Anda di halaman 1dari 17

DAFTAR ISI

Daftar Isi...................................................................................................................1
BAB I. PENDAHULUAN...................................................................................... 2
I.1 Latar belakang................................................................2
I.2 Ruang Lingkup Penelitian..............................................2
I.3 Tujuan dan Manfaat.......................................................3
BAB II. Isi...... 4
II.1Keselamatan dan Kesehatan Kerja.................................4
II.2Kecelakaan Kerja.......................................................... 4
II.3Masalah Kecelakaan Kerja di Indonesia....................... 5
II.4Keselamatan Kerja dan Pertolongan Pertama................9
BAB III. KESIMPULAN.......................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA... 16

Bab I

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang


Masalah keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara umum di Indonesia masih
sering terabaikan. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka kecelakaan kerja.
Belum lagi pertolongan dan penanganan yang sangat lambat ketika terjadi kecelakaan
kerja. Di Indonesia, setiap tujuh detik terjadi satu kasus kecelakaan kerja ("K3 Masih
Dianggap Remeh," Warta Ekonomi, 2 Juni 2006). Hal ini tentunya sangat
memprihatinkan. Tingkat kepedulian dunia usaha terhadap K3 masih rendah. Padahal
karyawan adalah aset penting perusahaan. Kewajiban untuk menyelenggarakaan Sistem
Manajemen K3 pada perusahaan-perusahaan besar melalui UU Ketenagakerjaan, baru
menghasilkan 2,1% saja dari 15.000 lebih perusahaan berskala besar di Indonesia yang
sudah menerapkan Sistem Manajemen K3. Minimnya jumlah itu sebagian besar
disebabkan oleh masih adanya anggapan bahwa program K3 hanya akan menjadi
tambahan beban biaya perusahaan. Padahal jika diperhitungkan besarnya dana
kompensasi/santunan untuk korban kecelakaan kerja sebagai akibat diabaikannya Sistem
Manajemen K3, yang besarnya mencapai lebih dari 190 milyar rupiah di tahun 2003,
jelaslah bahwa masalah K3 tidak selayaknya diabaikan. Di samping itu, yang masih
perlu menjadi catatan adalah standar keselamatan kerja di Indonesia ternyata paling
buruk jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk dua
negara lainnya, yakni Bangladesh dan Pakistan. Sebagai contoh, data terjadinya
kecelakaan kerja yang berakibat fatal pada tahun 2001 di Indonesia sebanyak 16.931
kasus, sementara di Bangladesh 11.768 kasus.

1.2. Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup penelitian ini mencakup Undang- Undang yang mendasari K3
masalah penanganan dan pertolongan pertama pada kecelakaan kerj di Indonesia.

1.3. Tujuan dan Manfaat


Tujuan dari pembuatan makalah ini :
1. Mengetahui masalah- masalah yang berhubungan dengan prosedur
pertolongan pertama pada kecelakaan kerja di Indonesia.

2. Mengetahui Undang-undang yang mengatur masalah keselamatan kerja.


3. Penanganan kecelakaan kerja di Indonesia,
Manfaat :
1. Adanya solusi yang kita temukan untuk mengatasi masalah keselamatan kerja
di Indonesia.
2. Lebih peduli pada keselamatan kerja sehingga terciptanya kenyamanan bagi
seluruh masyarakat.

Bab II
Isi

2.1.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah bidang yang terkait dengan
kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan manusia yang bekerja di sebuah institusi
maupun lokasi proyek. Tujuan K3 adalah untuk memelihara kesehatan dan keselamatan
lingkungan kerja.K3 juga melindungi rekan kerja, keluarga pekerja, konsumen, dan orang
lain yang juga mungkin terpengaruh kondisi lingkungan kerja.
Kesehatan dan keselamatan kerja cukup penting bagi moral, legalitas, dan
finansial. Semua organisasi memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa pekerja dan
orang lain yang terlibat tetap berada dalam kondisi aman sepanjang waktu.[2] Praktek K3
(keselamatan kesehatan kerja) meliputi pencegahan, pemberian sanksi, dan kompensasi,
juga penyembuhan luka dan perawatan untuk pekerja dan menyediakan perawatan
kesehatan dan cuti sakit.

