Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN HASIL DISKUSI KELOMPOK KECIL

BLOK 14 PEMULIHAN SISTEM STOMATOGNATIK 2


MODUL 2 ANESTESI LOKAL

Disusun oleh : Kelompok 1


Adelia Caesarini P.Z.

1310015103

Andre Kusuma R.

1310015116

Betrik Sefyana M.

1310015120

Cynthia Clarissa

1310015104

Dera Armedita

1310015101

Dini Sylvana

1310015107

Frediyuana D. W.

1310015114

Hosana A. M.

1310015095

Irmawati

1310015091

Siti Nur Azizah

1310015109

Tutor : drg. Sinar Yani M. Kes


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
terselesaikannya laporan DKK (Diskusi Kelompok Kecil) mengenai Belajar Efektif.
Laporan ini dibuat sesuai dengan gambaran jalannya proses DKK kami, lengkap
dengan pertanyaan dan jawaban yang disepakati oleh kelompok kami. Kami mengucapkan
terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam proses pembuatan
laporan DKK ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada tutor kelompok dkk kami,
rekan satu tim dkk serta semua pihak yang membantu dalam berjalannya diskusi dan
pencarian informasi.
Akhir kata, kami mohon kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan di
kemudian hari, agar laporan ini dapat lebih baik lagi. Semoga laporan ini bermanfaat bagi
pembaca, baik sebagai referensi atau perkembangan pengetahuan.

Hormat Kami,
Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman judul............................................................................................................ 1
Kata pengantar .......................................................................................................... 2
Daftar isi..................................................................................................................... 3
BAB I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang............................................................................................. 4
1.2. Tujuan.......................................................................................................... 4
1.3. Manfaat........................................................................................................ 4
BAB II Pembahasan
2.1 Step 1 : Identifikasi Istilah Asing................................................................... 5
2.2 Step 2 : Identifikasi Masalah.......................................................................... 5
2.3 Step 3 : Curah Pendapat................................................................................. 6
2.4 Step 4 : Analisis Masalah............................................................................... 7
2.5 Step 5 : Merumuskan Tujuan Belajar............................................................. 8
2.6 Step 6 : Belajar Mandiri................................................................................. 9
2.7 Step 7 : Sintesis.............................................................................................. 9
BAB III Penutup
3.1. Kesimpulan .................................................................................................... 33
3.2. Saran............................................................................................................... 33
Daftar Pustaka ........................................................................................................... 34

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
A ne s t es i lo ka l a da la h h il an gn ya s ens as i p ad a ba gi an tu bu h te rt en tu
ta np a d is er ta i k eh il an ga n ke s a da ra n at au ke ru s a ka n fu ngs i ko nt ro l
s a ra f p us at d an be rs if at re ve rs ib el .O ba t an es te s i l ok al te ru ta ma
be rf un gs i un tu k men c eg a h at au me ng hi l a ng ka n s e ns a s i n ye r i de ng a n
me mu t u s k an k on du ks i i mp ul s s ar af ya n g b ers if at s emen t ar a .
Pada tindakan bedah, obat anestesi lokal dapat langsung diberikan dan diawasi oleh
operator sehingga operator harus memiliki pengetahuan mengenai jenis, cara,
penggunaan, me t ab o l is me , d os is d an mek a ni s me ke rj a , e fe k s ampi ng ,
da n e fe k mer ug ik a n d ar i o ba t anestesi lokal.

B. Tujuan
Untuk memahami pengetahuan mengenai pemakaian anestesi lokal berupa jenis, alat
dan bahan, mekanisme kerjanya, serta faktor yang mempengaruhi anestesi lokal.

C. Manfaat
Agar mahasiswa dapat mengetahui lebih dalam tentang ilmu anestesi lokal.

BAB I
PEMBAHASAN
SKENARIO :
Seorang laki-laki (45th) datang ke Pusat Kesehatan Masyarakat setempat untuk
mencabutkan geraham bawah kanan yang 5 hari sebelumnya menjadi focal infection dan
mendapatkan medikasi. Gigi tersebut sering sakit, cekot-cekot hingga tidak bisa tidur.
Sesuai SOP, dokter gigi melakukan anamnesis dan pemeriksaan lengkap diikuti control of
pain. Namun setelah 10 menit pasca deponer agen anestesi, belum tampak tanda-tanda
obat bekerja. Namun setelah ditambahkan setengah ampul, 5 menit kemudian muncul efek
pada area yang diinervasi.
STEP 1 :
1. Focal infection : suatu tempat yang dinyatakan sebagai sumber pusat penyebaran
infeksi yang dapat mempengaruhi atau menganggu organ lain di dalam tubuh.
2. Medikasi : pemberian obat untuk tujuan pengobatan, terapi, penyembuhan.
3. Ampul : suatu wadah tabung kaca silindris yang berisi obat dengan jenis cair yang
bagian atas memiliki batas untuk membuka.
4. Pasca Deponer : setelah peletakan atau menaruh obat dimana caranya dengan
mendorong sebuah plugger pada instrumen anastesi lokal.
5. Di inervasi : di distribusikan atau disebarkan dari sistem persyarafan.
6. Anestesi : pembiusan yang tindakannya dilakukan oleh dokter dengan memasukkan
obat anastesi guna menghilangkan rasa sakit, nyeri dan cemas selama tindakan medis
dilakukan.
7. Control of pain : manajemen nyeri atau suatu tindakan medis pengaturan dalam
persyarafan untuk menghilangkan rasa nyeri.
8. SOP (Standar Operasional Prosedur) : suatu set instruksi (perintah kerja) terperinci
dan tertulis yang harus diikuti demi mencapai suatu pekerjaan tertentu dengan
berpedoman pada tujuan yang harus dicapai.
9. Anamnesis : proses pengambilan data pasien dengan wawancara pada pasien maupun
kelurga pasien untuk mengetahui data, riwayat penyakit, keluhan serta menegakkan
diagnosis dari pasien.
STEP 2 :
1. Mengapa kita harus bekerja mengikuti SOP ?
2. Apa tujuan dari control of pain ?
3. Apa tujuan dari anastesi ?
5

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

Apa focal infeksi yang terjadi pada kasus di skenario ?


Bagaimana cara melakukan control of pain ?
Apa indikasi dan kontra indikasi dalam meakukan anastesi ?
Medikasi apa saja yang harus dilakukan pada kasus di skenario ?
Mengapa pada kasus di skenario ditambahkan lagi setengah ampul ? Apakah tindakan
tersebut berhubungan dengan focal infeksi pada pasien tersebut ?
Apa saja agen anastesi ?
Bagaimana cara melakukan anastesi lokal ?
Bagaimana cara mengetahui efek dari anastesi lokal yang sudah bekerja atau belum ?
Bagaimana mekanisme kerja dari anastesi lokal ?
Mengapa setelah 10 menit pasca deponer belum ada tanda kerja dari obat anastesi ?
Berapa takaran yag diperlukan normal untuk melakukan anastesi lokal ? Dan apa
pengaruhnya jka berlebihan ?
Hal-hal apa saja yang diperlukan dalam melakukan anastesi ?

