Anda di halaman 1dari 13

Struktur dan Mekanisme Sistem Urogenital

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
2013
Pendahuluan
Latar belakang
Sistem urogenital adalah gabungan dari sistem urinaria dan sistem genitalia
(sistem reproduksi). Sistem urinaria adalah suatu sistem tempat terjadinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh
tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Skenario
Seorang perempuan usia 50 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan sulit
menahan kencing sejak 1 tahun terakhir. Dari anamnesa diketahui pasien tersebut
mempunyai 7 orang anak.
Rumusan Masalah
Dari skenario diatas, dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:
1.

Seorang perempuan 50 tahun dengan keluhan sulit menahan kencing sejak 1


tahun terakhir.

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.

Mahasiswa dapat memahami struktur organ urogenital.

2.

Mahasiswa dapat memahami mekanisme berkemih.

Pembahasan
Struktur Sistem Urinaria
Sistem urinaria (ginjal) terdiri dari organ-organ yang memproduksi urine dan
mengeluarkannya dari tubuh. Sistem ini merupakan salah satu sistem utama untuk
mempertahankan homeostatis (kekonstanan lingkungan internal). Sistem urinaria terdiri dari
dua ginjal yang memproduksi urine; dua ureter yang membawa urine ke dalam sebuah

kandung kemih (Vesica Urinaria) untuk penampungan sementara; dan uretra yang
mengalirkan urine keluar tubuh melalui orifisium uretra eksterna.1
Ginjal
Ginjal (Gambar 1) adalah organ berbentuk seperti kacang berwarna merah tua,
panjangnya sekitar 12,5 cm dan tebalnya 2,5 cm. Setiap ginjal memiliki berat antara
125 sampai 175 g pada laki-laki dan 115 sampai 155 g pada perempuan. Ginjal
terletak di area yang tinggi, yaitu pada dinding abdomen posterior yang berdekatan
dengan dua pasang iga terakhir. Organ ini merupakan organ retroperitoneal dan
terletak di antara otot-otot punggung dan peritoneum rongga abdomen atas. Tiap-tiap
ginjal memiliki sebuah kelenjar adrenal di atasnya. Ginjal kanan terletak agak di
bawah dibandingkan ginjal kiri karena ada hati pada sisi kanan.1

Gambar 1: Struktur Ginjal (Sumber: Sloane, Ethel. Anatomi dan fisiologi


untuk pemula. Jakarta: EGC; 2004)
Setiap ginjal diselubungi tiga lapisan jaringan ikat yaitu fasia renalis, capsula
adiposa dan capusula fibrosa. Fasia renalis adalah pembungkus terluar. Pembungkus
ini melabuhkan ginjal pada struktur di sekitarnya dan mempertahankan posisi organ.
Capsula adiposa adalah jaringan adiposa yang terbungkus fasia ginjal. Jaringan ini
membantali ginjal dan membantu organ tetap pada posisinya. Pada kejadian capsula
adiposa yang sangat tipis terjadi kekendoran capsula fibrosa dan capsula renalis
kendor dan turun dikenal dengan nephroptosis. Kejadian ini juga banyak terjadi pada
ibu yang sering melahirkan (grande multipara). Capsula fibrosa adalah membran
halus transparan yang langsung membungkus ginjal dan dapat dengan mudah
dilepas.1,2

