Anda di halaman 1dari 12

Borang Portofolio

No. ID dan Nama Peserta :

dr. Akbarbudhi Antono

No. ID dan Nama Peserta:

Puskesmas Kecamatan Duren Sawit

Topik :

Abses pedis dextra

Tanggal Kasus :

18 Februari 2016

Nama Pasien :

Tn. Ridwan

Nomor RM :

13/4349

Tanggal Presentasi :

Pendamping :

dr. Clara Magdalena

Tempat Presentasi :

Puskesmas Kecamatan Duren Sawit

Objektif Presentasi :
Keilmuan

Keterampilan

Penyegaran

Tinjauan Pustaka

Diagnostik

Manajemen

Masalah

Istimewa

Neonatu Bayi

Anak

Re

De

Lansia

Bumil

s
Deskripsi :

maja
wasa
Pria dewasa berusia 21 tahun mengeluh nyeri pada punggung kaki kanan sejak 2

Tujuan :

minggu yang lalu.


- Mengatasi keluhan yang dirasakan

Bahan Bahasan Tinjauan


:
Cara
Membahas :
Data Pasien

Riset

Pustaka
Diskusi Presentasi dan Diskusi
Nama :

Tn. R

Nama Klinik : Puskesmas Kecamatan Duren Telp :

Kasus

Audit

Email

Pos

No. Reg:

13/4349
Terdaftar sejak :

Sawit
Data Utama untuk bahan diskusi :
Diagnosis / Gambaran Klinis :
Pasien datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri punggung kaki kanan sejak 2 minggu yang lalu.
Keluhan nyeri tajam menusuk dan muncul terus menerus. Nyeri makin terasa hebat bila pasien
berubah posisi, berjalan, tersentuh dan melakukan pergerakan lain dengan kaki kanannya. Aktivitas
pasien sehari hari terganggu oleh nyeri kaki. Keluhan dimulai setelah pasien terjatuh saat bermain

sepak bola, luka terbuka pada kaki kanan disangkal. Pasien sudah sempat berobat ke puskesmas
sebelumnya. 2 minggu lalu, diberi obat pereda nyeri. 1 minggu lalu nyeri bertambah dan disertai
bengkak dan dilakukan rontgen kaki kanan. Selain nyeri dan bengkak pasien juga mengeluhkan
demam.
1. Riwayat Pengobatan :
Amoxicillin 500mg 3x1, asam mefenamat 500mg 3x1
2. Riwayat Kesehatan/Penyakit :
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal
Riwayat operasi : disangkal
Riwayat trauma : disangkal
3. Riwayat Keluarga :
Tidak ada keluarga yang sakit sama dengan pasien
4. Riwayat Pekerjaan :
Pasien adalah seorang pengangguran, setahun terakhir kontrak kerja selesai dan belum bekerja
lagi.
Lain-lain:
Status Generalisata :
Keadaan Umum
Kesadaran
Tekanan Darah
Nadi
Nafas
Suhu

: Tampak sakit ringan


: GCS E4V5M6
: 110/70 mmHg
: 100x/ menit
: 22 x/ menit
: 37,1 oC

Mata

Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Telinga
Hidung
Tenggorokan
Leher

:
:
:
:

Kornea jernih, injeksi konjungtival dan siliar -/Tidak ditemukan kelainan, vesikel -/Tidak ditemukan kelainan
Tidak ditemukan kelainan
JVP 5-2 cmH2O

Dada

Jantung : I

: iktus kordis tidak teraba

Pa

: iktus kordis teraba 1 jari lateral LMCS RIC VI

Pe

: Batas kanan : linea parasternalis kanan RIC II


Batas kiri: 1 jari lateral LMCS RIC VI
Pinggang jantung:

A
Paru

:I

: Irama teratur, Gallop (-), bising (-)


: simetris kanan dan kiri

Pa : vocal fremitus kanan dan kiri sama


Pe : sonor
Abdomen

Anus
Ekstremitas

:
:

A :bunyi nafas dasar vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/- Auskultasi : bising usus +
- Palpasi : supel, nyeri tekan -, hepar dan lien dalam batas normal
- Perkusi : timpani
- Inspeksi : perut datar
Tidak dilakukan
Akral hangat, edema (-)

Status Lokalis:
Regio pedis dextra
Inspeksi : Regio Dorsalis Pedis dextra tampak hiperemis, luka terbuka (-),
perdarahan aktif (-), edema (+), maserasi kulit (+)
Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuasi (+), kulit teraba panas dibandingkan pedis
sinistra

Pemeriksaan Penunjang : rontgen pedis dextra AP dan Lateral


Tulang tarsal dan metatarsal tidak ditemukan lesi litik, tidak ditamukan diskontinuitas korteks
tulang, tidak ditemukan peningkatan densitas jaringan lunak sekitar.

