Anda di halaman 1dari 4

Industri Konstruksi Indonesia Tahun 2011

Laporan Negara Indonesia dalam Asia Construct Conference Tahun 2011


menyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah menunujukkan tekadnya untuk
mengakselerasi

pembangunan

infrastruktur.

Hal

tersebut

dilakukan

demi

tercapainya pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7,8%. Demi tercapainya hal


tersebut, Indonesia melakukan intensifikasi PPP (Public Private Partnership). Dengan
kata lain, pemerintah Indonesia menggalakan kerjasama yang intens dengan pihak
swasta demi tercapainya percepatan pembangunan infrastruktur yang diiringi pula
dengan kenaikan permintaan (demand) infrastruktur.
Menurut UU No. 18 Tahun 1999, industri konstruksi terdiri atas badan
konsultan dan badan kontraktor. Dalam hal ini, badan konsultan dapat terdiri dari
perancang dan supervisi (supervision engineer).

Berdasarkan Laporan Negara

Indonesia dalam Asia Construct Conference Tahun 2011, badan konsultan Indonesia
yang sudah tersertifikasi dan terdaftar dalam National Board of Construction
Services Development (NBCSD) ada sebanyak 4.389 lembaga. Selain itu, banyaknya
badan kontraktor Indonesia yang sudah tersertifikasi ada sebanyak 112.071
lembaga. Dari 112.071 lembaga tersebut, 263 di antaranya sudah tersertifikasi ISO9000. Hal tersebut menunjukkan bahwa masih sedikitnya industri jasa konstruksi
Indonesia yang berstandar internasional.
Rendahnya kualitas yang ada pada industri jasa konstruksi Indonesia tersebut
membuat para industri jasa konstruksi asing mencari peruntungan di Indonesia.
Berdasarkan Laporan Negara Indonesia dalam Asia Construct Conference Tahun
2011, badan kontraktor dan konsultan asing yang beroperasi di wilayah Indonesia
ada sebanyak 128 dan 78 berturut-turut. Sebagian besar di antaranya berasal dari
Jepang, yang kemudian disusul oleh Cina dan Korea. Meskipun begitu, ada beberapa
industri jasa konstruksi Indonesia yang telah berhasil melebarkan sayapnya ke luar
negeri, misalnya saja Waskita Karya, Adhi Karya, dan Hutama Karya. Tentu saja
jumlah ekspor jasa konstruksi yang dilakukan Indonesia masih tidak sebanyak
industri asing yang menancapkan kukunya di Bumi Pertiwi.
Berdasarkan Laporan Negara Indonesia dalam Asia Construct Conference
Tahun 2011, jumlah rekayasawan (engineer) yang terdaftar oleh NBCSD tahun 2008
ada sebanyak 106.283 orang yang lebih dari 70% di antaranya merupakan
rekayasawan sipil. Kemudian, berdasarkan data CBS (2011), jumlah tenaga kerja

yang bekerja di sektor konstruksi pada tahun 2008 ada hampir sebanyak 5,55 juta
orang. Hal tersebut menunjukkan bahwa tenaga ahli dalam bidang konstruksi masih
sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan total seluruh rakyat Indonesia dan
tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya dalam sektor konstruksi. Meskipun
demikian, jumlah tersebut cenderung meningkat seiring berjalannya waktu.
Untuk biaya konstruksi di Indonesia, cukup sulit mendapatkan biaya
konstruksi secara pasti karena bergantung pada letak geografis dimana proyek
konstruksi berlangsung. Dengan kata lain, biaya konstruksi antara wilayah yang
satu dengan wilayah yang lain tidaklah sama, dari segi tenaga kerja bahkan hingga
harga material konstruksi. Misalnya saja, upah tenaga kerja di Jakarta adalah Rp.
100.000 / hari yang besarannya jauh lebih besar dengan upah buruh di Yogyakarta
yang besarannya Rp. 40.000 / hari. Keberagaman biaya tersebut disebabkan oleh
faktor ekonomi, terutama yang terkait dengan pendistribusian logistik. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa ongkos logistik di indonesia masih terbilang tinggi sehingga
akselerasi di bidang infrastruktur memang diperlukan oleh bangsa ini.

