Anda di halaman 1dari 32

Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan perkenan-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini berisikan tentang Menulis Karangan Prosa, Puisi, Naskah
Drama . Makalah ini disusun dengan maksud untuk memenuhi tugas mata kuliah

Indonesia, guna mendapatkan nilai diskusi kelompok. Adapun isi makalah ini
disusun secara sistematis dan merupakan referensi dari beberapa sumber yang
menjadi acuan dalam penyusunan tugas.
Kami berharap makalah ini dapat memberikan manfaat yang berarti dalam
proses kegiatan mata Indonesia dan sumber pengetahuan kepada pembaca dan
mendapat ridho dari Tuhan Yang Maha Esa.

Garut, 24 September 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karya sastra dikelompokkan menjadi 3 jenis, prosa, puisi, dan drama.
Untuk dapat memahami sebuah karya sastra dengan baik, pembaca harus memiliki
pengetahuan tentang fungsi dan unsur-unsur karya sastra yang dibacanya.
Kata Prosa berasal dari bahasa Latin yang berarti Terus Terang. Prosa
adalah suatu jenis tulisan yang menjelaskan atau mendeskripsikan suatu fakta
ataupun ide sesorang secara jelas. Prosa dibedakan dari Puisi karena Variasi Ritme
yang dimiliki prosa lebih besar.
Pada awalnya istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang
berarti pembangun, pembentuk, pembuat.Selanjutnya, makna kata tersebut
menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat
tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan.
Menurut zamannya puisi dibedakan menjadi 2 (dua),yaitu : puisi lama dan
puisi baru. Puisi lama merupakan puisi yang terkait oleh aturan-aturan, puisi baru
adalah puisi yang tidak terkait oleh aturan, artinya Puisi baru bentuknya lebih
bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima .
Drama ini dapat kita saksikan baik secara langsung maupun lewat televisi.
Namun akan lebih seru bila kita menyaksikan drama secara langsung karena
secara langsung lebih bisa menikmati dan merasakan suasananya. Berbeda lagi
jika yang kita bicarakan tentang pendidikan drama.
Istilah drama berasal dari bahasa yunani droomai yang berarti berbuat.
Pengertian drama adalah pertunjukan cerita atau lakon kehidupan manusia yang
dipentaskan. Drama ialah aksi mimetic (peniruan), yaitu aksi yang meniru atau
mewakilkan perlakuan manusia. Menurut Aristotle, drama ialah peniruan
kehidupan, sebuah cermin budaya dan suatu bayangan kebenaran

1.2 Rumusan Masalah


Pokok pokok permasalahan dalam karya tulis ilmiah ini dapat dirumuskan
diantaranya sebagai berikut :
1.2.1

Jelaskan pengertian Prosa, Puisi, Naskah Drama?

1.2.2

Jelaskan tentang jenis-jenis Prosa, Puisi, Naskah Drama?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian adalah :
1.3.1

Untuk mengetahui pengertian Prosa, Puisi, Naskah Drama?

1.3.2

Untuk mengetahui jenis-jenis Prosa, Puisi, Naskah Drama?

BAB II
PEMBAHASAN

1. PROSA
A. Pengertian Prosa
Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi
ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai
dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yang artinya
"terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan
suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar,
majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya

B. Bentuk-Bentuk Prosa
1. Prosa baru
Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat pengaruh
sastra atau budaya Barat. Bentuk-bentuk prosa baru adalah sebagai berikut:

Roman
Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku
utamanya dengan segala suka dukanya. Dalam roman, pelaku utamanya
sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa atau
bahkan sampai meninggal dunia.

Novel
Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan
pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung
konflik.

Cerpen

Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebagian kecil dari
kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam
cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan tetapi hal itu tidak
menyebabkan perubahan nasib pelakunya.

Riwayat
Riwayat (biografi), adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalamanpengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga
pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa atau bahkan
sampai meninggal dunia.

Kritik
Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu
hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan
kriteria tertentu yang sifatnya objektif dan menghakimi.

Resensi
Resensi adalah pembicaraan / pertimbangan / ulasan suatu karya (buku,
film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui
karya tersebut dari berbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan, dialog,
dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu tidaknya
karya tersebut dibaca atau dinikmati.

Esai
Esai adalah ulasan / kupasan suatu masalah secara sepintas lalu
berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah
hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni,
fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll.

