Anda di halaman 1dari 13

Pendahuluan

Muhammadiyah, sebagai gerakan keagamaan yang berwatak sosio-kultural, dalam dinamika


kesejarahannya selalu berusaha merespon berbagai perkembangan kehidupan dengan senantiasa
merujuk pada ajaran Islam (al-ruj' il al-Qurn wa al-sunnah, menjadikan al-Quran dan asSunnah sebagi sumber rujukan). Di satu sisi sejarah selalu melahirkan berbagai persoalan, dan
pada sisi yang lain Islam menyediakan referensi normatif atas berbagai persoalan tersebut.
Orientasi pada dimensi ilahiah inilah yang membedakan Muhammadiyah dari gerakan sosiokultural lainnya, baik dalam merumuskan masalah, menjelaskannya maupun dalam menyusun
kerangka operasional penyelesaiannya. Orientasi inilah yang mengharuskan Muhammadiyah
memproduksi pemikiran, meninjau ulang dan merekonstruksi pemikiran keislamannnya.
Pemikiran keislaman meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan tuntunan kehidupan
keagamaan secara praktis, wacana moralitas publik dan discourse (wacana) keislaman dalam
merespon dan mengantisipasi perkembangan kehidupan manusia. Masalah yang selalu hadir dari
kandungan sejarah tersebut mengharuskan adanya penyelesaian. Muhammadiyah berusaha
menyelesaikannya melalui proses penafsiran dinamik antara normativitas ad-dn (agama), berupa
al-ruj' ila al-Qurn wa as-Sunnah (keharusan merujuk kepada al-Qurn dan as-Sunnah),
historisitas (kenyataan sejarah tentang adanya) penafsiran atas ad-dn, realitas kekinian dan
prediksi masa depan. Mengingat proses penafsiran dinamik ini sangat dipengaruhi oleh asumsi
(pandangan dasar) tentang agama dan kehidupan, di samping pendekatan dan teknik pemahaman
terhadap ketiga aspek tersebut, maka Muhammadiyah perlu merumuskannya secara spesifik.
Dengan demikian diharapkan rhul ijtihd (semangat untuk menggali ajaran agama dari sumbersumbernya) dan tajdd (upaya pemurnian dan pembaharuan pemikiran keislaman) terus tumbuh
dan berkembang.
Dari wacana yang terus bergulir, orang pun selalu mempertanyakan: Bagaimana
Muhammadiyah memahami Islam sebagai sebuah kebenaran mutlak untuk mendapatkan
jawaban yang yang mendekati kebenaran Islam yang sejati? Apa rumusan kongkret pandangan
Muhammadiyah tentang Islam? Dan, yang tidak kalah pentingnya, bagaimana melaksanakannya

di dalam tindakan nyata?


Dalam hal ini Muhammadiyah telah memiliki tiga rumusan penting, yang diasumsikan bisa
menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Pertama: rumusan tentang Masilul Khamsah (Masalah
Lima); kedua: rumusan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (yang dikenal di
kalangan warga Muhammadiyah dengan singkatan MKCH), dan ketiga: rumusan tentang:
Pedoman Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah.

Masalah Lima
Rumusan awal mengenai Islam dalam pandangan Muhammadiyah tertuang dalam Himpunan
Putusan Tarjih Muhammadiyah mengenai Masilul Khamsah (Masalah Lima) tanpa ada
rujukan nashnya (baik berupa nash al-Quran maupun as-Sunnah).
Dari rumusan Masilul Khamsah terkandung rumusan fundamental (pandangan dasar) tentang
Islam dalam pandangan Muhammadiyah, yang tertuang dalam penjelasan mengenai: agama,
dunia, ibadah, sabilullah dan qiyas.
Pertama, mengenai masalah agama, Muhammadiyah merumuskan:
1. Agama yakni Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. ialah apa yang
diturunkan Allah di dalam al-Quran dan yang terdapat dalam as-Sunnah yang shahih, berupa
perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan
akhirat.
2. Agama adalah apa yang disyari'atkan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, berupa
perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia di
dunia dan akhirat.
Kedua, mengenai masalah dunia, Muhammadiyah merumuskan:

Yang dimaksud "urusan dunia" dalam sabda Rasulullah s.a.w.: "kamu lebih mengerti urusan
duniamu" ialah segala perkara yang tidak menjadi tugas diutusnya para Nabi (yaitu perkaraperkara/ pekerjaan-pekerjaan/urusan-urusan yang diserahkan sepenuhnya kepada kebijaksanaan
manusia).
Ketiga, mengenai masalah ibadah, Muhammadiyah merumuskan:
Ibadah ialah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan jalan menaati segala perintahperintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah.
Ibadah itu ada yang umum dan ada yang khusus:
a. Yang umum ialah segala amalan yang diizinkan Allah
b. Yang khusus ialah apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkah dan
cara-caranya yang tertentu.
Keempat, dalam masalah sabilullah, Muhammadiyah merumuskan:
Sabilullah ialah jalan yang menyampaikan kepada keridhaan Allah, berupa segala amalan yang
diizinkan oleh Allah untuk memuliakan kalimat (agama)-Nya dan melaksanakan hukum-hukumNya.
Kelima, dalam masalah qiyas , Muhammadiyah merumuskan:
1. Setelah persoalan qiyas dibicarakan dalam waktu tiga kali sidang, dengan mengadakan tiga
kali pemandangan umum dan satu kali Tanya-jawab antara kedua belak pihak
2. Setelah mengikuti dengan teliti akan jalannya pembicaraan dan alasan-alasan yang
dikemukakan oleh kedua belah pihak dan dengan menginsyafi bahwa tiap-tiap keputusan yang
diambil olehnya itu hanya sekadar mentarjihkan di antara pendapat yang ada, tidak berati
menyalahkan pendapat yang lain.
Memutuskan :

a. Bahwa dasar muthlaq untuk berhukum dalam agama Islam adalah al-Quran dan al-Hadits
b. Bahwa di mana perlu dalam menghadapi soal-soal yang telah terjadi dan sangat dihajatkan
untuk diamalkannya, mengenai hal-hal yang tidak bersangkutan dengan ibadah mahdhah padahal
untuk alasan atasnya tiada terdapat nash sharih dan tegas) di dalam al-Quran atau as-Sunnah
shahihah maka dipergunakanlah alasan dengan jalan ijtihad dan istinbath dari pada nash-nash
yang ada melalui persamaan 'illat ; sebagaimana telah dilakukan oleh ulama-ulama salaf dan
khalaf.Latar belakang

Latar Belakang
Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, beraqidah Islam
dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya
masyarakat utama, adil, makmur yang diridhai Allah SWT, untuk malaksanakan fungsi dan misi
manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
Muhammdiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukankepada RasulNya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi penutup
Muhammad SAW, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan
menjamin kesejahteraan hidup materil dan spritual, duniawi dan ukhrawi.
Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan:
Al-Qur'an: Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW;
Sunnah Rasul: Penjelasan dan palaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur'an yang diberikan oleh Nabi
Muhammad SAW dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.
Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang:
a. 'Aqidah
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala
kemusyrikan, bid'ah dan khufarat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.

b. Akhlak
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman kepada
ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Sunnah rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia
c. Ibadah
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, tanpa
tambahan dan perubahan dari manusia.
d. Muamalah Duniawiyah
Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu'amalat duniawiyah (pengolahan dunia dan
pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadi semua kegiatan dalam
bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.

Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup


Muhammadiyah

Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah


Matan Keyakinan Dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, yang kemudian disingkat menjadi
MKCH, pada mulanya merupakan putusan dari Sidang Tanwir Muhammadiyah, tahun 1969, di
Ponorogo, Jawa Timur dalam rangka melaksanakan amanat Muktamar Muhammadiyah ke-37
tahun 1968 di Yogyakarta. Kemudian dirumuskan kembali dan disempurnakan pada tahun 1970
dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Yogyakarta.
MKCH hasil Sidang Tanwir Muhammadiyah, tahun 1969, di Ponorogo, Jawa Timur terdiri dari 9
(sembilan) ayat, yang kemudian di dirumuskan kembali dan disempurnakan pada tahun 1970
dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Yogyakarta menjadi 5 (lima) ayat.
Pada tahun 1968, Muktamar Muhammadiyah ke-37 di Yogyakarta dengan tema Tajdid
menggagas pembaharuan dalam 5 (lima) bidang, yaitu:
1. Ideologi
2. Khittah Perjuangan
3. Gerak dan Amal Usaha
4. Organisasi
5. Sasaran
Tajdid dalam bidang ideologi akhirnya menjadi menjadi salah satu keputusan Muktamar
Muhammadiyah ke-37 di Yogyakarta, yang terkenal dengan istilah: Keyakinan dan Cita-Cita
Hidup Muhammadiyah.

Pertanyaan-pertanyaan tentang siapa konseptor MKCH, sampai saat ini tidak pernah terjawab
dengan pasti, tetapi beberapa nama tokoh Muhammmadiyah tercatat sebagai penggagas yang
memiliki saham terbesar dalam perumusan MKCH tersebut. Tokoh-tokoh tersebut antara lain:
1. Buya KH. Malik Ahmad
2. Buya AR Sutan Mansur
3. Prof.Dr.H.M. Rasyidi
4. KHM. Djindar Tamimy
5. KH. Djarnawi Hadikusuma
6. KH. AR Fachruddin, di samping tokoh muda, pada waktu itu, Drs. Mohammad Djazman alKindi.
Diperoleh data, bahwa pada tahun 1968-1970, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah
merumuskan sebuah buku panduan yang bertajuk Pribadi Muslim dan Ibdur Rahmn
untuk pimpinan-pimpinan Muhammadiyah. Rumusan inilah yang (diasumsikan) banyak
memberi inspirasi kepada para tokoh Muhammadiyah untuk menggagas MKCH.
Pada tahun 1970 Pimpinan Pusat Muhammadiyah membentuk Tim Ideologi yang dipimpin
oleh KHM. Djindar Tamimy dan Drs. Mohammad Djazman al-Kindi, yang kemudian memberi
saran, tanggapan, penyempurnaan terhadap (konsep) MKCH hasil Sidang Tanwir tahun 1969 di
Ponorogo, Jawa Timur. Dan hasilnya menjadi rumusan baku MKCH yang terdiri dari 3 (tiga)
kelompok rumusan dari 5 (lima) ayat, dari (semula) 9 ayat.
Kelopok Pertama adalah kelompok Ideologi, yang mengandung pokok-pokok persoalan yang
bersifat ideologis (terdiri atas ayat 1 dan 2), yang berisi:
Ayat 1 : Muhammadiyah adalah adalah gerakan berasas Islam, bercita-cita dan bekerja untuk
terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, untuk melaksanakan fungsi dan misi
manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

Ayat 2 : Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan
kepada para rasul-Nya, sejak Nabi Adam a.s. sampai dengan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai
hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan
hidup materiil dan spiritual, duniawi dan ukhrawi.
Kelompok kedua adalah kelompok faham agama dalam Muhammadiyah (terdiri atas ayat 3 dan
4), yang berisi:
Ayat 3 : Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan: a) al-Quran; b) al-Hadits,
dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.
Ayat 4 : Muhaammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidangbidang: a) aqidah, yaitu ajaran yang berhubungan dengan kepercayaan; b) akhlaq, yaitu ajaran
yang berhubungan dengan pembentukan sikap mental ; c) ibadah, yaitu ajaran yang berhubungan
dengan peraturan dan tatacara hubungan manusia dengan Tuhan; d) muamalah duniawiyah,
yaitu ajaran ayng berhubungan dengan pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat.
Kelompok ketiga adalah kelompok fungsi dan misi Muhammadiyah (tersebut dalam ayat 5),
yang berisi:
Ayat 5 : Muhammadiyah mengajak segala lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat
karunisa Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa
dan negara Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila untuk berusaha bersama-sama
menjadikan negara Republik Indonesia tercinta ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun
ghafr (negara yang adil makmur dan diridhai Alah SWT).

Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah


a. Memahami Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah adalah seperangkat nilai dan norma Islami yang
bersumber Al-Quran dan Sunnah menjadi pola bagi tingkah laku warga Muhammadiyah dalam
menjalani kehidupan sehari-hari sehingga tercermin kepribadian Islami menuju terwujudnya
masyarakat utama yang diridloi Allah SWT.
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah merupakan pedoman untuk menjalani kehidupan
dalam lingkup pribadi, keluarga, bermasyarakat, berorganisasi, mengelola amal usaha, berbisnis,
mengembangkan profesi, berbangsa dan bernegara, melestarikan lingkungan, mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi, dan mengembangkan seni dan budaya yang menunjukkan
perilaku uswah hasanah (teladan yang baik).
b.Landasan dan Sumber
Landasan dan sumber Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah ialah Al-Quran dan Sunnah
Nabi dengan pengembangan dari pemikiran-pemikiran formal (baku) yang berlaku dalam
Muhammadiyah, seperti; Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, Muqaddimah
Anggaran Dasar Muhammadiyah, Matan Kepribadian muhammadiyah, Khittah Perjuangan
Muhammadiyah serta hasil-hasil Keputusan Majelis Tarjih.
c. Kepentingan
Warga Muhammadiyah dewasa ini memerlukan pedoman kehidupan yang bersifat panduan dan
pengkayaan dalam menjalani berbagai kegiatan sehari-hari, Tuntutan ini didasarkan atas
perkembangan situasi dan kondisi antara lain:
1) Kepentingan akan adanya Pedoman yang dijadikan acuan bagi segenap anggota
Muhammadiyah sebagai penjabaran dan bagian dari Keyakinan Hidup Islami Dalam

Muhammadiyah yang menjadi amanat Tanwir Jakarta 1992 yang lebih merupakan konsep
filosofis.
2) Perubahan-perubahan sosial-politik dalam kehidupan nasional di era reformasi yang
menumbuhkan dinamika tinggi dalam kehidupan umat dan bangsa serta mempengaruhi
kehidupan Muhammadiyah, yang memerlukan pedoman bagi warga dan Pimpinan Persyarikatan
bagaimana menjalani kehidupan di tengah gelombang perubahan itu.
3) Perubahan-perubahan alam pikiran yang cenderung pragmatis (berorientasi pada nilai guna
semata), materialistis (berorientasi pada kepentingan materi semata), dan hedonistis (berorientasi
pada pemenuhan kesenangan duniawi) yang menumbuhkan budaya inderawi (kebudayaan
duniawi yang sekular) dalam kehidupan modern abad ke-20 yang disertai dengan gaya hidup
modern memasuki era baru abad ke-21.
4) Penetrasi budaya (masuknya budaya asing secara meluas) dan multikulturalisme (kebudayaan
masyarakat dunia yang majemuk dan serba milintasi) yang dibawa oleh globalisasi (prosesproses hubungan-hubungan sosial-ekonomi-politik-budaya yang membentuk tatanan sosial yang
mendunia) yang akan makin nyata dalam kehidupan bangsa.
5) Perubahan orientasi nilai dan sikap dalam bermuhammadiyah karena berbagai faktor (internal
dan eksternal) yang memerlukan standar nilai dan norma yang jelas dari Muhammadiyah sendiri.