Daftar Pustaka :
1. Joseph WS, Kosinski MA. Prophylaxis in lower-extremity infectious diseases. Clin
Podiatr Med Surg. 1996 Oct. 13(4):647-60.
2.

Herchline T, Brenner BE, Curtis DL, et al. Cellulitis. Medscape Reference. Available
athttp://emedicine.medscape.com/article/781412-overview.

3. Stevens DL, Bisno AL, Chambers HF, et al. Practice guidelines for the diagnosis and
management of skin and soft tissue infections: 2014 update by the infectious diseases
society of america. Clin Infect Dis. 2014 Jul 15. 59(2):e10-52.

Hasil Pembelajaran :
1.

Definisi abses

2.

Patofisiologi abses

3.

Diagnosis abses

4.

Terapi farmakologi

5.

Terapi non farmakologi dan bedah

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

Subjektif :
Pasien mengeluh nyeri pada kaki kanan disertai bengkak, panas pada kulit, kemerahan, dan
adanya demam. Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai akibat dari infeksi yang
melibatkan organism piogenik, nanah merupakan suatu campuran dari jaringan nekrotik, bakteri,
dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim autolitik.
Objektif :
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis abses dapat ditegakkan.
Anamnesis yang mendukung diagnosis yaitu rasa nyeri, adanya bengkak, disentuh nyeri
betambah, da nada demam.
Dari pemeriksaan fisik yang mendukung adalah:
Inspeksi : Regio Dorsalis Pedis dextra tampak hiperemis, edema (+), maserasi kulit (+) Palpasi :
nyeri tekan (+), fluktuasi (+), kulit teraba panas dibandingkan pedis sinistra
Assesment
Patofisiologi:
Proses abses merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah
penyebaran atau perluasan infeksi ke bagian lain tubuh. Organisme atau benda asing
membunuh sel-sel lokal yang pada akhirnya menyebabkan pelepasan sitokin. Sitokin
tersebut memicu sebuah respon inflamasi (peradangan), yang menarik kedatangan sejumlah
besar sel-sel darah putih (leukosit) ke area tersebut dan meningkatkan aliran darah
setempat.
Struktur akhir dari suatu abses adalah dibentuknya dinding abses, atau kapsul, oleh
sel-sel sehat di sekeliling abses sebagai upaya untuk mencegah pus menginfeksi struktur
lain di sekitarnya. Meskipun demikian, seringkali proses enkapsulasi tersebut justru
cenderung menghalangi sel-sel imun untuk menjangkau penyebab peradangan (agen infeksi
atau benda asing) dan melawan bakteri-bakteri yang terdapat dalam pus.Abses harus
dibedakan dengan empyema. Empyema mengacu pada akumulasi nanah di dalam kavitas
yang telah ada sebelumnya secara normal, sedangkan abses mengacu pada akumulasi nanah
di dalam kavitas yang baru terbentuk melalui proses terjadinya abses tersebut.
Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksi bakteri.
Jika bakteri menginvasi ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi. Sebagian
sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan nekrotik, debris selular,
leukosit dan bakteri yang mati. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh

dalam melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri, sel
darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah, yang
mengisi rongga tersebut.
Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya akan terdorong. Jaringan pada
akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas abses, hal ini merupakan
mekanisme tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Jika suatu abses pecah di dalam
maka infeksi bisa menyebar di dalam tubuh maupun dibawah permukaan kulit, tergantung kepada
lokasi abses.