2. Prosa lama
Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari
sastra atau kebudayaan barat. Karya sastra prosa lama yang mula-mula
timbul disampaikan secara lisan, disebabkan karena belum dikenalnya
bentuk tulisan. Setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke indonesia,
masyarakat menjadi akrab dengan tulisan, bentuk tulisan pun mulai
banyak dikenal. Adapun bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:

Hikayat
Hikayat, berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi,
peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib.
Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang
diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat
banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh: Hikayat Hang
Tuah, Kabayan, si Pitung, Hikayat si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan,
Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.

Sejarah
Sejarah (tambo), adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya
diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam
sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah,
juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini
ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama. Contoh: Sejarah Melayu
karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis
tahun 1612.

Kisah

Kisah, adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari
suatu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri
Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.

Dongeng, adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Dongeng sendiri

banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:


Fabel, adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang
pengajaran

moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang). Contoh:

Kancil dengan Buaya,


Mite (mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan
terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempunyai kekuatan

gaib. Contoh: Nyai Roro Kidul


Legenda, adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya

suatu tempat atau wilayah. Contoh: Tangkuban Perahu.


Sage, adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang
menceritakan

keberanian,

kepahlawanan,

kesaktian

dan

keajaiban

seseorang. Contoh: Calon Arang, Ciung Wanara


Parabel, adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau
keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh: Kisah

Para Nabi.
Dongeng jenaka, adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas
atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor. Contoh: Lebai

Malang
Cerita berbingkai, adalah cerita yang didalamnya terdapat cerita lagi yang
dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam.

C. Ciri-Ciri Prosa
Ciri-ciri prosa secara umum sebagai berikut:

Bentuknya bebas, prosa memiliki bentuk yang tidak terikat oleh bait, rima,
baris. Bentuk prosa umumnya dalam bentuk rangkaian kalimat-kalimat

yang membentuk paragrap - paragraf seperti dongeng, tambo, hikayat, dsb.


Bahasa dalam prosa dipengaruhi oleh bahasa lain baik Melayu maupun

bahasa barat.
Tema sebagai dasar masalah yang akan dibahas baik istanasentris (dulu)

maupun masyarakatsentris (sekarang).


Perkembangan prosa dipengaruhi oleh perkembangan masyarakat yang

statis maupun dinamis.


Pengarang, prosa memiliki pengarang baik yang diketahui ataupun yang

tidak (anonim).
Cara penyajian, prosa dapat disajikan baik dalam bentuk lisan maupun

tertulis.
Pesan/amanat, prosa memiliki pesan moral yang akan disampaikan kepada

pembaca atau pendengar.


Urutan peristiwa atau kejadian, prosa memiliki alur atau jalan cerita dalam
menggambarkan suatu kejadian baik itu alur maju, mundur ataupun

campuran.
Tokoh cerita, prosa menggunakan tokoh baik itu tumbuhan,hewan maupun

manusia yang diceritakan di dalamnya.


Latar/setting, dalam menceritakan

suatu

kejadian

dalam

prosa

menggunakan latar baik itu latar waktu, latar tempat maupun suasana.
1. Prosa lama
Prosa lama memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Bersifat statis, prosa lama memiliki bentuk sama pola-pola kalimatnya


sama, banyak kalimat

dan ungkapan yang sama, tema ceritanya sama

sesuai dengan perkembangan masyarakat yang lambat.


Diferensiasi sedikit, cerita lama pada umumnya merupakan ikatan unsurunsur yang sama karena perhubungan beberapa unsur kuat sekali.

Bersifat tradisional, kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan yang sama


terdapat dalam cerita-cerita yang berlainan, bahkan di dalam satu cerita

juga sering diulang.


Terbentuk oleh masyarakat dan hidup di tengah-tengah masyarakat
(anonim),prosa lama merupakan milik bersama yaitu menggambarkan
tradisi masyarakat yang lebih menonjolkan kekolektifan dari pada
keindividualan. Sebagai akibat logisnya, sastra lama dianggap milik

bersama (kolektif). Tidak mengindahkan sejarah atau perhitungan tahun.


Bahasanya menunjukkan bentuk-bentuk yang tradisional, bahasanya
bersifat klise, bahasanya dipengaruhi oleh kesustraan Budha dan Hindu

yang sulit untuk dipahami dan dipengaruhi bahasa melayu.


