Anda di halaman 1dari 8

HISTOLOGI SISTEM CARDIOVASCULARE

(SISTEM PEMBULUH DARAH & JANTUNG)


Oleh : Sri Nabawiyati Nurul Makiyah, S.Si.,M.Kes

Jantung memompa darah melalui sistem pembuluh darah semi tertutup terdiri dari
arteria, kapiler, sinus dan vena. Bagaimanapun sistem cardiovaskuler tidak hanya
memompa dan mengumpulkan pipa yang terdiri dari pompa dan seperangkat saluran
yang berhubungan. Dinding dari sistem ini tidak lamban, tetapi mensekresikan dan
merespon sejumlaH faktor vasoregulatori. Bermacam-macam komponen dalam sistem ini
adalah sel otot jantung, sel otot polos, dan sel endothelial vaskuler mensekresikan
substansi ke dalam darah yang akan mengubah tekanan darah dan mengatur
penggumpalan darah (clotting).
Jantung dibungkus oleh membrana berdinding ganda yaitu pericardium.
Pericardium dapat dibayangkan seperti balon yang mengempis dengan jantung melekuk
pada salah satu sisi yang sangat dalam sehingga menekan sisi yang lain, mengurangi
ruang udara diantara lapisan balon sampai minimal. Pada sisi yang mengadakan kontak
dengan jantung terdiri dari selapis sel epitel pipih (mesothelial) yaitu pericardium
visceralis. Lapisan ini juga membentuk bagian terluar dari epicardium. Pericardium
visceralis digambarkan mengelilingi akar jantung dimana pembuluh darah utamanya
memasuki dan meninggalkan jantung menjadi pericardium parietalis. Pericardium
parietalis dipertebal oleh lapisan terluar yang keras merupakan jaringan ikat fibrosa.
Diantara kedua lapisan pericardium tersebut adalah ruangan yang disebut cavitas/saccus
pericardialis yang secara normal ditempati oleh lapisan tipis cairan lubrikasi.
Dinding jantung terdiri dari 3 lapisan yaitu epicardium, myocardium dan
endocardium. Epicardium adalah bungkus terluar jantung terdiri dari satu lapis sel pipih
mesothelial (pericardium visceralis) dan di bawahnya lapisan jaringan ikat yang
mengandung pembuluh darah utama yang mensuplai jantung (arteria coronaria dan vena
cardiaca/sinus coronarius), nervus dan ganglion, pembuluh darah limfatik dan bermacammacam deposit jaringan lemak (tergantung berapa tingkat sejauh mana kesadaran pasien
tentang diet dan olahraganya).

Myocardium terdiri dari lapisan tebal sel otot jantung dengan berbagai arah.
Fibroblast dan serabut kolagen terselip di antara sel otot jantung. Fibroblast dan serabut
kolagen ini sebagai pelengkap struktur penyokong dan mendistribusikan kekuatan
kontraksi di sepanjang myocardium. Meskipun sel otot jantung berhubungan dengan
dukungan tulang, sel otot jatung ini dihubungkan dengan jaringan ikat padat yang
membentuk cincin katup dan rangka jantung (fibrous trigones) dekat bagian basal
jantung. Hal ini melengkapi substrat untuk kontraksi. Myocardium sangat kaya
vaskularisasi dengan sejumlah kapiler yang terselip di antara sel otot jantung. Nervus
tidak menembus terlalu dalam sampai ke myocardium.
Endocardium terdiri dari selapis sel endothelium pipih merupakan kelanjutan
dengan endothelium yang membatasi pembuluh darah yang masuk atau meninggalkan
jantung. Di bawah lapisan ini ada lapisan retikuler dan jaringan ikat kasar
(subendocardium), kadang-kadang sel otot polos, komponen sistem konduksi jantung
dan sejumlah pembuluh darah kecil.
Beberapa tipe modifikasi sel otot jantung membentuk sistem penghantaran pada
jantung. Semua sel otot jantung memiliki ritmisitas intrinsik. Sel otot jantung khusus
pada nodus sinoatrialis lebih cepat dan mengontrol kecepatan gelombang yang lain
(cardiac pacemaker). Nodus sinoatrialis terletak pada dinding sebelah kanan atrium sekat
pembukaan vena cava superior. Sel-sel nodus lebih kecil ukurannya daripada
cardiomyocytus atrium, lebih sedikit discus intercalatus dan mengandung lebih sedikit
myofibril. Sel-sel nodus sinoatrialis diatur secara melingkar mengelilingi arteri nodus dan
terbungkus di dalam matriks fibrocolagenosus padat. Impuls kontraktil yang asalnya
nodus sinoatrialis berjalan melalui gap junction sepanjang sel otot atrial yang lain atau
melalui tractus myocytus atrialis untuk mencapai nodus atrioventrikular yang terletak
berdekatan dengan nodus atrioventrikular kanan dan septum interatrial. Sel-sel nodus
atrioventrikularis secara histologi hampir sama dengan sel-sel sinoatrialis tetapi
berhubungan melalui gap junction dengan modifikasi sel otot jantung yang lebih besar
yaitu serabut Purkinje. Serabut Purkinje menembus bagian membranous dari septum
interventrikular sebagai bundel His dan terbagi menjadi 2 cabang utama pada jaringan
ikat subendocardium dari bagian muscular septum, masing-masing berjalan ke tepi-tepi