STEP 3 :
1. Untuk mencapai suatu tujuan dari pekerjaan agar terhindar dari kerugian pada pasien
maupun dokter gigi karena SOP telah memiliki tahapan-tahapan yang harus
dikerjakan dan juga dapat megurangi ketidakberhasilan pengerjaan dalam tindakan
medis.
2. Untuk membuat pasien merasa nyaman dan membantu dokter dalam melakukan
operasi dengan hati-hati, tidak terburu-buru dan maksimal serta tidak akan menjadi
pengalaman operasi yang buruk bagi pasien dan dokter gigi.
3. Untuk menghilangkan rasa sakit dan nyeri serta cemas dan juga memudahkan
pekerjaan dokter gigi serta anastesi memiliki vasokonstriktor guna meminimalisirkan
pendarahan pada saat operasi.
4. Focal infection ada yang dari gigi, periodontal dan operkulum pada skenario dimulai
dari gigi geraham bawah kemungkinan diawali dari karies pada gigi tersebut.
5. Control of pain dilakukan dengan cara ada yang anastesi yaitu memblokade
persyarafan di daerah tersebut dengan injeksi kemudian ada yang dengan cara
pemberian obat topikal pada daerah yang sakit dapat juga dilakukan pemberian obatobatan peroral seperti analgesik.
6. Indikasi dari anastesi yaitu tidak ada peradangan pada daerah yang akan di anastesi
dan kontraindikasi nya yaitu jika operator tidak menguasai keterampilan dalam
anastesi injeksi.
7. Medikasi yang harus dilakukan pada kasus pertama yaitu pemberian antibiotik
terlebih dahulu karena pasien merasa sakit cekot-cekot sehingga kemungkinan bakteri
ada pada daerah tersebut kemudia juga diberikan obat analgesik untuk menghilangkan
rasa nyeri tersebut dan obat antiinflamasi yang diberikan 3 hari sebelum dilakukan
pencabutan setelah itu dilakukan anastesi pada daerah sekitar gigi yang akan dicabut

8.

9.

10.

11.

12.
13.

kemudian ekstraksi gigi geraham bawah yang menjadi focal infection pada pasien
tersebut.
Kemungkinan dari fisiologis tubuh pasien tersebut dengan dosis yang diberikan tidak
sesuai sehingga farmakokinatik dari obat tersebut tidak bekerja sehingga perlu
ditingkatkan dosis obat pada pasien tersebut.
Agen anastesi lokal berdasarkan struktur kimia nya :
A. Golongan Ester : di hidrolisis di plasma, waktu paruh kerja lebih cepat, ikatan
stabil terhadap panas, dapat menyebabkan reaksi alergi. Golongan ester yaitu :
Benzocaine, Kocaine, Procaine, Tetracaine, Clorococaine.
B. Golongan Amida : di hidrolisis di hati, waktu paruh kerja lebih panjang namun
dapat menyebabkan toksisitas akibat waktu paruh yang lebih lama. Berdasarkan
waktu paruh yang lebih cepat yaitu Prylocaine, Etidocaine, Lidocaine,
Mepivicaine, Buvipicaine ini yang paling bagus karena waktu kerja lebih
panjang. Di indonesia yang paling sering digunakan adalah Lidocaine dan
Procaine selebihnya impor.
C. Golongan Quinolon
D. Golongan Amida-Ester : Aticaine.
Berdasarkan durasi ( waktu paruh ) :
1. Singkat : golongan amida mevipicaine 3% 20-40 menit dan prylocaine 4% 5-10
menit efek dari obat ini 30 menit sampai 60 menit.
2. Sedang : Lidocaine, Aticaine, Prylocaine+Epinefrin(vasokonstriktor) efek kerja
60 menit sampai 90 menit.
3. Lama : Buvipicaine efek kerja dapat lebih dari 90 menit.
Teknik ada 2 yaitu :
a. Infiltrasi jarum yang digunakan berukuran pendek 2 atau 2,5 cm contohnya
supraperiosteal nervus alveolaris superior posterior, supraperiosteal untuk gigi
insiisvus sentralis rahang atas, supraperiosteal untuk gigi insisivus bawah, nervus
palatinus major.
b. Blok jarum yang digunakan berukuran panjang 3,5 cm untuk ekstraksi gigi yang
banyak contohnya blok pada nervus madibularis, blok nervus alveolaris inferior
dan nervus lingualis.
Yaitu pasien akan merasa kebal/ baal pada area yang di injeksikan anastesi dan pada
mukosa area yang di anastesi akan terlihat lebih pucat karena aliran darah pada daerah
tersebut di minimalisir.
Mekanisme dengan mengurangi permeabilitas di neuron terhadap natrium sehingga
tidak terjadi potensial aksi pada jaringan.
Kemungkinan dari fisiologis tubuh pasien tersebut dengan dosis yang diberikan tidak
sesuai sehingga farmakokinatik dari obat tersebut tidak bekerja sehingga perlu
ditingkatkan dosis obat pada pasien tersebut.

14. Dosis maksimum vial dan ampul pada Lidocaine 2% 300mg 15 ml.
15. Untuk armamentarium anastesi adalah
a. Syringe : terbuat dari kotak logam dan plugger yang disatukan.
b. Cartridge : terbuat dari kaca bebas alkali dan pirogen untuk menghindari pecah
atau kontaminasi dari larutan dan penutup atasnya dapat ditembus jarum karena
terbuat dari karet.
c. Jarum : jarum hipodermik ada yang pendek untuk anastesi infiltrasi 2 atau 2,5cm
dan yang panjang untuk anastesi blok 3,5 cm.
STEP 4 :

Focal Infection

Medikasi

Control of Pain

Macam-macam
Anastesi

Armamentarium
pada Anastesi

Indikasi dan
Kontraindikasi

Mekanisme
Kerja
Agen
Anastesi dan
Komposisi
Obat

STEP 5 :
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan :
1. Tujuan dan macam-macam anastesi
2. Indikasi dan Kontraindikasi anastesi lokal
3. Agen anastesi lokal dan komposisi (dosis)
4. Armamentarium anastesi
5. Mekanisme kerja dari anastesi lokal

Teknik
Anastesi

(farmakokinetik,

Komplikasi
anastesi
lokal

Hal-hal yang
menghambat
anastesi
lokal

farmakodinamik,

6.
7.
8.

Bioavailabilitas)
Teknik anastesi lokal
Hal-hal yang menghambat anastesi lokal
Komplikasi dalam anastesi local

STEP 6 (Belajar Mandiri)


STEP 7 (Sintesis)

A. TUJUAN ANASTESI LOKAL


Tujuannya untuk menghalau rasa sakit di bagian tubuh tertentu, daripada harus melakukan
pembiusan total.
Tujuan utama dari pemberian obat premedikasi adalah untuk memberikan sedasi psikis, m
engurangi rasa cemas dan melindungi dari stress mental atau factor-faktor lain yang berkai
tan dengan tindakan anestesi yang spesifik. Hasil akhir yang diharapkan dari pemberian pr
emedikasi adalah terjadinya sedasi dari pasien tanpa disertai depresi dari pernapasan dan s
irkulasi. Kebutuhan premedikasi bagi masing-masing pasien dapat berbeda. Rasa takut da
n nyeri harus diperhatikan betul pada pra bedah.
Tujuan anastesi adalah untuk menyediakan, atau menghilangkan rasa sakit.Memblokir imp
uls saraf dari bagian bawah segmen tulang belakang yang mengakibatkan penurunan sensa
si di bagian bawah tubuh. Obat epidural jatuh ke dalam kelas obat yang disebut bius lokal
seperti bupivacaine, chloroprocaine, atau lidokain.. Mereka sering disampaikan dalam ko
mbinasi dengan opioid atau narkotika, seperti fentanyl dan sufentanil, untuk mengurangi d
osis yang diperlukan bius lokal.
Efek somatic ini timbul didalam kecerdasan dan menumbuhkan dorongan untuk bertahan
atau menghindari kejadian tersebut. Kebanyakan pasien akan melakukan modifikasi terha
dap manifestasi efek somatic tersebut dan menerima keadaan yaitu dengan Nampak tenan
g. Reaksi saraf simpatis terhadap rasa takut atau nyeri tidak dapat disembunyikan oleh pas
ien. Rasa takut dan nyeri mengaktifkan syaraf simpatis untuk menimbulkan perubahan sys
tem sirkulasi dalam tubuh. Perubahan ini disebabkan oleh stimulasi efferen simpatis yang
ke pembuluh darah, dan sebagian karena naiknya katekolamin dalam sirkulasi. (Brunetton,
1995)
MACAM-MACAM ANASTESI LOKAL
1. Anestesi injeksi, yaitu pemberian obat anastesi dengan cara menyuntikkan obat
anestesi kedalam jaringan yang ingin dianestesi.