Banyak memakai kata penghubung yang menyatakan urutan peristiwa,
misalnya: harta, syahdan, maka, arkian, sebermula, dan lalu.
Banyak

memakai

bentuk

yang

tetap

sehingga

terdapat

banyak

pengulangan kata, misalnya: Kata sahibul hikayat, ada sebuah negeri di


tanah Andalas

Palembangnamanya, Demang Lebar Daun nama rajanya,

asalnya daripada anak cucu Raja Sulan, Muara Tatang namasungainya.


(dari Sejarah Melayu
Banyak memakai bentuk partikel pun dan lah
Banyak memakai kalimat inversi, misalnya: Syahdan maka bertemulah
rakyat Siam dengan rakyat Keling, lalu berperang. Lalu diceritakanlah
segala kelakuan tuan putri dengan nahkoda itu.

Istanasentris,

ceritanya

mengenai

raja-raja

dengan

istananya,

pemerintahannya, orang bawahannya, dan lain-lain. Tidak pernah


menceritakan orang pada umumnya, bila ada, yang diceritakan adalah
orang yang luar biasa. Misalnya, orang yang sangat dungu atau yang
sangat cerdik dan orang yang selalu malang.

Bersifat lisan dan tertulis, disampaikan dari generasi ke generasi secara


lisan, dari mulut ke mulut (leluri) meskipun ada yang disampaiakn dalam

bentuk tulisan.
Sifatnya fantasis tau khayal, hampir seluruhnya berbentuk hikayat, tambo

atau dongeng. Pembaca dibawa ke dalam khayal dan fantasi.


Tokoh yang digunakan adalah manusia, hewan dan tumbuhan
Amanat/isi/pesan, mite, legenda, pendidikan, pelipur

lara

dan

kepahlawanan
2. Prosa Baru
Prosa baru memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Bersifat dinamis yang senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan


masyarakat yang cepat. Unsur-unsur yang membentuk prosa mengalami

perkembangan dari masa ke masa.


Masyarakatnya sentris pokok cerita yang terdapat dalam prosa baru
mengambil bahan atau kejadian dari kehidupan masyarakat sehari-hari

yaitu hal yang biasa terjadi di tengah - tengah kehidupan bermasyarakat.


Bersifat Rasional bentuknya roman, cerpen, novel, kisah, drama yang

berjejak di dunia yang nyata berdasarkan kebenaran dan kenyataan.


Bahasa tidak bersifat klise dan dipengaruhi oleh kesusastraan Barat.
Diketahui siapa pengarangnya karena dinyatakan dengan jelas.
Prosa baru bersifat tertulis yang disampaikan dalam bentuk tulisan.
Bersifat modern/ tidak tradisional unsur-unsur dalam prosa mengenai hal-

hal yang terjadi pada masa sekarang


(modern).
Memperhatikan urutan peristiwa.
Tokoh yang digunakan umumnya manusia.

D. Jenis-Jenis Prosa
1.

Prosa Fiksi
Prosa fiksi adalah prosa yang berbentuk karangan/Khayalan yang dibuat oleh
pengarangnya. Isi cerita yang dibuat tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta

yang terjadi. Prosa fiksi ini disebut juga karangan narasi sugestif/imajinatif.
Contoh prosa fiksi : Cerpen, novel, dan dongeng
2.

Prosa Nonfiksi
Prosa

nonfiksi merupakan

karangan

yang

dibuat

bukan

berdasarkan

rekaan/khayalan sang pengarang, tetapi berisi hal-hal berupa informasi faktual


( kenyataan ) atau berupa pengamatan pengarang. Jenis prosa non fiksi ini juga
disebut karangan semi ilmiah. Contoh Prosa nonfiksi : Artikel, tajuk rencana
3.

Prosa Deskripsi
Prosa deskripsi adalah karangan yang isinya menggambarkan suatu objek
sehingga pembaca seolah oleh melihat sendiri objek yang digambarkan itu.

4.

Prosa Narasi
Prosa narasi adalah karangan yang isinya menceritakan suatu peristiwa atau
kejadian dengan tujuan agar pembaca seolah olah mengalami kejadian yang
diceritakan itu.

5.

Prosa eksposisi
Prosa eksposisi adalah karangan yang memaparkan sejumlah pengetahuan atau
informasi dengan sejelas jelasnya.

6.

