Anda di halaman 1dari 2

John Snow dan Kolera

Oleh Amalia Azhari Jannah, 1506726845

Studi epidemik modern yang paling nyata pertama kali dilakukan oleh John Snow
dipertengahan tahun 1800-an, yang merupakan seorang dokter (physician). Ia tinggal di London,
Inggris, dimana saat itu ada wabah kolera yang sedang merebak. Hal yang dilakukan John Snow
untuk mengatasi masalah wabah kolera di Inggris pada saat itu telah menunjukkan pada kita
bahwa pola berdasarkan data-data dapat digunakan untuk menyimpulkan proses epidemik yang
sedang terjadi. Lebih lanjut, cerita John Snow dan kolera menunjukkan bahwa lebih baik
memikirkan tentang dinamika penyakit dan penularannya dibandingkan hanya menfokuskan
pada mikroba pemajan atau pasien itu sendiri.
Kolera merupakan penyakit yang dimulai dengan gejala muntah-muntah dan diare yang
dengan cepat menyebabkan dehidrasi yang serius pada pasien. Pasien dapat meninggal dalam
beberapa hari atau bahkan dalam beberapa jam pada symptom yang pertama. Sekarang, dengan
penanganan medis, kurang dari 1% orang meinggal dunia dan tanpa penanganan medis ada lebih
dari 50% orang meninggal akibat kolera.
Wabah kolera yang terjadi di Inggris pada pertengahan tahun 1800-an menyebabkan
ribuan orang meninggal. Pada saat itu, tidak ada yang tahu apa yang sebab jelas penyakit
tersebut. Masyarakat beranggapan bahwa kolera disebabkan oleh infeksi dari bangkai binatang
dan sayuran yang busuk. Mereka juga beranggapan bahwa kolera adalah penyakit yang
berhubungan dengan darah karena pasien yang terjangkit kolera memiliki darah yang kental.
Pada tahun 1849, John Snow mempublikasikan teorinya tentang kolera bahwa kolera
adalah penyakit yang berhubungan dengan sistem pencernaan karena kolera menyebabkan
muntah-muntah dan diare. Darah yang kental merupakan efek samping akibat dehidrasi. Ia juga
beranggapan bahwa ada suatu benda asing yang masuk melalui mulut manusia yang
menyebabkan seseorang diare dan terjangkit kolera. Tentu saja saat ini kita tahu bahwa anggapan
John Snow adalah benar karena kolera memang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Namun
pada saat itu dimana belum ada penelitian yang jelas tentang bakteri, John Snow telah
berpendapat bahwa kolera disebabkan oleh adanya suatu benda asing yang masuk melalui mulut
manusia. Ia juga beranggapan bahwa benda asing tersebut masuk lewat air kotor yang dipakai
oleh manusia.
Untuk mendukung teorinya tersebut, ia mencari tahu darimana asal air yang dipakai oleh
pasien yang meninggal akibat kolera di Inggris Selatan. Ia lalu menemukan bahwa orang-orang
14 kali lebih berpotensi kolera apabila mereka mendapatkan air minum yang berasal dari
perusahaan air Southwark dan Vauxhall dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan air dari
perusahaan air Lambeth . Air Southwark dan Vauxhall berasal dari daerah sungai Thames yang
memiliki sistem yang menjijikan saat itu. Sementara itu, air Lambeth berasal dari hulu sungai
Thames yang cukup jauh dari tempat dimana kebanyakan kotoran manusia dibuang. John Snow

menyimpulkan bahwa choleras waterborne dan sanitasi merupakan kunci untuk mencegah
penyakit kolera.
John Snow juga melakukan studi kuantitatif lain pada waktu yang sama di Soho dimana
lebih dari 500 orang meninggal secara tiba-tiba akibat kolera. John Snow menyusuri jalan di
sekitar perumahan Golden Square sambil menanyakan darimana orang-orang di sana
mendapatkan air dan apakah mereka terjangkit kolera atau tidak. Dari hasil survey-nya tersebut,
John Snow membuat map berdasarkan posisi orang-orang yang terjangkit kolera dan hampir
seluruh kematian berada di sekitar Broad Streetdimana ada pompa air sebagai sumber air di
daerah tersebut. John Snow pun berhipotesis bahwa pompa air di sekitar Broad Street merupakan
sumber dari air yang terkontaminasi. Hipotesisnya kemudian didukung oleh Susanna Eli yang
meninggal akibat suka mengonsumsi air karbonasi yang berasal dari pompa air tersebut,
meskipun ia tinggal berkilometer jauhnya dari Broad Street. Semenjak munculnya data tersebut
handle dari pompa air di Broad Street pun dicabut sehingga orang-orang tidak bisa minum dari
pompa air itu lagi dan John Snow menerbitkan buku dan dikenal sebagai Bapak Epidemiologi.
John Snow sangat berhati-berhati dengan datanya. Untuk memahami dampak dari ukuran
kontrol penyakit apapun kita harus mencontoh John Snow dalam memahami dinamika penyakit.
Kita harus bertanya-tanya, What would happen anyway? (Apa yang akan terjadi?).
Berdasarkan kisah John Snow, dengan memikirkan tentang transmisi penyakit dengan
mengumpulkan data jumlah kematian akibat kolera di suatu tempat dan waktu, ia mampu
menyimpulkan, di bagian tubuh mana suatu penyakit disebabkan, apa artinya untuk jalur
penularan penyakit, dan apa artinya untuk resiko penyakitdan dengan cara ini John Snow
mampu menyelamatkan banyak nyawa tanpa harus mengetahui bakteri penyebab penyakit dan
tanpa harus melakukan treatment tertengtu kepada pasien yang terjangkit. Apa yang John Snow
telah lakukan ini adalah analisis data pertama yang sekarang kita kenal dengan sebutan Big
Data.

Referensi:
Roots of Epidemiology. 2013. Video tersedia di http://www.youtube.com/ (diakses 26
September 2016).