Anda di halaman 1dari 12

Laporan Kasus

Dislokasi Intra Okuler Lens ke Corpus vitreum


Dibacakan oleh

: dr. Teguh Anamani

Pembimbing

: dr. Arief Wildan, SpM

Moderator

: dr. Kentar, SpM

Dibacakan

: Kamis, 3 Januari 2008

I. Pendahuluan
Lebih dari 90% dari semua operasi katarak di Amerika Serikat diikuti dengan
implantasi Intra Okuler lens (IOL). Apabila IOL tersebut mengalami dislokasi ke corpus
vitreum, maka hal ini dapat menimbulkan komplikasi. Terkadang kejadian ini dapat tidak
disadari oleh ahli bedah sampai pada hari pertama paska operasi.
Faktor predisposisi tersering dari dislokasi IOL ke corpus vitreum adalah ruptur
kapsul posterior saat operasi katarak. Frekuensi terjadinya dislokasi IOL di Amerika
Serikat adalah 0.2-1.8% dari kasus bedah katarak.
Penatalaksanaan lebih lanjut terhadap dislokasi IOLr antara lain dengan observasi,
dilakukan reposisi IOL atau diganti dengan pemasangan IOL pada bilik mata depan.
II. Identitas Penderita
Nama

: Tn. K

Umur

: 59 th

Jenis kelamin : laki-laki


Alamat

: Kebon Harjo RT 2 RW 3 Tanjung Mas, Semarang

Pekerjaan

: Penarik becak

CM

: B440764

MRS

: 10 Desember 2007

KRS

: 14 Desember 2007

III. Anamnesis (Autoanamnesis tgl 10 Desember 2007 )


Keluhan utama

: Mata kanan terasa kabur setelah operasi katarak

Riwayat penyakit sekarang

Pada tanggal 27 November 2007, penderita mengikuti operasi katarak massal di


RS Dr. Kariadi Semarang disertai dengan pemasangan lensa tanam. Setelah
menjalani operasi penderita tidak mondok, tetapi pulang ke rumah. Selama di
rumah, penderita beristirahat di tempat tidur tanpa melakukan aktivitas berat.

Saat dilakukan pemeriksaan paska operasi di RS pada keesokan harinya,


dikatakan bahwa lensa tanam berpindah tempat, sehingga harus dilakukan operasi
ulang untuk mencegah komplikasi lebik lanjut, penderita setuju. Penglihatan mata
kanan masih kabur, disertai merah dan agak kemeng, tetapi tidak nyeri, tidak
melihat kilatan cahaya ataupun cekot-cekot.

Riwayat penyakit dahulu

Riwayat trauma pada mata sebelumnya disangkal

Riwayat tekanan darah tinggi disangkal

Riwayat kencing manis disangkal

Riwayat operasi

Operasi katarak massal disertai pemasangan lensa tanam mata kanan pada tanggal 27
November 2007 di RS Dr. Kariadi, Semarang
Riwayat sosial ekonomi

Penderita menikah, memiliki seorang istri dan 2 orang anak yang sudah bekerja

Penderita bekerja sebagai penarik becak.

Kesan sosial ekonomi kurang

IV. Pemeriksaan
Status presen

Keadaan umun

: baik

Tanda vital: baik


Status oftalmologi

Visus
Koreksi
Bulbus okuli
Palpebra
Konjungtiva
Kornea
Bilik mata depan
Iris
Pupil
Lensa
Corpus vitreum
Fundus refleks
Tekanan
intra
Schiotz