Prosa Argumentasi
Prosa argumentasi adalah karangan yang berisi idea tau gagasan yang
dilengkapi data data kesaksian bertujuan mempengaruhi pembaca untuk
menyatakan persetujuannya.

7.

Prosa Persuasi
Prosa persuasi adalah karangan yang disampaikan dengan cara cara tertentu,
bersingfat ringkas, menarik pembaca, hingga pembaca terhanyut oleh siratan
ininya.

2. PUISI
A. PENGERTIAN PUISI
Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang
berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta,
yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Dalam
perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni
sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan
irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan. Menurut jamannya puisi di bedakan
menjadi 2 (dua), antara lain :

PUISI LAMA
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan, antara lain :

a)
b)
c)
d)
e)

Jumlah kata dalam 1 baris


Jumlah baris dalam 1 bait
Persajakan (rima)
Banyak suku kata tiap baris
Irama

1. Ciri-ciri Puisi Lama


a) Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya
b) Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan
c) Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah
suku kata maupun rima
2. Jenis Puisi Lama
a) Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib
b) Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap
baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris
berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari
pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka
c) Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek
d) Seloka adalah pantun berkait
e) Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a,
berisi nasihat

f) Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris,
bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita
g) Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10
baris

3. Ciri-ciri dari jenis puisi lama


Pantun
Ciri ciri :
o
o
o
o
o
o

Setiap bait terdiri 4 baris


Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
Baris 3 dan 4 merupakan isi
Bersajak a b a b
Setiap baris terdiri dari 8 12 suku kata
Berasal dari Melayu (Indonesia)
Syair

Ciri-ciri syair
o Terdiri dari 4 baris
o Berirama aaaa
o Keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair

PUISI BARU

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah
baris, suku kata, maupun rima.
1. Ciri-ciri Puisi Baru
a. Bentuknya rapi, simetris;
b. Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
c. Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada
pola yang lain;
d. Sebagian besar puisi empat seuntai;
e. Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
f. Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.

2. Jenis-jenis Puisi Baru

Menurut larik / isinya, puisi dibedakan atas :


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Balada adalah puisi berisi kisah/cerita


Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan
Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa
Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup
Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih
Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan
Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik

Macam-macam puisi baru dilihat dari lirik / bentuknya antara lain:


a) Distikon
b) Terzina
c) Quatrain
d) Quint
e) Sektet
f) Septime
g) Oktaf/Stanza
h) Soneta
3. Ciri-ciri dari Jenis Puisi Baru

Ciri puisi dari Jenis isinya :


Balada

Ciri-ciri balada
Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8
(delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima
berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama
digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya.
Hymne
Ciri-ciri hymne
Lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan,
tanah air, atau alma mater (Pemandu di Dunia Sastra).

Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan


sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang
dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernafaskan ke-Tuhan-an.
Ode
Ciri-ciri ode
Ciri ode nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada
anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap
pribadi tertentu atau peristiwa umum.
Epigram
Epigramma (Greek); unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke
arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.
Romance
Romantique (Perancis); keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu
dendam, serta kasih mesra
Elegi
Ciri-ciri elegi
Sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena
sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.
Satire
Satura (Latin) ; sindiran ; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak
puas hati satu golongan (ke atas pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim
etc)

Ciri puisi dari Jenis bentuknya :


a) Distikon

2 baris; sajak 2 seuntai


Distikon (Greek: 2 baris)
Rima aa
bb
b) Terzina
Terzina (Itali: 3 irama)
c) Quatrain
Quatrain (Perancis: 4 baris)
Pada asalnya ada 4 rangkap
Dipelopori di Malaysia oleh Mahsuri S.N.
d) Quint
Pada asalnya, rima Quint adalah /aaaaa/ tetapi kini 5 baris dalam
serangkap diterima umum sebagai Quint (perubahan ini dikatakan
berpunca dari kesukaran penyair untuk membina rima /aaaaa/
e) Sextet
sextet (latin: 6 baris)
Dikenali sebagai terzina ganda dua
Rima akhir bebas
f) Septima
septime (Latin: 7 baris)
Rima akhir bebas
g) Oktav
Oktaf (Latin: 8 baris)
Dikenali sebagai double Quatrain
h) Soneta

ciri ciri soneta :


Terdiri atas 14 baris
Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang
disebut octav.
Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi
yang disebut sextet.
Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang
dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
Penambahan baris pada soneta disebut koda.
Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 14 suku kata
Rima akhirnya adalah a b b a, a b b a, c d c, d c d.