2. Anestesi Topikal, mengoleskan obat anastesi ke permukaan jaringan yang ingin di


anestesi biasanya dilakukan sebelum melakukan anestesi injeksi.
3. Anestesi non injeksi, biasanya dilakukan dengan cara menyemprotkan obat
anestesi dengan syringe khusus pada pagian sulkus ginggiva atau daerah sekitar
gigi geligi.

B. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI

Indikasi :
1. Untuk prosedur yang membutuhkan kerjasama dengan pasien yaitu untuk
meredakan atau menghilangkan rasa sakit.
2. Pada prosedur yang diperkirakan akan timbul rasa nyeri pasca tindakan
diindikasikan untuk menggunakan agen anastesi yang berdurasi kerja panjang,
Kontraindikasi :
1. Pada pasien yang alergi terhadap agen anastesi, contohnya pasien yang alergi
terhadap artikain,
2. Pada pasian yang mempunyai gangguan fungsi hati
3. Pada pasien yang mempunyai gangguan fungsi ginjal
4. Pada pasien yang mempunyai gangguan cardiovascular
5. Pada pasien yang memiliki gangguan mental dan anak-anak tidak dianjurkan
menggunakan agen anastesi yang mempunyai durasi kerja yang panjang
(contohnya : bupivakain ) untuk menghindari terjadinya self-mutalation pasca
tindakan.
(Sumawinata, 2013)

C. STRUKTUR ANESTESI LOKAL

Anestesi lokal terdiri dari kelompok-lipofilik biasanya cincin benzena


dipisahkan dari kelompok hidrofilik-biasanya-amina tersier oleh rantai
menengah yang mencakup ester atau keterkaitan amida. Anestesi lokal basa
lemah yang biasanya membawa muatan positif pada kelompok amina tersier
pada pH fisiologis. Sifat rantai menengah adalah dasar dari klasifikasi bius lokal
sebagai ester atau Amida (Tabel 1). Sifat fisikokimia bius lokal tergantung pada

10

substitusi di ring aromatik, jenis hubungan dalam rantai menengah, dan


kelompok-kelompok alkil yang terikat pada nitrogen amina.
Anastesi lokal dapat digolongkan secara kimiawi dalam beberapa
kelompok sebagai berikut:
a. Senyawa ester (-COOC-)
Adanya ikatan ester sangat menentukan sifat anastesi lokal sebab pada
degradasi dan inanaktivasi di dalam tubuh, gugus tersebut akan
dihidrolosis. Karena itu golongan ester umumnya kurang stabil dan mudah
mengalami metabolisme dibandingkan golongan amida. Anestesi lokal
yang tergolong dalam senyawa ester adalah kokain, benzokain (amerikain),
ametocain, prokain (Novocain), tetrakain (pontocain), kloroprokain
(nesacaine).
b. Senyawa amida (-NHCO-)
Lidokain (xylocaine,lignocaine), mepivacaine (carbocaine), prilokain
(citanest), bupivacain (marcaine), etidokain (duranest), dibukain
(nupercaine), ropikaine (naropine), levobupivacaine (chirocaine).
c. Lainnya : fenol, benzilalkohol dan etil klorida.
Semua obat tersebut di atas adalah sintesis, kecuali kokain yang alamiah.
Tabel 1. Sifat fisikokimia Anestesia Lokal.

11

Potensi berkorelasi dengan kelarutan lipid, yaitu, kemampuan molekul


anestesi lokal untuk menembus membran, lingkungan hidrofobik. Secara umum,
potensi dan lemak meningkatkan kelarutan dengan peningkatan jumlah atom
karbon dalam molekul (ukuran molekul). Lebih khusus, potensi meningkat
dengan menambahkan halida ke cincin aromatik (2-chloroprocaine sebagai
12

lawan prokain), sebuah keterkaitan ester (prokain versus procainamide), dan


kelompok-kelompok alkil besar pada nitrogen amida tersier. Ada beberapa
pengukuran potensi anestetik lokal yang analog dengan konsentrasi alveolar
minimum (MAC) dari anestesi inhalasi, tapi tidak ada yang umum digunakan
secara klinis. Cm adalah konsentrasi minimum anestesi lokal yang akan
memblokir konduksi impuls saraf. Ini ukuran potensi relatif dipengaruhi oleh
beberapa faktor, termasuk ukuran serat, jenis, dan mielinasi; pH (pH asam
antagonizes blok); frekuensi stimulasi syaraf, dan konsentrasi elektrolit
(hipokalemia dan hypercalcemia menentang blokade).

Efek farmakologi dan penggunaan klinis anestesi lokal


Ester Mula
/
Kerja
amid
a
Ester Lamb
at

Lama
Kerja

Penggunaan
Klinis

Properties

Singk
at

-Vasodilatasi
- Alergenik

Amethocain
e

Ester

Cepat

Singk
at

Chloroproca
ine

Ester

Cepat

Singk
at

Mepivacaine

Ami
da

Cepat

Sedan
g

Prilocaine

Ami
da

Cepat

Sedan
g

Procaine

Terbatas
Vascular
spam
- Diagnostik
prosedure
Topical
anesthesia
Spinal
anesthesia
- Peripheral
anesthesia
Obstetric
extradural
block
- Infiltration
- Peripheral
nerve blocks
- Infiltration
- Intravenous

- Toksisitas sistemik
kuat

-Toksisitas sistemik
rendah

-Versatile,
sedang

dilatasi

Methaemoglobinan
13

Bupivacaine

Ami
da

Sedan
g

Lama

Etidocaine

Ami
da

Cepat

Lama

Lignocaine

Ami
da

Cepat

Sedan
g

anesthesia
emia pada dosis
- Peripheral tinggi
nerve blocks - Sedikit toksisitas
amida
- Infiltration -Pemisahan
- Intravenous blockade sensoris
regional
dan motorik
anesthesia
- Extradural
∓ spinal
blocks
- Infiltration - Blokade motorik
- Intravenous yang snagat besar
regional
anesthesia
- Extradural
blocks
- Infiltration / Agen
paling
topical
serbaguna
- Intravenous Vasodilatasi
regional
sedang
anesthesia
- Extradural
&
spinal
blocks
- Peripheral
nerve blocks

Obat Anestesi yang sering Digunakan


Beberapa jenis obat anestesi local yang sering digunakan sehari-hari akan
dibahas dibawah ini.
i.

Prokain (novokain)
1. Prokain adalah ester aminobenzoat untuk infiltrasi, blok, spinal, epidural.

14

2. Merupakan obat standard untuk perbandingan potensi dan toksisitas


terhadap jenis obat-obat anestetik local yang lain.
3. Diberikan intravena untuk pengobatan aritmia selama anestesi umum,
bedah jantung atau induced hypothermia.
4. Absorbsi berlangsung cepat pada tempat suntikan, hidrolisis juga cepat
oleh enzim plasma (prokain esterase).
5. Pemberian intravena merupakan kontra indikasi untuk penderita
miastenia gravis karena prokain menghasilkan derajat blok
neuromuskuler. Prokain tidak boleh diberikan bersama-sama
sulfonamide.
6. Larutan 1-2% kadang-kadang kekuning-kuningan (amines), tidak
berbahaya.
7. Tidak mempenetrasi kulit dan selaput lender/ mukosa. Jadi tidak efektif
untuk surface analgesi.
8. Dosis 15 mg/ kgbb.
Untuk infiltrasi: larutan 0,25-0,5 % dosis maksimum 1000 mg. Onset: 2-5
menit, durasi 30-60 menit. Bisa ditambah adrenalin (1: 100.000 atau 1:200.000).
Dosis untuk blok epidural (maksimum) 25 ml larutan 1,5%. Untuk kaudal 25 ml
larutan 1,5%. Spinal analgesia 50-200 mg, tergantung efek yang dikehendaki,
lamanya (duration) 1 jam.
B. Lidokain (lignocaine, xylocain, lidonest).
1. Lidokain adalah golongan amida. Sering dipakai untuk surface analgesi,
blok infiltrasi, spinal, epidural dan caudal analgesia dan nerve blok
lainnya. Juga dipakai secara intravena untuk mengobati aritmia selama
anesthesia umum, bedah jantung dan induced hypothermia.
Dibandingkan prokain, onset lebih cepat, lebih kuat (intensea), lebih
mahal dan durasi lebih lama. Potensi dan toksisitas 10 kali prokain.
Tertrakain tidak boleh digunakan bersama-sama sulfonamide. Onset 5-10
menit, duration sekitar 2 jam.
2. Dosis.
Konsentrasi efektif minimal 0,25%.
Infiltrasi, mula kerja 10 menit, relaksasi otot cukup baik.
15

Kerja sekitar 1-1,5 jam tergantung konsentrasi larutan.


