Anda di halaman 1dari 6

A.

Judul : Analisis Vegetasi Dengan Menggunakan Metode Garis


B. Tujuan :
1. Untuk Memperoleh Keterampilan Dalam Menganalisis Vegetasi Menggunakan
Metode Garis.
2. Untuk Mengetahui Jenis Tanaman Herba Yang Mendominasi Di Suatu Wilayah
3. Untuk Mengetahui Pengaruh Faktor Abiotik Terhadap Kehidupan Tanaman Herba
C. Dasar Teori :
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis
yang hidup bersama-sama pada suatu tempat.Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut
terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri
maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh
serta dinamis (Marsono, 1977).
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk
(struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Pengamatan parameter vegetasi
berdasarkan bentuk hidup pohon, perdu, serta herba. Suatu ekosistem alamiah maupun
binaan selalu terdiri dari dua komponen utama yaitu komponen biotik dan abiotik (Syafei,
1990). Vegetasi atau komunitas tumbuhan merupakan salah satu komponen biotik yang
menempati habitat tertentu seperti hutan, padang ilalang, semak belukar dan lain-lain.
Struktur dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen
ekosistem lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami
pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi berbagai
faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastis karena pengaruh anthropogenik.
Konsepi dan metode analisis vegetasi sesungguhnya sangat beragam tergantun kepada
keadaan vegetasi itu sendiri dan tujuannya. Pada area yang luas dengan vegetasi semak
rendah misalnya digunakan metode garis (line intercept) (Setiadi, 1990).
Metode garis merupakan suatu metode yang menggunakan cuplikan berupa garis.
Penggunaan metode ini pada vegetasi hutan sangat bergantung pada kompleksitas hutan
tersebut. Dalam hal ini, apabila vegetasi sederhana maka garis yang digunakan akan semakin
pendek. Untuk hutan, biasanya panjang garis yang digunakan sekitar 50 m-100 m. sedangkan
untuk vegetasi semak belukar, garis yang digunakan cukup 5 m-10 m. Apabila metode ini
digunakan pada vegetasi yang lebih sederhana, maka garis yang digunakan cukup 1 m
(Syafei, 1990). Pada metode garis ini, system analisis melalui variable-variabel kerapatan,
kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang
akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah

individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis
yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan
panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat
(Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan banyaknya suatu spesies yang ditemukan
pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001). Adapun, nilai frekuensi suatu jenis
dipengaruhi secara langsung oleh densitas dan pola distribusinya. Nilai distribusi dapat
memberikan informasi tentang keberadaan tumbuhan tertentu dalam suatu plot dan belum
dapat memberikan gambaran tentang jumlah individu pada masing-masing plot (Marsono,
1977).
Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem,
yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor lingkungan dari sejarah dan
pada faktor-faktor itu mudah diukur dan nyata. Dengan demikian analisis vegetasi secara
hati-hati dipakai sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang
komponen-komponen lainnya dari suatu ekosistem (Rahardjanto, 2001)
D. Alat dan Bahan
Alat :
- Tali Rafia
- Gunting
- Kertas Label
- Rapitest
Bahan :
-

Kantong Plastik

E. Langkah Kerja
- Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan
- Menentukan lokasi yang ingin dianalisis
- Meletakkan tali rafia dengan panjang 1 meter di atas lokasi yang ingin di analis
-

vegetasinya
Mengamati jenis spesies yang ada kemudian menentukan Frekuensi, Dominansi, dan

Kerapatan
Mengidentifikasi dan Menganalisis jenis spesies

F. Data Pengamatan
G. Analisis Data
Berdasarkan hasil dari praktikum yang dilakukan di lokasi yang mempunyai suhu udara
27oC, kelembaban udara 74, suhu tanah 22, ph 7 dan tingkat kesuburan little diketahui bahwa

terdapat 6 spesies tumbuhan herba yang terlewati oleh garis atau tali rafia. Ke enam spesies
tersebut yaitu pennisetum, vigna, hyptis, ipomeoe, cyperus dan alternanthera. Setelah
dilakukan perhitungan nilai Kr ( Kerapatan relative) ,Fr ( Frekuensi relative), Dr (dominasi
relative) dengan menggunakan rumus untuk kr, jumlah k pada satu sepesies dibagi dengan
jumlak k keseluruhan spesies dikali 100 %, untuk Dr dapat dihitung dengan menggunakan
rumus, seluruh D

pada satu spesies dibagi dengan jumlah D keseluruhan spesies dan

dikalikan 100%, lalu untuk Fr di dapatkan dari hasil penjumlahan F dari satu spesies di bagi
dengan jumlah ulangan ( plot) dan dikali dengan 100 %. Kemudian mencari nilai INP
( indeks nilai penting) dengan menjumlah Kr. Dr.

