Anda di halaman 1dari 45

BLOK GASTOINTESTINAL

WRAP UP SKENARIO 3
PERUT KEMBUNG

KELOMPOK : B-12

Ketua

: Rizky Agustian Hadi

1102011238

Sekretaris

: Siti Aisyah

1102014250

Anggota

: Rizky Febriansyah
Yovi Sofiah
Nadia Anugrah Syafrida
Nora Saputri
Nur Rahmadina
Pamor Faizaln Ghani
Rafa Assidiq
Shabrina Ardelia Ananta

1102011240
1102013314
1102014184
1102014197
1102014200
1102014208
1102014218
1102014244

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2016

SKENARIO 3
PERUT KEMBUNG
Seorang Pria 40 tahun,datang ke dokter dengan keluhan perut kembung disertai dengan
muntah,tidak bisa buang angina dan tidak bisa buang air besar sejak 1 hari yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik terlihat distensi abdomen,pemeriksaan colok duburr didapatkan
tonus spincter ani baik,serta tidak ditemukan feses,lendir dan darah. Untuk memastikan diagnosis
dilakukan pemeriksaan radiologi foto polos abdomen dan BNO 3 posisi. Kemudian dokter
merencanakan untuk melakukan tindakan operasi. Pasien bersedia dilakukan operasi karena tidak
bertentangan dengan ajaran islam.

KATA SULIT
1. Distensi Abdomen
2. Ampula Kolaps

: Pelebaran Abdomen
: Bagian Rektum yang melebar tepat di Proksimal Analis
mengalami Kolaps
: Foto dari Traktus Urinaria (dari Ginjal hingga ke bagian

3. BNO 3 Posisi
Kandung Kemih)
4. Tonus Spincter Ani : Kekuatan Kontraksi M. Spincter Ani
5. Foto Polos Abdomen : Foto di daerah GIT untuk mrlihat Abdomen
PERTANYAAN

1. Apa yang menyebabkan pasien tidak bias buang air besar dan buang angin?
2. Kenapa Ampula Kolaps ?
3. Kenapa terdapat keluhan perut kembung disertai muntah?
4. Kenapa pada pemeriksaan fisik terdapat distensi abdomen?
5. Apakah lender dan darah termasuk dalam keadaan normal yang ditemukan?
6. Kenapa dilakukan pemeriksaan colok dubur?
7. Apakah ada terapi lain selain operasi?
8. Apa diagnosis pada skenario ini?
9. Bagaimanakah operasi menurut pandangan islam?
10. Apakah pemeriksaan penunjangnya?
JAWABAN
1. Karena ada obstruksi pada bagian ileum sehingga pasien tidak bisa buang angin dan
buang air besar
2. Karena Ampula berkontraksi terus menerus,tetapi ada obstruksi yang menyebabkan
ampula kolaps
3. Karena adanya obstruksi pada ileus dan tekanan pada intra abdomen meningkat perut
kembung- N. vagus terangsang- Muntah
4. Karena adanya obstruksi gas dan cairan menumpuk perut kembung
5. Dalam keadaan tidak normal
6. Untuk mengetahui Tonus Spincter Ani dalam keadaan baik atau tidak
7. Tergantung dari jenis Obstruksi dan Etiologi nya
8. Ileus Obstruktif
9. Operasi menurut pandangan agama islam, boleh karena untuk menghindari bahaya yang
lebih besar dan anjuran untuk berobat
10. a. Foto Polos Abdomen
b. BNO 3 Posisi
c. Laparaskopi

HIPOTESIS
Obstruksi Ileus dapat menyebabkan muntah,nyeri perut,tidak dapat buang angin maupun
buang air besar. Diagnosisnya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fisik abdomen dan
pemeriksaan penunjang seperti BNO 3 Posisi dan foto polos abdomen. Tatalaksana dari penyakit
ini tergantung dari jenis obstruksi dan etiologi nya salah satunya adalah operasi yang menurut
pandangan agama islam boleh,karena untuk menghindari bahaya yang lebih besar.

SASARAN BELAJAR :
L.I 1. Memahami dan Menjelaskan tentang Anatomi Saluran Gastointestinal bawah
1.1. Makroskopis
1.2. Mikroskopis
L.I.2. Memahami dan Menjelaskan tentang Faal Saluran Gastrointestinal bawah
L.I.3. Memahami dan Menjelaskan tentang Obstruksi Ileus
3.1. Definisi
3.2. Klasifikasi
3.3. Etiologi
3.4. Epidemiologi
3.5. Patofisiologi
3.6 .Manifestasi Klinis
3.7.Diagnosis dan Diagnosis Banding
3.8. Tatalaksana
3.9. Komplikasi
3.10. Prognosis dan Pencegahan
L.I.4. Memahami Dan Menjelaskan tentang Pemeriksaan lain pada Obstruksi Ileus
4.1. Radiologi
4.2. BNO 3 Posisi
4.3. Colok Dubur
L.I.5. Memahami dan Menjelaskan tentang Operasi dan Colok Dubur Menurut pandangan
Agama Islam

LI 1. Memahami dan menjelaskan tentang anatomi saluran gastrointestinal bawah


LO 1.1. Makroskopis
USUS HALUS
A DUODENUM
Panjangnya 12 jari atau 25 cm, melengkung seperti huruf C
Dibagi menjadi 3 bagian :
- Pars superior duodeni
- Pars descendens duodeni
- Pars inferior duodeni, dapat dibedakan : pars horizontalis & ascendens
Lengkung antara pars superior dan descendens duodeni disebut flaxura duodeni
superior
Lengkung antara pars descendens dan inferior duodenia disebut flexurs duodeni
inferior
Permulaan duodenum yang melebar disebut bulbus duodeni
Akhir duodenum disebut flexura duodenojejunalis
Pada duodenum akan bermuara :
- Ductus pancreaticus accessories/minor (Santorini, tidak selalu ada) dan letaknya
lebih ke oral. Bagiannya yang menonjol disebut papilla duodeni minor
- Ductus pancreaticus major (Wirsungi) serta ductus choledochus letaknya lebih ke
anal. Bagiannya yang menonjol disebut papilla duodeni major
- Papilla yang meluas ke cranial sebagai plica longitudinalis duodeni
- Di dalam dinding papilla duodeni major terdapat suatu rongga disebut ampulla
yang dindingnya terdapat suatu otot yaotu m.sphincter Oddi, yang melingkar. Bila
berkontraksi dapat menutup muara bersama dutus tersebut.

www.imaios.com

B JEJUNUM DAN ILEUM


Terletak pada region umbilikalis
2/3 proximal usus halus merupakan jejunum, 3/5 distal merupakan ileum.
Diameter jejunum cenderung lebih besar daripada ileum
Mesentrium jejunum cenderung lebih tebal daripada ileum
Ciri ileum :
- arcade lebih banyak tingkatnya,
- vasa recta lebih banyak,
- plica sirkulares lebih jarang, dan
- ukuran lebih kecil
Ciri Jejunum :
- Arcade lebih sedikit tingkatannya
- Vasa cecta lebih banyak
- Plica sirkulares lebih padat
- Ukuran lebih besar
Arteriae : berasal dari cabang A.mesentrica superior, cabang-cabangnya membentuk
anyaman yaitu arcade jejunalis dan ilei
A.ileocolica menuju bagian bawah ileum
Vena : senama dengan arterinya
Inervasi : simpatis dan parasimpatis berasal dari Nervus X ke plexus mesentericus
superior

www.studyblue.com

USUS BESAR (COLON)

Dapat dibagi menjadi :


- Colon ascendens, di sebelah kanan pada region lumbalis dextra naik dari
caudal ke cranial, dimulai dari caecum. Pada ujung caecum bermuara
bangunan kecil berupa pipa menyerupai cacing disebut processus (appendix)
vermiformis
- Colon transversum
- Colon descendens
- Colon sigmoid
CAECUM
- Pada region ileaca dextra
- Dibagian bawah terdapat juncture ileocolica tempat bermuaranya ileum
- Panjang sekitar 6 meter
- Dilengkapi valvula ileocolica yang terdiri dari labium superius dan inferius.
Kedua labium dibentuk oleh lipatan stratum circular eke ventral dan dorsal
bersatu membentuk frenulum.
- Disebelah oral lipatan, stratum circulare menebal dan membentuk suatu
sfingter yang mengatur masuknya isi usus ke dalam colon
- Terdapat appendix vermiformis, yaitu :
o Bentuk seperti cacing dengan panjang 8-13cm
o Ada beberapa tipe :
Post caecalis : dibelakang caecum
Descending atau pelvic type : dibewah ileum terminalis
Subcaecalis : dibawah caecum
Ante ilei : di depan ileum terminalis
Post ilei : di belakang ileum terminalis
o Terletak di region iliaca dextra
o Mempunyai penutup peritoneum yang lengkap pada bagian bawah
mensenterium usus halus, disebut dengan mesoappendix
o Pada orang hidup dapat ditemukan 2 tipe :
Mobile type : bisa berubah-ubah dapat ditemukan semua tipe

Fixed type : tetap dapat ditemukan bila ujung appendix pada


peritoneum dan type retrocaecal
o Cara pemeriksaan appendix vermiformis, yaitu dengan cara menarik
garis antara umbilicus dengan SIAS dextra kemudian dibagi tiga. Titik
sepertiga lateral adalah letak appendix disebut dengan titik Mc.Burney.

pada kolon terdapat taenia :


taenia mesocolica : perlekatan alat penggantung dibelakang
taenia omentalis : perlekatan omentum majus di depan
taenia libera : dinding kaudal tidak ada alat yang melekat
taenia ini, berkas stratum longitudinal karena lebih pendek dari stratum circulare,
mengakibatkan stratum circulare berlipat-lipat. Lipatan keluar disebut haustra
dan lipatan ke dalam disebut plica semilunaris
lekuk diantara haustra disebut incisura.
Pada colon ascendens, taenia libera terletak ventral , taenia omentalis terletak
lateral dan taenia mesocolica terletak medial
Colon descendens berjalan dari cranial ke caudal. Taenia libera terletak di
ventral, taenia omentalis di lateral dan taenia mesocolica di medial

PERDARAHAN
Arteri
Aorta abdominalis bercabang menjadi :
1 A.coeliaca
a A. gastric sinistra
b A.lienalis
c A. hepatica communis
- A. hepatica propria
- A. gastric dextra
- A. gastroduodenalis :
A. gastroduodenalis dextra
A. pancreaticoduodenalis superior (memperdarahi duodenum
superior dan caput pancreas bagian atas)
2

A. mesenterica superior
a A. colica media (ke cranial di sebelah ventral pancreas masuk ke dalam
mesocolon transversum 2/3 proximal menuju ke colon transversum dan
memperdarahinya
b A. pancreaticoduodenalis inferior (memperdarahi pancreas dan
duodenum)
c A. colica dextra (member cabang-cabang ke colon ascendens)
d Aa. Jejenalis (masuk ked alma mesenterium member cabang-cabang ke
jejunum, jumlah 12-15, setiap arteri akan membelah menjadi dua dan
bersatu dengan arteri yang berdekatan membentuk arcade, kemudia
bercabang lagi dan bersatu membentuk arcade 2,3,4)
e A. ileocolica (pergi ke kanan caudal member cabang ke colon
ascendens dan ileum)
- Ramus superior (beranastomosis dengan A.colica dextra)
- Ramus inferior :
A. caecalis anterior
A. caecalis posterior, bercabang lagi menjadi A. appendicularis

