Anda di halaman 1dari 13

BAB 5

MEKANIKA BENDA LANGIT DAN GRAVITASI


NEWTON
Hukum Kepler merupakan hokum empiris, artinya didapatkan oleh Kepler dengan melihat
pola-pola keteraturan dalam kumpulan data-data yang ia telah kumpulkan bersama gurunya, Tycho
Brahe selama berahun-tahun. Pertanyaan yang lebih mendalam tidak cukup hanya dijawab dengan
pola-pola keteraturan dalam data-data itu, melainkan harus dapat mengemukakan alasan atas
adanya pola-pola keteraturan semacam itu. Mengapa hukum Kepler harus berlaku? Hukum
mendasar apa yang dapar menjelaskan berlakuknya hukum-hukum Kepler? Pertanyaan mendasar
ini dijawab secara tuntas oleh Isac Newton dengan dua teori, mekanika Newton dan teori gravitasi
dalam buku klasiknya, Philosophi Naturalis Principia Mathematica. Dengan tiga hukum
tentang gerak dan hukum tentang ravitasi, ketiga hukum Kepler tentang pergerakan planet-planet
dapat diturunkan, bahkan dalam konteks yang lebih umum. Bagian ini hendak membahas masalah
itu lebih rinci, selain membicarakan masalah banyak benda yang merupakan permasalahan penting
dalam dinamika benda-benda langit.
5.1 Medan Sentral
Medan gaya terpusat adalah medan gaya yang berarah menuju ke sebuah titik (disebut
pusat medan) dan besarnya hanya bergantung pada jarak dari titik tersebut. Oleh karena itu, medan
gaya terpusat dapat dituliskan sebagai

() = () ,

= || 0,

(5.1)

dengan () sebuah fungsi bernilai real yang hanya bergantung pada jarak dari pusat medan, .
Sekarang hendak ditinjau partikel bermassa m yang berada di bawah pengaruh medan gaya
terpusat itu. Momen gaya yang diimbas oleh medan gaya tersebut relatif terhadap pusat koordinat
(0,0,0) lenyap :
= = (()/)( ) = .
Akibatnya, berdasarkan hukum Newton tentang gerak rotasi, momentum sudut partikel itu tetap.
Jadi, berlaku persamaan
= = tetapan.

(5.2)

Akibatnya selanjutnya, partikel itu bergerak dengan lintasan atau orbit yang berada pada bidang
datar yang melalui titik pangkal (0,0,0) dan tegak lurus pada vektor L (Mengapa?). Bidang tersebut
ditentukan dari posisi awal dan kecepatan awal partikel.
Tanpa mengurangi keumuman, misalkan bidang-xy dipilih sebagai bidang orbit bagi benda
tersebut dan vektor momentum sudut L mengarah sepanjang sumbu-z positif. Jadi, = . Untuk
lebih jelasnya, lihat Gambar 5.1.

lintasan partikel

Gambar 5.1 Medan gaya tepusat dan bidang lintasan partikel

Dalam tata koordinat polar, komponen momentum sudut sepanjang sumbu-z diberikan oleh
= ( ) = 2 ,

(5.3)

dengan = /, = /, dan = /. Apa akibat lain dengan tetapnya momentum


sudut partikel dalam medan terpusat itu? Lihat Gambar 5.2 yang menggambarkan vektor posisi
benda pada saat dan + . Dari gambar itu tampak jelas bahwa luasan yang disapu oleh vektor
posisi selama selang waktu itu adalah = 2 . Luas wilayah yang disapu oleh vektor
posisi itu dari saat 0 sampai dengan diberikan oleh
1 () 2
1 2
1

() = () =
=
=
,
2 (0)
2 0
2 0
2

(5.4)

yaitu mengingat bahwa momentum sudut partikel tetap. Oleh karena itu didapatkan kesimpulan
penting yang termaktub dalam teorema berikut.
Teorema :
Laju perubahan luas wilayah yang disapu oleh vektor posisi sebuah partikel yang bergerak di
bawah pengaruh medan gaya terpusat, yaitu
() = /2,
(5.5)
bersifat tetap.