Bagian-bagian ginjal dibagi menjadi dua, yakni korteks dan medula. Bagian
korteks tersusun dari tubulus dan pembuluh darah nefron yang merupakan unit
struktural dan fungsional ginjal. Korteks terletak di dalam di antara piramida-piramida
medula yang bersebelahan untuk membentuk kolumna ginjal yang terdiri dari tubulustubulus pengumpul yang mengalir ke dalam duktus pengumpul. Glomerulus dari sisi
korteks masuk hingga saluran-saluran recti dalam tubuh medula. Pada medula,
saluran-saluran tersebut akan bermuara pada papilla renalis sehingga tampak garisgaris pada medula yang disebut processus medullaris (Ferheini). Bagian medula
terdapat papilla renalis pada ujung piramid renalis (malphigi). Papilla renalis
bermuara ke sisi kaliks minor. Beberapa (2-4) kaliks minor membentuk kaliks major
dan gabungan muara kaliks major membentuk pyelum atau pelvis renalis yang
merupakan perluasan ujung proksimal ureter.1,2
Secara mikroskopis, satu ginjal mengandung 1 sampai 4 juta nefron yang
merupakan unit pembentuk urine. Setiap nefron memiliki satu komponen vaskular
(kapilar) dan satu komponen tubular. Glomerulus adalah gulungan kapilar yang
dikelilingi kapsul epitel berdinding ganda disebut kapsul Bowman. Glomerulus dan
kapsul Bowman bersama-sama membentuk sebuah kompleks ginjal (Gambar 2).
Kapsul Bowman terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan viseral dan parietal.1

Gambar 2: Struktur Makroskopis Ginjal (Sumber: Carneiro Jos, Carlos Luiz. Histologi
Dasar. Penerbit Buku Kedokteran EGC.2005)
Lapisan viseral kapsul Bowman adalah lapisan internal epitelium. Sel-sel
lapisan viseral dimodifikasi menjadi podosit (sel seperti kaki), yaitu sel-sel epitel
khusus di sekitar kapilar glomerular. Setiap sel podosit melekat pada permukaan luar
kapilar glomerular melalui beberapa prosesus primer panjang yang mengandung

prosesus sekunder yang disebut prosesus kaki atau pedikel. Pedikel berinterdigitasi
(saling mengunci) dengan prosesus yang sama dari podosit tetangga. Ruang sempit
antar pedikel-pedikel yang berinterdigitasi disebut filtration slits (pori-pori dari celah)
yang lebarnya sekitar 25 nm. Setiap pori dilapisi selapis membran tipis yang
memungkinkan aliran beberapa molekul dan menahan aliran molekul lainnya. Barier
filtrasi glomerular adalah barier jaringan yang memisahkan darah dalam kapilar
glomerular dari ruang dalam kapsul Bowman. Barier ini terdiri dari endotelium
kapilar, membran dasar (lamina basalis) kapilar, dan filtration slit. Lapisan parietal
kapsul Bowman membentuk tepi terluar korpuskel ginjal. Pada kutub vaskular
korpuskel ginjal, arteriola aferen masuk ke glomerulus dan arteriol eferen keluar dari
glomerulus. Pada kutub urinarius korpuskel ginjal, glomerulus memfiltrasi aliran yang
masuk ke tubulus kontortus proksimal.1
Tubulus kontortus proksimal, panjangnya mencapai 15 mm dan sangat berliku.
Pada permukaan yang menghadap lumen tubulus ini terdapat sel-sel epitelial kuboid
yang kaya akan mikrovilus (brush border) dan memperluas area permukaan lumen.
Tubulus kontortus proksimal mengarah ke tungkai descenden ansa Henle yang masuk
ke dalam medula, membentuk lengkungan jepit yang tajam (lekukan), dan membalik
ke atas membentuk tungkai ascenden ansa Henle. Ada dua jenis nefron yaitu nefron
korteks dan nefron jukstamedular. Nefron korteks terletak di bagian terluar korteks.
Nefron ini memiliki lekukan pendek yang memanjang ke sepertiga bagian atas
medula. Nefron jukstamedular terletak di dekat medula. Nefron ini memiliki lekukan
panjang yang menjulur ke dalam piramida medula.1
Tubulus kontortus distal juga sangat berliku, panjangnya sekitar 5 mm dan
membentuk segmen terakhir nefron. Di sepanjang jalurnya, tubulus ini bersentuhan
dengan dinding arteriol aferen. Bagian tubulus yang bersentuhan dengan arteriol
mengandung sel-sel termodifikasi yang disebut macula densa. Macula densa berfungsi
sebagai suatu kemoreseptor dan distimulasi oleh penurunan ion natrium. Dinding
arteriol aferen yang bersebelahan dengan macula densa mengandung sel-sel otot polos
termodifikasi yang disebut sel jukstaglomerular. Sel ini distimulasi melalui penurunan
tekanan darah untuk memproduksi renin. Macula densa, sel jukstaglomerular, dan sel
mesangium saling bekerja sama untuk membentuk aparatus jukstaglomerular yang
penting dalam pengaturan tekanan darah.1
Duktus koligens membentuk tuba yang lebih besar yang mengalirkan urin ke
dalam kaliks minor. Kaliks minor bermuara ke dalam pelvis ginjal melalui kaliks
4