A. renalis

A. mesenterica inferior
a A. colica sinistra (pergi ke kiri dan member cabang-cabang ke ramus
ascendens : 1/3 distal colon transversum, flexura coli sinistra, ramus
descendens memperdarahi bagian atas colon descendens)
b A. sigmoidea (member cabang-cabang ke colon descendens bagian
bawah dan colon sigmoideum)
c A. hemorrhoidalis superior (rectalis superior) (memberi cabang-cabang
ke dorsal rectum dan anus)

Cabang-cabang a. colica media, a. colica dextra, aa. Jejenalis, aa.ileae, a.


colica sinistra dan a. sigmoidea berhubungan satu sama lain menjadi
A.marginalis (Drummon), sehingga terjadi lengkung-lengkung disebut
arcades.
Vena
1 Vena Mesentrica Inferior
Menerima aliran balik dari :
- V. colica sinistra
- Vv. Sigmoideae
- V. Rectalis superior
2

Vena Mesentrica Superior


Menerima aliran balik dari :
-

V. ileocolica
Vv. Jejenalis
Vv. Pancreaticoduodenalis (bersatu dulu dengan v. gastroepiploica
dextra ke v. mesenterica superior)
V. gastroepiploica dextra
Vv. Ileae
V. colica dextra
V. colica media

Vena Lienalis
Bersatu dengan v. mesenterica superior menjadi V.portae.

PERSARAFAN
Oleh saraf otonom, yaitu :
a

Simpatis
Dikenal sepasang n.Splachnicus major dan minor dextra dan sinistra.
Melewati crus media dan intermedia pars lumbalis diafragmatica yang
berpangkal di truncus coeliacus
Serabut postganglionnya mengikuti a.mesenterica superior serta cabangcabangnya dan dari chorda posterior membentuk plexus mesentericus
superior
Plexus mesentericus inferior di bentuk oleh neurit-neurit sel-sel yang ada di
dalam ganglion mesentericum inferius serta serabut-serabut rr.Visceralis
plexus pudenda
Sifat simpatis efferent yang membawa impuls yang menyebabkan
penghambatan sekresi kelenjar, vasokonstriksi pembuluh darah, relaksasi
pada otot-otot dinding vesica felea, ventriculus dan usus.

b Parasimpatis
N. vagus (X) sinistra
N.Vagus (X) dextra
- Menembus diafragma di belakang esophagus (chorda posterior)
- Menuju langsung ke pangkal truncus coeliacus dan plexus coeliacus
untuk menginervasi : intestinum tenue dan crassum, gaster, 2/3 colon
transversum, lien, pancreas, hepar
- 1/3 lateral colon transversum, colon desendens, colon sigmoid diinervasi
oleh sacral 2,3,4 (pusat parasimpatis).
LI 1.2. Mikroskopis
Dinding usus halus dibagi kedalam empat lapisan :
1 Tunica Serosa. Tunica serosa atau lapisan peritoneum, tak lengkap di atas duodenuma,
hampir lengkap di dalam usus halus mesenterica, kekecualian pada sebagian kecil, tempat
lembaran visera dan mesenterica peritoneum bersatu pada tepi usus.
2 Tunica Muscularis. Dua selubung otot polos tak bergaris membentuk tunica muscularis usus
halus. Ia paling tebal di dalam duodenum dan berkurang tebalnya ke arah distal. Lapisan
luarnya stratum longitudinale dan lapisan dalamnya stratum circulare. Yang terakhir
membentuk massa dinding usus. Plexus myentericus saraf (Auerbach) dan saluran limfe
terletak diantara kedua lapisan otot.
3 Tela Submucosa. Tela submucosa terdiri dari dari jaringan ikat longgar yang terletak
diantara tunica muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa, yang terletak di
bawah mukosa. Dalam ruangan ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan pembuluh
limfe. Di samping itu, di sini ditemukan neuroplexus meissner.
4 Tunica Mucosa. Tunica mucosa usus halus, kecuali pars superior duodenum, tersusun dalam
lipatan sirkular tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa. Masing-masing
lipatan ini ditutup dengan tonjolan, villi.
Usus halus ditandai oleh adanya tiga struktur yang sangat menambah luas permukaan dan
membantu fungsi absorpsi yang merupakan fungsi utamanya:
1 Lapisan mukosa dan submukosa membentuk lipatan-lipatan sirkular yang dinamakan
valvula koniventes (lipatan kerckringi) yang menonjol ke dalam lumen sekitar 3 ampai 10
mm. Lipatan-lipatan ini nyata pada duodenum dan jejenum dan menghilang dekat
pertengahan ileum. Adanya lipatan-lipatan ini menyerupai bulu pada radiogram.
2 Vili merupakan tonjolan-tonjolan seperti jari-jari dari mukosa yang jumlahnya sekitar 4 atau
5 juta dan terdapat di sepanjang usus halus. Villi panjangnya 0,5 sampai 1 mm (dapat dilihat
dengan mata telanjang) dan menyebabkan gambaran mukosa menyerupai beludru.
3 Mikrovili merupakan tonjolan menyerupai jari-jari dengan panjang sekitar 1 pada
permukaan luar setiap villus. Mikrovilli terlihat dengan mikroskop elektron dan tampak
sebagai brush border pada mikroskop cahaya.
Usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti juga bagian usus lainnya. Akan tetapi,
ada beberapa gambaran yang khas pada usus besar saja. Lapisan otot longitudinal usus besar

tidak sempurna, tetapi terkumpul dalam tiga pita yang dinamakan taenia koli. Taenia bersatu
pada sigmoid distal, dengan demikian rektum mempunyai satu lapisan otot longitudinal yang
lengkap. Panjang taenia lebih pendek daripada usus, hal ini menyebabkan usus tertarik dan
berkerut membentuk kantong-kantong kecil peritoneum yang berisi lemak dan melekat di
sepanjang taenia. Lapisan mukosa usus besar jauh lebih tebal daripada lapisan mukosa usus
halus dan tidak mengandung villi atau rugae. Kriptus lieberkn (kelenjar intestinal) terletak
lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet daripada usus halus
DUODENUM

Usus 12 jari, panjang 25 cm


Epitel berlapis sel silindris dengan
mikrovili
membentuk
striated
borders
Kel Brunner nyata, didalam sub
mukosa
Di lamina propria mengandung
kelenjar intestinal
Lamina propria juga mengandung
serat serat jaringan ikat halus dengan
sel retikulum , jaringan limfoid difus
dan atau limfonoduli

Banyak tonjolan mirip jari yang


disebut vili
atlas di fiore histologi

Serosa tak sempurna, sebagian diganti adventisia

Tempat bermuara duktus empedu dan pankreas


JEJENUM-ILEUM
Tidak ada kelenjar duodenal ( brunner ) yang hanya terbatas pada bagian atas duodenum
Dibagian akhir ileum terdapat kumpulan plaque peyeri dengan interval tertentu
Didalam lumen terdapat vilus
Epitel berlapis silindris dengan mikrovili dan sel goblet
Tampak sebuah limfonodulus meluas dari lamina propria mukosa ke dalam submukosa ,
menerobos mukosa muskularis disekitarnya
Villi jari paling besar
Central lacteal berkembang sempurna, absorbsi maksimal
Sel sel ganglion parasimpatis pleksus mienterikus terlihat didalam jaringan ikat diantara lapisan
otot polos sirkular (dalam) dan longitudinal (luar) muskularis eksterna
Di ileum terdapat sel khusus yang berfungsi untuk transport antigen dari lumen usus ke lapisan
bawah folikel limfoid, disebut Epitel asosiasi folikel (FAE)

Verasika.blogspot.com

Eleshmeraa.blogspot.com

USUS BESAR
-

Fungsi usus besar :


Absorpsi cairan
Mensekresi mukus pelumasan menjadi lebih penting karena cairan diabsorpsi
dan feses menjadi lebih keras sehingga kemungkinan merusak mukosa menjai
lebih besar.
Pencernaan yang dilakukan oleh enzim yang ada di dalam makanan.
Pembusukan oleh bakteri yang selalu ada di dalam usus besar.
Usus besar tidak mempunyai plika dan vili
Epitel permukaan tampak lebih rata daripada yanga ada di usus kecil
Sel goblet jumlahnya lebih banyak.
Batas ileosekal
Terjadi perubahan mendadak pada mukosa, yaitu membentuk lipatn anterior dan
posterior menjadi dua daun katup.
Terdiri dari mukosa dan submukosa yang diperkuat oleh massa otot polos
Cryptus
melingkar.

N. Lymphaticus soliter

APPENDIX
Panjangnya 25 cm
Dalam potongan melintang, lumennya sempit dan biasanya dengan batas yang
tidak teratur.
Vili tidak ada dan kelenjar intestinal jumlahnya sedikit dan panjang tidak teratur
Epitel permukaan tersusun dari sel silindris dengan striated border dan sel
gobletnya sedikit,
Di dalam kriptus terdapat sedikit sel paneth, dan banyak sel enteroendokrin.
Apendiks seringkali sebagai tempat peradangan akut dan kronis, sehingga sukar
mendapatkan apendiks yang normal. Biasanya terdapat eosinofil dan neutrofil
dalam lamina propria dan submukosa.
Dalam jumlah banyak eosinofil dan neutrofil berturut-turut menunjukkan adanya
infeksi menahun dan infeksi akut.
SEKUM, KOLON, REKTUM
Kelenjar intestinal lebih dalam pada usus besar dari pada usus kecil dan letaknya
lebih berhimpitan. Di kolon dalamnya 0,5 mm, sedangkan di rektu mencapai
0,75 mm.
Sel goblet jumlahnya banyak dan sel enteroendokrinkadangkala terdapat di
bawah di dalam kelenjar.
Sel paneth tidak ada
Lamina propria di antara kelenjar sama dengan yang ada di usus halus, dan
mengandung noduli limfatisi yang letaknya tersebar meluas di submukosa.
Pada sekum dan kolon, lapisan muskularis longitudinal tidak merupakan lapisan
yang utuh tetapi membentuk 3 pta memanjang, sebagai taeniae coli.
Pada rektum lapisan longitudinal ini kembali menjadi lapisan yang utuh.
Tunika serosa, pada permukaan yang tidak melekat di dinding abdomen pagian
posterior, membentuk tonjolan-tonjolan kecil terdiri atas jaringan lemak yaitu
apendiks epiploika.
Batas rektum anus
Disini membran mukosa membentuk lipatan-liptan memanjang disebut
Kolumna Rektalis Morgagni.