Larutan standar 1 atau 1,5% untuk blok perifer.
0,25-0,5% + adrenalin 200.000 untuk infiltrasi.
0,5% untuk blok sensorik tanpa blok motorik.
1% untuk blok motorik dan sensorik.
2% untuk blok motorik pasien berotot (muscular).
4% atau 10% untuk topical semprot faring-laring (pump spray).
5% bentuk jeli untuk dioleskan di pipa trakea.
5% lidokain dicampur 5% prilokain untuk topical kulit.
5% hiperbarik untuk analgesia intratekal (subaraknoid, subdural).
C. Bupivakain (marcain)

Secara kimia dan farmakologis mirip lidokain. Toksisitas setaraf dengan


tetrakain. Untuk infiltrasi dan blok saraf perifer dipakai larutan 0,25-0,75%.
Dosis maksimal 200mg. Duration 3-8 jam. Konsentrasi efektif minimal
0,125%. Mula kerja lebih lambat dibanding lidokain. Setelah suntikan
kaudal, epidural atau infiltrasi, kadar plasma puncak dicapai dalam 45 menit.
Kemudian menurun perlahan-lahan dalam 3-8 jam. Untuk anesthesia spinal
0,5% volum antara 2-4 ml iso atau hiperbarik. Untuk blok sensorik epidural
0,375% dan pembedahan 0,75%.
D. Kokain.

Hanya dijumpai dalam bentuk topical semprot 4% untuk mukosa jalan napas
atas. Lama kerja 2-30 menit.
E. Kloroprokain (nesakain).

Derivate prokain dengan masa kerja lebih pendek.


F. EMLA (eutentic mixture of local anesthetic).

Campuran emulsi minyak dalam air (krem) antara lidokain dan prilokain
masing-masing 5%. EMLA dioleskan di kulit intak 1-2 jam sebelum tindakan
untuk mengurangi nyeri akibat kanulasi pada vena atau arteri atau untuk

16

miringotomi pada anak, mencabut bulu halus atau buang tato. Tidak dianjurkan
untuk mukosa atau kulit terluka.
G. Ropivakain (naropin) dan levobupivakain (chirokain).

Penggunaannya seperti bupivakain, karena kedua obat tersebut merupakan


isomer bagian kiri dari bupivakain yang dampak sampingnya lebih ringan
dibandingkan bupivakain. Bagian isomer kanan dari bupivakain dampak
sampingnya lebih besar. Konsentrasi efektif minimal 0,25%.

D. ARMAMENTARIUM

Peralatan yang digunakan untuk melakukan anastesi lokal harus dapat digunakan dengan
mudah dan harus selalu dalam keadaan steril. Alat-alat yang digunakan dalam melakukan
anastesi lokal adalah :
1. Syring / semprit anastesi
Syring atau semprit adalah alat yang digunakan bersamaan dengan cartridge dan
jarum anastesi, yang digunakan untuk menyuntikkan obat anastesi. Semprit
anastesi yang digunakan dalam melakukan anastesi lokal mempunyai beberapa
kriteria, yaitu:
Semprit yang digunakan harus dapat disterilkan (non-disposibel). Dan untuk
semprit sekali pakai (disposible) harus dipak/dikemas dalam suatu wadah yang
steril,
Semprit yang digunakan harus cocok dengan bermacam-macam jenis cartridge dan
jarum,
Semprit harus mudah diaspirasikan dan dibuat sedemikian rupa sehingga jika ada
darah yang teraspirasi akan mudah dilihat di kartrid.
(Sumawinata, 2013)

17

http://www.dreamstime.com/royalty-free-stock-photography-anestheticsyringe-hypodermic-needle-isolated-image8058907

http://ww
w.amazon.com/Syringes-refilling-Refillable-CartridgesContinuous/dp/B006DN11DS
2. Cartridge/ kartrid/ carpule
Cartridge adalah suatu tabung silinder yang terbuat dari kaca yang berisi larutan
anastesi. Isi dari kartrid biasanya 1,8 ml sampai 2,2 ml. komponen dari kartrid
adalah tabung kaca silinder, stopper dan tutup alumunium dan diafragma. Stopper
terletak di ujung kartrid dan merupakan tumpuan alat dorong dari semprit yang
tujuannya untuk mendorong larutan anastesi keluar melalui jarum anastesi. Dan
ujung kartrid yang lain disebut dengan diafragma yang terbuat dari karet yang
merupakan tempat jarum berpenetrasi. (Sumawinata, 2013)

18

http://www.juniordentist.com/composition-of-local-anesthetic-agent.html

3. Jarum / needle
Jarum merupakan alat yang digunakan untuk memasukkan larutan anastesi
dari kartrid ke jaringan tubuh. Jarum suntik terbuat dari baja tahan karat, platinum,
alloy platinum-iridium, atau alloy ruthenium-platinum. Bagian-bagian dari jarum
suntuk biasanya adalah bevel. Shaft, hub, dan ujung yang berhubungan dengan
kartrid. (Sumawinata, 2013)
Bevel merupakan ujung jarum yang runcing. Shaft adalah batang jarum
dari ujung bevel hingga hub dan terus ke ujung yang berhubungan dengan kartrid.
Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan jarum adalah diameter lumen
jarum (gauge) dan panjang jarum. Makin kecil nomor gauge maka semakin besar
diameter lumennya. Ukuran dari jarum ada yang ukuran pendek dan ukuran
panjang. Panjang rata-rata ukuran pendek adalah 20 mm (diukur dari ujung bevel
ke hub) sedangkan panjang rata-rata dari ukuran panjang adalah 32 mm.
(Sumawinata, 2013)

E. MEKANISME KERJA

Anestetik lokal mencegah pembentukan dari konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya
terutama di membran sel, efeknya pada aksoplasma hanya sedikit saja.
Sebagaimana diketahui, potensial aksi saraf terjadi karena adanya peningkatan sesaat
permeabilitas membrane terhadap ion Na+ akibat depolarisasi ringan pada membrane.
19

Proses fundamental inilah yang dihambat oleh anestetik lokal; hal ini terjadi akibat adanya
interaksi langsung antara zat anestetik lokal dengan kanal Na+ yang peka terhadap adanya
perubahan voltase muatan listrik. Dengan semakin bertambahnya efek anestesi lokal di
dalam saraf, maka ambang rangsang membran akan meningkat secara bertahap, kecepatan
peningkatan potensial aksi menurun, konduksi impuls melambat dan faktor pengaman
konduksi saraf juga berkurang. Faktor- faktor ini akan mengakibatkan penuruan
menjalarnya potensial aksi dan dengan demikian mengakibatkan kegagalan saraf.
Anestetik lokal juga menghambat permeabilitas membran bagi K+ dan Na+ dalan keadaan
istirahat, sehingga hambatan hantaran tidak disertai banyak perubahan pada potensial
istirahat. Hasil penelitian membuktikan bahwa anestesi lokal menghambat hantaran saraf
tanpa menimbulkan depolarisasi saraf, bahkan ditemukan hiperpolarisasi ringan.
Pengurangan permeabilitas membran dan anesetik lokal juga timbul pada otot rangka, baik
waktu istirahat maupun waktu terjadinya potensial aksi.
Potensial berbagai zat anestetik lokal sejajar dengan kemampuannya untuk meninggikan
tegangan permukaan selaput lipid monomolecular. Mungkin sekali anestetik lokal
meninggikan tegangan permukaan lapisan lipid yang merupakan membran sel saraf,
dengan demikian menutup pori dalam membran sehingga menghambat gerak ion melalui
membran. Hal ini menyebabkan penuruan permeabilitas membran dalam keadaan istirahat
sehingga akan membatasi peningkatan permeabilitas Na+. Dapat dikatakan bahwa cara
kerja utama obat anestetik lokal ialah bergabung dengan reseptor spesifik yang terdapat
pada kanal Na, sehingga mengakibatkan terjadinya blokade pada kanal tersebut, dan hal
ini akan mengakibatkan hambatan gerakan ion melalui membran.
Farmakokinetik Anastetik Lokal

Absorpsi

Absorpsi dipengaruhi oleh:

Tempat suntikan

Kecepatan absorpsi sistemik sebanding dengan ramainya vaskularisasi tempat suntikan.