mayor. Dari pelvis ginjal, urine dialirkan ke ureter yang mengarah ke kandung
kemih.1
Pendarahan ginjal dilakukan oleh cabang aorta abdominalis setinggi vertebrae
lumbal 1 hingga vertebrae lumbal 2 yaitu a. Renalis. Secara makroskopis dapat dilihat
bahwa panjang cabang aorta abdominalis yang mendarahi ginjal sisi dexter lebih
panjang dibanding sisi sinistra. Perbedaan ini ditimbulkan karena a. Renalis dexter
menyilang dibelakang vena cava inferior.2
Mekanisme perjalanan vaskularisasi dimulai dengan masuknya a. Renalis pada
hilus renalis dan mempercabangkan cabang besar, yakni cabang ke depan dan
belakang. Cabang yang ke depan berjalan ke sisi anterolateral dan mendarahi ginjal
bagian anterior, sedangkan cabang belakang berjalan ke sisi posterolateral dan
mendarahi ginjal bagian posterior. Karena bentuk anatomis anterior ginjal lebih
cembung membuat panjang perdarahan ginjal anterior lebih panjang dari sisi
posteriornya. Kedua cabang yang bertemu di sisi lateral ini akan bergabung pada satu
garis tengah yang dikenal dengan garis Broedel. Pendarahan minimal didapatkan pada
pembedahan garis Broedel ini.2
Arteri renalis yang berjalan di antara lobus ginjal dan bercabang menjadi a.
Interlobaris. Arteri interlobaris pada perbatasan korteks dan medula akan bercabang
menjadi arteri arcuata atau arciformis yang mengelilingi daerah korteks. Arteri arcuata
mempercabangkan arteri interlobularis dan berjlan mencapai tepi atas ginjal (korteks).
Kemudian dari percabangnan arteri interlobularis akan masuk ke glomerulus menjadi
vasa afferent dan membuat anyaman (tubuli contorti) kemudian berlanjut menjadi
vasa efferent. Pada pembuluh balik ginjal dimulai dari vena interlobularis atau venae
stellatae atau vena verheyeni. Percabangan lanjutan vena interlobularis berlanjut
menjadi vena arcuata. Vena arcuata berlanjut membentuk percabangan dengan lumen
membesar disebut dengan vena interlobaris. Vena interlobaris menyatu membentuk
vena renalis yang akan bermuara ke vena cava inferior.2
Berikut ini adalah fungsi spesifik yang dilakukan oleh ginjal, yang sebagian
besar ditunjukan untuk mempertahankan kestabilan lingkungan cairan internal: (1)
mempertahankan keseimbangan H2O dalam tubuh; (2) mengatur jumlah dan
konsentrasi sebagian besar ion CES termasuk Na+, Cl-, K+, HCO3-, Ca++, Mg++, SO4=,
PO4=, dan H+. Bahkan fluktuasi minor pada konsentrasi sebagai elektrolit ini dalam
CES dapat menimbulkan pengaruh besar. Sebagai contoh, perubahan konsentrasi K+
di CES dapat menimbulkan disfungsi jantung yang fatal; (3) memelihara volume
5