Epitel silindris tiba-tiba berubah menjadi epitel berlapis gepeng yang meluas
sedikit ke bawah sebagai daerah peralihan antara epitel usus dan kulit.
Pada anus, epitelnya mengandung lapisan tanduk dan dibawahnya terdapat
kelenjar tubulosa bercabang disebut kelenjar sirkumanal
Pada bagian bawah rektum, dan pada saluran anus, lapisan dalam muskularis
menebal, sebagai sfingter ani internum
Mengelilingi saluran anus adalah berkas-berkas otot lurik, yang membentuk
sfingter ani eksternum.
Saluran

T.mukosa

L. propria

T.muskul
aris
mukosa

T.submu T.musku T.serosa /


kosa
laris
adv

Duodenum

EST+
SG+mikro
vili+vilus

Kriptus
lieberkuhn

Jejunum

EST+
SG+ vilus

KL

Ileum

EST+
SG+ vilus

KL+plaque
peyeri

T.serosa

Rectum

EST+SG>

KL

T.adv

Appendix

EST+SG>
>

KL+NL
seluruh
dinding

T.serosa

kel.
Brunner
plica
semisircul
ar kekringi

T. adv

T.serosa

LI 2. Memahami dan menjelaskan tentang Faal saluran gastrointestinal bawah


Fisiologi Usus Halus (intestinum minor)
Usus halus mempunyai 2 fungsi utama pencernaan dan absorbsi bahan-bahan nutrisi dan
air. Semua akitivitas lainnya mengatur atau mempermudah berlangsungnya proses ini. Proses
pencernaan ini dimulai dari mulut dan lambung oleh kerja ptialin, asam klorida dan pepsin
terhadap makanan yang masuk. Proses dilanjutkan didalam duodenum terutama oleh kerja
enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat, lemak dan protein menjadi zat-zat yang
lebih sederhana. Adanya bikarbonat dalam sekret pankreas membantu menetralkan asam dan
memberikan pH optimal untuk kerja enzim-enzim. Sekresi empedu dan hati membantu proses
pencernaan dengan mengemulsikan permukaan yang lebih luas bagi kerja lipase pankreas.
Kerja empedu terjadi sebagai akibat dari sifat deterjen asam-asam empedu yang dapat
melarutkan zat-zat lemak dengan membentuk misel. Misel merupakan agregat asam empedu dan
molekul-molekul. Lemak membentuk inti hidrofobik, sedangkan asam empedu karena

merupakan molekul polar, membentuk permukaan misel dengan ujung hidrofobik mengarah ke
dalam dan ujung hidrofilik menghadap keluar menuju medium cair. Bagian sentral misel juga
melarutkan vitamin-vitamin larut lemak dan kolesterol. Jadi asam-asam lemak bebas, gliserida
dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak dipertahankan dalam larutan sampai mereka dapat
di absorbsi oleh permukaan sel epitel.
Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim dalam getah usus (sukus
enteriukus). Banyak di antara enzim-enzim ini terdapat pada brush border vili dan mencernakan
zat-zat makanan sambil diabsorbsi. Enzim-enzim utama pencernaan adalah kelenjar ludah
menghasilkan amylase (ptyalin) ludah; kelenjar ludah menghasilkan pepsin dan lipase lambung;
mukosa duodenum menghasilkan enterokinase; kelenjar eksokrin pankreas menghasilkan tripsin,
kemotripsin, karbosipeptidase, nuclase, lipase pankreas; amilase pankreas; hati menghasilkan
asam empedu (bukan enzim), kelenjar usus menghasilkan aminopeptidase, dipeptidase, maltase,
lactase, sukrosa, lipase usus, nucleotidase.
Dua hormon penting dalam pengaturan usus. Lemak yang bersentuhan dengan mukosa
duodenum menyebabkan kontraksi kantong empedu yang diperantarai oleh kerja kolesistokinin.
Hasil-hasil pencemaan tak lengkap yang bersentuhan dengan mukosa duodenum, merangsang
sekresi getah pankreas yang kaya akan enzim; hal ini diperantarai oleh kerja pankreozimin.
Parikreozimin dan kolesistokinin sekarang diduga merupakan satu hormon yang sama, yang
mempunyai efek berbeda, hurmon ini dinamakan CCK (beberapa buku teks menyebut hormon
ini CCK-PZ). Hormon ini dihasilkan oleh mukosa duodenum. Asam yang bersentuhan dengan
mukosa usus menyebabkan dikeluarkan hormon lain, sekretin dan jumlah yang keluarkan
sebanding dengan asam yang mengalir melalui duodenum. Sekretin merangsang sekresi getah
yang mengandung bikarbonat dari pankreas, dan empedu dari hati. Sekretin memperbesar kerja
CCK. Pergerakan segmental usus halus mencampur zat-zat yang dimakan dengan sekret
pankreas, hepatobiliar, dan sekresi usus, dan pergerakkan peristaltik mendorong isi dari salah
satu ujung ke ujung lain dengan kecepatan yang sesuai untuk absorbsi optimal dan suplai
kontinue isi lambung.
Absorbsi adalah pemindahan hasil-hasil akhir pengamatan karbohidrat, lemak dan protein
(gula sederhana, asam-asam lemak dan asam-asam amino) melalui dindirig usus ke sirkulasi
darah dan limfe untuk digunakan oleh sel- sel tubuh. Selain itu air, elektrolit dan vitamin juga
diabsorbsi. Absorbsi berbagai zat berlangsung dengan mekanisme transpor aktif dan pasif yang
sebagian besar kurang dimengerti.
Besi dan kalsium sebagian besar diabsorbsi dalam duodenum dan abscrbsi kalsium
memerlukan vitamin D, vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E dan K) diabsorbsi dalam
duodenum dan memerlukan garam-garam empedu. Asam folat dan vitamin-vitamin lain yang
larut dalam air juga diabsorbsi di duodenum. Absorbsi gula, asam-asam amino dan lemak
sebagian besar diselesaikan menjelang kimus mencapai jejunum. Absorbsivitamin B12
berlangsung pda ileum terminal melalui mekanisme transport khusus yang memerlukan faktor
intrinsik lambung. Sebagian besar asam-asam empedu yang dikeluarkan oleh kandung empedu
ke dalam duodenum untuk membantu pencernaan lemak, akan diabsorbsi pada ileum terminal
dan masuk kembali ke hati. Siklus ini dinamakan sirkulasi enterohepatik garam-garam empedu
dan sangat penting dalam mempertahankan cadangan empedu.
Dengan demikian asam-asam atau garam-garam empedu mampu bekerja mencenakan
leniak berkali-kali sebelum dikeluarkan dalam feses.

Penyakit atau reseksi ileum terminal dapat menyebabkan deifisiensi garam-garam empedu dan
mengganggu pencernaan lemak. Masuknya garam- garam empedu dalam jumlah besar ke dalam
kolon menyebabkan iritasi kolon dan diare.
Usus Besar
Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi
usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsorpsi air dan elektrolit, yang sudah
nampir lengkap pada kolon. bagian kanan. Kolon sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang
menampung massa feses yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung. Bila jumlah ini
dilampaui, misalnya karena adanya kiriman yang berlebihan dan ileum, maka akan terjadi diare.
Berat akhir feses yang dikeluarkan per hari sekitar 200 g, 75% diantaranya berupa air.
Sisanya terdiri dari residu makanan yang tidak diabsorpsi, bakteri, sel epitel yang mengelupas,
dan mineral yang tidak diabsorbsi.
Sedikitnya pencernaan yang terjadi di usus besar terutama diakibatkan oleh bakteri dan
bukan karena kerja enzim. Usus besar mengsekresikan mucus alkali yang tidak mengandung
enzim. Mukus ini bekerja untuk melumasi dan melindungi mukosa.
Bakteri usus besar munsintesis vitamin K. dan beberapa vitamin B. Pembusukan oleh bakteri
dari sisa-sisa protein menjadi asam amino dan zat- zat yang lebih sederhana seperti peptida,
indol, skatol, fenol dan asam lemak.
Pembentukan berbagai gas seperti NH3, CO2, H2 dan CH4 membantu pembentukan
flatus di kolon. Beberapa subtansi ini dikeluarkan dalam feses, sedangkan zat lainnya diabsorpsi
dan diangkut ke hati di mana zat-zat ini akan diubah manjadi senyawa yzng kurang toksik dan
diekskresikan melalui kemih. Fermentasi bakteri pada sisa karbohidrat juga melepaskan CO2 ,
H2 dan CH4 yang merupakan komponen flatus. Dalam sehari secara normal dihasilkan sekitar
1.000 ml flatus. Kelebihan gas dapat terjadi pada aerofagia (menelan udara secara berlebihan)
dan pada peningkatan gas di dalam lumenusus, yang biasanya berkaitan dengan jenis makanan
yang dimakan. Makanan yang mudah membentuk gas seperti kacang-kacangan mengandung
banyakkarbohidrat yang tidak dapat dicerna.
Pada umumnya, pergerakan usus besar adalah lambat. Pergerakan usus besar yarg khas
adalah gerakan mengaduk haustra. Kantong-kantong atau haustra teregang dan dari waktu ke
waktu otot sirkular akan berkontrasi untuk mengosongkannya. Pergerakannya tidak progresif,
tetapi menyebabkan isi usus bergerak bolak-balik dan meremas-remas sehingga memberi cukup
waktu untuk absorbsi. Terdapat dua jenis peristaltik propulsif;
(1) kontraksi lamban dan tidak teratur, berasal dari segmen proksimal dan bergerak ke depan,
menyumbat beberapa haustra, dan
(2) penstaltik massa, merupakan kontraksi yang mengbatkan segmen kolon. Gerakan peristaltik
ini menggerakkan massa feses ke depan, akhirnya merangsang defekasi. Kejadian ini timbul dua
sampai tiga kali sehari dan dirangsang oleh refleks gastrokolik setelah makan, khususnya setelah
makanan pertama masuk pada hari itu.
Fisiologi Defekasi
Propulsi feses ke rektum mengakibatkan distensi dinding rektum dan merangsang refleks
defekasi. Defekasi dikendalikan oleh stingier ani eksterna dan interna. Sfingter interna
dikendalikan oleh sistem saraf otonom, dan sfingter eksterna berada di bawah kontrol volunter.
Refleks defekasi terintegrasi pada segmen sakralis kedua dan keempat dari medula spinalis.

