motivasi (Motivation).
Penafsiran terhadap karakter dan tujuan respons individu dan hubungannya
dengan penyesuaian diri, bergantung pada konsep-konsep yang menerangkan
hakikat motivasi. Ada lima teori motivasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan dinamika penyesuaian diri, yaitu :
a. Teori Stimulus-Respons.
Dari perspektif teori ini, motivasi dianggap sebagai sesuatu yang kurang ber168

arti, sebab semua perilaku, termasuk penyesuaian diri, muncul hanya sebagai
pengkondisian untuk merespons stimulus, sehingga perilaku refleks dan
kebiasaan membentuk totalitas respons individu. Padahal, perilaku ajastif
tidak semata-mata ditentukan pengkondisian. Karena itu, penyesuaian diri
menurut teori ini diartikan dengan sangat sederhana dan sempit.
b. Teori Fisiologis.
Ini erat kaitannya dengan teori stimulus-respons, dan berpandangan bah-wa
pengurangan motivasi atau usaha pemuasan motif tertentu ditentukan oleh
stimulus. Padahal, sebenarnya banyak motif dan kebutuhan psikologis lainnya
yang cukup berarti bagi penyesuaian diri yang perlu dipadukan ke dalam
setiap teori motivasi. Teori fisiologis ini tidak dapat menjawab tantangan itu.
Karenanya, untuk dapat memahami kekhususan nilai penye-suaian diri, harus
memperhatikan pula hal-hal di luar unsur fisiologis.
c. Teori Intrinsik.
Teori ini memiliki beberapa bentuk, bergantung pada landasan filosofisnya,
tetapi ada dua yang sangat menonjol dalam hubungannya dengan penyesuaian diri, yaitu pandangan hornic dan psikoanalisis.

Pandangan hornic

dikemukakan oleh William McDougall (dalam Schneider, 1984) yang mengatakan bahwa semua perilaku individu itu dimunculkan untuk melayani dan
memenuhi naluri (insting) dasar. Oleh karena itu naluri dasar merupakan
penentu internal yang utama dalam penyesuaian diri individu. Pada awalnya,
teori ini banyak diminati, namun dalam perkembangannya malah dikecam
orang. Adapun pandangan psikoanalitis dikemukakan oleh Sigmund Freud
yang membagi dua jenis naluri, yaitu naluri kehidupan (eros) dan naluri
kematian (thanathos). Dalam kaitan dengan penyesuaian diri, Freud berpandangan bahwa naluri seksual merupakan salah satu bentuk naluri kehidupan
sebagai penentu perkembangan penyesuaian diri individu. Teori naluri Freud
dapat digunakan untuk memahami penyesu-aian diri individu berdasarkan
tahap-tahap perkermbangan.
d. Teori Motivasi Tak Sadar.
Teori ini juga dikemukakan oleh Sigmund Freud. Motivasi tak sadar yang mem
169

pengaruhi dinamika penyesuaian diri oleh Freud dibuktikan dalam


eksperimennya melalui pengalaman-pengalaman psikologis klinis yang
menemukan bahwa orang-orang yang berperilaku malasuai maupun ajastif,
motivasi yang mendasarinya sering tidak diketahui atau tidak disadari.
e. Teori Hedonistik.
Teori ini masih berhubungan dengan teori Freud tentang prinsip-prinsip
pemuasan kesenangan (pleasure principles).

Menurut teori ini, suasana

hedonisme berarti perilaku yang diarahkan untuk memenuhi kesenangan


individu. Hal ini dianggap penting sebab pada dasarnya kebutuhan merupakan
tuntutan internal yang harus dipuaskan agar dapat mencapai penyesuaian diri
yang baik. Kebutuhan merupakan kecendrungan yang bersifat dinamis yang
berorientasi pada obyek, kualitas, dan pengalaman yang diperlukan untuk
mengetahui keadaan fisik, psikis, dan sosial suatu organisme. Jika salah satu
bentuk kecenderungan yang bersifat dinamis itu terganggu karena tidak
terpenuhi, organisme akan cenderung membentuk perilaku yang tidak
memadai, simptomatik, dan patologis. Ini berarti, bahwa penyesuaian diri
individu menjadi sangat tertanggu sehingga tidak dapat berkembang dengan
baik.
3. Persepsi (Perception).
Dalam menjalani kehidupannya, setiap individu selalu mengalami apa yang
disebut persepsi sebagai hasil penghayatannya terhadap berbagai stimulus yang
berasal dari lingkungan. Sering persepsi dipahami sebagai suatu pencer-minan
yang sempurna tentang realitas. Padahal sesungguhnya tidak demikian.
Menurut Davidof (1981), ada tiga alasan yang mendukung bahwa persepsi itu
bukanlah cerminan realitas, pertama, indera yang dimiliki manusia tidak dapat
memberikan respons terhadap semua aspek yang ada dalam lingkungan, kedua,
manusia sering melakukan persepsi terhadap stimulus-stimulus yang pada
kenyataannya tidak ada, ketiga, persepsi manusia itu bergantung pada apa yang
diharapkan, pengalaman yang dimiliki, dan motivasi yang ada pada dirinya.
Dengan demikian, persepsi sesungguhnya bukanlah suatu gambaran yang persis
170

sama dengan realitas yang ada, melainkan gambaran yang perwujudannya sudah
diwarnai oleh interpretasi individu.
Menurut Atkinson dan Hilgard (1983), persepsi merupakan proses menginterpretasikan dan mengorganisasikan pola-pola stimulus yang berasal dari
lingkungan. Dalam pengertian ini terdapat dua unsur penting, yaitu interpre-tasi
dan pengorganisasian. Interpretasi sangat penting dalam suatu persepsi, karena
realitas yang ada di dunia ini sangat bervariasi sehingga tidak jarang memerlukan
upaya pemahaman dari individu agar menjadi bermakna bagi yang bersangkutan.
Sedangkan pengorganisasian diperlukan dalam persepsi karena berbagai
informasi yang sampai pada reseptor individu seringkali membingungkan dan
tidak terorganisasikan. Agar informasi yang sampai pada reseptor menjadi jelas
dan bermakna, maka individu masih perlu mengorganisasikannya ketika
informasi itu diterima oleh reseptor.
Pengertian persepsi itu sendiri menurut Levine dan Shefner (Eysenck, 1993)
adalah cara-cara individu menginterpretasikan informasi yang diperoleh
didasarkan atas pemahaman individu itu sendiri. Dengan kata lain, individu
menyadari adanya kehadiran suatu stimulus, tetapi individu itu menginterpretasikan stimulus tersebut. Dalam definisi ini ada dua makna, pertama, persep-si
itu bergantung pada sensasi-sensasi yang didasarkan pada informasi sensori
dasar (basic sensory information), kedua, sensasi-sensasi itu memerlukan
interpretasi agar persepsi dapat terjadi.

