Anda di halaman 1dari 12

Penerapan Komunikasi dan Empati Terhadap Tindakan

Dokter

Di susun oleh :
Yohana Br Sidabalok

Jurusan : Pendidikan Kedokteran


Fakultas : Kedokteran
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
Kampus II Jalan Terusan Arjuna No. 6, Jakarta 11510
Email: yohana.2014fk250@civitas.ukrida.ac.id

PENDAHULUAN

Dalam menjalankan profesinya sebagai dokter, seorang dokter dituntut untuk dapat
berempati dan berkomunikasi dengan baik. Ketika seorang dokter dapat merabarasakan
perasaan pasien (empati) ketika itu pula dokter telah mampu membuka kunci berkomunikasi
yang baik terhadap pasiennya. Dalam berkomunikasi dengan pasien dokter akan terbantu
dalam mengidentifikasi penyakit yang diderita pasien. Komunikasi yang dipakai oleh dokter
terhadap pasien atau pasien terhadap dokter dapat berbentuk komunikasi verbal dan
nonverbal.
Pada zaman sekarang ini banyak terjadi kasus-kasus dimana dokter dilaporkan oleh
pasiennya kepada pihak yang berwajib, dan banyak dari mereka permasalahan muncul karena
kurangnya rasa empati dan komunikasi yang baik yang diterapkan oleh dokter terhadap
pasien.
Oleh karena banyak kasus kegagalan dokter dalam membangun empati dan
komunikasi yang baik dengan pasien, maka dibuatlah makalah ini untuk membahas
bagaimana cara membangun empati dan komunikasi yang baik terhadap dokter dengan
pasien.
1.1

Skenario
Seorang perempuan 45 tahun datang berobat kedokter dengan banyak keluhan sering

pusing, sering sakit perut, dan sering lemas. Dokter kesal karena pasien banyak keluhan dan
mengemukakan keluhan tersebut dengan kekanak-kanakan. (Skenario D)
1.2

Istilah yang Tidak Diketahui


Didalam skenario tersebut tidak terdapat istilah yang tidak diketahui.

1.3

Rumusan Masalah

1. Dokter kesal karena pasien banyak keluhan.


2. Pasien terlalu kekanak-kanakan dalam mengemukakan keluhannya.
1.4
Analisis Masalah

Empati

1. Dokter kesal
karena pasien
banyak
keluhan.
2. Pasien terlalu
kekanakkanakan dalam
mengemukakan
keluhannya.

Kanak-kanak

Komunikasi

Orang tua

Perilaku Analisis Transaksional

1.5

Dewasa

Hipotesis
Dokter tidak menerapkan komunikasi dan empati dengan baik.

1.6

Sasaran Pembelajaran
1. Mahasiswa mampu menjelaskan state pada seorang individu dalam komunikasi verbal
dan nonverbal antara dokter dengan pasien.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan hambatan-hambatan dalam komunikasi.

KAJIAN PUSTAKA
2.1

Komunikasi Dokter Pasien


2.1.1 Definisi Komunikasi
Komunikasi berasal dari bahasa inggris Communication yang berarti suatu
kegiatan menyampaikan informasi atau pesan yang mempunyai nilai atau penting.
Komunikasi berdasarkan jenisnya dibagi menjadi 2, yaitu :
1) Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal merupakan komunikasi yang menggunakan katakata, yang disuarakan atau ditulis. Dalam menciptakan komunikasi verbal

dibutuhkan bahasa verbal dan kata-kata. Bahasa verbal merupakan sarana


utama untuk menyatakan pikiran, perasaan, dan maksud kita. Kata-kata
adalah abstraksi realitas kita yang tidak mampu menimbulkan reaksi yang
merupakan totalitas objek atau konsep yang diwakili kata-kata itu.
Fungsi utama dari bahasa verbal adalah untuk menamai atau menjuluki orang,
objek dan peristiwa.
Larry L. Barker menyimpulkan 3 fungsi bahasa, yaitu:
1. Penamaan (Naming atau Labeling)
Fungsi penamaan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek,
tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat
dirujuk dalam komunikasi

2. Interaksi
Fungsi interaksi menekankan berbagai gagasan dan emosi, yang dapat
mengundang

simpati

dan

pengertian

atau

kemaraham

dan

kebingungan.
3. Transmisi informasi
Fungsi transmisi informasi merupakan informasi yang didapat oleh
seorang individu setiap hari, dimulai pada saat bangun tidur hingga
tidur kembali baik secara langsung maupun tidak (melalui media
massa).
2) Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang digunakan untuk
melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap dan tertulis.
Komunikasi nonverbal dapat berbentuk gerakan tubuh, sorot mata, ekspresi
wajah dan sebagainya.
Fungsi pesan nonverbal yang dilukiskan dari perilaku mata:
Emblem
Gerakan mata tertentu merupakan simbol yang memiliki kesetaraan
dengan simbol verbal. Kedipan mata dapat menyatakan Saya tidak

sungguh-sungguh.
Ilustrator

Pandangan kebawah dapat menunjukkan depresi atau kesedihan.