B. Jenis Makna dalam Puisi


Pembagian kedua jenis makna ini didasarkan ada tidaknya penambahan makna
pada makna dasar suatu kata berdasarkan nilai rasa, pikiran, atau tanggapan
kita.
o Makna denotasi adalah makna yang tidak mengalami perubahan apapun
dari makna asalnya.

Makna konotatif adalah makna yang telah mengalami penambahan dari


makna

asalnya. Ada tidaknya penambahan makna itu dapat diketahui

setelah kata itu digunakan dalam kalimat.

2.5 Penggunaan Majas dalam Puisi


Majas menjadi unsur penting dalam sebuah karya tulis, khususnya puisi. ini dapat
menjadi daya tarik puisi, mampu menimbulkan suasana segar, hidup, dan
memberikan kejelasan dalam pencitraan. Majas mampu mengimbau indra
pembaca karena sering lebih konkret daripada ungkapan harfiah. Selain itu, majas
pun lebih ringkas daripada padanannya yang terungkap dalam kata biasa.
Berikut penjelasan mengenai macam-macam majas yang sering digunakan
dalam karya tulis
o Perumpamaan (Simile)
Perumpamaan (simile) adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya
berlainan dan dengan sengaja kita anggap sama. Perbandinganitu secara
eksplisit dijelaskan dengan pemakaian kata bagai, sebagai, ibarat, seperti, bak,
laksana, semisal, seumpama, umpama, dan serupa.

o Metafora
Metafora adalah perbandingan yang dilakukan secara implisit antara dua hal
yang berbeda. Metafora hampir sama dengan perumpamaan, hanya saja dalam
metafora perbandingan dilakukan secara langsung tanpa menggunakan kata
bagai, sebagai, ibarat, seperti, bak, laksana, semisal, seumpama, umpama, dan
serupa.
o Personifikasi

Personifikasi adalah majas yang melekatkan sifat-sifat insani (manusiawi)


pada benda-benda yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak Penggunaan
majas personifikasi dapat memberi kejelasan dan memberikan bayangan
angan (citraan) yang konkret.
o Alegori
Alegori adalah ceritakisahan yang mengisahkan hal lain atau kejadian lain.
Alegori dapat dikatakan sebagai metafora yang dilanjutkan. Jadi memahami
majas alegori harus dari keseluruhan isi puisi.
o Hiperbola
Hiperbola adalah majas yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya
dimaksudkan, baik jumlah, ukuran, atau sifat-sifatnya. Tujuan penyair
menggunakan majas hiperbola adalah untuk mendapatkan perhatian yang
lebih saksama dari pembaca. Dengan kata lain, penyair berusaha mencuri
perhatian pembacaagar terus tertarik untuk memahami puisinya.
o Litotes
Litotes sering dikatakan kebalikan dari hiperbola, yaitu majas yang di dalam
pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang
negatif atau bentuk yang bertentangan. Litotes mengurangi atau melemahkan
kekuatan pernyataan yang sebenarnya.
o Metonimia
Metonimia berasal dari bahasa Yunani Metonima adalah sejenis majas yang
mempergunakan nama sesuatu barang untuk sesuatu yang lain yang berkaitan
erat dengannya. Moeliono mengatakan bahwa metonimia adalah majas yang
memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau
hal, sebagai penggantinya.
o Sinekdoke

Sinekdoke adalah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti


nama keseluruhannya atau sebaliknya. Sinekdoke digunakan untuk melihat
kejadian langsung dari sumber yang menimbulkan peristiwa hingga gambaran
lebih konkret. Ada dua macam sinekdoke, yakni pars pro toto dan totem
pro parte.
1. Pars pro toto adalah sinekdoke bagian untuk keseluruhan. Maksudnya