Yang dimaksud dengan informasi

sensori dasar adalah informasi yang sesungguhnya terjadi yang sampai pada alat
indera. Contohnya, suara gonggongan anjing yang sampai pada telinga kita. Jadi,
kita tidak akan mendengar suara gonggongan anjing jika suara gonggongan
anjing itu memang tidak ada. Akan tetapi bagaimana gonggong-an anjing itu
mengganggu kita atau tidak, sangat bergantung pada bagaimana interpretasi kita
terhadap suara itu. Di sinilah letak terjadinya persepsi.
Menurut Stagner dan Solley (1970), dengan persepsi, individu dapat
menentukan bagaimana seharusnya dia bereaksi terhadap stimulus yang ada di
sekitarnya, karena persepsi merupakan rangkaian peristiwa yang menjem-batani
stimulus dan perilaku tertentu. Sementara Morgan (1981) lebih menekankan pa171

da proses interpretasi terhadap apa yang dialami dan dirasakan untuk


membuatnya bermakna. Untuk membuat segala sesuatu lebih bermakna,
diperlukan keterlibatan aktif dari aktivitas indrawi yang berhubungan dengan
pengamatan dan interpretasi.
Yang masih sering menjadi perdebatan adalah, apakah persepsi itu dibawa
sejak lahir ataukah merupakan hasil dari proses belajar dan pengalaman. John
Lock dan para pengikutnya berpendapat bahwa persepsi tidak dibawa sejak lahir,
melainkan merupakan hasil dari proses belajar dan pengalaman. Persepsi hanya
mungkin terjadi pada individu setelah melalui proses pengalaman dan belajar
yang cukup lama. Sebaliknya, para psikolog Jerman, terutama para penganut
Gestalt, berpendapat bahwa persepsi itu merupakan pembawaan sejak lahir, dan
tidak tergantung secara langsung dari penga-laman.

Eysenck mengkritik

pendapat para penganut Gestalt, dengan menga-takan hawa jika persepsi itu
merupakan pembawaan sejak lahir, seharusnya setiap individu dapat
mempersepsi sesuatu secara kuat. Namun pada kenya-taannya pada bayi yang
baru saja lahir mestinya sudah dapat mempersepsi stimulus yang ada di
sekelilingnya. Tetapi dia tidak dapat memanifestasikan dan mendeskripsikan
persepsinya itu.
Stagner dan Solley (1970) mengemukakan bahwa persepsi terjadi pada
individu melalui tahap-tahap :
a. Adanya stimulus yang ditangkap melalui panca indera;
b. Adanya kesadaran individu terhadap stimulus;
c. Individu menginterpretasikan stimulus tersebut;
d. Individu mewujudkannya ke dalam tindakan.
Dalam pada itu Krech dan Crutchfield (Rakhmat, 1988) mengemukakan
bahwa persepsi itu dalam prosesnya dipengaruhi oleh faktor fungsional dan
struktural. Faktor fungsional adalah

faktor yang berasal dari kebutuhan,

pengalaman masa lalu, dan hal-hal lain yang bersifat personal. Sedangkan faktor
struktural adalah faktor yang semata-mata berasal dari sifat stimulus fisik dan
pengaruh syaraf individu. Persepsi remaja memiliki pengaruh yang berarti
terhadap dinamika penyesuaian diri karena persepsi memiliki peranan penting
172

dalam perilaku, yaitu :


a. Sebagai pembentukan pengembangan sikap terhadap suatu obyek atau
persitiwa, yang berarti akan berpengaruh terhadap perilaku penyesuaian diri
yang lebih terarah;
b. Sebagai pengembangan fungsi kognitif, afektif, dan konatif, sehingga berpengaruh terhadap penyesiuaian yang lebih utuh dan proporsional sesuai
dengan pertimbangan dan pengalaman-pengalaman yang relevan;
c. Meningkatkan keaktifan, kedinamisan, dan kesadaran terhadap lingkungan,
sehingga dapat menggerakkan motivasi untuk penyesuaian diri secara lebih
sadar;
d. Meningkatkan pengamatan dan penilaian secara obyektif terhadap lingkungan sehingga perilaku penyesuaian diri menjadi lebih rasional dan realistis;
e. Mengembangkan kemampuan mengelola pengalaman dalam kehidupan
sehari-hari secara berkelanjutan sehingga dapat mendorong ke arah proses
sosialisasi yang semakin mantap.
4. Kemampuan (Capacity).
Perkembangan kemampuan remaja dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, juga dapat mewarnai dinamika penyesuaian dirinya. Pengaruh aspekaspek itu dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Kemampuan kognitif seperti pengamatan, perhatian, tanggapan, fantasi, dan
berpikir, merupakan sarana dasar untuk pengambilan keputusan oleh remaja
dalam melakukan penyesuaian diri;
b. Kemampuan afeksi seperti sikap, perasaan, emosi, dan penghayatan terhadap
nilai-nilai dan moral akan menjadi dasar pertimbangan bagi kognisi dalam
proses penyesuaian diri remaja;
c. Kemampuan psikomotorik menjadi sumber kekuatan ayang mendorong
remaja untuk melakukan penyesuaian diri disesuaikan dengan dorongan dan
kebutuhannya.
Ketiga kemampuan itu akan membangun suatu hubungan dialektis yang
dinamis dalam dinamika proses penyesuaian diri remaja. Hal ini akan berlang173

sung lancar dan baik, manakala ketiga kemampuan itu membentuk suatu
kerjasama yang terpadu dan harmonis. Sebaliknya, jika terjadi ketidakharmonisan antara ketiga kemampuan itu, dapat menimbulkan konflik,
kecamasan, atau bahkan frustrasi. (M. Ali dan M. Asrori, 2005:195).
5. Kepribadian (Personality).
Remaja yang sedang mengalami perkembangan pesat dari segala aspeknya,
kepribadiannya pun menjadi sangat dinamis. Kedinamisan kepribadian remaja itu
akan sangat mewarnai dinamika penyesuaian dirinya. Remaja yang sudah
mencapai tahapan berpikir operasional formal, sudah menyadari akan pentingnya nilai-nilai dan norma yang dapat dijadikan pegangan hidupnya, sudah
mulai berkembang ketertarikan dengan lawan jenis, memiliki kohesivitas
kelompok yang kuat, serta cenderung membangun budaya kelompoknya sendiri,
akan sangat memberikan warna tersendiri terhadap dinamika penyesuaian diri
remaja.