Teorema di atas merupakan hukum kedua Kepler dalam bentuk yang umum karena terkait dengan
gaya terpusat yang umum.

= 2 /2

Gambar 5.2 luas


wilayah yang disapu
vektor posisi yang
beranjak sejauh .

r
O
5.2 Persamaan Gerak dan Persamaan Orbit

Setiap partikel yang berada di bawah pengaruh medan gaya terpusat selalu terkait dengan
energi potensial () sedemikian rupa sehingga


() = () =
.

(5.6)

Dari hukum kedua Newton tentang gerak didapat


() =

2

=
.
2

(5.7)

Jika diperkenalkan dua vektor satuan yang saling tegak lurus


= cos + sin
dan
= sin + cos ,
kemudian menyisipkan keduanya ke dalam persamaan hukum Newton (5.7), akan diperoleh
1 2
( ) = 2 + = 0
2
dan

(5.8)

2 =

(5.9)

Persamaan (5.8) dan (5.9) dapat pula diperoleh melalui persamaan Euler-Lagrange dalam
mekanika analitik setelah perumusan fungsi Lagrange sebagai selisih antara energi kinetik pertikel
dan energi potensialnya. Selanjutnya, apabila didefinisikan energi potensial efektif
2
() = () +
,
2 2

(5.10)

maka

()
= .

(5.11)

Suku kedua ruas kanan persamaan (5.10) disebut energi potensial sentrifugal dan menjadikan
energi potensial efektif lebih dangkal jika dibandingkan dengan energi potensial awal. Keberadan
energi potensial sentrifugal ini yang menjaga benda titik bermassa itu jatuh ke pusat medan
gaya. Selanjutnya energi keseluruhan partikel itu dapat dihitung dari
=

1
1
2 + () = 2 + ().
2
2

(5.12)

Jika sebagai fungsi waktu bersifat monoton, maka memiliki invers. Dengan sedikit trik
kalkulus


=
=
.
(5.13)

2
Karena energi total benda itu lestari atau tetap, maka akan didapatkan

2 2
( ()).
=

(5.14)

Oleh karena itu, hubungan antara r dan (yakni persamaan orbit) diperoleh dari persamaan

,
2 2 ( )
0

0 =

(5.15)

dengan 0 = (0 ). Persamaan (5.15) merupakan persamaan orbit umum untuk sembarang medan
energi potensial terpusat. Jika medan potensial terpusat diberikan, maka secara prinsip persamaan
itu memberikan jalan untuk mendapatkan lintasan atau orbit partikel dalam potensial terpusat itu.
Dengan menggunakan metode komputasional (numerik) yang mapan dan didukung oleh program
komputer serta kecepatan komputer yang memadai, perhitungan persamaan (5.15) praktis selalu
dapat dilakukan.

Selanjutnya, dengan menyisipkan = 1/ ke dalam persamaan (5.11), didapat bentuk


lain persamaan orbit, yaitu
2

= 2
(1 ).
2

(5.16)

1 2 2
=
( ) + (1 ).
2

(5.17)