untuk

menonjolkan suatu hal dengan menyebutkan salah satu bagian yang terpenting
dari keseluruhan hal, keadaan, atau benda dalam hubungan tertentu. Misalnya,
untuk menggambarkan orang, hanya menyebutkan suara , mata, hidung, atau
bagian tubuh yang lain.
2. Totem pro parte adalah sinekdoke yang menyebutkan keseluruhan atau
melihat sesuatu secara generalisasi untuk menonjolkan sebagian.
Perbedaan dan Persamaan Puisi Lama dengan Puisi Baru /Modern
1.Perbedaan Puisi Lama dan Puisi Modern
-Puisi Lama terikat pada aturan tata bahasa sedangkan puisi baru tidak terikat pad
aturan apapun
-Puisi Lama tidak menyebutkan nama pengarang sedangkan puisi baru nama
perengarang disebutkan
-Puisi Lama dibicarakan dari mulut ke mulut sedangkan puisi baru didistribusikan
dalam sebuah buku
-Puisi baru lebih bebas dari pada puisi Lama, karena puisi lama biasanya
menggunakan pola 444
-Puisi Lama terikat pada rima sedangkan puisi baru tidak
2.Persamaan Puisi Lama dan Puisi Baru yaitu:
-Sama-sama sebagai sarana mengungkapkan perasaan
-Sama-sama mempunyai makna dan arti tertentu

3. Menulis Naskah Drama


Menulis naskah drama berbeda dengan menulis puisi, cerpen atau novel,
kalau puisi ditulis dengan bentuk beris dan bait. Cerpen dan novel ditulis
dengan kalimat yang membentuk paragraf-paragraf dengan kutipan langsung
atau percakapan. Sedangkan, pada drama ditulis dengan dua bagian. Bagian
pertama berisi percakapan dan bagian kedua berisi petunjuk pemanggungan,
misalnya ketentuan gerak, mimik para pemain drama atau situasi panggung.
A. Jenis Jenis Drama
1. Drama menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu

Drama Baru/Drama Modern

Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan memberikan pendidikan kepada
masyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari. Contoh
drama baru/modern adalah sinetron, opera, dan film.

Drama Lama/Drama Klasik

Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang


kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar
biasa, dan sebagainya. Contoh drama tradisional/klasik, seperti

lenong

(pertunjukan sandiwara dengan gambang kromong dari Jakarta), topeng Betawi,


dagelan/ketoprak (sandiwara tradisional Jawa dengan iringan musik gamelan,
diringi tarian dan tembang), wayang yang dimainkan seorang dalang, dan randai
(tarian yang dibawakan oleh sekelompok orang yang berkeliling membentuk
lingkaran dan menarikannya sambil bernyanyi dan bertepuk tangan).
2. Drama menurut kandungan isi ceritanya, yaitu:

Drama komedi adalah drama yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan.
Drama tragedi adalah drama yang ceritanya sedih penuh kemalangan.
Drama tragedi-komedi adalah drama yang ada sedih dan ada lucunya.
Opera adalah drama yang mengandung musik dan nyanyian.
Dagelan/Lelucon adalah drama yang lakonnya selalu bertingkah pola jenaka

merangsang gelak tawa penonton.


Operet adalah opera yang ceritanya lebih pendek.
Pantomim adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau

bahasa isyarat tanpa pembicaraan.


Tablo adalah drama yang mirip pantomim yang dibarengi oleh gerak-gerik

anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya.


Passie adalah drama yang mengandung unsur agama/relijius.
Wayang adalah drama yang pemain dramanya adalah boneka wayang.

C.

Unsur Intrinsik Drama


Saat menyaksikan sebuah drama yang dilakonkan, emosi pun terlibat
dalam cerita yang diperankan tersebut. Itu artinya, penulis naskah drama tersebut
mampu membangun sebuah cerita menjadi konflik pada masing-masing tokoh
sehingga cerita mengalir sebagaimana kejadian sesungguhya. Hal itu tidak
terlepas dari kemahiran penulis naskah untuk menghidupkan drama tersebut.
Untuk dapat menulis naskah drama yang baik dan menarik, diperlukan latihan dan
pemahaman tentang unsur-unsur yang dapat membangun sebuah naskah drama.
Unsur-unsur tersebut disebut juga dengan unsur intrinsik drama. Unsur-unsur
intrinsik drama, yaitu :

1.

Alur/Plot
Alur disebut juga plot. Alur adalah jalinan atau rangkaian peristiwa
berdasarkan hubungan waktu dan hubungan sebab- akibat. Sebuah alur cerita juga
harus menggambarkan jalannya cerita dari awal (pengenalan) sampai akhir
(penyelesaian). Alur cerita terjalin dari rangkaian ketiga unsur, yaitu dialog,
petunjuk laku, dan latar/setting. Sebuah alur dapat dikelompokkan dalam
beberapa tahapan, sebagai berikut.

a.