Serabut-serabut parasimpatis mencapai rektum melalui saraf splangnikus panggul dan


bertanggung jawab atas kontraksi rektum dan relaksasi sfingter interna. Pada waktu.
rektum yang mengalami distensi -berkontraksi, otot levator ani berelaksasi, sehingga
menyebabkan sudut dan anulus anorektal menghilang. Otot-otot sfingter intema dan ekstema
berelaksasi pada waktu anus tertarik atas melebihi tinggi massa feses. Defekasi dipercepat
dengan adanya peningkatan tekanan intraabdomen yang terjadi akibat kontraksi volunter otototot dada dengan glotis ditutup, dan kontraksi secara terus- menerus dari otol-otot abdomen
(menuver ata'i peregangan valsava). Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi volunter otot-otot
sfingtcr ekstema dan levator ani. Dinding rektum secara bertahap akan relaks, dan keinginan
untuk berdefekasi menghilang. Kelainan dari proses defekasi adalah konstipasi dan diare.
Konstipasi terjadi karena kegagalan pengosongan rektum saal terjadi peristaltik massa.
LI.3. Memahami dan menjelaskan tentang Obstruksi Ileum
LO.3.1. Definisi Obstruksi Ileum
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran
normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus dapat akut dengan kronik, partial atau
total. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsino ma dan perkembangannya
lambat. Sebahagaian dasar dari obstruksi justru mengenai usus halus.Obstruksi total usus halus
merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat
bila penderita ingin tetap hidup.
Obstruksi usus (mekanik) adalah keadaan dimana isi lumen saluran cerna tidak bisa
disalurkan ke distal atau anus karena ada sumbatan/hambatan yang disebabkan kelainan dalam
lumen usus, dinding usus atau luar usus yang menekan, atau kelainan vaskularisasi pada suatu
segmen usus yang menyebabkan nekrosis segmen usus tersebut.
LO.3.2. Klasifikasi Obstruksi Ileum
Ada dua tipe obstruksi yaitu :
1. Mekanis (Ileus Obstruktif)
Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik. Ileus
obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat karsinoma yang
melingkari. Misalnya intusepsi, tumor polipoid dan neoplasma stenosis, obstruksi batu empedu,
striktura, perlengketan, hernia dan abses.
2. Neurogenik/fungsional (Ileus Paralitik)
Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf ototnom mengalami paralisis dan peristaltik
usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contohnya amiloidosis,
distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan neurologis seperti
penyakit Parkinson.
Berdasarkan penyebabnya ileus obstruktif dibedakan menjadi tiga kelompok
(Bailey,2002):
a. Lesi-lesi intraluminal, misalnya fekalit, benda asing, bezoar, batu empedu.
b. Lesi-lesi intramural, misalnya malignansi atau inflamasi.
c. Lesi-lesi ekstramural, misalnya adhesi, hernia, volvulus atau intususepsi.

Ileus obstruktif dibagi lagi menjadi tiga jenis dasar (Sjamsuhidajat & Jong, 2005;
Sabiston,1995) :
1. Ileus obstruktif sederhana, dimana obstruksi tidak disertai dengan terjepitnya
pembuluh darah.
2. Ileus obstruktif strangulasi, dimana obstruksi yang disertai adanya penjepitan
pembuluh darah sehingga terjadi iskemia yang akan berakhir dengan nekrosis atau
gangren yang ditandai dengan gejala umum berat yang disebabkan oleh toksin dari
jaringan gangren.
3. Ileus obstruktif jenis gelung tertutup, dimana terjadi bila jalan masuk dan keluar
suatu gelung usus tersumbat, dimana paling sedikit terdapat dua tempat obstruksi.
Untuk keperluan klinis, ileus obstruktif dibagi dua (Stone, 2004):
1. Ileus obstruktif usus halus, termasuk duodenum
2. Ileus obstruktif usus besar
3.3 Etiologi

Perlengketan :
Lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh secara lambat atau pada
jaringan parut setelah pembedahan abdomen

Intusepsi :
Salah satu bagian dari usus menyusup
kedalam bagian lain yang ada
dibawahnya akibat penyempitan lumen
usus. Segmen usus tertarik kedalam
segmen berikutnya oleh gerakan
peristaltik yang memperlakukan segmen
itu seperti usus. Paling sering terjadi
pada anaka-anak dimana kelenjar limfe
mendorong dinding ileum kedalam dan
terpijat disepanjang bagian usus tersebut (ileocaecal) lewat coecum kedalam usus
besar (colon) dan bahkan sampai sejauh rectum dan anus.

Volvulus :
Usus besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan demikian
menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya gelungan usus yang terjadi amat
distensi. Keadaan ini dapat juga terjadi pada usus halus yang terputar pada
mesentriumnya
Gbr Menunjukan bentuk normal intestin (atas
warna pink) dan intestin yang mengalami
volvulus (bawah warna ungu)
Tindakan bedah, infeksi dan bahkan
endometriosis
sering
menyebabkan
peradangan peritoneum loka atau generalisata
(peritonitis). Pada penyembuhan dapat terjadi
perlekatan antara segmen usus atau dinding
abdomen dan tempat operasi.
4

Hernia :
Protrusi
usus melalui area yang lemah dalam usus
atau dinding dan otot abdomen atau
defek di dinding rongga peritoneum yang
memungkinkan terbentukkan tonjolan
peritoneum mirip kantong yang dilapisi serosa
5

Tumor :
Tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus
menyebabkan tekanan pada dinding usus.

Inkarserasi (terperangkap) massa visera yang meningkat di dalam hernia


sehingga massa tersebut terperangkap akibat adanya stasis dan edema secara
permanen.

Strangulasi gangguan lebih lanjut dimana pasokan darah dan drainase


menyebabkan infark segmen yang terperangkap

Gbr strangulasi intestinal

Faktor Predisposisi
Penyakit ini merupakan penyakit bawaan yang disebabakan disfungsi umum
kelenjar eksokrin pancreas. Keadaan ini menyebabakan berkurangnya enzim pancreas
yang mengalir ke lumen usus halus sehingga issi usus halus menjadi kental dan
menyumbat lumen usus. Gambaran radiologist yang ditemukan ialah pelebaran usus
dan tampak bayangan udra yang granular diantara mekonium yang kental tersebut.

Obstruksi mekanik, menurut lokalisasinya dibagi menjadi :


1 Obstruksi mekanik rendah
Obstruksi mulai dari caecum sampai anorektal. Obstruksi ini paling banyak
disebabkan oleh tumor ganas, penyebab lainnya adalah :
- Volvulus
- Scibala
2 Obstruksi mekanik tinggi
Menurut letaknya dapat dibedakan menjadi :
a. Obstruksi diatas pylorus, dapat disebabkan :
- Stenosis pylorus
- Strictur
- Obstruksi oleh karena keganasan
- Bezoar
Pada obstruksi ini gejalanya yang menonjol adalah : muntah-muntah dimana
muntahannya dapat dirasakan seperti asam lambung, serangan rasa nyeri lebih
sering, distensi abdomen agak kurang.
b. Obstruksi dibawah pylorus. Obstruksi terjadi mulai dari pylorus sampai
ileocaecal junction, obstruksi ini sering ditemukan pada :
- Adhesion (perlengketan)
- Hernia interna
- Volvulus
- Gumpalan Ascaris
Pada obstruksi ini muntahannya faeculent (feces) warna kuning seperti tinja.
Serangan nyeri perut agak jarang, tetapi perut lebih distensi.

3.4. Epidemiologi Obstruksi Ileum


Obstruksi usus halus menempati sekitar 20% dari seluruh pembedahan darurat, dan
mortalitas dan morbiditas sangat bergantung pada pengenalan awal dan diagnosis yang tepat.
Hernia strangulata adalah salah satu keadaan darurat yang sering dijumpai oleh dokter bedah dan
merupakan penyebab obstruksi usus terbanyak. Mc Iver mencatat 44% dari obstruksi mekanik
usus disebabkan oleh hernia eksterna yang mengalami strangulasi.
Walaupun di negara berkembang seperti di Indonesia, adhesi bukanlah sebagai penyebab
utama terjadinya obstruksi usus. Penyebab tersering obstruksi usus di Indonesia, adalah hernia,
baik sebagai penyebab obstruksi sederhana (51%) maupun obstruksi usus strangulasi (63%).
Adhesi pasca operasi timbul setelah terjadi cedera pada permukaan jaringan, sebagai akibat
insisi, kauterisasi, jahitan atau mekanisme trauma lainnya. Dari laporan terakhir pasien yang
telah menjalani sedikitnya sekali operasi intra abdomen, akan berkembang adhesi satu hingga
lebih dari sepuluh kali. Obstruksi usus merupakan salah satu konsekuensi klinik yang penting. Di
negara maju, adhesi intraabdomen merupakan penyebab terbanyak terjadinya obstruksi usus.
Pada pasien digestif yang memerlukan tindakan reoperasi, 30-41% disebabkan obstruksi usus
akibat adhesi. Untuk obstruksi usus halus, proporsi ini meningkat hingga 65-75%.
3.5. Patofisiologi Obstruksi
3.6 Manifestasi Klinis
Ileus Obstruktif
Akumulasi gas dari cairan didalam lumen setelah proksimal dari letatak obstruksi

Distensi
Proliferasi bakteri yang berlangsung cepat
Kehilangan H2O dan elektrolit

Tekanan intralumen

Volume ECF

Iskemia dinding usus


Iskemia dinding usus
Kehilangan cairan menuju ruang peritonium

epasan bakteri dan toksin dari usus yang nekrotik ke dalam peritoneum dan sirkulasi sistemik

Peritonitis septikemia

Syok Hipovolemik

Obstruksi sederhana
Obstruksi usus halus merupakan obstruksi saluran cerna tinggi, artinya disertai
dengan pengeluaran banyak cairan dan elektrolit baik di dalam lumen usus bagian
oral dari obstruksi, maupun oleh muntah. Gejala penyumbatan usus meliputi nyeri
kram pada perut, disertai kembung. Pada obstruksi usus halus proksimal akan
timbul gejala muntah yang banyak, yang jarang menjadi muntah fekal walaupun
obstruksi berlangsung lama. Nyeri bisa berat dan menetap. Nyeri abdomen sering
dirasakan sebagai perasaan tidak enak di perut bagian atas. Semakin distal
sumbatan, maka muntah yang dihasilkan semakin fekulen.1,2,10
Tanda vital normal pada tahap awal, namun akan berlanjut dengan dehidrasi akibat
kehilangan cairan dan elektrolit. Suhu tubuh bisa normal sampai demam. Distensi
abdomen dapat dapat minimal atau tidak ada pada obstruksi proksimal dan semakin
jelas pada sumbatan di daerah distal. Bising usus yang meningkat dan metallic
sound dapat didengar sesuai dengan timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah
distal.10
1 Obstruksi disertai proses strangulasi
Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan disertai dengan
nyeri hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas operasi atau
hernia. Bila dijumpai tanda-tanda strangulasi berupa nyeri iskemik dimana
nyeri yang sangat hebat, menetap dan tidak menyurut, maka dilakukan
tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya nekrosis usus.
2

Obstruksi mekanis di kolon timbul perlahan-lahan dengan nyeri akibat


sumbatan biasanya terasa di epigastrium. Nyeri yang hebat dan terus menerus
menunjukkan adanya iskemia atau peritonitis. Borborygmus dapat keras dan
timbul sesuai dengan nyeri. Konstipasi atau obstipasi adalah gambaran umum
obstruksi komplit. Muntah lebih sering terjadi pada penyumbatan usus besar.
Muntah timbul kemudian dan tidak terjadi bila katup ileosekal mampu
mencegah refluks. Bila akibat refluks isi kolon terdorong ke dalam usus halus,
akan tampak gangguan pada usus halus. Muntah fekal akan terjadi kemudian.
Pada keadaan valvula Bauchini yang paten, terjadi distensi hebat dan sering
mengakibatkan perforasi sekum karena tekanannya paling tinggi dan
dindingnya yang lebih tipis. Pada pemeriksaan fisis akan menunjukkan distensi
abdomen dan timpani, gerakan usus akan tampak pada pasien yang kurus, dan
akan terdengar metallic sound pada auskultasi. Nyeri yang terlokasi, dan
terabanya massa menunjukkan adanya strangulasi.