Di samping itu, didapatkan pula

5.3 Gravitasi Newton dan Potensial Kepler


Gravitasi adalah interaksi paling lemah di antara interaksi-interaksi mendasar yang lain semisal
elektromagnetik, interaksi kuat (yang bertanggung jawab terhadap bersatunya proton-proton dan
netron-netron dalam inti atom) dan interaksi lemah (yang bertanggung jawab terhadap adanya
peluruhan beta). Oleh karena interaksi gravitasi sangat lemah, gravitasi dapat diabaikan semisal
dalam kajian partikel-partikel elementer. Bukan hanya itu, gravitasi pun terlalu lemah untuk dapat
diamati, semisal antara benda-benda seukuran buah kelapa, bahkan juga untuk benda-benda yang
memiliki massa beribu-ribu kilogram. Interaksi gravitasi baru teramati apabila benda-benda yang
terlibat dalam sistem memiliki ukuran (dalam hal ini massa) yang sangat besar seperti Bulan,
Bumi, planet-planet, Matahari, dan bintang-bintang, serta benda-benda langit lainnya. Kekuatan
interaksi gravitasi kira-kira 1038 kali interaksi kuat, 1036 kali interaksi elektromagnetik, dan
1025 kali interaksi lemah. Interaksi gravitasi memiliki jangkauan tak terhingga sama seperti
interaksi elektromagnetik. Sementara jangkauan untuk interaksi kuat dan lemah berturut-turut
hanya 1015 m dan 1018 m.
Menurut Newton, gravitasi adalah gaya yang bergantung pada banyaknya zat yang dikandung
oleh benda-benda yang berinteraksi dan jarak antara kedua benda itu. Gaya gravitasi antara dua
benda titik berbanding lurus dengan banyaknya zat yang dikandung oleh benda titik itu, yakni
massa benda titik itu, dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda titik itu.
Arah gaya gravitasi yang dialami oleh sebuah benda titik itu menuju ke arah benda titik yang lain.
Oleh karena itu, gaya gravitasi 21 yang dialami oleh benda titik kedua karena tarikan benda titik
pertama diberikan oleh (Rosyid, dkk. 2015)
21 =

1 2
( 1 ),
|2 1 |3 2

(5.18)

dengan dan 2 berrturut-turut adalah vektor posisi benda pertama dan benda kedua, sedangkan
1 dan 2 berturut-turut merupakan massa gravitasional benda pertama dan benda kedua. Tetapan
disebut tetapan gravitasi umum dengan nilai 6,67545 1011 N. m2 kg 2 yang tidak ditemukan
sendiri oleh Newton. Bahkan hingga saat ini, upaya pengukuran tetapan ini secara lebih teliti masih
berlangsung. Persamaan (5.18) dapat ditulis dalam bentuk
21 =

1 2 (2 1 ) 1 2 21
=
,
2
|2 1 |2 |2 1 |
21
21

(5.18)

dengan 21 merupakan vektor posisi benda kedua dilihat dari benda pertama. Terlihat bahwa
medan gaya gravitasi pada partikel titik merupakan medan gaya terpusat.
Untuk benda-benda besar, gaya gravitasinya dihitung dengan menerapkan persamaan (5.18)
untuk elemen-elemen massa kecil yang ada pada benda-benda besar itu yang berinteraksi itu, dan
kemudian diintegralkan meliputi seluruh massa benda-benda besar itu. Untuk benda besar yang
berbentuk bola dan memiliki simetri bola terdapat kaidah kulit bola yang sangat membantu untuk
menghitung gaya gravitasi antara benda-benda bersimetri bola dengan benda titik (Rosyid, dkk.,
2015).
Kaidah kulit bola: Suatu kulit bola dengan kerapatan merata akan menarik setiap partikel titik
yang berada di luar kulit bola itu sedemikian rupa sehingga seakan-akan seluruh massa kulit bola
itu berada (terkonsentrasi) di titik pusat kulit bola itu. Selanjutnya, setiap partikel titik yang
berada di dalam kulit bola itu sedikit pun tidak mengalami gaya gravitasi akibat kulit bola itu.
Dengan kaidah ini gaya gravitasi yang dialami oleh benda titik yang berada di dalam dan di luar
bola pejal dengan kerapatan bergantung pada jarak dari pusat dapat dihitung. Jika planet-planet
dalam tata surya kita ini dipandang sebagai bola sempurna dan tersusun atas lapisan-lapisan yang
simetris, kaidah kulit bola itu dapat diterapkan untuk menghitung gaya gravitasi yang dialami oleh
benda titik yang berada di mana saja di sekitar planet-planet itu. Gaya gravitasi akibat keberadaan
planet-planet itu merupakan medan gaya terpusat.
Salah satu yang dapat dijelaskan dengan teori gravitasi Newton untuk benda-benda besar
adalah gejala pasang naik dan pasang turun air laut akibat adanya gaya pasang sebagai perwujudan
gaya graviatsi benda-benda angkasa di sekitar Bumi. Gaya pasang ini pulalah yang mengakibatkan
hancurnya satelit-satelit yang dimiliki oleh beberapa planet akibat gaya pasang yang dilakukan
oleh planet-planet itu. Pecahan satelit-satelit itu kemudian menjadi cincin yang melingkari planetplanet itu apabila satelit planet itu terbuat dari es yang getas (Rosyid, dkk., 2015). Pecahnya komet
Schoemaker-Levy 9 pada tahun diakibatkan oleh remasan gaya pasang planet Jupiter.
Medan gaya gravitasi termasuk medan gaya yang lestari (konservatif). Artinya, kerja yang
dilakukan oleh gaya gravitasi pada sebuah benda tidak bergantung pada lintasan benda itu,
melainkan hanya bergantung pada titik awal dan titik akhir posisi benda itu. Oleh karena itu,
dikenal adanya energi potensial gravitasi. Tentu saja, untuk benda-benda yang bersimetri bola,
energi potensial yang dimiliki hanya bergantung pada jarak dari pusat bola itu. Sebagai contoh,
ditinjau sebuah sistem yang tersusun oleh sebuah bola pejal bermssa dengan kerapatan yang
hanya bergantung pada jarak dari pusatnya dan sebuah benda titik bermassa . Jika benda titik itu
berjarak dari pusat bola, maka sistem bola-benda titik ini memiliki energi potensial senilai
() =