Penambahan vasokonstriktor

Adrenalin membuat vasokonstriksi pembuluh darah pada tempat suntikan sehingga dapat
memperlambat absorpsi dan dapat memperpanjang durasi dan efek anastesianya.

Karakteristik obat anestetik local

Obat anestetika local terikat kuat pada jaringan sehingga dapat diabsorpsi secara lambat.

20

Distribusi

Distribusi dipengaruhi oleh ambilan organ dan ditentukan oleh factor-faktor:

Perfusi jaringan

Ikatan kuat dengan protein plasma obat lebih lama di darah. Kelarutan dalam lemak
tinggi meningkatkan ambilan jaringan.

Massa jaringan

Otot merupakan tempat reservoir bagi anestetika local.

Metabolisme dan ekskresi

Metabolisme dan ekskresi obat anestetik lokal.

Golongan ester

Metabolisme oleh enzim pseudo-kolinesterase (kolinesterase plasma). Hidrolisa ester


sangat cepat dan kemudian metabolit dieksresi melalui urin.

Golongan amida

Metabolisme terutama oleh enzim mikrosomal di hati. Kecepatan metabolisme tergantung


kepada spesifikasi obat anestetik local. Metabolismenya lebih lambat dari hidrolisa ester.
Metabolit dieksresi lewat urin dan sebagian kecil dieksresi dalam bentuk utuh.
Farmakodinamik Anestetik Lokal
Awitan (onset), durasi kerja, dan kekuatan anestetik lokal bervariasi. Awitan suatu
anestetik lokal bergantung pada kemudahannya menembus membran saraf. Membran
saraf, seperti halnya membran sel, adalah suatu lapisan lipid sehingga gugus anestetik
lokal yang berperan dalam penembusan membran adalah gugus lipofiliknya. Sedangkan
durasi anestesia yang dihasilkan anestetik lokal bergantung pada berapa lama anestetik
lokal dapat berikatan dwngan reseptor di dalam kanal ion natrium.
Efek utama anestetik lokal adalah blokade reversibel dari konduksi saraf perifer. Obat ini
menghambat pergerakan impuls saraf sepanjang serabut saraf, pada ujung saraf sensoris,
pada myoneural junction, dan pada sinaps. Dengan demikian, obat anestetik lokal ini
memiliki efek jangkauan yang luas pada banyak macam saraf. Karena obat ini tidak dapat
berpenetrasi pada selubung mielin, maka pada saraf yang bermielin pengaruhnya hanya
pada nodus Ranvier. Yang pertama-tama dipengaruhi oleh anestetik lokal adalah serabut
saraf kecil, tidak bermielin, dan baru serabut saraf yang bermielin dan besar.

21

F. INJEKSI ANASTESIA BLOK


1. Injeksi Zigomatika
Pada injeksi ini nervus alveolars superior posterior bisa diblok sebelum masuk ke
maksila. Tekninya dengan titik suntikan terletak pada lipatan mukosa tertinggi di atas akar
disto bukal molar dua rahang atas. Arahkan jarum ke atas dengan kedalaman kurang lebih
20 mm. deponirkan kira kira 1,5 sampai 2 cc. injeksiini mempengaruhu anastesi pada
daerah molar tiga, molar dua dan akar disto-bukal dan palatal molar pertama. Pada saat
yang bersamaan cabang nervus di region molar juga teranastesi. (Yuwono, 1993)
2. Injeksi Infaorbita
Injeksi ini diindikasikan jika suatu inflamasi atau infeks menjadi kontra indikasi injeksi
supra periosteal. Injeksi ini dapat dipakai untuk alveolektomy dan pengangkatan kista dan
juga gigi impaksi. Anastesi dideponirkan ke dalam kanalis infra orbita dengan maksud
agar cabang nervus infraorbitalis yaitu n. alveolaris superior medius dan anterior.
Pertama-tama tentukan daerah foramen infra orbitalis dengan palpasi intra oral. Foramen
ini terletak pada garis vertical yang menghubungkan pupil mata. Tarik pipi posisikan jari
lalu tusukkan jarum dengan kedalaman 5 mm keluar permukaan bukal di seberang
premolar kedua. Deponir cairan 2 cc secara perlahan. Injeksi dapat menganastesi regio
anterior sampai molar pertama akar disto-bukal. (Yuwono, 1993)
3. Injeksi Mandibular
Blok n. alveolaris inferior dengan cara mendeponir anastesi ke daerah nervus tersebut.
Alasannya karna metode ini dianjurkan untuk gigi-gigi molar. Letak injeksi berada di
sulkus mandibularis pada facies ramus mandibular bagian dalam. Daerah tersebut berisi
dengan jaringan lunak ikat longgar. Tekniknya dengan cara palpasi fossa retromolaris
dengan jari telunjuk. Syringe terletak di antara premolar pada sisi yang berlawanan
arahkan jarum sejajar dengan dataran oklusi gigi, tusuk jarum pada apeks trigonum pterigo
mandibularis dan teruskan gerakan jarum di atas ramus. Di sini deponirkan kurang lebih
1,5 cc dengan kedalaman jarum kurang lebih 15 mm, n. lingualis biasanya akan teranastesi
dengan cara mendeponirkan sejumlah kecil anastesi pada pertengahan masuknya jarum.
Injeksi ini biasanya menganastesi semua gigi pada sisi yang di anastesi kecuali insisivus
yang menerima inervasi dari saraf kontra lateral. Tetapi injeksi ini tidak mengenai n.
bukalis longus. (Yuwono, 1993)

22

Gambar letak n. alveolaris inferior

Gambar letak insersi blok Mandibula

23

4. Injeksi Mentalis
Pada injeksi ini, anastesi dideponirkan dalam canalis mandibularis melalui foramen
mentalis. Tekniknya dengan menentukan apeks gigi premolar bawah, biasanya foramen
terletak di daerah antar apeks premolar. Tarik pipi kea rah bukal dari gigi premolar
masukka jarum tegak lurus ke dalam membrane mukosa di antara gigi premolar. Insersi
jarum 10 mm posisikan syring 45 terhadap permukaa bukal mandibular, injeksi ini
menganastesi gigi premolar dan caninus dan insisivus tetapi gigi insisivus juga mendapat
inervasi serabut saraf dari sisi lain. (Yuwono, 1993)

TEKNIK ANESTESI SUPRAPERIOSTEAL

Keringkan membran mukosa dan olesi dengan antiseptik. Pasien dilarang menutup mulut
sebelum injeksi dilakukan. Dengan menggunakan kassa atau kapas yang diletakkan di
antara jari dan membran mukosa mulut, tariklah pipi atau bibir serta membran mukosa
yang bergerak ke arah bawah untuk rahang atas dan ke arah atas untuk rahang bawah,
untuk memperjelas daerah lipatan mukobukal atau mukolabial.