Terdapat 4 tanda kardinal gejala ileus obstruktif (Winslet, 2002; Sabiston, 1995)
1. Nyeri abdomen
2. Muntah
3. Distensi
4. Kegagalan buang air besar atau gas (konstipasi).
Gejala ileus obstruktif tersebut bervariasi tergantung kepada (Winslet, 2002;
Sabiston, 1995):
1. Lokasi obstruksi
2. Lamanya obstruksi
3. Penyebabnya
4. Ada atau tidaknya iskemia usus
Gejala selanjutnya yang bisa muncul termasuk dehidrasi, oliguria, syok
hypovolemik, pireksia, septikemia, penurunan respirasi dan peritonitis. Terhadap
setiap penyakit yang dicurigai ileus obstruktif, semua kemungkinan hernia harus
diperiksa (Winslet, 2002).
Nyeri abdomen biasanya agak tetap pada mulanya dan kemudian menjadi bersifat
kolik. Ia sekunder terhadap kontraksi peristaltik kuat pada dinding usus melawan
obstruksi. Frekuensi episode tergantung atas tingkat obstruksi, yang muncul
setiap 4 sampai 5 menit dalam ileus obstruktif usus halus, setiap 15 sampai 20
menit pada ileus obstruktif usus besar. Nyeri dari ileus obstruktif usus halus demikian
biasanya terlokalisasi supraumbilikus di dalam abdomen, sedangkan yang dari
ileus obstruktif usus besar biasanya tampil dengan nyeri intaumbilikus. Dengan
berlalunya waktu, usus berdilatasi, motilitas menurun, sehingga gelombang
peristaltik menjadi jarang, sampai akhirnya berhenti. Pada saat ini nyeri mereda
dan diganti oleh pegal generalisata menetap di keseluruhan abdomen. Jika nyeri
abdomen menjadi terlokalisasi baik, parah, menetap dan tanpa remisi, maka ileus
obstruksi strangulata harus dicurigai (Sabiston, 1995). Muntah refleks ditemukan

segera setelah mulainya ileus obstruksi yang memuntahkan apapun makanan dan
cairan yang terkandung, yang juga diikuti oleh cairan duodenum, yang
kebanyakan cairan empedu (Harrisons, 2001). Setelah ia mereda, maka muntah
tergantung atas tingkat ileus obstruktif. Jika ileus obstruktif usus halus, maka muntah
terlihat dini dalam perjalanan dan terdiri dari cairan jernih hijau atau kuning. Usus
didekompresi dengan regurgitasi, sehingga tak terlihat distensi. Jika ileus obstruktif
usus besar, maka muntah timbul lambat dan setelah muncul distensi. Muntahannya
kental dan berbau busuk (fekulen) sebagai hasil pertumbuhan bakteri berlebihan
sekunder terhadap stagnasi. Karena panjang usus yang terisi dengan isi demikian,
maka muntah tidak mendekompresi total usus di atas obstruksi (Sabiston, 1995).
Distensi pada ileus obstruktif derajatnya tergantung kepada lokasi obsruksi dan makin
membesar bila semakin ke distal lokasinya. Gerkakan peristaltik terkadang dapat
dilihat. Gejala ini terlambat pada ileus obstruktif usus besar dan bisa minimal atau
absen pada keadaan oklusi pembuluh darah mesenterikus (Sabiston, 1995).
Konstipasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konstipasi absolut ( dimana feses
dan gas tidak bisa keluar) dan relatif (dimana hanya gas yang bisa keluar) (Winslet,
2002). Kegagalan mengerluarkan gas dan feses per rektum juga suatu gambaran
khas ileus obstruktif. Tetapi setelah timbul obstruksi, usus distal terhadap titik
ini harus mengeluarkan isinya sebelum terlihat obstipasi. Sehingga dalam ileus
obstruktif usus halus, usus dalam panjang bermakna dibiarkan tanpa terancam di
usus besar. Lewatnya isi usus dalam bagian usus besar ini memerlukan waktu,
sehingga mungkin tidak ada obstipasi, selama beberapa hari. Sebaliknya, jika ileus
obstruktif usus besar, maka obstipasi akan terlihat lebih dini. Dalam ileus
obstuksi sebagian, diare merupakan gejala yang ditampilkan pengganti obstipasi
(Sabiston, 1995).
Dehidarasi umumnya terjadi pada ileus obstruktif usus halus yang
disebabkan muntah yang berulang-ulang dan pengendapan cairan. Hal ini
menyebabkan kulit kering dan lidah kering, pengisian aliran vena yang jelek dan
mata gantung dengan oliguria. Nilai BUN dan hematokrit meningkat memberikan
gambaran polisitemia sekunder (Winslet, 2002).
Hipokalemia bukan merupakan gejala yang sering pada ileus obstruktif
sederhana. Peningkatan nilai potasium, amilase atau laktat dehidrogenase di
dalam serum dapat sebagai pertanda strangulasi, begitu juga leukositosis atau
leukopenia (Winslet, 2002). Pireksia di dalam ileus obstruktif dapat digunaklan
sebagai petanda (Winslet, 2002) :
1. Mulainya terjadi iskemia
2. Perforasi usus
3. Inflamasi yang berhubungan denga penyakit obsruksi
Hipotermi menandakan terjadinya syok septikemia. Nyeri tekan abdomen yang
terlokalisir menandakan iskemia yang mengancam atau sudah terjadi. Perkembangan
peritonitis menandakan infark atau perforasi (Winslet, 2002).
Sangat penting untuk membedakan antara ileus obstruktif dengan strangulasi
dengan tanpa strangulasi, karena termasuk operasi emergensi. Penegakan
diagnosa hanya tergantung gejala kilnis. Sebagai catatan perlu diperhatikan
(Winslet, 2002):

1.
2.
3.
4.

Kehadiran syok menandakan iskemia yang sedang berlansung


Pada strangulasi yang mengancam, nyeri tidak pernah hilang total
Gejala-gejala biasanya muncul secara mendadak dan selalu berulang
Kemunculan dan adanya gejala nyeri tekan lokal merupakan tanda yang
sangat penting, tetapi, nyeri tekan yang tidak jelas memerlukan penilaian
rutin. Pada ileus obstruktif tanpa strangulasi kemungkinan bisa terdapat
area dengan nyeri tekan lokal pada tempat yang mengalami obstruksi;
pada srangulasi selalu ada nyeri tekan lokal yang berhubungan dengan
kekakuan abdomen.
5. Nyeri tekan umum dan kehadiran kekakuan abdomen/rebound tenderness
menandakan perlunya laparotomy segera.
6. Pada kasus ileus obstruktif dimana nyeri tetap asa walaupun telah
diterapi konservatif, walaupun tanpa gejala-gejala di atas, strangulasi
tetap harus didiagnosa.
7. Ketika srangulasi muncul pada hernia eksternal dimana benjolan tegang,
lunak, ireponibel, tidak hanya membesar karena reflek batuk dan benjolan
semakin membesar.
Pada ileus obstruksi usus besar juga menimbulkan sakit kolik abdomen yang
sama kualitasnya dengan sakit ileus obstruktif usus halus, tetapi intensitasnya
lebih rendah. Keluhan rasa sakit kadang-kadang tidak ada pada penderita lanjut
usia yang pandai menahan nafsu. Muntah-muntah terjadi lambat, khususnya bila
katup ileocaecal kompeten. Muntah-muntah fekulen paradoks sangat jarang.
Riwayat perubahan kebiasaan berdefekasi dan darah dalam feses yang baru
terjadi sering terjadi karena karsinoma dan divertikulitis adalah penyebab yang
paling sering. Konstipasi menjadi progresif, dan obstipasi dengan ketidakmapuan
mengeluarkan gas terjadi. Gejala-gejala akut dapat timbul setelah satu minggu

(Harrisons, 2001)

3.7 Diagnosis
Anamnesis
Pada anamnesis ileus obstruktif usus halus biasanya sering dapat ditemukan
penyebabnya, misalnya berupa adhesi dalam perut karena pernah dioperasi
sebelumnya atau terdapat hernia (Sjamsuhudajat & Jong, 2004; Sabara, 2007).
Pada ileus obstruksi usus halus kolik dirasakan di sekitar umbilkus, sedangkan
pada ileus obstruksi usus besar kolik dirasakan di sekitar suprapubik. Muntah pada
ileus obstruksi usus halus berwarna kehijaun dan pada ileus obstruktif usus besar
onset muntah lama (Anonym, 2007)
Pemeriksaan Fisik
1

Inspeksi
Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata dehidrasi, yang mencakup
kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. Pada abdomen harus
dilihat adanya distensi, parut abdomen, hernia dan massa abdomen. Terkadang
dapat dilihat gerakan peristaltik usus (Gambar 2.4) yang bisa bekorelasi
dengan mulainya nyeri kolik yang disertai mual dan muntah. Penderita
tampak gelisah dan menggeliat sewaktu serangan kolik (Sabiston, 1995;
Sabara, 2007)

Palpasi
Pada palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum
apapun atau nyeri tekan, yang mencakup defance musculair involunter atau
rebound dan pembengkakan atau massa yang abnormal (Sabiston, 1995;
Sabara, 2007).

Auskultasi
Pada ileus obstruktif pada auskultasi terdengar kehadiran episodik
gemerincing logam bernada tinggi dan gelora (rush) diantara masa tenang.
Tetapi setelah beberapa hari dalam perjalanan penyakit dan usus di atas telah
berdilatasi, maka aktivitas peristaltik (sehingga juga bising usus) bisa tidak
ada atau menurun parah. Tidak adanya nyeri usus bisa juga ditemukan
dalam ileus paralitikus atau ileus obstruksi strangulata (Sabiston, 1995).
Bagian akhir yang diharuskan dari pemeriksaan adalah pemeriksaan
rektum dan pelvis. Ia bisa membangkitkan penemuan massa atau tumor serta
tidak adanya feses di dalam kubah rektum menggambarkan ileus obstruktif
usus halus. Jika darah makroskopik atau feses postif banyak ditemukan di
dalam rektum, maka sangat mungkin bahwa ileus obstruktif didasarkan atas
lesi intrinsik di dalam usus (Sabiston, 1995). Apabila isi rektum
menyemprot; penyakit Hirdchprung (Anonym, 2007).