2.2.

Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan.
Biasanya kecelakaan menyebabkan, kerugian material dan penderitaan dari yang paling
ringan sampai kepada yang paling berat. Kecelakaan di laboratorium dapat berbentuk 2
jenis yaitu :
a. Kecelakaan medis, jika yang menjadi korban pasien
b. Kecelakaan kerja, jika yang menjadi korban petugas laboratorium itu
sendiri.
Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok :
1. Kondisi berbahaya (unsafe condition), yaitu yang tidak aman dari:
a. Peralatan / Media Elektronik, Bahan dan lain-lain.
b. Lingkungan kerja
c. Proses kerja.
d. Sifat pekerjaan.
e. Cara kerja.
2. Perbuatan berbahaya (unsafe act), yaitu perbuatan berbahaya dari manusia, yang
dapat terjadi antara lain karena:
a. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana.
b. Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect).
c. Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh.

d. Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik.


2.3.

Masalah Kecelakaan Kerja di Indonesia


Di Indonesia, minimnya perhatian terhadap kesehatan dan keselamatan kerja
kemungkinan besar disebabkan oleh ruang lingkup masalah tersebut yang amat luas,
bersifat lintas sektor dan menyangkut berbagai aspek. Oleh karenanya
pengelolaannya pun tentu bersifat lintas sektor dan membutuhkan koordinasi yang
intens antar semua pihak terkait. Sementara yang juga menjadi salah satu kelemahan
serius di Indonesia adalah rendahnya kemampuan berkoordinasi, baik dalam
perencanaan program maupun dalam pelaksanaan suatu kebijakan.
Dalam soal kesehatan dan keselamatan kerja, misalnya, yang dibutuhkan
minimal koordinasi yang intens antara pihak yang terlibat dalam dunia kesehatan dan
dunia ketenaga-kerjaan, baik pada lingkup operasional, penentu kebijakan, maupun
dengan elemen yang terlibat dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Dengan kata lain,
kesehatan dan keselamatan kerja dapat dilihat dari berbagai sisi, antara lain:
a.

Dari ruang lingkupnya K-3 dapat diartikan sebagai suatu masalah yang
berkaitan dengan Dunia Kesehatan dan Dunia Kerja yang serius saat ini
dan menarik perhatian masyarakat internasional.

b.

Sebagai disiplin ilmu merupakan ilmu kesehatan yang memberikan


perhatian besar terhadap hubungan timbal balik antara aspek kesehatan dan
aspek kerja.

c.

Sementara dari aspek politik dan kebijakan publik dapat dicerminkan


dengan berbagai peraturan dan kebijakan --baik global maupun nasional-yang bertujuan melindungi pekerja dan faktor yang dapat mengancam
kesehatan dan keselamatannya dalam pekerjaan.

Peraturan K3 di Indonesia

Dalam rangka terjaminnya keselamatan dan kesehatan kerja pada


penyelenggaraan konstruksi di Indonesia, terdapat pengaturan mengenai K3 yang bersifat
umum dan yang bersifat khusus untuk penyelenggaraan konstruksi yakni:
1.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per-01/Men/1980 tentang Keselamatan dan

Kesehatan Kerja Pada Konstruksi Bangunan.


3.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per-05/Men/1996 tentang Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja


4.

Surat Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum

masing-masing Nomor Kep.174/MEN/1986 dan 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan


dan Kesehatan Kerja Pada Tempat Kegiatan Konstruksi
Ketentuan Administrasi
Kewajiban Umum
a. Penyedia Jasa Kontraktor berkewajiban untuk mengusahakan agar tempat
kerja, peralatan, lingkungan kerja dan tata cara kerja diatur sedemikian rupa
sehingga tenaga kerja terlindung dari resiko kecelakaan.
b. Penyedia Jasa Kontraktor menjamin bahwa mesin mesin peralatan, kendaraan
atau alat-alat lain yang akan digunakan atau dibutuhkan sesuai dengan
peraturan Keselamatan Kerja, selanjutnya barang-barang tersebut harus dapat
dipergunakan secara aman.
c. Penyedia Jasa Kontraktor turut mengadakan :pengawasan terhadap tenaga
kerja, agar tenaga kerja tersebut dapat melakukan pekerjaan dalam keadaan
selamat dan sehat.