Regulator
Kontak mata berarti saluran percakapan terbuka, memalingkan muka
menandakan ketidaksediaan berkomunikasi.

Penyesuai
Kedipan mata yang cepat meningkatkan ketika orang berbeda dalam
tekanan itu merupakan respons tidak disadari yang merupakan upaya

tubuh untuk mengurangi kecemasan.


Affect Display
Pembesaran manik-mata (pupil dilation) menunjukkan peningkatan
emosi. Isyarat wajah lainnya menunjukkan perasaan takut, terkejut,

atau senang.
3) Perbedaan dan Hubungan Komunikasi Verbal dan Nonverbal
Perbedaan komunikasi verbal dengan komunikasi nonverbal
Komunikasi Verbal

Komunikasi Nonverbal

Saluran tunggal
Multisaluran
Diucapkan orang, yang bisa dibaca dalam Dilihat, didengar, dirasakan, dibaui, atau
media cetak
Terpisah-pisah
Mengandung lebih sedikit muatan emosional

dicicipi
Sinambung
Mengandung lebih banyak muatan emosional

Hubungan perilaku verbal dan non verbal, yaitu:


a. Perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal.
b. Memperteguh, menekankan atau melengkapi perilaku verbal.
c. Perilaku nonverbal dapat menggantikkan perilaku verbal.
d. Perilaku nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal.
e. Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan
perilaku verbal.
2.1.2

Komunikasi Dokter Pasien


Untuk memperoleh informasi tentang data, keluhan, riwayat penyakit, riwayat

kehidupan pribadi, riwayat keluarga, pemeriksaan fisik, mental dan sosial pasien

sehingga diagnosis dan prognosis dapat ditegakkan dan untuk melakukan terapi dan
rehabilitasi pasien sangat dibutuhkan komunikasi dokter dengan pasien.
Dalam membina komunikasi dengan pasien dokter harus berlandaskan nilai
manusiawi agar tercipta komunikasi yang baik, berikut merupakan aspek yang
terkandung dalam nilai manusiawi :
Menerima orang lain sebagaimana adanya.
Setara, terlepas dari identitas dan materi.
Menghargai nilai-nilai.
Menghargai perbedaan pendapat.
Tidak memaksakan kehendak.
Tidak menghakimi.
Tidak bersikap apriori atau berprasangka.
Menerima kelebihan dan kekurangan.
Selain mengetahui nilai manusiawi, seorang dokter dan pasien harus mengerti akan
hungunan, sikap, kewajiban dan hak dokter maupun pasien.
a. Hubungan dokter-pasien
Dokter

Pasien

Anamnesis

Keluhan

Pemeriksaan
Diagnosis
Prognosis
Terapi
Rehabilitasi

Masalah
Informasi lain
Pertolongan
Keringanan
Kesembuhan

b. Sikap dokter-pasien
Dokter
Manusiawi
Empatik, peduli
Sabar, tulus
Sopan, santun
Tidak ingterogatif
Tidak sok tahu
Tidak menghakimi
c. Kewajiban dokter-pasien

Pasien
Sopan
Kooperatif
Jujur
Tidak mendikte
Tisak memaksa
Tidak sok tahu

Dokter
Menghormati hak pasien
Rahasia jawaban
Informasi tindakan
Persetujuan pasien
Terapi
Rekam medis

Pasien
Informasi benar
Kooperatif
Turut nasihat dokter
Patuh pada terapi
Menjaga privacy kedokteran
Honor yang pantas

d. Hak dokter-pasien
Dokter
Pemeriksaan fisik & mental
Menegakkan diagnosis
Menentukan terapi
Merawat
Pelayanan kesehatan
Honor yang pantas

2.1.3

Pasien
Pilih dokter/Rumah Sakit
Informasi yang benar
Rahasia medik
Menolak atau setuju terapi
Pendapat kedua
Isi rekam medis
Pelayanan medik
Ganti rugi

Komunikasi Efektif
Komunikasi efektif adalah hubungan antara dokter dengan pasien secara

efektif dan efisien, dengan penyampaian informasi dengan jelas guna membangun
kerjasama yang baik antara dokter dan pasien.
Dalam komunikasi efektif dokter berlaku menjadi pendengar dan pembicara, dengan
mengutamakan nilai-nilai manusiawi. Dokter harus menjadi pendengar yang aktif,
yaitu :
Mendengarkan masalah pasien.
Memberi kesempatan untuk dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, untuk
dapat menerima masalah yang tidak bisa diubah.
Membantu pasien mengungkapkan perasaan-perasaannya
Memahami perasaan-perasaan pasien.
Membuka telinga, menjaga lidah.
Selain dokter menjadi pendengar yang aktif, berikut merupakan kunci dalam
melakukan komunikasi efektif, yaitu:
R = Respect, saling menghargai (ada rapport)
E = Empathy, ada empati.
A = Audible, dapat didengar dengan baik dan jelas.
C = Clarity, jelas mudah dimengerti.