(5.19)

Energi potensial ini tergolong dalam energi potensial jenis Kepler, masalah gerak yang terkait
disebut masalah Kepler. Secara umum, asalah Kepler dikenali melalui energi potensialnya, yakni
energi potensial Kepler yang diberikan oleh

() = ,

> 0.

(5.20)

Oleh karena itu, potensial efektifnya diberikan oleh


() =

2
2

=
.
2 2 2

(5.21)

Dengan mensubtitusikan potensial evektif ke dalam persamaan orbit, maka didapatkan

+
.
2
2

(5.22)

Jawaban atau selesaian persamaan homogen terakhir adalah


() =

/
.
cos( 0 )

(5.23)

Sementara, jawaban khususnya adalah


1
= .

(5.24)

Jawaban terakhir ini terkait dengan orbit melingkar dengan jari-jari, yakni energi yang dimiliki
oleh benda ketika energi keseluruhan benda diatur sama dengan energi potensial efektif yang
bernilai minimum,
2
= =
.
(5.25)

Energi potensial minimum yang dimaksud diberikan oleh


=

2
.
22

(5.26)

Oleh karena itu, pada akhirnya, persamaan orbit diberikan oleh


() =

1
[1 + cos( 0 )],

(5.27)

,
1 + cos( 0 )

(5.28)

atau
() =
dengan eksentrisitas yang diberikan oleh

= 1 +

22

= 1 +
,
2

| |

(5.29)

Untuk orbit yang berupa ellips, sumbu panjang dan sumbu pendek ditentukan berturut-turut dari
persamaan
1

= ( + ) =
=
,
2
1 2 2||

(5.30)

dan
= 1 2 =

1 2

| |
2||

(5.31)

Luas ellips, tentu saja, sesuai dengan teorema di depan, sama dengan laju sapuan vektor posisi
partikel dikalikan dengan periode T :
| |
= .
2

(5.32)

Mengingat | | = (1 2 ) dan = 1 = 2 , maka didaptkan


1

1 = 2 = (1 2 ) ,
2

(5.33)

atau
3

=
,
2 4 2

(5.34)

yang merupakan hukum ketiga Kepler.