plasma yang sesuai, sehingga sangat berperan dalam pengaturan jangka-panjang


tekanan darah arteri. Fungsi ini dilaksanakan melalui peran ginjal sebagai pengatur
keseimbangan garam dan H2O; (4) membantu memelihara keseimbangan asam basa
tubuh dengan menyesuaikan pengeluaran H+ dan HCO3- melalui urin; (5) memelihara
osmolaritas (konsentrasi zat terlarut) berbagai cairan tubuh, terutama melalui
pengaturan keseimbangan H2O; (6) mengekskresikan (eliminasi) produk-produk sisa
(buangan) dari metabolisme tubuh, misalnya urea, asam urat, dan kreatinin. Jika
dibiarkan menumpuk, zat-zat sisa tersebut bersifat toksik, terutama bagi otak; (7)
mengekresikan banyak senyawa asing, misalnya obat, zat penambah pada makanan,
peptisida, dan bahan-bahan eksogen non-nutrisi lainnya yang berhasil masuk ke
tubuh; (8) mengekskresikan eritropoietin, suatu hormon yang dapat meranagsang
pembentukan sel darah merah; (9) mensekresikan renin, suatu hormon enzimatik yang
memicu reaksi berantai yang penting dalam proses konservasi garam oleh ginjal; (10)
mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya.3

Glandula Suprarenalis
Glandula suprasenalis merupakan kelenjar endokrin yang terletak pada sisi
superomedial ginjal. Glandula suprarenalis dextra membentuk piramis dan terletak
antara diaphragma dan lobus dexter hepatika.1 Glandula suprarenalis sinistra lebih
pipih dan berbentuk bulan sabit atau semilunar. Glandula suprarenalis dibungkus oleh
fasia renalis. Sama seperti ginjal, glandula suprarenalis dibedakan menjadi bagian
korteks dan medula. Perdarahannya dilakukan oleh a. Suprerenalis superior (cabang a.
Phrenica inferior), a. Suprerenalis media (cabang aorta abdominalis), a. Suprerenalis
inferior (cabang a. renalis). Pada pembuluh baliknya sama seperti pembuluh nadinya.
Dipersarafi juga oleh plexus coliacus dan cabang-cabang nn. Splanhnici. Aliran getah
bening dari cortex dan medulla glandula suprarenalis mengikuti aliran limfe ke nnll.
Lumbales (aortica).2
Ureter
Ureter adalah perpanjangan tubular berpasangan dan berotot dari pelvis ginjal
yang merentang sampai kandung kemih. Setiap ureter panjangnya adalah 25 cm
6

sampai 30 cm dan berdiameter 4 mm sampai 6 mm. Saluran ini menyempit di tiga


tempat: di titik asal ureter pada pelvis ginjal, di titik saat melewati pinggiran pelvis
dan di titik pertemuannya dengan kandung kemih. Batu ginjal dapat tersangkut dalam
ureter di ketiga tempat ini , mengakibatkan nyeri dan disebut kolik ginjal.1
Dinding ureter terdiri dari 3 lapisan jaringan: lapisan terluar adalah lapisan
fibrosa, di tengah adalah muskularis longitudinal ke arah dalam dan otot polos
sirkular ke arah luar, dan lapisan terdalam adalah epitelium mukosa yang mensekresi
selaput mukus pelindung. Lapisan otot memiliki aktivitas peristaltik intrinsik.
Gelombang peristalsis mengalirkan urine dari kandung kemih keluar tubuh.1
Kandung Kemih (Vesica Urinaria)
Kandung kemih atau Vesica Urinaria adalah organ muskular berongga yang
berfungsi sebagai kontainer penyimpanan urine. Pada laki-laki, kandung kemih
terletak tepat di belakang simfisis pubis dan di depan rektum. Pada perempuan, organ
ini terletak agak di bawah uterus di depan vagina. Ukuran organ ini sebesar kacang
kenari dan terletak di pelvis saat kosong; organ berbentuk seperti buah pir dan dapat
mencapai umbilikus dalam rongga abdominopelvis jika penuh berisi urine.1
Kandung kemih ditopang dalam rongga pelvis dengan lipatan-lipatan
peritoneum dan kondensasi fasia. Dinding kandung kemih terdiri dari empat lapisan
yaitu serosa, otot detrusor, submukosa dan mukosa. Serosa adalah lapisan terluar.
Lapisan ini merupakan perpanjangan lapisan peritoneal rongga abdominopelvis dan
hanya ada di bagian atas pelvis. Otot detrusor adalah lapisan tengah. Lapisan ini
tersusun dari berkas-berkas otot polos yang satu sama lain saling membentuk sudut.
Ini untuk memastikan bahwa selama urinasi, kandung kemih akan berkontraksi
dengan serempak ke segala arah. Submukosa adalah lapisan jaringan ikat yang
terletak di bawah mukosa dan menghubungkannya dengan muskularis. Mukosa
adalah lapisan terdalam. Lapisan ini merupakan lapisan epitel yang tersusun dari
epitelium transisional. Pada kandung kemih yang relaks, mukosa membentuk ruga
(lipatan-lipatan), yang akan memipih dan mengembang saat urine berakumulasi dalam
kandung kemih. Trigonum adalah area halus, triangular, dan relatif tidak dapat
berkembang yang terletak secara internal di bagian dasar kandung kemih. Sudutsudutnya terbentuk dari tiga lubang. Di sudut atas trigonum, dua ureter bermuara ke
kandung kemih. Uretra keluar dari kandung kemih di bagian apeks trigonum.1