Pengenalan
Pengenalan merupakan bagian permulaan pementasan drama, pengenalan
para tokoh (terutama tokoh utama), latar pentas, dan pengungkapan masalah yang
akan dihadapi penonton.

b.

Pertikaian
Setelah tahap pengenalan, drama bergerak menuju pertikaian yaitu
pelukisan pelaku yang mulai terlibat ke dalam masalah pokok.

c.

Puncak,
Pada tahap ini pelaku mulai terlibat dalam masalah-masalah pokok dan
keadaan dibina untuk menjadi lebih rumit lagi. Keadaan yang mulai rumit ini,
berkembang hingga menjadi krisis. Pada tahap ini penonton dibuat berdebar,
penasaran ingin mengetahui penyelesaiannya.

d.

Penyelesaian

Pada tahap ini dilukiskan bagaimana sebuah drama berakhir dengan


penyelesaian yang menggembirakan atau menyedihkan.

Bahkan dapat pula

diakhiri dengan hal yang bersifat samar sehingga mendorong penonton untuk
mengira-ngira dan memikirkan sendiri akhir sebuah cerita.
2.

Perwatakan atau karakter tokoh


Tokoh adalah orang-orang yang berperan dalam drama. Dalam cerita,
umumnya terdapat tokoh baik (protagonis) dan tokoh jahat (antagonis). Tokohtokoh drama disertai penjelasan mengenai nama, umur, jenis kelamin, ciri-ciri
fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Watak tokoh akan jelas terbaca dalam
dialog dan catatan samping. Watak tokoh dapat dibaca melalui gerak-gerik, suara,
jenis kalimat, dan ungkapan yang digunakan.

3.

Dialog
Ciri khas suatu drama adalah naskah tersebut berbentuk percakapan atau
dialog. Penulis naskah drama harus memerhatikan pembicaraan yang akan
diucapkan. Ragam bahasa dalam dialog antartokoh merupakan ragam lisan yang
komunikatif. Disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua
orang.
Selain dialog, dalam drama juga dikenal istilah monolog (adegan
sandiwara dengan pelaku tunggal yang membawakan percakapan seorang diri;
pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri), prolog (pembukaan atau
pengantar naskah yang berisi keterangan atau pendapat pengarang tentang cerita
yang akan disajikan), dan epilog (bagian penutup pada karya sastra yang
fungsinya menyampaikan intisari atau kesimpulan pengarang mengenai cerita
yang disajikan).

4.

Petunjuk laku
Petunjuk laku atau catatan pinggir berisi penjelasan kepada pembaca atau
para pendukung pementasan mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau
perbuatan, tokoh, dan unsur-unsur cerita lainnya. Petunjuk laku sangat diperlukan
dalam naskah drama. Petunjuk laku berisi petunjuk teknis tentang tokoh, waktu,
suasana, pentas, suara, keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog,
dan sebagainya. Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan huruf

yang dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, petunjuk laku
ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau kalimat
yang menjadi petunjuk laku)

5.

Latar atau setting


Latar atau tempat kejadian sering disebut latar cerita. Pada umumnya, latar
menyangkut tiga unsur, yaitu tempat, ruang, dan waktu.

6.

Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung di dalam drama. Tema
dikembangkan melalui alur dramatik melalui dialog tokoh-tokohnya. Tema drama
misalnya kehidupan, persahabatan, kesedihan, dan kemiskinan.

7.

Amanat
Dalam karyanya, pengarang pasti menyampaikan sebuah amanat. Amanat
merupakan pesan atau nilai-nilai moral yang bermanfaat yang terdapat

dalam

drama. Amanat dalam drama bisa diungkapkan secara langsung (tersurat), bisa
juga tidak langsung atau memerlukan pemahaman lebih lanjut (tersirat). Apabila
penonton menyaksikan drama dengan teliti, dia dapat menangkap pesan atau nilainilai moral tersebut. Amanat akan lebih mudah ditangkap jika drama tersebut
dipentaskan.
D.

Langkah Menulis Drama

1.

Menentukan Tema
Tema merupakan unsur yang sangat penting dalam penulisan naskah, baik
puisi, prosa, maupun drama. Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung di
dalam drama. Tema dikembangkan melalui alur dramatik melalui dialog tokohtokohnya. Tema drama misalnya

kehidupan, persahabatan, kesedihan, dan

kesedihan. Kriteria tema yang baik yaitu:


a.