OD
1/60
S + 10.00 6/38 NBC

OS
6/30
S 2,5 6/12 NBC
Hirschber test 0
Gerak bebas segala arah
Edem Tidak ada kelainan
Injeksi Mixed +, sekret -, jaringan fibrovaskuler +
jaringan fibrovaskuler +
Edem + minimal, descemet jernih
fold +, jahitan rapat
Kedalaman cukup, tindal Kedalam cukup, jernih
effect -, CV +
Kripte +, sinekhia posterior Kripte +, sinekhia posterior
updrawn, 6 mm, refleks Bulat, sentral, reguler, 3
pupil + sangat lambat
mm, refleks pupil + normal
Pseudofakia
dengan Keruh tak merata ( nuklear
dislokasi IOL ke CV
grade II, sub kapsularis
posterior grade I)
Kekeruhan +, tampak IOL Kekeruhan filamen +
melayang-layang
+ suram
+ suram
okuler 37,2 mmHg
14,6 mmHg

Funduscopy

OD sulit dinilai

OS

: PN II

: bulat batas tegas, kuning kemerahan, CDR 0,3 prom ,


medialisasi -, excavatio glaukomatosa -

Vasa

: AVR 2/3, perjalanan dalam batas normal

Retina

: edem -, perdarahan -, eksudat

Makula

: refleks fovea + cemerlang

Pemeriksaan USG

lensa : echospike +
CV

: turbidity + 80%

Retina : ablasio
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium :
Hb
Ht
Eritrosit
Lekosit
Trombosit
Waktu protrombin
Waktu thromboplastin
GDS
Ureum
Creatinin
Natrium
Kalium
Clorida

14,7
41,6
4,91
35,30
303,0
9,6
28,5
96
13
0,87
136
3,5
101

gr%
%
Juta/mmk
g/dL
Ribu/mmk
Detik
Detik
Mg/dL
Mg/dL
Mg/dL
Mmol/L
Mmol/L
Mmol/L

13-16
40-54
4,5-6,5
29-36
4-11
10-15
23,4-36,8
80-110
15-39
0,6-1,3
136-145
3,5-5,1
98-107

Pemeriksaan mikrobiologi sekret mata

: tidak diketemukan kuman ataupun jamur

Pemeriksaan EKG

: normo sinus rythm


4

V. Resume
Anamnesis

Seorang laki-laki berusia 59 tahun pada hari pertama paska operasi katarak masal di
RSDK 14 hari yang lalu, mengalami komplikasi dislokasi IOL ke corpus vitreum.
Penglihatan kabur pada mata, disertai kemeng. Tidak disertai cekot cekot ataupun
fotopsia. Kemudian penderita dirawat di RSDK untuk menjalani operasi pengambilan
IOL dan direncanakan untuk pemasangan IOL kembali.
Pemeriksaan fisik

status presen dalam batas normal

status oftalmologi
OD

Visus
Koreksi
Bulbus okuli
Palpebra
Konjungtiva

OS

6/30
S 2,5 6/12 NBC
Tidak ada kelainan
Edem Tidak ada kelainan
Injeksi Mixed +, sekret -, jaringan jaringan fibrovaskuler +
fibrovaskuler +
Kornea
Edem + minimal, descemet fold +, jernih
jahitan rapat
Bilik mata depan
Kedalaman cukup, tindal effect -, Kedalam cukup, jernih
CV +
Iris
Kripte +, sinekhia posterior Tidak ada kelainan
Pupil
updrawn, 6 mm, refleks pupil + Tidak ada kelainan
sangat lambat
Lensa
Pseudofakia, dengan dislokasi IOL Keruh tak merata ( nuklear
ke CV
grade II, sub kapsularis
posterior grade I)
Corpus vitreum
Kekeruhan +, tampak IOL Kekeruhan filamen +
melayang-layang
Fundus refleks
+ suram
+ suram
Tekanan intra okuler 37,2 mmHg
14,6 mmHg
Schiotz
Funduscopy

1/60
S + 10.00 6/38 NBC

OD sulit dinilai

OS dalam batas normal

VII. Diagnosis
OD Dislokasi Intra Okuler lens (IOL) ke corpus vitreum
OS

Katarak senilis imatur

ODS Pterigium nasal


VII. Penatalaksanaan
Terapi :
C-xitrol ED 6x gtt 1 OD
C-Timolol 0,5 % 2xgtt1 OD
Diamox + KCl 2x250 mg
Operatif :
OD vitrektomi + ekstraksi Intra Ocular lens (IOL) + Anterior Chamber Intra ocular lens
(ACIOL)
VIII. Prognosis
Duo ad visam
Quo ad sanam
Quo ad vitam
Quo ad cosmeticam