d. Penyedia Jasa Kontraktor menunjuk petugas Keselamatan Kerja yang karena


jabatannya di dalam organisasi kontraktor, bertanggung jawab mengawasi
kordinasi pekerjaan yang dilakukan. untuk menghindarkan resiko bahaya
kecelakaan.
e. Penyedia Jasa Kontractor memberikan pekerjaan yang cocok untuk tenaga
kerja sesuai dengsn keahlian umur, jenis kelamin dan kondisi
fisik/kesehatannya.
f. Sebelum pekerjaan dimulai Penyedia Jasa Kontraktor menjamin bahwa semua
tenaga kerja telah diberi petunjuk terhadap bahaya demi pekerjaannya masingmasing dan usaha pencegahannya, untuk itu Pengurus atau kontraktor dapat
memasang papan-papan pengumuman, papan-papan peringatan serta saranasarana pencegahan yang dipandang perlu.
g. Orang tersebut bertanggung jawab pula atas pemeriksaan berkala terhadap
semua tempat kerja, peralatan, sarana-sarana pencegahan kecelakaan,
lingkungan kerja dan cara-cara pelaksanaan kerja yang aman.
h. Hal-hal yang rnenyangkut biaya yang timbal dalam rangka penyelenggaraan
keselamatan dan kesehatan kerja menjadi tanggung jawab Pengurus dan
Kontraktor.
Organisasi K3
a. Petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja harus bekerja secara penuh (FullTime) untuk mengurus dan menyelenggarakan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja.
b. Pengurus dan Kontraktor yang mengelola pekerjaan dengan memperkerjakan
pekerja dengan jumlah minimal 100 orang atau kondisi dari sifat proyek

memang memerlukan, diwajibkan membentuk unit Pembina Keselamatan


dan Kesehatan Kerja.
c. Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja tersebut ini merupakan
unit struktural dari organisasi Kontraktor yang dikelola oleh Pengurus atau
Kontraktor.
d. Petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja tersebut bersama-sama dengan
Panitia Pembina Keselamatan Kerja ini bekerja sebaik-baiknya, dibawah
kordinasi Pengurus atau Kontraktor, serta bertanggung jawab kepada
Pemimpin Proyek.
Kontraktor harus :
1. Memberikan kepada Panitia Pembir.a Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Safety
Committee) fasilitas-fasilitas dalam melaksanakan tugas mereka.
2. Berkonsultasi dengan Panitia Pembina Keselamatan clan Kesehatan Kerja (Safety
Committee) dalam segala hal yang berhubungan dengan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja dalam Proyek.
3. Mengambil langkah-langkah praktis untuk memberi efek pada rekomendasi dari Safety
Committee.
4. Jika 2 (dua) atau lebih kontraktor bergabung dalam suatu proyek mereka harus bekerja
sama membentuk kegiatan kegiatan keselamatan dan kesehatan Kerja.
Laporan Kecelakaan

Setiap kejadian kecelakaan kerja atau kejadian yang berbahaya harus dilaporkan
kepada Depnaker dan Departemen Pekerjaan Umum.

Laporan tersebut harus meliputi statistik yang akan :

Menunjukkan catatan kecelakaan dari setiap kegiatan kerja, pekerja masingmasing clan,

2.4.

Menunjukkan gambaran kecelakaan-kecelakaan dan sebab-sebabnya.