G. IMPLIKASI PROSES PENYESUAIAN DIRI REMAJA BAGI PENDIDIKAN


Perkembangan penyesuaian diri remaja yang ditandai dinamika yang sangat tinggi,
membawa implikasi akan pentingnya intervensi pendidikan yang dilakukan secara
sistematis, serius, dan terprogram dengan baik untuk membantu proses
perkembangannya agar menuju ke arah yang lebih baik. Intervensi edukatif yang
bisa dilakukan, antara lain :
1. Dalam kehidupan keluarga hendaknya diciptakan interaksi edukatif yang
memberikan perasaan aman bagi remaja untuk memerankan dirinya ambil
bagian dalam berbagai kegiatan keluarga. Dengan cara demikian remaja akan
terlatih melakukan penyesuaian diri dalam bentuk interaksi yang bermanfaat
bagi dirinya dan orang lain.
2. Orang tua hendaknya tidak menimbulkan stimulus yang dapat mengembangkan
identifikasi negatif pada remaja, karena sesungguhnya orang tua harus dapat
dijadikan model bagi remaja dalam segala tingkah lakunya. Oleh sebab itu, orang
174

tua sedapat mungkin menghindari perilaku negatif, atau memperlihatkannya di


depan remaja, karena akan ditiru oleh remaja.
3. HIndarkan dan cegah perkembangan identifikasi menyilang pada remaja
(mengidentifikasikan dirinya kepada orang tua yang berbeda jenis kelamin),
karena akan sangat mengganggu proses perkembangan penyesuaian dirinya.
4. Perlu diciptakan kegiatan-kegiatan yang bersifat edukatif yang di dalamnya
menuntut kemampuan remaja untuk melakukan interaksi, proses sosialisasi, dan
penyesuaian diri terhadap diri sendiri, kegiatan yang diikuti, maupun orang lain
yang sama-sama ikut aktif dalam proses kegiatan dimaksud. (M. Ali dan M. Asrori,
2005:196).

175

BAB IX
KENAKALAN REMAJA

A. PENGERTIAN KENAKALAN REMAJA


Cavan (1962) dalam bukunya yang berjudul Juvenile Delinquency menyebutkan
bahwa, Juvenile Delinquency refers to the failure of children and youth to meet
certain obligation expected of them by the society in which they live. Menurut
Kusumanto (Sofyan S. Willis, 2010:89), juvenile delinquency atau kenakalan anak
dan remaja ialah tingkah laku individu yang bertentangan dengan syarat-syarat dan
pendapat umum yang dianggap sebagai acceptable dan baik oleh suatu lingkungan
atau hukum yang berlaku di suatu masyarakat yang berkebudayaan. Sedangkan
menurut Fuad Hasan (Ibid, hal. 89), secara sosiologis, kenakalan remaja ialah
kelakuan atau perbuatan anti sosial dan anti normatif. Sementara itu menurut
Pemerintah melalui Badan Koordinasi Pelaksana Instruksi Presiden (Bakolak Inpres)
No. 6 Tahun 1971 dengan Pedoman No. 8 tentang Pola Penanggulangan Kenakalan
Remaja, disebutkan bahwa, Kenakalan remaja ialah kelainan tingkah laku,
perbuatan atau tindakan remaja yang bersifat asosial bahkan anti sosial yang
melanggar norma-norma sosial, agama, serta ketentuan hukum yang berlaku
dalam masyarakat.
Kenakalan anak dan remaja itu disebabkan kegagalan mereka dalam memperoleh penghargaan dari masyarakat tempat mereka tinggal. Penghargaan yang
mereka harapkan adalah tugas dan tanggung jawab seperti orang dewasa. Mereka
menuntut suatu peranan sebagaimana dilakukan orang dewasa, tetapi ternyata
tidak diberikan karena belum ada rasa kepercayaan orang dewasa kepada mereka.
Kebanyakan orang dewasa menganggap mereka sebagai anak-anak, dan memang
kenyataanya demikian, artinya anak remaja berada di masa pubertas, yakni suatu
masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Perasaan kurang dihargai itu
muncul dalam kelainan-kelainan tingkah laku remaja, seperti kebut-kebutan di jalan
raya, mengisap ganja, melanggar susila, berkelahi atau tawuran, dsb.
Menurut Hurlock (1978), kenakalan anak dan remaja bersumber dari moral
yang sudah berbahaya atau berisiko (moral hazard). Kerusakan moral katanya ber176

sumber dari :
1. Keluarga yang sibuk, keluarga retak, dan keluarga dengan single parent di mana
anak hanya diasuh oleh ibu.
2. Menurunnya kewibawaan sekolah dalam mengawasi anak.
3. Peranan gereja (juga tempat-tempat ibadah lain, maksudnya agama-Pen) tidak
mampu menangani masalah moral.
Perubahan sosial (social change) yang demikian cepat, menyebabkan pengaruh orang tua, sekolah, dan agama, menjadi tertinggal di belakang. Kenakalan
anak dan remaja sudah canggih, berbasis budaya Barat dan teknologi maju, pasti
tidak mudah dikontrol. Sebagai contoh, penggunaan pil keluarga berencana,
kondom, internet, ponsel (hand phone), dll. amat sulit dideteksi. Penyebaran
narkoba makin canggih jaringannya, bahka sekolah, penjara, kota bahkan kampungkampung sudah dimasukinya. Akan tetapi antisipasi orang tua, guru, masyarakat,
termasuk pihak keamanan amat sederhana. Contoh, jika klub-klub malam tetap
diizinkan, dapat dipastikan semua bentuk kemaksiatan terutama narkona akan
terjadi terus.
Dengan kenyataan bahwa sumber kenakalan remaja tidak lagi konvensional
(keluarga, sekolah, dan lembaga agama) yang tidak mampu mengontrol anak dan
remaja, tetapi juga ada sumber-sumber lain seperti klub-klub malam, rumah-rumah
bordel (pelacuran) yang dilokalisasi, majalah dan film-film porno, tayangantayangan televisi, internet, dll. termasuk tidak adanya teladan yang baik dari para
poemimpin, maka kemerosotan moral dan ahklak anak dan remaja semakin parah.
Dengan demikian definisi kenakalan remaja pun berubah. Kena-kalan remaja adalah
tindak perbuatan sebagian para remaja yang bertentangan dengan hukum, agama,
dan norma-norma masyarakat, sehingga akibatnya dapat merugikan orang lain,
mengganggu ketentraman umum dan juga merusak dirinya sendiri. (Sofyan S. Wiliis,
2010:90).
Jika tindakan yang sama (seperti kenakalan remaja) dilakukan oleh orang
dewasa, ini disebut kejahatan (kriminal), seperti membunuh, merampok, memperkosa, menodong, dll. yang tindakan-tindakan tersebut dapat dituntut di meja
hijau dan jika si pelaku terbukti bersalah maka dia akan dijatuhi hukuman sesuai
177

dengan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Tetapi jika tindakan melawan hukum itu dilakukan oleh anak dan remaja yang usianya di bawah 16 tahun,
maka kepada anak dan remaja itu tidak dikenakan hukuman seperti kepada orang
dewasa. Hal ini sesuai dengan Pasal 45 KUHP.
Kesimpulan dari Pasal 45 KUHP itu intinya :
1. Usia di bawah 16 tahun tidak dapat dikenakan hukuman apabila anak tersebut
melakukan sesuatu bentuk pelanggaran yang dapat mengganggu ketertiban
umum.
2. Tetapi di ujung pasal itu dikatakan, atau menghukum anak yang bersalah itu,
dimaksudkan apabila kejahatan amat merugikan orang lain, maka anak itu dapat
dihukum di Lembaga Pemasyarakatan Khusus untuk Anak-anak, misalnya di
Tangerang.
Namun menurut R. Soesito (Ibid, hal. 91), mengenai hukum pidana terhadap
kejahatan yang dilakukan remaja di bawah usia 16 tahun, ada kemungkinan sebagai
berikut :
1. Anak itu dikembalikan kepada orang tua atau walinya dengan tidak dikenakan
hukuman apa pun.
2. Anak itu dijadikan anak negara, yakni diserahkan ke Rumah Pendidikan Anakanak Nakal.
3. Anak itu dijatuhi hukuman seperti biasa, dalam hal ini ancaman hukuman
dikurangkan dengan sepertiganya.