OD
Dubia ad bonam
Ad bonam

OS
Dubia ad bonam
Ad bonam
Ad bonam
Ad bonam

Diskusi
Penyebab tersering dari dislokasi Intra Ocular Lens (IOL) ke corpus vitreum
(CV) adalah ruptur kapsul posterior dari lensa pada saat operasi katarak. Ruptur kapsul
posterior tidak selalu diikuti dengan prolaps CV, terutama bila ruptur berukuran kecil.
Namun bila terjadi ruptur kapsul posterior lensa harus diperiksa apakah ada vitreous loss.
Apabila terjadi ruptur kapsul posterior lensa maka keputusan akan dipasang atau
tidaknya IOL berdasar pada beberapa kriteria, yaitu :
1. Apabila terdapat banyak material lensa yang berada di CV, tidak dilakukan
pemasangan IOL.
2. Apabila terdapat robekan yang sangat kecil, masih dapat memungkinkan
dilakukan pemasangan posterior chamber IOL ( PC IOL ) in the bag.
3. Apabila terdapat robekan yang besar, maka PC IOL difiksasikan pada sulkus
siliaris.
4. Apabila kapsul lensa tidak adekuat, dilakukan pemasangan Anterior Chamber IOL
(AC IOL).
Frekuensi terjadinya dislokasi IOL di Amerika Serikat adalah 0.2-1.8% dari kasus
bedah katarak. Dislokasi IOL ke CV dapat diketahui awal, yaitu pada saat dilakukan
pemeriksaan paska operasi hari pertama. Namun demikian dislokasi IOL dapat terjadi
beberapa waktu kemudian, walaupun jarang tapi hal ini dapat terjadi. Biasanya
disebabkan adanya trauma ataupun lepasnya penggantung lensa secara spontan.
Komplikasi yang dapat ditimbulkan apabila bila terjadi dislokasi IOL adalah :
1. Perdarahan vitreus
2. ablasio retina
3. uveitis
4. cystoid macular edem (CME)
Apabila terjadi dislokasi IOL ke CV maka penatalaksanaan selanjutnya adalah:
1. cukup dengan observasi, yaitu bila IOL tidak mobile, tidak didapatkan komplikasi
pada retina, penderita puas dengan pemakainan kaca mata afakia atau contact lens)
2. reposisi IOL
3. penggantian IOL ( dengan anterior chamber IOL)
4. vitrektomi disertai pengambilan IOL

Pada saat dilakukan operasi untuk penatalaksanaan dislokasi IOL, kita evaluasi
kembali bagaimana kondisi dari kapsul lensa, apakah cukup adekuat atau tidak. Bila
cukup adekuat maka dapat dipertimbangkan pemasangan IOL pada sulkus siliaris.
Namun bila kondisi kapsul dari lensa tidak dekuat, maka ada beberapa alternatif yang
dapat dilakukan:
1. cukup dengan pengambilan IOL dan membiarkan mata menjadi afakia
2. pengambilan IOL disertai pemasangan anterior chamber IOL (AC IOL)
3. pengambilan IOL dan pemasangan kembali dengan fiksasi pada sklera
menggunakan jahitan nonabsorbable( scleral suture).
4. pengambilan IOL dan pemasangan kembali dengan fiksasi pada iris
Terdapat beberapa pertimbangan yang harus dikaji terlebih dahulu sebelum
diputuskan akan dilakukan tindakan vitrektomi, yaitu :
1. potensi visus dari mata yang akan menjalani vitrektomi
2. status visus pada mata satunya
3. kesehatan secara keseluruhan dari pasien
4. potensi terjadinya komplikasi.
Vitrektomi diindikasikan apabila terjadi komplikasi dari operasi pada segmen
anterior, yaitu :
1. endoftalmitis postoperasi
2. fragmen lensa pada segmen posterior
3. dislokasi IOL ke segmen posterior
4. perdarahan supra koroid yang massive
5.