Untuk memperjelas dapat diulaskan yodium pada jaringan tersebut. Membran mukosa
akan berwarna lebih gelap, suntiklah jaringan pada lipatan mukosa dengan jarum
mengarah ke tulang dengan mempertahankan jarum sejajar bidang tulang. Lanjutkan
tusukan jarum menyelusuri periosteum sampai ujungnya mencapai setinggi akar gigi.
Untuk menghindari gembungan pada jaringan dan mengurangi rasa sakit, obat dikeluarkan
secara perlahan. Anestesi akan terjadi dalam waktu 5 menit.

1. Nervus Alveolaris Superior Posterior


Teknik Anestesi Gigi - Untuk molar ketiga, kedua dan akar distal dan palatal molar
pertama. Titik suntikan terletak pada lipatan mukobukal di atas gigi molar kedua atas,
gerakkan jarum ke arah distal dan superior kemudian suntikkan obat anestesi 1-2 ml di
atas apeks akar gigi molar ketiga.

Untuk melengkapi anestesi pada gigi molar pertama, dapat diberikan injeksi
24

supraperiosteal di atas apeks akar premolar kedua. Injeksi ini cukup untuk prosedur
operatif, sedangkan untuk ekstraksi atau bedah periodontal, dilakukan penyuntikan pada
nervi palatini minor sebagai tambahan.

2. Nervus Alveolaris Superior Medius


Teknik Anestesi Gigi - Untuk premolar pertama dan kedua, serta akar mesial gigi molar
pertama. Titik suntikan adalah lipatan mukobukal di atas gigi premolar pertama. Jarum
diarahkan ke suatu titik sedikit di atas apeks akar, kemudian suntikkan obat anestesi
perlahan-lahan. Agar akurat, raba kontur tulang dengan hati-hati. Injeksi ini cukup untuk
prosedur operatif, sedangkan untuk ekstraksi atau bedah periodontal, dilakukan injeksi
palatinal.

3. Nervus Alveolaris Superior Anterior


Teknik Anestesi Gigi - Untuk keenam gigi anterior. Titik suntikan terletak pada lipatan
mukolabial sedikit mesial dari gigi kaninus. Jarum diarahkan ke apeks kaninus, suntikkan
obat di atas apeks akar gigi tersebut. Injeksi ini sudah cukup untuk prosedur operatif.
Untuk ekstraksi atau bedah, harus ditambahkan injeksi palatinal pada regio kaninus atau
foramen insisivus.

ANESTESI SUPRAPERIOSTEAL PADA MAKSILA


1. Gigi Incisive sentral, incisive lateral, dan kaninus
Gigi Incisive sentral RA dapat diberikan anestesi menggunakan teknik infiltrasi.
Membran mukosa ditarik kencang dan jarum dimasukkan sedalam kira-kira 8 mm kea
rah apical pada margin ginggiva. Kemudian di dorong hati-hati ke atas, melewati
bawah periosteum, sampai ujung jarum mencapai apek gigi. Anestesi local
didepositkan sebanyak 1 ml.
Pada gigi incisive lateral, jarum harus dimasukkan pada akar yang terendah. Selain tiu
karena posisi apek akar gigi incisive yang relative dekat ke palatal, seringkali
digunakan anestasi blok naso palatine untuk menjamin tersedianya anestesi pada gigi
25

tersebut. Sedangkan paa gigi kaninus ujung jarum ditempatkan pada eminensia
kaninus.

2. Gigi Premolar I dan II


Anestesi infiltrasi pada gigi premolar kedua RA menggunakan teknik yang sama dengan
insicive dan kaninus. Membran mukosa ditarik kuat, kemudian jarum dimasukkan
secara perlahan, buat kemiringan menuju tulangsampai ujung jarum pada apek gigi
yang akan dianestesi. Eminensia kaninus dan dasar prosessus zygomatikus maksila
merupakan panduan yang berguna dalam menempatkan jarum. Untuk gigi premolar
pertama, jarum harus ditempatkan pada bagian fistal eminensia kaninus dan sekitar 22
mm dari ujung cusp bukal. Sedangkan untuk gigi premolar kedua, diempatkan di
mesial dasar prosessus zygomatikus dan sekitar 21 mm dari ujung cusp bukal.

3. Gigi Molar Permanen I, II, dan III


Pemberian anestesi pada gigi permanen molar dilakukan dengan cara bukal infiltrasi.
Adanya prosessus zygomatikus pada tulang maksila menyebabkan diperlukannya
pemberian dua infiltrasi, yang pertama pada mesial prosessus zygomaticus untuk akar
mesio distal, yang kedua diberikan pada bagian distal untuk akar distobukal. Untuk
akar mesiobukal ujung jarum sebaiknya sekitar 23 mm dari cusp mesiobukal.
Sedangkan untuk akar distobukal lebih pendek, sekitar 21 mm dari csusp distobukal.
Akar palatal yang terlalu jauh dari kortek bukal maksila yang terbagi, memerlukan
adanya infiltrasi palatal. Untuk mencapainya diunakan jarum yang pendek, kira 3-4mm
yang amsuk ke mukosa palatal, sekitar 8 mm dari apikal ke margin ginggiva.

ANESTESI SUPRAPERIOSTEAL PADA MANDIBULA


1. Gigi Insisive sentral, incisive lateral, dan kaninus
Jarum ditempatkan sehingga ujung jarum kira-kira 18 mm dari tepi incisal. Secara
klinis, jarum ditempatkan jauh pada sulcus labial, dan ujungnya dimasukkan kebawah
periosteum. Sekitar 0,75-1 ml yang diinjeksikan.

26

2. Gigi Premolar I dan II


Ujung jarum ditempatkan pada sulkus buka, dekat dengan apek gigi yang
bersangkutan. Membran mukosa ditarik kuat dan ujung jarum ditempatkan secara
supperiosteum dengan kemiringan kearah tulang. Sekitar 0,5-1 ml cairan
didepositkan baik pada aspek labial maupun aspek ingual.

2. Gigi permanen molar I,II, dan III


Teknik dasarnya sama seperti gigi premolar, berbeda pada posisi jarum dalam
hubungannya dengan gigi yang bersangkutan.

G. HAL-HAL YANG MENGHAMBAT ANASTESI LOKAL


Anestesia yang diperlukan tidak berhasil diperoleh. Berhasil tidaknya pemerolehan
anesthesia yang dalam, terutama pada perawatan endodonsia, dipengaruhi berbagai factor
teknis, factor pasien, keadaan jaringan, dan struktur anatomi. (Sumawinata, 2013)
Dari segi teknis:
Penyuntikan yang tidak tepat
Jumlah anestetik yang tidak memadai,
Waktu difusi obat tidak cukup,
Obat telah kadaluwarsa
Dari segi pasien:
Pengalaman anesthesia yang gagal di masa lalu
Pasien yang mengalami kegagalan anestesi, biasanya sudah memiliki persepsi
sukarnya anesthesia, biasanya pada pasien ini dibutuhkan pendekatan psikologis
atau mengkombinasikan teknik anestesi konvensional dengan teknik anestesi
suplemen.
Kelelahan
Pasien yang kelelahan, mungkin karena tidak bisa tidur akibat menahan sakit, bisa
menurunkan kemampuan dalam stress dan menurunkan toleransinya terhadap
nyeri.
Rasa cemas dan takut pasien