B. JENIS-JENIS KENAKALAN REMAJA


Menurut Pemerintah melalui Bakolak Inpres No. 6 Tahun 1971, jenis-jenis
kenakalan remaja itu antara lain :
1. Pencurian.
2. Penipuan.
3. Perkelahian (Tawuran).
4. Perusakan.
5. Penganiayaan.
178

6. Perampokan.
7. Narkoba.
8. Pelanggaran Susila.
9. Pelanggaran.
10. Pembunuhan.
11. Kejahatan lain.
Modus operandi atau bentuk kenakalan anak dan remaja itu di sepanjang
zaman tetap saja ada. Hanya frekuensi dan akibat-akibatnya di zaman modern
sekarang ini agak meningkat. Contohnya kasus pencurian. Dulu mencuri itu dengan
mengendap-endap supaya tidak katahuan, alat yang dipergunakannya pun
tradisional seperti kunci-kunci, tang, linggis, dll. tetapi sekarang menggunakan alatalat modern seperti pistol, ponsel, internet, dll. dan pelakunya pun banyak, bahkan
berubah menjadi penggarongan.

C. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KENAKALAN REMAJA


Sofyan S. Willis (2010:93) mengelompokkan faktor-faktor penyebab kenakalan anak
dan remaja itu ke dalam : Faktor-faktor di dalam diri anak itu sendiri, di rumah
tangga, di masyarakat, dan yang berasal dari sekolah.
1. Faktor-faktor di Dalam Diri Anak.
a. Predisposing Factor.
Adalah faktor-faktor yang memberi kecenderungan tertentu perilaku remaja.
Hal ini dibawa sejak lahir atau oleh kejadian-kejadian ketika kelahiran bayi,
yang disebut birth injury, seperti luka di kepala ketika ditarik dari perut
ibunya. Predisposing factor lain berupa kelainan kejiwaan seperti schizophrenia, yang dipengaruhi oleh lingkungan keluarga yang keras atau penuh
tekanan terhadap anak-anak.
Kecenderungan kenakalan anak dan remaja dari faktor bawaan bersumber dari kelainan otak. Menurut pemahaman Freudian (aliran Freud,
psikoanalisis), bahwa kepribadian jahat (delinquent) bersumber dari id (bagian
179

kepribadian yang bersumber dari hawa nafsu).

Berdasarkan pendapat

Freudian ini tampaknya ada upaya untuk membedakan karakteristik orangorang criminal dengan nonkriminal. Banyak kriminolog yang mendasarkan
teorinya pada Charles Darwin dalam bukunya The Descent of Man (1871)
yang mengasumsikan perilaku jahat (criminal) itu adalah seperti binatang.
Seorang pengembang teori biologi yang juga ahli fisika dan psikiatri, Cesare
Lombroso (Cavan, 1962) mengatakan bahwa otak orang-orang kriminal
berbeda dengan otak orang-orang nonkriminal. Lombroso percaya bahwa
orang-orang kriminal mempunyai ciri-ciri fisik yang dapat dilihat, yaitu :
1) Dahi rendah dan sempit;
2) Rahang dan dagu besar;
3) Telinga berbeda dari orang normal;
4) Pandangan mata ganas.
Memang banyak ilmuwan lain yang tidak sependapat dengan Lombroso,
akan tetapi pihak kepolisian masih ada yang memakai teori Lombroso itu
sampai sekarang.
b. Lemahnya Pertahanan Diri.
Adalah faktor yang ada di dalam diri untuk mengontrol dan mempertahankan
diri terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari lingkungan. Jika faktor ini pada
remaja lemah, maka apa yang dilihat seperti tontonan, yang didengar, dan
ajakan atau bujukan-bujukan negatif sulit dihindarinya. Umumnya hal ini
karena pendidikan di keluarga yang lemah, misalnya orang tua tidak memberi
kesempatan kepada anaknya untuk mandiri, kreatif, memiliki daya kritis, serta
mampu bertanggung jawab. Orang tua masih mengang-gap anaknya belum
dewasa, sehingga tetap menjadi anak bapak/mama yang lugu, manja,
kurang memahami trik-trik kejahatan yang ada di dunia nyata. Sifat lugu ini
dimanfaatkan oleh penjahat, misalnya para agen dan bandar narkoba untuk
menjeratnya menjadi pecandu, bahkan kemudian pengedar.
Keadaan keluarga yang tidak harmonis, misalnya sering terjadi pertengkaran ayah dan ibu, membuat anak tidak betah tinggal di rumah. Dia lebih
senang berkumpul dengan teman-teman lain di luar yang perilakunya sudah
180

menyimpang. Untuk menciptakan daya tolak atas perilaku yang menyimpang


dari remaja yang lemah kepribadiannya, Trower (1982) mengembangkan
keterampilan sosial untuk menolak bahaya. Kemudian Argyle dan Kendon
(1987) mengembangkan keterampilan sosial ini dalam tiga tahapan, yaitu :
1) Mengembangkan persepsi terhadap bahaya-bahaya yang ada di lingkungan;
2) Menafsirkan persepsi tersebut;
3) Tindakan (aksi) yang terencana untuk melawan bahaya.
Tahapan-tahapan itu diisi dengan : Tahap 1 ceramah-ceramah; tahap 2
berbentuk bermain peran, diskusi, drama; tahap 3 berupa pelatihan,
dengan kurikulum materi, nara sumber (pelatih), jadwal waktu, dll. untuk
menyadarkan mereka dan masyarakat akan bahaya-bahaya tertentu yang
dihadapi.
c. Kurangnya Kemampuan Penyesuaian Diri.
Banyak ditemukan remaja yang kurang pergaulan (kuper). Inti persoalannya
adalah ketidakmampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial, dengan
daya pilih teman bergaul yang dapat membantu pembentukan perilaku
positif. Anak-anak yang terbiasa dengan pendidikan kaku dan dengan disiplin
ketat di keluarganya akan menyebabkan masa remajanya juga kaku dalam
bergaul, dan tidak pandai memilih teman yang dapat membantunya
berkelakuan baik. Di sinilah pentingnya pembinaan dan pembimbingan orang
tua dan guru agar anak tidak bergaul dengan anak-anak yang sesat. Justru
penghargaan datangnya dari teman-temannya yang tersesat itu sehingga
kemudian membentuk kelompok atau geng-geng sesat juga, seperti yang
baru-baru ini terjadi, yaitu geng motor yang banyak ulah.
Untuk menjaga agar anak dan remaja tidak salah dalam pergaulannya,
beberapa saran adalah :
1) Paksakan agar ada waktu makan bersama dan shalat berjamaah.
2) Pada hari-hari tertentu atau libur, adakan acara wisata keluarga, dan pada
saat santai itulah orang tua berdialog dengan anak tentang berbagai hal
terutama keadaan yang tidak menguntungkan dirinya, dan rencana masa
181