cystoid macular edem (CME)


Prinsip tindakan pars plana vitrektomi pada kasus dislokasi IOL ke CV adalah:

untuk membebaskan vitreus yang melingkupi IOL. Setelah IOL terbebas dari vitreus
maka IOL diarahkan menuju sulkus siliaris atau ke bilik depan untuk selanjutnya
dikeluarkan.
Kompikasi yang dapat ditimbulkan dari pars plana vitrektomi adalah : perdarahan
vitreus, ablasio retina, retinal break, dan endofthalmitis.

Pada laporan kasus ini, disampaikan seorang pasien yang mengalami dislokasi
IOL ke corpus vitreum. Dari laporan operasi pada catatan medis, didapatkan informasi
durante operasi katarak yaitu pada tahap aspirasi irigasi kortek, terjadi komplikasi ruptur
kapsul posterior lensa. Berdasarkan penelitian, ruptur kapsul posterior pada operasi bedah
katarak paling sering terjadi pada tahap aspirasi kortek Setelah dilakukan vitrektomi
anterior tampak ruptur kapsul posterior lensa pada bagian superotemporal yang cukup
luas, namun cukup adekuat untuk tetap dilakukan pemasangan IOL pada sulkus siliaris.
Setelah diakukan pemasangan IOL, tampak IOL stabil.
Pada pemeriksaan hari pertama paska operasi, ditemukan adanya dislokasi IOL ke
CV. Hal ini dapat terjadi karena seperti disampaikan dalam referensi, bahwa walaupun
operator menilai kondisi kapsul lensa cukup adekuat durante operasi, namun pada
pemeriksaan paska bedah keesokan harinya dapat ditemukan dislokasi IOL.
Penatalaksanaan selanjutnya adalah dilakukan tindakan pars plana vitrektomi
disertai pemasangan AC IOL. Alasan dilakukan vitrektomi pada pasien ini adalah kondisi
IOL yang mobile, sehingga apabila dibiarkan akan menimbulkan komplikasi lebih lanjut.
Pertimbangan pemilihan AC IOL pada pasien ini adalah teknik pemasangannya
lebih mudah bila dibandingkan dengan fiksasi pada sklera menggunakan jahitan
nonabsorbable (scleral suture). Berdasarkan penelitian, komplikasi yang ditimbulkan
dari kedua teknik tersebut hampir sama.
Pemasangan AC IOL dapat menimbulkan komplikasi antara lain : bullous keratopathy,
hifema, iregularitas dari pupil. Walaupun demikian saat ini telah dikembangkan AC IOL
dengan material dan desain yang lebih baik sehingga komplikasi yang ditimbulkan juga
semakin minimal, yaitu modern flexible open loop ACIOL.
Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari scleral suture antara lain adalah
perdarahan, cystoid macular edema, ablasio retina, dan endoftalmitis. Selain itu, teknik
scleral suture dianggap sebagai teknik bedah blind, sehingga posisi dari lensa tidak tepat.
Material dari AC IOL yang dipakai adalah polymethylmethacrylate (PMMA)
single piece. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan tersedianya AC IOL di RSDK.
Pada follow up mata kanan terjadi perbaikan visus, yaitu 6/60 PH 6/12. hal-hal
yang menyebabkan visus penderita tidak mencapai 6/6 antara lain : faktor jahitan kornea
yang memungkinkan adanya astigmatisma, kondisi pupil yang updrawn dengan diameter