Radiologi
Pemeriksaan sinar-X bisa sangat bermanfaat dalam mengkonfirmasi
diagnosis ileus obstruktif serta foto abdomen tegak dan berbaring harus
yang pertama dibuat. Adanya gelung usus terdistensi dengan batas udara-cairan
dalam pola tangga pada film tegak sangat menggambarkan ileus obstruksi
sebagai diagnosis. Dalam ileus obstruktif usus besar dengan katup
ileocaecalis kompeten, maka distensi gas dalam kolon merupakan satu-satunya
gambaran penting (Sabiston, 1995). Penggunaan kontras dikontraindikasikan
adanya perforasi-peritonitis. Barium enema diindikasikan untuk invaginasi,
dan endoskopi disarankan pada kecurigaan volvulus (Anoym, 2007).
Laboratorium
Leukositosis, dengan pergeseran ke kiri, biasanya terjadi bila terdapat

strangulasi, tetapi hitung darah putih yang normal tidak menyampingkan


strangulasi. Peningkatan amilase serum kadang-kadang ditemukan pada semua
bentuk ileus obstruktif, khususnya jenis strangulasi (Harrisons, 2001)
6

Pemeriksaan colok dubur


Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease
Adanya darah dapat menyokong adanya strangulasi, neoplasma
Feses yang mengeras : skibala
Feses negatif : obstruksi usus letak tinggi
Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi
Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis

Diagnosis Banding
Ileus dapat disebabkan oleh adanya proses dalam intraabdominal dan
retroperitoneal, termasuk iskemik usus, kolik ureter, fraktur pelvis dan setelah operasi
abdomen. Jika terjadi ileus paralitik, nyeri biasanya tidak terlalu berat dan lebih
konstan.

Obstipasi dan distensi abdomen menunjukkan adanya obstruksi usus besar.


Muntah jarang terjadi dan nyeri tidak bersifat kolik. Diagnosa dapat ditegakkan
berdasarkan adanya hasil foto roentgen yang menunjukkan adanya obstruksi dilatasi
kolon bagian proksimal.
Obstruksi usus halus dapat dikacaukan dengan gastroenteritis akut, apendisitis
akut dan pankreatitis akut. Obstruksi strangulasi mempunyai keluhan yang mirip
dengan pankreatitis akut, enteritis iskemik atau penyumbatan vaskular mesenterika
yang berhubungan dengan trombosis vena. Ileus obstruksi harus dibedakan dengan
ileus paralitik.

Diagnosis Banding
Ileus obstruksi harus dibedakan dengan:
1 Carcinoid gastrointestinal
2 Penyakit Crohn
3 Intussuscepsi pada anak
4 Divertikulum Meckel
5 Ileus meconium
6 Volvulus
7 Infark Myocardial Akut
8 Malignansi, Tumor Ovarium
9 TBC Usus
10 Ileus paralitik

LO.3.8. Tatalaksana
Non-Farmako
Pre medikasi operasi dan tindakan operasi
Bila telah diputuskan untuk tindakan operasi, ada 3 hal yang perlu:
a Berapa lama obstruksinya sudah berlangsung.
b Bagaimana keadaan/fungsi organ vital lainnya, baik sebagai akibat obstruksinya
maupun kondisi sebelum sakit.
c Apakah ada risiko strangulasi.
Kewaspadaan akan resiko strangulasi sangat penting. Pada obstruksi ileus yang ditolong
dengan cara operatif pada saat yang tepat, angka kematiannya adalah 1% pada 24 jam pertama,
sedangkan pada strangulasi angka kematian tersebut 31%. Pada umumnya dikenal 4 macam
(cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi ileus.
a Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana
untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi,
jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.
b Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang melewati bagian usus
yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya.
c Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi, misalnya
pada Ca stadium lanjut.
d Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus
untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinomacolon,
invaginasi strangulata, dan sebagainya.
Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang dilakukan tindakan operatif bertahap, baik
oleh karena penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca
sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi
usus dan anastomosis.
Persiapan-persiapan sebelum operasi:
1 Pemasangan pipa nasogastrik. Tujuannya adalah untuk mencegah muntah,
mengurangi aspirasi dan jangan sampai usus terus menerus meregang akibat
tertelannya udara (mencegah distensi abdomen).
2 Resusitasi cairan dan elektrolit. Bertujuan untuk mengganti cairan dan elektrolit yang
hilang dan memperbaiki keadaan umum pasien.
3 Pemberian antibiotik, terutama jika terdapat strangulasi.
Operasi:
Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan organ-organ vital berfungsi
secara memuaskan. Kalau obstruksi disebabkan karena hernia skrotalis, maka daerah tersebut
harus disayat. Kalau tidak terpaksa harus dilakukan penyayatan abdomen secara luas. Perincian
operatif tergantung dari penyebab obstruksi tersebut. Perlengketan dilepaskan atau bagian yang
mengalami obstruksi dibuang. Usus yang mengalami strangulasi dipotong.
Tergantung dari etiologi masing-masing :
Adhesi: pada operasi, perlengketan dilepaskan dan pita dipotong agar pasase usus pulih
kembali.
Hernia inkarserata: dapat dilakukan Herniotomi untuk membebaskan usus dari jepitan.

Neoplasma: operasi berupa pengangkatan tumor. Pada tumor jinak pasase usus harus
dipulihkan kembali, sedangkan pada tumor ganas sedapat mungkin dilakukan reseksi
radikal.
Askariasis: jika terdapat obstruksi lengkap, atau jika pengobatan konservatif tidak
berhasil dapat dilakukan operasi dengan jalan enterotomi untuk mengeluarkan cacing,
tapi apabila usus sudah robek, atau mengalami ganggren dilakukan reseksi bagian usus
yang bersangkutan.
Carsinoma Colon: operasi dengan jalan reseksi luas pada lesi dan limfatik regionalnya.
Apabila obstruksi mekanik jelas terjadi, maka diperlukan persiapan Colostomi atau
Sekostomi.
Divertikel: reseksi bagian colon yang mengandung divertikel dapat dikerjakansecara
elektif setelah divertikulitis menyembuh. Dapat dianjurkan untuk menempatkan
colostomy serendah mungkin, lebih disukai dalam colon desendens, atau colon
sigmoideum. Untuk memungkinkan evaluasi melalui colostomy dan mencegah
peradangan lebih lanjut pada tempat abses. Reseksi sigmoid biasanya dilakukan dengan
cara Hartman dengan colostomy sementara. Cara ini, dipilih untuk menghindari resiko
tinggi gangguan penyembuhan luka anastomosis yang dibuat primer dilingkungan
radang. Prosedur Hartman jauh lebih aman karena anastomosis baru dikerjakan setelah
rongga perut dan lapangan bedah bebas kontaminasi dan radang.
Volvulus: pada volvulus sekum dilakukan tindakan operatif yaitu melepaskan volvulus
yang terpelintir dengan melakukan dekompresi dengan sekostomi temporer, yang juga
berefek fiksasi terhadap sekum dengan cara adhesi.Jika sekum dapat hidup dan tidak
terdistensi tegang, maka detorsi dan fiksasi sekum di qudran bawah bisa dicapai.Pada
volvulus sigmoid jika tidak terdapat strangulasi, dapat dilakukan reposisi sigmoidoskopi.
Cara ini sering meniadakan volvulus dini yang diikuti oleh keluarnya flatus. Reposisi
sigmoidodkopi yang berhasil pada volvulus dapat dicapai sekitar 80% pasien. Jika
strangulasi ditemukan saat laparatomi, maka reseksi gelung sigmoideum yang
gangrenous yangdisertai dengan colostomi double barrel atau coloctomi ujung bersama
penutup tunggal rectum (kantong Hartman) harus dilakukan.
Intusussepsi: sebelum dilakukan tindakan operasi, dilakukan terlebih dahulu dengan
reduksi barium enema, jika tidak ada tanda obstruksi lanjut atau perforasi usus halus.Bila
reduksi dengan enema tidak dapat dilaksanakan maka dilakukan operasi berupa eksplorai
abdomen melalui suatu insisi transversal pada quadran kanan bawah. Intusussepsi
tersebut kemudian direduksi dengan kompressi retrograde dari intusussepsi secara hatihati. Reseksi usus diindikasikan bila usus tersebut tidak dapat direduksi atau usus tersebut
ganggren.Intervensi bedah untuk obstruksi usus pasca bedah harus direncanakan bila
pasien mempunyai bukti obstruksi gelung tertutup atau lengkap atau untuk kecurigaan
volvulus dengan gangren usus. Varian obstruksi usus pasca bedah yang lebih parah ini
bisa karena herniasi interna melalui cacat mesentrium atau karena perlekatan padat,
keadaan yang tak mungkin beresolusi spontan. Pada pasien demikian, tanpa peritonitis
dengan demam, nyeri tekan lepas dan leukositosis sering tampil.

Pasca Bedah:
Suatu problematik yang sulit pada keadaan pasca bedah adalah distensi usus yang masih
ada. Pada tindakan operatif dekompressi usus, gas dan cairan yang terkumpul dalam lumen usus

tidak boleh dibersihkan sama sekali oleh karena catatan tersebut mengandung banyak bahanbahan digestif yang sangat diperlukan. Pasca bedah tidak dapat diharapkan fisiologi usus
kembali normal, walaupun terdengar bising usus. Hal tersebut bukan berarti peristaltik usus telah
berfungsi dengan efisien, sementara ekskresi meninggi dan absorpsi sama sekali belum baik.
Sering didapati penderita dalam keadaan masih distensi dan disertai diare pasca bedah.
Tindakan dekompressi usus dan koreksi air dan elektrolit serta menjaga keseimbangan asam basa
darah dalam batas normal tetap dilaksanakan pada pasca bedahnya. Pada obstruksi yang lanjut,
apalagi bila telah terjadi strangulasi, monitoring pasca bedah yang teliti diperlukan sampai
selama 6 7 hari pasca bedah. Bahaya lain pada masa pasca bedah adalah toksinemia dan sepsis.
Gambaran kliniknya biasanya mulai nampak pada hari ke 4-5 pasca bedah. Pemberian
antibiotika dengan spektrum luas dan disesuaikan dengan hasil kultur kuman sangatlah penting.
Farmako
OBAT ANTIEMETIK
Antagonis reseptor H1
Antagonis reseptor muskarinik
Antagonis reseptor dopamin
Antagonis reseptor serotonin
Cannabinoid
Steroid
Antagonis reseptor H1

Cinnarizine, cyclizine, dimenhydrinate, promethazine


Tidak dapat digunakan utk mual-muntah krn rangsangan pada CTZ
Efektif utk mabuk kendaraan dan mual-muntah krn rangsangan pada lambung
Diberikan sebelum timbul gejala mual-muntah
Puncak antiemetik : 4 jam, bertahan selama 24 jam
KI : wanita hamil trimester I (kec. Promethazine)

Antagonis reseptor muskarinik

Hyoscine
Untuk mual-muntah krn gangguan labirin dan rangsangan lokal di lambung
Tidak dapat digunakan utk mual muntah krn rangsangan pada CTZ
Puncak antiemetik : 1-2 jam
ES : drowsiness, mulut kering, penglihatan kabur, retensi urin