2.1.4

H = Humble, rendah hati, manusiawi.


Hambatan Dalam Komunikasi
Hambatan dalam komunikasi dapat terjadi, karena pasien tidak mendengar,

tidak mengerti, dan tidak setuju. Berikut adalah hambatan dari proses komunikasi :
Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum
jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau

situasi emosional.
Hambatan dalam penyandian atau simbol, hal ini dapat terjadi karena bahasa
yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol
yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa
yang dipergunakan terlalu sulit. Hambatan tersebut terjadi pada penafsiran

sandi oleh penerima.


Hambatan media, yaitu hambatan yang terjadi dalam penggunaan media
komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik ehingga tidak

dapat mendengarkan pesan.


Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat
menerima atau mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru

dan tidak mencari informasi lebih lanjut.


Hambatan dalam meberikan umpan balik, umpan balik yang diberikan tidak
menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat

waktu atau tidak jelas dan sebagainya.


Hambatan fisik, hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif,

misalnya gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya.


Hambatan semantik, kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadangkadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit

antara pemberi pesan dan penerima pesan.


Hambatan psikologis, hambatan psikologin dan hambatan sosial kadangkadang mengganggu komunikasi, misalnya perbedaan nilai-nilai serta harapan

2.1.5

yang berbeda antara pengirim pesan dan penerima pesan.


Empati

Empati merupakan upaya untuk merabarasakan perasaan seseorang untuk


mengerti, menghayati, dan menempatkan diri seseorang ditempat orang lain namun
tidak turut larut didalamnya. Berempati berarti tidak menghakimio, baik dalam
artikata menyalahkan, membenarkan, menyetujui atau tidak menyetujui perbuatan
seseorang. Empati adalah rasa yang berdasarkan kasih sayang yang agape (tanpa
syarat), manusiawi, dan pemahaman, penghayatan, dan penempatan diri ditempat
orang lain, sesuai dengan; identitas, pikiran, perasaan, keinginan, perilaku, kondisi
mental dan kondisi fisik.
Dalam menerapkan rasa empati perlu upaya dan kemampuan, sebagai berikut:
a) Kemampuan kognitif : mengerti akan kebutuhan orang.
b) Kemampuan afektif : peka akan perasaan orang.
c) Kemampuan perilaku : memperlihatkan atau menyampaikan empati kepada
orang.
Berikut merupakan tingkatan dalam menciptakan empati dalam komunikasi:
Level 0
Menolak sudut pandang orang. Contoh: Penolakkan terhadap apa yang
menjadi sudut pandang orang; mengacuhkan pendapat orang atau menmbuat
pernyataan yang tidak menyetujui pendapat orang, seperti Kalau stres,

mengapa datang ke sini? Pergi saja ketempat lain!


Level 1
Mengenal orang secara sambil lalu. Contoh: pengenalan secara sambil lalu;
Yaa tetapi saat berkomunikasi sang penerima informasi melakukan hal lain;
memainkan telepon genggam, menulis, membalikkan badan, menyiapkan alat,

dan lain-lain.
Level 2
Mengenal sudut pandang orang secara implisit. Contoh: pengenalan terhadap
sudut pandang orang (terhadap masalahnya) secara implisit;
Orang: Keadaan saya ini membuat saya sulit cari pekerjaan
Anda: Ya...? Bagaimana keluarga anda akhir-akhir ini?
Level 3
Menghargai pendapat orang. Contoh: penghargaan; Anda bilang Anda sangat
stres datang ke sini? Apa Anda mau menceritakkan lebih jauh apa yang
membuat Anda stres?

