Anda di halaman 1dari 4

Dasar Teori

Karbohidrat adalah konstituen utama makanan hewan dan jaringan hewan.


Karbohidrat ditandai dengan jenis dan jumlah resido monosakarida di dalam
molekulnya. Karbohirat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Monosakarida adalah karbohidrat yang paling sederhana dan tidak dapat
dihidrolisis lagi. Misal, glukosa, galaktosa, fruktosa
2. Disakarida adalah produk kondensasi dua unit monosakarida, misalnya
maltose, laktosa dan sukrosa
3. Oligosakarida adalah produk kondensasi tiga sampai sepuluh monosakarida
4. Polisakarida adalah produk kondensasi lebih dari sepuluh unit
monosakarida, misalnya pati, dekstrin, dan polisakarida nonpati
Pati (kanji, starch) adalah sumber utama karbohidrat dalam makanan dan memiliki
struktur kumparan heliks, apabila dihidrolisis maka akan terbentuk disakarida
maltosa, dan maltose apabila dihidrolisis maka akan terbentuk monosakarida
glukosa. Glukosa adalah karbohidrat terpenting pada biokimia mamalia karena
hampir semua karbohidrat dalam proses biokimiawi makanan diubah menjadi
glukosa untuk metabolisme. Karbohidrat memiliki bentuk rantai lurus..
Daftar pustaka : biokimia harper edisi 27
Maltosa dihasilkan selama pencernaan pati dan terdiri dari dua unit glukosa
disatukan. Laktosa adalah gula susu dan terdapat penyatuan sebuah galaktosa
dan sebuah glukosa. Sukrosa adalah gula pasir, pada sukrosa glukosa dan
fruktosa disatukan.

Daftar Pustaka : biokimia kedokteran dasar (sebuah pendekatan klinis)


Marks, Dawn B, Dkk. 2011. Biokimia kedokteran Dasar. Jakarta:EGC.

Pembahasan :
Langkah awal yang dilakukan dalam percobaan hidrolisis starch
(pati) adalah menambahkan 5ml larutan starch pada tabung A,
menambahkan 2 ml HCl yang kemudian dicampur dan dipanaskan di
waterbath. Tiap 3 menit, diambil 1 tetes dan ditaruh di droplet kemudian
diteteskan 1 tetes Iodin. Penambahan HCl pada pati berfungsi untuk
menghidrolisis polisakarida (pati) menjadi monosakarida penyusunnya
(glukosa). Pemanasan di penangas berfungsi untuk mempercepat reaksi
hidrolisis dari pati itu sendiri. Uji iodin bertujuan untuk mengidentifikasi
polisakarida (pati). Reaksi antara polisakarida dengan iodin membentuk
rantai poliiodida. Polisakarida umumnya membentuk struktur kumparan
heliks sehingga dapat berikatan dengan iodin, sedangkan disakarida dan
monosakarida tidak membentuk struktur kumparan heliks sehingga tidak
dapat berikatan dengan iodin. Pati yang berikatan dengan iodin akan
menghasilkan warna biru. Sedangangkan bila iodin diteteskan pada larutan
yang tidak mengandung pati, warna larutan tidak akan berubah. Pada
percobaan yang kami lakukan, 3 menit pertama menunjukkan warna biru
tua yang menunjukkan bahwa konsentrasi pati masih tinggi, semakin lama
waktunya warna semakin berubah ke coklat hingga ke kuning (warna iodin).
Hal ini menunjukkan bahwa pati telah terhidrolisis secara sempurna
sehingga tidak ada lagi rantai polisakarida dan iodin tidak lagi bereaksi
sehingga tidak mengubah warna. Warna kuning yang terbentuk adalah
warna iodin itu sendiri, larutan pati yang telah terhidrolisis sebenarnya
adalah bening.
Langkah selanjutnya adalah mengambil 2 ml dari tabung A yang
sudah didinginkan dengan air mengalir ke dalam tabung B kemudian
menambahkan 1 tetes Thymol Blue dan larutan masih berwarna bening,
kemudian ditambahkan cukup banyak larutan Na2CO3 hingga akhirnya
warna larutan berubah menjadi biru. Thymol blue adalah indikator basa,
dimana semakin basa larutan akan berwarna menjadi biru. Pada awalnya
larutan yang ada berwarna bening dan tetap bening ketika diberi satu tetes
thymol blue karena derajat keasaman pada larutan belum sesuai hingga
bisa bereaksi dengan thymol blue, setelah menambahkan cukup banyak
larutan Na2CO3 larutan berubah warnanya menjadi biru. Hal ini karena
Na2CO3 adalah garam yang lebih bersifat basa. Na 2CO3 merupakan
gabungan dari NaOH dan HCO32- dimana NaOH merupakan basa kuat dan
HCO32- merupakan asam lemah, sehingga garam Na 2CO3 lebih bersifat ke

basa dan menyebabkan larutan menjadi basa dan bereaksi dengan thymol
blue menjadi warna biru.
Selanjutnya 8 tetes larutan dari tabung B diambil dan dipindah ke
tabung C, kemudian diberikan 3 ml reagen benedict dan dicampur. Tabung
C dipanaskan di waterbath sekitar 15 menit dan larutan yang awalnya
sepenuhnya biru jadi terlihat ada warna merah bata. Uji Benedict bertujuan
untuk memeriksa ada tidaknya gula pereduksi. Bila terbentuk warna hijau
berarti positif 1, warna kuning berarti positif 2, warna orange berarti positif 3,
dan warna merah bata berarti positif 4. Perubahan warna menjadi merah
bata ini menunjukkan bahwa pati telah terhidrolisis dan terbentuk
monosakarida dimana monosakarida bereaksi dengan reagen benedict dan
terdeteksi gula pereduksi positif 4.

Kesimpulan :
Larutan starch telah terhidrolisis sempurna di menit ke 27 ditandai dengan
iodin yang tidak lagi bereaksi.
Pada awalnya larutan di tabung tidak bersifat basa dan menjadi basa
setelah diberikan cukup banyak larutan Na2CO3
Tes benedict menunjukkan hasil positif 4 yang berarti pati telah terhidrolisis
sempurna menjadi bentuk monosakaridanya.

DATA
Tabung A berwarna bening.
Pada Droplet :
Menit
3
6
9
12
15

Warna
18
Biru tua
Ungu muda keruh
21
Cokelat keruh
24
Bening
sedikit
kuning
27
Bening dengan
lebih kuning
Tabung B berwarna biru
Tabung C larutan biru dengan endapan merah bata

Bening
dengan
kuning agak tua
Kuning lebih pudar
Kuning
makin
pudar
Kuning
sama
dengan iodin