5.4 Masalah Dua Benda


Perhatikan Gambar 3. Pada Gambar itu, dua buah benda bermassa 1 dan 2 berada dalam suatu
wilayah yang bebas dari medan gaya apapun. Jadi, medan gaya yang ada hanyalah medan gravitasi
yang dilakukan oleh satu benda terhadap yang lain. Didefinisikan vektor dan berturut-turut
sebagai vektor posisi relatif benda kedua dari benda pertama,
= 2 1 ,
Dan vektor posisi pusat massa

(5.35)

1 1 + 2 2
.
1 + 2

(5.36)

Tentu saja, kedua persamaan terakhir ini pada gi;irannya dapat digunakan untuk menghitung 1
dan 2 dinyatakan dengan dan , yaitu
1 =

(1 + 2 ) 2
1 + 2

(5.37)

dan
1 =

(1 + 2 ) + 1
.
1 + 2

(5.38)

Gambar 5.3
Masalah dua
benda

r = r 2 r 1

r1

R
r2

Dari hukum Newton tentang gerak didapatkan persamaan gerak untuk masing-masing benda
1
3

(5.39)

2
.
3

(5.40)

2 =
dan
1 =

Dengan mengurangkan persamaan kedua persamaan itu satu dari yang lain didapatkan
=

(1 + 2 )
.
3

Selain itu, dengan mudah dapat ditunjukkan bahwa

(5.41)

= .

(5.42)

Ini berarti bahwa pusat massa bergerak dengan kecepatan tetap. Selanjutnya persamaan (5.39)
dapat dituliskan menjadi

,
(5.43)
3
dengan = 1 + 2 . Sekarang terlihat bahwa persamaan gerak tersebut tidak lain adalah
persamaan gerak benda di bawah pengaruh medan terpusat Kepler, dengan = . Jadi,
penyelesaiannya adalah
=

() =

= 1 +

,
1 + cos( 0 )

22

1
=
+
,
2
| |

= ( + ) =
,
2
2||
dan
= 1 2 =

| |
2||

sebagaimana dalam persamaan (5.28), (5.29), (5.30), dan (5.31). Setelah dan dihitung, maka
1 dan 2 dapat dihitung melalui persamaan (5.37) dan (5.38).
Tinjauan dapat pula dilakukan dari kerangka acuan pusat massa, yaitu kerangka acuan yang
bergerak bersama pusat massa. Dalam hal ini,
1 =

1 + 2

(5.44)

2 =

1
.
1 + 2

(5.45)

)(
),
1 + 2 1 + cos( 0 )

(5.46)

dan

Dengan demikian, akan berlaku


1 () = (
dan
()

=(
)(
).
1 + 2 1 + cos( + 0 )

(5.47)

Gambar 5.4 Bintang ganda 61 Cygni atau Bintang Bessel, diambil dari dua su-dut
pandang yang berbeda, merupakan contoh sistem dua benda. (Foto yang di sebelah kiri
diambil oleh Michael Quaade (www. http://astronomisk.dk). Foto di sebelah kanan dari
www.zimmer.csufresno.edu)

Banyak bintang yang lahir secara berpasangan (bintang ganda) sehingga sistem bintang itu dapat
digolongkan sebagai sistem dua benda. Kajian masalah dua benda di atas dapat digunakan untuk
memahami atau menjelaskan gerak pasangan bintang-bintang itu. Masalah dua benda ternyata luas
ditemukan dalam astrofisika dan astronomi. Sistem Bumi-Bulan juga merupakan masalah dua
benda. Bintang 61 Cygni atau bintang Bessel (Gambar 5.4) merupakan contoh bintang ganda
(biner). Gerak asteroid Ida beserta satelitnya, Dactyl, juga merupakan masalah dua benda.
Keduanya berbeda misalnya pada letak pusat massa. Dalam pasangan 61 Cygni pusat massa ada
di luar bintang-bintang dalam pasangan itu. Oleh karena itu, pasangan bintang ini disebut system
ganda. Sementara dalam kasus Ida-Dactyl, titik pusat massa kedua benda itu berada di dalam
ateroid Ida. Itulah alasan Dactyl disebut satelit bagi Ida dan pasangan ini tidak disebut sistem
ganda.