27

Kecemasan dan ketakutan bisa juga dipicu oleh cerita seramnya: perawatan saraf
gigi sehingga menurunkan ambang rasa nyeri dan toleransi terhadap nyeri
Dari segi keadaaan jaringan:
Inflamasi jaringan adalah keadaan yang selalu dihadapi dalam perawatan endodonsia.
Inflamasi bisa berupa inflamasi jaringan pulpa atau inflamasi jaringan periapeks.
Anesthesia yang memadai pada nyeri endodonsia sering sukar diperoleh. Cohen dan
Brown (2002) menyebut hal ini sebagai hot tooth. Mengenai penyebabnya terdapat
beberapa pendapat yakni:
Alodinia dan hiperalgesia
Alodinia adalah suatu peningkatan ambang rangsang nyeri; rangsang yang semula
tidak menimbulkan nyeri, pada keadaan alodinia terasa sebagai menyakitkan.
Hiperalgesia adalah makin meningkatnya persepsi nyeri; rangsang yang memang
menimbulkan nyeri kini terasa lebih menyakitkan. Teknik anestesi konvensional
tidak selalu memberikan anesthesia yang dalam karena pasien yang telah
mengalami alodinia atau hiperalgasia tidak bisa menoleransi setiap input noksius.
(Sumawinata, 2013)
Rendahnya pH
Rendahnya pH menyebabkan jumlah bentuk basa dari anestetik (gugus lipofilik)
yang dapat menembus membrane saraf menjadi berkurang. Namun ,teori ini tidak
dapat mrnerangkan mengapa molar mandibular yang pulpitis yang dianestesi blok
tidak mudah teranestesi.
Resting potential dan ambang rasa yang berubah
Pada saraf yang keluar dari daerah terinflamasi, resting-potential mengalami
perubahan dan ambang eksitabilitasnya makin rendah.
Terjadinya resistensi pada kanal ion tetrodotoksin
Seperti diketahui, anestetik dalam mekanisme kerjanya antara lain memengaruhi
kanal ion natrium pada membrane saraf. Kanal ion natrium ini terdiri atas kanal
ion natrium yang sensitive terhadap tetrodoksin (TTX-S) dan kanal ion natrium
yang resisten terhadap tetrodotoksin (TTX-R). Jika jaringan pulpa terinflamasi,
ekspresi kanal natrium berubah dari sensitive terhadap TTX menjadi resisten
terhadap TTX sehingga kanal Na-TTX-R menjadi dominan. Kanal natrium TTX-R
berperan besar dalam mensensitisasi serabut C dan menciptakan keadaan
hiperalgasia. (Sumawinata, 2013)

Dari segi anatomi:


Sukarnya atau gagalnya memperoleh anesthesia pada teknik blok mandibular bisa
disebabkan oleh beberapa factor. Salah satunya adalah seperti yang dikemukakan oleh
central core thory. Menurut teori ini, saraf yang berada diluar bundle mempersarafi gigi
28

molar, sementara saraf di dalam bundle saraf mempersarafi gigi anterior. Larutan anestetik
tidak bisa berdifusi ke dalam batang saraf untuk mencapai semua saraf guna memperoleh
anesthesia yang cukup, sekalipun tempat menyuntiknya tepat. Teori ini mungkin bisa
menerangkan gagalnya anesthesia di gigi anterior pada teknik blok nervus alveolaris
inferior. Variasi anatomi lain yang dilaporkan adalah tambahan persarafan gigi mandibula
dari nervus miolihioideus, yang dapat diatasi dengan infiltrasi lingual. Terdapat pula
tambahan persarafan molar mandibular dari cabang nervus bukalis yang dapat diatasi
dengan infiltrasi bukal (Sumawinata, 2013)
Kegagalan anestesi blok bisa juga disebabkan progenyar yang progeny, sudut yang
divergen antara bagian vertical dan horizontal mandibular, atau tidak adanya gigi. Tidak
tepatnya penyuntikan larutan anestesi juga bisa menjadi penyebab tidsak efektifnya blok
mandibular. (Sumawinata, 2013)

H. KOMPLIKASI ANESTESI LOKAL


Komplikasi lokal
1. Kerusakan atau patahnya jarum
Hal ini jarang terjadi namun kemungkinannya masih dapat ditemukan. Penyebab
utama kerusakan jarum biasanya karena gerakan spontan dari pasien yang
memberikan gaya sehingga membuat jarum patah. Penyebab lainnya karena jarum
yang kecil sehingga rentan, jarum yang bengkok dan kesalahan manufaktur.
Pencegahan:
Kenalilah anatomi daerah yang akan dianestesi, gunakan jarum gauge besar, jangan
gunakan jarum sampai porosnya, pake jarum sekali saja, jangan mengubah arah
jarum, beritahu pasien sebelum penyuntikan.
Penanganan:
Tenang, jangan panic, pasien jangan bergerak, mulut harus tetap terbuka jika
pragmennya kelihatan, angkat dengan hemostat keal, jika tidak terlihat diinsisi,
beritahu pasien, kirim ke ahli bedah mulut.

2. Nyeri saat dilakukan injeksi


Beberapa pasien dapat memberikan reaksi berlebihan terhadap ketidaknyamanan pada
saat pemberian anestesi bahkan yang bersifat minimal. Operator seharusnya
melakukan teknik yang benar dengan menginjeksi secara perlahan.
29

Pencegahan:
Penyuntikan yang benar, pakai jarum yang tajam, pakai larutan anestesi yang steril,
injeksikan jarum perlahan-lahan, hindari penyuntikan yang berulang-ulang.
Penanganan:
Tidak perlu penanganan khusus.
3. Hematoma
Ketika memberikan blok saraf, terutama blok posterior superior alveolar, pembuluh
darah dapat tertusuk. Hal ini kemudian akan diikuti dengan pendarahan dalam
jaringan yang dapat menyebabkan hematoma.
Pencegahan:
Anatomi dan cara injeksi harus diketahui sesuai dengan indikasi, jumlah penetrasi
jarum seminimal mungkin.
Penanganan:
Penekanan pada pembuluh darah yang terkena, Terapi antibiotik dapat diberikan
untuk mencegah kemungkinan terjadinya infeksi. Hematoma dapat bertahan
seminggu sampai sepuluh hari. Setelah 2 minggu sebaiknya pasien diperiksa kembali.
4. Trismus
Trismus adalah spasme otot yang menyebabkan kesulitan membuka rahang. Hal ini
terjadi akibat injeksi ke area otot medial pterigoid yang menyebabkan kerusakan serat
otot dan kemungkinan terjadi hematoma. Onset trismus biasanya lebih dari 24 jam
setelah injeksi dan akan pulih dengan sendirinya.
Pencegahan:
Pakai jarum suntik tajam, asepsis saat melakukan suntikan, hindari injeksi berulangulang, volume anestesi minimal.
Penanganan:
Terapi panas (kompres daerah trismus 15-20 menit) setiap jam. Analgetik obat
relaksasi otot, fisioterapi (buka mulut 5- 10 menit tiap 3 jam), megunyah permen
karet, bila ada infeksi beri antibiotik alat yang digunakan untuk membuka mulut saat
trismus.

5. Paralysis Nervus Facialis (Facial Palsy)


Unilateral paralysis pada otot wajah merupakan komplikasi yang jarang terjadi dan
apabila terjadi biasanya terjadi akibat injeksi inferior alveolar. Hal ini dapat terjadi

30

karena ujung jarum masuk terlalu dalam ke arah kelenjar parotid dimana terdapat
cabang nervus fasial yang kemudian menyebabkan paralysis pada otot wajah sisi yang
terkena. Biasanya pasien tidak dapat menggerakkan otot orbicularis.

Pencegahan:
Blok yang benar untuk n. Alveaolaris inferior, jarum jangan menyimpang lebih ke
posterior saat blok n. alveolaris inferior.
Penanganan:
Beritahu pasien, bahan ini bersifat sementara (sekitar satu atau dua jam), anjurkan
secara periodic membuka dan menutup mata.
6. Ulcer pada bibir
Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak yang sudah diberikan anestesi blok inferior
alveolar. Setelah masih tersisa efek baal pada bibir, anak-anak cenderung menggigit
bibirnya tanpa sadar. Hal ini dapat dihindari dengan menginformasikan kepada
orangtua supaya mencegah hal ini tidak terjadi.
Pencegahan:
Pilih anastetik durasi pendek, jangan makan/minum yang panas, jangan mengigit
bibir.
Penanganan:
Analgesi, antibiotic, kumur air hangat.
7. Infeksi
Anestetik lokal dianjurkan untuk tidak disuntikkan di daerah terinfeksi karena adanya
resiko penyebaran infeksi. Penyebab utama adalah terkontaminasinya jarum
menyentuh membran mukosa di rongga mulut. Penyebab lainnya adalah penanganan
alat dan persiapan daerah kerja yang kurang steril. (Sumawinata, 2013)
Pencegahan:
Jarum steril, aseptic, hindari indikasi berulang-ulang.
Penanganan:
Terapi panas, analgesic, antibiotic.