Uretra
Uretra mengalirkan urine dari kandung kemih ke bagian eksterior tubuh. Pada
laki-laki, uretra membawa cairan semen dan urine, tetapi tidak pada waktu yang
bersamaan. Uretra laki-laki panjangnya mencapai 20 cm dan melalui kelenjar prostat
dan penis. Uretra pada laki-laki dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu uretra pars
prostatika, uretra pars membranosa, dan uretra pars kavernosus. Uretra pars prostatika
dikelilingi oleh kelenjar prostat. Uretra ini menerima dua duktus ejakulator yang
masing-masing terbentuk dari penyatuan duktus deferens dan duktus kelenjar vesikel
seminal, serta menjadi tempat bermuaranya sejumlah duktus dari kelenjar prostat.
Uretra pars membranosa adalah bagian yang terpendek (1 cm sampai 2 cm). Bagian
ini berdinding tipis dan dikelilingi otot rangka sfingter uretra eksternal. Uretra pars
kavernosus (penile, berspons) merupakan bagian yang terpanjang. Bagian ini
menerima duktus kelenjar bulbouretra dan merentang sampai orifisium uretra
eksternal pada ujung penis. Tepat sebelum mulut penis, uretra membesar untuk
membentuk suatu dilatasi kecil, fossa navicularis. Uretra kavernus dikeliling korpus
spongiosum, yaitu suatu kerangka ruang vena yang besar.1
Uretra pada perempuan berukuran pendek (3,75 cm). Saluran ini membuka
keluar tubuh melalui orifisium uretra eksternal yang terletak dalam vestibulum antara
klitoris dan mulut vagina. Kelenjar uretra yang homolog dengan kelenjar prostat pada
laki-laki, bermuara ke dalam uretra. Panjangnya uretra laki-laki cenderung
menghambat invasi bakteri ke kandung kemih (sistitis) yang lebih sering terjadi pada
perempuan.1
Mekanisme Berkemih
Ginjal memproduksi urine yang mengandung zat sisa metabolik dan mengatur
komposisi cairan tubuh melalui tiga proses utama yaitu filtrasi glomerulus, reabsorpsi
tubulus, dan sekresi tubulus. Filtrasi mengacu kepada aliran deras plasma memnembus
kapiler glomerulus masuk ke ruang interstisium yang mengelilingi pangkal nefron, daerah
yang disebut sebagai ruang Bowman. Di glomerulus, sekitar 20% plasma secara terusmenerus disaring ke dalam ruang Bowman. Komposisi filtrat ini sama dengan komposisi
plasma, yang berbeda adalah molekul protein biasanya tidak disaring. Filtrat awal berdifusi
menembus ruang Bowman dan menuju pangkal bagian tubulus, yaotu kapsula Bowman,
untuk selanjutnya melanjutkan perjalanannya melewati bagian tubulus yang lain.1,4