Plan :
Diagnosis :
Abses dorsal pedis dextra
Pemeriksaan penunjang lainnya:
Lab darah rutin, rontgen
Pengobatan :
Abses butuh ditangani dengan intervensi bedah, debridemen, dan kuretase untuk
meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa ditusuk dan
dikeluarkan isinya.
Suatu abses harus diamati dengan teliti untuk mengidentifikasi penyebab, utamanya
apabila disebabkan oleh benda asing, karena benda asing tersebut harus diambil. Apabila
tidak disebabkan oleh benda asing, biasanya hanya perlu didrainase dan diambil absesnya,
bersamaan dengan pemberian obat analgesik dan mungkin juga antibiotik.
Drainase abses dengan menggunakan pembedahan biasanya di indikasikan apabila
abses telah berkembang dari peradangan serosa yang keras menjadi tahap pus yang lebih
lunak.
Memberikan kompres hangat pada daerah yang bengkak dan meninggikan posisi
anggota gerak dapat dilakukan untuk membantu penanganan abses.
Karena sering kali abses disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, antibiotik
antistafilokokus seperti flucloxacillin atau dicloxacillin sering digunakan. Dengan adanya
kemunculan Staphylococcus aureus resisten Methicillin (MRSA) yang didapat melalui
komunitas, antibiotic biasa tersebut menjadi tidak efektif. Untuk menangani MRSA yang
didapat melalui komunitas, digunakan antibiotic lain: clindamycin, trimethoprimsulfamethoxazole, dan doxycycline.
Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa ditusuk
dan dikeluarkan isinya.
Antibiotik biasanya diberikan setelah abses mengering dan hal ini dilakukan untuk
mencegah kekambuhan. Antibiotik juga diberikan jika abses menyebarkan infeksi kebagian

tubuh lainnya.
Pada kasus pasien dilakukan insisi drainase dorsal pedis dextra, diberikan juga asam
mefenamat 3x1, clindamycin 100mg 3x1, metronidazole 500mg 3x1 selama 5 hari

Pendidikan :
Pasien diberikan penjelasan tentang penyakitnya yang diderita dan cara perawatan luka secara
mandiri di rumah. Pasien dijelaskan juga posisi kaki yang diinsisi diletakan lebih tinggi agar sisa
pus lebih mudah mengalir dari insisi yang dibuat. pasien
Konsultasi:
Konsultasi dokter spesialis bedah ortopedi atau penyakit dalam diperlukan bila terjadi komplikasi
lanjut akibat penyebaran abses seperti osteomyelitis dan kerusakan jaringan profunda atau
ascending abses sampai menyebabkan gejala sistemik dan sepsis

Kunjungan kedua 25 februari 2016


Keluhan: mual, nyeri ulu hati dan tidak enak badan, nyeri kaki berkurang dan bisa tidur, nanah
masih keluar, kadang demam
Status Generalisata :
Keadaan Umum
Kesadaran
Tekanan Darah
Nadi
Nafas
Suhu

: Tampak sakit ringan


: GCS E4V5M6
: 100/70 mmHg
: 90x/ menit
: 18 x/ menit
: 36,7 oC

Mata

Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Telinga
Hidung
Tenggorokan
Leher
Dada

:
:
:
:
:

Kornea jernih, injeksi konjungtival dan siliar -/Tidak ditemukan kelainan, vesikel -/Tidak ditemukan kelainan
Tidak ditemukan kelainan
JVP 5-2 cmH2O
- Jantung : I
: iktus kordis tidak teraba
Pa

: iktus kordis teraba 1 jari lateral LMCS RIC VI

Pe

: Batas kanan : linea parasternalis kanan RIC II


Batas kiri: 1 jari lateral LMCS RIC VI
Pinggang jantung:

A
Paru

:I

: Irama teratur, Gallop (-), bising (-)


: simetris kanan dan kiri

Pa : vocal fremitus kanan dan kiri sama


Pe : sonor
Abdomen

Anus
Ekstremitas

:
:

Status Lokalis:

A :bunyi nafas dasar vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/- Auskultasi : bising usus +
- Palpasi : supel, nyeri tekan -, hepar dan lien dalam batas normal
- Perkusi : timpani
- Inspeksi : perut datar
Tidak dilakukan
Akral hangat, edema (-)

Regio pedis dextra


Inspeksi : Regio Dorsalis Pedis dextra hiperemis (-), luka terbuka (+),
perdarahan aktif (-), edema (+), maserasi kulit (-), drain handscoon steril (+)
Palpasi : nyeri tekan (+), fluktuasi (-)
Assessment
Diagnosis : abses dorsal pedis dextra post insisi drainase hari ke 3
Planning:
Domperidon 10 mg 3x1
Antasida 3x1
Paracetamol 500mg 3x1
Asam mefenamat 3x1 pc jika nyeri
Gentamycin zalf u.e
Kontrol luka per 3 hari, jika pus yang keluar sedikit atau tidak ada, dilakukan pencabutan drain
handscoon steril.