6 mm, corpus vitreum yang masih didapatkan turbidity walaupun ringan, dan
kemungkinan adanya CME. Sesuai dengan referensi, kejadian CME akan meningkat bila
terjadi vitreous loss dan pemasangan AC IOL.
Selanjutnya, pada mata kiri terdapat kenaikan tekanan intra okuler (TIO) yaitu
25,8 mmHg, dari pemeriksaan funduscopy tidak didapatkan gambaran papil
glaukomatosa. Sehingga diagnosis pada mata kiri ditambahkan hipertensi okuli. Untuk
mengatasi kenaikan TIO, diberikan tetes mata timolol maleat 0,5 %. Untuk selanjutnya,
direncanakan untuk dilakukan pemeriksaan lapang pandang setelah kondisi mata kanan
lebih tenang.
Beberapa hal yang harus dievaluasi pada saat follow up antara lain adalah
terjadinya ablasio retina dan choroidal hemorrhage sebagai komplikasi dari operasi.
Selain itu juga kemungkinan komplikasi dari pemasangan ACIOL.

10

Follow up
Tanggal
12/12/07

14/12/07

Tanggal
17/12/07

Status oftalmolgi
VOD = 1/60
TIOD = 20,6 mmHg
Stq
VOS = 6/30 NC
TIOS = 17,3 mmHg
Stq

Terapi
OD vitrektomi + ekstraksi Intra
Okuler lens (IOL) + bilik depan
Intra Okuler lens (IOL)
Dr. Arief Wildan, SpM/ ANA

VOD 3/60 PH 6/48


Konjungtiva

Injeksi Mixed +, sekret -,


jaringan fibrovaskuler +
Kornea
Edem +, descemet fold +,
jahitan rapat
Bilik mata depan
Anterior Chamber IOL
(ACIOL) +,Kedalaman
cukup, udara + di superior,
tindal effect kesan -,
Iris
Kripte +, sinekhia posterior
Pupil
Updrawn, 6 mm, refleks
pupil + sangat lambat
Lensa
pseudofakia
Corpus vitreum
Turbidity +
Fundus refleks
+ suram
VOS 6/38 S 2,5 6/12 NBC
Stq
Status oftalmolgi
VOD 6/60 PH 6/15
Konjungtiva
Injeksi Mixed +, sekret -,
jaringan fibrovaskuler +
Kornea
Edem + min, descemet fold
+ min, jahitan rapat
Bilik mata depan
Anterior Chamber IOL
(ACIOL) +,Kedalaman
cukup, tindal effect -,
Iris
Kripte +, sinekhia posterior
Pupil
Updrawn, 6 mm, refleks
pupil + sangat lambat
Lensa
pseudofakia
Corpus vitreum
Turbidity +
Fundus refleks
+ suram
TIOD = 5,9 mm Hg
VOS 6/38 S 2,5 6/12 NBC
TIOS = 20,6 mmHg
Lain-lain Stq

Th/
C-xitrol ED 6x gtt 1 OD
Methyl prednisolon 4 mg 2-0-1

Terapi

Th/
C-xitrol ED 6x gtt 1 OD
Methyl prednisolon 4 mg 2-0-1

11

Tanggal
26/12/07

Status oftalmolgi
VOD 6/60 PH 6/12
Konjungtiva
Kornea
Bilik mata depan
Iris
Pupil

Terapi
Injeksi Mixed + berkurang,
sekret -, jaringan
fibrovaskuler +
Relatif jernih, descemet fold
+ min, jahitan rapat
Anterior Chamber IOL
(ACIOL) +,Kedalaman
cukup, tindal effect -,
Kripte +, sinekhia posterior
Updrawn, 6 mm, refleks
pupil + sangat lambat
pseudofakia
Turbidity +
+ suram

Th/
C-xitrol ED 6x gtt 1 OD
C-timolol 0,5 % ED 2 x gtt 1 OS

Lensa
Corpus vitreum
Fundus refleks
TIOD = 12,2 mmHg
VOS 6/38 S 2,5 6/12 NBC
TIOS 25,8 mmHg
Lain-lain Stq

12