Keselamatan Kerja dan Pertolongan Pertama


Suatu rencana organisasi untuk keadaan darurat dan pertolongan pertama harus
dibuat sebelumnya untuk setiap daerah ternpat bekerja meliputi seluruh pegawai/petugas
pertolongan pertama pada kecelakaan dan peralatan, aiat-alat komunikasi alat-alat jalur
transportasi.
Pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan atau penyakit yang tiba-tiba, harus
dilakukan oleh dokter, Juru Rawat atau seorang yang terdidik dalam pertolongan pertama
pada kecelakaan (P.P.P.K.). Alat-alat P.P.P.K. atau kotak obat-obatan yang memadai, harus
disediakan di tempat kerja dan dijaga agar tidak dikotori oleh debu, kelembaban udara
dan lain-lain. Beberapa ketentuan alat-alat P.P.P.K. antara lain :
a. Alat-alat P.P.P.K. atau kotak obat-obatan harus berisi paling sedikit dengan obat
untuk kompres, perban, Gauze yang steril, antiseptik, plester, Forniquet, gunting,
splint dan perlengkapan gigitan ular.
b. Alat-alat P.P.P.K. dan kotak obat-obatan harus tidak berisi benda-benda lain selain
alat-alat P,P.P.K. yang diperlukan dalam keadaan darurat.
c. Alat-alat P.P.P.K. dan kotak obat-obatan harus berisi keteranganketerangan/instruksi yang mudah dan jelas sehingga mudah dimengerti.

d. Isi dari kotak obat-obatan dan alat P.P.P.K. harus diperiksa secara teratur dan harus
dijaga supaya tetap berisi (tidak boleh kosong).
e. Kereta untuk mengangkat orang sakit,(Carrying basket) harus selalau tersedia.
f. Jika tenaga kerjaa dipekerjakan di bawah tanah atau pada keadaan lain, alat
penyelamat harus selalu tersedia di dekat tempat mereka bekerja.
g. Jika tenaga kerja dipekerjakan di tempat-tempat yang menyebabkan adanya risiko
tenggelam atau keracunan atau alat-alat penyelemat an harus selalu tersedia di
dekat tempat mereka bekerja.
h. Persiapan-persiapan harus dilaktikan untuk memungkinkan mengangkut dengan
cepat, jika diperlukan untuk petugas yang sakit atau mengalami kecelakaan ke
rumah sakit atau tempat berobat semacam ini.
i. Petunjuk/informasi harus diumumkan/ditempel di tempat yang baik (strategis)
yang memberitahukan :

Tempat yang terdekat dengan kotak obat-obatan, alat alat P.P.P.K. ruang
P.P.P.K. ambulans, kereta untuk orang sakit, dan tempat dimana dapat
dicari orang yang bertugas untuk urusan kecelakaan.

Tempat telpon terdekat untuk menelpon/memanggil ambulans, nomor


telpon dan nama orang yang bertugas dan lain-lain.

Nama, alamat, nomor telpon dokter, rumah sakit dan tempat penolong
yang dapat segera dihubungi dalam keadaan darurat/ emergency.

Pembiayaan Keselamatan dan Kesehatan kerja

Biaya operasional kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja harus sudah


diantisipasi sejak dini yaitu pada saat pengguna jasa mempersiapkan pembuatan desain
dan perkiraan biaya suatu proyek jalan dan jembatan. Sehingga idealnya pada saat
pelelangan menjadi salah satu item pekerjaan yang perlu menjadi bagian evaluasi dalam
penetapan pemenang lelang. Selanjutnya penyedia jasa kontraktor harus melaksanakan
prinsip-prinsip kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja termasuk penyediaan prasarana,
sumberdaya manusia dan pembiayaan untuk kegiatan tersebut dengan biaya yang wajar.
Oleh karena itu baik penyedia jasa dan pengguna jasa perlu memahami prinsipprinsip keselamatan dan kesehatan kerja ini , agar dapat melakukan langkah persiapan,
pelaksanaan dan pengawasannya.

Bab 3
Penutup

Kesimpulan
Lambannya prosedur kesehatan dan keselamatan kerja di Indonesia tampak
selain disebabkan oleh rendahnya kesadaran para pelaku usaha akan hal ini, juga oleh
beragam faktor lain, dan karena itu perlu selusi yang bersifat menyeluruh.
Hasil satu survai menyebutkan bahwa hampir 37,2 5 perusahaan yang terdapat di
Indonesia tidak menyediakan biaya kesehatan dalam rencana pembiayaan perusahaan
meski hampir 57% pihak manajemen perusahaan menengah mengaku paham akan

pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja. Sedang sebagian besar perusahaan skala
kecil umumnya tidak menerapkan --bahkan tidak mengenal-- prinsip kesehatan dan
keselamatan kerja. Lebih menyedihkan lagi pada sektor informal hingga saat ini belum
ada upaya pemantauan terhadap implementasi K-3 dalam kegiatan usahanya.
Kondisi yang menyedihkan diatas memang menjadi kenis-cayaan dari sistem
hubungan kerja yang berlaku selama ini yang tak memungkinkan penerapan
ketentuan K-3 secara intens. Sistem hubungan Kerja borongan, Kerja kontrak
sementara, Kerja Harian Lepas dan sejenisnya memang tidak mendukung terlaksananya
K-3.
Sesungguhnya semua itu terjadi karena dukungan politik dari pemerintah dalam
perlindungan pekerja jauh dari memadai. Dalam berbagai kebijakan mengenai ketenagakerjaan dan dunia usaha, misalnya, terlihat dengan jelas belum semua aspek prinsipil
kesehatan dan keselamatan kerja terakomodir secara maksimal. Demikian pula
ketentuan audit kesehatan dan keselamatan kerja sering hanya bersifat formalitas belaka.
Namun diluar sebab-sebab diatas, tersendatnya penerapan K-3 di Indonesia juga
disebabkan oleh belum berkembangnya disiplin ilmu kedokteran okupasi sehinga
jumlah dokter okupasi di Indonesia masih sangat minim begitu pula klinik medik
okupasi masih sangat terbatas.

Solusi dan Pencegahan


Pencegahan kecelakaan kerja dilakukan melalui berbagai pengendalian, yakni :
A. Pengendalian Melalui Perundang-undangan (Legislative Control) antara lain :

UU No. 14 Tahun 1969 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Petugas kesehatan dan


non kesehatan

UU No. 01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan

Peraturan Menteri Kesehatan tentang higene dan sanitasi lingkungan.

Peraturan penggunaan bahan-bahan berbahayaPeraturan/persyaratan pembuangan


limbah dll.

B. Pengendalian melalui Administrasi / Organisasi (Administrative control) antara lain :

Persyaratan penerimaan tenaga medis, para medis, dan tenaga non medis yang
meliputi batas umur, jenis kelamin, syarat kesehatan

Pengaturan jam kerja, lembur dan shift

Menyusun Prosedur Kerja Tetap (Standard Operating Procedure) untuk masingmasing instalasi dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya

Melaksanakan prosedur keselamatan kerja (safety procedures) terutama untuk


pengoperasian alat-alat yang dapat menimbulkan kecelakaan (boiler, alat-alat
radiology, dll) dan melakukan pengawasan agar prosedur tersebut dilaksanakan

Melaksanakan pemeriksaan secara seksama penyebab kecelakaan kerja dan


mengupayakan pencegahannya.

C. Pengendalian Secara Teknis (Engineering Control) antara lain :

Substitusi dari bahan kimia, alat kerja atau proses kerja

Isolasi dari bahan-bahan kimia, alat kerja, proses kerja dan petugas kesehatan dan non
kesehatan (penggunaan alat pelindung)

Perbaikan sistim ventilasi, dan lain-lain

D. Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control)


Yaitu upaya untuk menemukan gangguan sedini mungkin dengan cara mengenal
(Recognition) kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang dapat tumbuh pada setiap jenis
pekerjaan di unit pelayanan kesehatan dan pencegahan meluasnya gangguan yang sudah
ada baik terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap orang disekitarnya. Dengan

deteksi dini, maka penatalaksanaan kasus menjadi lebih cepat, mengurangi penderitaan
dan mempercepat pemulihan kemampuan produktivitas masyarakat pekerja. Disini
diperlukan system rujukan untuk menegakkan diagnosa penyakit akibat kerja secara cepat
dan

tepat

(prompt-treatment).