Antagonis reseptor dopamin

Metoklopramid
- Bekerja di CTZ

P.o., T1/2 4 jam, ekskresi via urine


ES : krn blokade reseptor dopamin di SSP gangguan pergerakan pada anak2
dan dewasa muda, mengantuk, fatigue/lemah
Stimulasi release prolaktin galaktore dan gangguan menstruasi
Efek pada motilitas usus diare

Domperidone
- Antagonis reseptor D2
- Antiemetik untuk vomitting postoperatif dan akibat kemoterapi kanker
- ES : diare

Phenothiazine
- Neuroleptik : chlorpromazine, prochlorperazine, trifluoperazine dpt sebagai
antiemetic
- Triethylperazine hny sbg antiemetic
- Dapat digunakan utk vomitting krn rangsangan pada CTZ
- Tidak efektif utk muntah krn rangsangan di lambung
- Cara kerja antagonis reseptor D2 di CTZ, menghambat reseptor histamin dan
muskarinik
- Pemberian p.o., rektal, atau parenteral

Antagonis serotonin

Serotonin (5-hidroksitriptamin) a direlease oleh CNS atau lambung a transmitter emesis


Antagonis serotonin : ondansetron, granisetron
Sangat baik utk terapi mual-muntah akibat obat sitotoksik
Pemberian p.o, injeksi IV pelan, infus
T1/2 5 jam
ES : sakit kepala, gangguan GIT

Cannabinoid

Nabilone derivat cannabinol sintetik menurunkan muntah krn rangsangan pada CTZ
Pemberian : p.o, absorpsi baik
T1/2 120 menit, ekskresi via urine dan feses
ES : jarang, a. l. drowsiness, dizziness, mulut kering, perubahanmood, hipotensi postural,
halusinasi, dan reaksi psikotik

Steroid

Dosis tinggi, dpt digunakan sendiri atau kombinasi dgn obat lain
Glukokortikoid deksametason dan metilprednisolon
Mekanisme kerja blm diketahui
Sinergisme dg ondansetron

MOTILITAS GIT
1. Meningkatkan Pergerakan :
Pencahar
Tanpa Efek Pencahar
PENCAHAR
Bulk Laxative Meningkatkan Volume Residu Padat Yg Tidak Diabsorpsi
Osmotic Laxative Meningkatkan Jumlah Air
Faecal Softener Mengubah Konsistensi Faeces
Stimulant Purgative Meningkatkan Motilitas Dan Sekresi
Bulk Laxative

Metilselulose, sterculia, agar, bran, ispaghula husk


Polimer polisakarida a tidak dapat dipecah
Mekanisme kerja a menahan air di lumen usus merangsang peristaltis a beberapa hari
ES : ringan

Osmotic Laxative

Pencahar salin dan laktulosa cairan yg absorpsinya jelek meningkatkan volume


cairan di lumen bowel mempercepat transfer makanan ke usus halus massa yg
sangat besar masuk kolon distensi ekspulsi faeces
Pencahar salin garam MgSO4 dan Mg(OH)2
Laktulosa disakarida semisintetik fruktosa dan galaktosa bakteri di kolon
fermentasi asam laktat dan asam asetat osmotik laksatif
Efek baru timbul 1 2 hari

Faecal Softener

Docusate sodium
Menghasilkan feses yg lebih lumak
Efek stimulan laksatif lemah

Stimulant Purgative

Bisacodyl, sodium picosulfat, preparat senna


Meningkatkan peristaltis dengan cara stimulasi mukosa usus
ES : kram abdomen, jangka panjang atonia colon

Bisacodyl p.o. atau suppositoria efek laksan 15-30 menit


Sodium picosulfat p.o.
Preparat senna dosis tunggal efek laksan dalam 8 jam

OBAT YG MENINGKATKAN MOTILITAS GIT


DOMPERIDONE

Antagonis reseptor D2 a antiemetic


Memblok adrenoreseptor a-1 dan menurunkan efek relaksannya a menurunkan tekanan
sfingter esofagus bawah a meningkatkan motilitas GIT
Tidak menstimulasi sekresi asam lambung
Digunakan untuk gangguan pengosongan lambung dan refluks esofagitis kronis
ES : hiperprolaktinemia

METOKLOPRAMID

Efek sentral antiemetic


Efek lokal percepatan pengosongan lambung tanpa menstimulasi sekresi asam
lambung
Efeknya kecil pada motilitas usus bag. Bawah
Digunakan untuk refluks gastroesofagus dan gangguan pengosongan lambung
Tidak dapat digunakan untuk ileus paralitik

CISAPRIDE

Menstimulasi release ACh pada pleksus myenterik di GIT bag. Atas


Digunakan utk refluks esofagitis dan gangguan pengosongan lambung
Tidak mempunyai efek antiemetic
ES : diare, kram abdomen, takikardi (jarang)
LO.3.9. Komplikasi Obstruksi Ileum

Jika pengobatan tertunda, dehidrasi dan mengakibatkan ketidakseimbangan elektrolit


dapat mempersulit pengobatan, atau dehidrasi dapat berkembang menjadi syok hipovolemik,
yang sering fatal. Pengobatan tertunda secara signifikan dapat meningkatkan morbiditas dan
mortalitas. Usus dapat menjadi berlubang, kadang-kadang melalui titik lemah yang sudah ada
(divertikulum), yang dapat mengakibatkan peritonitis . abses perut , luka pecah
(dehiscence), sepsis , dan infeksi pasca operasi dapat terjadi. Pada 5% sampai 42% dari
kasus, usus kecil dapat menjadi terjepit dan suplai darah berkurang serius (Khan). Hal ini
dapat menyebabkan gangren dan nekrosis berikutnya jaringan usus, komplikasi yang sangat
serius dengan tingkat kematian yang tinggi.
Komplikasi mungkin termasuk atau dapat menyebabkan:

Elektrolit (kimia darah dan mineral) ketidakseimbangan dehidrasi , Lubang (perforasi)


pada usus infeksi, Penyakit kuning (menguningnya kulit dan mata), Jika obstruksi blok suplai
darah ke usus, dapat menyebabkan infeksi dan kematian jaringan (gangren).
Risiko kematian jaringan terkait dengan penyebab penyumbatan dan berapa lama telah
hadir. Hernia, volvulus, dan intususepsi membawa risiko gangren yang lebih tinggi.
Pada bayi yang baru lahir, ileus paralitik yang menghancurkan dinding usus (necrotizing
enterocolitis) adalah mengancam nyawa dan dapat menyebabkan infeksi darah dan paru-paru

Peritonitis septikemia
Syok hipovolemia
Perforasi usus
ganguan elektrolit
pnemonia aspirasi dari proses muntah
sepsis
nekrosis usus
perfusi usus

3.10. Pencegahan dan Prognosis Obstruksi Ileum


Pencegahan Primordial
Pencegahan primordial merupakan upaya pencegahan pada orang-orang yang belum
memiliki faktor risiko terhadap ileus obstruktif. Biasa dilakukan dengan promosi kesehatan atau
memberikan pendidikan kesehatan yang berkaitan ileus obstruktif atau dengan melakukan
penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam menjaga
kesehatannya oleh kemampuan masyarakat.
Pencegahan Primer
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya mempertahankan orang yang agar
tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer berarti mencegah
terjadinya ileus obstruktif. Upaya pencegahan ini dimaksudkan untuk mengadakan pencegahan
pada masyarakat. Pencegahan primer yang dilakukan antara lain :
a Bergaya hidup sehat dengan cara menjaga diri dan lingkungannya
b Dengan meningkatkan asupan makanan bergizi yang meningkatkan daya tahan tubuh
c Diet Serat. Berbagai penelitian telah melaporkan hubungan antara konsumsi serat dan
insidens timbulnya berbagai macam penyakit. Hasil penelitian membuktikan bahwa diet
tinggi serat mempunyai efek proteksi untuk kejadian penyakit saluran pencernaan.
d Untuk mencegah hernia, hindari angkat berat, yang meningkatkan tekanan didalam perut
dan mungkin memaksa satu bagian dari usus untuk menonjol melalui daerah rentan
dinding perut.
Pencegahan sekunder
dilakukan terhadap ileus obstruktif adalah dengan cara mendeteksi secara dini, dan
mengadakan penatalaksanaan medik untuk mengatasi akibat fatal ileus obstruktif
Pencegahan tertier

untuk mengurangi ketidakmampuan, mencegah kecacatan dan menghindari komplikasi


yang dapat memperparah keadaan. Tindakan perawatan post operasi serta melakukan
mobilitas/ambulasi sedini mungkin.

Prognosis Obstruksi Ileum


Obstruksi usus halus yang tidak mengakibatkan strangulasi mempunyai angka
kematian 5 %. Kebanyakan pasien yang meninggal adalah pasien yang sudah lanjut usia.
Obstruksi usus halus yang mengalami strangulasi mempunyai angka kematian sekitar 8
% jika operasi dilakukan dalam jangka waktu 36 jam sesudah timbulnya gejala-gejala,
dan 25 % jika operasi diundurkan lebih dari 36 jam. Pada obstruksi usus besar, biasanya
angka kematian berkisar antara 1530 %. Perforasi sekum merupakan penyebab utama
kematian yang masih dapat dihindarkan.
L.I.4. Memahami Dan Menjelaskan tentang Pemeriksaan Lain pada Obstruksi Ileus
Radiologi : Pemeriksaan sinar-X bisa sangat bermanfaat dalam mengkonfirmasi diagnosis ileus
obstruktif serta foto abdomen tegak dan berbaring harus yang pertama dibuat. Adanya
gelung usus terdistensi dengan batas udara-cairan dalam pola tangga pada film tegak sangat
menggambarkan ileus obstruksi sebagai diagnosis. Dalam ileus obstruktif usus besar
dengan katup ileocaecalis kompeten, maka distensi gas dalam kolon merupakan satu-satunya
gambaran penting. Penggunaan kontras dikontraindikasikan adanya perforasi-peritonitis.
Barium enema diindikasikan untuk invaginasi, dan endoskopi disarankan pada kecurigaan
volvulus
Dapat pula ditemukan :
1 Ileus obstruksi letak tinggi :
Dilatasi di proximal sumbatan (sumbatan paling distal di ileocecal junction)
dankolaps usus di bagian distal sumbatan.
Coil spring appearance
Herring bone appearance
Air fluid level yang pendek-pendek dan banyak (step ladder sign)
2

Ileus obstruksi letak rendah :


Gambaran sama seperti ileus obstruksi letak tinggi
Gambaran penebalan usus besar yang juga distensi tampak pada tepi abdomen Air
fluid level yang panjang-panjang di kolon. Sedangkan pada ileus paralitik gambaran
radiologi ditemukan dilatasi usus yang menyeluruhdari gaster sampai rectum.
ditemukan dilatasi usus yang menyeluruhdari gaster sampai rectum.