Sebagian besar zat yang masuk ke tubulus di kapsula Bowman tidak menetap di
tubulus. Zat-zat tersebut mengalir (atau dialirkan) kembali ke darah melewati kapiler
peritubulus melalui proses reabsorpsi. Zat-zat yang lain ditambahkan ke filtrat urine, yang
juga melewati kapiler peritubulus, melalui proses sekresi. Melalui proses reabsorpsi dan
sekresi inilah nefron memanipulasi komposisi dan volume filtrat urine awal untuk
menghasilkan urine akhir.4
Setelah terbentuk di ginjal, urin disalurkan melalui ureter ke kandung kemih (vesica
urinaria). Urin tidak mengalir melalui ureter hanya karena tarikan gravitasi. Kontraksi
peristaltik (mendorong maju) otot polos dinding ureter mendorong urin maju dari ginjal ke
kandung kemih. Ureter menembus dinding kandung kemih secara oblik, melewati dinding
kandung kemih beberapa sentimeter sebelum membuka ke dalam rongga kandung kemih.
Sewaktu kandung kemih terisi, ujung ureter di dalam dinding kandung kemih tertekan hingga
menutup. Namun, urin masih tetap dapat masuk karena kontraksi ureter menghasilkan cukup
tekanan untuk mengatasi resistensi dan mendorong urin melewati ujung yang tertutup.3

Kandung Kemih
Kapasitas kandung kemih normal adalah 250 sampai 400 ml. Saat kandung
kemih terisi oleh urin, otot detrusor mengalami relaksasi untuk memungkinkan
peningkatan volume tanpa meningkatkan tekanan (plastisitas). Ketika kandung kemih
penuh, reseptor regangan dalam dinding kandung kemih memulai kontraksi refleks
pada otot detrusor dan relaksasi sfingter urine untuk mengosongkan kandung kemih.
Refleks spinal ini dikontrol oleh mekanisme inhibisi kortikal, yang memungkinkan
kontrol secara sadar sepanjang berkemih. Kontrol secara sadar terbentuk pada masa
kanak-kanak awal. Pintu keluar dari kandung kemih dijaga oleh dua sfingter, sfingter
uretra internus dan sfingter uretra eksternus.3,5
Sfingter adalah cincin otot yang, ketika berkontraksi, menutup saluran melalui
suat lubang. Sfingter uretra internus-yang terdiri dari otot polos dan, karenanya, tidak
berada di bawah kontrol volunter-sebenarnya bukan suatu otot tersendiri tetapi
merupakan bagian terakhir dari kandung kemih. Meskipun bukan sfingter sejati
namun otot ini melakukan fungsi yang sama seperti sfingter. Ketika kandung kemih
melemas, susunan anatomik regio sfingter uretra internus menutup pintu keluar
kandung kemih.3
9