Aktual
Aktual dapat diartikan dengan kejadian yang benar-benar terjadi atau
sesuai dengan kenyataan.

b.

Tidak menyinggung SARA


SARA adalah

kependekan dari suku, agama, ras, dan antargolongan.

Artinya, tema sebuah karya sastra tidak boleh menyinggung suku, agama, ras, atau
antargolongan tertentu.
c.

Memberi suatu pengajaran/pendidikan bagi pembacanya

Tema sebuah cerita yang baik adalah yang dapat memberikan pengajaran
dan pendidikan bagi pembacanya. Dengan kata lain, tema yang dipilih bukanlah
tema yang tidak bermanfaat.
2.

Mendata Satuan Peristiwa


Peristiwa yang kita alami sehari-hari dapat dijadikan dasar untuk menulis
sebuah naskah drama. Coba pilihlah satu peristiwa yang paling berkesan atau
sangat istimewa dalam kehidupanmu untuk diangkat menjadi naskah drama. Pada
materi ini, kita akanmempelajari cara membuat naskah drama satu babak. Satu
babak dalam naskah drama terdiri atas beberapa adegan. Sebuah drama terdiri atas
beberapa babak. Babak adalah bagian besar dalam suatu drama atau lakon yang
terdiri atas beberapa adegan. Adegan adalah bagian dari babak yang ditandai
dengan pergantian formasi atau posisi pemain di atas pentas. Sebuah adegan
terdiri atas satuan-satuan peristiwa.

3.

Menyusun Sinopsis/Kerangka
Contoh identifikasi peristiwa yang umumnya pernah dialami, yaitu

a.

Saat pertama kali belajar naik sepeda,

b.

Saat menanti pengumuman kelulusan dari Sekolah Dasar,

c.

Saat orang tua sedang dirawat di rumah sakit.


Setelah mengidentifikasi peristiwa-peristiwa yang pernah dialami, datalah
satuan-satuan peristiwa. Satuan-satuan peristiwa tersebut telah menjadi kerangka
dasar. Setelah langkah ini, satuan-satuan peristiwa tersebut dapat dibuat menjadi
sebuah sinopsis.
Data satuan peristiwa yang sudah disusun kemudian
menjadi sinopsis atau kerangka
naskah drama satu babak.

naskah yang

selanjutnya

dikembangkan
disusun menjadi

Setiap karangan biasanya terdiri atas tiga bagian

struktur pokok atau kerangka karangan, yaitu :


a.

Pendahuluan
Bagian pendahuluan adalah bagian yang menjelaskan tema yang akan
diterangkan pada karya tulis tersebut secara padat, jelas, dan ringkas kepada para
pembaca.

b.

Puncak/Klimaks.

Bagian klimaks adalah bagian yang memunculkan konflik cerita yang


terjadi di antara tokoh-tokoh. Kejadian dalam konflik bisa bermacam-macam
bentuknya mulai dari yang ringan sampai yang rumit,
c.

Penyelesaian
Bagian Penyelesaian adalah bagian yang berisi jawaban penyelesaian dari
konflik dalam cerita. Kesimpulan akhir cerita bisa berakhir bahagia dan bisa juga
berakhir tragis.

4.

Mengembangkan Sinopsis Menjadi Naskah Satu Babak


Tiga langkah menulis drama telah dilakukan, yaitu menentukan tema,
mendata satuan peristiwa, dan menyusun data satuan peristiwa tersebut menjadi
sebuah naskah drama satu babak.

PERBEDAAN
No
1
2

Puisi
Berbentuk bait bait
Bahasa yang digunakan

Naskah Drama
Berbentuk percakapan
Bahasa yang digunakan

Prosa
Berbentuk paragraph
Bahasa yang digunakan

bebas, indah, terikat oleh

biasa, tidak terikat oleh

biasa, tidak terikat oleh rima

rima atau persajakan dan

rima dan tidak bermajas

dan tidak bermajas

bermajas
Biasanya puisi ini

Hanya untuk dipentaskan

Dipublikasikan lewat media

dipentaskan atau

cetak

dipublikasikan lewat media


4

cetak
Isinya penuh penafsiran

Isinya lugas dan jelas

Isinya lugas dan jelas

Anda mungkin juga menyukai