dan Fr dari masing-masing spesies

sehingga dapat diketahui jika setiap spesies memepunyai nilai inp yang berbeda-beda, untuk
pinnesetum 141,33 %, vigna 54 %, Hyptis 172 %, Ipomoea 42,33 %, Cyperus 110, 67 %,
dan alternanthera 46, 33 % . Dari semua hasil inp terlihat jika nilai INP pada spesies
pinnesetum mempunyai nilai INP yang tertinggi dari yang lain sehingga dapat dibuat
kesimpulan sementara bahwa pinnesetum merupakan tanaman yang mendominasi di daerah
yang mempunyai faktor abiotik seperti yang disebutkan diatas.
H. Pembahasan
Indeks Nilai Penting (INP) digunakan untuk menggambarkan tingkat penguasaan yang
diberikan oleh suatu spesies terhadap komunitas, semakin besar nilai INP suatu spesies
semakin besar tingkat penguasaan terhadap komunitas dan sebaliknya. Penguasaan spesies
tertentu dalam suatu komunitas apabila spesies yang bersangkutan berhasil menempatkan
sebagian besar sumberdaya yang ada dibandingkan dengan spesies yang lainnya. Adanya
spesies yang mendominasi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah
persaingan antara tumbuhan yang ada, dalam hal ini berkaitan dengan mineral yang
diperlukan, jika mineral yang dibutuhkan mendukung maka spesies tersebut akan lebih
unggul dan lebih banyak ditemukan. Persaingan akan meningkatkan daya juang untuk
mempertahankan hidup, spesies yang kuat akan menang dan menekan yang lain sehingga
spesies yang kalah menjadi kurang adaptif dan menyebabkan tingkat reproduksi rendah dan
kepadatannya juga sedikit. Dominasi suatu tumbuhan juga ditentukan oleh pH tanah habitat
tumbuhan. Peranan pH tanah bagi tumbuhan antara lain untuk memudahkan unsur-unsur
hara diserap tumbuhan. Umumnya unsur hara mudah diserap akar tumbuhan pada pH tanah
sekitar netral, karena pada pH tersebut kebanyakan unsur hara yang mudah larut dalam air.
Pada tanah asam unsur P tidak dapat diserap tumbuhan karena difiksasi oleh Al, sedang pada
pH alkalis unsur P difiksasi oleh Ca. ( Fanani, dkk. 2013).

Menurut Hamidun, (2011), Jika pada hasil suatu analisis vegetasi menunjukkan adanya
jenis tumbuhan dengan INP terbesar,

maka dapat dikategorikan jenis tubuhan tersebut

sebagai penyusun utama komunitas.

Indeks Nilai Penting jenis tumbuhan pada suatu

komunitas merupakan salah satu parameter yang menunjukkan peranan jenis tumbuhan
tersebut dalam komunitasnya tersebut. Kehadiran suatu jenis tumbuhan pada suatu daerah
memunjukkan kemampuan adaptasi dengan habitat dan toleransi yang lebar terhadap kondisi
lingkungan. keanekaragaman jenis herba disuatu daerah sangat dipengaruhi oleh faktor
lingkungan, seperti cahaya, kelembaban, pH tanah, tutupan tajuk dari pohon sekitarnya, dan
tingkat kompetisi dari masing-masing jenis herba. Bagi tumbuhan, cahaya matahari
merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses perkembangan, pertumbuhan dan
reproduksi. Tumbuhan dapat hidup dengan baik jika lingkungan mampu menyediakan
berbagai keperluan untuk pertumbuhan dan untuk melengkapi daur hidupnya. Setiap spesies
tumbuhan mempunyai suatu kondisi minimum, maksimum dan optimum terhadap faktor
lingkungan. Spesies yang mendominasi berarti memiliki batasan kisaran yang lebih luas jika
dibandingkan dengan spesies yang lainnya terhadap faktor lingkungan, sehingga kisaran
toleransi yang luas pada faktor lingkungan menyebabkan spesies ini akan memiliki sebaran
yang luas (Mahutasuhut. 2012).
Pada Analisis vegetasi yang dilakukan, keseluruhan tanaman sampling merupakan
tumbuhan herba. Herba adalah semua tumbuhan yang tingginya sampai dua meter, kecuali
permudaan pohon atau seedling, sapling dan tumbuhan tingkat rendah biasanya banyak
ditemukan di tempat yang ternaungi kecuali pada tempat yang sangat gelap di hutan
(Richards, 1981). Tumbuhan ini memiliki organ tubuh yang tidak tetap di atas permukaan
tanah, siklus hidup yang pendek dengan jaringan yang cukup lunak. Menurut Longman &
Jenik (1987) sejumlah herba menunjukkan bentuk-bentuk yang menarik, warna serta struktur
permukaan daun yang sebagian besar darinya telah menjadi tanaman rumah yang popular
seperti jenis dari suku Araceae, Gesneriaceae Urticaceae dan lain-lain.