Pencegahan

sekunder

ini

dilaksanakan

melalui

pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi:


1. Pemeriksaan Awal
Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum seseorang calon / pekerja
(petugas kesehatan dan non kesehatan) mulai melaksanakan pekerjaannya. Pemeriksaan
ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang status kesehatan calon pekerja dan
mengetahui apakah calon pekerja tersebut ditinjau dari segi kesehatannya sesuai dengan
pekerjaan yang akan ditugaskan kepadanya
Pemerikasaan kesehatan awal ini meliputi :

Anamnese umum

Anamnese pekerjaan

Penyakit yang pernah diderita

Alrergi

Imunisasi yang pernah didapat

Pemeriksaan badan

Pemeriksaan laboratorium rutin

Pemeriksaan tertentu:

Tuberkulin test

Psikotest

2. Pemeriksaan Berkala
Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara berkala dengan jarak
waktu berkala yang disesuaikan dengan besarnya resiko kesehatan yang dihadapi. Makin
besar resiko kerja, makin kecil jarak waktu antar pemeriksaan berkala Ruang lingkup
pemeriksaan disini meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus seperti pada
pemeriksaan awal dan bila diperlukan ditambah dengan pemeriksaan lainnya, sesuai
dengan resiko kesehatan yang dihadapi dalam pekerjaan.
3. Khusus
Yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus diluar waktu
pemeriksaan berkala, yaitu pada keadaan dimana ada atau diduga ada keadaan yang dapat
mengganggu kesehatan pekerja. Sebagai unit di sektor kesehatan pengembangan K3 tidak
hanya untuk intern di Tempat Kerja Kesehatan, dalam hal memberikan pelayanan
paripurna juga harus merambah dan memberi panutan pada masyarakat pekerja di
sekitarnya, utamanya pelayanan promotif dan preventif. Misalnya untuk mengamankan
limbah agar tidak berdampak kesehatan bagi pekerja atau masyarakat disekitarnya,
meningkatkan kepekaan dalam mengenali unsafe act dan unsafe condition agar tidak
terjadi kecelakaan dan sebagainya.
Pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Kesehatan dan keselamatan kerja di Tempat Kerja Kesehatan bertujuan agar
petugas, masyarakat dan lingkungan tenaga kesehatan saat bekerja selalu dalam keadaan
sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut,
perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak
pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggungjawab terhadap kesehatan masyarakat, memfasilitasi pembentukan berbagai peraturan,
petunjuk teknis dan pedoman K3 di tempat kerja kesehatan serta menjalin kerjasama
lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaan K3 tersebut.
Keterlibatan dan komitmen yang tinggi dari pihak manajemen atau pengelola tempat
kerja kesehatan mempunyai peran sentral dalam pelaksanaan program ini. Demikian pula

dengan pihak petugas kesehatan dan non kesehatan yang menjadi sasaran program K3 ini
harus berpartisipasi secara aktif, bukan hanya sebagai obyek tetapi juga berperan sebagai
subyek dari upaya mulia ini. Melalui kegiatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja ,
diharapkan petugas kesehatan dan non kesehatan yang bekerja di tempat kerja kesehatan
dapat bekerja dengan lebih produktif, sehingga tugas sebagai pelayan kesehatan kepada
masyarakat dapat ditingkatkan mutunya, menuju Indonesia Sehat.
Pertolongan Pertama pada Kecelakaan Kerja
Dengan mencegah terjadinya kecelakaan kerja maka tidak perlu ada pertolongan
pertama. Namun ketika hal ini benar- benar terjadi maka sangatlah perlu adanya
pertolongab pertama agar terjaminnya keselamatan pekerja. Karena dengan sedikit
keterlambatan saja maka seseorang dapat kehilangan nyawanya. Di Indonesia sendiri
perlu diadakan evaluasi pada pertolongan pertama kecelakaan kerja, karena masih begitu
lambannya penanganan terhadap kecelakaan kerja.

Daftar Pustaka

http://ppnisardjito.blogspot.co.id/2012/06/kesehatan-dan-keselamatan-kerja-bagi.html
http://www.kompasiana.com/pauluslondo/problematika-kesehatan-dan-keselamatankerja-k-3-di-indonesia_551b0d1ca33311ee21b65bf3
http://mandirimahadaya.co.id/index.php/our-services/training/sertifikasi-kemenakertransri/108-pelatihan-p3k
http://civil-injinering.blogspot.co.id/2009/06/keselamatan-dan-kesehatan-kerja.html