Perbandingan Indonesia dengan Jepang


Berbanding terbalik dengan Indonesia, perkembangan industri konstruksi di
Jepang cenderung mengalami penurunan pada tahun 2011. Hal tersebut dapat
dilihat dari beberapa aspek, yaitu jumlah proyek konstruksi yang ada, tenaga kerja
konstruksi yang ada, dan permintaan (demand) dari material konstruksi. Hal
tersebut sangatlah relevan dengan persentase laju pendapatan per kapita (GDP)
Jepang dari sektor konstruksi yang mengalami defisit 3 tahun berturut-turut, yaitu
tahun 2007 2009. Persentase laju pendapatan per kapita (GDP) Jepang pada
sektor konstruksi menurun sebesar 3% pada tahun 2007, sebesar 6,1% pada tahun
2008, dan 0,6% pada tahun 2009.
Jumlah pekerja yang menggeluti sektor konstruksi di Jepang cenderung
mengalami penurunan selama 4 tahun berturut-turut (2007-2010). Pada tahun
2007, jumlah pekerja yang menggeluti sektor konstruksi di Jepang ada sebanyak
64.120 orang dan tinggal tersisa 62.570 orang pada tahun 2010. Apabila
dibandingkan dengan Indonesia, kuantitas pekerja Jepang yang menggeluti sektor
konstruksi

jauh

lebih

rendah.

Bahkan,

kecenderungan

kuantitas

menunjukkan hubungan yang berbanding terbalik antara kedua negara.

tersebut

Hal lainnya yang dapat kita bandingkan adalah pertumbuhan sektor


konstruksi

di

kedua

negara.

Di

Indonesia,

pertumbuhan

sektor

konstruksi

mengalami peningkatan fluktuatif lebih dari 7% per tahunnya dari tahun 2007
hingga 2011 dan mencapai puncaknya pada tahun 2008 di angka 10,5%.
Sementara di Jepang, pertumbuhan sektor konstruksi mengalami penurunan yang
fluktuatif dengan penurunan tertinggi terjadi di tahun 2009 di angka -17,4%.

Perbandingan Indonesia dengan Malaysia


Perkembangan konstruksi di Malaysia terus mengalami peningkatan. Hal
tersebut selaras dengan beberapa negara berkembang pada umumnya, termasuk
Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari persentase pengembangan konstruksi
yang ada, banyaknya kontraktor dan konsultan, dan harga material konstruksi.
Ditinjau dari persentase pengembangan konstruksi yang ada, Indonesia masih
mengungguli Malaysia. Indonesia berada di kisaran angka 7%-8% per tahun,
sedangkan Malaysia berada di kisaran angka 4%-5%.
Di sisi lain, banyaknya kontraktor di Malaysia cenderung fluktuatif di kisaran
68-71 ribu kontraktor pada tahun 2007-2011, sementara Indonesia unggul secara
kuantitas di kisaran 112 ribu kontraktor. Indonesia memang unggul secara
kuantitas, namun jika dibandingkan dengan luas wilayah Malaysia yang lebih kecil
atau jumlah penduduk Malaysia yang lebih sedikit, Indonesia masih kalah kuantitas
secara persentase. Kesamaan antara keduanya adalah adanya kecenderungan
peningkatan kuantitas. Badan kontraktor asing yang beroperasi di Malaysia tidak
berbeda jauh jumlahnya dengan Indonesia, bahkan di Malaysia lebih banyak, yaitu
sekitar 170-190 kontraktor.
Dari sisi kuantitas rekayasawan yang ada, Indonesia masih memiliki kuantitas
yang lebih banyak 10 kali lipatnya dibandingkan Malaysia. Malaysia hanya memiliki
sekitar 10 ribu rekayasawan dalam rentang tahun 2007-2011. Sementara, Indonesia
memiliki 106 ribu rekayasawan pada tahun 2008. Meskipun demikian, hal tersebut
memiliki proporsi yang sama bagi kedua negara apabila dibandingkan dengan luas
wilayah kedua negara dan jumlah penduduk kedua negara tersebut.

Referensi
Anonim. 2011. The Economy and Construction Investment in Japan, dipresentasikan
dalam 17th Asia
Construct Conference di New Delhi, India.

Karib, S.A. 2011. Malaysia Country Report, dipresentasikan dalam 17th Asia
Construct Conference di New
Delhi, India.
Widjajanto, A., Pribadi, K.S., Suraji, A. 2011. The Construction Sector of Indonesia,
dipresentasikan dalam
17th Asia Construct Conference di New Delhi, India.