ventrikel. Sel Purkinje lebih besar daripada cardiomyocytus ventrikular, kurang myofibril
dan mengandung deposit glikogen yang melimpah.

PEMBULUH DARAH
Pembuluh darah terdiri dari 3 lapisan, ukuran relatif tiap-tiap lapisan
mencerminkan fungsi pembuluh darah.
Tabel. 3. Klasifikasi pembuluh darah
No.

Type

Fungsi

Karakterisk Dinding

Nama

1.

Arteria elastika

Penghantaran
(tekanan tinggi,
volume rendah)

2.

Arteria muscularis

Penyebaran
ke Sel-sel
organ dan otot
dominan
media

3.

Arteriola

Resistensi (daya Sedikit


pada
tunica Tidak ada
tahan),
adventitia, 1-5 lapis sel
otot polos pada tunica
penyebaran
di
media
dalam organ

4.

Metarteriola

Pengaturan aliran Tidak


kapiler
media

5.

Kapiler

Pertukaran

Tidak ada tunica media Tidak ada


dan tunica adventitia,
pericytus mungkin ada

6.

Venula post kapiler

Kapasitansi
(volume tinggi,
tekanan rendah)

Tunica adventitia ada Tidak ada


tetapi sel otot polos hanya
mengelompok
pada
tunica media

7.

Vena ukuran kecil Kapasitansi


sampai
sedang
(medium)

Mempunyai vulva

Vena ukuran besar

Menonjol tunica media Vena


dengan
otot
polos inferior
longitudinal

8.

kapasitansi

Bungkus elastin diantara -Aorta


sel otot polos pada tunica
-Arteria
medianya
pulmonaris
otot
pada

berlajut

polos -Arteria radialis


tunica
-Arteria popliteal

tunica Tidak ada

Vena cephalica
Vena saphenous
cava

TUNIKA INTIMA
Tunika intima adalah lapisan paling dalam dinding pembuluh darah dan
membatasi lumen. Tunika intima selalu ada pada semua pembuluh darah. Tunika intima
terdiri dari epithelium pipih selapis (satu lapis sel endothel pipih) dan melandasi jaringan
ikat longgar subendothelial termasuk serabut kolagen dan elastin. Pada arteriola dan
arteria muscularis, terlihat jelas batas lapisan elastin yaitu membrana elastika interna
yang memisahkan tunika intima dari tunica media/muskularis.
Sel endothelial membentuk barier selektif di antara darah dan cairan interstisial.
Selektivitas barier tergantung pada kebutuhan khusus dari jaringan sekelilingnya. Pada
sebagian besar pembuluh darah, sel endothelial membentuk lapisan berkelanjutan
dihubungkan oleh tight junction dan gap junction untuk mencegah saling bertukarnya
(interchange) substansi menyeberangi junction interseluler (jalur paraseluler)
Dengan ukurannya yang kecil sel endothel mirip dengan mesin sintesis,
mensintesis bermacam-macam substansi yang mengatur pembekuan darah dan aliran
darah vaskuler.
Sel endothel mengandung organel sitoplasmik seperti sel lainnya termasuk
retikulum endoplasma kasar (RER) dan aparatus golgi perinuklear kecil. Sel endothel
pada pembuluh darah berukuran lebih besar daripada kapiler juga dicirikan oleh adanya
badan Weibel-Palade yang merupakan vesikel penyimpanan untuk faktor von Willebrand
(faktor pembekuan darah VIII). Meskipun beberapa substansi yang dihasilkan oleh sel
endothel disekresikan secara teratur, faktor von Willebrand dilepaskan melalui jalur
sekretori yang diatur pada waktu dirangsang oleh kerusakan endothel. Defisiensi pada
faktor ini adalah salah satu dari beberapa penyebab hemofili.
Salah satu faktor lain yang patut dicatat adalah heparin dan molekul yang mirip
heparin, substansi ini merangsang antithrombin III menjadi thrombin in aktif dan
kemudian menghambat pembekuan darah. Hal ini mempunyai kegunaan praktis dalam
hematologi karena sampel darah biasanya dikumpulkan dalam pipa terbungkus dengan
heparin untuk mencegah pembekuan darah.
Sel endothel mempunyai kemampuan regenerasi dan membentuk landasan bagi
pembentukan pembuluh darah yang baru dan revaskularisasi yang mengikuti luka.