depannya;
3) Berikan anak dan remaja tugas-tugas rutin untuk menanamkan rasa
tanggung jawab terhadap keluarganya. Misalnya mengunci pintu bila sudah
malam, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai, membereskan
tempat tidur dan belajar, dll.
4) Guru dan petugas BP membimbing kelompok-kelompok kecil siswa (geng),
memberikan tugas (PR, makalah, resume bahan pelajaran, dll.);
5) Orang tua, guru, dan tokoh agama (kiyai, ustadz) membimbing moral
agama, Pancasila, budi pekerti luhur, dll.
d. Kurangnya Dasar-dasar Keimanan.
Kenyataan yang terjadi sekarang, masalah agama belum menjadi salah satu
upaya pembinaan yang sungguh-sungguh dari orang tua dan guru terhadap
remaja. Padahal agama adalah benteng atau perisai diri dalam menghadapi
berbagai cobaan yang datang pada mereka. Hal yang sangat tidak mendukung, sekarang ini adalah tayangan-tayangan televisi (film, sinetron, dll.) yang
selain tema dan isinya tidak mendidik, tetapi menarik bagi anak dan remaja,
justru ditayangkan pada waktu yang mestinya anak dan remaja mengaji dan
belajar, misalnya antara pukul 18.00 s/d pk. 21.00. Kemen-terian Agama
malah mempunyai program Maghrib Mengaji tetapi tidak didukung oleh
pihak-pihak lain. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI) pun ternyata usulan dan anjuran-anjurannya tidak digubris
oleh pihak perusahaan televisi terutama swasta, karena unsur komersialnya
sangat mendominasi.
2. Faktor-faktor yang Berasal dari Lingkungan Keluarga.
a. Anak kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tua;
b. Lemahnya keadaan ekonomi orang tua;
c. Kehidupan keluarga yang kurang harmonis.
3. Faktor-faktor yang Berasal dari Lingkungan Masyarakat.
a. Pelaksanaan ajaran agama kurang mendapat perhatian;
b. Kecenderungan perilaku sekuler yang hampir-hampir meniadakan sentuhan
182

agama;
c. Menurunnya karakter kebangsaan akibat pengaruh globalisasi dalam segala
hal, sehingga sifat gotong royong, ketimuran, kepedulian sosial, dll. hampir
punah;
d. Kurangnya tingkat pendidikan masyarakat;
e. Kurangnya pengawasan terhadap remaja;
f. Pengaruh budaya dan norma-norma baru dari luar, dll.
4. Faktor-faktor yang Bersumber dari Sekolah.
Sekolah cukup berperan dalam membina anak dan remaja untuk menjadi orang
dewasa yang bertanggung jawab, karena sekolah merupakan tempat kedua
setelah keluarga (rumah tangga).

Selain tugas kurikuler yang berusaha

memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya sebagai bekal


kehidupannya kelak, sekolah bertanggung jawab juga terhadap kepri-badian
anak. Dalam hal ini peranan guru sangat diperlukan, yaitu kepribadian guru yang
baik. Jika kepribadian guru buruk, dapat dipastikan akan menular kepada anak
didinya.
Menurut Bernard (1961:113), jika perilaku guru buruk seperti tegang, marah,
mudah tersinggung, menguasai murid, maka para murid akan tertular oleh sifat
dan perilaku guru tersebut. Sementara itu menurut hasil penelitian Sofyan S.
Willis (1985), bahwa kesehatan jiwa guru berkorelasi positif ter-hadap perilaku
siswa (r=0,33), sedangkan kesehatan jiwa guru berkorelasi terhadap kebiasaan
belajar siswa sebesar r=0,40 dan terhadap sikap belajar sebesar r=0,25 yang
semuanya signifikan pada p<0,01. Berdasarkan penjelas-an Bernard dan
penelitian Sofyan S. Willis ini, maka setiap guru seharusnya menjaga kepribadian
dan perilakunya agar selalu baik, sabar, dan demokratis terhadap para siswanya.
Dalam rangka pembinaan anak didik ke arah kedewasaan tersebut, kadang
sekolah menjadi penyebab dari timbulnya kenakalan remaja. Hal ini mungkin
bersumber dari guru, fasilitas pendidikan, norma tingkah laku, kekompakan guru,
dan suasana interaksi antara guru dan siswa, yang perlu mendapat perhatian
serius.
183

a. Faktor Guru :
1) Keadaan ekonominya. Jika morat-marit, dia akan berusaha mencukupi
biaya hidupnya di luar sekolah, bisa dengan mengajar di beberapa sekolah
atau bekerja di bidang lain. Akibatnya anak didik terganggu, terbengkalai,
dapat dibayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi;
2) Mutu guru. Jika mutu guru buruk, maka usaha pembentukan kepribadi-an
anak didik pun menjadi buruk. Jadi, menjadi guru bukan hanya karena
menguasi ilmu pengetahuan tertentu dan dapat berdiri di depan kelas,
tetapi lebih kepada dasar pengabdian dan kehlian di bidang pendidikan.
3) Kekurangan guru yang berkualitas dan profesional.
4) Kekompakan guru dalam menjunjung norma-norma yang sama dan
dipahami oleh anak didik.
b. Faktor Fasilitas Pendidikan.
Kurangnya fasilitas pendidikan akan menyebabkan penyaluran bakat dan
keinginan para siswa terhalang, misalnya :
1) Gedung sekolah, ruang kelas, dan akses jalan;
2) Halaman tempat upacara;
3) Lapangan dan alat-alat olah raga;
4) Alat-alat kesenian;
5) Laboratorium;
6) Alat-alat peraga;
7) Perpustakaan sekolah;
8) Musholla dan wc;
9) Dll.

D. PAMAHAMAN PERILAKU AGRESIF ANAK DAN REMAJA


Jika dipandang dari definisi emosional, pengertian agresif adalah hasil dari proses
kemarahan yang memuncak. Sedangkan dari definisi motivasional, agresif adalah
perbuatan yang bertujuan untuk menyakiti orang lain. Sementara dari pengerti-an
behavioral, perbuatan agresif merupakan respons dari stimulus yang disampaikan
184