2.10 Step
sign

Gambar
ledder
(Nobie, 2009)

BNO 3 posisi : pemeriksaan radiografi pada daerah abdomen khususnya untuk melihat kelainan
yang ada di tractus digestivus. Posisi AP untuk melihat ada atau tidaknya penebalan / distensi
pada kolon yang disebabkan massa atau gas, posisi setengah duduk untuk menampakan udara
bebas di bawh diaphragm dan LLD untuk memperlihatkan air fluid level atau udara bebas
BNO 3 POSISI
1. ABDOMEN AP
Posisi Pasien : Pasien supine diatas meja pemeriksaan, MSP tubuh berada di pertengahan
meja. kedua tangan diatur lurus disamping tubuh dan kedua kaki diatur lurus.

Posisi Objek : aturlah kaset agar batas atas kaset pada diafragma, batas bawah pada
simfisis pubis dan crista iliaca berada dipertengahan. Pelvis TIDAK mengalami rotasi
(terlihat dari kedua SIAS berjarak sama dikedua sisinya)

CR : vertikal tegak lurus ke kaset, pusat sinar diatur sejajar dengan crista iliaca

FFD : 100 cm

Lakukan eksposi saat pasien tahan nafas setelah ekspirasi penuh (aba-abanya : buang
nafas.. tahan!!! atau tahan nafas!!! lalu ekspos.

2. ABDOMEN SETENGAH DUDUK


Posisi Pasien : pasien duduk diatas meja pemeriksaan dengan menempatkan MSP tubuh
sejajar kaset, kedua tangan lurus disamping tubuh dan kedua kaki diatur lurus.

Posisi Objek : kaset berada dibelakang tubuh pasien, aturlah kaset dengan batas atas
procxypoid dan batas bawahnya simfisis pubis, pelvis dan shoulder TIDAK mengalami
rotasi.

CR : horisontal tegak lurus ke kaset, pusat sinar diatur sejajar dengan crista iliaca
(umbilikus)

FFD : 100 cm

jangan lupa memakai grid

Lakukan eksposi saat pasien tahan nafas setelah ekspirasi penuh (aba-abanya : buang
nafas.. tahan!!! atau tahan nafas!!! lalu ekspos.)

3. ABDOMEN LLD
Posisi Pasien : Pasien tidur miring ke sisi kiri, kedua genue ditekuk (difleksikan), kedua
tangan diletakkan ditas kepala

Posisi Objek : aturlah kaset agar batas atas kaset pada diafragma, batas bawah pada
simfisis pubis dan crista iliaca berada dipertengahan. kaset berada dibelakang punggung.

CR : horizontal sejajar kaset, pusat sinar diatur sejajar dengan crista iliaca.

FFD : 100 cm

Lakukan eksposi saat pasien tahan nafas setelah ekspirasi penuh (aba-abanya : buang
nafas.. tahan!!! atau tahan nafas!!! lalu ekspos.)

Laboratorium: Leukositosis, dengan pergeseran ke kiri, biasanya terjadi bila terdapat


strangulasi, tetapi hitung darah putih yang normal tidak menyampingkan strangulasi.
Peningkatan amilase serum kadang-kadang ditemukan pada semua bentuk ileus obstruktif,
khususnya jenis strangulasi.

PEMERIKSAAN LAIN
COLOK DUBUR
Umumnya dilakukan dengan sikap litotomi, dapat ditunjang dengan alat anoskop atau
sigmoidoskop. Posisi yang nyaman untuk pasien adalah posisi Sims, yaitu pasien tidur terlentang
pada sisi kiri dengan kedua lutut ditekuk. Buli-buli harus dikosongkan dahulu agar tidak terdapat
penilaian yang keliru.
1 Inspeksi pada daerah perianal dan sakrokoksigeal. Dapat dijumpai:
Lesi anal, dan perianal, seperti prolapse hemoroid, yang biasanya dijumpai pada
arah pukul 4,7,11 dan berwarna livid.
Prolaps rectum, dengan lipatan mukosa melingkar konsentris dan berwarna merah
Fisura ani, yang berupa lesi di anal-kanal yang nyeri bila ditekan biasanya
dijumpai arah pukul 6 dan disertai dengan skin tag
Kondoloma akuminata atau kondiloma lata
2 Memasukan jari telunjuk bersarung tangan yang telah dilumuri pelumas dengan lembut
melalui anus

Pada laki-laki dapat digunakan titik acuan berupa kelenjar prostat disebelah
ventral
Pada perempuan titik acuan serviks uteri disebelah ventral
Penilaian terhadap:
Tonus sfingter ani: jari telunjuk terjepit menunjukan kontraksi sfingter ani
Reflex bulbokavernosus: memencet glans penis
Ampula rectum: menganga seperti pada peritonitis atau kolaps seperti pada
ileus obstruktif
Mukosa dinding rectum: dinilai dengan melingkar memutar jari telunjuk
menurut arah jarum jam dan melawan arah jarum jam. Hemoroid interna tidak
teraba, polip rektuk teraba licin lunak dan mungkin bertangkai, karsinoma
teraba keras berbenjol dan tidak teratur

LI 5.Memahami dan Menjelaskan tentang Operasi dan Colok Dubur Menurut


pandangan Agama Islam
Terkadang seorang muslim diuji oleh Allah dengan suatu penyakit, dia ingin
sembuh dari penyakit tersebut, dia mengetahui bahwa berobat dianjurkan, akan tetapi
penyakit di mana dia diuji oleh Allah dengannya, jalan menuju kepada kesembuhannya
menurut para dokter adalah operasi.
Tidak sedikit penyakit di mana kesembuhannya tergantung setelah Allah
kepada operasi medis, tanpa operasi penyakit penderita akan memburuk dan
membahayakannya, jika tim medis melakukannya dan penderita sembuh dengan izin
Allah berarti mereka telah menyelamatkannya. Tanpa ragu ini termasuk perbuatan yang
dipuji oleh ayat di atas. Adapun dari sunnah maka ada beberapa hadits yang bisa
dijadikan pijakan dalam menetapkan dibolehkannya operasi medis, di antaranya:
1. Hadits hijamah (berbekam)
Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw berbekam di kepalanya. (HR. Al-Bukhari). Dari
Jabir bahwa dia menjenguk orang sakit. Dia berkata, Aku tidak meninggalkan
tempat ini sebelum kamu berbekam karena aku mendengar Rasulullah saw
bersabda, Padanya terdapat kesembuhan. (HR. Al-Bukhari). Hadits tersebut
menetapkannya disyariatkannya hijamah dan sudah dimaklumi bahwa hijamah
dilakukan dengan membedah atau menyayat tempat tertentu pada tubuh untuk
menyedot darah kotor dan membuangnya. Jadi disyariatkannya hijamah
merupakan dasar dibolehkannya membedah tubuh untuk membuang penyakit atau
penyebab penyakit.
2. Hadits Jabir bin Abdullah
Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah SAW mengirim seorang tabib kepada
Ubay bin Kaab maka tabib tersebut memotong pembuluh darahnya dan
menempelnya dengan besi panas. (HR. Muslim). Dalam hadits ini Nabi
SAW menyetujui apa yang dilakukan oleh tabib tersebut terhadap Ubay
bin Kaab, dan apa yang dilakukan oleh tabib tersebut adalah salah satu bentuk
operasi medis yaitu pemotongan terhadap anggota tertentu. Kemudian dari sisi
pertimbangan kebutuhan penderita kepada operasi yang tidak lepas dari dua
kemungkinan yaitu menyelamatkan hidup dan menjaga kesehatan,

pertimbangan yang dalam kondisi tertentu bisa mencapai tingkat dharurat maka
tidak ada alasan yang rajih menolak operasi medis.
Syariat
Islam tidak melarang operasi medis secara mutlak dan tidak
membolehkan secara mutlak, syariat meletakkan larangan pada tempatnya dan
pembolehan pada tempatnya, masing-masing diberi hak dan kadarnya. Jika operasi
medis memenuhi syarat-syarat yang diletakkan syariat maka dibolehkan karena dalam
kondisi ini target yang diharapkan yaitu kesembuhan dengan izin Allah bisa diwujudkan,
sebaliknya jika tim medis berpandangan bahwa operasi tidak bermanfaat, tidak
mewujudkan sasarannya atau justru menambah penderitaan penderita maka dalam
kondisi ini syariat melarangnya.
Inilah syarat-syarat dibolehkannya operasi medis yang diletakkan oleh fuqaha
Islam dalam buku-buku mereka, syarat-syarat ini diambil dari dasar-dasar kaidah syariat.
1) Hendaknya operasi medis disyariatkan.
2) Hendaknya penderita membutuhkannya.
3) Hendaknya penderita mengizinkan.
4) Hendaknya tim medis menguasai.
5) Hendaknya peluang keberhasilan lebih besar.
6) Hendaknya tidak ada cara lain yang lebih minim mudharatnya.
7) Hendaknya operasi medis berakibat baik.
8) Hendaknya operasi tidak berakibat lebih buruk daripada penyakit penderita
Perlakuan operasi menurut syariat hukumnya mubah yang bertujuan untuk
kemaslatan hidup disamping memberikan dorongan hidup dan lepas dari najis,dampak
negatif pada tubuh dan ancaman kematian serta merubah sunnatullah.

Firman Allah, Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka
seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Al-Maidah: 32).
Colok dubur dalam islam
Semua harus dilandasi dengan takwa dan rasa takut kepada Allah, Allah Taala
menyebutkan dalam firman-Nya surat al-Anam ayat 119:

(padahal) sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya


atasmu. Kecuali apa yang terpaksa.

DAFTAR PUSTAKA
Anonym. Mechanical Intestinal Obstruction. http://www.Merck.com .(diakses 18 Mei 2016)
Anonymous.
Ileus.
[Online].2016
Mei
from:URL:http://medlinux.blogspot.com/2007/09/ileus.html.

[6

screens].

Available

Biley & Loves . Short Practice of Surgery Ed: 26th by Norman S. Williams , Christopher JK
Bulstrode (Editor), P. Ronan O'Connell(Editor)
Ganiswara, SG, Setiabudy, R, Suyatna, FD, dkk, (2006), Farmakologi Dan Terapi, Edisi 5, Gaya
Baru, Jakarta
http://www.fk.uwks.ac.id/elib/.../TRAKTUS%20GASTROINTESTINAL (diakses 17 Mei 2016)
http://ilmubedah.info/ileus-obstruksi-definisi-etiologi-gambaran-klinik-diagnosis-terapiprognosis (diakses 18 Mei 2016)
http://www.infokedokteran.com (diakses 17 Mei 2016)
http://www.suara-islam.com/index.php (diakses 17 Mei 2016)
http://www.mdguidelines.com/intestinal-obstruction (diakses 16 Mei 2016)
Price, SA ., Wilson, LM . 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Vol 1. Ed. 6.
Jakarta : EGC.
Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi vol.2 . Ed. 7. Jakarta : EGC. 648-649
Sjamsuhidajat r, De Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC,2003.
Sofwan, Achmad. 2014. Tractus Digestivus. Fakultas Kedokteran YARSI