Meskipun sel endothel secara relatif mempunyai rentang hidup panjang (beberapa bulan
sampai tahunan), sel-sel endothel melanjutkan pembelahan secara lambat selama dewasa.
Pembuluh darah pertama pada embryo dibentuk sel endothel, sedangkan jaringan ikat dan
komponen muskular dinding pembuluh darah ditambahkan selama diperlukan. Luka pada
sel endothel akan diperbaiki dengan proliferasi dan migrasi sel endothel tetangganya.
Pada waktu pembuluh darah baru diperlukan, mereka bertunas dari pembuluh darah
berukuran kecil yang sudah ada dengan perluasan dari prosesus endothel dipengaruhi
oleh komponen matriks ekstraseluler dan faktor pertumbuhan yang dilepaskan oleh
jaringan di sekelilingnya. Vakuola terbentuk pada sel endothel bersebelahan yang
kemudian bergabung membentuk pipa cekung yang dikelilingi oleh endothel. Kemudian
semua pembuluh darah memulai perkembangannya sebagai kapiler.
Sel endothel memainkan peran utama pada respon imun dengan mengatur lalu
lintas sel darah putih dari darah ke dalam jaringan.

TUNICA MEDIA
Tunica media terutama terdiri dari sel otot polos dan sejumlah serabut kolagen
dan elastin. Sel otot polos pada tunika media mensekresikan serabut kolagen dan elastin
karena tidak ada fibroblast. Kolagen tipe III ditemukan pada jaringan ikat interseluler,
sementara kolagen IV dan V dikaitkan dengan lamina eksterna sel otot polos. Elastin
ditemukan pada lembaran dari bermacam-macam ukuran diantara lapisan sel otot polos
dan pada lamina elastika interna dan eksterna yang membatasi tunika media. Sel otot
polos dihubungkan satu dengan yang lainnya melalui gap junction dan kadang-kadang
desmosom.
Kapiler memiliki tunika media terdiri dari secara keseluruhan pericytus tipis yang
berhubungan secara longgar dengan sel endothel. Pericytus memiliki fungsi kontraktil
dan mampu berdiferensiasi menjadi sel otot polos dengan adanya rangsangan (misalnya
dengan meningkatnya tekanan darah). Arteriola memiliki 1-3 (atau 4-5 pada sumber lain)
lapisan sel otot polos dalam rangkaian melingkar. Arteria muskular yang berukuran lebih
besar terdiri dari puluhan lapis sel otot polos yang dipisahkan oleh bungkus elastin yang
tidak sempurna. Pada arteria elastika besar, elastin membentuk lamela sempurna diantara