oleh organisme lain. Perbuatan agresif ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu :
1. Naluri agresif.
2. Situasi yang sangat sumpek.
3. Perbuatan agresif dipelajari.
4. Perbuatan agresif karena frustrasi.
5. Perbuatan agresif karena tekanan.
6. Perbuatan agresif karena balas dendam.
Tindakan agresif yang disebabkan oleh dasar alamiah atau pembawaan (naluri
agresif), dikemukakan oleh Sigmund Freud. Dia melihat bahwa perbuatan agresif
disebabkan suatu dorongan naluri yang mewakili naluri kematian (the death
instinct). Menurutnya, hidup merupakan konflik abadi antara dorongan hidup (life
instinct) dengan dorongan mati (death instinct). Di antara dorongan ini manusia
berusaha untuk hidup dan membangun. Sementara Lorenz (1966) melihat tindakan
agresif manusia sebagai suatu pertahanan diri sebagaimana terjadi juga pada
binatang. Menurut Lorenz, faktor budaya menjadikan penahan bagi meledaknya
perbuatan brutal. Id, ego, dan super ego, merupakan dasar struktur kepribadian
manusia yang digambarkan Freud dalam psikoanalinis. Masing-masing unsur
memiliki kecenderungan tertentu. Id mempunyai kecende-rungan untuk nafsu,
libido seks, dan perbuatan destruktif. Namun super ego yang berisi nilai-nilai
budaya dan agama dapat menahan lajunya id, sehingga ego menjadi tenang dan
berkembang. Jika dorongan id yang destruktif tidak dapat ditahan oleh super ego,
maka ego akan terjebak pada perbuatan-perbuatan jahat, termasuk agresifitas yang
cenderung merusak orang lain dan dirinya.
Keadaan sumpek (crowding) adalah penuh sesaknya manusia di suatu tempat,
seperti jalanan, bus kota, kereta api, stasiun, pasar, terminal, bandara, pelabuhan,
dll. Keadaan sumpek secara psikologis memberi pengaruh negatif terhadap perilaku
sosial individu. Dengan kondisi prasarana dan sarana yang terbatas sementara
kebutuhan banyak, maka akan menjadikan manusia stres, marah, konflik, frustrasi,
dan bisa bertindak agresif.
Teori yang dekat dengan belajar yang terkoordinasi adalah teori behavioral,
khususnya conditioning. Menurut teori ini tindakan agresif merupakan perilaku hasil
185

belajar. Banyak psikolog yang sependapat bahwa belajar adalah determinan utama
dalam perilaku agresif. Artinya, semua tindakan agresif adalah dipelajari, sedikit
sekali yang disebabkan oleh dasar naluri. Anak kecil yang selalu mendapat tekanan,
lingkungan yang bertengkar, dll. akan menjadi anak pemarah dan agresif. Dasar
perilaku pemarah akan diperluas dan diperkuat melalui contoh-contoh dari orangorang dewasa, film, dan tayangan-tayangan TV. Orang tua agresif akan ditiru oleh
anak-anaknya, sebaliknya orang tua yang permisif (masa bodoh), cenderung akan
membuat perilaku anak agresif karena banyak perilaku negatif yang diperbuatnya
dibiarkan saja tanpa ada norma evaluasi pembatasan.
Suatu ketika coba anda stel TV dan lihat tayangan film Barat (atau Indonesia)
apakah drama keluarga, silat, koboy (cowboys) atau film aksi lainnya yang
menceritakan

kekerasan

seperti

perkelahian,

pembunuhan,

pemerkosaan,

penyiksaan. Anak-anak yang menyaksikan akan meniru sehingga berperilaku agresif,


dan dicobanya kepada saudara dan temannya. Dengan demikian banyak orang yang
menduga terdapat efek negatif tayangan TV terhadap perilaku agresif anak. Namun
Komisi Nasional AS tentang Sebab-sebab dan Perlindungan Tindak-an Kekerasan
(1969) membela bahwa media massa bukanlah biang keladi (pe-nyebab) perilaku
kekerasan pada anak-anak dan remaja. Komisi tersebut menyatakan bahwa faktorfaktor penyebab perilaku agresif lebih banyak dari luar media massa, kendati
pendapat tersebut banyak ditentang terutama oleh kalangan pendidik. Terdapat
dua pandangan terhadapnya, yaitu :
1. Pandangan Katarsis :

Bahwa tindakan agresif dapat dikurangi jika orang

menonton tayangan-tayangan film kekerasan. Menonton tayangan TV dengan


adegan kekerasan, penyiksaan, perkosaan, dan pembunuhan dapat menyalurkan nafsu agresifitas sehingga kecenderungan agresif akan berkurang.
2. Pandangan Non-Signifikansi :

Bahwa tayangan berbagai perilaku kekerasan

dalam media massa khususnya TV tidak mempunyai pengaruh signifikan


terhadap penonton atau pembaca. Sebab utama tindak kekerasan dari seorang
individu adalah karena situasi tertentu yang mempengaruhi kepribadiannya,
seperti frustrasi yang dialami agak lama, kehidupan masa lalu yang diwarnai
lingkungan agresif misalnya pertengkaran orang tua atau tetangga.
186

Sementara itu studi korelasi antara tayangan kekerasan di TV dengan kecenderungan perilaku agresif pada anak-anak (Sofyan S. Willis, 2010:124), menunjukkan angka e=0,20 hingga 0,30 artinya, kontribusi tayangan TV terhadap tindakan
kekerasan pada anak-anak dan remaja di Indonesia hanyalah 4% - 9% saja (relative
kecil). Berarti banyak sumbangan faktor-faktor lain terhadap agresivitas anak dan
remaja. Kemungkinan besar berasal dari keluarga dengan pendidikan keras atau
orang tua terlalu permisif yang membiarkan saja segala tindakan anak tanpa
pembatasan dan teguran. Karena itu ada tida interpretasi penyebab tindakan
kekerasan :
1. Menonton tayangan kekerasan menyebabkan perilaku kekerasan.
2. Sustu kecenderungan kekerasan akan mengarah pada keinginan menonton
tayangan kekerasan.
3. Tindakan agresif dan kekerasan sebagian besar adalah dari faktor-faktor bukan
tontonan kekerasan, melainkan faktor diri anak dan lingkungan rumah, sekolah,
dan masyarakat yang memberikan contoh perbuatan kekerasan dilakukan di
depan anak dan remaja.
Ada lagi teori yang dikemukakan oleh Yale dan Dollar (1939), bahwa
penyebab perilaku agresif adalah yang paling banyak mengalami kegagalan
dalam memenuhi kebutuhannya. Karena kegagalan yang bertumpuk, maka dia
menjadi frustrasi, dan jalan keluarnya adalah :
a. Menjadi agresif seperti marah, menyerang, memukul, bahkan mungkin
membunuh;
b. Mengurangi cita-cita yang tak mungkin dijangkau (sadar akan kemampuan
diri), karena didasari agama dan budaya yang membimbing.
Kebanyakan akibat frustrasi adalah tindakan-tindakan kekerasan. Namun
dorongan agresivitas sering ditentukan oleh pemenuhan harapan dan hukum-an.
Artinya, bahwa meredanya agresivitas bergantung pada kondisi luar, apakah
mampu menurunkannya dengan reward atau punishment. Sebab hadiah
bukan semata-mata materi, tetapi juga dorongan, penghargaan psikologis, dan
penerimaan. Sedangkan hukuman mungkin juga bisa mengu-rangi agresivitas
untuk sesaat, karena sering respons terhadap hukuman tidak sama dipahami
187

oleh anak dan remaja.