Pada hasil pengamatan diketahui bahwa Pinnesetum mempunyai nilai INP terbesar dari
jenis spesies yang lain. Pinnesetum atau rumput gajah ini adalah tanaman yang dapat
tumbuh di daerah dengan minimal nutrisi. Menurut Ambriyanto, K. (2010), Rumput gajah
membutuhkan minimal atau tanpa tambahan nutrien. Sehingga tanaman ini dapat
memperbaiki kondisi tanah yang rusak akibat erosi. Tanaman ini juga dapat hidup pada tanah

kritis dimana tanaman lain relatif tidak dapat tumbuh dengan baik. Rumput ini dapat tumbuh
didataran rendah sampai tinggi ( 50-1200 mdpl), Menyukai tanah yang subur dan curah
hujan yang menyebar rata sepanjang tahun. Dengan demikian dapat diketahui kesimpulan
semesntara telah sesuai dengan teori karena tumbuhan Pinnesetum yang mempunyai INP
terbesar ini dapat hidup diberbagai wilayah, begtu pula dengan kondisi factor abiotik pada
lokasi pengamatan yang mempunyai suhu udara 27, kelembaban udara 74, suhu tanah 22, ph
7 sehingga tanaman ini dapat menyerap unsure-unsur hara dengan baik dan tingkat kesuburan
little. Kondisi tersebut sesuai dengan pertumbuhan pinnesetu sehingga jumlah spesies ini
lebih mendominasi dibandingkan dengan spesies yang lain yang juga ditemukan pada lokasi
pengamatan.
I. Kesimpulan
1. Setelah melakukan praktikum analisis vegetasi dengan metode garis, mahasiswa
khususnya kelompok kami menjadi mengetahui cara menganalisis vegetasi yang baik
dan benar menggunakan metode garis.
2. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dan setelah dilakukan analisis dan perhitungan
INP, diketahui jika INP terbesar yaitu pada spesies pinnesetum sehingga dapat dipastikan
bahwa tumbuhan pinnesetum ini mendominasi pada daerah atau lokasi yang telah
diamati.
3. Factor abiotik disuatu wilayah sangat mempengaruhi kehidupan tanaman herba pada
wilayah tersebut, karena kondisi lingkungan yang sesuai akan membuat tanaman herba
dapat melakukan proses perkembangan, pertumbuhan dan reproduksi dengan baik.

Daftar Rujukan
Ambriyanto, K. 2010. Isolasi Dan Karakterisasi Bakteri Aerob Pendegradasi Selulosa Dari
Serasah Daun Rumput Gajah (Pennisetum purpureum Schaum). (Online),
(digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-13517-Paper.pdf). diakses tanggal 12
Februari 2016.
Ewusie, J.Y. 1990. Ekologi Tropika. Bandung: Institut Teknologi Bandung

Fanani, A., Rohman, F., & Sulasmi, E. 2013. Karakteristik Komunitas Herba Di Hutan Jati
Resort Pemangkuan Hutan (Rph) Dander Petak 12b Kabupaten Bojonegoro.
(Online),
(jurnalonline.um.ac.id/.../artikel06C174076B13EA256B3892E7EEC675.karyailmiah.um.ac.id). diakses tanggal 12 Februari 2016.
Hamidun, S., & Baderan, D. 2011. Analisis Vegetasi Hutan Produksi Terbatas Boliyohuto
Provinsi Gorontalo, (Online). (epository.ung.ac.id/.../Analisis-Vegetasi-Hutan-ProduksiTerbatas-Boliy) diakses tanggal 12 Februari 2016.
Longman, K.A. dan J. Jenik. 1987. Tropikal Forestand Its Environment. London: Longman
Group Limited.
Marsono, DJ. 1977. Diskripsi Vegetasi dan Tipe-tipe Vegetasi Tropika. Yayasan Pembina
Fakultas Kahutanan. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Rahardjanto, A. 2001. Ekologi Umum. Umm Press : Malang.
Richard, P. W. 1981. The Tropical Rain Forest. London: Cambridge University
Rohman, F. & Sumberartha I.W. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. Malang:
JICA
Syafei, E.S. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung: Institut Teknologi Bandung
Setiadi, Agus. 1990. Pengantar Ekologi. Bandung: CV. Publishing.

Anda mungkin juga menyukai