31

8. Parastesia
Penyebab parestesia bisa disebabkan oleh trauma pada jaringan saraf.trauma pada
saraf bisa terjadi antara lain oleh tusukan jarum ketika penyuntikan. Pasien merasakan
adanya kejutan listrik (electric shock) pada daerah yang dipersarafi nervus yang
terkena. Pernah dilaporkan juga parestesia terjadi kerna penyuntikan anestetik yang
telah terkontaminasi alkohol atau larutan pensteril. Kontaminan terutama alkohol
dilaporkan merupakan zat yang neurolitik dan bisa menimbulkan trauma pada saraf
yang berlangsung lama (parestesia yang bisa berlangsung berbulan-bulan). Hemoragi
disekitar saraf juga merupakan penyebab lain; pendarahan akan meningkatkan
tekanan pada saraf yang bisa mengakibatkan parestesia. (Sumawinata, 2013)
Sebab:
Trauma (iritasi mekanis pada nervus akibat injeksi jarum/ larutan anestetik sendiri.)
Masalah:
Dapat terjadi selamanya, luka jaringan.
Pencegahan:
Injeksi yang tepat, penggunaan cartridge yang baik.
Penanganan:
Tenangkan pasien, pemeriksaan pasien (lamanya parastesia), pemeriksaan
Komplikasi sistemik
1. Syncope atau pingsan
Komplikasi dari anestesi lokal yang paling sering adalah serangan vasovagal atau
syncope atau yang sering disebut pingsan. Gangguan emosional pada saat
administrasi anestesi lokal menjadi predisposisi pasien untuk pingsan. Pasien akan
hilang kesadaran dan aliran darah menuju jantung berkurang. Sebelum terjadinya
syncope, pasien akan tampak pucat, mual, pusing, dan berkeringat dingin. Apabila
diperlukan maka segera lakukan penanganan kegawatdaruratan pada pasien yang
memerlukan.
Pencegahan:
Manajemen penanganan pasien yang simpatik, mendudukan pasien pada posisi
berbaring dan santai (supine atau semi-recumbent) sebelum memulai perawatan dan
melakukan penyuntikan dengan baik.
Penanganan:
Posisikan kepala lebih rendah dari tubuh, kaki sedikit diangkat, bila sadar anjurkan
tarik nafas dalam-dalam, rangsang pernaasan dengan wangi-wangian.
Pasien dibaringkan mendatar dan kakinya diletakkan lebih tinggi, biasanya akan dapat
memulihkan aliran vena ke jantung serta tekanan darahnya. Jika psien sudah sadar,
pasien boleh diberi minuman manis karena kemungkinan terjadi hipoglikemi yang
disebabkan oleh belum adanya supan energi. (Sumawinata, 2013)

32

2. Alergi
Kemungkinan yang menjadi allergen dalam pemberian anastetik local adalah obatnya
(anastetik), lateks, dan bahan pengawet (imetilparaben atau antioksidan sulfit).
Anestetik golongan amida dilaporkan menunjukkan tingkat alergi yang lebih rendah
daripada golongan ester sebaliknya. Walaupun demikian, terdapat laporan adanya
reaksi alergi terhadap lateks yang terdapat pada katrid. Sejak dihilangkannya
metilparaben dari komposisi anestetik local belum pernah dilaporkan adanya reaksi
alergi. Tanda alergi biasanya berupa erupsi kulit dan urtikaria atau respon anafilatik.
(Sumawinata, 2013)
Pencegahan:
anamnesis dengan baikguna mengungkapkan kemungkinan laergi di masa lalu,
terutama riwayat asma jika dicurigai ada sensitivitas terhadap sulfit.
Penanganan:
pemberian antihistamin baik per oral atau intramuscular, 25-50mg. reaksi anafilaktik
harus segera diatasi dengan epinefrin 0,3-0,5 mg intramuscular atau subkutan.
3. Toksisitas
Toksisitas anestetik local biasanya disebabkan karena terserapnya anestetik local
dalam jumlah besar ke dalam pembuluh darah. Ketika anestetik local disuntikkan,
obat ini akan berdifusi ke sekeliling tempat injeksi dan kemudian terabsorpsi ke dalam
sirkulasi sistemik untuk kemudian dimetabolisme dan dieksresikan. Anestetik local
merupakan suatu penstabil membrane. Karena sifatnya obat ini dapat memblok
konduksi saraf. Reaksi yang sama juga akan menyebabkan efek toksik merugikan
yang kebanyakan terlihat disusunan saraf pusat (SSP) jantung. Pada umunya,
toksisitas SSP akan teridentifikasi secara klinis sebelum kardiak muncul.
(Sumawinata, 2013)
Pencegahan:
Untuk mencegah overdosis adalah menaati pedoman pemberian dosisnya. Besarnya
dosis biasanya bergantung kepada berat badan.
Penanganan:
Tanda vital (terutama respirasi) harus dipantau, hindarkan pasien dari cidera,
posisikan pasien dalam posisi telentang, dan jaga agar jalan napas tetap bebas. Jika
pasien tidak sadar beri oksigen.

33

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Anestetik lokal ialah obat yang menghambat hantaran saraf yang berguna untuk meng
hi la ng ka n s e ns as i pa da ba gi an t ub uh t er te nt u t an pa d is er ta i ke hi la ng an
ke s a da ra n a ta u ke ru s a ka n f un gs i ko nt ro l s ar af pus at da n b ers if at
re ve rs ib el . Obat anestesi local digolongkan menjadi 2 kelompok besar, yakni golongan
amida dan golongan ester. .Adrenalin berefek dalam memperpanjang kerja anastesi lokal.
Hal tersebutdisebabkan vasokonstriksi lokal di daerah tempat suntikan sehingga
memungkinkan obat anestesi menetap lebih lama di tempat suntikan sebelum
dimetabolisme oleh tubuh. Di bidang kedokteran gigi, teknik dalam melakukan anastesi
dibagi menjadi infiltrasi dan blok, dimana penggunaannya disesuaikan dengan indikasi
34

dari prosedur kerja.

DAFTAR PUSTAKA
Malamed, S.F. 1997. Handbook of Local Anesthesia. Missouri : Mosby.
Sumawinata, Narlan. 2013. Anestesia Lokal Dalam Perawatan Konsevasi Gigi. Jakarta:
EGC
Yuwono, L. (. (1993). Petunjuk Praktis Anastesi Lokal : Atlas of Local Anashtesia in
Dentistry. Jakarta: EGC.
J.,Brunetton, Pharmacognosy, Phytochemistry, Medical bedah s,lavoiser Publ., Paris 1995.
Dari Martindale, The Extra Pharmacopoeia, 30 ed, p1016).
Dardjat M T, editor. Obat Anestetik Lokal. Dalam: Kumpulan Kuliah Anestesiologi.
Jakarta: Aksara Medisina;1986. hal 243.

35

Latief Said, Surjadi Kartini, Dachlan Ruswan, editor. Anestetik Lokal. Dalam: Petunjuk
Praktis Anestesiologi. Ed 2. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2002. hal 97-104.
S Kristanto. Anestetik Regional. Dalam: Basuki Gunawarman, Muhadi Muhiman, Latief
Said, editor. Anestesiologi. Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 1989. hal 123-5.
Katzung, Bertram G. Farmakologi Dasar dan Klinik Ed. 4. Jakarta: EGC. 1998, halaman
414-421.
Howe, Geoffrey L dan Whitehead, F. Ivor H. Anestesi Lokal (alih bahasa drg. Lilian
Yuwono). Jakarta: Hipokrates. 1992, halaman 7, 21-22, 28-30, 59-68.

36