Tekanan lingkungan terhadap individu dan kelompok bisa menimbulkan
stres. Artinya, individu atau kelompok merasakan pukulan hebat terhadap usaha
dan tujuannya. Kemungkinan yang terjadi akibat serangan stres (tekanan hebat),
antara lain :
a. Perilaku ketakberdayaan (helflessness) dan dibumbui depresi. Orang ini biasanya berserah diri, pasrah, menyelahkan diri sendiri, bahkan self destructive;
b. Berspons menantang lingkungan dengan nekat, lalu bertindak menghancurkan rintangan melalui perilaku agresif.
Satu lagi adalah balas dendam, yang merupakan penyaluran frustrasi
melalui proses internal, yakni merencanakan pembalasan terhadap obyek yang
menghambat dan merugikannya. Balas dendam biasanya dalam bentuk yang
paling ringan seperti menjahili, meliciki, dan bisa juga dalam bentuk keras seperti
pengrusakan, penganiayaan terhadap orang lain, dll.
Demikianlah, karena banyak faktor penyebab terjadinya agresivitas anak dan
remaja, maka diharapkan pihak orang tua, guru di sekolah, dan masyarakat, serta
pemerintah memperhatikan masalah kenakalan remaja ini dengan cara
pencegahan dan penanggulangannya melalui berbagai cara dan program.

E. UPAYA-UPAYA MENCEGAH DAN MENANGGULANGI KENAKALAN REMAJA


Menanggulangi kenakalan remaja tidak sama dengan mengobati suatu penyakit.
Setiap penyakit sudah ada obat-obat tertentu misalnya tablet, kapsul, atau
suntikan. Akan tetapi kenakalan belum ada tablet, kapsul atau suntikan tertentu
untuk menyembuhkannya. Misalnya obat untuk anak-anak yang tidak jujur, bohong, suka menipu, mencuri, dll. Hal ini mengingat kenakalan remaja itu kompleks
sekali dan sangat banyak ragam dan jenis penyebabnya. Kenakalan yang sama yang
dilakukan oleh dua anak berbeda, belum tentu sama sebabnya-sebabnya sehingga
cara-cara mengatasinya pun berbeda pula.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka upaya menanggulangi kenakalan
remaja dibagi atas tiga bagian, yaitu : Upaya preventif, kuratif, dan pembinaan terus
188

menerus.
1. Upaya Preventif.
Yang dimaksud di sini adalah kegiatan yang dilakukan secara sistematis,
berencana, dan terarah, untuk menjaga agar kenakalan itu tidak timbul. Upaya
preventif lebih besar manfaatnya daripada kuratif, karena jika kenakalan itu
sudah meluas, akan sulit mengatasinya. Bahaya yang ditimbul-kan dan biaya,
tenaga, waktu, serta sarana dan prasarana yang harus disiap-kan pun akan jauh
lebih hambur.
Berbagai upaya preventif atau pencegahan dapat dilakukan, tetapi secara
garis besarnya dikelompokkan atas tiga bagian, yaitu di rumah tangga (keluarga),
di sekolah, dan di masyarakat.
a. Di Rumah Tangga (Keluarga).
Rumah tangga atau keluarga adalah tempat pertama dan utama pendidikan
anak. Karena itu di rumah tangga hendaknya :
1) Orang tua menciptakan kehidupan beragama yang solid;
2) Menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis;
3) Adanya kesamaan norma-norma yang dipegang oleh ayah, ibu, dan
keluarga lainnya dalam mendidik anak-anak;
4) Memberikan kasih sayang secara wajar kepoada anak-anak;
5) Memberikan perhatian yang memadai terhadap kebutuhan anak-anak;
6) Memberikan pengawasan secara wajar terhadap pergaulan anak remaja di
lingkuingan masyarakat.
b. Di Sekolah.
Sekolah adalah tempat pendidikan kedua setelah keluarga, maka :
1) Guru-guru hendaknya memahami aspek-aspek psikis anak/peserta didik;
2) Mengintensifkan pelajaran agama, pendidikan moral Pancasila, dan budi
pekerti (akhlak);
3) Mengadakan tenaga guru pendidikan agama yang benar-benar ahli dan
berwibawa serta mampu bergaul secara harmonis baik dengan para guru
dan anak didik;
189

4) Mengadakan tenaga ahli atau menatar guru-guru untuk mengelola bagian


BP;
5) Mengintensifkan kegiatan BP, misalnya :
- Konsultasi dengan orang tua siswa, terutama yang cenderung bermasalah;
- Bimbingan atau mengadakan konsultasi dengan para siswa di kelas atau
secara individual;
- Konsultasi dengan guru atau wali kelas. Hal ini penting karena : Banyak
guru yang belum mengerti tugas, fungsi, dan peranan BP, guru BP sendiri
merasa rendah diri karena ilmu dan keterampilannya masih kurang, dan
system sekolah yang tidak membuka peluang konsultasi guru BP, atau
sebaliknya.
6) Adanya kesamaan norma-norma yang dipegang oleh guru-guru;
7) Melengkapi fasilitas pendidikan;
8) Perbaikan kesejahteraan guru;
9) Dan lain-lain.
c. Di Masyarakat.
Masyarakat adalah tempat pendidikan ketiga setelah keluarga dan sekolah.
Ketiganya harus mempunyai kekompakan dan keseragaman dalam mengarahkan anak untuk tercapainya tujuan pendidikan. Karena, jika salah satunya
pincang, maka yang lain akan turut pincang pula. Di antara kegiatan yang
dilakukan di lingkungan masyarakat adalah mengisi waktu luang. Safiyuddin
Sastrawijaya (1977) memberikan saran untuk mengisi waktu luang dimaksud
sebagai berikut :
1) Yang bersifat hobi :
- Kesenian (tari, lukis, patung, drama, musik, suara), dll.
- Elektronika;
- Philatelis;
- Botani dan biologi;
- Cinta alam (mendaki gunung, kemping, outbound, dsb.);
- Fotografi;
190

- Home decoration;
- Home industry, dll.
2) Yang bersifat keterampilan :
- Taruna karya atau karang taruna;
- Organisasi pemuda yang independen;
- Organisasi olah raga;
- Pramuka, dll.
3) Yang bersifat kegiatan sosial :
- Palang Merah Remaja (PMR) dan Dinas Ambulan Remaja;
- Badan Keamanan Remaja (Hansip/Kamra Remaja, Kelalulintasan dan
Keamanan Umum (BKLL-BKU);
- Pemadan Kebakaran Remaja;
- Remaja masjid, dsb.
Pemerintah di beberapa daerah sudah mendirikan beberapa gelanggang
remaja, demikian juga di kecamatan dan desa/kelurahan ada yang sudah
memiliki lapangan dan gedung olah raga. Hendaknya hal tersebur dimanfaatkan
juga oleh remaja dalam aktivitasnya mengisi waktu luang tersebu dengan hal-hal
yang positif.
2. Upaya Kuratif.
Upaya kuratif adalah upaya mengatasi dan antisipasi terhadap gejala-gejala
kenakalan remaja agar tidak meluas dan merugikan masyarakat. Secara formal
upaya kuratif dilakukan oleh POLRI dan Kejaksaan Negeri, sebab jika terjadi
kenakalan remaja berarti sudah terjadi pelanggaran hukum, yang dapat
berakibat merugikan diri mereka dan masyarakat.
Selain POLRI dan Kejaksaan yang secara formal bertugas menangani
kenakalan remaja yang berakhir pada putusan hakim, jika sampai diproses
pengadilan, tetapi anggota masyarakat pun bertanggung jawab mengupayakan
pemberantasan atau pembasmian kenakalan remaja di lingkungan mereka di RT,
RW, dan desa. Jika masyarakat membiarkan saja kenakalan remaja terjadi di
sekitarnya, berarti mereka pun secara tidak langsung ikut atau berkontribusi
191