d. Sifat
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah Memiliki beberapa sifat/kriteria sebagai berikut:
1) Mengandung hal-hal pokok/prinsip dan penting dalam bentuk acuan nilai dan norma.
2) Bersifat pengkayaan dalam arti memberi banyak khazanah untuk membentuk keluhuran dan
kemuliaan ruhani dan tindakan.
3) Aktual, yakni memiliki keterkaitan dengan runrutan dan kepentingan kehidupan sehari-hari.
4) Memberikan arah bagi tindakan individu maupun kolektif yang bersifat keteladanan.
5) Ideal, yakni dapat menjadi panduan untuk kehidupan sehari-hari yang bersifat pokok dan
utama.
6) Rabbani, artinya mengandung ajaran-ajaran dan pesan-pesan yang bersifat akhlaqi yang

membuahkan kesalihan.
7) Taisir, yakni panduan yang mudah dipahami dan diamalkan oleh setiap muslim khususnya
warga Muhammadiyah.
e. Tujuan
Terbentuknya perilaku individu dan kolektif seluruh anggota Muhammadiyah yang menunjukkan
keteladanan yang baik (uswah hasanah) menuju terbentuknya masyarakat utama yang diridlai
Allah SWT.
f. Kerangka
Materi Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah dikembangkan dan dirumuskan dalam
kerangka sistematika sebagai berikut:
1) Bagian Pertama: Pendahuluan
2) Bagian Kedua: Islam dan Kehidupan
3) Bagian Ketiga: Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah
a) Kehidupan Pribadi
b) Kehidupan dalam Keluarga
c) Kehidupan Bermasyarakat
d) Kehidupan Berorganisasi
e) Kehidupan dalam Mengelola Amal Usaha Muhammadiyah
f) Kehidupan dalam Berbisnis
g) Kehidupan dalam Mengembangkan Profesi
h) Kehidupan dalam Berbangsa dan Bernegara
i) Kehidupan dalam Melestarikan Lingkungan
j) Kehidupan dalam Mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
k) Kehidupan dalam Seni dan Budaya
4) Bagian Keempat: Tuntunan Pelaksanaan

Pimpinan Pusat Muhammadiyah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memimpin


pelaksanaan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah ini dengan mengerahkan segala
potensi, usaha, dan kewenangan yang dimilikinya sehingga program ini dapat berhasil mencapai
tujuannya. Karenanya, berikut ini disusun langkah-langkah pokok sebagai Tuntunan Pelaksanaan
dalam mewujudkan konsep Pedman Hidup Islami dalam Muhammadiyah.
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah mengikat seluruh warga, pimpinan, dan lembaga
yang berada di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai program khusus yang harus
dilaksanakan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari untuk kebaikan hidup bersama dan
tegaknya Masyarakat Utama yang menjadi rahmatan lil'alamin
a) Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, dan Pimpinan Ranting di bawah
kepemimpinan Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertanggung jawab di setiap daerah masingmasing untuk melaksanakan, mengelola, dan mengevaluasi pelaksanaan program khusus
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah.
b) Pelaksanaan penerapan/operasionalisasi Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah di
setiap tingkatan hendaknya melibatkan semua Majelis, Lembaga, Badan dan Organisasi Otonom
dalam satu koordinasi pellaksanaan oleh Pimpinan Persyarikatan yang terpadu dan efektif serta
efisien menuju keberhasilan mencapai tujuan.
5) Bagian Kelima: Penutup
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah akan terlaksana dan dapat mencapai keberhasilan
jika benar-benar menjadi tekad dan kesungguhan sepenuh hati segenap warga dan pimpinan
Muhammadiyah dengan menggunakan seluruh ikhtiar yang optimal yang didukung oleh berbagai
faktor yang positif menuju tujuannya.
Dengan senantiasa memohon pertolongan dan kekuatan dari Allah SWT. insya-Allah
Muhammadiyah dapat melaksanakan program khusus yang mulia ini sebagai wujud ibadah

kepada-Nya demi tegaknya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafr (Negara Yang AdilMakmur dibawah Naungan Ampunan Allah).