Gambar 5.5 Asteroid Ida


memiliki satelit yang
diberinama Dactyl. Ini
contoh masalah dua benda
dalam tatasurya. (Foto
NASA)

5.5 Masalah Tiga Benda


Masalah tiga benda terkait dengan sistem mekanik yang terdiri dari tiga benda titik yang
berinteraksi secara gravitasi. Jika dalam masalah dua benda orang telah mendapatkan selesaian
analitik, maka masalah tiga benda merupakan masalah yang sangat pelik sehingga sejauh ini belum
ada yang berhasil mendapatkan selesaian analitik. Upaya pencarian selesaian analitik telah
dilakukan sejak lama. Bahkan matematikawan besar seperti Henri Poincare juga terlibat dalam
perburuan itu. Adapun yang dilakukan dalam mendapatkan selesaian untuk masalah itu adalah
dengan melalui perhitungan numeric dibantu oleh komputer. Akan tetapi untuk msalah tiga benda
tertentu, orang dapat memperoleh selesaian analitiknya. Semisal masalah tiga benda yang
tergolong dalam masalah tiga benda terbatas. Contoh masalah tiga benda terbatas ini adalah
masalah Matahari-Bumi-Bulan. Dalam hal ini, Bumi dan Bulan dipandang sebagai masalah dua
benda tersendiri. Pusat massa Bumi-Bulan kemudian dipandang sebagai benda titik yang
membentuk masalah dua benda dengan Matahari. Jadi, masalah tiga benda terbatas ini pada
akhirnya bergeser menjadi dua masalah dua benda. Contoh lain adalah sistem yang tersusun atas
bintang ganda Krger 60 dan satu bintang lain (Gambar 5.6).

Gambar 5.6 Kelompok Bintang Krger 60 dalam beberapa tahun. Dari kiri ke
kanan berturut-turut keadaan di tahun 1908, 1915, dan 1920. Ini contoh
masalah tiga benda terbatas. (Foto dari Yerkes Observatory)

Perhatikan Gambar 5.7 yang memperlihatkan tiga benda yang berinteraksi secara gravitasi.
Benda pertama dan kedua dapat ditinjau sebagai sebuah masalah dua benda, sehingga berdasarkan
uraian sebelumnya, didapat
=

(1 + 2 )
.
3

(5.48)

Pusat massa benda pertama dan kedua kemudian bersama benda ketiga dipandang sebagai masalah
dua benda berikutnya. Oleh karena itu, didapatkan persamaan
3 =

(1 + 2 + 3 ) 3
.
3

(5.49)

3
31
3

Gambar 5.7

3
O

5.6 Pertanyaan dan Masalah


5.6.1 Pertanyaan
1. Dalam kajian-kajian gerak benda-benda angkasa tampaknya, gravitasi merupakan satusatunya gaya yang diperhitungkan. Mengapa?
2. Apa syarat-syarat agar sebuah masalah tiga benda dapat dipandang sebagai masalah tiga
benda terbatas?
5.6.2 Masalah
1. Turunkan persamaan (5.8) dan persamaan (5.9) dari penerapan persamaan EulerLagrange.
2. Turunkan persamaan (5.37) dan persamaan (5.38).
3. Turunkan persamaan (5.44) dan persamaan (5.45).
4. Turunkan persamaan (5.46) dan persamaan (5.47).
5. Tuliskan selesaian analitik untuk masalah tiga benda terbatas.
6. Mungkinkah masalah empat benda dapat ditangani sebagaimana masalah tiga benda
terbatas? Sebutkan syarat-syaratnya.
Daftar Pustaka
1. Rosyid, MF, Firmansyah, E., dan Prabowo, Y.D., 2015, Fisika Dasar, Jilid 1, Periuk,
Yogyakarta.
2. Goldstein, H., 1984, Classical Mechanics, Addison Wesley, New York.