merusak lingkungan masyarakat itu. Upaya membasmi kenakalan remaja oleh


masyarakat tentunya dengan jalan berorganisasi, yaitu melalui RT dan RW,
melalui tiga karateristik, yaitu :
a. Jika ada wewenang atau kekuasaan, membasmi kejahatan atau kenakalan itu
dengan tangannya (kewenangan atau kekuasaannya);
b. Jika tidak sanggup karena tidak punya kekuasaan, maka cegahlah dengan lisan
(ucapan, khutbah, pidato, ceramah, diskusi, seminar, dll.);
c. Jika tidak sanggup juga karena lemah, maka cegahlah dengan hati,
maksudnya, jangan mentolelir perbuatan jahat dan kenakalan yang menjurus
kejahatan yang dilakukan orang lain, dan jangan ikut ambil bagian di
dalamnya, serta pelihara diri dan keluarga dari perbuatan-perbuatan tersebut.
Tiga karakteristik tersebu di atas sebenarnya berdasarkan hadits Nabi Besar
Muhammad Saw. yang sangat baik. Kerjasama antara pemerintah, masyarakat
yang di dalamnya ada ulama, dan orang tua sangat diperlukan dalam mengatasi
kenakalan remaja. Khusus mengenai tugas ulama, cukup ampuh lebih-lebih
ulama kondang, karena ucapan atau tausiah ulama biasa-nya diperhatikan benar
oleh masyarakt dan remaja.
3. Upaya Pembinaan.
Upaya pembinaan remaja di sini dimaksudkan :
a. Pembinaan terhadap remaja yang tidak melakukan kenakalan, dilaksana-kan
di rumah, sekolah, dan masyarakat (preventif);
b. Pembinaan terhadap remaja yang telah mengalami tingkah laku kenakalan
atau telah menjalani hukuman karena kenakalannya. Pembinaan ini perlu
agar mereka tidak mengulangi lagi kenakalannya.
Upaya pembinaan anak-anak dan remaja nakal yang telah dilakukan oleh
Pemerintah seperti mengadakan lembaga pemasyarakatan khusus untuk anakanak nakal, terutama ditujukan untuk memasyarakatkan kembali anak-anak yang
telah tersesat melakukan kejahatan, sehingga mereka kembali menjadi anak dan
manusia yang baik. Pembinaan diarahkan dalam beberapa aspek, yaitu :
a. Pembinaan mental dan spiritual keagamaan;
192

b. Pembinaan ideologi, nilai-nilai, moral, dan etika melalui pendidikan Pancasila


agar menjadi individu, anggota keluarga, anggota masyarakat, serta warga
negara yang baik;
c. Pembinaan kepribadian yang wajar untuk mencapai pribadi yang stabil dan
sehat;
d. Pembinaan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi bekal kehidupannya;
e. Pembinaan keterampilan khusus yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupannya;
f. Pembinaan melalui pengembangan bakat-bakat khusus;
g. Pembinaan melalui ceramah-ceramah bahaya narkoba, merokok, seks bebas,
HIV/Aid, dll.

193

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Agustian, Ary Ginanjar. 2005. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan
Spiritual (ESQ, Emotional Spiritual Quotient). Cetakan kesembilanbelas. Jakarta :
Penerbit Arga.
Ali, Mohammad dan Asrori, Mohammad. 2005. Psikologi Remaja (Perkembangan
Peserta Didik). Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Bakolak Inpres No. 6 Tahun 1971. Pedoman 8 : Pola Penanggulangan Kenakalan
Remaja. Cetakan ke-II. Jakarta.
Barnadib, Sutari I. 1986. Pengantar Pendidikan Sistimatis. Yogyakarta : FIP-IKIP.
Biehler, R.R. 1982. Psychology Applied to Teaching. New York : Houghton Mifflin
Company.
Cavan, R.S. 1962. Juvenile Delinquency. Philadelphia and New York : J.B. Lippincott
Company.
Fatimah, Enung. 2010. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik).
Cetakan III. Bandung : CV. Pustaka Setia.
Gunarsa, Singgih. 1988. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Gunung Mulia.
Havighurst, Rj. 1985. Human Development and Education. Disadur oleh Moh. Kasiram.
Surabaya :Sinar Wijaya.
Hurlock, E.B. 1991. Perkembangan Anak. Terjemahan Meitasari T. dan M. Zarkasih.
Surabaya : Erlangga.
---------------. 1990. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan. Terjemahan Istiwadayanti dan Sujarwo. Jakarta : Erlangga.
Kartono, Kartini. 1990. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung : CV.
Mandar Maju.
Lefton, Lester A. 1982. Psychology. Boston : Allin and Bacon, Inc.
Lindgren, C.H. 1976. An Introduction to Social Psychology, 2rd. Ed. New Delhi : Wiley
Estem Private Limited.
Mappiare, Andi. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya : Usaha Nasional.
Maslow, Abraham H. 1962. Toward A Psychology of Being. New York : Van Nostrand.
194

Monks, F.J., Knoers A.M.P. dan Haditono, Siti Rahayu. 1989. Psikologi Perkembangan :
Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Munandar, Utami. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah.
Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.
Oxendine, Joseph B. 1984. Psychology of Motor Learning. New Jersey : Prentice-Hall,
Inc.
Piaget, J. 1988. Antara Tindakan dan Pikiran. (Alih Bahasa oleh Agus Cremers). Jakarta
: Gramedia.
Rogers, D. 1977. Psychology of Adolescence. Third Edition. New Jersey : Prentice-Hall,
Inc.
Sarwono, Sarlito Wirawan. 1989. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Press.
Sastrawijaya, Safiyuddin. 1977. Beberapa Masalah tentang Kenakalan Remaja.
Bandung : PT. Karya Nusantara.
Schneiders, A.A. 1984. Personal Adjustment and Mental Health. New York : Holt,
Rinehart, and Winston.
Soelaeman, M. Munandar. 2007. Ilmu Budaya Dasar : Suatu Pengantar. Bandung : PT.
Refika Aditama.
Sunarto H. dan Agung Hartono B. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Cetakan Ketiga.
Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Supriadi, Dedi. 1994. Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek. Bandung :
Alfabeta.
Suryabrata, Sumadi. 1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.
-------------------------. 1986. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : PT.
BPK Gunung Mulia.
Sutrisno, Mudji. 1993. Manusia dalam Pijar-pijar Kekayaan Dirinya. Yogyakarta :
Kanisius.
Willis, Sofyan S. 2010. Remaja & Masalahnya. Cetakan Ketiga. Bandung : Alfabeta.

195