Di bagian lebih bawah saluran keluar, uretra dilingkari oleh satu lapisan otot
rangka, sfingter uretra eksternus. Sfingter ini diperkuat oleh diafragma pelvis, suatu
lembaran otot rangka yang membentuk dasar panggul dan membantu menunjang
organ-organ panggul. Neuron-neuron motorik yang menyarafi sfingter eksternus dan
diafragma pelvis terus-menerus mengeluarkan sinyal dengan tingkat sedang kecuali
jika mereka dihambat sehingga otot-otot ini terus berkontraksi seara tonik untuk
mencegah keluarnya urin dari uretra. Dalam keadaan normal, ketika kandung kemih
melemas dan terisi, baik sfingter internus maupun sfingter eksternus menutup untuk
menjaga agar urin tidak menetes. Selain itu, karena sfingter eksternus dan diafragma
pelvis adalah otot rangka dan karenanya berada di bawah kontrol sadar maka orang
dapat secara sengaja mengontraksikan keduanya untuk mencegah pengeluaran urin
meskipun kandung kemih berkontraksi dan sfingter internus terbuka.3
Refleks Berkemih
Miksi atau berkemih adalah proses pengosongan kandung kemih, daitur oleh
dua mekanisme: refleks berkemih dan kontrol volunter (Gambar 3). Refleks berkemih
terpicu ketika reseptor regang di dalam dinding kandung kemih terangsang. Kandung
kemih pada orang dewasa dapat menampung hingga 250 sampai 400 ml urin sebelum
tegangan di dindingnya mulai cukup meningkat untuk mengaktifkan reseptor regang.
Semakin besar tegangan melebihi ukuran ini, semakin besar tingkat pengaktifan
reseptor. Serat-serat aferen dari reseptor regang membawa impuls ke medula spinalis
dan akhirnya, melalui antar neuron, merangsang saraf parasimpatis untuk kandung
kemih dan menghambat neuron motorik ke sfingter eksternus. Stimulasi saraf
parasimpatis kandung kemih menyebabkan organ ini berkontraksi. Tidak ada
mekanisme khusus yang dibutuhkan untuk membuka sfingter internus; perubahan
bentuk kandung kemih selama berkontraksi akan secara mekanis menarik terbuka
sfingter internus. Secara bersamaan, sfingter eksternus melemas karena neuronneuron motoriknya dihambat. Kini kedua sfingter terbuka dan urine terdorong melalui
uretra oleh gaya yang ditimbulkan oleh kontraksi kandung kemih. Refleks berkemih
ini, yang seluruhnya adalah refleks spinal, mengatur pengosongan kandung kemih
pada bayi. Segera setelah kandung kemih terisi cukup untuk memicu refleks, bayi
secara otomatis berkemih.3

10

Gambar 3: Refleks Berkemih (Sumber: Sherwood L. Fisiologi manusia dari


sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2011.)
Selain memicu refleks berkemih, pengisian kandung kemih juga menyadarkan
yang bersangkutan akan keinginan untuk berkemih. Persepsi penuhnya kandung
kemih muncul sebelum sfingter eksternus secara refleks melemas, memberi
peringatan bahwa miksi akan terjadi. Akibatnya, kontrol volunter berkemih, yang
dipelajari selama toilet training pada masa anak-anak dini, dapat mengalahkan refleks
berkemih sehingga pengosongan kandung kemih dapat berangsur sesuai keinginan
yang bersangkutan dan bukan ketika pengosongan kandung kemih pertama kali
mengaktifkan reseptor regang. Jika waktu refleks miksi tersebut dimulai kurang
sesuai untuk berkemih, maka yang bersangkutan dapat dengan sengaja mencegah
pengosongan kandung kemih dengan mengencangkan sfingter eksternus dan
diafragma pelvis. Impuls eksitatorik volunter dari korteks serebri mengalahkan sinyal
inhibitorik refleks dari reseptor regang ke neuron-neuron motorik yang terlibat
(keseimbangan relatif PPE dan PPI) sehingga otot-otot ini tetap berkontraksi dan tidak
ada urine yang keluar.3
Berkemih tidak dapat ditahan selamanya. Karena kandung kemih terus terisi
maka sinyal reseptor berkemih juga dapat secara sengaja dimulai, meskipun kandung
kemih tidak teregang, dengan secara sengaja melepaskan sfingter eksternus dan