Level 4
Mengkonfirmasi kepada orang. Contoh: konfirmasi; Anda sepertinya sangat
sibuk, saya mengerti seberapa besar upaya Anda untuk melakukan kegiatan
lain yang bermanfaat

Level 5
Berbagi perasaan dan pengalaman dengan orang lain. Contoh: berbagi
pengalaman maupun perasaan; Ya,saya mengerti hal ini (masalah anda)
dapat mengkhawatirkan (tidak menyenanglan) Anda. Beberapa orang pernah
mengalami hal yang sama, mereka sangat khawatir akan kondisi

selanjutnya.
Pada tingkatan diatas tingkatan 3-5 adalah tingkatan pengenalan terhadap sudut
pandang orang tentang masalahnya, secara eksplisit.
2.1.6 Analisis Transaksional
Analisis transaksional merupakan cara untuk menentukan ego yang dominant
yang sedang berlangsung (orangtua, dewasa, anak) pada setiap individu yang sedang
berinteraksi.
Manusia mempunyai state, yaitu; orangtua (O), dewasa (D), dan kanak-kanak (K).
Pada oknum orang tua individu berperasaan dan bertindak seperti yang dilakukan ibu
dan ayah (mengecam dan mendorong). Penampilan anutan orang tua adakah proteksi,
kritik, bimbingan, dan bagaimana melakukan sesuatu. Maka; orang tua bagian
kepribadian yang bisa bersikap kritik, membelai, menolong, perasaan individu
terhadap agama, tradisi, tatakrama, mengasuh dan merasa iba, dan opini tertentu dan
tidak dapat diubah. Oknum dewasa mengolah persoalan berdasarkan data, analisa, dn
logika. Maka; oknum dewasa berorientasi pada kenyataan, memberi keterangan yang
diperlukan, menganalisa situasi dan mencoba memahami, membandingkan berbagai
alternatif, percaya diri sendiri dan tidak dipengaruhi perasaan, dan melakukan koreksi
bila perlu pada orang tua atau kanak-kanak. Oknum kanak-kanak individu tersebut
waktu masih kecil, perasaan dan pola tingkah laku bersifat wajar, dapat bertindak
sendiri lepas dari orang tua, dan tetapi bisa juga menyesuaikan diri untuk memuaskan

orang tua dalam diri individu tersebut. Maka; oknum kanak-kanak patut dipelihara
dan dibina sepanjang umur, ada daya cipta, dikasihi, dicintai, kreativitas, rasa ingin
tahu, ingin dibina dan ditimang.
2.2

Pembahasan Kasus
Menurut skenario, dengan rumusan permasalahannya yaitu dokter kesal karena pasien

banyak keluhan dan pasien terlalu kekanak-kanakkan dalam mengemukakan keluhannya.


2.2.1 Komunikasi
Dokter
Verbal : Dokter merasa kesal, menggunakan nada yang tinggi.
Nonverbal : Dokter mengemukakan rasa kesalnya melalui raut wajah yang kesal.
Pasien
Verbal : Pasien mengemukakan keluhannya.
Nonverbal : Pasien mengemukakan keluhannya dan menunjukkan raut wajah
kesakitan.
2.2.2 Komunikasi Dokter Pasien
Dalam sikap dokter terhadap pasien dokter telah melanggar aspek manusiawi,
empatik, sabar, sopan karena dokter merasa kesal dengan sikap pasien.
2.2.3 Empati
Dalam sikap dokter terhadap pasiennya dokter tidak menerapkan rasa empati,
baik dalam kemampuan kognitif, afektif, dan perilaku.
Kognitif, dokter tidak mengerti akan kebutuhan pasiennya. Afektif, dokter tidak
peka akan perasaan pasien. Perilaku, dokter tidak memperlihatkan atau
menyampaikan empati kepada pasien.
2.2.4

Analisi Transaksional
Dalam sikap dokter menghadapi pasiennya dengan kesal menggambarkan

bahwa dokter tersebut merajuk (emosi tidak terkontrol), dapat ditarik kesimpulan
dokgter tersebut tidak berperan sebagai oknum dewasa melainkan kanak-kanak.

KESIMPULAN
Hipotesis yang telah dikemukakan di bagian pendahuluan adalah sebagai
berikut dokter tidak menerapkan komunikasi dan empati dengan baik.
Hipotesis tersebut diterima, karena dalam komunikasi dokter dengan pasien
tidak sesuai dengan aspek sikap dokter terhadap pasien, dan tidak terdapat penerapan
empati dokter terhadap pasien serta dokter tidak berlaku sebagai dewasa sebagaimana
mestinya tugas dokter.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyana Deddy. Ilmu komunikasi. Bandung; PT Remaja Rosdakarya.2008.
Ali MM. Komunikasi efektif dokter-pasien. Edisi 1. Jakarta, Konsil kedokteran
indonesia,2006.
Andri, Hidayat Dan, Ingkirawang Elly, Asnawi Evalina. Komunikasi dan empati. Blok
1 modul. 2014.
Roger B, Robert Ellis, Gates J, Kenwarthy N. Interpersonal communication in
nursing theory and practice. Churcill Living Stone, 1995.