lapisan sel otot polos, yang sisanya kemudian mengadakan hubungan satu sama lain
melalui prosesus yang meluas sepanjang lamela elastika. Kandungan elastin yang tinggi
pada pembuluh darah ini membuatnya pada waktu terjadi lompatan elastin akan
menurunkan sifat getaran dari darah yang meninggalkan jantung pada waktu sistole.
Sel otot polos mempertahankan kemampuan proliferasinya dan akan mengalami
hiperplasi dan hipertropi dalam menanggapi mediator kimia juga faktor mekanik.
Bertambahnya ukuran dan jumlah sel otot polos terjadi selama adaptasi fisiologis (
misalnya rahim pada waktu hamil) dan gangguan patologis.
Spesialisasi fungsi sel otot polos berfungsi sebagai organ endokrin. Spesialisasi
sel otot polos arteriola aferens glomerulus renalis mensekresikan renin, merupakan enzim
yang penting pada tahapan akhirnya menghasilkan pembentukan angiotensin II
merupakan suatu vasokonstriktor yang kuat.
TUNIKA ADVENTITIA
Tunika adventitia terdiri dari fibroblast, kolagen tipe I dan komponen jaringan
ikat yang lain serta jaringan lemak.
Tunika adventitia mengandung sejumlah neuron yang akan menembus lapisan
terluar tunika media seperti halnya dengan pembuluh darah (vasa vasorum) sebagai
pelengkap nutrient dan sampah yang dibuang ke lapisan terluar tunika media pada
pembuluh darah besar dimana pada pembuluh darah besar ini kebutuhan nutrientnya
tidak dapat dipenuhi secara difusi ke dan dari lumen pembuluh darah. Vasa vaserum ini
analog dengan arteria coronaria pada jantung yang mensuplai darah ke myocardium.
PERUBAHAN ARTERI KARENA USIA
Arteri baru selesai berkembang secara sempurna pada saat dewasa, sangat sulit
membedakan beberapa tahap akhir perkembangan dari perubahan kemunduran yang
timbul karena bertambahnya usia. Arteri bertipe elastis berubah lebih nyata dengan
bertambahnya usia daripada srteri bertipe muskular. Dalam proses menua, perubahan
utama terjadi pada tunika intima dan tunika media. Jaringan elastis menebal tidak teratur,
serat-serat elastinnya cenderung terputus-putus, lemak merasuk ke dalam substansia
interstitialis; dan pada arteria berukuran sedang terjadi pengapuran pada tunika medianya.

Setiap jenis arteri memperlihatkan pola penuaannya masing-masing. Arteri yang


mengadakan perubahan lebih awal dimulai pada usia 20 tahun yaitu arteria coronaria.
Arteri yang lain mudai mengadakan modifikasi setelah usia 40 tahun. Pada waktu tunika
media arteri dilemahkan oleh karena cacat lahir, penyakit atau lesi, dinding arteri
mempunyai jalan keluar yaitu melakukan dilatasi secara ekstensif. Selama proses ini
berlangsung terus menerus, maka akan terjadi aneurisma dan dapat menyebabkan
rupturnya dinding arteri. Pentingnya kolagen tipe III pada struktur arteri digambarkan
oleh pengamatan pada sindrom Ehlers-Danlos tipe IV yaitu defisiensi genetik pada
sintesis kolagen tipe III, merupakan penyebab utama kematian secara spontan akibat
ruptur pada aorta.
Lesi aterosklerotik dicirikan oleh penebalan fokal pada tunika intima, proliferasi
sel-sel otot polos, elemen jaringan ikat ekstraseluler dan deposit kolesterol pada sel-sel
otot polos dan makrofag. Pada saat diperberat dengan kandungan lemak. Sel-sel ini
disebut sebagai sel-sel berbusa dan bentuknya secara makroskopik nampak sebagai
lapisan berlemak dan plak yang karakteristik untuk aterosklerosis. Perubahan ini akan
meluas ke arah dalam

dari tunika media dan penebalan akan semakin membesar

sehingga terjadi sumbatan pada pembuluh darah. Arteri coronaria adalah salah satu yang
paling sering terkena aterosklerosis. Perlu dicatat bahwa penebalan yang terjadi secara
seragam pada tunika intima diyakini sebagai fenomena yang normal pada proses
penuaan.
Arteria tertentu mensuplai darah hanya pada area organ tertentu, dan
penyumbatan yang terjadi adalah akibat nekrosis (kematian jaringan akibat kekurangan
metabolit). Proses ini adalah infark yang umumnya terjadi pada jantung, ginjal, cerebrum
dan organ tertentu yang lain. Pada regio lain misalnya kulit sering ditemukan anastomose
arteri sehingga sumbatan pada salah satu arteri tidak mempengaruhi nekrosis jaringan
karena aliran darah dapat dipertahankan.
Polipeptida angiotensin menyokong pengaturan tekanan darah, pada awalnya
dengan pengikatan sel-sel vascular endothelial. Stimulus pada sel-sel endothelial ini
selanjutnya dihantarkan ke sel-sel otot polos arteri yang menstimulasi kontraksinya dan
akibatnya terjadi peningkatan tekanan darah.

TUMOR DALAM PEMBULUH DARAH


Sebagian besar tumor maligna dalam pembuluh darah berasal dari sel-sel endothel
(angiosarcoma) atau berasal dari pericytus (hemangiopericytoma). Keberadaan protein
faktor VIII yang dapat ditemutunjukkan secara imunohistokimia, adalah karakteristik dari
tumor yang berasal dari sels-el endothel, tumor yang berasal dari pericytus tidak memiliki
protein faktor VIII ini.