11

diafragma pelvis. Turunnya dasar panggul memungkinkan kandung kemih turun, yang
secara simultan menarik terbuka sfingter uretra internus dan meregangkan dinding
kandung kemih. Pengaktifan reseptor regang yang kemudian terjadi akan
menyebabkan kontraksi kandung kemih melalui refleks berkemih. Pengosongan
kandung kemih secara sengaja dapat dibantu oleh kontraksi dinding abdomen dan
diafragma pernafasan. Peningkatan tekanan intraabdomen yang ditimbulkannya
menekan kandung kemih ke bawah untuk mempermudah pengosongan.3
Volume Urine
Volume urine yang dihasilkan setiap hari bervariasi dati 600 ml dampai 2.500 ml
lebih. Jika volume urine tinggi, zat buangan diekskresi dalam larutan encer, hipotonik
(hipoosmotik) terhadap plasma. Berat jenis urine mendekari berat jenis air (sekitar 1,003).
Jika tubuh perlu menahan air, maka urine yang dihasilkan kental sehingga volume urine yang
sedikit tetap mengandung jumlah zat buangan yang sama yang harus dikeluarkan.
Konsentrasi zat terlarut lebih besar, urine hipertonik (hiperosmotik) terhadap plasma, dan
berat jenis urine lebih tinggi (diatas 1,030). Produksi urine kental yang sedikit atau urine
encer yang lebih banyak diatur melalui mekanisme hormon dan mekanisme pengkonsentrasi
urine ginjal.1
Mekanisme hormonal terdiri dari Antidiuretic hormon (ADH) dan hormon
Aldosteron. Hormon ADH meningkatkan permeabilitas tubulus kontortus distal dan ductus
koligens terhadap air sehingga mengakibatkan terjadinya reabsorpsi dan volume urine yang
sedikit. ADH disintesis oleh badan sel saraf dalam nukleus supraoptik hipotalamus dan
disimpan dalan serabut saraf hipofisis posteriror. ADH kemudian dilepas sesuai impuls yang
sampai pada serabut saraf.1
Stimulus pada sekresi ADH adalah osmotik, volume dan tekanan darah dan faktor
lain. Neuron hipotalamus adalah osmoreseptor dan sensitif terhadap perubahan konsentrasi
ion natrium, serta zat terlarut lain dalam cairan intraselular yang menyelubunginya.
Peningkatan osmolaritas plasma, seperti yang terjadi saat dehidrasi, menstimulasi
osmoreseptor untuk mengirim impuls ke kelenjar hipofisis posterior agar melepas ADH. Air
diabsorpsi kembali dari tubulus ginjal sehingga dihasilkan urine kental dengan volume
sedikit. Penurunan osmolaritas plasma mengakibatkan berkurangnya ekskresi ADH,
berkurangnya reabsorpsi air dari ginjal, dan produksi urine encer yang banyak.1
Baroreseptor dalam pembuluh darah (di vena, atrium kanan dan kiri, pembuluh
pulmonar, sinus karotid, dan lengkung aorta) memantau volume darah dan tekanan darah.
12

Penurunan volume dan tekanan darah meningkatkan sekresi ADH; peningkatan volume dan
tekanan darah menurunkan sekresi ADH. Beberapa faktor lain yang juga menjadi stimulus
sekresi ADH adalah nyeri, kecemasan, olah raga, analgesik narkotik, dan barbiturat
meningkatkan sekresi ADH. Alkohol menurunkan sekresi ADH.1
Aldosteron adalah hormon steroid yang disekresi oleh sel-sel korteks kelenjar adrenal.
Hormon ini bekerja pada tubulus distal dan duktus koligens untuk meningkatkan absorpsi
aktif ion natrium dan sekresi aktif ion kalium. Mekanisme renin-angiotensin-aldosteron yang
meningkatkan retensi air dan garam.1
Sistem arus bolak-balik dalam ansa Henle dan vassa recta memungkinkan terjadinya
reabsorpsi osmotik air dari tubulus dan duktus koligens ke dalam cairan interstisial medularis
yang lebih kental di bawah pengaruh ADH. Reabsorpsi air memungkinkan tubuh untuk
menahan air sehingga urine yang diekskresi lebih kental dibandingkan cairan tubuh normal.1

Kesimpulan
Gangguan menahan kecing yang dialami perempuan berusia 50 tahun tersebut
dikarenakan gangguan mekanisme berkemih khususnya pada bagian sfingter uretra eksterna
dan interna.
Daftar Pustaka
1.

Sloane, Ethel. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2004.

2.

Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi ke-6. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2006.

3.

Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2011.

4.

Corwin, EJ. Buku saku patofisiologi. Edisi ke-3. Jakarta: EGC; 2009.

5.

Grace PA, Borley NR. At a glance: ilmu bedah. Edisi ke-3. Jakarta: Penerbit Erlangga;
2007.

13